BAB V
PERENCANAAN LAYOUT
5.1. Pendahuluan
Perencanaan layout adalah penataan fasilitas pelabuhan peti kemas agar lahan yang ada dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam perencanaan layout adalah :
1. Besarnya volume kebutuhan terhadap adanya pelabuhan peti kemas tersebut.
2. Ruang pelabuhan harus dapat dimanfaatkan seefisien mungkin.
3. Layout disesuaikan dengan kondisi alam yang ada.
4. Berbagai fungsi dapat diintegrasikan secara menyeluruh.
5. Kemudahan terhadap perawatan, manajemen, operasional, dan utilitas.
6. Adanya persiapan untuk pengembangan selanjutnya dan perhatian terhadap dampak lingkungan.
5.2. Lokasi
Pemilihan lokasi untuk pelabuhan peti kemas ini tidak bebas karena sudah ditentukan oleh pihak investor. Hal ini disebabkan karena pihak investor tidak ingin mengubah master plan kawasan industri Galang Batang yang sudah ada. Sehingga perencanaan pelabuhan ini disesuaikan dengan master plan kawasan industri Galang Batang yang sudah ada. Lokasi rencana pembangunan pelabuhan peti kemas ini adalah di pantai timur desa Desa Galang Batang, Kecamatan Kijang, Kabupaten Kepulauan Riau dengan letak astronomi 10439’54”104 36’57”
BT dan 058’10”054’18” LU. Secara detail lokasi pelabuhan ini dapat dilihat pada Gambar 5.1.
5.3. Alternatif Layout
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan perencanaan layout pelabuhan peti kemas diatas dan melihat kondisi alam lokasi yang tersedia maka terdapat dua alternatif layout pelabuhan peti kemas yangdiusulkan untuk dipilih. Kedua alternatif layout tersebut dapat dilihat pada Gambar 5.2 dan Gambar 5.3.
GUNUNG KIJANG POWER PLAN
JALAN KIJA
NG - KAW AL
UTARA
= LAUT / PERAIRAN
TUGAS AKHIR
KETERANGAN : STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PELABUHAN PETI KEMAS DI PULAU
BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU INSTITUT TEKNOLOGI 10
NOPEMBER SURABAYA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN
PERENCANAAN
PEMBIMBING :
IR. DYAH IRIANI, MSc.
NAMA MAHASISWA / NRP : OKA CANDRA SUKMANA
3102 100 016
SKALA:
NOMOR GAMBAR : 5.1 JUDUL GAMBAR:
LOKASI PELABUHAN YANG TERSEDIA
RECREATION AREA
P. PENGIDAN
P. BUTON
PT. KORINDO
RECREATION AREA RESIDENTTIAL HOUSE MALL
SPORT FACILITY PUJASERA
MOSQUE
SCHOOL RESIDENTTIAL
HOUSE
CENTRAL TERMINAL
APARTEMENT DORMITORY UNIVERSITY
SUPER MARKET HOTEL
OFFICE FRESH WATER PLANT/STATION
RIVER
SPORT CENTER POLICE
PUJASERA SPORT CENTER
RECREATION AREA
WATER SPORT PUJASERA
PERTAMINA
INDUSTRIAL PARKS INDUSTRIAL PARKS INDUSTRIAL PARKS INDUSTRIAL PARKS INDUSTRIAL PARKS
INDUSTRIAL PARKS
INDUSTRIAL PARKS
INDUSTRIAL PARKS
INDUSTRIAL PARKS INDUSTRIAL PARKS INDUSTRIAL PARKS INDUSTRIAL PARKS
INDUSTRIAL PARKS
INDUSTRIAL PARKS
INDUSTRIAL PARKS
RECYCLING PARKS RECYCLING PARKS RECYCLING PARKS RECYCLING PARKS RECYCLING PARKS
RECYCLING PARKS RECYCLING PARKS
RECYCLING PARKS
RECYCLING PARKS
RECYCLING PARKS
RECYCLING PARKS
RECYCLING PARKS
RECYCLING PARKS TERMINAL AREA
BUILDING RECYCLING AREA
SEASEASELAT KIJANG
SEA
SEA
SEA
SEA
LOKASI PELABUHAN
330 m
-13mLWS -13mLWS
-13mLWS
SKALA:
AREA PENJANGKARAN D = 420 m
K APAL PET I KEMAS GENERASI KEEMPAT JALUR PORTAINER K ANT OR
PE LAB UHAN CFS LOK AS I RENCANA PENGE MBANG AN CFS , PARK IR, KANTOR DAN
FASILIT AS LAINNYA PARK IR T RUCK D AN
CHAS SIS
K APAL PET I KEMAS GENERASI KEEMPAT
K APAL PET I KEMAS GENERASI KEEMPAT PETI KEMAS MUAT (EKSPOR)PETI KEMAS MUAT (EKSPOR)
PETI KEMAS MUAT (EKSPOR)
PETI KEMAS MUAT (EKSPOR)
PETI KEMAS BONGKAR (IMPOR) DAN PETI KEMAS KOSONGPETI KEMAS MUAT (EKSPOR) JALUR PORTAINER
JALUR PORTAINER JEMB ATAN
T IMB ANG P OS K E AMANAN
GATE WAY
panjang 3100 m lebar 310 m ALUR MASUK KOLAM PUTAR
Db = 930 m
-5 mLWS
-7 m S-6 mLW LWS
-8 m LWS
-9 m LWS
-10 m LWS
-10 mL WS-9 m
LWS -8 m
LWS -7 m LWS
-6 m LWS -5 m
LWS -6 m
LWS -7 m
LWS -8 m
LWS -9 m
LWS -10 m
LWS
-15 mLWS
SLW0 m-2
ANTU
PANGKIL KCL
= karang
TUGAS AKHIR
KETERANGAN : STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PELABUHAN PETI KEMAS DI PULAU
BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU INSTITUT TEKNOLOGI 10
NOPEMBER SURABAYA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN
PERENCANAAN
PEMBIMBING :
IR. DYAH IRIANI, MSc.
NAMA MAHASISWA / NRP : OKA CANDRA SUKMANA
3102 100 016
NOMOR GAMBAR : 3.
JUDUL GAMBAR:
LAYOUT PELABUHAN ALTERNATIF 1
10 = kontur laut dlm - m
= gunung/perbukitan
+10 mLW
S +7,5m
LWS +5 mLWS SLW2,5 m+ SLW0 m
500 m
330 m 230 m
830 m
KAWASAN INDUSTRI GALANG BATANG
UTARA
JEMB ATAN TIM BANG
-10 m LWS
-6 m LWS
-5 mLWS -15 mLWS -20 mLWS
-5 m LWS
-6 m LWS
-7 m LWS
-8 m LWS
-9 m LWS
-10 m LWS
-10 m LWS-9 m
LWS -8 mLW
S -7 m LWS
-6 m LWS -7 m
mLWS-6 LWS -8 m
LWS -9 m
LWS -10 m
LWS
SKALA:
1 : 20.000
= gunung/perbukitan
= kontur laut dlm - m
10
JUDUL GAMBAR:
LAYOUT PELABUHAN ALTERNATIF 3
NOMOR GAMBAR : 3.
NAMA MAHASISWA / NRP : OKA CANDRA SUKMANA
3102 100 016 PEMBIMBING :
IR. DYAH IRIANI, MSc.
INSTITUT TEKNOLOGI 10 NOPEMBER SURABAYA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN
PERENCANAAN
STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PELABUHAN PETI KEMAS DI PULAU
BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU
KETERANGAN :
TUGAS AKHIR
= karang
CY, CFS, KANTOR,
RENCANA LOKASI KAWASAN INDUSTRI GALANG BATANG
PANGKIL KCL
ANTU
10+
mLW
S 7,5+
LWm
S 5 m+ SLW
SLW m2,5+ SLW0 m
K ANTOR P ELA BUHAN C FS
L OKAS I R EN C ANA PE NGEMBANGAN
C F S, P AR KI R , K ANTOR DAN F ASI LI TA S L AINNYA P AR K IR T R UC K DAN
C HASSIS
PETI KEMAS MUAT (EKSPOR)PETI KEMAS MUAT (EKSPOR)
PETI KEMAS MUAT (EKSPOR)
PETI KEMAS MUAT (EKSPOR)
PETI KEMAS BONGKAR (IMPOR) DAN PETI KEMAS KOSONGPETI KEMAS MUAT (EKSPOR)
UTARA
5.4. Pemilihan Layout
Dari dua alternatif layout diatas dipilih satu layout yang paling baik berdasarkan kriteria-kriteria yang ada. Langkah yang dilakukan dalam pemilihan layout pelabuhan peti kemas adalah :
1. Menetapkan keuntungan dan kerugian masing-masing layout
2. Menyusun rangking alternatif layout berdasarkan hasil evaluasi terhadap keuntungan maupun kerugiannya
Kriteria yang digunakan dalam menentukan keuntungan dan kerugian dari masing-masing alternatif layout adalah :
1. Kondisi perairan
Kondisi perairan sangat mempengaruhi keamanan dari kapal yang bertambat di dermaga. Layout pelabuhan peti kemas ini harus mempunyai perairan yang memenuhi persyaratan kapal sesuai ukuran kapal. Hal tersebut harus dipenuhi agar kapal dapat melakukan kegiatan bongkar muat peti kemas dengan aman.
2. Pelaksanaan
Dalam pembangunan pelabuhan faktor pelaksanaan sangat mempengaruhi waktu dan biaya yang harus dikeluarkan. Sehingga layout pelabuhan yang baik adalah layout yang mudah, cepat, dan murah dalam pelaksanaannya.
3. Perawatan
Biaya perawatan sangat mempengaruhi biaya operasional.
Semakin tua umur pelabuhan maka akan semakin banyak biaya perawatan yang dikeluarkan Sehingga layout yang dipilih adalah layout dengan biaya perawan yang kecil.
4. Pengembangan
Layout yang dipilih harus memungkinkan adanya pengembangan untuk menjamin pelabuhan tersebut akan tetap bisa memenuhi peningkatan kebutuhan pelabuhan.
5. Akses ke dermaga
Akses ke dermaga harus diperhitungkan karena berpengaruh terhadap kapasitas pelabuhan dan mempengaruhi jumlah sarana dan prasarana transportasi yang harus disediakan.
Penilaian keuntungan dan kerugian dari masing-masing layout berdasarkan kriteria diatas adalah terdapat pada Tabel 5.1.
Tabel 5. 1. Keuntungan dan Kerugian Alternatif Layout
Kriteria Alternatif 1 Alternatif 2
Kondisi perairan
Perairan lebih tenang karena terlindungi struktur dermaga.
Jarak yang ditempuh kapal yang akan bertambat lebih jauh.
Perairan kurang tenang tetapi tetap dalam kondisi aman.
Jarak yang ditempuh kapal yang akan bertambat lebih pendek.
Pelaksanaan
Dekat dengan daratan dan material pengurukan tersedia di lapangan.
Struktur kade membutuhkan tanah dasar yang rata .
Membutuhkan crane dengan kapasitas besar untuk pemasangan dinding kade
Membutuhkan mengeruk alur masuk, kolam putar dan kolam pelabuhan seluas 3,6 juta m3.
Tidak membutuhkan perbaikan tanah karena daya dukung tanah relatif bagus karena tanah keras hanya berada -11 m dari seabad.
Tidak membutuhkan pengerukan karena pelabuhan berada pada -13 mLWS sesuai kebutuhan draft kapal.
Membutuhkan ponton dan alat pancang untuk pemancangan dermaga dan trestel di laut.
Perawatan
Tidak diperlukan perawatan khusus terhadap dermaga.
- Terjadi sedimentasi di perairan pelabuhan sebesar 3300 m3/tahun. Sehingga perlu dilakukan pengerukan ulang.
Kemungkinan terjadinya sedimentasi kecil sehingga tidak perlu dilakukan pengerukan ulang.
Memerlukan perawatan khusus di tiang pancang di dermaga dan trestle dari korosi.
Pengemba- ngan
Tersedia lahan yang cukup dan dekat dengan daratan - Diperlukan penataan kembali
areal perairan pelabuhan dan dibutuhkan pengerukan kembali
Tidak perlu menata kembali areal perairan pelabuhan
Pelaksanaan agak sulit karena berada di laut.
Aksesibilitas Lokasi dermaga dekat dengan
kawasan industri (650 m) Lokasi dermaga lebih jauh dari kawasan industri (3250 m)
Keterangan :
= Keuntungan dari layout yang ada
= Kerugian dari layout yang ada
Setelah keuntungan dan kerugian dari masing-masing alternatif layout tersebut didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah penilaian berdasarkan masing-masing kriteria yang ada.
Setiap kriteria mempunyai bobot yang berbeda yaitu : 1. Kondisi perairan = 10%
2. Pelaksanaan = 30%
3. Perawatan = 30%
4. Pengembangan = 20%
5. Akses ke dermaga = 10%
Penilaian dilakukan dengan sekala nilai 1-5 dengan keterangan sebagai berikut :
1 = - Perairan sangat tidak tenang
- Pelaksanaan sangat sulit, lama, dan mahal - Perawatan mahal dan sering dilakukan - Pengembangan sangat sulit
- Jarak dari fasilitas satu ke fasilitas lain sangat jauh 2 = Kondisi diantara (1) dan (3)
3 = - Perairan agak tenang
- Pelaksanaan agak sulit, lama dan mahal
- Perawatan agak mahal dan tidak terlalu sering dilakukan
- Pengembangan agak sulit
- Jarak dari fasilitas satu ke fasilitas lain agak jauh 4 = Kondisi diantara (3) dan (5)
5 = - Perairan tenang
- Pelaksanaan mudah, cepat, dan murah - Perawatan murah dan jarang dilakukan - Pengembangan mudah
- Jarak dari fasilitas satu ke fasilitas lain dekat
Dari bobot dan skala penilaian diatas maka kedua alternatif layout tersebut dianalisa seperti pada Tabel 5.2.
Tabel 5. 2. Analisa Pemilihan Layout
Alternatif 1 Alternatif 2 Kriteria Bobot
Nilai Total Nilai Total Kondisi perairan 10% 5 0,5 3 0,3
Pelaksanaan 30% 2 0,6 4 1,2
Perawatan 30% 2 0,6 4 1,2
Pengembangan 20% 4 0,8 3 0,8
Akses ke dermaga 10% 5 0,5 2 0,5
Nilai 3 4
Dari tabel diatas diketahui bahwa layout pelabuhan peti kemas yang paling baik untuk kawasan industri Galang Batang adalah alternatif layout nomor 2.
5.5. Detail penataan layout
Penataan layout dermaga diatur sedemikan rupa sehingga konsep perencanaan pelabuhan peti kemas dapat terpenuhi.
Konsep perencanaan tersebut antara lain :
1. Memisahkan antara area untuk peti kemas yang siap dimuat dengan peti kemas yang telah berhasil dibongkar dari kapal.
2. Menempatkan lokasi lapangan penumpukan untuk peti kemas yang siap dimuat sedekat mungkin dengan dermaga.
3. Menempatkan lokasi lapangan penumpukan untuk peti kemas kosong sedekat mungkin dengan gudang.
4. Menempatkan posisi grouns slot sedemikian rupa sehingga mudah untuk melakukan pengembangan Detail penataan layout jangka pendek, menengah, dan panjang untuk pelabuhan dapat dilihat pada Gambar 5.4 sampai Gambar 5.6.
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK BONGKAR (IMPOR) BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR) BLOK MUAT (EKSPOR)
0 16 32 48 64
Meter SKALA
NOMOR GAMBAR : 5.4 JUDUL GAMBAR:
DETAIL FASILITAS DARAT JANGKA PENDEK KETERANGAN :
1 = truk dari kawasan industri masuk ke lapangan penumpakan 2 = truk dari kawasan industri masuk ke CFS 3 = truk membawa peti kemas dari lapangan
penumpukan ke kapal (MUAT) 4 = truk membawa peti kemas dari CFS ke kapal
(MUAT)
5 = truk kosong dari kapal kembali ke lapangan penumpukan (MUAT) 6 = truk kosong dari kapal kembali ke CFS (MUAT) 7 = truk membawa peti kemas dari kapal
ke lapangan penumpukan (BONGKAR) 8 = truk kosong dari lapangan penumpukan
menuju ke kapal (BONGKAR) 9 = truk keluar dari kawasan pelabuhan
TUGAS AKHIR
STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PELABUHAN PETI KEMAS DI PULAU
BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU INSTITUT TEKNOLOGI 10
NOPEMBER SURABAYA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN
PERENCANAAN
PEMBIMBING :
IR. DYAH IRIANI, MSc.
NAMA MAHASISWA / NRP : OKA CANDRA SUKMANA
3102 100 016
POS KEAMANAN JEMBATAN
TIMBANG JEMBATAN
TIMBANG
LAHAN RENCANA PENGEMBANGAN LAPANGAN PENUMPUKAN
KAWASAN INDUSTRI DERMAGA
PARKIR TRUCK DAN CHASSIS
LOKASI RENCANA PENGEMBANGAN CFS, PARKIR, KANTOR DAN FASILITAS LAINNYA
CFS
KANTOR PELABUHAN
LAHAN RENCANA PENGEMBANGAN LAPANGAN PENUMPUKAN
JEMBATAN TIMBANG
KAWASAN INDUSTRI DERMAGA
0 16 32 48 64
Meter SKALA
NOMOR GAMBAR : 5.5 JUDUL GAMBAR:
DETAIL FASILITAS DARAT JANGKA MENENGAH
KETERANGAN :
1 = truk dari kawasan industri masuk ke lapangan penumpakan 2 = truk dari kawasan industri masuk ke CFS 3 = truk membawa peti kemas dari lapangan
penumpukan ke kapal (MUAT) 4 = truk membawa peti kemas dari CFS ke kapal
(MUAT)
5 = truk kosong dari kapal kembali ke lapangan penumpukan (MUAT) 6 = truk kosong dari kapal kembali ke CFS (MUAT) 7 = truk membawa peti kemas dari kapal
ke lapangan penumpukan (BONGKAR) 8 = truk kosong dari lapangan penumpukan
menuju ke kapal (BONGKAR) 9 = truk keluar dari kawasan pelabuhan
TUGAS AKHIR
STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PELABUHAN PETI KEMAS DI PULAU
BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU INSTITUT TEKNOLOGI 10
NOPEMBER SURABAYA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN
PERENCANAAN
PEMBIMBING :
IR. DYAH IRIANI, MSc.
NAMA MAHASISWA / NRP : OKA CANDRA SUKMANA
3102 100 016
POS KEAMANAN JEMBATAN TIMBANG PARKIR TRUCK DAN CHASSIS
LOKASI RENCANA PENGEMBANGAN CFS, PARKIR, KANTOR DAN FASILITAS LAINNYA
CFS
KANTOR PELABUHAN
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK BONGKAR (IMPOR) BLOK BONGKAR (IMPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR) BLOK MUAT (EKSPOR) BLOK MUAT (EKSPOR) BLOK MUAT (EKSPOR)
0 16 32 48 64 Meter SKALA
NOMOR GAMBAR : 5.6 JUDUL GAMBAR:
DETAIL FASILITAS DARAT JANGKA PANJANG
KETERANGAN : 1 = truk dari kawasan industri masuk ke
lapangan penumpakan 2 = truk dari kawasan industri masuk ke CFS 3 = truk membawa peti kemas dari lapangan
penumpukan ke kapal (MUAT) 4 = truk membawa peti kemas dari CFS ke kapal
(MUAT)
5 = truk kosong dari kapal kembali ke lapangan penumpukan (MUAT) 6 = truk kosong dari kapal kembali ke CFS (MUAT) 7 = truk membawa peti kemas dari kapal
ke lapangan penumpukan (BONGKAR) 8 = truk kosong dari lapangan penumpukan
menuju ke kapal (BONGKAR) 9 = truk keluar dari kawasan pelabuhan
TUGAS AKHIR
STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PELABUHAN PETI KEMAS DI PULAU
BINTAN PROVINSI KEPULAUAN RIAU INSTITUT TEKNOLOGI 10
NOPEMBER SURABAYA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN
PERENCANAAN
PEMBIMBING :
IR. DYAH IRIANI, MSc.
NAMA MAHASISWA / NRP : OKA CANDRA SUKMANA
3102 100 016
POS KEAMANAN JEMBATAN TIMBANG PARKIR TRUCK DAN CHASSIS
LOKASI RENCANA PENGEMBANGAN CFS, PARKIR, KANTOR DAN FASILITAS LAINNYA
CFS
KANTOR PELABUHAN
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR)
BLOK BONGKAR (IMPOR) BLOK BONGKAR (IMPOR)
BLOK MUAT (EKSPOR) BLOK MUAT (EKSPOR) BLOK MUAT (EKSPOR) BLOK MUAT (EKSPOR) BLOK MUAT (EKSPOR)
JEMBATAN TIMBANG
GATE
KAW ASAN INDUSTRI DERMAGA
5.6. Typical design
Typical design adalah gambaran kasar ukuran dari detail layout yang telah dipilih. Typical design diperlukan untuk dasar perhitungan biaya pembangunan pelabuhan peti kemas ini.
Pembahasan typical design meliputi : 1. Perairan
Kedalaman perairan untuk alur masuk, kolam putar, dan kolam pelabuhan direncanakan sesuai dengan ukuran kapal yang akan berkunjung yaitu -13 mLWS.
2. Dermaga
Dermaga yang dipakai direncanakan jenis deck on pile (jetty) dengan tiang pancang dari baja. Dermaga peti kemas ini direncanakan mempunyai usuran :
a. Panjang = 360 m b. Lebar = 40 m c. Elevasi = +2,9 mLWS d. Jumlah dermaga = 2 buah
e. Tiang pancang = baja diameter 60 cm f. Kedalaman pancang = – 23.00 mLWS Gambaran kasar dari dermaga terdapat pada Gambar 5.7.
3. Trestle
Antara dermaga dan daratan dihubungkan dengan trestle yang mempunyai dua jalur dengan ukuran :
a. Panjang = 2400 m b. Lebar = 13 m
c. Tiang Pancang = baja diameter 60 cm d. Elevasi = +2,9 mLWS
Gambaran kasar dari trestle terdapat pada Gambar 5.8.
4. Jalan Pendekat
Jalan pendekat merupakan jalan yang menghubungkan trestle dengan lapangan penumpukan serta lapangan penumpukan dengan kawasan industri Galang Batang. Jalan pendekat tersebut mempunyai lebar 13 m. Gambar dapat dilihat pada Gambar 5.9 dan 5.10.
Gambar 5. 1. Potongan Melintang Dermaga
Gambar 5. 2. Potongan Melintang Trestle
Gambar 5. 3. Potongan Melintang Jalan Daerah Timbunan
Gambar 5. 4. Potongan Melintang Jalan Daerah Galian