BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Pengolahan data dan Analisis Data

Teks penuh

(1)

Rachmat Ramdani,2013

Pengaruh Latihan Overhead Throw Dengan Pullover Toss Menggunakan Medicine Ball Terhadap Peningkatan Power Lengan Pemain Tenis Lapangan

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengolahan data dan Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil tes dan pengukuran masih merupakan data mentah, supaya data tersebut memiliki makna. Maka harus diolah dan dianalisis secara statistic. Arikunto (1993: 307) menjelaskan bahwa: “Menarik kesimpulan penelitian harus selalu mendasarkan atas data yang diperoleh dalam kegiatan penelitian”. Pengolahan data dan analisis data dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang telah dikemukakan pada BAB III, hasil pengolahan data tersebut akan dikemukakan secara terperinci pada uraian berikut :

TABEL 4.1

HASIL PENGHITUNGAN NILAI RATA-RATA DAN SIMPANGAN BAKU TES TWO HAND MEDICINE BALL PUT KEDUA KELOMPOK

KELOMPOK

Sebelum Eksperimen Sesudah Eksperimen

X S X S

OVERHEAD

THROW ( A ) 2,942 0,35 3,808 0,27

PULLOVER TOSS (

B ) 3,354 0,80 4,213 0,47

(2)

Setelah diketahui hasil pengukuran nilai rata-rata da simpangan baku dari kedua kelompok sampel, untuk langkah selanjutnya melakukan uji normalitas dengan menggunakan uji normalitas liliefors. Dari hasil pengujian akan menentukan pendekatan mana yang akan digunakan dalam analisis data, pendekatan statistik parametrik atau non parametrik. Adapun hasil pengujian normalitas dapat dilihat pada table 4.2 dibawa ini :

TABEL 4.2

HASIL PENGUJIAN UJI NORMALITAS KEDUA KELOMPOK

KELOMPOK Tes Lo L 0,05 Kesimpulan

A

a. Tes Awal 0,2040 0,258 Normal

b. Tes Akhir 0,2385 0,258 Normal

B

a. Tes Awal 0,2300 0,258 Normal

b. Tes Akhir 0,2190 0,258 Normal

Kriteria pengujian uji normalitas liliefors adalah :

1. Hipotesis ditolak apabila Lo > Lt. Kesimpulannya adalah populasi berdistribusi tidak normal

2. Hipotesis diterima Lo < Lt. Kesimpulannya adalah populasi berdistribusi normal

Dari hasil pengujian diatas untuk kelompok Lo < Lt, maka kedua kelompok yang diuji berdistribusi normal.

(3)

Selanjutnya adalah menguji homogenitas dari kedua variabel tersebut.

Pengujian homogenitas menggunakan uji kesamaan dua varians. Dari hasil pengujian akan diketahui apakah kedua kelompok sampel tersebut homogen atau tidak. Hasilnya dapat dilihat dalam table 4.3.

TABEL 4.3

HASIL PENGUJIAN KESAMAAN DUA VARIANS DATA TES AWAL DAN TES AKHIR KEDUA KELOMPOK

KELOMPOK Yang diuji Fhitung F 0,05 ; 9 : 9 Kesimpulan

A dan B

Tes Overhead

Throw 1,68 3,18 Homogen

Tes Pullover

Toss 2,89 3,18 Homogen

Tes Skor

Selisih 1,00 3,18 Homogen

Berdasarkan penghitungan uji homogenitas, nilai Fhitung dari kedua variabel lebih kecil dari Ftabel. Dengan demikian kedua kelompok sampel adalah homogen.

Langkah selanjutnya adalah menghitung signifikan peningkatan hasil latihan kedua kelompok dengan menggunakan uji kesamaan dua rata-rata (skor berpasangan) atau uji beda. Hasil penghitungan tersebut dapat dilihat pada table 4.4 di bawah ini :

(4)

TABEL 4.4

HASIL PENGHITUNGAN DAN UJI SIGNIFIKANSI PENINGKATAN HASIL LATIHAN KEDUA KELOMPOK

Kelompok thitung t 0,05 ; 9 Kesimpulan

A 45,57 2,26 Signifikan

B 45,21 2,26 Signifikan

Berdasarkan penghitungan uji t pada kelompok Overhead Throw diperoleh thitung ( 45,57 ) > ttabel ( 2,26 ) pada taraf kepercayaan/signifikan α = 0,05 dengan dk (9). kriteria pengujian adalah, terima jika -t1-½α < t-hitung < t1-½α. Dalam hal ini t-hitung berada pada daerah penolakan Ho, artinya Ho ditolak.

Kesimpulannya adalah terdapat pengaruh yang signifikan dari latihan Overhead Throw terhadap peningkatan power lengan pada pemain tenis

lapangan.

Demikian juga dengan penghitungan uji t pada kelompok Pullover toss diperoleh thitung ( 45,21 ) > ttabel ( 2,26 ) pada taraf kepercayaan/signifikan α = 0,05 dengan dk (9). kriteria pengujian adalah, terima jika -t1-½α < t-hitung < t1-½α. Dalam hal ini t-hitung berada pada daerah penolakan Ho, artinya Ho ditolak.

Kesimpulannya adalah terdapat pengaruh yang signifikan dari latihan Pullover Toss terhadap peningkatan power lengan pada pemain tenis lapangan.

Langkah selanjutnya adalah menganalisa dan menguji hipotesis yang penulis ajukan terhadap menguji perbedaan pengaruh hasil latihan kedua

(5)

kelompok menggunakan uji kesamaan dua rata-rata satu pihak yaitu uji t.

Adapun hasil penghitungan tersebut dapat dilihat pada table 4.5 TABEL 4.5

HASIL UJI SIGNIFIKANSI PERBEDAAN PENINGKATAN KEDUA BENTUK LATIHAN

Kelompok thitung t 0,05 ; 18 Kesimpulan

A-B 0,23 1,73 Tidak Signifikan

Dari hasil pengujian tersebut diperoleh bahwa t-hitung ( 0,23 ) yang lebih kecil dari t1- α ( 1,73 ). Kriteria pengujian adalah terima Ho jika t < t1-α pada taraf nyata α = 0,05 dengan (dk) = 18. Dalam hal ini t-hitung berada pada daerah penerimaan Ho, jadi Ho diterima.

Kesimpulannya tidak terdapat perbedaan pengaruh yang sigfinikan antara bentuk latihan Overhead Throw dan Pullover Toss terhadap peningkatan power lengan pada pemain tenis lapangan. Hal ini berarti bentuk latihan Overhead Throw dan Pullover Toss mempunyai pengaruh yang sama dalam hal peningkatan power lengan pada pemain tenis lapangan.

(6)

B. Diskusi Penemuan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang diperoleh dari hasil tes kedua kelompok latihan kelompok overhead throw dan pullover toss, maka dapat diambil beberapa penemuan :

1. Hasil penelitian menunjukan bahwa latihan overhead throw menggunakan medicine ball memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan power lengan.

Hal ini disebabkan bahwa latihan Overhead throw merupakan suatu bentuk latihan yang dapat meningkatkan power lengan seorang atlet, karena pada saat melakukan gerakan melemparkan bola di atas kepala dimana latihan ini diharuskan petenis untuk bergerak eksplosif dan mengerahkan kemampuan maksimalnya, sehingga otot-otot lengan akan terlatih, berkembang, dan mengalami peningkatan power lengan. Lebih luas lagi Harsono (1988: 200) mengatakan bahwa :

Oleh karena harus mengangkat dengan cepat, maka dengan sendirinya berat bebannya tidak bisa seberat beban untuk latihan kekuatan. Akan tetapi juga tidak boleh terlalu ringan sehingga otot tidak merasakan rangsangan beban. Bebannya juga tidak boleh terlalu berat sehingga transfer optimal dari strength ke power tidak terjadi. Jadi bebannya adalah demikian rupa sehingga masih memungkinkan atlet untuk mengangkat beban dengan cepat.

Latihan overhead throw juga menuntut latihan dinamis yang dapat meningkatkan power yang lebih mengarah pada eksplosif otot-otot tubuh, khususnya dalam latihan ini otot bagian lengan. Sedangkan reaksi-reaksi otot yang dilatih, contohnya pada waktu atlet melakukan lemparan bola

(7)

medicine ke depan, dalam jangka pendek reaksi otot syaraf si atlet

tersebut akan menerima stimulus, dan implikasinya berdampak pada power yang dihasilkan.

Latihan Overhead throw dengan menggunakan metode set memiliki keuntungan, diantaranya adalah untuk meningkatkan kekuatan badan bagian atas serta melatih power lengan, di samping itu awal gerakan overhead dilakukan dengan sikutnya di bengkokan maka akan memperoleh kecepatan sudut yang sub-maksimal, karena momen- inertianya kecil sehingga mencapai kecepatan yang maksimal. Latihan ini juga memiliki kerugian karena beban yang digunakan beratnya tetap atau konstan.

2. Hasil penemuan juga menunjukan bahwa latihan pullover toss menggunakan medicine ball memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan power lengan.

Begitu pula bentuk latihan pullover toss yang memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan power lengan pada pemain tenis lapangan.

Latihan ini sama menggunakan media medicine ball. Bedanya dilakukan dengan cara terlentang badan di lantai dengan lengan menjulur dibelakang kepala. Tarik bola melalui atas kepala dan ke dada sambil bergerak ke posisi duduk. Lakukan lemparan ke arah atas, untuk latihan lebih berat, minta mitra anda menjauh sedikit. Latihan ini diharuskan petenis untuk bergerak eskplosif dan mengerahkan kemampuan maksimalnya, sehingga

(8)

otot-otot lengan akan terlatih, berkembang, dan mengalami peningkatan power lengan.

Dilihat dari gerakan kedua bentuk latihan tersebut, latihan ini termasuk tipe kontraksi isotonis. Menurut Harsono (1988: 181) latihan isotonis mempunyai lebih banyak keuntungan yakni misalnya :

1. Ruang geraknya lebih luas, sehingga menjamin tetap terlatihnya fleksibilitas.

2. Turut berkembangnya daya tahan bersamaan dengan perkembangan kekuatan.

3. Secara psikologis lebih memberikan kepuasan oleh karena atlet dapat melihat merasakan hasil latihannya yang sedikit demi sedikit bertambah.

Hal ini tidak mungkin dapat dilihat dan dirasakan dalam latihan isometrik meskipun yang kita keluarkan adalah tenaga maksimal kita.

4. Menggerakkan anggota-anggota tubuh terhadap suatu beban lebih memberikan kepuasaan dibandingkan dengan hanya menekan atau menarik suatu tahanan tanpa gerakan.

5. Gerakan-gerakan lebih menjamin fungsi peredaran zat-zat dalam alat- alat tubuh kita sehingga sampah-sampah pembakaran lebih cepat terbuang.

Latihan pullover toss dengan menggunakan metode set memiliki keuntungan diantaranya adalah untuk meningkatkan kekuatan dan tenaga badan bagian atas serta juga dapat meningkatkan power lengan seorang atlet. Sedangkan kerugian dari bentuk latihan Pullover toss ini adalah atlet lebih cepat lelah karena atlet harus melempar bola ke atas dengan melawan gaya gravitasi bumi, selain itu juga awal gerakan pullover toss dilakukan dengan sikut lurus yang mengakibatkan kecepatan sudut yang tidak sub- maksimal, karena momen-inertianya besar sehingga tidak mencapai kecepatan yang maksimal dan resiko cedera lengan pada latihan lebih

(9)

besar maka dari itu peneliti mengurangi beban berat medicine ball nya supaya mencegah resikonya cedera.

Tetapi setelah dibandingkan ternyata bentuk latihan overhead throw dengan pullover toss tidak terdapat perbedaan yang signifikan dan memberikan efek yang sama terhadap peningkatan power lengan pemain tenis lapangan. Hal ini dapat disebabkan kedua bentuk latihan tersebut menggunakan program latihan metode set yang sama yaitu sebanyak 9-14 set dan repetisi atau pengulangan yang terdiri dari 10 RM dengan diselingi istirahat setiap 3-5 menit setiap setnya.

Bila melihat kedua bentuk latihan diatas, dapat dijelaskan bahwa proses latihan yang dilaksanakan mempunyai volume dan intensitas yang sama atau dengan kata lain kedua bentuk latihan yang diteliti mendapat perlakuan yang sama sesuai program latihan yang diberikan. Walaupun bentuk gerakan latihan kedua tersebut berbeda tidak menyebabkan adanya perbedaan pengaruh yang signifikan dimana latihan overhead throw dan pullover toss memberikan efek yang sama terhadap peningkatan power lengan pemain tenis lapangan.

Dari data-data faktual yang diperoleh di lapangan, serta dari hasil pengolahan data, dapat disimpulkan bahwa hasil penelitian ini sudah sesuai dengan teori-teori yang dikemukakan. Lebih luas lagi Harsono (1988: 127) menyatakan bahwa :

Antara jadwal latihan dan pertandingan harus ada keseimbangan yang wajar. Seorang atlet tidak bisa dilatih sebanyak mungkin dan disuruh bertanding sebanyak mungkin pula. Sebaliknya, dia tidak bisa dilatih sebanyak mungkin tanpa sewaktu-waktu diberi kesempatan bertanding

(10)

untuk mengetes dirinya sendiri dan untuk mengukur potensi-potensinya yang sebenarnya serta melihat hasil-hasil yang telah dicapai karena training.

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut, maka untuk meningkatkan power lengan pada pemain tenis lapangan sebaiknya menggunakan bentuk latihan overhead throw dan pullover toss. Selain itu juga dari salah bentuk latihan tersebut bisa digunakan untuk variasi latihan. Karena menurut Harsono (1988:

121) mengatakan : “Untuk mencegah kemungkinan timbulnnya kebosanan berlatih ini, pelatih harus kreatif dan pandai-pandai mencari dan menerapkan variasi-variasi dalam latihan”.

Gambar di bawah ini salah contoh bentuk latihan overhead throw.

Gambar 4.1

Sedangkan latihan pullover toss gerakannya keatas dan kedepan. Untuk lebih jelasnya lihat gambar berikut.

(11)

Gambar 4.2

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :