• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

9 A. Teori Belajar

Dengan bekembangnya psikologi dalam pendidikan maka bermunculan pula teori tentang belajar. Teori Belajar Humanistik, teori ini lebih menekankan pada masalah bagaimana tiap – tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh pengalaman mereka sendiri. Menurut para pendidik dalam teori humanistik penyusunan dan penyajian materi kuliah harus sesuai dengan perasaan dan perhatian mahasiswa. Tujuan utamanya adalah membantu mahasiswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing – masing individu untuk mengenal diri sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi – potensi yang ada pada diri sendiri Wasty (2006). Terkadang dalam proses belajar-mengajar terdapat dosen yang menerangkan mata kuliah dengan cara textbook. Ketika mahasiswa yang mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi, mahasiswa tersebut akan menegurnya dengan alasan kurang efektif. Secara tidak langsung itu akan membuat perilaku belajar yang baik dan aktif sehingga suasananya tidak akan menjadikan stres kuliah bagi mahasiswa.

(2)

B. Perilaku Belajar

1. Pengertian Belajar

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, belajar memiliki arti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Definisi ini memiliki pengertian bahwa belajar adalah sebuah kegiatan untuk mencapai kepandaian atau ilmu. Ada beberapa pendapat tentang belajar menurut para ahli (Sobur, 2003):

Crow dan Crow (1958), belajar adalah memperoleh kebiasaan – kebiasaan, pengetahuan, dan sikap. Belajar, dalam pandangan Crow dan Crow (1958), menunjuk adanya perubahan yang progresif dari tingkah laku. Belajar dapat memuaskan minat individu untuk mencapai tujuan.

Laurine (1958), belajar adalah modifikasi atau memperteguh perilaku melalui pengalaman. Menurut pengertian ini, belajar merupakan proses, kegiatan, dan bukan hasil atau tujuan. Lebih lanjut di jelaskan bahwa belajar bukan hanya mengingat dan bukan hanya penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan perilaku.

C.T. Morgan (1961), belajar adalah suatu perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku sebagai akibat atau hasil dari pengalaman yang lalu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa perubahan tingkah laku dapat diamati pada perkembangan seseorang sejak bayi hingga dewasa.

Good dan Boophy (1977), belajar adalah suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata. Proses tersebut terjadi dalam diri seseorang yang

(3)

sedang mengalami belajar. Jadi menurut pandangan Good dan Boophy (1977), belajar bukanlah suatu tingkah laku yang tampak, tetapi yang paling utama adalah proses yang terjadi secara internal pada individu dalam usaha memperoleh hubungan baru.

Hintzman (1978), belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme disebabkan pengalaman tersebut yang bisa mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengalaman hidup sehari – hari, dalam bentuk apapun, sangat mugkin untuk diartikan sebagai belajar. Sebab, sampai batas tertentu, pengalaman hidup juga mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian organisme yang bersangkutan.

Hillgard dan Bower (1975), mengemukakan bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamn yang berulang – ulang dalam situasi tertentu, dan perubahan tingkah laku tersebut tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan sesaat seseorang ( misalnya: kelelahan atau pengaruh obat).

Suwardjono (2004) menyatakan bahwa belajar di perguruan tinggi merupakan suatu pilihan strategik dalam mencapai tujuan individual seseorang. Semangat, cara belajar, dan sikap mahasiswa terhadap belajar sangat dipengaruhi oleh kesadaran akan adanya tujuan individual dan tujuan lembaga pendidikan yang jelas. Kuliah merupakan ajang untuk

(4)

mengkonfirmasi pemahaman mahasiswa dalam proses belajar mandiri. Pengendalian proses belajar lebih penting dari pada hasil atau nilai ujian. Jika proses belajar dijalankan dengan baik, nilai merupakan konsekuensi logis dari proses tersebut.

Konsep atau pengertian belajar sangat beragam dan tergantung dari sisi pandang setiap orang yang mengamatinya. Belajar merupakan salah satu konsep menarik dalam teori – teori psikologi dan pendidikan, sehingga para ahli memberi bermacam – macam pengertian mengenai belajar. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 1991 dalam Hanifah dan Syukriy, 2001). Ahmadi (1993) dalam Hanifah dan Syukriy (2001) lebih jauh mengatakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam diri manusia, sehingga apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam diri manusia, maka tidaklah dapat dikatakan padanya telah berlangsung proses belajar.

Dari berbagai definisi di atas maka dapat disimpulkan, bahwa belajar merupakan proses yang dilakukan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan sebagainya, untuk memperoleh tingkah laku yang baik secara keseluruhan akibat interaksinya dengan lingkungannya.

(5)

2. Terdapat beberapa ciri – ciri belajar (Baharuddin dan Wahyuni, 2007), yaitu:

a. Belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku (change behavior). Ini berarti bahwa, hasil dari belajar hanya dapat diamati dari tingkah laku, yaitu adanya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi tahu dan dari tidak terampil menjadi terampil

b. Perubahan perilaku relatif permanen. Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi karena belajar untuk waktu tertentu akan tetap atau tidak berubah – ubah.

c. Perubahan perilaku yang bersifat potensial. Ini berarti bahwa perubahan tingkah laku yang terjadi tidak segera nampak pada saat proses belajar sedang terjadi, tetapi akan nampak dilain kesempatan.

d. Perubahan tingkah laku yang merupakan hasil latihan atau pengalaman. Ini berarti bahwa, pengalaman atau latihan dapat memberi kekuatan. Kekuatan itu akan memberikan semangat atau dorongan untuk mengubah tingkah laku.

Belajar merupakan kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Secara umum faktor – faktor yang mempengaruhi hasil belajar dibedakan atas dua katagori (Baharuddin dan Wahyuni, 2007), yaitu:

(6)

a. Faktor internal, yaitu faktor – faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi proses belajar individu. Faktor – faktor internal ini meliputi:

1) Faktor fisiologis, yaitu faktor – faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.

2) Faktor psikologis, yaitu keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar. Faktor psikologis yang mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan, motivasi, minat, sikap dan bakat.

b. Faktor eksogen atau eksternal, yaitu faktor – faktor yang berasal dari sekeliling individu yang dapat mempengaruhi proses belajar individu. Faktor eksternal ini meliputi:

1) Lingkungan sosial yang terdiri dari lingkungan sekolah, masyarakat, dan keluarga.

2) Lingkungan non-sosial yang terdiri dari lingkungan alamiah, instrumental, dan faktor materi kuliah yang diajarkan ke mahasiswa.

Dalam proses belajar diperlukan perilaku belajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan, dimana dengan perilaku belajar tersebut tujuan pendidikan dapat dicapai secara efektif dan efisien, sehingga prestasi akademik dapat ditingkatkan. Perilaku belajar sering juga disebut kebiasaan belajar yaitu merupakan proses belajar yang dilakukan individu

(7)

secara berulang – ulang sehingga menjadi otomatis atau spontan. Perilaku ini yang akan mempengaruhi prestasi belajar (Hanifah dan Syukriy, 2001). Menurut Suwardjono (2004) perilaku belajar yang baik terdiri dari:

a. Kebiasaan Mengikuti Pelajaran, adalah kebiasaan yang dilakukan mahasiswa pada saat pelajaran sedang berlangsung. Mahasiswa yang mengikuti pelajaran dengan tertib dan penuh perhatian serta dicatat dengan baik akan memperoleh pengetahuan banyak. Kebiasaan mengikuti pelajaran ini ditekankan pada kebiasaan memperhatikan penjelasan dosen, membuat catatan, dan keaktifan dikelas.

b. Kebiasaan Membaca Buku, merupakan keterampilan membaca yang paling penting untuk dikuasai mahasiswa. Kebiasaan membaca harus dibudidayakan agar pengetahuan mahasiswa dapat bertambah dan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam mempelajari suatu pelajaran.

c. Kunjungan ke Perpustakaan, merupakan kebiasaan mahasiswa mengunjungi perpustakaan untuk mencari referensi yang dibutuhkan agar dapat menambah wawasan dan pemahaman terhadap pelajaran. Walaupun pada dasarnya sumber bacaan bisa ditemukan dimana – mana, namun tempat yang paling umum dan memiliki sumber yang lengkap adalah perpustakaan.

(8)

d. Kebiasaan Menghadapi Ujian, merupakan persiapan yang biasa dilakukan mahasiswa ketika akan menghadapi ujian. Setiap ujian tentu dapat dilewati oleh seorang mahasiswa dengan berhasil jika sejak awal mengikuti pelajaran, mahasiswa tersebut mempersiapkan dengan sebaik – baiknya. Oleh karena itu, mahasiswa harus menyiapkan diri dengan belajar secara teratur, penuh disiplin, dan konsentrasi pada masa yang cukup jauh sebelum ujian dimulai.

Gagne (1988) dalam Usman (2000) menjelaskan bahwa hasil belajar dapat dihubungkan dengan terjadinya suatu perubahan. Kecakapan atau kepandaian seseorang dalam proses pertumbuhan tahap demi tahap. Hasil belajar diwujudkan dalam lima kemampun yakni keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan motorik, dan sikap. Dalam hal ini terdapat tiga dimensi belajar yaitu dimensi kognitif, dimensi afektif dan dimensi psikomotorik (Benyamin S. Bloom, 1956) dalam Usman (2000). Dimensi kognitif adalah kemampuan yang berhubungan dengan berfikir, mengetahui, dan memecahkan masalah. Selanjutnya dimensi ini dibagi menjadi pengetahuan komprehensif, aplikasi, sintetis, analisis dan pengetahuan evaluatif. Dimensi afektif adalah kemampuan yang berhubungan dengan sikap, nilai, minat, apresiasi. Dimensi psikomotorik yaitu kemampuan yang berhubungan

(9)

dengan motorik. Atas dasar itu hakikatnya hasil belajar adalah memperoleh kemampuan kognitif.

C. Kecerdasan Emosional

1. Pengertian Emosi

Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.

Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage (kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :

(10)

a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati

b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa

c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri

d. Kenikmatan : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga

e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormar, kemesraan, kasih

f. Terkejut : terkesiap, terkejut

g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, tidak suka h. Malu : malu hati, kesal

Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.

Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang dijalani menjadi sia-sia.

(11)

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

2. Pengertian Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional atau yang biasa dikenal dengan EQ (emotional quotient) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan. Sedangkan, kecerdasan (intelijen) mengacu pada kapasitas untuk memberikan alasan yang valid akan suatu hubungan. Kecerdasan emosional (EQ) belakangan ini dinilai tidak kalah penting dengan kecerdasan intelektual (IQ). Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional dua kali lebih penting dari pada kecerdasan intelektual dalam memberikan kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.

EQ dapat diartikan sebagai kemampuan mengetahui perasaan sendiri dan perasaan orang lain, serta menggunakan perasaan tersebut menuntut pikiran dan perilaku seseorang (Salovey & Mayer, 1990 dalam Svyantek 2003). Sejalan dengan hal tersebut, Goleman (2005 : 512) mendefinisikan EQ adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan prasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, serta mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain.

(12)

Goleman (2005 : 39) yang mengadaptasi model Salovey – Mayer membagi EQ ke dalam lima unsur yang meliputi : kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan kecakapan dalam membina hubungan dengan orang lain. Kelima unsur tersebut di kelompokkan ke dalam dua kecakapan, yaitu : a) kecakapan pribadi; yang meliputi kesadaran diri adalah kemampuan merasakan emosi tepat pada waktunya dan kemampuan dalam memahami kecenderungan dalam situasi tersebut, pengaturan diri adalah memahaminya, lalu menggunakan pemahaman tersebut menghadapi situasi secara produktif; bukannya menekan emosi dan menghilangkan informasi berharga yang disampaikan oleh emosi kepada diri sendiri (Weisinger, 2006), dan motivasi adalah menurut Siagian (2004) motivasi adalah daya pendorong yang melibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian dan ketrampilan tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya; serta b) kecakapan social; yang meliputi empati adalah Goleman (1995) dalam Mu’tadin (2002) berpendapat bahwa empati atau mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri dan ketrampilan sosial adalah merupakan aspek penting dalam Emosional Intellegence (Goleman, 2005 : 42-43).

(13)

Menurut Harmoko (2005) kecerdasan emosi dapat diartikan kemampuan untuk mengenali, mengelola dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Jelas bila seorang individu mempunyai kecerdasan emosi tinggi, dapat hidup lebih bahagia dan sukses karena percaya diri serta mampu menguasai emosi atau mempunyai kesehatan mental yang baik. Dari beberapa pendapat diatas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari.

Reuven Baron (dalam Coleman, 2000) berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi seseorang untuk berhasil dalam mengatasi hambatan dan tekanan lingkungan.

Kesimpulannya bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengenali, mengelola dan mengendalikan emosi pada diri sendiri, memahami perasaan orang lain, menjalin hubungan yang baik dengan orang lain, pemecahan masalah, serta berpikir realistis sehingga mampu berespon secara positif terhadap setiap kondisi yang merangsang munculnya emosi-emosi tersebut.

(14)

Coleman (2000) mengartikan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dalam hubungannya dengan orang lain.

Sebuah model pelopor lain tentang kecerdasan emosional diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan (Goleman, 2000 : 180).

Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame Of Mind (Goleman, 2000 : 50-53) mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kecerdasan emosional.

Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antara pribadi itu mencangkup ”kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain.” Dalam kecerdasan antara pribadi yang merupakan kunci

(15)

menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan “ akses menuju perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku”. (Goleman, 2002 : 53).

Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut, salovey (Goleman, 2002 : 53) memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan interpersonal untuk dijadikan sebagai dasar untuk mengugkap kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

Menurut goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapanya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan social.

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, motivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

(16)

Proses belajar mengajar dalam berbagai aspeknya sangat berkaitan dengan kecerdasan emosional mahasiswa. Kecerdasan emosional ini mampu melatih kemampuan mahasiswa tersebut, yaitu kemampuan untuk mengelola perasaannya, kemampuan untuk memotivasi dirinya sendiri, kesanggupan untuk tegar dalam menghadapi frustasi, kesanggupan mengendalikan dorongan dan menunda kepuasan sesaat, mengatur suasana hati yang relatif, serta mampu berempati dan bekerja sama dengan orang lain. Kemampuan-kemampuan ini mendukung seorang mahasiswa dalam mencapai tujuan dan cita-citanya (Trisnawati dan Suryaningsum, 2003).

3. Lima Dasar Kemampuan Utama dalam Teori Kecerdasan Emosional Menurut Daniel Goleman mengutip Salovey (2002 : 58-59)

a. Mengenali Emosi Diri Sendiri, merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 64) Kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun

(17)

merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.

b. Mengelola Emosi, merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2002 : 77-78). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.

c. Memotivasi Diri Sendiri, prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.

d. Mengenali Emosi Orang Lain, kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman (2002 : 57) kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang

(18)

tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain. Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuaikan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah bergaul, dan lebih peka (Goleman, 2002 : 136). Nowicki, ahli psikologi menjelaskan bahwa seseorang yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi (Goleman, 2002 :172). Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain.

e. Membina Hubungan, kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2002 : 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang

(19)

apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini popular dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002 : 59). Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain. Sejauh mana kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.

4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kecerdasan Emosi

a. Faktor Internal adalah apa yang ada dalam diri individu yang mempengaruhi kecerdasan emosinya. Faktor internal ini memiliki dua sumber yaitu segi jasmani dan segi psikologis. Segi jasmani adalah faktor fisik dan kesehatan individu, apabila fisik dan kesehatan seseorang dapat terganggu dapat dimungkinkan mempengaruhi proses kecerdasan emosinya. Segi psikologis mencakup didalamnya pengalaman, perasaan, kemampuan berpikir dan motivasi.

b. Faktor Eksternal adalah stimulus dan lingkungan dimana kecerdasan emosi berlangsung. Faktor eksternal meliputi: 1) Stimulus itu sendiri, kejenuhan stimulus merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam memperlakukan kecerdasan emosi tanpa distorsi dan 2) Lingkungan atau situasi khususnya yang

(20)

melatarbelakangi proses kecerdasan emosi. Objek lingkungan yang melatarbelakangi merupakan kebulatan yang sangat sulit dipisahkan. 5. Cara Meningkatkan Kecerdasan Emosional

a. Membaca Situasi

Dengan memperhatikan situasi sekitar, kita akan mengetahui apa yang harus dilakukan.

b. Mendengarkan dan Menyimak Lawan Bicara

Dengarkan dan simak pembicaraan dan maksud dari lawan bicara, agar tidak terjadi salah paham serta dapat menjaga hubungan baik. c. Setiap Berkomunikasi

Jika terjadi suatu masalah, bicarakanlah agar tidak terjadi salah paham. d. Tak Usah Takut ditolak

Setiap usaha terdapat dua kemungkinan, diterima atau ditolak, jadi siapkan diri dan jangan takut ditolak.

e. Mencoba Berempati

EQ tinggi biasanya didapati pada orang – orang yang mampu berempati atau bisa mengerti situasi yang dihadapi orang lain.

f. Pandai Memilih Prioritas

Ini perlu agar bisa memilih pekerjaan yang mendesak, dan apa yang bisa ditunda.

(21)

g. Siap Mental

Situasi apapun yang akan dihadapi, kita harus menyiapkan mental sebelumnya.

h. Ungkapkan Lewat Kata – Kata

Katakan maksud dan keinginan dengan jelas dan baik, agar dapat saling mengerti.

i. Bersikap Rasional

Kecerdasan emosi berhubungan dengan perasaan, namun tetap berpikir rasional.

j. Fokus

Konsentrasikan diri pada suatu masalah yang perlu mendapat perhatian. Jangan melakukannya dalam 4-5 masalah secara bersamaan.

(22)

Bagan Kecakapan Kecerdasan Emosional

Sumber: Interprestasi bebas dari Goleman (2000) oleh Bulo (2002) Kecerdasan

Emosional

Kecakapan Pribadi Kecakapan Sosial

Kecakapan Diri -Kesadaran Emosional -Penilaian Diri yang Kuat -Kepercayaan Diri Kendali Diri -Kontrol Diri -Dapat Dipercaya -Berhati-hati -Adaptabilitas -Inovasi Motivasi -Dorongan Berprestasi -Komitmen -Inisiatif -Optimisme Empati -Memahami Orang Lain -Mengembangkan Orang -Orientasi Pelayanan -Kesadaran Politik Keterampilan Sosial -Pengaruh -Komunikasi -Manajemen Konflik -Kepemimpinan -Katalisator Perubahan -Membangun Ikatan -Kolaborasi dan Kooperasi -Kemampuan Tim

(23)

D. Stres Kuliah

Menurut Jeffey, Spencer A. Rathus, dan Beverly, menunjukkan adanya tekanan atau kekuatan pada tubuh; dalam psikologi dikenal dengan istilah stress; sumber stres disebut stresor (stressor). Istilah stres berbeda dengan istilah distres (distress). Istilah distres mengacu pada penderitaan fisik atau mental. Distres emosional seperti depresi, atau kecemasan, atau keluhan fisik seperti kelelahan, meningkatnya asam lambunh dan sakit kepala, sampai tingkat penyakit serius lainnya (Rizki Joko, 2009 : 2).

Dunia perkuliahan biasanya cukup idenrik dengan mahasiswa dan tugas-tugas kuliah. Tugas-tugas-tugas kuliah yang diberikan biasanya terdiri dari berbagai macam jenis, seperti membuat makalah, penelitian, presentasi, analisa kasus, dll. Bentuk dan cara pengerjaan tugas-tugas kuliah itu juga beragam yaitu dapat berupa tugas kelompok atau tugas sendiri. Setiap tugas kuliah yang diberikan oleh setiap dosen memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Seharusnya dengan semakin berkembangnya teknologi, mahasiswa dapat lebih mudah untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Namun, pada kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa yang pada akhirnya meyelesaikan tugas-tugas kuliahnya sampai pada menit-menit terakhir waktu pengumpulan tugas. Dikalangan mahasiswa, mereka yang menyelesaikan tugas sampai pada detik-detik terakhir pengumpulan tugas ini dinamakan deadliners. Dalam mengerjakan tugas-tugas kuliahnya, para deadliners ini berpacu dengan waktu dan berusaha secepat serta sekeras mungkin untuk menyelesaikan semua

(24)

tugas-tugas kuliah yang ada sebelum terlambat. Mereka tentunya merasakan kecemasan yang semakin intens serta bagaimana perut mereka terasa tidak enak atau jantung yang berdebar-debar menjelang waktu pengumpulan tugas yang semakin mendekat sampai akhirnya mereka menyelesaikan tugasnya dan menjadi lega.

1. Pengertian Stres

Stres merupakan reaksi seseorang terhadap situasi tertentu yang terjadi di sekitarnya. Stres adalah suatu kondisi yang dinamis saat seorang individu dihadapkan pada peluang, tuntutan, atau sumber daya yang terkait dengan apa yang dihasratkan oleh individu itu dan yang hasilnya dipandang tidak pasti dan penting. Stres adalah beban rohani yang melebihi kemampuan maksimum rohani itu sendiri, sehingga perbuatan kurang terkontrol secara sehat. Stres tidak terlalu buruk, walaupun biasanya dibahas dalam konteks negative, karena stres memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi akhir. Stres bisa positif dan bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stres tantangan, atau stres yang menyertai tantangan dilingkungan kerja, beroprasi sangat berbeda dari stres hambatan, atau stres yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Meskipun riset mengenai stres tantangan dan stres hambatan baru tahap permulaan, bukti awal menunjukan bahwa stres tantangan memiliki banyak implikasi yang lebih sedikit negatifnya dibanding stres hambatan. Sesuatu hal/ kondisi yang menimbulkan stres disebut sebagai stresor.

(25)

Pengertian umum mengenai konsep stres banyak digunakan untuk menjelaskan tentang sikap atau tindakan individu yang dilakukannya apabila ia menghadapi suatu tantangan dalam hidupnya dan dia gagal memperoleh respon dalam menghadapi tantangan itu. Terjadinya proses stres didahului oleh adanya sumber stres (stresor) yaitu setiap keadaan yang dirasakan orang mengancam dan membahayakan dirinya. Istilah stres atau ketegangan memiliki konotasi yang beragam. Bagi sementara orang. Stres dapat menggambarkan keadaan psikhis yang telah mengalami berbagai tekanan yang melampaui batas ketahanannya. Sementara orang lain mengatakan stres bersifat subyektif hanya berhubungan dengan kondisi-kondisi psikologis dan emosi seseorang. Adapun yang menganggap stres dan ketegangan merupakan factor sebab akibat. Namun banyak orang cenderung mengangap stres sebagai tanggapan patologos (proses penyimpanan kondisi biologis yang sehat) terhadap tekanan-tekanan psikologis dan sosial yang berhubungan pekerjaan dan lingkungannya. Ivianchevic dan Martinson (1993) dalam yulianti (2002) mendifinisikan stres secara sederhana sebagai interaksi individu dengan angkatan. Kemudian difinisi tersebut dirinci lebih jauh sebagai respon yang adaptif ditengahi oleh perbedaan individual dan proses psikologis yang merupakan konsekuensi dari tindakan dan sistem internal atau kejadian yang meminta kondisi psikologis dan fisik

(26)

seseorang secara berlebihan. Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi. Proses berfikir dan kondisi seseorang. Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan atau kondisi seseorang dalam menghadapi lingkungan (Handoko, 2000). Dilihat dari sudut pandang orang yang mengalami stres seseorang akan memberikan tanggapan terhadap hal-hal yang dinilai mendatangkan stres. Tanggapan orang terhadap sumber stres dapat berpengaruh pada segi psikologi dan fisiologis. Tanggapan ini disebut strain, yaitu tekanan atau ketegangan. Seseorang yang mengalami stres secara psikologis menderita tekanan dan ketegangan yang membuat pola pikir seseorang menjadi kacau. Dalam proses itu, hal yang dapat menyebabkan stres dan pengalaman orang yang mengalami stres akan saling berkaitan. Proses itu merupakan pengaruh timbal balik dan menciptakan usaha atau penyesuaian atau tempatnya penyeimbangan, yang terus menerus antara orang yang mengalami stres dan keadaan yang penuh stres.

2. Reaksi Stres

Para deadliners jelas terlihat mengalami stres (distres) dengan deadline tugas sebagai stresor-nya. Hal ini terlihat dari reaksi mereka terhadap stres menjelang waktu pengumpulan tugas tiba (deadline tugas). Biasanya, ciri khas yang terlihat adalah para deadliners akan terlihat sibuk berkonsentrasi dan ngebut untuk cepat-cepat menyelesaikan tugas kuliahnya. Semakin dekat waktu pengumpulan tugas, mereka akan

(27)

merasa cemas, jantung semakin berdebar-debar dan berkeringat dingin. Hal ini disebabkan ketika kita memberikan respon terhadap stresor, hormon adrenalin dan kortisol dilepaskan ke aliran darah dalam tubuh. Hormon ini membuat jantung kita berdetak lebih cepat, meningkatkan tekanan darah, ritme pernapasan dan metabolisme tubuh. Pembuluh darah terbuka lebar sehingga otot tubuh menjadi lebih tegang. Hati melepaskan glukosa untuk memberikan tenaga pada tubuh dan akhirnya kkeringat dihasilkan. Selain itu, reaksi gejala fisik yang timbul juga meliputi perasaan terburu-buru, cemas, perut tidak enak, sakit kepala, dan sejumlah reaksi fisik lainnya. Kecemasan yang dirasakan para deadliners juga dapat dikatagorikan sebagai reaksi emosional terhadap stres yang dihadapi disamping reaksi-reaksi lainnya seperti ketidak sabaran, perasaan ingin menagis, kesulitan tidur, serta perubahan pola makan. Reaksi secara kognitif terhadap stresor dapat terlihat dari sulitnya para deadliners untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas, kurang dapat memperhatikan detail, kurang kreatif dan produktif, penglihatan kabur serta menjadi pelupa. Perilaku lain yang dapat terlihat oleh kita adalah perilaku para deadliners selama menyelesaikan tugas kuliah seperti cenderung ceroboh, tertawa dengan gugup, merokok, makan berlebihan atau makan terlalu sedikit, serta cenderung menjadi lebih agresif.

(28)

3. Sumber Stres

Tak jarang para deadliners juga begadang dengan ditemani kopi supaya mereka tidak mengantuk dan dapat terus menyelesaikan tugasnya sampai tengah malam atau pagi. Sebenarnya, begadang dapat menimbulkan stres karena ritme waktu tubuh berubah sehingga menyebabkan ketidak seimbangan pada sistem di dalam tubuh. Seharusnya tubuh sudah beristirahat pada jam tertentu di waktu malam namun karena begadang, tubuh dipacu untuk terus ‘ bangun’ dan menyelesaikan tugas kuliah. Jika stres ini terus berlanjut, maka sistem kekebalan tubuh para deadliners menurun dan mereka akan menjadi sakit (Wortman, et al, 1999).

Berdasarkan hasil penelitian dari para ahli di University of Chicago, tidur tidak nyeyak selama tiga hari berturut-turut juga akan menurunkan toleransi tubuh terhadap glukosa, khususnya pada orang muda dan dewasa. Lebih lanjut dikatakan juga bahwa hal ini dapat meningkatkan resiko seseorang mengidap diabetes. Pola hidup begadang ini juga terkait dengan perubahan pola makan para deadliners. Ketika para deadliners begadang dan sibuk menyelesaikan tugas kuliah, secara tidak langsung makanan yang dikonsumsi tidak teratur jadwalnya. Para deadliners, misalnya, bisa makan lebih atau bahkan kurang dari tiga kali sehari atau ngemil di malam hari saat mengerjakan tugas. Jika seseorang makan tidak teratur maka akan mengganggu waktu proses metabolisme tubuh dalam

(29)

mengolah, menyerap dan membuang zat sisa makanan. Konsumsi kafein berlebihan, terutama pada kopi, juga dapat menjadi sumber stres. Seseorang yang mengkonsumsi kopi dalam jumlah yang banyak (lebih dari 250 mg kafein per hari/ setara dengan 3 cangkir kopi) akan mengalami kecemasan, diare, lekas marah, denyut jantung yang tidak beraturan dan kesulitan untuk berkonsentrasi. Hal ini disebabkan karena kafein merupakan zat perangsang dan dapat meningkatkan pengeluaran asam lambung dan hormone tiroid yang dapat menimbulkan kegelisahan dan dapat menyebabkan ginjal bekerja lebih keras karena bertindak sebagai diuretic (menyebabkan sering buang air kecil). Kafein menghalangi penyerapan zat besi jika dikonsumsi dengan makanan atau dalam satu jam setelah makan.

4. Coping strategies

Setelah mengetahui sumber-sumber stres-nya, apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi deadline tugas kuliah? Langkah pertama untuk mengatasinya adalah dengan mengatur/ me-manage stres yang kita alami. Cara/ strategi yang digunakan untuk me-manage stres biasa dikenal dengan istilah coping strategy. Menurut Zainun Mu’tadin, SPsi., MSi. Coping strategy merupakan “suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya”.

(30)

Ada 2 bentuk coping yang dikenal, problem focused coping dan emotion focused coping (Wortman, et al, 1999). Problem focused coping adalah usaha mengatasi stres dengan cara melakukan tindakan langsung yang bersifat konstruktif terhadap situasi sumber stres itu (berhubungan dengan stres yang dapat dikontrol). Emotion focused coping adalah usaha untuk mengelola emosi yang terjadi karena situasi yang dihadapi (berhubungan dengan stres yang tidak dapat dikontrol). Bentuk yang satu sama baiknya dengan bentuk yang lain, hanya tergantung siapa, kapan dan pada situasi apa kedua bentuk coping itu digunakan.

Menurut definisi di atas, ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi deadline tugas kuliah. Salah satunya adalah mengatur waktu dengan baik (time management). Aturlah prioritas dan jadwal sehari-hari dengan baik. Dengan menentukan prioritas maka para deadliners memahami hal-hal penting apa saja yang akan dilakukan terlebih dahulu. Dengan mengatur jadwal, maka para deadliners dapat menyusun rencana dari jauh hari sebelum deadline pengumpulan tugas mengenai apa-apa saja yang harus dikerjakan sehingga tugas tidak dibiarkan menumpuk. Selain itu, dengan jadwal yang tersusun rapi maka para deadliners bisa mengatur waktu kapan mereka mengerjakan tugas dan kapan bersantai melakukan aktivitas lainnya. Cara lainnya yaitu berusaha untuk menjalani hidup dengan lebih rileks dan bahagia. Jika kita merasa rileks maka saraf-saraf tubuh kita akan ikut rileks dan santai.

(31)

E. Pengembangan Hipotesis

Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenal perasaan diri sendiri dan orang lain untuk memotivasi diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik di dalam diri kita. Kemampuan ini saling berbeda dan melengkapi dengan kemampuan akademik murni yang diukur dengan IQ. Hal-hal yang berhubungan dengan perilaku belajar yang baik dapat dilihat dari kebiasaan mengikuti pelajaran, kebiasaan membaca buku, kunjungan keperpustakaan dan kebiasaan menghadapi ujian.

Dengan adanya kecerdasan emosional yang ditandai oleh kemampuan pengenalan diri, pengendalian diri motivasi diri, empati dan kemampuan sosial akan mempengaruhi perilaku belajar mahasiswa yang nantinya juga mempengaruhi seberapa besar tingkat stres yang dialami mahasiswa. Seorang mahasiswa yang kecerdasan emosionalnya tinggi akan berdampak positif pada perilaku belajar mahasiswa sehingga memiliki peranan penting untuk menghadapi stres yang bakal datang. Dari uraian diatas maka hipotesis dinyatakan sebagai berikut:

1: Perilaku belajar mahasiswa akuntansi (kebiasaan mengikuti pelajaran, kebiasaan membaca buku, kunjungan keperpustakaan dan kebiasaan menghadapi ujian) berpengaruh terhadap stres kuliah.

(32)

2:Kecerdasan emosional (kemampuan pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan kemampuan sosial) berpengaruh terhadap stres kuliah.

3:Perilaku belajar dan kecerdasan emosional berpengaruh terhadap stres kuliah.

Skema Konsep Penelitian

Variabel Independen Variabel Dependen

i

Penelitian Terdahulu

Yulianti (2002) menekankan pada kecerdasan emosional dengan karyawan

Pusdiklat di Cepu. Hasil penelitiannya menunjukkan ada hubungan negative yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan stres kerja. Artinya semakin tinggi kecerdasan emosional karyawan maka semakin rendah stres kerja.

Suryaningsum dkk (2005) menyatakan bahwa pengaruh kecerdasan emosional mahasiswa akuntansi terhadap stres kuliah hanya dipengarihi oleh variabel

Perilaku Belajar

Kecerdasan Emosional

(33)

pengenalan diri dan variabel keterampilan sosial, sedangkan variabel pengendalian diri, motivasi, empati, tidak berpengaruh signifikan terhadap stres kuliah.

Peneliti setuju dengan hasil Suryaningsum (2005), karena memang pengendalian diri, motivasi, dan empati mahasiswa kalau diamati sepintas memang fenomenanya adalah mahasiswa cenderung belum mampu mengendalikan dirinya sehingga terkesan seenak sendiri. Peneliti ini juga dimaksudkan untuk mencari jawaban atas fenomena tersebut dengan menambahi variabel perilaku belajar mahasiswa akuntansi diperguruan tinggi. Perilaku belajar mahasiswa (yang terdiri dari kebiasaan mengikuti pelajaran, kebiasaan membaca buku, kunjungan keperpustakaan, dan kebiasaan menghadapi ujian). Variabel perilaku belajar di perguruan tinggi ini merupakan tulisan Suwardjono (1991) tentang perilaku belajar di perguruan tinggi.

Suryaningsum dkk (2008) meneliti pada kecerdasan emosional dan perilaku belajar dengan mahasiswa akuntansi di Perguruan Tinggi wilayah D.I. Yogyakarta yaitu mahasiswa akuntansi di UPN, UTY, UII, UGM dan UNY. Hasil penelitiannya menunjukan keduanya memberikan pengaruh negatif dan signifikan terhadap stres kuliah responden, dalam hal ini variabel kecerdasan emosional memberikan pengaruh lebih dominan terhadap stres kuliah dibandingkan variabel perilaku belajar. Variabel kecerdasan emosional mempunyai pengaruh negatif terhadap stres kuliah. Jika kecerdasan emosional

(34)

semakin meningkat mengakibatkan stres kuliah semakin menurun begitu pula sebaliknya. Variabel perilaku belajar mempunyai pengaruh terhadap stres kuliah. Pengaruh negatif ini berarti bahwa perilaku belajar dan stres kuliah menunjukkan pengaruh terbalik. Jika perilaku belajar semakin menigkat mengakibatkan stres kuliah semakin menurun begitu pula sebaliknya.

Referensi

Dokumen terkait

Pada metode ini pengaturan tempat dirancang lebih fleksibel, yaitu dengan cara membagi tempat menjadi beberapa bagian, tetapi di tiap tempat tersebut dapat diisi secara random

4) Strategi pengaturan dan pengendalian yang meliputi pengaturan perijinan secara formal yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengatur dan memantau

Otak adalah sesuatu yang berada di dalam tengkorak, sedangkan akal adalah pekerjaan yang dilakukan oleh otak itu. Otak dipengaruhi oleh kesadaran, bukan pelaku

Panel ini pada umumnya digunakan untuk mengkustomisasi elemen animasi yang dibuat seperti pengubahan objek grafik menjadi symbol , pengaturan frame dan

Dalam tata letak pabrik ada dua hal yang diatur letaknya yaitu pengaturan mesin (machine layout) dan pengaturan departemen yang ada dari pabrik (department layout) bilamana

Mayer dan Salovey (1993) mendefinisikan kecerdasan emosi merupakan suatu kecerdasan yang bersifat sosial dan berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam

Maka literasi digital merupakan pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, termasuk alat komunikasi modern saat ini seperti jaringan internet dalam

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa definisi empati adalah kemampuan individu yang melibatkan komponen kognitif dan afektif untuk menempatkan diri dalam