vn.
KEBERLANJUTAN SKIM KARYA USAHA MANDIRISetelah memahami mekanisme pengajuan dan penyaluran kredit KUM, dimana skim K I M memiliki karakteristik yang khusus yang dapat menjamin tingkat pengembalian kredit, maka kemudian yang menjadi persoalan adalah sejauhmana skim KUM nantinya dapat berlanjut untuk melayani pesertanya di masa-masa yang akan datang.
Konsep tentang keberlanjutan (.susfainabiIi/y) dalarn kasus ini adalah kemampuan skim KLIM untuk dapat terus menjalankan operasinya sebagai sebuah lembaga pembiayaan pembangunan bagi rumahtangga miskin di pedesaan. Mengingat dalam menjalankan operasinya KUM juga memperoleh biaya dari lembaga lain dengan tingkat bunga pinjaman tertentu, maka KUM hanya akan berlanjut bilamana secara finansial juga dapat me~lunjukkan kemampuannya untuk menutup seluruh ongkos operasinya. Di sisi lain, karena sasaran utamanya adalah rumahtangga miskin, maka keberlanjutan skim KUM tidik akan dapat dilakukan bilamana masyarakat miskin yang menjadi sasaran KUM tidak memperoleh manfaat dari keikutsertaannya dalam skim ini.
Ur~tuk menjamin agar dapat berlanjut, maka tentu saja diperlukan suatu upaya- upaya yang khusus agar organisasi dan mekanisme delivery dapat berjalan secara efisien dan efektif. Disamping itu skim ini juga harus memiliki kemampuan untuk mendorong secara akl.if dan dapat memberikan inspirasi sasaran untuk meningkatkan kemampuan usahanya, meningkatkan produktivitas dan pendapatannya yang pada gilirannya masyarakzlt miskin dapat keluar dari garis kemiskinan. Tanpa ini semua, akan sangat sulit untuk berl,mjut.
7.1. Viabilitas Finansial
Viabilitas finansial adalah suatu kondisi dimana suatu skim kredit dapat menutupi seluruh biaya operasional dari pendapatan yang diperoleh (bunga) yang dibayar oleh peminjam (peserta).
Dengan menggunakan formula viabilitas finansial sebagaimana telah dikemukakan pada bab metoda analisis, dan perhitungan biaya yang digunakan adalah biaya total penyelengaraan skim KUM, yang didalamnya terdiri dari biaya operasional dan biaya penyusutan, viabilitas finansial skim KUM selama periode 1993 hingga 1999 dapat dilihat pada Tabel 9. Dari Tabel 9. tersebut tampak bahwa secara finansial sebenarnya skim ini mengalami tingkat viabilitas finansial yang layak pada tahun 1993 hingga tahun 1994. Selanjutnya pada tahun 1995 hingga tahun 1999 tingkat viabilitas finansialnya semakin menurun.
Menurunnya tingkat viabilitas KUM pada periode 1995-1999 disebabkan oleh banyak filktor. Melihat komponen pembentuk viabilitas finansial dapat dikemukakan bahwa sernakin tingginya biaya yang dikeluarkan untuk setiap unit pinjaman KUM pada tahun 1995-1999 diduga merupakan sebab utama tidak dicapainya viabilitas finansial. Bila pada tahun 1995 diperlukan Rp 0.28 untuk setiap unit pinjaman, maka nilai tersebut cenderung meningkat hingga tahun 1998. Pada tahun terakhir ini biaya yang diperlukan untuk setiap Rp 1,- pinjaman adalah Rp 0.46. Nilai ini kemudian menurun menjadi Rp 0.44 pada. tahun 1999.
r = tingkat bungalunit pinjaman
I = biaya untuk mendapatkan pokok pinjaman
a = biaya administrasi dan supervisi
L = f l m i a l losslunit pinjaman
Tabel 9. Viabilitas Finansial Skim KUM Atas Biaya Total Tahun 1993-1999
Kenyataan lain yang dapat dikemukakan disini adalah bahwa tingkat viabilitas Tahun 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999
finansial KUM juga masih rendah meskipun biaya pemberian pinjaman hanya memperhitungkan biaya operasional (tanpa biaya penyusutan). Hal ini terlihat dari Tabel
Keterangan : L 0.04 0.08 0.06 0.03 0.02 0.02 0.02
10. Data yang ditampilkan pada Tabel 10 menunjukkan bahwa KUM dapat mencapai tingkat viabilitas finansial pada tahun 1993-1994, sedangkan pada tahun 1995-1999
a
0.29 0.22 0.28 0.30 0.42 0.46 0.44tingkat viiibilitas finansial tidak dapat dicapai kembali. Apalagi sejak tahun 1996 KUM melakuka~~ kebijakan untuk menumnkan bunga pinjaman dari 40% per tahun menjadi
I 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06 0.06
35% per t;ahun. Dengan kebijakan bam ini pencapaian tingkat viabilitas finansial menjadi semakin jauh.
Nilai Hasil Bagi ( i + a + L ) / ( l - L ) 0.40 0.39 0.42 0.40 0.51 0.55 0.52 r 0.40 0.40 0.40 0.35 0.35 0.35 0.35 Kesimpulan Viable Viable Tidak Viable Tidak Viable Tidak Viable Tidak kable Tidak Viable
Tzibel 10. Viabilitas Finansial Skim KUM Atas Biaya Operasional Tahun 1993-1999
r = tingkat bungalunit pinjaman
I = biaya untuk mendapatkan pokok pinjaman
a = biaya administrasi dan supervisi L = finansial losdunit pinjaman
Dari gambaran tersebut tampak bahwa dilihat dari segi viabilitas finansial, skim KUM masih belum dapat mencapai tingkat viabilitas finansial. Kalaupun skim KUM masih tetap bertahan untuk melakukan operasi, ha1 ini disebabkan karena KUM masih memperoleh pendapatan non operasional yang berasal dari bunga dari dana KUM yang disimpan ~dalam bank. Artinya, keberlanjutan KUM hingga kini didukung oleh pendapatan non opera.sional. Besarnya sumber pendapatan ini berkisar antara 6.2% hingga 38.3%. Dengan bungs bank (dalam bentuk rekening giro) yang rata-rata nilainya adalah 7.0% per tahun, maka persentase dana KUM yang disimpan di bank dibandingkan dengan dana
123 yang disalurkan pada periode tahun 1993-1999 berkisar antara 0.63% hingga 21.3%. Pendapata.n non operasionl tertinggi terjadi pada tahun 1998 dan terendah tejadi pada tahun 1994. Keberlanjutan KUM pada tahun 1995 hingga saat ini lebih disebabkan karena adanya dukungan pendapatan dari sumber ini.
Namun demikian masih terbuka kemungkinan bagi skim ini untuk mencapai tingkat viabilitas finansialnya secara mandiri tanpa menggantungkan pendapatan dari sumber pendapatan non operasional. Beberapa langkah yang dapat ditempuh skim KUM
untuk dapat mencapai tingkat viabilitas finansial adalah :
1. Meningkatkan efisiensi petugas lapang dalam menangani Rembug Pusat. Artinya, setiap petugas lapang hams dapat meningkatkan jumlah peserta yang b e r h l i t a s . Dengan demikian jumlah penyaluran kredit yang disalurkan oleh setiap petugas menjatli lebih besar. Kondisi ini dalam jangka panjang akan dapat menurunkan biaya setiap rupiah pinjaman yang disalurkan.
2. Meningkatkan batas maksimum kredit (lmn size) untuk setiap unit pengajuan kredit. Dengan jumlah anggota yang sama ha1 ini akan memperbesar jumlah kredit yang disalurkan, sehingga efisiensi biaya untuk setiap Rp 1,- yang disalurkan dapat ditinglcatkan.
3. Mend,apatkan dana murah dari sumber pembiayaan lain, misalnya dari program PUKE: (pengembangan usaha kecil dan koperasi) yang dananya berasal dari 5% keunt~~ngan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Bila ini dapat dilakukan, maka akan mengurangi biaya modal pinjaman (i), yang pada gilirannya akan dapat mempercepat tercapainya viabilitas finansial. Sumber lain yang dapat ditempuh adalah memperoleh dari lembaga donor internasional yang bergerak pada upaya-
upaya mengurangi kemiskinan melalui bantuan kredit. Lembaga-lembaga yang demikian umumnya menyediakan dana murah (sc#t loan) untuk program-program yang mempunyai tujuan-tujuan yang telah disebutkan diatas.
4. Meningkatkan biaya administrasi (bunga) kredit. Sebagaimana langkah-langkah sebelumnya, langkah ini harus diperhitungkan secara hati-hati agar tujuan untuk menir~gkatkan pendapatan peserta melalui skim ini tetap dapat dicapai tanpa harus meng~rbankan viabilitas finansial lembaga.
Sel~ubungan dengan langkah kebijakan keempat tersebut, menarik untuk mengamati fakta di lapangan yang menunjukkan bahwa tingkat bunga pinjaman sebesar 35% per t,ahun yang dikenakan kepada peserta KUM sebenarnya sudah cukup besar bila dibandinglcan dengan tingkat suku bunga pinjaman komersial yang berkisar antara 22%- 23% per 1:ahun. Namun tingkat suku bunga yang dikenakan KUM kepada pesertanya masih lebih rendah dibandingkan dengan tingkat suku bunga pinjaman yang ditawarkan oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang berkisar antara 3% hingga 5% per bulan atau 36%-60% per tahun. Bahkan apabila dibandingkan dengan tingkat bunga pinjaman yang dikenakan oleh bank harian, atau pelepas uang di lokasi penelitian, beban bunga yang harus dibayar oleh peserta KUM masih lebih rendah. Sebagai gambaran dapat dikemukakan bahwa bunga pinjaman yang dikenakan oleh bank harian di lokasi penelitian adalah sebesar 15%-20% per bulan atau setara dengan 225% hingga 240% per tahun.
Disiamping itu, biaya atau bunga untuk memperoleh pokok pinjaman yang harus dibayar olt:h KUM adalah sebesar 6% per tahun. Kecilnya biaya bunga yang dibayar ini adalah karena KUM termasuk kategori program pengentasan kemiskinan yang perlu
memperoleh kemudahan dana berbunga murah mengingat sasaran akhir yang hendak dicapai adalah mengentaskan kerniskinan di wilayah pedesaan
Tabel 11. Viabilitas Finansial Skim KUM Atas Biaya Total Tahun 2000-2005
Asumsi-asumsi : L = 1.5% ; i = 6%; r = 35%; a = 0.27/Rp 1,- yang disalurkan, terjadi kenaikan 5Ydtahun)
Derlgan kondisi tingkat tunggakan sebesar 1.5%, tingkat bunga pinajman dari Jumlah Kredit yang
Hams Disalurkan (RP 000,) 553 568 581 246 610 309 640 824 672 865 706 509
oihak ketiga adalah 6% per tahun, biaya transaksi untuk setiap rupiah yang disalurkan Keterar~gan :
r
= tingkat bungalunit pinjamanI = biaya untuk mendapatkan pokok pinjaman a = biaya administrasi dan supervisi
L = finansial loss/unit pinjaman
r 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 a i
dapat dipertahankan sebesar Rp 0.27, dan tingkat bunga yang dikenakan pada peserta Nilai Hasil Bagi
( i + a + L ) / ( l - L ) 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35 0.35
KUM adalah sebesar 35% per tahun, maka untuk dapat mencapai tingkat viabilitas finansial lanpa menggantungkan pendapatan non operasional, maka KUM hams
126 meningkatkan volume penyaluran kredit sebesar hampir 80% pada tahun 2000, yaitu sebesar IZp 553 558 000 dibandingkan pada tahun 1999. Untuk tetap dapat mempertahankan viabilitas finansial pada tahun-tahun selanjutnya, dan dengan asumsi- asumsi seperti tersebut diatas, maka penyaluran pinjaman KUM harus meningkat secara konsisten sebesar 5% per tahun. Analisis perhitungan tersebut dapat dilihat pada Tabel
11.
Terkait dengan pembahasan tentang viabilitas finansial, utamanya yang menyangkut tingkat suku bunga, maka perlu untuk menganalisis sejauhmana tingkat paritas bunga, yaitu suatu tingkat bunga yang secara dapat diperbandingkan dengan tingkat bunga umum (tingkat bunga sepadan). Apabila nilai hasil bagi analisis viabilitas finansial E;UM selama periode 1993-1999 (atas biaya operasional) dibandingkan dengan tingkat bunga skim kredit sejenis di lokasi penelitian, yaitu tingkat bunga simpanan pedesaan (Simpedes) produk dari dari Bank Rakyat Indonesia-Unit (BRi-Unit), yang menawark,an bunga kredit sebesar 1.5% per bulan atau 18% per tahun, maka akan terdapat terdapat s~slisih bunga berkisar antara 21% hingga 35%. Dengan demikian besarnya lumpsum transfer kepada
KUM
atas biaya operasional pada periode tersebut berkisar antara Rp 04 800 000 (tahun 1993) hingga Rp 236 100 000 (tahun 1998). Sedangkan total lumpsum transfer kepada KUM atas biaya operasional adalah sebesar Rp 1 427 725 000. Perkembangan tingkat paritas bunga dan nilai lumpsum transfer dapat dilihat pada lampiran.7.2. Vial~litas Kelembagaan
Analisis tentang keberlanjutan sebuah skim kredit erat kaitannya dengan analisis tentang kelembagaan. Hal ini disebabkan oleh karena aspek kelembagaan memiliki peranan sentral dalam proses menuju kearah keberlanjutan itu sendiri. Artinya, keberlanj~~tan sebuah skim kredit, selain ditentukan oleh viabilitas finansial, juga ditentukan oleh sejauh mana kelembagaan (organisasi dan aturan main) berpeluang menjamin pencapaian keberlanjutan tersebut.
Kt:lembagaan memiliki dua pengertian, yaitu organisasi dan aturan main Kelembagaan tentang aturan main, utamanya menyangkut prosedur seleksi (screenirrg), sistem ins.entif (incentive) dan persoalan yang berkaitan dengan enforcement, merupakan ha1 yang sangat penting dalam kaitannya dengan viabilitas kelembagaan. Bilamana ketiga persoalan tersebut ada dalam sebuah skim kredit, dijaga dan diatur secara built-in, maka viabilitas kelembagaan suatu skim kredit diduga akan dapat dipenuhi, yang pada gilirannya dapat mendorong tercapainya keberlanjutan skim tersebut.
Dilihat dari sisi lembaga (lender), dalam ha1 ini KUM, masalah screening, incentive 13an enforcement sangat menentukan apakah KUM akan dapat mencapai sasaran kredit (bc~rrower) secara tepat, dapat mendorong sasaran kredit bersedia membayar kembali pinjamannya, dan yang lebih penting lagi adalah bahwa peminjam bersedia memenuhi kewajibannya tepat waktu sesuai dengan kontrak yang telah disepakai antara
KUM dengan peminjam. Bila ha1 ini dapat dicapai, maka pada gilirannya akan dapat menjamin tercapainya viabilitas kelembagaan yang merupakan komponen penting untuk mencapai keberlanjutan (msta~nability) dalam arti yang sebenarnya.
128 Dalam skim kredit KUM, persoalan screening, incentive dan erforcemenl dapat dianalisis :iebagai berikut :
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa screening adalah suatu tahap kegiatan yang dilakukan oleh suatu lembaga kredit yang bertujuan untuk menjaring informasi sesempurna mungkin tentang karakter calon peserta kredit. Banyak instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan tahap ini, misalnya dafiar pertanyaan tentang sumber-sumber penghasilan untuk mengetahui kemarnpuan membayar kembali pinjaman, jenis-jenis pekerjaan yang dilakukan calon peminjam, karakter calon peminjam, sejarah perkreditall yang pernah dilakukan, dan lain sebagainya. Sasaran akhir yang hendak diperoleh adalah bahwa informasi menyeluruh tentang calon peminjam, sehingga dapat ditentukan apakah calon peminjam termasuk dalam kategori prospecfive borrower atau tidak.
Dalam skim KUM, instrumen awal yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang karakteristik calon peminjam adalah berupa dafiar pertanyaan (kuesioner) yang disebut "Claftar Pertanyaan Uji Kelayakan" (UK). UK berisi tentang kondisi rumah calon peminjam, sumber-sumber penghasilan, pemilikan aset, dan pengeluaran rumahtangga. Dengan Kiteria tertentu yang telah ditentukan KUM, maka berdasarkan hasil wawancara petugas te:rhadap calon peminjam (anggota) dengan menggunakan UK tersebut akan dapat ditentukan apakah seseorang tersebut layak disebut sebagai calon peminjam (anggota) atau tidak.. Dalam arti bahwa calon peminjam termasuk dalam kategori peminjam prospektif dilihat dari aspek usaha yang dijalankan. Hal ini untuk menjamin agar pinjaman
129 yang akan diperoleh dapat digunakan untuk menambah modal usaha yang sedang dijalankar~ dan dapat memiliki kemampuan untuk mengembalikan pinjamannya.
Karena pendekatan yang dilakukan oleh KUM untuk menyalurkan pinjamannya adalah pendekatan kelompok, maka calon anggota yang layak diharuskan membentuk sendiri kelompok yang beranggotakan lima orang anggota layak lainnya. Proses pembentukan ini memerlukan waktu yang tidak sama antara kelompok yang satu dengan lainnya. Berdasarkan pengalaman KUM di akhir tahun 1989 dan awal tahun 1990, waktu yang diperlukan untuk membentuk kelompok berkisar antara dua hingga tiga bulan. Namun, begitu kelompok pertama terbentuk, pembentukan kelompok berikutnya memerlukan waktu yang lebih pendek, yaitu kurang lebih tiga minggu. Lamanya waktu yang diperlukan untuk membentuk kelompok dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :
a. Pengalaman program kredit masa lalu di wilayah pengembangan KUM. Bila di masa lalu irnplementasi program kredit banyak mengalami kegagalan, maka pembentukan kelompok dalam rangka pengembangan KUM di suatu wilayah akan memerlukan waktu yang lebih lama dan sebaliknya.
b. Kemampuan petugas lapang dalam memotivasi calon peminjam untuk membentuk kelorr~pok.
Metoda pembentukan kelompok, yang dalam KUM disebut Kurnpulan, yang dilakukan oleh calon anggota, merupakan salah satu bentuk screening. Hal ini disebabkan karena sei:iap calon anggota tentu saja akan menyeleksi anggota kumpulannya yang memiliki komitmen dan bersedia untuk bergabung dengan kumpulan tersebut. Proses ini secara tidak langsung adalah bagian dari proses screerring.
Tahap selanjutnya yang dapat dikategorikan sebagai tahapan screening adalah Latihan VJajib Kumpulan (LWK) LWK dilaksanakan selama lima hari berturut-tumt (Ijadhari). Kata berturut-turut sengaja diberikan penekanan mengingat sekuensi ini sangat peding untuk membangun disiplin calon peminjam. Bila terdapat anggota yng tidak hadir secara berturut-turut tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan oleh petugas maupun oleh calon anggota, maka LWK akan diulang mulai dari hari pertama. Pengamatim di lapangan menunjukkan bahwa tatacara dalam LWK dilaksanakan secara ketat sehirigga disiplin calon anggota dapat dibangun
Mateti yang diberikan pada tahapan ini adalah materi yang berkaitan dengan tata cara pengsijuan dan pengembalian pinjaman, cara menabung dan besarnya tabungan wajib setiap mi~lggu serta cara-cara yang hams ditempuh manakala terdapat anggota yang menunggak pinjaman dan tabungan wajib. Selain itu dalam LWK juga diberikan nuansa keterbukarm, baik antar calon anggota maupun antara calon anggota dengan masyarakat di sekitar lokasi penyelenggaraan LWK. LWK dilakukan di tempat terbuka dan diawali dengan pengenalan diri masing-masing calon anggota dan disaksikan oleh petugas dan calon anggota lainnya. Pengenalan din tidak hanya menyebut nama dan alamat, tetapi juga mencakup aspek-aspek yang lebih luas lagi tentang kondisi keluarga masing-masing
calon anggota, misalnya, pekerjaan utama, pekerjaan suami (istri) pengalaman kerja, jumlah anak, rencana penggunaan pinjaman, dan lain sebagainya. Meskipun mereka tinggal ba-dekatan, yang tentunya sudah mengetahui kondisi rumahtangga satu dengan lainnya, namun tampaknya bagi skim KUM pengenalan din tersebut tetap perlu dilakukan. Dari pengenalan din ini diharapkan timbulnya keterbukaan diantara sesama calon anggota, yang pada gilirannya dimungkinkan timbulnya dinamika dan kekuatan
serta coht?sivettess dari kelompok yang dibentuk. Tingkat keeratan antar anggota ini diperlukar~ sebagai wahana untuk saling mengontrol penggunaan dan pengembalian pinjaman.
Dengan demikian LWK adalah bagian dari proses screening yang dilakukan oleh KUM dalam rangka memperoleh prospective borrower sebagaimana dikemukakan sebelumnya. Namun tetap disadari bahwa seteliti apapun screening yang dilakukan oleh KUM, tetap terbuka kemungkinan tejadinya resiko kegagalan kredit yang ditunjukkan oleh timbulnya tunggakan kredit yang disebabkan tindakan peminjam yang tidak diperhitungkan sebelumnya (hidden action) oleh pemberi pinjaman (lender). Kegagalan kredit sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh kesalahan dalam melakukan screening
terhadap calon peminjan, tetapi juga dapat disebabkan oleh faktor-faktor lainnya, misalnya lcegagalan usaha yang dibiayai oleh dana yang berasal dari pinjaman tersebut. Satu ha1 yang dapat diprediksi dalam kaitamya dengan kegagalan kredit ini adalah bahwa apabila screening telah dilakukan dengan benar sesuai dengan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh KUM, maka kegagalan kredit, yang ditunjukkan oleh tingkat pengembalian pinjaman yang rendah, dapat ditekan lebih rendah.
Mengingat dalam skim KUM tidak disyaratkan adanya agunan maupun penjamin sebagaimana skim bank konvensional, maka masalah screening menjadi sangat penting untuk dilalcukan secermat mungkin. Dengan mengkaji materi yang dilakukan dalam LWK tampaknya skim
KUM
berusaha untuk menyiapkan sasaran kredit agar skim yang ditawarkan dapat dipahami secara baik dan benar oleh sasaran kredit, sehingga dalam perjalanan operasionalisasinya tidak mengalami hambatan.132 Dilihat dari proses screening yang dilakukan, tampaknya teknik-teknik yang digunakan oleh skim KUM mengandalkan semata-mata pada sistim yang dibangun oleh skim. Artinya, proses untuk memahami karakter calon peminjamtanggota dalam KUM didasarkark pada instrumen KUM dan tidak mengandalkan informasi pihak lain.
Berdasarkan pengalaman lapang dari skim-skim kredit program yang dilakukan oleh pemcrintah selama ini, masalah screening tampaknya kurang mendapat perhatian yang proporsional. Munculnya kredit fiktif dalam alokasi kredit di banyak kasus kredit program adalah salah satu bukti empirik tidak dilakukannya screening secara cermat dan benar. Padahal masalah screening ini, selain faktor-faktor lainnya, menjadi kunci keberhasil,nn dalam tahapan program kredit. Artinya, sekali tahapan screening dilaksanakan dengan berpedoman pada kaidah prudential banking, maka tahapan berikutnya untuk memotivasi dan mendorong peminjam untuk memanfaatkan kredit secara tepat guna akan lebih mudah dilakukan, yang pada gilirannya mereka bersedia untuk mengembalikan kredit tepat waktu.
Ma.salah insentif berkaitan dengan suatu kondisi aturan main yang menyebabkan peminjam memiliki kesediaan untuk mengembalikan pinjaman yang telah diperoleh. Dalam skim KUM masalah insentif dapat ditelaah dari aturan main dan tata cara yang terdapat d,alam skim itu sendiri. Insentif yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah insentif yang diberikan pada peminjam, dalam ha1 ini adalah anggota KUM, sehingga peminjam bersedia untuk mengembalikan pinjaman yang telah diperolehnya.
Set~agaimana dijelaskan sebelumnya, bahwa garis besar aturan main dalam prosedur pengembalian pinjaman diantaranya adalah sebagai berikut :
133 a. Pinjaman dikembalikan secara mingguan dalam masa satu (52 minggu) dengan masa
tenggang (gmce period) selama dua minggu.
b. Apabila peminjam dapat mengembalikan pokok pinjaman beserta biaya adinistrasi, maka peminjam berhak untuk mengajukan dan memperoleh pinjaman berikutnya (maksimal) dua kali pinjaman yang telah dilunasi.
c. Seluruh proses pengembalian pinjaman dilakukan dalam pertemuan Rembug Pusat yang rlisaksikan oleh seluruh anggota dengan dipandu dan diawasi oleh petugas lapang.
Mt:ncermati garis besar proses pengembalian pinjaman tersebut diatas, maka sebenamy.3 terkandung insentif yang sangat besar bagi peminjam atau anggota KUM untuk mer~gembalikan pinjaman. Akses kepada sumber kredit secara berkelanjutan dan dalam jumlah yang rasional adalah lebih diperlukan bagi sebagian masyarakat yang berpenghasilan rendah (Ledgerwood, 1999). Karena itu adanya aturan untuk dapat akses pada pinj,~man kedua dan seterusnya merupakan bentuk insentif yang besar bagi peminjam.
Ma.salah insentif dalam skim KUM tampaknya dilakukan secara transparan. Selain itu, karena pengembalian pinjaman dilakukan dalam suatu pertemuan yang sifatnya terbuka, maka akan segera dapat diketahui oleh anggota atau peminjam lainnya manakala terjadi sesuatu, misalnya menunggak atau lainnya, yang menimpa salah satu dari anggota tersebut. Selain itu dalam pertemuan mingguan yang dilakukan berdekatan dengan tempat tinggal an;gota/peminjam serta dihadiri oleh petugas lapangan KUM merupakan salah satu faktor yang berpengaruh positif nyata terhadap tingkat pengembalian pinjaman. Hal ini juga ditemukan oleh Kuntjoro (1983) dalam kajiannya terhadap petani peserta kredit
134 Bimas, dimana intensitas kunjungan petugas berpengaruh positif nyata terhadap tingkat pengembiilian kredit.
Adanya kewajiban menabung setiap minggu untuk setiap anggota dan dimasukkan dalam tatlungan kumpulan merupakan bentuk jaminan pengembalian pinjaman. Apabila terdapat anggota yang menunggak pengembalian pinjaman, maka tabungan tersebut dapat digunakan untuk membayarkan pinjamannya. Dengan demikian skim ini telah memiliki jaminan t~agi tunggakan yang mungkin muncul. Hasil wawancara dengan petugas KUM
diperoleh informasi bahwa tabungan kumpulan adalah merupakan jaminan bagi munculnya tunggakan. Selain disebabkan oleh faktor-faktor lain, misalnya kemampuan yang tinggi dari kegiatan usaha anggota (income generaling acfivifies), komitmen moral yang tinggi dari anggota akibat diterapkannya secara disiplin pertemuan mingguan secara terbuka dan transparan, tabungan kumpulan ini diduga merupakan faktor penting yang menyebabkan skim KUM memiliki kinerja tunggakan yang rendah.
Faktor lain yang berkaitannya dengan masalah insentif ini adalah diperkenalkannya sistem insentif dalam bentuk natura (pemberian alat-alat rumahtangga) yang diberikan kepada anggota yang berprestasi dalam mengembalkan pinjaman tepat waktu dan tidak pernah menunggak dalam angsuran mingguannya Pemberian insentif dalam ber~tuk natura ini disampaikan dalam pertemuan Rembug Pusat dengan disaksikan oleh seluruh anggota Rembug Pusat yang jumlahnya berkisar antara 10 hingg 40 orang anggota. Dari hasil wawancara dengan pihak manajemen KUM diperoleh informasi bahwa sistem ini telah membawa dampak positif terhadap tingkat pengembalian pinjaman
Meskipun pembahasan tentang masalah insentif ditekankan pada insentif yang diperoleh peminjam, tetapi sebenamya masalah tersebut juga terkait dengan insentif yang
135 diperoleh petugas. Dalam banyak kasus, insentif bagi petugas merupakan salah satu cara yang diberikan oleh manajemen dalam rangka mencapai kinerja yang dikehendaki. Dalam ha1 mant~jemen kredit, salah satu ukuran kinerja yang dikehendaki adalah tingkat pengembiilian pinjaman yang tinggi atau tingkat tunggakan yang rendah.
3. Enforcement
E~forcemenf adalah aturan main yang sifatnya built-in dalam sebuah skim yang dapat mendorong peminjam bersedia mengembalikan pinjamannya tepat waktu sesuai dengan kontrak atau kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Masalah etfiorcemetrt ini menjadi persoalan yang sangat penting, mengingat pengembalian tepat waktu adalah salah satu kriteria kinerja suatu skim perkreditan. Bila masalah ini tidak secara jelas terdapat dalam surltu skim kredit dan dapat dipantau secara mudah dan dengan cara yang efisien, maka tentu akan menganggu aliran kas (cash
flow)
suatu lembaga kredit dan pada gilirannya. akan menganggu proses pelayanan kepada para anggotalpeserta atau nasabah. Bentuk etlforcement yang dimiliki oleh skim KUM dapat dikemukakan sebagai berikut : a. Penundaan penyaluran pada periode berikutnya apabila peminjam tidak mengangsurpinjanlan secara tepat waktu (on-time repayment).
b. Penundaan pengajuan pinjaman bagi empat anggota lainnya (dalam satu kumpulan), meskil~un empat anggota tersebut telah lunas angsuran, apabila terdapat anggota lain yang ~nenunggak pinjaman. Dengan kata lain apabila terdapat anggota yang belum melunasi pinjamannya (padahal waktu jatub tempo anggota yang bersangkutan telah dilewati), maka anggota lainnya tidak dapat diajukan untuk memperoleh pinjaman berikutnya.
136 Istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan adanya sistem gotong royong dalam meinecahkan persoalan yang dihadapi kelompok, sebagaimana yang tercantum dalam buiir kedua dalam enforcemenf KUM, adalah "tanggung renteng". Namun demikian implementasi "tanggung renteng" tidak mudah dilakukan. Hal ini terkait dengan persoalan idisiplin, kekompakan dan tenggang rasa antar anggota dalam suatu kelompok. Pemecahan yang dilakukan oleh manajemen KUM dalam menghadapi persoalan munculnya tunggakan pinjaman adalah menutup tunggakan pinjaman dengan menggunalcan dana darurat yang berasal dari dana tabungan kumpulan. Mekanisme ini diciptakan oleh manajemen sedemikian rupa sehingga anggota KUM dapat menerima aturan main yang dikenalkan oleh KUM. Pemecahan ini menghadapi kendala dalam operasionalisasinya, yaitu semakin banyaknya tunggakan yang muncul yang harus ditutup dari dana tabungan kumpulan. Artinya, dengan adanya dana darurat cenderung muncul perilaku untuk mengurangi disiplin dalam mengangsur pinjaman tepat waktu sesuai jadual.
Kelanggengan sistem enforcement dalam KUM tampaknya hanya efektif apabila diterapkan secara perorangan dan bukan melalui sistem kelompok. Hasil wawancara dengan petugas KUM dan anggota KUM diperoleh bukti bahwa persoalan enforcemenf yang melibatkan anggota lain dalam kelompok sulit dilaksanakan. Meskipun dalam cakupan (scope) yang terbatas, impelementasi secara ketat sistem enformcement pada salah satu Rembug Pusat justru menyebabkan Rembug tersebut bubar dan tidak langgeng (bedanjut). Kenyataan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Johnson dan Rogaly (1 997) terhadap peserta BRAC yang rnenunjukkan bahwa peranan anggota lain dalam kelompok sangat kecil dalam rangka untuk membantu anggota lainnya untuk
membayarkan angsurannya manakala terdapat anggota lain menunggak membayar angsuran pinjaman.
Selain persoalan yang menyanght screening, incenlitive dan enforcement, untuk menjamin agar suatu skim kredit dapat viable secara institusi, maka skim tersebut haruslah memiliki prosedur atau mekanisme delivery system yang telah melembaga dengan baik yang dapat menjamin berlangsungnya suksesi manajemen dan administrasi, dan tidak tergantung pada figur tertentu dalam mengelola skim tersebut. Manajemen dan strnktur pengambilan keputusan, khususnya tingkat kernmitan clan birokrasi dalam memutuskan kelayakan kredit, dapat dijadikan u h r a n untuk menilai suatu viabilitas kelembagaan. Demikian halnya dengan persepsi peminjam (peserta) terhadap persyaratan, prosedur, biaya pinjaman, penggunaan pinjaman. Persepsi tersebut juga dapat digunakan sebagai indikator untuk menganalisis tentang viabilitas kelembagaan (Khandker, 1995)
Dalam skim K w suksesi manajemen dan administrasi serta telah terjadinya penggantian pimpinan lebih dari dua kali sejak diperkenalkan lebih dari 10 tahun yang lalu menunjukkan bahwa secara kelembagaan KUM tidak menggantungkan hanya pada figur pimpinan tertentu. Selain itu suksesi manajemen dan administrasi bejalan secara alami tanpa tejadi gejolak yang berarti. Struktur pengambilan keputusan kelayakan kredit dilakukan secara ceprd, waktu yang diperlukan sejak pengajuan pinjaman hingga penyaluran adalah satu minggu.
Terkait dengan tingkat kernmitan prosedur pinjaman, dari 63 responden yang diamati 74.6% respoden menyatakan bahwa prosedur skim KUM adalah mudah dan sederhana. Sementara itu sisanya (25.4%) menyatakan sulit. Alasan utama yang dikemukakim oleh responden yang menyatakan mudah adalah : (1) bahwa proses pengajuan
138 dan pencairan pinjaman tidak memerlukan identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun keteranganldokumen lainnya; (2) tidak diperlukan jaminan, (3) tidak perlu pergi terlalu jauh untuk mendapatkan kredit dan (4) pinjaman yang diajukan cepat direalisasi. Sementara itu mereka yang menyatakan sulit menyebutkan bahwa untuk menjadi anggota h a s merigikuti LWK selama lima hari b e r t u ~ t - t ~ ~ t . Mereka merasa takut mengikuti LWK. Kewajiban untuk menghafal ikrar anggota, menulis, belajar tandatangan dirasakan menjadi beban yang berat. Dari data tersebut dapat dikemukakan bahwa secara umum skim ini masih dianggap oleh anggota sebagai skim yang masih dapat diterima. Dalam arti bahwa prosedur pinjaman tidak terlalu sulit.
Di:lihat dari beberapa indikator tersebut (suksesi manajemen dan administrasi, tingkat kerumitan prosedur pinjaman menurut persepsi anggota, lamanya waktu pengajuan dan realisasi pinjaman) menunjukkan bahwa skim KUM secara kelembagaan &pat diterma oleh anggota. Hal ini merupakan modal dasar bagi berlanjutnya skim KUM secara kelembagaan.
7.3. Viabiilitas Peserta
Vi,sbilitas peserta adalah indikator penting dalam analisis keberlanjutan suatu skim kredit. Hal ini karena peserta atau anggota merupakan obyek dan sekaligus subyek dalam menentukm keberlanjutan skim kredit. Indikator yang dapat digunakan untuk melihat viabilitas peserta adalah menganalisis sejauhmana telah tejadi pemupukan modal dan bagaiman;~ kinerja pengembalian pinjaman.
Da.ri pembahasan tentang kinerja KUM secara umum telah dikemukakan bahwa tingkat tunggkan pinjaman sangat rendah, terjadi peningkatan rata-rata tabungan anggota sebesar 80.8% per tahun selama periode tahun 1991-1998. Adanya keinginan dan masukan tiari peserta atau anggota agar KUM mengintroduksikan jenis tabungan sukarela
139 (selain tabungan wajib) juga merupakan indikasi bahwa peserta KUM memiliki kemampuan yang besar yang merupakan salah satu indikator viabilitas peserta. Indikator- indikator tersebut dapat memberikan indikasi bahwa peserta KUM secara keseluruhan telah dapat mengikuti aturan main dalam skim KUM, dapat menabung dan membayar kembali pinjaman tepat waktu dengan tunggakan yang rendah. Hal ini menunjukkan tejadinya viabilitas peserta KUM.