• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II 

TINJAUAN KEPUSTAKAAN 

2.1

 

A

NATOMI DAN 

F

UNGSI 

P

ERITONEUM

Peritoneum merupakan selapis sel mesotelium komplek dengan membran basalis yang ditopang oleh jaringan ikat yang kaya akan pembu-luh darah. Peritoneum terdiri dari peritoneum parietal yang melapisi dinding bagian dalam rongga abdomen, diafragma dan organ retroperitoneum dan peritoneum visceral yang melapisi seluruh permukaan organ dalam abdomen. Luas total peritoneum lebih kurang 1,8 m2. Setengahnya ( ± 1 ) m2 berfungsi sebagai membran semipermeabel

terhadap air, elektrolit dan makro serta mikro molekul, (Witmann & Walker, 1994).

Fungsi utama peritoneum adalah menjaga keutuhan atau integritas organ intraperitoneum. Normal terdapat 50 mL cairan bebas dalam rongga peritoneum, yang memelihara permukaan peritoneum tetap licin. Karakter-istik cairan peritoneum; berupa transudat, berat jenis 1,016, konsentrasi protein kurang dari 3 g/dl, leukosit kurang dari 3000/uL; mengandung komplemen mediator sebagai antibakterial dan aktivitas fibrinolisis. Sirku-lasi cairan peritoneum melalui kelenjar lymph dibawah permukaan dia-fragma dengan kecepatan pertukaran cairan ekstrasellular 500 ml perjam. Melalui stoma di mesothelium diafragma partikel-partikel termasuk bakteri dengan ukuran kurang dari 20 ųm dibersihkan, selanjutnya di alirkan

(2)

teru-tama ke dalam duktus thorasikus kanan.

Peritoneum parietal disarafi oleh saraf aferen somatik dan visceral yang cukup sensitif terutama pada peritoneum parietal bagian anterior, sedangkan pada bagian pelvis agak kurang sensitif. Peritoneum visceral disarafi oleh cabang aferen sistem otonom yang kurang sensitif. Saraf ini terutama memberikan respon terhadap tarikan dan distensi, tetapi kurang respon terhadap tekanan dan tidak dapat menyalurkan rasa nyeri dan temperatur (Witmann & Walker, 1994).

2.2 D

EFENISI

Adhesi intraperitoneal didefenisikan sebagai jaringan fibrosa yang menghubungkan antara dinding rongga abdomen bagian dalam dengan permukaan organ tubuh yang terdapat dalam rongga abdomen (saluran cerna, uterus, kantung kemih dan lainnya) atau antar sesama organ in-traabdomen dimana dalam keadaan normal jaringan tersebut tidak ada. Reformasi adhesi adalah terulangnya adhesi setelah adhesiolisis. “De novo adhesion” adalah adanya adhesi baru yang terbentuk di lokasi yang sebelumnya tidak memiliki adhesi. ( Diamond MP & Orhon E 1996)

2.3 E

TIOLOGI

 

Banyak faktor yang dapat menimbulkan adhesi pascalaparotomi, antara lain; infeksi intrabdominal (peritonitis, endometriosis, apendisitis akut, diverticulitis, penyakit crohn’s, cholecystitis, penyakit radang pelvis ( PID), abses intraabdomen dan abses hati ) ( Perry dkk, 1955; Dizerega 2000 ) trauma (abrasi atau tindakan operasi yang kasar ), cedera panas

(3)

(kauterisasi, paparan lampu operasi), iskemia (termasuk jahitan yang tegang, tebal dan kasar, kauterisasi, kekeringan serosa, devaskulerisasi ), paparan benda-benda asing (bubuk tepung dari sarung tangan, serat-serat jaringan, atau potongan benang ), dan Iain-lain (Badawy & Iskandar, 1974; Ellis, 1982)

2.4 P

ATOFISIOLOGI 

P

EMBENTUKAN 

A

DHESI

 

2.4.1 RESPON TRAUMA PADA PERITONEUM 

Trauma pada jaringan mesothelium peritoneum menimbulkan reaksi inflamasi sebagai respon tubuh. Di tingkat selular, dilepaskan pros-taglandin dan diaktifkan komponen inflamasi seperti netrofil, makrofag, sel mast, basofil, platelet, sel endothelial limfosit dan leukosit. Sel mast me-lepaskan mediator inflamasi berupa histamin, serotonin, enzim lisosom, faktor kemotaksis, dan sitokin serta metabolit oksigen reaktif untuk mem-bunuh bakteri, mengeliminir benda asing dan memperbaiki fungsi tubuh baik secara anatomi dan fisiologi (Lai, dkk., 1993).

Histamin menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah peritoneum menghasilkan transudasi yang kaya fibrinogen ke dalam rongga peritoneum, dan menyebabkan netrofil memasuki daerah luka. Fungsi utama sel netrofil adalah fagositosis, menghancurkan bakteri dan membantu membersihkan jaringan yang mati. Infiltrasi sel netrofil menca-pai puncaknya setelah 24 jam dan secara perlahan digantikan oleh monosit. Monosit selanjutnya berubah menjadi makrofag yang akan melanjutkan penghancuran bakteri dan debrideman luka (diZerega, 2000).

(4)

Makrofag mensekresikan Transforming Growth Factor Beta (TGF β) yang merangsang proliferasi fibroblast dan regulasi sel mesotelium untuk menghasilkan fibrin. Pada hari kedua makrofag akan membentuk lapisan pada peritoneum yang mengalami trauma. Deposit fibrin akan terbentuk antara 48 sampai 72 jam pascalaparotomi. Pada hari ketiga dan keempat terjadi infiltrasi dan proliferasi sel fibroblast. Pada saat ini juga terjadi pro-liferasi sel endotel pada proses neovaskulerisasi, proses re-epitelisasi dan ditemukan deposit kolagen yang menetap di jaringan peritoneum (Lai, dkk., 1993).

Fibrinolisis dimulai minimal tiga hari setelah trauma dan meningkat pesat pada hari kedelapan setelah regenerasi sel mesotelium secara komplek. Bila proses fibrinolisis berlangsung normal maka pada hari

keempat dan kelima sel mesotelium akan tumbuh di sepanjang garis luka

dan menutupi kerusakan secara total. Mulai hari ke lima dan keenam jum-lah makrofag akan menurun dan pada hari kedelapan sel mesotelium akan menutupi luka dan beregenerasi secara komplek ( Witmann & Walker, 1994; Holmdahl, 1997).

Seluruh permukaan peritoneum yang mengalami trauma akan mengalami reepitelisasi secara simultan sehingga defek peritoneum baik besar maupun kecil akan sembuh secara sempurna dengan sama cepat. Berbeda pada kulit, proses penyembuhan terjadi secara sentripetal dari pinggir luka (Witmann & Walker, 1994).

(5)

Lamanya proses penyembuhan untuk peritoneum parietal sekitar 5-6 hari dan peritoneum visceral membutuhkan waktu 5-8 hari ( Ellis, 1982 ).

2.4.2 MEKANISME TERJADINYA ADHESI 

Secara normal penyembuhan luka terjadi tanpa adanya pembentu-kan adhesi (Johnson & Whitting, 1980; Ellis, 1982; Holmdahl, dkk, 1997). Kerusakan jaringan akan diikuti dengan pembentukan fibrin. Trom-boplastin, protrombin dan trombin akan mengaktifasi fibrinogen menjadi fibrin. Bekuan platelet yang berasal dari agregasi platelet bersama dengan bekuan fibrin membentuk jaringan fibrin.

Banyak studi eksperimental telah membuktikan bahwa berbagai bentuk cedera pada mesothelium secara nyata menurunkan potensi fibri-nolisis. Whitaker dkk, menunjukkan bahwa kultur murni sel mesothelium memiliki kemampuan fibrinolisis. Didukung suatu studi Antibodi Inhibisi dan Antigenik Immunoassays yang menjelaskan bahwa tissue Plasmino-gen Activator (tPA) adalah plasminoPlasmino-gen aktivator utama pada biopsi peri-toneal manusia, yang merangsang lisisnya fibrin dan mencegah perleka-tan serosa ( Mireille van Westreenen 1998 ).

Namun, selama periode awal setelah pembedahan terjadi proses iskemia dan inflamasi, hal ini menyebabkan Plasminogen Activator Activity

(PAA) menghilang ini terutama dikaitkan dengan peningkatan dramatis

Plasminogen Activator inhibitor (PAI) dalam peritoneum yang cedera.

Pengamatan pada sel menunjukkan PAI dihasilkan oleh mRNA hibridis-asi. Studi-studi ini menegaskan bahwa mesothelium memainkan peran

(6)

penting dalam penghambatan fibrinolisis peritoneum akibat cedera ( Mireille van Westreenen 1998 )

Terganggunya proses fibrinolisis maka makrofag akan bertahan dan fibroblast berproliferasi. Dalam waktu lima hari jaringan fibrin yang terben-tuk akan digantikan oleh sel fibroblast dan jaringan kolagen serta pemben-tukan pembuluh darah baru, akan membawa anti-plasmin untuk melawan efek fibrinolisis dan mempertebal jaringan fibrosa untuk membentuk ad-hesi fibrosa yang permanen (Evans, dkk., 1993, Holmdahl & Risberg, 1997, Eko & Sutanto, 1997),

Gambar I. merupakan skematik dugaan mekanisme pembentukan adhesi yang dijelaskan oleh Gutman dan Diamond.

                              Migrasi & Frolif‐ erasi Fibrinoblas‐ tik  Pembentukan  Adhesion  Fibrin split   Products Plasminogen activator  (di Submesothelium)  Fibrinolysis tidak  adequate (Ischemia,  abrasi, deposisi fi‐ brin berlebihan)  Fibrinolysis  Awal dari kaskade kom‐ plemen  Perdarahan Intra‐ abdominal  Eksudat Inflammasi, Ma‐ trik Fibrin degan Elemen  sellular Plasminogen Plasmin Fibrin Hilangnya Sel Mesothelial  Peningkatan Permeabilitas  Pelepasan Tromboplastine  Cedera Peritoneum Berkebangnya  Auto Antibodi 

(7)

Gambar 1. Mekanisme untuk pembentukan adhesi. ( Dari Gutman dan

6,7

Diamond).

2.5 D

ERAJAT 

A

DHESI 

I

NTRAABDOMEN

 

Derajat adhesi digunakan untuk menilai tingkat keparahan adhesi, berguna untuk penelitian dan klinis. Derajat ini dinilai baik secara mak roskopis maupun mikroskopis. Derajat adhesi yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut

Table 1. Grading of adhesi Menurut Zuhike et al *

skor Derajat Deskripsi

0 Tidak ada pe-lekatan

1 Filmy adhesi diperlukan pembedahan tumpul yang lembut, untuk pembebasan adhesi

2 Mild adhesi diperlukan pembedahan tumpul agresif un-tuk membebaskan adhesi

3 Moderat adhesi pembedahan tajam diperlukan untuk mem-bebeskan adhesi

4 Severe adhesi diperlukan diseksi untuk membebaskan ad-hesi, tidak dapat dihindari kerusakan organ * nilai adhesi berdasarkan masing-masing lokasi termasuk garis tengah,

adnexa / subcutis, perut bagian atas (hati), peritoneum parietalis, omentum, dan diantara loop usus. Jumlah lokasi tersebut membentuk adhesi total skor (0-24).

Table 2. Derajat vaskulerisasi adhesi menurut Hulka modifikasi Omran dan Berger, 1978.

Derajat Diskripsi Grade 0 Tidak ada adhesi

Grade I filmly, Adhesi yang avaskuler, mudah dipisahkan dan terbatas hanya pada satu tempat

Grade 2 Adhesi yang memiliki vaskulerisasi, tebal dan meninggalkan permukaan yang kasar setelah dilakukan pemisahan, tetapi masih terbatas pada satu tempat

(8)

Grade 3 Adhesi yang telah meluas di beberapa tempat

2.6 U

SAHA UNTUK 

P

ENCEGAHAN 

A

DHESI 

I

NTRAPERITONEUM

 

Setiap usaha pencegahan adhesi harus dimulai sejak prosedur pembedahan dimulai dan dilanjutkan selama tiga sampai empat hari sete-lah operasi (Witmann & Walker, 1994). Upaya pencegahan dapat dilaku-kan dengan menggunadilaku-kan teknik operasi mutakhir misalnya laparoskopik dan menciptakan keseimbangan proses fibrinogenesis dan fibrinolisis (Risberg, 1997). Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa cara:

2.6.1 PENCEGAHAN DEPOSISI DARI FIBRIN 

Antara lain dengan penggunaan anti-koagulan seperti sodium si-trat, heparin, dikumarol dan dextran atau aprotinin (Trasylol). Anti-koagulan akan mencegah tebentuknya bekuan dan pembentukan fibrin.

2.6.2 MENGHILANGKAN EKSUDAT FIBRIN DARI RONGGA PERITONEUM 

Fase awal terbentuknya adhesi adalah perlengketan organ visceral yang berdekatan karena eksudat fibrin. Untuk mencegah terjadinya or-ganisasi eksudat fibrin sehingga menjadi permanen, digunakan agen-agen fibrinolitik. Agen fibrinolitik bekerja secara langsung dengan

mengu-rangi massa fibrin dan secara tidak langsung dengan merangsang aktivi-tas plasminogen activator. Beberapa contoh agen fibrinolitik ini adalah

fi-brinolisin, streptokinase, urokinase, hyaluronidase, kimotripsin, tripsin pepsin dan plasminogen activator. Penggunaan recombinant tissue

(9)

ter-jadinya adhesi. Evans, dkk., (1993), dalam penelitiannya membuktikan bahwa walaupun rtPA akan mencegah ataupun memodifikasi pembentu-kan adhesi intraabdomen, sangat tergantung pada dosis pemakaian. 2.6.3 PENCEGAHAN PROLIFERASI FIBROBLAST 

Proliferasi fibroblast dapat di cegah oleh agen antiinflamasi seperti

kortikosteroid, NSAID (tolmetin, ibuprofen, dan indometasin, ketorolak ), antihistamin ( prometazin ) progesteron, Ca bloker dan kolkisin.

Mekan-isme kerja secara umum menghambat sintesis dan aktivasi pros-taglandin, mengurangi agregasi platelet, menurunkan permeabilitas vaskular dan menghambat aktivitas sel-sel PMN, meningkatkan fungsi makrofag sebagai fagosit, pengurangan sekresi inhibitor plasminogen, mencegah pembentukan dan pelepasan histamin dan menstabilkan li-sosom.

NSAID meningkatkan produksi IL-10 yang mengaktifkan proses fib rinolitik, menghambat neovaskularisasi, mengurangi migrasi dan prolif-erasi fibroblast serta produksi kolagen sehingga deposit fibrin yang ter-bentuk dapat lisis dan mencegah terter-bentuknya adhesi fibrosa yang per-manen (Witmann & Walker 1994).

2.6.4 PEMISAHAN MEKANIK 

Barier antiadhesi ada 2 jenis; barier cairan makro molekul dan bar-ier mekanik. Barbar-ier ideal adalah; aman dan efektif, tidak merangsang reaksi inflamasi, non imunologik, bertahan selama fase remesotelialisasi, tidak perlu dijahit, aktif dalam lingkungan berdarah, biodegradasinya sem-purna, tidak mempengaruhi proses penyembuhan luka, tidak

(10)

meningkat-dextran 70, asam hyaluronat, HA-PBS/aseprocoat, dan karboksi metil se-lulosa. Sedangkan contoh barier padat yaitu transplant peritoneal autolo-gous, PTFE (Goretex), oxidized-regenerated cellulosa (Interceed), dan HA CMC (Seprafilm).

Rangkuman klassifikasi bahan pencegah adhesi dimuat dalam ta-ble berikut ini, yang di ambil dari modifikasi oleh Cutmann dan Diamond. Table 3. Klassifikasi bahan Pencegah adhesi :

Pemisahan Mekanik Instilasi intraabdomen Dextran Mineral oil Silicone Povidone Vaseline Crystalloid solutions Carboxymethylcellulose Barrier Jaringan endogen Ornental grafts Peritoneal grafts Bladder strips Fetal membranes Bahan eksogen Oxidized cellulose

Oxidized regenerated cellulose Polytetrafluoroethylene

Gelatin

Rubber sheets Metal foils Plastic hoods

(11)

Hyaluronic acid

Photopolymerizable gel Reverse thermal gelation gel

Antikoagulan Heparin Citrates Oxalates Anti inflamasi Corticosteroids

Nonsteroidal anti inflammatory drugs Antihistamines Progesterone

Calcium channel blockers

Antibiotik Tetracyclines Cephalosporins Fibrinolitik Fibrinolysin Papain Streptokinase, Urokinase

Hyaluronidase, Chymotrypsin, Trypsin Pepsin

Plasmin activators

2.6.4.1 Methylen blue 

Methylen blue merupakan senyawa kimia dengan nama kimia : 3,7-bis(Dimethylamino)-phenothiazin-5-ium chloride mempunyai rumus molekul : C16H18 N3SCl,. Pada temperatur ruang berbentuk serbuk

(12)

berat molekul rendah, larut dalam air dan lemak. Membentuk hydrat mempunyai 3 molekul air dari setiap molekul. Methylen blue tidak akan merusak jaringan tubuh atau jaringan histologi lainnya.

Rumus bangun:

Penggunaan klinis sebagai zat pewarana pada pemeriksaan histo-patologik (Wright's stain & Jenner's stain ), anti serotonin toxicity, MAOI (monoamine oxidase inhibitor ) Anti malaria (Paul Ehrlich 1891), anti do-tum pada keracunan sianida ( 1 – 9 mg/kg bb ), zat pewarna pada endoscopic polypectomy , untuk membedakan dysplasia, identifikas fistel, dan sentinel lymph node.

Selain itu methylen blue diketahui menghambat pembentukan ok-sigen radikal seperti superoksida dengan cara berkompetisi dengan oksi-gen untuk transfer elektron dari flavor-enzim, terutama xantina oksidase. Efek ini menyebabkan hambatan pada pembentukan mediator inflamasi, yang pada akhirnya menghambat pembentukan adhesi ( Galili dkk. 1998 ). Sebelumnya Prien dkk ( 1995 ) menemukan methylen blue merangsang aktifitas makrofag yang pada akhirnya merangsang pembentukan adhesi.

Suatu penelitian pengaruh methylen blue terhadap pembentukan adhesi intraperitoneal pada tikus, dengan dosis yang berbeda ( Kluger dkk, 2000 ) menyimpulkan bahwa pada dosis kecil methylen blue menghambat pembentukan adhesi sedangkan pada dosis besar

(13)

merang-sang pembentukan adhesi. Kluger juga menjelaskan konsentrasi terbaik methylen blue mencegah adhesi adalah 1% dengan dosis 7 ml/kgbb. Ali Celik M.D ( 2008 ) dkk. juga menemukan bahwa methylene blue pasca-operasi mencegah adhesi (p <0,05).

2.6.4.2 Dextran 70 

Dextran suatu kompleks polisakarida berviscositas tinggi. Panjang rantai bervariasi (dari 10 - 150 kilo daltons). Memiliki Berat Molekul 40.000 ( dextran 40 ) dan BM 70.000 ( dextran 70 ) dengan rumus molekul : H(C6H10O5)xOH.

Manfaat klinis sebagai antithrombotik ( antiplatelet ), Plasma ex-pander, dan sebagai barier antiadhesi intrabdominal pascaoperasi laparotomi.

Mekanisme kerja sebagai antiadhesi dengan cara: (1) pemisahan organ-organ secara mekanis; (2) proses pembungkusan permukaan jaring an; dan (3) mengubah struktur fibrin, yang membuat fibrin rentan men-galami proses lisis. (Tangen, dkk, 1972), (4) efek dilusi dari bekuan fibrin dan faktor kemotaksis lainnya yang mencetuskan terbentuknya adhesi, (5) juga memiliki aktifitas penghambat lymposit dan makrofag ( Polishuk & Aboulafia, 1967).

(14)

Dextran 40 tidak menunjukkan manfaat antiadhesi, karena terab-sorpsi cepat dalam rongga peritoneum.

Dextran 70 tersedia dalam dua konsentrasi 6 % dan 32%. Menurut penelitian ( Soules MR dkk ) tidak terdapat perbedaan antara 6% dextran 70 dan 32% dextran 70 dalam pencegahan adhesi intraperitoneal. Utian dkk (1979) tidak menemukan adanya perbedaan terjadinya adhesi dan tingkat fertilitas antara kelompok dextran 6% dengan 32%. Holtz dkk (1980) melaporkan berkurangnya angka adhesi dengan dosis rendah dex-tran 6% setelah trauma peritoneum, tetapi tidak didapati perbedaan angka kejadian adhesi setelah tindakan lisis dan terapi dengan dosis rendah.

Efek samping yang dilaporkan tidak banyak, meliputi anaphylaxis, volume berlebihan, edema paru, edema cerebral, dan kelainan fungsi platelet. komplikasi signifikan akibat efek osmotik dextran adalah Gagal Ginjal Akut. Pathogenesis gagal ginjal banyak diperdebatkan antara efek toksik langsung terhadap tubulus dan glomerulus yang lain efek hyper-viskositas intraluminal. Pada pasien dengan riwayat diabetes melitus, in-sufisiensi ginjal, kelainan vaskuler dextran beresiko lebih tinggi, sehingga penggunaannya tidak dianjurkan

2.6.4.3 Oxidized Regenerated Cellulose. 

Bahan ini tersedia dalam bentuk membran atau gel. Mekanisme kerjanya dengan memisahkan permukaan peritoneum yang rusak atau cedera yang mungkin beresiko untuk terjadi adhesi. Bahan ini berpengaruh hanya lokal di tempat diletakkan, tidak berpengaruh pada tempat lain di rongga peritoneum.

(15)

Bahan membran barier yang pertama dan terbanyak digunakan pada manusia adalah “Oxidized Regenerated Cellulose” dikenal sebagai “Interceed” (Johnson & Johnson, New Brunswick, NJ). Bahan ini merupakan pengembangan dari “oxidized cellulose”, bahan ini memiliki sifat:

 Memiliki aktifitas bakterisida terhadap gram positif dan gram negatif termasuk bakteri yang resisten terhadap antibiotik (MRSA, VRE, PRSP dan MRSE)

 ORC Natural produk dengan reaksi minimal pada jaringan sekitar  Diserap penuh dalam waktu 7 – 14 hari

 Bahan yang tipis, fleksibel dan mudah dipotong dan dibentuk sesuai permukan penerima, dan mudah lengket tanpa penjahitan

 Pencegahan adhesi bersifat lokal pada daerah yang ditutupi

Meskipun penelitian menunjukkan OCR sukses dalam mengurangi pembentukan adhesi dalam prosedur kebidanan, penggunaannya secara umum pada prosedur bedah tidak diketahui. Selain itu, telah diketahui bahwa penggunaan interceed, tidak dianjurkan pada daerah yang per-gerakanya tinggi dan daerah dimana genangan darah atau cairan tidak dapat dihindari misalnya didaerah dasar panggul. Hal ini dikarenakan, kemanjuran Interceed dapat berkurang secara signifikan (Craig IB, Doug-las T, Carlos ES , 1991 )

Gambar

Gambar I. merupakan skematik dugaan mekanisme pembentukan  adhesi yang dijelaskan oleh Gutman dan Diamond
Gambar 1. Mekanisme untuk pembentukan adhesi. ( Dari Gutman dan   Diamond).  6,7

Referensi

Dokumen terkait

Atau tanah yang mempunyai daya dukung yang cukup untuk memikul berat bangunan dan seluruh beban yang bekerja berada pada lapisan yang sangat dalam dari permukaan tanah

• JARINGAN INI TERDAPAT PADA PERMUKAAN TUBUH, PERMUKAAN ORGAN, MELAPISI RONGGA, ATAU MERUPAKAN LAPISAN SEBELAH DALAM DARI SALURAN YANG ADA DALAM TUBUH, MISALNYA DALAM SALURAN

Jaringan ini terdapat di permukaan tubuh, permukaan organ, melapisi rongga, atau merupakan lapisan di sebelah dalam dari saluran yang ada pada tubuh (sebelah

Insisi awal ( pembukaan rongga abdomen) dibuat secara melintang melalui daerah peritoneum uterus, yang menempel dengan kendur tepat diatas kandung kemih. Lipatan

rugi-laba.. Arus data yang menghubungkan perusahaan yang menghubungkan perusahaan dengan pelanggannya mirip dengan arus yang menghubungkan perusahaan dengan pemasoknya. Pesanan

Bentuk butiran dan tekstur permukaan agregat halus berpengaruh pada kadar rongga udara pasir, karena itu kadar rongga udara yang aktual dan kadar air harus

Jaringan ini terdapat di permukaan tubuh, permukaan organ, melapisi rongga, atau merupakan lapisan di sebelah dalam dari saluran yang ada pada tubuh (sebelah

Panas merupakan sifat dari reaksi peradangan yang terjadi pada permukaan tubuh, dalam keadaan normal permukaan tubuh lebih dingin dari 37 0 C, daerah peradangan pada kulit