commit to user 48 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 87 tahun 2008 tentang pembentukan Sekertariat Daerah, Dinas Daerah, Lembaga Teknis Dinas yang didalamnya termasuk pembentukan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga, sehingga terbentuk pula UPTD TK, SD pada setiap Kecamatan. UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta merupakan pesebaran dari Dinas DIKPORA Kota Surakarta, yang mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian fungsi dinas di bidang TK, SD yang berada diwilayah kecamatan Banjarsari. Kantor ini beralamatkan di Jl. RM Said No. 40 Ketelan, Banjarsari, Surakarta.
Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta terdiri dari 8 (delapan) ruangan yaitu ruang pimpinan, ruang sub bagian tata usaha, ruang komputer, ruang bendahara gaji, ruang pengawas TK dan SD, aula, gudang dan musholla. Ruangan yang diobservasi dan dijadikan obyek penelitian merupakan ruang-ruang utama yang digunakan para pegawai UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta dalam melaksanakan pekerjaannya. Ruangan-ruangan tersebut antara lain:
1) Ruang Pimpinan/Kepala Kantor a) Ruang Tamu
b) Ruang Meja Pimpinan c) Ruang Lemari Gugus 2) Ruang Pengawas
3) Ruang Subbag Tata Usaha 4) Ruang Komputer
5) Ruang Bendahara Gaji
commit to user
a. Visi dan Misi Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
1) Visi
Terwujudnya masyarakat Banjarsari yang beriman dan bertaqwa, cerdas, sehat, berprestasi dan berbudaya.
2) Misi
1. Mewujudkan masyarakat Banjarsari yang beriman, bertaqwa dan berakhlaq mulia.
2. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang cerdas, kreatif, inovatif dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Mewujudkan masyarakat yang gemar berolahraga, memiliki kesegaran jasmani dan menghasilkan bibit olahragawan yang berprestasi.
4. Mewujudkan generasi muda yang tangguh, terampil dan produktif.
5. Mewujudkan kehidupan sosial budaya yang berkepribadian, berbudaya tahan dan mampu memfilter budaya asing.
b. Struktur Organisasi Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
Di dalam struktur organisasi UPTD DIKPORA Kecamatan Banjasari Surakarta berada di bawah komando Dinas DIKPORA Surakarta. Dalam melaksanakan tugasnya, dibagi dalam 4 (empat) bagian yaitu kepala UPTD, bagian tata usaha, bagian pengawas, dan bagian penilik. Berikut ini struktur organisasi kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta.
commit to user STRUKTUR ORGANISASI
UPTD DIKPORA KECAMATAN BANJARSARI KOTA SURAKARTA
Ket: B = (PNS), K = (NON PNS)
Gambar 4.1 Struktur Organisasi UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
c. Deskripsi Observasi Ruang Sub-Sub Bagian Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
1) Ruang Pimpinan
Ruang untuk pimpinan berada di pojok sebelah barat dengan ukuran 6mx8m. ruangan ini terbagi menjadi 3 bagian yaitu ruang tamu, ruang meja pimpinan dan ruang lemari gugus. Untuk ruang tamu memiliki ukuran 5,5m x 3m dengan perabotan seperti 2 (dua) set meja kursi menghadap ke utara, wastafel dan cermin yang menghadap ke barat serta beberapa foto dan piagam yang terpasang di tembok ruangan. Di pojok kiri
JABATAN B K
Bendahara Kas 1 0
Pemb. Bendahara Gaji 1 1
Pengelola Kepegawaian 1 1
Pengelola Barang 2 0
Bagian Umum 1 0
Operator Komputer 0 7
Caraka/ Persuratan 0 0
PENILIK PAUD & PLS (III/C - S1)
DINAS DIKPORA SURAKARTA
KEPALA UPTD (IV/A - S1)
PENGAWAS TK/SD/SLB (IV/A S1, S2 & IV/B S2)
KA. SUBAG. TU (III/C - S2)
commit to user
sebelah barat ada sebuah filling cabinet (masih terbungkus plastik).
Selanjutnya setelah melalui ruang tamu, kita masuk ke ruang meja pimpinan yang berukuran 2,5m x 6m.
Ruangan ini cukup luas karena hanya terdapat seorang pimpinan yang menempati ruang dengan barang-barang yang sudah tertata dengan cukup rapi sehingga tidak menimbulkan kesan sempit pada ruang ini. Meja pimpinan yang menghadap ke utara tersebut dilengkapi dengan 3 (tiga) buah kursi, satu kursi berwarna hitam untuk pimpinan dan dua buah kursi berwarna biru diperuntukan untuk tamu pimpinan dan berada tepat di depan meja pimpinan yang berhadapan dengan kursi pimpinan. Diatas meja pimpinan terdapat peralatan tulis, sebuah kalender duduk, telepon, dan beberapa tumpukan dokumen. Arsip-arsip pimpinan telah disusun dalam lemari arsip yang ada di ruang tersebut. Di sebelah utara meja pimpinan ada beberapa lemari kaca untuk meletakkan piala, berkas-berkas serta satu set pakaian adat jawa pria. Ruangan ini dilengkapi kamar mandi khusus pimpinan yang berada dipojok kiri belakang kursi pimpinan dengan ukuran 1m x 1,5m, di atas pintu kamar mandi tersebut terdapat sebuah Air Conditioner (AC), sehingga AC ini berada di atas sebelah kiri pimpinan dan dipasang pada suhu 18°C. Di sebelah kiri pimpinan terdapat jendela dengan ukuran 1,65m x 0,75m dan diberi tirai berwarna biru.
Ruangan meja pimpinan ini dipasang sebuah lampu merk Philips dengan daya 14 watt. Walaupun hanya satu buah lampu, namun pencahayaan di ruang tersebut cukup terang karena tirai jendela dibuka sedikit agar cahaya matahari dapat masuk.
Selain ruang tamu dan ruang meja pimpinan, jika kita masuk ke ruang meja pimpinan lalu belok ke kanan, disebelah timur ada ruang lemari gugus, yaitu ruang yang terdapat beberapa lemari yang digunakan untuk menyimpan soal ujian dari sekolah di setiap gugus di wilayah banjarsari. Ruang lemari gugus ini berukuran 6m x 3m dengan jumlah 11 (sebelas) lemari kayu yang menjadi satu. Lemari gugus menghadap ke arah selatan dengan ukuran keseluruhan lemari 5,5m x 1,5m. Disamping
commit to user
lemari sebelah timur terdapat tirai biru dan dekat tirai tersebut terdapat sebuah kulkas. Dipojok kiri depan lemari gugus terdapat satu kursi dan satu meja. Untuk penerangan di ruang ini menggunakan 2 (dua) buah lampu dengan daya 10 watt. Warna dinding di seluruh ruang pimpinan ini berwarna putih sehingga menimbulkan kesan bersih, sejuk dan ruangan terlihat lebih luas.
Ruang Pimpinan ini terpisah dan jauh dari ruang lainnya. Di setiap ruangan tidak dilengkapi dengan kamera pemantau atau CCTV (Close Circuit Television). Karena fungsi pimpinan yang bertugas untuk mengawasi bawahannya, kondisi Ruang Pimpinan yang terpisah dengan ruang bidang lain dan tidak tersedianya kamera pemantau maka akan mengurangi efektivitas pengawasan secara langsung. Gambar denah Ruang Pimpinan dapat dilihat dalam lampiran.
Tabel 4.1 Daftar Barang Inventaris Ruang Pimpinan
No Nama Barang Jumlah (buah)
1 AC (Air Conditioner) 1
2 Lemari Sorok Kayu 1
3 Lemari Kaca Besi 3
4 Lemari Kaca Kayu 1
5 Filling Cabinet 1
6 Meja Tamu 2
7 Kursi Tamu 2
8 Meja Kayu Kaca 1
9 Kursi Besar Putar 1
10 Kursi Merk Brother 3
11 Meja Kayu 1
12 Lemari Kayu 11
13 Jam Dinding 2
14 Cermin 2
15 Wastafel 1
Sumber: Daftar Inventaris UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
commit to user 2) Ruang Komputer
Ruang komputer ini digunakan untuk pekerjaan dibidang keuangan. Ruang yang berada di samping kanan ruang pimpinan ini memiliki ukuran 2,5m x 6m. Ruang ini cukup sempit, karena di isi oleh 5 (lima) orang pegawai dan perabotan serta peralatan yang dibutuhkan oleh para pegawai tersebut. Saat memasuki ruang ini, disebelah selatan pintu terdapat satu set meja komputer menghadap ke arah utara yang digunakan oleh bendahara. Diatas meja bendahara tersebut, tidak hanya terdapat satu set komputer saja tetapi juga terdapat satu unit printer dan satu buah kalkulator. Di belakang meja komputer bendahara, terdapat filling cabinet kecil yang diatasnya ada beberapa barang seperti box file, kalender duduk, laci plastik mini 4 susun serta beberapa lembar dokumen. Diatas dan samping kiri pintu terdapat jendela kaca dengan tirai berwarna biru tua.
Setelah melewati meja komputer bendahara, di sisi kanan terdapat 2 (dua) buah lemari besi berukuran besar dan kecil yang berjajar menghadap ke arah selatan, dan di sisi kiri juga terdapat 2 (dua) buah lemari besi berukuran besar dan kecil yang berjajar menghadap ke arah utara. Sisi atas lemari besi yang kecil difungsikan untuk meletakkan beberapa barang. Untuk yang berada di sisi kiri digunakan untuk meletakkan printer, telepon, dan tumpukan dokumen, sedangkan untuk yang di sisi kanan digunakan untuk meletakkan makanan dan minuman.
Kemudian, disisi ruang selanjutnya terdapat 4 (empat) buah meja dan kursi yang digunakan oleh 4 orang pegawai yang bertugas sebagai pembantu bendahara. Dua meja pertama menghadap timur, 2 (dua) meja lainnya menghadap barat dan mepet pada dinding. Di masing-masing meja tersebut tersedia laptop, untuk meja di sisi pojok kanan yang menghadap ke barat juga tersedia printer. Di pojok kiri sebelah barat terdapat lemari sorok plastik 4 susun.
Ruangan ini hanya dilengkapi satu unit Air Conditioner (AC) yang berada di atas samping sebelah timur meja bendahara. Jika udara di luar ruangan sedang di temperatur yang tinggi, ruangan masih terasa panas
commit to user
walaupun suhu AC sudah diatur pada temperatur paling dingin. Tidak tersedianya ventilasi di ruang ini, membuat ruangan terkadang menjadi lembab. Untuk pencahayaan, ruangan ini dilengkapi dengan 2 (dua) buah lampu dengan daya 14 watt. Di ruang ini terdapat satu unit TV LCD 28 inch yang menempel pada dinding sebelah barat dan satu unit wireless Indihome. Gambar denah Ruang Komputer dapat dilihat dalam lampiran.
Tabel 4.2 Daftar Barang Inventaris Ruang Komputer
No Nama Barang Jumlah (buah)
1 AC (Air Conditioner) 1
2 Kursi Merk Brother 6
3 Meja Kayu 4
4 Meja Komputer 1
5 Lemari Besi 90x90x40cm 1
6 Lemari Besi 183x91x46cm 1
7 Laptop 1
8 Notebook 3
9 Komputer 1
10 Printer 3
11 Filling cabinet 1
12 TV LG 28 Inch 1
13 Wireless Indihome 1
14 Box File 7
15 Jam Dinding 1
16 Telepon 1
17 Handy Cam 1
Sumber: Daftar Inventaris UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
commit to user 3) Ruang Sub Bagian Tata Usaha
Ruangan yang memiliki luas 8m x 8m ini berada di sebelah timur samping kanan ruang pengawas. Tepat di sebelah kiri pintu bagian dalam terdapat meja kecil berbentuk setengah lingkaran untuk tempat telepon. Di ruang ini terdapat 13 (tigabelas) buah meja yang terdiri dari 10 (sepuluh) meja pegawai, 2 (dua) meja komputer dan sisanya tidak terpakai. Penataan meja pegawai di ruang ini memutar berbentuk persegi. Dimulai dari meja untuk Kepala Sub Bagian Tata Usaha berada di sebelah barat samping kiri meja telepon, meja Kepala Sub Bagian TataUsaha ini menghadap ke arah timur. Di belakang meja Kepala Sub Bagian Tata Usaha terdapat lemari besi kecil dan lemari kayu kaca 1 pintu yang juga menghadap ke timur. Di atas lemari besi tersebut terdapat monitor kecil yang tidak berfungsi, sedangkan di atas lemari kayu kaca terdapat TV tabung 24 inch.
Kemudian di sebelah utara terdapat 4 (empat) meja yang menghadap ke selatan. Dari yang paling pojok kanan adalah meja Penilik PAUD, kemudian ke samping kiri ada meja bagian Keaksaraan/PLS, lalu meja komputer, selanjutnya meja bagian Persuratan. Ada beberapa lemari di belakang meja tersebut. Di belakang meja Penilik PAUD terdapat sebuah lemari kayu kaca 2 pintu yang menghadap ke timur. Kemudian di belakang meja PLS ada sebuah lemari kayu kaca besar dengan model pintu geser yang menghadap ke selatan. Selanjutnya dibelakang meja komputer terdapat sebuah lemari kayu 2 pintu, dibelakang meja Persuratan terdapat lemari besi besar dan lemari sorok plastik 4 susun. Ketiga lemari tersebut juga menghadap ke selatan.
Untuk sisi ruangan sebelah timur, terdapat 5 (lima) meja yang menghadap ke barat. Dua meja di pojok kanan untuk bagian Penyimpanan Barang dan Pengadministrasian Umum. Meja berikutnya adalah meja bagian Umum, dibelakang meja tersebut terdapat lemari besi kecil.
Selanjutnya ada meja bagian Kepegawaian dan meja bagian Operator. Di samping kiri meja operator terdapat 2 (duah) buah lemari besi besar yang menghadap ke utara. Lalu untuk sisi ruangan sebelah selatan, terdapat 3
commit to user
(tiga) meja yang menghadap ke utara. Meja sebelah kanan yang berhimpitan dengan meja operator adalah meja komputer yang juga di gunakan oleh bagian Operator. Kemudian kekiri ada meja mesin ketik yang digunakan oleh bagian Umum/ Pembantu Bendahara Gaji, dibelakang meja ini terdapat lemari besi kecil dan lemari kayu kaca 1 pintu. Dan yang terakhir meja kosong yang tidak digunakan.
Di bagian tengah ruangan terdapat satu set meja sofa untuk tamu.
Di ruang ini tersedia 2 (dua) buah alat absensi sidik jari untuk seluruh pegawai di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta.
Untuk penerangan diruangan ini menggunakan 2 (dua) buah lampu neon dengan daya 25 watt. Adapun beberapa jendela besar di sisi barat dan timur dilengkapi dengan tirai berwarna hijau. Ruangan ini dilengkapi dengan 4 (empat) buah kipas angin, yaitu 2 (dua) buah kipas angin gantung, 1 (satu) buah kipas angin dinding, dan 1 (satu) buah kipas angin berdiri. Dinding di ruang ini berwarna biru muda sehingga sedikit memberi efek sejuk. Gambar denah Ruang Sub Bagian Tata Usaha dapat dilihat dalam lampiran.
Tabel 4.3 Daftar Barang Inventaris Ruang Sub Bagian Tata Usaha
No Nama Barang Jumlah (buah)
1 Alat Absensi Sidik Jari 2
2 Kursi Merk Brother 14
3 Meja Kayu 13
4 Lemari Besi 90x90x40cm 2
5 Lemari Besi 183x91x46cm 4
6 Lemari Sorok Plastik 4 Susun 1
7 Laptop 1
8 Komputer 2
9 Printer 2
10 Mesin Ketik 1
commit to user
11 Lemari Kayu Kaca 2,25mx1,75m 1
12 Lemari kayu kaca 2 pintu 1
13 Lemari kayu kaca 1 pintu 2
14 Lemari kayu 2 pintu 1
15 TV tabung 24 inch 1
16 TV monitor 14 inch 1
17 Jam Dinding 1
18 Satu set meja sofa tamu 1
19 Papan acara harian 1
Sumber: Daftar Inventaris UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
4) Ruang Pengawas
Ruang yang terletak di sebelah selatan ruang tata usaha ini memiliki luas 10m x 7m. Di ruang ini terdapat 19 (sembilanbelas) meja yang terdiri dari 17 meja pengawas, 1 meja komputer, 1 meja kosong.
Penataan meja di ruang ini berbentuk persegi panjang mengelilingi sisi dinding. Di sebelah utara terdapat 5 (lima) meja yang menghadap ke selatan. Lalu di sebelah barat terdapat 2 (dua) meja yang menghadap ke timur. Kemudian di sebelah selatan terdapat 6 (enam) meja yang menghadap ke utara dan 1 (satu) meja komputer di pojok kanan menghadap ke selatan. Selanjutnya di sebelah timur terdapat 2 (dua) meja yang menghadap ke barat. Di bagian tengah ruangan juga terdapat 3 (tiga) meja yang berjajar menghadap ke utara.
Di ruangan ini hanya terdapat sebuah lemari besi berukuran 183cm x 91cm x 46cm yang terletak di bagian timur dan menghadap ke barat.
Lemari ini digunakan oleh semua pengawas untuk meletakkan arsip, untuk dokumen lainnya hanya di tumpuk di meja atau di lantai dibelakang meja.
di setiap sisi dinding terdapat papan acara harian untuk masing-masing pengawas.
commit to user
Ruang ini dilengkapi 2 (dua) unit Air Conditioner (AC) yang diletakkan di tengah sisi dinding sebelah barat dan timur. Adapun satu buah kipas angin dinding di sebelah selatan. Ruangan ini juga dilengkapi dengan satu unit TV 21 inch yang berada di samping kiri kipas angin. Di sisi dinding sebelah utara, barat dan selatan terdapat jendela dengan tirai berwarna hijau. Untuk menambah penerangan, terdapat 2 (dua) lampu neon dengan daya 40 watt. Gambar denah Ruang Pengawas dapat dilihat dalam lampiran.
Tabel 4.4 Daftar Barang Inventaris Ruang Pengawas
No Nama Barang Jumlah (buah)
1 Meja Kayu 19
2 Kursi Merk Brother 22
3 Kursi Kayu 1
4 Kipas Angin Dinding 1
5 Lemari Besi 183x91x46cm 1
6 TV 21 inch 1
7 Dispenser 1
8 Komputer 1
9 Printer 1
10 Jam Dinding 1
Sumber: Daftar Inventaris UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
5) Ruang Bendahara Gaji
Ruang yang memiliki luas 4,5m x 3m ini terletak di sebelah utara, tepatnya samping mushollah. Ruang ini hanya di isi oleh 2 orang pegawai.
commit to user
Saat memasuki ruangan, di sebelah kiri pintu terdapat meja komputer yang digunakan oleh bendahara gaji. Meja tersebut menghadap ke arah timur.
Lalu setelah melewati meja bendahara gaji, terdapat 5 (lima) meja yang membentuk huruf U. Satu meja di sisi dinding sebelah barat menghadap ke dinding digunakan untuk printer. Kemudian 2 (dua) meja di sebelah utara menghadap ke selatan, meja yang di sudut ruang terdapat komputer yang digunakan oleh pembantu bendahara gaji, lalu meja sebelahnya untuk menaruh dokumen. Dua buah meja yang berada di tengah ruangan yang menghadap ke timur digunakan oleh bendahara gaji saat menerima tamu.
Di sisi dinding sebelah timur terdapat rak kayu 4 susun yang berukuran 1,5m x 2m yang digunakan untuk menyimpan arsip-arsip gaji guru SD negeri di wilayah Banjarsari. Di sebelah kiri rak kayu terdapat 2 (dua) lemari kayu kaca satu pintu. Di atas lemari kayu kaca tersebut terdapat sebuah kipas angin.
Untuk penerangan, ruang ini dilengkapi satu buah lampu dengan daya 14 watt dan 2 (dua) jendela dengan tirai berwarna biru tua. Dinding di ruangan ini berwarna biru muda dan hijau. Gambar denah Ruang Bendahara Gaji dapat dilihat dalam lampiran.
Table 4.5 Daftar Barang Inventaris Ruang Bendahara Gaji
No Nama Barang Jumlah (buah)
1 Meja Kayu 110x60x75cm 3
2 Meja Kayu 120x50x72cm 1
3 Meja Kayu 140x65x75cm 1
4 Kursi Kayu 2
5 Kursi Merk Brother 3
6 Rak Kayu 4 susun 1
7 Lemari Kayu Kaca 1 pintu 2
commit to user
8 Kipas Angin 1
9 Komputer 2
10 Printer 1
11 Jam Dinding 1
Sumber: Daftar Inventaris UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
2. Penataan Ruang Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta dalam Mencapai Efisiensi Kerja Pegawai
Penataan ruang kantor merupakan pengaturan peralatan dan perlengkapan kantor yang mendukung pelaksanaan pekerjaan, dengan mempertimbangkan luas lantai yang tersedia. Penataan ruang kantor dimaksudkan untuk memperlancar pekerjaan yang menjadi tugas dan wewenang pegawai yang menempatinya, serta dapat memaksimalkan ruangan yang ada pada suatu kantor.
Seluruh ruangan di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta ini berjumlah 8 (delapan) ruang pada luas tanah 1294 . Adapun tempat parkir dan halaman untuk upacara. Kantor ini menempati gedung siap pakai, sehingga penataan ruang kantor harus sangat diperhatikan. Seperti yang diungkapkan Informan I (Wawancara tanggal 9 Mei 20016) bahwa:
“Gedung ini dulu ditempati kantor pemerintahan juga, trus kantor tersebut dipindah, nah gedung ini dipakai untuk kantor uptd, jadi penataan kantornya menyesuaikan gedungnya.”
Hal tersebut juga diperkuat oleh Informan III (Wawancara tanggal 11 Mei 2016) yang menyatakan bahwa:
“Ini gedung udah lama, yang menempati pertama bukan uptd, dulu kantor apa ya saya lupa itu.”
commit to user
Begitupun pernyataan dari Informan VI (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Wah kalau gedung ini udah ada sebelum uptd, gak dibangun khusus untuk uptd, jadi ya gini kantornya, kurang pas untuk pelaksanaan kantor jaman sekarang.”
Hasil wawancara dari beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa gedung kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta merupakan gedung lama bekas kantor pemerintahan. Sehingga gedung ini tidak dibangun khusus untuk kebutuhan kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta.
Gedung ini memiliki beberapa ruangan sehingga tiap bidang pekerjaan mempunyai ruangannya sendiri, namun ruang bagi pegawai tidak disekat- sekat untuk masing-masing pegawai. Hal ini menunjukkan bahwa tipe yang digunakan kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta adalah tata ruang kantor semi terbuka. Adanya ruangan khusus bagi pimpinan dimaksudkan agar pelaksanaan pekerjaan pimpinan tidak terganggu. Namun dengan penggunaan ruang khusus ini dan tidak dilengkapi dengan CCTV (Close Circuit Television), pengawasan menjadi kurang maksimal. Seperti yang diungkapkan Informan I (Wawancara tanggal 9 Mei 20016) bahwa:
“Sebetulnya sudah pas ada ruangan sendiri untuk pimpinan, lebih konsentrasi, tapi seharusnya jadi satu disana, agar memudahkan pengawasan. Kalau sekarang pengawasan jadi tidak maksimal, apalagi gak ada CCTV.”
Hal tersebut juga diperkuat oleh Informan II (Wawancara tanggal 10 Mei 2016) yang menyatakan bahwa:
“Kalau untuk pengawasan secara langsung dari pak kepala memang kurang ya mbak, pak kepala ke ruang TU pun cuma untuk absen masuk dan pulang saja.”
commit to user
Begitupun pernyataan dari Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Pengawasan langsungnya apa ya, mungkin hanya pas apel, pak kepala bisa lihat pegawai yang masuk tepat waktu, kalau di ruangan sendiri memang butuh CCTV buat mantau.”
Hasil wawancara dari beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa letak ruang pimpinan yang jauh dari ruang bidang lain dan tidak dilengkapi dengan fasilitas kamera pemantau, membuat pengawasan secara langsung menjadi tidak optimal. Namun untuk pimpinan, letak ruang seperti ini dalam menyelesaikan pekerjaannya sangat membantu menjaga konsentrasi pimpinan, karena kondisi ruang yang tidak bising dan tidak terganggu oleh lalulalang pegawai.
Selain itu, ruang pengawas yang difungsikan untuk para pengawas melayani konsultasi atau keperluan lain dari para tamunya, dibutuhkan ruang yang memiliki sekat-sekat karena untuk menjaga privasi para tamu. Hal ini sesuai dengan pernyataan Informan IV (Wawancara tanggal 13 Mei 2016):
“Seharusnya dikasih sekat-sekat mbak tiap pegawainya, biar lebih privasi sama gak terlalu berisik, kayak sekarang lagi wawancara kan bicaranya pelan-pelan, kalau pas ramai juga gak enak.”
Hal tersebut juga diperkuat oleh Informan VI (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yang menyatakan bahwa:
“Ya memang sebaiknya diberi sekat, soalnya biasanya tamu yang kesini itu konsultasi permasalahan disekolahnya, tapi untuk kerjaan pribadi gak begitu masalah.”
Begitupun pernyataan dari informan VII (Wawancara tanggal 17 Mei 2016) yaitu:
“Kalau dikasih sekat mungkin para pengawas bisa konsen kerja dan lebih tenang, kalau terbuka seperti ini kadang jadi terpancing untuk ngobrol.”
commit to user
Hasil wawancara dari beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa tata ruang kantor di Ruang Pengawas kurang mendukung pelaksanaan pekerjaan bagi para pegawai. Dibutuhkan tambahan sekat di tiap meja pegawai untuk menjaga privasi. Selain untuk menjaga privasi, pemberian sekat juga diperlukan agar para pegawai lebih tenang dan konsentarsi dalam menyelesaikan tugas dan tanggungjawab pekerjaannya.
Penataan kantor yang baik bukan hanya penataan yang rapi, bersih dan nyaman saja, melainkan juga harus memperhatikan luas ruangan yang dibutuhkan berdasarkan jumlah pegawai dan jenis pekerjaannya. Beberapa informan yang peneliti wawancarai mengeluhkan masalah alokasi ruang yang tidak sesuai kebutuhan. Seperti yang diungkapkan Informan I (Wawancara tanggal 9 Mei 2016):
“Karena hanya menggunakan ruangan yang ada jadi belum sesuai dengan kebutuhan seperti ruang Tata Usaha itu kan belum sesuai seharusnya untuk Kepala TU ada ruang sendiri dan ruang komputer juga orangnya kan banyak, seperti di ruang pengawas juga satu ruang 17 orang kan sebetulnya tidak memenuhi syarat.”
Hal tersebut juga diperkuat oleh informan V (wawancara tanggal 16 Mei 2016) yang menyatakan bahwa:
”Bagi saya ruangan ini untuk bagian keuangan sangat kurang memadai, karena adanya tempat sesempit ini dengan 5 (lima) person dan mobilitas pekerjaan yang sangat luar biasa, jadi bagi saya kurang memadai.”
Begitupun pernyataan dari informan VI (wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Belum sesuai ini mbak, bisa dilihat sendiri pegawai segini jadi satu ruangan yang tidak luas.”
Hasil wawancara dari beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa luas ruangan di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta belum sesuai dengan kebutuhan pegawai. Luas ruangan yang
commit to user
tersedia tidak sebanding dengan jumlah pegawai, peralatan, dan perabotan yang diperlukan. Sehingga penataan ruang kantor belum dapat dilaksanakan secara maksimal dan pegawai belum dapat menyelesaikan pekerjaannya secara efisien.
Ruang Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta menggunakan tipe ruang dengan tata ruang semi terbuka. Ruangan terpisah untuk setiap bagiannya, tetapi tidak ada pemisah untuk pegawai-pegawai yang ada di dalam ruangan tersebut. Ruang-ruang tersebut sangat terbatas untuk menampung para pegawainya. Tidak hanya itu, perabotan dan peralatan yang tersedia pun tidak dapat tertampung dengan baik. Hal ini membuat pegawai tidak nyaman dalam menyelesaikan pekerjaannya.
a. Penempatan Peralatan dan Perlengkapan Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
Dalam melaksanakan pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya, seorang pegawai membutuhkan peralatan dan perlengkapan kantor yang memadai dan menunjang pekerjaan tersebut. Peralatan dan perlengkapan tersebut memerlukan penempatan yang tepat agar aktivitas pekerjaan yang dilakukan pegawai dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Peralatan dan perlengkapan yang tersedia di tiap bagian dapat dikatakan cukup dan sesuai dengan pekerjaan di masing-masing bagian.
Perlengkapan yang dibutuhkan berupa alat tulis kantor (ATK) seperti pulpen, pensil, spidol, kertas, tinta printer, tip-ex, dan lain sebagainya.
Mesin-mesin kantor sudah memadai seperti komputer, printer, dan wireless. Namun perabotan seperti lemari dan filling cabinet, masih dirasa kurang. Seperti di ruang pengawas yang perlu dilengkapi dengan filling cabinet untuk setiap pegawainya agar dokumen-dokumen tidak menumpuk di meja dan di lantai serta dapat tertata dengan rapi. Penambahan peralatan terhambat karena luas ruangan yang terbatas tidak cukup menampung jika ada tambahan peralatan lagi. Seperti yang di ungkapkan oleh Informan I (Wawancara tanggal 9 Mei 2016) bahwa:
commit to user
“Kalau untuk komputer-komputer sudah cukup mbak, tapi untuk lemari arsip perlu ditambah lagi, yg lemari satu masih terbungkus itu belum dipake soalnya bingung mau taruh dimana, udah penuh gini, nanti kalau udah direhab mungkin baru kepake”
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Informan IV (Wawancara tanggal 13 Mei 2016) sebagai berikut:
“Perlu adanya tambahan filling cabinet, biar dokumen-dokumen gak menumpuk diluar seperti ini, tapi ya gimana tempatnya gak cukup.”
Begitupun pernyataan dari Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Dokumen-dokumen yang tertumpuk itu masih menunggu perintah, sementara ditaruh disitu, pengennya nambah lemari, tapi ruangnya gak cukup, jadi ya ditumpuk-tumpuk.”
Hasil wawancara dari beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa penempatan dokumen atau berkas masih belum tertata dengan baik. Hal ini diakibatkan oleh faktor fasilitas yaitu kurang memadainya lemari arsip. Namun faktor tersebut terhambat oleh ketidakcukupan ruangan menampung peralatan yang dibutuhkan.
Sehingga dokumen dan berkas yang tidak cukup untuk ditata di lemari arsip yang tersedia, hanya diletakkan di meja/lantai/atas lemari. Ruangan pun menjadi kurang rapi dan terganggunya akses pelaksanaan pekerjaan, maka aktivitas pekerjaan tidak dapat berjalan dengan lancar dan efisiensi tidak tercapai.
Selain filling cabinet dan lemari arsip, peralatan lain yang perlu diperhatikan adalah alat absensi sidik jari. Alat absensi berada dipojok ruangan yang berdekatan dengan meja pegawai, sebaiknya diletakkan di dekat pintu masuk atau meja yang menghalangi digeser untuk memberi ruang pegawai yang ingin berjalan menuju alat absensi tersebut. Seperti
commit to user
yang di ungkapkan oleh Informan IV (Wawancara tanggal 13 Mei 2016) bahwa:
“Alat absensinya harusnya dekat pintu, kalau dipojok situ kadang saya lupa absen”
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Informan VII (Wawancara tanggal 17 Mei 2016) sebagai berikut:
“Sebenarnya gakpapa absensinya dipojok, tapi diberi jalan atau ruang agar langsung terlihat jika masuk ruangan, kan walaupun dipojok tapi posisinya segaris sama pintu masuk”
Begitupun pernyataan dari Informan VIII (Wawancara tanggal 17 Mei 2016) yaitu:
“Memang penempatan absensinya itu disitu gak ada masalah yang penting dikasih akses jalan sama biar tersorot gitu, biar gak lupa absen”
Hasil wawancara dari beberapa informan di atas, dapat diketahui bahwa penempatan alat absensi sidik jari belum efektif dan efisien. Letak alat absensi yang berada dipojok ruangan dan berdekatan dengan meja pegawai menjadi kurang efisien untuk dijangkau.
Penataan peralatan dan perlengkapan kantor mempunyai pengaruh terhadap pelaksanaan pekerjaan pegawai. Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan, letak peralatan dan perlengkapan sudah berdekatan dengan tempat duduk pegawai. Walaupun berdekatan namun jaraknya terlalu dekat yang dikarenakan luas ruangan yang terbatas. Hal ini menghambat kerja para pegawai karena tidak leluasa dalam bekerja.
Seperti yang di ungkapkan oleh Informan II (Wawancara tanggal 10 Mei 2016) bahwa :
“Susunan tata ruang kantor ini sebenarnya sudah pas tapi karena luas ruangan yang terbatas jadi berjubel.”
commit to user
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Informan III (Wawancara tanggal 11 Mei) sebagai berikut:
“Barang-barang udah di dekatku semua dek, tapi terlalu dekat, jadi kalau ngambil gitu harus nyamping-nyamping badannya.”
Begitupun pernyataan dari Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Menurut saya penataan saat ini udah yang paling pas dengan luas ruangan segini, mungkin nanti kalau ruangannya diperbesar bisa di atur ulang lagi, biar jaraknya agak longgar gak merapat seperti ini.”
Hasil wawancara dari beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa jarak antara peralatan dan perlengkapan dengan penggunanya mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan. Jika jaraknya tidak sesuai akan menghambat pekerjaan dan efisiensi kerja tidak tercapai.
Sarana komunikasi yang disediakan adalah pesawat telepon yang terdapat di Ruang Pimpinan, Ruang Komputer, dan Ruang Sub Bagian Tata Usaha. Untuk Ruang Pengawas dan Ruang Bendahara Gaji tidak tersedia pesawat telepon. Sehingga jika ada telepon masuk melalui telepon Sub Bagian Tata Usaha yang ditujukan kepada pegawai di Ruang Pengawas maupun Ruang Bendahara Gaji, harus memanggil ke ruang tersebut untuk memberitahu ada yang menghubungi. Pesawat telepon juga belum disambungkan secara paralel ke ruang lainnya. Jika ada yang menghubungi Sub Bagian Tata Usaha dan ingin berbicara dengan pimpinan atau pegawai di Ruang Komputer, Sub Bagian Tata Usaha akan memberikan nomer telepon di Ruang Pimpinan atau Ruang Komputer.
Keadaan ini mengakibatkan kurang efisiennya komunikasi lintas bagian.
Seperti yang di ungkapkan oleh Informan II (Wawancara tanggal 10 Mei 2016) bahwa :
“Telepon di TU ini buat tiga ruang, ruangnya Pak Kasman itu sama Ruang Pengawas”
commit to user
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) sebagai berikut:
“Karena di ruang ini gak ada telepon, saya harus keluar ruangan mbak kalau ada yang menghubungi lewat kantor”
Begitupun pernyataan dari Informan VIII (Wawancara tanggal 17 Mei 2016) yaitu:
“Iya itu teleponnya masih jadi satu, harusnya udah ada telepon di tiap ruang, jadinya gak mondar-mandir”
Dari beberapa wawancara di atas dapat diketahui bahwa tersedianya peralatan dan perlengkapan kantor yang memadai dan penempatannya yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, membuat pekerjaan menjadi lebih cepat diselesaikan, sehingga dapat menghemat waktu serta tenaga. Hal ini akan membantu meningkatkan efisiensi kerja pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
b. Tata Ruang yang Aman dan Nyaman
Dalam melaksanakan pekerjaannya, selain harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan yang memadai serta penempatannya yang sesuai, pegawai juga membutuhkan suasana ruangan yang aman dan nyaman. Aman artinya terbebas dari berbagai gangguan dalam melaksanakan tugasnya, sedangkan nyaman artinya kondisi yang menyenangkan hati dan pikiran serta membuat pegawai betah berada di ruangan tersebut. Suasana kantor yang tenang, tidak gaduh, terang, sejuk dan tidak sempit akan membuat pegawai merasa nyaman, sehingga dapat menimbulkan semangat kerja para pegawai.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi keamanan dan kenyamanan dalam penataan ruang kantor, yaitu:
a) Cahaya atau Penerangan
Penerangan yang ada harus sesuai dengan kebutuhan, tidak terlalu terang tetapi juga tidak terlalu gelap. Dengan sistem penerangan
commit to user
yang baik, diharapkan para pegawai dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Sehingga kenyamanan dalam bekerja dapat tercapai dan akan memperkecil tingkat kesalahan pegawai, sehingga akan dapat meningkatkan produktivitas pegawai.
Penerangan atau pencahayaan di seluruh ruang kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari menggunakan cahaya kombinasi, yaitu perpaduan cahaya buatan dengan cahaya matahari. Cahaya buatan berasal dari lampu dan cahaya matahari berasal dari jendela kaca. Namun, pada ruang-ruang tersebut terdapat perbedaan dalam besarnya kombinasi cahaya ini. Misalnya, pencahayaan di ruang pimpinan lebih dominan berasal dari lampu, walaupun memiliki jendela kaca di sisi ruangan tetapi jendela tersebut selalu tertutup gordyn berwarna biru tua dan jarang dibuka. Seperti yang di ungkapkan oleh Informan I (Wawancara tanggal 9 Mei 2016):
“Untuk pencahayaan sudah cukup mbak, gordynnya itu memang sengaja ditutup karena silau, pencahayaan dari lampu saja sudah cukup.”
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Informan II (Wawancara tanggal 10 Mei 2016) sebagai berikut:
“Kalau saya ke ruang Pak Kepala, saya rasa pencahayaannya sudah bagus, terang, jadi kalau ngobrol sama bapak juga enak”
Pencahayaan di ruang-ruang lain seperti ruang TU, ruang pengawas, ruang komputer, dan ruang bendahara gaji berasal dari kombinasi cahaya buatan dan cahaya matahari. Selain menyalakan lampu, ruangan-ruangan tersebut juga membuka gordyn sehingga cahaya matahari dapat masuk. Namun jika ada pantulan cahaya dari kendaraan yang parkir. sesekali gordyn juga di tutup. Seperti yang diungkapkan oleh Informan II (Wawancara pada tanggal 10 Mei 2016) bahwa:
commit to user
“Gordynnya saat pagi hari dibuka tapi saat siang hari cahaya matahari terkadang menyilaukan jika banyak mobil yang parkir kemudian cahaya matahari tersebut memantulkan dari kaca mobil ke ruangan, jadi ya kalau silau aja di tutup.”
Hal ini diperkuat oleh pernyataan Informan III (Wawancara tanggal 11 Mei 2016) sebagai berikut:
“Pencahayaannya cukup, cahaya lampu dibantu dengan cahaya matahari juga, tapi kalau siang kadang ada pantulan cahaya dari spion sama kaca mobil, jadi gordynnya ditutup dikit.”
Begitupun pernyataan dari Informan VIII (Wawancara tanggal 17 Mei 2016) yaitu:
“Udah pas kok mbak cahayanya, ya kalau silau tinggal ditutup aja gordynnya”
Dari beberapa wawancara yang peneliti lakukan, setiap ruangan memiliki pertimbangan sendiri dalam sistem pencahayaannya. Masing- masing keputusan untuk jenis pencahayaan di suatu ruangan memiliki dasar alasan. Yang penting adalah ruangan tersebut harus cukup cahaya, karena para pegawai akan lebih efisien dalam bekerja jika ditunjang oleh pencahayaan yang baik.
Di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta, cahaya sangat diperlukan untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan.
Cahaya dalam ruangan diusahakan dapat memancar dengan cukup dan tepat ke segala penjuru ruangan, agar mata tidak cepat lelah dan penyelesaian pekerjaan akan lebih cepat serta meminimalisir kesalahan, sehingga efisiensi kerja pegawai dapat tercapai.
b) Warna
Bagi suatu kantor, warna tidak hanya berfungsi untuk memperindah ruangan saja. Namun, warna juga memiliki pengaruh
commit to user
yang penting pada kejiwaan pegawai. dengan pemilihan warna yang tepat bagi ruangan, maka akan dapat menumbuhkan kegembiraan dan kenyamanan dalam bekerja. Dengan kegembiraan dan kenyamanan yang dirasakan pegawai, akan meningkatkan semangat pegawai dalam bekerja, sehingga efisiensi dapat tercapai. Warna yang dipilih untuk ruangan-ruangan di gedung ini warna yang tidak mencolok. Dinding di ruang pimpinan dan ruang pengawas menggunakan warna putih, sedangkan ruang TU dan dan ruang komputer menggunakan warna biru muda. Untuk ruang bendahara gaji menggunakan warna kombinasi yaitu biru muda dan hijau. Warna dinding tersebut tidak pernah diganti sejak gedung ini ditempati, sehingga kondisi warna sudah sedikit pudar dan ada beberapa retakan.
Sebagaimana yang diungkapkan Informan II (Wawancara tanggal 10 Mei 2016) bahwa:
“Pemilihan warna dindingnya sudah pas, tapi sudah ada retakan-retakan yang sedikit mengganggu, ya seharusnya waktunya dicat ulang.”
Hal ini diperkuat Informan IV (Wawancara tanggal 13 Mei 2016) yaitu:
“Warnanya sudah pas, tapi sebaiknya di cat ulang biar fresh.”
Begitupun pernyataan dari Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) sebagai berikut:
”Untuk warna tembok ini ya udah cukup, tidak ngejreng, tapi sudah bertahun-tahun gedung ini tidak mengadakan pemeliharaan.”
Dari beberapa wawancara yang peneliti lakukan, dapat disimpulkan bahwa pemilihan warna dinding di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta sudah baik. Namun kondisi warna dinding yang sudah kusam karena tidak dicat ulang,
commit to user
ternyata mempengaruhi kenyamanan pegawai dalam bekerja. Warna dinding pada ruangan menjadi penting karena setiap warna memiliki pengaruh yang berbeda-beda. Kondisi warna dinding pun juga berpengaruh terhadap suasana ruangan yang nyaman. Dengan suasana yang nyaman akan membuat pegawai betah berada di ruangan, sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja pegawai.
c) Udara
Kualitas udara yang dihirup pegawai setiap hari, dapat mempengaruhi kesehatan dan ketenangan pegawai dalam bekerja.
Udara yang kurang bersih karna kurangnya sirkulasi akan mengganggu kesehatan para pegawai yang akan berakibat pada menurunnya kinerja pegawai. Oleh karena itu, setiap ruangan perlu adanya ventilasi udara yang berguna untuk memperlancar sirkulasi udara. Keberadaan Air Conditioner (AC) sangat membantu dalam sirkulasi udara ini, karena pada AC sudah dilengkapi dengan alat penyaring udara. Selain itu, dengan adanya AC membuat ruangan menjadi lebih sejuk dan nyaman.
Seperti yang di ungkapkan Informan I (Wawancara tanggal 10 Mei 2016) sebagai berikut:
“Udaranya bagus, adem karena pake AC”
Hal ini diperkuat Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) sebagai berikut:
“Meskipun ruangnya kecil kita tertolong dengan adanya AC, jadi lebih nyaman, tapi tidak adanya ventilasi sedikit membuat ruangan ini menjadi lembab, jd kadang pintunya dibuka dikit.”
Begitupun pernyataan dari Informan VI (wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Udara di ruang ini sudah cukup, penempatan AC nya juga sudah pas, jadi udaranya rata ke semua sisi ruangan.”
commit to user
Ruangan-ruangan di gedung ini belum semuanya dilengkapi dengan AC. Ruang bagian Tata Usaha dan ruang Bendahara Gaji masih menggunakan kipas angin. Jika temperatur udara di luar meningkat akan membuat pegawai terkadang merasa kegerahan.
Seperti yang di ungkapkan Informan II (Wawancara tanggal 10 Mei 2016) bahwa:
“Udaranya memang masih kurang ya karena seharusnya ruangan ini sudah ber-AC tapi kabarnya masih nunggu sampai tahun depan, menunggu anggaran tahun 2017.”
Hal ini diperkuat Informan III (Wawancara tanggal 11 Mei 2016) sebagai berikut:
“Kadang sumuk sih dek tapi ya gak begitu.”
Begitupun pernyataan dari Informan VIII (Wawancara tanggal 17 Mei 2016) yaitu:
“Kalau siang gerah mbak, kadang saya ke ruang komputer ngadem”
Dari beberapa wawancara di atas dapat diketahui bahwa faktor udara di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari belum seluruhnya mendukung efisiensi kerja. Masih ada beberapa ruangan yang sirkulasi udaranya kurang baik dikarenakan belum dilengkapi dengan AC. Hal ini mengganggu kenyamanan pegawai dalam bekerja.
Jika suhu udara di ruangan menunjang aktivitas pekerjaan maka dapat menciptakan semangat para pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Dengan semangat kerja yang tinggi, produktivitas kerja akan meningkat dan efisiensi kerja pun dapat tercapai.
commit to user d) Suara
Suara berpengaruh terhadap kelancaran pegawai dalam melaksanakan pekerjaan. Suara gaduh dan bising akan mengganggu konsentrasi dan ketenangan pegawai dalam bekerja, apalagi jika melaksanakan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
Seperti yang di ungkapkan Informan III (Wawancara tanggal 11 Mei 2016) sebagai berikut:
“Karena kantornya terbuka dan langsung menghadap parkiran jadi kadang ya terganggu, misal ada banyak tamu atau ada acara rapat di aula, banyak suara motor dan mobil, apalagi kalau pas dibarengi dengan pekerjaan yang banyak.”
Hal ini diperkuat Informan IV (Wawancara tanggal 13 Mei 2016) sebagai berikut:
“Suara yang mengganggu biasanya suara klakson karena ini posisi kantornya kan dekat dengan jalan raya, tetapi terkadang juga terganggu suara dari dalam ruangan, jika ada pegawai yang berbincang-bincang terlalu keras.”
Begitupun pernyataan dari Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Kalau suara sih biasanya keganggu kalau ada acara di aula, ruangan ini kan dekat aula jadi pas bubaran rapat biasanya.”
Hasil wawancara dari informan di atas dapat disimpulkan bahwa pegawai kurang nyaman dalam bekerja karena terganggu dengan suara bising yang berasal dari dalam dan luar ruangan. Namun ada pula suara yang justru membuat pegawai lebih bersemangat dalam bekerja, seperti suara musik. Ruangan yang selalu terdengar musik didalamnya adalah ruang komputer, musik tersebut dinyalakan dari komputer yang ada di ruangan. Sedangkan di ruang bagian Tata Usaha dan ruang pengawas terdapat televisi yang bisa di nikmati suara
commit to user
sekaligus gambarnya. Seperti yang diungkapkan Informan III (Wawancara tanggal 11 Mei 2016) bahwa:
“Kadang nyetel musik kadang nyetel TV buat hiburan biar gak spaneng.”
Hal ini diperkuat Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) sebagai berikut:
“Agar tidak bosan dan jenuh, di sini selalu menyetel musik dari laptop mbak, biar gak sepi juga, jadinya tambah semangat bekerja dan betah di ruangan.”
Dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa keberadaan suara sangat mempengaruhi kondisi jiwa para pegawai. Adanya musik justru membuat pegawai betah dan meningkatkan semangat dalam bekerja, sedangkan suara yang gaduh dan bising membuat konsentrasi pegawai dalam bekerja menjadi terpecah.
Penataan ruang kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta dalam mencapai efisiensi kerja pegawai dapat disimpulkan bahwa kantor ini hanya menempati gedung yang sudah tersedia sehingga luas ruangan tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Keterbatasan ruangan membuat penataan ruang kantor menjadi tidak maksimal. Jarak peralatan dan perabotan terlalu berdekatan sehingga mengganggu aktivitas pekerjaan.
Beberapa dokumen hanya tertumpuk di meja, lantai, dan di atas lemari karena ruangan tidak cukup lagi menampung tambahan lemari arsip untuk menyimpan dokumen-dokumen tersebut. Suasana di kantor UPTD DIKPORA Kacamatan Banjarsari Surakarta belum mendukung aktivitas kantor. Karena menggunakan tipe tata ruang kantor semi terbuka, membuat suasana kantor menjadi bising yang berdampak pada menurunnya konsentrasi dan ketenangan pegawai dalam bekerja. Selain itu faktor udara juga menghambat aktivitas kantor, karena masih ada beberapa ruangan yang tidak dilengkapi dengan AC (Air Conditioner). Udara yang kurang sejuk akan
commit to user
menggangu kenyaman pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab pekerjaannya.
3. Hambatan-Hambatan dalam Penataan Ruang Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta
Kondisi kerja merupakan keadaan dimana pegawai bekerja yang mempengaruhi setiap kegiatan pekerjaan dalam menyelesaikan tugas. Begitu pula dengan tata ruang kantor merupakan faktor yang mempengaruhi pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Penataan ruang kantor yang bagaimanapun tidak terlepas dari berbagai hambatan-hambatan yang ada.
Adapun hambatan-hambatan dalam penataan ruang kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta dalam mencapai efisiensi kerja pegawai, sebagai berikut:
a) Gedung Kantor
Pengaturan tata ruang kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta sangat terbatas dikarenakan kantor ini menempati gedung lama bekas kantor pemerintahan yaitu kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Banjarsari . Dengan menempati gedung siap pakai maka letak ruangan tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Letak ruangan untuk setiap sub bagian kurang mendukung pelaksanaan penyelesaian pekerjaan. Seperti letak Ruang Pimpinan yang jauh dari ruang pegawai dan letak Ruang Bendahara Gaji yang berdekatan dengan musholla dan kamar mandi. Keadaan ini membuat pimpinan dan pegawai menjadi kurang nyaman dalam menyelesaikan pekerjaannya dan pekerjaan pun tidak terlaksana dengan efisien. Seperti yang diungkapkan Informan II (Wawancara tanggal 10 Mei 2016):
“Hambatannya kalau menurut saya yang pertama itu gedung kantor ya mbak, karena dengan menempati gedung lama, kami kesulitan menempatkan sub bagian di ruangan yang tersedia, hasilnya jadi kurang pas karena letak ruangan memang gak sesuai kebutuhan.”
commit to user
Hal ini diperkuat informan IV (Wawancara tanggal 13 Mei 2016) sebagai berikut:
“Gedung ini memang menjadi faktor utama, karena bentuk bangunan yang kurang pas buat kantor UPTD sendiri, jadinya letak ruangan mencar-mencar.”
Begitupun pernyataan dari Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Faktor utamanya itu gedung kok mbak, kalau gedung ini dibangun untuk kantor UPTD mungkin ya pas letak ruangan yang sesuai sama kebutuhan sub bagiannya.”
Dari informasi hasil wawancara dan observasi dapat diketahui bahwa hambatan penataan ruang kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta yang utama adalah gedung kantor. Letak bangunan gedung menyulitkan dalam mengatur posisi ruang sub bagian. Hal ini mengakibatkan letak ruangan kurang mendukung pelaksanaan penyelesaian pekerjaan dan kenyamanan pegawai dalam bekerja.
b) Luas ruangan
Dengan menempati gedung siap pakai maka kapasitas ruangan tidak sebanding dengan jumlah pegawai, peralatan serta perlengkapan yang ada. Seluruh ruangan di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta ini berjumlah 8 (delapan) ruang pada luas tanah 1294 . Adapun tempat parkir dan halaman untuk upacara. Ruang Pimpinan memiliki luas 6m x 8m yang terbagi menjadi 3 (tiga) ruang yaitu Ruang Meja Pimpinan yang berukuran 2,5m x 6m, Ruang Tamu yang berukuran 5,5m x 3m, dan Ruang Lemari Gugus yang berukuran 6m x 3m.
Kemudian terdapat Ruang Komputer dengan luas 2,5m x 6m yang diisi oleh 5 (lima) orang pegawai. Ruang Sub Bagian Tata Usaha dengan luas 8m x 8m diisi oleh 10 (sepuluh) orang pegawai. Lalu Ruang Pengawas
commit to user
yang memiliki ukuran 10m x 7m diisi oleh 17 (tujuhbelas) orang pegawai.
Selanjutnya Ruang Bendahara Gaji yang berukuran 4,5m x 3m diisi oleh 2 (dua) orang pegawai. Ketidaksesuai tersebut membuat penataan ruang kantor belum sesuai dengan asas tata ruang kantor. Penataan peralatan dan perabotan menjadi terlalu dekat sehingga gerakan tubuh menjadi tidak leluasa ketika bekerja menghambat. Penambahan lemari arsip menjadi tidak maksimal karena keterbatasan tempat untuk meletakkan peralatan.
Seperti yang diungkapkan Informan I (Wawancara tanggal 9 Mei 2016):
“Hambatannya hanya ruang adanya ini, karyawannya sebanyak ini jadi ya apa adanya, penataan jadi terbatas karena luas ruangan yang sempit, kebutuhan seperti lemari pun terbatas.”
Hal ini diperkuat informan II (Wawancara tanggal 10 Mei 2016) sebagai berikut:
“Kapasitas luas ruangan dengan jumlah pegawai udah gak seimbang, kalau menurut saya tata ruang kantor kayak gini belum efisien, misal banyak kerjaan memang kondisi seperti ini mengganggu.”
Begitupun pernyataan dari Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Selain gedung itu luas ruangannya mbak, sempit, umpek- umpekan, padahal pegawainya segini, jadinya sumpek”
Dari informasi hasil wawancara dan observasi dapat diketahui bahwa luas ruangan berpengaruh besar terhadap penataan ruang kantor.
Jika luas ruangan terlalu sempit dan tidak seimbang dengan kebutuhan, maka akan menghambat pegawai dalam melaksanakan aktivitas kerjanya.
Ketika aktivitas terhambat maka efisiensi dan produktivitas pegawai pun akan terhambat pula, dan semangat kerja menjadi menurun.
commit to user c) Kurangnya Privasi Pegawai
Pengaturan tata ruang kantor di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta menggunakan tipe pengaturan tata ruang kantor semi terbuka. Pengaturan tata ruang kantor seperti ini adalah pengaturan suatu ruang kantor yang tiap bagiannya memiliki ruangan sendiri namun ruang bagi pegawai tidak disekat-sekat untuk masing- masing pegawai. Karena model penataan yang demikian maka privasi pegawai menjadi berkurang. Seperti yang diungkapkan Informan I (Wawancara tanggal 9 Mei 2016) bahwa:
“Kalau saya lihat di ruang pegawai memang sebaiknya disekat- sekat sesuai bidangnya.”
Hal ini diperkuat Informan IV (Wawancara tanggal 13 Mei 2016) sebagai berikut:
“Pemberian sekat diperlukan untuk menjaga privasi para tamu yang sedang konsultasi permasalahan tentang sekolahnya, kan gak enak kalau kedengeran sama pengawas lain.”
Begitupun pernyataan dari Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Ketika kita lagi fokus ke pekerjaan ada orang lalu lalang mengirimkan data memang kita sangat gak nyaman merasa terganggu, kecuali dengan adanya ruangan yang agak luas dan diberi sekat paling enggak, bisa membantu kami untuk mengerjakan lebih fokus lagi dan pekerjaan pun bisa lebih privasi gak langsung terlihat.”
Dari informasi dapat diketahui bahwa pengaturan ruang kantor yang semi terbuka dengan tidak dilengkapi sekat-sekat pemisah untuk pegawai mengakibatkan berkurangnya privasi pegawai sehingga mengganggu pegawai dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.
Hambatan tersebut berdampak menurunnya konsentrasi pegawai dan tidak tercapainya efisiensi kerja.
commit to user
4. Usaha-Usaha yang Dilakukan Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta dalam Mengatasi Hambatan-Hambatan
Dari berbagai macam masalah yang muncul sebagian besar disebabkan oleh tempat dan pengaturan tata ruang kantor. Adapun cara pemecahannya adalah sebagai berikut:
a. Gedung Kantor dan Luas Ruangan
Untuk mengurangi hambatan yang muncul dengan menurunnya efisiensi kerja pegawai karena gedung kantor dan luas ruangan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, dilakukan cara jangka pendek dengan mengurangi perabotan yang tidak terpakai, arsip yang sudah lama dipindah ke gudang, dan melakukan penataan ulang ruang kantor. Seperti yang diungkapkan oleh Informan I (Wawancara tanggal 9 Mei 2016) bahwa:
“Untuk sekarang ini di akal-akalin aja mbak penataannya tapi memang belum sempat.”
Hal ini diperkuat Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) sebagai berikut:
“Upaya keseluruhan ya kita kerja buat senyaman mungkin dengan kondisi ruang yang sempit kita nyaman-nyamanin, seperti duduk di bawah sambil menata berkas dan beberapa barang dan dokumen yang tidak diperlukan nanti akan dipindah ke gudang”
Begitupun pernyataan dari Informan VIII (Wawancara tanggal 17 Mei 2016) yaitu:
“Kalau sekarang yang dibuat nyaman aja, sama meja yang gak kepake mau dikeluarin biar gak terlalu sumpek”
Sedangkan jangka panjangnya dengan cara memberikan usulan ke kantor pusat agar dilakukan renovasi gedung yang sesuai dengan kebutuhan pegawai. Seperti yang diungkapkan oleh Informan I (Wawancara tanggal 9 Mei 2016) bahwa:
“Upayanya mengusulkan kekota, dan sebenarnya tahun 2016 sudah akan dibangun tapi ada aturan dari pemerintah tidak boleh bangun
commit to user
baru hanya boleh rehab, mungkin tahun 2017 akan kita laksanakan.”
Hal ini diperkuat Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) sebagai berikut:
“Seharusnya 2016 ini rehab gedung seperti kelurahan-kelurahan sekarang yang sudah bagus-bagus, tapi berhubung ada aturan 2016 tidak boleh mengadakan pembangunan dulu jadinya mundur, namun untuk ide perencanaan dan konsultannya sudah.”
Begitupun pernyataan dari Informan VII (Wawancara tanggal 17 Mei 2016) yaitu:
“Sudah ada rencana lama kalau gedung ini mau dibuat 2 lantai, harusnya renovasinya itu tahun ini, tapi ternyata molor dan baru direalisasikannya tahun depan.”
Hasil wawancara dari beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa upaya jangka pendek yang dilakukan para pegawai dengan mengatur ulang tata ruang dan mengeluarkan barang yang tidak terpakai dirasa masih kurang mendukung efisiensi kerja, maka dari itu dilakukan upaya dengan mengusulkan renovasi gedung ke kantor pusat namun usulan tersebut belum dapat di realisasikan tahun ini, sehingga pekerjaan belum dapat dilaksanakan secara efisien. Walaupun pegawai sudah berusaha melaksanakan pekerjaan senyaman mungkin, tetapi berdasarkan hasil observasi pelaksanaan pekerjaan belum efisien.
b. Kurangnya Privasi Pegawai
Untuk memecahkan hambatan ketika pegawai merasakan adanya kebutuhan privasi dengan bantuan sekat-sekat pemisah, kondisi ini masih berkaitan dengan usulan pembangunan gedung. Namun untuk upaya dari pegawai sendiri agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan lebih fokus dan nyaman adalah dengan cara seperti berbicara pelan-pelan mengenai
commit to user
permasalahan yang dianggap privasi dan tidak meletakkan dokumen- dokumen rahasia secara terbuka di atas meja. Seperti yang diungkapkan oleh Informan III (Wawancara tanggal 11 Mei 2016) bahwa:
“Upayanya paling kalau lagi diskusi masalah penting pelan-pelan aja, trus data kerjaan kalau udah selesai langsung disimpan.”
Hal ini diperkuat Informan IV (Wawancara tanggal 13 Mei 2016) sebagai berikut:
“Kalau terbuka seperti ini ya itu bicaranya pelan-pelan, volumenya dikecilin biar gak kedengaran yang lain, memang harusnya ada sekat, biar ngobrolnya enak.”
Begitupun pernyataan dari Informan V (Wawancara tanggal 16 Mei 2016) yaitu:
“Upaya saat ini sampai nanti direnovasi itu bisanya cuma menaruh kerjaan atau data penting gak di atas meja langsung, tapi ya tetep aja kalau pas ada yang tiba-tiba masuk dan lagi ngerjain data itu kan tetep terlihat sekilas.”
Hasil wawancara dari beberapa informan di atas, dapat disimpulkan bahwa upaya para pegawai dalam mengatasi hambatan kurangnya privasi pegawai dengan mengurangi volume berbicara dan tidak meletakkan dokumen-dokumen rahasia secara terbuka di atas meja, belum efektif dalam menyelesaikan hambatan tersebut. Karena para pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya belum merasa aman dan nyaman. Untuk upaya yang maksimal akan dilakukan renovasi agar ruangan menjadi lebih luas dan tersedia sekat-sekat antar meja pegawai.
Dengan demikian penataan ruang di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta belum mendukung kinerja pegawai dan efisiensi kerja tidak tercapai.
commit to user B. Pembahasan
Berdasarkan deskripsi data penelitian yang telah dijelaskan. Dapat dikemukakan temuan studi yang berhubungan dengan kajian teori. Temuan studi tersebut telah menjawab tiga perumusan masalah dalam penelitian ini. Berikut akan disajikan pembahasan dalam penelitian ini.
1. Penataan Ruang Kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta dalam Mencapai Efisiensi Kerja Pegawai
Dalam pencapaian efisiensi kerja pegawai dibutuhkan semangat kerja dari semua anggota organisasi mulai dari jabatan yang tertinggi hingga yang terendah. Tata ruang di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta yang belum memadai dan lingkungan kerja yang kurang menunjang pelaksanaan pekerjaan membuat pegawai tidak nyaman dan menurunnya gairah pegawai dalam bekerja. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasto (2015:219) tentang tujuan tata rung kantor yaitu “Meningkatkan kepuasan, kenyamanan, dan semangat kerja karyawan dengan menyediakan ruang kerja yang memadai dan kondisi kerja yang baik”.
Dalam sebuah instansi atau kantor, peralatan dan perlengkapan sangatlah diperlukan. Peralatan dan perlengkapan kantor merupakan sarana penunjang bagi pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Penempatan peralatan dan perlengkapan penunjang, baik itu peralatan dan perlengkapan yang bersifat personal maupun peralatan penunjang secara umum, yang sesuai dengan bentuk dan luas kantor akan membuat suasana kantor menjadi nyaman. Hal itu sesuai dengan pendapat Komaruddin (1993:157) yang mengatakan “Tata ruang kantor itu merupakan suatu metode untuk membenahi dan menyusun alat-alat, alat-alat pembantu, dan perlengkapan di dalam ruangan yang bertujuan untuk memberikan sarana bagi pekerja”.
Penempatan peralatan dan perlengkapan kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari sudah teralokasi dengan cukup baik. Barang-barang yang diperlukan pegawai dalam bekerja sudah berada di dekat tempat duduk pegawai. Namun dikarenakan luas ruangan yang terbatas, sehingga pengaturan
commit to user
jarak peralatan dan perabotan pun terkesan berjubel dan sempit. Jarak tersebut pun akan menentukan cepat lambatnya penyelesaian pekerjaan. Hal ini sesuai dengan pendapat The Liang Gie (2000) yang mengemukakan bahwa salah satu asas tata ruang kantor adalah asas jarak terpendek. Salah satu penerapan asas ini adalah dengan meletakkan perabotan dan peralatan yang diperlukan pegawai saat bekerja di dekat tempat duduknya, agar pegawai bisa menjangkau dengan cepat barang-barang yang dibutuhkan untuk bekerja.
Dengan asas jarak terpendek tersebut akan mengurangi pemborosan waktu dan tenaga.
Penataan ruang kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta memperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi tata ruang kantor tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat The Liang Gie (2000) menyatakan bahwa dalam merancang suatu kantor beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu cahaya, warna, udara, dan suara. Empat hal itu mempunyai pengaruh besar terhadap efisiensi pekerjaan kantor.
Penerangan atau pencahayaan di seluruh ruang kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari menggunakan cahaya kombinasi, yaitu perpaduan cahaya buatan dengan cahaya matahari. Cahaya buatan berasal dari lampu yang dipasang diatap ruang dengan sistem penerangan merata sehingga ruangan menjadi terang dan tidak terkesan remang-remang. Sedangkan cahaya matahari berasal dari jendela kaca bening yang lebar. Setiap ruangan memiliki pertimbangan sendiri dalam sistem pencahayaannya. Masing-masing keputusan untuk jenis pencahayaan di suatu ruangan memiliki dasar alasan.
Kadar cahaya di setiap ruangan juga bisa diatur sendiri oleh pegawai sesuai kebutuhan. Cahaya penerangan yang cukup dan memancar dengan tepat akan menambah efisiensi kerja para pegawai, karena mereka dapat bekerja dengan lebih cepat, meminimalisir kesalahan dan mata tak lekas menjadi lelah. Hal ini sesuai dengan pendapat Ida Nuraida (2014) bahwa cahaya merupakan faktor penting untuk meningkatkan efisiensi kerja pegawai karena mempengaruhi kesehatan dan keselamatan pegawai serta kelancaran arus kerja.
commit to user
Warna dinding di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta adalah warna putih dan biru muda. Warna tidak hanya berfungsi sebagai bagian estetika semata tetapi juga mempertimbangkan pengaruh yang dapat ditimbulkan. Warna dapat mempengaruhi keadaan jiwa pegawai yang sedang bekerja dalam ruangan. Warna putih dan biru muda tersebut dimaksudkan untuk memberikan suasana nyaman, sejuk, dan teduh bagi pegawai yang bekerja didalamnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Alex S.
Nitisemito (1992:190) bahwa “Warna mempunyai pengaruh terhadap jiwa orang yang melihatnya dan masing-masing warna itu akan menimbulkan perasaan tertentu”.
Pengaturan udara di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta belum seluruhnya menggunakan AC (air conditioner, ada beberapa ruangan yang masih menggunakan kipas angin. Untuk ruangan yang sudah ber-AC, memberikan suasana ruangan yang sejuk dan tidak panas, sedangkan ruangan yang hanya dilengkapi kipas angin akan terasa panas jika aktivitas kantor banyak dilakukan pada siang hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Soetarman dalam The Liang Gie (2000:220) mengemukakan beberapa hal sebagai usaha yang dapat mengatasi udara yang panas dan lembab, yaitu mengatur suhu udara dalam ruang kerja dengan alat air conditioning, mengusahakan peredaran udara yang cukup dalam ruang kerja, dan mengatur pakaian kerja yang sebaik-baiknya dipakai oleh para pekerja.
Suara di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta masih kurang mendukung aktivitas kantor. Posisi gedung yang dekat jalan raya dan banyak tamu yang sering berkunjung ke kantor membuat kebising yang mengurangi konsentrasi pegawai dalam bekerja. Konsentrasi dan ketenangan yang terganggu akan berdampak pada terhambatnya aktivitas, tegang, dan memberi kesan terburu-buru. Hal ini sesuai dengan pendapat Alex S. Nitisemito (1992:196) bahwa “Dengan adanya kebisingan ini maka konsentrasi dalam bekerja akan pula terganggu. Dengan terganggunya konsentrasi ini maka pekerjaan yang dilakukan akan banyak timbul kesalahan atau kerusakan”.
commit to user
Dalam mewujudkan office layout yang baik di kantor perlu diperhatikan prinsip 5R yaitu: ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin (Hardjo:2010). (1) Ringkas, penempatan barang-barang di atas meja kerja yang digunakan langsung pada saat bekerja, belum semua staf di kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta meletakkan barang sesuai dengan prinsip ringkas karena terlihat masih ada barang/alat tulis kantor lainnya yang tidak berhubungan dengan pekerjaan diletakkan di atas meja sehingga meja terkesan penuh; (2) Rapi, kantor UPTD DIKPORA Kecamatan Banjarsari Surakarta menyediakan fasilitas lemari arsip pada setiap ruangan sehingga dapat digunakan untuk meyimpan dokumen dan berkas yang digunakan ketika bekerja. Namun dikarenakan jumlah lemari arsip yang tidak sebanding dengan berkas yang ada, masih ada beberapa dokumen dan berkas pekerjaan yang diletakan di atas lemari atau dibeberapa sudut ruangan. (3) Resik, kantor menyediakan termpat sampah dan membersihkan tempat kerja serta peralatan kantor dari debu secara teratur; (4) Rawat, perawatan terhadap peralatan kantor seperti mesin tik, printer dan komputer dilakukan secara teratur; (5) Rajin, penataan kembali dokumen dan arsip jarang dilakukan sehingga seringkali sulit untuk mencari berkas yang lupa penempatannya.
Penataan ruang kantor merupakan salah satu hal penting bagi sebuah instansi atau organisasi. Hal ini dikarenakan kantor merupakan tempat pegawai melakukan aktivitas pekerjaan yang diamanatkan kepada mereka.
Kondisi atau lingkungan kerja yang nyaman akan dapat tercapai salah satunya dengan penataan ruang kantor yang baik. Dalam melaksanakan suatu pekerjaan diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga kinerja pegawai akan maksimal. Kinerja pegawai dapat dilihat dari bagaimana pegawai menyelesaikan pekerjaannya. Pegawai dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik jika penataan ruang kantor sesuai dengan asas-asas tata ruang kantor.
Asas jarak terpendek berguna agar penyelesaian pekerjaan lebih cepat.
Salah satu penerapan asas ini adalah dengan meletakkan barang-barang yang diperlukan pegawai dalam bekerja di dekat tempat duduknya, sehingga akan