• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Batubara Di Cekungan Bengkulu

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Karakteristik Batubara Di Cekungan Bengkulu"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Karakteristik batubara di Cekungan Bengkulu

RACHMAT HERYANTOdan SUYOKO

Pusat Survei Geologi, Jl. Diponegoro No. 57, Bandung

SARI

Cekungan Bengkulu dikenal sebagai cekungan busur muka yang berlokasi di bagian barat daya Pulau Sumatera. Cekungan Bengkulu ditempati oleh batuan silisiklastik, batubara, dan karbonat berumur Oligosen – Miosen. Batubara yang merupakan salah satu energi alternatif sebagai pengganti hidrokarbon, dijumpai dalam batuan sedimen Formasi Lemau yang berumur Miosen Tengah sampai Akhir, seperti yang teramati di daerah Ketaun, Bengkulu, dan Seluma. Ketebalan lapisan batubara di daerah Ketaun berkisar antara 50 sampai 200 cm, sedangkan di daerah Bengkulu berkisar antara 100 - 350 cm, dan di daerah Seluma dapat mencapai 450 cm.

Secara megaskopik lapisan batubara di daerah Ketaun berwarna hitam agak kusam (dull – dull banded) dengan gores warna hitam kecoklatan, sementara itu lapisan batubara di daerah Bengkulu dan Seluma menunjukkan warna hitam mengkilap (bright banded) dengan gores warna hitam. Lapisan

EDWXEDUD GL GDHUDK .HWDXQ PHPSXQ\DL QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD 5Y DQWDUD

VHGDQJNDQ ODSLVDQ EDWXEDUD GL GDHUDK %HQJNXOX GDQ 6HOXPD QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD 5Y EDWXEDUD

EHUNLVDU DQWDUD 7LQJJLQ\D UHÀHNWDQ YLWULQLW SDGD EDWXEDUD GDHUDK %HQJNXOX GDQ 6HOXPD

diduga akibat pengaruh terobosan sill andesit.

Secara umum, lapisan batubara di daerah Ketaun terbentuk di lingkungan yang relatif lebih ke arah laut atau OLPLWHG LQÀX[ FODVWLF PDUVKatau lower delta plain, dengan kerapatan pepohonan yang berkurang. Sebaliknya lapisan batubara daerah Bengkulu dan Seluma, secara umum relatif lebih ke arah darat atau WHOPDWLF atau upper delta plain atau ZHW IRUHVW VZDPS dengan kerapatan pepohonan bertambah. Kata kunci: Batubara, vitrinit, Formasi Lemau, Cekungan Bengkulu

ABSTRACT

%HQJNXOX %DVLQ LV NQRZQ DV D IRUH DUF EDVLQ ZKLFK ORFDWHG LQ WKH VRXWKZHVWHUQ SDUW RI 6XPDWHUD ,VODQG %HQJNXOX %DVLQ LV RFFXSLHG E\ 2OLJR 0LRFHQH VLOLFLFODVWLF FRDO DQG FDUERQDWH VHGLPHQWV &RDO RQH RI DOWHUQDWLYH HQHUJLHV ZKLFK FDQ VXEVWLWXWH K\GURFDUERQ LV IRXQG ZLWKLQ WKH VHGLPHQWDU\ URFNV RI WKH 0LGGOH WR 8SSHU 0LRFHQH /HPDX )RUPDWLRQ DV REVHUYHG LQ .HWDXQ %HQJNXOX DQG 6HOXPD DUHDV 7KH WKLFNQHVV RI WKH FRDO VHDPV LQ WKH .HWDXQ DUHD UDQJHV IURP WR FP ZKHUHDV LQ WKH %HQJNXOX DUHD LW YDULHV EHWZHHQ WR FP DQG LQ 6HOXPD DUHD XS WR FP

0HJDVFRSLFDOO\ FRDO VHDPV LQ WKH .HWDXQ DUHD DUH EODFN LQ FRORXU GXOO WR GXOO EDQGHG ZLWK EURZQLVK EODFN LQ VWUHDN ZKHUHDV LQ WKH %HQJNXOX DQG 6HOXPD DUHDV VKRZ D EODFN FRORXU EULJKW EDQGHG DQG EODFN VWUHDN 7KH PHDQ RI YLWULQLWH UHÀHFWDQW YDOXH 5Y RI FRDO VHDP LQ WKH .HWDXQ DUHD UDQJHV IURP WR ZKHUHDV LQ WKH %HQJNXOX DQG 6HOXPD DUHD LW YDULHV IURP WR 7KH KLJKHU YLWULQLWH UHÀHFWDQFH RI WKH %HQJNXOX DQG 6HOXPD FRDOV LV SUREDEO\ GXH WR WKH LQÀXHQFH RI DQGHVLWLF VLOO LQWUXVLRQ

,Q JHQHUDO WKH FRDO LQ WKH .HWDXQ DUHD ZDV GHSRVLWHG LQ DQ HQYLURQPHQW RI UHODWLYHO\ PRUH WR PDULQH GLUHFWLRQ RU OLPLWHG LQÀX[ FODVWLF PDUVK RU ORZHU GHOWD SODLQ ZKHUH WKH WUHH GHQVLW\ GHFUHDVHG +RZHYHU WKH FRDO LQ WKH %HQJNXOX DQG 6HOXPD DUHDV RFFXUUHG LQ DQ HQYLURQPHQW ZKLFK ZDV UHODWLYHO\ PRUH WR ODQG GLUHFWLRQ RU WHOPDWLF RU XSSHU GHOWD SODLQ RU ZHW IRUHVW VZDPS ZKHUH WKH WUHH GHQVLW\ LQFUHDVHG

Keywords &RDO YLWULQLWH /HPDX )RUPDWLRQ %HQJNXOX %DVLQ

(2)

PENDAHULUAN

Cekungan Bengkulu merupakan salah satu cekungan batuan sedimen Tersier di Pulau Sumate-ra yang termasuk ke dalam cekungan busur muka (Gambar 1). Pada saat ini, produksi minyak bumi mulai berkurang, sehingga eksplorasi batubara di bumi Indonesia mulai dilakukan sebagai energi alternatif.

Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian sumber daya minyak bumi di Cekungan Beng-kulu, Provinsi Bengkulu yang merupakan salah satu kegiatan penelitian di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (sekarang Pusat Survei Geologi) tahun 2005. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karateristik batubara di Cekungan Bengkulu. Penelitian dilakukan di daerah Ketaun yaitu di hulu Sungai Sebayur dan daerah Tanjungdalam. Di daerah sekitar Bengkulu yaitu di daerah Tabapenanjung (PT Danau Mas Hitam & PT Bukit Sunur), dan di daerah Seluma yaitu di area pertambangan batubara PT Bukit Bara Utama dan

Gambar 1. Peta lokasi penelitian di Provinsi Bengkulu, Sumatera.

PT Bukit Indah Lestari.

Penelitian lapangan dilaksanakan dengan metode penampang terperinci dan terukur, serta pengamatan terperinci, yang difokuskan pada sejumlah horizon pembawa batubara. Penelitian laboratorium yang terdiri atas petrologi organik, dilakukan selain untuk mengetahui kandungan material organik, MXJD XQWXN PHQJLGHQWL¿NDVL MHQLV GDQ NDUDNWHULVWLN batubara, serta maseral penyusunnya. Perhitungan PDVHUDO GDODP SHWURJUD¿ RUJDQLN PHPSHUJXQDNDQ alat penghitung titik (SRLQW FRXQWHU) dengan jumlah 500 pengukuran, kemudian dihitung persentasi setiap maseral seperti yang tersaji dalam Tabel 1.

3HQJXNXUDQ UHÀHNWDQ YLWULQLW VHWLDS SHUFRQWRK ED

-tubara dilakukan sebanyak lima puluh pengukuran, kemudian dihitung nilai rata-ratanya.

Hasil analisis petrografi organik (Tabel 1) direkalkulasi menjadi GI (*HOL¿FDWLRQ ,QGH[), TPI (7LVVXH 3UHVHUYDWLRQ ,QGH[), T (telovitrinit: telinit + telokolinit), F (fusinit + semifusinit), dan D (GLV SHUVHG RUJDQLF PDWHU: inertodetrinit + sporinit + al-ginit), yang tersaji dalam Tabel 2. GI adalah vitrinit/

(3)

T

abel 1.

Analisis Maseral Percontoh Batubara Daerah Beng

kulu No. No. Percontoh (%) Lokasi Maseral Mineral 5Y Tl Dt Gl V 5H Al E F Sf Sc Idt I Cl PyF Py Carb MM Min Max Mean 1. 5+, 56,6 30,2 2,0 8 8 ,8 1,0 0 1,0 0,0 3,4 1,4 1,4 6,2 1,0 0,0 3,0 0,0 4,0 0,37 0,48 0,44 Bkl 2. 5+% 82,2 16,2 0,0 9 8 ,4 1,0 0 1,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,6 0,0 0,6 0,68 1,32 0,96 Bkl 3. 5+% 85,2 12,2 0,0 9 7 ,4 0,6 0 0.6 0,0 0,0 0,0 0,0 0,0 0,8 0,0 1,2 0,0 2,0 0,48 1,12 0,78 Bkl 4. 5+% 72,2 20,0 0,0 9 2 ,2 0,6 0 0,6 0,4 3,8 1,0 1,6 6,8 0,2 0,0 0,0 0,0 0,2 0,56 1,08 0,76 Bkl 5. 5+ 38,6 46,4 1,4 8 6 ,4 2,0 1.2 3,2 0 1,6 3,6 2,4 7,6 1,2 0,0 1,0 0,6 2,8 0,35 0,46 0,41 Ktn 6. 5+% 65,0 22,0 2,0 8 9 ,0 1,4 0 1,4 -2,2 3,4 2,0 7,6 0,6 -1,4 -2,0 0,42 0,58 0,48 Ktn 7. 5+ 45,0 38,2 3,6 8 6 ,8 1,4 0 1,4 0 2,0 4,4 2,6 9,0 2,4 0,0 0,4 0,0 2,8 0,44 0,54 0,49 Ktn 8. 5+ 68,6 20,0 1,0 8 9 ,6 4,6 0 4,6 -0,6 1,4 2,0 4,0 -1,6 -1,6 0,34 0,52 0,44 Ktn 5+$ 57,0 1,0 7 7 ,2 0,4 0 0,4 1,0 12,4 2,4 3,4 19,2 -1,8 1,8 -3,6 0,54 0,45 Ktn 10. 5+% 48,8 35,6 3,0 8 7 ,4 1,4 0 1,4 -2,6 4,6 1,6 8,8 -2,4 -2,4 0,40 0,62 0,50 Slm 1 1. 5+% 35,6 2,6 9 7 ,2 -0 -0,4 1,6 -2,0 0,2 -0,6 -0,8 0,54 0,78 0,67 Slm 12. 5+$ 78,2 17,0 -9 5 ,2 0,4 0 0,4 -1,0 2,6 -3,6 -0,8 -0,8 0,78 0,86 Slm 13. 5+$ 71,0 27,4 1,0 9 9 ,0 -0 -0,4 -0,4 -0,6 -0,6 1,20 1,12 Slm Keterangan: Tl : telokolinit 5HUHVLQLW Sc : sklerotinit Cl : clay (lempung) 5YUHÀHNWDQYLWULQLW Dt : detrovitrinit (+ desmokolinit) E : eksinit Idt : inertodetrinit Py : pirit Min : minimum Gl : gelocolinit (+ corpocolinit) F : fusinit I : inertinit Carb : karbonat Max : maximum V : vitrinit Sf : semifusinit Al : alginit MM : mineral matter Mean : rata-rata ( DYHUDJH ) Bkl : Bengkulu Ktn : Ketaun Slm : Seluma

(4)

semifusinit + inertodetrinit + skleronit, sementara itu TPI adalah telovitrinit + semifusinit/detrovitrinit + gelovitrinit + inertodetrinit + sklerotinit.

'LDJUDP VHJLWLJD IDVLHV '7) 'LHVVHO GDQ

GLDJUDP *, YHUVXV 73, 'LHVVHO GDQ /DPEHU

-VRQ GUU GLEXDW XQWXN PHQJHWDKXL OLQJNXQJDQ

pengendapan batubara Cekungan Bengkulu yang merupakan tujuan penelitian ini, di samping karak-teristik batubara.

Geologi Cekungan Bengkulu telah banyak di-publikasikan oleh penulis-penulis terdahulu, antara

ODLQ *DIRHU GUU $PLQ GUU <XOLKDQWR

GUU *XQWRUR GDQ 'MDMDGLKDUMD GDQ

Heryanto (2005, 2006a,b dan 2007a,b)

GEOLOGI REGIONAL

Lajur Barisan (Formasi Hulusimpang, batuan WHURERVDQ GDODP )RUPDVL %DO )RUPDVL 5DQDX GDQ batuan gunung api) dan Lajur Bengkulu (Formasi Seblat, Lemau, Simpangaur, dan Bintunan, serta satuan batuan gunung api Kuarter) merupakan ke-lompok batuan yang menempati daerah Bengkulu. 3HQ\HEDUDQ EDWXDQ GDQ NRORP VWUDWLJUD¿ &HNXQJDQ Bengkulu tersaji dalam Gambar 2 dan 3.

Formasi Hulusimpang (lava, breksi gunung api, dan tuf) yang berumur Oligosen-Miosen Awal

merupakan batuan tertua yang tersingkap di daerah Bengkulu. Bagian atas formasi ini menjemari den-gan bagian bawah Formasi Seblat (perselinden-gan batulempung, batulempung gampingan, batulanau dengan sisipan batupasir, dan konglomerat) yang berumur Miosen Awal sampai Tengah. Batuan terobosan dalam (granit dan diorit) yang berumur Miosen Tengah menerobos Formasi Hulusimpang

GDQ )RUPDVL 6HEODW *DIRHU GUU GDQ $PLQ

GUU

Formasi Lemau (batulempung, batulempung gampingan, batubara, batupasir, dan konglomerat) yang berumur Miosen Tengah - Akhir menindih VHFDUD WDN VHODUDV )RUPDVL 6HEODW <XOLKDQWR GUU

.HPXGLDQ )RUPDVL /HPDX WHUWLQGLK VHFDUD tak selaras oleh Formasi Simpangaur (batupasir konglomeratan, batupasir, batulumpur mengandung cangkang moluska, dan batupasir tufan) berumur Miosen Akhir – Pliosen, dan terendapkan di daerah transisi.

Formasi Bintunan (batuan tufan, konglomerat polimik, tuf, dan batulempung tufan dengan sisipan lignit, dan sisa tumbuhan) berumur Plio-Plistosen, yang terendapkan di lingkungan air tawar sampai payau dan setempat laut dangkal, menindih tak VHODUDV )RUPDVL 6LPSDQJDXU *DIRHU GUU

VHGDQJNDQ PHQXUXW <XOLKDQWR GUU *DPEDU

bagian bawah Formasi Bintunan tersebut menjemari

No. No. Percontoh GI TPI T F D Lokasi

1. 5+ , 14,32 1,71 5,54 2,28 Bengkulu 2. 5+ % - 5,07 100 0 0 3. 5+ % - 100 0 0 4. 5+ % 14,40 3,36 5,38 2,06 5. 5+ 11,67 0,74 88,13 3,65 8,22 Ketahun 6. 5+ % 11,7 2,28 3,18 7. 5+ 4,03 5,25 8. 5+ 22,4 2,83 0,84 2,81 5+ $ 4,24 2,67 77,23 18,16 4,61 10. 5+ % 1,15 3,02 Seluma 11. 5+ % 48,6 0,82 0 12. 5+ $ 26,44 4,04 1,27 0 13. 5+ $ 247,5 2,46 100 0 0

7DEHO 5HNDONXODVL*HOL¿FDWLRQ ,QGH[ (GI), 7LVVXH 3UHVHUYDWLRQ ,QGH[(TPI), dan Diagram Segitiga TFD

GI = vitrinit / semifusinit + inertodetrinit + sklerotinit TPI = Telovitrinit +Semifusinit / detrovitrinit + gelovitrinit + inertodetrinit + Sklerotinit

(5)

*DPEDU 3HWD JHRORJL &HNXQJDQ %HQJNXOX SHQ\HGHUKDQDDQ GDUL *DIRHU GUU

(6)

dengan bagian atas Formasi Simpangaur. Formasi %LQWXQDQ VHWDUD GHQJDQ )RUPDVL 5DQDX \DQJ WHU

VLQJNDS GL /HPEDU 0DQQD $PLQ GUU WHUGLUL

atas breksi gunung api berbatuapung dan tuf riolitik-andesitik. Breksi gunung api tampak berwarna kekuningan, lunak, tidak berlapis, berkomponen kepingan batuapung dan lava andesit-basal di dalam

PDWULNV WXI SDVLUDQ $PLQ GUU .HPXGLDQ

satuan batuan yang termuda adalah aluvium yang terdiri atas bongkah, kerakal, pasir, lanau, lumpur, dan lempung.

BATUBARA

Lapisan batubara di Cekungan Bengkulu dijum-pai dalam Formasi Lemau. Formasi Lemau terdiri atas batulempung, batulempung gampingan, batu-bara, batupasir, dan konglomerat, berumur Miosen Tengah – Atas, dan terendapkan di daerah transisi sampai laut dangkal. Formasi Lemau tersingkap baik mulai dari daerah utara di daerah Ketaun sampai dengan daerah Manna. Lapisan batubara teramati di daerah Ketaun, Bengkulu, dan Seluma (Gambar +DVLO DQDOLVLV SHWURJUD¿ RUJDQLN GDUL EDWXEDUD GL daerah Bengkulu tersaji dalam Tabel 1.

Daerah Ketaun

Lapisan batubara di daerah Ketaun teramati di daerah Sungai Sebayur dan Tanjungdalam. Di daerah ini bagian atas Formasi Lemau terdiri atas perseling-DQ EDWXSDVLU EDWXOHPSXQJ Gperseling-DQ EDWXEDUD 5XQWXQperseling-DQ batuan sedimen di daerah Sebayur ini terlihat dari inti bor (FRUH) Titik Bor CMBH 31 dengan kedalam-an 81 m (Gambar 4). Tiga lapiskedalam-an batubara (lapiskedalam-an

$ % GDQ & *DPEDU GDQ GLMXPSDL GDODP EDJLDQ

atas Formasi Lemau di daerah ini.

Ketebalan lapisan batubara di daerah Ketaun berkisar antara 50 sampai 200 cm, dengan sifat

¿VLN ZDUQD KLWDP NXVDP GXOO GXOO EDQGHG), gores

FRNODW NHKLWDPDQ ULQJDQ 6HFDUD SHWURJUD¿ RUJDQLN contoh batubara di daerah ini tersusun atas

kelom-SRN PDVHUDO YLWULQLW \DQJ WHUGLUL DWDV

WHORNROLQLW GHWURYLWULQLW GHVPRNR

-OLQLW GDQ JHORNROLQLW NRUSRNROLQLW

.DQGXQJDQ PDVHUDO HNVLQLW EHUNLVDU

DQWDUD VDPSDL \DQJ VHOXUXKQ\D WHUGLUL DWDV

resinit, sedangkan kandungan maseral inertinit

ada-ODK \DQJ WHUGLUL DWDV IXVLQLW

VHPLIXVLQLW VNOHURWLQLW

GDQ LQHUWRGHWULQLW $GDSXQ PDWHULDO

mineral yang dijumpai dalam batubara di daerah ini

DGDODK PLQHUDO OHPSXQJ SLULW IUDPERLG

SLULW QRUPDO GDQ PLQHUDO

NDUERQDW 1LODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD

5Y EHUNLVDU DQWDUD GDQ GHQJDQ QLODL

UHÀHNWDQ PLQLPXP GDQ QLODL UHÀHNWDQ

PDNVLPXP 7DEHO

5XQWXQDQ EDWXDQ VHGLPHQ SHPEDZD EDWXEDUD GL daerah Ketaun tersaji dalam Gambar 4. Dijumpainya lapisan batupasir dalam runtunan ini menunjukkan lingkungan pengendapan runtunan ini dipengaruhi oleh saluran. Adanya fosil foram pada batupasir menunjukkan saluran tersebut terletak dalam lingkungan laut atau pengaruh lingkungan laut. Di-jumpainya sedimen klastika halus dengan struktur sedimen laminasi sejajar menunjukkan lingkungan dataran banjir atau pasang surut ikut mempengaruhi lingkungan pengendapan bagian bawah runtunan sedimen pembawa batubara. Adanya kandungan mineral pirit framboidal dan karbonat pada lapisan batubara (Tabel 1), menunjukan adanya pengaruh lingkungan laut pada waktu pembentukan batubara. Data tersebut menunjukkan bahwa lingkungan yang cocok untuk pengendapan sedimen pembawa batu-bara adalah lingkungan deltaik.

Daerah Bengkulu

Lapisan batubara di daerah Bengkulu teramati di daerah Tabapenanjung yaitu di daerah penambangan batubara PT Danau Mas Hitam. Secara umum run-tunan batuan sedimen pembawa batubara di daerah ini terdiri atas Satuan Batupasir dengan sisipan batulempung dan batubara di bagian bawah dan Satuan Batulempung dengan sisipan batupasir dan batubara di bagian atas. Di beberapa tempat dijumpai sill andesit. Secara umum, lapisan batubara yang di-jumpai di daerah ini ada tiga lapisan, lapisan pertama di atas VLOO andesit dengan ketebalan batubara 3,5 m. Lapisan kedua dan ketiga di bawah VLOO andesit, dengan ketebalan VLOO berkisar antara 6 sampai 41 m, sedangkan lapisan batubara berkisar antara 1 - 3,5 P 5XQWXQDQ EDWXDQ VHGLPHQ SHPEDZD EDWXEDUD yang tidak terpengaruh oleh VLOO andesit tersaji dalam Gambar 6, sedangkan runtunan yang terpengaruh oleh VLOO andesit dapat dilihat dalam Gambar 7.

(7)

Penampakan fisik dari lapisan batubara di daerah ini adalah warna hitam, mengkilap (EULJKW

bright banded), gores warna hitam, ringan, dan

pecahan konkoidal. Penampakan di lapangan batubara yang tidak terpengaruh oleh VLOO andesit adalah seperti terlihat dalam Gambar 8, sedangkan batubara yang terpangaruh olen VLOO andesit akan menghasilkan kokas dan berstruktur meniang pada

EDJLDQ NRQWDNQ\D *DPEDU 'L EHEHUDSD WHPSDW

dijumpai ada resin dengan diameter fragmen 1-3 cm (Gambar 10)

Secara mikroskopis, batubara di daerah Beng-kulu tersusun oleh kelompok maseral vitrinit (88,8 *DPEDU .RORP VWUDWLJUD¿ LQWL ERU GL GDHUDK 6HED\XU .HWDXQ

WHUGLUL DWDV WHORNROLQLW

GHWURYLWULQLW GHVPRNROLQLW GDQ

JHORNROLQLW NRUSRNROLQLW 6HPHQWDUD

itu kandungan maseral eksinit berkisar antara 0,6

VDPSDL \DQJ VHOXUXKQ\D WHUGLUL DWDV UHVLQLW

Selanjutnya kandungan maseral inertinit adalah 0 -

\DQJ WHUGLUL DWDV IXVLQLW VHPLIXVLQLW

VNOHURWLQLW GDQ LQHUWRGHWULQLW

$GDSXQ PDWHULDO PLQHUDO \DQJ GLMXPSDL dalam batubara di daerah ini adalah mineral

lem-SXQJ GDQ SLULW QRUPDO 1LODL

UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD 5Y EHUNLVDU DQWDUD

(8)

*DPEDU 3HQDPSDQJ VWUDWLJUD¿ 6DWXDQ %DWXOHPSXQJ )RU-PDVL /HPDX GL KXOX $LU .HPXPX SDGD ORNDVL 5+

Gambar 8. Foto singkapan batubara dengan LQWHUVHDP batu-pasir halus tufan sangat kompak (3 - 5 cm), sisipan dalam batulempung karbonan warna kelabu - hitam. Tersingkap di ORNDVL 5+ GDHUDK SHQDPEDQJDQ EDWXEDUD 37 'DQDX Mas Hitam.

Gambar 5. Foto singkapan batubara Formasi Lemau, pada ORNDVL 6< GL GDHUDK 6HED\XU .HWDKXQ

*DPEDU 3HQDPSDQJ VWUDWLJUD¿ 6DWXDQ %DWXOHPSXQJ )RU-PDVL /HPDX GL 7DODQJ 6HJLQLP SDGD ORNDVL 5+

GDQ QLODL UHÀHNWDQ PDNVLPXP

7DEHO 7LQJJLQ\D QLODL UHÀHNWDQ GLNDUHQDNDQ

oleh adanya VLOO andesit. Hal ini terlihat dari nilai UHÀHNWDQ UDWD UDWD SHUFRQWRK EDWXEDUD \DQJ WLGDN terpengaruh oleh VLOODQGHVLW 5+ , \DQJ GLDP

(9)

-ELO GDUL ORNDVL 5+ GL 7DODQJ 6HJLPLQ GHQJDQ kolom yang tersaji dalam Gambar 6, dan mempunyai

QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD 6HPHQWDUD LWX

contoh batubara yang terpengaruh oleh VLOO andesit

5+ % \DQJ GLDPELO GDUL ORNDVL 5+ *DP

-EDU PHQXQMXNNDQ QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD

GDQ SDGD GDHUDK NRQWDNQ\D PHQJKDVLONDQ kokas (Gambar 7 dan 10).

5XQWXQDQ EDWXDQ VHGLPHQ SHPEDZD EDWXEDUD GL daerah Bengkulu (Gambar 7) menunjukkan bahwa batubara di daerah ini berasosiasi dengan batupasir berbutir sedang sampai kasar, di beberapa tempat batupasir ini menunjukkan struktur sedimen silang siur dan lapisan bersusun, hal ini mengindikasikan bahwa runtunan batuan sedimen pembawa batubara terendapkan dalam lingkungan yang berhubungan

GHQJDQ VDOXUDQ VXQJDL DWDX GDODP OLQJNXQJDQ ÀX

-viatil. Dijumpainya fragmen resin dalam batubara, menunjukkan adanya pepohonan besar penghasil getah dalam pembentukan batubara. Hal ini ditun-MDQJ ROHK KDVLO DQDOLVLV SHWURJUD¿ RUJDQLN EDKZD batubara di daerah ini tidak mengandung mineral pirit framboid dan mineral karbonat, yang meng-indikasikan bahwa pembentukan batubara di daerah ini tidak berhubungan dengan lingkungan laut. Dengan demikian batubara di daerah ini terbentuk di lingkungan darat.

Daerah Seluma

Penelitian batubara di daerah Seluma dilakukan di area pertambangan PT Bukit Bara Utama (BBU) *DPEDU )RWR VLQJNDSDQ NRNDV . PHUXSDNDQ KDVLO NRQWDN EDWXEDUD GHQJDQ WHURERVDQ VLOO DQGHVLW SRU¿U $1 7HUVLQJNDS GL ORNDVL 5+

Gambar 10. Foto singkapan batubara yang memperlihat kilap seperti logam (BB), diperkirakan karena efek tero-bosan VLOODQGHVLW SR¿U PHQJDQGXQJ UHVLQ 5 7HUVLQJNDS GL ORNDVL 5+

GDQ %XNLW ,QGDK /HVWDUL %,/ 5XQWXQDQ EDWXDQ

sedimen pembawa batubara tersusun oleh batu pasir kasar sampai konglomeratan, batupasir kasar dengan struktur sedimen butiran tersusun (graded bedding) dan lapisan silang-siur, dan batupasir halus - sedang yang menunjukkan lapisan sejajar dan mengandung jejak binatang (burrow), seperti yang tersaji dalam Gambar 11. Di atas perselingan tersebut dijumpai batubara lapisan C dengan ketebalan 3,25 m dan mengandung LQWHUVHDPbatulempung warna kelabu kecoklatan dengan ketebalan 5 - 15 cm, sedangkan lapisan B dijumpai di bawah runtunan tersebut dengan ketebalan 4,5 m yang juga mengandung

LQWHUVHDP batulempung (5-15 cm) dan memperli-hatkan FOHDW yang baik (Gambar 12). Di beberapa tempat dijumpai adanya fragmen resin.

6LIDW ¿VLN EDWXEDUD GL GDHUDK LQL DGDODK ZDUQD KL

-tam, mengkilap (bright banded), gores hitam dengan SHFDKDQ NRQNRLGDO GDQ ULQJDQ 6HFDUD SHWURJUD¿V organik batubara di daerah ini tersusun oleh

kelom-SRN PDVHUDO YLWULQLW \DQJ WHUGLUL DWDV

WHORNROLQLW GHWURYLWULQLW GHVPRNR

-OLQLW GDQ JHORNROLQLW NRUSRNROLQLW

6HPHQWDUD LWX NDQGXQJDQ NHORPSRN

PDVHUDO HNVLQLW EHUNLVDU DQWDUD VDPSDL \DQJ

seluruhnya terdiri atas resinit. Selanjutnya kandun-JDQ NHORPSRN PDVHUDO LQHUWLQLW DGDODK

\DQJ WHUGLUL VHPLIXVLQLW VNOHURWLQLW

GDQ LQHUWRGHWULQLW $GDSXQ PDWH

(10)

Gambar 12. Foto singkapan batubara dengan sisipan batu-OHPSXQJ SDGD ORNDVL 6< GL DQDN 6XQJDL 3LOXEDQJ daerah PT BBU.

Gambar 13. Penampang bagian bawah Formasi Lemau pada ORNDVL 5+ GL GDHUDK SHQDPEDQJDQ EDWXEDUD %,/ .H-camatan Seluma Selatan.

Gambar 11. Penampang bagian bawah Formasi Lemau di daerah penambang batubara BBU Kecamatan Lubuksandi.

LQL DGDODK PLQHUDO OHPSXQJ GDQ SLULW

QRUPDO 1LODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD

5Y EHUNLVDU DQWDUD GDQ GHQJDQ QLODL

UHÀHNWDQ PLQLPXP GDQ QLODL UHÀHNWDQ

PDNVLPXP 7DEHO

Nilai reflektan vitrinit mempunyai kisaran

\DQJ FXNXS EHVDU \DLWX PXODL GDUL VDPSDL GHQJDQ +DO LQL NDUHQD DGDQ\D WHURERVDQ

VLOO DQGHVLW VHSHUWL WHUOLKDW SDGD ORNDVL 5+ *DPEDU %DWXEDUD 5+ % GL GDHUDK

ini tidak terpengaruh oleh terobosan VLOO andesit,

PHPSXQ\DL QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW 7DEHO 6HPHQWDUD LWX SDGD ORNDVL 5+ *DPEDU \DQJ EDWXEDUDQ\D 5+ $ WHUSHQJDUXK ROHK

terobosan VLOO DQGHVLW PHPSXQ\DL QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW 7DEHO

Dijumpainya lapisan batupasir berbutir sedang sampai kasar, yang memperlihatkan struktur sedi-men silang-siur dan butiran tersusun, sedi-menunjukkan bahwa lingkungan pengendapan batuan sedimen pembawa batubara sangat dipengaruhi oleh saluran

(FKDQQHO). Adanya batupasir berbutir halus dengan struktur sedimen laminasi sejajar menunjukkan bahwa dataran banjir mempengaruhi lingkungan

(11)

Dengan demikian lingkungan pengendapan yang cocok untuk lapisan batuan sedimen pembawa ba-tubara adalah lingkungan sungai (ÀXYLDWLO). Tidak dijumpainya mineral pirit framboid dan mineral karbonat menunjukkan bahwa lingkungan laut tidak mempengaruhi pembentukan batubara di daerah ini. Dijumpainya fragmen resin pada batubara menun-jukkan pepohonan besar (UDLQ IRUHVW) adalah salah satu pembentuk batubara di daerah ini. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa batubara di daerah ini terbentuk dalam lingkungan darat.

DISKUSI

Lapisan batubara di Cekungan Bengkulu teramati di daerah Ketaun, Bengkulu, dan Seluma yang di-jumpai dalam Formasi Lemau. Secara megaskopik, lapisan batubara di daerah Ketaun berwarna hitam agak kusam (dull – dull banded) dengan gores warna hitam kecoklatan, sementara itu lapisan batubara di daerah Bengkulu dan Seluma menunjukkan warna hitam mengkilap (bright banded) dengan gores warna hitam. Keadaan tersebut dikarenakan adanya pengaruh terobosan VLOOandesit pada lapisan batubara di daerah Bengkulu dan Seluma, yang menyebab-kan lapisan batubara di daerah Ketaun mempunyai

QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD 5Y DQWDUD GDQ

GHQJDQ QLODL UHÀHNWDQ PLQLPXP

GDQ QLODL UHÀHNWDQ PDNVLPXP 7DEHO

6HPHQWDUD QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD 5Y lapisan batubara di daerah Bengkulu berkisar antara

GDQ GHQJDQ QLODL UHÀHNWDQ PLQLPXP

GDQ QLODL UHÀHNWDQ PDNVLPXP

7DEHO /DSLVDQ EDWXEDUD \DQJ WLGDN

terpengaruh terobosan VLOO andesit mempunyai nilai

UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD $GDSXQ ODSLVDQ ED

-WXEDUD GL GDHUDK 6HOXPD PHPSXQ\DL QLODL UHÀHNWDQ

YLWULQLW UDWD UDWD 5Y EHUNLVDU DQWDUD GDQ

GHQJDQ QLODL UHÀHNWDQ PLQLPXP GDQ

QLODL UHÀHNWDQ PDNVLPXP 7DEHO

Lapisan batubara yang tidak terpengaruh terobosan VLOO DQGHVLW PHPSXQ\DL QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWD

5XQWXQDQ EDWXDQ VHGLPHQ SHPEDZD EDWXEDUD GL daerah Ketaun menunjukkan lingkungan pengendap-an ypengendap-ang dipengaruhi oleh laut, yaitu lingkungpengendap-an

organik dengan dijumpainya mineral pirit framboid dan adanya mineral karbonat. Sementara itu, run-tunan batuan sedimen pembawa batubara di daerah Bengkulu dan Seluma menunjukkan lingkungan SHQJHQGDSDQ ÀXYLDWLO DWDX GDUDW \DQJ MXJD GLWXQMDQJ ROHK KDVLO DQDOLVLV SHWURJUD¿ RUJDQLN GHQJDQ WLGDN dijumpainya mineral pirit framboid dan mineral karbonat. Penampakan di lapangan juga ditunjang oleh adanya resin dalam batubara yang menunjukkan bahwa pembentukan batubara di daerah ini dipen-garuhi oleh pepohonan besar (UDLQ IRUHVW).

+DVLO DQDOLVLV SHWURJUD¿ RUJDQLN 7DEHO NHPX

-dian direkalkulasi menjadi GI (*HOL¿FDWLRQ ,QGH[), TPI (7LVVXH 3UHVHUYDWLRQ ,QGH[), T (telovitrinit : telinit + telokolinit), F (fusinit + semifusinit), dan D (GLVSHUVHG RUJDQLF PDWHU : inertodetrinit + sporinit + alginit), yang tersaji dalam Tabel 2. GI adalah vitrin-it/semifusinit + inertodetrinit + sklerotinit, sementara itu TPI adalah telovitrinit + semifusinit / detrovitrinit + gelovitrinit + inertodetrinit + sklerotinit.

'LDJUDP VHJLWLJD IDVLHV 'LHVVHO VHSHUWL

yang terlihat pada Gambar 14, menunjukkan bahwa batubara Cekungan Bengkulu termasuk dalam fa-sies :HW )RUHVW 6ZDPS. Secara umum, batubara di daerah Ketaun relatif lebih ke arah OLPQLF dari pada batubara daerah Bengkulu dan Seluma. Sementara

LWX GLDJUDP IDVLHV 'LHVVHO GDQ /DPEHUVRQ

GUU VHSHUWL WHUVDML GDODP *DPEDU

menunjukkan bahwa dua percontoh batubara dari daerah Ketaun termasuk ke dalam fasies OLPQLF atau termasuk dalam OLPLWHG LQÀX[ FODVWLF PDUVK, atau termasuk lower delta plain. Dalam fasies OLPQLFini kerapatan pepohonannya berkurang, sedangkan ke arah fasies WHOPDWLF kerapatan pepohonannya ber-tambah. Sementara itu, percontoh batubara lainnya dari daerah Bengkulu, Ketaun, dan Seluma termasuk ke dalam fasies WHOPDWLF. Dari percontoh batubara yang termasuk WHOPDWLF, satu percontoh batubara dari daerah Bengkulu dan satu percontoh batubara dari derah Seluma termasuk ke dalam ZHW IRUHVW VZDPS

atau termasuk ke dalam IDVLHV XSSHU GHOWD SODLQ. Data tersebut di atas menunjukkan bahwa secara umum batubara di daerah Ketaun terbentuk di ling-kungan yang relatif lebih ke arah laut atau OLPQLF

atau OLPLWHG LQÀX[ FODVWLF PDUVK atau lower delta plain, yang kerapatan pepohonannya berkurang. Se-baliknya batubara dari daerah Bengkulu dan Seluma,

(12)

secara umum relatif lebih ke arah darat atau WHOPDWLF

atau upper delta plain atau ZHW IRUHVW VZDPSdi mana kerapatan pepohonannya bertambah.

KESIMPULAN

Lapisan batubara di Cekungan Bengkulu, yang dijumpai dalam Formasi Lemau berumur Miosen Tengah, teramati di daerah Ketaun, Bengkulu, dan Seluma. Ketebalan lapisan batubara di daerah Ke-taun berkisar antara 50 sampai 200 cm, sedangkan di daerah Bengkulu antara 100 - 350 cm, dan di daerah Seluma dapat mencapai 450 cm.

Secara megaskopik, lapisan batubara di daerah Ketaun berwarna hitam agak kusam (dull – dull banded) dengan gores warna hitam kecoklatan, sementara itu lapisan batubara di daerah Bengkulu dan Seluma menunjukkan warna hitam mengkilap (bright banded) dengan gores warna hitam. Lapisan EDWXEDUD GL GDHUDK .HWDXQ PHPSXQ\DL QLODL UHÀHNWDQ

YLWULQLW UDWD UDWD 5Y DQWDUD GDQ VHGDQJ

-kan lapisan batubara di daerah Bengkulu dan Seluma QLODL UHÀHNWDQ YLWULQLW UDWD UDWDQ\D 5Y EHUNLVDU

DQWDUD GDQ .HDGDDQ WHUVHEXW NDUHQD

bahwa adanya pengaruh terobosan VLOOandesit pada lapisan batubara di daerah Bengkulu dan Seluma.

Secara umum, batubara di daerah Ketaun ter-bentuk di lingkungan yang relatif lebih ke arah laut *DPEDU 'LDJUDP VHJLWLJD IDVLHV 'LHVVHO XQWXN EDWX -bara di Cekungan Bengkulu.

(13)

lower delta plain, di mana kerapatan pepohonan-nya berkurang. Sebalikpepohonan-nya batubara dari daerah Bengkulu dan Seluma, secara umum relatif lebih ke arah darat atau WHOPDWLF atau upper delta plain atau

ZHW IRUHVW VZDPSdi mana kerapatan pepohonannya bertambah.

Ucapan Terima Kasih---Ucapan terima kasih terutama ditujukan kepada Kepala Pusat Survei Geologi yang telah memberikan dukungan mulai dari penelitian lapangan sampai dengan penulisan makalah ini. Selain itu ucapan terima kasih juga ditujukan kepada rekan sejawat yang telah memberikan kritik, saran, dan diskusi mengenai makalah ini.

ACUAN

$PLQ 7 & .XVQDPD 5XVWDQGL ( GDQ *DIRHU 6

*HRORJL /HPEDU 0DQQD GDQ (QJJDQR 6XPDWHUD 6NDOD . Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

'LHVVHO & ) . $Q DSSUDLVDO RI FRDO IDFLHV EDVHG RQ

maceral characteristics. $XVWUDOLDQ &RDO *HRORJ\, 4 (2), h.474-484.

'LHVVHO & ) . 2Q WKH FRUUHODWLRQ EHWZHHQ FRDO

fasies and depositional environment. 3URFHHGLQJV th

6\PSRVLXP RI 'HSDUWPHQW *HRORJ\ 8QLYHUVLW\ RI 1HZ &DVWOH 1HZ 6RXWK :DOHV K

*DIRHU 6 $PLQ 7 & GDQ 3DUGHGH 5 Geologi /HPEDU %HQJNXOX 6XPDWHUD 6NDOD . Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

*XQWRUR $ GDQ 'MDMDGLKDUMD < 6 7HFWRQLF 6FHQDULR RI WKH 6XPDWUD )RUH $UF %DVLQ LQ 5HODWLRQ

To the Formation of Petroleum Systems. International &RQIHUHQFH RQ *HRORJ\ *HRWHFKQRORJ\ DQG 0LQHUDO

Thailand.

+HU\DQWR 5 /DSRUDQ 3HQHOLWLDQ 6XPEHU 'D\D +LGURNDUERQ GL &HNXQJDQ %HQJNXOX %HQJNXOX. Pusat Penelitian Pengembangan Geologi, Badan Geologi,

'HSDUWHPHQ (QHUJL GDQ 6XPEHU 'D\D 0LQHUDO /DSRUDQ

Internal).

+HU\DQWR 5 D .DUDNWHULVWLN )RUPDVL 6HEODW GL 'DHUDK

Bengkulu Selatan. -XUQDO 6XPEHU 'D\D *HRORJL, 16, h.

+HU\DQWR 5 E 3URYHQDQFH EDWXSDVLU )RUPDVL /HPDX

di Cekungan Bengkulu., 6HPLQDU 1DVLRQDO *HRORJL ,QGRQHVLD: ”',1$0,.$ '$1 352'8.1<$”. Pusat Survei Geologi, Bandung, 5-6 Desember 2006.

+HU\DQWR 5 D 'LDJHQHVLV %DWXSDVLU )RUPDVL /HPDX

di Cekungan Bengkulu dan Potensinya sebagai Batuan

5HVHUYRDU +LGURNDUERQ 0LQHUDO GDQ (QHUJL, 5, h. 58-70.

+HU\DQWR 5 E +XEXQJDQ DQWDUD GLDJHQHVLV UHÀHNWDQ

vitrinit, dan kematangan batuan pembawa hidrokarbon batuan Sedimen Miosen di Cekungan Bengkulu. Jurnal *HRORJL ,QGRQHVLD, 2, h. 101-111.

+HU\DQWR 5 GDQ 3DQJJDEHDQ + 7KH 7HUWLDU\ 6RXUFH 5RFN 3RWHQWLDO RI WKH %HQJNXOX %DVLQ -DNDUWD ,QWHUQDWLRQDO *HRVFLHQFHV &RQIHUHQFH DQG ([KLELWLRQ. Jakarta, 14-16 Agustus 2006.

/DPEHUVRQ 0 1 %XVWLQ 5 0 GDQ .DONUHXWK : ' /LWKRW\SH PDFHUDO FRPSRVLWLRQ DQG YDULDWLRQ

as correlated with paleo-wetland environment, Gates Formation, northeastern British Columbia, Canada. ,QWHUQDWLRQDO -XUQDO RI &RDO *HRORJ\, 18, h.67-124.

<XOLKDQWR % 6LWXPRUDQJ % 1XUGMDMDGL $ GDQ 6DLQ % 6WUXFWXUDO $QDO\VLV RI WKH RQVKRUH %HQJNXOX

Forearc Basin and Its Implication for Future Hydrocarbon

([SORUDWLRQ $FWLYLW\3URFHHGLQJV ,QGRQHVLDQ 3HWUROHXP $VVRFLDWLRQ 7ZHQW\ )RXUWK $QQXDO &RQYHQWLRQ, October

Gambar

Gambar 1. Peta lokasi penelitian di Provinsi Bengkulu, Sumatera.
Gambar 5.  Foto singkapan  batubara Formasi Lemau,  pada  ORNDVL 6&lt; GL GDHUDK 6HED\XU .HWDKXQ
Gambar  10.  Foto  singkapan  batubara  yang  memperlihat  kilap  seperti  logam  (BB),  diperkirakan  karena  efek   tero-bosan VLOO DQGHVLW SR¿U PHQJDQGXQJ UHVLQ 5 7HUVLQJNDS GL ORNDVL 5+
Gambar  11.  Penampang  bagian  bawah  Formasi  Lemau  di  daerah penambang batubara BBU Kecamatan Lubuksandi.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun dalam penelitian ini untuk menjaring data awal prestasi kemampuan berbicara Bahasa Inggris siswa akan dikumpulkan kemudian setiap siswa maju ke depan kelas untuk berbicara

Sistem penggabungan pada prototype ini menggunakan sistem PLTH sistem tersaklar (switched) yang di sesuaikan, terdapat empat buah sumber listrik yang akan mensuplai beban

Konsistensi Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 14/2/PBI/2012 dalam ketentuan batas minimum usia calon pemegang kartu kredit terhadap KUHPerdata dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun

Berdasarkan hasil analisis yang terdiri dari aspek pasar, aspek material, aspek lokasi, aspek permesinan, aspek organisasi, aspek sumber daya manusia dan

Seperti terlihat pada gambar 10 dengan kecepatan gerak piston yang sama tetapi lubang aliran oli berbeda akan memberikan efek peredaman berbeda pula, gambar 10a (mempunyai

urin dalam jumlah lebih banyak dibandingkan bila keadaan normal bersama dengan air, yang mengangkut secara pasif untuk mempertahankan keseimbangan osmotik.. Diuretic sangat

Hasil penerapan pelayanan informasi obat di Apotek wilayah Kota Tangerang Selatan adalah hasil data pengisian kuisioner yang diberikan kepada Apoteker yang hadir

Visual basic merupakan bahasa pemrogaman yang dapat digunakan untuk membuat sebuah aplikasi dalam Microsoft Windows.. Dalam praktikum ini digunakan Visual Basic