STUDI PRIORITAS PENANGANAN DRAINASE DENGAN MENGGUNAKAN METODE AHP
DI KECAMATAN MEDAN BARU
TESIS DEDI RAHMAD
147016012
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
STUDI PRIORITAS PENANGANAN DRAINASE DENGAN MENGGUNAKAN METODE AHP
DI KECAMATAN MEDAN BARU
TESIS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar magister teknik dalam Program Studi Magister Teknik Sipil pada Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara
DEDI RAHMAD 147016012
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Telah diuji Pada tanggal:
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Ir. Ahmad Perwira Mulia, M.Sc Anggota : 1. Ir. Medis Sejahtera Surbakti, MT, Ph.D
2. Prof. Dr. Ir. Roesyanto, MSCE 3. Ir. Syahrizal, MT
4. Ir. Rudi Iskandar, MT
ABSTRAK
Banjir merupakan salah satu masalah utama dari kota-kota besar yang ada di Indonesia, termasuk kota Medan. Hal ini sering disebabkan oleh kapasitas drainase yang sudah ada tidak menunjang bila dibandingkan terhadap kondisi perkotaan yang semakin padat dan berkurangnya lahan terbuka hijau. Penanganan drainase termasuk rehabilitasi sangat diperlukan agar saluran drainase dapat berfungsi dengan baik seperti yang diharapkan. Di lain pihak Pemerintah Kota Medan memiliki anggaran yang terbatas tiap tahunnya yang dapat digelontorkan untuk penangangan drainase.
Maksud penulisan tesis ini adalah untuk menganalisis kriteria dan subkriteria yang penting didalam menentukan prioritas penanganan drainase. metode cut off digunakan untuk menentukan kriteria dan subkriteria yang penting. Selanjutnya Metode AHP (Analytical Hierarchy Process) digunakan untuk menentukan prioritas pilihan drainase yang bermasalah di Kecamatan Medan Baru.
Berdasarkan hasil cut off ditemukan kriteria yang penting yaitu aspek teknis, aspek sosial dan aspek budaya.Sementara subkriteria yang penting adalah tingkat kerusakan saluran, status drainase, dan luas tinggi dan lama genangan (untuk aspek teknis), Jumlah penduduk terkena banjir, gangguan lalu lintas, gangguan ekonomi (untuk aspek sosial), tuntutan masyarakat dan kepedulian masyarakat (untuk aspek budaya). Berdasarkan dari 3 kriteria dengan 8 subkriteria tersebut ditentukan prioritas penanganan dari 10 alternatif drainase yang dipilih di Kecamatan Medan Baru. Prioritas pertama jatuh pada drainase di Jl. dr. Mansyur (0,184) yang berlokasi dekat dengan Kampus Universitas Sumatera Utara. Selanjutnya analisis sensitivitas dilakukan untuk mengevaluasi konsistensi prioritas pilihan yang terjadi.
Hasilnya menunjukkan bahwa prioritas yang dipilih adalah konsisten.
Studi ini menyarankan kepada pengambil keputusan bahwa AHP dapat digunakan untuk menganalisis secara rasional prioritas penanganan drainase di suatu daerah.
ABSTRACT
Flood is one of the main problems of big cities in Indonesia, including Medan.
This is often caused by the not supportive existing drainage capacity when compared to the increasingly crowded urban conditions and reduced green open space. Handling of drainage including rehabilitation is necessary so that drainage can function properly as expected. On the other hand the Medan City Government has a limited budget each year that can be disbursed for drainage handling.
The purpose of this thesis is to analyze criteria and subcriteria that are important in determining the priority of drainage handling. the cut off method is used to define important criteria and subcriteria. Furthermore, AHP (Analytical Hierarchy Process) method is used to determine the priority of the problematic drainage option in Medan Baru District.
Based on cutoff results the important criteria is found i.e. technical aspects, social aspects and cultural aspects. While important subcriteria are level of channel damage, drainage status and extent of height and duration of inundation (for technical aspect), Number of people affected by flood, traffic disturbance, economic disturbance (for social aspect), community demand and community awareness (for cultural aspect ).Based on 3 criteria with 8 subcriteria, the priority of handling of 10 selected drainage alternatives in Medan Baru District was determined. The first priority is the drainage at Jl. dr. Mansyur (0.184) located near the University of North Sumatra Campus. Furthermore, sensitivity analysis is conducted to evaluate consistency of priority of choice. The results show that the chosen priority is consistent.
This study suggests to the decision makers that AHP can be used to rationally analyze the priority of drainage handling in the area.
KATA PENGANTAR
Puji syukur dengan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmad dan Hidayah- Nya penulis dapat menyelesaikan tesis ini sebagai salaha satu syarat untuk mencapai gelar Magister Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, dengan judul tesis:
‘’Studi Prioritas Penanganan Drainase dengan Menggunakan Metode AHPdi Kecamatan Medan Baru’’.
Sholawat dan salam semoga selalu tercurah pada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia.
Tesis ini dapat diselesaikan karena bantuan berbagai pihak, dan pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus- tulusnya kepada:
Bapak Dr. Ir. Ahmad Perwira Mulia, M.Sc sebagai Ketua Program Studi Magister Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara, sebagai Dosen Pembimbing I yang telah meluangkan waktu, membimbing, dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan tesis ini, selain itu saya bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk menulis paper international, dan di bimbing untuk mempresentasikannya dalam seminar international Talenta Conference on Engineering, Science and Technology yang dilaksanakan di Hotel Grand Aston Kota Medan di bulan september 2017.
Bapak Ir. Medis Sejahtera Surbakti, MT, Ph.D sebagai Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu, membimbing, dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
Bapak Prof. Dr. Ir. Roesyanto, MSCE, Bapak Ir. Syahrizal, MT, dan Bapak Ir.
Rudi Iskandar,MT sebagai Dosen Pembanding dan Penguji yang telah banyak memberikan saran dan masukan yang membangun terhadap tesis ini.
Para Dosen Program Studi Magister Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bekal ilmu selama masa perkuliahan dan Ibu Dwi sebagai Staf di Program Studi Magister Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara yang telah membantu kelancaran administrasi selama penulis menempuh pendidikan hingga selesai.
Ayah, Ibu, Kakak, Abang dan calon istriku Desi Wulandari yang tercinta yang selalu memberikan do’a dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan tesis ini.
Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Magister Teknik Sipil, Bidang Manajemen Prasarana Publik khususnya Angkatan 2014 yang telah memberikan masukan dalam menyelesaikan tesis ini.
Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam penyelesaian tesis ini.
Semoga bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapakan imbalan yang layak dari Allah SWT. Akhir kata, penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan demi kesempurnaan tesis ini. Semoga tesis ini dapat memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.
Medan, April 2018
Dedi rahmad
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi.
Sepanjang pengetahuan saya juga, tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diakui dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, April 2018
Dedi Rahmad
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Secanggang Kab. Langkat Sumatera Utara pada tanggal 27 Maret 1992, Sebagai anak keempat dari empat bersaudara dari pasangan H.Ismail dan Ibu Hj. Nizamruth.
Penulis menamatkan pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri 050656 Stabat Sumatera Utara pada tahun 2003, Pondok Pesantren Madrasah Tsanawiyah Al Kautsar Al Akbar Medan Sumatera Utara pada tahun 2006, Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Binjai Kab.Langkat Sumatera Utara tahun 2009, Pendidikan Sarjana Teknik Sipil di Fakultas Teknik Universitas Medan Area Sumatera Utara tahun 2014, dan Terdaftar sebagai Mahasiswa Program Studi Magister Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara pada tahun 2014.
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT... ii
KATA PENGANTAR ... iii
PERNYATAAN ... v
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
DAFTAR NOTASI... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Permasalahan dan Pembatasan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 4
1.4 Manfaat Penelitian ... 5
1.5 Ruang Lingkup Penelitian... 5
1.6 Sistematika Penulisan ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1 Pengertian Drainase Kota ... 9
2.2 Fungsi Drainase ... 2.2.1 Fungsi Drainase Perkotaan Secara Umum ... 10
2.2.2 Fungsi Drainase Perkotaan Berdasarkan Fungsi Layanan ... 10
2.2.3 Fungsi Drainase Perkotaan Berdasarkan Fisiknya ... 11
2.3 Konsep Sistem Drainase Perkotaan ... 11
2.3.1 Struktur Saluran Drainase Perkotaan ... 13
2.4 Prioritas ... 16
2.5 Penelitian Terdahulunya ... 18
2.6 Kriteria dan Subkriteria Dalam PenentuanPrioritas ... 26
2.7 Kriteria dan Subkriteria yang digunakan BAPPEDA Kota Medan ... 32
2.8 Metode Cut off ... 33 2.9 Penentuan Skala Prioritas dengan Analytical Hierarchy
2.9.1 Proses-proses dalam Metode Analytical Hierarchy
Process (AHP) ... 37
2.9.2 Matriks Perbandingan Berpasangan ... 38
2.9.3 Perhitungan Bobot Elemen ... 39
2.9.4 Perhitungan konsistensi dalam Analytical Hierarchy Process ... 42
2.9.5 Pembobotan Kriteria Total Responden ... 45
2.9.6 Model Matematis ... 45
2.10 Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel ... 46
2.10.1 Teknik Sampling Dalam Penelitian ... 46
2.11 Kuesioner ... 50
2.11.1 Petunjuk Pembuatan Kuisioner ... 51
2.11.2 Isi Pertanyaan ... 51
2.11.3 Jenis Pertanyaan ... 51
2.11.4 Skala Pengukuran Kuisioner ... 52
2.12 Jenis Penelitian ... 53
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 55
3.1 Tahapan Penelitian ... 55
3.2 Studi Pendahuluan ... 57
3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 58
3.3.1 Pengumpulan Data Sekunder ... 58
3.3.2 Pengumpulan Data Primer ... 60
3.4 Variabel Penelitian ... 62
3.5 Analisis Data ... 64
BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI ... 65
4.1 Geografis ... 65
4.2 Luas Wilayah ... 66
4.3 Penduduk... 67
4.4 Ekonomi ... 67
4.5 Sistem Prasarana Drainase ... 68
BAB V ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ... 69
5.1 Analisa Pemilihan Kriteria dan Subkriteria ... 69
5.2 Aspek Teknis ... 72
5.2.1 Status Drainase ... 73
5.2.2 Tingkat Kerusakan Drainase ... 74
5.2.3 Luas,Tinggi dan Lama Genangan ... 75
5.3 Aspek Sosial ... 76
5.3.1 Jumlah Penduduk Terkena Banjir ... 76
5.3.2 Gangguan Lalu Lintas ... 76
5.4 Aspek Budaya ... 77
5.4.1 Tuntutan masyarakat ... 77
5.4.2 Kepedulian masyarakat ... 78
5.5 Analisa Prioritas Penanganan Drainase ... 80
5.5.1 Analisa Kriteria ... 80
5.5.2 Penilaian Subkriteria ... 83
5.5.2.1 Penilaian Subkriteria Aspek Teknis ... 83
5.5.2.2 Penilaian Subkriteria Aspek Sosial ... 85
5.5.2.3 Penilaian Subkriteria Aspek Budaya ... 87
5.5.3 Penilaian Alternatif terhadap Subkriteria ... 89
5.5.3.1 Penilaian terhadap Tingkat Kerusakan Drainase ... 89
5.5.4 Hasil Perhitungan ... 93
5.5.5 Analisis Sensitivitas ... 94
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN... 96
6.1 Kesimpulan ... 96
6.2 Saran ... 97
DAFTAR PUSTAKA ... 98
LAMPIRAN ... 101
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
2.1 Gambar Konstruksi Sistem Drainase Mikro ... 13
2.2 Struktur Saluran Drainase Perkotaan... 14
2.3 Susunan Kriteria dan Subkriteria BAPPEDA Kota Medan ... 32
2.4 Abstraksi Susunan Hirarki Keputusan ... 36
2.5 Konsistensi Matriks ... 43
3.1 Diagram Alur Penelitian ... 56
3.2 Penyusunan Level Hirarki Penanganan Drainase ... 63
4.1 Peta Kecamatan Medan Baru ... 65
4.2 Persentase Luas Wilayah Kecamatan Medan Baru ... 66
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
2.1 Penelitian Terdahulu... 19
2.2 Skala Matriks Perbandingan Berpasangan... 30
2.3 Perbandingan Kriteria Berpasangan ... 39
2.4 Matriks Perbandingan Berpasangan Bobot Elemen ... 40
2.5 Matriks Perbandingan Berpasangan Intensitas Kepentingan ... 41
2.6 Random Indeks ... 44
2.7 Rekapitulasi Bobot Seluruh Responden ... 45
5.1 Hasil Perhitungan Dengan Menggunakan Metode Cut off ... 70
5.2 Kriteria dan Subkriteria yang Lolos Seleksi ... 71
5.3 Kriteria dan Subkriteria yang Digunakan ... 72
5.4 Status drainase ... 73
5.5 Tingkat Kerusakan Saluran ... 75
5.6 Luas,Tinggi, dan Lama Genangan ... 75
5.7 Jumlah Penduduk Terkena Banjir ... 76
5.8 Gangguan Ekonomi ... 77
5.9 Tuntutan Masyarakat ... 78
5.10 Kepedulian Masyarakat ... 79
5.11 Matriks Penilaian Kriteria ... 80
5.12 Nilai Ri Menurut Jumlah Unsur Dalam Alternatif ... 82
5.13 Penilaian Subkriteria Aspek Teknis ... 83
5.14 Penilaian Subkriteria Aspek Sosial ... 85
5.15 Penilaian Subkriteria Aspek Budaya ... 87
5.16 Penilaian Alternatif terhadap Tingkat Kerusakan Drainase ... 99
5.17 Hasil Perhitungan ... 93
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran
1. Hasil Perhitungan Alternatif terhadap Subkriteria.
2. Daftar Pertanyaan (Kuesioner).
3. Penilaian Alteranatif.
4. Peta Rencana Jaringan Drainase.
5. Photo Dokumentasi Kondisi Banjir dan Kondisi Genangan.
6. Photo Dokumentasi Kuesioner.
DAFTAR NOTASI dan SINGKATAN
λmaks = Nilai eigen vektor maksimum A-D = Bobot level 2
A1,a2,...,d4,d5= Bobot level 3 CI = Consistency index CR = Consistency ratio
n =Ukuran matriks
Y = Skala prioritas RI = Random index D1 = Drainase Jl. Sei Putih D2 = Drainase Jl. Sei Asahan D3 = Drainase Jl. dr Mansyur
D4 = Drainase Jl. Mandolin & Jl.Rebab D5 = Drainase Jl. Sei Selayang
D6 = Drainase Jl. Sei Mencirim D7 = Drainase Jl. Darussalam D8 = Drainase Jl. Djamin Ginting D9 = Drainase Jl. Sei Padang
D10 = Drainase Jl. Sei Asahan (Brimob)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak tahun 2012 berita tentang masalah banjir di Kota medan sering menghiasi media cetak maupun media elektronik. Banjir tersebut terjadi di hampir setiap kecamatan yang ada di kota medan. Banjir yang terjadi di Kota Medan tidak terlepas dari kondisi geografis serta kinerja sistem drainase baik secara makro maupun mikro.
Kecamatan Medan baru kota Medan merupakan kecamatan yang sering terkena banjir dibandingkan dengan kecamatan yang lainnya, di kecamatan ini jug terdapat perguruan tinggi yang termuka di provinsi Sumatera Utara yaitu Universitas Sumatera Utara (USU). Dan dimana akses vital untuk menuju ke Universitas Sumatera Utara ini juga sering terkena banjir yaitu Jl. Dr. Mansyur.
Diterbitkannya Undang-Undang nomor 32 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemerintahan Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah. Pemberian kewenangan yang luas tersebut memerlukan koordinasi dan pengaturan yang lebih mengharmoniskan dan menyelaraskan pembangunan, baik pembangunan nasional, pembangunan daerah maupun pembangunan antar daerah. Hal ini merupakan respon pemerintah terhadap aspirasi yang muncul baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dengan tujuan agar pelaksanaan otonomi daerah semakin baik. Salah satu
2
penyerahan wewenang tersebut sebagai pendukung Peraturan Pemerintah yang terdahulu yaitu PP No. 14 Tahun 1988 tentang penyerahan sebagian urusan pemerintahan di bidang Pekerjaan Umum kepada daerah.
Dengan adanya penyerahan sebagian urusan pemerintahan khususnya di bidang Pekerjaan Umum, Pemerintah Kota Medan telah mengadakan berbagai usaha untuk melaksanakan otonomi daerah sebaik mungkin, salah satunya adalah perbaikan prasarana saluran drainase yang ada di kecamatan Medan Baru pada tahun 2012- 2016, antara lain seperti drainase jl. Sei Muara, jl. Sei Denai, Jl. Sei putih, Jl. Sei Batang Serangan, Jl. Sei Tuan, Jl Sei Putih Baru, Jl D.I Pandjaitan, jl. Sei Belumai, jl.
Sei Tuntung, Jl.Gajah Mada dan Jl. Abdullah Lubis.
Dalam perkembangan pembangunan selanjutnya di Kota Medan perlu dilakukan pemerataan pembangunan di segala bidang, sehingga sangat diperlukan faktor-faktor pendukung seperti tersedianya saluran drainase yang stabil dan selalu mendapat penanganan, karena bila kondisi drainase tidak ditangani secara tepat, maka akan terjadi genangan dan banjir.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Medan. Ada beberapa program yang dicanangkan yaitu: pemeliharaan, pembangunan dan peningkatan serta rehabilitasi saluran drainase. Untuk melaksanakan RPJMD tersebut, sangat diperlukan penentuan skala prioritas penanganan saluran drainase yang tepat dan perhitungan yang matang, agar tujuan dapat tercapai serta tidak mengurangi kualitas pekerjaan.
3
Dengan memperhatikan pelaksanaan penanganan saluran drainase di Kota Medan banyak terjadi ketimpangan–ketimpangan, seperti: banyaknya Saluran drainase yang belum mendapat penanganan baik pemeliharaan maupun peningkatan, aspirasi masyarakat melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di kecamatan hanya sebagian kecil yang direalisasikan dalam APBD dan penentuan skala prioritas yang telah dilakukan selama ini masih didominasi kebijaksanaan pengambil keputusan dalam menetapkan kebijakan yaitumemprioritaskan penanganan proyek drainase yang belum mendapat penanganan dengan mengesampingkan kriteria teknis, sosial dan budaya.
Dalam merencanakan penanganan saluran drainase harus dilakukan secara kompleks, karena banyaknya permasalahan di lapangan yang dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti: kondisi drainase (yang ditentukan berdasarkan hasil survey bidang bina marga), kebijakan (kewenangan kepala daerah yang dilakukan saat musrenbang maupun saat pengesahan di provinsi serta anggaran biaya tambahan/ABT), dan aspirasi masyarakat (pemerataan penanganan saluran drainase di tiap-tiap kecamatan).
Maka dari itu diperlukan sebuah metode yang dapat menampung semua aspek tersebut dan dapat mengantisipasi ketimpangannya. Selanjutnya diharapkan dapat mengurangi permasalahan dan disusun urutan penanganan drainase yang sesuai kebutuhan.
Dalam penelitian ini, akan dikaji skala prioritas penanganan saluran drainase di
4
Hierarchy Process. Dari metode tersebut diharapkan akan diperoleh suatukesimpulan metode yang lebih representatif yang dapat digunakan dalam penentuan skala prioritas penanganan drainase di Kota Medan di masa yang akan datang.
1.2 Permasalahan dan Pembatasan Masalah
Berdasarkan kondisi seperti yang telah diuraikan diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan dan pembatasan masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Dana penanganan rehabilitasi terbatas, sehingga diperlukan prioritas Pemilihan bagian Saluran drainase.
2. Bagaimanakah urutan prioritas penanganan drainase di Kota Medan berdasarkan metode Analytical Hierarchy Process (AHP).
Pembatasan masalah dalam tesis ini adalah bahwa fokus tesis tertuju kepada penentuan prioritas penanganan drainase dengan data yang sudah didapatkan dari instansi terkait, Selain itu tesis ini bertumpu pada analisa perhitungan Penentuan Prioritas melalui wawancara dengan pakar di beberapa Instansi terkait.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui Parameter-parameter penting dalam menentukan prioritas penanganan drainase.
5
2. Mengetahui faktor yang paling mempengaruhi dalam penanganan jaringan drainase.
3. Menentukan urutan prioritas penanganan drainase di Kecamatan Medan Baru Kota Medan dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP).
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini dapat dibedakan atas 3 (dua) sudut pandang yaitu sudut pandang Peneliti, pemerintah dan sudut pandang masyarakat.
1. Dari sudut pandang peneliti dapat memberi gambaran yang jelas tentang prioritas penanganan drainase di Kota Medan.
2. Dari sudut pandang pemerintah Kota Medan sebagai acuan dalam menentukan skala prioritas penanganan drainase di Kota Medan
3. Dari sudut pandang masyarakat dapat memberi gambaran yang jelas tentang penanganan drainase di Kota Medan dan diharapkan dapat mengoptimalkan aspek budaya di masyarakat.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi dengan tujuan memberi arah yang lebih baikdan jelas. Dalam hal ini batasan permasalahan adalah sebagai berikut:
1. Data drainase yang digunakan pada penelitian tesis ini adalah data drainase di Kecamatan Medan Baru, Kota Medan.
6
3. Penentuan skala prioritas dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) .
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan penelitian ini meliputi:
BAB I. PENDAHULUAN
Pada Bab I Pendahuluan, akan diuraikan tentang latar belakang, Perumusandan pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Pada Bab II atau pada tinjauan pustaka, akan diuraikan tentang teori, atau pendekatan teori, proposisi dan konsep yang relevan untuk digunakan dalam menyelesaikan masalah yang telah dirumuskan, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
Pada Bab III atau pada metodologi penelitian, akan diuraikan tentang rancangan dan diagram alir penelitian, lokasi dan objek penelitian, sumber data, serta responden penelitian.
7
BAB IV. GAMBARAN WILAYAH STUDI
Pada Bab IV atau gambaran wilayah studi, dalam bab ini disajikan mengenai kondisi dan gambaran wilayah studi, data-data yang diperoleh mengenai wilayah studi. Penyajian data umumnya berupa tabulasi hingga bersifat mudah dibaca. Dari hasil penyajian ini dapat diketahui kondisi wilayah studi sehingga dapat diketahui kondisi dan gambaran umum mengenai wilayah studi.
BAB V. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada Bab V atau pada analisis data dan pembahasan ini, dalam bab ini akan disajikan data-data yang diperoleh dalam pelaksanaan survei lapangan dan sekaligus uraian pembahasan untuk menjawab tujuan penelitian ini. Penyajian data umumnya berupa tabulasi hingga bersifat mudah dibaca dan aplikatif terhadap metode analisa yang dipakai, kemudian dilakukan proses analisa berdasarkan data- data eksisting yang didapat dari penelitian di lapangan. Hasil analisa ini selanjutnya dibahas secara rinci untuk memudahkan penarikan kesimpulan hasil penelitian.
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
Pada Bab VI. atau pada kesimpulan dan saran, akan diuraikan intisari dari hasil penelitian yang telah dianalisis dan dibahas. Kesimpulan dalam penelitian ini merupakan rangkuman jawaban atas rumusan masalah.
Sedangkan saran dalam penelitian ini merupakan anjuran tentang prospek dari hasil penelitian dalam penerapannya dimasyarakat sebagai hasil yang bersifat applicable.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Drainase Kota
Menurut Haryono (1999), drainase (drainage) berasal dari kata to drain artinya mengosongkan air. Dalam bidang teknik sipil, drainase secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu tindakan teknis untuk mengurangi kelebihan air, baik yang berasal dari hujan, rembesan, maupun kelebihan air irigasi kawasan lain. Drainase menyangkut pengaliran kelebihan air pemukaan dan air tanah ke badan air atau ke bangunan peresapan.
Menurut Dr. Ir. Suripin, M. Eng. (2004; 7) drainase mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Secara umum, drainase didefinisikan sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal. Drainase juga diartikan sebagai suatu cara pembuangan kelebihan air yang tidak diinginkan pada suatu daerah, serta cara-cara penangggulangan akibat yang ditimbulkan oleh kelebihan air tersebut.
Menurut SKSNI T-1990-F, drainase perkotaan adalah drainase di wilayah kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan, sehingga tidak menganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan
9
masyarakat. Lingkup sistem drainase perkotaan meliputi drainase permukiman, drainase jalan raya, drainase lapangan terbang, sistem drainase khusus dan pengisian air tanah.
Tujuan prasarana drainase kota adalah untuk:
1. Menjamin kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
2. Melindungi alam dan lingkungan seperti tanah udara dan kualitas air.
3. Menghindari bahaya, kerusakan materil, kerugian dan beban-beban lain yang disebabkan oleh genangan air.
4. Memperbaiki kualitas lingkungan.
2.2 Fungsi Drainase
Pemahaman secara umum mengenai drainase perkotaan adalah suatu ilmu dari drainase yang mengkhususkan pengkajian pada kawasan perkotaan, yaitu merupakan suatu sistem pengeringan dan pengaliran air dari wilayah perkotaan yang meliputi pemukiman, kawasan industri dan perdagangan, sekolah, rumah sakit,lapanganolahraga, lapangan parkir, instalasi militer, instalasi listrik dan telekomunikasi, pelabuhan udara, pelabuhan laut, serta tempat-tempat lainnya yang merupakan bagian dari sarana kota yang berfungsi mengendalikan kelebihan air permukaan, sehingga menimbulkan dampak negatif dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia
10
2.2.1 Fungsi Drainase Perkotaan Secara Umum
Fungsi drainase perkotaan secara umum adalah sebagai berikut:
1. Meresapkan air permukaan untuk menjaga kelestarian air tanah (konservasi air).
2. Mengendalikan kelebihan air permukaan yang dapat dimanfaatkan untuk persediaan air dan kehidupan akuatik.
3. Mengeringkan bagian wilayah kota dari genangan sehingga tidak menimbulkan gangguan atau kerugian terhadap lingkungan.
4. Mengalirkan air permukaan kebadan air penerima terdekat.
5. Melindungi prasarana dan sarana perkotaan yang sudah terbangun.
2.2.2 Fungsi Drainase Perkotaan Berdasarkan Fungsi Layanan
Fungsi drainase perkotaan berdasarkan fungsi layanan adalah sebagai berikut:
1. Sistem drainase lokal yang termasuk sistem drainase lokal adalah sistem drainase terkecil yang melayani suatu kawasan kota tertentu seperti komplek, areal pasar, perkantoran, areal industri dan komersial.
Pengelolaan sistem drainase lokal menjadi tanggung jawab masyarakat, pengembang atau instansi terkait.
2. Sistem drainase utama yang termasuk dalam sistem drainase utama adalah saluran drainase primer, sekunder, tersier beserta bangunan pelengkapnya
11
yang menerima aliran dari sistem drainase lokal. Pengelolaan sistem drainase utama merupakan tanggung jawab Pemerintah Kota.
2.2.3 Fungsi Drainase Perkotaan Berdasarkan Fisiknya
Fungsi Drainase Perkotaan berdasarkan fisiknya dibagi menjadi 3 bagian, yaitu:
1. Saluran primer adalah saluran utama yang menerima masukan aliran dari saluran sekunder dan/atau saluran tersier. Saluran primer bermuara di badan penerima air.
2. Saluran sekunder adalah saluran terbuka atau tertutup yang berfungsi menerima aliran air dari saluran tersier dan limpasan air dari permukaan sekitarnya, dan meneruskan air ke saluran primer.
3. Saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran drainase lokal dan meneruskan kesaluran sekunder/primer. Saluran untuk mengalirkan limbah rumah tangga ke saluran sekunder, berupa pelesteran, pipa dan tanah.
2.3 Konsep Sistem Drainase Perkotaan
Di wilayah perkotaan, kontribusi curah hujan dapat meliputi 1) Akibat air permukaan setelah hujan yaitu dari atap, lapangan/halaman, jalan dan lain-lain, 2) air limbah dari rumah tangga, bangunan komersial dan industri. Pembuangan
12
seluruh air hujan perlu dialirkan atau dibuang agar tidak terjadi genangan atau banjir. Caranya yaitu dengan pembuatan saluran yang menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut. Sistem saluran diatas selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar. Sistem yang paling kecil juga dihubungkan dengan saluran rumah tangga, sistem infrastruktur lainnya. Sehingga apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam saluran tersebut perlu diolah (treatment).
Sistem drainase perkotaan dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam sistem, yaitu:
1. Sistem drainase utama (Major urban drainage system) adalah sistem saluran/badan air yang menampung dan mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment area). Biasanya sistem ini menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer, kanal- kanal atau sungai-sungai. Sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem saluran pembuang utama. Sistem mayor biasanya meliputi saluran drainase primer dan sekunder. Pada Umumnya drainase mayor direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 5 sampai 10 tahun sedangkan untuk pengendalian banjir untuk sungai-sungai besar dipakai periode ulang 25 sampai 50 tahun.
2. Sistem drainase lokal (Minor urban drainage system) adalah sistem saluran dan bangunan pelengkap drainase yang menampung dan mengalirkan air
13
dari daerah tangkapan hujan dimana sebagian besar di dalam wilayah kota.
Pada umumnya drainase minor direncanakan untuk hujan dengan masa ulang 2 dan 5 tahun teragantung pada tata guna tanah yang ada. Sistem drainase untuk lingkungan pemukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase minor. Sistem minor biasanya meliputi saluran drainase tersier dan kwarter. Dari segi kontruksinya sistem saluran/drainase minor dapat dibedakan atas dua bagian yaitu: sistem saluran tertutup dan sistem saluran terbuka (Lihat Gambar 2.1)
Saluran Terbuka Saluran Tertutup
Gambar 2.1 Gambar Konstruksi Sistem Drainase Mikro
2.3.1 Struktur Saluran Drainase Perkotaan
Secara hirarki drainase perkotaan mulai dari yang paling kecil adalah saluran kwarter, saluran tersier, saluran sekunder dan saluran primer (lihat Gambar 2.2).
14
Gambar 2.2 Struktur Saluran Drainase Perkotaan
Keterangan gambar:
1. Saluran primer adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran sekunder dan mengalirkannya ke badan penerima air
2. Saluran sekunder adalah saluran drainase yang menerima air dari saluran tersier dan menyalurkannya ke saluran primer
3. Saluran tersier adalah saluran drainase yang menerima air dari sistem drainase kwarter dan mengalirkannya ke saluran sekunder.
4. Saluran kwarter adalah saluran kolektor jaringan drainase lokal
Menurut RT-RW Kota Medan Tahun 2010-2030, Hirarki sistem drainase di Kota Medan antara lain terdiri dari:
1. Saluran primer:
a. Sungai Badera.
15
b. Sungai Belawan.
c. Sungai Deli.
d. Sungai Babura.
e. Sungai Percut.
2. Saluran drainase sekunder:
a. Anak-anak sungai yang ada di Kota Medan 1) Sei Selayang.
2) Sei Putih.
3) Sei Siput.
4) Sei Berkala.
5) Parit Emas.
6) Parit Martondi.
7) Sungai Buncong.
8) Sungai Pelangkah.
9) Sei Percut Denai.
b. Saluran sekunder eksisting (buatan) yang ada di pinggir jalan utama.
3. Saluran drainase tersier:
a. Saluran drainase perumahan.
b. Saluran drainase permukiman.
16
2.4 Prioritas
Keterbatasan waktu, tenaga, dan dana menyebabkan ketidakmungkinan untuk melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan sehingga perlu itu dilakukan prioritas. Prioritas itu penting karena keterbatasan tadi padahal perlu dilakukan pembenahan dalam banyak hal, dan semuanya harus dilakukan dengan waktu yang cepat, dana yang cukup dan kualitas yang utama sehingga perlu dilakukan suatu cara, yaitu dengan menyusun prioritas (Roy & Sandra Sembel, 2003).
Prioritas dapat memberi arah bagi kegiatan yang harus dilaksanakan. Jika prioritas telah disusun maka tidak akan bingung kegiatan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, kegiatan mana yang dilakukan selanjutnya, sampai tercapai tujuan yang telah ditetapkan. Jika dalam tujuan untuk melakukan kegiatan yang berkesinambungan, maka diprioritaskan kegiatan sesuai dengan kebutuhan, maka arah kegiatan adalah pada pengembangan, bukan semata-mata pada pembangunan. Dengan demikian arah kegiatan bukanlah pada pembangunan yang sebesar-besarnya, melainkan pada pengembangan yang berkelanjutan. Prioritas juga membantu dalam memecahkan masalah. Jika konsisten pada prioritas yang telah ditetapkan maka prioritas akan membantu untuk memecahkan masalah.
Roy & Sandra Sembel (2003) mengatakan bahwa penentuan prioritas dapat dilakukan dengan terlebih dahulu menjawab lima pertanyaan berikut:
17
1. Apa yang penting untuk dilakukan untuk mencapai tujuan?
Prioritas disusun untuk mencapai tujuan. Jadi sebelum prioritas ditetapkan, tujuanlah yang perlu dibuat.
2. Apa hasil akhir yang ingin dicapai?
Setelah tujuan ditetapkan maka perlu mengidentifikasikan faktor-faktor yang memang penting untuk dilakukan guna mencapai tujuan. Tujuan yang telah diketahui jauh hari sebelumnya akan memudahkan kita untuk merealisasikan.
3. Apakah harus dilakukan hal tersebut?
Pertanyaan ketiga ini akan membantu dalam memilah kegiatan yang memang harus dilakukan, dan kegiatan yang bisa dilakukan oleh orang lain.
4. Apa keuntungan yang didapat dari kegiatan tersebut?
Prinsip yang dicetuskan oleh Vilfredo Pareto seperti yang dikutip Sembel (2003) menyatakan bahwa hanya 20% dari kegiatan yang dapat memberikan 80% keuntungan sehingga perlu memfokuskan tenaga dan pemikiran serta sarana yang dimiliki agar dapat memberikan keuntungan maksimal.
5. Bagaimana melaksanakan prioritas?
Setelah prioritas ditentukan maka perlu melakukan beberapa langkah lagi untuk memastikan bisa dilaksanakan dengan hasil yang positif yaitu evaluasi. Selalu evaluasi hal-hal yang perlu dan yang tidak perlu dilakukan.
Ada hal-hal yang memang harus dilakukan (tidak bisa dilakukan oleh pihak lain). Tapi banyak juga hal yang perlu dilakukan tapi tidak harus dilakukan sendiri.
18
Perlu juga dilakukan evaluasi apakah suatu kegiatan memang memberikan banyak manfaatjika dilakukan. Jika ternyata dampak positifnya kecil sekali sedangkan usaha yang harus diberikan secara signifikan cukup besar, maka dapat dipertimbangkan untuk tidak melakukan hal tersebut dan mencari hal-hal lain yang bisa memberikan dampak positif berkelanjutan yang besar. Evaluasi lain bisa diarahkan pada kegiatan yang sanggup dan tidak sanggup dilakukan. Jika sanggup untuk dilakukan dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka segera dapat dilaksanakan. Sebaliknya, jika kegiatan tersebut memerlukan hal-hal yang tidak dimiliki, maka dapat dicari tindakan lain yang bisa diprioritaskan.
Untuk dapat berhasil maka perlu disusun prioritas yang dapat memberikan arah bagi untuk mencapai tujuan. Prioritas juga membantu dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan yang terbaik. Prioritas dapat disusun dengan mengajukan pertanyaan yang tepat. Setelah segala sesuatunya dipertimbangkan dan direncanakan dengan matang dalam menentukan suatu prioritas, langkah selanjutnya yang adalah melaksanakan priorit as yang telah ditetapkan.
2.5 Penelitian Terdahulunya
Penelitian terdahulu yang pernah dilakukan dalam penentuan prioritas penanganan drainase dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) No Nama Peneliti Judul dan Lokasi
Penelitian Tujuan Penelitian Metode
Penelitian Hasil Penelitian
1 Fredy Djunaedi dan Nadjaji Anwar (2011)
Analisa Manfaat Biaya Menggunakan Proses hirarki analitik dalam penentuan prioritas
Proyek APBD
Penanganan Drainase di Kota Bandung
Mendapatkan model hierarki manfaat biaya penanganan drainase dan menentukan prioritas kegiatan penanganan drainase di kota bandung.
Metode AHP
Model hirarki manfaat urutan kriteria yang berpengaruh beserta bobotnya adalah kriteria Sosial (0.35), kriteria Fisik (0.34), Lingkungan (0.19), Ekonomi (0.12). Kemudian urutan alternatif yang berpengaruh beserta bobotnya adalah drainase di lingkungan permukiman (0.56), drainase di lingkungan jalan kolektor (0.30) dan drainase di lingkungan industri & perdagangan (0.14). Pada model hirarki biaya, kriteria yang berpengaruh beserta bobotnya adalah kriteria biaya pemeliharaan (0.42), biaya peningkatan (0.39), biaya pembangunan (0.19).
Kota Bandung
2 Ni Putu Ety Lismaya Dewi (2014),
Prioritas Rehabilitasi jaringan Drainase di Kota Denpasar.
Melakukan penentuan skala prioritas rehabilitasi jaringan drainase dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
Metode AHP
Hasil penentuan skala prioritas dengan metode AHP menunjukkan bahwa nilai tertinggi decision score adalah 44,5% pada sistem III artinya prioritas pertama rehabilitasi jaringan drainase di Kota Denpasar dilakukan di sistem III, prioritas kedua di sistem IV dengan skor 25,7%, prioritas ketiga di sistem V dengan skor 15,2%, prioritas keempat di sistem I dengan skor 9,3%, dan prioritas kelima di sistem II dengan skor 4,4%.
Kota Denpasar
Lanjutan Tabel 2.1Penelitian Terdahulu dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) 3 B.J Pranoto
(2003)
Sistem Pengendalian Banjir di jabodetabek.
a. Menyusun Sistem Pengendalian banjir di Jabodetabek
Metode AHP
a. Pengendalian Banjir dapat Dikategorikan berdasarkan kriteria kriteria yang terdiri dari pendangkalan sungai, Pengelolaan DAS, aliran permukaan, daerah resapan, perilaku masyarakat dan reklamasi pantai sedangkan alternatif pemecahannya berdasarkan perencanaan tata ruang, reboisasi dan teknologi pengendalian.
Jabodetabek
b. Menganalisa Strategi Sistem pengendalian banjir dengan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
b. Berdasarkan alternatif perencanaan tat ruang, reboisasi dan teknologi pengendalian menunjukkan bahwa perencanaan tata ruang mempunyai prioritas yang paling baik sebesar 55,0% dilanjutkan reboisasi sebesar 29,3 % dan yang terakhir adalah teknologi pengendalian sebesar 15,8% .
4 Nany Helfira, Manyuk Fauzi, Dan Ari
Sandhyafitri (2013)
Identifikasi Parameter dalam penentuan prioritas penanganan masalah sistem drainase di wilayah kota pekan baru menggunakan metode AHP
a. Menentukan Parameter yang paling mem- pengaruhi dalam penentuan Prioritas b. Mengetahu tingkat
pengaruh Kriteria terhadap penentuan prioritas penanganan masalah drainase
c. Mengetahui Prioritas penanganan masalah
Metode AHP
a. Parameter yang paling mempengaruhi dalam penentuan prioritas penanganan masalah sistem drainase yaitu : Kriteria Teknis, Kriteria Ekonomi, Kriteria Lingkungan, Dan Kriteria Sosial/budaya b. Tingkat pengaruh kriteria-kriteria terhadap penentuan
prioritas penanganan masalah sistem drainase antara lain Kriteria Teknis 47,9%, Kriteria ekonomi 30,8% , Kriteria lingkungan 11,2%, dan kriteria Sosial/Budaya 10,2 %.
c. Persentase untuk masing-masing wilayah yaitu Perumahan Purwodadi 53,3% , Jl. Soekarno hatta
Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) 5
Ratna Julita (2016)
Pemilihan Teknologi Pembangunan Drainase dengan Metode AHP
a. Menentukan Indikasi pemilihan alternatif teknologi pembangunan drainase apa yang akan
digunakan Metode AHP
a. Adapun Kriteria yang paling berpengaruh dalam penentuan pemilihan teknologi pembangunan drainase di kota Tangerang Selatan adalah sbb : Waktu pelayanan 39,3 % , Biaya 27,9 % , Proses pelaksanaan 17 % , Ketersediaan material 9,5 % , dan ketersediaan lahan 6,4 % .
Tangerang
b. Menentukan kriteria apa saja yang mempengaruhi pemilihan alternatif- alternatif tersebut.
b. Alternatif pembangunan drainase menggunakan teknologi Precast dengan bobot yang tertinggi yaitu 46,51% .
6 Adi Yusuf Mutaqin (2006)
Kinerja Sistem Drai- nase yang berke- lanjutan Partisipasi Masyarakat (Studi kasus di perumahan josroyo Indah Jaten Kabupaten Karanga- nyar)
a. Menemukan Tingkat pemahaman masyarakat akan fungsi sistem drainase yang ber- kelanjutan serta tingkat kepedulian masyarakat dalam pengelolaan Sistem jaringan Drainase
b. Merumuskan solusi prioritas rehabilitasi sistem jaringan drainase dengan menyusun sistem
a. Metode Deskriptif Evaluatif
b. Metode AHP
a. Partisipasi Masyarakat josroyo Indah jaten terhadap pengelolaan jaringan drainase yang berkelanjutan adalah baik, hal ini dapat ditunjukkan berdasarkan : Pemahaman masyarakat terhadap sistem dan fungsi drainase sebesar 85,95% ,kepedulian masyarakat terhadap system jaringan drainase sebesar 90.07%, dan kesanggupan masyarakat untuk membuat SRAH sebesar 57,87%
b. Sistem Pendukung Kebijakan untuk melakukan Rehabilitasi jaringan Drainase memberikan urutan prioritas sebagai berikut : Prioritas pertama di SS04, Prioritas kedua di SS02, Prioritas ketiga di Kabupaten
Karanganyar
Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) 7 Yi-Ru Chen, et al Integrated Application of the
analytic hierarchy process and the geographic information system for flood risk assessment and flood plain management in Taiwan
Membuat indeks risiko banjir yang berhubungan
dengan kemungkinan genangan.
Metode AHP
Analisis risiko banjir yang luas sering membutuhkan rinci informasi tentang kondisi lapangan, statistik hidrologi, dan fitur pertahanan banjir struktur sehingga hasilnya berbasis probabilitas menunjukkan luas dan keparahan dari dampak banjir pada daerah tertentu.
Dengan metodologi yang diusulkan dalam penelitian ini, potensi banjir yang diukur dengan integrasi AHP dan GIS dapat memberikan estimasi awal dari risiko banjir di daerah tangkapan air atau pada skala regional.
Taiwan 8 Rajjev ranjan, et al
(2013)
Saaty’s Analytical hierarchical process based prioritization of sub-watersheds of bina river basin using remote sensing and gis
Mengidentifikasi prioritas Polutan, prioritas Sumber potensi, dan target daerah dalam DAS
Metode AHP
Prioritas semua sub-DAS dikategorikan sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah. SW-14, SW-21, SW-23 dan SW-27 prioritas yang sangat tinggi, sedangkan SW-9, SW-12, SW-19, SW-20, SW-24, SW-26 dan SW-28 berada di prioritas tinggi, SW-5, SW-10, SW-11, SW-15, SW-16, SW- 17 dan SW-22 berada di prioritas sedang, SW-1, SW-3, SW-4, SW-7, SW-8, SW-13 dan SW-25 berada di prioritas rendah, SW-2, SW-6 dan SW-18berada di prioritas sangat rendah.
Madhya Pradesh , India.
Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) 9 Insannul Kamil
(2013)
Design Of Perfor- mance Evaluation tools for drainage of roads system in developing country (Case study : drainage system for city roads in Padang Indonesia)
Merancang suatu sistem penilaian kinerja untuk menetapkan standar kinerja yang jelas untuk drainase.
Metode Delphi
& Metode AHP
a. Tingkat kinerja aktual Drainase jalan di kota Padang secara umum pada saat ini adalah 3,455 dari 10. tingkat kinerja ini pada tingkat yang buruk. Hal ini terjadi karena rusak Drainase rusak, sedimen tinggi; kurangnya kesadaran masyarakat, respon pemerintah lambat, dan sebagainya. Evaluasi penilaian kinerja dan peningkatan kinerja drainase adalah tanggung jawab pemerintah
b. Evaluasi system Kinerja memiliki 4 kategori Key Performance Indicators (KPI), yaitu Maintenance, Operasional, Sosial, dan Lingkungan
Kota Padang, Indonesia
10 Hans Peter Nachtnebel (2015)
Prioritizing hydro- power development using analytical hierarchy process (ahp) – a case study of nepal
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merekomendasikan skala yang paling tepat (mikro, tenaga air kecil, menengah, sangat besar atau besar) untuk PLTA di Nepal.
Metode AHP
Dalam kerangka enam gol termasuk 28 kriteria yang diterapkan untuk lima alternatif, skema tenaga air pembangkit listrik skala menengah merupakan pilihan terbaik, diikuti oleh tenaga air besar di Nepal konteks sekarang dan masa depan. PLTA Kecil adalah prioritas ketiga diikuti oleh mini dan mikro di posisi peringkat keempat.
Nepal
11 Rodolfo J. Sabia (2015)
Determination of the most appropriate policy for river basin management
Untuk menentukan model yang kompatibel dengan aspirasi masyarakat mengenai penggunaan dan kualitas air, serta menentukan keputusan yang diperlukan tindakan dan strategi
Metode AHP
Kebijakan dasarnya preservationist memiliki prioritas tertinggi. Setelah analisis sensitivitas dilakukan prioritas ini dikonfirmasi. Hasil ini telah disampaikan kepada semua anggota Parlemen Salgado River, dan mereka setuju untuk mengejar dasarnya preservationist kebijakan. Namun, kriteria ekonomi adalah yang paling relevan dan merupakan hasil dari perlu untuk infrastruktur untuk memastikan prestasi kerinduan lingkungan.
Brazil 12 Jirattinart
Thungngern, et al (2015)
A Review of the Analytical Hierarchy Process (AHP):
a. review untuk dan menganalisis publikasi empiris menggambarkan applikation dari AHP dalam pengelolaan sumber daya air 2009-2013.
Metode AHP
Dari 46 dari publikasi ditemukan bahwa AHP adalah salah satu yang terbaik, dikenal dan paling populer digunakan di MCDA (Multi-Criteria Decision analysis), yang dapat dievaluasi untuk semua jenis Manajemen sumber daya air difokuskan pada kriteria mengenai begitu resmi, ekonomi dan lingkungan faktor. Lebih lanjut, AHP telah digunakan dalam kombinasi dengan teknik lainnya teknik untuk memecahkan masalah.
An Approach to Water
Resource Management in Thailand
b. fokus pada kegunaan AHP terintegrasi dengan metode lain untuk sumber
daya air manajemen di Thailand
Metode SWOT Thailand
Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
Lanjutan Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) 13 Ming-Der Yang, et
al (2005)
Priority Evaluation of Sewerage Rehabilitation by AHP
Model AHP
dipekerjakan untuk menganalisis
masalah tingkat rehabilitasi
pembuangan kotoran
Metode AHP
Prioritas direhabilitasi untuk terbesar lima Sistem adalah sistem E, sistem B, sistem J, sistem F, dan sistem G, dalam sistem yang G memiliki skor manfaat tertinggi dan juga memiliki skor biaya tertinggi.
Model AHP itu terbukti mampu memberikan data kuantitatif dan referensi yang berguna untuk menentukan prioritas rehabilitasi saluran air limbah
Taiwan
26
2.6 Kriteria dan Subkriteria Dalam Penentuan Prioritas
Dalam menentukan prioritas diperlukan beberapa kriteria yang menjadi dasar dalam pemberian bobot pilihan. Beberapa peneliti sebelumnya menggunakan kriteria yang berbeda-beda dalam menentukan prioritas penanganan drainase menurut kondisi daerah yang ditelitinya.
Penelitian yang pernah dilakukan dalam penentuan prioritas penanganan drainase dengan menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP) menurut kriterianya, antara lain dilakukan oleh:
1. Djunaedi dan Anwar (2011), dalam Analisa Manfaat Biaya Menggunakan Proses Hirarki Analitik dalam Penentuan Prioritas Proyek APBD Penanganan Drainase di Kota Bandung, dengan Menggunakan 2 Kriteria dan 7 subkriteria, yaitu:
a. Manfaat:
1) Fisik 2) Ekonomi 3) Sosial 4) Lingkungan b. Biaya:
1) Biaya Pembangunan 2) Biaya Peningkatan 3) Biaya Pemeliharaan
2. Dewi (2014), dalam Prioritas Rehabilitasi Jaringan Drainase di Kota
27
a. Partisipasi masyarakat b. Tingkat kerusakan jaringan c. Luas area layanan
d. Rab rehabilitasi
3. B.J Pratondo (2003), dalam Sistem Pengendalian Banjir di JABODETABEK, dengan menggunakan 6 Kriteria, yaitu:
a. Pendangkalan Sungai b. Pengelolaan DAS c. Aliran Permukaan d. Daerah Resapan e. Perilaku Masyarakat f. Reklamasi Pantai
4. Helfira, Fauzi, dan Sandhyafitri (2013), dalam Identifikasi Parameter dalam Penentuan Prioritas Penanganan Masalah Sistem Drainase di Wilayah Kota Pekan Baru Menggunakan Metode AHP, dengan menggunakan 4 Kriteria, yaitu:
a. Teknis b. Ekonomi c. Lingkungan d. Sosial/Budaya
5. Ratna Juliet (2016), dalam Pemilihan Teknologi Pembangunan Drainase dengan Metode AHP, dengan menggunakan 5 Kriteria, yaitu:
28
b. Biaya
c. Proses Pelaksanaan d. Waktu Pelaksanaan e. Ketersediaan Material
6. Muttaqin (2006), dalam Kinerja Sistem Drainase yang Berkelanjutan Berbasis Partisipasi Masyarakat (Studi Kasus Di Perumahan Josroyo Indah Jaten Kabupaten Karanganyar), dengan menggunakan 4 Kriteria, Yaitu:
a. Partisipasi Masyarakat b. Tingkat Kerusakan Jaringan c. Luas Areal layanan
d. Biaya – SRAH
7. Kamil (2013), dalam Design of Performance Evaluation Toolsfor Drainage of Roads System In Developing Country (Case Study: Drainage System For City Roads In Padang Indonesia),dengan menggunakan 4 kriteria, yaitu:
a. Maintenance
1) Frequency of maintenance 2) Cost of maintenance 3) Operational
b. Type of drainage
1) Condition of drainage 2) Operation of drainage c. Social
29
2) Society awareness d. Environment
1) Status of CSO
2) Sustainability of drained area
8. Nachtnebel dan Singh (2015), dalam Prioritizing Hydropower Development Using Analytical Hierarchy Process (AHP) – A Case Study of Nepal, dengan menggunakan 6 kriteria, yaitu:
a. Technical b. Social c. Economic d. Environment e. Political f. Uncertainties
9. Yi-Ru Chen, et al (2006), dalam Integrated Application Of The Analytic Hierarchy Process and The Geographic Information System For Flood Risk Assesment and Flood Plain Management In Taiwan, dengan menggunakan 7 kriteria, yaitu:
a. Precipitation b. Topography
c. Tidal affected river
d. Stormwater drainage systems e. Water gate or pumping station f. Mobile pumps
g. Maintennance
30
10. J.Sabia (2015), dalamDetermination of The Most Appropriate Police For River Basin Management, dengan menggunakan 5 kriteria, yaitu:
a. Economic b. Environmental c. Social
d. Socio-Economic e. Socio-Environmental
11. Ming-der, et al (2011), dalam Priority Evaluation Of Sewerage Rehabilitation By AHP, dengan menggunakan 2 kriteria, yaitu:
a. Cost
1) Economy:
a) Rehabilitation cost b) Maintenance cost 2) Society:
a) Traffic impact
b) Impacts on commerce or residents 3) Environment:
a) Construction dust b) Construction noise b. Benefit
1) Economy:
a) Extending Cyclic lives of sewerage
31
2) Society:
a) Promoting Qualities of life b) Increasing serviced population 3) Environment:
a) Controlling pollution of Groundwater b) Reducing Pollution of soil
12.Tarigan, et al (2017),dalam Studi Prioritas Penanganan Drainase dengan Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process di Kecamatan Medan Baru, menggunakan 3 Kriteria dan 8 Subkriteria yaitu:
a. Aspek Teknis : 1) Status Saluran
2) Tingkat Kerusakan Saluran 3) Luas,Tinggi dan Lama Genangan b. Aspek Sosial:
1) Jumlah Penduduk Terkena Banjir 2) Gangguan Lalu Lintas
3) Gangguan Ekonomi c. Aspek Budaya:
1) Tuntutan Masyarakat 2) Kepedulian Masyarakat
32
2.7 Kriteria dan Subkriteria yang Digunakan BAPPEDA Kota Medan
Dalam menentukan prioritas diperlukan beberapa kriteria dan subkriteria yang menjadi dasar dalam pemberian bobot pilihan. menentukan prioritas penanganan drainase yang ada di Kota Medan dapat di lihat seperti Gambar 2.3.
Kriteria dan Subkriteria BAPPEDA Kota Medan
Aspek Teknis Aspek Sosial Aspek Ekonomi Aspek Budaya
Finishing
Genangan
Daerah Berkembang
Kepadatan Penduduk
Fasilitas Umum
Akses Transportasi
Pusat Perekonomian
Pos BUMN
Kantor Pemerintahan
Gambar 2.3 Susunan Kriteria dan Subkriteria BAPPEDA Kota Medan
2.8 Metode Cut Off
Menurut Maggie dan Tummala (2001) seperti yang dikutip oleh Najid, Tamin sjafrudin dan Santoso (2005) mengatakan bahwa metode untuk meyakinkan tingkat dari kriteria prioritas adalah dengan menggunakan Metode Cut off.
33
Hasil dari analisa dengan Metode Cut off yang mempunyai nilai kurang dari batas cut off tidak akan ikut dianalisis dan dianggap pengaruhnya tidak terlalu penting dalam prioritas penanganan drainase.
Rumus untuk penilai Cut off adalah sebagai berikut:
(2.1)
2.9 Penentuan Skala Prioritas dengan Analytical Hierarchy Process (AHP)
Analytical Hierarchy Process (AHP) Adalah metode untuk memecahkan suatu situasi yang komplek tidak terstruktur kedalam beberapa komponen dalam susunan yang hirarki, dengan memberi nilai subjektif tentang pentingnya setiap variabel secara relatif, dan menetapkan variabel mana yang memiliki prioritas paling tinggi guna mempengaruhi hasil pada situasi tersebut.
Dalam penyelesaian persoalan dengan metode AHP dalam buku Saaty (1986) tersebut, dijelaskan pula beberapa prinsip dasar Proses Hirarki Analitik yaitu:
1. Dekomposisi. Setelah mendifinisikan permasalahan, maka perlu dilakukan dekomposisi yaitu memecah persoalan utuh menjadi unsur-unsurnya sampai yang sekecil kecilnya.
2. Comparative Judgment. Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan tingkatan diatasnya. Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena
34
3. Synthesis of Priority. Dari setiap matriks pairwise comparison vector eigen- nya mendapat prioritas lokal, karena pairwise comparison terdapat pada setiap tingkat, maka untuk melakukan global harus dilakukan sintesis diantara prioritas lokal. Prosedur melakukan sintesis berbeda menurut bentuk hirarki.
4. Logical Consistency. Konsistensi memiliki dua makna yang pertama bahwa obyek-obyek yang serupa dapat dikelompokkan sesuai keragaman dan relevansinya. Kedua adalah tingkat hubungan antar obyek-obyek yang didasarkan pada kriteria tertentu.
Beberapa keuntungan menggunakan AHP sebagai alat analisis adalah:
1. Dapat memberi model tunggal yang mudah dimengerti, luwes untuk beragam persoalan yang tak berstruktur.
2. Dapat memadukan rancangan deduktif dan rancangan berdasarkan system dalam memecahkan persolan kompleks.
3. Dapat menangani saling ketergantungan elemen–elemen dalam suatu sistem dan tidak memaksakan pemikiran linier.
4. Mencerminkan kecendrungan alami pikiran untuk memilah–milah eleman elemen suatu sistem dalam berbagai tingkat belaian dan mengelompokan unsur- unsur yang serupa dalam setiap tingkat.
5. Memberi suatu skala dalam mengukur hal-hal yang tidak terwujud untuk mendapatkan prioritas.
6. Melacak konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menetapkan berbagai prioritas.
35
8. Mempertimbangkan prioritas-prioritas relatif dari berbagai faktor system dan memungkinkan orang memilih alternatif terbaik berdasarkan tujuantujuan mereka.
9. Tidak memaksakan konsensus tetapi mensintesis suatu hasil representative dari penilaian yang berbeda-beda.
10. Memungkinkan orang memperluas definisi mereka pada suatu persoalan dan memperbaiki pertimbangan serta pengertian mereka melalui pengulangan.
AHP dapat digunakan dalam memecahkan berbagai masalah diantaranya untuk mengalokasikan sumber daya, analisis keputusan manfaat atau biaya, menentukan peringkat beberapa alternatif, melaksanakan perencanaan ke masa depan yang diproyeksikan dan menetapkan prioritas pengembangan suatu unit usaha dan permasalahan kompleks lainnya.
Hirarki adalah alat yang paling mudah untuk memahami masalah yang kompleks dimana masalah tersebut diuraikan ke dalam elemen-elemen yang bersangkutan, menyusun elemen-elemen tersebut secara hirarki dan akhirnya melakukan penilaian atas elemen tersebut sekaligus menentukan keputusan mana yang diambil. Proses penyusunan elemen secara hirarki meliputi pengelompokan elemen komponen yang sifatnya homogen dan menyusunan komponen tersebut dalam level hirarki yang tepat. Hirarki juga merupakan abstraksi struktur suatu sistem yang mempelajari fungsi interaksi antara komponen dan dampaknya pada sistem. Abstraksi ini mempunyai bentuk yang saling terkait tersusun dalam suatu sasaran utama (ultimate goal) turun ke sub-sub tujuan, ke pelaku (aktor) yang
36
memberi dorongan dan turun ke tujuan pelaku, kemudian kebijakan-kebijakan, strategi-strategi tersebut. Adapun abstraksi susunan hirarki keputusan dapat di lihat seperti pada Gambar 2.4.
Level 1: fokus/sasaran/goal Level 2: faktor/kriteria Level 3: faktor/subkriteria Level 4: alternatif
Gambar 2.4. Abstraksi Susunan Hirarki Keputusan
Sedangkan kelemahan metode AHP adalah ketergantungan model AHP pada input utamanya. Input utama ini berupa persepsi seorang ahli sehingga dalam hal ini melibatkan subyektifitas sang ahli selain itu juga model menjadi tidak berarti jika ahli tersebut memberikan penilaian yang keliru.
Alternatif 3 Alternatif 2
Alternatif 1
Goal
Kriteria 1
Subkriteria 1 Subkriteria 3
Kriteria 3
Subkriteria 4 Kriteria 4 Kriteria 2
Subkriteria 2
37
Beberapa contoh aplikasi AHP adalah sebagai berikut:
1. Membuat suatu set alternatif.
2. Perencanaan, merancang sistem.
3. Menentukan prioritas.
4. Memilih kebijakan terbaik setelah menemukan satu set alternatif.
5. Alokasi sumber daya dan memastikan stabilitas sistem.
6. Menentukan kebutuhan/persyaratan.
2.9.1 Proses-proses dalam Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
Adapun Proses-proses yang terjadi pada metode AHP adalah sebagai berikut (Saaty, 1986) :
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
2. Membuat struktur hirarki yang diawali tujuan umum dilanjutkan dengan kriteria dan kemungkinan alternatif pada tingkatan kriteria paling bawah.
3. Membuat matrik perbandingan berpasangan yang menggambarkan kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap kriteria yang setingkat di atasnya.
4. Melakukan perbandingan berpasangan sehingga diperoleh judgment (keputusan) sebanyak n x ((n-1)/2)bh, dengan n adalah banyaknya elemen yang dibandingkan.
5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya jika tidak konsisten maka pengambilan data diulangi lagi.
6. Mengulangi langkah 3,4 dan 5 untuk setiap tingkatan hirarki.
38
8. Memeriksa konsistensi hirarki. Jika nilainya lebih dari 10 persen maka penilaian data judgment harus diperbaiki.
2.9.2 Matrik Perbandingan Berpasangan
Skala perbandingan berpasangan didasarkan pada nilai–nilai fundamental AHP dengan pembobotan dari nilai 1 untuk sama penting sampai 9 untuk sangat penting sekali sesuai dengan tabel 2.2 (Skala Matrik Perbandingan Berpasangan). Dari susunan matrik perbandingan berpasangan dihasilkan sejumlah prioritas yang merupakan pengaruh relatif sejumlah elemen pada elemen di dalam tingkat yang ada diatasnya. Perhitungan eigen vector dengan mengalikan elemen-elemen pada setiap baris dan mengalikan dengan akar n, dimana n adalah elemen. Kemudian melakukan normalisasi untuk menyatukan jumlah kolom yang diperoleh. Dengan membagi setiap nilai dengan total nilai pembuat keputusan bisa menentukan tidak hanya urutan ranking prioritas setiap tahap perhitungannya tetapi juga besaran prioritasnya. Kriteria tersebut dibandingkan berdasarkan opini setiap pembuat keputusan dan kemudian diperhitungkan prioritasnya. Perbandingan kriteria berpasangan dapat di lihat seperti pada Tabel 2.3.