• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PEMIJAHAN IKAN NILA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TEKNIK PEMIJAHAN IKAN NILA"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

1

TEKNIK PEMIJAHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus L.) GESIT JANTAN DAN SULTANA BETINA SECARA ALAMI

DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWAR SUKABUMI JAWA BARAT

TUGAS AKHIR

EFRAIM 1322010093

JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN

POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN

PANGKEP

2016

(2)

ii

ii

TEKNIK PEMIJAHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus L.) GESIT JANTAN DAN SULTANA BETINA SECARA ALAMI

DI BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR TAWARSUKABUMI JAWA BARAT

TUGAS AKHIR

EFRAIM 1322010093

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan

Telah Diperiksa dan Disetujui oleh Pembimbing

Dr. Andriani, S.Pi., M.Si. Nur Rahmawaty Arma, Ph.D.

Ketua Anggota

Diketahui oleh:

Dr. Ir. Darmawan, M.P. Ir. RimalHamal, M.P.

Direktur KetuaJurusan

Tanggal Lulus: 19 Agustus 2016

(3)

iii

RINGKASAN

EFRAIM, 1322010093. Teknik pemijahan ikan nila (Oreochromis niloticus L.) GESIT jantan dan SULTANA betina secara alami di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi Jawa Barat, dibimbing oleh Andriani dan Nur Rahmawaty Arma

Badan Penelitian dan Pengkajian Teknologi telah mengembangkan ikan nila GESIT (Genetically Supermale Indonesia Tilapia), sedangkan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi telah mengembangkan ikan nila SULTANA (Seleksi Unggul Selabintana). Jika ikan nila GESIT dikawinkan dengan ikan nila SULTANA, akan menghasilkan keturunan yang 99% adalah jantan yang disebut ikan nila GMT (Genetically Male Tilapia). Ikan nila GMT ini dapat tumbuh lebih cepat sebesar 150% dibanding ikan nila betina, ukurannya lebih seragam dan aman dikonsumsi.

Tugas Akhir bertujuan untuk memperkuat teknik pemijahan ikan nila GESIT jantan dan SULTANA betina secara alami untuk menghasilkan benih dengan kuantitas dan kualitas yang memadai serta berkelanjutan.

Manfaat penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk memperluas wawasan, kompetensi mahasiswa dalam berkarya di masyarakat khususnya mengenai teknik pemijahan ikan nila jantan GESIT dan nila betina SULTANA secara alami di BBPBAT Sukabumi Jawa Barat.

Tugas Akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa yang dilaksanakan pada tanggal 09 Februari sampai 09 Mei 2016di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu pengumpulan data berupa data primer dan data sekunder.

Hasil yang diperoleh adalah teknik pemijahan alami ikan nila GESIT jantan dan betina SULTANA yang dilakukan secara massal dengan rasio pemijahan adalah 1 : 6 tergolong berhasil, dengan fekunditas rata-rata 2296 butir, FR 93% dan HR 84,6%. Ukuran panjang induk jantan 37-40 cm dan beratnya 940-1100 gr, sedangkan induk betina panjang 32-36 cm dan beratnya berkisar 700-900 g merupakan nilai yang lebih tinggi dari persyaratan SNI 01-6138-1999. Jenis pakan untuk pematangan gonad induk adalah pellet terapung dengan kandungan protein 31 − 33%, dosis pemberian 3% dari berat biomassa, dan mulai minggu ke-2 diturunkan menjadi 2 % dengan frekuensi 2 kali sehari.

(4)

iv

iv

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat dan Karunianya sehingga penulis dapat menyusun Tugas Akhir dengan judul Teknik pemijahan ikan nila (Oreochromis niloticus L.) GESIT jantan dan SULTANA betina secara alami yang dilaksanakan pada bulan 09 Februari – 09 Mei 2016 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi Jawa Barat. Tugas akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi pada Jurusan Budidaya Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan.

Penulis menghanturkan doa, rasa hormat, serta terima kasih yang sebesar besarnya kepada:

1. Ibu Dr. Andriani S.Pi.,M.Si, selaku pembimbing pertama dan Ibu Nur Rahmawaty Arma, Ph.D selaku pembimbing kedua yang telah memberikan motivasi, arahan dan bimbingan dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir . 2. Bapak Rusli,S.Pi., M.Si. selaku Penasehat Akademik

3. Ketua Jurusan Budidaya Perikanan Bapak Ir. Rimal Hamal,M.P. dan seluruh staf Jurusan Budidaya Perikanan.

4. Bapak Dr. Ir. Darmawan,M.P. Selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep

5. Kedua orang tua tercinta serta keluarga besar yang telah memberikan motivasi dan dukungan baik secara spiritual maupun secara material serta beliau senantiasa mengiring doa hingga penyelesaian studi ini.

6. Kepada rekan – rekan seangkatan di Jurusan Budidaya Perikanan dan semua saudaraku,karena keberadaanmu, pengorbanan,keiklasan dan doamu menjadi motivasi bagi saya dalam menyelesaikan studi dikampus Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

(5)

v Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini masih jauh dari kesmpurnaan. Oleh sebab itu, dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun dan akhirnya penulis berharap semoga Laporan Tugas Akhir ini mendapat respon positif dari berbagai pihak.

Pangkep, 19 Agustus 2016

Penulis

(6)

vi

vi

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DATAR TABEL ... viii

DATAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan dan Manfaat... 2

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Taksonomi dan Morfologi Ikan Nila ... 3

2.2 Ikan Nila GESIT ... 5

2.3 Ikan Nila SULTANA ... 6

2.4 Ikan Nila GMT ... 6

2.5 Habitat Ikan nila ... 7

2.6 Makanan dan Kebiasaan Makan ... 8

2.7 Reproduksi dan Tingka laku Pemijahan ... 8

2.8 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva ... 11

2.9 Parameter kualitas air ... 11

III METODE 3.1 Waktu danTempat ... 14

3.2 Alat dan Bahan ... 14

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 16

3.4 Metode Pelaksanan ... 16

3.4.1 Persiapan Kolam Pemijahan. ... 16

3.4.2 Prosedur Pemijahan Alami ... 17

3.4.3 Pengelolaan Pakan Induk ... 19

3.4.4 Pengendalian Hama dan Penyakit... 21

3.5 Parameter yang Diamati dan Analisa Data ... 21

3.5.1 Parameter yang Diamati... 21

3.5.2 Analisa Data ... 22

(7)

vii IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kualitas Induk yang Dipijahkan ... 23

4.1 Strategi dan Tingka laku Pemijahan ... 25

4.2 Jumlah dan Tingkat Penetasan Telur... 27

4.3 Pengelolaan Pakan Induk ... 28

4.4 Parameter Kualitas Air pada Kolam Pemijahan ... 29

V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan ... 31

5.2 Saran ... 31 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

(8)

viii

viii

DAFTAR TABEL

Halaman

1 Alat yang digunakan pada kegiatan pemijahan ikan nila ... 14

2 Ukuran kolam pemijahan ... 15

3 Bahan yang digunakan pada kegiatan pemijahan ikan nila ... 15

4 Ukuran kolam pemijahan ... 17

5 Komposisi pakan induk ... 20

6 Panjang dan bobot induk ikan nila yang dipijahkan ... 23

7 Karasteristik induk matang gonad, rasio pemijahan dan jumlah induk yang dipijahkan ... 24

8 Parameter induk betina SULTANA yang dipilih sebagai sampel ... 25

9 Manajemen pakan induk ... 29

10 Parameter kualitas air pada kolam pemijahan ... 29

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

1 Morfologi ikan nila Oreochromis niloticus L. ... 5

2 Perbedaan organ kelamin induk jantan dan induk betina ... 17

3 Telur dikeluarkan dari dalam mulut induk betina ... 19

4 Pemasangan saringan pada pintu pemasukan ... 21

5 Jumlah total telur jumlah telur yang terbuahi dan tingkat penetasan telur ... 28

(10)

x

x

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Kegiatan mulai dari persiapan sampai panen benih. ... 34

(11)

1

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ikan nila (Oreochromis niloticus L.) banyak disukai orang karena rasa dagingnya yang gurih dan kandungan proteinnya yang tinggi. Salah satu pengembangan pangan yang dilakukan Badan Pengkajian dan Pengkajian Teknologi (BBPT) difokuskan pada ikan nila sebagai salah satu komuditi penting dan layak dikembangkan untuk pemenuhan kecukupan pangan protein.

Ikan nila mudah berkembang biak dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan sehingga ikan nila menjadi komoditi perioritas untuk pengembangan usaha dan industri perikanan yang dikenal dengan julukan aquatic chicken atau ikan yang dikembangkan seperti industri peternakan ayam. Akan tetapi selama ini penanganan budidaya ikan nila di masyarakat belum optimal karena pengelolaan pengembangbiakan yang tidak terkontrol akibat adanya perkawinan liar dan penurunan kualitas lingkungan perairan.

Badan Penelitian dan Pengkajian Teknologi telah mengembangkan ikan nila GESIT (Genetically Supermale Indonesia Tilapia) yang merupakan jenis unggulan super jantan, sedangkan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar Sukabumi telah mengembangkan ikan nila SULTANA (Seleksi Unggul Selabintana) memiliki keunggulan yaitu tahan terhadap penyakit, pertumbuhan lebih cepat dan produksi telur lebih bayak. Jika ikan nila GESIT dikawinkan dengan ikan nila Sultana, akan menghasilkan keturunan yang 99% adalah jantan yang disebut ikan nila GMT (Genetically Male Tilapia). Ikan nila GMT ini bisa

(12)

2

2 tumbuh lebih cepat sebesar 150% dibanding ikan nila betina, ukurannya lebih seragam dan aman dikonsumsi.

Usaha budidaya ikan nila membutuhkan kepastian tentang ketersediaan benih. Hal ini dapat dicapai melalui kegiatan pemijahan yang terkontrol. Oleh karena itu pengetahuan tentang teknik pemijahan ikan nila sangat diperlukan dalam rangka menjamin ketersediaan benih secara berkelanjutan.

1.2 Tujuan dan Manfaat

Laporan Tugas Akhir dibuat dengan tujuan untuk memperkuat teknik pemijahan ikan nila secara alami untuk menghasilkan benih dengan kuantitas dan kualitas yang memadai serta berkelanjutan.

Manfaat penulisan Tugas Akhir ini adalah untuk memperluas wawasan, kompetensi mahasiswa dalam berkarya di masyarakat khususnya mengenai teknik pemijahan ikan nila di BBPBAT Sukabumi Jawa Barat.

(13)

3

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Taksonomi dan Morfologi Ikan Nila

Ikan nila mempunyai nama ilmiah Oreochromis niloticus dan dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Nile Tilapia. Ikan nila bukan ikan asli perairan Indonesia melainkan ikan introduksi. Bibit ikan ini didatangkan ke Indonesia secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969 dari Taiwan ke Bogor. Setelah melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan ini di sebarluaskan kepada petani di seluruh Indonesia. Sesuai dengan nama latinnya O. niloticus berasal dari sungai Nil di Benua Afrika. Awalnya ikan ini mendiami

hulu sungai Nil di Uganda. Selama bertahun-tahun, habitatnya semakin berkembang dan berimigrasi ke arah selatan (kehilir) sungai melewati danau Raft dan Tanganyika sampai ke Mesir. Dengan bantuan manusia, ikan nila sekarang sudah tersebar sampai kelima benua meskipun habitat yang disukainya adalah daerah tropis dan sub tropis, sedangkan di wilayah beriklim dingin, ikan nila tidak dapat hidup baik. Pada awalnya ikan nila dikenal dengan nama Tilapia nilotica.

Aristoteles dan rekan-rekannya memberi nama itu sekitar tahun 300 tahun SM (Suyanto 2009).

Ikan nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh pemerintah Indonesia melalui Direktur Jenderal Perikanan sejak tahun 1972. Menurut klasifikasi yang terbaru sejak tahun 1982, nama ilmiah ikan nila adalah Oreochromis niloticus. Perubahan nama tersebut telah disepakati dan dipergunakan oleh para ilmuwan meskipun dikalangan awam tetap disebut Tilapia nilotica.

(14)

4

4 Klasifikasi ikan nila menurut Saanin (1984) dalam Setiawan (2012) adalah sebagai berikut:

Filum : Chordata Subfilum : Vertebrata Kelas : Osteichtyes Subkelas : Acanthopterygii Ordo : Percomorphi Subordo : Percoidea Famili : Cichlidae Genus : Oreochromis

Spesies : Oreochromis niloticus L.

Morfologi ikan nila memiliki bentuk tubuh pipih, bersisik besar dan kasar, kepala relatif kecil, warna hitam keabu-abuan dengan bagian perut berwarna putih sampai ungu dan terdapat garis vertikal pada tubuh, sirip punggung dan ekor berjumlah delapan buah juga terdapat gurat sisi (linea lateralis) terputus di bagian tengah kemudian berlanjut, tetapi letaknya lebih ke bawah dari pada letak garis yang memanjang diatas sirip dada jumlah sisik pada gurat sisi (linea lateralis) 28−35 buah. Ikan nila juga memiliki 5 buah sirip dengan adalah sirip punggung (dorsal fin) yang memiliki 17 buah jari-jari sirip keras dan 13 jari-jari sirip lunak;

P.11−15 adalah sirip dada (pectoral fin) yang memiliki 11−15 jari-jari sirip lunak;

V.I.5 adalah sirip perut (ventral fin) yang memiliki satu buah jari-jari sirip keras dan lima jari-jari sirip lunak; 10−11 adalah sirip dubur (anal fin) yang memiliki tiga buah jari-jari sirip keras dan 10−11 jari-jari sirip lunak; dan.18 adalah sirip

(15)

5 ekor (caudal fin) yang memiliki dua jari-jari sirip keras dan 18 jari-jari sirip lunak (Anonim 2009).

Gambar 1. Marfologi ikan nila oreochromis niloticus L

2.2 Ikan Nila GESIT

Ikan nila GESIT hasil rekayasa kromasom secara normal ikan nila betina memiliki kromosom XX, sedangkan ikan nila jantan kromasom XY. Melalui rakayasa set kromasom, ikan jantan diubah menjadi berkromasom jantan YY (Nila GESIT).

Melalui teknologi produksi ikan nila jantan super YY (supermale) yang dilakukan Badan Penelitian dan Pengkajian Teknologi sejak 2002 lalu, sudah didapatkan indukan ikan nila jantan super yang diberi nama ikan nila GESIT (Genetically Supermale Indonesia Tilapia) yang merupakan jenis unggulan super jantan, karena 98–100% telur yang dihasilkan dari perkawinan induk dengan ikan nila GESIT ini berjenis kelamin jantan.

Sirip dada

Sirip perut Sirip dubur

Sirip ekor Sirip punggung Panjang total

Panjang standar Tinggi

badan

(16)

6

6 2.3 Ikan Nila SULTANA

Nila SULTANA (Seleksi Unggul Selabintana) merupakan jenis ikan nila hasil seleksi famili yang dilakukan oleh balai Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Selabintana, Sukabumi. Setelah dilakukan seleksi famili sejak tahun 2005-2010, pada tahun 2011 ahirnya ikan SULTANA dinyatakan telah lulus uji. Nila SULTANA memeliki karakter produksi diameter telur 2,84 mm, rasio bobot gonad dibanding bobot tubuh sekitar 2,38% dan produksi larva sekitar 3.000 ekor/kg bobot induk (Arie,2013)

Keunggulan nila Sultana adalah tahan terhadap penyakit lebih tinggi baik, pertumbuhan lebih cepat dan produksi telur lebih banyak. Ikan Nila Sultana dapat bertahan dalam kondisi ektrim, lebih baik dibandingkan dengan perairan lainya.

Ikan nila Sultana mampu berkembang dan tumbuh pada tingkat salinitas air yang tinggi (sampai 5 ppt) sehingga cocok dibudidayakan di daerah pesisir yang berair payau. Ikan nila Sultana juga lebih tahan terhadap tingkat keasaman yang lebih tinggi (sampai tingkat pH kurang dari 6), sehingga cocok untuk dibudidayakan di lahan gambut seperti di seluruh kalimantan, Ibdragiri hulu dan Indragiri hilir diprovensi Riau dan sebagian di Sulawesi. Air payau bergambut memiliki kelebihan lain dibandingkan lahan air tawar yang memiliki bayak pakan alami yang tersedia dan minim parasit dan bakteri.

2.4 Ikan Nila GMT

Ikan nila GMT berasl dari jantan nila gesit dan betina nila sultana nila gesit mewariskan prentase jantan diatas 90% semantara nila sultana menitiskan tubuh bongsor. Jadi nila GMT yang tetap menyandang nama sultana dipasar mayoritas jantan dan tubuh besar selain itu cepat tumbuh kemampuan reproduksi

(17)

7 sultana tergolong tinggi. Perkawinan dari 100 jantan gesit dan 300 betina sultana bisa menghasilkan 10-12 liter larfa dan setiap liter terdiri atas 20.000 larva. Jenis lain hanya 8-9 liter larva.

2.5 Habitat Ikan Nila

Habitat adalah lingkungan hidup tertentu sebagai tempat tumbuhan atau hewan hidup dan berkembangbiak. Ikan nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya sehingga dapat hidup di perairan tawar maupun payau. Habitat hidup ikan nila cukup beragam sehingga dapat hidup di perairan yang dalam dan luas maupun di kolam yang sempit dan dangkal. Dapat hidup di sungai yang tidak terlalu deras, danau, waduk, rawa, sawah, hingga tambak.

Suyanto (1994), menyatakan ikan nila yang kecil lebih tahan terhadap perubahan lingkungan dibanding ikan yang sudah besar dan nilai pH air tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5, namun pertumbuhan optimalnya terjadi pada pH 7−8.

Khairuman dan Amri (2002) menyatakan ikan nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14−38ºC. Suhu optimal untuk pertumbuhan ikan nila adalah 25−30ºC dan akan terganggu jika suhu habitatnya lebih rendah dari 14ºC atau pada suhu 38ºC bahkan pada suhu 6ºC atau 42ºC akan mengalami kematian.

Toleransi terhadap kadar garam antara jenis kelamin dan ukuran berbeda- beda dimana ikan jantan dan ukuran kecil lebih toleran dari betina dan ikan besar.

Salinitas yang dapat ditolerir berkisar antara 0−29 ppt dan pada salinitas 29−35 ppt ikan nila masih dapat hidup tapi tidak dapat berkembangbiak (Arie 2003).

(18)

8

8 2.6 Makanan dan Kebiasaan Makan

Tipe makan ikan nila termasuk ikan pemakan segala (omnivora). Jenis makanan pada stadia larva terdiri dari crustacea kecil dan benthos, setelah mencapai benih lebih menyukai zooplankton seperti Rotifera sp, Moina sp dan Daphnia sp. Bila dipelihara secara intensif dapat diberi pakan buatan (pellet)

dengan kadar protrein minimal 25% (Arie,2003). Menurut Kordi (1997), ikan nila dewasa memiliki kemampuan mengumpulkan makanan di perairan dengan bantuan lendir (mucus) dalam mulut, makanan tersebut membentuk gumpalan partikel sehingga tidak mudah keluar. Selain itu ikan nila memakan jenis makanan tambahan seperti dedak halus, tepung bungkil kacang, ampas kelapa dan sebagainya, ikan nila tumbuh cepat hanya dengan pakan yang mengandung protein 20−25%. Kandungan protein pakan pelet sebesar 20−25% dan lemak 6−8%.

Pemberian pakan tambahan pada pemeliharaan induk tetap diperlukan, meskipun kolam telah dipupuk dan pakan alamitumbuh subur. Pemberian pakan tambahan dimaksudkan untuk menjaga stabilitas produktifitas induk karena selama masa inkubasi telur 3−4 hari induk berpuasa sehingga pada proses pemijahan harus cukup cadangan energi dari pakan yang dimakan.

2.7 Reproduksi dan Tingkah Laku Pemijahan

Ikan nila melakukan kegiatan reproduksi secara alami sepanjang tahun di daerah tropis. Frekuensi pemijahan terbanyak terjadi pada musim hujan dan dapat memijah 6−8 kali dalam setahun. Kordi (2000) mengatakan bahwa bila induk dipelihara dengan baik dan diberi pakan yang berkualitas maka ikan nila dapat memijah 1,5 bulan sekali atau 6−8 kali setahun. Suyanto (1994) mengatakan

(19)

9 bahwa pada musim hujan pemijahan dapat terjadi selang waktu 6−8 minggu bahkan dapat lebih singkat yaitu 4 minggu jika diberi pakan yang cukup. Masa pemijahan produktif ikan nila adalah ketika induk berumur 1,5–2 tahun dengan bobot diatas 500 g/ekor. Induk betina dengan berat 800 g dapat menghasilkan larva sebanyak 1200–1500 ekor setiap pemijahan. Proses pemijahan berlangsung cepat dalam waktu 50–60 detik mampu menghasilkan 20–40 butir telur yang terbuahi dan terjadi beberapa kali (Khairuman dan Amri 2005).

Frekuensi pemijahan lebih banyak terjadi pada musim hujan dengan selang waktu antara 6–8 minggu. Pada umumnya ikan nila memiliki sifat khas dalam menjaga keturunanya yaitu mouth breeder dimana induk betina mengerami telur dan melindungi larva di dalam rongga mulut selama 6–8 hari (Arie 2003).

Nila dapat dipijahkan setelah mencapai bobot 100 g/ekor. Secara alami nila memijah pada sarang yang dibuat oleh ikan jantan di dasar kolam, sehingga diperlukan dasar kolam yang berlumpur. Sebelum dipijahkan induk jantan dan betina dipelihara secara terpisah, dengan tujuannya untuk mendapatkan telur berkualitas baik. Kondisi lingkungan harus baik dan makanan harus cukup agar induk dapat hidup dan berkembang dengan baik (Effendi 1979).

Menurut Cahyono (2000), ciri-ciri induk jantan dan induk betina yang telah matang gonad adalah sebagai berikut:

a. Induk jantan yakni, alat kelamin meruncing, apabila diurut mengeluarkan sperma berwarna putih.

b. Induk betina yaitu, genital pavila betina yang matang gonad berbentuk bulat dan berwarna merah, posisinya tegak terhadap bagian ventral, bila diurut

(20)

10

10 mengeluarkan telur berwarna kuning tua, perut membuncit atau agak melebar.

Pemijahan ikan nila secara alami dapat dilakukan di kolam pemijahan.

Perbandingan jantan dan betina adalah 1:5, ukuran induk 250−500 g/ekor, dengan padat penebaran 1 ekor/m2. Hal ini berdasarkan sifat ikan jantan yang membuat sarang berbentuk kubangan didasar kolam dengan diameter kira-kira 50 cm. Ikan nila jantan yang telah membuat kubangan, akan mempertahankan kubangan tersebut dari ikan jantan lainnya. Kubangan tersebut akan digunakan ikan jantan untuk memikat ikan betina dalam pemijahan. Sarang berfungsi sebagai tempat bercumbu dan memijah, sekaligus merupakan wilayah teritorialnya yang tidak boleh diganggu oleh pasangan lain. Induk betina akan bertelur di dalam sarang.

Ketika telur induk betina sudah keluar, secara bersamaan induk jantan segera membuahi dengan cara menyemprotkan cairan spermanya ketelur-telur tersebut.

Setelah telur-telur dibuahi maka betina kembali mengumpulkan telur kedalam mulutnya.

Ikan Nila dapat berkembang biak secara optimal pada suhu 20–30oC. Ikan nila bersifat mengerami telurnya di dalam mulut sampai menetas kurang lebih empat hari dan mengasuh larvanya ±14 hari sampai larva dapat berenang bebas diperairan. Pengeraman telur dan pengasuhan larva dilakukan oleh induk betina.

Induk jantan dan betina dipelihara secara terpisah sebelum dipijahkan, dengan tujuan untuk mendapatkan telur berkualitas baik. Kondisi lingkungan harus baik dan makanan harus cukup agar induk dapat hidup dan berkembang dengan baik (Effendi 1979).

(21)

11 Ikan nila mempunyai kebiasaan yang unik setelah memijah, yakni induk betina mengumpulkan telur-telur yang telah dibuahi ke dalam rongga mulutnya.

Perilaku ini disebut mouth breeder atau pengeraman telur dalam mulut. Telur tersebut dierami sampai menetas menjadi larva (Khairuman dan Amri 2003).

2.8 Penetasan Telur dan Pemeliharaan Larva

Telur-telur nila menetas menjadi anak-anak ikan yang disebut larva. Larva ikan nila yang berumur 1−5 hari masih dipelihara oleh induknya. Induk betina menjaga anak-anak ikan ini dengan menyimpan dan mengamankan dalam mulutnya. Biasanya induk nila akan memasukkan telur dalam mulutnya jika dalam keadaan tidak aman, dan memuntahkan kembali jika di sekitarnya dalam keadaan aman (Khairuman dan Amri 2003).

Selama beberapa hari induk nila akan terus menjaga anaknya dengan memasukkan dan mengeluarkan dari dalam mulutnya. Pada usia 4−5 hari induk akan mulai membiarkan anak-anaknya untuk mencari makan sendiri.

2.9 Parameter Kualitas Air

Kualitas air dipengaruhi oleh berbagai bahan kimia yang terlarut dalam air, seperti oksigen terlarut, pH, alkalinitas, kesadahan, dan bahan-bahan fisika lainnya. Bila perubahan kualitas air menurunkan produksi maka dikatakan terjadi penurunan kualitas air (Sucipto dan Amri 2005).

Suhu air merupakan faktor penting yang harus diperhatikan karena mempengaruhi derajat metabolisme dalam tubuh ikan. Nila merupakan jenis ikan yang tinggi toleransinya terhadap perubahan suhu. Kisaran suhu yang dapat di tolelir berada pada kisaran 14−38ºC. Secara alami nila dapat memijah pada

(22)

12

12 22−37ºC. Namun, suhu optimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan berada pada kisaran 25−30ºC. Sementara suhu mematikan di bawah 6ºC atau diatas 42ºC (Arie 2003).

Derajat keasaman atau sering dilambangkan dengan pH (Puissance Negatif de H), merupakan ukuran konsentrasi ion hidrogen yang menunjukkan

suasana asam suatu perairan. Ukuran nilai pH adalah 1−14 dengan angka 7 merupakan pH normal. Secara alamia, pH diperairan dipengaruhi oleh konsentrasi karbondioksida dan senyawa yang bersifat asam. Nilai pH yang baik untuk budidaya ikan pada siang hari berkisar antara 6,9−9. Pada pH 11, ikan dapat mati, tetapi terkadang kondisi ini masih dapat ditolelir oleh nila. Sementara pH ideal untuk budidaya ikan berada pada kisaran 7−8 (Arie 2003).

Menurut Arie (2003) ikan memerlukan oksigen (O2) untuk bernafas.

Sumber oksigen dalam air berasal dari proses fotosintesis dan difusi udara. Pada suatu sistem pemeliharaan ikan, oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis harus lebih banyak dari pada oksigen yang digunakan. Kandungan oksigen yang baik untuk budidaya ikan minimal 4 mg/l air. Semakin sedikit oksigen terlarut di dalam air, maka kebutuhan makan biota didalam air pun menjadi berkurang, bahkan beberapa jenis biota mengalami stress dan mati. Penurunan oksigen di dalam air di daerah tropis di sebabkan oleh peningkatan suhu air. Semakin tinggi suhu di suatu perairan, semakin berkurang kandungan oksigen terlarut. Oksigen di dalam air juga dapat berkurang karena respirasi dan reaksi kimia (oksidasi dan reduksi), serta difusi dan pergantian air.

Kandungan amonia diperairan terbentuk oleh hasil metabolisme ikan melalui ginjal dan saringan insang. Selain itu, amoniak dapat terbentuk dari hasil

(23)

13 proses dekomposisi protein yang berasal dari sisa pakan atau plankton yang mati.

Konsentrasi amoniak dibawah 0,02 ppm cukup aman bagi sebagian besar ikan, sedangkan diatas angka tersebut dapat menyebabkan timbulnya keracunan pada ikan. Keadaan konsentrasi amoniak yang masih dapat ditoleril oleh ikan nila adalah tidak lebih dari 0,3 ppm (Djarijah 2002).

(24)

14

14

III METODE

3.1 Waktu dan Tempat

Tugas Akhir ini disusun berdasarkan hasil Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) yang dilaksanakan pada tanggal 09 Februari sampai 09 Mei 2016 yang bertempat di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi, Jawa Barat.

3.2 Alat dan Bahan

Berdasarkan informasi awal yang diketahui tentang BBPBAT Sukabumi Jawa Barat dapat diketahui berbagai jenis alat dan bahan yang digunakan dalam kegiatan pemijahan induk sebagaimana tercantum dalam Tabel 1 dan Tabel 2.

Tabel 1 Alat yang digunakan pada kegiatan pemijahan ikan nila

No Alat Jumlah Spesifikasi Kegunaan

1. Kolam/waring pemeliharaan induk

3 unit Ukuran 4x6x1,5 m

Untuk menampung induk

2. Kolam

pemijahan

2 unit Luas 430m2 Untuk memijahkan induk

3. Timbangan 1buah Merk Ohaus Kapasitas 3 kg

Untuk menimbang benih, induk, dan pakan.

4. Ember 4 buah Bahan plastik

Volume 10 liter

Untuk menampung larVa saat panen 5. Penggaris 1 buah Ketelitian 0,1

mm

Pengukuran induk dan larva

6. Seser 2 buah Mesh size 5 cm Untuk menangkap induk

(25)

15 Adapun jenis kolam yang digunakan untuk pemijahan adalah kolam dasar tanah dengan luas kolam yaitu 408 m2 dapat kita lihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Ukuran kolam pemijahan

No Parameter Keterangan

1 Jenis Kolam Beton dasar tanah

2 Luas Kolam 408m

3 Tinggi Kolam 1,7m

4 5 6

Tinggi Air Aerasi Air

75cm Tidak ada Tidak ada

Sedangkan bahan yang digunakan pada kegiatan pemijahan ikan nila dapat kita lihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Bahan yang Digunakan pada Kegiatan Pemijahan Ikan Nila

No Bahan Jumlah Spesifikasi Kegunaan

1. Induk nila 350 ekor yaitu Jantan 50 ekor, Betina 300 ekor

Induk jantan 1000 g dan betina 700 g

Untuk

menghasilkan benih nila yang

berkualitas 2. Pakan induk 3% dari berat

biomassa

Pelet tenggelam dengan diameter 5 mm

Untuk

mempercepat kematangan gonad 3. Pupuk 200.000 kg Kotoran Puyuh

dengan dosis 500 g/m2

Untuk

menumbuhkan pakan alami

No Alat Jumlah Spesifikasi Kegunaan

7. Saringan 1 buah Bahan Stainles Diameter 1 mm

Untuk membuang air kolam larva dan benih

8. Cangkul 3 buah Tidak ada Memperbaiki

pematang dan kemalir

9. Sorongan 3 buah Tidak ada Untuk meperbaiki

kemalir dan kobakan

(26)

16

16 3.3 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan tugas akhir ini yaitu pengumpulan data berupa data primer dan data sekunder. Data primer dapat diperoleh dengan cara berperan langsung dalam mengikuti kegiatan mengenai teknik pemijahan ikan nila di lokasi praktik. Data sekunder dapat diperoleh melalui wawancara langsung dengan pembimbing atau teknisi lapangan, serta studi pustaka yang relevan dengan kegiatan praktik lapangan khususnya teknik pemijahan ikan nila.

3.4 Metode Pelaksanaan

3.4.1 Persiapan Kolam Pemijahan

Kegiatan yang akan dilakukan pada tahap persiapan kolam pemijahan induk adalah dengan mengikuti prosedur dan kebiasaan yang berlangsung di BBPBAT Sukabumi Jawa Barat. Secara umum, persiapan yang dilakukan biasanya terdiri atas pengeringan, pembersihan kolam, pembalikan tanah, pengeringan kolam, 1-2 hari perbaikan kolam untuk bagian-bagian yang memerlukan perbaikan atau peyempurnaan, seperti pemeriksaan pinggir kolam untuk mendeteksi kebocoran, pemeriksaan saluran pemasukan (inlet) dan saluran pengeluaran (outlet).

Pemasangan pintu pemasukan, pemasangan karena untuk mengatur volume air, dan pemasangan saringan hapa. Pengisisan air, dan ukuran kolam pemijahan yang digunakan disajikan pada Tabel 4.

(27)

17 Tabel 4. Ukuran kolam pemijahan

No Parameter Keterangan

1 Jenis Kolam Beton dasar tanah

2 Luas Kolam 408m

3 Tinggi Kolam 1,7m

4 5 6

Tinggi Air Aerasi Air

75cm Tidak ada Tidak ada

3.4.2 ProsedurPemijahan Alami Seleksi dan Penebaran Induk

Pada kegiatan seleksi, dilakukan dengan pengenalan terhadap jenis kelamin antara induk jantan dan betina memperhatikan urogenitalnya (Gambar 2).

Gambar 2. Perbedaan organ kelamin induk jantan (A) dan induk betina (B)

Teknik Pemijahan Alami

Teknik pemijahan yang dilakukan adalah pemijahan alami secara massal.

Sebanyak 50 ekor induk jantan GESIT dan 300 ekor induk betina SULTANA ditebar ke dalam kolam pemijahan pada pagi hari (pukul 08.00). Setelah itu, saluran inlet dan outlet diperiksa untuk memastikan bahwa saluran tidak tersumbat dan saringannya tidak bocor.

(28)

18

18 Induk diberi pakan pada sore hari pukul 15.30. Setelah itu mulai keesokan harinya, induk diberi pakan dua kali sehari pada pagi pukul 08.00 dan sore pukul 15.30. Setiap hari dilakukan pengamatan secara visual terhadap kondisi ikan dan air. Ketinggian air dipertahankan setinggi 1 m. Warna air terlihat berwarna hijau.

Pada hari ke-6 setelah penebaran induk, sudah mulai terlihat ada beberapa ekor larva di permukaan air kolam dan di pinggir kolam. Larva tersebut bergerombol. Larva dibiarkan tetap berada pada kolam pemijahan.

Pada hari ke-19, larva dipanen dengan cara mengeringkan air kolam sampai hanya tersisa air di dalam kobakan. Kemudian larva yang ada di dalam kobakan diambil dengan menggunakan seser lalu dimasukkan ke dalam baskom, kemudian dipindahkan ke hapa penampungan. Jumlah larva dihitung dengan menggunakan metode volumetrik. Metode ini dilakukan dengan cara menggunakan gelas ukur 200 mL, lalu diisi air sampai mencapai 190 mL, lalu diisi larva sampai volume air naik mencapai 200 mL. Larva yang diisikan ke dalam gelas ukur dikeluarkan lalu jumlahnya dihitung. Jumlah larva yang terhitung dibagi dengan 10 mL (200 mL – 190 mL) lalu dikalikan dengan volume total gelas ukur (200 mL). Hasilnya adalah jumlah larva dalam 200 mL gelas ukur. Gelas ukur tersebut kemudian dijadikan standar untuk menghitung keseluruhan jumlah larva yang dipanen.

Setiap 1 gelas ukur diisi penuh dengan larva. Jumlah total larva yang dipanen adalah sejumlah berapa kali gelas ukur tersebut diisi penuh dengan larva dikalikan dengan standar jumlah larva dalam satu gelas ukur.

(29)

19 Penanganan Telur Hasil Pemijahan

Pada saat panen total, seekor induk betina ditangkap dan telur yang dierami di dalam mulutnya dikeluarkan (Gambar 3) lalu ditetaskan di dalam akuarium. Akuarium penetasan diberi aerasi dan heater untuk mempertahankan suhu pada kisaran 25–26oC. Jumlah total telur yang dihitung, demikian pula jumlah telur yang terbuahi dan telur tidak terbuahi dihitung. Telur yang terbuahi berwarna kuning sedangkan telur yang tidak terbuahi berwarna putih keruh.

Gambar 3. Telur dikeluarkan dari dalam mulut induk betina

3.4.3 Pengelolaan Pakan Induk

Pakan yang digunakan untuk pematangan gonad induk berupa pakan pellet komersial dan diberikan dengan dosis 3% bobot biomassa. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari. Jika induk telah memijah maka pemberian pakan tetap dilakukan tetapi dengan jumlah dosis yang dikurangi yaitu hanya 2% bobot biomassa.

Pakan yang digunakan untuk induk ikan nila yaitu pellet ikan dengan sifat terapung. Dosis pakan yang digunakan pada saat pemeliharaan induk adalah 3%

dari berat biomassa, sedangkan pada saat proses pemijahan digunakan 2% dari

(30)

20

20 berat biomassa, dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari pada pukul 08.00 dan 15.30.

Pemeliharan induk dilakukan selama 1−2 minggu. Selama dalam pemeliharaan induk, hal yang paling diperhatikan adalah kontrol pakan, karena tujuan dari pemeliharaan induk sebelum dipijahkan adalah untuk mendapatkan induk yang matang gonad dan memiliki fekunditas telur yang tinggi.

Dosis pakan yang diberikan pada induk yang ada di dalam kolam pemijahan adalah lebih rendah (hanya 2% dari berat biomassa) dari dosis pakan yang diberikan pada saat pemeliharaan untuk pematangan gonad induk (3% dari berat biomassa). Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pada ikan nila, kolam pemijahan sekaligus berfungsi sebagai kolam pengeraman telur, sehingga dalam kolam pemijahan terdapat induk yang akan memijah dan sudah memijah.

Ikan yang sudah memijah akan mengerami telurnya di dalam mulut sehingga ikan tersebut memiliki nafsu makan yang rendah atau menurun atau menunda untuk melakukan kegiatan makan. Dengan demikian jumlah pakan yang diberikan bukan 3% dari bobot biomassa tetapi diturunkan menjadi 2% dari bobot biomassa.

Komposisi nutrisi pada pakan pelet yang digunakan disajikan pada Tabel 5. Pakan yang digunakan adalah pelet komersil HIPROVITE.

Tabel 5. Komposisi Nutrisi Pakan Induk

No Komposisi Jumlah (%)

1 Protein 31-33

2 Lemak 3-5

3 Serat kasar 4-6

4 5

Kadar Abu Kadar Air

10-13 11-13

(31)

21 3.4.4 Pengendalian Hama dan Penyakit

Pencegahan penyakit pada proses pemijahan dilakukan dengan tindakan mekanis, yakni mengambil keong mas yang menempel pada dinding kolam pada saat kegiatan persiapan wadah dan memasang saringan hapa pada pintu pemasukan dengan mesh size 0,4 mm. Pencegahan penyakit pada proses pemijahan biasanya dilakukan dengan cara pengeringan dan pengapuran dasar kolam selama 2−3 hari.

Gamabar 4. Pemasangan saringan pada pintu pemasukan air 3.5 Parameter yang Diamati dan Analisa Data

3.5.1 Parameter yang Diamati

Parameter yang diamati selama kegiatan meliputi parameter induk dan telur. Parameter induk meliputi pengamatan terhadap ukuran panjang dan bobot induk, umur induk, strain induk, ciri-ciri kematangan gonad induk, rasio pemijahan induk, dan jumlah telur yang dikandung oleh induk (fekunditas).

Parameter telur yang diamati jumlah total telur, jumlah telur yang terbuahi, jumlah telur yang tidak terbuahi, persentase tingkat pembuahan (fertilization rate, FR), dan persentase telur yang menetas menjadi larva (hatching rate, HR).

(32)

22

22 Parameter kualitas air seperti parameter suhu, pH, oksigen terlarut juga alkalinitas, CO2, amoniak, dan nitrit. Parameter pakan juga diamati yang meliputi jenis pakan buatan, jumlah pakan yang diberikan (dosis pakan) dan frekuensi pemberian pakan.

3.5.2 Analisa Data

Fekunditas Telurikan nila yang bersifat mouth breeder disebut brooding fecundity adalah jumlah telur yang sedang dierami dalam mulutnya (Yudasmara

2014).

Tingkat pembuahan pembuahan atau fertilization rate (FR) adalah presentase jumlah telur yang diovulasikan (Effendi 1997), pembuahan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Jumlah telur yang terbuahi

FR = X 100%

Jumlah total telur

Tingkat penetasan telur atau hatching rate (HR) adalah daya tetas telur atau presentasi telur yang menetas setelah terbuahi berguna untuk mengetahui tingkat keberhasilan pemijahan. Menurut Murtidjo (2001), tingkat penetasan telurdapat dihitung dengan menggunakan rumus:

Jumlah telur yang menetas

HR (%) = X 100 % Jumlah telur yang terbuahi

Dosis pakan induk adalah jumlah pakan yang diberikan setiap hari yang dihitung berdasarkan persentase biomassa. Dosis pakan induk dihitung dengan rumus:

Jumlah pakan induk = Berat biomassa (kg)

Gambar

Gambar 1.  Marfologi ikan nila oreochromis niloticus L
Gambar 2.  Perbedaan organ kelamin induk jantan (A) dan induk betina (B)

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala Rahmat dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Akhir dengan

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini dengan judul

4.8 Mengorganisasikan dan menyajikan data yang berkaitan dengan diri peserta didik dan membandingkan dengan data dari lingkungan sekitar dalam bentuk daftar, tabel,

Kesimpulan dari penelitian Putz-Bankuti et al ini yaitu terdapat hubungan signifikan dari 25(OH)D dengan derajat disfungsi hati dan memberi kesan bahwa rendahnya kadar

Tema yang dipilih dalam penelitian ini adalah southern bluefin tuna dengan judul penelitian Optimalisasi dan Strategi Pemanfaatan Southern Bluefin Tuna di Samudera Hindia – Selatan

Saol try out SMA andalan Kabupaten Bantul tahun 2008 Converted to pdf by Mohammad Zaidan Halaman 1 Pilihlah salah satu jawaban yang paling tepat!. Objek formal dalam

Kesesuaian pasar dilihat dari beberapa aspek diatas dapat disimpulkan bahwa Pasar Tradisional Bersih Sintuwu Maroso memiliki lokasi yang sesuai jika dilihat dari

Kompetensi profesional sangat penting dan memiliki posisi yang strategis untuk mensukseskan pendidikan; oleh karenanya setiap guru hendaklah memiliki, menguasi