• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS VARIETAS SWEET BOY PADA BERBAGAI KERAPATAN DAN DOSIS PUPUK NITROGEN DI LAHAN KERING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS VARIETAS SWEET BOY PADA BERBAGAI KERAPATAN DAN DOSIS PUPUK NITROGEN DI LAHAN KERING"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Rahmat Suaib, 2014, Desentralisasi

Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah”,dalam Dyah Mutiarin (ed);

Manajemen Birokrasi dan Kebijakan Penulusuran Konsep dan Teori, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

H.Rozali Abdullah, 2000, Pelaksanaan Otonomi Luas & Isu Federalisme sebagai suatu Alternatif, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Josef Mario Monteiro, 2016, Hukum Pemerintahan Daerah Konsepsi, kewenangan, organisasi desa, produk hukum desa,dan Peraturan Daerah, Pustaka Yustisia,Yogyakarta.

Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945

Undang Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undang

Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah.

PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS VARIETAS SWEET BOY

PADA BERBAGAI KERAPATAN DAN DOSIS PUPUK NITROGEN

DI LAHAN KERING

I PUTU WISARDJA I WAYAN LANA I NENGAH KARNATA

Fakultas Pertanian Universitas Tabanan

ABSTRACT

A field experiment was conducted to study crop growth and yield of sweet corn varieties Sweet Boy, on rates of plant population and dose of nitrogen fertilizers. The experiment was done at dry land farming area at Timpag village, Kerambitan district, Tabanan regency, starting in April - Juny 2017. The experiment was designed as Completely Randomized Block Design (RCBD), in wich two factors of treatment were arrange factorially. The first factor was plant population in three levels (K1, K2, K3) and the secand factor was rates dose of nitrogen fertilizers (0, 32, 48, 64 kg N ha-1). All

treatment were replicated three times.

Results of this experiment indicated that the effect of interaction between rates of plant population and dose of nitrogen fertilizers was not significantly (p ≥ 0,05) on growth parameters and yield of sweet corn. The treatment has a fresh weight and dry weight oven of commercials cob (without clobot) were 9,90 t ha-1 and 1,98 t ha-1.

Plant population treatments individually gave highly significant effect (p ≤ 0,01) on growth parameters and yield. Plant population on 238.095 plant ha-1 (K3) gave the highest a fresh weight

commercials cob were 8,43 t or 30,09 % higher than a plant population treatment 79.365 plant ha-1

(K1).

Dose of nitrogen fertilizers treatment gave highly significantly effect (p ≤ 0,01) on all of growth parameters and yield. Dose of nitrogen fertilizers 64 kg N ha-1 (D

3) gave the highest a fresh

weight commercial cob were 8,81 t ha-1 or 69,42 % higher than nothing nitrogen fertilizers

treatment (D0).

Key words : Plant population, dose of nitrogen fertilizers, sweet corn.

PENDAHULUAN

Jagung manis (Zea mays saccharata Sturt) varietas sweet boy merupakan salah satu komoditas unggulan di daerah Bali yang umumnya dibudidayakan pada lahan kering maupun lahan sawah yang diberakan. Jagung manis mendapat perhatian para petani, karena berumur genjah dan memiliki rasa lebih manis dibandingkan jagung varietas lainnya. Buah jagung manis dipanen muda digunakan sebagai bahan konsumsi dalam bentuk sayuran maupun dalam bentuk rebusan dan jagung bakar, sebagaimana banyak terlihat di sepanjang pinggiran jalan-jalan menuju objek wisata. Selain buahnya yang dipanen muda mempunyai nilai ekonomi tinggi, juga batang pohonnya yang masih hijau segar yang dapat

dijual dimanfaatkan untuk pakan ternak. Permintaan produk jagung manis meningkat tiap tahun seiring dengan perkembangan penduduk. Hal ini diduga sebagai penyebab antara permintaan dan produksi jagung manis menjadi tidak seimbang.

Relatif rendahnya produksi jagung manis di daerah ini, diduga disebabkan pengelolaan budidaya tanaman yang kurang intensif antara lain pemberian pupuk baik dosis maupun waktu pemupukan yang kurang tepat. Tanaman jagung umumnya memerlukan unsur hara N, P dan K yang cukup tinggi, di antara ketiga jenis pupuk tersebut pupuk Nitrogen diperlukan paling banyak (Koswara, 1989).

Pada lahan yang miskin N, walaupun kandungan C-organiknya sedang sampai

(2)

tinggi, maka penggunaan pupuk urea perlu dilakukan sebagai sumber N untuk pertumbuhan jagung manis. Nitrogen diperlukan oleh tanaman jagung manis (Lingga, 1986) untuk merangsang pertumbuhan jaringan, pembentukan klorophyl, pembentukan protein, lemak berbagai persenyawaan organik lainnya. Relatif rendahnya produksi jagung manis di daerah ini diduga disebabkan pengelolaan budidaya tanaman yang kurang optimal, antara lain pemupukan yang kurang intensif, baik dosis maupun waktu yang kurang tepat. Koswara (1989) menyatakan bahwa tanaman jagung pada umumnya memerlukan unsure hara N, P dan K yang cukup tinggi dan di antara ketiga unsure tersebut unsure Nitrogen diperlukan paling banyak. Hasil penelitian jagung manis Sukasana (2008) pada lahan kering menunjukkan bahwa dengan pemberian dosis 150 kg N, 40 kg P dan 150 kg KCl memberikan peningkatan hasil yang sangat nyata terhadap berat segar dan berat kering oven tongkol komersial hektar-1 yaitu 14,92 t dan 2,18 t.

Pupuk urea sebagai sumber Nitrogen mudah didapat oleh petani. Nitrogen mudah tersedia dan diserap oleh perakaran tanaman jagung dalam bentuk NO3- dan NO2-. Urea terurai menjadi ion ammonium (NH4+) dalam tanah bereaksi dengan O2 membentuk NO2-. Faktor peting lainnya yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang tinggi pada budidaya jagung manis adalah mengatur kerapatan tanaman. Hanya pada tingkat kerapatan tanaman tertentu hasil jagung manis yang tinggi dapat dicapai dalam memanfaatkan factor lingkungan. Pengaturan kerapatan tanaman per satuan luas lahan dapat dilakukan melalui pengaturan jarak tanam maupun jumlah tanaman lubang-1. Hasil penelitian jagung manis menunjukkan bahwa penanaman jagung manis dengan jarak tanam 60 cm x 30 cm (kerapatan 55.555 tanaman hektar-1) dan jarak tanam 60 cm x 20 cm (kerapatan 83.333 tanaman hektar-1) dapat menghasilkan tongkol segar tanpa kelobot 1,93 t dan 2,23 t ha-1 (Suprapto, 1999). Winten dan Gunamanta (2011) menyatakan penggunaan jarak tanam (70 cm x 20 cm) mampu

meningkatkan hasil jagung manis 56,92 % dibanding dengan penggunaan jarak tanam (70 cm x 40 cm).

Peningkatan kerapatan tanaman per satuan luas sampai batas tertentu dapat meningkatkan produksi tanaman, tetapi peningkatan kerapatan selanjutnya dapat menurunkan produksi tanaman. Keadaan ini disebabkan karena timbulnya kompetisi di bawah tanah maupun di atas permukaan tanah. Berdasarkan uraian di atas dilakukanlah penelitian “Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis Varietas Sweet Boy Pada Berbagai Tingkat Kerapatan dan Dosis Nitrogen di Lahan Kering”.

METODE DAN PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada lahan kering dataran rendah di desa Timpag, kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan ketinggian tempat ± 190 m di atas permukaan laut. Penelitian berlangsung bulan April – Juli 2017.

Percobaan dilaksanakan dengan pola faktorial dan rancangan acak kelompok (RAK) sebagai rancangan dasar. Pada percobaan ini digunakan dua perlakuan yaitu perlakuan kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk Nitrogen hektar-1 (D). Kerapatan tanaman (K) terdiri dari 3 perlakuan yaitu 79.365 tanaman ha-1; 158.730 tanaman ha-1 dan 238.095 tanaman ha-1. Perlakuan dosis Nitrogen (D) terdiri dari tanpa urea (0 kg N); 32 kg N; 48 kg N dan 64 kg N ha-1. Terdapat 12 kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali, sehingga dibuat 36 petak percobaan. Ukuran petak percobaan 3 m x 2,5 m. Benih jagung yang digunakan adalah benih jagung manis varietas sweet boy ditanam pada masing-masing petak dengan jarak tanam 70 cm x 18 cm.

Parameter yang diamati di antaranya : tinggi tanaman (cm); jumlah daun tanaman-1; Indeks luas daun (21 hst dan 49 hst); saat silking (hst); jumlah tongkol komersial tanaman-1; jumlah tongkol komersial hektar-1; berat tongkol komersial tanaman-1; berat tongkol komersial hektar-1; berat segar berangkasan tanaman-1; berat segar berangkasan hektar-1; bko tongkol komersial tanaman-1; bko tongkol komersial hektar-1; bko

berangkasan tanaman-1 dan hektar-1 serta indeks panen.

Data yang terkumpul dianalisis secara statistika dengan menggunakan analisis keragaman. Bila terdapat interaksi kedua perlakuan yang nyata atau sangat nyata terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan 5%. Jika hanya faktor tunggal yang berpengaruh nyata atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNT 5% (Gomez dan Gomez, 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Interaksi perlakuan kerapatan tanaman (K) dengan dosis pupuk Nitrogen hektar-1 (D) menunjukkan pengaruh yang tidak nyata (p ≥ 0,05) terhadap semua parameter yang diamati, tetapi masing-masing perlakuan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata hampir pada semua parameter yang diamati. Perlakuan kerapatan tanaman (K) menunjukkan pengaruh yang tidak nyata hanya pada ILD 49 hst dan saat silking. Sedangkan dosis pupuk Nitrogen (D) menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap berat segar dan kering oven berangkasan tanaman-1 maupun hektar-1.

Pengaruh yang tidak nyata interaksi kedua perlakuan (K x D) terhadap berat segar tongkol komersial hektar-1 diduga disebabkan masing-masing faktor perlakuan K maupun D mempunyai pengaruh yang kuat terhadap parameter yang diamati. Berat segar tongkol komersial hektar-1 terbesar diperoleh pada penggunaan kerapatan tanaman 238.095 tan.ha-1 dan dosis pupuk 64 kg N ha-1 (K3D3) yaitu sebesar 9,90 t dan terrendah pada penggunaan kerapatan tanaman79.365 tan.ha-1 dan tanpa pupuk N (K1D0) yaitu 4,00 t atau terjadi peningkatan 5,9 t (147,50 %) (Tabel 1). Tabel 1. Berat segar tongkol komersial hektar-1

(t) akibat interaksi perlakuan kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk N (D)

Perlakuan Kerapatan tanaman

K1 K2 K3 Dosis ppk N D0 D1 D2 D3 4,00 a 5,62 a 7,63 a 7,91 a 5,13 a 6,33 a 7,69 a 8,61 a 6,46 a 7,97 a 9,41 a 9,90 a

Keterangan : Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama adalah tidak berbeda nyata pada uji berganda Duncan 5%. Perlakuan kerapatan tanaman (K) menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (p ≤ 0,01) terhadap parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun tanaman-1, ILD 21 hst), tetapi menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap saat silking. Semakin meningkat kerapatan tanaman (K1 – K3) cenderung mengakibatkan komponen pertumbuhan semakin menurun (Tabel 2). Hal ini diduga disebabkan terjadinya kompetisi antar individu tanaman dalam hal mendapatkan faktor tumbuh (air, unsur hara, cahaya matahari, udara maupun ruang). Kompetisi tanaman tampak nyata pada saat silking. Pada kerapatan tanaman K3 (238.095 tan.ha-1) baik pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun maupun ILD, berbeda sangat nyata dengan perlakuan kerapatan tanaman lainnya. Pada tingkat kerapatan yang paling besar terjadi kompetisi yang paling berat terbukti tinggi tanaman semakin rendah, jumlah daun tanaman-1 semakin sedikit,

Tabel 2. Tinggi tanaman (cm), jumlah daun tanaman-1 (helai) dan ILD (21 dan 49 hst) akibat perlakuan kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk N (D) hektar-1 Perlakuan Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun tanaman-1 (helai) ILD tan-1 21 hst 49 hst Kerapatan tan.: K1 K2 K3 185,68 a 170,72 b 146,20 c 9,50 a 9,09 ab 8,62 b 0,77 a 0,65 b 0,59 b 2,35 a 2,28 a 2,34 a BNT 5% 14,28 0,54 0,08 ns Dosis pupuk N D0 D1 D2 D3 120,30 c 168,28 b 183,15 ab 198,40 a 7,43 c 9,01 b 9,82 a 9,91 a 0,47 d 0,57 c 0,67 b 0,97 a 1,64 d 2,12 c 2,49 b 3,07 a BNT 5% 16,49 0,62 0,09 0,18

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji BNT 5%.

ILD semakin sedikit pada umur 21 hst. Setelah terjadinya silking/tesseling

(3)

tinggi, maka penggunaan pupuk urea perlu dilakukan sebagai sumber N untuk pertumbuhan jagung manis. Nitrogen diperlukan oleh tanaman jagung manis (Lingga, 1986) untuk merangsang pertumbuhan jaringan, pembentukan klorophyl, pembentukan protein, lemak berbagai persenyawaan organik lainnya. Relatif rendahnya produksi jagung manis di daerah ini diduga disebabkan pengelolaan budidaya tanaman yang kurang optimal, antara lain pemupukan yang kurang intensif, baik dosis maupun waktu yang kurang tepat. Koswara (1989) menyatakan bahwa tanaman jagung pada umumnya memerlukan unsure hara N, P dan K yang cukup tinggi dan di antara ketiga unsure tersebut unsure Nitrogen diperlukan paling banyak. Hasil penelitian jagung manis Sukasana (2008) pada lahan kering menunjukkan bahwa dengan pemberian dosis 150 kg N, 40 kg P dan 150 kg KCl memberikan peningkatan hasil yang sangat nyata terhadap berat segar dan berat kering oven tongkol komersial hektar-1 yaitu 14,92 t dan 2,18 t.

Pupuk urea sebagai sumber Nitrogen mudah didapat oleh petani. Nitrogen mudah tersedia dan diserap oleh perakaran tanaman jagung dalam bentuk NO3- dan NO2-. Urea terurai menjadi ion ammonium (NH4+) dalam tanah bereaksi dengan O2 membentuk NO2-. Faktor peting lainnya yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang tinggi pada budidaya jagung manis adalah mengatur kerapatan tanaman. Hanya pada tingkat kerapatan tanaman tertentu hasil jagung manis yang tinggi dapat dicapai dalam memanfaatkan factor lingkungan. Pengaturan kerapatan tanaman per satuan luas lahan dapat dilakukan melalui pengaturan jarak tanam maupun jumlah tanaman lubang-1. Hasil penelitian jagung manis menunjukkan bahwa penanaman jagung manis dengan jarak tanam 60 cm x 30 cm (kerapatan 55.555 tanaman hektar-1) dan jarak tanam 60 cm x 20 cm (kerapatan 83.333 tanaman hektar-1) dapat menghasilkan tongkol segar tanpa kelobot 1,93 t dan 2,23 t ha-1 (Suprapto, 1999). Winten dan Gunamanta (2011) menyatakan penggunaan jarak tanam (70 cm x 20 cm) mampu

meningkatkan hasil jagung manis 56,92 % dibanding dengan penggunaan jarak tanam (70 cm x 40 cm).

Peningkatan kerapatan tanaman per satuan luas sampai batas tertentu dapat meningkatkan produksi tanaman, tetapi peningkatan kerapatan selanjutnya dapat menurunkan produksi tanaman. Keadaan ini disebabkan karena timbulnya kompetisi di bawah tanah maupun di atas permukaan tanah. Berdasarkan uraian di atas dilakukanlah penelitian “Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis Varietas Sweet Boy Pada Berbagai Tingkat Kerapatan dan Dosis Nitrogen di Lahan Kering”.

METODE DAN PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan pada lahan kering dataran rendah di desa Timpag, kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan ketinggian tempat ± 190 m di atas permukaan laut. Penelitian berlangsung bulan April – Juli 2017.

Percobaan dilaksanakan dengan pola faktorial dan rancangan acak kelompok (RAK) sebagai rancangan dasar. Pada percobaan ini digunakan dua perlakuan yaitu perlakuan kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk Nitrogen hektar-1 (D). Kerapatan tanaman (K) terdiri dari 3 perlakuan yaitu 79.365 tanaman ha-1; 158.730 tanaman ha-1 dan 238.095 tanaman ha-1. Perlakuan dosis Nitrogen (D) terdiri dari tanpa urea (0 kg N); 32 kg N; 48 kg N dan 64 kg N ha-1. Terdapat 12 kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali, sehingga dibuat 36 petak percobaan. Ukuran petak percobaan 3 m x 2,5 m. Benih jagung yang digunakan adalah benih jagung manis varietas sweet boy ditanam pada masing-masing petak dengan jarak tanam 70 cm x 18 cm.

Parameter yang diamati di antaranya : tinggi tanaman (cm); jumlah daun tanaman-1; Indeks luas daun (21 hst dan 49 hst); saat silking (hst); jumlah tongkol komersial tanaman-1; jumlah tongkol komersial hektar-1; berat tongkol komersial tanaman-1; berat tongkol komersial hektar-1; berat segar berangkasan tanaman-1; berat segar berangkasan hektar-1; bko tongkol komersial tanaman-1; bko tongkol komersial hektar-1; bko

berangkasan tanaman-1 dan hektar-1 serta indeks panen.

Data yang terkumpul dianalisis secara statistika dengan menggunakan analisis keragaman. Bila terdapat interaksi kedua perlakuan yang nyata atau sangat nyata terhadap parameter yang diamati, maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan 5%. Jika hanya faktor tunggal yang berpengaruh nyata atau sangat nyata, maka dilanjutkan dengan uji BNT 5% (Gomez dan Gomez, 1995).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Interaksi perlakuan kerapatan tanaman (K) dengan dosis pupuk Nitrogen hektar-1 (D) menunjukkan pengaruh yang tidak nyata (p ≥ 0,05) terhadap semua parameter yang diamati, tetapi masing-masing perlakuan menunjukkan pengaruh yang sangat nyata hampir pada semua parameter yang diamati. Perlakuan kerapatan tanaman (K) menunjukkan pengaruh yang tidak nyata hanya pada ILD 49 hst dan saat silking. Sedangkan dosis pupuk Nitrogen (D) menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap berat segar dan kering oven berangkasan tanaman-1 maupun hektar-1.

Pengaruh yang tidak nyata interaksi kedua perlakuan (K x D) terhadap berat segar tongkol komersial hektar-1 diduga disebabkan masing-masing faktor perlakuan K maupun D mempunyai pengaruh yang kuat terhadap parameter yang diamati. Berat segar tongkol komersial hektar-1 terbesar diperoleh pada penggunaan kerapatan tanaman 238.095 tan.ha-1 dan dosis pupuk 64 kg N ha-1 (K3D3) yaitu sebesar 9,90 t dan terrendah pada penggunaan kerapatan tanaman79.365 tan.ha-1 dan tanpa pupuk N (K1D0) yaitu 4,00 t atau terjadi peningkatan 5,9 t (147,50 %) (Tabel 1). Tabel 1. Berat segar tongkol komersial hektar-1

(t) akibat interaksi perlakuan kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk N (D)

Perlakuan Kerapatan tanaman

K1 K2 K3 Dosis ppk N D0 D1 D2 D3 4,00 a 5,62 a 7,63 a 7,91 a 5,13 a 6,33 a 7,69 a 8,61 a 6,46 a 7,97 a 9,41 a 9,90 a

Keterangan : Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama adalah tidak berbeda nyata pada uji berganda Duncan 5%. Perlakuan kerapatan tanaman (K) menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (p ≤ 0,01) terhadap parameter pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah daun tanaman-1, ILD 21 hst), tetapi menunjukkan pengaruh yang tidak nyata terhadap saat silking. Semakin meningkat kerapatan tanaman (K1 – K3) cenderung mengakibatkan komponen pertumbuhan semakin menurun (Tabel 2). Hal ini diduga disebabkan terjadinya kompetisi antar individu tanaman dalam hal mendapatkan faktor tumbuh (air, unsur hara, cahaya matahari, udara maupun ruang). Kompetisi tanaman tampak nyata pada saat silking. Pada kerapatan tanaman K3 (238.095 tan.ha-1) baik pada parameter tinggi tanaman, jumlah daun maupun ILD, berbeda sangat nyata dengan perlakuan kerapatan tanaman lainnya. Pada tingkat kerapatan yang paling besar terjadi kompetisi yang paling berat terbukti tinggi tanaman semakin rendah, jumlah daun tanaman-1 semakin sedikit,

Tabel 2. Tinggi tanaman (cm), jumlah daun tanaman-1 (helai) dan ILD (21 dan 49 hst) akibat perlakuan kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk N (D) hektar-1 Perlakuan Tinggi tanaman (cm) Jumlah daun tanaman-1 (helai) ILD tan-1 21 hst 49 hst Kerapatan tan.: K1 K2 K3 185,68 a 170,72 b 146,20 c 9,50 a 9,09 ab 8,62 b 0,77 a 0,65 b 0,59 b 2,35 a 2,28 a 2,34 a BNT 5% 14,28 0,54 0,08 ns Dosis pupuk N D0 D1 D2 D3 120,30 c 168,28 b 183,15 ab 198,40 a 7,43 c 9,01 b 9,82 a 9,91 a 0,47 d 0,57 c 0,67 b 0,97 a 1,64 d 2,12 c 2,49 b 3,07 a BNT 5% 16,49 0,62 0,09 0,18

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji BNT 5%.

ILD semakin sedikit pada umur 21 hst. Setelah terjadinya silking/tesseling

(4)

pertumbuhan tanaman tidak bertambah lagi, saat ini tanaman sudah memasuki fase reproduktif. Terdapat korelasi positif dan sangat nyata antara tinggi tanaman dengan jumlah daun tanaman-1 ditunjukkan dengan nilai r = 0,995**, dengan jumlah tongkol komersial ha-1 (r = 0,966**). Korelasi antara jumlah daun dengan jumlah tongkol komersial dengan nilai r = 0,987**.

ILD tanaman-1 secara sangat nyata dipengaruhi oleh peningkatan kerapatan tanaman, tetapi pada umur 49 hst tidak secara nyata dipengaruhi oleh peningkatan kerapatan tanaman. Hal ini diduga disebabkan jumlah luas daun tanaman relative kecil, sehingga ILD nya menjadi tidak nyata. Semakin kecilnya ILD dengan peningkatan kerapatan tanaman,

berarti semakin kecilnya intensitas cahaya matahari yang dapat dimanfaatkan tanaman untuk pembentukan fotosintat,

akibatnya jumlah tongkol tanaman-1 semakin kecil dan jumlah tongkol ha-1 semakin besar (Tabel 3). Keadaan tersebut juga mengakibatkan berat berangkasan segar dan kering oven baik tanaman-1 maupun hektar-1 berbeda sangat nyata. Menurut Franklin, et al. (1991) bahwa tajuk tanaman dengan ILD yang tinggi menunjukkan penyerapan radiasi matahari lebih tinggi, laju asimilasi CO2 juga tinggi akibatnya translokasi asimilat juga tinggi. Sedangkan daun-daun yang lebih tua di bawah tajuk mempunyai laju asimilasi CO2 yang lebih rendah, sehingga memberikan lebih sedikit asimilat kebagian tanaman lainnya. Tabel 3. Saat silking, jumlah dan berat tongkol komersial serta berat berangkasan akibat perlakuan

kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk N (D)

Perlakuan Silking (hst) Jml. Tongkol komersial Brt tongkol komers Brt.berangks.

tan-1(bh) ha-1(000 bh) tan-1 (g) ha-1 (t) tan-1(g) ha-1(t)

Kerapat. tan K1 K2 K3 57,08 a 57,50 a 58,83 a 0,96 a 0,80 b 0,70 b 61,06 c 101,39 b 134,04 a 123,73 a 96,25 b 75,11 c 6,48 b 6,72 b 8,43 a 734,75 a 617,31 b 580,77 b 46,65 c 78,39 b 110,6 a BNT 5% - 0,14 16,78 14,44 0,88 45,66 5,85 Dosis ppk N D0 D1 D2 D3 63,22 a 58,22 b 55,44 c 54,33 c 0,58 c 0,69 c 0,91 b 1,11 a 72,10 c 82,12 c 104,44 b 136,67 a 45,76 b 61,63 b 139,07 a 147,00 a 5,20 c 6,60 b 8,24 a 8,81 a 615,20 a 621,82 a 659,41 a 680,67 a 75,60 a 75,70 a 79,80 a 83,10 a BNT 5% 1,98 0,16 19,38 16,68 1,02 - -

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji BNT 5%.

Perlakuan peningkatan kerapatan tanaman (K1 – K3) menyebabkan berat tongkol komersial tanpa klobot tanaman-1 semakin menurun, tetapi hektar-1 semakin meningkat (Tabel 3). Tertinggi dicapai akibat penggunaan perlakuan kerapatan K3 yaitu 8,43 t terjadi peningkatan sebesar 30,09 % dibandingkan pengaruh K1. Demikian pula pada berat kering oven tongkol komersial (Tabel 4) tertinggi dicapai pada penggunaan kerapatan lebih tinggi yaitu 1,68 t atau terjadi peningkatan sebesar 29,23 %.. Peningkatan berat tongkol komersial ini disebabkan lebih banyaknya jumlah tongkol komersial ha-1 pada perlakuan kerapatan yang lebih tinggi (K3). Keadaan tersebut terbukti dari adanya hubungan yang sangat erat antara berat segar tongkol

komersial (tanpa klobot) ha-1 dengan jumlah tongkol komersial ha-1 (r = 0,891**) dan antara berat kering oven tongkol komersial (tanpa klobot) ha-1 dengan jumlah tongkol komersial ha-1 (r = 0,893**). Pada penggunaan kerapatan tanaman yang lebih tinggi terjadi persaingan yang tinggi dalam memperebutkan faktor tumbuh seperti air, unsur hara, cahaya matahari dan lain-lain dibandingkan penggunaan perlakuan K1 akan tetapi tongkol yang dihasilkan dalam jumlah yang banyak pada luasan ha-1 sehingga menyebabkan berat segar dan kering oven tongkol komersial menjadi lebih tinggi.

Peningkatan penggunaan dosis pupuk Nitrogen dari 0 – 64 kg N ha-1 menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (p ≤ 0,01)

terhadap parameter pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.Tinggi tanaman maupun jumlah daun semakin meningkat dan ILD (21 hst dan 49 hst) juga semakin meningkat. Terdapat korelasi yang positif antara jumlah daun dengan ILD (21 hst dan 49 hst) masing-masing dengan nilai r = 0,899** dan r = 0,883**. Hal ini diduga disebabkan N digunakan oleh tanaman untuk pembentukan sel, khlorophyl dan asam-asam organik lainnya. Semakin meningkatnya ILD berarti semakin meningkatnya kemampuan tanaman mengintersepsi cahaya matahari per satuan luas lahan untuk proses fotosintesis. Akhirnya fotosintat yang dihasilkan lebih banyak dapat diakumulasi untuk pembentukan buah (Franklin et al., 1991). Hal ini dapat terlihat pada parameter jumlah tongkol komersial maupun berat tongkol komersial tanaman-1

maupun ha-1 yang semakin meningkat (Tabel 2 dan 3). Berat tongkol segar komersial ha-1 tertinggi diperoleh pada penggunaan dosis pupuk N 64 kg ha-1 (D

3) yaitu 8,81 t atau 69,42 % lebih tinggi disbanding dengan tanpa pupuk N 5,20 t (Tabel 3). Hasil ini didukung oleh berat kering oven tongkol komersial ha-1 tertinggi dicapai pada penggunaan perlakuan dosis pupuk N tertinggi (D3) yaitu 1,76 t atau 69,32 % lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanpa penggunaan pupuk N 1,04 t (Tabel 4). Keadaan ini terbukti dari adanya korelasi yang positif antara berat segar tongkol komersial tanaman-1 dengan berat kering oven tongkol komersial tanaman-1 dengan nilai r = 0,939**. Berat kering oven tongkol komersial tanaman-1 berkorelasi positif dengan berat kering oven tongkol komersial ha-1 dengan nilai r = 0,968**.

Tabel 4. Berat kering oven tongkol komersial dan berat kering oven berangkasan tanaman-1 dan hektar-1 akibat perlakuan kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk nitrogen (D)

Perlakuan Bko tongkol komersial Bko berangkasan Indeks

Panen (%) tan-1 (g) ha-1 (t) tan-1 (g) ha-1 (t) Kerapat.tan K1 K2 K3 24,75 a 19,24 b 14,98 c 1,30 b 1,35 b 1,68 a 146,45 a 123,46 b 116,15 b 9,34 c 15,66 b 20,73 a 11,57 a 7,82 b 7,84 b BNT 5% 2,90 0,18 9,03 2,01 1,52 Dosis ppk N D0 D1 D2 D3 9,16 b 12,31 b 24,48 a 29,37 a 1,04 c 1,31 b 1,65 a 1,76 a 123,04 a 124,36 a 131,21 a 136,12 a 14,92 a 15,14 a 15,95 a 14,96 a 6,85 c 8,64 b 10,15 ab 10,66 a BNT 5% 3,35 0,20 - - 1,75

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji BNT 5%.

Menurut Soetoro, dkk. (1998), bahwa penyerapan N pada tanaman jagung berlangsung selama masa pertumbuhannya, pada awal pertumbuhan akumulasi N lambat setelah tanaman berumur 4 minggu akumulasi N sangat cepat. Oleh karenanya untuk mendapatkan pertumbuhan jagung yang baik unsure hara N yang tersedia dalam tanah harus cukup tersedia pada fase pertumbuhan tersebut. Terjadinya berat segar dan kering oven tongkol komersial hektar-1 yang lebih tinggi akibat penggunaan perlakuan dosis 64 kg N (D3) dibanding dengan tanpa penggunaan pupuk N memberi arti yang sangat besar pada fase pertumbuhan dan pembentukan hasil.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan :

Berdasarkan hasil hasil penelitian ini dapat dibuat simpulan sebagai berikut :

1. Terjadi interaksi yang tidak nyata (p ≥ 0,05) antara perlakuan kerapatan tanaman dan dosis pupuk N hektar-1 terhadap parameter pertumbuhan dan hasil jagung manis. Rata-rata diperoleh hasil tongkol segar komersial tanpa kelobot hektar-1 9,90 t dan hasil tongkol kering oven komersial 1,98 t. 2. Perlakuan kerapatan 238.095 tanaman

hektar-1 (K

3) mampu memberikan hasil tongkol segar komersial hektar-1 tertinggi 8,43 t atau 30,09 % lebih

(5)

pertumbuhan tanaman tidak bertambah lagi, saat ini tanaman sudah memasuki fase reproduktif. Terdapat korelasi positif dan sangat nyata antara tinggi tanaman dengan jumlah daun tanaman-1 ditunjukkan dengan nilai r = 0,995**, dengan jumlah tongkol komersial ha-1 (r = 0,966**). Korelasi antara jumlah daun dengan jumlah tongkol komersial dengan nilai r = 0,987**.

ILD tanaman-1 secara sangat nyata dipengaruhi oleh peningkatan kerapatan tanaman, tetapi pada umur 49 hst tidak secara nyata dipengaruhi oleh peningkatan kerapatan tanaman. Hal ini diduga disebabkan jumlah luas daun tanaman relative kecil, sehingga ILD nya menjadi tidak nyata. Semakin kecilnya ILD dengan peningkatan kerapatan tanaman,

berarti semakin kecilnya intensitas cahaya matahari yang dapat dimanfaatkan tanaman untuk pembentukan fotosintat,

akibatnya jumlah tongkol tanaman-1 semakin kecil dan jumlah tongkol ha-1 semakin besar (Tabel 3). Keadaan tersebut juga mengakibatkan berat berangkasan segar dan kering oven baik tanaman-1 maupun hektar-1 berbeda sangat nyata. Menurut Franklin, et al. (1991) bahwa tajuk tanaman dengan ILD yang tinggi menunjukkan penyerapan radiasi matahari lebih tinggi, laju asimilasi CO2 juga tinggi akibatnya translokasi asimilat juga tinggi. Sedangkan daun-daun yang lebih tua di bawah tajuk mempunyai laju asimilasi CO2 yang lebih rendah, sehingga memberikan lebih sedikit asimilat kebagian tanaman lainnya. Tabel 3. Saat silking, jumlah dan berat tongkol komersial serta berat berangkasan akibat perlakuan

kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk N (D)

Perlakuan Silking (hst) Jml. Tongkol komersial Brt tongkol komers Brt.berangks.

tan-1(bh) ha-1(000 bh) tan-1 (g) ha-1 (t) tan-1(g) ha-1(t)

Kerapat. tan K1 K2 K3 57,08 a 57,50 a 58,83 a 0,96 a 0,80 b 0,70 b 61,06 c 101,39 b 134,04 a 123,73 a 96,25 b 75,11 c 6,48 b 6,72 b 8,43 a 734,75 a 617,31 b 580,77 b 46,65 c 78,39 b 110,6 a BNT 5% - 0,14 16,78 14,44 0,88 45,66 5,85 Dosis ppk N D0 D1 D2 D3 63,22 a 58,22 b 55,44 c 54,33 c 0,58 c 0,69 c 0,91 b 1,11 a 72,10 c 82,12 c 104,44 b 136,67 a 45,76 b 61,63 b 139,07 a 147,00 a 5,20 c 6,60 b 8,24 a 8,81 a 615,20 a 621,82 a 659,41 a 680,67 a 75,60 a 75,70 a 79,80 a 83,10 a BNT 5% 1,98 0,16 19,38 16,68 1,02 - -

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji BNT 5%.

Perlakuan peningkatan kerapatan tanaman (K1 – K3) menyebabkan berat tongkol komersial tanpa klobot tanaman-1 semakin menurun, tetapi hektar-1 semakin meningkat (Tabel 3). Tertinggi dicapai akibat penggunaan perlakuan kerapatan K3 yaitu 8,43 t terjadi peningkatan sebesar 30,09 % dibandingkan pengaruh K1. Demikian pula pada berat kering oven tongkol komersial (Tabel 4) tertinggi dicapai pada penggunaan kerapatan lebih tinggi yaitu 1,68 t atau terjadi peningkatan sebesar 29,23 %.. Peningkatan berat tongkol komersial ini disebabkan lebih banyaknya jumlah tongkol komersial ha-1 pada perlakuan kerapatan yang lebih tinggi (K3). Keadaan tersebut terbukti dari adanya hubungan yang sangat erat antara berat segar tongkol

komersial (tanpa klobot) ha-1 dengan jumlah tongkol komersial ha-1 (r = 0,891**) dan antara berat kering oven tongkol komersial (tanpa klobot) ha-1 dengan jumlah tongkol komersial ha-1 (r = 0,893**). Pada penggunaan kerapatan tanaman yang lebih tinggi terjadi persaingan yang tinggi dalam memperebutkan faktor tumbuh seperti air, unsur hara, cahaya matahari dan lain-lain dibandingkan penggunaan perlakuan K1 akan tetapi tongkol yang dihasilkan dalam jumlah yang banyak pada luasan ha-1 sehingga menyebabkan berat segar dan kering oven tongkol komersial menjadi lebih tinggi.

Peningkatan penggunaan dosis pupuk Nitrogen dari 0 – 64 kg N ha-1 menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (p ≤ 0,01)

terhadap parameter pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis.Tinggi tanaman maupun jumlah daun semakin meningkat dan ILD (21 hst dan 49 hst) juga semakin meningkat. Terdapat korelasi yang positif antara jumlah daun dengan ILD (21 hst dan 49 hst) masing-masing dengan nilai r = 0,899** dan r = 0,883**. Hal ini diduga disebabkan N digunakan oleh tanaman untuk pembentukan sel, khlorophyl dan asam-asam organik lainnya. Semakin meningkatnya ILD berarti semakin meningkatnya kemampuan tanaman mengintersepsi cahaya matahari per satuan luas lahan untuk proses fotosintesis. Akhirnya fotosintat yang dihasilkan lebih banyak dapat diakumulasi untuk pembentukan buah (Franklin et al., 1991). Hal ini dapat terlihat pada parameter jumlah tongkol komersial maupun berat tongkol komersial tanaman-1

maupun ha-1 yang semakin meningkat (Tabel 2 dan 3). Berat tongkol segar komersial ha-1 tertinggi diperoleh pada penggunaan dosis pupuk N 64 kg ha-1 (D

3) yaitu 8,81 t atau 69,42 % lebih tinggi disbanding dengan tanpa pupuk N 5,20 t (Tabel 3). Hasil ini didukung oleh berat kering oven tongkol komersial ha-1 tertinggi dicapai pada penggunaan perlakuan dosis pupuk N tertinggi (D3) yaitu 1,76 t atau 69,32 % lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanpa penggunaan pupuk N 1,04 t (Tabel 4). Keadaan ini terbukti dari adanya korelasi yang positif antara berat segar tongkol komersial tanaman-1 dengan berat kering oven tongkol komersial tanaman-1 dengan nilai r = 0,939**. Berat kering oven tongkol komersial tanaman-1 berkorelasi positif dengan berat kering oven tongkol komersial ha-1 dengan nilai r = 0,968**.

Tabel 4. Berat kering oven tongkol komersial dan berat kering oven berangkasan tanaman-1 dan hektar-1 akibat perlakuan kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk nitrogen (D)

Perlakuan Bko tongkol komersial Bko berangkasan Indeks

Panen (%) tan-1 (g) ha-1 (t) tan-1 (g) ha-1 (t) Kerapat.tan K1 K2 K3 24,75 a 19,24 b 14,98 c 1,30 b 1,35 b 1,68 a 146,45 a 123,46 b 116,15 b 9,34 c 15,66 b 20,73 a 11,57 a 7,82 b 7,84 b BNT 5% 2,90 0,18 9,03 2,01 1,52 Dosis ppk N D0 D1 D2 D3 9,16 b 12,31 b 24,48 a 29,37 a 1,04 c 1,31 b 1,65 a 1,76 a 123,04 a 124,36 a 131,21 a 136,12 a 14,92 a 15,14 a 15,95 a 14,96 a 6,85 c 8,64 b 10,15 ab 10,66 a BNT 5% 3,35 0,20 - - 1,75

Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada perlakuan dan kolom yang sama adalah berbeda tidak nyata pada uji BNT 5%.

Menurut Soetoro, dkk. (1998), bahwa penyerapan N pada tanaman jagung berlangsung selama masa pertumbuhannya, pada awal pertumbuhan akumulasi N lambat setelah tanaman berumur 4 minggu akumulasi N sangat cepat. Oleh karenanya untuk mendapatkan pertumbuhan jagung yang baik unsure hara N yang tersedia dalam tanah harus cukup tersedia pada fase pertumbuhan tersebut. Terjadinya berat segar dan kering oven tongkol komersial hektar-1 yang lebih tinggi akibat penggunaan perlakuan dosis 64 kg N (D3) dibanding dengan tanpa penggunaan pupuk N memberi arti yang sangat besar pada fase pertumbuhan dan pembentukan hasil.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan :

Berdasarkan hasil hasil penelitian ini dapat dibuat simpulan sebagai berikut :

1. Terjadi interaksi yang tidak nyata (p ≥ 0,05) antara perlakuan kerapatan tanaman dan dosis pupuk N hektar-1 terhadap parameter pertumbuhan dan hasil jagung manis. Rata-rata diperoleh hasil tongkol segar komersial tanpa kelobot hektar-1 9,90 t dan hasil tongkol kering oven komersial 1,98 t. 2. Perlakuan kerapatan 238.095 tanaman

hektar-1 (K

3) mampu memberikan hasil tongkol segar komersial hektar-1 tertinggi 8,43 t atau 30,09 % lebih

(6)

tinggi dibanding dengan kerapatan terrendah 79.365 tanaman hektar-1 (K1).

3. Perlakuan dosis pupuk 64 kg N hektar-1 (D3) memberikan hasil tongkol segar komersial hektar-1 tertinggi 8,81 t atau 69,42 % lebih tinggi dibanding dengan hasil tanpa menggunakan pupuk N (D0). Dari perlakuan yang digunakan pada penelitian ini tidak didapatkan dosis pupuk N optimum untuk budidaya tanaman jagung manis.

Saran :

Disarankan untuk berbudidaya jagung manis di lahan kering menggunakan tingkat kerapatan 238.095 tanaman hektar-1 dan penggunaan dosis pupuk 64 kg N hektar-1.

DAFTAR PUSTAKA

Franklin, P.G., Pearce, B.R., Roger, L.M. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. (Terjemahan). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.

Gomez, K.A., Gomez, A.A. 1995 Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian. (Terjemahan).

Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

Koswara, J. 1989. Budidaya Jagung Manis. Makalah dalam Kursus Singkat Hortikultura.

Universitas Lampung. 11 h.

Lingga, P. 1986. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Jakarta : PT. Penebar Swadaya.

Soetoro, Sulaeman, Y., Iskandar. 1998. Jagung : Budidaya Tanaman Jagung. Bogor : Balitbang

Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.

Suprapto, H.S. 1999. Jagung. Jakarta : Penebar Swadaya.

Sukasana, I W. 2008. Pengaruh Dosis Pupuk NPK dan Kascing Terhadap Beberapa Sifat Tanah,

Hasil, Kandungan Protein Kasar Serta Serat Kasar Berangkasan Jagung Manis. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Udayana.

Denpasar.

Winten, T.I.K., Gunamanta, P.G. 2011. Peranan Jarak Tanam dan Dosis Pupuk Urea Terhadap

Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis. Maj. Ilmiah Universitas Tabanan Vol. 8(2). Th.2011.

PENGARUH STOCK SPLIT TERHADAP LIKUIDITAS EMITEN DI BURSA

EFEK INDONESIA. STUDI KASUS: PT. BANK RAKYAT INDONESIA Tbk.

I GUSTI AYU MADE AGUNG MAS ANDRIANI PRATIWI I GUSTI NENGAH DARMA DIATMIKA

I DEWA GEDE SURATHA

Fakultas Ekonomi Universitas Tabanan

ABSTRAK

Penelitian ini merupakan penelitian yang berfokus pada fenomena stock split yang dialami oleh PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif serta menggunakan metode event study. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan likuiditas saham sebelum stock split dan setelah stock split. Likuiditas saham dalam penelitian ini akan dianalisis menggunakan Trading Volume Activity (TVA). Peneliti akan melakukan analisis efek dari stock split terhadap likuiditas saham dengan 2 periode waktu, yaitu mingguan dan bulanan.Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data di analisis dengan menggunakan independent sample t-test dengan uji normalitas Shapiro-Wilk test. Hasil analisis penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaanTrading Volume Activity (TVA) baik dalam jangka waktu seminggu maupun sebulan sebelum dilakukan stock split dan sesudah dilakukan stock split. Penelitian ini sekaligus juga menggambarkan bahwa rata-rata TVA sebelum stock split dalam periode seminggu maupun sebulan lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata TVA setelah stock split.

Kata Kunci: likuiditas saham; Stock split; trading volume activity. PENDAHULUAN

Tingkat literasi keuangan yang semakin meningkat secara langsung berakibat pula pada meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang keuangan, tidak terkecuali pengetahuan mengenai investasi.Investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa mendatang (Halim, 2005). Salah satu instrumen investasi yang saat ini relatif banyak diminati adalah pasar modal. Hal ini mengingat berinvestasi pada pasar modal dianggap tidak memerlukan modal yang relatif besar dan akses yang cukup mudah dalam melaksanakan setiap transaksi mengenai saham.

Investor ketika berinvestasi akan memperhitungkan return yang akan diperoleh pada setiap alternatif investasi sahamnya. Investor berusaha untuk memperoleh return yang maksimal dan meminimalkan risiko yang akan ditanggung. Selain memperhitungkan return yang akan diperoleh dari investasi, investor juga memperhatikan tingkat harga

saham sebagai indikator dalam menentukan pilihan investasinya. “Tingkat harga saham merupakan faktor yang mempengaruhi penawaran saham dan permintaan saham” (Wijanarko dan Prasetiono, 2012). Apabila tingkat harga saham tersebut dinilai tinggi oleh pasar, maka permintaan akan berkurang. Apabila tingkat harga saham rendah, jumlah permintaan akan meningkat. Persepsi investor terhadap tingkat harga saham akan menentukan keseimbangan penawaran dan permintaan saham.

Ketika investor menilai tingkat harga saham terlalu mahal, minat investor akan berkurang. Berkurangnya minat investor untuk melakukan investasi pada perusahaan akan

mendorong perusahaan untuk mempertahankan harga saham pada rentang

yang wajar dan ideal. Hal tersebut mengakibatkan saham cukup likuid untuk diperdagangkan. Peningkatan likuiditas dapat dilakukan melalui penataan kembali harga saham dengan melakukan stock split. Secara umum stock split dilakukan oleh perusahaan ketika harga saham terlalu mahal dan investor

Gambar

Tabel 2. Tinggi tanaman (cm), jumlah daun  tanaman -1  (helai) dan ILD (21 dan 49  hst)  akibat perlakuan kerapatan  tanaman (K) dan dosis pupuk N (D)  hektar -1    Perlakuan  Tinggi  tanaman  (cm)  Jumlah daun tanaman-1(helai)  ILD tan -121 hst  49 hst  K
Tabel 3. Saat silking, jumlah dan berat tongkol komersial serta berat berangkasan akibat perlakuan  kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk N (D)
Tabel 3. Saat silking, jumlah dan berat tongkol komersial serta berat berangkasan akibat perlakuan  kerapatan tanaman (K) dan dosis pupuk N (D)

Referensi

Dokumen terkait

Sel surya (PV panel) adalah sumber listrik pada sistem pembangkit listrik tenaga surya, material semikonduktor yang mengubah secara langsung energi sinar matahari

Dalam makalah ini dilakukan pengkajian solidifikasi sludge (lumpur) aktif hasil proses oksidasi biokimia limbah radioaktif cair organik dari dekomisioning fasilitas

Penambahan grafit hingga 5% berat pada komposit AI/grafit menaikkan densitas relatifnya, sedangkan penambahan hingga 7,5 dan 10% berat justru menurunkan densitasnya seperti

Dalam ayat-ayat ini ditegaskan bahwa Nabi dan kaum Muslimin tidak memiliki peran untuk menerapkan hukuman atau melakukan perang dengan lawan Islām, seperti kaum Yahudi dan

psikomotor tidak ada, (6) tidak ada interaksi antara kreativitas dengan sikap peduli lingkungan siswa terhadap prestasi belajar kognitif, afektif dan psikomotor

Setelah kereta api melewati pintu perlintasan, sensor ketiga yaitu sensor infra merah aktif untuk mengirim sinyal ke kendali mikrokontroler untuk membuka palang

Saran dalam penelitian ini yaitu : (1) bagi Ketua Yayasan Pendidikan dan Kepala Sekolah diharapkan dapat menambah koleksi buku-buku cerita islami yang disesuaikan dengan usia

Ia kemudiannya disokong oleh penulisan Mahamad Naser (2010) dan Suwaid Tapah (1996) dengan membuktikan bahawa perisytiharan kemasukan Islam kepada keluarga yang bukan Islam