PETERNAKAN
DITERBITKAN OLEHFAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
MAJALAH ILMIAH
Volume 23
Nomor 2
Juni 2020
p-ISSN 0853-8999 e-ISSN 2656-8373
PEMANFAATAN JERINGAU MERAH (Acorus sp) SEBAGAI PENGGANTI ANTIBIOTIKA TERHADAP PERFORMA AYAM BROILER YANG DIINFEKSI Salmonella typhimurium
Tribudi, Y. A., A. Tohardi, dan Y. Rohayeti
DAMPAK PEMUPUKAN UREA DAN BIOURIN TERHADAP PRODUKTIVITAS RUMPUT Panicum maximum cv.Trichoglume
Witariadi, N. M., dan N. N. C. Kusumawati
HUBUNGAN KEINGINAN KONSUMEN TERHADAP KULINER DI WILAYAH PARIWISATA NUSA DUA, KUTA SELATAN, BADUNG
Sukada, I K., I N. Kayana, dan I G. Suarta
KARAKTERISASI MORFOMETRIK DAN BOBOT BADAN PADA SAPI BALI DAN SIMBAL DI KECAMATAN BANGKO KABUPATEN MERANGIN
Zafitra, A., Gushairiyanto, H. Ediyanto, dan Depison
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR BERPENGARUH TERHADAP KINERJA INSEMINATOR DALAM MENUNJANG KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN
PADA PROGRAM UPSUS SIWAB DI BALI Suranjaya, I G., N. P. Sarini., dan M. Dewantari
PENGARUH PEMBERIAN SEKAM PADI TANPA DAN DENGAN FERMENTASI YANG DISUPLEMENTASI DAUN SIRIH DALAM RANSUM TERHADAP BOBOT POTONG,
NON KARKAS EKSTERNAL, DAN LEMAK ABDOMINAL ITIK BALI BETINA Bayu Anggara, I W., I. B. G. Partama, dan A. A. A. S. Trisnadewi
PENGARUH PROBIOTIK Saccharomyces spp. DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN PAKAN DAN KANDUNGAN GAS AMMONIA DALAM EKSKRETA AYAM
Bidura, I G. N. G.
PENGARUH MARINASI RIMPANG KENCUR (Kaempferis galangal L) DAN LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU DINGIN TERHADAP KUALITAS FISIK
DAN TOTAL PLATE COUNT DAGING AYAM PETELUR AFKIR Priskayani, N. K., I N. S. Miwada, dan N. L. P. Sriyani
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
PETERNAKAN
Volume 23 Nomor 2, Juni 2020
p-ISSN 0853-8999 e-ISSN 2656-8373
MAJALAH ILMIAH
PEMANFAATAN JERINGAU MERAH (Acorus sp) SEBAGAI PENGGANTI ANTIBIOTIKA
TER-HADAP PERFORMA AYAM BROILER YANG DIINFEKSI Salmonella typhimurium
Tribudi, Y. A., A. Tohardi, dan Y. Rohayeti ... 51
DAMPAK PEMUPUKAN UREA DAN BIOURIN TERHADAP PRODUKTIVITAS RUMPUT
Panicum maximum
cv.Trichoglume
Witariadi, N. M., dan N. N. C. Kusumawati ... 56
HUBUNGAN KEINGINAN KONSUMEN TERHADAP KULINER DI WILAYAH PARIWISATA
NUSA DUA, KUTA SELATAN, BADUNG
Sukada, I K., I N. Kayana, dan I G. Suarta ... 60
KARAKTERISASI MORFOMETRIK DAN BOBOT BADAN PADA SAPI BALI DAN SIMBAL DI
KECAMATAN BANGKO KABUPATEN MERANGIN
Zafitra, A., Gushairiyanto, H. Ediyanto, dan Depison ... 66
IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR BERPENGARUH TERHADAP KINERJA INSEMINATOR
DALAM MENUNJANG KEBERHASILAN INSEMINASI BUATAN PADA PROGRAM UPSUS
SIWAB DI BALI
Suranjaya, I G., N. P. Sarini., dan M. Dewantari ... 72
PENGARUH PEMBERIAN SEKAM PADI TANPA DAN DENGAN FERMENTASI YANG
DISUPLEMENTASI DAUN SIRIH DALAM RANSUM TERHADAP BOBOT POTONG, NON
KARKAS EKSTERNAL, DAN LEMAK ABDOMINAL ITIK BALI BETINA
Bayu Anggara, I W., I. B. G. Partama, dan A. A. A. S. Trisnadewi ... 78
PENGARUH PROBIOTIK Saccharomyces spp. DALAM RANSUM TERHADAP KECERNAAN
PAKAN DAN KANDUNGAN GAS AMMONIA DALAM EKSKRETA AYAM
Bidura, I G. N. G. ... 84
PENGARUH MARINASI RIMPANG KENCUR (Kaempferis galangal L) DAN LAMA
PENYIMPANAN PADA SUHU DINGIN TERHADAP KUALITAS FISIK DAN TOTAL PLATE
COUNT
DAGING AYAM PETELUR AFKIR
ii MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN • Volume 23 Nomor 2 JuNi 2020
Jurnal Peternakan
SUSUNAN DEWAN REDAKSI
MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN – UNUD
KETUA PENYUNTING
ANTONIUS WAYAN PUGER
WAKIL KETUA PENYUNTING
NI NYOMAN SURYANI SEKRETARIS A. A. A. SRI TRISNADEWI PENYUNTING PELAKSANA KOMANG BUDAARSA I GEDE MAHARDIKA I WAYAN SUARNA I GUSTI NYOMAN GDE BIDURA
I MADE NURIYASA I MADE SUASTA I GEDE SURANJAYA I KETUT MANGKU BUDIASA ANAK AGUNG PUTU PUTRA WIBAWA
NI LUH GDE SUMARDANI NI PUTU SARINI LINDAWATI DOLOKSARIBU I GUSTI AGUNG ISTRI ARYANI
ALAMAT REDAKSI
Fakultas Peternakan Universitas Udayana Jalan PB Sudirman Denpasar-Bali 80232
Email: [email protected] [email protected]
PENERBIT
Fakultas Peternakan Universitas Udayana
p-ISSN 0853-8999 e-ISSN 2656-8373
98 MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN • Volume 23 Nomor 2 JuNi 2020
Jurnal Peternakan
UCAPAN TERIMAKASIH
KEPADA MITRA BESTARI
Atas bantuan penyuntingan yang dilakukan oleh Mitra Bestari terhadap naskah-naskah karya ilmiah yang dimuat dalam Majalah Ilmiah Peternakan, Volume 23 No. 2 Juni 2020,
Redaksi mengucapkan terima kasih kepada: KETUT SUMADI
I GEDE MAHARDIKA KOMANG BUDAARSA
A. WILSON
MAYANI KRISTINA DEWI NI NYOMAN SURYANI ANTONIUS WAYAN PUGER LINDAWATI DOLOKSARIBU I GUSTI AGUNG ISTRI ARYANI
p-ISSN 0853-8999 e-ISSN2656-8373 99 Jurnal Peternakan
Ketentuan Umum
1. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Ing-gris sesuai dengan format yang ditentukan.
2. Penulis mengirim naskah melalui email dalam bentuk Zip file.
3. Naskah tersebut belum pernah diterbitkan di media lain yang dibuktikan dengan pernyataan tertulis yang ditandan-tangani oleh semua penulis bahwa naskah tersebut belum pernah dipublikasikan. Pernyataan tersebut dilampirkan pada naskah.
4. Naskah
Redaksi Majalah Ilmiah Peternakan d.a.Fakultas Peternakan,
UniversitasUdayana
Jl. P.B. Sudirman, Denpasar, Bali Telp. (0361) 222096
e-mail :[email protected] Contac person via A.A. Trisna Dewi HP 081338391967
Standar Penulisan
1. Naskah diketik menggunakan program Microsoft Word, ja-rak 2 spasi dengan huruf Times New Roman berukuran 12 point; margin kiri 4 cm, sedangkan margin atas, kanan, dan bawah masing-masing 3 cm.
2. Setiap halaman diberi nomor secara berurutan.
3. Jika Tabel berisi angka dan huruf yang banyak maka boleh diperkecil menggunakan huruf Times New Roman Font 10. 4. Keterangan gambar atau histogram menggunakan huruf
Times New Roman Font 10
5. Naskah ditulis maksimum 15 halaman termasuk gambar dan tabel.
Urutan Penulisan
1. Naskah hasil penelitian terdiri atas Judul, Nama Penulis, Alamat Penulis, Abstrak, Pendahuluan, Materi dan Metode, Hasil dan Pembahasan, Simpulan, Ucapan Terima Kasih, dan Daftar Pustaka.
2. Naskah kajian pustaka terdiri atas Judul, Nama Penu-lis, Alamat PenuPenu-lis, Abstrak, Pendahuluan, Masalah dan Pembahasan, Simpulan, Ucapan Terima Kasih dan Daftar Pustaka.
3. Judul, harus singkat, spesifik, dan informatif yang meng-gambarkan isi naskah, maksimal 15 kata. Judul ditulis dalam dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Untuk kajian pustaka, di belakang judul agar ditulis: Suatu Kajian Pustaka. Judul ditulis dengan huruf kapital, Times New Roman berukuran 14 point, jarak satu spasi dan terletak di tengah-tengah tanpa titik.
4. Nama Penulis, font 12, ditulis tanpa gelar akademis, huruf kapital dan disingkat konsisten dengan singkatan yang su-dah sering digunakan dalam publikasi.
5. Nama Lengkap Institusi, disertai alamat lengkap dengan nomor kode pos ditulis dengan huruf kecil, Times New Ro-man font 12.
6. Alamat penulis untuk korespondensi dilengkapi dengan no-mor telepon, fax, atau e-mail salah satu penulis, diketik di bawah nama institusi.
7. Abstrak, ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Ing-gris. Abstrak seyogyanya mengandung uraian secara sing-kat tentang tujuan, materi dan metode, hasil utama, dan
simpulan. Abstrak ditulis dalam satu paragraph tidak lebih dari 200 kata, diketik satu spasi.
8. Kata Kunci (Key Words), diketik miring, font 12 maksimal 5 (lima) kata, dua spasi setelah abstrak.
9. Pendahuluan, berisi latar belakang, tujuan, dan pustaka yang mendukung. Dalam mengutip pendapat orang lain dipakai sistem nama penulis dan tahun. Contoh: Miswar (2006); Quan et al. (2002).
10. Materi dan Metode, ditulis lengkap terutama desain penelitian.
11. Hasil dan Pembahasan, Hasil dan pembahasan dijadi-kan satu. Hasil menyajidijadi-kan uraian hasil penelitian sendiri. Deskripsi hasi penelitian disajikan secara jelas. Pemba-hasan memuat utamanya diskusi tentang hasil penelitian sendiri serta dikaitkan dengan tujuan penelitian (pengu-jian hipotesis).
12. Simpulan, merupakan simpulan dari hasil penelitian di-kaitkan dengan tujuan penelitian. dinarasikan, tanpa memberi nomor.
13. Pembahasan (review/kajianpustaka), memuat bahasan ringkas mencakup masalah yang dikaji.
14. UcapanTerimaKasih, disampaikan kepada berbagai pi-hak yang benar-benar membantu sehingga penelitian dapat dilangsungkan; misalnya pemberi gagasan, pe-nyandang dana.
15. Ilustrasi:
a. Judul tabel, grafik, histogram, sketsa, dan gambar (foto) diberi nomor urut, judul singkat tetapi jelas beserta satuan-satuan yang dipakai. Judul ilustrasi ditulis dengan menggunakan huruf Times New Roman berukuran sesuai besaran huruf table, grafik atau histogram, masuk satu tab (5 ketukan) dari pinggir kiri, awal kalimat menggunakan huruf kapital, dengan jarak satu spasi.
b. Keterangan tabel ditulis di sebelah kiri bawah menggunakan huruf Times New Roman berukuran 10 point jarak satu spasi.
c. Penulisan tanda atau notasi untuk analisis statistik data menggunakan superskrip berbeda pada baris/ kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05) atau sangat nyata (P<0,01).
d. Penulisan angka desimal dalam tabel untuk Bahasa Indonesia dipisahkan dengan koma (,), untuk Bahasa Inggris digunakan titik (.).
e. Gambar, grafik, dan foto:
Grafik dibuat dalam program Microsoft Excel
Foto berukuran 4 R berwarna atau hitam putih dan harus tajam
f. Nama Latin, Yunani, atau Daerah dicetak miring. Istilah asing diberi tanda petik.
g. Satuan pengukuran menggunakan Sistem
Internasional (SI). 16. DaftarPustaka
a. Hanya memuat referensi yang diacu dalam naskah dan ditulis secara alfabetik berdasarkan huruf awal dari nama penulis pertama. Jika dalam bentuk buku, dicantumkan nama semua penulis, tahun, judul buku, penerbit dan tempat, edisi dan bab keberapa. Jika dalam bentuk jurnal, dicantumkan nama penulis, tahun, judul tulisan, nama jurnal, volume, nomor publikasi, dan halaman. Jika mengambil artikel dalam
100 MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN • Volume 23 Nomor 2 JuNi 2020
Jurnal Peternakan
buku, cantumkan nama penulis, tahun, judul tulisan, editor, judul buku, penerbit, dan tempat.
b. Diharapkan dirujuk referensi 10 tahun terakhir dengan proporsi pustaka primer (jurnal) minimal 80%.
c. Dianjurkan mengacu artikel yang dimuat pada Majalah Ilmiah Peternakan sebelumnya dapat diakses pada htt://ojs.unud.ac.id.
d. Cara penulisan kepustakaan sebagai berikut: Jurnal
Yang, C. J., D. W. Lee, I.B. Chung, Y.M. Cho, I.S. Shin, B.J. Chae, J.H. Kim, and I.K. Han. 1997. Developing model equation to subdivide lysine requirements for growth and maintenance in pigs. J. Anim. Sci. 10:54-63
Lukiwati, D.W., N. Nuhidjat, A.H. Wibowo, J. Bambang dan T. Nurdewanto. 2005. Peningkatan produksi dan nilai nutrisi hijauan Puearia phaseoleides oleh pupuk fosfor dalam suspense fermentasi Acetobacter sac-charomyces. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. Vol 7. No.2 Tahun 2005. P:82-86
Buku
Suprijatna, E., U. Atmomarsono, dan R. Kartasudjana. 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penerbit Penebar Swadaya, Bogor.
Prosiding
Pujaningsih, R.I., C.L. Sutrisno, dan S. Sumarsih. 2006. Kajian kualitas pod kakao yang diamoniasi dengan aras urea yang berbeda. Di dalam: Pengembangan Teknologi Inovatif untuk Mendukung Pembangu-nan Peternakan Berkelanjutan. Prosiding Seminar Nasional dalam Rangka HUT ke-40 (Lustrum VIII) Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soed-irman; Purwokerto, 11 Pe bruari 2006. Fakultas Pe-ternakan UNSOED, Purwokerto. Halaman 54-60. Artikel dalam Buku
Leitzmann, C., A.M. Ploeger, and K. Huth. 1979. The influ-ence of lignin on lipid metabolism of the rat. In: G.E. Inglett & S.I. Falkehag. Eds. Dietary Fibers Chemis-try and Nutrition.Academic Press. INC., New York. Skripsi/Tesis/Disertasi
Seputra, I.M.A, 2004. Penampilan dan Kualitas Karkas Babi Landrace yang Diberi Ransum Mengandung Limbah Tempe.Tesis. Program Pascasarjana, Uni-versitas Udayana, Denpasar.
Internet
Hargreaves, J., 2005. Manure Gases Can Be Danger-ous. Department of Primary Industries and Fish-eries, Queensland Govermment. http://www.dpi. gld.gov.au/pigs/9760.html. Diakses 15 September 2005.
Dokumen
[BPS] Biro Pusat Statistik. 2006. Populasi Ternak Sapi di Provinsi Bali tahun 2005.
Penerbitan
• Hak cipta naskah yang dimuat sepenuhnya ada pada Majalah Ilmiah Peternakan.
• Penulis akan menerima lima eksemplar cetak lepas setelah terbit.
• Jadwal penerbitan adalah bulan Februari, Juni, dan Oktober setiap tahun.
• Penulis yang naskahnya dimuat dikenai biaya cetak sebesar Rp 400.000,- per artikel.
• Harga langganan selama setahun (3 kali penerbitan) Rp 150.000,-sudah termasuk ongkos kirim.
Mekanisme Seleksi Naskah
1. Naskah harus mengikuti format/gaya penulisan yang telah ditetapkan.
2. Naskah yang tidak sesuai dengan format akan dikembalikan ke penulis untuk diperbaiki.
3. Naskah yang sesuai dengan format diteruskan ke Dewan Redaksi untuk ditelaah diterima atau ditolak.
4. Naskah yang diterima atau naskah yang formatnya sudah diperbaiki selanjutnya dicarikan penelaah (Mitra Bestari) tentang kelayakan terbit.
5. Naskah yang sudah diperiksa (ditelaah oleh Mitra Bestari) dikembalikan ke Dewan Redaksi dengan tiga kemungkinan (ditolak, diterima dengan perbaikan, dan diterima tanpa perbaikan).
6. Dewan Redaksi memutuskan naskah diterima atau ditolak, seandainya terjadi ketidaksesuaian di antara Mitra Bestari. 7. Keputusan penolakan Dewan Redaksi dikirimkan kepada
penulis.
8. Naskah yang mengalami perbaikan dikirim kembali kepenulis untuk perbaikan.
9. Naskah yang sudah diperbaiki oleh penulis diserahkan oleh Dewan redaksi kepenyunting pelaksana.
10. Contoh cetak naskah sebelum terbit dikirimkan ke penulis untuk mendapat persetujuan.
11. Naskah siap dicetak dan cetaklepas dikirimkan ke penulis. Bagan Alir Pemrosesan Naskah
Naskah diterima Sekretariat Ketua Dewan Redaksi Mitra Bestari Penyunting Pelaksana Contoh cetak Penulis Percetakan Terbit Cetak lepas
74 MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN • Volume 22 Nomor 2 JuNi 2019 Identifikasi Penampilan Reproduksi Sapi Bali (Bos sondaicus) Betina Sebagai Akseptor Inseminasi Buatan untuk Menunjang Program Upsus Siwab...
IDENTIFIKASI PENAMPILAN REPRODUKSI SAPI BALI (Bos sondaicus)
BETINA SEBAGAI AKSEPTOR INSEMINASI BUATAN UNTUK MENUNJANG
PROGRAM UPSUS SIWAB DI KABUPATEN BADUNG DAN TABANAN
SURANJAYA, I G., N. P. SARINI, A. ANTON DAN A. WIYANA
Fakultas Peternakan Universitas Udayana e-mail: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Badung dan Tabanan dengan metode survei pada Kelompok Peternak sapi bali dengan sapi betinanya digunakan sebagai akseptor inseminasi buatan (IB) pada program Upaya Khusus Percepatan Populasi sapi dan Kerbau Bunting (Upsus Siwab). Pengambilan sampel dilakukan secara purposive
sampling masing-masing sebanyak 74 ekor sapi induk di Badung dan 61 ekor di Tabanan. Data diperoleh dari hasil
wawancara dan catatan dari peternak, kelompok peternak dan inseminator IB. Data yang dikumpulkan meliputi: umur induk, umur pertama dikawinkan, service per conception, lama kebuntingan, calving rate, dan berahi kembali setelah melahirkan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan penampilan reproduksi pada sapi bali betina induk akseptor IB antara Kabupaten Badung dan Tabanan dilakukan dengan Uji Two Independent Sample T Test. Hasil penelitian menunjukkan rataan umur sapi induk di Badung dan Tabanan masing-masing 4,23±2,00 tahun dan 4,50±2,90 tahun dan umur saat pertama dikawinkan masing-masing 1,74 ± 0,49 tahun dan 1,90±0,38 tahun. Calving rate sapi iduk akseptor IB di Badung dan Tabanan masing-masing 56,75% dan 40,98%. Service per
conception masing-masing 1,62±0,39 kali dan 1,90±0,38 kali. Rataan lama kebuntingan dari sapi betina di Badung
dan Tabanan yaitu 9,63±0,52 bulan dan 9,45±0,22 bulan (P>0,05), sedangkan berahi kembali setelah melahirkan adalah: 3,06±0,94 bulan dan 3,53±1,03 bulan (P<0,05). Disimpulkan bahwa calving rate sapi betina di Badung lebih besar dari pada di Tabanan dan waktu berahi kembali setelah melahirkan dari sapi induk akseptor IB di Badung lebih pendek dari pada di Tabanan
Kata kunci: penampilan reproduksi, akseptor IB, program Upsus-Siwab
IDENTIFICATION OF REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF BALI COWS (Bos sondaicus) ARTIFICIAL INSEMINATION ACCEPTORS IN ORDER TO SUPPORT
THE UPSUS SIWAB PROGRAM IN BADUNG AND TABANAN REGENCIES
ABSTRACT
This research was conducted in Badung and Tabanan Regencies with a survey method on bali cow farmer group where the cows as artificial insemintion (AI) acceptors were in the the program of special effort on acceleration of pregnant cattle and buffalo population (Upsus Siwab). Sampling was carried out by purposive random sampling with 74 cows were in Badung and 61 cows were in Tabanan. Data obtained from interviews and recording from farmers, farmer groups and inseminator staffs. Data collected included: age of cows, age of first mated, calving rate, service per conception, gestation period, and post partus heat. Data generated were analysed using descriptive statistics and reproductive performance of bali cows as AI acceptors between Badung Regency and Tabanan Regency was analysed using Two Independent Sample T Test. Results showed that the average age of cows in Badung and Tabanan was 4.23 ± 2.00 years and 4.50 ± 2.90 years and the age at first mated was 1.74 ± 0.49 and 1.900.38 years respectively. Calving rate of cows as AI acceptors in Badung and Tabanan Regencies were 56.75% and 40.98% respectively. Service per conception is 1.62 ± 0.39 times and 1.90 ± 0.38 times, respectively. The average of gestation period of cows in Badung 9.63 ± 0.52 months tended to be longer than of 9.45 ± 0.22 months in Tabanan, whereas the post partus heat were 3.06 ± 0.94 months and 3.53 ± 1.03 months, respectively. In conclusion, the calving rate of cows in Badung was greater than of in Tabanan and the post partus heat of AI acceptor cows in Badung was shorter than of in Tabanan.
p-ISSN 0853-8999 e-ISSN2656-8373 75
Suranjaya, I G., N. P. Sarini, A. Anton, dan A. Wiyana
PENDAHULUAN
Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (Upsus Siwab) adalah program pemuliaan ternak sapi yang dirancang untuk meningkatkan populasi secara nasional dalam upaya mewujudkan swasembada daging dan memenuhi kebutuhan protein hewani secara mandiri. Salah satu program utama dalam Upsus Siwab adalah peningkatan populasi melalui program inseminasi buatan (IB) dimana peran sapi betina induk sebagai akseptor dalam pelaksanaan program IB ini adalah sangat penting. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (2017) mengungkapkan bahwa capaian program Upsus Siwab pada tahun pertama pelaksanaannya pada tahun 2016 adalah masih rendah yaitu rata-rata hanya tercapai 27,5% dari target 3 juta kelahiran pedet yang baru.
Upaya peningkatan populasi sapi Bali maka pada tahun 2017 jumlah sapi betina sebagai akseptor IB di dua lokasi kantong sapi di Bali yaitu Kabupaten Badung dan Tabanan masing-masing ditargetkan sebanyak 9.826 dan 12.813 ekor dengan target sapi betina bunting adalah 7,861 dan 10,250 ekor (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2017). Untuk pencapaian target Upsus Siwab sapi bali pada tahun 2017, maka perlu diperhatikankan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan IB. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program IB antara lain mencakup respons peternak terhadap pelaksanaan IB (Inounu, 2014), kemampuan inseminator, kemampuan petani untuk mendeteksi berahi ternaknya. Selain itu, faktor penampilan reproduksi dari sapi betina sebagai akseptor IB juga perlu dipertimbangkan. Penampilan reproduksi sapi betina ditunjukkan oleh faktor servis per konsepsi (S/C), lama bunting, interval melahirkan,
calving rate (CvR) dan waktu berahi kembali setelah
melahirkan.
Peningkatan jumlah penduduk sudah tentu akan meningkatkan kebutuhan akan daging dan sapi bali adalah salah satu ternak primadona sebagai sumber penghasil daging. Populasi sapi bali mengalami penurunan karena beberapa sebab seperti peningkatan pengiriman atau pengeluaran sapi bali secara ilegal dan masih terjadinya pemotongan sapi betina produktif, maka untuk mengatasi hal tersebut, Pemerintah mencanangkan program Upsus Siwab. Program ini dilaksanakan untuk mewujudkan swasembada daging mandiri dalam pemenuhan pangan asal hewan serta untuk meningkatkan kesejahteraan peternak. Salah satu program utama dalam program Upsus Siwab adalah peningkatan populasi melalui penerapan program IB.
Inseminasi buatan merupakan salah satu teknologi yang digunakan dalam program Upsus Siwab. Pemer-intah mengembangkan program IB dengan
menggu-nakan pejantan unggul. Kemudahan-kemudahan telah diberikan Pemerintah untuk meningkatkan pelaksa-naan IB seperti menggratiskan biaya IB. Pada tahun 2017, target sapi betina akseptor IB di Kabupaten Ba-dung adalah 9.826 ekor sedangkan kabupaten Tabanan adalah 12.813 ekor. Sedangkan target untuk sapi betina bunting adalah 7.861 dan 10.250 ekor berturut-turut untuk Kabupaten Badung dan Tabanan (Dirjen Peter-nakan dan Kesehatan Hewan, 2017). Mengingat masih rendahnya capaian target Upsus Siwab tahun 2017, perlu diperhatikan faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan IB.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keber-hasilan program IB tersebut antara lain respon ma-syarakat peternak terhadap pelaksanaan IB (Inounu, 2014), kemampuan inseminator dalam melaksanakan IB dan penanganan semen di lapangan, kemampuan peternak dalam deteksi berahi dan juga waktu mel-aporkan kepada inseminator. Disamping itu tentunya kondisi reproduksi dari sapi betina akseptor IB itu sendiri. Kondisi reproduksi dari sapi betina biasanya di-tunjukkan dengan capaian penampilan reproduksinya seperti service per conception (S/C), lama kebuntingan,
calving interval, calving rate (CvR) dan berahi kembali
setelah beranak. Penelitian ini bertujuan untuk men-getahui penampilan reproduksi dari sapi Bali betina akseptor IB dalam rangka menunjang program Upsus Siwab di Kabupaten Badung dan Tabanan.
MATERI DAN METODE Materi Penelitian
Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder tahun 2017-2018. Data sekunder mengenai populasi ternak, jumlah peternak, pelaksanaan Upsus Siwab diperoleh dari Dinas terkait, Puskeswan di Ka-bupaten Badung dan KaKa-bupaten Tabanan. Data primer diperoleh dari hasil interview dengan menggunakan kuesioner yang berisi pertanyaan yang terstruktur ke-pada peternak yang sapi induknya ditetapkan sebagai akseptor IB.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di dua (2) lokasi wilayah peternakan sapi bali yaitu di Kabupaten Badung dan Kabupaten Tabanan Provinsi Bali. Penelitian dilaksanakan dengan metoda survei terhadap peternak sapi bali dengan sapi induknya ditetapkan sebagai akseptor IB pada program Upsus Siwab.
Penetapan sampel/responden
Penentuan responden dilakukan secara purposive
sampling yaitu sebanyak 58 orang peternak yang terdiri
76 MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN • Volume 22 Nomor 2 JuNi 2019 Identifikasi Penampilan Reproduksi Sapi Bali (Bos sondaicus) Betina Sebagai Akseptor Inseminasi Buatan untuk Menunjang Program Upsus Siwab...
orang peternak di Kabupaten Tabanan. Penentuan responden penelitian dilakukan berdasarkan kriteria: 1). Peternak berada di daerah Kabupaten Badung dan Tabanan, 2) sapi betinanya digunakan sebagai akseptor IB pada program Upsus Siwab yang dimulai tahun 2017.
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi:
1. Survei lapangan yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan kuisioner/daftar pertanyaan yang telah disiapkan terlebih dahulu
2. Wawancara/interview yaitu teknik untuk menggali informasi dan data untuk kepentingan penelitian dengan melakukan tanya- jawab atau dialog antara peneliti dan responden.
Pendekatan eksploratif dilakukan untuk mendes-kripsikan manajemen reproduksi yang diterapkan pada sapi induk akseptor IB. Data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah: service perconseption (S/C), lama kebuntingan, calving rate (CR), dan berahi kembali setelah melahirkan.
Analisis Data
Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis secara deskriptif dan untuk melihat perbedaan penampilan reproduksi diantara sapi bali betina akseptor IB antara Kabupaten Badung dan Tabanan, maka data yang diperoleh dianalisis dengan Uji Beda Dua Rata-rata bagi dua sampel bebas /Two Independent
Sample T Test (Steel dan Torrie ,1989) dengan rumus :
Kemudian nilai T hitung dilakukan dengan rumus:
dimana, thit : nilai thitung s2 : ragam
sgab: simpangan baku gabungan; n1: sampel 1; n2: sampel 2
Selanjutnya nilai t hitung dibandingkan dengan nilai ta;db dan bila t hitung < ta;db, maka terima H0 dan jika t hitung > ta;db, maka tolak H0.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah sapi induk akseptor IB di Kabupaten Badung sebanyak 74 ekor dari 35 orang peternak, sedangkan di Kabupaten Tabanan adalah sebanyak 61 ekor dari 23 orang peternak. Seluruhnya jumlah responden penelitian adalah sebanyak 58 orang peternak dengan jumlah total sapi betina induk sebagai akseptor IB adalah sebanyak 135 ekor (Tabel 1). Jumlah pedet yang dihasilkan dari sapi induk akseptor IB yang mengikuti program Upsus Siwab di Kabupaten Badung dan Tabanan masing-masing 42 ekor dan 25 ekor.
Tabel 1. Deskripsi penampilan responden penelitian di Kabupaten Badung dan Tabanan
Lokasi Jml Peternak(orang) Jml sapi betina akseptor (ekor) Jml anak (ekor) Kabupaten Badung 35 74 42 Kabupaten Tabanan 23 61 25 Total 58 135 67
Rataan umur sapi induk di Badung dan Tabanan adalah 4,23±2,00 dan 4,50±2,90 tahun; sedangkan umur pada saat pertama kali dikawinkan masing-ma-sing adalah 1,74±0,49 dan 1,90±0,38 tahun. Umur saat pertama induk dikawinkan di Kabupaten Tabanan nam-pak lebih tinggi dibandingkan dengan di Kabupaten Ba-dung. Secara umum rataan umur pertama dikawinkan di Kabupaten Tabanan adalah pada umur lebih dari 2 tahun sedangkan di Kabupaten Badung pada umur kurang dari 2 tahun
Calving rate yaitu jumlah anak atau prosentase
jum-lah pedet yang dihasilkan dari sapi induk akseptor IB yang mengikuti program Upsus-Siwab di Kabupaten Badung dan Tabanan masing-masing sebesar 56,75% dan 40,98%. Berdasarkan jumlahnya, pedet yang di-hasilkan di Kabupaten Badung adalah sebanyak 42 ekor dan di Tabanan sebanyak 25 ekor.
Tabel 2. Umur, umur kawin pertama dan calving rate sapi induk
Variabel Lokasi
Badung Tabanan Umur (tahun) 4.23±2.00 4.50±2.90 Umur kawin pertama kali (tahun) 1.74 ±0.49 1.90±0.38
Calving rate (%) 56,75 40,98
Calving rate di Badung lebih tinggi dibandingkan
dengan di Tabanan. Hal ini diduga disebabkan oleh fak-tor pelaksanaan IB di Badung lebih baik dibandingkan dengan di Tabanan. Keterampilan inseminator dalam melaksanakan IB merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan IB. Kesalahan pada saat melakukan IB
p-ISSN 0853-8999 e-ISSN2656-8373 77
Suranjaya, I G., N. P. Sarini, A. Anton, dan A. Wiyana
atau menempatkan semen dalam saluran reproduksi serta memasukkannya ke dalam cervix merupakan fak-tor penyebabnya. Fakfak-tor yang lain adalah keterampilan peternak dalam mendeteksi berahi dan melaporkannya kepada inseminator juga sangat penting diperhatikan. Pengamatan peternak yang kurang baik dalam melihat tanda-tanda berahi ternaknya dan terlambat melapor-kannya kepada inseminator menyebabkan ternak yang berahi terlambat mendapatkan layanan IB. Murtidjo (1990), menyatakan pengetahuan tentang deteksi es-trus sapi betina merupakan pengetahuan yang harus dikuasai agar pelaksanaan perkawinan sapi sanggup menghasilkan tingkat kebuntingan yang tinggi.
Menurut Hardjopranjoto (1995) waktu perkawinan yang tepat merupakan faktor yang penting karena dapat menghasilkan keuntungan bagi peternak, sebaliknya bila waktu perkawinan tidak tepat cenderung menye-babkan gangguan reproduksi karena dapat menunda perkawinan. Pelaksanaan perkawinan dari sapi induk pada waktu yang tepat dapat menunjang pencapaian peningkatan populasi dari program Upsus Siwab.
Penampilan Reproduksi Sapi Betina Akseptor IB
Keberhasilan program IB dari program Upsus Siwab ditentukan oleh penampilan reproduksi sapi betina induk seperti service per conception (S/C), lama kebuntingan, berahi kembali setelah melahirkan, dan
calving rate (CvR).
Tabel 3. Penampilan reproduksi sapi betina induk akseptor IB di Kab. Badung dan Tabanan
Variabel
Lokasi
Sig1) Badung Tabanan
...rataan ± sd2)...
Servis per conception (kali) 1.62±0.39 1.90±0.38 0,12 Lama kebuntingan (bulan) 9.63±0.52 9.45±0.22 0,30 Berahi kembali setelah
melahirkan (bulan) 3.06±0.94 3.53±1.03 0,02 Keterangan:
1). Sig: taraf signifikansi 2). sd: standar deviasi
1. Service per Conception (S/C)
Service per conception (S/C) adalah banyak kali
perkawinan yang dilakukan pada betina induk hingga ternak itu menjadi bunting. Pada penelitian ini sapi betina induk adalah sebagai akseptor IB sehingga sistem perkawinan yang digunakan adalah perkawinan dengan sistem IB. Secara umum besaran S/C dari sapi induk pada penelitian ini berkisar 1-2 kali. Rataan besaran S/C induk di Kabupaten Badung adalah 1,62±0,39 kali sedang untuk di Tabanan S/C induk adalah 1,90±0,38 kali (Tabel 3) namun keduanya tidak berbeda nyata (P>0,05). Besaran S/C sapi induk di Tabanan nampak sedikit lebih besar dibandingkan dengan di Badung.
Menurut Sulaksono et al. (2010) tinggi rendahnya nilai S/C tergantung dari beberapa faktor antara lain kete-rampilan inseminator, waktu dalam melakukan insemi-nasi buatan dan pengetahuan peternak dalam mende-teksi berahi. Jika besaran nilai S/C induk kurang atau lebih kecil dari 2 menunjukkan bahwa sapi induk itu dapat beranak atau memiliki anak setiap tahun. Apabila angka S/C itu lebih besar dari 2 adalah menyebabkan tidak tercapainya jarak beranak yang ideal atau dapat pula dinyatakan bahwa reproduksi sapi induk tersebut kurang efisien karena jarak beranaknya menjadi lebih lama. Menurut Iswoyo dan Priyanti (2008) terdapat be-berapa faktor yang menyebabkan tingginya besaran S/C pada seekor sapi induk antara lain karena: (1) peternak terlambat mendeteksi saat berahi atau terlambat mel-aporkan berahi sapinya kepada inseminator, (2) adanya kelainan pada alat reproduksi induk sapi, (3) insemina-tor kurang terampil, (4) fasilitas pelayanan inseminasi yang terbatas, dan (5) kurang lancarnya transportasi. Pada penelitian ini nampak bahwa sapi betina induk akseptor IB di Badung dan Tabanan secara umum di-kawinkan atau di IB sampai menyebabkan kebuntingan adalah lebih dari 1 kali.
Dapat dinyatakan bahwa efisiensi reproduksi sapi induk akseptor IB di kedua lokasi itu masih rendah. Hal ini mungkin disebabkan karena ketrampilan peternak dalam mendeteksi berahi, keterampilan inseminator dan penyediaan fasilitas layanan IB belum optimal. Kendala lokasi atau jarak peternakan dengan tempat inseminator yang cukup jauh juga salah satu faktor yang dapat menyebabkan belum optimalnya pemberian layanan IB bagi sapi betina birahi. Dalam pencapaian hasil dari program Upsus-Siwab disamping dilakukan dengan memperbaiki penampilan reproduksi sapi betina induk juga disertai dengan program pelatihan peningkatan keterampilan peternak dan inseminator baik dalam pedeteksian berahi maupun dalam pelaksanaan IB. Peningkatan fasilitas layanan IB dan ketrampilan para inseminator IB perlu dilakukan untuk menunjang pencapaian peningkatan populasi sapi bali sesuai tujuan Upsus Siwab.
2. Lama Kebuntingan
Lama kebuntingan adalah panjang waktu mulai saat terjadinya fertilisasi pada hewan betina sampai saat ter-jadinya kelahiran anak atau pedet secara normal. Ter-jadinya fertilisasi dapat ditunjukkan oleh tidak timbul-nya berahi kembali setelah ternak tersebut dikawinkan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama kebun-tingan dari sapi betina induk akseptor IB di Kabupat-en Badung berkisar 8,76 – 9,66 bulan dKabupat-engan rataan 9,63±0,52 bulan. Sementara untuk Kabupaten Taban-an lama kebuntingTaban-an sapi betina induk akseptor IB itu berkisar 8,70 – 9,63 bulan dengan rataan 9,45±0,22
bu-78 MAJALAH ILMIAH PETERNAKAN • Volume 22 Nomor 2 JuNi 2019 Identifikasi Penampilan Reproduksi Sapi Bali (Bos sondaicus) Betina Sebagai Akseptor Inseminasi Buatan untuk Menunjang Program Upsus Siwab...
lan. Rataan lama kebuntingan di Badung dan Tabanan secara statistika adalah berbeda tidak nyata (P>0,05). Secara umum lama kebuntingan hewan betina pada ter-nak sapi itu berbeda-beda berdasarkan bangsa terter-nak. Lubis dan Sitepu (1998) mendapatkan lama kebunting-an sapi bali induk berkisar kebunting-antara 9,20 – 9,83 bulkebunting-an.
Menurut Jainudeen dan Hafez (2000) lama kebun-tingan pada ternak sapi dipengaruhi oleh bangsa ternak, jenis kelamin dan jumlah anak yang dikandung. Faktor lain yang mempengaruhi lama kebuntingan sapi induk adalah umur induk, musim, sifat genetik dan letak geo-grafik (lingkungan). Dinyatakan pula bahwa lama ke-buntingan induk sapi bali yang mengandung anak jan-tan secara rata-rata adalah 284,9 ± 5,7 hari, sedangkan yang mengandung anak betina adalah 283,9±5,6 hari atau berkisar 9,5 bulan dan berbeda tidak nyata secara statistika.
Devendra et al. (1973) mendapatkan lama kebun-ting an pada sapi bali sekitar 280 – 294 hari atau sekitar 9,5–10 bulan. Djagra dan Arka (1994) mendapatkan bahwa lama kebuntingan pada induk sapi bali dipengaruhi oleh jenis kelamin anak, iklim, kondisi makanan dan umur induk, sementara Jainudden dan Hafez (2000) menyatakan lamanya kebuntingan induk itu dipengaruhi oleh jenis sapi, jenis kelamin dan jumlah anak yang dikandung dan faktor lain seperti umur induk, musim, sifat genetik dan letak geografis. Lama kebuntingan induk sapi bali akseptor IB di Badung dan Tabanan secara umum berada pada batasan normal berkisar antara 260 – 290 hari atau 8,66 – 9,66 bulan dan berbeda tidak nyata diantara keduanya (P>0,05). Lama waktu kebuntingan dari seekor sapi induk adalah berkaitan dengan lama waktu panen pedet (calving
rate) sehingga secara tidak langsung juga berpengaruh
terhadap percepatan peningkatan populasi.
3. Berahi Kembali Setelah Melahirkan
Apabila waktu berahi kembali dari induk lebih panjang maka peningkatan populasi bisa menjadi lebih lambat. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa rataan waktu berahi kembali sapi induk akseptor IB di Badun 3,06±0,94 bulan sedangkan di Tabanan yaitu 3,53±1,03 bulan dan rataan lama waktu berahi kembali sapi induk di Badung nyata lebih pendek dibandingkan dengan di Tabanan (P<0,05). Hal ini mungkin disebabkan oleh waktu penyapihan pedet di Tabanan lebih panjang, apabila anak belum disapih maka secara alami induk akan tetap menyusui anaknya karena naluri keindukannya sehingga munculnya berahi kembali setelah melahirkan juga menjadi lebih panjang. Menurut Simangunsong (2016) ada istilah puerpureum yaitu perubahan yang terjadi pada induk hewan yang telah selesai melahirkan dan mengeluarkan plasentanya sampai kembali lagi ke dalam siklus berahinya yang
normal. Perubahan yang paling penting dalam periode itu adalah regenerasi endometrium, involusi uterus dan berahi setelah partus. Terjadi pula apa yang disebut dengan involusi uterus yaitu peristiwa mengecilnya kembali uterus keukuran normal sebelum mengalami kebuntingan kembali. Dalam proses pengecilan itu termasuk pula proses regenerasi endometrium yaitu pengecilan serat-serat urat daging myometrium dan pembuluh-pembuluh darah uterus.
Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa proses pengecilan atau involusi uterus pada ternak sapi umum-nya memakan waktu 47 - 50 hari setelah partus dan es-trus bisa terjadi 30-70 hari setelah partus, sehingga ber-dasarkan hal tersebut sapi baik dikawinkan lagi setelah mengalami 2 kali siklus berahi yaitu pada siklus berahi 3 baru bisa dikawinkan dengan kawin alam ataupun dengan IB. Jarak waktu itu bisa menjadi lebih panjang apabila anak atau pedet diberikan menyusu langsung pada induknya. Untuk mengatasi hal itu, makanya jika pedet sudah cukup umur harus segera disapih dari in-duknya karena kalau tidak dilakukan sapi induk tidak akan menunjukkan gejala berahi kembali.
Dari pernyataan tersebut, maka dapat diperkirakan bahwa waktu penyapihan pedet pada sapi induk di Ta-banan adalah lebih lambat dibanding dengan di Ba-dung. Hal itu memberikan kesempatan induk memeli-hara anaknya lebih lama sehingga waktu berahi kembali setelah melahirkan menjadi lebih lama pula.
Menurut Susilawati dan Affandy (2004) bahwa jarak beranak dari seekor ternak induk menjadi lebih panjang karena beberapa faktor antara lain: (1) anaknya tidak disapih sehingga munculnya berahi pertama post
partum menjadi lebih lama; (2) lama kosong induk
lebih panjang; (3) service per conception (S/C) lebih tinggi; (4) umur pertama kali dikawinkan lambat. Disamping itu panjangnya jarak beranak diduga disebabkan oleh faktor panjangnya waktu berahi kembali setelah melahirkan dan pemakaian ternak induk sebagai ternak kerja secara berlebihan. Apabila waktu berahi kembali setelah melahirkan dari induk lebih panjang konsekunsinya dapat memperlambat peningkatan populasi, karena semakin panjang waktu berahi kembali setelah melahirkan menyebabkan jarak beranak (calving interval) dari seekor induk juga semakin panjang.
SIMPULAN
Prosentase keberhasilan jumlah pedet sapi bali yang dapat dihasilkan dari sapi induk akseptor IB yang mengikuti program Upsus Siwab di Kabupaten Badung lebih tinggi dari pada di Kabupaten Tabanan. Penampilan reproduksi sapi induk di Kabupaten Tabanan untuk umur kawin pertama dan waktu birahi
p-ISSN 0853-8999 e-ISSN2656-8373 79
Suranjaya, I G., N. P. Sarini, A. Anton, dan A. Wiyana
kembali lebih tinggi dibandingkan dengan sapi induk di Kabupaten Badung.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Rektor Universitas Udayana, Dekan Fakultas Peternakan dan Ketua LPPM Universitas Udayana atas fasilitas dan bantuan dana yang diberikan melalui dana DIPA PN-BP-Hibah Penelitian Unggulan Program Studi (PUPS) sehingga penelitian ini dapat berlangsung dan terlak-sana dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Devendra, C.T., K.C. Lee and Pathmasingam. 1973. The Productivity of Bali Cattle in Malaysia. J Agric. 49: 183 – 197.
Djagra, I. B., dan I. B. Arka. 1994. Pembangunan Peter-nakan Sapi Bali di Provinsi Daerah Tingkat I Bali. Lokakarya Pengembangan Peternakan Sapi Di Kawasan Timur Indonesia. Mataram.
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2017. Pedo-man Pelaksanaan Upsus Siwab (Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting). Jakarta: Direktorat Jendral Peternakan Dan Kesehatan Hewan. Hardjopranjoto, H. S. 1995. Ilmu Kemajiran pada Ternak.
Airlangga University Press. Surabaya.
Inounu, I. 2014. Upaya Meningkatkan Keberhasilan Inseminasi Buatan Pada Ternak Ruminansia Kecil. Wartazoa Vol. 24 No. 4 Th. 2014 Hlm. 201-209 DOI: http://Dx.Doi.Org/10.14334/Wartazoa.V24i4.1091. Iswoyo dan W. Priyantini. 2008. Performans reproduksi
sapi peranakan simmental (psm) hasil insemi-nasi buatan di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah. J.Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan. 3(4): 125-133.
Jainudeen, M.R. And E.S.E. Hafez. 2000. Gestation, Pre-natal Physiology and Parturition. In: Reproduction in Farm Animals 7 Ed. Hafez, E.S.E. And B. Hafez (Eds.). Lippincott. Williams and Wilkins.
Lubis, A. M. dan P. Sitepu. 1998. Evaluasi Produktivitas Sapi Perah Yang Terseleksi Di Dua Lokasi Penelitian KUD Sarwa Mukti dan KUD Pasir Jambu. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 1 – 2 Desember 1998. Puslitbang Peternakan, Bogor. Hlm. 287 – 294.
Murtidjo, B.A., 1990. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.
Simangunsong, H. 2016. Puerpureum dan kapan sapi bisa dikawinkan setelah partus. IlmuPeternakan dan Pertanian. https://datapeternakan.blogspot. com/2016/03/puerpureum-dan-kapan-sapi-bisa dikawinkan setelah partus.html. Diakses Januari 2017
Steel, G. D. R. and J. H. Torrie. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika. Suatu Pendekatan Biometrik (trrjemahan). Edisi ke-2. PT. Gramedia. Jakarta. Sulaksono, A., Suharyati, S., dan Santoso, E. P. 2010.
Penampilan Reproduksi (Servise Per Conception, Lama Bunting dan Selang Beranak) Kambing Boerawa di Kecamatan Gedong Tataan dan Ke-camatan Gisting. Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Lampung.
Susilawati, T. dan Affandy, L. 2004. Tantangan dan Peluang Peningkatan Produktivitas Sapi Potong melalui Teknologi Reproduksi Tantangan dan Pelu-ang Peningkatan Produktivitas Sapi Potong melalui Teknologi Reproduksi. http://www.Peternakan.Lit-bang.Deptan.go.id. Diakses pada 17 Februari 2018.