• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

17 BAB II

LANDASAN TEORI

2.1Komunikasi

2.1.1 Pengertian Komunikasi

Komunikasi merupakan proses sosial yang sangat mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Dikatakan mendasar karena setiapa masyarakat manusia, baik yang primitive maupun yang modern, berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai aturan sosial mengenai komunikasi. Dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu-individu lainnya sehingga meningkatkan kesempatan individu itu untuk tetap hidup (Rakhmat, 2007:1)

Setiap saat semua orang selalu berbicara tentang komunikasi . kata komunikasi sangat terkenal, tetapi banyak diantara kita yang kurang mengerti makna dari komunikasi walaupun kita selalu memperbincangkannya dan melakukannya.

Menurut Onong Uchjana Effendy (1992:4) secara etimologi istilah komunikasi berasal dari perkataan inggris yaitu communication yang bersumber dari bahasa latin communicatio yang berarti pemberitahuan atau pertukaran pikiran makna hakiki, dari communicatio ialah communis yang berarti „sama‟ atau kesamaan arti. Sama halnya dengan pengertian tersebut Astrid Susanto mengemukakan “perkataan komunikasi” berasal dari communicare yang dalam bahasa latin memiliki arti berpartisipasi atau memberitahukan, kata communis berarti memiliki bersama atau berlaku dimana-mana (Astrid, 1998:1)

Komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Jelasnya, jika seseorang mengerti tentu sesuatu yang dinyatakan orang lain kepadanya, maka komunikasi berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara mereka itu bersifat komunikatif. Sebaliknya jika tidak dimengerti, komunikasi tidak berlangsung. Dengan lain perkataan, hubungan antara orang-orang itu tidak komunikatif. (Effendy : 2008:3)

Dalam pengertian pragmatis, komunikasi mengandung tujuan tertentu; ada yang dilakukan secara lisan, secara tatap muka, atau melalui media, baik media massa seperti surat kabar, radio, televise, maupun film. Melalui non media massa , misalnya seperti surat, telepon, papan pengumuman, poster, spanduk dan sebagainya. Sehingga dikatakan

(2)

bahwa komunikasi merupakan proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberi tahu atau mengubah sikap, pendapat atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tidak langsung melalui media. (Effendy, 2008: 5)

Ditinjau dari segi terminologis, para ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi antara lain sebagai berikut:

Menurut Onong Uchjana Effendy komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahukan atau mengubah sikap , pendapat dan perilaku, baik langsung secara lisan maupun tak langsung melalui media. (Effendy, 2008 : 4)

Menurut Arni Muhammad komunikasi adalah pertukaran pesan verbal maupun nonverbal antara si pengirim dan si penerima pesan untuk mengubah tingkah laku (Muhamad, 2009 : 4-5). Arni Muhammad menyimpulkan definisi komunikasi adalah suatu proses dengan menggunakan symbol verbal maupun non verbal untuk dikirimkan, diterima, dan diberi arti.

Menurut Riswandi komunikasi adalah proses penyampaian dan penerimaan pesan-pesan dengan lisan, tulisan, atau symbol dari seorang komunikator kepada komunikate melalui suatu media untuk mencapai tujuan tertentu. (Riswandi, 2009:2)

Dari masing-masing definisi diatas, dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya komunikasi merupakan suatu proses akan tetapi belum ada kesepahaman. Ada yang mengatakan proses penyampaian pesan kepada orang lain untuk memberitahukan atau merubah sikap, ada juga yang mengatakan proses pengiriman pesan dengan menggunakan simbol verbal maupun non verbal. Dari semua definisi itu, penulis mencoba mengambil benang merah bahwa pada intinya adalah proses pengiriman pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Namun dari beberapa definisi tersebut maksud dan tujuannya sama. Yang terpenting dalam komunikasi adalah bagaimana mempunyai kesamaan pesan yang sistematis oleh seseorang dengan melibatkan orang lain.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seseorang yang berkomunikasi berarti mengharapkan agar orang lain ikut berpartisipasi atau bertindak sesuai dengan tujuan dan harapan dari isi pesan yang disampaikan. Jadi diantara yang terlibat dalamkegiatan komunikasi harus memiliki kesamaan arti dan harus sama-sama mengetahui hal yang

(3)

dikomunikasikan , jika tidak demikian maka kegiatan komunikasi tersebut tidak berlangsung dengan baik dan tidak efektif.

Berkaitan dengan pesan yang disampaikan dalam suatu komunikasi, menurut Stewart L, Tubbs dan Silvia Mass, sebagaimana dikutif oleh Jalaludin Rakhmat, dalam bukunya „psikologi komunikasi‟ (2007 : 13-16) ia menguraikan ciri-ciri komunikasi yang baik dan efektif paling tidak dapat menimbulkan 5 hal:

1) Pengertian.

Artinya penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksud oleh komunikator.

2) Kesenangan.

Maksudnya adalah menjadikan hubungan yang hangat dan akrab serta menyenangkan.

3) Mempengaruhi sikap.

Dapat mengubah sikap orang lain sehingga bertindak sesuai dengan kehendak komunikator tanpa merasa terpaksa.

4) Hubungan sosial yang baik.

Menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi.

5) Tindakan.

Untuk membuat komunikan melakukan suatu tindakan yang sesuai dengan pesan yang diinginkan.

Dari lima ciri komunikasi yang efektif diatas, dapat dipahami bahwa komunikasi menjadi penting untuk pertumbuhan hidup manusia. Melalui komunikasi akan ditemui jati diri, dapat mengembangkan konsep diri, dan menetapkan hubungan dengan dunia sekitarnya.

2.1.2 Proses Komunikasi

Dalam melakukan komunikasi, perlu adanya suatu proses yang memunginkan untuk melakukan komunikasi secara efektif. Proses komunikasi inilah yang membuat komunikasi berjalan dengan baik dengan berbagai tujuan. Dengan adanya proses komunikasi, berarti ada suatu alat yang digunakan dalam prakteknya sebagai cara dalam pengungkapan komunikasi tersebut. Berangkat dari paradigma Laswell dalam Onong

(4)

Uchjana Effendy (2008 : 11-17) membedakan proses komunikasi menjadi dua tahap, yaitu proses komunikasi secara primer dan secara sekunder:

1) Proses komunikasi secara primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah pesan verbal (bahasa), dan pesan non verbal (kial/ gesture, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya) yang secara langsung dapat/mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan. Seperti disinggung di muka, komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan kata lain, komunikasi adalah proses membuat pesan yang setara bagi komunikator dan komunikan. (Effendy, 2008:11)

Onong Uchjana Effendy mengatakan bahwa, bahasa digambarkan paling banyak dipergunakan dalam proses komunikasi karena dengan jelas bahwa bahasa mampu menerjemahkan pikiran seseorang untuk dapat dimengerti dan dipahami oleh orang lain secara terbuka. (Effendy, 2008:11) tetapi tidak semua orang dapat mengutarakan pikiran dan perasaan yang sesungguhnya melalui kata-kata yang tepat dan lengkap. Hal ini juga diperumit dengan adanya makna ganda yang terdapat dalam kata-kata yang digunakan, dan memungkinkan kesalahan makna yang diterima. Oleh karena itu bahasa isyarat, kial, sandi, symbol, gambar, dan lain-lain dapat memperkuat kejelasan makna.

2) Proses komunikasi secara sekunder

Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada ditempat yang relative jauh ataupun jumlahnya banyak. Surat, telepon. Surat kabar, majalah, radio, televise film, dan banyak lagi adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. (Effendy, 2008:16)

Pada umumnya kalau kita berbicara dikalangan masyarakat, yang dinamakan media komunikasi itu adalah media kedua sebagaimana diterangkan diatas . jarang sekali orang menganggap bahasa sebagai media komunikasi. Hal ini disebabkan oleh bahasa sebagai

(5)

lambang (symbol) serta isi (content) yakni pikiran atau perasaan yang dibawanya menjadi totalitas pesan (message), yang tampak tak dapat dipisahkan. Tidak seperti media dalam bentuk surat, telepon, radio, dan lain-lainnya. Yang jelas tidak selalu dipergunakan. Tampaknya seolah-olah orang tak mungkin berkomunikasi tanpa bahasa, tetapi orang mungkin dapat berkomunikasi tanpa surat, telepon, televisi dan sebagainya. (Effendy, 2008:17)

2.1.3 Unsur-unsur Komunikasi

Dalam suatu proses komunikasi dibutuhkan sebuah unsur-unsur (komponen) komunikasi, dimana dibutuhkan paling sedikit tiga unsur, artinya bagian-bagian terpenting yang harus ada pada suatu kesatuan atau keseluruhan proses komunikasi. Komunikasi dapat dikatakan efektif atau berhasil apabila diantara komunikator dan komunikan terdapat suatu pengertian yang sama mengenai pesan . unsur komunikasi tidak hanya komunikator, komunikan dan pesan tetapi terdapat unsur-unsur lain yang juga penting dalam proses komunikasi yaitu:

1. Komunikator 2. Pesan

3. Media 4. Komunikan

1. Efek (Effendy, 1999 : 6)

Dengan adanya unsur-unsur yang lima tersebut peneliti menguraikannya sebagai berikut:

1. Komunikator

Komunikator yaitu orang yang menyampaikan pesan. Komunikator memiliki fungsi sebagai encoding, yakni orang yang memformulasikan pesan atau informasi yang kemudian akan disampaikan kepada orang lain, komunikator sebagai bagian yang paling menentukan dalam berkomunikasi dan untuk menjadi seorang komunikator itu harus mempunyai persyaratan dalam memberikan komunikasi untuk mencapai tujuannya. Sehingga dari persyaratan tersebut mempunyai daya tarik tersendiri komunikan terhadap komunikator.

Komunikator sebagai unsur yang sangat menentukan proses komunikasi harus mempunyai persyaratan dan menguasai bentuk, model, dan strategi komunikasi untuk

(6)

mencapai tujuannya. Faktor-faktor tersebut akan dapat menimbulkan kepercayaan dan daya tarik komunikan kepada komunikator. Komunikator berfungsi sebagai encoder, yakni orang yang memformulasikan pesan yang kemudian menyampaikan kepada orang lain. Orang yang menerima pesan ini adalah komunikan yang berfungsi sebagai decoder, yakni menerjemahkan lambing-lambang pesankedalam konteks pengertian sendiri. (Effendy, 1996:59)

Syarat yang diperlukan komunikator, diantaranya:

1) Memiliki kredibilitas yang tinggi bagi komunikannya 2) Kemampuan berkomunikasi

3) Mempunyai pengetahuan yang luas 4) Sikap

5) Memiliki daya tarik, dalam arti memiliki kemampuan untuk melakukan perubahan sikap atau perubahan pengetahuan pada diri komunikan. (Effendy, 1996:59)

Dari beberapa syarat dan pengertian komunikator diatas, tentunya seorang komunikator harus dapat memposisikan dirinya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Dalam menghadapi komunikan, seorang komunikator harus bersifat empatik, artinya ketika ia sedang berkomunikasi dengan komunikan yang sedang sibuk, bingung, marah, sedih dan lain sebagainya, maka ia harus menunjukan sikap empatiknya tersebut.

2. Pesan

Pesan yaitu tanda (signal) atau kombinasi tanda yang berfungsi sebagai stimulus (pemicu) bagi penerima tanda. ( Mufid, 2009:56) Pesan harus mempunyai inti pesan sebagai pengarah di dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Pesan yaitu pernyataan yang disampaikan oleh komunikator yang didukung oleh lambang. Pada dasarnya pesan yang disampaikan oleh komunikator itu mengarah pada usaha mencoba mempengaruhi atau mengubah sikap dan tingkah laku komunikannya. Penyampaian pesan dapat dilakukan secara lisan atau melalui media.

3. Media

Media atau saluran yaitu merupakan perangkat yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator. (Walgito, 2003:76) Media yang dimaksud disini adalah alat komunikasi, seperti berbicara, gerak badan, kontak mata, sentuhan, radio,

(7)

televisi, surat kabar, buku dan gambar. Media komunikasi ini sengaja dipilih komunikator untuk menghantarkan pesannya agar sampai ke komunikan. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah tidak semua media cocok untuk maksud tertentu. Kadang-kadang suatu media lebih efisien digunakan untuk maksud tertentu tetapi untuk maksud yang lain tidak. Jadi, unsur utama dari media komunikasi adalah pemilihan dan penggunan alat perantara yang dilakukan komunikator dengan sengaja. Artinya, hal ini mengacu kepada pemilihan dan penggunaan teknologi media komunikasi.

3. Komunikan

Komunikan adalah seseorang yang menerima pesan dari komunikator kemudian komunikan menganalisis dan menginterpretasikan isi pesan yang diterimanya. (Arni, 2009:18) dalam hal ini perlu diperhatikan karena penerima pesan ini berbeda dalam banyak hal misalnya, pengalamaannya, kebudayaanya, pengetahuannya dan usianya. Akan hal itu komunikator tidak bisa menggunakan cara yang sama dalam berkomunikasi kepada anak-anak dan berkomunikasi dengan orang dewasa. Jadi, dalam berkomunikasi siapa pendengarnya perlu dipertimbangkan. Dalam proses komunikasi, utamanya dalam tataran antar pribadi, peran komunikator dan komunikan bersifat dinamis, saling berganti dan menimbulkan komunikasi dua arah.

4. Efek

Efek yaitu dampak atau hasil sebagai pengaruh dari pesan. Komunikasi bisa dilakukan berhasil apabila sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Pertanyaan mengenai efek komuniaksi ini dapat menanyakan 2 hal yaitu apa yang ingin dicapai dengan hasil komunikasi tersebut dan kedua, apa yang dilakukan orang sebagai hasil dari komunikasi. Akan tetapi perlu diingat, bahwa kadang-kadang tingkah laku seseorang tidak hanya disebabkan oleh faktor hasil komunikasi tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain.

Hal yang terpenting dalam komunikasi ialah bagaimana caranya agar suatu pesan yang disampaikan komunikator itu menimbulkan efek atau dampak tertentu pada komunikan. Dampak yang ditimbulkan dapat diklasifiksikan menurut kadarnya, yaitu:

1) Dampak kognitif, adalah yang timbul pada komunikan yang menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat intelektualitasnya.

(8)

2) Dampak afektif, lebih tinggi kadarnya daripada dampak kognitif. Tujuan komunikator bukan hanya sekedar supaya komunikan tahu, tetapi bergerak hatinya, menimbulkan pesan tertentu, misalnya perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya.

3) Dampak behavioral, yang paling tinggi kadarnya, yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku tindakan atau kegiatan. (Effendy, 2008:7)

Komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi merupakan medium penting bagi pembentukan atau pengembangan pribadi untuk kontak sosial, yang berarti dengan adanya komunikasi seseorang tumbuh dan belajar. Melalui komunikasi juga, sesorang bisa menemukan pribadi kita dan orang lain, bersahabat, bermusuhan, mencintai atau mengasihi orang lain, dan sebagainya. Komunikasi adalah suatu proses, suatu kegiatan berlangsung kontinu.

Komunikasi tidak lain merupakan interaksi simbolik. Manusia dalam berkomunikasi lebih pada memanipulasi lambang-lambang dari berbagai benda. Semakin tinggi tingkat peradaban manusia semakin maju orientasi masyarakatnya terhadap lambang-lambang. Secara sederhana komunikasi dapat dirumuskan sebagai proses pengoperan isi pesan berupa lambang-lambang dari komunikator kepada komunikan.

Berangkat dari definisi tersebut, komunikasi berarti sama-sama membagi ide-ide. Apabila seseorang berbicara dan temannya tidak mendengarkan dia, maka disini tidak ada pembagian dan tidak ada komunikasi. Apabila orang pertama menulis dalam bahasa perancis dan orang kedua tidak dapat membaca perancis, maka tidak ada pembagian dan tidak ada komunikasi, pada dasarnya komunikasi tidak hanya memberitahukan dan mendengarkan saja komunikasi harus mengandung pembagian ide, pikiran, fakta atau pendapat.

2.1.4 Fungsi Komunikasi

Fungsi adalah potensi yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan tertentu. Komunikasi sebagai ilmu, seni, dan lapangan kerja sudah tentu memiliki fungsi yang dapat dimanfaatkan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurut Onong Uchjana Effendy (2008:31) menyimpulkan bahwa fungsi-fungsi komunikasi dan komunikasi massa dapat disederhanakan menjadi empat fungsi, yaitu:

(9)

2) Mendidik (to educate) 3) Menghibur (to entertain) 4) Mempengaruhi (to influence)

Dan dapat diuraikan sebagai berikut pengertian tentang fungsi komunikasi : 1) Menginformasikan (to inform)

Adalah memberikan informasi kepada masyarakat, memberitahukan kepada maasyarakat mengenai peristiwa yang terjadi, ide atau pikiran dan tingkah laku orang lain, serta segala sesuatu yang disampaikan orang lain.

2) Mendidik (to educate)

Adalah komunikasi merupakan sarana pendidikan, dengan komunikasi manusia dapat menyampaikan ide atau pikirannya kepada orang lain, sehingga orang lain mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.

3) Menghibur (to entertain)

Adalah komunikasi selain berguna untuk menyampaikan informasi, pendidikan dan mempengaruhi juga berfungsi untuk menyampaikan hiburan atau menghibur orang lain.

4) Mempengaruhi (to influence)

Adalah fungsi mempengaruhi setiap individu yang berkomunikasi tentunnya berusaha saling mempengaruhi jalan pikiran komunikan dan lebih jauhnya lagi berusaha merubah sikap dan tingkah laku komunikan sesuai dengan yang diharapkan (Effendy, 1996:36)

Dilihat dari fungsi komunikasi dan keberadaanya di masyarakat, komunikasi tidak dapat dihindari oleh seorang individu karena komunikasi merupakan suatu alat yang dapat digunakan untuk dapat menjalin hubungan dengan orang lain.

2.1.5 Faktor Penghambat Komunikasi

Perlu diingat bahwa tidak selalu komunikasi berlangsung seperti yang diharapkan. Komunikasi akan menjadi efektif apabila penerima pesan dapat menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaimana dimaksudkan oleh pengirim pesan. Kenyataannya kita seringkali gagal untuk saling memahami. Sumber utama kesalahpahaman dalam komunikasi adalah cara penerima pesan menangkap makna suatu pesan berbeda dari yang dimaksudkan oleh penyampai pesan dengan tepat. Adapun beberapa hambatan yang perlu diperhatikan ketika komunikator menyampaikan pesan antara lain tergantung dari (1)

(10)

jenis gangguan, (2) kepentingan, (3) motivasi terpendam, dan (4) prasangka (Effendy, 2000:45-46)

1. Gangguan

Ada dua jenis gangguan terhadap jalannya komunikasi yang menurut sifatnya dapat diklasifikasikan sebagai gangguan mekanik dan gangguan semantic.

1) Gangguan mekanik (mechanical, channel noise)

Yang dimaksudkan dengan gangguan mekanik ialah gangguan yang disebabkan oleh saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik.

2) Gangguan semantik (semantic noise)

Semantic adalah pengetahuan mengenai pengertian kata-kata yang sebenarnya atau perubahan pengertian kata-kata. Lambing kata yang sama mempunyai pengertian yang berbeda untuk orang-orang yang berlainan. Gangguan semantic bersangkutan dengan pesan komunikasi yang pengertiannya menjadi rusak. Gangguan sematik tersaring kedalam pesan melalui penggunaan bahasa.

2. Kepentingan

Interest atau kepentingan akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau menghayati suatu pesan.

3. Motivasi terpendam

Motivation atau motivasi akan mendorong seseorang berbuat sesuatu yang sesuai benar dengan keinginan, kebutuhan dan kekurangannya.

4. Prasangka.

Prejudice atau prasangka merupakan salah atu rintangan atau hambatan berat bagi suatu kegiatan komunikasi oleh karena orang yang mmempunyai prsangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang jhendak melancarkan komunikasi. Dalam prasangka, emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar prasangka tanpa menggunakan pikiran yang rasional.

Menurut Onong Uchjana Effendy dalam bukun Dinamika Komunikasi terdapat beberapa faktor yang menghambat komunikasi diantaranya:

1) Hambatan sosio-antro-psikologis

Proses komunikasi berlangsung dalam konteks situasional (situational context). Ini berarti bahwa komunikator harus memperhatikan situasi ketika komunikasi dilangsungkan, sebab situasi amat berpengaruh terhadap kelancaran komunikasi,

(11)

terutama situasi yang berhubungan dengan faktor-faktor sosiologis-antropologis-psikologis.

a. Hambatan sosiologis

Masyarakat terdiri dari berbagai golongan dan lapisan yang menimbulkan perbedaan dalam status sosial, agama, ideologi, tingkat pendidikan, tingkat kekayaan, dan sebagainya yang kesemuanya dapat menjadi hambatan bagi kelancaran komunikasi.

b. Hambatan Antropologis

Komunikasi akan berjalan lancar jika suatu pesan yang disampaikan komunikator diterima oleh komunikan secara tuntas, yaitu diterima dalam pengertian received atau secara inderawi, dan dalam pengertian accepted atau secara rohani.

Seorang pemirsa televisi mungkin menerima acara yang disiarkan dengan baik karena gambar yang tampil pada pesawat televisi amat terang dan suara yang keluar amat jelas, tetapi mungkin ia tidak dapat menerima ketika seorang pembicara pada acara itu mengatakan bahwa daging babi lezat sekali. Si pemirsa tadi hanya menerimanya dalam pengertian accepted. Jadi teknologi komunikasi tanpa dukungan kebudayaan tidak akan berfungsi.

c. Hambatan Psikologis

Faktor psikologis seringkali menjadi hambatan dalam komunikasi. Hal ini umumnya disebabkan si komunikator sebelum melancarkan komunikasinya tidak mengkaji diri komunikan. Komunikasi sulit untuk berhasil apabila komunikan sedang sedih, bingung, marah, merasa kecewa, merasa iri hati, dan kondisi psokologis lainnya; juga jika komunikasi menaruh prasangka (prejudice) kepada komunikator.

Prasangka merupakan salah satu hambatan berat bagi kegiatan komunikasi, karna orang yang berprasangka belum apa-apa bersikap menentang komunikator. Pada orang yang bersifat prasangka emosinya menyebabkan dia menarik kesimpulan tanpa menggunakan pikiran secara rasional.

(12)

Prasangka sebagai faktor psikologis dapat disebabkan oleh aspek antropologis dan sosiologis; dapat terjadi pada ras, bangsa, suku bangsa, agama, partai politik, kelompok dan apa saja yang bagi seseorang merupakan suatu perangsang disebabkan dalam pengalamannya pernah di beri kesan yang tidak enak. (Effendy, 2008: 12-13)

2) Hambatan Semantis

Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Gangguan semantik kadang-kadang disebabkan pula oleh aspek antropologis, yakni kata-kata yang sama bunyinya dan tulisannya, tetapi memiliki makna yang berbeda.

3) Hambatan Mekanis

Hambatan mekanis dijumpai pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi.

4) Hambatan Ekologis

Hambatan ekologis terjadi disebabkan oleh gangguan lingkungan terhadap proses berlangsungnya komunikasi, jadi datangnya dari lingkungan. (Effendi, 2008: 13-16)

2.2 Komunikasi Antarpribadi (Komunikasi Interpersonal)

Mulyana (2007:81) menjelaskan bahwa komunikasi antarpribadi (interpersonal

communication) adalah komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang

memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal ataupun nonverbal. Sedangkan menurut Kathleen S. Verdeber menjelaskan komunikasi interpersonal adalah proses melalui mana orang menciptakan dan mengelola hubungan mereka, menjalankan tanggung jawab, secara timbal balik dalam menciptakan makna. (Budyatna, Ganiem, 2011:14)

Lebih lanjut, verdeber menjelaskan sebagai berikut: pertama: komunikasi interpersonal sebagai proses. Proses merupakan rangkaian sistematis perilaku yang bertujuan dan terjadi dari waktu ke waktu atau berulang kali. Kedua, komunikasi interpersonal bergantung pada makna yang diciptakan oleh pihak yang terlibat.ketiga, melalui komunikasi interpersonal kita dapat menciptakan dan mengelola hubungan kita. Hubungan dimulai pada saat kita berinteraksi dengan orang lain dan berulang di lain waktu. Melalui interaksi yang berulang tersebut dapat diketahui sifat dari hubungan

(13)

tersebut. Apakah akan menjadi lebih dekat, pribadi, romantis, saling bergantung ataupun sebaliknya. Jawabannya bergantung pada bagaimana pelaku komunikasi berinteraksi dan berperilaku satu sama lain. (Budyatna dan Ganiem, 2011:14)

Devito (1976) menjelaskan bahwa komunikasi antarpribadi merupakan pengiriman pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain dengan efek dan umpan balik yang langsung. (Liliweri, 1997:12)

Untuk memperjelas pengertian komunikasi antarpribadi Devito memberikan beberapa ciri komunikasi antarpribadi: (Liliweri, 1997:13)

1. Keterbukaan atau openness

Keterbukaan ialah sikap dapat menerima masukan dari orang lain, serta berkenan menyampaikan informasi penting kepada orang lain. Hal ini tidaklah berarti bahwa orang harus dengan segera membukakan semua riwayat hidupnya, tetapi rela membuka diri ketika orang lain menginginkan informasi yang diketahuinya. Dengan kata lain, keterbukaan ialah kesedihan untuk membuka diri mengungkapkan informasi yang biasanya disembunyikan, asalkan pengungkapan diri informasi ini tidak bertentangan dengan asas kepatuhan.

Sikap keterbukaan ditandai adanya kejujuran dalam merespon segala stimuli komunikasi. Tidak berkata bohong, dan tidak menyembunyikan informasi yang sebenarnya. Dalam proses komunikasi antarpribadi, keterbukaan menjadi salah satu sikap yang positif. Hal ini disebabkan, dengan keterbukaan, maka komunikasi antarpribadi akan berlangsung secara adil, transparan, dua arah, dan dapat diterima oleh semua pihak yang berkomunikasi.

2. Empati (empathy)

Empati ialah kemampuan seseorang untuk merasakan kalau seandainya menjadi orang lain, dapat memahami sesuatu yang sedang dialami orang lain, dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan dapat memahami sesuatu persoalan dari sudut pandang orang lain, melalui kacamata orang lain. Orang yang berempati mampu memahami motivasi dan pengalaman orang lain, perasaan dan sikap mereka, serta harapan dan keinginan mereka.

Ambil contoh, seorang guru yang memiliki empati, tidak akan semena-mena terhadap siswa yang terlambat datang ke sekolah. Mengapa? Karena guru yang berempati

(14)

dapat berpikir dan bersikap: “seandainya aku jadi dia, rumahku jauh dari sekolah, aku harus naik kendaraan umum yang jadwal keberangkatannya tidak pasti, tentu aku juga sekali waktu dapat terlambat datang ke sekolah”.

Dengan demikian empati akan menjadi filter agar kita tidak mudah menyalahkan orang lain. Namun kita dibiasakan untuk dapat memahami esensi setiap keadaan tidak semata-mata berdasarkan cara pandang kita sendiri, melainkan juga menggunakan sudut pandang orang lain. Hakikat empati adalah: (a) usaha masing-masing pihak untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, (b) dapat memahami pendapat, sikap dan perilaku orang lain.

3. Dukungan (suportiveness)

Hubungan antarpribadi yang efektif adalah hubungan dimana terdapat sikap mendukung (suportiveness). Artinya masing-masing pihak yang berkomunikasi memiliki komitmen untuk mendukung terselenggaranya interaksi secara terbuka. Oleh karena itu respon yang relevan adalah respon yang bersifat spontan dan lugas, bukan respon bertahan dan berkelit. Pemaparan gagasan bersifat deskriptif-naratif, bukan bersifat evaluative. Sedangkan pola pengambilan keputusan bersifat akomodatif, bukan intervensi yang disebabkan tata percaya diri yang berlebihan.

4. Perasaan Positif (positivness)

Sikap positif (positivness) ditunjukan dalam bentuk sikap dan perilaku. Dalam bentuk sikap, maksudnya adalah bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi antarpribadi harus memiliki perasaan dan pikiran positif, bukan prasangka dan curiga. Dalam bentuk perilaku, artinya bahwa tindakan yang dipilih adalah yang relevan dengan tujuan komunikasi antarpribadi, yaitu secara nyata melakukan aktivitas untuk terjalinya kerjasama.

Misalnya secara nyata membantu partner komunikasi untuk memahami pesan komunikasi yaitu kita memberikan penjelasan memadai sesuai dengan karakteristik mereka . sikap positif dapat ditujukan dengan berbagai macam perilaku dan sikap, antara lain: menghargai orang lain, berpikiran positif terhadap orang lain, tidak menaruh curiga secara berlebihan, dan sebagainya.

(15)

5. Kesetaraan (equality)

Kesetaraan (equality) ialah pengakuan bahwa kedua belah pihak memiliki kepentingan, kedua belah pihak sama-sama bernilai dan berharga, dan saling memerlukan. Memang secara alamiah ketika dua orang berkomunikasi (antarpribadi), tidak pernah tercapai suatu situasi yang menunjukan kesetaraan atau kesamaan secara utuh diantara keduanya.

Kesetaraan yang dimaksud disini adalah berupa pengakuan atau kesadaran. Serta kerelaan untuk menempatkan diri serta (tidak ada yang superior ataupun inferior) dengan partner komunikasi. Dengan demikian dapat dikemukakan indicator kesetaraan meliputi: menempatkan diri setara dengan orang lain, menyadari akan adanya kepentingan yang berbeda, mengakui pentingnya kehadiran orang lain, tidak memaksakan kehendak, komunikasi dua arah, saling memerlukan, suasana komunikasi akrab dan nyaman..

Keefektifan komunikasi dalam hubungan antarpribadi ditentukan oleh kemampuan kita untuk mengkomunikasikan secara jelas apa yang ingin kita sampaikan, menciptakan kesan yang kita inginkan, atau mempengaruhi orang lain sesuai keinginan kita. Dengan cara berlatih mengungkapkan maksud keinginan kita, menerima umpan balik tentang tingkah laku kita, dan memodifikasi tingkah laku kita sampai orang lain mempersepsikannya sebagaimana kita maksudkan.

Komunikasi antarpribadi merupakan landasan dari komunikasi pada tataran diatasnya. Dalam tataran antarpribadi, komunikasi relatif lebih dinamis, bersifat dua arah, komunikator dan komunikan sama-sama aktif saling mempertukarkan pesan (mengirim dan menerima pesan) untuk dimaknai dan ditanggapi oleh pihak lainnya. Jadi, disebut komunikasi antarpribadi jika antara komunikator dan komunikan mempunyai persepsi yang sama, saling kenal, dan mempunyai tujuan yang sama.

Komunikasi antarpribadi mempunyai keunikan karena selalu dimulai dari proses hubungan yang bersifat psikologis, dan proses psikologis selalu mengakibatkan keterpengaruhan. Effendy (1986) mengemukakan bahwa pada hakikatnya komunikasi antarpribadi adalah komunikasi antara seseorang komunikator dengan komunikan. Jenis komunikasi tersebut dianggap paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku manusia berhubung prosesnya yang dialogis (Liliweri, 1997:12)

(16)

Komunikasi antarpribadi adalah antara komunikator dengan komunikan. Komunikasi jenis ini dianggap paling efektif dalam hal upaya mengubah sikap, pendapat, dan perilaku seseorang, karena sifatnya dialogis, berupa percakapan. Arus balik bersifat langsung, komunikator mengetahui tanggapan komunikan ketika itu juga, pada saat komunikasi dilancarkan. Komunikator mengetahui pasti apakah komunikassinya iyu positif atau negatif, berhasil atau tidak. (Effendy : 2008:8)

Berdasarkan berbagai pengertian komunikasi antarpribadi yang telah dipaparkan oleh pakar komunikasi terdapat berbagai pengertian dari komunikasi antar pribadi, selanjutnya dirasa untuk mencoba diuraikan unsur-unsur dari karakteristik-karakteristik komunikasi antarpribadi sebagai berikut:

Menurut Richard L. Weaver II (1993) (dalam Budyatna, 2011: 15-20) terdapat 8 karakteristik dalam komunikasi antarpribadi, yaitu:

1) Melibatkan paling sedikit dua orang

Menurut Weaver, komunikasi antarpribadi melibatkan tidak lebih dari dua individu yang dinamakan a dyad. Jumlah dua individu bukanlah jumlah yang sembarangan. Jumlah tiga atau the triad dapat dianggap sebagai kelompok yang kecil. Apabila dua orang dalam kelompok yang lebih besar sepakat mengenai hal tertentu atau sesuatu, maka kedua orang itu nyata terlibat dalam komunikasi antarpribadi. (Budyatna, 2011:15-16)

2) Punya umpan balik atau feedback

Komunikasi antarpribadi melibatkan umpan balik. Umpan balik merupakan pesan yang dikirim kembali oleh penerima kepada pembicara. Dalam komunikasi antarpribadi hampir selalu melibatkan umpan balik langsung. (Budyatna, 2011:16) 3) Tidak harus tatap muka

Komunikasi antarpribadi tidak harus tatap muka. Bagi komunikasi antarpribadi yang sudah terbentuk, adanya saling pengertian antara dua individu, kehadiran fisik dalam berkomunikasi tidaklah terlalu penting. (Budyatna, 2011:16)

4) Tidak harus bertujuan

Komunikasi antarpribadi tidak harus selalu disengaja atau dengan kesadaran. Misalnya, anda dapat mengetahui karena keseleo lidah bahwa orang itu telah berbohong kepada anda. Anda bisa saja mengetahui atau menyadari bahwa seseorang yang didekat anda begitu gelisah terlihat dari kakinya yang selalu

(17)

bergerak dan bergeser, berkata-kata penuh keraguan, atau bereaksi secara gugup. (Budyatna, 2011:17)

5) Menghasilkan beberapa pengaruh atau effect

Untuk dapat dianggap sebagai komunikasi antarpribadi yang benar, maka sebuah pesan harus menghasilkan atau memiliki efek atau pengaruh. Efek atau pengaruh itu tidak harus segera dan nyata tetapi harus terjadi. Contoh komunikasi antarpribadi yang tidak menghasilkan efek misalnya, anda berbicara dengan seseorang yang lagi sibuk mengeringkan rambutnya dengan alat pengering rambut atau hair dryer. (Budyatna, 2011:17)

6) Tidak harus melibatkan atau mengunakan kata-kata

Bahwa kita dapat berkomunikasi tanpa kata-kata seperti pada komunikasi nonverbal. Misalnya seorang suami telah membentuk kesepakatan dengan istrinya pada suatu pesta, kalau suaminya mengedipkan matanya sebagai suatu isyarat sudah waktunya untuk pulang. (Budyatna, 20011: 17-18)

7) Dipengaruhi oleh konteks

Konteks merupakan tempat dimana pertemuan apa yang mendahului dan mengikuti apa yang dikatakan (Verdeber et al,2007) (dalam Budyatna, 2011:18). Konteks meliputi : (1) jasmaniah, konteks jasmaniah atau fisik meliputi lokasi, kondisi lingkungan seperti suhu udara, pencahayaan, dan tingkat kebisingan, (2) sosial, konteks sosial merupakan bentuk hubungan yang mungkin sudah ada diantara para partisifan, (3) historis, konteks historis merupakan latar belakang yang diperoleh melalui peristiwa komunikasi sebelumnya antara partisifan. (4) psikologis, konteks prikologis meliputi suasana hati dan perasaan dimana setiap orang membawakannya kepada pertemuan antarpribadi, (5) keadaan cultural yang mengelilingi peristiwa komunikasi, konteks cultural meliputi keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, sikap-sikap, makna, hierarki sosial, agama, pemikiran mengenai waktu, dan peran dari partisifan. (Budyatna, 2011:18)

8) Dipengaruhi oleh kegaduhan atau noise

Kegaduhan atau noise adalah setiap rangsangan atau stimulus yang mengganggu dalam proses pembuatan pesan. Kegaduhan/kebisingan atau noise dapat bersifat eksternal, internal atau semantik. (Budyatna, 2011:20)

(18)

Pesan dalam komunikasi antarpribadi, Nimmo (1989) mengemukakan merupakan unsur primer. Setiap pembicaraan, percakapan antarpribadi adalah bentuk komunikasi antarpribadi yang tidak bermedia, selalu melalui pesan. Unsure-unsur pesan komunikasi antarpribadi antara lain 1) lambang, 2) ada hal yang dilambangkan (rujukan), dan 3) ada tindakan interpretatif yang menciptakan lambang bermakna. Lambang merupakan cara lain untuk menyatakan suatu pesan. Rujukan menunjukan objek, peristiwa atau benda. Sedangkan interpretasi ialah pikiran yang aktif untuk melihat kedudukan lambang atau pesan, dan hal yang diwakili pesan. (Liliweri : 1997:21)

2.3Komunikasi Bahasa

Berlangsungnya proses komunikasi bahasa dapat digambarkan sebagai berikut: (Chaer, 1995:20)

Gambar I

Proses Komunikasi Bahasa

Dalam setiap komunikasi bahasa ada dua pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver). Ujaran (berupa kalimat atau kalimat-kalimat) yang digunakan untuk menyampaikan pesan (berupa gagasan, pikiran, saran, dan sebagainya) itu disebut pesan. Dalam hal ini pesan itu tidak lain pembawa gagasan (pikiran, saran dan sebagainya) yang disampaikan pengirim (penutur) kepada penerima (pendengar). Setiap proses komunikasi bahasa dimulai dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu yang ingin diujarkan dalam suatu kerangka gagasan. Proses ini dikenal dengan istilah semantic encoding. Gagasan itu lalu disusun dalam bentuk kalimat atau kalimat-kalimat yang gramatikal; proses memindahkan gagasan kedalam bentuk kalimat

Gangguan Pengirim Pesan Encoding Umpan Balik Penerimaan Pesan Decoding Pesan Ujaran

(19)

yang gramatikal ini disebut grammatical encoding. Setelah tersusun dalam kalimat yang gramatikal, lalu kalimat (yang berisi gagasan tadi) diucapkan. Proses ini disebut

phonological encoding. Kemudian oleh si pendengar atau penerima, ujaran tadi

diterjemahkan atau di decoding. Pada mulanya ujaran tadi merupakan stimulus untuk diterjemahkan . ini disebut phonological decoding. Selanjutnya proses ini diikuti oleh proses grammatical decoding, dan diakhiri dengan semantic decoding.

Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam bentuk searah , sipengirim tetap sebagai pengirim dan sipenerima tetap sebagai penerima. Komunikasi searah ini terjadi, misalnya dalam komunikasi yang bersifat memberitahukan, khotbah, ceramah yang tidak diikuti Tanya jawab, dan sebagainya. Dalam komunikasi dua arah, secara bergantian sipengirim bisa menjadi penerima, dan penerima bisa menjadi pengirim. Komunikasi dua arah ini terjadi misalnya dalam rapat, perundingan, diskusi, dan sebagainya. Bahasa juga dapat mempengaruhi perilaku manusia. (Chaer, 1995:21)

2.4 Alat Komunikasi

Alat komunikasi yang digunakan yaitu bisa dengan bahasa (sebagai sebuah system lambang), tanda-tanda (baik berupa gambar, warna ataupun bunyi) dan gerak gerik tubuh. Berdasarkan alat yang digunakan ini dibedakan menjadi dua macam komunikasi, yaitu 1) komunikasi verbal atau komunikasi bahasa dan 2) komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata sebagai alatnya. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ini tentunya harus berupa kode yang sama-sama dipahami oleh pihak penutur atau pihak pendengar. Sedangkan komunikasi non verbal adalah komunikasi berupa isyarat yang bukan berupa kata-kata. (Muyana, 2007:343)

2.5 Bahasa

Bahasa merupakan salah satu alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Dengan bahasa seseorang dapat mengemukakan dan mengekspresikan perasaan mereka, dan dengan bahasa pula orang dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan dimanapun dia berada. Melalui komunikasi manusia dapat menyampaikan gagasan atau ide, mengungkapkan pendapat, dan bahkan dapat mengembangkan ilmu-ilmu lain yang mereka miliki.

(20)

Chaer dan Agustina (1995:14) fungsi utama bahasa adalah alat untuk berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi. Hal ini sejalan dengan Alwasilah (1993:89) yang menyatakan bahwa fungsi terpenting dari bahasa adalah alat komunikasi dan interaksi. Bahasa berfungsi sebagai lem perekat dalam menyatupadankan keluarga, masyarakat dan bahasa dalam kegiatan sosialisasi.

Bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem lambang bunyi yang berartikulasi (yang dihasilkan alat-alat ucap) yang bersifat arbiter dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. (Hidayat, 2006:22)

Menurut Spradley, yang dikutip dalam buku Semiotika Komunikasi (Sobur, 2003:273) menyebutkan bahwa bahasa lebih dari sekedar alat mengkomunikasikan realitas, bahasa merupakan alat untuk menyusun realitas.

Bahasa dapat diartikan sebagai suatu sistem lambang yang terorganisasi, disepakati secara umum, dan merupakan hasil belajar, yang digunakan untuk menyajikan pengalaman-pengalaman dalam suatu komunitas geografis atau budaya. (Sihabudin, 2013:28)

Bahasa dapat di definisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. (Mulyana, 2007:260)

Bahasa merupakan suatu bagian yang sangat esensisal dari manusia untuk menyatakan dirinya maupun tentang dunia yang nyata. Adalah keyakinan yang naïf kalau kita menyederhanakan fungsi bahasa yang seolah-olah hanya menjadi alat untuk menggambarkan pikiran dan perasaan saja. Yang lebih penting dari bahasa adalah bagaimana memaknakan simbol atau tanda yang telah diorganisasikan dalam system kebahasaaan. (Liliweri, 1994:1)

Menurut Ferdinan De Saussure bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerjasama, berkomunikasi, dan mengidentifikasikan diri. ( Chaer, Agustina, 1995:54)

Bahasa sebagai alat komunikasi mempunyai dua jenis pengertian yang dipahami oleh para komunikator. Yang pertama adalah pengertian denotatif, yang kedua pengertian konotatif. Perkataan yang denotatif adalah yang mengandung makna sebagaimana

(21)

tercantum dalam kamus (dictionary meaning) dan diterima secara umum oleh kebanyakan orang yang sama kebudayaannya dan bahasanya. Perkataan yang denotatif tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda pada komunikan ketika diterpa pesan-pesan komunikasi. Sebaliknya apabila komunikator menggunakan kata-kata konotatif. Kata-kata konotatif mengandung pengertian emosional atau evaluatif. Oleh karena itu dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda pada komunikan. (Effendy, 2008:34)

Sehubungan dengan variasi bahasa berkenaan dengan tingkat golongan status, dan kelas sosial para penuturnya, biasanya dikemukakan orang variasi bahasa yang disebut akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argon, dan ken, ada juga yang menambahkan dengan yang disebut bahasa prokem. (Chaer, Agustina, 1995:87-89)

1. Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi daripada variasi sosial lainnya.

2. Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi, atau bahkan dianggap dipandang rendah.

3. Vulgar adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pemakaian bahasa oleh mereka yang kurang terpelajar, atau dar kalangan mereka yang tidak berpendidikan. 4. Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan diluar kelompok itu. Oleh karena itu, kosakata yang digunakan dalam slang ini selalu berubah-ubah.

Slang memang lebih merupakan bidang kosakata daripada bidang fonologi maupun gramatikal. Slang bersifat temporal, dan lebih umum digunakan oleh kaula muda, meski kaula tua pun ada pula yang menggunakannya. Karena slang ini bersifat kelompok dan rahasia, maka timbul kesan bahwa slang ini adalah bahasa rahasianya para pencoleng dan penjahat, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Faktor kerahasiaan ini menyebabkan pula kosakata yang digunakan dalam slang seringkali berubah. Dalam hal ini yang disebut bahasa alay dapat dikategorikan sebagai slang.

5. Kolokial adalah variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kata kolokial berasal dari kata colloquium (=percakapan, konversasi). Jadi, kolokial berarti bahasa percakapan, bukan bahasa tulis. Juga tidak tepat kalau kolokial ini

(22)

disebut bersifat „kampungan‟ atau bahasa kelas golongan bawah, sebab yang pentig adalah konteks dalam pemakaiannya.

6. Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Ungkapan yang digunakan seringkali tidk dapat dipahami oleh masyarakat umum atau masyarakat di luar kelompoknya. Namun ungkapan-ungkapan tersebut tidak bersifat rahasia.

7. Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak kekhususan argot adalah pada kosakatanya. 8. Ken (inggris=cant) adalah variasi sosial tertentu yang bernada „memelas‟, dibuat

merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan. (Chaer, Agustina, 1995:87-89)

2.6 Bahasa Alay

Tata bahasa di Indonesia pada saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Masyarakat Indonesia khususnya para remaja, sudah banyak kesulitan dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya penggunaan bahasa baru yang mereka anggap sebagai kreativitas. Jika mereka tidak menggunakannya, mereka takut dibilang ketinggalan zaman atau tidak gaul. Salah satu dari penyimpangan bahasa tersebut diantaranya adalah digunakannya bahasa Alay.

Bahasa hanya bisa muncul akibat adanya interaksi sosial. Dalam interaksi sosial terjadi saling pengaruh mempengaruhi. Dalam potensi interaksi, orang yang lebih aktif melakukan komunikasi akan mendominasi interaksi tersebut. Maka tak heran apabila suatu bahasa lebih banyak dipakai, maka bahasa itu akan berkembang dalam masyarakat. Bahasa dan masyarakat akan selalu menjadi pasangan yang mengisi satu sama lain, karena adanya interaksi sosial yang menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, sebenarnya masih ada alat lain untuk berkomunikasi. Didalamnya ada penutur dan juga tindak penutur, bahasa yang bersifat arbiter dan bersifat universal sangat memungkinkan untuk melahirkan kata-kata atau padanan baru dalam bahasa tersebut.

Kita juga perlu mengetahui istilah-istilah atau bahasa gaul yang sedang popular saat ini. Bahasa alay yang merupakan topik utama yang dibahas dalam penelitian ini merupakan ragam dari bahasa biasa/santai. Alay adalah singkatan dari anak layangan, alah lebay, anak Layu, atau anak keLayapan yang menghubungkannya dengan anak

(23)

JARPUL (Jarang Pulang). Tapi yang paling santer adalah anak layangan. Istilah ini untuk menggambarkan anak yang sok keren, secara fashion, karya (musik) maupun kelakuan secara umum. Konon, asal usul alay diartikan “anak kampung”, karena anak kampung yang rata-rata berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan. 1

Menurut Sahala Saragih, dosen Fakultas Jurnalistik, Universitas Padjajaran, bahasa alay merupakan bahasa sandi yang hanya berlaku dalam komunitas mereka. Penggunaan bahasa sandi tersebut menjadi masalah jika digunakan dalam komunikasi massa atau dipakai dalam komunikasi secara tertulis. Dalam ilmu bahasa, bahasa alay termasuk sejenis bahasa „diakronik‟. Yaitu bahasa yang dipakai oleh suatu kelompok dalam kurun waktu tertentu. Ia akan berkembang hanya dalam kurun tertentu. Perkembangan bahasa diakronik ini, tidak hanya penting dipelajari oleh para ahli bahasa, tetapi juga ahli sosial atau mungkin juga politik. Sebab, bahasa merupakan sebuah fenomena sosial. Ia hidup dan berkembang karena fenomena sosial tertentu.2

Menurut Koentjara Ningrat: “Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna internet sejati,kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar” sedangkan Selo Soemaridjan menjelaskan bahwa “Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu.”3

Bahasa Alay muncul pertama kalinya sejak ada program SMS (Short Message Service) atau pesan singkat dari layanan operator yang mengenakan tarif per karakter yan berfungsi untuk menghemat biaya. Namun dalam perkembangannya kata-kata yang disingkat tersebut semakin melenceng, apalagi sekarang sudah ada situs jejaring sosial. Dan sekarang penerapan bahasa Alay sudah diterapkan di situs jejaring sosial tersebut, yang lebih parahnya lagi sudah bukan menyingkat kata lagi, namun sudah merubah kosa

1 http://cerdaspintarr.blogspot.com/2013/03/inilah-pengertian-alay-menurut-beberapa.html 2 http://hanuem.blogspot.com/2012/03/v-behaviorurldefaultvmlo.html 3 http://cerdaspintarr.blogspot.com/2013/03/inilah-pengertian-alay-menurut-beberapa.html

(24)

katanya bahkan cara penulisannya pun bisa membuat sakit mata orang yang membaca karena menggunakan huruf besar kecil yang diacak ditambah dengan angka dan karakter tanda baca. Bahkan arti kosakatanya pun bergeser jauh dari yang dimaksud. Semua kata dan kalimat „dijungkirbalikkan‟ begitu saja dengan memadukan huruf dan angka. Penulisan gaya alay atau anak lebay tidak membutuhkan standar baku atau panduan khusus, semua dilakukan suka-suka dan bebas saja.4

Bahasa alay ini bukan hanya alat komunikasi, namun juga alat identifikasi. Para remaja menggunakan bahasa alay ini bisa jadi untuk mengidentifikasikan diri mereka sebagai seorang alay. penggunaan bahasa alay juga dapat berguna untuk menumbuhkan eksistensi diri. Bahasa ini digunakan oleh kalangan remaja sebagai bahasa kode atau singkatan agar kata-kata menjadi aneh, lucu dan menarik. Tidak dipungkiri hingga sekarang bahasa alay semakin luas pemakiannya dan semakin banyak para remaja bahkan orang dewasa menggunakan penulisan atau pengucapan bahasa alay karena adanya unsure daya tarik yang membuat orang-orang yang sebelumnya kurang paham akan bahasa alay ini menjadi ingin tahu dan akhirnya mengikuti mengucapkan atau menulis dengan bahasa alay.5

Adapun cirri-ciri bahasa alay adalah sebagai berikut:6

1. Sok narsis dalam segala hal ( kalo foto biasanya mulutnya di gembungin/di monyongin, mukanya kadang di kerutin ) dan lain-lain

2. Tongkrongannya di pinggir - pinggir jalan (yang wanita godain pria, yang pria godain wanita yang lagi lewat, dan kalau ada hal yg menarik langsung disorakin) intinya kampungan dan berlebihan

3. Kalo lagi ngumpul bawa handshet buat dengerin lagu lewat handphone (suka pamer tidak jelas dan sok asik). Terus sok telpon-telponan dan SMS-SMSan.. kondisi terparah, biasanya suka nunjukin SMS dari wanita/pria ke temannya biar dibilang kalau paarnya perhatian sama dia.

4. Sok bergaya EMO/PUNK/ dan sebagainya tapi ditanya sejarahnya EMO tidak tahu. 5. Sok pingin „gaul‟ mengikutin tren yang sekarang tapi terlalu LEBAY (berlebihan). 6. Dimana - mana ada acara yg namanya „putu putu narziz‟ (Foto-foto narsis).

4 http://andriew.blogspot.com/2011/02/tinjauan-sosiolinguistik-bahasa-alay.html 5 http.jbptunikompp-gdl-aprisaramd-26351-7-unikom_a-i 6 http://kamusmania.com/kamus-campuran/5-bahasa-alay

(25)

7. Nama di Facebook panjang banget, contoh: Namakupanjangbanget Biarkeliatan gaul Banget deh haha, atau biasanya namanya di kasih strip: -Namaku Alay Banget Ya- 8. Suka ngirim bulbo tidak jelas di YM, FS atau FB : ”akko onlenndh dcnniih” ato

“ayokk perang cummendh cmma saiia,” dan lain-lain.

9. Nama Facebook mengagung – agungkan diri sendiri, seperti : pRinceSs cuTez, sHa luccU, tIkka cAntieqq, etc.

10. Kata /singkatan selalu diakhiri huruf z/s (cth : nama adalah talitra,dbuat jadi : talz. nama adalah niken,dibuat jadi qens..dsb!)

Ciri-ciri tersebut bisa semakin banyak tergantung penilaian dari pribadi masing-masing tentang “Alay”. Bahasa Alay tidak memiliki batasan yang membuat bahasa alay tidak dapat didefinisi, tetapi dapat kita tarik kesimpulan bahwa alay itu merupakan ungkapan cemo‟ohan dan utnuk menggambarkan segala sesuatu yang berlebihan.

Berikut contoh istilah kata-kata alay:7

1. Alay: istilah ini di pakai untuk menyebut anak-anak yang sering nongol di music tv, berambut merah, berkulit gelap seperti kebanyakan main layangan gitu, namun seiring waktu, kata alay sering dipakai untuk anak-anak yang sok eksis, narsis,norak dan sok capek.

2. Bais: artinya habis, Cuma di bolak-balik saja susunan hurufnya, contoh kata “pulsa gw bais, ntar kabarin ya kalo sudah kumpul”

3. Boil berarti mobil, contoh kata boil lu mana jak, ujan nih? 4. Brb artinya be right back (bakal kembali)

5. Cius Miapah artinya serius demi apa?, di plesetkan menjadi cius miapah mungkin karena orang-orang yang pertama kali bilang seperti ini menganggap dirinya imut dan unyu? Haha

6. Baks berarti rokok, ga tau kenapa dinamain baks, tetapi udah banyak yang menggunakan kata ini. Contoh: “Ooii boy, bagi baks nya lah”

7. Gajebo artinya ga jelas. Contoh ga jebo lu

8. Yalsi plesetan dari kata sial, contoh: omongan ga nyambung gara-gara BBM pending, yalsi!

9. Woles berasal dari bahasa inggris SLOW, dibaca dari belakang jadi WOLS, sering ditulis jadi WOLES, artinya nyantai aja, jangan buru-buru.

7

(26)

10. Sokil Gob merupakan plesetan dari kata gokil-sob! Artinya sama aja kaya gokil, artinya gila tapi dalam artian positif. Biasanya dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang heboh, lucu atau unik. Sedangkan sob adalah kebalikan dari kata bos, yang biasa digunakan sebagai panggilan akrab untuk seseorang.

11. Spupet kata plesetan dari kata sepupu.

12. Ucul merupakan kata yang berasal dari lucu, dibaca dibolak-balik.

13. Unyu artinya lucu, menggemaskan, biasanya diikuti dengan emoticon :3. Contoh kata ukKhh.. unyu banget sih kamu.. :3.

14. Pundung kata yang berasal dari bahasa sunda artinya tersinggung, ngambek dan kesel

15. Rempong artinya ribet, repot atau rese. Contoh ngapain si lo nelpon gw tengah malem gini! Rempong deh.

16. Saiko artinya gila, maniak asal dari kata pshyco. Contoh gila, tante kos gw emang saiko.

17. Sekem merupakan sebuutan dari kata scam, artinya kena tipu. Contoh: aduh kena sekem lagi sama tukang hape.

18. Selon artinya santai, slow, pelan-pelan

19. Pertamax merupakan istilah untuk menandai komentar yang paling pertama pada sebuah tulisan atau artikel pada suatu blog. Istilah ini kemudian menyebar ke forum di iinternet.

20. Peres artinya palsu, bohong, nggak tulus.

21. PHP singkatan dari pemberi harapan palsu atau dapat diartikan sebagai harapan kosong.

22. Prikitiew kata yang berasal dari lawakan si sule. Penggunaanya hampir sama dengan cieee atau ihhiiiiiiiyy

23. Afgan asal kata dari istilah orang-orang di forum jual beli, contoh misalkan ada orang jual mobil , jual mobil, bisa nego, no afgan. Artinya bisa nego tapi jangan sadis (karena si afgan menyanyikan lagu sadis)

24. AKA singkatan dari as known artinya as/ alias. Contoh: ok buat agan Deddy AKA pejuang cinta

25. Cukstaw arti kata ini merupakan singkatan dari cukup tahu

26. Curcol singkatan dari curhat colongan, artinya curhat yang dilakukan bersamaan dengan hal lain yang tidak berhubungan secara langsung.

(27)

27. Fudul artinya kaya stalking atau kepo

28. Galau artinya perasaan kacau ga karuan,resah, bimbang

29. Gengges berasal dari kata ganggu yang diubah dikit dikasih imbuhan es 30. Gaje singkatan dari kata gak jelas, adalah pelafalan dari GJ.

31. GWS singkatan dari get well soon atau semoga lekas sembuh 32. Hoax berarti berita palsu

33. Jutex artinya sombong

34. Kamseupay artinya kampungan sekali udik payah

35. Kepo singkatan kata dari knowing every particular object. Orang yang serba ingin tahu

36. Kicep artinya diam

37. Kongkow artinya nongkrong 38. LDR artinya pacaran jarak jauh 39. Lebeh adalah kata lain dari lebay 40. LOL artinya tertawa terbahak-bahak 41. Maaciw artinya terima kasih

42. Palbis artinya paling bisa

2.7Teori Interaksionisme Simbolik

Pada awal perkembangannya interaksi simbolik lebih menekankan studinya tentang periaku manusia pada hubungan interpersonal. Yang mengemukakan teori ini adalah George Hebert Mead. Mead dianggap sebagai bapak interaksionisme simbolis, karena pemikirannya yang luar biasa. Pemikiran Mead terangkum dalam konsep pokok mengenai “mind”, “self” dan “society”. Proposisi mendasar dari interaksi simbolik adalah perilaku dan interaksi manusia itu dapat dibedakan karena ditampilkan lewat simbol dan maknanya. Interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna. (Mufid, 2009:160) Asumsi Mead tentang bahasa sangat sederhana, yakni apabila seseorang memiliki kesamaan respon dengan orang lain tentang suatu simbol, maka ketika itulah sudah terjadi pertukaran makna. Simbol tidak lagi menjadi sesuatu yang bersifat privat, dan ketika itulah terjadi bahasa. (Mufid, 2009:162)

(28)

1. Identities (identitas), yakni pemaknaan diri dalam suatu pengambilan peran. Bagaimana kita memaknai diri kita itulah proses pembentukan identitas, yang kemudian disinergikan dengan lingkungan sosial.

2. Language (bahasa), yakni suatu sistem simbol yang digunakan bersama diantara anggota kelompok sosial. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi dan representasi.

Karenanya bahasa memiliki empat komponen, yakni subjek, objek, simbol, dan referen yang berkorelas sebagai berikut:

Simbol

Subjek Objek

Simbol adalah rangkaian bunyi yang merujuk sesuatu. Subjek adalah pengguna dari simbol. Objek adalah sesuatu yang ditunjuk oleh simbol. Referen adalah penghubung dari simbol, subjek, dan objek. (Mufid, 2009:158)

3. Looking glass self (cara melihat diri), yakni gambaran mental sebagai hasil dari mengambil peran orang lain. Misalnya kita berbicara dengan atasan atau orang tua kita, maka kita juga harus bisa memosisikan diri kita pada posisi atasan atau orang tua kita tersebut. Sehingga, dengan demikian kita memperoleh gambaran tentang apa yang orang lain nilai tentang kita.

4. Meaning (makna), yakni tujuan dan atribut bagi sesuatu. Meaning ditentukan oleh

bagaimana kita merespon dan menggunakannya.

5. Mind (pikiran), yakni proses mental yang terdiri dari self, interaksi, dan refleksi, berdasarkan simbol sosial yang didapat.

6. Role talking (bermain peran), yakni kemampuan untuk melihat diri seseorang

sebagai objek, sehingga diperoleh gambaran bagaimana dia lain melihat orang lain tersebut. Ketika kita bermain peran dengan memerankan lawan bicara misalnya, maka kita akan memperoleh gambaran seperti apa perlakuan yang diharapkan oleh lawan bicara kita tersebut.

7. Self-concept (konsep diri), yakni gambaran yang kita punya tentang siapa dan bagaimana diri kita yang dibentuk sejak kecil melalui interaksi dengan orang lain. Konsep diri bukanlah sesuatu yang tetap. Misalnya jika seseorang anak dicap

(29)

sebagai orang yang bodoh oleh gurunya, maka begitulah konsep dirinya berkembang, kemudian apabila dikemudian hari guru dan teman-tema nnya mengatakan bahwa ia orang yang pintar, maka konsep dirinya pun akan berubah.

8. Self-fulfilling prophecy (harapan untuk pemenuhan diri), yakni tendes ibagi

ekspektasi untuk memunculkan respon bagi orang lain yang diantisipasi oleh kita. Masing-masing dari kita memberi pengaruh bagi orang lain dalam hal bagaimana mereka melihat diri mereka. (Mufid, 2009:159)

Cara manusia mengartikan dunia dan dirinya sendiri berkaitan erat dengan masyarakatnya. Mead melihat pikiran dan diri menjadi bagian dari perilaku manusia, yaitu bagian interaksinya dengan orang lain. Interaksi itu membuat dia mengenal dunia dan dia sendiri. Mead mengatakan bahwa, pikiran (mind) dan diri (self) berasal dari masyarakat (society) atau aksi sosial (social act). (Mufid, 2009:161) berikut definisi dari ketiga ide dasar dari interaksi simbolik, antara lain:

1. Konsep Mead tentang “mind”

Mead mendefinisikan “mind” (pikiran) sebagai fenomena sosial yang tumbuh dan berkembang dalam proses sosial sebagai hasil dari interaksi. Mind dalam hal ini mirip dengan simbol, yakni sebagai hasil dari interaksi sosial. Hanya, mind terbentuk setelah terjadinya percakapan diri (self-conversation), yakni ketika seseorang melakukan percakap diri yang juga disebut sebagai berpikir. Karenanya bagi Mead, berpikir tidak mungkin terjadi jika tidak menggunakan bahasa.

Konsepsi “mind” lebih merupakan proses dari pada sebuah produk. Hal ini berarti bahwa kesadaran bukanlah hasil tangkapan dari luar, melainkan secara aktif selalu berubah dan berkembang. Mead mengatakan bahwa, “consciousness (mind) is not given, it is emergent”. kesadaran (mind) tidak dikasih, tapi dicari.

Dalam kaitan ini, Mead mengelaborasi relasi bahasa dan mind. Menurutnya

mind membantu bahasa meningkatnya kapasitas:

 Menentukan objek dalam lingkungan sosial, melalui pembentukan simbol yang signifikan.

(30)

 Membaca dan menginterprestasikan gesture orang lain dan menggunakan stimulusini sebagai respon.

 Menyediakan imajinasi alternative dari stimulus dan respon dari lingkungan. (Mufid, 2009:163)

2. Konsep Mead tentang “self”

Self, menurut Mead adalah proses yang tumbuh dalam keseharian sosial yang membentuk identitas diri. Perkembangan self tergantung pada bagaimana seseorang melakukan role talking (pengambilan peran) dari orang lain. Dalam role talking kita meng imajinasikan tingkah laku kita dari sudut pandang orang lain. Proses role talking sendiri bagi seorang anak kecil dilakukan melalui empat tahap sebagaimana telah dijelaskan dia atas.

Esensi self bagi Mead adalah reflexivity, yakni bagaimana kita merenung ulang relasi dengan orang lain untuk kemudian memunculkan adopsi nilai dari orang lain. Ada dua segi dari self, yang masing-masing melakukan fungsi penting dalam kehidupan manusia, yakni “I” dan “me”. “I” yang dapat diterjemahkan sebagai “aku” merupakan bagian yang unik, implusif, spontan, tidak terorganisasi, tidak bertujuan, dan tidak dapat diramal dari seseorang. Sedangkan “me” yang diterjemahkan dengan “daku” adalah generalized others, yang merupakan fungsi bimbingan dan panduan. Me merupakan perilaku yang secara sosial diterima dan diadaptasi.

Baik “I” maupun “me” keduanya diperlukan untuk melakukan hubungan sosial. “I” merupakan rumusan subjektif tentang diri ketika berhadapan dengan orang lain, sedangkan “me” merupakan serapan dari orang lain, yang melalui proses internalisasi kemudian diadopsi untuk membentuk “I” selanjutnya. Dalam konteks komunikasi, perubahan tersebut menimbulkan optimisme, yakni bagaimanapun komunikasi akan menimbulkan perubahan. Soal besar kecilnya perubahan dan seperti apa perubahan yang diinginkan itu tergantung pada strategi dan efektivitas komunikasi yang dilakukan. (Mufid, 2009:164)

3. Konsep Mead tentang “society”

“Society” menurut Mead adalah kumpulan self yang melakukan interaksi dalam lingkungan yang lebih luas yang berupa hubungan personal, kelompok intim, dan komunitas. Institusi society karenanya terdiri dari respon yang sama. “society” dipelihara oleh kemampuan individu untuk melakukan role talking dan generalized others. (Mufid, 2009:165)

Referensi

Dokumen terkait

Nganjuk Kecamatan Bagor Kecamatan Baron Kecamatan Berbek Kecamatan Gondang Kecamatan Jatikalen Kecamatan Kertosono Kecamatan Lengkong Kecamatan Loceret Kecamatan Nganjuk

PEMERINTAH (MENTER! KEHAKIMAN/ISMAIL SALEH, S.H.): Mengemukakan bahwa memang benar apa yang dikemukakan oleh FKP bahwa di dalam membahas Pasal 2 butir b Pemerintah

backup dilakukan, prosedur untuk dilakukan backup, letak perlengkapan backup, karyawan yang bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan backup ini. 3) Recovery Plan,

Extender tidak akan dapat terhubung ke router atau AP nirkabel jika router nirkabel atau AP menggunakan kata sandi yang

Pada analisa multivariat terhadap nilai mEA > 40 mdetik sebelum onset QRS memang tidak didapatkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan keberhasilan ablasi,

Kebiasaan-kebiasaan pulang bersama itu pada akhirnya mengubah aku, kami, mereka, yang awalnya tak begitu akrab menjadi teman satu geng.. Di awal pulang bersama, aku

Berdasarkan hasil analisis deskriptif, karakter morfologi yang paling dominan dalam penentuan hubungan kekerabatan jamur ordo Agaricales di Cagar Alam dan Taman Wisata Alam

Algoritma yang disajikan dalam makalah ini yang didasari oleh clonal selection dengan mekanisme seleksi positif dan seleksi negatif, terbukti berhasil menggantikan