LAPORAN AKHIR
PENELITIAN LEKTOR KEPALA
UPAYA PEMBENTUKAN BADAN USAHA MILIK GAMPONG (BUMG) DI ACEH
TIM PENELITI
Rismawati, S.H., M.Hum NIDN. 0009106701 Ishak, S.H., M.H NIDN. 0008056501 Ilyas, S.H., M.Hum NIDN. 0005046503
Dibiayai oleh : Universitas Syiah Kuala
Kementerian Riset, Teknologi, Dan Pendidikan Tinggi sesuai dengan Surat Perjanjian Penugasan
Pelaksanaan Penelitian Lektor Kepala Tahun Anggaran 2018 Nomor : 288/UN11/SP/PNBP/2018, tanggal 29 Januari 2018
UNIVERSITAS SYIAH KUALA November 2018
RINGKASAN
UPAYA PEMBENTUKAN BADAN USAHA MILIK GAMPONG (BUMG) DI ACEH (Rismawati,dkk, 2018, 25 halaman)
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa telah memberikan otonomi kepada desa untuk membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Aceh disebut BUMG dapat meningkatkan Pendapatan Asli Gampong dalam rangka kemandirian gampong serta perekomian gampong dan masyarakat menjadi kuat. BUMG juga dapat memberikan konstribusi bagi kesejahteraan masyarakat melalui unit usaha yang dijalankan. Namun kenyataannya BUMG di Aceh masih belum berjalan dengan baik bahkan masih banyak gampong yang belum membuat peraturan gampong tentang BUMG.
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan eksistensi BUMG terdadap peningkatan Pendapatan Asli Gampong, hambatan yang dihadapi dalam pembentukan BUMG dan upaya yang ditempuh dalam pembentukan BUMG di Aceh. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan kebijakan Pemerintah Daerah (Kabupaten/Kota) dan juga Provinsi untuk menjadikan Gampong yang mandiri. Kontribusi teoritisnya, menjadi bahan dalam memperkaya ilmu pengetahuan.
Penelitian ini dilakukan dengan metode pendekatan yuris normatif dan yuridis empiris. Data penelitian terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari penelitian lapangan dengan menghimpun data pada gampong di setiap Kabupaten/Kota di Aceh dengan alat pengumpul data berupa kuesioner terstruktur dan melakukan interview kepada responden dan informan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
Hasil penelitian pada 5 Gampong di 3 Kabupaten/Kota yaitu, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Barat, memperlihatkan bahwa hampir seluruh desa pada 3 kabupaten /Kota sudah mendirikan BUMG, Namun tidak semua BUMG yang sudah didirikan tersebut dapat memberikan kontribusi peningkatan Pendapatan desa. Hambatan-hambatan dalam pembentukan BUMG di Aceh berupa minimnya pengetahuan tentang potensi desa yang dapat dikembangkan melalui BUMG,sulitnya menemukan orang yang potensial dan konsern untuk mengurus BUMG, sulitnya menyatukan konsep dalam penyusunan qanun gampong tentang pembentukan BUMG,adanya persepsi keliru masyarakat tentang dana pinjaman melalui BUMG sedangkan upaya yang ditempuh dalam pembentukan BUMG pada setiap Gampong di Aceh dengan cara melibatkan tenaga pendamping desa dan pendamping kecamatan serta peran aktif Dinas Pemberdayaaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) masing-masing Kabupaten/Kota. DPMG melakukan monitor dan melakukan pelatihan serta pendampingan untuk pembuatan Qanun desa tentang pendirian BUMG, tentang prinsip pengelolaan yang baik terhadap BUMG.
Kata Kunci: Pembetukan, BUMG, Aceh
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Allah, Swt, karena dengan izinNyalah penelitian dan laporan hasil penelitian Lektor Kepala yang berjudul
“Upaya Pembentukan Bada Usaha Milik Gampong (BUMG) di Aceh” dapat diselesaikan tepat waktu.
Penelitian ini dapat terlaksana atas bantuan dan kerjasama berbagai pihak, karena itu disampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang telah membiayai penelitian ini.
2. Rektor Universitas Syiah Kuala dan Ketua Lembaga Penelitian beserta seluruh staf yang telah membantu memfasilitasi pelaksanaan penelitian.
3. Dekan Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala
4. Semua pihak yang telah turut membantu baik responden maupun informan yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Hasil penelitian ini masih belum sempurna, oleh sebab itu segala kritik yang konstruktif sangat diharapkan. Akhirnya semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat baik terhadap khasanah ilmu pengetahuan pada umumnya, pemerintah daerah Aceh pada khususnya dalam pengembangan Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) di Aceh.
Banda Aceh, November 2018
Peneliti
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN
RINGKASAN……… i
KATA PENGANTAR. ……… ii
DAFTAR ISI………... iii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ……….. ……….. 1
B. Tujuan Khusus.……… 2
C. Luaran…………. ………. 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
BAB III METODE PENELITIAN ... 7
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 10
BAB V PENUTUP... 22
DAFTAR PUSTAKA………. 24 Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dalam Pasal 72 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (Gampong atau nama lain di Aceh) disebutkan , bahwa pendapatan asli desa terdiri dari hasil usaha, hasil aset, swadaya dan partisipasi, gotong royong dan lain-lain. Kemudian maksud dari hasil usaha adalah termasuk di dalamnya hasil usaha BUMDes. BUMDes diatus dalam Pasal 87 yang menyatakan desa dapat mendirikan BUMDes yang dikelola dengan semangat kekeluargaan dan kegotongroyongan. BUMDes dapat menjalankan usaha di bidang ekonomi dan/atau pelayanan umum sesuai dengan peraturan perundang- undangan.Peraturan lebih lanjut mengenai BUMDes dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pendirian, Pengurusan dan Pengelolaan dan Pembubaran BUMDes.
BUMG merupakan bentuk konsolidasi atau penguatan terhadap lembaga- lembaga ekonomi gampong dan merupakan instrumen pendayagunaan ekonomi lokal dengan berbagai ragam jenis potensi, yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat desa/gampong melalui pengembangan usaha ekonomi masyarakat, serta memberikan sumbangan bagi pendapatan asli gampong yang memungkinkan gampong mampu melaksanakan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara optimal.
Keberadaan BUMG sangat diperlukan dalam menciptakan Gampong yang mandiri dan sejahtera, namun kenyataannya di Aceh masih banyak Gampong yang belum memiliki BUMG padahal memiliki potensi yang sangat besar dalam peningkatan pendapatan asli desa. Bahkan masih ada Gampong yang membentuk BUMG dengan Peraturan Gampong.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana eksistensi BUMG dalam peningkatan Pendapatan Asli Gampong di Aceh?
2. Apa hambatan-hambatan dalam pembentukan BUMG di Aceh?
3. Apa upaya yang ditempuh dalam pembentukan BUMG pada setiap Gampong di Aceh?
B. Tujuan Khusus
Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengungkapkan eksistensi BUMG dalam peningkatan Pendapatan Asli Gampong di Aceh?
2. Menemukan hambatan-hambatan dalam pembentukan BUMG di Aceh?
3. Mengungkapkan upaya yang ditempuh dalam pembentukan BUMG pada setiap Gampong di Aceh?
C. Luaran Penelitian
1. Menemukan gambaran BUMG pada setiap gampong di Aceh.
2. Membantu pemerintah dalam pemberdayaan masyarakat dan pembentukan BUMG.
3. Melahirkan kebijakan dalam pembentukan BUMG.
D. Urgensi Penelitian
Keutamaan dari penelitian ini adalah untuk menciptakan Gampong yang mandiri di Aceh, sehingga dapat mensejahterakan masyarakat melalui Pendapatan Asli Gampong. menjadi bahan masukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang berkaitan dengan BUMG. Penelitian ini juga dapat menjadi bahan dalam upaya pembentukan BUMG pada setiap Gampong di Aceh. Secara teoritis dapat menemukan bahan dalam rangka peningkatan ilmu pengetahuan.
Secara praktis, penelitian ini dapat membantu daerah dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemandirian Gampong.
D. Temuan yang Ditargetkan
Penelitian ini akan menghasilkan luaran sebagai berikut:
1. Memberikan gambaran tentang eksistensi BUMG dalam peningkatan Pendapatan Asli Gampong di Aceh?
2. Menemukan hambatan-hambatan dalam pembentukan BUMG di Aceh?
3. Mengungkapkan upaya-upaya yang ditempuh dalam pembentukan BUMG pada setiap Gampong di Aceh?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka, bersatu dan berkedaulatan rakyat. Titik berat pembangunan diletakkan pada bidang ekonomi yang merupakan penggerak utama pembangunan seiring dengan kualitas sumber daya manusia dan didorong secara saling memperkuat, saling terkait dan terpadu dengan pembangunan bidang-bidang lainnya yang dilaksanakan selaras, serasi dan seimbang guna keberhasilan pembangunan di bidang ekonomi dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan nasional.
Dalam Pasal 18 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa disebutkan, bahwa kewenangan desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desadan pemberdayaan masyarakat desa. Selanjutnya Pasal 19 menyebutkan kewenangan desa meliputi: kewenangan berdasarkan hak asal-usul;
kewenangan lokal berskala Desa; kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah.
BUMG merupakan lembaga usaha gampong yang dikelola oleh masyarakat dan desa dalam rangka memperkuat perekonomian desa dan dibentuk berdasarkan kebutuhan, kapasitas dan potensi desa sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Uphoff dalam Cernea (1988:500) mengatakan bahwa “salah satu paradoks dalam mendorong partisipasi adalah bahwa dalam mempromosikan pembangunan dari bawah (buttom up planning), justru seringpula membutuhkan upaya dari atas”.
Hal ini terlihat dari wacana yang menggunakan pendamping desa yang direkrut dan ditempatkan di desa untuk bekerja dengan masyarakat pedesaan dan mengembangkan kapasitas organisasi di antara mereka.
Lebih lanjut Sumodiningrat (1997:165) mengatakan bahwa pemberdayaan masyarakat bertalian erat dengan upaya penanggulangan masalah-masalah pembangunan, seperti pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan. Usaha pembangunan masyarakat tersebut harus dilakukan melalui tiga cara:
1. Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang.
2. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering).
3. Memberdayakan juga berarti melindungi.
Suatu kebijakan akan menimbulkan suatu dampak. Dampak kebijakan publik merupakan sebuah studi evaluasi terhadap suatu kebijakan pemerintah yang sudah diimplementasikan kepada sasaran kebijakan. Untuk mengetahui dampak perlu adanya evaluasi yang dikemukakan oleh Finterbusch dan Motz (dalam Wibawa, 1994:74) yaitu menggunakan single program before after. Dimana evaluator hanya menggunakan kelompok eksperimen yaitu kelompok yang dikenai kebijakan untuk memperoleh data dari evaluasi dampak kebijakan ini.
PETA JALAN PENELITIAN
Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan berjudul “Pelaksanaan Pembiayaan Modal Ventura dalam Perberdayaan Usaha Kecil Menengah di Aceh dan juga penelitian yang pernah dilakukan tentang Pembentukan Perusahaan Daerah”
merupakan landasan yang sangat mendukung penelitian yang akan dilakukan. BUMG merupakan salah satu unit usaha dalam pemberdayaan masyarakat desa menuju desa yang mandiri secara finansial. Oleh sebab itu pelaksanaan pembentukan BUMG sangat diperlukan dalam peningkatan Pendapatan Asli Gampong dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat gampong.
BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini untuk mecari gambaran eksistensi BUMG pada Gampong di Aceh, hambatan dan upaya pembentukannya. Untuk itu yang paling utama dilakukan adalah pengamatan keberadaan BUMG, pendapatan dan program Gampong dan Daerah dalam pembentukan BUMG. Untuk itu ditetapkan 4 Kabupaten/Kota dengan jumlah masing-masing kabupaten 5 Gampong, yaitu Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Aceh Barat.
Untuk mendapatkan data dan bahan-bahan dalam penelitian ini dilakukan:
a. Penelitian Lapangan (field research).
Penelitian Lapangan ini dilakukan untuk mendapatkan data sekunder yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner bagi masyarakat Gampong, mewawancarai para responden dan informan dan dilakukan juga Focus Group Discussion (FGD) dalam kaitannya dengan masalah yang diteliti.
b. Penelitian Kepustakaan (Library research).
Penelitian Kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data atau bahan yang bersifat teoritis, yang merupakan data primer yaitu data yang diperoleh dengan cara mempelajari buku-buku, literatur, majalah, peraturan perundang- undangan dan bahan sekunder lainnya.
Populasi Penelitian terdiri atas: Masyarakat Gampong, Perangkat Gampong, Pengurus BUMG, Tuha Peut, Tuha Lapan, Badan Pemberdayaan Masyarakat, dan Pemerintah Daerah.
Berdasarkan populasi di atas, maka pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara Purposive Sampling, yaitu dari keseluruhan populasi akan diambil beberapa orang yang diperkirakan dapat mewakili keseluruhan dari populasi yang terdiri dari:
1. Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong (DPMG) (1 orang) 2. Masyarakat Desa masing-masing 10 orang.
3. Keucik, Tuha Peut, dan Tuha Lapan masing-masing 1 orang setiap gampong.
4. Pemeritah Daerah masing-masing 1 orang
5. Pengurus BUMG jika yang sudah ada, masing-masing desa 1 orang.
Data yang terkumpul baik dari hasil penelitian lapangan maupun dari penelitian kepustakaan dianalisis dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Indikator utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah upaya pembentukan BUMG pada setiap Gampong di Aceh. Gambaran dan prosedur penelitian ini dapat dilihat pada diagram fishbone di bawah ini:
Menemukan kebijakan tentang upaya pembentukan
BUMG pada setiap Gampong di Aceh
Perlu pembentukan BUMG dengan pemberdayaan masyarakat dalam berbagai unit usaha Regulasi tentang Bentuk
BUMG sangat minim pada Daerah dan Gampong
Adanya hambatan dalam pembentukan dan pengeloaan BUMG
Pemberdayaan kebutuhan, kapasitas dan potensi yang ada pada masyarakat Gampong di Aceh BUMG dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan kemandirian Gampong me
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Eksistensi BUMG dalam peningkatan Pendapatan Asli Gampong di Aceh Keberadaan Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) merupakan bentuk kemandirian dari suatu Desa/gampong yang merupakan wujud implementasi otonomi desa/gampong.Melalui BUMG diharapkan gampong dapat melaksanakan pembangunan yang tidak sepenuhnya bergantung dari subsidi pemerintah. BUMG dapat dijadikan suatu alternative lain yang memberikan tambahan terhadap pendapatan asli Gampong (PAG). BUMG juga di fungsikan untuk mengelola asset kekayaan gampong dengan tujuan dapat didayagunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat gampong.
Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) merupakan usaha yang dimiliki oleh pemerintah desa/Gampong, yang bertujuan sebagai salah satu sumber penerimaan desa/ gampong (PAG).Namun BUMG yang sudah didirikan pada seluruh desa di Kabupaten Aceh besar , demikian juga Kota Lhokseumawe sudah mendirikan BUMG pada semua desa, sedangkan Kabupaten Aceh Barat masih terdapat 4 desa yang belum mendirikan BUMG sesuai dengan ketentuan yang ada. Walaupun hamper seluruh gampong di lokasi penelitian ( sebanyak 95%) sudah memiliki BUMG, namun belum seluruhnya mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PAG, justru lebih banyak suntikan dana dari pamerintah gampong dan pada
tersebut telah menjadi beban bagi anggaran gampong, sehingga apa yang menjadi tujuan berdirinya BUMG sebagai salah satu sumber pendapatan pemerintah gampong belum seluruhnya tercapai.
Kontribusi BUMG dalam PAG tidak terlalu besar, hal tersebut disebabkan tidak jelasnya visi dan misi BUMG yaitu antara pelayanan publik (public service) dengan mencari keuntungan (profit oriented). faktor birokrasi dan kelembagaan, serta sumberdaya manusia. Faktor kelembagaan dan birokrasi ini menjadi faktor yanng sangat panting yang membuat BUMG menjadi tidak profitable. Pengaruh birokrasi pemerintahan masih melekat pada sebagian besar BUMG, misalnya masih terdapat pengurus BUMG yang dirangkap jabatan oleh perangkat Gampong.. Ini menyebabkan banyak BUMG akhimya tidak mampu mengembangkan perusahaan dengan maksimal karena setiap keputusan bisnis sering di intervensi oleh perangkat gampong.
Terdapat beberapa BUMG (8%) yang memang mempunyai kinerja yang cukup baik bila dikaji dari aspek keuangan, kelembagaan dan birokrasi serta sumber daya manusia. BUMG tersebut telah dikelola secara profesional dengan menempatkan pimpinan dan pegawainya sesuai dengan bidangnya dan memiliki tugas dan fungsi yang jelas dalam pengelolaannya. Pengelolaan yang profesional tersebut dikarenakan penempatan orang yang benar-benar memiliki kemampuan dan komitmen yang tinggi dalam pengelolaan BUMG.
dilihat dan aspek keuangan, kelembagaan dan birokrasi serta sumber daya manusia, tapi memang kalau dilihal dari share nya terhadap PAG masih cukup kecil.
Profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan menjadi keharusan karena sektor dewasa ini semua sektor usaha mempunyai tingkat persaingan yang cukup tinggi.
B. Hambatan-hambatan dalam pembentukan BUMG di Aceh.
Dalam mewujudkan kebutuhan untuk menjadi gampong yang mandiri, pemerintah Gampong mendirikan BUMG, namun dalam pendirian nya ditemukan beberapa hambatan, yaitu:
1. Belum mampu membaca potensi Gampong.
Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) merupakan lembaga usaha Desa yang dikelola oleh masyarakat dan Pemerintahan Desa dalam upaya memperkuat perekonomian gampong dan dibentuk berdasarkan kebutuhan dan potensi gampong.
Badan Usaha Milik Gampong menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah didirikan antara lain dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Gampong.Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa Pasal 79 menyatakan Badan Usaha Milik Desa adalah usaha Desa yang dikelola oleh Pemerintah Desa dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan Desa sesuai kebutuhan dan potensi Desa.
Menetukan potensi desa/Gampong yang harus dikelola oleh BUMG merupakan factor penting yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum mendirikan BUMG. Salah menentukan potensi desa , dapat menyebabkan BUMG tidak dapat berjalan dan berkembang secara baik.Sebagian besar (sebesar 70% )Gampong di
yang akan dikembangkan melalui BUMG. Idealnya Penentuan potensi gampong selayaknya dilakukan dengan studi kelayakan dan bisnis plan terlebih dahulu sebelum unit usaha tersebut operasional. Hal ini belum sepenuhnya dilakukan oleh gampong dilokasi penelitian, keinginan pendirian BUMG yang begitu besar tidak dibarengi dengan keahlian dalam penetuan bisnis plan mengakibatkan kegiatan usaha BUMG yang tidak produktif.
Dalam Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 Pasal 19 terdapat enam bentuk usaha BUMDes. Pertama adalah usaha sosial. BUMDes menjalankan ”usaha sosial” yang melayani warga, yakni dapat melakukan pelayanan publik kepada masyarakat dengan memperoleh keuntungan finansial. Dengan kata lain, BUMDes ini memberikan manfaat sosial pada masyarakat meskipun tidak memperoleh economic profit yang besar. Contohnya yaitu usaha air minum desa (penyulingan), usaha listrik desa (desa mandiri energi) dan lumbung pangan.
Jenis usaha BUMDes yang kedua adalah usaha penyewaan. BUMDes menjalankan usaha penyewaan barang untuk melayani kebutuhan masyarakat desa dan ditujukan untuk memperoleh pendapatan asli desa.Contoh : Usaha penyewaan alat transportasi, perkakas pesta, gedung pertemuan, sewa ruko,sewa tanah milik BUMDes, dan lain - lain.
Jenis usaha BUMDes yang ketiga adalah usaha perantara / brokering. BUMDes dapat menjalankan usaha perantara (brokering)yang memberikan jasa pelayanan kepada
warga masyarakat. Contohnya adalah jasa pembayaran listrik, Pasar Desa untuk memasarkan produk yang dihasilkan masyarakat dan jasa pelayanan lainnya.
Jenis usaha BUMDes yang keempat adalah usaha perdagangan. BUMDes dapat menjalankan usaha berproduksi dan/atau berdagang (trading) barang-barang tertentu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun dipasarkan pada skala pasar yang lebih luas. Contohnya adalah pabrik es, pabrik, asap cair, penjualan hasil pertanian, sarana produksi pertanian, sumur bekas tambang, kegiatan bisnis produktif lainnya.
Jenis usaha BUMDEs yang kelima adalah usaha keuangan. BUMDes dapat menjalankan Usaha keuangan (financial business) yang memenuhi kebutuhan usaha- usaha skala mikro yang dijalankan oleh pelaku usaha ekonomi desa contohnya Simpan Pinjam.
Jenis usaha BUMDEs yang keenam adalah usaha bersama/ holding. BUMDes dapat menjalankan usaha bersama (holding) sebagai induk dari unit unit usaha yang dikembangkan masyarakat Desa baik dalam skala lokal Desa maupun kawasan perdesaan.Masing-masing unit tersebut berdiri sendiri-sendiri, diatur dan ditata sinerginya oleh BUMDes agar tumbuh usaha bersama. Contohnya adalah pengembangan kapal desa berskala besar untuk mengorganisasi nelayan kecil agar usahanya menjadi lebih ekspansif, desawisata yang mengorganisir rangkaian jenis usaha dari kelompok masyarakat, kegiatan usaha bersama yang mengkonsolidasikan jenis usaha local lainnya.
Melalui berbagai unit usaha ini, berbagai kebutuhan dasar warga desa diharapkan
kepada Pengurus BUMDesa untuk menginventarisasi aneka kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Adapun penetapan unit usaha yang akan diselenggarakan seyogyanya dimusyawarahkan dalam forum Musdes (kekuasaan tertinggi pada BUMDes) karena setiap unit usaha yang dibentuk mengandung resiko Untuk itu disarankan dilakukan studi kelayakan dan bisnis plan terlebih dahulu sebelum unit usaha tersebut operasional.
Merujuk Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi tersebut, maka dapat dianalisis bahwa kondisi BUMG di lokasi penelitian sebanyak 95% BUMG didirikan bergerak dalam Jenis usaha yang kelima berupa usaha keuangan, BUMG dapat menjalankan Usaha keuangan (financial business) yang bertujuan memenuhi kebutuhan usaha-usaha skala mikro yang
dijalankan oleh pelaku usaha ekonomi Gampong dalam bentuk usaha Simpan Pinjam.
usaha jasa keuangan berupa simpan pinjam. merupakan jenis usaha yang sangat rentan dengan resiko macet apabila tidak dilakukan dengan professional dan analisis pinjaman yang benar. Analisis pinjaman harus dilakukan secara tepat sebelum memutuskan menetujuan pinjaman kepada masyarakat, tanpa analisis yang tepat berakibat dana yang dikucurkan kepada masyarakat tersebut tidak kembali sebagaimana yang diperjanjikan, sudah tentu hal ini dapat mengganggu stabilitas BUMG yang bersangkautan.
Kondisi analisis pinjaman yang tidak dapat dilakukan secara benar terjadi pada 65%
BUMG yang menjalankan usaha simpan pinjam,sehingga dana yang dikucurkan kepada masyarakat tidak kembali sebagaimana mestinya. bahkan masyarakat gampong beranggapan bahwa dana yang dipinjam pada BUMG berupa dana bantuan yang tidak
perlu dikembalikan. Hal ini merupakan masalah terbesar yang harus dihadapi BUMG, untuk menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat sudah mengeluarkan kebijakan yang dituangkan dalam Peraturan Bupati Aceh Barat Nomor 38 tahun 2018 Tentang Pedoman Tehnis Pemberdayaan Ekonomi Produktif melalui Dana Gampong Dalam Kabupaten Aceh Barat.
Kegiatan usaha yang dijalankan oleh BUMG sangat sedikit yang bergerak dibidang produksi dan jasa ( hanya 12 % ),selebihnya kegiatan BUMG lebih banyak dilakukan disektor pembangunan gedung,toko dan penyediaan perlengkapan pesta yang bertujuan untuk disewakan. Tidak produktifnya kegiatan usaha BUMG dapat menghambat tercapainya tujuan dasar dari BUMG tersebut.
Penentuan potensi gampong yang ideal untuk menjadi kegiatan usaha BUMG, merupakan hal yang sangat penting dilakukan, dalam penentuan potensi gampong, perlu dilakukan studi kelayakan terlebih dahulu.
2. Sumber daya manusia
kurangnya kualitas dan kapasitas pengetahuan yang dimiliki masyarakat gampong untuk mengelola BUMG, serta terbatasnya pengetahuan yang akan disepakati sebagai pengurus dalam memahami makna kepemimpinan, manajerial dan tata kelola disertai kurangnya memahami prinsip-prinsip pengelolaan dan pengalaman dalam pengelolaan Badan Usaha yang baik sehingga menyebabkan pendirian BUMG menjadi terhambat, karena dikhawatirkan ketika sudah berdiri dapat mengakibatkan BUMG tersebut tidak dapat berkembang sesuai dengan harapan dari masyarakat Gampong.
3. kurangnya pemahaman dalam pembuatan qanun dan anggaran dasar pendirian BUMG.
Dasar hukum pendirian BUMG merupakan factor penting yang harus dilakukan, untuk menyusun qanun pendirian, masyarakat desa yang bersangkutan harus membicarakan hal-hal yang akan diatur didalam qanun tersebut. Kurangnya pemahaman masyarakat gampong terhadap bentuk, isi dan hal-hal yang harus dimuat dalam qanun pendirian BUMG menjadi kendala tersendiri dalam pendirian BUMG. Hal ini terlihat, meskipun banyak BUMG sudah dapat didirikan,namun sekitar 65% qanun pendiriannya masih harus dilakukan revisi guna penyempurnaanya.
Selain itu juga masyarakat gampong belum seluruh paham mengenai penyusunan anggaran dasar BUMG, sehingga BUMG yang sudah didirikan masih terdapat BUMG yang belum memiliki anggaran dasar yang baik.
4. Intervensi pemerintah gampong masih besar.
Dalam pemilihan pengurus BUMG, Geuchik dan aparat gampong yang lain cenderung menggunakan penunjukkan langsung kepada orang-orang tertentu yang belum tentu professional. Tidak adanya musyawarah dalam penentuan pengurus dapat mengakibatkan tingkat kepercayaan masyarakat desa terhadap BUMG menjadi rendah.
5. Manajemen pengelolaan yang belum maksimal.
.Terbatasnya pengetahuan pengurus dalam memahami makna kepemimpinan, manajerial dan tata kelola Badan Usaha Milik Desa disertai kurangnya pengalaman seorang direktur dalam berwirausaha untuk mengelola sebuah lembaga bisnis.
Secara sosiologis,tersedianya lembaga ekonomi yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat desa sudah sejalan dengan kepentingan bersama masyarakat. Kehadiran lembaga ekonomi seperti BUMG searah dengan tujuan peningkatan kemandirian dan kreatifitas masyarakat desa untuk mengusahakan kesejahteraan. Pendirian dan pengelolaan BUMG yang kurang baik secara langsung dapat kontraproduktif dengan tujuan pembentukan BUMG itu sendiri
Peningkatan kesejahteraan masyarakat Gampong dengan bertambahnya Pendapatan Gampong yang dilatarbelakangi dengan terbentuknya BUMG yang kuat sesuai dengan tujuan dan prinsip keadilan social yang merupakan prinsip dasar Negara Indonesia. Pembentukan BUMG saja belumlah memadai, dengan pertimbangan pengalaman telah mengajarkan bahwa pembentukan / pemberian suatu lembaga yang baik, belum tentu dapat mencapai tujuan pendiriannya, dikarenakan kurang baiknya pengelolaan manajerial dan kepemimpinan lembaga tersebut.
6. Persepsi yang keliru masyarakat tentang dana pinjaman melaui BUMG
Banyaknya BUMG yang menjalankan kegiatan usaha pada sector simpan pinjam tidak memberikan kontribusi berarti bagi pendapatan BUMG yang dimaksud. Sebanyak 85% BUMG yang menjalankan usaha simpan pinjam mengalami masalah dana yang sudah disalurkan tidak dikembalikan sebagaimana mestinya oleh peminjam, hal ini disebabkan persepsi masyarakt yang menganggap bahwa dana yang di pinjamkan oleh BUMG kepada mereka merupakan bantuan pemerintah yang disalurkan melalui BUMG yang tidak perlu dikembalikan. Persepsi ini menimbulkan masalah yang sangat berarti bagi BUMG yang perlu di carikan solusinya.
Solusi terhadap kondisi ini di tindak lanjuti oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dengan mengeluarkan regulasi berupa “Peraturan Bupati Aceh Barat Nomor 38 Tahun 2018 Tentang Pedoman Teknis Pemberdayaan Ekonomi Produktif Melalui Dana Gampong Dalam Kabupaten Aceh Besar”. Pasal 15 ayat (2) butir b Peraturan Bupati Aceh Barat tersebut menegaskan bahwa Pemerintah Gampong dengan penerima mandat dapat membuat kesepakatan tentang anggunan yang diberikan oleh penerima modal usaha dari BUMG, kesepakatan tersebut dituangkan dalam kontrak pinjaman.
Regulasi tersebut dikeluarkan karena fakta membuktikan banyaknya pinjaman modal yang telah dikucurkan oleh BUMG kepada masyarakat tidak dapat kembali sesuai dengan kesepakatan, dengan terikatnya anggunan yang diberikan oleh penerima pinjaman diharapkan dapat memberikan rasa tanggung jawab untuk melaksanakan kontrak pinjaman modal sebagaimana mestinya, anggunan tersebut diharapkan dapat membuat peminjam modal merasa terikat untuk mematuhi kesepakatan mereka.
C. Upaya-upaya yang ditempuh dalam pembentukan dan pengembangan BUMG pada setiap Gampong di Aceh.
Adapun upaya-upaya yang ditempuh dalam pembentukan dan pengembangan BUMG berupa :
1. sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan masyarakat dan Gampong (DPMG).
Dinas Pemberdayaan masyarakat dan Gampong pada lokasi penelitian sudah menyiapkan program sosialisasi tentang pembentukan dan pengelolaan BUMG
secara benar. Hampir seluruh Gampong (85% Gampong) sudah mendapatkan sosialisai mengenai tehnik pembentukan BUMG, sosialisai pembentukan dimulai dengan muasyawarah desa untuk membahas rencana pembentukan BUMG, sosialisasi tehnis pembuatan rancangan qanun gampong tentang pendirian BUMG dan sosialisai manajemen pengelolaan BUMG yang baik.
2. Dinas Pemberdayaan masyarakat dan Gampong melaksanakan program studi banding.
Selain sosialisasi, pemerintah dalam hal ini dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan masyarakat dan Gampong juga melaksanakan program studi banding ke provinsi lain yang dianggap sudah cukup sukses dalam pengelolaan BUMDes nya. Program studi banding dilakukan oleh DPMG Kota Lhokseumawe, dari program tersebut di harapkan pengurus BUMG dapat termotifasi dan dapat meningkatkan kreatifitasnya dalam pengelolaan BUMG sehingga dengan pengelolaan BUMG yang baik diharapkan lebih cepat mencapai tujuan pembentukannya.
3. Pelatihan manajemen usaha
pelatihan manajemen usaha juga dilakukan oleh DPMG kepada pengurus BUMG, melalui pelatihan tersebut diharapkan pengurus BUMG memiliki kemampuan manajemen yang baik dalam pengelolaan dan pengembangan BUMG. Kemampuan pengelolaan perusahaan yang baik dan profesioanal sangat penting untuk menunjang pengembangan BUMG, tanpa kemampuan manajerial
yang baik dan profesioanal kecil kemungkinan BUMG dapat berkembang dengan baik.
BAB V PENUTUP
Berdasarkan uraian hasil penelitian yang telah dipaparkan di atas, maka berikut ini dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut :.
1. Hampir seluruh gampong di lokasi penelitian sudah memiliki BUMG, namun belum seluruhnya mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap PAG, justru lebih banyak suntikan dana dari pamerintah gampong dari pada keuntungan (profit) yang di dapat oleh Gampong yang bersangkutan.Kontribusi BUMG dalam PAG tidak terlalu besar, disebabkan tidak jelasnya visi dan misi BUMG yaitu antara pelayanan publik (public service) dengan mencari keuntungan (profit oriented). faktor birokrasi dan kelembagaan, serta sumberdaya manusia.
2. Hambatan-hambatan yang ditemukan dalam pembentukan BUMG di Aceh berupa belum sepenuhnya masyarakat gampong mampu membaca potensi gampong, kurangnya kualitas dan kapasitas pengetahuan yang dimiliki masyarakat gampong (sumber daya manusia ) untuk mengelola BUMG, serta terbatasnya pengetahuan yang akan disepakati sebagai pengurus dalam memahami makna kepemimpinan, manajerial dan tata kelola disertai kurangnya memahami prinsip- prinsip pengelolaan dan pengalaman dalam pengelolaan Badan Usaha yang baik, kurangnya pemahaman dalam pembuatan qanun dan anggaran dasar pendirian BUMG yang merupakan landasan yuridis dari BUMG yang bersangkutan, besarnya
pengelolaan yang belum maksimal, dan Persepsi yang keliru masyarakat tentang dana pinjaman dari BUMG.
3. Adapun upaya-upaya yang ditempuh dalam pembentukan dan pengembangan BUMG berupa sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan masyarakat dan Gampong (DPMG), program studi banding yang dilakukan oleh DPMG,serta pelatihan manajemen usaha juga dilakukan oleh DPMG kepada pengurus BUMG.
DAFTAR PUSTAKA
Carnea, Michael. 1998. Mengutamakan Manusia di Dalam Pembangunan: Variabel- Variabel Sosiologi di Dalam Pembangunan Pedesaan. Jakarta; UI
Departeman Pendidikan Nasional Pusat Kajian Dinamika Sistem Pembangunan (PKSDP) Fakultas Ekonomi UNIBRAW. 2007. Buku Panduan Pendirian dan Pengelolaan BUMDES. Jakarta: Pimpinan Pusat Relawan Pemberdayaan Desa Nusantara (PP RPDN)
Ginanjar Kartasasmita. 1996. Pembangunan Untuk Rakyat: Memadukan Pertumbuhan dan Pemerataan. Jakarta: PT. Pustaka Cidesindo.
Harry Hikmat. 2001. Strategi Pemberdayaan Masyarakat. Bandung: Humainora Utama Press
Hayami, Y dan Kikuchi, M. 1987. Dilema Ekonomi Desa, Suatu Pendekatan Ekonomi Terhadap Perubahan Kelembagaan di Asia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Moeljarto Tjokrowinoto. 1987. Politik Pebangunan: Sebuah Analisis Konsep Arah dan Strategi. Yogyakarta: Tiara Wacana
Samodra Wibawa, dkk. 1994. Evaluasi Kebijakan Publik. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Titik Sumarti, dkk. 2008. Model Pemberdayaan Petani Dalam Mewujudkan Desa Mandiri dan Sejahtera. Bogor: Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat IPB.
Tjahya Sumodiningrat. 2000. Strategi Pembangunan dan Kemiskinan. Jakarta:
Rineka Cipta.
Tumpal P. Saragi. 2004. Mewujudkan Otonomi Masyarakat Desa Alternatif Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: IRE Press.
Sukrino, Didik. 2012. Pembaharuan Hukum Pemerintahan Desa, Setara Press.
Malang.
Wasistiono, Sadu, dan tahir, M. Irawan. 2006. Prospek Pengembangan Desa, Fokusmedia. Bandung.
Widjaja, H.A.W.2003. Otonomi Desa. Penerbit PT RajaGarafindo Pesada. jakarta
Peraturan Perundang-Undangan:
Undang-Undang Dasar 1945
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa
Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2015 Tentang Pendirian, Pengurusan Dan Pengelolaan, Dan Pembubaran Badan Usaha Milik Desa
Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2015 Tentang Pedoman Tata Tertib Dan Mekanisme Pengambilan Keputusan Musyawarah Desa.