1
PENGARUH PEMBERIAN REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP MINAT BELAJAR
SISWA
(Studi pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
Oleh :
KHOLIFATUL MUSFIROH NIM: 11107021
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA TAHUN 2012
2
3
PENGESAHAN SKRIPSI
PENGARUH PEMBERIAN REWARD DAN
PUNISHMENT TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA
(Studi pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012)
DISUSUN OLEH : KHOLIFATUL MUSFIROH
NIM: 11107021
Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga, pada tanggal 29 Pebruari
2012 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana S1 Kependidikan Islam
Susunan Panitia Penguji Ketua penguji : Drs. Miftahuddin, M.Ag
Sekretaris
Penguji : Dra. Siti Asdiqoh, M. Si
Penguji I
: Dra. Djami`atul Islamiyah, M.
Ag
Penguji II : Dra. Hj. S. Marfu`ah, M.Pd Penguji III : Siti Rukhayati, M. Ag
Salatiga, 06 Maret 2012 Ketua STAIN Salatiga
Dr. Imam Sutomo, M.Ag NIP.19580827 198303 1 002
4
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi Saudara:
Nama : Kholifatul Musfiroh
NIM : 11107021
Jurusan/Progdi : Tarbiyah/ Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : PENGARUH PEMBERIAN REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA
(STUDI PADA SMP NEGERI 03 KOTA SALATIGA
KELAS VII TAHUN AJARAN 2011/2012)
telah kami setujui untuk dimunaqosahkan.
Salatiga, 12 Januari 2012 Pembimbing
Dra. Siti Ruhayati,M.Ag NIP. 19770403 2003122003
5
MOTTO
"Jika anda ingin berubah maka lakukanlah perubahan. Arahkan perubahan itu kearah yang positif menuju impian dan harapan.
Bangunlah dari mimpi dan jangan biarkan peluang menjauhi anda"
"sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
6
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan untuk:
1. Kedua orang tuaku, bapak Zakaria dan ibu Mudrikah tercinta yang dengan do`a dan seluruh pengorbanannya telah mengukir segala asa, cita dan harapan.
2. Bapak ibu mertuaku (Hasbi dan Marsimah) yang selalu memberikan do`a.
3. Suamiku tercinta Agus Setiyoko yang telah mencurahkan segala pikiran dan tenaga demi keluarga kecil kami serta sebagai pendorong dan pemberi inspirasi/ motifasi. Semoga diberikan oleh Allah SWT kesehatan jasmani dan rohani, dan samua pekerjaan diberikan kelancaran.diberikan.
4. Si kecil, buah hatiku `Abid Ahsan Miqdad Al-Jazira semoga menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orang tua, berguna bagi bangsa dan agama. Semoga diberikan kesehatan jasmani dan rohani oleh Allah SWT, dan menjadi seorang pemimpin, orang yang bisa memimpin dan membimbing adik- adiknya kelak.Amin...
5. Adik- adikku Taufiqqur Rohman dan Ruruh Anis Faizah tercinta jadilah orang yang bisa membanggakan orang tua.
6. Teman-temanku seperjuangan PAI angkatan 2007 khususnya PAI-A.
7. Teman-temanku HMI komisariat Wali Songo, komisariat Ganesha dan Cabang Salatiga.
8. Almamaterku tercinta STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam salatiga).
Salatiga, 12 Januari 2012 Penulis
Kholifatul Musfiroh
7
Nim: 11107021
KATA PENGANTAR
Dengan senantiasa mengharap rahmad ridho Allah SWT dan segala puji kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita nabi Agung Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat serta orang-orang yang berpegang teguh pada ajarannya.
Skripsi yang berjudul "Pengaruh Guru Dalam Memberikan Reward dan Punishment Terhadap Minat Belajar Siswa (Studi Pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun ajaran 2011/2012)" ini disusun guna memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (satu) di STAIN Salatiga.
Dalam penyusunan skripsi ini perkenankanlah penulis menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Dr. Imam Sutomo, M.Ag selaku Ketua STAIN Salatiga yang telah merestui dalam pembahasan skripsi ini.
2. Kepala Jurusan Tarbiyah STAIN Salatiga, Bapak Suwardi, M.Pd.
3. Kepala Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Ibu Dra. Siti Asdiqoh.
4. Pembimbing Skripsi Ibu Siti Rukhayati, M.Ag, atas waktu, tenaga, ilmu arahan dan bimbingan yang telah diberikan kepada peneliti serta komitmenya dalam membimbing, semoga amal baik Ibu mendapat balasan dari Allah SWT.
5. Segenap dosen dan civitas Akademik STAIN Salatiga yang telah memberikan kelancaran dalam penulisan skripsi ini.
6. Keluarga besar SMP Negeri 03 Kota Salatiga.
7. Ayah dan Ibuku terimaksih atas doa dan nasihat-nasihatnya.
8. Suami dan anakku yang paling kusayangi doa dan harapanku selalu menyertai dengan keberadaanmu sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan.
9. Adik-adikku yang senantiasa hadir dalam ingatanku.
8
10. Teman –teman HMI cabang Salatiga kader umat kader bangsa, yang akan menjadi tumpuan masa depan Indonesia.
11. Semua pihak yang membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak bisa penulis tulis satu persatu hanya terimaksih yang dapat kami sampaikan semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan kepada kita semua.
Penulis menyadari, bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, Maka penulis berharap saran dan kritik yang membangun sebagai iktiar dalam menyempurnakan penulisan skripsi ini.
Salatiga, 12 Januari 2012 Penulis
Kholifatul Musfiroh NIM. 11107021
9
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Kholifatul Musfiroh
NIM : 11107021
Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Salatiga, 12 Januari 2012 Penulis
Kholifatul Musfiroh NIM. 11107021
10 DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... i
HALAMAN NOTA PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN MOTTO ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
ABSTRAK ... X BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang………... 1
B. Rumusan Masalah………... 6
C. Tujuan Penelitian……….../... 6
D. Hipotesis Penelitiaan………...… 7
E. Kegunaan Penelitian……… 8
F. Defisini Operasional……… 9
G. Metodologi Penelitian………... 13
H. Sistematika Penulisan Skripsi………... 17
BAB II : KAJIAN PUSTAKA A. Reaward dan Punishment………. 19
1. Pengertian reward dan Punishment……… 19
2. Tujuan Pemberian Reward dan Punishment ………... 25
3. Macam-macam Reward dan Punishment……….. 28
4. Fungsi Reward dan Punishment……… 36
B. Minat Belajar Siswa 1. Pengertian Minat Belajar………...……….. 37
a. Pengertian Minat ………...…... 37
11
b. Pengertian Belajar………. 39
1) Faktor-faktor yang mempengaruhi Minat... 42
2) Faktor –faktor yang mempengaruhi Belajar... 43
3) Teori-teori Belajar………. 47
4) Upaya Meningkatkan Minat Belajar ...………. 48
C. Pengaruh Reward dan Punishment terhadap Minat Belajar Siswa ………... 51
BAB III : Hasil Penelitian ………... 55
A. Gambaran Umum SMP Negeri 03 Kota Salatiga ………….... 55
1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 03 Kota Sa……….. 55
2. Visi dan Misi SMP Negeri 03 Kota Salatiga ...…… 57
3. Profil SMP Negeri 03 Kota Salatiga ………... 57
4. Struktur Organisasi ……….. 59
B. Penyajian Data ………... 60
1. Data Reward ……… 61
2. Data Punishment……….. 65
3. Data Minat……….. 69
BAB IV : ANALISIS DATA A. Analisis data tentang Pengaruh Reward dan Punishmentterhadap Minat Belajar Siswa ……….... 77
1. Gambaran Paradigma... 87
2. Contoh Gambar Paradigma... 88
BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan………... 88
B. Saran-saran………... 89
C. Penutup……….... 89 DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS LAMPIRAN-LAMPIRAN
12 ABSTRAK
Kholifatul Musfiroh 11107021, Pengaruh Guru dalam Memberikan Reward dan Punishment terhadap Minat Belajar Anak (Studi pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Pelajaran 2011/2012).
Penulisan skripsi ini merupakan upaya untuk memberikan salah satu metode yang digunakan sebagai seorang pendidik dalam mengembangkan minat belajar, sebab dengan pemberian sesuatu kepada siswa akan dapat meningkatkan minat dan dengan adanya peningkatan minat akan menghasilkan prestasi bagi peserta didik.pertanyaan utama yang ingin dijawab dalam penelitian skripsi ini adalah (1) Bagaimana guru dalam memberikan Reward dan Punisment pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga (2) adakah pengaruh secara signifikan bahwa pemberian reward dan punishment akan dapat meningkatkan minat belajar siswa ?
Dalam penulisan skripsi ini setidaknya dapat memberikan gambaran kepada pendidikan atau unsur-unsur dalam pendidikan tentang bagaimana memberikan kepada siswa agar dapat meningkatkan dalam minat belajarnya, dalam penelitian ini penulis mengunakan metode observasi,dokumentasi dan angket dan sobyek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 03 Kota salatiga.
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa mayoritas siswa memperoleh perlakuaan dari guiru yang berbeda dan bahkan siswa mensikapi dengan cara yang berbeda pula, dan dalam penelitian ini ada pengaruh yang signifikan yaitu adanya pengaruh guru dalam memberikan Reward
13
(hadiah)Punishment (hukuman) terhadap minat belajar siswa SMP Negeri 03 Kota Salatiga
14 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seseorang, baik dalam keluarga, masyarakat, dan bangsa. Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh tingkat keberhasilan pendidikan. Keberhasilan pendidikan akan dicapai suatu bangsa apabila ada usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa itu sendiri. Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuhkembangkan potensi sumber daya manusia, dengan pendidikan manusia bisa berbudaya.
Salah satu tujuan pendidikan adalah untuk membentuk manusia yang baik dan berbudi pekerti yang luhur menurut cita-cita dan nilai-nilai dari masyarakat, serta salah satu tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan bangsa salah satu yang dapat digunakan dalam rangka mensukseskan tujuan pendidikan adalah melakukan proses belajar dan mengajar, dan dalam merumuskan proses belajar mengajar itu dibutuhkan pendidikan dalam hal ini adalah pendidikan formal.
Belajar merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri. Oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai belajar itu sendiri
15
dengan segala aspek, bentuk dan manifestasinya mutlak diperlukan oleh para pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.
Kemampuan potensial pada diri manusia itu baru aktual dan fungsional bila disediakan kesempatan untuk muncul dan berkembang dengan menghilangkan segala gangguan yang dapat menghambatnya. Hambatan- hambatan mental dan spiritual banyak sekali corak dan jenisnya, seperti hambatan pribadi dan keluarga serta hambatan sosial. Hambatan sosial misalnya hambatan emosional (tidak adanya minat belajar) dan lingkungan masyarakat yang tidak mendorong kepada kemajuan dan cenderung melemahkan kemampuan dan motivasi siswa dalam menjalankan pendidikan.
Dalam proses pendidikan minat itu sangat penting, karena minat merupakan syarat mutlak untuk belajar. Di sekolah seringkali terdapat anak yang malas, tidak menyenangkan, suka membolos dan sebagainya. Dalam hal yang demikian, berarti guru tidak berhasil dalam memberikan motivasi yang tepat untuk mendorong agar ia bekerja dengan segenap tenaga dan pikirannya.
Banyak bakat anak tidak berkembang karena tidak diperoleh motivasi yang tepat, jika seorang mendapat motivasi yang tepat maka paduan tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga (Purwanto, 1990: 60). Suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal daripada hal lainnya,
16
dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Siswa yang memiliki minat terhadap subyek tertentu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap subyek tersebut. Lebih jauh minat mengarahkan perbuatan pada tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu sendiri (Purwanto, 1990: 56).
Tindakan memotivasi akan lebih dapat berhasil, jika tujuannya jelas dan disadari oleh yang dimotivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang yang dimotivasi. Oleh karena itu, setiap orang (pendidik) yang akan memberi motivasi harus mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan dan kepribadian orang yang akan dimotivasi serta teori- teori bagaimana motivasi bisa berhasil. Minat belajar dalam diri seseorang cenderung tidak tetap, kadang-kadang kuat dan kadang lemah, bahkan dapat hilang sama sekali, oleh karena itu minat belajar sangat penting untuk tetap mempertahankan dalam mencari ilmu. Sebagaimana dalam firman Allah SWT tentang keutamaan mencari ilmu:
Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:
"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan:
"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang- orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah
17
Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Ahmad Hatta, 2009:
543).
Sebagaimana pengertian belajar yaitu suatu proses usaha untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dalam istilah lain tingkah laku belajar dikendalikan oleh reward (ganjaran), sehingga dalam prakteknya pemberian reward (ganjaran) maupun pemberian punishment (hukuman), digunakan oleh pendidik (guru) sebagai bentuk penguatan, stimulus dalam mendidik siswa.
Dalam teori pembelajaran dikenal dengan istilah Law of effect perilaku yang bersifat menyenangkan cenderung untuk diulang atau dipertahankan, sedangkan perilaku yang menimbulkan efek tidak menyenangkan cenderung untuk ditinggalkan atau tidak diulang (Sriyanti, dkk., 2009: 72). Lebih jauh efek yang tidak menyenangkan dirasakan sebagai punishment sedangkan efek yang menyenangkan dirasakan sebagai reward. Sebagai contoh: anak menjawab pertanyaan dari seorang guru, kemudian mendapat pujian “Hebat sekali jawabanmu “, maka kemudian anak tersebut menganggap pujian dari guru merupakan hadiah, karena mendatangkan efek menyenangkan (Sriyanti, dkk., 2009: 72). Dan begitu juga sebaliknya jika anak menjawab pertanyaan dari guru, misalnya saja mendapat efek yang tidak menyenangkan, misalnya ditertawakan oleh teman-temanya, diejek dan dicela guru, maka perilaku menjawab guru cenderung tidak diulang (anak merasa kapok) tertawaan dan cemoohan dinilai anak sebagai hukuman.
18
Dalam mendidik istilah reward atau ganjaran digunakan ketika siswa (anak didik) sukses berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, sehingga tak jarang dijumpai pemberian reward sebagai bentuk penguatan positif diberikan pendidik (guru) kepada anak didik sebagai wujud tanda kasih sayang, penghargaan atas kemampuan dan prestasi seseorang, bentuk dorongan atau tanda kepercayaan. Pemberian reward dapat berupa kata-kata pujian, senyuman, tepukan punggung atau bahkan berbentuk materi serta sesuatu yang menyenangkan bagi anak didik.
Sedangkan punishment atau hukuman diberikan kepada seseorang karena melakukan suatu kesalahan, perlawanan atau pelanggaran. Atau ketika anak didik melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh guru, banyak dari pendidik (guru) memberikan ancaman, tekanan atau pukulan sebagai bentuk hukuman dengan maksud untuk perbaikan dan pembinaan tingkah laku anak didik, justru membawa dampak negatif bagi anak.
Reward dan Punishment sebenarnya dapat dijadikan alat yang efektif dalam pencapaian tujuan pendidikan atau menjadi bomerang (serangan balik) bagi anak didik. Pemberian reward secara berlebihan berdampak pada penekanan diri serta perasaan frustasi anak. Punishment yang digunakan terlalu sering akan mengakibatkan pemberontakan, sikap marah serta dapat menjadikan anak didik depresi, dan pesimistis. Penempatan reward dan punishment secara tepat dapat menjadi motivasi tersendiri pada diri anak didik dalam menumbuhkembangkan minat siswa dalam melakukan aktivitas belajar.
19
Berawal dari latar belakang di atas penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut melalui skripsi yang berjudul “ PENGARUH PEMBERIAN REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA (Studi Pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penulisan skripsi ini dapat kami rumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pemberian reward pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012?
2. Bagaimana pemberian Punishment pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012?
3. Bagaimana minat belajar siswa pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012?
4. Bagaimana pengaruh yang signifikan pemberian reward terhadap Minat belajar siswa kelas VII SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012?
5. Bagaiamana pengaruh yang signifikan pemberian punishment terhadap Minat belajar siswa kelas VII SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012?
6. Bagaimana pengaruh yang signifikan antara pemberian reward dan punishment terhadap Minat belajar siswa kelas VII SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012?
20 C. Tujuan Penelitiaan
Dalam penulisan skripsi ini, ada beberapa tujuan yang dapat diambil dari penulisan skripsi ini diantaranya adalah:
1. Ingin mengetahui persepsi siswa dalam pemberian reward pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012.
2. Ingin mengetahui persepsi siswa dalam pemberian Punishment pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012.
3. Ingin mengetahui perkembangan minat belajar siswa pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012.
4. Ingin mengetahui pengaruh pemberian reward terhadap minat belajar siswa Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012.
5. Ingin mengetahui pengaruh pemberian punishment terhadap minat belajar siswa Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012.
6. Ingin mengetahui pengaruh pemberian reward dan punishment terhadap minat belajar siswa Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012.
D. Hipotesis Penelitian
Untuk memperoleh jawaban sementara terhadap masalah yang diteliti, maka penulis perlu menuliskan hipotesis. Apabila peneliti telah mengalami permasalahan penelitiannya dengan seksama serta menetapkan anggapan dasar, kemudian memberi teori sementara yang kebenarannya masih perlu diuji (di bawah kebenaran).
21
Berdasarkan kajian tersebut di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian adalah:
1. Ada pengaruh yang signifikan (hubungan positif dan signifikan) pemberian reward terhadap minat belajar siswa pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga.
2. Ada pengaruh yang signifikan (hubungan positif dan signifikan) pemberian punishment terhadap minat belajar siswa pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga.
3. Ada pengaruh yang signifikan (hubungan yang positif dan signifikan) pemberian reward dan punishment bersama-sama terhadap atau dengan minat belajar siswa pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga.
E. Kegunaan Penelitiaan
Dalam penulisan skripsi ini, ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari penulisan skripsi ini diantaranya adalah :
1. Memberikan kontribusi positif bagi guru akan pentingnya pemberian reward dan punishment dalam menumbuhkan minat belajar siswa.
2. Dapat digunakan sebagai referensi dalam penggunaan metode reward dan punishment dalam pengajaran di sekolah.
22
3. Memberi sumbangan pemikiran bagi para guru dan lembaga pendidikan pada umumnya tentang pengaruh pemberian reward dan punishment dalam menumbuhkan minat belajar siswa.
F. Definisi Operasional
Untuk menghindari terjadinya salah pengertian terhadap skripsi ini dan untuk menjaga sebagai antisipati timbulnya kesalahpahaman serta pengaburan pemahaman makna, maka sebelum membahas lebih lanjut tentang skripsi ini terlebih dahulu ditegaskan istilah-istilah yang terdapat pada judul skripsi ini:
1. Pengaruh
Pengaruh ialah daya yang ada atau timbul dari sesuatu baik benda, orang maupun yang lainnya, yang berkuasa atau yang berkekuatan ghaib dan sebagainya (Anwar, 2001: 318).
2. Guru
Secara istilah guru dapat diartikan orang yang kerjanya mengajar perguruaan atau sekolah, gedung tempat belajar perguruan tinggi sekolah tinggi universitas (Anwar, 2001: 161).
Jadi guru adalah seseorang yang menyampaikan materi (transfering ilmu) kepada siswa, murid atau anak didik baik secara tulisan, sikap maupun verbal.
3. Reward dan Punishment
Reward yaitu ganjaran, hadiah atau memberi penghargaan. Hadiah adalah sesuatu yang menyenangkan yang diberikan setelah seseorang melakukan tingkah laku yang diinginkan (Arikunto, 1980: 182). Lebih jauh Suharsimi Arikunto, menjelaskan hadiah adalah sesuatu yang
23
diberikan kepada orang lain karena sudah bertingkah laku sesuai dengan yang dikehendaki yakni mengikuti peraturan sekolah dan tata tertib yang sudah ditentukan (Arikunto, 1980: 182).
Tujuan daripada reward adalah membangkitkan atau mengembangkan minat. Jadi, penghargaan berperan untuk membuat pendahuluan saja. Penghargaan adalah alat bukan tujuan hendaknya diperhatikan jangan sampai penghargaan ini menjadi tujuan. Tujuan pemberian penghargaan dalam belajar adalah bahwa setelah seorang menerima penghargaan karena telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, ia akan terus melakukan kegiatan belajarnya sendiri di luar kelas (Hamalik, 2000: 184).
Indikator Reward (ganjaran):
Adanya penghargaan dari guru atas prestasi seorang siswa.
Adanya pujiaan ketika anak/siswa yang mampu melaksanakan tugas dengan baik atau mampu menjawab pertanyaan dari guru.
Guru memberikan tepukan punggung dalam proses belajar mengajar pada saat anak mampu menjawab pertanyaan dari guru.
Guru selalu memberikan senyuman pada saat anak mampu menjawab pertanyaan.
Guru memberikan kata-kata manis pada saat proses belajar mengajar.
Guru memberikan hadiah berupa benda kepada anak.
Hukuman adalah suatu perbuatan, dimana kita secara sadar dan sengaja menjatuhkan nestapa kepada orang lain, yang baik dari segi kejasmanian
24
maupun dari segi kerohanian orang lain itu mempunyai kelemahan bila dibandingkan dengan diri kita. Oleh karena itu kita mempunyai tanggung jawab untuk membimbingnya dan melindunginya. Suatu hukuman itu pantas, bilamana nestapa yang ditimbulkan itu mempunyai nilai positif, atau mempunyai nilai paedagogis. Hukuman tidak dirasakan oleh anak didik sebagai pelanggaran pribadinya, dan tidak menimbulkan keretakan hubungan antara pendidik dan anak didik, akan diterima anak didik dengan senang hati, merasa tidak ada paksaan.
Indikator Punishment (hukuman):
Guru mentertawakan siswa ketika siswa salah dalam menjawab pertanyaan.
Adanya sanksi ketika anak tidak mengerjakan tugas.
Adanya ancaman kepada siswa ketika siswa melanggar aturan.
Adanya hukuman berupa fisik terhadap siswa.
Guru memberikan perkataan yang jelek terhadap siswa.
4. Minat Belajar Siswa
Dalam kamus besar bahasa Indonesia minat adalah perhatian atau kesukaan atau bisa dikatakan sebagai kencenderungan hati (Anwar, 2001:
280). Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan susatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat hubungan tersebut akan semakin besar minat atau keinginan. Belajar adalah proses memperoleh arti dan pemahaman-
25
pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa atau tahapan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengamalan dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif (Syah, 2010: 68). Siswa adalah subyek yang terlibat dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dalam kegiatan tersebut siswa mengalami tindak mengajar dan merespons dengan tindak belajar. Pada umumnya semula siswa belum menyadari pentingnya belajar. Dalam kaitanya dengan proses belajar mengajar dikenal adanya siswa secara terminologi siswa adalah salah satu komponen dalam pengajaran, disamping para guru, tujuan dan metode merupakan komponen dalam pembelajaran namun siswa merupakan komponen yang terpenting dalam pengajaran (Departemen Agama, 2005: 46)
Jadi dalam kegiatan belajar mengajar peranan minat baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Minat bagi pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Dalam kaitan itu perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan minat adalah bermacam-macam. Tetapi untuk minat ekstrinsik kadang-kadang tepat, dan kadang-kadang kurang sesuai. Hal ini guru harus hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar pada anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan minat tetapi justru tidak menguntungkan perkembangan belajar siswa.
Indikator Minat Belajar Siswa adalah:
26
Adanya perasaan senang ketika mengikuti pelajaran.
Adanya keinginan siswa untuk selalu belajar.
Adanya peningkatan hasil belajar siswa.
Anak menjadi giat dan tekun dalam belajar.
Anak memperhatikan guru pada saat pembelajaran.
G. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang berjenis kuantitatif, sehingga dalam menganalisis datanya digunakan analisis statistik dengan rumus regresi ganda.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian regresi ganda yaitu teknik yang digunakan untuk mencari pengaruh dua variabel prediktor atau untuk mencari hubungan fungsional dua variabel prediktor atau lebih terhadap variabel kriteriumnya atau untuk meramalkan dua variabel prediktor atau lebih terhadap variabel kriteriumnya. Dengan demikian multiple regression digunakan untuk penelitian yang menyertakan beberapa variabel sekaligus.
(Hartono, 2004: 140). Sedangkan pendekatan kuantitatif dimaksudkan adalah penelitian yang mendasarkan pada perhitungan angka-angka atau statistik dari suatu variabel untuk dapat dikaji secara terpisah dan kemudian dihubungkan.
Dalam penulisan skripsi ini ada metode yang digunakan diantaranya adalah:
1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian penulis pusatkan di SMP Negeri 03 Kota Salatiga. Dan penulis lakukan pada Tahun Ajaran 2011/2012 tepatnya pada akhir semester pertama yaitu, pada hari Kamis tanggal 08 Desember
27
2011. Penulis datang ke SMP Negeri 03 Kota Salatiga dengan membawa surat permohonan izin untuk bisa melakukan penelitian. Kemudian pada tanggal 09 Desember 2011 penulis menyebarkan angket pada SMP Negeri 03 Kota Salatiga yang bertempat di kelas VII D, E dan F.
2. Populasi dan Sampel a. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Dalam hal ini adalah populasinya adalah semua murid kelas VII SMP Negeri 03 Kota Salatiga yang berjumlah 224 yang terdiri dari 8 kelas masing- masing kelas rata-rata terdiri dari 26 siswa.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dianggap mewakili populasi yang ada. Sebagai sampelnya diambil 25% dari jumlah keseluruhan siswa Kelas VII sehingga data diperoleh kurang lebih 56 siswa, kelas VII SMP Negeri 03 Kota Salatiga.
3. Metode Pengumpulan Data a. Metode Angket
Metode angket adalah metode penyelidikan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang menjadi obyek penelitian. Angket atau kuesioner dapat juga diartikan sejumlah pertanyaan yang harus dijawab sebagai data untuk memperoleh informasi dari responden.
Metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan data yang
28
berkaitan dengan pembelajaran reward dan punishment, dan minat belajar siswa SMP Negeri 03 Kota Salatiga.
b. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk memperoleh data yang dipakai untuk mengetahui data yang dapat dilihat secara langsung (Departemen Agama, 2005: 5)
Metode ini digunakan untuk menghimpun data yang berkaitan dengan gambaran umum situasi dan kondisi sekolah Negeri 03 Kota Salatiga Kelas VII Tahun Ajaran 2011/2012 yang meliputi letak geografis, struktur organisasi, keadaan guru dan siswa, administrasi sekolah dan berbagai hal yang bersifat dokumentatif berupa catatan, buku, arsip, dan lainnya sebagai data pelengkap.
c. Observasi
Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara pengamatan langsung terhadap obyek yang akan di teliti (Departemen Agama, 2005: 5). Dalam hal ini penulis datang langsung ke SMP Negeri 03 Kota Salatiga guna mengamati secara langsung untuk mempersiapkan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian skripsi ini.
d. Analisa Data
a. Untuk mengetahui permasalahan ke 1,2,3 mengunakan rumus persentase:
P = X 100%
29 Keterangan :
P = Prosentase N = Jumlah Obyek F = Frekuensi
b. Regresi ganda digunakan untuk menghitung dan atau menguji tingkat signifikansi, antara lain:
a) Untuk menjawab rumusan masalah (1) dan (2) atau uji hipotesis (1) dan (2).
b) Dengan analisis diskriptif atau 0%
c) Untuk uji hipotesis digunakan analisis Regresi Linear, untuk itu dilakukan persyaratan hipotesis:
Variabel yang terlibat harus memiliki data yang diperolah secara acak (random).
Merupakan variabel kontinyu diukur dalam skala interval/ angket.
Mengikuti distribusi normal.
Hubungan antar variabel bentuk linear.
Untuk mengetahui permasalahan ke-4 mengunakan rumus regresi yaitu:
Langkah pertama adalah dengan memakai rumus:
Y = an + +
y = a + + ∑
y = a + +
30
Kemudian setelah selesai diuji dengan persamaan regresi dengan memakai rumus:
a) –
b) –
c) =
Langkah selanjutnya dengan menghitung dengan memakai rumus:
=
Setelah angka r tersebut diperoleh langkah selanjutnya adalah dengan menghitung dengan rumus:
= Keterangan:
n : banyak anggota sampel (responden) m : banyak prediktor
Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa:
Kesimpulan 1 dan2 sudah benar
Kesimpulan H (Uji) hipotesis masih perlu debenahi/ dihitung lagi Harus dicari sumbangan Efektif dan Relatif
H. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan penelitian ini di susun berdasarkan sistematika sebagai berikut:
31 BAB I : PENDAHULUAN
Dalam halaman ini dikemukakan: Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitiaan Hipotesis, Kegunaan penelitiaan, Definisi Operasional, Metode Penulisan, dan Sistematika Penulisan Skripsi.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Dalam bab ini berisi: Pengertian Reward dan Punishment dan Perkembangan Minat Belajar Siswa. Dengan uraian sebagai berikut :
a. Pengertian Reward dan Punishment, Macam-Macam Reward dan Punishment, Fungsi Teori Reward dan Punishment, dan Teori-Teori Pembelajaran.
b. Tinjauan Minat Belajar Siswa meliputi: Pengertian Minat, Pengertian Belajar, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar, Upaya dalam Menumbuhkan Minat Belajar.
c. Pengaruh Reward dan Punishment terhadap minat belajar siswa.
BAB III : HASIL PENELITIAN
Dalam bab ini menguraikan tentang Hasil Penelitiaan, halaman ini berisi: Gambaran Umum SMP Negeri 03 Kota Salatiga, yang terdiri dari Sejarah Berdiri, Visi dan Misi, Profil Sekolah, Struktur Organisasi dan Penyajiaan data.
32
BAB IV: ANALISIS DATA TENTANG PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA DI
SMP NEGERI 03 KELAS VII TAHUN PELAJARAN 2011/2012 KOTA SALATIGA
Halaman ini berisi: analisis data yang terkumpul dari penelitian, meliputi: Deskripsi Data Hasil Penelitian, Pembahasan Hasil Penelitian.
BAB V : KESIMPULAN, SARAN DAN PENUTUP
Dalam bab ini terdiri dari Kesimpulan, Saran-saran, dan Kata Penutup.
Daftar Pustaka Lampiran-lampiran
33 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Reward dan Punishment
1. Pengertian Reward dan Punishment
Dalam jaringan rekayasa paedagogis harus merupakan upaya membuat anak mau dan dapat belajar atas dorongan sendiri untuk mengembangkan bakat, pribadi dan potensi secara optimal. Sehingga berkaitan dengan pemakaian reward (hadiah) dan Punishment (hukuman) sebagai salah satu teknik pendidikan yang sering dipergunakan. Dalam mendidik harus mampu menjadikan anak didik berkembang sesuai fitrahnya bukan perbudakan otoritas pendidik pada diri anak yang mematikan inisiatif dan potensi.
Berikut akan dijelaskan mengenai ragam pengertian reward (hadiah) sebagai salah satu alat pendidikan sebagai pendorong motivasi belajar siswa sebagai berikut:
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia hadiah merupakan pemberian, hadiah, ganjaran (karena memenangkan suatu perlombaan, pemberian, kenang-kenangan, penghargaan, penghormatan, tanda kenang-kenangan tentang perpisahan cendera mata ( Anwar, 2001: 162).
Sedangkan Suharsimi Arikunto, menjelaskan hadiah adalah sesuatu yang diberikan kepada orang lain karena sudah bertingkah laku sesuai dengan
34
yang dikehendaki yakni mengikuti peraturan sekolah dan tata tertib yang sudah ditentukan (Arikunto, 1980: 182).
Dalam teori-teori pembelajaran dikenal efek yang dirasakan oleh seseorang sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka efek tersebut disebut sebagi Reward atau hadiah ( Sriyanti, dkk., 2009: 72).
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu demikian karena hadiah untuk suatu pekerjaan mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk sesuatu pekerjaan tersebut. Contohnya, hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seseorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar. Pemberian hadiah dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa, sehingga dengan motivasi berprestasi itu prestasi belajar siswa akan meningkat sebab motivasi adalah syarat mutlak untuk belajar (Purwanto, 1990: 60).
Dalam Islam pendidikan yang berkaitan dengan pemberian reward adalah adanya ganjaran yang diberikan kepada pemeluknya untuk senantiasa menjadi seorang yang taat, bahkan banyak ayat yang menerangkan balasan yang diberikan kepada orang-orang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam surat Al zalzalah ayat 7-8
35
Artinya : Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya (7).
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (8). (Ahmad Hatta:
599)
Tidak hanya dalam Al-quran dalam hadis Nabi juga diterangkan bahwa orang yang belajar terutama dalam menuntut ilmu juga akan mendapat pahala dari Allah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :
Nabi Muhammad saw bersabda: “Barang siapa yang mempelajari sebuah bab dari ilmu untuk diajarkan kepada manusia, maka diberikan dia pahala tujuh puluh orang Nabi”. (Usman Bin Hasan Bin Ahmad: 46)
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil satu kesimpulan bahwa pemberian hadiah merupakan salah satu bentuk alat pendidikan dalam proses pembelajaran yang dilakukan guru untuk anak didik sebagai satu pendorong, penyemangat dan motivasi agar anak didik lebih meningkatkan prestasi hasil belajar sesuai yang diharapkan. Dan diharapkan dari pemberian hadiah tersebut muncul keinginan dari di anak untuk lebih membangkitkan minat belajar yang tumbuh dari dalam diri siswa sendiri.
Selanjutnya akan dipaparkan juga mengenai beberapa definisi hukuman yang juga sebagai salah satu alat pendidikan sekaligus sebagai bentuk atas konsekuensi tingkah laku yang sudah dilakukan menurut beberapa pandangan ahli pendidikan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia hukum adalah peraturan ysng dibuat oleh suatu kekuasaan atau adat yang yang dianggap berlaku oleh dan
36
untuk orang banyak (Anwar, 2001:172). Artinya bahwa hukuman suatu aturan yang dibuat untuk mengatur pergaulan hidup dalam hal ini pergaulan hidup siswa yang berada disekolah.
Sedangkan menurut Ngalim Purwanto, menjelaskan hukuman adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru) sesudah terjadi suatu pelanggaran, kejahatan atau kesalahan (Purwanto, 1995: 186).
Dalam memberikan hukuman hendaknya diperhatikan kondisi siswa ataupun anak ini dikarenakan hukuman yang diberikan kepada anak ataupun siswa agar dapat mengena dan tercapai dengan tepat sasaran, sebagaimana dalam islam tatkala memberikan hukuman bagi anak yang tidak mau mengerjakan sholat,berikut adalah dalil yang mewajibkan untuk melaksanakan sholat
.( )
Artinya : Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk melaksankan sholat diwaktu usia mereka meningkat tujuh tahun, dan pukullah (kalau ia tidak mau sholat) diwaktu mereka berumur sepuluh tahun.
(HR. Abu Daud).
Dari beberapa definisi di atas, dapatlah disimpulkan bahwa hukuman adalah pemberian penderitaan atau penghilangan stimulasi oleh pendidik sesudah terjadi pelanggaran, kejahatan atau kesalahan yang dilakukan anak didik. Hukuman juga dapat dikatakan sebagai penguat yang negatif, tetapi kalau hukuman itu diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.
37
Karena pada dasarnya sebuah hukuman akan menjadikan efek berupa perilaku, dalam hal ini apabila efek yang bersifat tidak menyenangkan kepada siswa maka efek ini disebut sebagai Punishment atau hukuman (Sriyanti, dkk., 2009: 72).
Penggerakan motivasi belajar didasarkan atas prinsip-prinsip memberikan reward (hadiah) akan lebih efektif dibandingkan dengan punishment (hukuman). Namun sebagai alat pendidikan yang sering digunakan pendidik untuk memacu prestasi anak didik, dalam penerapannya haruslah sesuai dengan konsekuensinya.
Menurut Suharsimi Arikunto ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam memberikan hadiah kepada siswa yaitu:
1. Hadiah hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan sifat dari aspek yang menunjukkan keistimewaan prestasi.
2. Hadiah harus diberikan langsung sesudah perilaku yang dikehendaki dilaksanakan.
3. Hadiah harus diberikan sesuai dengan kondisi orang yang menerimanya.
4. Hadiah yang harus diterima anak hendaknya diberikan. Hadiah harus benar-benar berhubungan dengan prestasi yang dicapai oleh anak.
5. Hadiah harus diganti (bervariasi).
6. Hadiah hendaknya mudah dicapai.
7. Hadiah harus bersifat pribadi.
8. Hadiah sosial harus segera diberikan.
38
9. Jangan memberikan hadiah sebelum siswa berbuat.
10. Pada waktu menyerahkan hadiah hendaknya disertai penjelasan rinci tentang alasan dan sebab mengapa yang bersangkutan menerima hadiah tersebut (Arikunto, 1991: 163).
Pada waktu menyerahkan hadiah hendaknya disertai penjelasan rinci tentang alasan dan sebab mengapa yang bersangkutan menerima hadiah tersebut. Oleh karena itu pemberian hukuman tidak serta merta sebagai suatu tindakan balas dendam antara guru dan anak didik yang tidak bisa mencapai harapan yang diinginkan, namun guru harus memahami segala bentuk prinsip- prinsip pemberian hukuman sebagai sanksi kependidikan. Hukuman dimaknai sebagai sesutu yang dapat dijadikan sebuah pelajaran bagi anak. Hukuman perlu diberikan kepada anak, mengapa demikian? di bawah ini akan diuraikan mengapa hukuman menjadi penting untuk dilakukan:
1. Agar tidak mengulang kejadian yang sama
Pada dasarnya anak memiliki rutinitas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dengan adanya rutinitas yang dilakukan anak, maka kemudian akan menjadikan anak lalai. Faktor lalai ini yang menyebabkan seorang anak menjadi lalai (El-Ghani, 2009: 52). Andaikata anak melakukan kesalahan satu ataupun dua kali mungkin bisa dimaklumi, namun jika anak melakukan berulang kali, maka hukuman menjadi pilihan dan harus dilakukan agar anak jera (kapok) untuk melakukan kesalahan yang sama (El-Ghani, 2009: 53).
2. Bisa mengambil pelajaran dan hikmah
39
Kesalahan bagaimanpun juga akan menjadikan anak bisa mengambil tentang peristiwa yang dihadapinya (El-Ghani, 2009: 54). Dengan pemberian hukuman kepada anak ada harapan bahwa anak akan menjadi hati-hati dan sebagai pelajaran yang akan datang agar tidak mengulang peristiwa yang pernah dialaminya.
3. Konsistensi sebuah perjanjian
Hukuman yang baik pada dasarnya adalah sebuah konsekuensi dari perjajian dari seorang guru terhadap murid, jika anak berbuat salah maka seorang anak akan mendapatkan hukuman baiknya lagi anak yang melakukan kesalahan mau mengakui dan menyediakan diri untuk di hukum tanpa seorang guru yang mendesak untuk melakukan hukuman (El- Ghani, 2009: 56).
2. Tujuan pemberian Reward dan Punishment a. Tujuan pemberian reward
Pemberian hadiah atau reward sangat berarti bagi anak yaitu paling tidak dengan adanya hadiah anak akan menjadi percaya diri meskipun pemberian hadiah oleh pendidik tidak selamanya bersifat baik, namun tidak menutup kemungkinan bahwa pemberian hadiah merupakan satu hal yang bersifat positif. Armai Arief berpendapat pada implikasi pemberian hadiah yang bersifat negatif apabila pelaksanaan pemberian hadiah dipakai sebagai berikut:
a) Menganggap kemampuannya lebih tinggi dari teman-temannya atau temanya dianggap lebih rendah.
40
b) Dengan pemberian hadiah membutuhkan alat tertentu serta membutuhkan biaya.
c) Dapat menjadi pendorong bagi anak didik lainnya untuk mengikuti anak yang memperoleh hadiah dari gurunya, baik dalam tingkah laku, sopan santun, semangat dan motivasinya dalam berbuat yang lebih baik (Arif, 2002: 128).
Pemberian reward akan sangat bermanfaat bagi peserta didik terutama dalam memberikan stimulus yang bersifat baik, dengan adanya reward akan berdampak pada siswa yaitu memberikan semangat baru untuk melakukan kegiatan yang akan diberikan, sebagai contoh misalnya ketika anak melakukan hadiah atas prestasi yang diberikan kepada guru maka anak akan terangsang untuk melakukan hal yang sama. Pemakaian hadiah akan lebih tepat dan berguna bila dalam pelaksanaannya selalu menyesuaikan kondisi, dimana memang pemberian hadiah itu harus dilakukan oleh seorang guru sebagai motivator belajar anak didik.
Pemberian hadiah adalah bentuk reinforcement atau penguatan yang positif dan sekaligus merupakan motivsi berprestasi maka pemberiannya harus tepat dana disesuaikan dengan kondisi anak. Menurut Marno ada beberapa tujuan pemberian Reward sebagai reinforcement penguatan diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Menigkatkan perhatian siswa dalam proses belajar mengajar.
2. Membangkitkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi belajar siswa.
41
3. Mengarahkan pengembangan berfikir siswa kearah berfikir divergen 4. Mengendalikan serta memodifikasi tingkah laku siswa yang kurang
positif serta mendorong munculnya tingkah laku yang produktif (Marno dan Idris, 2008: 133).
Dari beberapa tujuan diatas menjadi sangat jelas bahwa reward diberikan kepada anak agar menjadi motifasi karena pemberian hadiah kepada anak akan berdampak besar manfaatnya sebagai pendorong dalam belajar (Hamalik, 2001: 167).
b. Tujuan Pemberian Punisment (Hukuman )
Selanjutnya pembahasan mengenai hukuman yang juga salah satu metode penerapan konsekuensi anak didik yang tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan. Hukuman terpaksa diberikan, namun dalam penerapannya harus mempertimbangkan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Dasarnya tindakan harus kasih sayang dan rasa tanggung jawab, bukan karena alasan dendam atau pembalasan. Karena itu, jangan menghukum anak pada saat pendidik sedang marah (terganggu emosinya).
2. Tujuan hukuman adalah untuk perbaikan tingkah laku atau sifat-sifat yang kurang baik dan terutama untuk kepentingan peserta didik dimasa yang akan datang.
3. Hukuman yang edukatif akan menimbulkan rasa menyesal pada subyek didik, bukan menimbulkan rasa sakit hati atau dendam. Penyesalan atas diri sendiri dibarengi dengan kesadaran anak bahwa hukuman ini juga terpaksa menimbulkan rasa kurang enak pada pendidik akibat
42
perbuatannya, merupakan pertanda bahwa hukuman tersebut diterima secara sewajarnya oleh peserta didik.
4. Hukuman harus diakhiri dengan pemberian maaf oleh pendidik kepada peserta didik. Setelah peserta didik menunjukkan penyesalannya segera hubungan edukatif antara pendidik dan peserta didik harus dipulihkan, dengan berbagai sikap dan kata-kata pendidik yang menunjukkan bahwa dia telah menerima kembali peserta didik ini seperti sediakala.
3. Macam-macam Reward dan Punishment
a. Macam-macam reward (hadiah)
Banyak sekali kriteria untuk menentukan reward (hadiah) macam apakah yang baik diberikan kepada anak memang suatu hal yang sangat sulit. Hadiah sebagai alat pendidikan banyak sekali macamnya. Ada beberapa macam hadiah yang diberikan anak didik yaitu hadiah yang berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak misalnya: pensil, buku tulis. Guru memberikan kata yang menggembirakan (pujian) misalnya,
“tulisanmu sudah baik, tetapi kalau kamu terus belajar tentu akan lebih baik lagi”, guru mengangguk-ngangguk tanda senang dan membenarkan suatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.
Beberapa hadiah dipakai dalam pembelajaran, menurut Oemar hamalik adalah sebagai berikut:
43 a) Memberi Angka
Dalam motivasi belajar ada istilah yang digunakan seorang guru dalam memberikan reward (hadiah) sebagai syarat untuk meningkatkan motivasi belajar, umumnya seorang siswa ingin mengetahui hasil pekerjaanya yakni angka yang diberikan guru.
Dengan adanya angka maka murid yang mendapatkan angka baik akan mendorong motivasi belajarnya menjadi lebih besar begitu juga sebaliknya murid yang mendapatkan angka kurang, mungkin menimbulkan frustasi dan menjadikan pendorong agar belajar lebih baik (Hamalik, 2001: 166).
Angka sebagai simbol kegiatan belajar, artinya angka yang dimaksud berupa bonus nilai/tambahan nilai bagi siswa yang mengerjakan tugas dengan baik. Salah satu contohnya adalah pada saat siswa mengerjakan tugas dengan baik, guru memberikan bonus nilai kepada siswa tersebut. Secara tidak langsung hal tersebut dapat memotivasi siswa yang lain untuk mengerjakan tugas juga, supaya mendapat bonus nilai. Selain sebagai motivasi berprestasi bonus nilai secara tidak langsung juga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
b) Pujian
Pemberian pujian menurut Oemar Hamalik merupakan bentuk Reward dimana pemberian pujian kepada murid atas hal-hal yang telah dilakukan dengan berhasil besar manfaatnya sebagai pendorong
44
dalam belajar (Hamalik, 2001: 167). Pemberian pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivsi berprestasi maka pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekalus akan membangkitkan harga diri siswa sehingga prestasi belajar siswa ikut meningkat. Dengan demikian pujian merupakam salah satu bentuk reward yang diberikan kepada siswa sebagai upaya dalam meningkatkan prestasi siswa.
c) Pemberian Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi berprestasi.
Sebagian siswa merasa senang dan bangga apabila dia diberikan hadiah atas prestasinya yang baik atau nilai yang baik disekolah oleh guru mereka maupun orang tua. Cara ini juga dapat dilakukan oleh guru dalam batas-batas tertentu misalnya ketika siswa diakhir tahun yang mendapat atau menunjukan hasil belajar yang baik (Hamalik, 2001: 167). Sedangkan Suharsimi Arikunto membagi hadiah menjadi beberapa bagian:
1) Peringkat dan simbul-simbul lain
Menurut Arikunto bentuk hadiah yang paling lazim digunakan adalah peringkat huruf ataupun angka meskipun simbul-simbul lain seperti tanda-tanda bintang, centang, tanda benar dan lain-lain.
45
Kadang-kadang juga digunakan untuk siswa-siswi sekolah dasar maupun menengah (Arikunto, 1980: 160).
2) Penghargaan
Reward atau hadiah ini dapat berupa berbagai hal yang intinya dalam penghargaan ini adalah adanya “perhatiaan” kepada siswa (Arikunto, 1980: 161). Perhatian kepada siswa merupakan ungkapan guru dalam memberikan perhatian kepada siswa agar memiliki kepercayaan diri dalam belajar.
3) Hadiah berupa kegiatan
Ada kalanya suatu pekerjaan tugas ataupun kegiatan-kegiatan lain akan merupakan dambaan siswa sehingga hadiah berupa kegiatan ini siswa menjadi tertarik untuk melakukan (Arikunto, 1980: 161).
4) Hadiah berupa benda
Dalam pemberian hadiah ini yaitu adanya pemberian berupa benda-benda yang diperkirakan mengandung nilai-nilai bagi siswa, misalnya makanan, uang dan lain-lain (Arikunto, 1980: 164).
Menurut Edy Siswanto ada 2 macam reward (hadiah) yaitu:
a) Berupa ucapan
Guru dalam menyampaikan ilmunya tidak luput dari kesalahan, demikian juga siswa di kelas. Perlunya guru meminta maaf disetiap akhir pelajaran tentunya membuat murid juga akan merasakan pentingnya ucapan tersebut. Lebih penting lagi untuk
46
diperhatikan adalah penghargaan terhadap setiap tindakan/aktivitas anak. Contohnya: baik, pekerjaanmu bagus, perlu ditingkatkan, seratus untuk anda, coba mari kita kerjakan bersama, hal ini perlu sekali dilakukan baik berupa pujian maupun harapan dan saran ( Edy Siswanto, www. blogspot. Com).
b) Berupa tindakan
a) Pemberian poin atau nilai.
b) Menepuk punggung siswa dengan berkata bagus-bagus.
c) Membubuhkan tanda tangan.
d) Memberikan secarik tulisan berupa saran dan kritik yang membangun serta harapan.
e) Memberikan pengumuman bagi pemenang disertai tepuk tangan temannya.
f) Memberikan hadiah berupa buku/pensil atau uang dsb ( Edy Siswanto, www. blogspot. Com).
b. Macam-macam punishment (hukuman)
Salah satu yang harus dipahami bagi seorang guru ataupun pendidik adalah adanya kesepahaman bersama tentang anak-anak, dimana anak-anak adalah pribadi yang unik, keunikan ini mengharuskan para guru untuk bersikap lebih toleran dengan segala polah dan tingkah mereka, baik yang lucu menggemaskan sampai dengan yang menjengkelkan.
47
Bentuk-bentuk hukuman yang ada diberikan kepada siswa sesuai dengan kesalahan atau pelanggaran yang diperbuat. Bagi siswa yang suka ramai dapat dipisahkan tempat duduknya di pojok kelas atau disuruh keluar kelas, siswa yang tidak mengerjakan tugas dapat diberikan tugas berlipat dan pengurangan nilai, siswa yang terlambat mengumpulkan tugas digunakan denda dan siswa yang sering kali melanggar peraturan, maka tidak dapat diampuni kesalahannya maka diberikan hukuman diskors (Arikunto, 1980: 176).
Ada beberapa punishment (hukuman) dalam kaitanya dengan pembelajaran menurut Suharsimi Arikunto jenis-jenis hukuman antara lain:
1. Pengurangan Skor atau Penurunan Peringkat
Hukuman untuk jenis ini merupakan hukuman yang paling banyak dipraktekan di sekolah (Arikunto, 1980: 174). Terutama diterapkan ketika siswa terlambat datang, tidak atau terlambat mengumpulkan tugas.
2. Pengurangan Hak
Hukuman jenis ini merupakan hukuman yang paling efektif karena dapat digunakan sebagai selera siswa. Dalam hukuman ini memang harus ada pengawasan yang ketat dari pendidik atau guru sehingga dapat memilihkan pengurangan yang tepat bagi setiap siswa (Arikunto, 1980: 174).
48 3. Hukum Berupa Denda
Dalam hukuman ini bukan hukuman yang berupa uang namun hukuman ini lebih banyak memberikan makna “pembayaran“
(Payment) (Arikunto, 1980: 17).
4. Pemberian Celaan
Dalam hukuman ini digabungkan dengan hukuman yang lainya siswa yang melanggar peraturan penting yang diperuntukan yang diperuntukan bagi siswa akan mendapat celaan. Hukuman ini guru menuliskan kesalahan siswa dalam buku catatan khusus atau keanehan (anecdotal record) (Arikunto, 1980:175).
5. Penahanan Sesudah Sekolah
Hukuman ini hanya dapat diberikan apabila siswa disuruh tinggal di sekolah setelah jam usai dan ditemani oleh guru (Arikunto, 1980: 175).
Sedangkan menurut Arini El-Ghani kaitanya dengan macam- macam hukuman ada beberapa langkah praktis dalam menghukum anak.
a. Dalam memberi hukuman hendaknya mampu memberi contoh atau tauladan.
Dalam memberikan hukuman alangkah baiknya diberikan contoh sebab dengan pemberian contoh seorang anak/siswa akan melihat kesungguhan kita dan akan berusaha
49
mencontoh atau meniru apa yang dicontohkan guru (El- Ghani, 2009: 77).
b. Minta maaf kepada yang bersangkutan.
Dalam langkah ini meminta maaf adalah langkah awal dan paling pertama yang harus dilakukan (El-Ghani, 2009: 78).
c. Memunculkan rasa tanggungjawab.
Tanggungjawab merupakan wujud jiwa yang besar, artinya anak akan belajar bahwa perbuatan apapun akan mengandung resiko baik resiko besar maupun kecil dan dengan apa yang dilakukan maka akan siap mengambil konsekwensi atyaupun seluruh akibat dan yang pasti harus mempertanggungjawabkan perbuatanya (El-Ghani, 2009:
81).
d. Berjanji tidak akan mengulangi.
Dalam berjanji tidak akan mengulangi memiliki konsekwensi bahwa dalam diri anak harus ada penanaman berjanji kepada dirinya sendiri sehingga siswa atau anak tidak melakukan kesal;ahan mengulangi perbuatan yang serupa atau kedua, ketiga atau bahkan ke empat kalinya (El- Ghani, 2009: 82).
50 4. Fungsi Reward dan Punishment
Tujuan pemberian hadiah sama dengan tujuan penerapan hukuman yaitu membangkitkan perasaan dan tanggung jawab. Dan hadiah juga bertujuan agar anak lebih giat lagi usahanya untuk memperbaiki dan mempertinggi prestasinya (Arifin, 1994: 217).
Teknik reward (hadiah/ganjaran) merupakan teknik yang dianggap berhasil menumbuhkembangkan minat siswa. Pemberian penghargaan dapat membangkitkan minat anak untuk mempelajari atau mengerjakan sesuatu. Di mana tujuan pemberian penghargaan adalah membangkitkan atau mengembangkan minat. Jadi, penghargaan berperan untuk membuat pendahuluan saja. Penghargaan adalah alat bukan tujuan, hendaknya diperhatikan jangan sampai penghargaan ini menjadi tujuan. Tujuan pemberian pengharagaan dalam belajar adalah bahwa setelah seorang menerima pengharagaan karena telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, ia akan terus melakukan kegiatan belajarnya sendiri di luar kelas.
Sebaliknya bila seorang belajar untuk mencari penghargan berupa hadiah dan sebagainya, ia didorong oleh motivasi ekstrinsik, oleh sebab tujuan-tujuan itu terletak di luar perbuatan itu, yakni tidak terkandung di dalam perbuatan itu sendiri. Tujuan itu bukan sesuatu yang wajar dalam kegiatan. Anak-anak didorong oleh motivasi intrinsik, bila mereka belajar agar lebih sanggup mengatasi kesulitan-kesulitan hidup, agar memperoleh pengertian, pengetahuan, sikap baik, penguasaan kecakapan. Hasil-hasil itu sendiri telah merupakan hadiah atau ganjaran bagi sesuatu yang
51
dilakukan dengan baik telah melakukannya. Membangkitkan motivasi tidak mudah. Untuk itu perlu mengenal murid dan mempunyai kesanggupan kreatif untuk menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan dan minat anak.
B. Minat Belajar Siswa
1. Pengertian Minat belajar a. Pengertian Minat
Banyak sekali, bahkan sudah umum orang menyebut dengan minat untuk menunjuk orang melakukan sesuatu. Istilah minat menunjuk kepada semua gejala yang terkandung dalam stimulasi tindakan ke arah tujuan tertentu di mana sebelumnya tidak ada gerakan menuju ke arah tujuan tersebut. Sebagaimana gambaran mengenai batasan minat, akan penulis kutip dari beberapa pendapat, yaitu:
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia minat adalah perhatian atau kesukaan atau bisa dikatakan sebagai kencenderungan hati (Anwar, 2001:
280). Sedangkan menurut Muhibin Syah minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu (Muhibin Syah, 2010: 152). Menurut Reber (1988) sebagaimana yang dikutip oleh Muhibbin Syah mengatakan bahwa, minat tidak termasuk istilah populer dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan.
52
Menurut Oemar Hamalik bahwa minat adalah sesuatu yang sangat penting dalam pengajaran, dalam hal ini guru memiliki tugas yang sangat berat yaitu bagaimana guru mampu memberikan kepada siswa untuk mau dalam belajar. Secara tegas bahwa minat dipandang sebagi sebuah proses (Hamalik, 2001: 158).
Sedangkan minat juga bisa dikatakan sebagai motifasi maka dalam pengertianya adalah minat atau motifasi adalah segala tenaga yang dapat membagkitkan atau mendorong seseorang untuk melakukan suatu perbuatan, sebagai contoh misalnya ketika seorang yang tidak mau belajar hal itu karena tidak ada motifasi atau keinginan atau bahkan tidak ada minat untuk belajar, maka seorang guru harus dapat melakukan perbuatan belajar, dengan adanya motifasi yang kuat dalam proses belajar mengajar dalam pembelajaran akan menimbulkan minat, moral yang baik, belajar yang efektif, sehingga dengan demikian anak telah mencapai sesuatu yang realistis (Soetomo, 1993: 141).
Bertolak dari berbagai batasan di atas, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa minat adalah suatu dorongan yang ditunjukkan untuk menggerakkan seseorang (individu), sehingga ia mampu bertindak atau bertingkah laku guna mencapai tujuan tertentu ataupun untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
Minat dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi sesuatu, sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan
53
atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar, tetapi motivasi itu adalah tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, maka motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki subyek belajar dapat tercapai.
b. Pengertian Belajar
Sedangkan mengenai pengertian belajar ini sangat komplek sekali, sehingga bila kita ingin mencari jawaban tentang apakah belajar itu, maka akan ditemukan beberapa definisi yang berbeda-beda yang dirumuskan oleh banyak ahli. Dalam rangka pemahaman mengenai makna belajar, akan dikemukakan beberapa pendapat mengenai definisi belajar, sebagai berikut:
Definisi belajar menurut Lilik Sriyanti, dkk., dalam teori-teori pembelajaran adalah:
1) Crow and Crow dalam Education psycology (1984) belajar adalah perbuatan untuk memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuaan, dan berbagai sikap, termasuk penemuaan baru dalam mengerjakan sesuatu, usaha memecahkan rintangan, dan menyesuaikan dengan situasi baru (Sriyanti, dkk., 2009: 22).
2) Menurut cronbach dalam teori-teori pembelajaran yang mengambil dalam bukunya Education Psychology mengemukakan “ learning is
54
shown by a change in behavior as result of experience (Sriyanti, dkk., 2009: 22).
Kesimpulan dalam penjelasan belajar adalah perubahan dalam prilaku, sikap, dan kepribadian hasil dari pengalaman tetapi karena interaksi dengan lingkungan.
3) Menurut Gregory A Kimble dalam teori-teori pembelajaran yang mendefinisikan belajar sebagai berikut “learning is a relatively permanent change in behavior or in behaviora potentiality that result from experience and canot be attributed to temporary body states such as those induced by illnes, fatigue, or drugs”. Yang secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai berikut “ Belajar adalah perbuatan relatif permanen dalam tingkah laku atau potensi prilaku yang diperoleh dari pengalaman dan tidak berhubungan dengan kondisi kondisi tubuh pada saat tertentu semacam penyaki, kelelahan, atau obat-obatan”.
(Sriyanti, dkk., 2009: 23).
4) Menurut Sumadi Suryabrata dalam teori pembelajaran, hal-hal pokok dalam definisi pembelajaran adalah:
a) Bahwa belajar itu membawa perubahan baik yang aktual maupun potensial.
b) Bahwa perubahan itu pada pokoknya mendapatkan kecakapan baru.
c) Bahwa perubahan itu terjadi karena adanya usaha/disengaja (Sriyanti, dkk., 2009: 24).
55
5) Sedangkan Muhibin Syah dalam Psikologi Belajar mendefinisikan belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. Artinya bahwa tingkah laku yang timbul akibat proses kematangan fisik, keadaan mabuk, lelah, dan jenuh, tidak dipandang sebagai proses belajar (Syah, 2010:
68).
6) Penegertian belajar menurut Soetomo adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku, yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah pengetahuaan, berkembang daya fikir, sikap, dan lain-lain (Soetomo, 1993: 120).
7) Oemar Hamalik menyimpulkan tentang belajar adalah:
a) Situasi belajar harus bertujuan, dan tujuan itu dapat diterima masyarakat.
b) Tujuan dan maksud belajar timbul dari kehidupan anak sendiri.
c) Didalam mencapai tujuan murid akan menemukan kesulitan, rintangan dan situasi-situasi yang tidak menyenangkan.
d) Hasil belajar yang utama adalah pola tingkah laku yang bulat.
e) Proses belajar sebenarnya terutama mengerjakan hal-hal yang sebenarnya.
f) Kegiatan dan hasil belajar dipersatukan dihubungkan dengan tujuan dalam situasi belajar.