• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KERJA PRAKTEK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KERJA PRAKTEK"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) SBU PALEMBANG

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan jenjang Sarjana Pada Fakutas Teknik Program Studi Teknik Elektro

Universitas Bina Darma

Oleh : Lucky Mustaqqim

171720040

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BINA DARMA PALEMBANG

2020

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah S.W.T, karena berkat rahmat dan ridha-nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan kerja praktek ini. Praktek kerja lapangan (PKL) adalah salah satu kurikulum yang telah diterapkan di Universitas Bina Darma dimana diharapkan mahasiswa dapat berinteraksi dengan dunia kerja yang nyata dan disamping itu juga dapat menerapkan ilmu yang telah di dapatkannya di bangku kuliah. Penulis memilih PT. Indonesia Coments Plus (ICON+) SBU PALEMBANG sebagai tempat untuk melaksanakan kerja praktek karena diperusahaan ini banyak bidang yang sesuai dengan penulis tekuni yang dapat diambil sebagai pelajaran dalam memperbanyak ilmu pengetahuan.

Laporan ini dibuat sebagai bahan evaluasi terhadap kegiatan yang telah penulis lakukan selama kerja praktek di PT. Indonesia Coments Plus (ICON+) SBU PALEMBANG. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu kurikulum program studi strata I fakultas teknik program studi teknik elektro yang berjudul

“Analisa Power Link Budget dan Rise Time Budget dari POP ke Pelanggan Berteknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network)” Di PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) SBU PALEMBANG.

Dalam proses penyusunan Laporan Kerja Praktek ini, penulis mendapatkan banyak bantuan baik secara langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Allah SWT yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya.

(4)

2. Nabi Muhammad SAW

3. Kedua orang tua saya yang selalu memberikan do’a dan dukungannya kepada saya.

4. Ibu Dr. Sunda Ariana, M.Pd., M.M. selaku rektor Universitas Bina Darma palembang.

5. Bapak Dr. Firdaus, S.T, M.T., selaku dekan Fakultas teknik Universitas Bina Darma palembang.

6. Ibu Ir. Nina Paramytha IS, M.Sc. selaku ketua program studi teknik elektro Universitas Bina Darma palembang.

7. Bapak Ir. Ali Kasim, M.T. selaku pembimbing laporan kerja praktek.

8. Bapak Faisal dan Bapak Maulana, selaku pembimbing lapangan selama kerja praktek.

9. semua teman-teman dan semua pihak yang telah memberikan masukan dan semangat kepada saya.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kerja praktek ini masih banyak terdapat kekeliruan dan kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya saran dan kritik membangun dari pembaca sekalian.

Penulis juga berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca.

Palembang, 05 Oktober 2020

Penulis

(5)

v DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan dan Manfaat... 2

1.3.1 Tujuan ... 2

1.3.2 Manfaat ... 3

1.4 Batasan Masalah ... 3

1.5 Metode Penelitian ... 3

1.6 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek ... 4

1.7 Sistematika Penulisan Laporan ... 4

BAB II TINJAUAN UMUM 2.1 Sejarah PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) ... 6

2.2 Logo dan Tagline PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) ... 9

2.3 Makna Logo PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+)... 9

(6)

vi

2.4 Visi dan Misi PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) ... 11

2.4.1 Visi Perusahaan ... 11

2.4.2 Misi Perusahaan ... . 11

2.5 Produk PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+).. ... 11

2.5.1 ICONect ... 11

2.5.2 ICONWeb ... 13

2.5.3 ICONBase... 14

2.5.4 ICONApps ... 15

2.6 Struktur Organisasi PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) ... 18

BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Internet Corporate ... 19

3.1.1 Proses Distribusi Jringan Internet Corporate ... 20

3.2 Serat Optik ... 21

3.2.1 Struktur Fiber Optic ... 21

3.3 Gigabit Passive Optical Netwok (GPON) ... 22

3.4 Komponen GPON ... 23

3.4.1 Sumber Cahaya ... 24

3.4.2 Kabel Fiber Optik yang digunakan... 24

3.4.3 Optical Distribution Frame (ODF) ... 25

3.4.4 Switch ... 26

3.4.5 Splicer ... 27

3.4.6 Patch Cord ... 28

3.4.7 Router ... 29

(7)

vii

3.4.8 Small Form-Factor Pluggables (SFP) ... 30

3.5 Parameter Untuk Kelayakan Jaringan GPON... 31

3.5.1 Power Link Budget ... 31

3.5.2 Rise Time Budget ... 32

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Link Jringan GPON ... 35

4.2 Perhitungan Power Link Budget... 36

4.3 Perhitungan Rise Time Budget ... 39

4.4 Analisa Perhitungan ... 44

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 46

5.2 Saran ... ... 47 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(8)

viii DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Standar Teknologi GPON ... 23

Tabel 4.1 Daftar perangkat yang digunakan ... 36

Tabel 4.2 Data- data perhitungan Power Link Budget ... 37

Tabel 4.3 Perbandingan Redaman Total ... 39

Tabel 4.4 DataPerhitungan Rise Time Budget... 40

Tabel 4.5 Perbandingan Rise Time Total ... 44

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Logo Perusahaan……….………...….... 9

Gambar 2.2 Struktur Organisasi Perusahaan ... 18

Gambar 3.1 Topologi Umum Jaringan Internet Corporate ... 19

Gambar 3.2 Proses Distribusi Jaringan Internet Corporate ... 20

Gambar 3.3 Struktur Fiber Optic ... 21

Gambar 3.4 Kabel Fiber Optic Single Mode ... 25

Gambar 3.5 Optical Distribution Frame (ODF) ... 26

Gambar 3.6 Switch ... 27

Gambar 3.7 Splicer ... 28

Gambar 3.8 Patch Cord ... 29

Gambar 3.9 Router Mikrotik ... 30

Gambar 3.10 Small Form-Factor Pluggables (SFP) ... 30

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perkembangan teknologi yang sangat pesat di zaman seperti sekarang ini sangat berpengaruh pada bidang teknologi informasi dan komunikasi, karena keinginan masyarakat untuk mendapatkan layanan yang praktis, mudah, dan efisien semakin meningkat. Kebutuhan pelanggan (user) yang meningkat terhadap layanan informasi dan komunikasi berupa internet (data), telepon (voice) dan television menyebabkan dibutuhkannya perangkat yang mendukung semua permintaan tersebut.

Pada akses jaringan sebelumnya yaitu copper dan MSAN (Multi Service Access Node) dinilai tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan para konsumen PT. Indonesia Comnets Plus SBU Palembang, khususnya penyediaan kapasitas bandwidth yang besar untuk memberikan layanan informasi yang dibutuhkan pelanggan saat ini.

Sehingga PT. Indonesia Comnets Plus SBU PALEMBANG harus mengubah jaringannya dengan menggunakan sistem infrastruktur baru yang diyakini mampu meningkatkan kualitas pelayanan menuju konsumen. Infrastruktur jaringan tersebut adalah Gigabit Passive Optical Network (GPON) yang merupakan salah satu teknologi dari beberapa teknologi sistem komunikasi serat optik. GPON bermula dari passive optical network (PON) yang kemudian berevolusi dan berkembang hingga sampai tahap sekarang.

(11)

Untuk PT. Indonesia Comnets Plus SBU PALEMBANG teknologi ini masih tergolong baru. Namun telah banyak pelanggan yang ingin mengganti jaringannya menjadi GPON, untuk mendapatkan pelayanan maksimal khususnya dengan bandwidth yang besar.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis membuat laporan Kerja Praktek dengan judul :“ Analisa Power Link Budget dan Rise Time Budget dari POP ke Pelanggan Berteknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network)” Di PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) SBU PALEMBANG.

1.2 Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam Laporan Kerja Praktek ini adalah:

1. Penentuan sistem dan jaringan Fiber Optik GPON yang digunakan . 2. Bagaimana proses mentransmisikan layanan jaringan internet corporate 3. Pengambilan data sebagai dasar perhitungan analisa.

4. Melakukan perhitungan link power budget, dan rise time budget untuk mengetahui kualitas jaringan fiber optic pada layanan internet corporate di kantor DISKOMNIFO SUMSEL.

1.3 Tujuan dan Manfaat 1.3.1 Tujuan

Adapun tujuan kerja praktek ini adalah :

- Sebagai perbandingan ilmu yang didapat di perkuliahan derngan ilmu pada saat Kuliah Praktek di PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) SBU PALEMBANG.

(12)

- Syarat Memenuhi penilaian mata kuliah PKL dan Pengambilan judul skripsi

1.3.2 Manfaat

Sedangkan manfaat dari kerja praktek ini adalah :

- Dapat mengetahui mekanisme kerja di PT. ICON+ SBU PALEMBANG.

- Dapat mengetahui Struktur Organisasi PT. ICON+ SBU PALEMBANG.

- Dapat memahami sistem jaringan telekomunikasiyang ada di PT. ICON+

SBU PALEMBANG.

1.4 Batasan Masalah

Pada kerja praktek ini maka penulis membatasi ruang lingkup pembahasan agar isi dan pembahasan menjadi terarah dan mendapat hasil yang diharapkan.

Adapun batasan masalahnya yaitu mengenai perhitungan Power Link Budget dan Rise Time Budget pada pelanggan berteknologi GPON.

1.5 Metodologi Penelitian

Adapun metode yang digunakan dalam penulisan laporan kerja praktek ini adalah :

a. Metode Tinjauan Pustaka

Metode yang digunakan penulis untuk mengumpulkan data yaitu dengan cara membaca jurnal referensi yang berkaitan dengan pengukuran dan perhitungan pada Power Link Budget, Rise Time Budget, serta jaringan telekomunikasi.

(13)

b. Metode Observasi

Metode yang digunakan penulis untuk mengumpulkan data dengan cara melakukan praktek kerja lapangan langsung di PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) SBU PALEMBANG dengan dibimbing langsung oleh pembimbing lapangan dan teknisi.

c. Metode Konsultasi

Metode yang digunakan penulis untuk memperbaiki kesalahan dalam pembuatan laporan kerja praktek yaitu berkonsultasi dan berdiskusi dengan dosen pembimbing maupun pembimbing lapangan.

1.6 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Kerja Praktek

a. Tempat: lokasi kerja praktek di PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) SBU PALEMBANG, dengan alamat:Jl. Demang Lebar Daun No. 1782, 20 Ilir D IV, Ilir Timur I Palembang, Sumatera Selatan 30128.

b. Waktu: kegiatan kerja praktek dilaksanakan pada tanggal 10 Agustus 2020 sampai dengan 02 Oktober 2020.

1.7 Sitematika Penulisan Laporan

Sistematika penulisan dilakukan sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini akan di uraikan mengenai latar belakang, tujuan dan manfaat kerja praktek, permasalahan dan batasan masalah, metodelogi penelitan, tempat, lokasi, waktu, pelaksanaan kerja praktek dan sistemmatika penulisan.

(14)

BAB II TINJAUAN UMUM

Pada bab ini menjelaskan tentang sejarah terbentuknya perusahaan beserta struktur organisasi, uraian tugas, dan rumus yang dipakai saat perhitungan pada bab 4.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan di uraikan mengenai teori-teori dasar sebagai penunjang dari masalah yang di bahas.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini memperlihatkan hasil perhitungan beserta analisa.

BAB V PENUTUP

Dalam bab ini berisikan kesimpulan dan saran.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(15)

6 BAB II

TINJAUAN UMUM

2.1 Sejarah PT Indonesia Comnets Plus (ICON+)

PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) adalah perusahaan nasional yang bergerak dibidang penyelenggara jaringan dan jasa telekomunikasi. ICON+

merupakan anak perusahaan PT. PLN (Persero) yang didirikan pada tanggal 3 Oktober 2000. Tujuan awal lahirnya ICON+ adalah untuk mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur jaringan kelistrikan untuk telekomunikasi yang semula hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan layanan jaringan telekomunikasi bagi operasi ketenaglistrikan.

Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi yang dimiliki serta kebutuhan industri akan jaringan telekomunikasi, kini ICON+ beroperasi sebagai penyedia layanan utama jaringan telekomunikasi dengan tingkat availability dan reliability yang konsisten baik bagi PLN maupun publik. ICON+ mendukung perkembangan telekomunikasi dan teknologi informasi di Indonesia dengan memaksimalkan pendayagunaan hak jaringan ketenagalistrikan milik PT. PLN (Persero), yaitu“Right of Way” (ROW) untuk menyediakan layanan jasa dan jaringan telekomunikasi berbasis fiber optic, baik untuk PLN maupun pelanggan corporate lainnya. Dalam hal ini ICON+ mengembangkan usaha dengan menyalurkan kelebihan kapasitas jaringan telekomunikasi ketenagalistrikanfiber optic milik PLN yang terbentang di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan.

(16)

Sejak tahun 1995, PLN telah mengoperasikan jaringan fiber optic terutama di Jawa untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi internal PLN. Pada tahun 2000 ICON+ telah memperluas jaringan dan pasarnya dengan melayani kebutuhan telekomunikasi pelanggan eksternal yang mendapat dukungan sepenuhnya dari PT PLN (Persero). Selain itu, ICON+ juga menjadi enabler layanan teknologi informasi untuk mendukung proses bisnis penyediaan layanan kelistrikan.

Rekam Jejak

(1991) PT. PLN (Persero) melakukan kontrak pembangunan jaringan fiber optic.

(1999) PT. PLN (Persero) mengajukan proposal pendirian Entitas Anak beserta aspek bisnis yang akan dikelolanya.

(2000) PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) berdiri.

(2001) Melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan PT Telkom (Persero).

(2002) Kerja sama dengan PT. Indosat (Persero) dan Departemen Perhubungan.

(2005) Memperoleh izin prinsip Internet Telephony untuk keperluan publik.

Mencapai kinerja korporasi AAA (Triple A) dengan skor 99.

(2007) Memperoleh izin prinsip penyelenggara Jasa Interkoneksi Internet (NAP) dan penyelenggara Jasa Internet Telphony untuk keperluan publik.

Membentuk Unit Bisnis Retail (UBR) dan Unit Bisnis Power IT.

(17)

Melakukan ekspansi konektivitas jaringan telekomunikasi ke Pulau Sumatera.

Melakukan ekspansi konektivitas jaringan telekomunikasi ke wilayah Indonesia bagian Timur.

(2012) Menjadi “The Limit Breaker” berdasarkan pencapaian kinerja yang gemilang.

(2013) Mencanangkan strategi dan aktivasi komunikasi korporat dengan mengusung tagline “We Speak Beyond Connectivity” dan melakukan brand activation di 3 kota, yaitu Bali, Surabaya, dan Jakarta.

(2014) Mendapatkan penugasan untuk mengembangkan optimalisasi pengelolaan proses bisnis back office dan pengelolaan administrativeback office PT. PLN (Persero) secara bertahap.

(2015) Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Direktorat Jendral Pemasyarakatan untuk koneksi internet Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di seluruh Indonesia.

(2016) Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam mempercepat pelayanan publik untuk masyarakat hingga di tingkat desa.

Meraih penghargaan The Best Electrical Service Company dalam ajang Indonesia Best Electrical Award 2016 yang diselenggarakan oleh SWA, Kementrian ESDM, Dewan Energi Nasional, dan PT. PLN

(18)

(Persero). Launching 9 aplikasi terpusat untuk membantu modernisasi dan digitalisasi proses bisnis PLN.

2.2 Logo dan Tagline PT Indonesia Comnets Plus (ICON+)

Gambar 2.1 Logo ICON+

(Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)

Mengusung tagline “We Speak Beyond Connectivity” ICON+ percaya bahwa dengan kelebihan yang dimiliki perusahaannya yakni jaringan fiber optic yang dapat menjangkau hingga ke daerah-daerah terpencil, mereka dapat memenuhi segala kebutuhan pelanggannya.

2.3 Makna Logo PT Indonesia Comnets Plus (ICON+) 1. Karakter “I” (Integrity)

ICONERS harus jujur, tulus dan dapat dipercaya dalam berpikir, berkata dan bertindak. Dan tanda coretan garis ke atas pada huruf “I” melambangkan ICONERS harus selalu berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

(19)

2. Karakter “C” (Care)

ICONERS selalu bersikap peduli, berempati dan responsif serta memberikan pelayanan yang melebihi harapan pemegang saham.

3. Karakter “O” (Open Minded)

ICONERS bersikap objektif dan komunikatif untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik.

4. Karakter “N” (Innovation)

ICONERS selalu mengerahkan kreatifitas dalam segala hal untuk menghasilkan nilai tambah bagi stakeholder.

5. Lingkaran Ellipse (Team Work)

ICONERS percaya bahwa kekuatan sinergi dapat membentuk tim pemenang.

ICONERS bekerja sama dengan semangat gotong royong, saling mengisi dan menyemangati, berpikir matang-matang untuk memperoleh hasil yang maksimal.

6. Karakter “+” (Excellence)

ICONERS bekerja dengan cerdas dan ulet untuk menghasilkan kualitas terbaik dalam mendukung keberhasilan perusahaan.

7. Warna

Menghormati induk (PLN) yang bermakna saling menghormati satu sama lain.

 Merah : passion (keinginan kuat)

 Biru : sky (sangat luas)

(20)

 Kuning : alert (waspada terhadap kompetitor) 2.4 Visi dan Misi PT Indonesia Comnets Plus (ICON+)

2.4.1 Visi Perusahaan

Menjadi penyedia solusi TIK terkemuka di Indonesia berbasis jaringan melalui pemanfaatan aset strategis.

2.4.2 Misi Perusahaan

- Memberikan layanan TIK yang terbaik di kelasnya kepada pelanggan guna meningkatkan nilai perusahaan.

- Memenuhi kebutuhan dan harapan PLN secara proaktif dengan menyediakan solusi-solusi TIK yang inovatif dan memberikan nilai tambah.

- Membangun organisasi pembelajar yang berkinerja tinggi untuk mendorong perusahaan mencapai bisnis yang unggul dan menjadi pilihan bagi talenta-talenta terbaik.

- Memberi kontribusi terhadap perkembangan telekomunikasi nasional.

2.5 Produk PT Indonesia Comnets Plus (ICON+) 2.5.1 ICONect

Layanan ini merupakan solusi konektifitas yang memberikan nilai lebih bagi pelanggan. Solusi yang diberikan berupa komunikasi data yang menghubungkan lokasi pelanggan di berbagai wilayah Indonesia. Jaringan end to end fiber optic

(21)

akan menjamin kelancaran pertukaran informasi yang cepat dan aman sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Adapun layanan ICONect terbagi menjadi 4, yaitu:

1. Metro Ethernet (Metronet)

Metronet adalah layanan komunikasi data yang merupakan kombinasi sempurna teknologi Optical Transport, Giga Ethernet Switching, dan IP Network yang secara khusus diperuntukan untuk daerah metropolitan.

Metronet di ICON+ merupakan layanan komunikasi data dengan system dedicated connection antara satu lokasi ke lokasi lainnya, berbasis fiber optic dengan menggunakan teknologi Ethernet di usernya, metronet bukan termasuk teknologi TDM yang ada pada Clear Channel. ICON+ memiliki jaringan metronet yang murni dikelola sendiri tanpa membeli jaringan dari provider lain (baik link maupun transport) sehingga keamanan data pelanggan pasti nya lebih terjamin karena tidak ada tangan ketiga yang ikut bermain.

2. IP VPN (Internet Protocol – Virtual Private Network)

IP VPN adalah layanan komunikasi data yang bersifat shared network dengan berbasis teknologi IP dilengkapi oleh teknologi MPLS (Multi Protocol Label Switching) untuk membentuk suatu Wide Area Network (WAN).

3. Clear Channel

Clear Channel adalah layanan jaringan telekomunikasi non protocolberbasis teknologi SDH (Synchronous Digital Hierarchy) yang menggunakan media transmisi end to end fiber optic, sehingga memiliki tingkat keandalan dan keamanan yang tinggi. Clear Channel merupakan

(22)

layanan komunikasi data dengan system dedicatedconnection antara satu lokasi ke lokasi lainnya (point to point) dan memiliki kapasitas mulai dari 2 Mbps (E1) sampai dengan 10 Gbps (STM 64) dengan waktu koneksi tidak terbatas.

4. IP VSAT (Internet Protocol - Very Small Aperture Terminal)

IP VSAT adalah layanan komunikasi satelit yang menggunakan teknologi VSAT sebagai perangkat komunikasi yang terintegrasi dengan network berbasis IP.

2.5.2 ICONWeb

Kebutuhan pelanggan untuk mendapatkan akses informasi dan komunikasi tanpa batas melalui jaringan internasional dan peering dengan provider lokal.

Adapun layanan ICONWeb terbagi menjadi 4, yaitu:

1. Internet Corporate

kecepatan tinggi Internet Corporate adalah layanan internet yang berbasis teknologi VPN MPLS dengan lastmile fiber optic sehingga mampu memberikan kualitas layanan dan keamanan jaringan yang terbaik.

Internet Corporate merupakan layanan komunikasi data dengan system dedicated (point to point), sebagai satu layanan dengan tingkat QoS dan keamanan lebih baik dibandingkan dengan jaringan IP biasa, dengan layanan Internet Corporate, pelanggan dapat melakukan akses internet selama 24 jam nonstop. Tarif yang berlaku adalah flat, sehingga pelanggan tidak perlu khawatir terhadap fluktuasi biaya internet setiap bulannya.

(23)

2. IIX Access (Indonesia Internet Exchange Access)

Merupakan solusi efektif bagi perusahaan yang memerlukan interkoneksi nasional ke Indonesia.

3. IP Transit NAP

Network Access Point adalah titik interkonesi jaringan dimana Internet Service Provider (ISP) dan Network Service Provider (NSP) dapat saling terhubung dalam suatu peering. Dengan adanya NAP menggunakan Tier 1 akan mempermudah koneksi Internet Telephony, VoIP, VPN, streaming media, dan Video Conference terutama ke link international.

4. I-WIN

Merupakan solusi efektif untuk keandalan interkoneksi internet nasional. I-WIN adalah layanan professionalservice bagi pelanggan yang membutuhkan infrastruktur wi-fi sebagai hotspot untuk akses layanan internet maupun intranet.

2.5.3 ICONBase

Infrastruktur yang handal menjadi kunci dimana keamanan data menjadi hal yang penting saat ini. ICON+ memberikan berbagai macam layanan, infrastruktur yang aman dan dapat memberikan nilai yang lebih bagi efisiensi bisnis pelanggan. Didukung oleh data center Tier-3 yang berlokasi di dalam negeri. ICON+ berkomitmen untuk memberikan layanan infrastruktur terbaik dengan tingkat keamanan yang tinggi. Adapun layanan ICONBase terbagi menjadi 3, yaitu:

(24)

1. ICONCloud Virtual Data Center

Merupakan solusi berbagai kebutuhan infrastruktur cloud computing untuk mendukung kinerja bisnis.

2. Data Center Colocation

Merupakan penempatan perangkat serverdan network pelanggan dengan jaminan keamanan dan keandalan terbaik. Layanan ini bertujuan untuk mendukung perusahaan yang belum memiliki ruang server ataupun memerlukan rak server tambahan untuk berbagai kebutuhan.

3. Manage Service Router

Merupakan layanan terintegrasi untuk kenyamanan dan kemudahan bisnis.

2.5.4 ICONApps

Sebagai “ICT Enabler of PLN”, ICON+ memberikan berbagai solusi aplikasi untuk menunjang integrasi proses bisnis PLN. Solusi-solusi tersebut ditujukan untuk dapat senantiasa membantu PLN memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggannya. Adapun layanan ICONApps terbagi menjadi 3, yaitu:

1. I-SEE/VASS (Video As A Service)

Merupakan layanan Video Surveillance berkualitas tinggi dengan kapasistas jaringan dan penyimpanan terbaik.

(25)

2. I-VIP (Video Conference)

Merupakan layanan komunikasi interaktif video dan suara yang melibatkan dua partisipan atau lebih, baik dalam lokasi geografis yang sama maupun berbeda.

3. Solusi Aplikasi Ketenagalistrikan (PLN)

- Aplikasi Pelayanan Pelanggan Terpusat (AP2T)

Merupakan sistem aplikasi terpusat yang dibuat secara online (web- based application) dan mencakup keseluruhan proses bisnis dan administrasi bagi pelanggan PLN. Hingga saat ini, sistem aplikasi tersebut melayani kebutuhan pelayanan pelanggan yang meliputi:

online imaging, ERP PLN, listrik pra-bayar, pembayaran non-tagihan listrik, dan pengelolaan contact center.

- Aplikasi Pengaduan dan Keluhan Terpadu (APKT)

Merupakan aplikasi yang digunakan untuk pengelolaan operasional jaringan, distribusi jaringan, record dan recovery dari gangguan dan keluhan pelanggan. Pengelolaan dilakukan secara online, realtime dan terintegrasi dengan proses bisnis PLN lainnya.

- Contact Center 123 PLN

Merupakan sistem pelayanan pelanggan yang ditujukan untuk memberikan kemudahan bagi pelanggan PLN, dalam melakukan komunikasi, penyampaian gangguan dan keluhan pelanggan. Sistem

(26)

ini dikelola secara terpusat oleh PT ICON+ dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan PLN.

- Batu Bara Online (BBO)

Merupakan aplikasi yang ditujukan untuk melakukan pengelolaan batu bara, yang meliputi requirement, design, pengembangan, implementasi, operasional, dan pengelolaan batubara sesuai proses bisnis PLN. Aplikasi ini dikelola ICON+ secara terpusat.

- Centralized Automatic Meter Reading (AMR)

Merupakan aplikasi yang dikelola secara terpusat untuk melakukan pembacaan meter listrik. Aplikasi ini juga ditujukan untuk end-to-end pengelolaan energi, mulai dari pembangkitan, transmisi, dan distribusi listrik.

- Document Management System (DMS)

Merupakan aplikasi yang digunakan untuk menangani end-to-end pengelolaan dokumen (document life cycle). Aplikasi ini menangani pengelolaan dokumen secara elektronik, mulai dari proses drafting, review, publikasi, penyimpanan, dan pemusnahan dokumen.

- Catat Meter Online (i-CMO)

Merupakan aplikasi pembacaan meter listrik yang dilakukan secara terpusat dan ditujukan untuk melayani penagihan listrik secara postpaid dan prepaid. Aplikasi ini juga terintegrasi langsung dengan sistem AP2T dan AT2LT.

(27)

- Field Service - Work Force Management (WFM)

Merupakan aplikasi online terkait dengan pengelolaan workforce, terutama terkait penanganan gangguan yang dikelola secara terpusat.

4. Seat Management

Layanan Seat Management mendukung kinerja operasional IT perusahaan pelanggan.

2.6 Struktur Organisasi PT. Indonesia Comnets Plus (ICON+) SBU Palembang

Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT. Indonesia Comnets Plus SBU

Palembang

(Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)

Enrico H Batubara General Manager SBU Palembang

Mikael Kuncoro Rahadi Manager Bidang Pembangunan dan Aktivasi

Rinto Hariwijaya SPV Pembangunan

Hadriyan Nurstiyo SPV Aktivasi

Firmansyah Manager Bidang Operasi,

Pemeliharaan dan Aset

Yenni Astri Damayanti SPV Fasilitas dan

Supporting

Handy Setiandi SPV Bidang Pemeliharaan

Febri Andriansyah Sudrajat Manager Bidang

Penjualan dan Pendapatan

(28)

19 BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Internet Corporate

Internet Corporate adalah layanan internet kecepatan tinggi yang berbasis

teknologi GPON dengan lastmile fiber optic sehingga mampu memberikan kualitas layanan dan keamanan jaringan yang terbaik.

Internet Corporate merupakan layanan komunikasi data dengan system dedicated (point to point), sebagai satu layanan dengan tingkat QoS dan keamanan

lebih baik dibandingkan dengan jaringan IP biasa, dengan layanan Internet Corporate, pelanggan dapat melakukan akses internet selama 24 jam nonstop. Tarif yang berlaku adalah flat, sehingga pelanggan tidak perlu khawatir terhadap fluktuasi biaya internet setiap bulannya. (PT. Indonesia Comnets Plus 2019)

Gambar 3.1 Topologi Umum

(Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)

(29)

3.1.1 Proses Distribusi Jaringan Internet Corporate

Dalam menyalurkan jaringan fiber optik pada internet corporate yang dimulai dari POP WS2JB Mini Shelter PLN dengan menggunakan Switch MSG3520 lalu ODF yang terdapat didalam POP menuju ke Fiber Optik ( FO) Outdoor dengan SFP Transmiter setelah itu masuk ke Joint Box 1 ke Joint Box 2 setelah dari Joint Box 2 kemudian masuk ke Joint Box 3 dan masuk ke Joint Box 4, lalu masuk ke ODF User dengan SFP Receiver, kemudian dari ODF User dengan menggunakan kabel patch cord disalurkan ke MIKROTIK receiver dengan SFP.

Daya total yang dimiliki POP WS2JB mini shelter PLN adalah sebesar 3000 W, kemudian daya yang digunakan untuk menyalurkan jaringan serat optik dari POP sampai ke pelanggan adalah sebesar 2200 W, Arus yang digunakan oleh pelanggan adalah 1 A, lalu daya yang digunakan oleh pelanggan internet corporate sebesar 20 W.

Gambar 3.2 Diagram Alur Perancangan Jaringan (Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)

(30)

3.2 Serat Optik

Serat optik adalah salah satu media transmisi yang dapat menyalurkan informasi dengan kapasitas besar dengan keandalan yang tinggi. Berlainan dengan media transmisi lainnya, maka pada serat optik gelombang pembawanya tidak merupakan gelombang elektromagnet atau listrik, akan tetapi merupakan sinar/cahaya laser Pada serat optik gelombang cahayalah yang bertugas membawa sinyal informasi. Sinyal listrik ini dibawa oleh gelombang pembawa cahaya melalui serat optik dari pengirim menuju alat penerima yang terletak pada ujung lainnya dari serat. (B Ananto, D Drajat, B Setyono 2011)

3.2.1 Struktur Fiber Optic

Struktur fiber optic terdiri dari 3 bagian yaitu core (inti), cladding (lapisan), dan coating (jaket).

Gambar 3.3. Struktur Fiber Optic

(Sumber : N Setyaputra, A Hidayat, AL Hadiyanto, I Pratiwi 2017)

(31)

a. Core (Inti)

Bagian yang paling utama dinamakan bagian inti (core), dimana gelombang cahaya yang dikirimkan akan merambat dan mempunyai indeks bias lebih besar dari lapisan kedua. Terbuat dari kaca (glass) yang berdiameter antara 2µm-125µm, dalam hal ini tergantung dari jenis serat optiknya.

b. Cladding (Lapisan)

Cladding berfungsi sebagai cermin yaitu memantulkan cahaya agar dapat merambat ke ujunglainnya. Dengan adanya cladding ini cahaya dapat merambat dalam core serat optik. Cladding terbuat dari bahan gelas dengan indeks bias yang lebih kecil dari core. Cladding merupakanselubung dari core. Diameter cladding antara 5µm-250µm, hubungan indeks bias antara.

c. Coating (Jaket)

Coating berfungsi sebagai pelindung mekanis pada serat optik dan identitas kode warnadari bahan plastik. Berfungsi untuk melindungi serat optik dari kerusakan. (N Setyaputra, A Hidayat, AL Hadiyanto, I Pratiwi 2017)

3.3 Gigabit Passive Optical Network (GPON)

GPON (Gigabit Passive Optical Network) adalah suatu teknologi akses optik dengan kecepatan 2,488 Gbps yang terstandarisasi oleh ITU-T G.984. Teknologi GPON menawarkan suatu jaringan yang cost-efective, flexible dan scalbable dalam

(32)

provisioning voice maupun data service yang reliable berbasis pada optical access network.

Secara prinsip, GPON terdiri atas OLT (Optical Line Termination) yang terletak di Central atau pada STO dan sekumpulan perangkat ONT (Optical network Terminal) atau ONU (Optical Network Unit) yang terletak di customer premises. (IB Pramanabawa 2013)

Tabel 3.1 Standar Teknologi GPON

NO Data Karakteristik Standar GPON

1 Standardization ITU-T G.984

2 Frame ATM / GEM

3 Speed Upstream 1.2 G / 2.4 G

4 Speed Downstream 1.2 G / 2.4 G

5 Service Data, Voice, Video

6 Transmission Distance 10 km / 20 km

7 Number of Branches 64

8 Wavelength Up 1310 nm

9 Wavelength Down 1590 nm

10 Splitter Passive

3.4 Komponen GPON

Komponen-komponen pada teknologi GPON antara lain yaitu :

(33)

3.4.1 Sumber cahaya

Sumber cahaya yang digunakan untuk memancarkan cahaya yang membawa informasi merupakan hasil pengubahan sinyal listrik menjadi sinyal optik. Sumber cahaya yang digunakan dalam teknologi GPON adalah Injection Laser Diode (ILD). Jenis ILD yang digunakan pada sistem GPON antara lain Fabry Perot Laser dan Distributed Feddback Laser (DFB), dengan lebar spektrum masing – masing 3nm dan 1nm. (IB Pramanabawa 2013)

3.4.2 Kabel Fiber Optic Yang Digunakan

Jenis kabel fiber optic yang digunakan dalam GPON yang diaplikasikan untuk komunikasi jarak jauh harus memiliki kemampuan untuk membawa banyak sinyal dengan laju bit yang tinggi. Dari dua jenis serat optik yang ada yaitu single mode dan multimode, yang digunakan sebagai media transmisi teknologi GPON adalah jenis single mode, hal ini dikarenakan daerah kerja panjang gelombang single mode lebih tinggi daripada daerah kerja panjang gelombang multimode. Sehingga serat optik jenis ini lebih sesuai digunakan pada transmisi jarak jauh yang memerlukan transmisi kecepatan tinggi dan rugi – rugi yang kecil. (IB Pramanabawa 2013)

(34)

Gambar 3.4 Kabel Fiber Optic Single Mode (Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)

3.4.3 Optical Distribution Frame (ODF)

Optical Distribution Frame (ODF) merupakan perangkat yang berperan sebagai tempat interkoneksi antara kabel serat optik dengan perangkat lain seperti Router dan Switch. ODF juga berperan sebagai pelindung konektivitas kabel serat optik dari kerusakan. Berdasarkan strukturnya, ODF terdiri dari wall mount ODF yang berbentuk kotak dan dipasang pada dinding, floor mount ODF yang memiliki struktur sama dengan wall mount tetapi digunakan untuk kapasitas kabel serat optik tertentu, dan rack mount ODF yang dipasang pada rak perangkat jaringan. ODF yang digunakan pada penelitian ini yaitu rack mount ODF yang berada di POP dengan kapasitas 48 core dan di user 6 core. Di dalam ODF terdapat pigtail (sebuah kabel yang berada di dalam ODF dan ujungnya dihubungkan dengan SC Adapter), patch cord (sebuah kabel yang berfungsi untuk menghubungkan dua perangkat, seperti menghubungkan ODF dengan

(35)

Switch), dan SC Adapter (komponen yang digunakan untuk melakukan penyambungan antara kabel serat optik satu dengan yang lain). (Siti Khoerunnisa 2020)

Gambar 3.5 Optical Distribution Frame (ODF) (Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)

3.4.4 Switch

Switch adalah perangkat jaringan komputer yang berfungsi sebagai penyambung atau penghubung. Switch memiliki peran yang sama dengan Bridge namun Switch terdiri dari banyak port sehingga disebut multiport bridge. Switch bekerja berdasarkan alamat MAC pada NIC (Network Interface Card).

Hal ini bertujuan untuk mengetahui kemana paket yang akan dikirim dan diterima. Selain itu, tujuan lainnya ialah agar tidak terjadi tabrakan pada jalur pengiriman data (collision) antara port satu dengan yang lain. (Siti Khoerunnisa 2020)

(36)

. Gambar 3.6 Switch MGS3520

(Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)

3.4.5 Splicer

Splicer atau Fusion Splicing merupakan Penyambungan kabel optik dikenal dengan istilah splicing, Dalam penyambungan fiber optic diperlukan alat khusus yaitu splicer. Terdapat dua metode dalam penyambungan optik yaitu : fusion splicing dan mechanical splicing. Fusion splicing memiliki redaman lebih kecil yaitu sekitar 0.1 dBm dibanding mechanical splicing yang mencapai 0.5 sampai 0.75 dbm di setiap sambungannya. Fusion splicing melakukan penyambungan dengan cara menyelaraskan / meluruskan kedua ujung serat optik yang ingin disambung, memanaskan dan melebur nya hingga menjadi 1 bagian yang tersambung. Fusion splicer menggunakan nichrome wire (Teknik lama), atau CO2 laser atau pun gas api untuk meleleh kan serat optik yang ingin disambung. Seiring canggih nya teknologi terdapat fusion splicer yang mampu melakukan splicing sampai 24 core bersamaan. (Irvan Kresnanda Putra 2018)

(37)

Gambar 3.7 Splicer

(Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang) 3.4.6 Patch Cord

Patch Cord merupakan kabel fiber optic yang memiliki panjang tertentu yang telah terpasang connector di ujungnya. Patch cord ini digunakan sebagai penghubung antara perangkat atau koneksi telekomunikasi. Patch cord merupakan kabel fiber indoor, yang dipakai hanya untuk di dalam ruangan saja, yang mana kabel fiber indoor memiliki bahan yang lebih elastis dari pada kabel fiber outdoor. Bahan kabel fiber indoor lebih fleksibel dikarenakan instalasi di dalam ruangan yang mengikuti lika-liku sudut ruangan, yang mana tidak memungkinkan jika menggunakan kabel fiber outdoor yang berbahan kaku. Pada bagian patch cord terdapat serabut halus yang kuat untuk melindungi serat optik yang ada di dalamnya. Pada kegiatan proses validasi patch cord juga digunakan saat melakukan pengukuran redaman. Karena patch cord dapat digulung dan mudah dibawa kemana-mana. (Al Alifah Putri Amin, N 2019)

(38)

Gambar 3.8 Patch Cord

(Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang) 3.4.7 Router

Router merupakan sebuah perangkat yang dapat menghubungkan beberapa jaringan komputer untuk saling berkomunikasi dengan media kabel atau nirkabel. Router memiliki sistem operasi di dalam memori penyimpanannya. Sistem operasi ini berbeda dengan sistem operasi yang ada di dalam komputer karena sistem operasi pada router memiliki fungsi terbatas dan ukuranya harus kecil sehingga dapat dipasang dalam bentuk firmware router. ( Siti Khoerunnisa 2020)

(39)

Gambar 3.9 Router Mikrotik

(Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)

3.4.8 Small Form-Factor Pluggables (SFP)

Small Form-factor Pluggables (SFP) Merupakan penyambungan ODF dan Switch,SFP salah satu perangkat yang cukup penting karena SFP bekerja sebagai perangkat yang men-transmitte dan me-receive sinyal informasi dengan media serat optik. SFP merupakan pengembangan dari Gigabit Interface Converter (GBIC) yang berarti suatu port dikhususkan untuk berhubungan dengan jaringan backbone dengan bandwidth yang besar. SFP ini biasanya dipasang pada port switch dan router[7]. SFP yang digunakan dalam penelitian ini ialah SFP single mode. ( Siti Khoerunnisa 2020)

Gambar 3.10 SFP

(Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)

(40)

3.5 Parameter Untuk Kelayakan Jaringan GPON

Pada sub bab ini akan membahas parameter jaringan berupa perhitungan power link budget dan rise time budget jaringan GPON antara POP WS2JB mini shelter PLN menuju kantor DISKOMNIFO SUMSEL.

3.5.1 Power Link Budget

Perhitungan power link budget untuk mengetahui batasan redaman total yang diizinkan antara daya keluaran pemancar dan sensitivitas penerima. Perhitungan ini dilakukan berdasarkan standarisasi ITU-T G.984 dan juga peraturan yang digunakan oleh PT. ICON+, yaitu jarak tidak lebih dari 20 km dan redaman total tidak lebih dari 28 dB atau Pr > -28 dBm.

Margin daya disyaratkan harus memiliki nilai lebih dari 0, margin daya adalah daya yang masih tersisa dari power transmit setelah dikurangi dari loss selama proses pentransmisian, pengurangan dengan nilai safety margin dan pengurangan dengan nilai sensitifitas receiver. Bentuk Persamaan untuk perhitungan redaman total pada link power, yakni :

………. (2.1) Bentuk persamaan untuk perhitungan margin daya adalah :

( ) ……….. (2.2) Keterangan :

Pt = Daya keluaran sumber optik ( dBm)

Pr = Sensitivitas daya maksimum detektor ( dBm)

(41)

SM = Safety margin, berkisar 6-8 dB α tot = Redaman Total sistem (dB) L = Panjang serat optik ( Km) α c = Redaman Konektor (dB/buah)

α s = Redaman sambungan ( dB/sambungan) α serat = Redaman serat optik ( dB/ Km)

Ns = Jumlah sambungan Nc = Jumlah konektor

Sp = Redaman Splitter (dB) (Brilian Dermawan,Imam Santoso,dan Teguh Prakoso 2016)

3.5.2 Rise Time Budget

Rise time budget merupakan metode untuk menentukan batasan dispersi suatu link serat optik. Metode ini sangat berguna untuk menganalisa sistem transmisi digital. Tujuan dari metode ini adalah untuk menganalisa apakah unjuk kerja jaringan secara keseluruhan telah tercapai dan mampu memenuhi kapasitas kanal yang diinginkan. Umumnya degradasi total waktu transisi dari link digital tidak melebihi 70 persen dari satu periode bit NRZ (Non-retum-to-zero) atau 35 persen dari satu periode bit untuk data RZ (return-to-zero). Satu periode bit didefinisikan sebagai resiprokal dari data rate. Untuk menghitung Rise Time budget dapat dihitung dengan rumus :

( ) …………... (2.3)

(42)

Keterangan :

ttx = Rise time transmitter (ns) trx = Rise time receiver (ns)

tintermodal = bernilai nol (untuk serat optik single mode) tintramodal = tmaterial + twaveguide

tmaterial = ∆σ x L x Dm

twaveguide = L/C[n2+n2∆ d(vb/dv)]

∆s = (n1-n2)/n1

uc = 2v1/2

d(vb/dv) = 1+(uc2+ v2)

∆σ = Lebar Spektral (nm) L = Panjang serat optik (Km) Dm = Dispersi Material (ps/nm.Km) N2 = Indeks bias selubung

c = kecepatan rambat cahaya 3x108 v = (2π x a )/( λ) x n1 x (2 x ∆s)1/2 a = Jari-jari inti

n1 = indeks bias inti

n2 = Indeks bias selubung (Brilian Dermawan,Imam Santoso,dan Teguh Prakoso 2016)

(43)

35 BAB IV

ANALISA DAN PERHITUNGAN

4.1 Link Jaringan GPON

Pemilihan GPON merupakan solusi yang menunjang saluran informasi yang dengan kemampuan besar. Salah satunya jaringan optik GPON existing adalah jaringan Point Of Presence (POP) WS2JB mini Shelter PLN menunju pelanggan kantor DISKOMINFO SUMSEL yang berada di jalan Kapten A. Rivai yang memiliki panjang link ± 1, 702 km.

Power link budget dan rise time budget dari link ini harus dianalisa untuk mengetahui kualitas dari GPON sampai ke pelanggan. Untuk mengetahui redaman yang terjadi sesuai dengan standar ITU-T G 984 yang digunakan PT. ICON+ yaitu redamanan power link budget tidak lebih dari 28 dB atau Pr > - 28dBm, dan margin daya di atas 0 dBm. Kemudian untuk rise time budget nilainya dibawah maksimum rise time dan bit rate sinyal non-return-to-zero (NRZ) yaitu sebesar 0,5833 ns.

Sehingga pelanggan mendapatkan pelayanan yang sangat baik dari jaringan GPON ini.

Pada bagian ini dapat dilihat daftar perangkat dan jumlah perangkat yang digunakan (terdapat pada tabel 4.1). Dan dapat dilihat pula konfigurasi jaringan yang digunakan berupa teknologi jaringan berbasis GPON FTTB (Fiber To The Building) dari POP WS2JB mini Shelter PLN menunju kantor DISKOMINFO SUMSEL.

(44)

Tabel 4.1 Daftar perangkat yang digunakan

No. Perangkat Jumlah

1 kabel ADSS 6c 4,5 m

2 kabel patch cord SC-LC 4,5 m

3 ODF 1 unit

4 Mikrotik 1 buah

5 Joint Box 4 buah

6 SFP LH 1.25G-TX 1550 1 buah

7 SFP LH 1.25G TX 1310 1 buah

8 Core serat optik 6 core

4.2 Perhitungan Power Link Budget

Perhitungan power link budget pada jaringan GPON ini akan dibagi menjadi dua, pertama dipengaruhi oleh jarak POP dengan Router. Kedua karena teknologi jaringan GPON memiliki panjang gelombang asimetrik pada transmisinya. Panjang gelombang untuk uplink adalah sekitar 1310 nm dan untuk downlink nilainya sekitar 1550 nm.

(45)

Tabel 4.2 Data- data perhitungan Power Link Budget

NO Data Besarannya

1 Daya keluaran Sumber optik

5 dBm

2 Sensitivitas detector -28 dBm

3 Redaman kabel optic (1310/1550)

(0,941/0,914) dB/splice

4 Jenis Splitter 1:1 0

5 Jumlah sambungan 4 buah

6 Jumlah konektor 5 buah

7 Konektor 0,25dB/ Konektor

Perhitungan power link budget pada jaringan GPON ini akan dibagi menjadi dua, pertama dipengaruhi oleh jarak POP dengan Router mikrotik. Kedua karena teknologi jaringan GPON memiliki panjang gelombang asimetrik pada transmisinya. Panjang gelombang untuk uplink adalah 1310 nm dan untuk downlink nilainya 1550 nm.

Uplink :

Jarak ODF POP WS2JB mini Shelter PLN menuju JB 1 adalah 0,102 km kemudian dari JB1 ke JB 2 adalah 0,083 km, dari JB2 ke JB 3 adalah 0,456 km, dari JB3 ke JB 4 adalah 0,551 km, dan dari JB 4 ke ODF pelanggan adalah 0,51 km.

Untuk perhitungan α tot dapat dilakukan dengan cara berikut ini :

………..

(2.1)

(46)

αtot = (0,102x2,664) + (0,083x2,664) + (0,456x2,664) + (0,551x2,664) + (0,51x2,664) + (4x0,25) + (5x0,941) + 0

αtot = 10,239 dB

Untuk perhitungan margin daya dapat dilakukan dengan cara berikut ini :

…………

(2.2)

Pr = 5- 10,239 – 6 Pr = -11,29 dBm

M = (5+28) – 10,239 - 6 M = 16,761 dBm

Downlink :

Jarak ODF POP WS2JB mini Shelter PLN menuju JB 1 adalah 0,102 km kemudian dari JB1 ke JB 2 adalah 0,083 km, dari JB2 ke JB 3 adalah 0,456 km, dari JB3 ke JB 4 adalah 0,551 km, dan dari JB 4 ke ODF pelanggan adalah 0,51 km.

Untuk perhitungan α tot dapat dilakukan dengan cara berikut ini :

………..

(2.1)

αtot = (0,102x2,438) + (0,083x2,438) + (0.456x2,438) + (0,551 2,438) + (0,51x2,438) + (4x0,25) + (5x0,914) + 0

αtot = 9,719 dB

Untuk perhitungan margin daya dapat dilakukan dengan cara berikut ini :

(47)

………..

(2.2) Pr = 5 - 9,719 - 6

Pr = -10,719 dBm M = (5+28) - 9,719 - 6 M = 19,281 dBm

Tabel 4.3 Perbandingan Redaman Total

Pengukuran Power Link Budget (dB) Perhitungan Power Link Budget (dB)

Uplink Downlink Uplink Downlink

2,304 2,109 10,239 9,719

4.3 Perhitungan Rise Time Budget

Rise time budget merupakan metode untuk menentukan batasan disperse suatu link serat optik. Metode ini sangat berguna untuk menganalisa sistem transmisi digital. Tujuannya untuk menganilisis apakah kinerja jaringan secara keseluruhan telah tercapai dan mampu memenuhi kapasitas kanal yang di inginkan. Umumnya degradasi total waktu transisi dari link digital tidak melebihi 70 persen dari satu periode bit NRZ (Non-retum-to-zero) atau 35 persen dari satu periode bit untuk data RZ (return-to-zero). Satu periode bit didefinisikan sebagai resiprokal dari data rate.

(48)

Tabel 4.4 Data perhitungan rise time budget

NO Data Besarannya

1 Panjang Gelombang λ

1310 nm dan 1550 nm

2 Lebar Spektral

Mikrotik/Switch ( ) 1 nm/ 1 nm 3 Rise time Transmitter

Mikrotik/Switch (ttx )

(130x10-3/150x10-3) ns

4 Dispersi material (Dm) (1310/1550)

(2,96/12,16) ps/nm.km

5 Rise time receiver Mikrotik/Switch (trx)

(130x10-3/150x10-3) ns

6 Pengkodean NRZ -

7 Menggunakan Single Mode

-

8 Indeks bias inti (n1) 1,34

9 Indek bias selubung (n2) 1,32 10 Jari-jari inti (a)

4,1 μm

Perhitungannya sebagai berikut :

Uplink : Jarak ODF POP WS2JB mini Shelter PLN menuju JB 1 adalah 0,102 km kemudian dari JB1 ke JB 2 adalah 0,083 km, dari JB2 ke JB 3 adalah 0,456 km, dari JB3 ke JB4 adalah 0,551 km, dan dari JB 4 ke ODF pelanggan adalah 0,51 km.

Bit rate uplink (Br) = 1.2 Gbps (NRZ)

(49)

Tr = (70%)/Br = 0.7/(1.2 × 109 ) = 0,5833 ns Menentukan t intramodal / t material

tmaterial = ∆σ × L × Dm

t material = 1 nm x 1,702 Km x 0,0296

t material = 0,05

Menentukan selisih indeks bias

∆s = ( n1 - n2 ) / n1

∆s = ( 1,34 – 1,31 ) / 1,34

∆s = 22,3 x 10-3

Menetukan frekuensi dinormalkan

V = ( 2π × a ) / λ × n1 ( 2 × ∆s )1/2

V = (2×3,14 / 1,31µm) × 4,1 µm x 1,34 (2×22,3 × 10-3)1/2 V = 5,5

Menetukan dvb/dv

dvb/dv = 1 + ((2×V)1/2 / v2 )

dvb/dv = 1 + ((2× 5,5)1/2 / 5,52) = 1,109

(50)

Menetukan twaveguide

twaveguide = L/C [ n2 + n2 ∆ d ( vb / dv ) ]

twaveguide = (1702 m / 3x108 m/s) x [1,32 + (1,32 x 22,3 x 10-3 x 1,109)]

twaveguide = 5,67x10-6 x 1,352

twaveguide = 7,6 x10-6

sehingga total rise time budget disisi uplink :

ttotal = (ttx2

+ tintramodal2

+ tintermodal2 + trx2

)1/2

ttotal = (0,132 + (0,05 + (7,6x10-6 ))2 + 02 + 0,152)1/2

ttotal = 0,204 ns

Downlink : Jarak ODF POP WS2JB mini Shelter PLN menuju JB 1 adalah 0,102 km kemudian dari JB1 ke JB 2 adalah 0,083 km, dari JB2 ke JB 3 adalah 0,456 km, dari JB3 ke JB 4 adalah 0,551 km, dan dari JB 4 ke ODF pelanggan adalah 0,51 km.

Bit rate downlink (Br) = 2.4 Gbps (NRZ) Tr = (70%)/Br = 0.7 / ( 2.4 × 109 ) = 0,2917 ns

Menentukan t intramodal / t material

tmaterial = ∆σ × L × Dm

t material = 1 nm x 1,702 Km x 0,01216 t material = 0,0207

(51)

Menentukan selisih indeks bias

∆s = ( n1 - n2 ) / n1

∆s = ( 1,34 – 1,32 ) / 1,34

∆s = 22,3x10-3

Menetukan frekuensi dinormalkan

V = ( 2π × a ) / λ × n1 ( 2 × ∆s )1/2

V = (2 x 3,14 / 1,55µm) x 4,1 µm x 1,34 (2 x 22,3 x 10-3)1/2 V = 4,70

Menetukan dvb/dv

dvb/dv = 1 + ((2xV)1/2 / v2 )

dvb/dv = 1 + ((2 x 4,70)1/2 / 4,702) = 1,13

Menetukan twaveguide

twaveguide = L/C [ n2 + n2 ∆ d ( vb / dv ) ]

twaveguide = (1702m / 3x108 m/s) x [1,32 + (1,32 x 29,8 x 10-3 x 1,11)]

twaveguide = 5,67x10-6 x 1,343 twaveguide = 7,55 x 10-6

(52)

sehingga total rise time budget disisi downlink :

ttotal = (ttx2

+ tintramodal2

+ tintermodal2 + trx2

)1/2

ttotal = (0,132 + (0,0207 + (7,55 x 10-6 ))2 + 02 + 0,152)1/2 ttotal = 0,207 ns

Tabel 4.5 Perbandingan Rise Time Total

Pengukuran Rise Time Budget (ns) Perhitungan Rise Time Budget (ns)

Uplink Downlink Uplink Downlink

0,209 0,212 0,204 0,207

4.4 Analisa Perhitungan

Setelah dilakukan perhitungan power link budget dan rise time budget pada jaringan GPON dari POP WS2JB mini Shelter PLN menuju DISKOMINFO SUMSEL dengan jarak 1,702 Km didapat hasil sebagai berikut :

Dari hasil perhitungan diatas dapat dianalisa pada saat kondisi uplink redaman totalnya adalah 10,239 dB, dan Margin yang didapat adalah 16,761 dBm, dimana nilai tersebut berada diatas 0 dBm. Pada saat kondisi downlink redaman totalnya adalah 9,719 dB, dan Margin yang didapat adalah 19,281 dBm, dimana nilai tersebut berada diatas 0 dBm, dengan jumlah 4 sambungan dan rata-rata loss pada sambungan yaitu saat uplink (0,941 dB) dan downlink (0,914 dB) apabila semakin jauh jaraknya dan jumlah sambungan juga lebih banyak maka redamannya akan semakin besar kemudian akan mempengaruhi kualitas sinyal data yang diterima oleh pelanggan.

(53)

Pada perhitungan rise time budget pada saat uplink didapat hasil 0,204 ns , dan pada saat downlink didapat 0,207 ns dimana hasil perhitungan tersebut masih masuk standar dan tidak melebihi nilai yang digunakan oleh PT ICON+ yaitu maksimal 0,26 ns.

Dari hasil analisa pada perhitungan di atas, dapat membuktikan bahwa tingkat hasil kinerja pada pemasangan jaringan GPON di kantor DISKOMINFO SUMSEL sudah baik karena sudah sesuai dengan standarisasi ITU-T G.984 yang digunakan oleh PT Indonesia Comnets Plus (ICON+).

(54)

46 BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil perhitungan, analisis, dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pada perhitungan power link budget didapatkan hasil sebagai berikut, pada saat kondisi uplink redaman total yang didapat adalah 10,239 dB. Untuk Margin didapat hasil 16,761 dBm, dimana nilai tersebut berada diatas 0 dBm.

Pada perhitungan power link budget saat kondisi downlink redaman totalnya adalah 9,719 dB. Untuk Margin didapat hasil 19,281 dBm, dimana nilai tersebut berada diatas 0 dBm dan, sehingga nilai hasil dari perhitungan tersebut masuk dalam kategori layak power link budget karena memenuhi nilai standar ITU-T G.984 yang digunakan oleh PT. ICON+ yaitu tidak melebihi 28 dB atau Pr > -28 dBm. Jadi pada redamanan power link budget jaringan GPON POP WS2JB Mini Shelter PLN ke kantor DISKOMINFO SUMSEL memiliki kualitas sinyal data yang baik dan mampu memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan.

2. Pada perhitungan rise time budget pada saat uplink didapat hasil 0,204 ns , dan pada saat downlink didapat 0,207 ns dimana hasil perhitungan tersebut masuk standar PT ICON+ yaitu maksimal 0,26 ns. Jadi pada jaringan GPON POP WS2JB Mini Shelter PLN memiliki standar sistem yang baik sehingga

(55)

3. informasi dalam jaringan serat optik tetap terjamin dan sistem dapat melewati bit rate yang ditransmisikan.

4. Kualitas transfer data tidak hanya dipengaruhi oleh jarak tetapi juga dipengaruhi oleh loss redaman pada sambungan kabel fiber optic.

5.2 SARAN

1. Apabila hasil perhitungan jarak maksimum transmisi kurang dari jarak pengukuran, maka bisa kita lakukan program maintenance dititik sambung pada bagian Optical Distribution Frame (ODF) atau pada bagian Joint Box (JB).

2. Kemudian apabila redamannya terlalu tinggi, maka dapat dilakukan penggantian kabel distribusi atau patch cord.

(56)

DAFTAR PUSTAKA

PT. Indonesia Comnets Plus. (2019a). Data Divisi Aktivasi PT. Indonesia Comnets Plus. Palembang. Retrieved from https: //www.iconpln.co.id/product/

PT. Indonesia Comnets Plus. (2019b). Produk PT. Indonesia Comnets Plus. Retrieved from https://www.iconpln.co.id/product/

PT. Indonesia Comnets Plus. (2019c). Sejarah PT. Indonesia Comnets Plus. Retrieved from https://www.iconpln.co.id/about/

Pramanabawa, I. B., & Indonesia, B. J. B. B. (2013). Analisa Rise Time Budget dan Power Link Budget dari STO ke Pelanggan Infrastruktur GPON (Gigabit Passive Optical Network) PT. Telekomunikasi Divisi Access Denpasar.

Universitas Udayana: Bali.

Setya Saputra, dkk, 2017. Kajian Penggunaan Media Transmisi Fiber Optik untuk Meningkatkan Nilai Perbandingan Penguatan Antena Terhadap Noise

Khoerunnisa, S. (2020). Teknik Penyambugan ODF dan Switch Untuk Layanan Metronet Oleh PT. XXX.

Dermawan, B., Santoso, I., & Prakoso, T. (2016). Analisis Jaringan FTTH (Fiber To The Home) Berteknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network). Transmisi, 18(1), 30-37

.Ananto, B., Darjat, D., & Setiyono, B. (2011). Simulasi Perambatan Cahaya Pada Serat Optik (Doctoral dissertation, Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik).

Setyasaputra, N., Hidayat, A., Hadiyanto, A. L., & Pratiwi, I. (2017). Kajian Penggunaan Media Transmisi Fiber Optik untuk Meningkatkan Nilai

(57)

Perbandingan Penguatan Antena Terhadap Noise Study of Optical Fiber Transmission Media Usage to Improve Gain to Noise Ratio Antenna.

Putra, I.K. (2018). Analisa Jaringan Optical Distribution Cabinet Menuju Optical Distribution Point Menggunakan Power Link Budget di Perumahan Greenwood Semarang.

Al Alifah Putri Amin, N. (2019). Rancang Bangun Validasi Port Pada Optical Distribution Point (Odp) Menggunakan Photodioda Ingaas Berbasis Sms Gateway.

(58)
(59)
(60)

FAKULTAS TEKNIK

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO

Tgl. Berlaku : 13 Januari 2012 Klausa ISO :

N a m a : Lucky Mustaqqim

N I M : 171720040

Judul Kerja Praktek : Analisa Power Link Budget dan Rise Time Budget Pada Pelanggan Berteknologi Gigabit Passive Optical Network (GPON)

Ujian ke : 1 / 2 / 3

No Komponen penilaian Bobot (B) Nilai (N) Nilai Akhir (BxN)

1. Pembimbing KP 60% 85 51

2. Seminar 40% 82,5 33

Total Nilai Akhir Ujian 84

Grade B

Catatan :

1. Nilai akhir dinyatakan dengan huruf A, B, atau C bagi yang LULUS 2. Formulir diserahkan ke bagian PPM.

Palembang, 24 Februari 2021

Ketua Program Studi Teknik Elektro,

Ir. Nina Paramyta IS, Msc.

(61)
(62)
(63)
(64)
(65)

Gambar

Gambar 3.1 Topologi Umum
Gambar 3.2 Diagram Alur Perancangan Jaringan   (Sumber: PT Indonesia Comnets Plus SBU Palembang)
Gambar 3.3. Struktur Fiber Optic
Tabel 3.1  Standar Teknologi GPON
+7

Referensi

Dokumen terkait

Berikut adalah regresi yang akan di analisis, yaitu : regresi antara banyaknya terjadi erupsi dengan persentase kejadian penyakit hawar daun kentang, regresi

Dari selisih data (point) yang telah didapat maka dapat diambil kesimpulan untuk short circuit turn 1 pada fasa R- Ground pada gambar 12 perubahan selisih beda fasa

Pendekatan Konversi – proses tentang pengambilan informasi dari satu sistem lama untuk menggantikan suatu sistem yang baru, dapat secara manual dan/atau metode otomatis..

Disiplin pendidik dan tenaga kependidikan adalah kesanggupan pendidik dan tenaga kependidikan untuk menaati kewajiban dan menghindari larangan yang ditetapkan

Tabel hasil observasi aktivitas siswa siklus I (terlampir). Pada siklus I, secara garis besar kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan media grafis sudah

Dalam penelitian ini elemen yang akan diperiksa adalah elemen yang sesuai dengan International Safety Rating System (ISRS) yaitu antara lain administrasi,

Objek Retribusi Pelayanan Pasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah penyediaan fasilitas pasar tradisional dan pasar ternak berupa pelataran, los, kios, yang

Dalam menyelesaikan masalah, siswa diharapkan memahami proses menyelesaikan masalah tersebut dan menjadi terampil di dalam memilih dan mengidentifikasikan kondisi dan konsep