• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3. PROFIL SANITASI WILAYAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 3. PROFIL SANITASI WILAYAH"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 1

BAB 3. PROFIL SANITASI WILAYAH

3.1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Promosi Higiene

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat. PHBS juga berhubungan dengan perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang yang mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. PHBS dan promosi hygiene yang akan digambarkan disini terkait dengan sanitasi, yaitu berkaitan dengan cuci tangan dengan sabun, air bersih, dan jamban sehat, baik pada tatanan rumah tangga, maupun tatanan sekolah.

3.1.1. PHBS Tatanan Rumah Tangga

Kebiasaan hidup bersih dan sehat di tatanan rumah tangga sangat berhubungan dengan perilaku.

Karena itu perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan promosi higiene sangat penting dimulai dari keluarga/ rumah tangga.

Berdasarkan hasil survey Penilaian Resiko Kesehatan Lingkungan atau Survey Environmental Health Risk Assessment (EHRA)1 terhadap 2.000 responden di 50 kelurahan/desa/negeri, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan promosi Higiene pada tatanan rumah tangga adalah:

a. Mencuci tangan memakai sabun dan diare.

Kebiasaan masyarakat kota Ambon dalam hal mencuci tangan sendiri memakai sabun telah dapat menjadi perilaku, dimana 80,9% responden menggunakannya. Kebiasaan mencuci tangan memakai sabun adalah salah satu faktor penting mencegah masuknya penyakit ke dalam tubuh, misalnya diare.

Grafik 3.1. Kebiasaan Ibu Mencuci Tangan dengan Sabun

Kebiasaan ibu mencuci tangan dengan sabun (Grafik 3.1.) secara umum dilakukan sebelum makan (93,1%), setelah makan (88,5%), dan setelah buang air besar (75,1%). Namun beberapa kebiasaan

1 Survey EHRA dilakukan pada 50 desa/kelurahan di Kota Ambon, dengan jumlah responden sebanyak 2.000 orang, pada April-Mei 2012.

Sumber: Survey EHRA, 2012

(2)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 2

baik mencuci tangan memakai sabun belum dilakukan secara baik, seperti mencuci tangan menggunakan sabun sebelum menyiapkan makanan (49,5%), setelah memegang hewan (32,1%), setelah menceboki bayi/anak (31,1%), dan sebelum memberi/menyuapi anak (30,5%). Kebiasaan mencuci tangan ini sering dilakukan di tempat cuci piring (80,2%), di kamar mandi (39%), dan di dapur (27,1%).

Terkait dengan anggota keluarga yang terkena diare, 84,7% responden tidak pernah mengalaminya.

Terdapat 5,2% mengalaminya lebih dari 6 bulan yang lalu, 3,4% mengalaminya 6 bulan terakhir, 2,4% mengalaminya 3 bulan terakhir, dan terdapat 10 responden (0,5%) yang mengalaminya saat diwawancarai (Grafik 3.2). Anggota keluarga yang mengalami diare terdapat pada semua lapisan umur, baik balita, non balita, remaja maupun orang dewasa (Grafik 3.2). Penderita diara terbanyak umumnya adalah anak-anak balita (32%), orang dewasa perempuan (21,3%), anak-anak non balita (17%), dan orang dewasa laki-laki (15,4%).

Grafik 3.2. Waktu Ketika Anggota Keluarga yang Terkena Diare

Grafik 3.3. Anggota Keluarga yang Terkena Diare

Sumber: Survey EHRA, 2012 Sumber: Survey EHRA, 2012

(3)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 3

b. Pengelolaan sampah rumah tangga.

Berdasarkan survey EHRA, pengelolaan sampah rumah tangga (Grafik 3.4.) secara umum adalah dengan membuang ke TPS (38,9%). Selain itu cara pengelolaan lain yang banyak dilakukan adalah membakar sampah (35,9%), membuang sampah ke sungai/kali/pantai/laut (10,5%), dan membuang sampah ke lahan kosong/ kebun/hutan dan dibiarkan saja di sana (9,5%).

Grafik 3.4. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga c. Pembuangan air kotor/limbah tinja manusia, dan lumpur tinja.

Berdasarkan survey EHRA, anggota keluarga dewasa bila ingin membuang air besar (Grafik 3.5) telah 86,6% dilakukan di jamban pribadi. Namun demikian masih ditemui juga responden yang membuang air besar di sungai/pantai/laut (105 responden atau 5,3%), MCK/WC umum (91 responden atau 4,6%), kebun/pekarangan (37 responden atau 1,9%), WC helikopter (13 responden atau 0,7%), lubang galian (4 responden atau 0,2%), dan selokan/parit/got (2 responden atau 0,1%).

Grafik 3.5. Tempat Anggota Keluarga Bila Ingin Buang Air Besar

Sementara itu, sudah 84,9% responden yang tidak lagi buang air besar (BAB) di tempat terbuka (Grafik 3.6.). Namun demikian, ada responden yang menerangkan bahwa masih ada orang tapi tidak jelas siapa (5,2%), laki-laki dewasa (4,5%), perempuan dewasa (4%), anak laki-laki dan anak perempuan berumur 5.- 12 tahun, remaja laki-laki dan perempuan, bahkan orang tua yang masih melakukan BAB di tempat terbuka.

Sumber: Survey EHRA, 2012 Sumber: Survey EHRA, 2012

(4)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 4

Grafik 3.6. Responden Yang BAB di Tempat Terbuka

Jenis kloset pada jamban pribadi di rumah (Grafik 3.7) umumnya kloset jongkok leher angsa (77,1%). Sisanya kloset duduk siram leher angsa (13,0%), tidak punya kloset (8,3%), cempung (0,9%), dan plengsengan (0,8%). Sedangkan tempat penyaluran akhir tinja (Grafik 3.8) umumnya adalah tangki septik (77,7%), dan masih ada yang menyalurkan tinja ke sungai/pantai/laut (8%), cubluk/ lobang tanah (6,4%), kebun/ tanah lapang (1,1%).

Grafik 3.7. Jenis Kloset Pada Jamban Pribadi

Grafik 3.8. Tempat Penyaluran Buangan Akhir Tinja

Ketika ditanyakan kapan tangki septik terakhir dikosongkan (Grafik 3.9), umumnya responden menjawab tidak pernah (76,8%), tidak tahu (12,5%), 1-5 tahun yang lalu (5,8%), lebih dari 5-10 tahun yang lalu (2,1%), lebih dari 10 tahun (1,7%), dan 0-12 bulan yang lalu (1,2%). Pada sisi lain, menurut pengetahuan responden tentang kemana lumpur tinja dibuang pada saat tangki septik

Sumber: Survey EHRA, 2012 Sumber: Survey EHRA, 2012 Sumber: Survey EHRA, 2012

(5)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 5

dikosongkan (Grafik 3.10), umumnya adalah tidak mengetahui (90,3%), sungai (4,2%), dikubur di halaman (3,6%), dan lainnya (1,9%).

Grafik 3.9. Wak\]]tu Tangki Septik Terakhir Dikosongkan

Grafik 3.10. Tempat Lumpur Tinja Dibuang Pada Saat Tangki Septik Dikosongkan

Selain itu ketika ditanya siapa yang mengosongkan tangki septik (Grafik 3.11) umumnya adalah tidak tahu (56,2%), layanan sedot tinja (34,3%), dikosongkan sendiri, membayar tukang (0,6%), dan bersih karena banjir (0,3%).

Grafik 3.11. Siapa MengosongkanTangki Septik

Sumber: Survey EHRA, 2012 Sumber: Survey EHRA, 2012

Sumber: Survey EHRA, 2012

(6)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 6

d. Drainase lingkungan/ selokan sekitar rumah dan banjir.

Berdasarkan survey EHRA, terdapat 62,3% responden mempunyai sarana pengolahan air limbah/

air kotor bukan tinja. Air bekas buangan (air limbah bukan tinja) yang berasal dari dapur, kamar mandi, tempat cuci pakaian, dan wetafel, umumnya dialirkan ke saluran terbuka (Grafik 3.12). Air buangan tersebut umumnya juga dialirkan ke sungai, jalan/halaman, saluran tertutup, lubang galian.

Grafik 3.12. Tempat Air Bekas Buangan (Air Limbah Selain Tinja) Dibuang

Peristiwa banjir umumnya tidak pernah dialami responden (79,1%). Untuk responden yang mengalami banjir, banjir tersebut terjadi secara rutin (53,5%), dan ketika terakhir kali banjir, air masuk ke rumah (62,1%). Ketinggian air ketika banjir (Grafik 3.14) adalah setumit orang dewasa (39,5%), selutut orang dewasa (34,1%), atau juga sepinggang orang dewasa (10%). Sedangkan durasi genangan banjir adalah antara 1-3 jam (35%), kurang dari 1 jam (30%), setengah hari (10,3%), dan satu hari (12,6%).

Grafik 3.13. Tempat Tinggal Pernah Terkena Banjir Keterangan:

1 = Saluran Terbuka 2 = Sungai/ Kanal 3 = Jalan, Halaman

4 = Saluran Tertutup 5 = Lubang Galian 6 = Pipa IPAL Sanimas 7 = Tidak Tahu

Sumber: Survey EHRA, 2012

Sumber: Survey EHRA, 2012

(7)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 7

Grafik 3.14. Ketinggian Air ketika Banjir Masuk Rumah

Grafik 3.15. Durasi Genangan Banjir

e. Pengelolaan air minum, masak, mencuci dan gosok gigi yang aman dan higiene.

Sumber air ledeng PDAM masih merupakan sumber air utama bagi masyarakat di Kota Ambon, terutama untuk air minum, masak, mencuci dan gosok gigi (Grafik 3.16). Meskipun demikian masyarakat sering pula menggunakan sumur pompa/ tangan, air kran umum proyek, sumur gali terlindungi, dan air hidran umum PDAM. Berdasarkan survey EHRA, sumber air yang biasa digunakan responden untuk minum adalah air ledeng PDAM (28,5%), air isi ulang (15,8%), air kran umum PDAM/Proyek (15,1%), air sumur pompa tangan (14,8%), dan air sumur gali terlindungi (12,8%). Sumber air yang biasa digunakan responden untuk masak adalah air ledeng PDAM (31,7%), air sumur pompa tangan (17%), air kran umum PDAM/Proyek (15,4%), dan air sumur gali terlindungi (13,5%). Sumber air yang biasa digunakan responden untuk cuci piring/gelas adalah air ledeng PDAM (30,1%), air sumur pompa tangan (18%), air sumur gali terlindungi (15,3%), dan air kran umum PDAM/Proyek (14,2%). Sumber air yang biasa digunakan responden untuk mencuci pakaian adalah air ledeng PDAM (28,3%), air sumur pompa tangan (17,6%), air sumur gali terlindungi (15,3%), air kran umum PDAM/Proyek (10,8%), dan air sungai (8,4%). Sumber air yang

Sumber: Survey EHRA, 2012

Sumber: Survey EHRA, 2012

(8)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 8

biasa digunakan responden untuk menggosok gigi adalah air ledeng PDAM (28,9%), air sumur pompa tangan (16,8%), air kran umum PDAM/Proyek (14,7%), dan air sumur gali terlindungi (13,3%).

Grafik 3.16. Sumber Air untuk Minum, Masak, Cuci Pring/Gelas, Cuci Pakaian, dan Gosok Gigi

Kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari (Grafik 3.17), umumnya tidak pernah dialami oleh responden (68%). Untuk responden yang mengalami kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari, terdapat 11,9% mengalamnyai beberapa jam saja, 10% mengalaminya satu sampai beberapa hari, dan 6,9% mengalaminnya lebih dari seminggu. Sedangkan cara responden mengolah air untuk diminum secara umum adalah dengan merebus air (96,9%), dan menyimpannya dalam teko/ketel/ceret (52,4%), panci tertutup (24,7%), dan botol/termos (16,6%).

Grafik 3.17. Kesulitan Mendapatkan Air di Rumah Tangga Keterangan:

1 = Air botol kemasan 2 = Air isi ulang 3 = Air ledeng PDAM 4 = Air hidran umum PDAM

5 = Air kran umum proyek 6 = Sumur pompa/tangan 7 = Sumur gali terlindungi 8 = Sumur gali tdk terlindung

9 = Mata air terlindungi 10= Mata air tidak terlindungi 11 = Air hujan

12= Air dari sungai 11= Lainnya

Sumber: Survey EHRA, 2012

Sumber: Survey EHRA, 2012

(9)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 9

3.1.2. PHBS Tatanan Sekolah

PHBS di sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.

Kondisi sanitasi sekolah di Kota Ambon didasarkan pada kondisi di 114 Sekolah Dasar (55,07% dari 207 SD/MI yang ada), 15 SMP (27,8% dari 54 SMP/MTs yang ada), dan 34 SMA/SMK (72,3% dari 47 SMA/SMK/MA yang ada). Kondisi fasilitas sanitasi toilet dan tempat cuci tangan di sekolah-sekolah tergambar pada Tabel 3.1.A untuk SD/MI, Tabel 3.1.B untuk SMP/MTs, dan Tabel 3.1.C untuk SMA/SMK/MA. Sedangkan kondisi sarana sanitasi sekolah berupa pengelolaan sampah dan pengetahuan higiene tergambar pada Tabel 3.2.A untuk SD/MI, Tabel 3.2.B untuk SMP/MTs, dan Tabel 3.2.C untuk SMA/SMK/MA.

Pada tingkat SD/MI, masih terdapat sekolah yang tidak memiliki toilet, ataupun kalau ada toiletnya sudah rusak/ tidak berungsi (Tabel 3.1.A). Hal ini terjadi pada SDN 87 dan SDN 79 Ambon di Air Kuning Desa Batu Merah, SDN 74, SDN 90 Wayame, SD Naskat Amaory – Desa Passo, SDN 11 Ambon, SDN 4 Halong, SDN 68 Ambon, SD Inpres 51 Ambon, dan SD Kristen Belakang Soya B3 Ambon. Dari semua SD, terdapat 88 sekolah (77%) yang memiliki fasilitas cuci tangan, yang dilengkapi sabun.

Pengelolaan sampah dan hygiene di SD/MI (Tabel 3.2.A) menunjukan bahwa ada 5 sekolah yang tidak mengajarkan pengetahuan tentang hygiene dan sanitasi, yaitu SDN 56 Perumnas, SDN 2 Latuhalat, SD Ipres 49 Ambon, SDN Latta, dan SDN 7 Ambon. Sekolah umumnya mengajarkan pengetahuan tentang hygiene dan sanitasi melalui mata pelajaran Pendidikan Jasmani di kelas (86%). Pada SD/MI, cara pengolahan sampah yang utama adalah dikumpulkan bersama pada satu tempat (70%), meskipun ada sekolah yang telah memisahkan sampah (56%), dan membuat kompos (23%).

Pada tingkat SMP/MTs, semua sekolah memiliki toilet (Tabel 3.1.B). Fasilitas cuci tangan umumnya telah tersedia, meskipun terdapat 2 SMP yang tidak memilikinya, yaitu SMPN 9 Ambon, dan SMP Hang Tuah. Pengelolaan sampah dan hygiene di SMP/MTs (Tabel 3.2.B) menunjukan bahwa ada 2 sekolah yang tidak pernah mengajarkan pengetahuan tentang hygiene dan sanitasi, yaitu SMP Hang Tuah dan SMPN 22 Ambon. Pada SMP/MTs, cara pengolahan sampah yang utama di semua sekolah adalah mengumpulkan pada satu tempat. Namun demikian pada sekolah-sekolah tersebut, terdapat SMPN 9 Ambon telah juga melakukan pemisahan sampah dan pembuatan kompos, sedangkan pada SMP LKMD Laha, juga telah melakukan pembuatan kompos di sekolah.

Pada tingkat SMA/SMK/MA, semua sekolah memiliki toilet (Tabel 3.1.C). Fasilitas cuci tangan umumnya telah tersedia, meskipun terdapat 10 SMA yang tidak memilikinya. Pengelolaan sampah dan hygiene di SMA (Tabel 3.2.C) menunjukan bahwa semua sekolah telah mengajarkan pengetahuan tentang hygiene dan sanitasi. Sekolah umumnya mengajarkan pengetahuan tentang hygiene dan sanitasi melalui mata pelajaran Pendidikan Jasmani di kelas (79,4%). Pada SMA/SMK/MA, semua sekolah melakukan cara pengolahan sampah yang utama adalah mengumpulkan pada satu tempat (terdapat 30 sekolah atau 88%). Selain itu terdapat 9 sekolah (26,47%) telah melakukan pemisahan sampah, dan terdapat 10 sekolah (29,41%) telah melakukan pembuatan kompos. Beberapa sekolah yang melakukan pemisahan dan pembuatan kompos lingkungan sekolah adalah SMAN 2, SMAN 5, SMAN 7, SMAN 8, SMA Xaverius, dan SMKN 3.

(10)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 10

Tabel 3.1.A. Rekapitulasi kondisi fasilitas sanitasi di sekolah/pesantren tingkat sekolah SD/ MI (Toilet dan tempat cuci tangan) LPLPGURULPGURULP 1SD Neg. 87 AmbonAir Kuning Kec. Sirimau314328415Tidak ada toilet 2SD Neg. 79 AmbonAir Kuning Kec. Sirimau314328415Tidak ada toilet 3SD Neg. 3 Rumah TigaJl. Mr Chr Soplanit Rumah tiga Kec Teluk Ambon51383711 4SD Alhilaal 2Batu Merah13813211411 5SD Neg. 4 Rumah tigaJL. Ir Putuhena Rumah tiga Kec Teluk Ambon835811011 6SD Neg. 2 Lateri JL. Wolter Monginsidi Kec Baguala1311461011 7SD Neg. 3 Poka JL. Wolter Monginsidi Kec Baguala4649291 8SD Neg. 1 Rumah tigaJL. Mr Chr Soplanit Rumah tiga Kec Teluk Ambon766211011 9SD Neg. 4 Hative BesarKec Teluk Ambon10584291 10SD Neg. 2 HalongKec Baguala65721811 11SD Al-Wathan AmbonBatu Merah10611421411 12SD Neg. EriDesa Eri Kec Nusaniwe7375111211 13SD Neg. 2 TawiriDesa Tawiri Kec Teluk Ambon947218211111 14SD Neg. 56 PerumnasKec Teluk Ambon452227312111 15SD Neg. 46 Perumnas PokaKec Teluk Ambon432918312 16SD Neg. 2 LatuhalatKec Nusaniwe124137111111 17SD Inpres 24 AmbonSkip125138114211 18SD Neg. 39 AmbonSkip143144312211 19SD Neg. 38 AmbonJl.Dr. Kayadoe1541643171 20SD Inpres 49 AmbonJl. Muri Anahu8388391 21SD Impres 59 TawiriKec Teluk ambon110103111211 22SD Neg. 95Jl.Wara76682111 23SD Neg. 75 PassoJl. Karel Satsuitubun Kec Baguala128113214211

NoNama SekolahAlamatJum SiswaJum GuruSumber Air Bersih Jumlah Toilet/WCJumlah Tempat Kencing

Fas. Cuci Tangan

Persedi aan Sabun Siapa yang Membersihkan Toilet PDAMSumur PompaSumur Gali (SGL)SiswaGuru PPesuruh SKTSKTSKYTYTLTLPLP

Ket

(11)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 11

Lanjutan Tabel 3.1.A. Rekapitulasi kondisi fasilitas sanitasi di sekolah/pesantren tingkat sekolah SD/ MI (Toilet dan tempat cuci tangan) LPLPGURULPGURULP 24SD Neg. LattaKec Baguala70531101 25SD Neg. 7 AmbonJl. Prof.Dr.G.A. Siwabessy114118420312312 26SD Neg. 1 HalongKec Baguala6170151 27SD Neg. 74 Jl. Sirimau9486110Toilet rusak 28SD Neg. 10 AmbonJl. Raya Pattimura Kec Sirimau109982151 29SD Neg. 1 TawiriKec Teluk Ambon67634711 30SD Neg. 2 Hative BesarKec Teluk Ambon86911911 31SD Neg. 1 GalalaJl. Piere Tendean Kec Baguala9091261 32SD Neg. 1 Hative BesarJl. Dr. J. Leimena Kec Baguala707039211 33SD Neg. 65 AmbonJl. Raya Pattimura Kec Sirimau1041132131 34SD Inpres LattaJl. Wolter Monginsidi Kec Baguala8771191 35SD Neg. 1 PassoJl. Laksdya Leo Watimena Kec. Baguala172161514211 36SD Neg. Teladan Ambon

Jl. Dr. Malaihollo Air Salobar Kec. Nusaniwe138136118312 37SD Inpres 35 PassoPasso Kec. Baguala1881742101 38SD Neg. SoyaDesa Soya Kec Sirimau5040312211 39SD Neg. 5 AmbonJl. Tawiri7211 40SD Neg. 90 Wayame PermaiWayame Kec Teluk Ambon1551113101Tidak ada toilet 41SD Neg. LeahariDesa Leahari Kec Leitimur564219111 42SD Neg. 91 Waiheru/ Ambon

Jl. Laksdya Leo Watimena Kec. Baguala268223119211211v 43SD Kristen 2 WaimahuJl. Amanlainite Latuhalat Kec. Nusaniwe14312518211 44SD Inpres 43 AmbonJl. Jenderal Sudirman9775210111111

LPLPYTYTLPPesuruh SKTSKTSKT

Jumlah Tempat Kencing

Fas. Cuci Tangan

Persedi aan Sabun Siapa yang Membersihkan ToiletKetPDAMSumur PompaSumur Gali (SGL)SiswaGuruNoNama SekolahAlamatJum SiswaJum GuruSumber Air Bersih Jumlah Toilet/WC

(12)

Bab 3. Profil Sanitasi Kota Ambon III - 12

Lanjutan Tabel 3.1.A. Rekapitulasi kondisi fasilitas sanitasi di sekolah/pesantren tingkat sekolah SD/ MI (Toilet dan tempat cuci tangan) LPLPGURULPGURULP 45SD Inpres 22Jl. Kesatriaan1591706131 46SD Alhilaal 5 KranjangJl. Dusun Keranjang1048861111 47SD Xaverius A1 AmbonJl. Pattimura Kec Sirimau2372186271212 48SD Inpres 28 AmbonJl.Lakdya L.Wattimena119117715111 49SD Neg. 3 Hative besarJl. Dr. Leimena. Kec Teluk Ambon979621011 50SD Neg. 2 GalalaJl. Piere Tendean Kec Baguala96852172 51SD Alhilaal 1 AmbonJl. Anthony Rebok6753121 52SD Inpres 54 NaniaDesa Nania98912711 53SD Kristen Belso B1Jl. Rijali Kec Sirimau83749122 54Sd Neg. 2 PassoJl. Gang Raja Passo Kec Baguala168135191 55SD Inpres 19 AmbonJl. ST Baabullah12192517111111 56SD Inpres 42Jl. Rusa Amahusu Kec Nusaniwe75100210312312 57SD Inpres 36 AmbonJl.Mr.CHR.Soplanit , Rumah Tiga69454722 58SD Inpres 52 Lawena Jl. Dr. Wem Tehupieory Hutumuri Kec Lei timur

482954211111 59SD Neg. 82 AmbonJl.Dr. Kayadoe898139211 60SD Neg. 16 AmbonJl. Raya Pattimura Kec Sirimau1291103131 61SD Naskat Amaory Passo

Jl. Karel Satsuitubun Kec Baguala9584111Tidak ada toilet 62SD Inpres 55 AmbonJl.Lakdya L.Wattimena10984210422 63SD Neg. RutongDesa Rotong Kec. Leitimur585722 64SD Inpres 21 AmbonJl. Dr. Kayadoe Kec Sirimau14815042111 65SD Neg. 3 AmbonJl. raya Pattimura Kec Sirimau12496210211

PLPSKTYTYSKTSKT

PDAMSumur PompaSumur Gali (SGL)SiswaGuruPesuruh Jumlah Toilet/WCJumlah Tempat Kencing Fas. Cuci Tangan Persedi aan Sabun Siapa yang Membersihkan ToiletKet TLPL

NoNama SekolahAlamatJum SiswaJum GuruSumber Air Bersih

Referensi

Dokumen terkait

Tindakan yang dilakukan MR terhadap SP dapat dikategorikan sebagai kekerasan dalam rumah tangga dikarenakan SP yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan menetap di rumah MR

Hasil menunjukkan, dari total perolehan persepsi responden dengan metode Weighted Servqual sebesar 1.90, Pelayanan Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan

Dengan menggunakan model seperti dijelaskan sebelumnya diperoleh estimasi nilai k eff untuk masing-masing temperatur bahan bakar yang diterapkan dalam perhitungan

Tujuan dari kegiatan pengabdian pada masyarakat dalam bentuk pelatihan penyusunan menu gizi sehat seimbang bagi pelatih kelompok cabang olah raga beladiri bagi

Indikator integritas diukur dengan 4 item pernyataan. Hasil tanggapan responden untuk masing-masing indikator integritas untuk auditor internal dapat diuraikan sebagai

sebabkan bahwa rasa takut dan cemas terhadap nyeri persalinan sehingga ibu bersalin tidak merasa nyaman, saat ini timbul trend/kecendrungan para wanita muda lebih memilih

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi tepung cangkang kerang simping memberikan pengaruh yang sangat nyata (α = 0,01) terhadap kadar air, abu, lemak,

Dengan dikriminalisasikannya perbuatan kekerasan dalam lingkup rumah tangga sebagai tindak pidana, maka Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam