22
A. Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis mengenai Gugatan Citizen Lawsuit dalam kasus kemacetan di DKI Jakarta, maka berikut ini hasil penelitian yang diperoleh dari berkas perkara Nomor: 53/PDT.G/2012/PN.JKT.PST. yang akan disajikan dan dianalisa penulis, sebagai berikut:
1. Identitas Para Pihak a. Penggugat:
Agustinus Dawarja, S.H., Drs. Yohanes Tangur, S.H., dan Ngurah Anditya Ari Firnanda, S.H., M.H.Li; Advokat dan Konsultan Hukum pada Lex Regis Agustinus Dawarja & Partners, beralamar di Menara Duta Lantai 6, Wing C, Jalan H.R. Rasuna Said Kav. B-9 Jakarta 12910, Indonesia. Selanjutnya disebut sebagai Para Penggugat.
b. Tergugat:
1) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, yang beralamat di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta. Selanjutnya disebut sebagai Tergugat I;
2) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, yang beralamat di Gedung DPRD, Jalan Kebon Sirih Nomor 18 Jakarta Pusat. Selanjutnya disebut sebagai Tergugat II;
3) Negara Republik Indonesia cq. Pemerintah Republik Indonesia cq. Presiden Republik Indonesia, yang beralamat di Istana Negara, Jalan Veteran Nomor 16, Jakarta. Selanjutnya disebut sebagai Tergugat III; 4) Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat, yang beralamat di Jalan
Kramat Jaya Nomor 146, Jakarta Pusat. Selanjutnya disebut sebagai Turut Tergugat I;
5) Dewan Pimpinan Pusat Partai Keadilan Sejahtera, yang beralamat di MD Building, Jalan TB. Simatupang Nomor 82, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Selanjutnya disebut sebagai Turut Tergugat II;
6) Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, yang beralamat di Jalan Lenteng Agung Jakarta Selatan. Selanjutnya disebut sebagai Turut Tergugat II;
7) Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya, yang beralamat di Jalan Anggrek Neli Murni, Slipi, Jakarta Barat. Selanjutnya disebut sebagai Turut Tergugat IV;
8) Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan yang beralamat di Jalan Diponegoro Nomor 60, Jakarta Pusat. Selanjutnya disebut sebagai Turut Tergugat V;
9) Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerakan Indonesia Raya, yang beralamat di Jalan Harsono Nomor 54, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Selanjutnya disebut sebagai Turut Tergugat VI;
10) Dewan Pimpinan Pusat Partai Amanat Nasional, yang beralamat di Jalan Warung Buncit Raya Nomor 17, Jakarta Pusat. Selanjutnya disebut sebagai Turut Tergugat VII;
11) Dewan Pimpinan Pusat Partai Damai Sejahtera, yang beralamat di Jalan Letjen. S. Parman Nomor 6G, Bundaran Slipi, Jakarta Barat. Selanjutnya disebut sebagai Turut Tergugat VIII;
12) Dewan Pimpinan Pusat Partai Hati Nurani Rakyat, yang beralamat di Jalan Imam Bonjol Nomor 4, Jakarta Pusat. Selanjutnya disebut sebagai Turur Tergugat IX;
13) Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa, yang beralamat di Jalan Kalibata Timur Nomor 12, Jakarta Selatan. Selanjutnya disebut sebagai Turut Tergugat X.
2. Duduk Perkara
Para Penggugat dengan surat gugatannya tertanggal 30 Januari 2012 yang terlah terdaftar di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 31 Januari 2012 dibawah Register Nomor: 53/PDT.G/2012/PN.JKT.PST. telah mengemukakan hal-hal sebagai berikut:
a. Bahwa Para Penggugat adalah Warga Negara Republik Indonesia, yang berprofesi sebagai Advokat dan bekerja di Jakarta, yang selama ini
menggunakan seluruh ruas jalan di DKI Jakarta sebagai fasilitas umum yang seharusnya berhak atas rasa nyaman dengan lancarnya perjalanan saat melalui ruas jalanan di DKI Jakarta;
b. Bahwa rasa nyaman tersebut, disebabkan karena tidak sebandingnya jumlah kendaraan dengan ruas jalan yang ada di DKI Jakarta, yang pada akhirnya mengakibatkan kemacetan yang luar biasa hebatnya. Kemacetan di seluruh ruas jalan di DKI Jakarta, terjadi hampir setiap jam kerja dan hal ini dapat mengganggu keselamatan dalam berkendara karena kemacetan tersebut menimbulkan kelelahan yang sangat, dalam berkendara;
c. Bahwa kemacetan akan lebih bertambah parah apabila kota DKI Jakarta sedang diguyur hujan. Sehingga dapat dipastikan hampir seluruh ruas jalan-jalan di DKI Jakarta akan macet total;
d. Bahwa banyaknya jumlah kendaraan di DKI Jakarta saat ini, tidak diikuti dengan penambahan ruas jalan yang memadai, sehingga dapat dipastikan kemacetan di ruas jalanan di DKI Jakarta terjadi hampir sepanjang waktu; e. Bahwa kemacetan di seluruh ruas jalan di DKI Jakarta, tidak hanya
mengganggu kesehatan fisik dan psikis Para Penggugat semata, tetapi juga menimbulkan pemborosan yang sangat luar biasa terhadap penggunaan bahan bakar kendaraan, yang selalu diserukan oleh Pemerintah Republik Indonesia untuk berhemat penggunaanya;
f. Bahwa akibat kemacetan ini maka Tergugat I akan sangat diuntungkan sebab berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka setiap bahan bakar yang digunakan untuk kendaraan, akan dikenakan pajak, sehingga kesimpulannya adalah semakin boros pengunaan bahan bakar, maka Tergugat I akan semakin diuntungkan;
g. Bahwa sejatinya Tergugat III telah memberikan peringatan kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, agar segera melakukan tindakan untuk mencegah kemacetan di DKI Jakarta. Namun faktanya sampai surat gugatan ini diajukan, belum ada tindakan nyata yang membawa dampak signifikan
untuk mengatasi kemacetan di DKI Jakarta, bahkan kemacetan yang terjadi justru semakin bertambah parah;
h. Bahwa selain itu, angkutan umum (termasuk Transjakarta) yang disediakan oleh Tergugat I untuk mengatasi kemacetan, faktanya dari sisi jumlah masih sangat jauh lebih apabila dibandingkan dengan para masyarakat yang menggunakannya, sehingga sering kali Para Penggugat harus menunggu sampai dari 1 jam agar bisa menaiki angkutan umum tersebut. Terlebih saat menaiki angkutan umum tersebut, Para Penggugat sering kali harus berdiri berdesakan dengan sangat lama, karena jalanan tetap macet;
i. Bahwa Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III sebagai penyelenggara negara, dalam menjalankan pemerintahannya harus tunduk kepada ketentuan Undang-Undang Dasar Tahun 1945, yang di dalamnya mengamatkan pada pemerintah untuk menjamin hak-hak warga negara termasuk untuk mendapatkan rasa aman dan nyaman. Namun sebagai penyelenggara negara yang memiliki otoritas penuh, dengan tidak mengeluarkan suatu kebijakan yang dapat mengatasi kemacetan di DKI Jakarta dengan segera, maka Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III telah melakukan perbuatan melawan hukum karena merugikan hak-hak asasi Para Penggugat sebagai warga negara yang menggunakan fasilitas umum berupa ruas jalanan di DKI Jakarta. Selanjutnya, Turut Tergugat sebagai pemegang amanah rakyat, pada faktanya juga hanya berdiam diri dan tidak melakukan usaha apapun dalam memperjuangkan bebasnya Jakarta dari kemacetan yang telah nyata membawa kerugian bagi warga negara yang berada di DKI Jakarta;
j. Bahwa ketentuan Undang-Undang yang dilanggar oleh Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III adalah sebagai berikut:
1) Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang berbunyi “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”;
2) Pasal 9 ayat (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi “Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”;
3) Pasal 35 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusi yang berbunyi “Setiap orang berhak hidup di dalam tatanan masyarakat dan kenegaraan yang damai, aman dan tenteram yang menghormati, melindungi, dan melaksanakan sepenuhnya hak asasi manusia dan kewajiban dasar manusia sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini”.
k. Bahwa dengan demikian, menjadi patut apabila Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III dinyatakan telah melakukan perbuatan melawan hukum sebagaimana diatur di dalam ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata yang berbunyi “Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa kerugian kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugiann itu, mengganti kerugian tersebut”, selanjutnya Pasal 1366 KUHPerdata yang berbunyi “Setiap orang bertanggung jawab tidak saja untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau kurang hati-hatinya”; l. Bahwa daripada memilih diam dan tidak melakukan apapun, sesungguhnya
ada beberapa pilihan kebijakan yang dapat diambil oleh Tergugat I dan Tergugat II untuk mengurangi kemacetan yang terjadi di DKI Jakarta, antara lain:
1) Menambah jumlah angkutan umum yang saat ini, sehingga masyarakat tidak harus menunggu lama, untuk dapat naik angkutan umum;
2) Menaikkan pajak kendaraan bermotor milik pribadi dengan sangat tinggi, baik itu roda empat maupun roda dua, sehingga pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi dapat ditekan;
3) Menaikkan tarif parkir di pinggir-pinggir jalan di DKI Jakarta atau melarang parkir seluruh kendaraan, sehingga tidak ada kendaraan yang parkir di badan jalan dan menghambat laju lalu lintas;
4) Melarang seluruh pedangan kaki lima untuk berjualan di trotoar atau di pinggir jalan-jalan di DKI Jakarta;
5) Pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan usia kendaraan; dan
6) Moratorium kendaraan baru di wilayah Jabodetabek selama 6 (enam) sampai 12 (dua belas) bulan ke depan.
Bahwa berdasarkan hal di atas, Para Penggugat mohon kepada Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk menerima, memeriksa dan memutus perkara ini dengan amar putusan sebagai berikut:
Primair
a. Menerima gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya;
b. Menyatakan Gugatan Citizen Lawsuit Para Penggugat adalah sah;
c. Menyatakan bahwa Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III dan Turut Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum;
d. Menyatakan bahwa Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III dan Turut Tergugat telah lalai dalam menjalankan kewajibannya untuk memenuhi dan melindungi Hak Asasi Penggugat termasuk Hak Asasi warga kota Jakarta; e. Menghukum Tergugat I, Tergugat II dan Tergugat III mengeluarkan
kebijakan dengan segera untuk mengatasi kemaceta di Jakarta. Antara lain: 1) Menambah jumlah angkutan umum yang ada saat ini;
2) Menaikkan pajak kendaraan bermotor dengan sangat tinggi, baik itu roda empat maupun roda dua milik pribadi;
3) Menaikkan tarif parkir di pinggir-pinggir jalan di DKI Jakarta dan melarang parkir seluruh kendaraan di badan jalan;
4) Menertibkan (sterialisasi jalan) parkir liar yang ada di ruas-ruas jalan di DKI Jakarta;
5) Melarang seluruh pedagang kaki lima, untuk berjualan di trotoar atau di pinggir jalan-jalan utama di DKI Jakarta;
6) Melarang angkutan umum berhenti (ngetem) di pinggir jalan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, kecuali memang tersedia tempat yang diperuntukkan untuk hal tersebut;
7) Pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan usia kendaraan; dan
8) Moratorium kendaraan baru di wilayah Jabodetabek selama 6 (enam) sampai 12 (dua belas) bulan ke depan.
f. Menghukum Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III dan Turut Tergugat untuk meminta maaf secara tertulis kepada Penggugat dan warga kota Jakarta dalam sekurang-kurangnya 2 media cetak Nasional;
g. Memerintahkan Tergugat I, Tergugat II, Tergugat III dan Turut Tergugat untuk membayar biaya perkara.
Subsidair
Mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono). 3. Proses Pemeriksaan Perkara
a. Mediasi
Majelis Hakim telah mengusahakan penyelesaian melalui proses mediasi sesuai dengan PERMA Nomor 1 Tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi melalui Hakim Mediator tetapi tidak berhasil.
b. Jawab menjawab
Pemeriksaan perkara ini dimulai dengan pembacaan gugatan oleh Para Penggugat yang isinya sebagaimana tersebut di atas dan tetap dipertahankan oleh Para Penggugat. Dikarenakan gugatan Para Penggugat adalah Gugatan Citizen Lawsuit maka diberlakukan hukum acara Citizen Lawsuit sehingga pihak Tergugat diberikan kesempatan untuk memberikan tanggapan terhadap bentuk formil surat gugatan Citizen Lawsuit Para Penggugat yang berupa Tanggapan Legal Standing. Adapun Tanggapan Legal Standing dari Tergugat I yang pada pokoknya sebagai berikut:
Tanggapan Legal Standing
1) Gugatan Citizen Lawsuit belum diatur dalam hukum positif Indonesia Bahwa Gugatan Citizen Lawsuit hanya dikenal dalam sistem hukum common law dan belum diatur dalam hukum positif di Indonesia. Namun demikian, sesuai ketentuan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur “Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalil tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadili”. Selain itu, untuk memeriksa suatu perkara yang belum diatur dalam hukum positif Indonesia, hakim harus
mencari dan menemukan hukumnya (rechtviding), namun demikian sesuai dengan ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menyebutkan “Hakim dan Hakim Konstitusi wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat” pengertian kata “menggali” diartikan bahwa hukumnya sudah ada dalam aturan perundangan tetapi masih samar-samar, sehingga untuk menemukan hukumnya harus berusaha mencari dengan menggali nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat.
Bahwa untuk menemukan hukum, hakim harus mencarinya dengan menggunakan metode interpretasi dan konstruksi. Metode interprestasi adalah penafsiran terhadap teks undang-undang, masih tetap berpegang pada bunyi teks itu. Sedangkan metode konstruksi hakim mempergunakan penalaran logisnya untuk mengembangkan lebih lanjut suatu teks undang-undang, dimana hakim tidak lagi terikat dan berpegang pada bunyi teks itu, tetapi dengan syarat hakim tidak mengabaikan hukum sebagai suatu sistem. Berdasarkan hal tersebut, karena Gugatan Citizen Lawsuit belum diatur dalam hukum positif Indonesia sudah seharusnya hakim yang mengadili perkara a quo menolak gugatan Para Penggugat atau apabila hakim yang mengadili perkara a quo menerima, harus menyebutkan dengan jelas dasar dan metode yang dipakai untuk menerima perkara a quo sebagai suatu penemuan hukum (rechtviding).
2) Gugatan tidak memenuhi syarat sebagai Gugatan Citizen Lawsuit
Di negara-negara yang sudah terlebih dahulu mengadopsi mekanisme Citizen Lawsuit seperti di Amerika, India dan Australia serta dalam prakteknya berdasarkan beberapa gugatan yang pernah dilakukan di Indonesia, Citizen Lawsuit termasuk gugatan a quo harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
a) Adanya standing sebagai syarat pengajuan gugatan
Standing dapat diartikan secara luas yaitu akses perorangan atau kelompok masyarakat atau organisasi di Pengadilan sebagai pihak penggugat. Para Penggugat dalam posita gugatan angka 1 menyebutkan “Bahwa Para Penggugat adalah Warga Negara Republik Indonesia, yang berprofesi sebagai Advokat dan bekerja di Jakarta, yang selama ini menggunakan seluruh ruas jalan di DKI Jakarta sebagai fasilitas umum”, selanjutnya dalam posita angka 2 menyebutkan “Bahwa rasa tidak nyaman tersebut, disebabkan karena tidak nyaman tersebut, disebabkan karena tidak sebandingnya jumlah kendaraan dengan ruas jalan yang ada”.
Kemudian dalam petitum gugatan a quo, Para Penggugat sama sekali tidak meminta adanya penambahan agar dilakukan penambahan ruas jalan sehingga antara posita dan petitum bertentangan. Karena pertentangan antara posita dan petitum dalam gugatan a quo semakin menerangkan tidak jelasnya kepentingan umum apa yang hendak dibela Para Penggugat dan kepentingan siapa yang hendak dibela Para Penggugat atau justru Para Penggugat mengajukan gugatan untuk kepentingan pribadi untuk mendapatkan popularitas dan juga agar lancar menggunakan mobil pribadinya di jalanan. Selain itu Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1075 K/SIP/1982 menyebutkan “karena petitum bertentangan dengan posita gugatan, gugatan tidak dapat diterima”. Dengan demikian, tidak adanya dasar (standing) Para Penggugat untuk mengajukan gugatan a quo menyebabkan gugatan harus ditolak dan dinyatakan tidak dapat diterima.
b) Adanya notifikasi
Gugatan Citizen Lawsuit mensyaratkan adanya proses pemberitahuan (notifikasi). Peraturan mengenai Citizen Lawsuit berbeda dengan notifikasi seperti dalam Gugatan Class Action. Dalam gugatan perwakilan kelompok (Class Action) proses penreritahuan dilakukan
oleh wakil kelompok (class member) untuk ikut (opt-in) atau keluar (opt-out) dari kelompok kepentingan, jadi pemberitahuan ada pada unsur penggugat. Sedangkan pada hak gugat warga negara (Citizen Lawsuit) proses pemberitahuan di lakukan oleh penggugat (warga negara) terhadap gugatan (negara/pemerintah). Pemberitahuan (notifikasi) tersebut harus dibuat dalam bentuk tertulis, setidak-tidak memuat:
(1) Informasi tentang pelaku pelanggaran dan lembaga yang relevan dengan pelanggaran;
(2) Jenis pelanggaran;
(3) Peraturan perundang-undangan yang dilanggar.
Bahwa Para Penggugat dalam mengajukan gugatan a quo ke pengadilan tanpa terlebih dahulu mengajukan notifikasi atau pemberitahuan kepada pihak pemerintah merupakan tindakan yang prematur dan tidak memenuhi syarat untuk mengajukan gugatan dengan metode Citizen Lawsuit. Sudah seharusnya Para Penggugat mengajukan notifikasi (pemberitahuan) kepada Para Tergugat sebelum mengajukan gugatan a quo sehingga memberikan kesempatan secara adil kepada Tergugat I lakukan untuk mengatasi kemacetan untuk membuktikan Tergugat I tidak melakukan pembiaran seperti yang didalikan Para Penggugat dalam gugatannya sehingga proses pemberian penjelasan tersebut tidak perlu dilakukan melalui pengadilan.
Pengajuan notifikasi (pemberitahuan) tersebut juga wajib dilaksanakan agar Para Penggugat dalam mengajukan gugatan dilengkapi dengan bukti dan fakta yang akurat. Dalam gugatan a quo, Para Penggugat sama sekali tidak mendasari dalil-dalilnya dengan bukti-bukti yang akurat sehingga dalil tersebut tidak berdasar dan harus ditolak.
3) Gugatan Citizen Lawsuit hanya dapat diajukan apabila Penggugat membuktikan negara dalam keadaan diam atau tidak melakukan tindakan apapun untuk kepentingan warga negaranya
Bahwa dalam gugatan a quo, Para Penggugat sama sekali tidak mampu memberikan bukti jika negara atau pemerintah diam atau tidak melakkan tindakan apapun. Justru dalam mengutip dari gugatannya, Para Penggugat dengan tegas mengakui bahwa negara atau pemerintah tidak diam dan telah melakukan tindakan untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Dengan demikian, Penggugat telah dengan tegas mengakui negara (Tergugat I) tidak diam dan telah melakukan langkah-langkah untuk mengatasi kemacetan di Jakarta.
4) Tergugat I mohon kebijaksanaan majelis hakim yang mengadili perkara a quo agar melalui gugatan a quo tidak terjadi gejolak sosial di masyarakat Kemacetan di Jakarta merupakan msalah yang sangat komplek, harus berkoordinasi dengan banyak pihak dan lintas daerah serta butuh penanganan yang mempertimbangkan banyak faktor khususnya rasa keadilan di masyarakat. Apabila petitum Para Penggugat dikabulkan untuk segera dilaksanakan, seperti menaikkan pajak kendaraan bermotor sangat tinggi, menaikkan tarif parkir, melarang parkir di seluruh ruas jalan, melarang angkutan umum berhenti (ngetem) di pinggir jalan kecuali tersedia tempat yang diperuntukkan untuk hal tersebut dan petitum lainnya pasti akan terjadi gejolak sosial di masyarakat.
Bahwa sampai saat ini Pemerintah terus berupaya melakukan tindakan-tindakan untuk mengatasi kemacetan tanpa menimbulkan gejolak sosial di tengah-tengah masyarakat dan menyediakan sarana prasarana untuk mengatasi kemacetan dan masyarakat beralih ke transportasi umum/massal.
Sekiranya Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo berkenan memutus perkara sebagai berikut:
Primair
1) Menerima Tanggapan Legal Standing Tergugat I;
2) Menyatakan Para Penggugat tidak mempunyai hak (standing) untuk mengajukan Gugatan Citizen Lawsuit;
3) Menyatakan gugatan Para Penggugat tidak memenuhi syarat sebagai Gugatan Citizen Lawsuit sehingga tidak dapat diterima;
4) Menghukum Para Penggugat untuk membayar segala biaya perkara yang ditetapkan.
Subsidair
Apabila pengadilan berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono)
Selain mengajukan tanggapan Legal Standing terhadap Gugatan Citizen Lawsuit, Tergugat I juga mengajukan Jawaban yang pada pokoknya sebagai berikut:
Dalam Eksepsi
1) Eksepsi Kompetensi Absolut
Kebijakan/keputusan yang diminta oleh Para Penggugat agar dikeluarkan oleh Para Tergugat masuk ke dalam rumusan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaiman telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha (UU PTUN) yakni penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan-tindakan tata usaha negara yang bersifat konkrit, individual dan final sehingga menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum. Berdasarkan Pasal 3 ayat (1) UU PTUN menerangkan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang tidak mengeluarkan keputusan sedangkan itu menjadi kewajibannya maka hal tersebut disamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara. Oleh karena yang menjadi pokok gugatan Penggugat sebagaimana telah diuraikan oleh Tergugat I adalah sengketa tata usaha negara, maka berdasarkan Pasal 4 UU PTUN yang menyebutkan "Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara", Pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan
mengadili perkara a quo adalah Pengadilan Tata Usaha Negara dan bukan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Bahwa sesuai Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 620 K/Pdt/1999 tertanggal 29 Desember 1999, bila yang digugat adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dan obyek gugatan menyangkut perbuatan yang menjadi wewenang pejabat tersebut, maka yang berwenang mengadili perkara tersebut adalah Peradilan Tata Usaha Negara bukan wewenang peradilan negeri, maka berdasarkan Pasal 134 HIR dan Pasal 132 Rv, maka mohon agar Majelis Hakim yang mengadili perkara a quo menyatakan tidak berwenang untuk memeriksa, mengadili dan memutus perkara a quo.
2) Gugatan Penggugat Tidak Memenuhi Syarat Formil Gugatan Citizen Lawsuit
Bahwa sesuai dengan Buku Class Action & Citizen Lawsuit, Laporan Penelitian, terbitan Mahkamah Agung Tahun 2009 disebutkan beberapa kasus Gugatan Citizen Lawsuit yang pernah didaftarkan di Indonesia, dan dari seluruh Gugatan Citizen Lawsuit dapat ditarik kesimpulan bahwa Majelis Hakim yang menangani dan memutus perkara-perkara tersebut menjadikan notifikasi sebagai syarat penting terpenuhinya syarat formil suatu Gugatan Citizen Lawsuit, dimana walaupun belum diatur sebagai hukum positif di Indonesia namun telah menjadi hukum yang hidup di dunia peradilan (Living Law) dan diikuti oleh hakim-hakim dalam memutus perkara Citizen Lawsuit. Notifikasi sebagai syarat formil mengajukan Gugatan Citizen Lawsuit diperlukan agar masyarakat tidak sembarangan mengajukan gugatan kepada Pemerintahan yang justru dapat mengganggu Pemerintahan dalam melakukan pembangunan. Bahwa dalam gugatan a quo, Para Penggugat sama sekali tidak mengajukan notifikasi terlebih dahulu sebelum mengajukan gugatan a quo sehingga cukup beralasan bagi Majelis Hakim yang mengadili perkara a quo untuk memutus dengan menyatakan gugatan Para
Penggugat tidak memenuhi syarat formil gugatan sehingga gugatan Para Penggugat tidak dapat diterima.
3) Gugatan Penggugat Kurang Pihak
Penggugat dalam gugatannya telah menjadikan data yang dimiliki Polda Metro Jaya dan data yang dimiliki Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta sehingga Penggugat mengakui Kepolisian RI (Polda Metro Jaya) dan Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta merupakan lembaga yang berwenang di bidang lalu lintas dan angkutan jalan namun tidak menjadikannya pihak dalam gugatan a quo. Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas dan sejalan dengan Yurisprudensi Nomor 151 K/Sip/1975 tanggal 13 Mei 1975 yang menyebutkan pihak-pihak yang berperkara harus dicantumkan secara lengkap maka gugatan Para Penggugat yang kurang pihak harus dinyatakan batal tidak dapat diterima.
4) Gugatan Kabur dan Tidak Jelas (Obscuur Libel)
Bahwa gugatan Para Penggugat menjadi kabur dan tidak jelas karena Penggugat tidak menerangkan secara jelas di ruas jalan mana kemacetan terjadi dan pada waktu kapan kemacetan tersebut terjadi. Kemudian Para Penggugat tidak konsisten dengan dalil gugatannya karena di satu sisi Para Penggugat menyebutkan Para Tergugat telah mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi kemacetan di Provinsi DKI Jakarta, namun di sisi lain Para Penggugat menyebutkan Para Tergugat tidak mengeluarkan kebijakan dan hanya memilih diam serta tidak melakukan kegiatan apapun. Hal ini semakin menunjukkan gugatan yang disusun Para Penggugat sangat kabut dan tidak jelas (obscuur libel).
Bahwa berdasarkan seluruh penjelasan di atas maka gugatan Penggugat adalah kabur dan tidak jelas (Obscuur Libel) sehingga sudah layak dan sepantasnya jika gugatan a quo Penggugat dinyatakan tidak dapat diterima.
5) Gugatan Premature
Bahwa Para Penggugat tidak memiliki informasi yang cukup dan pengetahuan yang cukup di bidang transportasi dan lalu lintas sehingga
sangat terburu-buru mengajukan permasalahan a quo ke Pengadilan. Namun demikian, Tergugat I menganggap gugatan a quo terjadi sebagai bentuk aspirasi dari Para Penggugat untuk mengatasi kemacetan Provinsi DKI Jakarta namun tidak tahu kemana menyalurkan aspirasinya tersebut. Selain itu, saat ini telah ada Dewan Transportasi Kota Jakarta yang merupakan lembaga multi stakeholder untuk mengurus pengembangan masalah transportasi di Jakarta. Dengan adanya Dewan Transportasi Kota Jakarta tersebut Para Penggugat seharusnya dapat menyalurkan aspirasinya untuk memberikan masukan kepada Pemerintah mengenai kebijakan apa yang sebaiknya diambil untuk mengatasi kemacetan di Provinsi DKI Jakarta, sehingga penyelesaian perkara a quo melalui Pengadilan dapat menjadi upaya terakhir setelah Para Penggugat memiliki informasi yang cukup dan telah melakukan upaya-upaya di luar Pengadilan menyalurkan aspirasinya untuk mengatasi kemacetan di Provinsi DKI Jakarta. Bahwa berdasarkan seluruh penjelasan di atas maka gugatan Penggugat adalah premature sehingga sudah layak dan sepantasnya jika gugatan a quo Penggugat dinyatakan tidak dapat diterima.
6) Petitum Gugatan Bertentangan Dengan Posita Gugatan
Bahwa Tergugat I menolak petitum yang diajukan Penggugat yang meminta Majelis Hakim dalam perkara a quo memutus dengan menyatakan Tergugat I telah melakukan perbuatan melawan hukum dan lalai menjalankan kewajibannya untuk memenuhi hak asasi Penggugat termasuk hak asasi warga kota Jakarta padahal tidak ada satu-pun uraian gugatan yang mendasari permintaan tersebut atau dengan kata lain antara posita dan petitum tersebut saling bertentangan. Kemudian Tergugat I menolak petitum nomor 5 Para Penggugat yang meminta Para Tergugat mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi kemacetan di Provinsi DKI Jakarta namun dalam posita, Para Penggugat sama sekali tidak menjelaskan apa dasar kebijakan tersebut harus diambil, siapa saja yang berwenang mengambil kebijakan tersebut sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku di bidang lalu lintas dan angkutan jalan dan Para Penggugat sama sekali tidak mengetahui kebijakan apa saja yang telah diambil oleh Para Tergugat namun atas dasar ketidaktahuannya tersebut Para Penggugat dalam petitumnya meminta agar Para Tergugat mengeluarkan kebijakan yang sesungguhnya sudah ada. Selain itu, dalam petitum nomor 5 huruf h yang meminta moratorium kendaraan baru di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) merupakan petitum yang mengada-ada dan bertentangan dengan posita. Gugatan a quo mengada-adalah terkait kemacetan di Provinsi DKI Jakarta namun tanpa dalil apapun di posita dan petitum Para Penggugat yang meminta adanya kebijakan meliputi wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) merupakan petitum yang mengada-ada dan tidak bisa dikabulkan. Bahwa Mahkamah Agung dalam Putusan Mahkamah Agung Rl No. 1075 K/SIP/1982 menyatakan : “karena petitum bertentangan dengan posita gugatan, gugatan tidak dapat diterima” sehingga dengan demikian gugatan Para Penggugat sudah seharusnya dinyatakan tidak dapat diterima.
Dalam Pokok Perkara
1) Bahwa Tergugat I dengan tegas menolak dalil Penggugat dalam angka 11 dan angka 14 Surat Gugatan karena Para Penggugat sama sekali tidak mampu memberikan bukti jika negara atau pemerintah diam atau tidak melakukan tindakan apapun. Justru Para Penggugat telah dengan tegas mengakui bahwa negara atau pemerintah tidak diam dan telah melakukan tindakan untuk mengatasi kemacetan di Jakarta;
2) Bahwa selain itu, Tergugat I telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kemacetan di Provinsi DKI Jakarta antara lain memperbaiki dan membangun jalur Bus Transjakarta, membangun jalan layang non tol, membangun Mass Rapid Transit (MRT) dan masih banyak kebijakan dan upaya lainnya;
3) Bahwa dengan demikian Penggugat telah dengan tegas mengakui negara (Tergugat I) tidak diam dan telah melakukan langkah-langkah untuk mengatasi macet di Jakarta serta Tergugat I juga telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kemacetan di Provinsi DKI Jakarta sehingga gugatan Para Penggugat tidak terbukti dan tidak memenuhi syarat sebagai Gugatan Citizen Lawsuit;
4) Bahwa Para Penggugat dalam gugatannya sama sekali tidak menguraikan unsur-unsur perbuatan melawan hukum secara terperinci berdasarkan ketentuan Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yang telah dilakukan oleh Tergugat I;
5) Bahwa berdasarkan penjelasan tersebut di atas, Tergugat I menolak dengan tegas dalil Penggugat dalam angka 11, angka 12 dan angka 13 Surat Gugatan karena Para Penggugat tidak mampu menjelaskan sekaligus membuktikan perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Tergugat I;
6) Bahwa dalam gugatan a quo, Para Penggugat meminta agar Para Tergugat mengeluarkan kebijakan (sesuai petitum angka 5 Surat Gugatan) namun Para Penggugat mengajukan petitum tersebut tanpa menjelaskan dalam posita apa yang menjadi dasar petitum tersebut dan peraturan perundang-undangan mana yang dapat dijadikan dasar petitum tersebut sehingga petitum yang diminta oleh Para Penggugat menjadi petitum yang tidak berdasar atau petitum yang tidak bisa dibuktikan oleh Para Penggugat dan petitum yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
7) Bahwa Penggugat dalam gugatannya tidak bisa membuktikan Tergugat I dalam keadaan diam atau tidak melakukan tindakan apapun (omisi) karena sesungguhnya sudah banyak kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengatasi kemacetan di Provinsi DKI Jakarta dan Penggugat meminta dalam petitumnya kebijakan yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan sehingga terbukti gugatan Penggugat adalah gugatan yang tidak berdasar dan sudah seharusnya ditolak.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Tergugat I memohon kiranya Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo berkenan memutus perkara sebagai berikut:
Pramair
Dalam Eksepsi
1) Menyatakan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang mengadili perkara;
2) Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima; 3) Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara. Dalam Pokok Perkara
1) Menolak gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2) Menghukum Penggugat untuk membayar segala biaya/ongkos perkara yang ditetapkan.
Subsidair
Apabila Majelis Hakim yang memeriksa serta mengadili perkara a quo berkehendak lain, maka mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Selanjutnya Tergugat III mengajukan Tanggapan Legal Standing, sebagai berikut:
Tanggapan Legal Standing
1) Gugatan Para Penggugat dengan Mekanisme Citizen Lawsuit tidak diatur/tidak diakomodir dalam Peraturan Perundang-Undangan Indonesia Penggugat di dalam posita gugatan baik Poin 1 sampai dengan Poin 15 tidak menyebutkan dasar/Peraturan Perundang-Undangan Indonesia yang melandasi dasar pengajuan Gugatan Citizen Lawsuit karena memang tidak ada satupun yang mengatur mengenai mekanisme Citizen Lawsuit tersebut. Gugatan Citizen Lawsuit adalah gugatan perbuatan melawan hukum atas nama kepentingan umum (on behalf of the public interest) yang dikenal dalam sistem hukum common law yang diajukan oleh setiap orang dengan pengaturan Negara atau dengan "kata lain harus ada
aturannya terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan agar mekanisme gugatan seperti ini tidak ditaklukan secara asal- asalan atau asal menggugat organ Pemerintah/ Negara atau pihak swasta. Gugatan Citizen Lawsuit tidak dikenal dan tidak diatur dalam ketentuan perundang- undangan di Indonesia. Oleh karena itu Tergugat III secara tegas menolak segala bentuk gugatan apa pun yang belum/tidak diatur dalam ketentuan peraturan perundang- undangan di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar tertib hukum dan kepastian hukum yang ada ditengah masyarakat tetap terpelihara dan terjaga.
Gugatan perwakilan yang diakui di Indonesia adatah Gugatan Perwakilan Kelompak/Class Action (vide Peraturan Mahkamah Agung Rl Nomor : 1 Tahun 2002 tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok) dan Gugatan Legal Standing yang diatur dalam beberapa peraturan perundang-undangan antara lain: Undang Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, dan Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dengan demikian mekanisme Gugatan Citizen Lawsuit tidak dikenal dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Oleh karena gugatan para Penggugat dalam bentuk Citizen Lawsuit sama sekati belum diatur atau belum dikenal dalam sistem hukum dan peraturan perundang-undangan di Indonesia, maka mohon Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima.
2) Gugatan Penggugat Tidak Memenuhi Syarat-Syarat Gugatan Citizen Lawsuit
Gugatan Citizen Lawsuit yang merupakan gugatan perbuatan melawan hukum atas nama kepentingan umum terhadap negara atau pemerintah yang pertama sekali di negara Amerika Serikat, yang mensyaratkan bahwa orang perorangan/warga negara yang akan mengajukan gugatan harus melakukan pemberitahuan (notice) terlebih dahulu tentang maksud dan tujuan dari pengajuan Gugatan Citizen Lawsuit sebelum pendaftaran
dan pengajuan gugatan dilakukan. Notifikasi menjadi suatu prasyarat untuk dapat diajukannya suatu Gugatan Citizen Lawsuit. Pemberitahuan (notice) tersebut merupakan suatu "mini statement" (pernyataan singkat) tentang kasus dan dibuat sesuai dengan syarat-syarat notifikasi yang Notifikasi tersebut harus mengidentifikasikan pelanggaran dan tuntutan spesifik yang kemudian menjadi dasar pengajuan gugatan.
Bahwa sampai dengan didaftarkannya gugatan ini di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Tergugat III belum pernah menerima notifikasi dari Penggugat, sedangkan salah satu tujuan yang hendak dicapai dengan adanya kewajiban melakukan notifikasi adalah memberikan kesempatan secara fair kepada Tergugat/para Tergugat untuk mengajukan bantahan dalam kesempatan awal dari proses penanganan perkara. Bahwa isi Somasi adalah akan diajukan suatu Gugatan Citizen Lawsuit terhadap penyelenggara Negara atas kelalaian negara dalam pemenuhan hak-hak warga negaranya dan memberikan kesempatan bagi negara untuk melakukan pemenuhan jika tidak ingin gugatan diajukan. Pada prakteknya somasi ini harus diajukan selambat- lambatnya 2 (dua) butan sebelum gugatan didaftarkan.
3) Penggugat Tidak Mempunyai Hak (Standing) Untuk Mengajukan Gugatan Citizen Lawsuit
Bahwa seandainya Majelis Hakim berpendapat lain dalam perkara ini bahwa Gugatan Citizen Lawsuit sebagaimana praktek yang dikenal di negara lain seperti di Amerika Serikat dapat diterapkan di negara Republik Indonesia, maka pengajuan gugatan seperti ini mengharuskan pengadilan memeriksa dan menentukan terlebih dahulu apakah pihak Penggugat memiliki hak dan kapasitas (standing) untuk mengajukan Gugatan Citizen Lawsuit, Gugatan Citizen Lawsuit dimaksud untuk melindungi kepentingan umum dan masyarakat, tidak setiap orang dapat mengajukan Gugatan Citizen Lawsuit. Terlebih dahulu harus dipenuhi persyaratan yang menumbuhkan hak (standing) bagi seseorang untuk mengajukan gugatan seperti itu. Hak (standing) pada dasarnya berupa
tuntutan bahwa seorang Penggugat memiliki kepentingan nyata dan pribadi dalam sengketa, dan benar-benar menderita kerugian. Asas dasar utama yang penting dalam hukum acara perdata kita adalah asas POINT D'INTERET PAINT DACTION yang berarti barang siapa mempunyai kepentingan dapat mengajukan tuntutan hak atau gugatan. Kepentingan disini bukan asal kepentingan, tetapi kepentingan hukum secara langsung, yaitu kepentingan yang dilandasi dengan adanya hubungan hukum antara Penggugat dan Tergugat dan hubungan hukum itu langsung diatami sendiri secara kongkrit oleh Penggugat. Jika setiap orang dimungkinkan untuk menggugat tanpa syarat adanya "kepentingan hukum yang langsung" maka dapat dipastikan pengadilan akan kebanjiran gugatan-gugatan bahkan di negara yang mengenal adanya bentuk Gugatan Citizen Lawsuit, untuk melindungi kepentingan umum dan masyarakat, tidak setiap orang dapat mengajukan Gugatan Citizen Lawsuit, karena tertebih dahulu harus dipenuhi persyaratan yang menimbutkan hak (standing) bagi seseorang untuk mengajukan gugatan semacam itu.
Berdasarkan praktek di Amerika Serikat, untuk dapat mengajukan gugatan dalam bentuk Citizen Lawsuit, para Penggugat harus menunjukkan adanya kerugian yang diderita, namun dalam gugatan a quo para Pengugat tidak menunjukkan adanya kerugian yang diderita. Hal ini sesuai dengan isi petitum gugatan yang pada intinya Tergugat III meminta maaf secara tertulis kepada Penggugat dan warga kota Jakarta dalam sekurang-kurangnya 2 media cetak Nasional. Para Penggugat tidak memiliki hak dan kapasitas (standing) untuk mengajukan gugatan Citizen Lawsuit, karena apabila seseorang ingin mengajukan tuntutan hak atau gugatan terlebih dahulu harus dipenuhi persyaratan yang menimbulkan hak (standing) bagi seseorang untuk mengajukan gugatan. Jika setiap orang dimungkinkan untuk menggugat tanpa syarat adanya "kepentingan hukum langsung" maka dapat dipastikan pengadilan akan kebanjiran
gugatan-gugatan. Oleh karena itu sudah selayaknya bagi Majelis Hakim untuk menyatakan gugatan tidak dapat diterima.
Berdasarkan uraian, mengenai Legal Standing Penggugat tersebut diatas, Tergugat III mohon dengan hormat kepada Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara a quo untuk berkenan memberikan putusan dengan amar sebagai berikut:
Primair
1) Menerima Tanggapan Citizen Lawsuit Tegugat III;
2) Menyatakan Para Penggugat tidak mempunyai hak (standing) untuk mengajukan Gugatan Citizen Lawsuit;
3) Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima; 4) Membebankan biaya/ongkos perkara kepada Penggugat. Subsidair
Apabila pengadilan berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Selain itu mengajukan tanggapan terhadap Legal Standing, Tergugat III juga mengajukan jawaban sebagai berikut:
Dalam Eksepsi
1) Eksepsi Kewenangan Mengadili Absolut
Bahwa dalam menyelenggarakan tugas pemerintahan yang berkaitan dengan kebijakan/policy tidak dapat dinilai/tidak tunduk dalam kewenangan mengadili oleh Badan peradilan dan merupakan kebijakan/policy pemerintah. Dengan demikian lembaga peradilan termasuk Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang saat ini sedang memeriksa dan mengadili perkara a quo tidak mempunyai kewenangan untuk menilai atau menguji secara hukum suatu kebijakan terkait dengan merumuskan dan melaksanakan kebijakan tentang mengatasi suatu kemacetan di DKI Jakarta sebagaimana Yurisprudensi Mahkamah Agung Rl Nomor: 8383K/Sip/1970 tanggal 3 Maret 1971 pada intinya
menyebutkan bahwa perbuatan kebijakan penguasa (dalam hal ini Pemerintah Rl) tidak termasuk kompetensi pengadilan untuk menilainya. Selain itu berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Rl Nomor: MA/ Pem/0159/77 tanggal 25 Februari 1977 yang ditujukan kepada semua Ketua Pengadilan Tinggi, Pengadilan Negeri dan Hakim di seluruh Indonesia memberikan petunjuk: "Bahwa kebijakan penguasa tidak termasuk kompetensi pengadilan untuk memeriksanya". Uraian tersebut menunjukan bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili gugatan para Penggugat, sehingga cukup alasan bagi Majelis Hakim untuk menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima.
2) Gugatan Penggugat Kurang Pihak
Gugatan yang diajukan penggugat dalam Gugatan Citizen Lawsuit terkait dengan kemacetan di DKI Jakarta adalah kurang pihak karena salah satu unsur pelaksana yang berwenang mengatur kelancaran lalu lintas dan angkutan di jalan raya tidak ditarik sebagai tergugat yang dalam hal ini adalah Polisi lalu lintas yang bertugas menyelenggarakan tugas kepolisian mencakup penjagaan, pengaturan, pengawalan dan patroli, pendidikan masyarakat dan rekayasa lalu lintas, registrasi dan identifikasi pengemudi atau kendaraan bermotor, penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakan hukum dalam bidang lalu lintas, guna memelihara keamanan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Pada dasarnya banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya kemacetan lalu lintas di jalan raya salah satunya adalah perilaku berkendara yang tidak tertib dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas sehingga peran Kepolisian Republik Indonesia melalui Polantas sangat dominan mengatasi dan mengatur kelancaran lalu lintas di jalan raya. Dengan demikian apabila Kepolisian Negara Republik Indonesia Cq Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana yang diatur dalam Pasal 5 ayat (3) Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan tidak ditarik sebagai pihak dalam perkara a quo maka gugatan adalah
kurang pihak "plurium litis consortium", sehingga cukup beralasan bagi Majelis Hakim untuk menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima.
3) Gugatan Penggugat Kabur (Obscuur Libel)
Bahwa Gugatan Citizen Lawsuit Para Penggugat adalah tidak jelas dan kabur (obscuur libel) dengan pokok sebagai berikut:
a) Adanya kontradiksi dalam posita
Dalam gugatannya Penggugat secara tegas Penggugat mengakui bahwa Tergugat III telah memberikan peringatan, tetapi dikarenakan DKI Jakarta adalah Daerah otonom yang merupakan kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia maka untuk mengatasi kemacetan yang didalilkan oleh Penggugat sepenuhnya menjadi kewenangan DKI Jakarta sebagai daerah otonomi. Di sisi lain Penggugat menyatakan bahwa sebagai penyelengara negara yang memiliki otoritas penuh, dengan tidak mengeluarkan suatu kebijakan yang dapat mengatasi kemacetan di DKI Jakarta dengan segera, maka Tergugat I, Tergugat II dan tergugat III, telah melakukan perbuatan melawan hukum. Faktanya Tergugat III tidak membiarkan adanya kemacetan yang didalilkan oleh penggugat, peringatan yang diberikan oleh Tergugat III kepada pemerintah Provinsi DKI Jakarta merupakan wujud dari tanggung jawab negara dalam melakukan pembinaan yang meliputi perencanaan, pengendalian, pengaturan dan pengawasan untuk penyelenggaraan operasional manajemen dan rekayasa lalu lintas dan angkutan jalan sebagaimana yang diamanatkan Undang-undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
b) Tidak jelasnya antara posita dan petitum
Lazimnya dalam Gugatan Citizen Lawsuit suatu posita berisi data-data yang jelas, lengkap dan terperinci tentang adanya suatu peristiwa hukum yang dalam hal ini didalilkan oleh Para Penggugat disebabkan karena Tergugat III tidak membuat kebijakan sehingga terjadi kemacetan di DKI Jakarta yang pada akhimya dianggap sebagai suatu perbuatan melawan hukum. Dalil-dalil yang disampaikan harus didukung data-data yang empiris yang menjelaskan bahwa adanya kemacetan di DKI Jakarta disebabkan oleh tidak adanya kebijakan-kebijakan sebagaimana petitum Penggugat. Tetapi pada kenyataanya posita yang diuraikan oleh Para Penggugat hanya merupakan informasi dari situs-situs pemberitaan berbagai media online yang dikutip secara serampangan, seharusnya informasi tersebut diolah melalui metode penelitian yang hasilnya kemudian dipublikasikan secara resmi sebagai naskah akademis yang ditujukan kepada penyelengara negara dalam rangka membuat kebijakan. Dengan hanya didasarkan pada suatu informasi tersebut maka posita menjadi tidak jelas, padahal posita merupakan landasan pemeriksan dan penyelesaian perkara dan juga beban wajib bukti kepada penggugat untuk membuktikan gugatannya sebagaimana yang diatur Pasal 1865 KUHPerdata dan Pasal 163 HIR, setiap orang yang mendalilkan suatu hak, atau guna meneguhkan haknya maupun membantah hak orang lain diwajibkan membuktikan hak atau peristiwa tersebut.
Dari uraian di atas menunjukkan secara jelas bahwa gugatan Para Pengugat di dalam perkara ini merupakan gugatan kabur, sehingga cukup alasan bagi Majelis Hakim untuk menyatakan gugatan tidak dapat diterima.
Dalam Pokok Perkara
1) Para Penggugat mendalilkan bahwa Tergugat III telah melakukan perbuatan melawan hukum yang diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata yang menyatakan "Tiap perbuatan melanggar hukum yang membawa
kerugian yang kepada orang lain yang disebabkan perbuatannya, mewajibkan orang karena salahnya menerbitkan kerugian orang itu, mengganti kerugian tersebut”;
2) Ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata menegaskan bahwa agar suatu perbuatan dapat dipandang sebagai perbuatan melawan hukum maka harus dipenuhi unsur-unsur, yaitu:
a) Perbuatan melawan hukum;
b) Harus ada kesalahan yang dapat diukur secara objektif dan subjektif; c) Harus ada kerugian yang ditimbulkan;
d) Harus ada hubungan kasual antara perbuatan dengan kerugian yang ditimbulkan.
3) Terhadap dalil Para Penggugat tersebut yang dalam perkara ini yang menyatakan bahwa Tergugat III sebagai Penyelengara Negara tidak membuat suatu kebijakan untuk mengatasi kemacetan di DKI Jakarta sehingga dapat dikategorikan sebagai perbuatan melawan hukum;
4) Bahwa DKI Jakarta sebagai daerah otonom mempunyai kewenangan penuh untuk menetapkan dan melaksanakan kebijakan di bidang tata ruang, lingkungan hidup dan transportasi dalam rangka pelaksanaan penyelenggaraan lalu lintas yang dalam hal ini adalah untuk mengatasi kemacetan sebagaimana petitum Para Penggugat, pelaksanaan penyelengaraan lalu lintas tersebut bertujuan untuk mengetahui keadaan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan;
5) Sedangkan Tergugat III sebagai Penyelenggara Negara tidak mempunyai kewenangan untuk menggeluarkan suatu kebijakan yang terkait dengan kemacetan di Provinsi DKI Jakarta karena secara ketatanegaraan Tergugat III terikat pada prinsip-prinsip otonomi yang merupakan hak dan wewenang dan juga kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan, sehingga tidak
ada alasan yang logis mengaitkan Tergugat III atas permasalah kemacaten yang terjadi di sebagain ruas jalan di DKI Jakarta;
Berdasarkan uraian kami tersebut di atas perkenankanlah Tergugat III mengajukan permohonan agar Yang Terhormat Majelis Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini berkenan untuk memberikan putusan dengan amar sebagai berikut:
Primair
Dalam Eksepsi
1) Menerima eksepsi yang diajukan oleh Tergugat III;
2) Menyatakan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara a quo;
3) Menyatakan gugatan Para Penggugat tidak dapat diterima. Dalam Pokok Perkara
1) Menolak gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya;
2) Menyatakan Tergugat III tidak melakukan Perbuatan Melawan Hukum; 3) Menghukum Para Penggugat untuk membayar biaya perkara.
Subsidair
Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).
Bahwa atas gugatan Para Penggugat, Kuasa Turut Tergugat III telah mengajukan eksepsi di dalam jawaban yang pada pokoknya mengemukakan hal-hal sebagai berikut:
Dalam Eksepsi
1) Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memeriksa dan mengadili perkara a quo tidak berwenang memeriksa dan mengadili perkara a quo/kompetensi absolut
Bahwa gugatan yang diajukan oleh Penggugat pada pokoknya menerangkan yang menjadi dasar gugatan Penggugat adalah mengenai kebijakan yang harus dikeluarkan oleh Para Tergugat untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di Provinsi DKI Jakarta. Kebijakan/keputusan
yang diminta oleh Penggugat agar dikeluarkan oleh Para Tergugat masuk ke dalam rumusan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara (UU PTUN) yakni penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang bersifat konkrit, individual dan final sehingga menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum.
Oleh karena yang menjadi pokok gugatan Penggugat adalah sengketa tata usaha negara, maka berdasarkan Pasal 4 UU PTUN yang menyebutkan "Peradilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa Tata Usaha Negara”, Pengadilan yang berwenang untuk memeriksa dan mengadili perkara a quo adalah Pengadilan Tata Usaha Negara dan bukan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Bahwa sesuai Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor: 620 K/Pdt/1999 tanggal 29 Desember 1999, bila yang digugat adalah Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dan obyek gugatan menyangkut perbuatan yang menjadi wewenang pejabat tersebut, maka yang berwenang mengadili perkara tersebut adalah Peradilan Tata Usaha Negara bukan wewenang peradilan negeri, maka mohon agara Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memeriksa dan mengadili perkara a quo menyatakan tidak berwenang mengadili perkara a quo dan menyatakan Gugatan Para Penggugat tidak dapat diterima.
2) Turut Tergugat tidak mempunyai hubungan hukum dengan Para Penggugat
Bahwa dari seluruh uraian dalil Gugatan Para Penggugat, dimana Para Penggugat dengan panjang lebar membahas masalah kemacetan di Jakarta dan dampaknya bagi Para Penggugat, namun Para Penggugat tidak bisa menjelaskan alasan ataupun menerangkan keterlibatan Turut
Tergugat III yang menyebabkan terjadinya kemacetan di Jakarta. Bahwa seharusnya Para Penggugat dapat menjelaskan adanya hubungan hukum antara Para Penggugat dengan Turut Tergugat III yang menyebabkan terjadinya kemacetan di Jakarta. Bahwa segala kebijakan mengenai kemacetan di Jakarta adalah menjadi kewenangan dari Tergugat I, II dan III. Turut Tergugat III adalah partai politik yang tidak mempunyai kewenangan dalam mengatur dan menentukan kebijakan masalah kemacetan di Jakarta. Maka dengan demikian antara Para Penggugat dengan Turut Tergugat III tidak terdapat hubungan hukum dan sudah seharusnya Turut Tergugat III dikeluarkan sebagai Pihak dalam perkara a quo.
3) Gugatan Para Penggugat tidak terang dan tidak jelas (Obscuur Libel) Bahwa gugatan Penggugat tidak jelas dan kabur (obscuur libel), sebab antara posita dengan petitum tidak sejalan dan saling bertentangan, hal ini tidak dapat dibenarkan menurut hukum acara karena keduanya mempunyai relevansi yang sangat erat kaitannya dan merupakan mata rantai yang saling terkait dan saling melengkapi serta merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lain. Seharusnya apa yang diminta dalam petitum Para Penggugat tersebut terlebih dahulu harus diuraikan dalam posita gugatan Para Penggugat. Dalam perkara a quo Para Penggugat tidak dapat menguraikan dalam posita gugatannya perbuatan melawan hukum apa yang telah dilakukan oleh Turut Tergugat III yang menyebabkan terjadinya kerugian pada diri Para Penggugat. Bahwa dengan tidak diuraikannya tentang perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Turut tergugat III dalam posita gugatan Para Penggugat, maka gugatan Para Penggugat menjadi tidak jelas/kabur atau obscuur libel.
Dalam Pokok Perkara
1) Bahwa guna menghindari pengulangan yang tidak perlu mohon agar dalil-dalil yang telah dikemukakan oleh Turut Tergugat III dalam bagian Eksepsi diatas dimasukkan dan dipergunakan kembali serta dianggap
merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam pokok perkara ini;
2) Bahwa Turut Tergugat III tidak akan menanggapi pokok perkara secara rinci, karena antara Turut Tergugat III tidak ada hubungan hukum dengan Para Penggugat. Bahwa dalam posita gugatan Para Penggugat tidak ada satupun dalil yang menyatakan ataupun menyebut kebijakan Turut Tergugat III telah melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga menyebabkan kerugian terhadap Para Penggugat;
3) Bahwa semua dalil gugatan Para Penggugat dalam gugatannya yang menyatakan bahwa kebijakan Tergugat I, II dan III menyebabkan kemacetan di DKI Jakarta tidak ada kaitannya dengan kebijakan Turut Tergugat. Para Penggugat tidak bisa memnyebutkan kebijakan Turut Tergugat III yang menyebabkan terjadinya kemacetan di Jakarta. Maka dari itu Turut Tergugat menolak dengan tegas Petitum Para Penggugat dalam point 3, 4,6 dan 7.
Maka berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, jelas dalil-dalil dan tuntutan Penggugat adalah tidak benar dan tidak berdasarkan atas hukum, oleh karenanya Turut Tergugat III mohon dengan hormat kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memeriksa dan mengadili perkara a quo agar berkenan memberikan putusan sebagai berikut:
Primair
Dalam Eksepsi
1) Menerima dan mengabulkan Eksepsi Turut Tergugat III untuk seluruhnya;
2) Menyatakan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang memeriksa dan mengadili Perkara a quo;
3) Mengeluarkan Turut tergugat III sebagai Pihak dalam perkara ini; 4) Menyatakan Gugatan Para Penggugat kabur (obscuur libel);
5) Menyatakan Gugatan Para Penggugat tidak dapat diterima (Niet on vankelijkverklaard);
6) Menghukum Para Penggugat untuk membayar seluruh biaya dalam perkara ini.
Dalam Pokok Perkara
1) Menolak gugatan Para Penggugat untuk seluruhnya atau setidak-tidaknya menyatakan gugatan Para Penggugat tidak dapat diterima;
2) Menghukum Para Penggugat untuk membayar seluruh biaya dalam perkara ini.
c. Pembuktian
Untuk membuktikan dalil-dalil gugatannya Para Penggugat telah mengajukan bukti tertulis yang telah dibubuhi materai yang secukupnya dan telah dicocokkan dengan aslinya berupa:
1) Fotocopy Pendapat Dr. Susanti Adi Nugroho, S.H. dan Dr. Isrok, S.H., M.S. sehubungan dengan Gugatan Warga Negara (Citizen Lawsuit); 2) Foto-foto kemacetan di Jakarta;
3) Fotocopy data dari DITLANTAS POLDA METRO JAYA terkait: a) Pertumbuhan serta jumlah kendaraan di DKI Jakarta;
b) Titik-titik atau lokasi-lokasi kemacetan di DKI Jakarta; c) Jam-jam terjadinya kemacetan di DKI Jakarta;
d) Jumlah personil polisi yang mengatur kemacetan di DKI Jakarta. 4) Fotocopy news pada Website Lex Regis Agustinus Dawarja & Partners; 5) Fotocopy kumpulan berita antara lain:
a) Berita Detik Finance berjudul “Pengusaha Khawatir Macet Bikin Stress Karyawan, Produktivitas Turun” tertanggal 26 Oktober 2010; b) Detik Finance tanggal 27 Agustus 2012 berjudul:
(1) Jakarta Macet Rp. 12 triliun Per Tahun Menguap di Jalan;
(2) MRT Dan Monorel Jakarta Harusnya Sudah Terbangun 20 Tahun Yang Lalu;
(3) Jakarta Terancam Macet Total 2014.
c) Berita Metronews.com berjudul “Macet Makin Parah, Warga Jakarta Yang Stress Meningkat” tertanggal 20 Maret 2012;
Pihak Tergugat untuk menguatkan dalil-dalil bantahannya telah mengajukan surat bukti yang telah dibubuhi materai secukupnya dan telah pula dicocokkan dengan aslinya berupa:
Tergugat I
1) Fotocopy Buku Class Action & Citizen Lawsuit, Laporan Penelitian terbitan Mahkamah Agung Republik Indonesia Tahun 2009;
2) Fotocopy Putusan Nomor: 145/Pdt.G/2009/PN.JKT.PST.;
3) Fotocopy Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu Lintas dan Angkutan jalan;
4) Fotocopy Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pajak Kendaraaan Bermotor;
5) Fotocopy Peraturan daerah Nomor 5 Tahun 2012 tentang Perparkiran; 6) Peraturan Gubernur Nomor 120 Tahun 2012 tentang Biaya Parkir pada
Penyelenggaraan Fasilitas Parkir Untuk Umum di Luar Badan Jalan; 7) Fotocopy Laporan tahunan 2011 Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi
DKI Jakarta Tahun Anggaran 2011;
8) Fotocopy Peraturan Gubernur Nomor 80 Tahun 2009 tentang Lokasi Sementara Usaha Mikro/Pedagang Kaki Lima di Provinsi daerah Khusus Ibukota Jakarta;
9) Fotocopy Surat Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta kepada Gubernur DKI Jakarta Nomor 290/-1.811.1 tanggal 20 Januari 2012 tentang Usulan Pembatasan Usia Kendaraaan Angkutan Umum berserta lampirannya berupa Rancangan Peraturan Gubernur;
10) Fotocopy Kumpulan Berita Online terkait dengan kebijakan pembatasan kendaraan oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta yang baru Joko Widodo; 11) Fotocopy Peraturan Gubernur Nomor 103 Tahun 2007 tentang Pola
Transportasi makro;
12) Fotocopy Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Kepolisian Daerah Metro Raya dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
tentang Pelaksanaan Penangananan dan Penanggulangan simpul-simpul kemacetan lalu lintas tanggal 28 Desember 2010;
13) Fotocopy Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Kepolisian Daerah Metro Raya dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tentang Pelaksanaa Sterelisasi Lajur Busway dan Penertiban Parkir tanggal 19 November 2010;
14) Fotocopy Peraturan Gubernur Nomor 52 Tahun 2011 tentang pembentukan Organisasi dan tata kerja Unit Pengelola Transjakarta Busway;
15) Fotocopy Daerah Nomor 3 Tahun 2009 tentang Pembentukan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Perseroan terbatas (PT) MRT Jakarta; 16) Fotocopy Peraturan Gubernur Nomor 122 Tahun 2011 tentang
Penguasaan Perencanaan/Peruntukan Bidang tanah untuk Pelaksanaan Pembangunan jalan Layang dari Blok M sampai dengan Jalan Antasari, Kota Administrasi jakarta Selatan;
17) Fotocopy Peraturan Gubernur Nomor 121 Tahun 2011 tentang Penguasaan Perencanaan/Peruntukan Bidang tanah untuk Pelaksanaan Pembangunan jalan Layang dari Kampung Melayu sampai dengan Tanah Abang;
18) 1 (satu) keping VCD Penjelasan Implementasi Pola Transportasi Makro DKI Jakarta 2012.
Tergugat III
1) Fotocopy (Algemene Bepalingen Van Wetgeving Voor Indonesia) Stb 1847: 23) Pasal 20 Jo Pasal 21 AB);
2) Fotocopy Artikel Prof Sudikno Mertokusumo dalam http://sudiknoartile.blogspot.com/2008/03/Action-popularis.html;
3) Fotocopy Buku Class Action & Perbandingannya dengan negara lain Dr. Sisanti Adi Nugroho, S.H., M.H., Jakarta Kencana 2010 halaman 390-391;
4) Fotocopy Kitab Undang Undang Hukum Perdata Prof. R. Subekti S.H., R. Tjitrosudibio Pasal 1917 KUHPerdata;
5) Fotocopy Pasal 1 huruf b, c dan d PERMA No 1 tahun 2002 tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok;
6) Fotocopy Hukum Acara Perdata lengkap & Praktis HIR, RBg dan Yurisprudensi Pasal 163 HIR (Herziene Indonesisch Reglement).
Dalam perkara ini, Para Penggugat, Kuasa Tergugat I dan Kuasa Tergugat III menyatakan tidak akan mengajukan saksi-saksi.
4. Pertimbangan Hukum
Menimbang bahwa Majelis Hakim telah menjatuhkan Putusan Sela dengan amar putusan:
a. Menyatakan penggunaan prosedur Gugatan Warga Negara atau Citizen Lawsuit yang diajukan oleh Para Penggugat tersebut adalah sah;
b. Memerintahkan kepada kedua belah pihak untuk melanjutkan persidangan perkara ini;
c. Menetapkan biaya perkara ditentukan sampai putusan akhir. Dalam Eksepsi
a. Atas eksepsi Tergugat I, Tergugat III dan Turut Tergugat III yang mengemukakan bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berwenang secara absolut mengadili gugatan Pengugat. Menurut pertimbangan Majelis Hakim harus ditolak, karena berdasarkan pengertian dan pemahaman dari Gugatan Citizen Lawsuit bahwa mekanisme Citizen Lawsuit merupakan akses orang perorangan atau warga Negara untuk mengajukan gugatan di Pengadilan untuk dan atas nama kepentingan keseluruhan warga negara atau kepentingan publik, untuk melindungi warga negara dari kemungkinan terjadinya kerugian sebagai akibat dari tindakan atau pembiaran dari Negara atau otoritas Negara, memberikan kekuatan kepada warga negara untuk menggugat Negara dan institusi pemerintah yang melakukan pelanggaran undang-undang atau yang melakukan kegagalan dalam memenuhi kewajibannya dalam pelaksanaan (implementasi) undang-undang. Oleh karena itu lembaga peradilan dalam hal ini Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
secara absolut berwenang memeriksa dan mengadili gugatan melalui mekanisme Citizen Lawsuit yang diajukan oleh Para Penggugat.
b. Atas eksepsi Tergugat I dan Tergugat III yang menyatakan bahwa gugatan Penggugat tidak memenuhi syarat formil Gugatan Citizen Lawsuit. Menurut pertimbangan Majelis Hakim bahwa gugatan Para Penggugat tidak memenuhi syarat notifikasi, karena Para Penggugat hanya memberitahukan melalui laman resmi kantor hukum Penggugat dan media massa, tetapi tidak dilakukan dalam bentuk tertulis dan ditujukan kepada Para Tergugat. Namun Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa Gugatan Citizen Lawsuit Para Penggugat diterima meskipun tidak memenuhi syarat notifikasi karena Indonesia tidak mengatur mengenai Gugatan Citizen Lawsuit, sehingga ada kekosongan hukum dalam notifikasi ini, dengan demikian notifikasi ini dapat dikesampingkan karena belum ada pengaturan yang jelas dalam sistem hukum.
c. Atas eksepsi Tergugat mengenai gugatan kurang pihak, gugatan kabur dan tidak jelas (obscuur libel), gugatan premature, gugatan bertentangan dengan posita gugatan, Turut Tergugat III tidak mempunyai hubungan hukum dengan Para Penggugat. Menurut pertimbangan Majelis Hakim adalah hal yang perlu dibuktikan terlebih dahulu, sehingga akan dipertimbangkan bersamaan dengan pemeriksaan pokok perkara.
Dalam Pokok Perkara
a. Menimbang bahwa inti dalil gugatan Penggugat adalah Para Tergugat dan Turut Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum, karena telah lalai dalam menjalankan kewajibannya untuk memenuhi dan melindungi Hak Asasi Penggugat termasuk Hak Asasi Warga Kota Jakarta karena tidak mengeluarkan kebijakan terkait mengenai penambahan jumlah angkutan umum, kebijakan menaikkan pajak kendaraan bermotor, kebijakan menaikkan tarif parkir dan larangan parkir kendaraan di badan jalan, kebijakan menertibkan (sterilisasi jalan) parkir liar di ruas-ruas jalan di DKI Jakarta, kebijakan larangan bagi pedagang kaki lima berjualan di trotoar atau pinggir jalan utama di DKI Jakarta, Kebijakan larangan bagi angkutan
umum berhenti (ngetem) di pinggir jalan, Kebijakan pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan usia kendaraan, dan Kebijakan moratorium kendaraan baru di wilayah Jabodetabek selama 6 (enam) sampai 12 (dua belas) bulan ke depan;
b. Menimbang bahwa dari jawab menjawab dan bukti-bukti yang diajukan para pihak di persidangan, Majelis Hakim berpendapat bahwa dalil Penggugat yang mendalilkan bahwa Tergugat I telah lalai menjalankan kewajibannya untuk memenuhi dan melindungi hak asasi Penggugat dan Warga Kota Jakarta, adalah suatu dalil yang tidak terbukti kebenarannya, bahkan sebaliknya Tergugat I dapat membuktikan bahwa ia telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi kemacetan di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan telah melaksanakan tugas kewajibannya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan untuk kepentingan warga kota/masyarakat DKI Jakarta sesuai dengan peraturan Perundang-Undangan yang berlaku;
c. Menimbang bahwa Tergugat III (Negara Republik Indonesia cq. Pemerintah Republik Indonesia, cq. Presiden Republik Indonesia) adalah sebagai Kepala Pemerintahan dan Penyelenggara Negara, tidak bertugas dan bertanggung jawab membuat kebijakan mengenai hal-hal teknis seperti halnya mengenai masalah “kemacetan” di Provinsi DKI Jakarta. Kebijakan mengenai hal-hal teknis tersebut adalah urusan dan tanggung jawab dari Pemerintah Daerah sebagai Daerah Otonom, dengan demikian gugatan Penggugat terhadap Tergugat III terkait masalah “kemacetan” yang terjadi di wilayah Provinsi DKI Jakarta adalah gugatan yang tidak tepat;
d. Menimbang bahwa dengan dengan bukti-bukti yang diajukan oleh Tergugat I Majelis Hakim berpendapat dalil gugatan Penggugat bahwa Tergugat I dan Para Tergugat lainnya tidak mengeluarkan kebijakan terkait mengenai penambahan jumlah angkutan umum, kebijakan menaikkan pajak kendaraan bermotor, kebijakan menaikkan tarif parkir dan larangan parkir kendaraan di badan jalan, kebijakan menertibkan (sterilisasi jalan) parkir liar di ruas-ruas jalan di DKI Jakarta, kebijakan larangan bagi pedagang kaki lima berjualan
di trotoar atau pinggir jalan utama di DKI Jakarta, Kebijakan larangan bagi angkutan umum berhenti (ngetem) di pinggir jalan, kebijakan pembatasan kendaraan bermotor berdasarkan usia kendaraan, untuk mengatasi masalah kemacetan di wilayah Provinsi DKI Jakarta, tidak terbukti;
e. Menimbang, bahwa oleh karena itu dalil Penggugat bahwa Para Tergugat telah melakukan perbuatan melawan hukum, karena Para Tergugat I dan II dan III dan Para Turut Tergugat telah lalai dalam menjalankan kewajibannya untuk memenuhi dan melindungi Hak Asasi Penggugat termasuk Hak Asasi Warga Kota Jakarta., tidak terbukti;
f. Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana di atas majelis berpendapat bahwa gugatan dalam perkara a quo yang diajukan oleh Penggugat tidak terbukti dan oleh karena itu harus ditolak untuk seluruhnya; 5. Amar Putusan
Setelah semua yang menjadi pertimbangan hakim telah dikemukakan serta dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam pasal-pasal dari Undang-Undang dan peraturan lainnya yang bersangkutan maka Majelis Hakim menjatuhkan putusan yang berisi:
Dalam Eksepsi
Menolak eksepsi Para Tergugat dan Turut Tergugat Dalam Pokok Perkara
a. Menolak gugatan Penggugat tersebut untuk seluruhnya;
b. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp..5.191.100,00 (lima juta seratus sembilan puluh satu ribu rupiah).
B. PEMBAHASAN
1. Unsur-Unsur Yang Harus Dipenuhi Agar Gugatan Dapat Dikategorikan Sebagai Gugatan Citizen Lawsuit
Pada bab sebelumnya telah diuraikan mengenai pengertian Citizen Lawsuit, Citizen Lawsuit adalah gugatan sekelompok orang yang mengatasnamakan kepentingan umum untuk menggugat negara atau lembaga-lembaga negara yang melakukan pelanggaran undang-undang atau gagal