• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

8 A. Laporan Keuangan

1. Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah laporan yang berisi informasi keuangan sebuah organisasi. Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan merupakan hasil proses akuntansi yang dimaksudkan sebagai sarana mengkomunikasikan informasi keuangan terutama kepada pihak eksternal.

Menurut PSAK No.1 Paragraf ke 7 (edisi 2011), “Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari kinerja keuangan suatu enitas”

2. Tujuan Laporan Keuangan

Menurut PSAK No.1 Paragraf ke 7 (edisi 2011), “ Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi”

Laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.

B. Laba Akuntansi

Laba secara sederhana merupakan keuntungan dari hasil pencapaian kinerja perusahaan dalam satu periode akuntansi. Laba juga sebagai salah satu

(2)

komponen penting di dalam laporan keuangan yang digunakan sebagai tolak ukur untuk mengevaluasi dan menganalisis perusahaan di setiap periodenya dengan cara membandingkan laba di setiap periode-periode akuntansinya. Laba juga berguna bagi para investor, kreditor, dan manajer dalam melakukan pengambilan keputusan. Laba akuntansi menurut American Institute Certified Public Accountant (AICPA) yang dikutip Harahap (2007 : 241) adalah “perubahan dalam ekuitas (net asset) dari suatu entiti selama satu periode tertentu yang diakibatkan oleh transaksi dan kejadian atau peristiwa yang berasal bukan dari pemilik”.

1. Pengertian Laba

Terdapat banyak definisi atau makna pada laba yang dilekatkan oleh berbagai sumber.

Dalam suatu periode yang berasal dari transaksi operasi dan bukan transaksi modal (setoran dari dan distribusi ke pemilik) melalui sudut pandang pemegang saham residual, laba didefinisi sebagai perubahan/kenaikan ekuitas atau aktiva bersih atau kemakmuran bersih pemilik (pemegang saham).

Dari sudut pandang perusahaan sebagai entitas, laba dimaknai sebagai perbedaan antara realisasi penghasilan yang berasal dari transaksi perusahaan pada periode tertentu dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan penghasilan itu (Harahap, 2007:296). Ini berarti laba merupakan selisih penghasilan yang lebih besar dari biaya.

(3)

Di dalam laba akuntansi terdapat berbagai komponen yaitu kombinasi beberapa komponen pokok seperti laba kotor, laba usaha, laba sebelum pajak dan laba sesudah pajak. Sehingga dalam menentukan besarnya laba akuntansi investor dapat melihat dari perhitungan laba bersih Investor dan kreditor yakin bahwa ukuran kinerja yang diutamakan dalam penilaian kinerja perusahaan adalah ukuran kinerja yang mampu menggambarkan kondisi dan prospek perusahaan di masa mendatang dengan lebih baik.

Penilaian kinerja perusahaan ini didasarkan melalui informasi pada laporan laba rugi yang menyajikan informasi laba kotor, laba operasi dan laba bersih.

2. Pengertian Laba Akuntansi

Laba akuntansi yang menjadi topik dalam penelitian ini, yaitu laba kotor, laba operasi, dan laba bersih (Net Income After Interest and Tax/NIAI&T). berikut adalah pengertian dari masing-masing laba akuntansi:

a. Laba kotor

Gross Profit secara semantik adalah selisih dari pendapatan perusahaan dikurangi dengan harga pokok penjualan. Harga pokok penjualan (hpp) adalah semua biaya yang dikorbankan untuk memperoleh pendapatan, untuk perusahaan pemanufakturan perhitungan dimulai dari tahap ketika bahan baku masuk ke gudang

(4)

pabrik, kemudian tahap pengolahan bahan baku, hingga pada saat barang tersebut siap dijual.

Semua biaya-biaya yang terjadi dan yang langsung berhubungan dengan penciptaan produk tersebut dikelompokkan sebagai cost barang terjual atau HPP. Oleh karena itu, angka laba kotor akan menggambarkan efisiensi manajer dalam menggunakan sumber daya perusahaannya dalam menghasilkan produk.

b. Laba operasi

Operating Profit atau Angka laba operasi adalah laba kotor dikurangi dengan biaya-biaya operasi. Biaya-biaya operasi adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan operasi perusahaan atau biaya-biaya yang sering terjadi di dalam perusahaan dan bersifat operatif. Selain itu, biaya-biaya ini diasumsikan memiliki hubungan dengan penciptaan pendapatan.

Biaya-biaya operasi tersebut seperti: biaya gaji karyawan, biaya administrasi, biaya perjalanan dinas, biaya iklan dan promosi, biaya penyusutan dan lain-lain. Warren, Reeve dan Fess (2008:51)

“expenses result from using up assets or consuming services in the process of generating revenue”

c. Laba bersih

Net Income atau Angka laba bersih adalah pendapatan operasi dan non-operasi yang telah dikurangi dengan beban lain-

(5)

lain baik yang operasi maupun yang non-operasi, dan dikurangi dengan pajak perusahaan.

Dengan demikian laba bersih dapat dibagikan dalam bentuk dividen dan dalam bentuk laba ditahan, dan hal ini tergantung dari kebijakan perusahaan yang bersangkutan.

3. Perubahan Laba

Perubahan laba adalah selisih dari kenaikan atau penurunan pendapatan dari perusahaan atau organisasi, yang di dapat dari tahun berjalan dengan tahun sebelunya. Oleh karena itu perubahan laba didapat apabila perusahan atau organisasi telah berjalan lebih dari 2 atau minimal dua periode pembukuan akuntansi. Harahap (2007:121) “Laporan keuangan menggambarkan kondisi keuangan dan hasil usaha suatu perusahaan pada saat tertentu atau jangka waktu tertentu.”

Hal ini membuktikan bahwa adanya keterkaitan antara laba yang telah terjadi (historis) dengan laba sekarang (current). Laba tersebut digunakan sebagai informasi untuk memprediksi laba yang akan datang dan mencapai kinerja perusahan secara masimal.

C. Reaksi Investor

Reaksi investor adalah reaksi yang ditimbulkan oleh para investor terhadap harga saham yang beredar di BEI. Bamber dan Cheon (1995) menyatakan bahwa dalam investasi saham di pasar modal, perubahan harga saham merefleksikan perubahan kepercayaan rata-rata pasar secara keseluruhan. Melalui pernyataan

(6)

Bamber dan Cheon secara tidak langsung harga saham dapat mempengaruhi reaksi investor. Menurut Husnan et al.(1996) dalam Widyanti (2005) mengemukakan bahwa akibat dari fluktuasi harga saham tersebut akan menyebabkan perubahan return saham yang pada akhirnya akan mengakibatkan berubahnya variabilitas tingkat keuntungan saham.

D. Hubungan Laba dengan Harga Saham

Pada akhir 1980-an perhatian penelitian beralih pada koefesien respon laba (earnings response coefficient atau ERC). Awal mulanya penelitian ERC ini dilakukan oleh Kormendi dan Lipe (1987), Easton dan Zmijewski (1989), dan Collins dan Kothari (1989) mengidentifikasi empat determinan ekonomik 1980- yang menentukan ERC. Keempat determinan perubahan harga atau koefesien respon laba adalah: persistensi laba, resiko, pertumbuhan, dan tingkat bunga.

Kothari (2001), merangkum sebanyak empat hipotesa yang menjelaskan besaran koefesien respon laba: (a) Harga yang menuntun laba (prices lead earnings); (b) Pasar modal yang tidak efesien; (c) Gangguan (noise) pada laba dan kurang baiknya GAAP; (d) Laba transitori. Berbagai rancangan telah digunakan oleh para peneliti untuk memisahkan empat hipotesa ini guna untuk menjelaskan lemahnya hubungan antara return dengan laba dan mengapa koefesien respon laba estimasian terlalu rendah dibandingkan dengan koefesien respon laba prediksian berdasarkan urutan waktu dari langkah acak laba tahunan.

Hipotesa mengenai harga yang menuntun laba dan adanya laba transitori kiranya

(7)

merupakan penjelasan yang paling dominan untuk hubangan return dengan laba dan untuk besaran koefesien respon laba yang diamati (Kothari, 2001).

Meskipun laba diasumsikan mengikuti pola langkah acak laba, telah lama diakui didalam literatur mengenai keberadaan komponen transitori pada laba.

Penyebab terjadinya laba transitori (sementara), yaitu:

1. Beberapa aktivitas bisnis, seperti penjualan aktiva. Menghasilkan laba atau rugi yang terjadi hanya satu kali.

2. Karena adanya ketidak simetrisan antara informasi manajer dan orang luar, dan karena kemungkinan adanya tuntutan hukum.

3. Motivasi manajerial yang berakar pada teori keagenan bisa menyumbang pada laba dan rugi transitori.

Keberadaan laba sementara menunjukan bahwa manajer dapat memanipulasi laba, dan hal ini menunjukan bahwa kualitas laba dipengaruhi oleh motivasi manajerial dalam melakukan pelaporan. Jika manajer sebagai agen penghasil informasi, mengndalikan informasi untuk tujuan mereka, maka kualitas laba akan turun, khususnya apabila kepentingan tersebut merugikan pemegang saham.

1. Manfaat Laba

Manfaat laba dapat diukur dari hubungan antara laba dan harga saham. Laba merupakan prediktor aliran kas ke investor, karena kemampuan menciptakan kas tersebut akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan mendatangkan laba (earnings) jangka panjang yang memadai.

Hal ini menunjukkan bahwa laba menentukan harga saham.

(8)

Aliran kas masa datang ke investor digunakan untuk menentukan apa yang disebut nilai intrinsik saham. Nilai intrinsik pada akhirnya akan menentukan harga pasar saham yang terjadi di pasar modal pada saat tertentu. Karena ke tidak pastian masa datang, investor berbeda dalam persepsi dan sikap terhadap resiko dan return yang diharapkan, sehingga akan dihasilkan nilai intrinsik yang berbeda-beda untuk sekuritas yang sama.

Hal ini menjelaskan mengapa untuk sekuritas tertentu sebagian investor bersedia menjual dan sebagian lainnya bersedia membeli. Harga pasar sekuritas pada saat tertentu akhirnya merupakan nilai intrinsik konsensus. Hal ini menunjukkan bahwa laba akuntansi akan menentukan harga saham sehingga bermanfaat bagi investor.

2. Kandungan Informasi Laba

Kandungan informasi laba dapat ditunjukkan oleh reaksi pasar terhadap pengumuman laba (earnings announcement) sebagai suatu peristiwa (event). Bila angka laba mengandung informasi, diteorikan bahwa pasar akan bereaksi terhadap pengumuman laba. Pada saat diumumkan, pasar telah mempunyai harapan tentang berapa besarnya laba perusahaan atas dasar semua informasi yang tersedia secara publik.

Berbagai model prakiraan laba merupakan cara untuk menentukan laba harapan (expected earnings). Selisih antara laba harapan dan laba realisasi atau aktual (reported atau actual earnings) disebut laba kejutan (unexpected earnings). Laba kejutan mereperesentasi informasi

(9)

yang belum tertangkap oleh pasar sehingga pasar akan bereaksi pada saat pengumuman.

Reaksi pasar ditunjukkan dengan adanya perubahan harga pasar (return saham) perusahaan tertentu pada saat pengumuman laba. Apabila pada reaksi pasar tersebut terdapat perbedaan yang cukup besar antara return yang terjadi (actual return) dengan return harapan (expected return), maka telah terjadi return kejutan atau abnormal return (unexpected atau abnormal return) pada saat pengumuman laba.

E. Koefesien Respon Laba (Earnings Response Coefficient / ERC)

Earnings Response Coefficient (ERC) Adalah suatu metode pengukuran laba dengan melihat korelasi antara laba perusahaan dengan return saham. Ball dan Brown (1968), menemukan adanya hubungan signifikan antara pengumuman laba perusahaan dengan perubahan harga saham. Beaver, Clarke dan Wright (1968) menyempurnakan pemikiran dari Ball dan Brown (1968). Mereka menemukan adanya korelasi antara perubahan laba akuntansi dengan harga saham, yaitu apabila harga saham bergerak naik maka dapat mengerakan tingkat kepercayaan investor. Dasar pemikiran dari ERC adalah setiap investor memiliki prediksi laba tersendiri terhadap suatu perusahaan sebelum laba perusahaan tersebut diumumkan.

Prediksi tersebut didapat dari data keuangan historis perusahaan dan juga melalui kebocoran informasi keuangan perusahaan sebelum pengumuman laba dilakukan. Sehingga hal ini membuat investor memiliki laba prediksi perusahaan

(10)

sebelum laba perusahaan yang aktual diumumkan. Apabila laba aktual tersebut lebih besar dari pada laba prediksi maka akan terjadi Good News (GN) sehingga investor akan merevisi ke atas terhadap laba dan kinerja perusahaan tersebut dan memutuskan untuk membeli saham perusahaan itu.

Namun apabila laba aktual yang diumumkan perusahaan lebih kecil dari pada laba yang diprediksikan oleh perusahaan maka akan menimbulkan Bad News (BN) maka investor akan melakukan revisi ke bawah mengenai laba dan kinerja perusahaan tersebut sehingga akan membuat investor mengubah keputusannya untuk membeli saham tersebut. Apabila GN lebih banyak terjadi dibandingkan BN maka hal ini akan menimbulkan pergerakan naik dari harga saham, bila terjadi sebaliknya maka akan menyebabkan minat investor terhadap perusahaan tersebut berkurang dan membuat para investor menjual sahamnya yang berakibat penurunan harga saham.

Hal ini terjadi karena setiap perusahaan memiliki prediksi laba yang berbeda-beda mengenai suatu perusahaan, sehingga timbul kesulitan untuk memprediksikan kenaikan atau pun penurunan dari harga saham. Maka kenaikan dan penurunan dari harga saham tersebut akan diakumulasikan pada Cumulative Abnormal Return (CAR). Tingkat laba yang diumumkan saat ini akan menjadi ekspektasi laba dimasa mendatang, namun ketepatan prediksinya tergantung dari prilaku labanya. Bila laba saat ini dngan laba masa lalu mengalami perbedaan yang cukup besar dengan terjadinya peningkatan laba drastic, maka menyebakan timbulnya komponen yang tidak terduga (Unexpected Component) atau lebih dikenal dengan earnings shocks. Earnings Shocks inilah yang akan mempengaruhi

(11)

pembelian saham dan penjualan saham dari perusahaan tersebut setelah terjadinya pengumuman laba aktual perusahaan tersebut (Conrad 2002).

Selain menggunakan laba dalam membuat penilaian saham investor juga memperhatikan faktor-faktor lainnya seperti desas-desus informasi yang beredar mengenai perusahaan tersebut. Scott (1977), mengatakan investor akan menggunakan informasi yang tersedia di pasar untuk menganalisis kinerja perusahaan untuk melakukan prediksi.

Metode ini telah banyak digunakan dalam banyak konteks yang berhubungan dan hasil penelitiannya menunjukan adanya hubungan antara laba kejutan dengan return residual yang secara statis signifikan. Unexpected earnings

Penelitian ini pernah dilakukan dan memiliki kemiripan dengan penelitian yang dilakukan oleh Swaminathan dan Weintrop (1991). Mereka melakukan penelitian terhadap kandungan informasi laba, pendapatan, dan biaya-biaya. Hasil penelitian mereka menunjukan bahwa pendapatan dan biaya memiliki kandungan informasi yang incremental terhadapa laba (bersih). Swaminathan dan Weintrop (1991) meyiratkan bahwa jika biaya-biaya yang langsung berhubungan dengan penciptaan produk atau biasa disebut dengan Cost barang terjual. sehingga muncul dugaan bahwa angka laba kotor dan Cost barang terjual memiliki kandungan informasi dan dugaan empiric yang memiliki dasar untuk diuji

(UE) atau laba kejutan adalah selisih antara laba sesungguhnya dengan laba ekspektasi atau laba yang diharapkan.

Brown dan Sivakumar (2001), peneliti yang juga melakukan penelitian yang sama. Namun mereka membandingkan tiga angka laba kuartalan: laba

(12)

operasi pro forma, EPS dari laba operasi, dan EPS dari laba sebelum pos-pos luar biasa dan operasi yang dihentikan. Mereka menemukan bahwa laba operasi pro forma memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan EPS dari operasi atau EPS dari laba sebelum pos-pos luar biasa dan operasi yang dihentikan.

Jadi penelitian Koefisien Responsa Laba (Earning Response Coefficient/ERC) adalah penelitian yang mengidentifikasi dan menjelaskan respon pasar yang berbeda-beda terhadap informasi laba. Koefisien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient / ERC) mengukur besarnya return abnormal sekuritas dalam merespon komponen kejutan (unexpected) dari pengumuman laba perusahaan penerbit sekuritas.

Sejumlah alasan dapat menjelaskan perbedaan respon pasar terhadap laba yang berdasarkan biaya historis, antara lain:

1. Beta

Karena investor melihat laba periode berjalan sebagai indikator earning power dan return masa depan (future returns), semakin beresiko future return, maka semakin rendah reaksi investor terhadap laba kejutan(unexpected earnings).

Beta mencerminkan risiko sistematis. Investor akan menilai laba sekarang untuk memprediksi laba dan return dimasa yang akan datang.

Jika future return tersebut semakin berisiko, maka reaksi investor terhadap unexpected earnings perusahaan juga semakin rendah (Scott, 2003).

2. Struktur Modal (capital structure)

(13)

Koefisien Responsa Laba (Earning Response Coefficient/ERC) untuk perusahaan yang memiliki tingkat leverage tinggi akan lebih rendah daripada perusahaan yang memiliki sedikit atau tidak ada hutang.

Hal itu disebabkan, peningkatan laba perusahaan atau good news atas laba lebih banyak didistribusikan ke kreditur daripada ke shareholders.

Keputusan struktur modal secara langsung berpengaruh terhadap besarnya resiko yang ditanggung oleh pemegang saham beserta besarnya tingkat pengembalian atau tingkat keuntungan yang diharapkan (Brigham dan Houston, 2001). Sedangkan Ghosh, et.all (2000), mendefinisikan struktur modal sebagai perbandingan antara hutang perusahaan (total debt) dan total aktiva (total asset).

3. Bertahan Lama (persistence)

Koefisien Responsa Laba (Earning Response Coefficient/ERC) akan semakin tinggi jika semakin banyak good news atau bad news dalam laba tahun berjalan (current earnings) yang diharapkan mampu bertahan lama sampai masa yang akan datang.

Menurut Scott (2003) peristensi laba adalah revisi laba yang diharapkan dimasa mendatang yang diimplikasikan oleh inovasi laba tahun berjalan sehingga persistensi laba dilihat dari inovasi laba tahun berjalan yang dihubungkan dengan perubahan harga saham. Menurut Pennman (2000) Persistensi laba adalah revisi dalam laba akuntansi yang diharapkan di masa depan (expected future earnings) yang diimplikasi oleh laba akuntansi tahun berjalan (current earnings).

(14)

Bukti peningkatan Koefisien Responsa Laba (Earning Response Coefficient/ERC) adalah adanya perubahan laba kejutan (unexpected earnings) periode berjalan yang mampu bertahan lama (penelitian Kormendi dan Lipe). Persistence merupakan konsep yang berguna dan menantang. Karena komponen laba yang berbeda, memiliki ketahanan yang berbeda. Ada tiga tipe kejadian laba:

(a) permanen, diharapkan bertahan untuk waktu yang tidak terbatas.

(b) sementara, mempengaruhi laba tahun berjalan tetapi tidak mempengaruhi tahun-tahun yang akan dating.

(c) harga tidak relevan, akan bertahan pada tingkat 0 (zero).

Aspek lain dari Koefisien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC) yaitu bahwa persistence bergantung pada kebijakan akuntansi perusahaan. Selain itu, terdapat kemungkinan terjadinya zero-persistence yang kemudian memberikan masukan bahwa diperlukan pengungkapan laporan laba-rugi yang detail termasuk catatan tentang kebijakan akuntansi.

Penelitian Kormendi dan Lipe (1987) menyimpulkan bahwa earnings response coefficient berkorelasi positif dengan persistensi laba akuntansi. Penelitian ini diacu oleh penelitian selanjutnya antara lain oleh Easton dan Zmijewski (1989) dan Collins dan Kothari (1989), dengan hasil yang konsisten dengan Pennman (2000). Berbeda dengan Penelitian

(15)

yang dilakukan oleh Harahap (2004) menyatakan bahwa persistensi laba tidak berpengaruh terhadap Earnings Response Coefficient.

4. Kualitas Laba (earnings Quality)

Koefisien Responsa Laba (Earning Response Coefficient/ERC) diharapkan akan lebih tinggi untuk kualitas laba yang lebih tinggi, karena investor memiliki kemampuan yang lebih baik untuk mengambil kesimpulan mengenai kinerja perusahaan masa depan. Dari hasil penelitian Lev, terbukti bahwa laba yang mampu bertahan lama memiliki korelasi positif dengan kualitas laba.

Jika kualitas laba semakin baik, maka diprediksi nilai ERC akan semakin tinggi. Investor akan menilai laba sekarang untuk memprediksi laba dan return dimasa yang akan datang. Jika future return tersebut semakin berisiko, maka reaksi investor terhadap unexpected earnings perusahaan juga semakin rendah (Scott, 2003).

5. Peluang Untuk Tumbuh (growth oppotunities)

Koefisien Responsa Laba (Earning Response Coefficient/ERC) akan lebih tinggi untuk perusahaan yang dinilai memiliki prospek untuk tumbuh oleh pasar. Misalnya, net income periode berjalan mengungkapkan laba yang tinggi (unexpected) untuk beberapa proyek investasi periode berjalan. Hal ini memberikan indikasi pada pasar bahwa perusahaan akan mengalami pertumbuhan yang kuat di masa yang akan datang.

Penilaian pasar terhadap kemungkinan bertumbuh suatu

(16)

perusahaan nampak dari harga saham yang terbentuk sebagai suatu nilai ekspektasi terhadap manfaat masa depan yang akan diperoleh. Pemegang saham akan memberi respon yang lebih besar kepada perusahaan dengan kemungkinan bertumbuh yang tinggi. Hal ini terjadi karena perusahaan yang mempunyai kemungkinan bertumbuh yang tinggi akan memberi manfaat yang tinggi di masa depan bagi investor (Palupi, 2006).

6. Kandungan Informasi Harga (the informativeness of price) Semakin tinggi kandungan informasi dalam harga, semakin sedikit kandungan informasi dari laba (earnings) saat ini. Proksi dari kandungan informasi harga yaitu ukuran perusahaan, karena perusahaan yang lebih besar akan lebih banyak memiliki berita yang beredar.

Dari hasil penelitian Collins dan Kothari, terdapat hubungan antara perubahan laba (earnings) dengan return sekuritas. Dimana antisipasi pasar akan berubah lebih cepat untuk perusahaan-perusahaan yang besar, artinya Koefisien Responsa Laba (Earning Response Coefficient/ERC) akan semakin tinggi untuk perusahaan-perusahaan besar.

Laba memiliki kandungan informasi yang tercermin dalam harga saham (Easton dan Harris, 1991 dalam Hidayati dan Murni, 2009).

Penelitian ini membuktikan bahwa laba memiliki nilai relevan yang diketahui dari pengaruhnya terhadap reaksi pasar yang digambarkan dalam harga saham.

Perubahan harga saham bergerak sesuai dengan kepercayaan

(17)

investor, sejalan dengan Eficiency Market Theory yang menyatakan bahwa pasar akan bereaksi cepat terhadap informasi yang baru, sehingga sesaat sebelum dan sesudah laporan keuangan dikeluarkan, informasi mengenai angka laba yang dipublikasikan akan memengaruhi tingkah laku investor.

Peningkatan laba abnormal (unexpected earnings) diikuti oleh return abnormal positif dan penurunan laba abnormal diikuti oleh tingkat return abnormal negatif (Ball dan Brown, 1968).

F. Penelitian Terdahulu

Penelitian awal tentang Koefsien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC) yang dilakukan oleh Kormendi dan Lipe (1987), Easton dan Zmijewski (1989), dan Collins dan Kothari (1989) mereka mengidentifikasi empat determinan ekonomik yang menentukan Koefsien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC). Keempat determinan perubahan harga atau Koefsien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC) tersebut adalah: persistensi laba, risiko, pertumbuhan, dan tingkat bunga.

Persistensi laba ditemukan memiliki hubungan yang positif dengan Koefsien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC). Semakin persisten atau semakin permanen laba perusahaan, maka akan semakin tinggi Koefsien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC). Kepermanenan laba mencerminkan kualitas laba yang diperoleh dari waktu ke waktu dan bukan karena suatu peristiwa tertentu saja.

(18)

Ramakhrisnan dan Thomas (1991) menyatakan bahwa komponen laba bersih yang berbeda (berarti termasuk komponen-komponen yang digunakan untuk menghitung laba kotor dan laba operasi) akan memiliki persistensi yang berbeda. Penelitian mereka tidak menghitung Koefsien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC) secara rata-rata, namun dengan membedakan Koefsien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC) atas dasar kepermanennya.

Hal ini berarti bahwa informasi laba akuntansi harus disajikan secara detil. Scott (2000) menyatakan bahwa persistensi nol berarti bahwa laba tidak tumbuh dengan tingkat pertumbuhan yang permanen dan kualitas laba rendah, yang dipengaruhi oleh pilihan metoda akuntansi. Pilihan metoda akuntansi banyak ditemukan di dalam penyusunan laporan keuangan, termasuk di dalam penyusunan laporan laba-rugi.

Laba kotor dilaporkan lebih awal daripada laba operasi. Laba operasi dilaporkan lebih awal dibandingkan dengan laba bersih. Oleh karena itu, perhitungan angka laba kotor akan menyertakan lebih sedikit komponen pendapatan dan biaya dibandingkan dengan penghitungan komponen laba bersih.

Jika dikaitkan dengan pernyataan Scott (2000) di atas, maka semakin detil penghitungan suatu angka laba akan semakin banyak pilihan metoda akuntansi yang bisa digunakan sehingga semakin rendah kualitas laba, yang diukur dengan Koefsien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC) angka laba tersebut.

Penelitian yang pernah dilakukan dan memiliki kemiripan dengan

(19)

penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Swaminathan dan Weintrop (1991). Mereka melakukan penelitian terhadap kandungan informasi laba, pendapatan, dan biaya-biaya. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa pendapatan dan biaya memiliki kandungan informasi yang inkremental terhadap laba.

Penelitian mereka menyiratkan bahwa jika biaya-biaya memiliki kandungan informasi, maka seharusnya yang dimaksud biaya tersebut adalah biaya-biaya yang langsung berhubungan dengan proses untuk menghasilkan produk, dalam hal ini disebut dengan harga pokok barang yang terjual (mereka tidak secara eksplisit menyebutkan biaya-biaya apa saja yang dimasukkan ke dalam definisi ”biaya” di dalam penelitian mereka).

Brown dan Sivakumar (2001), peneliti yang juga melakukan penelitian yang sama. Namun mereka membandingkan tiga angka laba kuartalan: laba operasi pro forma, EPS dari laba operasi, dan EPS dari laba sebelum pos-pos luar biasa dan operasi yang dihentikan. Mereka menemukan bahwa laba operasi pro forma memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan EPS dari operasi atau EPS dari laba sebelum pos-pos luar biasa dan operasi yang dihentikan.

Penelitian lain yang menjadi sumber informasi adalah Rahmat febrianto dan Erna widiastuty (2006). Penelitian mereka menguji Koefsien Responsa Laba (Earnings Response Coefficient/ERC) laba kotor, laba operasi, dan laba bersih (Net Income After Interest and Tax/NIAI&T). Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa laba kotor lebih memiliki kualitas laba yang lebih baik daripada dua angka laba yang lain. Oleh karena itu, dugaan bahwa angka

(20)

laba kotor dan harga pokok barang yang terjual memiliki kandungan informasi adalah dugaan empirik yang memiliki dasar untuk diuji.

G. Kerangka Penelitian Empiris.

Secara singkat Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana reaksi investor terhadap salah satu dari ketiga angka laba akuntansi.

Berdasarkan uraian di atas maka dibuatlah model penelitian sebagai berikut:

LABA AKUNTANSI

∆ Laba Kotor (X1)

∆ Laba Operasi (X2)

∆ Laba Bersih (X3)

REAKSI INVESTOR Return Saham (Y)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa terjadi dinamika konflik yang berawal dari konflik pemulung dengan tim pengamanan TPA Benowo, lalu dilanjutkan

Kasus kecelakaan kerja di industri konstruksi di Pasuruan bersifat fluktuatif khususnya di Dinas Pabrikasi Divisi Mesin & Peralatan Industri (tahun 2009-2011

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui kelayakan system BTU21 dan BTU22 dengan mengukur besarnya tegangan ripple, dimana nilai tegangan ripple tidak

Pura ini bergaya Arsitektur Bali dan memiliki beberapa massa bangunan dengan sedikit perbedaan yaitu pada area banguan utama, tempat pemujaan pada pura tidak memiliki pan

Apa yang sudah kita bahas di bagian ini memperlihatkan kepada kita bagaimana pentingnya dunia sekitar kita berupa berbagai suku, ras, budaya dan orang beragama lain; mereka

Masyarakat di lokasi penelitian sebagai pelaku pengeloaan Hutan Lindung Mutis Timau dengan pola Agroforestry yang memiliki fungsi strategis dalam

Bahan kering akar berhubungan dengan jumlah dan panjang akar data yang diperoleh menunjukkan bahwa tidak berbeda nyata pengaruh konsentrasi ZPT 1% auksin sintetis

Mutasi yang terjadi pada ujung 5’ ada kemungkinan terjadi amplifikasi tetapi tidak sempurna (smear). Ketidaksesuaian sekuen ini menyebabkan tidak terjadinya annealing sehingga