Keberhasilan Identifikasi Sampel Darah Kering yang Dipaparkan pada Beragam Jenis Substrat Kayu dengan Kondisi Lingkungan Berbeda Selama Kurun Waktu Tertentu (Successful Identification of Dry Blood Samples Presented on Various Types of Wood
Substrates with Different Environmental Conditions Over a Period of Time)
Ft. Dea Elma Eldiana1, Desti Christian Cahyaningrum1 & Bowo Nurcahyo2
1)Prodi Biologi, Fakultas Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga
2) Laboratorium Forensik, Unit KimBio Cabang Semarang, Jawa Tengah Email : [email protected]
Memasukkan: Oktober 2021, Diterima: Januari 2022
ABSTRACT
Most of the criminal cases leave traces at the TKP (Tempat Kejadian Perkara) which can be used as evidence to reveal the culprit and the chronology of events that have occurred. Blood is the most important biological evidence in TKP. Through experimental research with a completely randomized design (CRD), this study aims to determine the success rate of blood groups identification in different types of Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) as wood substrate in open and closed environmental conditions up to a certain time period. The four variations of Sengon wood substrate used were natural wood, processed wood, painted wood, and varnished wood. After 336 hours exposure on wood substrate, blood sample on the substrate was confirmed to identify the ABO system blood group using the absorption-elusion method. The results showed that the success rate identification the blood groups in ABO system on all types of Sengon wood substrate in closed environmental conditions reached a 100% for observation periods until 336 hours. Despite, the success rate of blood identification from all types wood substrate in open environmental condition were 0% for observation periods until 336 hours. Those data was then tested for normality with SPSS. The results showed that the data are not normally distributed (sig >0,00) for all type of treatmment. So that non-parametric statistical tests were carried out. The results of the Kruskall Wallis test showed that there was no significant difference between the treatment of Sengon wood substrate types and also in the length of time of observation (sig value 1,000). While the significance value on the environmental condition variable is 0.000, so it was concluded that there was a significant success rate's differences of blood group identification in samples that exposed to an open environment compared to a closed environment. This is reinforced by the results of the Kendall's correlation test and Spearman's test which show a strong correlation between the percentage of successful identification of blood groups and environmental conditions (correlation of 1,000). While the correlation value between the percentage of successful identification of blood group with the type of substrate and the length of time of exposure are 0.000 and 0.000, which is indicates a very weak correlation between the percentage of success of blood group with the type of substrate and the length of time of exposure. It can be concluded that the four types of wood substrates in closed environmental conditions had the same good ability to preserve blood within an exposure time of up to 336 hours. But, sample exposure in a closed environment provides the best percentage of success rate identification the blood groups in ABO system rather than the open environment was.
Key words: ABO’system; absorption-elusion; dried blood; Sengon wood
ABSTRAK
Sebagian besar kasus pidana meninggalkan jejak di TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang dapat dijadikan alat bukti untuk mengungkap pelaku dan kronologis kejadian yang telah terjadi. Darah merupakan bukti biologis terpenting dalam TKP. Melalui penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan identifikasi golongan darah pada berbagai jenis Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) sebagai substrat kayu pada kondisi lingkungan terbuka dan tertutup sampai batas waktu tertentu. Empat variasi substrat kayu sengon yang digunakan adalah kayu alam, kayu olahan, kayu dicat, dan kayu pernis. Setelah 336 jam pemaparan pada substrat kayu, sampel darah pada substrat dikonfirmasi untuk mengidentifikasi golongan darah sistem ABO menggunakan metode absorbsi-elusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan identifikasi golongan darah sistem ABO pada semua jenis substrat kayu sengon pada kondisi lingkungan tertutup mencapai 100% untuk periode pengamatan sampai 336 jam. Meskipun demikian, tingkat keberhasilan identifikasi darah dari semua jenis substrat kayu dalam kondisi lingkungan terbuka adalah 0% untuk periode pengamatan sampai 336 jam. Data tersebut kemudian diuji normalitasnya dengan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal (sig >0,00) untuk semua jenis perlakuan. Sehingga dilakukan uji statistik non parametrik. Hasil uji Kruskall Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang nyata antara
PENDAHULUAN
Hampir setiap kasus kriminal, meninggal- kan jejak di TKP (Tempat Kejadian Perkara) yang dapat dijadikan sebagai barang bukti. Besi, kain atau serat baju, rambut, air liur, darah, sperma, kulit, sidik jari, hingga darah kering, merupakan barang bukti yang bisa ditemukan di TKP. Darah termasuk dalam barang bukti biologis yang sangat penting untuk dianalisa dalam forensik (Jauhani et al. 2020). Barang bukti berupa darah dapat mengungkap pelaku maupun korban pada kasus kriminal. Hal ini karena barang bukti berupa darah dapat memberikan informasi mengenai golongan darah bahkan profil Deoxyribonucleic Acid (DNA), dan dengan demikian dapat ditelusuri siapa pemilik darah tersebut yang akhirnya mengarahkan pada identitas pelaku atau korban.
Barang bukti berupa darah biasanya dianalisis oleh tim forensik dengan beberapa cara, salah satunya adalah dengan menganalisis golongan darah pada darah kering tersebut.
Sistem penggolongan darah yang biasa digunakan adalah sistem ABO. Penggolongan darah sistem ABO merupakan penggolongan darah berdasarkan pada jenis antigen yang dimilikinya. Antigen merupakan molekul protein khusus yang diturunkan kepada suatu individu secara genetis dan berada pada permukaan membran plasma sel darah merah.
Analisis barang bukti berupa darah kering menggunakan sistem ABO lebih sering digunakan karena antigen yang terdapat pada permukaan plasma darah merah dapat bertahan dan tetap utuh walaupun sel darah merah tersebut telah hancur (Li 2015).
Antigen dan antibodi yang tidak sesuai,
dapat menghasilkan reaksi aglutinasi atau penggumpalan sel darah merah. Oleh sebab itu antigen juga disebut sebagai aglutinogen dan pasangan antibodinya disebut aglutinin. Darah yang memiliki antigen tipe A pada permukan membran plasmanya (golongan darah A), dapat menghasilkan antibodi terhadap antigen tipe B sehingga terjadi aglutinasi. Darah yang memiliki antigen tipe B pada permukan membran plasmanya (golongan darah B), dapat menghasilkan antibodi terhadap antigen tipe A sehingga terjadi aglutinasi. Sementara itu, darah yang memiliki antigen tipe A dan B pada permukan membran plasmanya (golongan darah AB), tidak dapat menghasilkan antibodi terhadap antigen tipe A maupun B dan dikenal sebagai recipien universal.
Sebaliknya, darah yang tidak memiliki antigen tipe A ataupun tipe B namun dapat menghasilkan antibodi terhadap antigen tipe A dan tipe B dikenal sebagai golongan darah O dan merupakan donor universal (Widiyanti 2019). Identifikasi golongan darah sistem ABO pada barang bukti berupa darah kering umumnya dilakukan dengan metode absorpsi-elusi. Dasar dari metode ini adalah dengan melakukan absorpsi antibodi pada antigen yang ada pada sampel dan kemudian melakukan elusi dari antibodi-antigen yang terdapat pada sampel tadi. Metode ini pertama kali ditemukan oleh Siracusa dan dapat dilakukan pada sampel jaringan lunak maupun keras (Farhud et al. 2013).
Darah kering sebagai barang bukti yang ditemukan di TKP bisa saja terpapar di berbagai jenis substrat, salah satunya adalah substrat kayu. Menurut Laupa (2013) kayu merupakan salah satu barang bukti yang perlu dicari pada saat olah TKP. Hal ini karena adanya kemungkinan tertinggalnya darah pada kayu perlakuan jenis substrat kayu sengon dan juga lama waktu pengamatan (nilai sig 1.000). Sedangkan nilai signifikansi pada variabel kondisi lingkungan adalah 0,000, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan tingkat keberhasilan identifikasi golongan darah yang signifikan pada sampel yang terpapar lingkungan terbuka dibandingkan dengan lingkungan tertutup. Hal ini diperkuat dengan hasil uji korelasi Kendall dan uji Spearman yang menunjukkan korelasi yang kuat antara persentase keberhasilan identifikasi golongan darah dengan kondisi lingkungan (korelasi 1.000). Sedangkan nilai korelasi antara persentase keberhasilan identifikasi golongan darah dengan jenis substrat dan lama waktu pemaparan adalah 0,000 dan 0,000 yang menunjukkan korelasi yang sangat lemah antara persentase keberhasilan golongan darah dengan jenis substrat. dan lamanya waktu pemaparan. Dapat disimpulkan bahwa keempat jenis substrat kayu dalam kondisi lingkungan tertutup memiliki kemampuan yang sama baik untuk mengawetkan darah dalam waktu pemaparan hingga 336 jam.
Namun, paparan sampel dalam lingkungan tertutup memberikan persentase terbaik dari tingkat keberhasilan identifikasi golongan darah dalam sistem ABO daripada lingkungan terbuka.
tersebut, sesuai dengan prinsip Locard (Locard’s exchange). Prinsip Locard menyebutkan bahwa sebuah kejadian kontak dari dua benda apapun kemungkinan besar akan mengalami pertukaran berupa tertinggalnya sebuah materi di TKP.
Selain itu, kayu adalah subtrat dengan per- mukaan kasar yang memiliki kecenderungan untuk mempertahankan bukti berupa darah bila dibandingkan dengan substrat berpermukaan halus (Yudianto 2019). Meskipun pada praktik- nya di lapangan, identifikasi golongan darah kering yang terdapat pada substrat kayu sebagai barang bukti tidak selalu berhasil. Darah kering pada substrat kayu dapat mengalami degradasi di TKP karena lama pemaparan, suhu, ke- lembaban, sinar ultra violet, bahan kimia, bakteri, jamur dan aktivitas enzimatik (Castro &
Cycle 2013). Berbagai faktor tersebut menyebab- kan perubahan kimiawi maupun fisiologis sampel darah yang ada pada barang bukti. Oleh karena itu, jenis substrat dan kondisi lingkungan dapat menjadi penentu keberhasilan dalam upaya analisis darah kering sebagai barang bukti.
Informasi mengenai keberhasilan identifikasi darah kering pada beragai jenis substrat dalam kondisi lingkungan tertentu dan selama kurun waktu tertentu menjadi penting sebagai acuan dalam menghadapi kasus kriminal yang sesungguhnya. Informasi tersebut dapat diperoleh dengan melakukan simulasi menggunakan sampel darah yang sengaja di paparkan pada substrat kayu tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu dan selama kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dilakukan simulasi untuk mengetahui kemampuan berbagai jenis substrat kayu Sengon (Paraserianthes falcataria L. Nielsen) dalam mengawetkan sampel darah dengan kondisi lingkungan berbeda yang dilihat dari presentase keberhasilan identifikasi golongan darah sistem ABO pada setiap jenis substrat hingga waktu pemaparan selama 14 hari.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan yang digunakan dalam penelitian antara lain kayu sengon (Paraserianthes falcataria L.
Nielsen) yang masih alami, yang telah diolah (papan atau balok), yang telah dicat, serta yang dipernis sebagai sampel substrat (Gambar 1). Sedangkan
sampel darah kering diperoleh dari probandus yang sudah diketahui memiliki golongan darah O.
Kedua bahan tersebut digunakan untuk mensimulasikan terbentuknya barang bukti berupa darah kering yang terpapar pada subtrat dasar kayu dengan jenis berbeda-beda selama kurun waktu tertentu sebagai perlakuan dalam penelitian. Perlakuan lain dalam penelitian ini adalah kondisi lingkungan yang berbeda, yaitu kondisi lingkungan tertutup dan terbuka.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Adapun dua faktor dalam penelitian ini adalah jenis substrat kayu dan kondisi lingkungan. Penelitian diawali dengan memaparkan sebanyak 5 cc sampel darah segar dari probandus pada berbagai jenis subtrat kayu Sengon. Substrat tersebut kemudian diletakkan pada dua kondisi lingkungan berbeda, yaitu kondisi lingkungan terbuka dan tertutup.
Pemaparan tersebut dilakukan hingga kurun waktu paling lama 14 hari. Selama waktu pemaparan, dilakukan pengamatan terhadap beberapa parameter lingkungan yang meliputi suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya setiap pukul 06.00, 12.00, dan 18.00 WIB. Sampel darah kemudian dibiarkan terpapar pada substrat dengan waktu pemaparan terlama hingga 14 hari. Secara lebih rinci, perlakuan dalam penelitian ini adalah: darah pada substrat kayu Sengon alami di lingkungan terbuka (S1), darah pada substrat kayu hasil olahan di lingkungan terbuka (S2), darah pada substrat kayu yang dicat di lingkungan terbuka (S3), darah pada substrat kayu yang dipernis pada lingkungan terbuka (S4), darah pada substrat kayu Sengon
Gambar 1. Substrat kayu yang digunakan untuk paparan darah. Kayu Sengon alami (A);Kayu olahan (B); Kayu dicat (C); Kayu dipernis (D).
alami di lingkungan tertutup (S5), darah pada substrat kayu hasil olahan di lingkungan tertutup (S6), darah pada substrat kayu yang dicat di lingkungan tertutup (S7), darah pada substrat kayu yang dipernis pada lingkungan tertutup (S8).
Dilakukan ulangan sebanyak 3 kali pada setiap jenis perlakuan.
Sampel darah yang telah disimulasikan terpapar pada subtrat kayu tertentu dalam kondisi lingkungan tertentu serta selama kurun waktu tertentu sesuai dengan rancangan percobaan kemudian dianalisis. Analisis diawali dengan memindahkan sampel darah yang telah mengering dari substrat ke kain kasa berukuran 2x2 cm. Pemindahan darah dilakukan dengan mengusap substrat menggunakan kain kassa yang sudah dibasahi larutan NaCl 0,98% (Instruksi Laboratorium Forensik Polri, 2012). Selanjutnya dilakukan uji untuk mengkonfirmasi ada tidaknya sampel darah pada kain kasa tersebut. Hasil positif terjadi jika terjadi perubahan warna sampel menjadi hijau-kebiruan setelah ditetesi dengan H2O2 (Hidrogen Peroksida). Hal ini muncul karena terjadinya reaksi antara H2O2 dengan molekul Fe pada sampel darah yang berikatan sehingga terbentuk warna hijau kebiruan (Putri, 2015).
Sampel yang menunjukkan hasil positif pada uji persumtif kemudian diidentifikasi golongan darahnya berdasarkan penggolongan darah sistem ABO dengan metode absorbsi-elusi yang mengacu pada pada Kind (1960) dan Saluja (2014). Pada metode tersebut digunakan antisera untuk mengidentifikasi golongan darah sampel.
Antisera adalah reagen yang digunakan untuk pemeriksaan golongan darah ABO pada metode ini. Reagen ini diperoleh dari biakan supernatan secara in vitro yang berasal dari hibridisasi immunoglobin sel tikus (Oktari & Silvia, 2016).
Disediakan tiga jenis antisera berbeda untuk mengidentifikasi golongan darah pada sampel darah yang terdapat pada setiap kain kasa secara terpisah. Hasil positif ditunjukkan oleh terjadinya aglutinasi sebagai hasil reaksi darah dengan antisera tertentu, sedangkan hasil negatif ditunjukkan oleh tidak terjadinya aglutinasi, namun sebaliknya terjadi lisis yang ditunjukkan dengan keruhnya sampel ketika tabung di- homogenkan.
Sampel darah yang berhasil diidentifikasi
golongan darahnya kemudian dicatat untuk menghitung presentase keberhasilan identifikasi golongan darah pada setiap perlakuan. Data berupa presentase keberhasilan identifikasi golongan darah pada setiap perlakuan kemudian dianalisis dengan uji normalitas, uji korelasi uji menunjukkan ada atau tidaknya korelasi yang kuat antara presentase keberhasilan identifikasi golongan darah dengan jenis substrat kayu maupun kondisi lingkungan.
HASIL
Kondisi lingkungan
Lingkungan tertutup menunjukkan temperatur tertinggi dengan suhu 27,9oC dan terendah 22,8oC. Kelembaban udara tertinggi 99% dan kelembaban terendah yaitu 73%; intensitas cahaya tertinggi 360 lux dan intensitas cahaya terendah 10 lux. Sedangkan pada pengamatan lingkungan terbuka menunjukkan temperatur tertinggi dengan suhu 29,1˚C dan terendah 21˚C; kelembaban tertinggi 98% dan terendah 70%; intensitas cahaya menunjukkan nilai tertinggi yaitu 16000 lux dan nilai terendah 10 lux. Berdasarkan data kondisi lingkungan tersebut, diketahui bahwa intensitas cahaya pada kondisi lingkungan tertutup dan terbuka sangat berbeda (Tabel 1, 2)
Uji Presumtif Darah
Sampel darah dari semua jenis substrat kayu baik di lingkungan terbuka maupun tertutup kemudian dipindahkan ke kain kasa setelah lama waktu pemaparan 11 hari, 12 hari, 13 hari, dan 14 hari sebagai uji presumtif sebelum melakukan identifikasi golongan darahnya.
Secara visual, pada perlakuan lingkungan tertutup dan terbuka menunjukkan perbedaan warna noda pada kain kasa yang mencolok setelah proses transfer tersebut (Gambar 2).
Kenampakan warna noda yang lebih gelap dan pekat terdapat pada sampel darah yang dipaparkan pada berbagi jenis substrat kayu di lingkungan tertutup. Sedangkan pada sampel darah yang telah dipaparkan pada berbagai substrat kayu di lingkungan terbuka warna noda pada kain kasa terlihat lebih pudar. Noda pada kain kassa diasumsikan sebagai sampel darah
yang telah ditransfer ke kain kasa. (Gambar 3).
Identifikasi Golongan Darah
Sampel yang positif mengandung darah selanjutnya diidentifikasi golongan darahnya.
Identifikasi golongan darah dilakukan dengan menggunakan metode absorpsi-elusi. Metode tersebut digunakan karena lebih sensitif dalam mendeteksi adanya antigen secara tidak langsung dibanding dengan metode lainnya.
Metode absorpsi-elusi telah dilakukan sejak
Gambar 2. Hasil uji presumtif kehadiran darah pada sampel yang dipaparkan pada substrat kayu dalam kondisi lingkungan tertutup kayu alam 264 jam, kayu olahan 264 jam, kayu dicat 264 jam, dan kayu dipernis 264 jam (dari kiri ke kanan).
Gambar 3. Hasil uji presumtif kehadiran darah pada sampel yang dipaparkan pada substrat kayu dalam kondisi lingkungan terbuka lingkungan tertutup dengan perlakuan kayu alam 264 jam, kayu olahan 264 jam, kayu 264 jam, kayu dipernis 264 jam (dari kiri ke kanan).
Hari/jam Waktu (Jam)
Ke- Suhu
(°C)
Kelembaban (%)
IC (Lux)
1 (0 jam) 12.00 25,9 89 30
18.00 24,1 90 40
06.00 23 99 40
2 (24 jam) 12.00 24,7 93 80
18.00 24,3 91 30
06.00 22,8 91 50
3 (48 jam) 12.00 26,5 77 140
18.00 25 79 20
06.00 23,1 88 20
4 (72 jam) 12.00 24,8 80 200
18.00 24,4 82 10
06.00 23,1 91 50
5 (96 jam) 12.00 27,1 77 360
18.00 27 76 10
06.00 23 89 30
6 (120 jam) 12.00 27,5 79 350
18.00 25,6 88 20
06.00 24 82 30
7 (144 jam) 12.00 27,4 77 330
18.00 26,3 80 20
06.00 24,4 78 20
8 (168 jam) 12.00 27,7 76 320
18.00 26,2 73 10
06.00 24,4 80 10
Lingkungan
Tabel 1. Data pengamatan rata-rata kondisi lingkungan tertutup (sumber: dok pribadi, 2021)
Hari/jam Waktu
Ke- (Jam) Kelembaban (%)
1 (0 jam) Hujan
deras 12.00- 18.00 Hujan deras 18.00- 20.23 06:00 21 93 2010 Berawan
2 (24 jam) Hujan
deras 12.00- 17.25 Berawan mendung
18:00 24.7 90 20
18:00 25.5 88 20
12:00 25.2 95 1530
Lingkungan
Suh u (°C)
IC (Lux )
Cuaca
12:00 26.6 90 4090
Tabel 2. Data pengamatan rata-rata kondisi lingkungan terbuka.
hujan yang tinggi menyebabkan hilangnya sampel darah dari permukaan substrat sebelum sampel darah sempat masuk ke dalam substrat dan meninggalkan jejak dalam waktu yang lama. Hal ini dikarenakan air mempunyai kemampuan dalam melarutkan zat (Rahayu 2021). Dugaan tersebut sejalan dengan hasil pengamatan secara visual yang menunjukkan bahwa semakin lama waktu pemaparan, warna darah pada substrat kayu di lingkungan terbuka semakin memudar dan diduga merupakan akibat dari tercucinya sampel darah pada substrat oleh hujan yang turun sejak hari pertama pemaparan.
Mudah tidaknya peristiwa pencucian sampel darah dari substrat kayu diduga juga dipengaruhi oleh karakteristik dari permukaan susbtrat kayu.
Permukaan kayu yang menjadi substrat pada penelitian ini secara alami mengandung zat lilin sebagai penyusun kutikula yang menyebabkannya bersifat kedap air. Hal ini menyebabkan darah yang belum terserap dalam substrat akan mudah terbawa air hujan yang mengalir pada permukaan substrat sejak hari pertama pemaparan. Selain pada substrat berupa kayu alami, pemberian cat dan pernis pada substrat diduga juga akan mempermudah tercucinya sampel darah di permukaan substrat oleh air hujan. Cat minyak dan pernis terbuat dari bahan seperti resin, pigmen, dan ektender. Ekstender pada cat ditambahkan guna meningkatkan daya tutup permukaan yang menyebabkan daya serap kayu akan menurun.
Sehingga kayu akan terlindungi dari berbagai kerusakan pada permukaan kayu beserta perubahannya (Nofrial 2012). Ketika darah diteteskan ke permukaan kayu dicat dan kayu dipernis maka hanya akan menempel pada permukaan cat atau pernis dan tidak terserap oleh substrat sehingga dapat dengan mudah hilang terbawa air hujan.
Sementara itu, hasil pengamatan secara visual pada sampel darah yang dipaparkan pada substrat kayu pada lingkungan tertutup menunjukkan tidak terjadinya pemudaran warna sampel darah yang signifikan di semua jenis substrat kayu. Akan tetapi sampel darah kering yang dipaparkan pada jenis substrat kayu Sengon alami di lingkungan tertutup menunjukkan warna yang paling pudar setelah 12 hari pemaparan.
Berbeda dari sampel pada lingkungan terbuka, pudarnya warna sampel darah pada permukaan tahun 1962 hanya menggunakan noda darah.
Selain itu juga dapat menguji sensitivitas antigen pada sampel dengan mengikat antigen pada sampel yang diduga darah. Oleh karena itu, aglutinasi yang terbentuk akan terlihat jelas dan berbanding lurus dengan jumlah antibodi yang terikat pada sampel (Vala, 2018). Pada metode absorpsi-elusi hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya aglutinasi (Gambar 4).
PEMBAHASAN Kondisi lingkungan
Pada lingkungan terbuka, sampel darah mendapat perlakuan intensitas cahaya yang jauh lebih tinggi dibanding pada lingkungan tertutup.
Menurut Hall et al. (2014), sampel darah yang terkena sinar matahari berpotensi mengalami proses degradasi dan penurunan kualitas sehingga akan menyulitkan proses identifikasi (Jauhani et al. 2020). Selama waktu pemaparan, sampel darah pada kondisi lingkungan terbuka juga mendapatkan paparan hujan sebanyak 9 kali.
Paparan hujan terlama adalah selama 6 jam dengan intensitas hujan deras di hari pelakuan ke-1 pukul 12.00 hingga 18.00. Hingga kurun waktu pemaparan 14 hari, sampel darah secara total terpapar hujan kurang selama lebih 13 jam.
Intensitas hujan akan mempengaruhi konsistensi sampel yang menempel pada substrat serta tingkat kelembaban substrat. Intensitas curah
Gambar 4. Hasil pengamatan pada metode absorbsi elusi: hasil positif (tabung O) hasil negative (tabung A dan B) (sumber: dok pribadi, 2021).
substrat di lingkungan tertutup diduga tidak disebabkan karena peristiwa tercucinya sampel darah dari permukaan substrat namun lebih karena sampel darah pada hari ke 12 telah terserap dari permukaan ke bagian substrat yang lebih dalam.
Uji Presumtif Darah
Hasil pengamatan secara visual tersebut mengindikasikan ada atau tidaknya sampel darah pada substrat setelah pemaparan selama jangka waktu tertentu. Kenampakan warna noda yang lebih gelap dan pekat diduga menunjukkan adanya sampel darah yang masih tersimpan pada substrat setelah pemaparan selama jangka waktu tertentu dan dikondisi lingkungan tertentu. Hal ini dibuktikan melalui hasil uji presumtif darah dengan menambahkan reagen hidrogen peroksida (H2O2) pada setiap sampel. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa kain kassa dengan warna noda lebih gelap dan pekat menunjukkan hasil uji positif. Hasil uji positif ditandai dengan adanya perubahan warna pada kain kassa menjadi hijau kebiruan (Gambar 2).
Sementara itu, hasil uji presumtif pada sampel yang dipaparkan di lingkungan terbuka menunjukkan bahwa noda pada kain kassa sebenarnya sudah tidak mengandung sampel darah kering. Hal ini terlihat dari tidak adanya perubahan warna yang mengindikasikan tidak tidak adanya reaksi antara (H2O2 ) dan gugus heme pada darah (Gambar 3). Penambahan (H2O2 ) pada sampel yang mengandung darah menyebabkan dekomposisi fenton karena kehadiran zat besi (Fe2+) pada darah mengkatalis produksi radikal hidroksi (*OH) yang nantinya akan bereaksi dengan indikator warna. Fenton merupakan reaksi percampuran H2O2 dengan Fe2+
sehingga reaksi kandungan zat besi pada darah dengan hydrogen peroxide.
Hasil negatif uji presumtif pada sampel yang dipaparkan pada substrat kayu di lingkungan terbuka diduga terjadi akibat adanya pengaruh lingkungan berupa paparan sinar matahari dan hujan dengan intensitas yang lebih tinggi dibanding pada sampel di lingkungan tertutup.
Menurut Bremmer (2011) proses oksidasi menjadi salah satu penyebab kerusakan darah oleh lingkungan. Sel darah dapat mengalami kerusakan ketika terkena paparan lingkungan. Interaksi darah
dengan udara sekitar dapat menyebabkan terjadinya deformasi struktur sel darah sehingga sel darah mengalami denaturasi hemoglobin (Edelman 2012).
Selain itu, kerusakan darah dengan munculnya perubahan warna akibat peningkatan laju degradasi pada bercak darah dipengaruhi oleh laju intensitas cahaya dan temperatur (Rahayu 2021).
Identifikasi Golongan Darah
Hasil identifikasi golongan darah pada sampel darah yang dipaparkan pada substrat kayu di lingkungan tertutup menunjukkan presentase keberhasilan identifikasi mencapai 100% untuk semua jenis substrat kayu dan di semua ulangan. Sementara itu sampel darah yang dipaparkan pada substrat kayu di lingkungan terbuka menunjukkan tidak adanya aglutinasi pada semua sampel yang berasal dari semua jenis substrat kayu, pada semua interval waktu pemaparan serta pada semua ulangan. Sehingga persentase keberhasilan identifikasi sampel darah di lingkunga terbuka adalah sebesar 0%
pada semua jenis substrat kayu, di semua interval waktu pengamatan, serta di semua ulangan (Gambar 5).
Munculnya hasil negatif pada sampel diduga akibat kehadiran darah dalam kuantitas rendah atau bahkan tidak ada sama sekali.
Menurut Al Tamimi et al (2012) aglutinasi darah dipengaruhi oleh jumlah antibodi yang berikatan dengan antigen pada sel darah merah. Hasil absorbsi-elusi ini sejalan dengan hasil uji presumtif darah. Sampel yang menunjukkan hasil negatif pada uji presumtif darah juga menunjukkan hasil negatif pada uji identifikasi golongan darah dengan metode absorbsi–elusi.
Hal ini menjadi logis, mengingat sampel yang tidak mengandung darah berdasarkan hasil uji presumtif, tentu saja akan menunjukkan hasil negatif pada identifikasi golongan darahnya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil uji presumtif yang dilakukan sudah valid, demikian juga sebaliknya hasil identifikasi golongan darah yang dilakukan juga sudah valid.
Pada semua perlakuan, hasil uji tersebut menunjukkan nilai asymp sig >0,05 sehingga disimpulkan bahwa data yang diperoleh tidak terdistribusi normal. Oleh karena itu, data kemudian di uji dengan statistika non-parametrik.
Berdasarkan uji nonparametrik menggunakan uji
kruskall wallis pada variabel jenis substrat dan lama waktu pemaparan didapatkan nilai asympg. sig >0,05. Hal ini menunjukkan tidak adanya beda nyata antara data hasil perlakuan jenis substrat kayu serta lamanya waktu pengamatan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis substrat kayu alami, kayu olahan, kayu di cat dan kayu dipernis memiliki kemampuan yang sama dalam mengawetkan sampel darah kering sebagai barang bukti tindak kriminal hingga lama waktu pemaparan 14 hari. Sedangkan nilai signifikasi pada variabel kondisi lingkungan adalah sebesar <0,05, sehingga disimpulkan terdapat beda nyata pada tingkat keberhasilan identifikasi golongan darah pada sampel yang dipaparkan di lingkungan terbuka dibandingkan pada lingkungan tertutup. Hal tersebut diperkuat dengan hasil uji korelasi Kendall’s yang menunjukkan adanya korelasi yang kuat antara presentase keberhasilan identifikasi golongan darah dengan kondisi lingkungan (korelasi sebesar 1,000 atau >0,05). Sedangkan nilai korelasi antara presentase keberhasilan identifikasi golongan darah dengan jenis substrat dan lama waktu pemaparan berturut- turut adalah sebesar 0,000 dan 0,000 atau nilai
a b c d
e f g h
Gambar 5. Hasil identifikasi golongan darah dengan metode absorbsi-elusi dari sampel lingkungan tertutup:
(a) kayu alam 264 jam, (b) kayu olahan 264 jam, (c) kayu dicat 264 jam, dan (d) kayu dipernis 264 jam; dari sampel lingkungan terbuka (e) kayu alam 264 jam, (f) kayu olahan 264 jam, (g) kayu dicat 264 jam, (h) kayu dipernis 264 jam.
asympg. Sig <0,05, hal ini menunjukkan bahwa presentase keberhasilan golongan darah tidak berkorelasi dengan dengan jenis substrat kayu dan lama waktu pemaparan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa jenis substrat kayu alami, kayu olahan, kayu di cat dan kayu dipernis pada kondisi lingkungan tertutup memiliki kemampuan yang sama dalam mengawetkan sampel darah kering sebagai barang bukti tindak kriminal hingga lama waktu pemaparan 14 hari. Akan tetapi, kondisi lingkungan terbuka sangat mempengaruhi kemampuan substrat kayu dalam mengawetkan sampel darah kering sebagai barang bukti tindak kriminal hingga lama waktu pemaparan 14 hari. Kondisi lingkungan terbuka menyebabkan kegagalan identifikasi golongan darah karena sampel darah tidak dapat tersimpan dengan baik pada semua jenis substrat kayu.
KONTRIBUSI PENULIS
DEE berperan sebagai penulis utama dalam naskah ini dengan dibantu oleh DCC dan BN sebagai pengarah dan pembimbing dalam penelitian hingga penulisan naskah. DCC akan berperan sebagai penulis korespondensi lebih lanjut.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terimakasih atas ijin serta dukungan dana penelitian berupa alat dan bahan penelitian kepada Bapak Bowo Nurcahyo selaku kepala unit Laboratorium Forensik Cabang Semarang, Jawa Tengah karena sudah diperbolehkan melakukan penelitian serta bantuan mulai dari persiapan hingga keluarnya hasil penelitian. Ucapan terimakasih juga kepada dosen pembimbing dan laboran, Fakultas Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana yang telah memberikan kesempatan sehingga penelitian dapat terlaksana dan pihak- pihak lain yang berkontribusi dalam penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Tamimi, M, W. Shen, R. Zeineddine, H.
Tran, & G.Garnier. 2012. Validation of Paper-Based Assay for Rapid Blood Typing. Analytical Chemistry. 84: 1661- 1668.
Bremmer, RH, DM. De Bruin, M. Joode, WJ.
Buma, TG. Van Leeuwen, & MCG.
Aalders. 2011. Biphasic Oidation of Oxy- hemoglobin in Bloodstains. PlosOne. 6 (7): 1-6.
Bremmer, RH, GDB. Karl, JCVGG. Martin, TG. Van Leeuwen, & MCG. Aalders.
2012. Forensic Quest for Age Determination of Bloodstains. Forensic Science International. 216: 1-11.
Castro, DM, & HM. Coyle. 2013. Biological Evidence Collection and Forensic Blood Identification. USA: University of New Haven.
Daeid, NN, & MM. Houck. 2007. Interpol's Forensic Science Review. Florida: CRC Press.
Edelman, G, GVL. Ton, & CGA. Maurice.
2012. Hyperspectral imaging for the age estimation of blood stains at the crime scene. Forensic Science International.
223: 72-77.
Farhud, DD, & MZ. Yeganeh. 2013. A Brief History of Human Blood Groups. Iranian J Publ Health, Volume 42 No. 1, pp 1-6.
Fauzan, F. 2019. Keberhasilan Identifikasi Golongan Darah Pada Sampel Darah Kering Yang Terpapar Pada Beragam Jenis Kayu Dalam Kondisi Berbeda.
Hall, A., LM. Sims, & J. Ballantyne. 2014.
Assessment of DNA damage induced by terrestrial UV irradiation of dried bloodstains: Forensic implications. Forensic Science International Genetic 8(1): 24–
32.
Hara, M, H. Nakanishi, K. Yoneyama, K. Saito,
& Takada. 2016. Effect of Storage Conditions on Forensic Examinations of Blood Samples and Bloodstains stored for 20 years.
Instruksi Kerja Laboratorium Forensik Polri dipublikasi oleh Sub bagian manejemen mutu tahun 2012. Puslabfor Jakarta.
Jauhani, MA, R. Sheilla, & Y. Ahmad. 2020.
Kualitas dan Kuantitas DNA pada Bercak Darah Pascapaparan Tanah dan Ultraviolet-C. Journal of Agromedicine and Medical Sciences 6 (3): 181-184.
Khoodijah, NM, & N. Qomariyah. 2019.
Derajat Aglutinasi Pemeriksaan Golongan Darah Metode Cell Grouping Berdasarkan Tingkat Konsnetrasi Suspensi Sel. Jurnal Jaringan Laboratorium Medis. 1(1): 27- 33.
Laupa, J. 2013. Sains Forensik Pastikan Penjenasah Tidak Terlepas. Utusan Melayu, Jakarta.
Li, R. 2015. Forensic Biology Second Edition.
New York: Taylor & Francis Group.
Mohite, PM, A. Keche, AJ. Anjankar, & S.
Ninave. 2011. Effect of Ageing &
Enviromental Condition for Detection of Blood Group from Blood Stain. Indian Acad Forensic Med. 33(4): 308-310.
Muhati, I. 2017. Keberhasilan Identifikasi Golongan Darah Pada Sampel Darah Kering Yang Terpapar Pada Substrat Dan Kondisi Berbeda. Purwokerto:
Universitas Jenderal Soedirman.
Naim, N. 2015. Pengaruh Variasi Pengenceran Antisera Terhadap Hasil Pemeriksaan Golongan Darah ABO Landstainer.
Media Analis Kesehatan. 6 (1): 27-34.
Nofrial. 2012. Finishing Kayu dari Bahan Alam. Jurnal Seni Kriya. 1(1): 26-41.
Pandit, IKN, D. Nandika, & IW. Darmawan.
2011. Analisis Sifat Dasar Kayu Hasil Hutan Tanaman Rakyat (Analysis of Wood Character of Social Plantation Forests). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto.
16(2): 119-124.
Putri, NPP, & IK. Junitha. 2015. Kualitas dan Kuantitas Dna Darah Kering pada Besi dan Kayu Yang Disimpan Dalam Kurun Waktu Berbeda. Jurnal Biologi. 19(1): 21 -24.
Rahayu, DP, CC. Desti, & N. Bowo. 2021. The Effect of Wall Type and Environmental Conditions toward Blood Type Identification Success Rate in Identifying Criminal Evident. Jurnal Biologi Tropis.
21(2): 607–614.
Safitri, R, & G. Rachmat. 2016. Studi Kelayakan Kayu Bekas Landasan Peti Kemas Sebagai Elemen Interior Lepas.
Visual Art & Design Journal, IV (3), pp.
243-252.
Sakina, A. 2020. Identifikasi Golongan Darah Sistem ABO Pada Sampel Darah Kering Yang Dipaparkan Pada Beragam Jenis
Substrat Kayu Sengon Dengan Variasi Waktu Dan Kondisi Lingkungan Yang Berbeda. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan.
Soderquist, TJ, OM. Chesniak, MR. Witt, A.
Paramo, VA. Keeling, & JJ. Keleher.
2012. Evaluation of The Catalytic Decomposition of H2O2 Through Use of Organo-Metalic Complexes - A Potential Link to The Luminol Presumptive Blood Test. Forensic Science International.
219:101-105.
Thanakiatkrai, P, A. Yaodam, & T. Kitpipit.
2013. Age estimation of bloodstains using smartphones and digital image analysis.
Forensic science international. 233: 288- 297.
Vala, D, SN. Abhishek, VK. Pooja, B.
Kartheeki, N. Patel, V. Devanshi, & P, Tanmay. 2018. Determination of ABO Blood Grouping from Dentine and Pulp by Absorption-elution Technique.
International Journal of Orofacial Biology . 1(2): 70-80.
Widiyanti, NLPM, MC. Desak, & AM. Gusti.
2019. Golongan Darah dari Hasil Uji Laboratorium Di Berbagai Wilayah Bimbingan Teknis Balai Besar Laboratorium Kesehatan. Prosiding SENADIMAS Ke-4. 301-310.
Yudianto, A. 2019. DNA Touch dalam Identifikasi Forensik. Surabaya: Scopindo Media Pustaka, pp. 19.