• Tidak ada hasil yang ditemukan

LEMBAR PENGESAHAN. Menyetujui, Institut Pertanian Bogor NIP NIP Tanggal Pengesahan : 1 April iii

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LEMBAR PENGESAHAN. Menyetujui, Institut Pertanian Bogor NIP NIP Tanggal Pengesahan : 1 April iii"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ii DAFTAR NAMA ANGGOTA

1. Judul Karya Tulis : Graffiti: Antara Kebebasan Berekspresi dan Vandalisme

2. Nama Ketua

a. Nama Lengkap : Norvi Handayati

b. NRP : H24070017

c. Program Studi : Manajemen

d. Institusi : Institut Pertanian Bogor 3. Anggota I

a. Nama Lengkap : Leily Purnama Chandra

b. NRP : H24070013

c. Program Studi : Manajemen

d. Institusi : Institut Pertanian Bogor 4. Anggota II

a. Nama Lengkap : Ananda Puput Rahmawati

b. NRP : H24070014

c. Program Studi : Manajemen

d. Institusi : Institut Pertanian Bogor

(2)

iii LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Graffiti: Antara Kebebasan Berekspresi dan Vandalisme Penulis : Ananda Puput Rahmawati (H24070014)

Leily Purnama Chandra (H24070013) Norvi Handayati (H24070017)

Program Studi : Manajemen

Menyetujui,

Ketua Departemen Manajemen Ketua Kelompok

(Dr. Ir. Jono M Munandar, M.Sc) (Norvi Handayati)

NIP. 131 578 829 NRP. H24070017

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dosen Pembimbing Institut Pertanian Bogor

(Prof. Dr. Ir. Yonny Koesmaryono, MS) (Wita Juwita Ermawati, S. TP, M.M) NIP. 131 473 999 NIP. 132 315 904

Tanggal Pengesahan : 1 April 2009

(3)

iv KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan anugerah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan karya tulis ini. Karya Tulis ini disususn dalam rangka mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa-Gagasan Tertulis (PKM-GT).

Karya tulis ini mengambil topik mengenai “Graffiti: Antara Kebebasan Berekspresi dan Vandalisme.” Penulisan dilakukan untuk menganalisis mengenai apakah Graffiti merupakan suatu media dan seni mengekspresikan diri atau sebagai suatu bentuk vandalisme.

Pada kesempatan kali ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada Wita Juwita Ermawati, S.TP, M.M selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan masukan dalam penyususnan karya tulis ini, serta semua pihak yang telah membantudalam penyusunan karya tulis ini.

Penyusun menyadari bahwa hasil tulisan ini tidak akan sempurna. Akan tetapi terlepas dari segala kekurangan yang ada, penyusun berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan.

Bogor, April 2009

Penyusun

(4)

v DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR NAMA ANGGOTA ………..……….….…….……….…….ii

LEMBAR PENGESAHAN ……….……..……….…..iii

KATA PENGANTAR ………..iv

DAFTAR ISI ……..……….v

DAFTAR TABEL ………..………...vii

DAFTAR LAMPIRAN ..………..viii

RINGKASAN ………..ix

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Perumusan Masalah ..……….1

1.2 Tujuan Penulisan ……..……….2

1.3 Manfaat Penulisan ………...2

BAB II. TELAAH PUSTAKA 2.1 Vandalisme ….………..3

2.2 Seni Graffiti …..……….4

2.3 Graffiti Sebagai Seni ………...7

BAB III. METODE PENULISAN 3.1 Kerangka Pemikiran Penulisan ...………8

3.2 Jenis dan Sumber Data …..……….8

3.3 Metode Pengolahan dan Analisis Data …...………8

(5)

vi Halaman BAB IV. ANALISIS SINTESIS

4.1 Analisis tentang Graffiti .………..9

4.2 Persepsi Masyarakat terhadap Vandalisme dan Seni Graffiti ..……...10

BAB V. PENUTUP 5.1 Kesimpulan .………15

5.2 Saran ...………..15

DAFTAR PUSTAKA ……….16

LAMPIRAN ……….17

(6)

vii DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Persentase Persepsi Masyarakat terhadap Graffiti ………12

(7)

viii DAFTAR LAMPIRAN

Daftar Riwayat Hidup Penulis ………...17

(8)

ix DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Kerangka Pemikiran………..…..8

(9)

x RINGKASAN

Manusia terbentuk menjadi individu yang selalu dinamis dan peka dengan perubahan-perubahan di sekitarnya, selalu ingin lebih maju, dan selalu berkreasi dengan segala potensi yang dimilikinya. Setiap manusia pasti memiliki sifat dan tingkah laku yang berbeda-beda. Namun, dari banyaknya perbedaan sifat, pada dasarnya manusia memiliki kesamaan, yaitu watak yang selalu ingin diakui keberadaannya oleh manusia lain. Dengan adanya dua sifat manusia, yaitu selalu ingin berkreasi dan menunjukkan dirinya, membuat manusia melakukan berbagai macam cara untuk menunjukkan identitasnya dan diakui oleh orang lain. Hal ini sesuai dengan Teori Maslow yaitu terdapat 6 hierarki kebutuhan manusia, dimana ketika satu kebutuhan sudah dapat dipenuhi, maka kebutuhan di level yang lebih tinggi memotivasi orang untuk memenuhinya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah kebutuhan dasar untuk bertahan hidup (physiological needs), kebutuhan untuk merasa aman dari rasa takut (safety needs), kebutuhan untuk dicintai dan diterima oleh masyarakat (social needs), kebutuhan untuk diakui (esteem needs), dan kebutuhan untuk mengembangkan potensi diri (self-actualization needs) (Robins, 2002).

Salah satu cara yang kerap mereka lakukan untuk memuaskan kebutuhan untuk diakui (esteem needs) sebagai upaya menunjukkan identitas diri adalah melalui graffiti. Namun, hingga saat ini graffiti masih mengalami kontroversi di kalangan masyarakat. Ada sebagian orang berpendapat bahwa graffiti merupakan suatu seni sarana mengekspresikan diri. Namun sebagian orang lainnya menganggap graffiti merupakan suatu tindakan wujud dari vandalisme.

Vandalisme, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam, tugu dan sebagainya). Apabila kita melihat ke sekeliling terutama di tempat-tempat umum, banyak sekali bentuk vandalisme yang diwujudkan dengan coretan, graffiti, pamflet dan segala bentuk perusakan yang dilakukan orang tidak bertanggung jawab (Balai Pustaka, 1989).

Sedangkan istilah graffiti berasal dari bahasa Yunani "graphein"

(menuliskan), diartikan sebagai coretan pada dinding atau permukaan di tempat- tempat umum, atau tempat pribadi. Coretan tersebut, bentuknya bisa berupa seni, gambar, atau hanya berupa kata-kata. Tindakan yang sering disebut sebagai upaya mengekspresikan diri ini pun memiliki sejarah tersendiri (Wikipedia 2008).

Dalam hal ini graffiti pun termasuk ke dalam tindakan vandalisme jika graffiti dilakukan di tempat umum dan menyangkut fasilitas umum (public space) serta dilakukan tanpa izin. Tindakan ini termasuk ke dalam tindakan pidana ringan dan mampu medatangkan sanksi hukum dengan proses sidang tindak pidana kriminal ringan (tipiring) pro yustisia. Upaya hukum ini dimaksudkan untuk mengurangi maraknya tindakan vandalisme dengan membuat efek jera bagi pelakunya. Upaya ini dilakukan dengan dibagi ke dalam dua kategori sanksi, yaitu pelajar di bawah umur 17 tahun akan diberikan sanksi berupa pembinaan sedangkan pelaku di atas umur 17

(10)

xi dianggap dewasa sehingga dikenai sidang tipiring, lama berada di tahanan ditentukan oleh persidangan. (SK Walikota Yogyakarta nomor 2 tahun 2007).

Graffiti menjadi kontroversial dikalangan masyarakat termasuk masyarakat di Indonesia. Di luar sebagai tindakan vandal, graffiti merupakan wujud kebebasan berekspresi dan suatu karya seni yang mengandung nilai estetika yang tinggi. Graffiti sendiri bisa menjadi sarana para bomber untuk menyuarakan jiwa sosial mereka.

Tetapi, kebebasan berekspresi tersebut sampai saat ini masih didominasi oleh kalangan atas yang mampu membeli tempat untuk menumpahkan kreativitasnya.

Sementara para seniman jalanan, terpaksa sembunyi-sembunyi atau malah kejar- kejaran dengan pihak aparat hanya untuk berkreasi melalui graffiti.

Graffiti sendiri termasuk dalam seni publik (public art). Dalam dunia seni rupa dalam lingkup yang lebih khusus, seni publik diartikan sebagai seni yang dibuat secara individu maupun kelompok yang menggunakan prinsip tertentu dalam menggulirkan wacana untuk disampaikan kepada publik atau masyarakat luas (Ade, 2008).

Mensosialisasikan graffiti sebagai seni kepada masyarakat bukanlah perkara yang mudah, karena sebagian masyarakat menganggap graffiti sebagai tindakan vandal. Disinilah peran masyarakat dibutuhkan untuk mengubah persepsi tersebut agar memandang graffiti tidak hanya sebagai tindakan yang merugikan tetapi juga sebuah tindakan yang merupakan sebuah wujud seni, memiliki nilai estetika yang tinggi dan merupakan tindakan yang positif bila dilakukan tanpa motif dan tujuan untuk merusak. Selama ini masyarakat tidak mengetahui motif sebenarnya dibalik pembuatan graffiti, mereka hanya mengetahui graffiti dilakukan hanya untuk merusak. Padahal sebenarnya tujuan para pelaku adalah mengekspresikan diri.

Tidak adanya ruang dan media untuk melampiaskan kebebasan ekspresi membuat para seniman graffiti melakukan aksinya secara ilegal. Mereka biasa melakukan aksi graffiti pada malam hari karena tidak ada pihak yang mengawasi tindakan mereka. Ruang publik sering menjadi sasaran media mereka untuk berekspresi.

Oleh sebab itu ada beberapa alternatif solusi yang dapat dilaksanakan di antaranya dengan memperkenalkan graffiti pada pelajaran kesenian di sekolah- sekolah, menerapkan graffiti sebagai suatu aktivitas yang lebih bermanfaat, mengadakan perlombaan graffiti dengan tema tertentu yang mengandung pesan moral di dalamnya, mengadakan pembinaan bagi seniman graffiti untuk membentuk suatu komunitas untuk menyalurkan bakatnya secara lebih terarah dan mensosialisasikan agar komunitas tersebut melakukan pendekatan kepada pemerintah untuk mendukung komunitas graffiti dengan menyediakan media berekspresi untuk menyalurkan kreativitas agar bakat-bakat para pelaku graffiti dapat disalurkan dan terarah.

Referensi

Dokumen terkait

Sehubungan dengan hal t er sebut diat as, maka Panit ia Pengadaan Bar ang/ Jasa Peker jaan Pengadaan Jasa Keamanan Kant or dan Lingkungannya mengumumkan bahw a

pengalaman belajar mahasiswa yang diwujudkan dalam deskripsi tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa selama

Secara empiris banyak penelitian dengan latar belakang sampel yang berbeda-beda telah membuktikan bahwa kualitas layanan mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan

Alat-alat yang digunakan adalah alat-alat gelas, blender, kandang mencit, mortir, maserator, sonde oral, spuit injeksi 1ml dan 5ml, pletismometer dan timbangan

Nilai TPH cair pada penambahan Brij 35 sebesar 0.74% dan Tween 80 sebesar 0.40% pada laju pengadukan 140 rpm membuktikan bahwa semakin tinggi kecepatan pengadukan maka

Selama praktik mengajar di SDN Surokarsan 2, praktikan mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman bahwa seorang guru dituntut untuk lebih memahami setiap siswanya

Hal-hal yang dapat dilakukan oleh pasien dalam meningkatkan. keberhasilan terapi DM

ketenangan sosial terjadi ketika satu kelompok berhasil menguasai kelompok-kelompok yang lain secara temporer.. Fungsionalisme vs