BAB I PENDAHULUAN. Setiap negara pasti memiliki konfliknya masing-masing yang disebabkan oleh

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Setiap negara pasti memiliki konfliknya masing-masing yang disebabkan oleh berbagai hal, mulai dari ekonomi, agama, ras, budaya, dan sebagainya. Menurut Supratiknya pada 1995, konflik merupakan suatu keadaan yang menunjukkan bahwa tindakan salah satu pihak mengakibatkan hambatan atau gangguan terhadap pihak lainnya. (Triningtyas, 2016, p. 76). Konflik kerap dihindari oleh masyarakat karena dianggap dapat mengakibatkan dampak negatif. Maka, suatu konflik yang terjadi harus diselesaikan agar tidak timbul konflik baru yang lebih parah (Puspita, 2018, p. 2).

Pembahasan mengenai konflik ini juga tak lepas dari media yang memberitakannya. Media berperan penting dalam mengemas berita konflik karena menjadi sarana bagi publik untuk memperoleh gambaran terhadap situasi yang tengah terjadi. Di era saat ini, media tidak lagi memiliki syarat yang terlalu ketat untuk menerbitkan sebuah berita. Hal ini dapat berakibat pada isi berita yang cenderung subjektif atau dikontrol oleh pemilik media. Jika dibiarkan,

(2)

2

pemberitaan di media tersebut bisa semakin memperkeruh suasana dan menimbulkan konflik berkelanjutan di masyarakat. (Santosa, 2017, p. 204).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bend Abidin Santosa pada 2017 silam, diketahui bahwa media memiliki kemampuan untuk mengonstruksikan kenyataan yang terjadi di masyarakat sehingga pemberitaan konflik yang dilakukan harus berimbang. Media juga harus turut mencegah konflik berkelanjutan dan berusaha menciptakan perdamaian di masyarakat, khususnya pada pihak-pihak yang berkonflik. Dengan begitu, media menjadi bagian resolusi untuk meredakan konflik, bukannya memperkeruh suasana (Santosa, 2017, p. 212).

Dalam menyajikan berita, jurnalis media harus memperhatikan bahwa peristiwa-peristiwa yang diangkat itu memiliki nilai berita. Beberapa unsur yang ada dalam nilai berita antara lain aktual (timeless), dampak (impact), tokoh (prominence), dekat (proximity), penting (importance), unik (unusual), hingga konflik (conflict) (Thresia, Bungsudi, & Rasmana, 2020, pp. 8-12). Dengan menjadi salah satu nilai berita, pemberitaan konflik pun banyak disajikan oleh media. Namun, persaingan di industri media yang semakin marak mengakibatkan pemberitaan konflik yang tidak sehat. Beberapa media memilih bersaing dengan memberitakan konflik yang sensasional dan menggunakan pelabelan. Selain itu, judul yang ditampilkan oleh beberapa media juga cenderung bombastis, mengarah pada provokasi, sehingga dapat menggiring opini masyarakat ke arah yang negatif (Sunarni, 2014, p. 176).

(3)

3

Salah satu konflik yang cukup ramai diperbincangkan media adalah kasus pada orang Papua, khususnya yang berhubungan dengan rasisme. Beberapa bukti jejak rasisme yang terjadi pada orang Papua dapat dilihat dari konflik yang terjadi pada 13 Juli 2016 silam. Obby Koyoga, mahasiswa asal Papua yang tengah menempuh studi di Yogyakarta menerima perlakuan kekerasan di depan asrama Kamasan, Jalan Kusumanegara, saat ia ingin mengikuti aksi demonstrasi. Selain itu, tiga tahun selepas kejadian tersebut, yakni pada 16 Agustus 2019, sekelompok TNI menggedor asrama Papua yang ada di Surabaya setelah melihat bendera Merah Putih yang sebelumnya dipasang pemerintah Surabaya, jatuh ke dalam selokan. Mereka dikepung secara bertahap oleh Satpol PP hingga ormas selama 24 jam. Makian bernada rasis juga kerap diteriakkan, hingga lemparan batu yang diarahkan ke asrama Papua. Pada 19 Agustus, terjadi demonstrasi di Jayapura, Manokwari, dan Sorong karena rasa kekecewaan akibat peristiwa yang terjadi di Surabaya tersebut (Prabowo, 2020).

Konflik Papua merupakan suatu hal yang sensitif dalam sejarah Tanah Air. Hal ini dimulai sejak keputusan dari Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 24 Desember 1949 lalu mengenai Papua Barat yang bebas dari Belanda dan resmi menjadi bagian NKRI. Namun, KMB masih menyisakan masalah tak kunjung selesai, yaitu status Papua atau Irian Barat. Indonesia dan Belanda meributkan mengenai siapa yang lebih memiliki hak atas Papua Barat (Firdausi, 2019).

Kemudian, pada 15 Agustus 1962 akhirnya tercapai kesepakatan antara Indonesia dan Belanda yang difasilitasi oleh Amerika Serikat. Dalam perjanjian

(4)

4

yang disebut “Perjanjian New York” ini, Belanda harus menyerahkan Papua

bagian barat ke Indonesia paling lambat 1 Mei 1963. Sejak saat itu, mulai muncul persoalan dan pertentangan karena orang asli Papua yang tidak dilibatan dalam perundingan yang dilakukan. Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pun diadakan pada 14 Juli sampai dengan 2 Agustus 1969 untuk menentukan apakah masyarakat Papua tetap ingin menjadi bagian Indonesia atau tidak. Akhirnya, diputuskan oleh Dewan Musyawarah Pepera (DMP) yang mewakili 815.904 masyarakat Papua bahwa provinsi mereka memilih menjadi bagian dari Indonesia (Widadio & Latief, 2019).

Namun, beberapa masyarakat Papua merasa bahwa hasil keputusan Perpera tidak benar-benar mewakilkan keinginan mereka. Hal ini pun memicu perlawanan oleh beberapa masyarakat Papua yang membentuk gerakan politik militer dengan nama Organisasi Papua Merdeka (OPM). Sejak 1965 hingga kini, konflik Papua masih menjadi masalah yang belum tuntas (Widadio & Latief, 2019). Berdasarkan riset yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam buku Papua Road Map, empat akar masalah dalam konflik Papua adalah (1) kegagalan pembangunan, (2) marjinalisasi dan diskriminasi orang asli Papua, (3) kekerasan negara dan tuduhan pelanggaran HAM, serta (4) sejarah dan status politik wilayah Papua (Rusdiarti & Pamungkas, 2017, p. 17). Hingga kini, keempat akar masalah tersebut masih relevan dengan situasi yang terjadi di Indonesia. Pemerintah dianggap belum tuntas dalam memproses konflik Papua. Hal ini diketahui dari temuan-temuan Komnas HAM, Amnesty International

(5)

5

Indonesia, dan lembaga swadaya masyarakat lain mengenai konflik yang terjadi pada masyarakat Papua (Nathaniel, 2020).

Melihat banyaknya pemberitaan mengenai peristiwa Papua, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengatakan bahwa beberapa media kerap menggunakan istilah yang memberi stigma negatif tanpa dukungan data yang memadai, tidak berimbangnya informasi, dan menganggap bahwa ada media massa yang kurang sensitif dalam menyikapi keadaan ini (Manan, 2019). AJI pun menyikapi hal ini dengan menyatakan beberapa sikap, antara lain mengimbau para jurnalis dan media untuk tidak melupakan penerapan jurnalisme damai dalam memberitakan berita konflik. Jurnalisme damai mengutamakan jurnalis untuk memilih dan lebih menekankan pada fakta yang mampu mendorong turunnya tekanan pada konflik sehingga dapat segera menemukan penyelesaian masalah. Selain itu, jurnalis juga diminta selalu mematuhi kode etik jurnalistik dalam peliputan dan pembuatan berita, tak lupa juga melakukan verifikasi terhadap berita, menghindari pemuatan berita yang berasal dari sumber yang asal, dan menuliskan berita secara akurat dengan berlandaskan pada fakta yang terjadi (Manan, 2019).

Menurut Galtung, pencetus utama konsep jurnalisme damai, yang dikutip dari jurnal milik Raihan Nusyur, jurnalisme damai merupakan konsep di mana wartawan mengupayakan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai manfaat kekerasan yang terjadi dalam sebuah konflik, dengan memberlakukan prinsip perdamaian, kebenaran, masyarakat, dan solusi (Nusyur, 2017, p. 30).

(6)

6

Selain itu, jurnalisme damai Galtung mengeksplorasi alasan di balik terjadinya kekerasan, memberikan suara bagi semua pihak, empati dan juga pengertian. Jurnalisme perang atau war journalism didorong oleh propaganda dan manipulasi sehingga bias dan terdistorsi. Sementara, jurnalisme berfokus pada penderitaan secara keseluruhan dan memanusiakan semua sisi (Seib, 2012, p. 145).

Namun, dalam pelaksanaannya, terdapat ketidaksesuaian dari konsep yang dijelaskan Galtung dengan kenyataan yang terjadi di Indonesia. Beberapa media di Indonesia tidak memberlakukan prinsip-prinsip jurnalisme damai, seperti perdamaian, kebenaran, masyarakat, dan solusi. Jurnalisme damai seakan menjadi wacana semata. Hal ini mengacu pada salah satu pemberitaan Tempo.co mengenai pemberitaan konflik agama di Kabupaten Tolikara, Papua pada 2015 lalu. Konflik yang mengarah pada kekerasan antarumat beragama ini terjadi di Hari Raya Idul Fitri di mana kerusuhan ini menyebabkan satu orang tewas dan belasan orang terluka akibat tembakan dari aparat. Selain itu, musholla di sekitar lokasi kejadian juga ikut terbakar (Juditha, 2016, pp. 94-95).

Berdasarkan hasil penelitian terhadap 37 berita yang dibuat oleh Tempo.co tanggal 17 dan 18 Juli 2015, opini mengenai prinsip kebenaran tidak ditemukan di keseluruhan beritanya dan unit analisis narasumber, pelaku konflik, penyampaian kerugian dari konflik sebagai gambaran perdamaian cenderung rendah disampaikan. Dalam unit analisis narasumber, Tempo.co sama sekali tidak memuat hasil wawancara dengan sumber langsung atau sumber utama.

(7)

7

Narasumber yang ditampilkan hanya saksi, aparat keamanan, tokoh agama, hingga pejabat setempat dan pusat (Juditha, 2016, pp. 99-103).

Kemudian, dalam pembahasan pelaku konflik, hanya terdapat 9 dari 37 berita atau sebanyak 24,32% pelaku yang disebutkan dalam berita. Penyebutannya juga tidak secara gamblang, tetapi hanya dengan sebutan “sekelompok orang”, “korban pembakaran”, dan sebagainya. Selain itu, sumber-sumber yang terlibat

langsung dalam konflik juga tidak disampaikan sama sekali. Pembahasan mengenai kerugian konflik sebagai gambaran perdamaian dalam berita Tempo.co memuat sebanyak 16 dari 37 berita atau sebanyak 43,24% yang menggunakan klaim moral jurnalis untuk menyebutkan konflik ini berdampak pada kerugian masyarakat yang mengalami (Juditha, 2016, pp. 99-103).

Jurnalisme damai seharusnya tetap dapat diterapkan oleh media dalam pemberitaan kasus konflik seperti yang terjadi di Tolikara. Meskipun ada tuntutan kecepatan dan aktualitas berita, jurnalis harus tetap mengingat prinsip-prinsip jurnalisme, khususnya mengenai kebenaran berita. Selain itu, jurnalis yang membuat berita konflik juga harus mengarahkan diri pada sikap kritis, tetapi tidak melupakan rasa empati. Hal ini dilakukan agar hasil berita yang dibuat juga tetap mengacu pada jurnalisme damai (Juditha, 2016, p. 108).

Mengacu pada data Dewan Pers pada 2018, media daring yang terverifikasi di Indonesia hanya sebanyak kurang dari 200 dari setidaknya 43.000 media daring. Salah satunya adalah Kompas.com. Pada Agustus 2018, Kompas.com memperoleh apresiasi dari Superbrands, lembaga arbiter internasional yang telah berdiri lebih

(8)

8

dari 26 tahun silam di 86 negara. Kompas.com menjadi pemenang dalam kategori media daring terpercaya di antara banyaknya media daring di Indonesia. Penghargaan ini merupakan yang kedua kali diterima Kompas.com setelah sebelumnya pada 2018 menerima penghargaan di kategori yang sama (Kompas.com, 2019).

Selain itu, artikel jurnal yang dibuat oleh Sherin Vania Angjaya, dkk membuktikan bahwa Kompas.com telah menerapkan prinsip jurnalisme damai, salah satunya dalam pemberitaan mengenai Tragedi Bom Surabaya pada Mei 2018 (Angjaya, Susanto, Siswoko, 2018, pp. 567-568). Penelitian yang dilakukan menggunakan analisis wacana ini menunjukkan bahwa berita-berita yang disampaikan oleh media siber Kompas.com, beserta dua media lain yang juga diteliti yaitu Okezone.com dan Liputan6.com, banyak menulis berita dengan kata-kata halus dan tidak mengundang provokasi. Penulisan berita juga tidak mengaitkan pelaku bom dengan agama tertentu sehingga merujuk pada penerapan prinsip jurnalisme damai yang seharusnya diberlakukan media (Angjaya, Susanto, Siswoko, 2018, pp. 565-566).

(9)

9 Gambar 1.1 & 1.2 Pemberitaan Tragedi Bom Surabaya 2018 oleh Kompas.com

(Sumber: Kompas.com)

Berdasarkan analisis teks yang dilakukan terhadap Kompas.com, diketahui bahwa terdapat berita-berita yang menggunakan kutipan dari tokoh penting negara untuk mengajak masyarakat tidak mudah terprovokasi. Berita tersebut tidak semata-mata dibuat oleh jurnalis Kompas.com, tetapi bersifat persuasif dan berhati-hati dengan mengutip dari tokoh penting dalam negara (Angjaya, Susanto, Siswoko, 2018, p. 566). Hal ini dapat dilihat dari contoh berita di Gambar 1.1 dengan judul “Jenguk Korban Bom di 3 Gereja, Jokowi Terbang Ke Surabaya”.

Isi berita ini tak hanya berfokus pada tragedi bom di Surabaya, tetapi juga mengutip perkataan Kombes Frans Barung Mangera selaku Kabid Humas Polda Jatim mengenai aktivitas Presiden saat melakukan peninjauan terhadap tragedi ini.

(10)

10

Kemudian, dari analisis proses diketahui bahwa dalam pemberitaan

Kompas.com melakukan publikasi berita tepat di hari kejadian hingga 2 hari

setelahnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemberitaan yang dilakukan situasional. Selain itu, waktu pemberitaan tepat dan isi beritanya persuasif di kala kecemasan yang melanda masyarakat saat itu (Angjaya, Susanto, Siswoko, 2018, p. 566). Hal ini juga sesuai dengan beberapa contoh yang diambil dari Gambar 1.1 dan Gambar 1.2. Kedua berita tersebut menunjukkan bahwa pengunggahan berita yaitu pada Minggu, 13 Mei 2018 atau di hari yang sama dengan tragedi bom Surabaya terjadi.

Dari analisis sosial, pemberitaan di Kompas.com juga menerapkan jurnalisme damai dengan menunjukkan persepsi positif dalam pemberitaannya mengenai tragedi bom Surabaya ini dan selalu menekankan ideologi dan nilai agama di Indonesia. Kemudian, makna berita juga disampaikan dengan mengutip tokoh penting negara yang mampu memengaruhi persepsi dari masyarakat (Angjaya, Susanto, Siswoko, 2018, pp. 566-567).

Selain itu, dalam buku Jake Lynch dan Annabel McGoldrick disampaikan bahwa Kompas merupakan salah satu media yang telah mengadopsi jurnalisme damai sebagai strategi dalam pemberitaan konflik. Mulai dari konflik kecil hingga besar, pemberitaan menggunakan jurnalisme damai ini telah dilaksanakan sejak berakhirnya masa pemerintahan Orde Baru Soeharto pada 1998 (Lynch & McGoldrick, 2005).

(11)

11

Berdasarkan hasil data dan riset yang telah disebutkan, konsep jurnalisme damai sendiri telah banyak diteliti. Namun, peneliti menemukan bahwa kebanyakan dari riset tersebut melakukan analisis isi berita dari salah satu atau beberapa media. Misalnya, penelitian oleh Raihan Nusyur yang berjudul

Jurnalisme Damai dalam Pemberitaan Pembakaran Gereja di Aceh Singkil pada Harian Waspada yang mengkaji mengenai bagaimana Harian Waspada

menerapkan jurnalisme damai (Nusyur, 2017), Conflict Analysis and Policy

Recommendation on Papua oleh Yulia Sugandi (Sugandi, 2008) dan Jurnalisme Damai Pemberitaan Tragedi Bom Surabaya Mei 2018 oleh Sherin Vania Angjaya,

dkk yang mengkaji bagaimana penerapan jurnalisme damai di media siber

Kompas.com, Okezone.com, dan Liputan6.com (Angjaya, Susanto, Siswoko,

2018).

Dalam penelitian ini, peneliti ingin mencari tahu persepsi audiens mengenai pemberitaan konflik dengan penerapan aspek jurnalisme damai oleh suatu media. Peneliti memilih melakukan penelitian pada pemberitaan konflik Papua di Kompas.com. Pemilihan konflik ini didasarkan pada data-data yang telah dipaparkan sebelumnya bahwa masalah yang terjadi pada masyarakat Papua masih belum terselesaikan sejak lama. Kemudian, hasil penelitian Febrianti, dkk menunjukkan bahwa konflik antara pemerintah Indonesia dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) merupakan masalah yang kompleks. Mulai dari latar belakang sejarah, ideologi, hingga ketidakadilan sosial dan ekonomi. Selama ini, penyelesaian konflik antara kedua pihak juga dinilai belum efektif (Febrianti, dkk,

(12)

12

2019). Dalam hal ini, media berperan mengemas berita dengan tepat agar pemberitaan yang disajikan menimbulkan perdamaian, bukan dampak negatif yang berpotensi memperparah keadaan bagi masyarakat Papua. Dengan begitu, media dapat berkontribusi menciptakan perdamaian dengan berita yang disajikan.

Kemudian, pemilihan berita konflik Papua dengan pendekatan jurnalisme damai selaras dengan imbauan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kepada media untuk lebih memerhatikan pemberitaannya. Hal ini disampaikan oleh AJI setelah melihat berbagai pemberitaan mengenai konflik Papua yang dilakukan oleh media (Manan, 2019). Selain itu, berdasarkan hasil penelitian Angjaya, Susanto, dan Siswoko sebelumnya, diketahui bahwa Kompas.com merupakan salah satu media yang telah menerapkan jurnalisme damai. Namun, apakah penerapan jurnalisme damai dalam pemberitaan konflik ini telah tersampaikan dan diterima oleh audiens? Peneliti berharap hasil penelitian ini dapat menjadi gambaran kondisi pemberitaan konflik oleh salah satu media di Indonesia dari sisi audiens yang menerima dan mengonsumsi berita. Kemudian, gambaran tersebut dapat digunakan sebagai bahan kajian dan evaluasi bagi media ke depannya untuk menerapkan prinsip jurnalisme damai dalam mengemas berita-berita konflik, sekaligus tetap mengikuti kode etik jurnalistik yang berlaku. Dengan begitu, pemberitaan konflik di Indonesia dapat lebih teratur dan meminimalkan terjadinya konflik berkelanjutan yang semakin parah.

(13)

13

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, media daring berperan besar dalam menyampaikan berita konflik. Media diharapkan dapat menjadi ‘penengah’ dalam menyampaikan berita konflik karena adanya kode etik

jurnalistik dan konsep jurnalisme damai yang harus diterapkan. Kompas.com merupakan salah satu media di Indonesia yang telah menerapkan jurnalisme damai dalam mengemas berita konflik. Namun, penerapan jurnalisme damai masih belum diketahui, apakah sudah tersampaikan dan diterima dengan baik oleh audiens atau sebaliknya.

Maka dari itu, rumusan masalah yang menjadi dasar penelitian ini adalah seberapa tinggi penerapan aspek jurnalisme damai dalam mengemas berita konflik Papua di Kompas.com menurut audiens?

1.3 PERTANYAAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas, pertanyaan penelitian yang akan diajukan adalah sebagai berikut.

1. Apa saja aspek jurnalisme damai yang paling dirasakan dan masih kurang dirasakan oleh audiens dalam pemberitaan konflik Papua di Kompas.com? 2. Seberapa tinggi Kompas.com menerapkan aspek jurnalisme damai dalam

(14)

14

1.4 TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah dijabarkan, tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui aspek jurnalisme damai yang paling dirasakan dan masih kurang dirasakan oleh audiens dalam pemberitaan konflik Papua di Kompas.com. 2. Mengetahui tingginya Kompas.com menerapkan aspek jurnalisme damai

dalam mengemas berita konflik Papua menurut audiens.

1.5 KEGUNAAN PENELITIAN

A. KEGUNAAN AKADEMIS

Melalui penelitian ini, diharapkan hasil yang diperoleh dapat menjadi acuan dalam mengetahui penerapan aspek-aspek jurnalisme damai dalam berita konflik. Kemudian, hasil penelitian diharapkan dapat menunjukkan adanya penerapan prinsip-prinsip jurnalisme damai meliputi dimensi konflik, kebenaran, masyarakat, dan solusi dalam pengemasan beritanya. Penelitian ini juga diharapkan mampu menjadi bahan rujukan untuk penelitian berikutnya, terutama dalam studi ilmu komunikasi yang berfokus di bidang jurnalistik dengan pembahasan konsep jurnalisme damai.

B. KEGUNAAN PRAKTIS

Penelitian ini dapat berguna bagi jurnalis Kompas.com untuk mengetahui penilaian audiensnya mengenai penerapan jurnalisme damai dalam

(15)

15

pemberitaan konflik Papua. Hal ini diharapkan dapat dijadikan bahan evaluasi untuk ke depannya dalam memberitakan berita konflik.

Selain itu, penelitian ini juga berguna bagi media-media lain untuk memberikan gambaran mengenai penerapan jurnalisme damai di salah satu media di Indonesia, yaitu Kompas.com. Dengan begitu, diharapkan media lain dapat ikut menerapkan jurnalisme damai sehingga mampu menyampaikan berita konflik secara lebih baik dan tepat, sesuai dengan aspek-aspek yang berlaku. Tak lupa juga tetap menerapkan kode etik jurnalistik.

C. KEGUNAAN SOSIAL

Penelitian ini berguna bagi masyarakat untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi pemberitaan konflik di Indonesia, terutama di media daring

Kompas.com. Dengan begitu, hal ini dapat menjadi acuan bagi masyarakat agar

bijak dalam menyikapi pemberitaan konflik yang disampaikan media sehingga tidak mudah terprovokasi.

1.6 KETERBATASAN PENELITIAN

Setiap penelitian memiliki keterbatasan, baik dalam pelaksanaan maupun dari topik penelitiannya. Keterbatasan dalam penelitian ini yaitu subjek penelitiannya adalah audiens Kompas.com yang merupakan masyarakat awam dan tidak mengetahui konsep jurnalisme damai. Hal ini bisa berakibat pada hasil jawaban audiens yang hanya akan berlandaskan pada persepsinya mengenai

(16)

16

pemberitaan konflik dan pernyataan yang disampaikan oleh peneliti melalui kuesioner. Jadi, penelitian ini benar-benar melihat berdasarkan persepsi audiens, tanpa adanya ilmu yang mendalam mengenai jurnalisme damai. Kemudian, kuesioner yang disebarkan menampilkan tiga buah artikel yang dipilih oleh peneliti untuk dibaca terlebih dahulu oleh responden. Hal ini bisa berakibat pada penilaian audiens yang hanya berdasarkan pada ketiga berita tersebut sehingga kurang menyeluruh. Selanjutnya, penyebaran kuesioner juga dilakukan secara

online melalui Google Forms. Hal ini dapat memicu kurangnya akurasi jawaban

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :