• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESA PEDULI GAMBU T PROVINSI SUMATRA SELATAN DESA GALIH SARIH BADAN RESTORASI GAMBUT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DESA PEDULI GAMBU T PROVINSI SUMATRA SELATAN DESA GALIH SARIH BADAN RESTORASI GAMBUT"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

Gedung Sekretariat Negara, Jalan Teuku Umar No. 10-11, Menteng, Jakarta Pusat T. +62 21 319 012 608

Badan Restorasi Gambut @BRG_Indonesia @BRG_Indonesia

Badan Restorasi Gambut - BRG Badan Restorasi Gambut-BRG

www.brg.go.id

“ Pulihkan Gambut,

Pulihkan Kemanusiaan.”

BADAN RESTORASI GAMBUT 2016 - 2020

DESA PEDULI GAMBU T

%

!"

#"$

&'()*+"(, -"./0

)

PETA JALAN RESTORASI

GAMBUT INDONESIA

2016-2020

Gambut

PROVINSI SUMATRA SELATAN

(2)
(3)

LAPORAN PEMETAAN SOSIAL DESA GALIH SARI TAHUN 2017 PENYUSUN:

Yuliana Dewi

LEMBAR PERSETUJUAN DESA:

“Kami yang bertandatangan di bawah ini, selaku Kepala Desa dan Sekretaris Desa Galih Sari menyatakan menyetujui laporan hasil pemetaan sosial yang dilakukan oleh Tim Pemetaan Sosial Badan Restorasi Gambut Republik Indonesia: Krida Astama (Koordinator Pemetaan Sosial), Yuliana Dewi (Enumerator) dan menyatakan bahwa hasil ini telah disampaikan kepada perwakilan masyarakat desa kami.”

Galih Sari, 22 Juli 2017

Sekretaris Desa Kepala Desa

Julian Hakim Priyanto

Badan Restorasi Gambut

Badan Restorasi Gambut

(4)

KATA PENGANTAR

Lahan gambut mempunyai peran penting bagi kehidupan. Gambut yang masih berupa tutupan hutan akan menjadi habitat penting bagi berbagai spesies fauna dan tanaman langka.

Berdasarkan penelitian World Agroforestry lahan gambut juga mempunyai daya menahan air yang tinggi sehingga berfungsi sebagai penyangga hidrologi areal sekelilingnya mencegah terjadinya banjir dan kekeringan. Tidak hanya itu, fungsi penting dari lahan gambut adalah menyimpan karbon dalam jumlah besar. Lahan gambut berfungsi sebagai penambat (sequerster), menyerap dan menyimpan karbon sehingga berkontribusi dalam perubahan iklim.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan industrialisasi terus tumbuh dan berkembang sehingga tekanan sumberdaya alam terutama lahan gambut semakain besar, karena tingkat kebutuhan dan kepentingan terhadap sumberdaya alam semakin tinggi sehingga potensi kerusakan dan pencemaran lingkungan juga semakin besar.

Desa Galih Sari Kematan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatra Selatan adalah salah satu desa yang wilayahnya menjadi prioritas untuk direstorasi pada tahun 2017 ini. Desa Galih Sari sendiri mempunyai luas wilayah sekitar 31,00 Km² dengan jumlah penduduk berkisar 1.749 jiwa dengan mayoritas mata pencahariannya adalah sebagai petani. Sebagian besar wilayah pertanian di Desa Galih Sari sendiri adalah wilayah rawa gambut pasang surut.

Program Desa Peduli Gambut (DPG) adalah kerangka program untuk intervensi pembangunan pada Desa-desa/kelurahan di dalam dan sekitar Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), yang menjadi target restorasi gambut. DPG bukan program yang berdiri sendiri, tetapi mengkoordinasi dan memfasilitasi program-program pembangunan di lokasi-lokasi prioritas restorasi gambut.

Palembang,November 2017

Tim Pemetaan Sosial Desa Galih Sari

(5)

KATA PENGANTAR

Lahan gambut mempunyai peran penting bagi kehidupan. Gambut yang masih berupa tutupan hutan akan menjadi habitat penting bagi berbagai spesies fauna dan tanaman langka.

Berdasarkan penelitian World Agroforestry lahan gambut juga mempunyai daya menahan air yang tinggi sehingga berfungsi sebagai penyangga hidrologi areal sekelilingnya mencegah terjadinya banjir dan kekeringan. Tidak hanya itu, fungsi penting dari lahan gambut adalah menyimpan karbon dalam jumlah besar. Lahan gambut berfungsi sebagai penambat (sequerster), menyerap dan menyimpan karbon sehingga berkontribusi dalam perubahan iklim.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan industrialisasi terus tumbuh dan berkembang sehingga tekanan sumberdaya alam terutama lahan gambut semakain besar, karena tingkat kebutuhan dan kepentingan terhadap sumberdaya alam semakin tinggi sehingga potensi kerusakan dan pencemaran lingkungan juga semakin besar.

Desa Galih Sari Kematan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatra Selatan adalah salah satu desa yang wilayahnya menjadi prioritas untuk direstorasi pada tahun 2017 ini. Desa Galih Sari sendiri mempunyai luas wilayah sekitar 31,00 Km² dengan jumlah penduduk berkisar 1.749 jiwa dengan mayoritas mata pencahariannya adalah sebagai petani. Sebagian besar wilayah pertanian di Desa Galih Sari sendiri adalah wilayah rawa gambut pasang surut.

Program Desa Peduli Gambut (DPG) adalah kerangka program untuk intervensi pembangunan pada Desa-desa/kelurahan di dalam dan sekitar Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG), yang menjadi target restorasi gambut. DPG bukan program yang berdiri sendiri, tetapi mengkoordinasi dan memfasilitasi program-program pembangunan di lokasi-lokasi prioritas restorasi gambut.

Palembang,November 2017

Tim Pemetaan Sosial Desa Galih Sari

(6)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR...2 BAB I PENDAHULUAN ...7 1.1 Latar Belakang ...7 1.2 Tujuan ...8

1.3 Metode Pengumpulan Data ...9

1.4 Struktur Laporan ...9

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI...11

2.1 Letak Desa ...11

2.2 Orbitasi (Jarak ke Pusat Administrasi/ Ekonomi)...12

2.3 Batas dan Luas Wilayah ...12

2.4 Fasilitas Umum dan Sosial ...13

BAB III LINGKUNGAN FISIK DAN EKOSISTEM GAMBUT ...15

3.1 Topografi ...15

3.2 Geomorfologi dan Jenis Tanah ...15

3.3 Iklim dan Cuaca ...15

3.4 Keanekaragam Hayati...17

3.5 Vegetasi ...18

3.6 Hidrologi di Lahan Gambut...18

3.7 Kerentanan Ekosistem Gambut ...19

BAB IV KEPENDUDUKAN ... 21

4.1 Data Umum Penduduk ... 21

4.2 Struktur Kependudukan Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin dll ... 21

(7)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR...2 BAB I PENDAHULUAN ...7 1.1 Latar Belakang ...7 1.2 Tujuan ...8

1.3 Metode Pengumpulan Data ...9

1.4 Struktur Laporan ...9

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI...11

2.1 Letak Desa ...11

2.2 Orbitasi (Jarak ke Pusat Administrasi/ Ekonomi)...12

2.3 Batas dan Luas Wilayah ...12

2.4 Fasilitas Umum dan Sosial ...13

BAB III LINGKUNGAN FISIK DAN EKOSISTEM GAMBUT ...15

3.1 Topografi ...15

3.2 Geomorfologi dan Jenis Tanah ...15

3.3 Iklim dan Cuaca ...15

3.4 Keanekaragam Hayati...17

3.5 Vegetasi ...18

3.6 Hidrologi di Lahan Gambut...18

3.7 Kerentanan Ekosistem Gambut ...19

BAB IV KEPENDUDUKAN ... 21

4.1 Data Umum Penduduk ... 21

4.2 Struktur Kependudukan Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin dll ... 21

(8)

4.2 Laju Pertumbuhan ...22

4.3 Tingkat Kepadatan...22

BAB V KESEHATAN DAN PENDIDIKAN ...25

5.1 Sarana dan Prasarana Pendidikan dan Kesehatan ...25

5.2 Ketersediaan Tenaga Pendidik dan Kesehatan ...26

5.3 Tingkat Partisipasi Pendidikan Warga ...26

5.4 Kesiapan Fasilitas Kesehatan Menghadapi Kebakaran Gambut ...27

BAB VI KESEJAHTERAAN DAN KEBUDAYAAN MASYARAKAT ... 29

6.1 Sejarah Desa ...29 6.2 Etnis... 30 6.3 Bahasa ... 30 6.4 Religi ... 30 6.5 Kearifan Lokal ... 31 BAB VII PEMERINTAHAN DAN KEPEMIMPINAN... 33

7.1 Pembentukan Pemerintahan Desa ... 33

7.2 Struktur Kepemerintahan... 34

7.3 Kepemimpinan Lokal dan Tradisonal ... 34

7.4 Aktor Yang Berpengaruh ... 35

7.5 Mekanisme Penyelesaian Sengketa dan Konflik ... 36

7.6 Mekanisme/Forum Penggambilan Keputusan ... 36

BAB VIII KELEMBAGAAN SOSIAL ... 39

8.1 Organisasi Sosial Formal ... 39

8.2 Organisasi Sosial Informal ... 39

(9)

BAB IX

PEREKONOMIAN DESA/ KOMUNITAS ... 41

9.1 Pendapatan dan Belanja Desa ... 41

9.2 Aset Desa... 42

9.3 Tingkat Pendapatan Warga ... 43

9.4 Industri dan Pengolahan Desa ... 47

9.4 Potensi dan Masalah Dalam Sektor Pertanian, Perikanan, Peternakan, Perkebunan, Kehutanan ...48

BAB X PENGUASAAN DAN PEMANFAATAN TANAH DAN SUMBER DAYA ALAM ... 49

10.1 Pola Penguasaan Tanah, Badan Air, Hutan, dan Sumber Daya Alam Lain ... 49

10.2 Pola Pemanfaatan Lahan ... 50

10.3 Tata Guna Lahan Desa ... 52

10.4 Konflik Tenurial ... 53

BAB XI PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBANGUNAN YANG ADA ... 55

BAB XII PERSEPSI TERHADAP RESTORASI GAMBUT ... 57

Daftar Gambar Gambar 1 Peta Sketsa Desa Galih Sari. Sumber: Yayasan Puter ...11

Gambar 2 Grafik Jumlah Penduduk Desa Galih Sari berdasarkan Umur ...22

Gambar 3 Diagram Presentasi Etnis Penduduk Desa Galih Sari ...30

Gambar 4 Diagram Presentasi Pneduduk Galih Sari Berdasarkan Agama...31

Gambar 5 Bagan Struktur Kepemerintahan Desa Galih Sari Tahun 2017 ...34

Gambar 6 Jejaring Warga Desa Galih Sari ...40

Gambar 7 Sketsa Pera Desa Galih Sari Tahun 2017 ...52

Gambar 14 Lahan gambut kering di Dusun 2 Desa Galih Sari. ...52

4.2 Laju Pertumbuhan ...22

4.3 Tingkat Kepadatan...22

BAB V KESEHATAN DAN PENDIDIKAN ...25

5.1 Sarana dan Prasarana Pendidikan dan Kesehatan ...25

5.2 Ketersediaan Tenaga Pendidik dan Kesehatan ...26

5.3 Tingkat Partisipasi Pendidikan Warga ...26

5.4 Kesiapan Fasilitas Kesehatan Menghadapi Kebakaran Gambut ...27

BAB VI KESEJAHTERAAN DAN KEBUDAYAAN MASYARAKAT ... 29

6.1 Sejarah Desa ...29 6.2 Etnis... 30 6.3 Bahasa ... 30 6.4 Religi ... 30 6.5 Kearifan Lokal ... 31 BAB VII PEMERINTAHAN DAN KEPEMIMPINAN... 33

7.1 Pembentukan Pemerintahan Desa ... 33

7.2 Struktur Kepemerintahan... 34

7.3 Kepemimpinan Lokal dan Tradisonal ... 34

7.4 Aktor Yang Berpengaruh ... 35

7.5 Mekanisme Penyelesaian Sengketa dan Konflik ... 36

7.6 Mekanisme/Forum Penggambilan Keputusan ... 36

BAB VIII KELEMBAGAAN SOSIAL ... 39

8.1 Organisasi Sosial Formal ... 39

8.2 Organisasi Sosial Informal ... 39

(10)

Daftar Tabel

Tabel 1 Orbitrasi Desa Galih Sari ...12

Tabel 2 Pemanfaatan Lahan di Desa Galih Sari beserta Luasannya ...12

Tabel 3 Fasilitas Umum dan Sosial Desa Galih Sari ...13

Tabel 4 Kalender Musim Desa Galih Sari ...16

Tabel 5 Jumlah Penduduk Desa Galih Sari berdasasrkan Jenis Kelamin...21

Tabel 6 Jumlah Penduduk Desa Galih Sari Per Dusun ...22

Tabel 7 Tingkat Partisipasi Penduduk Desa Galih Sari Tahun 2015 ...26

Tabel 8 Pemimpin Desa Galih Sari berdasarkan Tahun ...33

Tabel 9 Aktor yang Berpengaruh di Desa Galih Sari ...35

Tabel 10 Pendapatan Desa Galih Sari Tahun 2017 ...36

Tabel 11 Belanja Desa Galih Sari Tahun 2017 ...41

Tabel 12 Aset Desa Galih Sari ...42

Tabel 13 Jumlah Penduduk Desa Galih Sari berdasarkan Jenis Pekerjaan ...42

Tabel 14 Harga Pedi berdasarkan Jenis Hasil Panen ...43

Tabel 15 Produksi Rata-Rata Hasil Pertanian Desa Galih Sari ...44

Tabel 16 Harga Jual Hasil Tambak di Desa Galih Sari ...44

Tabel 17 Populasi dan Jumlah Rumah Tangga Pemilik Ternak ...46

Tabel 18 Industri dan Pengolahan di Desa Galih Sari ...46

Tabel 19 Presentase Jumlah Luas Kepemilikan Lahan Desa Galih Sari ...47

Tabel 20 Presentasi Pola Pemanfaatan Desa Galih Sari ...49

Tabel 21 Luas Tata Guna Lahan di Desa Galih Sari ...51

Tabel 22 Lokasi dan Volume Program Kegiatan Pembangunan di Desa Galih Sari ...53

(11)

BAB 1

PENDAHULUAN

2.1 Latar Belakang

Lahan gambut merupakan suatu ekosistem lahan basah yang terbentuk oleh adanya penimbunan bahan organik dalam jangka waktu yang lama. Lahan gambut merupakan area yang memiliki cadangan karbon yang sangat besar. Luasan lahan gambut berdasarkan data BB Litbang SDLP (2008) adalah 18.317,589 ha meliputi tiga pulau utama di Indonesia, yaitu Sumatera (6.244,101 ha), Kalimantan (5.072,249 ha), dan Papua (7.011,239 ha).

Lahan gambut mempunyai daya menahan air yang tinggi sehingga berfungsi sebagai penyangga hidrologi areal sekelilingnya yang dapat berfungsi untuk mencegah terjadinya banjir dan kekeringan. Tidak hanya itu, fungsi penting dari lahan gambut adalah menyimpan karbon dalam jumlah besar. Lahan gambut berfungsi sebagai penambat (sequerster), menyerap, dan menyimpan karbon sehingga berkontribusi dalam perubahan iklim.

Di sisi lain, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan industrialisasi terus tumbuh dan berkembang sehingga tekanan sumber daya alam terutama lahan gambut semakin besar, karena tingkat kebutuhan dan kepentingan terhadap sumber daya alam semakin tinggi sehingga potensi kerusakan dan pencemaran lingkungan juga semakin besar.

Pada tahun 2015 terjadi kebakaran hebat di lahan gambut di Indonesia. Pemerintah Indonesia menaksir kerugian negara

(12)

akibat kebakaran hutan dan kabut asap mencapai 20 triliun lebih. Tidak hanya itu dampak dari kebakaran hutan dan kabut asap tersebut membuat perekonomian di Indonesia melambat. Berkaca dari bencana tersebut, pemerintah Indonesia bergerak cepat dengan membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) guna percepatan dan pemulihan kawasan dan pengembalian fungsi hidrologis gambut akibat kebakaran hutan dan lahan secara khusus, sistematis, terarah, terpadu dan menyeluruh melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 2016.

Desa Galih Sari Kematan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatra Selatan adalah salah satu desa yang wilayahnya menjadi prioritas untuk direstorasi pada tahun 2017 ini. Sebagian besar wilayah pertanian di Desa Galih Sari sendiri adalah wilayah rawa gambut pasang surut dan juga didominasi oleh perkebunan kelapa sawit plasma milik warga dan perkebunan wilayah PT. SCK yang mulai masuk pada tahun 2006. Pada tahun 2015, 90% titik kebakaran ditemukan berada di wilayah konsesi PT. SCK.

Menanggapi hal itu, BRG mencoba melakukan restorasi melalui Program Desa Peduli Gambut (DPG), yaitu program untuk intervensi pembangunan pada desa-desa/kelurahan di dalam dan sekitar Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yang menjadi target restorasi gambut. DPG bukan program yang berdiri sendiri, tetapi mengkoordinasi dan memfasilitasi program-program pembangunan di lokasi-lokasi prioritas restorasi gambut. Pendekatan DPG adalah pembangunan desa berbasis lanskap eko sistem gambut. DPG bekerja pada kawasan-kawasan perdesaan di dalam KHG. Desa-desa yang berdekatan akan dirajut kerjasamanya dalam sebuah kawasan perdesaan. Agar program yang dilakukan dapat tepat guna, perlu dilakukan riset untuk menemukan potensi dan masalah terlebih dahulu. Hal itulah kemudian yang melandasi kegiatan pemetaan sosial di Desa Galih Sari.

2.2 Tujuan

Tujuan pemetaan sosial Desa Peduli Gambut ini adalah untuk mengumpulkan dan mengelolah data dan informasi potensi dan kerentanan Desa Galih Sari yang termasuk kedalam

(13)

akibat kebakaran hutan dan kabut asap mencapai 20 triliun lebih. Tidak hanya itu dampak dari kebakaran hutan dan kabut asap tersebut membuat perekonomian di Indonesia melambat. Berkaca dari bencana tersebut, pemerintah Indonesia bergerak cepat dengan membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) guna percepatan dan pemulihan kawasan dan pengembalian fungsi hidrologis gambut akibat kebakaran hutan dan lahan secara khusus, sistematis, terarah, terpadu dan menyeluruh melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 2016.

Desa Galih Sari Kematan Lalan Kabupaten Musi Banyuasin Provinsi Sumatra Selatan adalah salah satu desa yang wilayahnya menjadi prioritas untuk direstorasi pada tahun 2017 ini. Sebagian besar wilayah pertanian di Desa Galih Sari sendiri adalah wilayah rawa gambut pasang surut dan juga didominasi oleh perkebunan kelapa sawit plasma milik warga dan perkebunan wilayah PT. SCK yang mulai masuk pada tahun 2006. Pada tahun 2015, 90% titik kebakaran ditemukan berada di wilayah konsesi PT. SCK.

Menanggapi hal itu, BRG mencoba melakukan restorasi melalui Program Desa Peduli Gambut (DPG), yaitu program untuk intervensi pembangunan pada desa-desa/kelurahan di dalam dan sekitar Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) yang menjadi target restorasi gambut. DPG bukan program yang berdiri sendiri, tetapi mengkoordinasi dan memfasilitasi program-program pembangunan di lokasi-lokasi prioritas restorasi gambut. Pendekatan DPG adalah pembangunan desa berbasis lanskap eko sistem gambut. DPG bekerja pada kawasan-kawasan perdesaan di dalam KHG. Desa-desa yang berdekatan akan dirajut kerjasamanya dalam sebuah kawasan perdesaan. Agar program yang dilakukan dapat tepat guna, perlu dilakukan riset untuk menemukan potensi dan masalah terlebih dahulu. Hal itulah kemudian yang melandasi kegiatan pemetaan sosial di Desa Galih Sari.

2.2 Tujuan

Tujuan pemetaan sosial Desa Peduli Gambut ini adalah untuk mengumpulkan dan mengelolah data dan informasi potensi dan kerentanan Desa Galih Sari yang termasuk kedalam

wilayah target restorasi gambut serta menyusun buku profil Desa Peduli Gambut yang nantinya akan digunakan sebagai landasan program selanjutnya yang dilaksanakan oleh Fasilitator Desa.

2.3 Metode Pengumpulan Data

Pemetaan sosial ini dilakukan di Desa Galih Sari, Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Pemetaan sosial ini dilakukan selama kurang lebih 5 bulan, yaitu terhitung dari bulan Juli-November 2017.

Terdapat 2 jenis data yang dikumpulkan, primer dan sekunder. Data primer merupakan data-data yang diperoleh langsung di lapangan. Pengumpulan data primer ini dilakukan dua tahap, yaitu pertama pada 5-21 Juli 2017 dan kedua 1-5 November 2017. Metode pengumpulan data primer dilakukan dengan cara 1) survey rumah tangga; 2) wawancara mendalam; 3) pengamatan berperan serta; 4) diskusi kelompok terarah; 5) pemetaan partisipatif; dan 6) transek wilayah. Subjek yang menjadi data primer ini adalah perangkat desa, tokoh agama, warga desa, ketua PKK, kepala dusun, dan ketua LPM. Pengumpulan data sekunder dilakukan untuk melengkapi kekurangan data primer. Sumber data sekunder ini berasal dari Profil Desa Galih Sari, RPJMDes Galih Sari, RKAPDes Galih Sari, dan literatur lainnya yang relevan.

2.4 Struktur Laporan

Struktur laporan ini terdiri dari 13 bab yang berisi pendahuluan, gambaran umum lokasi, lingkungan fisik ekosistem gambut, kependudukan, kesehatan dan pendidikan, kesejahteraan dan kebudayaan masyarakat, pemerintahan dan kepemimpinan desa, kelembagaan sosial, perekonomian desa, penguasaan dan pemenfaatan tanah serta sumber daya alam, program pembangunan, persepsi tentang restorasi gambut, dan penutup.

(14)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI

2.1 Letak Desa

Desa Galih Sari merupakan sebuah desa yang berada di dalam wilayah Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyasin, Provinsi Sumatera Selatan. Secara administrasi, Desa Galih Sari terbagi menjadi 4 dusun (Profil Desa Galih Sari, 2016) dengan luasan ± 2.841 Ha. Desa ini dikelilingi oleh perkebunan Sawit dan karet, persawahan, serta dikelilingi juga oleh tanaman kelapa sebagai salah satu sumber penghasilan sampingan masyarakat.

Gambar 1 Peta Sketsa Desa Galih Sari. Sumber: Yayasan Puter

(15)

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI

2.1 Letak Desa

Desa Galih Sari merupakan sebuah desa yang berada di dalam wilayah Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyasin, Provinsi Sumatera Selatan. Secara administrasi, Desa Galih Sari terbagi menjadi 4 dusun (Profil Desa Galih Sari, 2016) dengan luasan ± 2.841 Ha. Desa ini dikelilingi oleh perkebunan Sawit dan karet, persawahan, serta dikelilingi juga oleh tanaman kelapa sebagai salah satu sumber penghasilan sampingan masyarakat.

Gambar 1 Peta Sketsa Desa Galih Sari. Sumber: Yayasan Puter

Badan Restorasi Gambut

BAB II

GAMBARAN UMUM LOKASI

2.1 Letak Desa

Desa Galih Sari merupakan sebuah desa yang berada di dalam wilayah Kecamatan Lalan, Kabupaten Musi Banyasin, Provinsi Sumatera Selatan. Secara administrasi, Desa Galih Sari terbagi menjadi 4 dusun (Profil Desa Galih Sari, 2016) dengan luasan ± 2.841 Ha. Desa ini dikelilingi oleh perkebunan Sawit dan karet, persawahan, serta dikelilingi juga oleh tanaman kelapa sebagai salah satu sumber penghasilan sampingan masyarakat.

Gambar 1 Peta Sketsa Desa Galih Sari. Sumber: Yayasan Puter

(16)

2.2 Orbitasi (Jarak ke Pusat Administrasi/ Ekonomi)

Desa Galih Sari terletak sekitar 10 km di bagian barat Ibu Kota Kecamatan Lalan. Sedangkan jarak ke ibu kota kabupaten sekitar 90 km. Jarak ke ibu kota kabupaten ini justru lebih jauh dibanding jarak ke ibu kota provinsi yaitu sekitar 78 km. Karena letak geografis desa Galih Sari berada dekat dengan sungai besar (Sungai Lalan), masyarakat Desa Galih Sari terbiasa menggunakan alat transportasi air untuk berpergian. Baik itu ke ibu kota kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Jalur darat memang tersedia, tapi hanya bisa dilalui pada saat musim kering. Itupun jarang menjadi pilihan warga karena jalanannya yang masih berupa tanah merah. Untuk lebih jelasnya, berikut tabel orbitrasi Desa Galih Sari ke ibu kota terdekat:

Tabel 1 Orbitrasi Desa Galih Sari

Antar Desa Ibukota Kecamatan Ibukota Kabupaten Ibukota Provinsi Jarak (KM) Waktu Tempuh (menit) Jarak (KM) Waktu Tempuh (menit) Jarak (KM) Waktu Tempuh (menit) Jarak (KM) Waktu Tempuh (menit) 5 10 10 60 90 480 78 180

2.3 Batas dan Luas Wilayah

Desa Galih Sari memiliki luas ± 2.841 Ha, dengan pembagian sebagai berikut :

Tabel 2 Pemanfaatan Lahan di Desa Galih Sari beserta Luasannya

Pemanfaatan Luas

Pemukiman 209 Ha

Lahan usaha & Tran Suakarsa Mandiri (TSM)

1632 Ha

Plasma PT. Surya Cipta Kahuripan (PT. SCK)

(17)

2.2 Orbitasi (Jarak ke Pusat Administrasi/ Ekonomi)

Desa Galih Sari terletak sekitar 10 km di bagian barat Ibu Kota Kecamatan Lalan. Sedangkan jarak ke ibu kota kabupaten sekitar 90 km. Jarak ke ibu kota kabupaten ini justru lebih jauh dibanding jarak ke ibu kota provinsi yaitu sekitar 78 km. Karena letak geografis desa Galih Sari berada dekat dengan sungai besar (Sungai Lalan), masyarakat Desa Galih Sari terbiasa menggunakan alat transportasi air untuk berpergian. Baik itu ke ibu kota kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Jalur darat memang tersedia, tapi hanya bisa dilalui pada saat musim kering. Itupun jarang menjadi pilihan warga karena jalanannya yang masih berupa tanah merah. Untuk lebih jelasnya, berikut tabel orbitrasi Desa Galih Sari ke ibu kota terdekat:

Tabel 1 Orbitrasi Desa Galih Sari

Antar Desa Ibukota Kecamatan Ibukota Kabupaten Ibukota Provinsi Jarak (KM) Waktu Tempuh (menit) Jarak (KM) Waktu Tempuh (menit) Jarak (KM) Waktu Tempuh (menit) Jarak (KM) Waktu Tempuh (menit) 5 10 10 60 90 480 78 180

2.3 Batas dan Luas Wilayah

Desa Galih Sari memiliki luas ± 2.841 Ha, dengan pembagian sebagai berikut :

Tabel 2 Pemanfaatan Lahan di Desa Galih Sari beserta Luasannya

Pemanfaatan Luas

Pemukiman 209 Ha

Lahan usaha & Tran Suakarsa Mandiri (TSM)

1632 Ha

Plasma PT. Surya Cipta Kahuripan (PT. SCK)

1000 Ha

Selain berbatasan dengan Sungai Lalan, Desa Galih Sari juga berbatasan dengan konsesi perkebunan dan beberapa desa lainnya yang terletak di kecamatan yang berbeda. Berikut rinciannya:

Utara : Sungai Lalan, Desa Primer 6 (P6), Desa Sari Agung Primer 5 (P5)

Selatan : PT Hindoli, Desa Penuguhan, Desa Primer 15 (Kec. Pulau Rimau-Kab. Banyuasin)

Timur : Sungai Lalan, Desa Karang Sari Primer 4 (P4), Desa Karang Manunggal Primer 13 (P13), Desa Primer 14 (Kec. Pulau Rimau-Kab. Banyuasin) Barat : Sungai Lalan, Desa Karang Agung, PT. Surya Cipta

Kahuripan (PT. SCK)

2.4 Fasilitas Umum dan Sosial

Fasilitas umum yang ada di Desa Galih Sari sebenarnya cukup lengkap hanya saja kondisinya kurang terawat dan banyak yang terbengkalai. Salah satunya adalah Gedung Posko Pelayanan Terpadu (Posyandu). Gedung ini terlalu kecil untuk menampung masyarakat. Akhirnya kegiatan Posyandu sering dilakukan di balai desa. Karena jarang dipakai gedung posyandu pun menjadi tidak terawat. Selain gedung posyandu beberapa jembatan penghubung antar dusun juga kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Fasilitas umum dan sosial lain yang ada di desa, terangkum dalam tabel di bawah ini:

Tabel 3 Fasilitas Umum dan Sosial Desa Galih Sari

No. Nama Fasilitas Volume Kondisi Lokasi

1. Jalan Kabupaten 5 km Tanah Merah RT. 2-12/Dsn. 1 & 2

2. Jalan Desa/ Jalan

Produksi 11 km Tanah Liat RT. 1-25/Dsn. 1 – 4 3. Jalan Lingkungan 23 km Tanah Liat RT. 1-25/Dsn. 1 –

(18)

4 4. Jembatan Beton

dijalan Desa

2 unit Baik RT. 02/ Dsn. 1 & RT. 09/ Dsn. 2 5. Jembatan Besi dijalan

Desa

2 unit Rusak RT. 19/ Dsn. 1 & RT. 07/ Dsn. 2 6. Jembatan Kayu

dijalan Desa

2 unit Baik RT. 11/ Dsn. 2 & RT. 22/Dsn. 4 7. Jembatan

Gorong-gorong dijalan Kabupaten

3 unit Baik Desa Galih Sari

8. Gedung SD Negeri 2 unit Sedang RT. 04/ Dsn. 1 & RT. 23/ Dsn. 4 9. Gedung SMP PGRI 1 unit Baik RT. 3 Dsn. 1 10. Gedung SMA PGRI 1 unit Baik – Numpang RT. 23/ Dsn. 4

11. Gedung Madrasah 1 unit Baik RT. 5/ Dsn. 1

12. Puskesmas Pembantu 1 unit Baik RT. 2/ Dsn. 1

13. Posyandu 1 unit Rusak RT. 3/ Dsn. 1

14. Sumur Bor 1 unit TidakLayakKonsumsi RT. 2/ Dsn. 1

15. Kantor Kepala Desa 1 unit Sedang RT. 3/ Dsn.1

16. Kantor Kepala Dusun 3 unit Baik Dsn. 2,3, & 4 17. Arus Aliran Listrik ke

Kantor Kepala Desa

900 watt

Buruk Kantor KepalaDesa

18. Masjid 4 unit Sedang Dsn. 1 – 4

19. Musholla/Surau 11 unit Kurang Baik Dsn. 1 – 4

20. Gereja 1 unit Baik Dsn. 2

21. Tanah tempat

Pemakaman Umum

(19)

4 4. Jembatan Beton

dijalan Desa

2 unit Baik RT. 02/ Dsn. 1 & RT. 09/ Dsn. 2 5. Jembatan Besi dijalan

Desa

2 unit Rusak RT. 19/ Dsn. 1 & RT. 07/ Dsn. 2 6. Jembatan Kayu

dijalan Desa

2 unit Baik RT. 11/ Dsn. 2 & RT. 22/Dsn. 4 7. Jembatan

Gorong-gorong dijalan Kabupaten

3 unit Baik Desa Galih Sari

8. Gedung SD Negeri 2 unit Sedang RT. 04/ Dsn. 1 & RT. 23/ Dsn. 4 9. Gedung SMP PGRI 1 unit Baik RT. 3 Dsn. 1 10. Gedung SMA PGRI 1 unit Baik – Numpang RT. 23/ Dsn. 4

11. Gedung Madrasah 1 unit Baik RT. 5/ Dsn. 1

12. Puskesmas Pembantu 1 unit Baik RT. 2/ Dsn. 1

13. Posyandu 1 unit Rusak RT. 3/ Dsn. 1

14. Sumur Bor 1 unit TidakLayakKonsumsi RT. 2/ Dsn. 1

15. Kantor Kepala Desa 1 unit Sedang RT. 3/ Dsn.1

16. Kantor Kepala Dusun 3 unit Baik Dsn. 2,3, & 4 17. Arus Aliran Listrik ke

Kantor Kepala Desa

900 watt

Buruk Kantor KepalaDesa

18. Masjid 4 unit Sedang Dsn. 1 – 4

19. Musholla/Surau 11 unit Kurang Baik Dsn. 1 – 4

20. Gereja 1 unit Baik Dsn. 2

21. Tanah tempat

Pemakaman Umum

2 unit Kurang Baik Dsn. 2 & 4

BAB III

LINGKUNGAN FISIK DAN EKOSISTEM GAMBUT

3.1 Topografi

Secara astronomis, Desa Galih Sari terletak terletak pada koordinat UTM 48M 442622.00 m Timur &9737355.00 m Utara. Merupakan dataran rendah dengan ketinggian hanya 4-10 meter di atas permukaan laut. Kontur Desa Galih Sari pun berbentuk datar. Selain sungai, Desa Galih Sari memiliki sungai buatan, yang biasa disebut saluran. Ada dua saluran utama yang melewati Galih Sari, yaitu: Primer 11 dan Primer 12.

3.2 Geomorfologi dan Jenis Tanah

Ada dua jenis tanah yang terdapat di Desa Galih Sari yaitu tanah liat abu-abu dan tanah organosol. Tanah organosol yang banyak mengandung bahan-bahan organik ini memiliki dua macam jenis, yaitu: tanah humus dan tanah gambut. Jenis tanah organosol di Galih Sari adalah jenis tanah gambut yang memiliki kedalaman 30-100 cm (tergolong gambut tipis). Tanah gambut di Galih Sari ada pada lahan yang belum digarap masyarakat. Sedangkan tanah yang berada di lahan pemukiman dan kebun warga merupakan tanah liat abu-abu.

3.3 Iklim dan Cuaca

Desa Galih Sari termasuk dalam iklim tropis yang memiliki dua musim: musim hujan dan musim panas. Musim panas berlangsung pada bulan Juni – September. Sedangkan musim

(20)

setiap bulannya. Sedangkan tanaman lain, yaitu padi dan kelapa, ditanam secara bergiliran.

Proses penanaman padi dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan Januari di tahun berikutnya. Kemudian dipanen pada bulan keempat pasca penanaman, yaitu sekitar bulan Mei. Sambil persiapan panen padi, warga menanam bibit kelapa pada bulan Februari. Kemudian, setelah satu tahun waktu penanaman, kelapa dipanen setiap tiga bulan sekali.

Cuaca tidak begitu berpengaruh di sektor perikanan. Hampir setiap bulan bibit ikan ditebarkan di kolam-kolam. Biasanya begitu ikan dipanen, kolam tidak dibiarkan, melainkan langsung diisi kembali dengan bibit ikan yang baru.

3.4 Keanekaragam Hayati

Keanekaragaman hayati yang ada di Desa Galih Sari sebenarnya hampir sama seperti keanekaragaman hayati yang ada di daerah lahan gambut lainnya. Hanya saja ada beberapa yang sudah mulai jarang ditemui. Hal ini terjadi terutama karena banyak lahan gambut yang sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

Kita dapat menjumpai tumbuhan nipah (N. fruticans ) di Desa Galih Sari. Warga biasanya menggunakan daunnya untuk dijadikan atap rumah. Selain itu ada juga pohon gelam (Melaleuca sp.) yang kayunya dipakai warga untuk membangun rumah. Namun saat ini jumlah gelam semakin berkurang setiap tahunnya, akibat pembukaan lahan gambut secara terus menerus. Tanaman lain yang juga ada di desa ini adalah akasia (Acacia sp), sengon (Albizia chinensis), kapuk (Ceiba pentandra) dan kelapa (Cocos nucifera). Dulu, desa ini memiliki tanaman purun (Eleacharis dulcis), namun karena banyak pembukaan lahan, tanaman purun menjadi sulit ditemukan.

Tumbuhan yang saat ini banyak dijumpai di Desa Galih Sari adalah kelapa sawit (Elaeis guinensis, padi (Oryza sativa) dan juga pohon kelapa. Hampir sebagian lahan gambut di desa dimanfaatkan oleh warga untuk lahan pertanian.

Sebelum alih fungsi lahan terjadi, banyak hewan yang dapat ditemukan di Galih Sari, seperti burung kecer (Copsychus sp), hujan berlangsung pada bulan Januari – Mei dan Oktober –

Desember.

Cuaca juga mempunyai peranan penting dalam usaha pertanian dan pendapatan masyarakat. Ia menentukan kapan masyarakat di Desa Galih Sari akan melakukan proses penanaman maupun pemanenan. Seperti yang terlihat dalam kalender musim di bawah ini :

Tabel 4 Kalender Musim Desa Galih Sari

Ada tiga komoditas pertanian yang dibudidayakan oleh masyarakat Desa Galih Sari, padi, kelapa sawit, dan kelapa. Pada saat ini, kelapa sawit sedang berada dalam fase panen. Artinya tidak ada daur yang lain selain proses pemanenan tandan sawit

(21)

setiap bulannya. Sedangkan tanaman lain, yaitu padi dan kelapa, ditanam secara bergiliran.

Proses penanaman padi dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan Januari di tahun berikutnya. Kemudian dipanen pada bulan keempat pasca penanaman, yaitu sekitar bulan Mei. Sambil persiapan panen padi, warga menanam bibit kelapa pada bulan Februari. Kemudian, setelah satu tahun waktu penanaman, kelapa dipanen setiap tiga bulan sekali.

Cuaca tidak begitu berpengaruh di sektor perikanan. Hampir setiap bulan bibit ikan ditebarkan di kolam-kolam. Biasanya begitu ikan dipanen, kolam tidak dibiarkan, melainkan langsung diisi kembali dengan bibit ikan yang baru.

3.4 Keanekaragam Hayati

Keanekaragaman hayati yang ada di Desa Galih Sari sebenarnya hampir sama seperti keanekaragaman hayati yang ada di daerah lahan gambut lainnya. Hanya saja ada beberapa yang sudah mulai jarang ditemui. Hal ini terjadi terutama karena banyak lahan gambut yang sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

Kita dapat menjumpai tumbuhan nipah (N. fruticans ) di Desa Galih Sari. Warga biasanya menggunakan daunnya untuk dijadikan atap rumah. Selain itu ada juga pohon gelam (Melaleuca sp.) yang kayunya dipakai warga untuk membangun rumah. Namun saat ini jumlah gelam semakin berkurang setiap tahunnya, akibat pembukaan lahan gambut secara terus menerus. Tanaman lain yang juga ada di desa ini adalah akasia (Acacia sp), sengon (Albizia chinensis), kapuk (Ceiba pentandra) dan kelapa (Cocos nucifera). Dulu, desa ini memiliki tanaman purun (Eleacharis dulcis), namun karena banyak pembukaan lahan, tanaman purun menjadi sulit ditemukan.

Tumbuhan yang saat ini banyak dijumpai di Desa Galih Sari adalah kelapa sawit (Elaeis guinensis, padi (Oryza sativa) dan juga pohon kelapa. Hampir sebagian lahan gambut di desa dimanfaatkan oleh warga untuk lahan pertanian.

Sebelum alih fungsi lahan terjadi, banyak hewan yang dapat ditemukan di Galih Sari, seperti burung kecer (Copsychus sp), hujan berlangsung pada bulan Januari – Mei dan Oktober –

Desember.

Cuaca juga mempunyai peranan penting dalam usaha pertanian dan pendapatan masyarakat. Ia menentukan kapan masyarakat di Desa Galih Sari akan melakukan proses penanaman maupun pemanenan. Seperti yang terlihat dalam kalender musim di bawah ini :

Tabel 4 Kalender Musim Desa Galih Sari

Ada tiga komoditas pertanian yang dibudidayakan oleh masyarakat Desa Galih Sari, padi, kelapa sawit, dan kelapa. Pada saat ini, kelapa sawit sedang berada dalam fase panen. Artinya tidak ada daur yang lain selain proses pemanenan tandan sawit

setiap bulannya. Sedangkan tanaman lain, yaitu padi dan kelapa, ditanam secara bergiliran.

Proses penanaman padi dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan Januari di tahun berikutnya. Kemudian dipanen pada bulan keempat pasca penanaman, yaitu sekitar bulan Mei. Sambil persiapan panen padi, warga menanam bibit kelapa pada bulan Februari. Kemudian, setelah satu tahun waktu penanaman, kelapa dipanen setiap tiga bulan sekali.

Cuaca tidak begitu berpengaruh di sektor perikanan. Hampir setiap bulan bibit ikan ditebarkan di kolam-kolam. Biasanya begitu ikan dipanen, kolam tidak dibiarkan, melainkan langsung diisi kembali dengan bibit ikan yang baru.

3.4 Keanekaragam Hayati

Keanekaragaman hayati yang ada di Desa Galih Sari sebenarnya hampir sama seperti keanekaragaman hayati yang ada di daerah lahan gambut lainnya. Hanya saja ada beberapa yang sudah mulai jarang ditemui. Hal ini terjadi terutama karena banyak lahan gambut yang sudah beralih fungsi menjadi lahan pertanian.

Kita dapat menjumpai tumbuhan nipah (N. fruticans ) di Desa Galih Sari. Warga biasanya menggunakan daunnya untuk dijadikan atap rumah. Selain itu ada juga pohon gelam (Melaleuca sp.) yang kayunya dipakai warga untuk membangun rumah. Namun saat ini jumlah gelam semakin berkurang setiap tahunnya, akibat pembukaan lahan gambut secara terus menerus. Tanaman lain yang juga ada di desa ini adalah akasia (Acacia sp), sengon (Albizia chinensis), kapuk (Ceiba pentandra) dan kelapa (Cocos nucifera). Dulu, desa ini memiliki tanaman purun (Eleacharis dulcis), namun karena banyak pembukaan lahan, tanaman purun menjadi sulit ditemukan.

Tumbuhan yang saat ini banyak dijumpai di Desa Galih Sari adalah kelapa sawit (Elaeis guinensis, padi (Oryza sativa) dan juga pohon kelapa. Hampir sebagian lahan gambut di desa dimanfaatkan oleh warga untuk lahan pertanian.

Sebelum alih fungsi lahan terjadi, banyak hewan yang dapat ditemukan di Galih Sari, seperti burung kecer (Copsychus sp),

(22)

burung kakak tua (Cacatuidae sp), harimau (Panthera tigris sumatrae), buaya (Tomistoma schlegelii), ular (Homalopsis bucata), babi hutan (Sus scrofa), musang (Paradoxurus hermaphroditus), berang-berang (Lutra sp.), dan kura-kura (Cuora sp.) Seiring dengan peralihan lahan gambut menjadi lahan pertanian, hewan-hewan di daerah tersebut menjadi sulit ditemukan. Selain itu perburuan juga banyak terjadi, terutama mereka yang memburu harimau, burung kakak tua, dan burung kecer.

Saat ini hanya beberapa hewan saja yang hidup di Desa Galih Sari seperti Buaya, Kura-kura, dan beberapa jenis burung yang bermigrasi. Itupun jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan pada saat sebelum adanya peralihan lahan gambut menjadi lahan pertanian.

3.5 Vegetasi

Vegetasi di lahan gambut yang ada di Desa Galih Sari saat ini didominasi oleh kelapa sawit dan padi. Hal ini dikarenakan adanya perubahan alih fungsi lahan dari lahan gambut menjadi lahan pertanian. Padahal sebelum dibuka menjadi lahan pertanian vegetasi di Desa Galih Sari cukup banyak dan beragam. Mulai dari jenis tumbuhan kayu keras yang masih dijumpai saat ini kayu gelam, kayu sengon, kayu akasia, dan kayu kapuk.

3.6 Hidrologi di Lahan Gambut

Hidrologi lahan gambut di Galih Sari dipengaruhi oleh kondisi debit air dan pola pasang surut air laut yang dibawa oleh Sungai Lalan yang masuk melalui aliran sungai kecil dan primer. Namun di lapangan ditemukan beberapa aliran air ini telah dipasang sekat kanal, yaitu yang berada di wilayah HGU PT. SCK yang mempengaruhi tingggi rendahnya muka air pada sekitar daerah HGU tersebut.

(23)

burung kakak tua (Cacatuidae sp), harimau (Panthera tigris sumatrae), buaya (Tomistoma schlegelii), ular (Homalopsis bucata), babi hutan (Sus scrofa), musang (Paradoxurus hermaphroditus), berang-berang (Lutra sp.), dan kura-kura (Cuora sp.) Seiring dengan peralihan lahan gambut menjadi lahan pertanian, hewan-hewan di daerah tersebut menjadi sulit ditemukan. Selain itu perburuan juga banyak terjadi, terutama mereka yang memburu harimau, burung kakak tua, dan burung kecer.

Saat ini hanya beberapa hewan saja yang hidup di Desa Galih Sari seperti Buaya, Kura-kura, dan beberapa jenis burung yang bermigrasi. Itupun jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan pada saat sebelum adanya peralihan lahan gambut menjadi lahan pertanian.

3.5 Vegetasi

Vegetasi di lahan gambut yang ada di Desa Galih Sari saat ini didominasi oleh kelapa sawit dan padi. Hal ini dikarenakan adanya perubahan alih fungsi lahan dari lahan gambut menjadi lahan pertanian. Padahal sebelum dibuka menjadi lahan pertanian vegetasi di Desa Galih Sari cukup banyak dan beragam. Mulai dari jenis tumbuhan kayu keras yang masih dijumpai saat ini kayu gelam, kayu sengon, kayu akasia, dan kayu kapuk.

3.6 Hidrologi di Lahan Gambut

Hidrologi lahan gambut di Galih Sari dipengaruhi oleh kondisi debit air dan pola pasang surut air laut yang dibawa oleh Sungai Lalan yang masuk melalui aliran sungai kecil dan primer. Namun di lapangan ditemukan beberapa aliran air ini telah dipasang sekat kanal, yaitu yang berada di wilayah HGU PT. SCK yang mempengaruhi tingggi rendahnya muka air pada sekitar daerah HGU tersebut.

Pada lahan gambut yang belum dikelola masyarakat, hidrologi masih dalam kondisi baik. Hal ini ditunjukan dengan masih basahnya kondisi lahan dengan parit-parit yang permukaan airnya maish tinggi.Tetapi pada lahan yang telah dikelola masyarakat yang umumnya digunakan sebagai kebun kelapa sawit, kondisi hidrologi pada lahan gambut sudah rusak karena dibuatnya parit-parit atau boundery yang mengarah ke Sungai Primer. Akibatnya kualitas air berkurang dan ketersediaan air tanah semakin menipis.

3.7 Kerentanan Ekosistem Gambut

Hampir 90% lahan gambut di Desa Galih Sari sudah beralih menjadi lahan pertanian. Baik itu untuk kelapa sawit (70%), padi (20%), kelapa (5%), dan karet (5%). Peralihan lahan gambut menjadi pertanian mulai marak dilakukan ketika sawit pertama kali masuk ke Desa Galih Sari pada tahun 2006. Pembukaan lahan ini berakibat pada penurunan permukaan tanah, yang akhirnya banjir pun tidak terhindari, terutama ketika sungai sedang pasang. Kebakaran pun kadang terjadi. Pada tahun 2015 kemarin, 10% titik kebakaran berada di lahan perkebunan warga, 90% nya berada di kawasan HGU PT. Surya Citra Kahuripan.

(24)
(25)

Badan Restorasi Gambut

BAB IV

KEPENDUDUKAN

4.1 Data Umum Penduduk

Jumlah penduduk yang besar biasanya menjadi modal dasar pembangunan sekaligus bisa menjadi beban pembangunan, jumlah penduduk Desa Galih Sari adalah 1.898 jiwa dengan jumlah kepala keluarga 482. Agar dapat menjadi dasar pembangunan maka jumlah penduduk yang besar harus disertai kualitas SDM yang tinggi. Penanganan kependudukan sangat penting sehingga potensi yang dimiliki mampu menjadi pendorong dalam pembangunan, khususnya pembangunan Desa Galih Sari berkaitan dengan kependudukan, aspek yang penting antara lain perkembangan jumlah penduduk, kepadatan dan persebaran serta strukturnya.

Tabel 5 Jumlah Penduduk Desa Galih Sari berdasasrkan Jenis Kelamin

Laki-laki Perempuan Jumlah Total

975 Jiwa 923 Jiwa 1.898 Jiwa

4.2 Struktur Kependudukan Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin dll

Mayoritas warga Galih Sari adalah pemuda yang berada pada usia 15-21 tahun. Sedikit sekali jumlah orang tua, terutama bagi mereka yang berada di umur 55-60 tahun. Seperti yang terlihat pada grafik di bawah ini:

(26)

Gambar 2 Grafik Jumlah Penduduk Desa Galih Sari berdasarkan Umur

4.2 Laju Pertumbuhan

Jumlah penduduk Desa Galih Sari cenderung meningkat karena tingkat kelahiran lebih besar dari pada kematian. Serta penduduk yang masuk lebih besar dari penduduk yang keluar, yaitu sebesar 7,08.

Tabel 6 Jumlah Penduduk Desa Galih Sari Per Dusun

No. Dusun Jumlah Penduduk Jiwa

Kepala Keluarga Jiwa

1 Dusun 1 213 810

2 Dusun 2 94 368

3 Dusun 3 8 337

4 Dusun 4 92 383

4.3 Tingkat Kepadatan

Sebagaimana desa lainnya Desa Galih Sari dengan luas wilayah 2.841 Ha atau 28,4 km2 terbagi menjadi 4 dusun dan 25

RT dengan pola persebaran penduduk berada disepanjang aliran saluran P11 dan P12. Rata-rata jumlah penduduk

(27)

per-Gambar 2 Grafik Jumlah Penduduk Desa Galih Sari berdasarkan Umur

4.2 Laju Pertumbuhan

Jumlah penduduk Desa Galih Sari cenderung meningkat karena tingkat kelahiran lebih besar dari pada kematian. Serta penduduk yang masuk lebih besar dari penduduk yang keluar, yaitu sebesar 7,08.

Tabel 6 Jumlah Penduduk Desa Galih Sari Per Dusun

No. Dusun Jumlah Penduduk Jiwa

Kepala Keluarga Jiwa

1 Dusun 1 213 810

2 Dusun 2 94 368

3 Dusun 3 8 337

4 Dusun 4 92 383

4.3 Tingkat Kepadatan

Sebagaimana desa lainnya Desa Galih Sari dengan luas wilayah 2.841 Ha atau 28,4 km2 terbagi menjadi 4 dusun dan 25

RT dengan pola persebaran penduduk berada disepanjang aliran saluran P11 dan P12. Rata-rata jumlah penduduk

per-dusun adalah 400 jiwa. Jika dibandingkan dengan luas wilayah desa, ternyata setiap km2 dari wilayah Desa Galih Sari dihuni

hanya sekitar 1,03 jiwa atau 1,03 jiwa/ km2. Artinya tingkat

(28)
(29)

Badan Restorasi Gambut

BAB V

KESEHATAN DAN PENDIDIKAN

5.1 Sarana dan Prasarana Pendidikan dan Kesehatan

Kebutuhan pendidikan di Desa Galih Sari cukup terpenuhi dengan baik. Karena hampir semua jenjang pendidikan ada di sini, yaitu PAUD Asiyah Buthanul Atfal, Madrasah Diniyah Hidayatul Mubtadiin, Sekolah Dasar Negeri 1 Galih Sari, Sekolah Dasar Negeri 2 Galih Sari, Sekolah Menengah Pertama PGRI, dan Sekolah Menengah Atas PGRI.

Fasilitas dan pelayanan kesehatan yang ada di Desa Galih Sari masih sangat minim dan bahkan jauh dari kesan baik, walaupun kelengkapan alat kesehatan dan obat-obatan lumayan memadai. Tetapi untuk tenaga kesehatan masih sangat kurang di Desa Galih Sari hanya ada satu tenaga kesehatan yaitu bidan desa.

Sarana dan prasarana kesehatan yang ada di Desa Galih Sari terdiri dari: 1) Puskesmas Pembantu Desa Galih Sari dengan alat kesehatan yang kurang memadai. Puskesmas di Desa Galih Sari juga difungsikan sebagai rumah Dinas Bidan Desa. Sehingga mempermudah masyarakat apabila ingin cek kesehatan. Apabila dalam keadaan darurat biasanya pasien akan dibawa ke Palembang; 2) Posyandu Desa dengan kondisi saat ini yang masih terbengkalai dikarenakan ruang yang sangat sempit yang tidak dapat mampu menampung warga dan fasilitas listrik serta air yang belum ada. Kegiatan posyandu tersebut biasanya dialihkan ke Balai Desa.

(30)

5.2 Ketersediaan Tenaga Pendidik dan Kesehatan

Terdapat sekitar 63 tenaga pendidik di Desa Galih Sari. Mayoritas merupakan warga Desa Galih Sari itu sendiri yang berstatus sebagai guru honorer. Hanya beberapa saja guru yang berstatus sebagai pegawai negeri. Selain mengajar, para guru honorer ini juga beraktivitas sebagai petani. Meski tenaga pendidik ini cukup banyak, rupanya bagi Sekolah Menengah Pertama PGRI yang berada di Dusun 1 masih kekurangan guru. Khususnya untuk guru Matematika dan Pendidikan Kesehatan Jasmani.

Terdapat tiga tenaga kesehatan di desa ini, yaitu 1) bidan puskesmas pembantu, 2) bidan yang membuka praktik mandiri di Dusun 2, dan 3) mantri yang berada di Dusun 1. Ketika keadaan darurat, warga akan pergi keluar desa untuk berobat, diantaranya ke Puskesmas P16 yang berada di ibu kota kecamatan (Bandar Agung) atau ke Palembang.

5.3 Tingkat Partisipasi Pendidikan Warga

Masyarakat Desa Galih Sari memiliki tingkat partisipasi pendidikan yang cukup baik. Ini terlihat pada tahun 2015, dimana jumlah lulusan SMP dan SMA meningkat pesat, sekitar 50% dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 7 Tingkat Partisipasi Penduduk Desa Galih Sari Tahun 2015

No. Tingkat Pendidikan Jumlah

1. Tamat SD 787

2. Tamat SMP 623

3. Tamat SMA 434

4. Tamat Perguruan Tinggi 54

(31)

5.2 Ketersediaan Tenaga Pendidik dan Kesehatan

Terdapat sekitar 63 tenaga pendidik di Desa Galih Sari. Mayoritas merupakan warga Desa Galih Sari itu sendiri yang berstatus sebagai guru honorer. Hanya beberapa saja guru yang berstatus sebagai pegawai negeri. Selain mengajar, para guru honorer ini juga beraktivitas sebagai petani. Meski tenaga pendidik ini cukup banyak, rupanya bagi Sekolah Menengah Pertama PGRI yang berada di Dusun 1 masih kekurangan guru. Khususnya untuk guru Matematika dan Pendidikan Kesehatan Jasmani.

Terdapat tiga tenaga kesehatan di desa ini, yaitu 1) bidan puskesmas pembantu, 2) bidan yang membuka praktik mandiri di Dusun 2, dan 3) mantri yang berada di Dusun 1. Ketika keadaan darurat, warga akan pergi keluar desa untuk berobat, diantaranya ke Puskesmas P16 yang berada di ibu kota kecamatan (Bandar Agung) atau ke Palembang.

5.3 Tingkat Partisipasi Pendidikan Warga

Masyarakat Desa Galih Sari memiliki tingkat partisipasi pendidikan yang cukup baik. Ini terlihat pada tahun 2015, dimana jumlah lulusan SMP dan SMA meningkat pesat, sekitar 50% dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 7 Tingkat Partisipasi Penduduk Desa Galih Sari Tahun 2015

No. Tingkat Pendidikan Jumlah

1. Tamat SD 787

2. Tamat SMP 623

3. Tamat SMA 434

4. Tamat Perguruan Tinggi 54

5. Tidak tamat SD 343

5.4 Kesiapan Fasilitas Kesehatan Menghadapi Kebakaran Gambut

Kesiapan fasilitas kesehatan baik sarana prasarana maupun tenaga kesehatan sudah cukup baik untuk penanganan Kebakaran Lahan Gambut. Obat-obatan dan fasilitas lainnya sudah lengkap. Hanya saja tidak adatabung oksigen untuk pertolongan pertama pada korban kebakaran.

(32)
(33)

Badan Restorasi Gambut

BAB VI

KESEJAHTERAAN DAN KEBUDAYAAN

MASYARAKAT

6.1 Sejarah Desa

Desa Galih Sari adalah desa eks-transmigrasi yang penduduknya berasal dari berbagai kabupaten di Pulau Jawa dan Bali, yaitu Bandung, Sragen, Yogkyakarta, Trenggalek, DKI Jakarta, Banyuwangi, Cirata, Banjarnegara, Bali dan Tanggerang. Desa ini ditetapkan pada tahun 1987 oleh KUPT (Kantor Unit Trasmigrasi). Tahun pertama Desa Galih Sari masih menjadi desa binaan dari UPT. Setelah 4 tahun, Desa Galih Sari ditetapkan sebagai desa mandiri yang terbagi kedalam 4 Dusun dan 25 RT yang tiap wilayahnya dipisahkan oleh parit buatan yang juga dimanfaatkan sebagai sumber air masyarakat.

Peserta program transmigrasi pertama yang dipimpin oleh Bapak Siswo Harjono datang pada tanggal 13 Mei tahun 1987. Mereka berasal dari Bandung (25 KK) dan Sragen (31 KK). Gelombang kedua datang pada tanggal 25 Mei 1987 dengan jumlah yang lebih banyak, yaitu sekitar 411 KK. Gelombang kedua ini berasal dari Yogyakarta (50 KK), Trenggalek (50 KK), DKI Jakarta (25 KK), Banyuwangi (28 KK), Cirata (25-50 KK), Banjarnegara (25 KK), Bali (50 KK), Tanggerang (80 KK), Kuningan (25 KK), dan Purwakarta (28 KK). Tiap peserta transmigrasi diberikan lahan sebesar 2,025 Ha. Juga disediakan rumah tinggal berupa rumah panggung, kantor desa, serta masjid. Keseluruhan rombongan peserta transmigrasi berpindah menggunakan armada yang berbeda-beda, ada yang menggunakan transportasi bus, kereta, maupun ketek/tongkang.

(34)

6.2 Etnis

Masyarakat Desa Galih Sari terdiri dari beberapa suku dan etnis antara lain Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Bali, Suku Madura, Suku Bugis, Suku Ogan, Suku Minang, dan beberapa suku lainnya. Walaupun berasal dari suku dan etnis yang berbeda mereka tetap hidup berdampingan dan saling bekerja sama dan saling menghormati kepercayaan dan kebudayaan masing-masing.

6.3 Bahasa

Desa Galih Sari mempunyai beragam bahasa yang digunakan oleh masyarakat. Mayoritas menggunakan Bahasa Jawa. Tetapi ada bahasa lain juga yang digunakan, seperti Bahasa Bali, Bahasa Sunda, Bahasa Palembang, Bahasa Bugis, dan lain-lain.

6.4 Religi

Masyarakat Desa Galih Sari memeluk berbagai macam agama dengan pembagian persentasenya sebagai berikut; (1) Islam 80 %, (2) Hindu 29 %, dan Kristen 1 %.

(35)

6.2 Etnis

Masyarakat Desa Galih Sari terdiri dari beberapa suku dan etnis antara lain Suku Jawa, Suku Sunda, Suku Bali, Suku Madura, Suku Bugis, Suku Ogan, Suku Minang, dan beberapa suku lainnya. Walaupun berasal dari suku dan etnis yang berbeda mereka tetap hidup berdampingan dan saling bekerja sama dan saling menghormati kepercayaan dan kebudayaan masing-masing.

6.3 Bahasa

Desa Galih Sari mempunyai beragam bahasa yang digunakan oleh masyarakat. Mayoritas menggunakan Bahasa Jawa. Tetapi ada bahasa lain juga yang digunakan, seperti Bahasa Bali, Bahasa Sunda, Bahasa Palembang, Bahasa Bugis, dan lain-lain.

6.4 Religi

Masyarakat Desa Galih Sari memeluk berbagai macam agama dengan pembagian persentasenya sebagai berikut; (1) Islam 80 %, (2) Hindu 29 %, dan Kristen 1 %.

Gambar 3 Diagram Presentasi Etnis Penduduk Desa Galih Sari

6.5 Kearifan Lokal

Karena terdapat beberapa suku dan etnis maka di Desa Galih Sari juga terdapat kearifan lokal yang hanya dapat dijumpai bila kita berada di desa tersebut. Salah satunya adalah pembakaran lahan sebelum digarap menjadi lahan pertanian. Masyarakat Bali yang ada di Galih Sari biasanya mengadakan upacara sebelum melakukan tanam padi yaitu memberikan sesajen yang dimaksud untuk menberikan penghormatan kepada para dewa agar mereka mendapatkan hasil panen yang melimpah. Kebiasaan-kebiasaan tersebut masih dilaksanakan sampai saat ini.

Untuk kesenian di Desa Galih Sari dapat kita jumpai kesenian jaranan. Walaupun jaranan identik dengan budaya Jawa, ternyata banyak juga yang tertarik dengan jaranan ini. Suku Bali bahkan menjadikan jaranan bagian dari kebudayaannya. Mereka mempraktikan jaranan dalam acara-acara tertentu seperti pada saat pernikahan, syukuran, sunatan dan acara-acara pesta lainnya. Terkadang di hari-hari besar mereka juga menggunakan kesenian jaranan untuk hiburan.

Gambar 4 Diagram Presentasi Pneduduk Galih Sari Berdasarkan

(36)
(37)

Badan Restorasi Gambut

BAB VII

PEMERINTAHAN DAN KEPEMIMPINAN

7.1 Pembentukan Pemerintahan Desa

Desa Galih Sari pertama kali dipimpin oleh seorang Pejabat Sementara (PJS) yaitu Bapak M. Patah pada tahun 1988-1992. Setelah 5 tahun menjabat, beliau digantikan oleh PJS selanjutnya yakni Bapak I Wayan Tanya pada tahun 1992-2004 yang didampingi oleh Sekretaris Desa Bapak Ketut. Setelah 12 tahun, mereka kemudian digantikan oleh Bapak I Gede Parwata pada tahun 2004-2006 dengan didampingi oleh Sekretaris Desa yaitu Bapak Mustarom. Namun pada masa PJS ini beliau hanya menjabat selama 2 tahun.

Pada tahun 2006, tepat berbarengan dengan masuknya PT. SCK, pemilihan kepada desa pertama dilangsungkan. Untuk pertama kalinya masyarakat memilih secara langsung pemimpin mereka. Bapak Anton kemudian terpilih selama 1 periode, yaitu pada tahun 2006-2012. Di tengah jalan beliau non aktif. Pada tahun 2012 pemilihan kepala desa dilakukan kembali, yang mengangkat Bapak Priyanto sebagai kepala desa dan Bapak Yulian Hakim sebagai sekretaris desa. Sampai saat ini, kedua orang tersebut masih menjabat.

Tabel 8 Pemimpin Desa Galih Sari berdasarkan Tahun

NO NAMA JABATAN TAHUN

MENJABAT 1 M. Patah PejabatSementara 1988-1992

2 I Wayan Tanya Pejabat Sementara 1992-2000

3 I Wayan Tanya Pejabat Sementara 2000-2004

(38)

6 I Gede Parwata Pejabat Sementara 2004-2006

5 Anton Sujarwo Kepala Desa 2006-2012

6 Priyanto Kepala Desa 2012 s/d Sekarang

7.2 Struktur Kepemerintahan

Gambar 7.2 Struktur Kepemerintahan Desa Galih Sari

7.3 Kepemimpinan Lokal dan Tradisonal

Lembaga tradisional di Desa Galih Sari hanya ada pada masyarakat Bali. Masyarakat Bali masih memegang dan menghormati kebudayaan mereka. Pada masyarakat suku Jawa kebudayaan mereka sudah mulai ditinggalkan seiring dengan

(39)

6 I Gede Parwata Pejabat Sementara 2004-2006

5 Anton Sujarwo Kepala Desa 2006-2012

6 Priyanto Kepala Desa 2012 s/d Sekarang

7.2 Struktur Kepemerintahan

Gambar 7.2 Struktur Kepemerintahan Desa Galih Sari

7.3 Kepemimpinan Lokal dan Tradisonal

Lembaga tradisional di Desa Galih Sari hanya ada pada masyarakat Bali. Masyarakat Bali masih memegang dan menghormati kebudayaan mereka. Pada masyarakat suku Jawa kebudayaan mereka sudah mulai ditinggalkan seiring dengan

Gambar 5 Bagan Struktur Kepemerintahan Desa Galih Sari Tahun 2017

perkembangan zaman. Kebudayaan suku jawa yang masih dapat dijumpai yaitu kesenian jaranan yang sering terlihat pada saat tertentu seperti pesta pernikahan,sunatan, dan acara-acara keramaian lainnya.

7.4 Aktor Yang Berpengaruh

Aktor yang berpengaruh di Desa Galih Sari adalah Bapak Yulian Hakim dan Bapak Sarji yang berperan sebagai Sekretaris Desa dan Kepala Dusun Satu. Bapak Yulian Hakim dikategorikan sebagai orang yang berpengaruh karena beliau yang mengurus segala keperluan desa baik yang berkaitan dengan pembangunan maupun yang berkaitan tentang kehidupan social masyarakat di Desa Galih Sari. Begitu juga dengan Bapak Sarji. Selain sebagai Kepala Dusun 1 beliau juga aktif di lingkungan sosial masyarakat.

Tabel 9 Aktor yang Berpengaruh di Desa Galih Sari

NO NAMA AKTOR INSTITUSI

(LEMBAGA/JABATAN) DOMISILI PERAN

1 2 3

1 Priyanto Kades Galih Sari Sekayu X

2 Yulian Hakim Sekdes Galih Sari Dusun 1 X

3 Aceng Sopiudin Kasi Pembangunan Dusun 4 x

4 Setiawan Agung S Kasi Umum Dusun 1 x

5 Sumanto Ketua LPM Dusun 4 x

6 Saefi Kepala Dusun III Dusun 3 x

7 Sarji Kepala Dusun I Dusun 1 X

8 Yuni Indah Yati Wakil Perempuan Dusun 1 x

9 Sugianti KPMD Dusun 4 x

10 Mukayat Wakil Masyarakat Dusun 1 x

(40)

12 Komarudin Tokoh Agama Dusun 2 X

13 I Ketut Tambun Tokoh Adat Bali Dusun 4 X

14 Pak Gede Tokoh Masyarakat Bali Dusun 1 X

15 Pak Gusti Tokoh Masyarakat Bali Dusun 3 X

Tabel 7.4 Analisa Aktor

Keterangan: 1: Kuat 2: Sedang 3: Lemah

7.5 Mekanisme Penyelesaian Sengketa dan Konflik

Mekanisme penyelesaian konflik di Desa Galih Sari biasanya diselesaikan dengan cara kekeluargaan yang dipimpin oleh kepala dusun. Jika tidak bisa diselesaikan di tingkat dusun akan diselesaikan di tingkat desa oleh perangkat desa dan tokoh masyarakat desa.

Konflik yang pernah terjadi di desa ini adalah konflik perbatasan antara P12 (dusun 4) dengan Desa Karang Manunggal P14 yang berada di kabupaten lain, yaitu Kabupaten Banyuasin. Konflik ini terjadi pada tahun 2010-2014 yang merupakan batas antar Kabupaten Musi Banyuasin dengan Kabupaten Banyuasin. Sejak saat itu kejelasan batas sudah dibahas sampai tingkat provinsi dan sudah menemui titik terang yang disampaikan oleh camat dan bupati dengan para kepala desa yang bersangkutan pada awal bulan Juli 2017.

7.6 Mekanisme/Forum Penggambilan Keputusan

Mekanisme forum pengambilan keputusan desa dilakukan dengan cara musyawarah. Biasanya diadakan di balai desa, masjid, atau balai dusun. Dihadiri oleh wakil perangkat desa, kepala dusun, ketua RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, wakil PKK, dan masyarakat desa. Dengan durasi waktu bisa

(41)

12 Komarudin Tokoh Agama Dusun 2 X

13 I Ketut Tambun Tokoh Adat Bali Dusun 4 X

14 Pak Gede Tokoh Masyarakat Bali Dusun 1 X

15 Pak Gusti Tokoh Masyarakat Bali Dusun 3 X

Tabel 7.4 Analisa Aktor

Keterangan: 1: Kuat 2: Sedang 3: Lemah

7.5 Mekanisme Penyelesaian Sengketa dan Konflik

Mekanisme penyelesaian konflik di Desa Galih Sari biasanya diselesaikan dengan cara kekeluargaan yang dipimpin oleh kepala dusun. Jika tidak bisa diselesaikan di tingkat dusun akan diselesaikan di tingkat desa oleh perangkat desa dan tokoh masyarakat desa.

Konflik yang pernah terjadi di desa ini adalah konflik perbatasan antara P12 (dusun 4) dengan Desa Karang Manunggal P14 yang berada di kabupaten lain, yaitu Kabupaten Banyuasin. Konflik ini terjadi pada tahun 2010-2014 yang merupakan batas antar Kabupaten Musi Banyuasin dengan Kabupaten Banyuasin. Sejak saat itu kejelasan batas sudah dibahas sampai tingkat provinsi dan sudah menemui titik terang yang disampaikan oleh camat dan bupati dengan para kepala desa yang bersangkutan pada awal bulan Juli 2017.

7.6 Mekanisme/Forum Penggambilan Keputusan

Mekanisme forum pengambilan keputusan desa dilakukan dengan cara musyawarah. Biasanya diadakan di balai desa, masjid, atau balai dusun. Dihadiri oleh wakil perangkat desa, kepala dusun, ketua RT, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, wakil PKK, dan masyarakat desa. Dengan durasi waktu bisa

mencapai 2 hari, tergantung pada bahasan dan kesepakatan yang akan diambil.

Contoh kasus pengambilan keputusan yang pernah terjadi di Desa Galih sari yaitu pada saat akan dilasanakannya pembangunan. Biasanya sebelum melakukan pembangunan, semua aparat desa, tokoh masyarakat, dan perangkat desa lainnya akan berkumpul di balai desa guna membahas kapan dan dimana pembangunan itu berlangsung dan apa manfaatnya bagi masyarakat jika pembangunan itu dilaksanakan.

(42)
(43)

Badan Restorasi Gambut

BAB VIII

KELEMBAGAAN SOSIAL

8.1 Organisasi Sosial Formal

Di Desa Galih Sari memiliki beberapa organisasi sosial formal, yang terdiri dari: Badan Permusyawarahan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyararkat (LPM), Program Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan Karang Taruna.

8.2 Organisasi Sosial Informal

Organisasi sosial informal di Desa Galih Sari umumnya terbentuk karena adanya pertemuan-pertemuan berungkali yang menjadi dasar bertemunya kepentingan-kepentingan dan pengalaman yang sama. Beberapa contoh organisasi sosial informal yang ada di Desa Galih Sari yaitu Nadhatul Ulama (NU), Anshor, Muslimat, Barisan Serba Guna Anshor (Banser), dan Ikatan Remaja Mesjid (Irmas). Diantara semua organisasi itu, ada organisasi yang sejak era transmigrasi sudah ada, yaitu NU yang dibentuk pada tahun 1987. Sedangkan yang paling baru adalah Muslimat, didirkan pada tahun 2016. Kemudian dari semua organisasi tersebut yang paling banyak anggotanya adalah Banser, mencapai 400 orang.

8.3 Jejaring Warga

Jaringan kerja sama antar desa ada dalam sektor perekonomian, yaitu berupa pembagian distribusi bahan pokok, perkebunan, dan lain-lain yang saling menutupi kekurangan

(44)

antar desa. Warga Desa Galih Sari lebih banyak berkomunikasi dengan kepala desa, ketua RT, dan BPD. Kelompok pengajian menjadi kelompok tingkat kedua dimana warga desa terbiasa berkomunikasi. Keberadaan organisasi nasional, NU, beserta dengan sayap organisasinya rupaya tidak begitu dekat dan berpengaruh kepada masyarakat. Seperti yang tercantum dalam diagram di bawah ini. Warga justru lebih dekat kepada tokoh masyarakat/tokoh agama yang tidak berafiliasi dengan NU.

(45)

antar desa. Warga Desa Galih Sari lebih banyak berkomunikasi dengan kepala desa, ketua RT, dan BPD. Kelompok pengajian menjadi kelompok tingkat kedua dimana warga desa terbiasa berkomunikasi. Keberadaan organisasi nasional, NU, beserta dengan sayap organisasinya rupaya tidak begitu dekat dan berpengaruh kepada masyarakat. Seperti yang tercantum dalam diagram di bawah ini. Warga justru lebih dekat kepada tokoh masyarakat/tokoh agama yang tidak berafiliasi dengan NU.

Gambar 6 Jejaring Warga Desa Galih Sari

BAB IX

PEREKONOMIAN DESA/ KOMUNITAS

9.1 Pendapatan dan Belanja Desa

Sumber pendapatan Desa Galih Sari pada periode 2012-2018 berasal dari Anggaran Dana Desa Kabupaten (ADD/K), Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) , Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (DD/P3MD) Pendapatan Asli Desa (PAD), dan CSR dari PT. SCK. Rincian pendapatan desa yang berasal dari ADD/K dan DD/P3MD pada tahun 2017 adalah sebagai berikut:

Tabel 10 Pendapatan Desa Galih Sari Tahun 2017

No. Sumber Dana Jumlah Dana Alokasi Dana

1. ADD/K Rp. 484.200.000,- Penyelnggaraan Pemerintahan Desa

2. DD/ P3MD Rp. 481.680.600,- Pembangunan Fisik Desa

3. ADD/K Rp. 75.600.000,- Pembinaan Kemasyarakatan

4. DD/ P3MD Rp. 321.120.400,- Pemberdayaan Masyarakat Belanja Desa Galih Sari pada tahun 2017 lebih banyak untuk pembangunan fisik, seperti yang tertera pada tabel di bawah ini:

(46)

Tabel 11 Belanja Desa Galih Sari Tahun 2017

No. Jenis Kegiatan Volume Biaya Keterangan

1. Pembangunan Gedung BUMDesa 6 m x 9 m Rp. 241.279.200,- Proses Pencairan Dana 2. Pembangunan Jembatan Beton – Dusun 2 RT. 8 7 m x 2,4 m Rp. 86.258.000,- Proses Pembangunan 3. Pembangunan Jembatan Beton – Dusun 1 RT. 6 7 m x 2,4 m Rp. 77.036.700,- Proses Pembangunan 4. Pembangunan Jembatan Beton – Dusun 3 RT. 17 8 m x 2,4 m Rp. 76.701.700,- Proses Pembangunan 9.2 Aset Desa

Aset Desa Galih Sari merupakan barang milik desa yang berasal dari kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan hak lainnya yang sah. Aset yang dimiliki oleh Desa Galih Sari adalah:

Tabel 12 Aset Desa Galih Sari

No. Aset Desa Volume Kondisi Lokasi

1. Tanah Fasilitas Umum 23,75 Ha Sedang Desa Galih Sari

2. Tanah Pekarangan Masjid 2 Ha Sedang Desa Galih Sari

3. Tanah Kantor Desa 0,5 Ha Sedang Desa Galih Sari

4. Tanah SD Negeri 1 Ha Sedang Desa Galih Sari

5. Tanah SMP 0,5 Ha Sedang Desa Galih Sari

6. Tanah SMA 0,25 Ha Sedang Desa Galih Sari Sebenarnya ada beberapa aset desa yang berpotensi untuk menambah PAD (Pendapatan Asli Desa) yaitu tanah fasilitas umum. Tanah ini tersebar di 4 dusun dengan luasan mencapai

(47)

Tabel 11 Belanja Desa Galih Sari Tahun 2017

No. Jenis Kegiatan Volume Biaya Keterangan

1. Pembangunan Gedung BUMDesa 6 m x 9 m Rp. 241.279.200,- Proses Pencairan Dana 2. Pembangunan Jembatan Beton – Dusun 2 RT. 8 7 m x 2,4 m Rp. 86.258.000,- Proses Pembangunan 3. Pembangunan Jembatan Beton – Dusun 1 RT. 6 7 m x 2,4 m Rp. 77.036.700,- Proses Pembangunan 4. Pembangunan Jembatan Beton – Dusun 3 RT. 17 8 m x 2,4 m Rp. 76.701.700,- Proses Pembangunan 9.2 Aset Desa

Aset Desa Galih Sari merupakan barang milik desa yang berasal dari kekayaan asli desa, dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa atau perolehan hak lainnya yang sah. Aset yang dimiliki oleh Desa Galih Sari adalah:

Tabel 12 Aset Desa Galih Sari

No. Aset Desa Volume Kondisi Lokasi

1. Tanah Fasilitas Umum 23,75 Ha Sedang Desa Galih Sari

2. Tanah Pekarangan Masjid 2 Ha Sedang Desa Galih Sari

3. Tanah Kantor Desa 0,5 Ha Sedang Desa Galih Sari

4. Tanah SD Negeri 1 Ha Sedang Desa Galih Sari

5. Tanah SMP 0,5 Ha Sedang Desa Galih Sari

6. Tanah SMA 0,25 Ha Sedang Desa Galih Sari Sebenarnya ada beberapa aset desa yang berpotensi untuk menambah PAD (Pendapatan Asli Desa) yaitu tanah fasilitas umum. Tanah ini tersebar di 4 dusun dengan luasan mencapai

23,75 Ha. Saat ini kondisi tanah masih berupa semak belukar dan tidak dimanfaatkan oleh masyarakat. Tanah fasilitas umum yang direncanakan akan digunakan terletak di balai desa seluas 1 hektar untuk membuat kebun kelengkeng. Beberapa tanah fasilitas umum juga ada yang terletak di dekat sekolah, yang sebetulnya bisa menjadi modal untuk membuat gedung baru.

9.3 Tingkat Pendapatan Warga

Mata pencaharian utama masyarakat Galih Sari saat ini adalah sebagai Pekerja PT. SCK, petani sawit, petani karet, petani padi, dan peternak. Jenis pekerjaan lain yang digeluti oleh masyarakat yaitu sebagai pedagang, pegawai negeri maupun swasta, tukang bangunan, pembuat tempe, penyedia jasa (penggilingan padi) dan pembudidayaan sarang burung walet. Berikut rincian jenis pekerjaan dan jumlah warga Desa Galih Sari yang bekerja disetiap bidangnya.

Tabel 13 Jumlah Penduduk Desa Galih Sari berdasarkan Jenis Pekerjaan

JENIS PEKERJAAN JUMLAH (jiwa)

Petani 407 Buruh Bangunan 36 Buruh Tani/ PT. 845 PNS 4 Peternak 7 Budidaya Perikanan 10 Pedagang 20 Bengkel motor 3 Tukang Bangunan 36 Usaha Walet 15 Pengusaha tempe 6 Guru 45 Sopir 2 Pengusaha Transportasi 2

(48)

Selain bertani, petani Galih Sari juga bekerja di PT. SCK sebagai buruh perkebunan sawit (Iskandar dan Anggara 2015). Sehingga ada dua pemasukan yang dimiliki oleh rumah tangga tani: pertama yang berasal dari hasil panen, kedua yang berasal dari gaji buruh tani. Hasil panen didapatkan bergantian, antara padi, kelapa, dan karet. Jika dirupiahkan hasil panen padi dapat mencapai Rp 15.997.079 per delapan bulan, kurang lebih sekitar Rp 2.000.000 per bulannya.

Jenis padi yang ditanam oleh masyarakat Galih Sari adalah IR42 dan Ciherang. Bibit ini diperoleh masyarakat dari toko-toko pertanian yang ada di desa maupun di luar desa. Harga bibit Padi Ciherang per bungkusnya adalah Rp. 100.000/5 kg. Kedua bibit ini dipilih karena tahan terhadap hama werang cokelat dan cocok ditanam di daerah gambut.

Tabel 14 Harga Pedi berdasarkan Jenis Hasil Panen Jenis Hasil Panen Padi Harga (Rp/ kg)

Padi Basah 3.500

Padi Kering 4.500

Beras 7.000

Penghasilan dari kelapa dan karet dapat didapatkan setiap saat manakala mereka membutuhkan. Karena Kelapa dan karet merupakan tanaman tahunan yang ketika masuk pada masa produktif dapat dipanen setiap harinya. Sebagai buruh tani sawit, petani mendapatkan gaji sebesar Rp 7.570.956 yang diberikan tiap empat bulan (Iskandar dan Anggara 2015). Artinya selama per bulan buruh tani sawit ini mendapatkan pemasukan kurang lebih sebesar Rp 1.892.739.

Tabel 15 Produksi Rata-Rata Hasil Pertanian Desa Galih Sari Jenis Hasil Pertanian Produksi Rata-rata (kg/Ha)

Padi 1 – 1,5 ton / 180 hari

Sawit 5 – 10 ton / bulan

Gambar

Gambar 1 Peta Sketsa Desa Galih Sari. Sumber: Yayasan Puter
Tabel 1 Orbitrasi Desa Galih Sari  Antar Desa  Ibukota
Tabel 1 Orbitrasi Desa Galih Sari  Antar Desa  Ibukota
Tabel 4 Kalender Musim Desa Galih Sari
+7

Referensi

Dokumen terkait