• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pedoman strategi baru menghadapi kerusakan kelamin wanita - IP -

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pedoman strategi baru menghadapi kerusakan kelamin wanita - IP -"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Untuk dikopi dan disebarluaskan

Pedoman

strategi baru

menghadapi

kerusakan

kelamin wanita

- IP -

(2)

1. Pendahuluan

Pedoman ini adalah sebagai hasil dari diskusi, yang diadakan pada Seminar ke-17 Kelompok Kerja PBB – untuk Bangsa-Bangsa Pribumi di Genewa (Juli 26-30, 1999), dimana telah dibahas tentang tindakan nyata yang lebik efektif yang perlu diambil untuk menanggulangi kerusakan alat kelamin perempuan. Kelihatan bahwa perjuangan untuk memerangi (mencegah) apa yang disebut “Penyunatan wanita”, yaitu pemotongan klitoris yang sangat kejam, dan dibanyak hal juga bibir kemaluan, yang banyak kali diadakan di Afrika, tidak membawa hasil yang diharapkan. Diperkirakan, bahwa setiap tahun banyak anak-anak gadis yang telah dipakai sebagai percobaan-dan jumlah tersebut menjadi dua kali lipat antara tahun 1982 dan 1999.

Asal mula dari kebiasaan kejam ini tidak jelas. Sudah lama dilakukan di sebagian negara Arab dan Afrika Timur, tetapi belakangan ini sudah mulai menjalar ke Afrika Barat. Kesimpulan ini diambil dari kenyataan bahwa budak-budak yang dibawa ke Amerika sampai ke abad 19 belum pernah mengenal cara penyunatan ini. Di Indonesia, di mana tradisi tersebut masih ada di beberapa unsur budaya tertentu saat ini juga menyebar di kalangan muslim. Keadaan seperti ini tidak jelas di bagian dunia yang lain. Diberitakan tentang adanya kebiasaan kejam ini juga di bagian Selatan Afrika, dan ada kemungkinan bahwa kebiasaan kejam ini tetap dilaksanakan di Amerika Selatan hingga saat ini.

Sesuai dengan perkiraan perkiraan yang telah lama ada, ada sekitar 2 juta gadis yang telah rusak alat kelaminnya. Itu bisa berarti bahwa saat ini jumlahnya jauh lebih besar dari jumlah tersebut. Umur pada saat penyunatan tersebut bervariasi sesuai dengan tradisi (adat-istiadat) setempat, mulai dari bayi hingga remaja. Di sini kami sedang menghadapi suatu budaya adat-istiadat di satu sisi dan hak azasi manusia di sisi yang lain. Di sini kelihatan bahwa bila mengakui yang satu maka itu berarti mengabaikan yang satu lainnya secara langsung.

Untuk ikut menangani dapat diakui hanya atas dasar medis dan psikologis.

(3)

2. Contoh

Di dunia ketiga, golongan masyarakat ataslah yang mula-mula meniru Eropa. Biasanya ini mengandung arti kehilangan budaya dan adat istiadat, namun di dalam beberapa hal, ini juga bisa menghasilkan suatu hal yang positif. Dengan demikian dapat diperkirakan, khususnya di daerah-daerah perkotaan di Afrika, bahwa ada kecendrungan pengaruh Eropah mengambil peranan dan kebiasaan menyunat ini bisa dilepaskan tanpa ada interfensi yang ditetapkan, dimana urbanisasi sering mengakibatkan banyak adat-istiadat berakhir dengan sendirinya. Undang-undang telah dibuat untuk melarang FGM (female genital mutilation), namun demikian hasilnya tidak seberapa, seperti apa yang terjadi di Guinea, Niger, dan Sudan.

Kasus di Mesir misalnya, dimana 95 % dari perempuan telah rusak alat kelaminnya, nyata-nyata menunjukkan konstelasi masalah yang harus diatasi dalam banyak faktor. Penyunatan klitoris perempuan ini begitu rupa, sehingga perlu untuk dilakukan di rumah sakit. Sebagai hasil dari jerih payah kampanye terhadap FGM adalah larangan resmi penyunatan klitoris alat kelamin perempuan di Mesir pada tahun 1996. Tetapi apa yang terjadi kemudian? Apakah ini merupakan akhir

daripada FGM di Mesir?

Sayang sekali, masalahnya tidaklah demikian. Sebagai akibat dari larangan resmi ini, penyunatan klitoris dilakukan secara gelap di tukang-tukang cukur dan juga pada tempat-tempat tertentu. Akibatnya yang disunat harus menderita karena tidak dibius lebih dulu, sedangkan pisau-pisau cukur yang berkarat menimbulkan komplikasi, dan karena tidak menggunakan obat bius maka korban dapat berakhir dengan kematian. Pada 1997 larangan resmi tersebut dicabut oleh pemerintah dan rumah sakit – rumah sakit umun dapat melanjutkan pekerjaan menyunat klitoris alat kelamin gadis gadis lagi.

(4)

3. Faktor-faktor budaya

Apa yang dapat kita pelajari dari kenyataan ini? Tampak jelas bahwa ada dasar faktor-faktor budaya yang telah diabaikan:

− Tradisi terbukti suatu hal yang sangat stabil. − Ada kebutuhan ritual keagamaan.

− Selama kebutuhan ini tidak dipenuhi, tidak akan ada solusi atas masalah ini.

Dari pandangan Eropa, hal ini mungkin dapat dikatakan - dan ini memang sudah dilakukan - "Kami tidak mengakui adat-istiadat anda. Lepaskanlah adatmu itu dan jadilah seperti kami." Bagaimanapun juga, kami telah melihat kemana akibat pendirian seperti itu akan membawa kami. Persoalannya tidak dapat teratasi, tetapi justru akan menjadi lebih parah.

Faktor-faktor budaya merupakan kendala utama dalam mengatasi kerusakan kelamin wanita. Sering juga yang bersangkutan sendiri menghendaki penyunatan ini. Di dalam hal, dimana para ibu bermaksud anak perempuannya tidak disunat, neneknya mendesak dengan berbagai tipu muslihat agar melaksanakan penyunatan ini. Strategi untuk mengatasi penyunatan ini tampaknya hanya dapat berhasil, bila difahami, dalam hal melestarikan mekanisme bertahannya budaya yang ada. Karena larangan resmi secara hukum hanya memperburuk masalah. Dalam hal ini kami menganjurkan kebutuhan suatu strategi baru yang memasukkan unsur budaya karena dasar penyunatan adalah kejakinan budaya, bahwa kedewasaan wanita tidak dapat dipisahkan dari ritus tersebut.

Selanjutnya harus ikut diperhatikan bahwa wanita-wanita penyunat profesional - biasanya adalah bidan di desa - tidak mau kehilangan pendapatannya, oleh karena itu mereka sangat menentang penyunatan wanita ini dihapuskan.

4. Situasi saat ini

Setelah memerangi FGM lebih dari satu dekade, marilah kita menentukan sikap menghadapi situasi sekarang ini: Keberhasilannya kurang. Bahkan di kota kota wanita masih disunat. Sama seperti ibu mereka, mereka harus memilih antara mengingkari tradisi yang berarti

(5)

juga mengingkari sosial budaya yang berlaku ketat atau menerima nasib menderita kerusakan.

Pada situasi saat ini ada dua hal yang mutlak perlu diperhatikan: (a) keadaan ini harus terus berlangsung sebagai ritual,

(b) kerusakan harus dihindarkan/dihentikan.

4.1 Pencarian suatu solusi

Bagaimana masalah yang pada awalnya tampak bertentangan dapat diselesaikan? - Peralihan keadaan dan langkah pertama ada di tiap masyarakat, hanya bentuknya yang berbeda. Oleh karena itu, untuk memulai kita harus menerima dulu berlangsungnya ritus ini. Pengalaman mengajarkan kita, bahwa hal ini tidak dapat dirubah. Walapun demikian kita mempunyai peluang untuk sedikit merubah bentuk ritus tersebut. Ini tampaknya satu-satunya strategi yang dapat berhasil. Dalam hal ini kita harus sangat berhati-hati, sehingga tidak terlalu banyak ritus diubah. Bila kita misalnya mengusulkan, sebagai gantinya hanya satu upacara atau semacam sunatan saja, pasti tidak akan diterima. Usul demikian juga tidak melihat arti simbolik dari ritus yang berlaku. Secara rinci dapat dijabarkan:

− Keadaan tersebut harus berkaitan dengan klitoris − Harus dilakukan pemotongan

− Harus mengalir sedikit darah.

Selama kita tidak menerima kebutuhan tradisi ini, kita tidak akan berhasil - hal ini kita alami dari pengalaman. Kita lihat sebagai bandingannya yaitu penyunatan kaum pria. Usul mengadakan satu upacara tanpa melakukan pemotongan sama sekali, tidak mungkin dapat diterima bahkan menjadi bahan tertawaan.

Pilihan yang mana harus kita lakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan budaya tersebut? Untuk menjawab ini, ada baiknya kita pelajari ruang lingkup berbagai variasi penyunatan alat kelamin wanita. Dari berbagai tempat dan dari berbagai budaya keadaan ini berbeda-beda. Pada awal agama Islam keadaan ini hanya sedikit. Variasinya saat ini mencakup:

(6)

• Satu jenis yang lemah, hanya menyangkut kulit depan klitoris • Klitoridektomi, yaitu kecemerlangan atau sebagian besar klitoris

dipotong

• Eksisi, dalam hal mana ditambah dengan pemotongan bibir kemaluan kecil

• Infibulasi, juga dinamakan penyunatan firaun, dimana tersangkut juga bibir kemaluan besar.

Pemotongan minimal yang jarang terjadi, yang hanya memotong kulit depan klitoris seperti penyunatan kaum pria, tidak merusak.1 Sayang hal ini hanya merupakan kekecualian dan di ujung skala lainnya ialah penyunatan yang kejam dan merusak. Di beberapa budaya Afrika, dimana luka dengan tidak steril dijepit dengan duri, si korban menderita seumur hidup dan tidak sedikit yang meninggal karena infeksi.

Bagaimanapun juga hanya 2,5 % penyunatan alat kelamin wanita yang berjenis minimal, hanya kulit depan atau sebagian kecil dari klitoris dipotong. Sisanya 97,5 % yang berjuta-juta jumlahnya menderita kerusakan berat baik phisik maupun jiwa – dan berarti dibunuh hidup-hidup akibat dari bentuk bentuk yang diterapkan oleh FGM. Penderitaan ini memerlukan campur tangan yang efektif sesegera mungkin.

5. Teknik baru

Untuk memenuhi kebutuhan tradisi tetapi sekaligus menghindarkan kerusakan, dapat diharapkan solusi dari teknik berikut.

Di atas klitoris terdapat kulit depan (praeputium clitoridis), dari mana tanduk klitoris (glans clitoridis) kadang muncul (gambar 1). Dalam hal ini kulit depan klitoris sama seperti kulit depan pelir pria.

Teknik baru ini terbatas pada kulit depan klitoris, tidak ada yang dibuang, klitoris itu sendiri dan bagian kelamin lainnya tidak dirusak.

1 Perhatikan perbandingannya dengan operasi kepada para pria, itu sangat penting untuk

di ingat, bahwa kondisi para suami akibatnya sangat kecil dibanding rata-rata para isteri yang terkena kanker.

(7)

Gambar 1: Gambar skema kelamin wanita dengan kulit depan (praeputium clitoridis), tanduk klitoris (glans

clitoridis), bibir kemaluan kecil ((labia minora) dan bibir kemaluan besar (labia majora). Gambar 1 a: Klitoris dengan kulit depan Gambar 1 b: Klitoris dengan kulit depan (pandangan samping)

Dilakukan pembelahan (incision) vertikal, dalam hal ini hanya membuka kulit depan dan klitoris menjadi bebas (Gambar 2). Untuk melindungi klitoris dapat dimasukkan suatu alat yang tumpul dibawah kulit depan. Pembelahan dapat juga dilakukan dari bawah setelah kulit depan diangkat. Yang terpenting ialah agar klitoris itu sendiri tidak terluka.

Jadi tidak dilakukan pemotongan Iebih klitoridektomi, tetapi hanya membelah kulit depan (incisio praeputii). Meskipun demikian kebutuhan dasar ritus budaya tetap dipenuhi: Dilakukan pengirisan kelamin, menyangkut daerah klitoris, keluar darah. Di Asia tenggara ada penyunatan pria yang serupa, dalam hal mana hanya bagian atas kulit depan dibelah.2

(8)

Gambar 2: Jalan pembelahan (garis dengan titik-titik)

Gambar 2 a: Pandanan jalan pembelahan yang dibesarkan (garis dengan titik-titik)

Untuk memenuhi tuntutan agar ada yang dipotong dan dibuang maka hanya kulit depan saja yang dipotong.

Jangan sampai klitoris itu sendiri ikut terkena!

Akan tetapi masih ada satu aspek yang perlu disebutkan: Pada banyak wanita kulit depannya begitu besar hingga menghalangi klitoris. Pada rangsangan birahi klitoris mengembang seperti halnya penis pria. Bila kulit depan begitu besar, klitoris dapat tersembunyi di belakangnya. Tertutup oleh kulit depan, klitoris tidak peka untuk rangsangan.

Untuk banyak wanita yang keadaannya demikian, teknik baru ini IP (incisio praeputii) dapat merupakan perbaikan. Tanpa ini wanita tsb tidak dapat menikmati hubungan kelamin sepenuhnya, karena kulit depan yang besar merintanginya. Hasilnya dapat disimpulkan:

Dengan teknik baru atau metoda baru ini sebagian kecil masalah dipecahkan dan bukan sebaliknya menimbulkan problema baru.

5.1 Upaya penyelamatan

Sejauh tersedia, pembiusan lokal (xylocaine) dapat digunakan. Bagaimanapun juga perlu ada uraian psikologi budaya, untuk memahami peranan rasa sakit. Dengan memperhatikan pengertian ritus ini, penjelasan secara umum, seperti penindasan wanita atau pelenyapan nafsu birahi atas hasil analisa yang mengena tidak terhadap kaum dapat dijadikan sebagai bukti. Juga pemotongan

(9)

klitoris ini dilaksanakan di berbagai-daerah dalam berbagai bentuk keagamaan. Bagi orang luar, sulit untuk memahami keadaan ini, dan terusama sekali sejak dunia industri kehilangan pemahaman mengenai korban. Dikorbankan bukan sesuatu yang bagi seseorang tidak berarti atau yang tidak ada gunanya. Tidak demikian. Yang dikorbankan ialah sesuatu yang disayangi seseorang dan mahal harganya. Dari sudut analisa kejiwaan ditunjukkan bahwa ada kaitannya antara timbulnya kesakitan pada diri sendiri dan luka di satu sisi serta hilangnya atau di kesampingkannya ayah di isi lainnya. Pada dasarnya kami berperan bahwa ritus ini merupakan suatu fungsi dalam mekanisme budaya yang bersangkutan. Jika rasa sakit dihilangkan sama sekali, mungkin tidak dapat diterima.

Strategi baru ini berisi, ritus pada dasarnya dapat diterima, tetapi menjadi sedemikian rupa, hanya seperti luka kecil di kulit yang terjadi sehari-hari. Beberapa hal pokok harus tetap diperhatikan:

• Pembelahan dilakukan dengan alat bersih yang tepat (terutama dengan lanset steril).

• Perlu sangat berhati-hati, agar klitoris yang ada dibawah kulit tidak rusak!

• Segera setelah pembelahan luka di desinfeksi. Bila antiseptik tidak ada bisa digunakan alkohol.

• Bila belahan demikian (seperti luka kulit biasa) umumnya dalam beberapa hari sembuh, perlu dijamain adanya sirkulasi udara pada luka tersebut.3

Karena ada alasan untuk berharap, bahwa IP akan menggantikan kerusakan yang terjadi hingga saat ini, kita tidak dapat membiarkan adanya risiko terjadi infeksi. Hai ini berlaku untuk saat penggunaan awal, karena yang skeptis menentang perbaikan ini, akan menggunakan alasan infeksi untuk menolak strategi baru ini.

3 Pengikatan paha-paha, seperti umum dilakukan di beberapa tempat, berbeda dan menjadi suatu jaminan. Itu patut dikemukakan bahwa pada masa modern – ini penutup plasik untuk pria kerasal dari peninggalan masa tradisional – itu mempunyai pengaruh terhadap infeksi-infeksi juga dalam kondisi para pria yaitu bahwa selama tiga hari anak

(10)

6. Aspek-aspek strategis

Pengalaman menunjukkan bahwa hanya dengan melarang pemotongan klitoris hasilnya tidak ada. Secara konsekwen dalam melaksanakan srategi baru ini harus diambil langkah lain di antaranya: • Ritus tidak dilarang, bahkan sebaliknya dilakukan ole penyunat

profesional (sering wanita lanjut usia atau bidan), yang dengan demikian mempunyai pendapatan, mendapatkan lisensi - tetapi mereka diwajibkan memakai teknik BARU.

• Proses reformasi tidak membuang mereka, bahkan sebaliknya mereka diikutsertakan dan mendapat penghargaan.

Kita juga diajari bahwa, jika kita berusaha mencapai perubahan sementara kita mengabaikan struktur-struktur tradisional yang berlaku, kita juga menyebabkan terjadinya perusakan secara diam-diam dan tidak resmi terus berlanjut.

Dengan mengangkat ritus secara resmi masalah dapat dikendalikan. Langkah mencapainya secara diplomasi terletak di tangan NGO setempat dan para aktivis. Mereka memahami realitas budayanya masing-masing secara rinci. Sangat bermanfaat bila penyunat profesional di muka umum menerima teknik baru ini, hingga mereka terikat dengan kata mereka. Efektivitas penyebarannya tergantung pada strategi komunikasi yang dipakai. Alasannya ialah, supaya lebih mempermudah, maka teknik baru ini dapat didemonstrasikan di desa-desa, dengan mengunakan model-model vulva atau paling tidak dengan gambar-gambar, agar lebih jelas apa yang dimaksudkan dan bertujuan menghindarkan kesalahpahaman. Dalam pelaksanaannya di masyarakat dimana tidak selalu persoalannya jelas dipahami, diperlukan suatu pelaksanaan supervisi. Rasanya juga sangat bermanfaat, bila memungkinkan ritus yang direformasi didampingi sendiri.

Dalam diskusi dengan para wanita, yang sangat taat pada tradisi mereka, ternyata sangat besar manfaatnya untuk mengatakan kepada mereka, bahwa "Tuhan menciptakan wanita sedemikian rupa, karena Tuhan menghendaki wanita sedemikian adanya. Dan anda akan merusak apa yang telah diciptakan Tuhan sesuai dengan kehendakNya!" Argumentasi ini dapat menolong kita, untuk menggerakkan orang ini agar mereka tidak merusak klitoris anak gadisnya (atau juga klitoris mereka sendiri).

(11)

Bagaimanapun juga mekanisme kontrol diperlukan:

⇒ Harus dijamin, agar IP dilakukan dengan benar, tanpa melukai klitoris.

⇒ Para gadis harus diperiksa lebih dari satu kali, untuk mengambil tindakan bila terjadi infeksi dan untuk menghindari, kemungkinan terjadinya kerusakan.

Agar reformasi ritus dapat berhasil dengan baik, mereka dianjurkan perlunya menerima nilai-nilai baru. Dengan kata lain: Yang bersangkutan tidak boleh merasa bahwa perubahan ini mengakibatkan hilangnya budaya. Hal ini perlu dijelaskan kepada yang bersangkutan, terutama para gadis, bahwa teknik baru, merupakan suatu ritus transisi yang utuh dan sempurna, dengan cara ini semua tuntuan dipenuhi.

7. Harapan-harapan

Bila tindakan reformasi ini dilakukan secara resmi, paling tidak di kota-kota maka mereka akan terintegrasi dengan bidang kedokteran. Perlu dijelaskan, bahwa yang terjadi di Mesir, (seperti dikemukakan di atas) tidak dapat disamakan dengan etika kedokteran. Bukan maksudnya para gadis dirusak kelaminnya di rumah sakit, tetapi agar para medis bertindak bertanggung jawab dan menggunakan kesempatan untuk mengakhiri perusakan pada klitoris. Bila badan resmi menolak partisipasi, perusakan dilakukan secara rahasia, seperti kita lihat kenyataannya. Bila kebutuhan ritus diakui, berarti reformasi mengganti larangan dengan ajakan, pelaksanaan reformasi resmi dilakukan di rumah sakit (yang juga menjadi teladan di daerah pedesaan). Hasilnya ialah, berakhirnya penderitaan sebagai akibat perusakan. Sebagai gantinya adalah menjadi pengalaman positif -

• anestesi,

• infeksi nyata berkurang,

• tidak ada kerusakan, bahkan sebaliknya ada perbaikan dalam segi seksual,

• identitas budaya dilestarikan.

Dalam jangka panjang hal ini akan merupakan perubahan menyeluruh.

(12)

8. Umpan balik

Dalam upaya baru memerangi perusakan alat kelamin wanita agar berlangsung secara optimal, maka sangat diinginkan, agar hal ini digunakan di dalam budaya masing-masing yang tersebar luas dengan belajar dari pengalaman dan memperbaiki hal-hal yang mendetail. Oleh karena itu sangat bermanfaat, bila anda memperbanyak pedoman bimbingan ini dan menyebarluaskannya. Sangat penting untuk ada terjemahannya dalam bahasa daerah, baik sebagai makalah atau dalam bentuk sumber suara (tape).

Anda juga sangat menolong, bila anda mengumpulkan data tentang: − penerimaan,

− efektivitas, yang bersangkutan dikenalkan dengan cara baru, − diplomasi,

− presisi penyunatan yang dilaksanakan, − kondisi penyembuhan luka

− dll.

Bila anda berminat mendukung reformasi ini, silahkan anda kirim sumbangan (terjemahan, data, foto dll) kepada:

Dr. Arnold Groh

Laubenheimer Str. 36 D-14197 Berlin

Tilpun/Fax: +49+30-8227854 e-mail: [email protected]

Sumbangan anda dapat berguna untuk memperbaiki pedoman bimbingan yang berikutnya dan menjadikan strategi baru ini optimal. Tujuan kami ialah untuk menghindari kekejaman berlanjut.

Ingatlah akan semua gadis, yang tiap hari dirusak kelaminnya, oleh karena itu jangan buang waktu.

Lakukanlah sesuatu sekarang juga! © A. Groh, 1999-2003

Pedoman bimbingan ini boleh dikopi, diterjemahkan dan disebar- luaskan, tetapi hanya sebagai suatu keseluruhan dan tanpa merubah isinya. Dalam hal terjemahan dimohon, bahwa satu eksemplar terjemahan dikirim ke alamat penulis tsb. di atas.

Ins Indonesische übersetzt von / Translated into Bahasa Indonesia by: Prof. em. Dr.-Ing. W. Suhadi (Berlin) / Terry Bukorpioper (Biak, West Papua) / I Wayan Karyasa (Bali).

Gambar

Gambar 1: Gambar skema kelamin  wanita dengan kulit depan (praeputium  clitoridis), tanduk klitoris (glans

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan aspek – aspek yang dipertimbangkan orang tua siswa dalam memilih SMA Kristen YSKI sebagai tempat belajar bagi putra – putri mereka adalah adanya

Nurul Aini Huda, D1814109, PENGARUH SIKAP ASERTIF PUSTAKAWAN TERHADAP KENYAMANAN PEMUSTAKA DI BALAI LAYANAN PERPUSTAKAAN BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH

Saran yang dihasilkan dalam penelitian ini adalah mempromosikan SISKOTKLN pada CTKI, Eks-TKI dan PL, kemudian menjadikan Disdagnakerkop dan UKM Karanganyar serta PT

The final thought is not just the book Let's Go Camping!: Crochet Your Own Adventure By Kate Bruning that you search for; it is just how you will certainly get lots of publications

Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara kepada subjek penelitian anatara lain kepala sekolah, guru BK dan beberapa orang siswa di SMP IT- BUNAYYA

Kata Kunci : Hasil Belajar Materi Daur Hidup Hewan, Discovery Learning Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil pembelajaran IPA dapat diupayakan

Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep matematis siswa baik secara keseluruhan maupun siswa berkemampuan

Results showed that fermentation duration of 10-20 days has reached the optimum point of glucosamine production from shrimp shells using T.. The highest production of