• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

2.1.1 Definisi (PHBS)

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (advokasi), bina suasana (sosial support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerment) sehingga dapat menerapkan cara- cara hidup sehat, dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Dinkes, 2006).

PHBS adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri dibidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyaraka.

PHBS ini merupakan program dari pemerintah dalam pembangunan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemauan hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Permenkes, 2011).

PHBS di tempat-tempat kerja merupakan upaya membudayakan perilaku

hidup bersih dan sehat masyarakat di tempat-tempat kerja untuk mengenali

masalah dan tingkat kesehatannya, serta mampu mengatasi, memelihara,

(2)

meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri baik di tempat formal maupun di tempat informal

seperti tempat pembuangan sampah, pabrik, industri rumah tangga dan lain-lain (Dinkes, 2001).

2.1.2 Tujuan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Tujuan umum PHBS yaitu meningkatnya pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku serta kemandirian perorangan, keluarga dan masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan agar dapat hidup bersih dan sehat. Tujuan khusus PHBS yaitu meningkatnya pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku karyawan/pekerja dan pemimpinnya di tatanan tempat-tempat kerja khususnya terhadap program kesehatan lingkungan dan gaya hidup (Dinkes, 2001).

2.1.3 Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok, dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (advokasi), bina suasana (sosial support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerment) sehingga dapat menerapkan cara- cara hidup sehat, dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Dinkes, 2006).

2.1.4 Manfaat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Adapun manfaat PHBS menurut Kemkes (2011) yaitu:

(3)

(1). Manfaat PHBS bagi rumah tangga: Setiap rumah tangga meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit, anak tumbuh sehat dan cerdas, produktivitas kerja anggota keluarga meningkat dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga maka biayayang dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan, pemenuhan gizi keluarga dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga. (2) Manfaat PHBS bagi masyarakat:

Masyarakat mampu mengupayakan lingkungan yang sehat., masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan, masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada, masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) seperti posyandu, jaminan pemeliharaan kesehatan, tabungan bersalin (tabulin), arisan jamban, kelompok pemakai air, ambulans desa dan lain-lain.

2.1.5 Tatanan PHBS

Tatanan Adalah tempat dimana sekumpulan orang hidup, bekerja,

bermain, berinteraksi, dan lain-lain. Penerapan program PHBS ini terdapat 5

tatanan PHBS yaitu tatanan Rumah Tangga, Tempat-Tempat Kerja, Tempat-

Tempat Umum, Sekolah dan Sarana Kesehatan. (1) Indikator tatanan rumah

tangga terdiri dari: Menggunakan air bersih, pertolongan persalinan oleh tenaga

kesehatan, pemberian imunisasi pada bayi, penimbangan berat badan balita,

penggunaan jamban bersih, kebersihan perorangan (Badan, pakaian & kuku),

pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan, bak penampungan air bebas jentik, tidak

merokok, rumah dan lingkungan bersih, pemeriksaan kehamilan dan tenaga

kesehatan, makanan bergizi seimbang, menjadi peserta KB, peserta JPKM atau

asuransi kesehatan lainnya, gaya hidup sadar AIDS, penggunaan garam

(4)

Beryodium (Dinkes, 2001). (2) Indikator tatanan tempat kerja terdiri dari:

Penggunaan air bersih, penggunaan jamban, kebersihan perorangan (badan, pakaian & kuku), Penyediaan tempat pembuangan sampah, penyediaan saluran pembuangan air lembah (SPAL), Kebersihan lingkungan tempat kerja, Pencahayaan dan penghawaan tempat kerja, bak penampungan air bebas jentik, penggunaan alat pelindung diri, pemasangan poster/media penyuluhan, gaya hidup sadar AIDS, gaya hidup tidak merokok, pesertas JPKM atau asuransi kesehatan lainnya. (3) Indikator tatanan tempat umum terdiri dari, kebersihan lingkungan, penggunaan jamban bersih, tempat pembuangan sampah, penyediaan saluran pembuangan limbah (SPAL), ada K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja) Penggunaan air bersih. (4) Indikator tatanan sekolah terdiri dari kebersihan perorangan (badan, pakaian & kuku), Penggunaan air bersih, penggunaan jamban bersih, bak penampungan air bebas jentik, kebersihan lingkungan sekolah,kegiatan kader UKS, gaya hidup tidak merokok, peserta JPKM atau asuransi kesehatan lainnya. (5) Indikator tatanan kesehatan terdiri dari ada air bersih, penggunaan air bersih, tersedia tempat pembuangan sampah, Kebersihan ruangan dan halaman, penggunaan radio kaset untuk penyuluhan kesehatan, kebersihan perorangan (badan, pakaian & kuku), gaya hidup tidak merokok.

2.1.6 Manajemen PHBS

Manajemen Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dilaksanakan 4 tahap kegiatan yaitu: 1). Pengkajian, 2). Perencanaan, 3). Penggerakkan dan pelaksanaan, 4). Pemantauan dan penilaian (Dinkes, 2006).

2.2 Perilaku Status Kesehatan

(5)

Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan (Notoatmodjo, 2007).

Seorang ahli kesehatan Becker (Notoatmodjo, 2007) mengklasifikasikan perilaku kesehatan yaitu (1) perilaku hidup sehat adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya; (2) perilaku sakit (illness behavior) perilaku sakit ini mencakup respons seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang: penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya; (3) perilaku peran sakit (the sick role behavior) dari segi sosiologi, orang sakit (pasien) mempunyai peran yang mencakup semua hak-hak orang sakit (right) dan kewajiban sebagai orang sakit. Hak dan kewajiban ini harus diketahui oleh orang sakit sendiri maupun orang lain (terutama keluarga) yang selanjutnya disebut perilaku peran orang sakit (the sick role).

2.2.1 Model Status Kesehatan

Berdasarkan batasan perilaku dari Skinner maka perilaku kesehatan adalah

suatu respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit

dan penyakit, sistim pelayanan, makanan dan minuman, serta lingkungan. Semua

hal ini terkait bersama-sama, jika perilaku pengelolaan sampah meningkat akan

memiliki efek pada kondisi antara lain: (1) Lingkungan yang baik, karena

mengurangi buang sampah sembarangan.(2) Air minum, seperti

terjadinyapencemaran karena pengelolaan sampah yang buruk.(3) Pengendalian

vektor, karena mereka berkembang di sampah. (4) Makanan yang baik, seperti

(6)

kesehatan yang disebabkan oleh pengelolaan sampah yang buruk adalah epidemi kolera,wabah pes dan pneumonia wabah, diare, tipus, tifus dan disentri (Bergqvist, dkk 2006).

Perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok: (1) Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance) yaitu usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit; (2) Perilaku pencarian dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan. Perilaku ini menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit atau kecelakaan; (3) Perilaku kesehatan lingkungan, yaitu bagaimana seseorang merespon lingkungan baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan sebagainya (Notoatmodjo, 2007).

2.2.2 Status Kesehatan Pekerja

Tingkat kesehatan dari seseorang mempunyai pengaruh yang besar

terhadap penampilan dan kapasitas kerjanya. Dalam kesehatan kerja pedomannya

ialah: ‘Penyakit dan kecelakaan akibat kerja dapat dicegah’, maka upaya pokok

kesehatan kerja ialah pencegahan kecelakaan akibat kerja. Dengan demikian

program kesehatan kerja tidak hanya mengusahakan peningkatan dan

pemeliharaan derajat kesehatan baik fisik, mental dan kesejahtaraan sosial,tetapi

juga pencapaian kerja yang optimal.Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang

sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain di luar

kesehatan sendiri. Banyak faktor yang mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan

individu maupun kesehatan masyarakat.Salah satu masalah kesehatan yang timbul

pada tempat kerja adalah kecelakaan kerja atau yang berhubungan dengan

(7)

keselamatan kerja.Keselamatan kerja adalahkejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan akibat dari kerja. Oleh sebab itu, kecelakaan akibat kerja ini mencakup dua permasalahan pokok, yakni; a) kecelakaan adalah akibat langsung pekerjaan, b) kecelakaan terjadi pada saat pekerjaan sedang dilakukan.Keselamatan yang berkaitan dengan perkakas karja, bahaya dan proses pengolahannya, tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan keselamatan kerja yang memiliki sasaran segala tempat kerja (Notoatmodja, 2011).

Salah satu faktor yang mempengaruhi penyebab terjadinya kecelakaan yaitu faktor manusia.Penerapan cara-cara kerja dan prosedur kerja yang baik dapat mengurangi bahaya dan resiko terhadap tenaga kerja.Oleh karena itu dalam usaha melindungi tenaga kerja hal-hal yang perlu di perhatikan yaitu pengamanan setempat, peralatan, pengobatan penyakit, pelayanan kesehatan, lingkungan kerja dan penggunaan alat pelindung perorangan.Demikian juga kebersihan diri dan pakaiannya merupakan hal penting untuk para pekerja. Untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan para pekerja yaitu pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, penempatan kerja yang baik dan pemeriksaan kesehatan secara rutin sehingga apabila di temukan gangguan kesehatan dapat segera ditangani (notoatmodjo, 2011).

2.3 Pekerja Pengangkut Sampah

2.3.1 Definisi Pengangkut sampah

Pekerja pengangkut sampah adalah pekerja yang kesehariannya kontak

dengan sampah, dimana mereka menyotir sampah yang terkumpul di TPS

(8)

(Tempat Pembuangan Sampah) hingga mengolahnya menjadi kompos (Mausulli, 2010).

Petugas pengempul sampah padat dari rumah tangga seringkali membawa gerobak sampah sebagai alat penunjang kerjannya. Gerobak sampah adalah alat pemindah sampah dari penghasil menuju ke TPS dilingkungan pemukiman.Kapasitas gini adalah 1 m

3

dengan frekuensi pengangkutan 1-3 kali sehari tergantung jumlah gerobak yang tersedia dan luas daerah layanan, TPS atau transfer dipo berfungsi menampung sampah dari beberapa sumber penghasil

limbah dan menunggu di angkut di TPA, Fasilitas yang ada dalam TPS antara lain gerobak sampah, tempat penampung sampah atau dipo (bak truk sampah) (Adnani, 2009).

2.3.2 Personal Hygiene Pengangkut Sampah

Kebersihan perorangan adalah konsep dasar dari kebersihan, kerapihan

dan perawatan badan kita.Sangatlah penting untuk pekerja menjadi sehat dan

selamat ditempat kerja, kebersihan perorangan pekerja dapat mencegah

penyebaran kuman dan penyakit, mengurangi paparan pada bahan kimia dan

kontaminasi (Mausuli, 2010).Hygiene pada petugas pengangkut sampah sangat

diperlukan, hal tersebut disebabkan karena petugas pengangkut sampah kontak

langsung dengan sampah mengakibatkan kerentanan terhadap beberapa penyakit

bawaan dari sampah, kemungkinan untuk terkena berbagai penyakit (Mulasari,

2013).

(9)

2.4 Hubungan PHBS dengan Tingkat Kebersihan Para Pekerja Tempat Pembuangan Sampah

Kebersihan perorangan adalah cara manusia untuk memelihara kesehatan, kebersihan sangat penting untuk diperhatikan, pemeliharaan kebersihan perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanan dan kesehatan (Potter, 2005, dalam Faridawati, 2013).Kebersihan diri merupakan awal mewujudkan kesehatan diri, dengan tubuh yang bersih meminimalkan resiko seorang terhadap kemungkinan terjangkitnya suatu penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri yang tidak baik. Personal hygiene yang tidak baik akan mempermudah tubuh terserang berbagai penyakit seperti penyakit kulit, penyakit infeksi, penyakit mulut, dan saluran pencernaan (Saryono dan Widiawati, 2011 dalam, Faridawati, 2013). Hasil pengamatan terhadap beberapa petugas pengumpul sampah tidak seluruhnya menerapkan hidup bersih dan sehat (PHBS).

Kondisi seperti ini tidak dapat menjamin petugas sampah terlindungi dari hazard,

yang berpotensi menimbulkan penyakit akibat sampah dan dapat mempengaruhi

kesehatannya.

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu karena probabilitas yang diperoleh 0.000 lebih kecil dari 0.05 maka hipotesis alternatif yang berbunyi ada hubungan yang signifikan antara interaksi sosial

Membaca akta pernyataan permohonan banding yang dibuat oleh Panitera Pengadilaan Negeri Bogor yang menyatakan bahwa pada hari Rabu tanggal 11 Februari 2015 Tergugat

Aldehid yang mengandung atom karbon yang dinamai dengan nama umum yaitu nama yang diturunakan dari nama umum asam karboksilat dengan mengganti akhiran at dengan aldehida.Karbonil

Judul dari laporan akhir yang saya buat ini adalah “ Implementasi PID Kontrol Untuk Mengontrol Kestabilan Posisi Quadcopter Guna Mengidentifikasi Objek dari Ketinggian Maksimal

Melalui masalah tersebut, buku komik Semut Strip ini memiliki tujuan untuk mengajak remaja, khususnya remaja menengah keatas agar mau menghidupkan kembali semangat dari

Bila kemudian terbukti bahwa saya temyata melakukan tindakan mcnyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-:-olah hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijazah

9 Disini jelas bahwa terdapat perbedaan antara organ PT di Negara Indonesia yang menganut sistem Civil Law dan Negara Singapura yang menganut sistem Common Law,