i TUGAS AKHIR – RP 141501
PENGENDALIAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG SEBAGAI UPAYA MENGURANGI
FENOMENA PENURUNAN MUKA TANAH DI KELURAHAN MEDOKAN AYU DAN KELURAHAN GUNUNG ANYAR TAMBAK, SURABAYA
RAFIDAH EVAWANI 08211440000035
Dosen Pembimbing
Dian Rahmawati, S.T., M.T.
Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Arsitektur, Desain dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember
2018
i TUGAS AKHIR – RP141501
PENGENDALIAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG
SEBAGAI UPAYA MENGURANGI FENOMENA
PENURUNAN MUKA AIR TANAH DI KELURAHAN MEDOKAN AYU DAN KELURAHAN GUNUNG ANYAR TAMBAK, SURABAYA.
RAFIDAH EVAWANI NRP 08211440000035
Dosen Pembimbing:
Dian Rahmawati, S.T., M.T.
Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Arsitektur Desain dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
2018
ii
iii
LEMBAR PENGESAHAN
PENGENDALIAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG SEBAGAI UPAYA MENGURANGI FENOMENA PENURUNAN MUKA TANAH DI KELURAHAN MEDOKAN AYU DAN KELURAHAN
GUNUNG ANYAR TAMBAK, SURABAYA TUGAS AKHIR
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
Pada
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Oleh :
RAFIDAH EVAWANI NRP. 08211440000035
Disetujui oleh Pembimbing Tugas Akhir :
Dian Rahmawati ST., MT.
NIP. 198206 072009 122002
SURABAYA, JULI 2018
iv
v
PENGENDALIAN INTENSITAS PEMANFAATAN RUANG SEBAGAI UPAYA MENGURANGI FENOMENA PENURUNAN MUKA TANAH DI KELURAHAN MEDOKAN
AYU DAN KELURAHAN GUNUNG ANYAR TAMBAK, SURABAYA.
Nama Mahasiswa : Rafidah Evawani
NRP : 08211440000035
Jurusan : Perencanaan Wilayah dan Kota FADP-ITS Dosen Pembimbing : Dian Rahmawati, ST., MT
ABSTRAK
Penurunan muka tanah merupakan fenomena turunnya elevasi permukaan tanah terhadap bidang referensi yang dianggap stabil.Penurunan muka tanah terjadi secara regional atau terjadi secara lokal dimana land subsidence ini sangat dipengaruhi oleh intensitas pemanfaatan ruang. Fenomena penurunan muka tanah dapat terjadi juga pada kawasan pesisir seperti Kota Surabaya.berdasarkan dari hasil penelitian sebelumnya, telah terjadi penurunan muka tanah pada Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Surabaya akibat intensitas pemanfataan ruang dan beban massa bangunan.
Penelitian ini berfokus pada pengendalian intensitas pemanfaatan ruang di Kelurahan Medokan Ayu dan Gunung Anyar tambak yang menjadi salah satu pemicu terjadi penurunan muka tanah di wilayah tersebut. Tahap awal penelitian yaitu dengan mengidentifikasi hubungan sebab akibat (regresi) antara aspek intensitas pemanfaatan ruang dengan tingkat penurunan muka tanah, tahap selanjutnya yaitu mengidentifikasi karakteristik bangunan berdasarkan kondisi eksisting dan tahap terakhir yaitu memberikan
vi
rekomendasi dengan membandingkan kondisi eksisting, hasil temuan, dengan peraturan intensitas pemanfaatan ruang yang berlaku.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek tutupan lahan, KDB, KLB, KDH, Tinggi Bangunan dan Lantai Bangunan memiliki hubungan positif dengan penurunan muka tanah. Selain itu karakteristik bangunan berbeda pada masing – masing wilayah dengan tingkat penurunan muka tanah yang berbeda serta terjadi penyimpangan antara kondisi eksisting, peraturan yang berlaku dengan hasil temuan sehingga berdasarkan permasalahan tersebut maka dibuat beberapa rekomendasi diantaranya yaitu modifikasi ketentuan peraturan terkait presentase tutupan lahan, KDB (55%- 70%), KLB (0,7-1,2), KDH (15%-20%), Tinggi Bangunan (5-10 meter) dan Lantai Bangunan (1-2 lantai) sesuai hasil temuan pada masing – masing wilayah.
Kata Kunci: Intensitas Pemanfaatan Ruang, Massa Bangunan, Penurunan Muka Tanah
vii
BUILDING INTENSITY CONTROL GUIDELINES TO REDUCE LANDSUBSIDENCE PHENOMENON IN URBAN
COASTAL: CASE OF MEDOKAN AYU AND GUNUNG ANYAR TAMBAK, SURABAYA
Name : Rafidah Evawani
Reg. Number : 08211440000035
Department : Perencanaan Wilayah dan Kota FADP-ITS Advisor : Dian Rahmawati, ST., MT
ABSTRACT
Landsubsidence is a phenomenon of a decrease in ground surface elevation to a reference field that is considered stable. Soil subsidence occurs regionally or locally occurs where land subsidence is strongly influenced by the mass intensity of the building so indirectly the mass intensity of the building also trigger the occurrence of landsubsidence. Spatial planning also play role in reducing this phenomenon by intervene the guidelines of controlling mechanism, specifically on building intensity aspect.
This study focuses on formulating guidelines to reduce the landsubsidence phenomenon in urban coastal through controlling the intensity of building masses in the impacted area, Medokan Ayu and GunungAnyar, Surabaya. The first stage of the study is to identify the causal relationship between the mass intensity of the building with the landsubsidence, the next step is to identify the characteristics of the building based on the existing condition and the last stage is to provide recommendations by comparing the existing conditions, findings, applicable. The results show that land cover aspects, BCR, FAR, green area, and building heightare proven to relate with landsubsidence phenomenon. In addition, the
viii
characteristics of different buildings in each area with different levels of landsubsidence impact and there is a deviation between the existing conditions, the rules that apply with the findings so that based on these problems, some recommendations are made, namely modification of regulations related to the percentage of land cover, BCR (55% -70%), FAR (0,7-1,2), green area (15% -20%), Building height (5-10 meters) and Building Floor (1-2 floors) according to findings in each region .
Keywords: building mass, intensity of space utilization, landsubsidence.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan buku tugas akhir yang berjudul “Pengendalian Intensitas Pemanfaatan Ruang Sebagai Upaya Mengurangi Fenomena Penurunan Muka Tanah di Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak”.
Dalam penulisan tugas akhir ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Allah SWT karena limpahan rahmat serta karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini. Tidak lupa pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini, secara khusus kepada:
1. Ibuk dan Bapak yang selalu mendukung dan memberikan dukungan moril dan materil serta selalu mendoakan yang terbaik selama proses penyusunan penelitian tugas akhir ini.
2. Ibu Dian Rahmawati, ST., MT. Selaku dosen pembimbing penulis dalam penyusunan tugas akhir ini, terimakasih atas bimbingan, saran, masukan, maupun kritik yang diberikan selama proses penyusunan tugas akhir ini.
3. Ibu Hertiari Idajati, S.T., M.Sc. selaku dosen wali yang telah memberikan waktu dan bimbingannya dari masa awal perkuliahan hingga saat ini.
4. Novan Andhy yang selalu menyemangati dan mendukung serta membagi pengalamannya kepada penulis selama menyelesaikan tugas akhir ini dan tak lupa terimakasih telah menemani dan membantu survey penulis selama penyusunan tugas akhir ini. Terimakasih Banyak nop!.
5. Keluarga besar kepet (anita, septi, viga, dan mita) yang selalu ada dan selalu membagi semangat maupun membagi ceritanya. Terimakasih telah mendengarkan keluh kesah
x
penulis serta dengan sukarela membantu survey selama penyusunan tugas akhir ini. Semangat, see u guys on top!.
6. Mita Ayu Dwi Jayanti, geminimate penulis yang selalu menyemangati penulisdan ahli bahasa penulis selama penyusunan tugas akhir ini. Terimakasih juga telah menemani penulis saat penulis berada pada titik terbawah selama penyusunan tugas akhir ini. Terimakasih dan semangat partner hunting café (nugas)!
7. Rachmatina Retno Septiani dan Anita Carolina yang selalu memotivasi dan mendorong penulis untuk segera menyelesaikan tugas akhir ini. Terimakasih banyak sep, untuk pinjaman laptop selama penyusunan tugas akhir ini.
Semangatt partner Bu Dian Squad!
8. Seluruh responden yang telah berpartisipasi dan meluangkan waktunya untuk mengisi kuisioner penulis. Terimakasih banyak. Tanpa responden, tugas akhir ini bukan apa – apa.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan draft laporan penelitian ini. sehingga kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
Surabaya, Oktober 2018 Penulis
xi DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
ABSTRAK ...v
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang...1
1.2. Rumusan Masalah ...4
1.3. Tujuan Penelitian ...5
1.3.1. Tujuan ...5
1.3.2. Sasaran ...5
1.4. Manfaat Penelitian ...5
1.4.1. Manfaat Praktis ...5
1.4.2. Manfaat Teoritis ...6
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ...6
1.5.1. Ruang Lingkup Wilayah ...6
1.5.2. Ruang Lingkup Substansi ...9
1.5.3. Ruang Lingkup Pembahasan ...9
1.6. Sistematika Penulisan ...9
1.7. Kerangka Berpikir ... 11
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 13
2.1. Perkembangan Kota Pesisir (Urban Coastal Pressure) ... 13
2.1.1 Fenomena Penurunan Muka Tanah ... 14
2.1.2 Penyebab Terjadinya Fenomena Penurunan Muka Tanah ... 16
2.2. Zoning Regulation Sebagai Instrumen Pengendali Tata Ruang Kota... 20
2.2.1 Definisi Zoning Regulation ... 20
xii
2.2.2 Fungsi Dan Karakteristik Zoning Regulation ... 22
2.2.3 Zoning Regulation Sebagai Pengendalian Dampak Bencana . 24 2.3. Keterkaitan Antara Fenomena Penurunan Muka Tanah Dengan Zoning Regulation ... 26
2.3. Sintesa Pustaka ... 28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 31
3.1. Pendekatan Penelitian ... 31
3.2. Jenis Penelitian ... 31
3.3. Variabel Penelitian ... 32
3.4. Populasi Dan Sampel ... 34
3.4.1 Populasi ... 34
3.4.2 Sampel... 35
3.4.3 Teknik Pengambilan Sampel ... 35
3.5. Metode Pengumpulan Data ... 39
3.5.1 Metode Pengumpulan Data Primer ... 39
3.5.2 Metode Pengumpulan Data Sekunder ... 41
3.6. Teknik Analisa Data ... 42
3.7. Tahapan Penelitian ... 48
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 53
4.1. Gambaran Umum Wilayah Studi... 53
4.1.1 Wilayah administrasi ... 53
4.1.2 Kondisi Kependudukan ... 57
4.1.3 Kondisi penggunaan lahan ... 57
4.1.4 Tingkat Penurunan Muka Tanah ... 59
4.1.5 Dampak penurunan muka tanah yang terjadi di wilayah penelitian ... 60
4.2. Identifikasi Tingkat Pengaruh Aspek Intensitas Pemanfaatan Ruang Terhadap Terjadinya Penurunan Muka Tanah Berdasarkan Analisa Regresi ... 61
4.2.1 Identifikasi Tingkat Pengaruh Aspek IPR Terhadap Terjadinya Penurunan muka tanah Berdasarkan Analisa Regresi Pada Daerah Tingkat Penurunan muka tanah Tinggi ... 67
xiii
4.2.2 Identifikasi Tingkat Pengaruh Aspek IPR Terhadap Terjadinya Fenomena Penurunan Muka Tanah Berdasarkan Analisa Regresi Pada Daerah Tingkat Penurunan Muka Tanah Sedang
... 71
4.2.3 Identifikasi Tingkat Pengaruh Aspek IPR Terhadap Terjadinya Fenomena Penurunan Muka Tanah Berdasarkan Analisa Regresi Pada Daerah Tingkat Penurunan Muka Tanah Rendah ... 76
4.3. Analisa Karakteristik Bangunan Berdasarkan Aspek IPR (Faktor Intensitas Bangunan Dan Pemanfaatan Ruang), Pada Wilayah Yang Terdampak Penurunan Muka Tanah. ... 80
4.3.1. Karakteristik Bangunan Berdasarkan Aspek IPR Pada Wilayah Tingkat Penurunan Muka Tanah Tinggi ... 81
4.3.2. Karakteristik Bangunan Berdasarkan Aspek IPR Pada Wilayah Tingkat Penurunan muka tanah Penurunan Muka Tanah Sedang ... 88
4.3.3. Karakteristik Bangunan Berdasarkan Aspek IPR Pada Wilayah Tingkat Penurunan Muka Tanah Rendah ... 95
4.4. Rekomendasi Pengendalian Fenomena Penurunan Muka Tanah Berdasarkan Aspek Dan Faktor Yang Mempengaruhi ... 115
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 133
5.1. Kesimpulan... 133
5.2. Saran Dan Rekomendasi ... 134
DAFTAR PUSTAKA ... 135
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.Indikator Perkembangan Kota Pesisir (Urban Coastal) ... 19
Tabel 2.2.Indikator Teori Zoning Regulation Sebagai Instrumen Pengendali Tata Ruang ... 27
Tabel 2.3. Sintesa Pustaka ... 29
Tabel 3.1. Variabel Penelitian ... 33
Tabel 3.2. Teknik Sampling Pada Masing – Masing Sasaran ... 35
Tabel 3.3. Jumlah Sampel pada masing – masing wilayah penelitian ... 37
Tabel 3.4. Jumlah Sampel pada masing – masing RW ... 38
Tabel 3.5. Metode Pengumpulan Data ... 40
Tabel 3.6. Lokasi Observasi ... 40
Tabel 3.7. Metode Pengumpulan Data Sekunder ... 42
Tabel 3.8. Teknik Analisa Data ... 43
Tabel 3.9. Kategori untuk karakterisasi bangunan pada wilayah terpenurunan muka tanah ... 46
Tabel 4.2. Data Jumlah Penduduk Kecamatan Gunung Anyar Tahun 2016 ... 57
Tabel 4.2. Tingkat penurunan muka tanah tahun 2017 ... 60
Tabel. 4.3. Tabel pembagian wilayah berdasarkan tingkat penurunan muka tanah ... 63
Tabel 4.4 Data variabel selama 5 tahun terakhir ... 67
Tabel 4.5. Hasil Analisa Korelasi ... 68
Tabel 4.6. Hasil Analisa Linear berganda pada daerah dengan tingkat penurunan muka tinggi ... 69
Tabel 4.7. Hasil Interpretasi Analisa Linear berganda pada daerah dengan tingkat penurunan muka tanah tinggi ... 71
Tabel 4.8. Data variabel selama 5 tahun terakhir ... 72
Tabel 4.9. Hasil Analisa Korelasi ... 73
Tabel 4.10. Hasil Analisa regresi linear berganda ... 74
Tabel 4.11. Hasil Interpretasi Analisa Linear berganda pada daerah dengan tingkat penurunan muka tanah sedang ... 75
Tabel 4.12. Data variabel selama 5 tahun terakhir ... 76
Tabel 4.13. Hasil Analisa Korelasi ... 77
Tabel 4.14. Hasil Analisa regresi linear berganda ... 78
xv
Tabel 4.15. Hasil Interpretasi Analisa Linear berganda pada daerah dengan tingkat penurunan muka tanah rendah ... 79 Tabel 4.18. Tabel Karakterisasi bangunan pada wilayah dengan
penurunan muka tanah tinggi ... 81 Tabel 4.19. Tabel Karakterisasi bangunan pada wilayah penurunan
muka tanah tinggi berdasarkan kalkulasi presentase... 87 Tabel 4.20. Tabel Karakterisasi bangunan pada wilayah penurunan
muka tanah tinggi berdasarkan means (rerata) ... 87 Tabel 4.21. Tabel Karakterisasi bangunan pada wilayah penurunan
muka tanah sedang ... 88 Tabel 4.22. Tabel Karakterisasi bangunan pada wilayah penurunan
muka tanah sedang berdasarkan kalkulasi presentase . 94 Tabel 4.23. Tabel Karakterisasi bangunan pada wilayah penurunan
muka tanah sedang berdasarkan mean (rerata) ... 94 Tabel 4.24. Tabel Karakterisasi bangunan pada wilayah penurunan
muka tanah rendah ... 95 Tabel 4.25. Tabel Karakterisasi bangunan pada wilayah penurunan
muka tanah rendah berdasarkan kalkulasi presentase 101 Tabel 4.26. Tabel Karakterisasi bangunan pada wilayah penurunan
muka tanah rendah berdasarkan mean (rerata) ...101 Tabel 4.28. Tabel rekomendasi ketentuan modifikasi ketentuan
intensitas masa bangunan untuk upaya mengurangi penurunan muka tanah di pantai timur Surabaya ...119 Tabel 4.27. Tabel rekomendasi terhadap pengendalian penurunan
muka tanah di pantai timur Surabaya ...123
xvi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Peta Wilayah Administrasi Penelitian... 7 Gambar 2.1. Kondisi air tanah dan air laut dalam keadaan statis .... 18 Gambar 3.1. Alur Pikir Perumusan Rekomendasi ... 48 Gambar 4.2. Penggunaan Lahan Eksisting... 58 Gambar 4.3. Komposisi Penggunaan Lahan Eksisting ... 59
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Kota Surabaya merupakan salah satu Kota Pesisir di Indonesia dengan garis pantai sepanjang 40,4 km, dimana wilayah pantai timur Surabaya memiliki garis pantai sepanjang 26,5 km yang terbagi atas 5 Kecamatan yakni Kenjeran, Mulyorejo, Sukolilo, Rungkut dan Gunung Anyar. Berdasarkan arahan fungsi ruang RZWP3K Surabaya Tahun 2012, wilayah Pantai Timur Surabaya tersebut sebagai wilayah konservasi dan pelestarian lingkungan hidup serta merupakan kawasan pelindung bagi kawasan dibawahnya akan tetapi sebagai kota pesisir, Surabaya sangat rentan terhadap kerusakan dan perusakan akibat karakteristik open acces serta juga multifungsi yang dimiliki, sehingga Kota Pesisir tersebut mendapat pengaruh langsung dari darat, laut hingga aktivitas manusia (Rahmat, 2010 dalam Iswandi, 2015), selain itu juga rentan terhadap bencana akibat climate change seperti abrasi, kenaikan muka air laut (Sea level Rise) dan terjadinya penurunan muka tanah yang dapat diakibatkan oleh penurunan muka tanah (Herdyansyah, 2017).
Fungsi Kota Surabaya sebagai Pusat Kegiatan Nasional atau PKN serta predikat Kota Surabaya sebagai Kota Metropolitan menjadikan intensitas penggunaan lahan dan intensitas pembangunan di Kota Surabaya sangat tinggi yang dibarengi juga dengan aktivitas manusia yang tinggi. Kelima Kecamatan di Pantai Timur Surabaya tersebut merupakan Kecamatan dengan intensitas penggunaan lahan sebesar ±85% (RDTR UP Rungkut Tahun 2010) dan aktivitas manusia yang tinggi dengan jumlah penduduk sebesar 479.638 jiwa dan penggunaan lahannya yang didominasi oleh permukiman.
Berdasarkan simulasi Peta Citra dengan asumsi penggunaan lahan sebagai permukiman di Pantai Timur Surabaya, penggunaan lahan
sebagai permukiman di kelima Kecamatan Pantai Timur Surabaya tersebut terus mengalami peningkatan, pada periode tahun 2015 – 2017 terjadi peningkatan yakni sebesar ±1,2%. Peningkatan jumlah pembangunan di kelima Kecamatan tersebut tidak diimbangi dengan pengaturan massa bangunan sehingga semakin tinggi intensitas pembangunan akan mempengaruhi tingkat massa bangunan yang bertumpu pada permukaan tanah. Semakin berat massa bangunan maka lapisan yang berada dibawah tanah akan mengalami pemampatan yang terjadi akibat deformasi dari partikel tanah, relokasi serta keluarnya air dan udara didalam tanah melalui pori sehingga terjadi penurunan muka tanah (Sophian, 2010), jadi semakin besar massa bangunan yang bertumpu pada permukaan tanah maka tingkat penurunan muka tanah di wilayah tersebut juga semakin dalam. Terjadinya penurunan muka air tanah mengakibatkan terjadinya penurunan tekanan hidrostastis.
Landsubsidence atau disebut juga penurunan permukaan tanah pada dasarnya merupakan perubahan (deformasi) permukaan tanah secara vertikal ke bawah dari suatu bidang referensi tinggi (Handoko dkk., 2011). Fenomena ini telah menjadi masalah bagi kota-kota besar di Indonesia maupun di negara lain. Di Indonesia sendiri telah dilakukan berbagai penelitian mengenai fenomena ini yang terjadi di beberapa kota antara lain : Bandung, Jakarta, Surabaya dan Semarang. Penurunan muka tanah ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pengambilan air tanah yang berlebihan sehingga tekanan air tanah untuk menopang tanah diatasnya berkurang, bukaan bawah tanah akibat aktivitas tambang, aktivitas tektonik, konsolidasi tanah, struktur bangunan serta beban berat diatas tanah yang berlebihan (overburden).
Kelurahan Medokan Ayu (Kecamatan Rungkut) dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak (Kecamatan Gunung Anyar)
merupakan wilayah di Pantai Timur Surabaya yang mengalami fenomena penurunan muka tanah hingga sedalam 0,322 mm - 2,792 mm per tahun (Kurniawan et al.,2011). Penurunan muka tanah di wilayah tersebut dapat dikatakan tinggi karena pada dasarnya kedua wilayah tersebut merupakan wilayah dengan permukaan air tanah dangkal sehingga dengan penurunan muka tanah yang signifikan dapat menyebabkan genangan maupun bencana banjir (Bambang, 2017). Penurunan muka tanah di Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak dipengaruhi oleh salah satu faktornya yaitu kontstruksi bangunan (Purwadio, 2003). Berdasarkan hasil survey, 2018 pada wilayah studi didapatkan bahwa sebesar 97%
bangunan terutama permukiman menggunakan pondasi diatas permukaan tanah sehingga semakin mendorong untuk terjadinya penurunan muka tanah di wilayah studi.
Fenomena penurunan muka air tanah tersebut diperparah dengan tidak terkendalinya intensitas pembangunan yang mana pembangunan untuk permukiman terus meningkat, selain itu Pemerintah Surabaya belum menyusun regulasi khusus mengenai penurunan muka tanah yang terjadi di Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak baik melalui kebijakan maupun peraturan teknis juga menjadi penyebab tidak adanya pengendalian terhadap dampak – dampak yang diakibatkan oleh penurunan muka air tanah tersebut.Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang,penataan ruang melalui peraturan zonasi atau zoning regulation dapat digunakan untuk mengendalikan perkembangan penggunaan lahan, pertumbuhan gedung pencakar langit, serta sektor informal yang meliputi ketentuan intensitas pemanfaatan ruang serta massa bangunan. Selain itu zoning regulation juga berfungsi sebagai alat pengendalian pembangunan pada wilayah rawan bencana serta
salah satunya yakni fenomena penurunan muka air tanah terutama pengaturan terhadap aspek – aspek intensitas pemanfaatan ruang yang merupakan pengaturan terhadap ketentuan teknis bangunan (Zulkaidi dan Natalivan, 2005)
Pantai Timur Surabaya merupakan wilayah yang difungsikan untuk kawasan lindung dan pelestarian lingkungan hidup (RZWP3K Surabaya Tahun 2012), akan tetapi sifat penurunan muka tanah yang berhubungan dengan fenomena lainya seperti terjadinya banjir, keamanan bangunan, keamanan sarana perhubungan darat memiliki sifat destruktif yang dapat merusak (Abidin, 2006). Sehingga sangat penting untuk mengendalikan fenomena – fenomena yang bersifat destruktif yang dapat menyebabkan dampak negatif dalam sebuah arahan atau regulasi agar selanjutnya tidak menjadi bencana bagi Kota Surabaya serta dapat melindungi kawasan – kawasan dibawahnya. Oleh karena itu dilakukan penyusunan pengendalian intensitas pemanfaatan ruang yang mana IPR juga berpengaruh dalam terjadinya fenomena penurunan muka tanah di Pantai timur Surabaya terutama di Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak melalui perumusan ketentuan intensitas pemanfaatan ruang yang tepat dan relevan dalam mengendalikan penurunan muka tanah.
1.2. Rumusan Masalah
Pantai Timur Surabaya telah mengalami fenomena penurunan muka tanah dengan penurunan paling signifikan berada di kedua wilayah yaitu Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak dengan penurunan muka tanah sebesar 0,33 – 2,5 mm/tahun. Salah satu penyebab terjadinya penurunan muka tanah tersebut adalah intensitas pembangunan yang tidak terkendali dan IPR yang belum diatur secara khusus. Hal tersebut diperparah
dengan belum adanya regulasi khusus yang disusun oleh pemerintah Kota Surabaya. Oleh karena itu yang menjadi pertanyaan yakni Bagaimana rumusan ketentuan pengendalian intensitas pemanfaatan ruang di Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak sebagai upaya mengurangi fenomena penurunan muka tanah yang terjadi?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan ketentuan pengendalian intensitas pemanfaatan ruang di Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak sebagai upaya mengurangi fenomena penurunan muka tanah.
1.3.2. Sasaran
Adapun sasaran untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Identifikasi tingkat pengaruh variabel – variabel yang terhadap terjadinya fenomenapenurunan muka tanah
b. Menentukan karakteristik bangunan pada wilayah yang mengalami penurunan muka tanah berdasarkan aspek intensitas pemanfaatan ruang
c. perumusan rekomendasi ketentuan pengendalian intensitas pemanfaatan ruang di wilayah studi sebagai upaya mengurangi fenomena penurunan muka tanah.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Manfaat Praktis
Manfaat penelitian ini adalah dapat memberikan rekomendasi kepada pemerintah Kota Surabaya mengenai arahan
pengendalian fenomena penurunan muka tanah di wilayah pantai timur Kota Surabaya terutama dalam memeberikan rekomendasi mengenai intensitas pemanfaatan ruang dan intensitas pembangunan yang tepat dan relevan di wilayah yang mengalami fenomena penurunan muka tanah.
1.4.2. Manfaat Teoritis
secara teoritis, penelitian ini bermanfaat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan terkait penerapan teori mengenai perumusan ketentuan intensitas pemanfaatan ruang sebagai upaya pengendalian fenomena penurunan muka tanah pada wilayah yang terdampak serta metodologi dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dalam penyusunan penelitian lainnya yang serupa di lokasi studi yang berbeda.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian 1.5.1. Ruang Lingkup Wilayah
Wilayah studi yang dipilih berada di Pantai Timur Surabaya tepatnya di 2 (dua) Kelurahan Medokan Ayu (Kecamatan Rungkut) dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak (Kecamatan Gunung Anyar), yang mana pemilihan kedua Kelurahan tersebut berdasarkan tingkat penurunan muka tanah tertinggi serta dua kelurahan tersebut tersebut merupakan Kelurahan yang terdampak penurunan muka tanah. Adapun batas wilayah studi sebagai berikut.
Utara : Kecamatan Sukolilo Timur : Selat Madura Selatan : Kabupaten Sidoarjo
Barat : Kecamatan Tenggilis Mejoyo (Kel. Kutisari)
Gambar 1.1. Peta Wilayah Administrasi Penelitian
“Halaman sengaja dikosongkan”
1.5.2. Ruang Lingkup Substansi
Ruang lingkup substansi pada penelitian ini merupakan ruang lingkup yang terdiri eksplorasi teori Pengelolaan Kawasan Pesisir Terpadu, teori pendekatan builiding code dalam mengendalikan dampak fenomena urban coastal, serta tinjauan dampak – dampak penurunan muka tanah yang terjadi di wilayah studi.
1.5.3. Ruang Lingkup Pembahasan
Adapun ruang lingkup pembahasan yang akan menjadi batasan dalam penelitian ini adalah mengenai arahan pengendalian dampak penurunan muka tanah yang tepat melalui zoning regulation yaitu dengan menyusun pengaturan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah studi terdampak Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak. Sehingga pembahasan yang dilakukan adalah mengidentifikasi dan menguji tingkat pengaruh variabel – variabel yang dapat menyebabkan fenomena penurunan muka tanah, yang kemudian akan dilakukan prediksi atau penentuan intensitas pemanfaatan ruang yang tepat dan relevan yang mana dapat mengurangi perluasan maupun tingkat penurunan muka tanah itu sendiri.dari kedua pembahasan tersebut selanjutnya di rumuskan mengenai rekomendasi – rekomendasi pengendalian penurunan muka tanah melalui penetapan ketentuan intensitas pemanfaatan ruang yang seharusnya di terapkan di wilayah studi (Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak).
1.6. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas mengenai latar belakang dilakukannya penelitian, rumusan masalah, tujuan dan sasaran penelitian, ruang lingkup
penelitian berupa ruang lingkup wilayah, ruang lingkup substansi dan ruang lingkup pembahasan, manfaat penelitian berupa manfaat teoritis dan manfaat praktis, serta sistematika pembahasan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini membahas mengenai kajian literatur yang relevan dengan topik penelitian yaitu perilaku penurunan muka tanah dan digunakan untuk kebutuhan analisis dalam penelitian.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini membahas mengenai pendekatan yang digunakan dalam penelitian, baik dalam proses pengumpulan data maupun analisis penelitian.
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini membahas mengenai gambaran umum wilayah studi serta hasil yang didapatkan baik hasil survey maupun hasil pengolahan data serta hasil analisa. Selain itu pada bab ini juga dibahas secara rinci mengenai arahan pengendalian intensitas massa bangunan yang tepat sebagai upaya mengurangi terjadimya fenomena penurunan muka tanah.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi mengenai kesimpulan dari hasil penelitian yang merupakan jawaban bagi rumusan masalah untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini. selain itu juga berisi mengenai rekomendasi terhadap studi kasus dan wilayah studi serta rekomendasi bagi penelitian – penelitian lainnya yang memiliki tema dan topik yang serupa.
1.7. Kerangka Berpikir
Surabaya merupakan Kota Pesisir yang mana Pantai Timur Surabaya diarahkan menjadi kawasan konservasi, pelestarian lingkungan hidup tetapi rentan terhadap kerusakan dan fenomena
urban coastal
Penentuan Karakteristik bangunan pada wilayah yang
mengalami penurunan muka tanah berdasarkan aspek intensitas pemanfaatan ruang
“Bagaimana rumusan ketentuan pengendalian intensitas pemanfaatan ruang di Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak sebagai upaya mengurangi fenomena penurunan muka tanahyang terjadi?”
?”
Penurunan muka tanah diperparah dengan tidak adanya regulasi yang mengatur mengenai hal tersebut serta belum adanya pengaturan zonasi secara teknis terhadap intensitas pemanfaatan
ruang di wilayah terdampak tersebut
Terjadi fenomena penurunan muka tanah terutama di Kec.
Rungkut dan Gunung Anyar yang disebabkan oleh tingginya intensitas pembangunan dan massa bangunan yang menyebabkan
tanah mengalami deformasi serta mengalami pergeseran
Rekomendasi Pengendalian intensitas pemanfaatan ruang untuk mengurangi fenomena penurunan muka tanah di Kelurahan
Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak.
Merumuskan Ketentuan intensitas pemanfaatan ruang di Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak dalam rangka
mengurangi terjadinya fenomena penurunan muka tanah
Melakukan identifikasi tingkat berpengaruh variabel – variabel terhadap terjadinya
penurunan muka tanah
Akibat penurunan muka tanah terjadi dampak seperti terganggunya konstruksi bangunan serta terganggunya lingkungan hidup
terutama terjadi banjir
Sumber:Analisisi Penulis, 2017
LATAR BELAKANGRUMUSAN MASALAH
TUJUAN
SASARAN
OUTPUT
Merumuskan rekomendasi pengendalian intensitas pemanfaatan
ruang untuk mengurangi penurunan muka tanah
Gambar 1.2. Kerangka Berpikir
“Halaman ini sengaja dikosongkan”
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perkembangan Kota Pesisir (Urban Coastal Pressure)
Urban coastal atau yang dapat disebut Kota Pesisir merupakan suatu kawasan perkotaan yang berada di tepi laut yang mana memiliki karakteristik open acces serta multifungsi pada perkotaannya sehinga sangat rentan terhadap kerusakan dan perusakan terutama gejala banjir, abrasi, penurunan muka tanah, serta limpasan air laut yang terjadi di wilayah kota pesisir. Hal tersebut dipengaruhi oleh letak perkotaan yang berada di tepi pantai sehingga membuat kota pesisir tersebut mendapat pengaruh langsung dari wilayah daratan dan lautan maka dari itu keseimbangan dan kelestarian kota pesisir tersebut sangat bergantung pada kondisi dan proses lingkungan pesisir itu sendiri (Iswandi, 2015).
Berdasarkan prinsip dalam pengelolaan wilayah pesisir terpadu, Papatheocari (2007) mengatakan bahwa pembangunan serta pengelolaan yang dilaksanakan tanpa melininjau kembali atau mempertimbangkan aspek suasana ekonomi maka akan berdampak pada beberapa hal diantaranya yakni, (1) terjadinya degadrasi sumber daya pesisir yang menjadi blog pesisir, (2) dampak pada kualitas air di wilayah pesisir dan sekitarnya, (3) penurunan peluang pembangunan infrastruktur akibat lokasi studi tidak memungkinkan, (4) hilangnya fungsi ruang publik di wilayah pesisir.
Perkembangan sebuah kota pesisir harus didorong oleh pihak – pihak yang terkait maupun stakeholder didalamnya. Kota Surabaya merupakan salah satu Kota Pesisir terbesar di Indonesia selalu mengalami tekanan dan dampak akibat adanya pemanfaatan sumber daya alam pesisir oleh penduduk perkotaan yang dirasa bermanfaat bagi penduduk perkotaan. Selain itu, sebagai kota pesisir terbesar, pesisir Kota Surabaya sering mendapatkan pengaruh dari adanya limbah pabrik yang dialirkan ke laut, sehingga kegiatan pertanian dan industri di perkotaan sangat mempengaruhi kondisi lingkungan wilayah kota pesisir itu sendiri (Papatheocari, 2007). Maka dari itu penting dilakukan pengelolaan terhadap wilayah pesisir secara terpadu untuk menjaga keseimbangan ekosistem wilayah pesisir serta dapat menerapkan pembangunan berkelanjutan pada wilayah pesisir.
2.1.1 Fenomena Penurunan Muka Tanah
Penurunan tanah dapat didefinisikan turunnya elevasi permukaan tanah terhadap bidang referensi yang dianggap stabil.Penurunan tanah alami terjadi secara regionalyaitu meliputi daerah yang luas atau terjadi secaralokal yaitu hanya sebagian kecil permukaan tanah. Hal ini biasanya disebabkan oleh adanya rongga di bawah permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah yang terakumulasi selama rentang waktu tertentu akan dapat mencapai besaran penurunan hingga beberapa meter (Whittaker dan Reddish, 1989). Adapun beberapa faktorpenyebab terjadinya penurunan muka tanah(Whittaker dan Reddish, 1989), yaitu (1) Penurunan Muka Tanah Alami (natural subsidence) yang disebabkan
oleh proses – proses alami seperti geologi, tektonik maupun vulkanik, (2) penurunan muka tanah yang diakibatkan oleh adanya pengambilan air tanah dari dalam tanah, (3) penurunan muka tanah akibat adanya beban berat diatasnya seperti tutupan lahan, struktur bangunan yang meliputi ketinggian bangunan dan konstruksi bangunan, (4) penurunan muka air tanah akibat adanya pengambilan benda padat didalam tanah (penambangan).
Penurunan muka tanah didefinisikan sebagai penurunan tanah relatif terhadap suatu bidang referensi tertentu yang dianggap stabil. Penurunan muka tanah dapat terjadi secara perlahan, atau juga terjadi secara mendadak.
Dalam banyak kejadian penurunan muka tanah berkisar dalam beberapa sentimeter per tahun. Perubahan muka tanah yang bersifat mendadak biasanya diikuti dengan perubahan fisik yang nyata dan dapat diketahui secara langsung besar dan kecepatan penurunannya. Namun untuk penurunan muka tanah yang bersifat secara perlahan diketahui setelah kejadian yang berlangsung lama, besar penurunannya bisa ditentukan dengan mekanisme secara periodik. (Ardiansyah, 2012).
Menurut Kurniawan, 2013 penurunan muka tanah juga dapat disebabkan oleh beban berat yang ada diatas bumi seperti struktur bangunan, substructure bangunan yang membuat lapisan dibawahnya mengalami kompaksi/deformasi.
Penurunan muka tanah memiliki sifat penurunan yang lambat pada tiap kota yang berbeda – beda bergantung kepada jenis tanah dan beban bangunan yang ada diatasnya serta daya
resap tanahnya (Khoirunisa, 2015)
2.1.2 Penyebab Terjadinya Fenomena Penurunan Muka Tanah
Penurunan tanah dapat didefinisikan turunnya elevasi permukaan tanah terhadap bidang referensi yang dianggap stabil.Penurunan tanah alami terjadi secara regionalyaitu meliputi daerah yang luas atau terjadi secara lokal yaitu hanya sebagian kecil permukaan tanah (Sudarsono, 2017).
Terjadinya fenomena penurunan muka tanah dapat disebabkan oleh beberapa faktor salah satunya adalah kondisi geologi di kota Surabaya yang mana sebagian besar tanah, khususnya wilayah Semarang bagian bawah yang mengalami fenomena ini berasal dari aluvial muda yang belum sepenuhnya terkompaksi (Sophian, 2010). Pengambilan air tanah yang berlebihan juga dapat membuat tanah menjadi lebih mudah ambles (subsidence)yang menyebabkan hilangnya bouyancy tanah akibat hilangnya air dalam pori sehingga tekanan permukaan menjadi lebih efektif, selain itu penurunan muka tanah akibat substructure bangunan dan beban berat diatasnya.
Sedangkan menurut Whittaker and Reddish,1989 dalam Sudarsono, 2017 mengatakan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya fenomena penurunan muka tanah adalah adanya rongga di bawah permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah yang terakumulasi selama rentang waktu tertentu akan dapat mencapai besaran penurunan hingga beberapa meter, selain itu penyebab lainnya yaitu presentase lahan terbangun terhadap lahan kavling yang mana dapat diitung melalui jenis substructurenya (Whittaker and Reddish, 1989).
a. Dampak Terjadinya Fenomena Penurunan Muka Tanah
Menurut Badan LIPI pada tahun 2014, salah satu penyebab terjadinya penurunan muka tanah yaitu penurunan muka tanah dengan potensi sebesar 30% dengan hubungan antara kondisi air tanah dan air laut dapat dijelaskan dengan hukum Ghyben – Herzberg. Dengan adanya perbedaan berat jenis antara air laut dengan air bawah tanah tawar, maka bidang batas (interface) tergantung pada keseimbangan keduanya (Hendrayana, 2002)
kondisi yang dinamis seperti terjadinya penurunan muka tanah kemudian menyebabkan penurunan muka air tanah sehingga terjadi deformasi yang menyebabkan terjadinya perembesan air laut ke arah daratan sehingga terjadi peningkatan bidang atas air laut (salt water interface). Keadaan ini yang disebut dengan penurunan muka tanah. Atau dengan kata lain Penurunan muka tanah terjadi karena keseimbangan hidrostatik antara air bawah tanah tawar dan air bawah tanah asin di daerah pantai terganggu, sehingga terjadi pergerakan air bawah tanah asin/air laut ke arah darat (Ode, 2011)
Gambar 2.1. Kondisi air tanah dan air laut dalam keadaan statis
Sumber: Wahyono dan Astutik, 2016
b. Penurunan Muka Tanah akibat Beban Massa Bangunan
Selain faktor penggunaan air tanah secara berlebihan, faktor lainnya yang dapat memicu terjadinya penurunan muka tanah adalah massa beban bangunan, tutupan lahan, dan ketersediaan daerah resapan air (Yuwono, 2013). Dalam penelitian Yuwono,2013 disebutkan bahwa presentase tutupan lahan dari masing – masing jenis penggunaan lahan dapat memicu terjadinya penurunan muka tanah, pasalnya presentase tutupan lahan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap posisi muka tanah karena setiap penambahan 1%
presentase tutupan lahan terjadi penurunan muka air tanah hingga 1,2 meter per tahun dan penurunan muka tanah sebesar 1-2 cm di wilayah pesisir kota Semarang. Selain presentase tutupan lahan, Yuwono juga menyebutkan bahwa komparasi presentase tutupan
lahan dengan tinggi bangunan juga merupakan pemicu terjadinya penurunan muka tanah.
Penurunan muka tanah juga dipicu oleh adanya exploitasi lahan dimana, dengan banyaknya pembukaan lahan sebagai perumahan dan gedung – gedung lainnya yang mana pembukaan lahan ini tidak didukung dengan massa bangunan yang tepat (Achmadin, 2011). Pembangunan bangunan dengan presentase tutupan lahan mendekati 100%, ditambah dengan ketinggian bangunan yang disangga oleh tanah akan mengakibatkan suatu proses pemampatan dilapisan permeabel dan memberikan tekanan ke bawah tanah sehingga mengakibatkan deformasi pada lapisan air bawah tanah yang menyebabkan air dan udara yang tertekan secara terus menerus sehingga terdapat rongga dan menyebabkan permukaan turun akibat kekosongan rongga yang terjadi (Vienastra, 2013). Massa bangunan yang tidak diperhatikan juga menyebabkan kurangnya tersedia daerah resapan air, hal tersebut berkaitan dengan proses infiltrasi atau recharge air tanah oleh air hujan yang dapat mengisi kekosongan dalam akuifer. Karena tidak tersedianya daerah resapan akibat massa bangunan yang melebihi ambang batas maka air di permukaan tidak dapat diserap oleh tanah (Achmadin, 2011)
Tabel 2.1.Indikator Perkembangan Kota Pesisir (Urban Coastal)
Topik Sumber Indikator
Urban Coastal
Iswandi (2015) - Kondisi Lingkungan Papatheocari
(2007)
- Aspek Ekonomi - Aspek Lingkungan - Aspek Sosial Fenomena
Penurunan Muka Tanah
Khumaedi (2016) - Kualitas Air Tanah
- Tingginya Intensitas Pembangunan Lestari, et. al. - Penurunan muka Air Tanah
Topik Sumber Indikator
(2012) - Penggunaan Air Tanah Berlebih - Kondisi laju air laut
- Kondisi Geomorfologi
Salamun (2008)
- Tingginya Tingkat Kadar Garam - Tingginya Tingkat Salinitas - Penurunan muka air tanah - Penggunaan air tanah berlebihan Penyebab
Terjadinya Fenomena Penurunan Muka Tanah
Whittaker and Reddish, 1998 dalam Yuwono, 2013
- Kenaikan Muka Air Laut - Pemompadan Air yang Berlebih - Tata Massa Bangunan
Yuwono, 2013
- Presentase Tutupan Lahan (KDB dan KLB)
- Tinggi Bangunan
Achmadin, 2011
- Presentase Tutupan Lahan Persil - Presentase Daerah Resapan
Terhadap Luas Persil - Tinggi Bangunan
- Koefisien Total Luas Bangunan
Vienastra, 2013
- Konstruksi Bangunan - Presentase Tutupan Lahan - Tinggi Bangunan
- Struktur Bangunan Sumber: Analisa Penulis, 2017
2.2. Zoning Regulation Sebagai Instrumen Pengendali Tata Ruang Kota
2.2.1 Definisi Zoning Regulation
Pada dasarnya pengendalian pemanfaatan ruang terbagi atas zoning regulation dan development control yang mana memiliki dua sifat pengendalian yakni sifat mencegah atau preventive dan
pemulihan atau curative.di Indonesia sistem pengendalian pemanfaatan ruang lebih di kenal dengan Zoning regulation.
Menurut Dirjen Penataan Ruang (2006), Zoning regulation merupakan alat pengendalian pemanfaatan ruang yang memiliki ketentuan yang mengatur mengenai klasifikasi zona, peraturan lebih lanjut mengenai pemanfaatan lahan serta prosedur pelaksanaan pembangunan. Dalam satu zona memiliki aturan yang sama terkait guna lahan, intensitas, serta aturan massa bangunan. Satu zona dengan zona lainnya memiliki aturan dan ukuran bangunan yang berbeda.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, peraturan zonasi atau zoning regulation dapat digunakan untuk mengendalikan perkembangan penggunaan lahan, pertumbuhan gedung pencakar langit, serta sektor informal yang meliputi ketentuan intensitas pemanfaatan ruang serta massa bangunan.
Selain itu zoning regulation juga berfungsi sebagai alat pengendalian pembangunan pada wilayah rawan bencana serta salah satunya yakni fenomena penurunan muka laut (Zulkaidi dan Natalivan, 2005).
Di beberapa negara zoning regulation dikenal sebagai istilah land development code, zoning code, zoning resolution, urban code, planning act, serta istilah lainnya yang memiliki pengertian yang sama. Pada dasarnya semua mengatur mengenai teknis – teknis penyelenggaraan pembangunan kota. Ketentuan – ketentuan dalam zoning regulation memiliki sifat fleksibel yang artinya aturan – aturan yang terdapat didalamnya dapat diperbaiki berdasarkan kondisi terkini serta bagaimana penyusunan aturan – aturannya dibuat (Barnett, 1982 dalam Dirjen Penataan Ruang, 2006).
2.2.2 Fungsi Dan Karakteristik Zoning Regulation
Tujuan awal zoning regulation dibentuk yakni untuk (1) mengatur kegiatan yang diperbolehkan, tidak diperbolehkan, dan diperbolehkan dengan syarat di suatu zona, (2) pengaturan sinar matahari terhadap bangunan – bangunan tinggi serta pengaturan sirkulasi udara yang dapat masuk kedalam bangunan, dan (3) pembatasan besar bangunan di zona tertentu agar pusat kota memiliki pemanfaatan ruang yang intensif (Barnett, 1982 dalam Dirjen Penataan Ruang, 2006). Dengan kata lain bahwa tujuan utama dari zoning regulation yakni mendeskripsikan zona penggunaan lahan yang berbeda – beda, menjelaskan ketentuan aturan pembangunan yang dilaksanakan di setiap zona, serta melakukan penataan prosedur administrasi dan mengubah peraturan zonasi. Sedangkan fungsi utamanya yakni sebagai alat pengendalian pemanfaatan ruang yang meliputi peraturan, perizinan, disentif dan intensif.
Peraturan zonasi dilakukan dengan menentukan klasifikasi zonasi. Klasifikasi zonasi didapatkan dari proses generalisasi dari hirarki penggunaan lahan yang memiliki karakter dampak yang sejenis yang relatif sama yang didapatkan dari kajian teoritis, kajian perbandingan dan kajian empirik (Dirjen Penataan Ruang, 2006).
Adapun tujuan klasifikasi zonasi yakni menetapkan zonasi serta menyusun hirarki zonasi berdasarkan tingkat gangguan, berikut merupakan hirarki klasifikasi zonasi.
1. Peruntukan Zona Hirarki 1; digunakan peruntukan dasar, terdiri dari peruntukan ruang untuk budidaya dan lindung
2. Peruntukan Zona Hirarki 2; menunjukkan penggunaan secara umum seperti yang tercantum pada dokumen RTRW Nasional (PP No.47 Tahun 1997 tentang RTRW Nasional).
3. Peruntukan Zona Hirarki 3; penggunaan lahan secara umum seperti yang tercantum pada RTRW Provinsi dan RTRW Kabupaten serta berdasarkan pengembangan sesuai rencana tersebut.
4. Peruntukan Zona Hirarki 4; penggunaan secara umum berdasarkan dokumen RTRW Kota serta pengembangan sesuai rencana tersebut.
5. Peruntukan Zona Hirarki 5; menunjukkan penggunaan yang lebih rinci dan detail untuk setiap peruntukan hirarki 4 yang mencakup blok peruntukan dan tata cara/aturan pemanfaatannya.
Beradasarkan uraian klasifikasi hirarki tersebut maka terdapat beberapa peruntukan atau lingkup kegiatan yang berbeda di setiap klasifikasi hirarki zoning bergantung pada aturan di tiap hirarki. Menurut Panduan Penyusunan Zonasi (PU, 2006) terdapat beberapa hal yang akan diatur dalam zonasi. Adapun pedoman aturan – aturan tersebut yakni sebagai berikut.
1. Kegiatan dan Penggunaan Lahan
Jenis Kegiatan dan Penggunaan Lahan meliputi peraturan mengenai jenis kegiatan serta penggunaan lahan yang diperbolehkan, diperbolehkan bersyarat, serta yang tidak diperbolehkan.
2. Intensitas Pemanfaatan Ruang
Pada dasarnya Intensitas Pemanfaatan Ruang memiliki klasifikasi yakni mengenai KDB, KLB, KDH, KTB, KWT, kepadatan bangunan dan kepadatan penduduk.
3. Tata Massa Bangunan
Tata massa bangunan memiliki klasifikasi yakni pengaturan mengenai garis sempadan maksimum dan minimun, jarak antar bangunan maksimum dan minimum, tinggi bangunan maksimum
dan minimum, amplop bangunan serta peraturan lain terkait keindahan dan estetika.
4. Prasarana
Prasarana merupakan peraturan yang memiliki klasifikasi yakni pengaturan mengenai prasarana dasar parkir, dimensi jaringan jalan serta kelengkapan prasarana lainnya.
5. Aspek Lainnya
Aspek lainnya yang harus ada dalam peraturan yakni kegiatan usaha atau campuran pada zona permukiman, larangan penjualan produk pada zona permukiman kecuali penjualan jasa, batasan luas (30%) untuk usaha atau kegiatan perdagangan dan jasa pada zona permukiman
2.2.3 Zoning Regulation Sebagai Pengendalian Dampak Bencana
Penurunan muka tanah merupakan salah satu fenomena yang terjadi di kota pesisir, fenomena tersebut termasuk ke dalam kategori bencana wilayah pesisir apabila fenomena tersebut memiliki dampak yang besar terhadap kehidupan makhluk hidup, ekosistem dan termasuk kegiatan – kegiatan didalamnya.
Zoning regulation secara teknis adalah panduan rancang bangun suatu kawasan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang yang memuat rencana program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan.
Tujuan panduan ini adalah mewujudkan bangunan rumah tinggal dan bangunan non-rumah tinggal yang sesuai dengan fungsi yang ditetapkan dan memenuhi syarat administratif dan syarat teknis.
Pada dasarnya intensitas pemanfaatan ruang merupakan ketentuan untuk mengatur keteraturan bangunan dengan karakteristik/kriteria
yang harus dimuat didalamnya yakni intensitas pemanfaatan ruang yang meliputi luas persil minimal, luas lantai bawah bangunanterhadap luas lahan (KDB), luas seluruh lantai bangunan terhadap luas lahan (KLB), ketinggian maksimal-minimal bangunan.
Selain IPR, terdapat ketentuan Garis Sempadan bangunan pada khas jalan lingkungan perumahan besar, sedang, dan kecil, garis sempadan bangunan terhadap batas – batas persil, garis sempdan bangunan berdasarkan klasmya.
Pada dasarnya kriteria dan ketentuan dalam building untuk masing – masing wilayah berbeda – beda bergantung pada jenis dan kondisi wilayah serta tujuan penyusunan building code. Salah satu tujuan dan fungsi zoning regulation yaitu sebagai pengendali massa bangunan sebagai mitigasi maupun pencegahan terhadap terjadinya dampak bencana.
Dalam penyusunan intensitas pemanfaatan ruang sebagai pengendali dampak bencana maka kriteria yang harus disusun yaitu pengklasifikasian zona terdampak berdasarkan besaran dampak yang dialami serta fungsi dan klasifikasi bangunan, selain itu dapat ditentukan dengan klasifikasi berdasarkan tingkat kerentanan wilayah yang rawan terhadap bencana. Aspek – aspek yang terdapat didalam zoning regulation harus mengacu pada peraturan dan ketentuan yang ada, misalnya mengacu pada dokumen RDTRK, RTBL maupun dokumen perencanaan yang secara khusus untuk menanggulangi bencana.
Sedangkan menurut natalivan, 2007, zoning regulation menjadi perangkat penting dalam rencana tata ruang pasca bencana.
Zoning regulation dalam pengendalian dampak bencana terdiri atas kandungan substansi utama dan substansi tambahan penanggulangan dampak. Adapun komponen yang diatur adalah sebagai berikut.
1. Substansi utama yang meliputi
a. Pengklasifikasian zona terdampak
b. Penggunaan lahan yang meliputi penggunaan lahan dan bangunan
c. Intensitas yang meliputi KDB, KLB, KDH, KTB serta kepadatan penduduk
d. Tata massa bangunan yang meliputi tinggi bangunan, Garis sempadan bangunan, Garis sembapadan jalan, luas minimum persil)
e. Aturan tambahan yang meliputi keindahan dan estetika 2. Substansi tambahan penanggulangan dampak
a. Penanggulangan pencemaran lingkungan
b. Development impact fees yang merupakan alat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas lingkungan fisik (sarana dan prasarana)
2.3. Keterkaitan Antara Fenomena Penurunan Muka Tanah Dengan Zoning Regulation
Salah satu penyebab terjadinya Penurunan Muka Tanah adalah intensitas massa bangunan dimana pada literatur dijelaskan bahwa aspek yang mempengaruhi adalah presentase tutupan lahan, ketersediaan lahan resapan, tinggi bangunan yang mana ketentuan – ketentuan tersebut dapat diatur dalam aturan teknis zoning regulation mengenai intensitas pemanfaatan ruang yakni meliputi KDB, KDH, Tinggi bangunan dan KLB. (Natalivan, 2006)
Selain itu zoning regulation juga merupakan salah satu instrumen pengendalian penataan ruang, sehingga pengendalian intensitas massa bangunan dalam rangka mengurangi fenomena penurunan muka tanah dapat dilakukan melalui zoning regulation khusus teknis intensitas pemanfaatan ruang.
Tabel 2.2.Indikator Teori Zoning Regulation Sebagai Instrumen Pengendali Tata Ruang
Topik Sumber Indikator
Definisi Zoning regulation
Dirjen Penataan Ruang (2006)
- Klasifikasi zona
- Peraturan Pemanfaatan Lahan
- Prosedur Pelaksanaan Pembangunan
- Aturan Guna Lahan - Intensitas Pemanfaatan
Ruang
- Aturan Massa Bangunan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 Tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang
- Intensitas Pemanfaatan Ruang
- Massa Bangunan
Fungsi Dan
Karakteristik Zoning regulation
Barnett, 1982 dalam Dirjen Penataan Ruang (2006)
- Pengaturan Jenis Kegiatan
- Pengaturan Intensitas Bangunan
- Pengaturan Massa Bangunan
- Peraturan Pemanfaatan Ruang
- Perizinan
- Disentif dan Insentif - Jenis Zona Hirarki PU (2006)
- Jenis Kegiatan dan Penggunaan Lahan - Intensitas Pemanfaatan
Topik Sumber Indikator Ruang
- Tata Massa Bangunan - Prasarana
Zoning regulation Sebagai
Pengendalian Dampak Bencana
- Jenis Zona – Zona Dasar dan Sub Zona
- Jenis Penggunaan Lahan - Intensitas Bangunan - Massa Bangunan - Prasarana minimum - Tingkat Keindahan dan
Estetika
- Substansi Pengendalian dampak
UU No. 28 Tahun 2002
- Aspek Keselamatan - Aspek Kesehatan - Aspek Kenyamanan - Aspek Kemudahan - Aspek Keamanan Sumber: Analisa Penulis, 2017
2.3. Sintesa Pustaka
Sintesa pustaka merupakan sintesa variabel – variabel dari teori – teori yang terdapat pada kajian pustaka dan akan digunakan dalam penelitian ini. adapun variabel berdasarkan sintesa pustaka yakni disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 2.3. Sintesa Pustaka
Aspek Indikator Variabel Alasan Pemilihan Variabel
Fenomena Penurunan Muka Tanah
Penurunan muka tanah
Tingkat
penurunan muka tanah
Merupakan salah satu variabel yang disebabkan oleh tingginya IPR.
Bangunan Konstruksi bangunan
Untuk mengetahui tingkat dampak penurunan muka tanah terhadap kerusakan bangunan
Zoning regulation Sebagai Pengendali Tata Ruang Kota
Tata Guna Lahan
Presentase Penggunaan Lahan
Untuk mengetahui jenis penggunaan lahan berdasarkan klasifikasi zona
Intensitas Pemanfaata n Ruang
KDB Merupakan Aspek IPR
yang berpengaruh terhadap terjadinya penurunan muka tanah KLB
KDH
Tata Massa Bangunan
Lantai Bangunan
Merupakan Aspek Tata Massa Bangunan yang berpengaruh terhadap terjadinya penurunan muka tanah
Tinggi Bangunan Klasifikasi
Bangunan
Fungsi Bangunan
Untuk mengetahui fungsi yang diterapkan pada suatu bangunan sehingga
Aspek Indikator Variabel Alasan Pemilihan Variabel
dapat mengetahui kebutuhan airnya.
Sumber: Analisa Penulis,2017
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan Penelitian yang akan digunakan pada penelitian ini adalah menggunakan pendekatan rasionalistik yakni merupakan pendekatan yang menempatkan objek yang spesifik secara totalitas holistik. Pendekatan rasionalistik mengenal mengenai fakta empiris, empiris sensual, empiris logika dan teoritis yang dapat digunakan untuk dasar analisis masalah sehingga hasil penelitian penulis harus dapat diuji validasinya dan dapat dipertanggungjawabkan (Muhadjir, 2000). Selain itu pada penelitian juga menggunakan pendekatan eksplanatori yakni merupakan pendekatan penelitian yang digunakan untuk menguji suatu hipotesis pada suatu teori maupun penelitian sebelumnya. Pendekatan eksplanatori bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara dua atau lebih gejala atau variabel (Sarwono,2006).
3.2. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif yang terfokus pada dampak yang dihasilkan berdasarkan kondisi lapangan serta faktor penyebabnya pada wilayah terdampak yaitu Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian dengan metode yaitu secara kuantitif pada proses pengumpula data, pengolahan data maupun pada jenis data yang dinilai kuantitatif sehingga tercipta hasil penelitian berdasarkan metode kuantitatif (Creswell & Clark, 2007).
3.3. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang dipergunakan untuk mewakili ciri, sifat dan ukuran yang bervariasi yang didapatkan oleh satuan penelitian pada suatu konsep pengertian tertentu (Notoatmodjo, 2005). Suatu variabel harus berisi mengenai tahapan pengorganisasian serta definisi operasionalnya dengan tujuan agar mempermudah mencari hubungan antar satu variabel dengan variabel lainnya dan pengukurannya (Sarwono, 2006). Menurut Notoatmodjo (2005) tujuan dan manfaat definisi operasional yaitu untuk membatasi ruang lingkup penelitian berdasarkan variabel yang telah didefinisikan secara terukur.
Adapun varibel dan definisi operasionalnya pada penelitian ini yakni sebagai berikut.
Tabel 3.1. Variabel Penelitian
Sasaran Variabel Definisi Operasional
a. Sasaran 1 (Identifikasi tingkat pengaruh variabel – variabel yang terhadap terjadinya fenomena penurunan muka tanah)
Tingkat penurunan muka tanah
Kedalaman permukaan tanah yang turun tiap
tahunnya, yang di deskripsikan dalam
ukuran mm Presentase
penggunaan Lahan
Presentase Tutupan Lahan/Lahan
Terbangun KDB Nilai Presentase
koefisien dasar bangunan (luas lantai bangunan dibagi persil
dikali 100%) KLB Nilai koefisien lantai
bangunan yang dijabarkan dalam nilai
desimal KDH Nilai presentase
koefisien dasar hijau (luas dasar hijau dibagi
nilai persil dikali 100%)
Tinggi Bangunan
Ketinggian suatu bangunan yang dijabarkan dalam
ukuran meter
Sasaran 2
(Menentukan karakteristik
bangunan pada
Output Sasaran 1 Terdiri dari variabel yang dihasilkan oleh analisa pada sasaran 1
dan 2
Sasaran Variabel Definisi Operasional wilayah yang
mengalami
penurunan muka tanah berdasarkan aspek IPR)
Konstruksi Bangunan Presentase kerusakan bangunan yang terjadi pada wilayah studi Substructure
bangunan
Jenis material yang digunakan oleh bangunan yang berada
pada wilayah studi Fungsi Bangunan
Jenis fungsi bangunan yang digunakan pada
wilayah studi
Sasaran 3
(perumusan rekomendasi pengendalian fenomena penurunan muka tanah melalui pengaturan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah studi)
Output Sasaran 1 dan 2
Merupakan rekomendasi dan saran
yang ditawarkan berdasarkan temuan pada sasaran 1 dan 2
Sumber: Analisis Penulis, 2017
3.4. Populasi Dan Sampel 3.4.1 Populasi
Populasi merupakan keseluruhan unit pengukuran yang merupakan objek dalam penelitian yang pada akhirnya diambil suatu kesimpulan (Purnomo, 2010). Populasi yang digunakan pada penelitian ini adalah masyarakat yang terdampak terhadap penurunan muka tanah. Adapun masyarakat tersebut adalah masyarakat Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Surabaya. Selain itu juga terdapat unsur biotik dan antibiotik.
3.4.2 Sampel
Sampel merupakan keseluruhan unit atau objek yang terpilih dan merupakan bagian dari populasi yang mewakili karakteristik populasi dan dapat berupa suatu elemen individu atau seperangkat elemen (Sarwono, 2006). Sampel tersebut kemudian disebut responden, adapun sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagian masyarakat terdampak yakni Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak serta aktivitasnya, dan kondisi fisik wilayah penelitian.
3.4.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan data yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik stratified random sampling yaitu pengambilan sampel yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan tingkatan atau variasi yang melekat pada populasi. teknik random sampling tersebut digunakan untuk menjawab kebutuhan identifikasi variabel – variabel yang berpengaruh terhadap terjadinya fenomena penurunan muka tanah serta menjawab kebutuhan karakterisasi bangunan pada wilayah studi yang mengalami fenomena penurunan muka tanah berdasarkan kriteria intensitas pemanfaatan ruang.
Tabel 3.2. Teknik Sampling Pada Masing – Masing Sasaran
No. Sasaran Teknik
Sampling Keterangan 1.
Menentukan karakteristik bangunan pada wilayah yang mengalami penurunan muka tanah aspek intensitas pemanfaatan ruang
Stratified Random Sampling
Populasi
merupakan jumlah masyarakat pada wilayah studi (Kelurahan Medokan Ayu dan Gunung Anyar)
a. Teknik Pengambilan Sampel Stratified Random Sampling Teknik random sampling dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan pengundian atau tabel acak. Pengundian dilakukan secara acak layaknya pengundian arisan sedangkan tabel acak digunakan dengan cara pengundian melalui data tabel melalui Microssoft Excel dengan formula “=randbetween(xn1,xn2)”.
Sebelumnya sampel menggunakan obyek masyarakat yang mana menggunakan jumlah KK sebagai populasi di wilayah terdampak yang kemudian di saring atau ditentukan jumlah sampel dengan menggunakan rumus slovin untuk menentukan total sampel.
𝑛 = 𝑁
1 + 𝑁𝑒2 n =Ukuran Sampel
N=Ukuran Populasi
e =Tingkat Kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolerir (0,1;
0,05; 0,025; 0,01)
dengan menggunakan rumus slovin tersebut dengan tingkat kesalahan sebesar 10% (0,1) maka diperoleh sampel secara keseluruhan pada wilayah studi yaitu sebesar 180 sampel. Dari 180 sampel tersebut akan dibagi kembali menjadi sampel – sampel pada masing – masing RW secara terstratifikasi. Pengambilan sampel pada masing – masing RW tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik sampling stratified random sampling.
Stratified random sampling merupakan metode pengambilan sampel yang mana populasinya bersifat heterogen dan dibagi – bagi dalam lapisan – lapisan (strata), dan dari masing – masing strata harus diambil sampel secara acak (Kasjono & Yasril, 2009).
Pengambilan jumlah sampel pada masing – masing strata menggunakan rumus sebagai berikut.
𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙𝑝𝑒𝑟𝑅𝑊 =𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝐾𝐾𝑝𝑒𝑟𝑅𝑊
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙𝐾𝐾 𝑥180 (𝑢𝑘𝑢𝑟𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙) Untuk mendapatkan jumlah sampel pada masing – masing RW maka dibutuhkan data berupa jumlah KK pada masing – masing RW serta jumlah total keseluruhan KK pada wilayah studi (Kelurahan Medokan Ayu dan Kelurahan Gunung Anyar Tambak).
Berikut merupakan data tersebut.
Tabel 3.3. Jumlah Sampel pada masing – masing wilayah penelitian
No. Kelurahan RW Jumlah
KK/RW
Jumlah KK/Kelurahan
1. Medokan Ayu
1 720
7420
2 1540
3 1003
4 429
5 224
6 223
7 93
8 523
9 334
10 487
11 282
12 284
13 330
14 563
15 385
2. Gunung Anyar Tambak
1 378
2022
3 407
4 229
5 289
No. Kelurahan RW Jumlah KK/RW
Jumlah KK/Kelurahan
6 213
7 194
8 201
9 111
Jumlah Total 9422 KK Sumber: Analisa penulis, 2017
Setelah melakukan perhitungan berdasarkan rumus stratified random sampling tersebut maka diperoleh jumlah sampel pada masing – masing RW sebagai berikut.
Tabel 3.4. Jumlah Sampel pada masing – masing RW
No. Kelurahan RW Jumlah Sampel
1. Medokan Ayu
1 14
2 29
3 19
4 8
5 4
6 4
7 2
8 10
9 6
10 9
11 5
12 5
13 6
14 11
15 7
2. Gunung Anyar Tambak
1 7
3 8
4 4
No. Kelurahan RW Jumlah Sampel
5 6
6 4
7 4
8 4
9 2
Dari jumlah sampel tersebut kemudian sampel dipilih secara acak pada realisasi survey lapangan.
3.5. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pengumpulan data secara primer yaitu berdasarkan survey primer serta menggunakan teknik pengumpulan data secara sekunder berdasarkan survey sekunder atau instansional.
3.5.1 Metode Pengumpulan Data Primer
Metode pengumpulan data primer merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan secara langsung yang mana data yang dibutuhkan harus dicari melalui narasumber atau responden yang dijadikan obyek penelitian (Sarwono, 2006). Pengumpulan data secara primer dapat dilakukan secara aktif dan pasif yang mana metodenya terdiri dari observasi, dan survey kuisioner.
Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data primer dengan metode observasi serta survey kuisioner. Metode observasi pada penelitian dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung pada obyek – obyek penelitian di wilayah penelitian.
Adapun jenis data yang diamati secara langsung (observasi) adalah sebagai berikut.