Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 106
DETERMINAN PENERIMAAN PENDAPATAN PAJAK DAERAH
KOTA SAMARINDA
Muhammad Kadafi
1, Nyoria Anggraeni Mersa
2, Hanna Septiana Putri
3E-mail: [email protected]
1, [email protected]
2, [email protected]
3123 Jurusan Akuntansi, Politeknik Negeri Samarinda, Samarinda
Alamat: Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo, Kampus Gunung Lipan, Telp. 0541-260588, Samarinda 75131, Kalimantan Timur, Indonesia.
ABSTRACK
This study aims to determine the effect of GRDP, population and inflation on regional tax revenues both partially and simultaneously. The analytical tool used is multiple linear regression. The data used are GRDP (Gross Regional Domestic Product), Total Population, Inflation and Regional Taxes for 2009-2019. The results of this study partially show that the GRDP has a positive and significant effect on regional tax revenue, the population has a positive and significant effect on regional tax revenue and inflation has a positive but positive effect. significant impact on the acceptance of regional taxes Samarinda. Then together (simultaneously) GRDP, population and inflation have a significant effect on local taxes
Keywords: GRDP, Population Amount, Inflation and Regional Tax Revenue in Samarinda City.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh PDRB, jumlah penduduk dan inflasi terhadap penerimaan pajak daerah baik secara parsial maupun simultan. Alat analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda. Data yang digunakan adalah PDRB (Produk Domestik Regional Bruto), Jumlah Penduduk, Inflasi dan pajak daerah tahun 2009-2019 Hasil penelitian ini secara parsial menunjukkan bahwa PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah, jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah dan inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda. Kemudian secara bersama-sama (simultan) PDRB, jumlah penduduk dan inflasi berpengaruh signifikan terhadap pajak daerah. Kata Kunci: PDRB, Jumlah Penduduk, Inflasi dan Penerimaan Pajak Daerah Kota Samarinda.
PENDAHULUAN
Pelaksanaan otonomi daerah diharapkan kabupaten/kota mandiri dalam membiayai pembangunan di daerah. Pembiayaan tersebut bersumber dari hasil usaha sendiri berupa Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pendapatan Asli Daerah (PAD) terutama berasal dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah.
Pengembangan potensi kemandirian daerah melalui melalui peningkatan PAD dapat terlihat dari kemampuan pemerintah kabupaten/kota mengembangkan ekonomi daerah yang muaranya berdampak pada peningkatan pajak daerah dan retribusi daerah. Semakin besar penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) suatu daerah, maka semakin rendah tingkat ketergantungan pemerintah daerah tersebut terhadap pemerintah pusat.
Penelitian yang meneliti tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pajak daerah telah banyak dilakukan, diantaranya (Wahyuni, 2017). Penelitian ini menganalisis pengaruh PDRB, tingkat inflasi, dan pengeluaran pemerintah terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Hasil penelitian ini menemukan PDRB tidak berpengaruh signifikan terhadap PAD, tingkat inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap PAD, sedangkan pengeluaran pemerintah berpengaruh signifikan terhadap PAD di Kota Bandar Lampung. Penelitian lainnya dilakukan oleh Saputra (2018), penelitiannya menemukan variabel PDRB dan jumlah penduduk berpengaruh positif dan
Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 107
signifikan terhadap penerimaan pajak daerah, sedangkan inflasi dan jumlah industri tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak daerah Kota Cilegon.
Penelitian lainnya oleh Sukmawati (2018). Hasil dari penelitiannya menemukan PDRB berpengaruh positif signifikan terhadap penerimaan pajak daerah di kota Medan, sedangkan jumlah pelanggan listrik dan inflasi tidak berpengaruh signifikan terhadap penerimaan pajak daerah di kota Medan. Azimah (2019) menemukan pendapatan perkapita berpengaruh positif signifikan terhadap penerimaan pajak daerah, sedangkan jumlah penduduk, inflasi dan nilai kurs berpengaruh secara positif namun tidak signifikan terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda. Ridwan (2019) meneliti faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pendapatan pajak daerah Kota Balikpapan, hasil dari penelitiannya menemukan jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap Penerimaan Pajak Daerah, sedangkan PDRB, inflasi dan jumlah industri berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Balikpapan.
Berdasarkan lima penelitian tersebut, hasilnya menunjukkan adanya ketidakkonsistenan pengaruh variabel PDRB, jumlah penduduk, dan inflasi terhadap penerimaan pajak daerah. Ketidakkonsistenan hasil penelitian tersebut menarik untuk diteliti lebih lanjut.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut :
1. Apakah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pendapatan pajak daerah Kota Samarinda ?
2. Apakah jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pendapatan pajak daerah Kota Samarinda ?
3. Apakah Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pendapatan pajak daerah Kota Samarinda ?
4. Apakah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), jumlah penduduk dan inflasi secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pendapatan pajak daerah Kota Samarinda ? Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap penerimaan pendapatan pajak Daerah Kota Samarinda.
2. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Jumlah Penduduk terhadap penerimaan Pendapatan Pajak Daerah Kota Samarinda.
3. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Inflasi terhadap penerimaan pendapatan pajak Daerah Kota Samarinda.
4. Mengetahui dan menganalisis pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Produk Domestik Regional Bruto, Jumlah Penduduk, dan Inflasi secara simultan terhadap penerimaan pajak Daerah Kota Samarinda.
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Pendapatan Asli Daerah
Menurut Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah disebutkan bahwa pendapatan asli daerah bersumber dari pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Menurut Undang-undang No. 23 Tahun 2014 Bab 1 Pasal 1 poin 35 Tentang Pemerintah Daerah, pendapatan asli daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Pendapatan Asli Daerah ini terdiri dari pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan, pajak reklame, pajak penerangan jalan, pajak mineral bukan logam dan batuan, pajak parkir, pajak air tanah, pajak sarang burung walet dan pajak lain-lain.
Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 108
Pajak Daerah
Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundangan-perundangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah (Prakosa, 2005). Pajak daerah adalah pajak asli daerah maupun pajak negara, yang pemungutannya diselenggarakan oleh daerah di dalam wilayah kekuasaannya, yang gunanya untuk membiayai pengeluaran daerah sehubungan dengan tugas dan kewajibannya untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Anggoro, 2017).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Daerah
Penerimaan pajak daerah dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain yaitu (Sania, 2018):
a. PDRB, peningkatan PDRB tidak lepas dari dampak meningkatnya aktivitas ekonomi. Seiring dengan meningkatnya standar hidup masyarakat maka golongan masyarakat yang berpenghasilan tinggi akan semakin meningkat juga, sehingga hal ini dapat menyebabkan peningkatan pada penerimaan pajak daerah. Hal ini dikarenakan sektor-sektor pajak daerah ada dalam PDRB.
b. Jumlah penduduk, perkembangan jumlah penduduk juga dapat berpengaruh terhadap penerimaan pajak daerah, karena seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk pada suatu daerah maka dapat berpotensi meningkatkan jumlah wajib pajak sehingga nantinya penerimaan pajak juga akan meningkat. Bertambahnya jumlah penduduk akan berdampak langsung pada penerimaan pajak daerah.
c. Inflasi, meningkatnya pendapatan masyarakat juga harus diimbangi dengan ketersediaan barang dan jasa. Jika harga barang dan jasa mengalami kenaikan terus menerus akan menyebabkan inflasi. Hal ini akan berdampak langsung pada kondisi perekonomian dan dapat menurunkan kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak. Melihat hal ini pemerintah diharapkan dapat menjaga kestabilan perekonomian dengan menjaga inflasi pada tingkat yang rendah agar penerimaan pajak daerah dapat optimal.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah (nilai uang) dari semua barang dan jasa “final” yang dihasilkan selama satu tahun didalam batas-batas Negara Republik Indonesia, yang telah dihitung menurut lapangan usaha atas dasar pasar dengan menggunakan cara tambahan nilai (Value Added) (Gilarso, 2004). PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) merupakan nilai barang dan jasa akhir berdasarkan harga pasar, yang diproduksi oleh sebuah perekonomian dalam satu periode (kurun waktu) dengan menggunakan faktor-faktor produksi yang berada (berlokasi) dalam perekonomian tersebut (Curatman, n.d., 2010). Per-tumbuhan ekonomi bersangkut paut dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat (A, 2010). Jadi dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan PDRB. Semakin tinggi nilai PDRB suatu daerah, semakin besar pula potensi sumber penerimaan pajak daerah tersebut.
Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk merupakan salah satu faktor penentu adanya perbedaan pendapatan antar daerah (Ikbar, 2017). Penambahan penduduk merupakan satu hal yang dibutuhkan, dan bukan satu masalah, melainkan sebagai unsur penting yang dapat merangsang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Jumlah penduduk menurut teori Hansen mengenai stagnansi (seculer stagnantion) menerangkan bahwa bertambahnya penduduk justru akan menciptakan atau memperbesar permintaan agregatif terutama investasi (Saputra, 2018). Perkembangan penduduk yang cepat tidaklah selalu merupakan penghambat bagi jalannya pembangunan ekonomi.
Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 109
Definisi Inflasi
Inflasi adalah kenaikan suatu harga secara umum yang terjadi terus menerus (Curatman, 2010). Inflasi menjadi masalah karena hal ini menyayatkan daya beli masyarakat suatu negara. Jika harga umum mengalami kenaikan (inflasi) tetapi tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan per kapita, maka jelas daya beli masyarakat menjadi sangat kurang.
Inflasi dapat dirumuskan sebagai kenaikan harga umum, yang bersumber pada terganggunya keseimbangan antara arus uang dan arus barang (Gilarso, 2004). Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum barang-barang secara terus menerus (Nopirin, 2016). Ini tidak berarti bahwa harga-harga berbagai macam barang itu naik dengan persentase sama. Mungkin dapat terjadi kenaikan tersebut tidaklah bersamaan Dampak Inflasi
Dampak buruk dari inflasi ditinjau dari tingkat kesejahteraan masyarakat sebagai berikut (Murni, 2016):
1. Inflasi akan menurunkan pendapatan rill yang diterima masyarakat, dan ini sangat merugikan orang-orang yang berpenghasilan tetap. Pada saat inflasi, kenaikan tingkat upah tidak secepat kenaikan harga barang yang diperlukan dan dijual dipasar.
2. Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang. Seperti tabungan masyarakat di bank nilai rillnya akan menurun.
3. Inflasi akan memperburuk pembagian kekayaan. Tetapi bagi masyarakat yang menyimpan kekayaan dalam bentuk tanah dan rumah akan terjadi peningkatan kekayaan, baik secara rill maupun secara normal. Demikian pula bagi pedagang, pendapatan rill mereka akan dapat bertahan dan mungkin meningkat pada saat terjadi inflasi.
Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1 : PDRB berpengaruh positif terhadap penerimaan pendapatan pajak daerah kota Samarinda.
2 : Jumlah Penduduk berpengaruh positif terhadap penerimaan pendapatan pajak daerah kota Samarinda. 3 : Inflasi berpengaruh positif terhadap penerimaan pendapatan pajak daerah kota Samarinda.
4 : PDRB, Jumlah Penduduk, dan Inflasi secara simultan (bersama) berpengaruh positif terhadap penerimaan pendapatan pajak daerah kota Samarinda.
METODE PENELITIAN
Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa Pajak Daerah, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), data Jumlah Penduduk, data inflasi. Semua data-data ini diperoleh dari BAPENDA (Badan Pendapatan Daerah), BPS (Badan Pusat Statistik). Data tahun penelitian ini adalah selama 11 tahun terakhir mulai dari Tahun 2009 –2019.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian berupa Uji Asumsi Klasik, Analisis Regresi Linier Berganda dan Uji Hipotesis. Alat analisisi yang digunakan menggunakan regresi linier berganda.
𝑌 = 𝛼 + 𝛽1𝑋1+ 𝛽2𝑋2+ 𝛽3𝑋3+ 𝜀 Keterangan:
Y = Pajak Daerah Kota Samarinda
a = Konstanta
b1 b2 b3 = Koefisien Regresi
X1 = PDRB Kota Samarinda
X2 = Jumlah Penduduk Kota Samarinda X3 = Inflasi Kota Samarinda
Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 110
HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Normalitas
Adapun hasil uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov dapat dilihat dalam di bawah ini. Tabel 1 Hasil Uji Normalitas
Variabel K-S Z' 2 Tailed P.**
PDRB (X1), Jumlah Penduduk (X2), Inflasi (X3) Terhadap Penerimaan Pajak Daerah (Y)
1,028 0,241
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil uji statistik normalitas pada tabel di atas menunjukkan test statistic Kolmogorov-Smirnov sebesar 1,028 dan signifikansi pada 0,241 lebih besar dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi secara normal.
Uji Multikolinieritas
Hasil uji multikolinieritas dapat dilihat dalam tabel 2 berikut.
TABEL 2 HASIL UJI MULTIKOLINIERITAS
Variabel Tolerance VIF Keterangan
PDRB (X1) 0,383 2,608 Tidak Terjadi Multikolinieritas
JUMLAH INDUSTRI (X2) 0,155 6,472 Tidak Terjadi Multikolinieritas
INFLASI (X3) 0,194 5,154 Tidak Terjadi Multikolinieritas
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil uji multikolinieritas pada Tabel 2 bahwa nilai tolerance dari PDRB (X1) sebesar 0,383, jumlah penduduk (X2) sebesar 0,155 dan inflasi (X3) sebesar 0,194. Sedangkan nilai VIF dari PDRB sebesar 2,608, jumlah penduduk sebesar 6,472 dan inflasi sebesar 5,154. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada variabel independen yang memiliki nilai tolerance kurang dari 0,10 dan nilai VIF yang lebih dari 10. Jadi dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini bebas dari multikolinieritas.
Uji Heteroskedastisitas
Hasil uji Heteroskedastisitas dapat dilihat dalam tabel 3 berikut
TABEL 3 HASIL UJI HETEROSKEDASTISITAS
Variabel t-hitung Sig Keterangan
PDRB (X1) -0,279 0,789 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas
JUMLAH PENDUDUK (X2) -0,448 0,668 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas
INFLASI (X3) -0,555 0,596 Tidak Terjadi Heteroskedastisitas
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil uji heterokedastisitas pada Tabel 3 bahwa nilai signifikan variabel PDRB (X1) sebesar 0,789, jumlah penduduk (X2) sebesar 0,668 dan inflasi (X 3 ) sebesar 0,596. Hal ini menunjukkan bahwa hasil signifikan dari setiap variabel independen lebih besar dari 0,050, maka dapat disimpulkan model regresi ini tidak terjadi heteroskedastisitas.
Uji Autokorelasi
Hasil uji autokorelasi menggunakan runs test dapat dilihat dalam tabel 4 berikut. Tabel 4 Hasil Uji Autokorelasi
Variabel Z' 2 Tailed P.**
PDRB (X1), Jumlah Penduduk (X2), Inflasi (X3) Terhadap Penerimaan Pajak Daerah (Y)
0,000 1,000
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil uji autokorelasi pada tabel 4 di atas menunjukkan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) yang diperoleh lebih dari tingkat signifikansi 0,05 yakni 1,000 > 0,05. Sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada terjadi autokorelasi pada penelitian ini.
Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 111
Analisis Regresi Linier Berganda
Untuk mengetahui persamaan regresi linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini, maka dapat dilihat pada tabel 5 dibawah ini.
Tabel 5. Hasil Uji Regresi Linier Berganda
Variabel Unstandardized
Coeficients (B) Thitung Sig Keterangan
(Constant) -24,603 -3,391 0,012
PDRB (X1) 0,431 3,234 0,014 Signifikan
Jumlah Penduduk (X2) 6,673 5,240 0,001 Signifikan
Inflasi (X3) 0,266 2,385 0,049 Signifikan R 0,980 R Square 0,945 F hitung 57,763 F tabel 4,07 Sig F 0,000
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil regresi linier berganda pada tabel 5 diperoleh persamaan regresi sebagai berikut: 𝑌 = 𝛼 + 𝛽1𝑋1+ 𝛽2𝑋2+ 𝛽3𝑋3+ 𝜀
Y = -24,603+ 0,431X1 + 6,673X2 + -0,266X3 + E
Keterangan:
Y = Pajak Daerah Kota Samarinda
a = Konstanta
b1 b2 b3 = Koefisien Regresi
X1 = PDRB Kota Samarinda
X2 = Jumlah Penduduk Kota Samarinda
X3 = Inflasi Kota Samarinda
E = Standar Eror
Dari model persamaan regresi di atas, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Nilai konstanta (a) sebesar -24,603 menunjukkan bahwa jika variabel independen PDRB jumlah penduduk dan inflasi bersifat konstan atau sama dengan nol, maka nilai penerimaan pajak daerah Kota Samarinda akan bernilai negatif sebesar -24,603.
2. Nilai koefisien PDRB (b1) sebesar 0,431 menunjukkan bahwa apabila variabel PDRB (X1) mengalami kenaikan 1% dengan asumsi variabel independen jumlah penduduk (X2) dan inflasi (X3) sama dengan nol (konstan), maka penerimaan pajak daerah Kota Samarinda akan mengalami peningkatan sebesar 0.431%. 3. Nilai koefisien jumlah penduduk (b2) sebesar 6,673 menunjukkan bahwa apabila variabel jumlah penduduk (X2) mengalami kenaikan 1% dengan asumsi variabel independen PDRB (X1) dan inflasi (X3) sama dengan nol (konstan), maka penerimaan pajak daerah Kota Samarinda akan mengalami peningkatan sebesar 6,673%.
4. Nilai koefisien inflasi (b3) sebesar 0,266 menunjukkan bahwa apabila variabel inflasi mengalami kenaikan 1% dengan asumsi variabel independen PDRB (X1) dan jumlah penduduk (X2) sama dengan nol (konstan), maka penerimaan pajak daerah Kota Samarinda akan mengalami peningkatan sebesar 0,266%.
Volume 16 No 1 April 2020
Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 113
Uji Hipotesis Uji T (Parsial)
Adapun hasil uji t dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini.
Tabel 6 Hasil Uji T (Parsial)
Variabel Unstandardized
Coefficients (B) Thitung Sig Keterangan Hipotesis
(Constant) -24,603 -3,391 0,012
PDRB (X1) 0,431 3,234 0,014 Positif, signifikan Diterima
JUMLAH PENDUDUK (X2) 6,673 5,240 0,001 Positif, signifikan Diterima
INFLASI (X3) 0,266 2,385 0,049 Positif, signifikan Diterima
Sumber: Data diolah
Melihat output SPSS hasil coefficients pada uji t parsial diatas dan membandingkan thitung dengan t tabel sebesar 2,36462 yang diperoleh dari tabel t dengan df = n-k-1 (11-3-1) yaitu 7 dan alpha 0,05. Berikut pembahasan uji parsial antara PDRB, jumlah penduduk dan inflasi terhadap penerimaan pajak Kota Samarinda.
1. Variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Dari tabel koefisien diperoleh nilai t hitung sebesar 3,234 dan nilai t tabel diketahui sebesar 2,36462 dengan membandingkan antara t hitung dan t tabel maka ditemukan bahwa t hitung > t tabel = 3,234 > 2,36462, karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel PDRB berpegaruh signifikan. Dari hasil yang diperoleh dari perbandingan nilai signifikan dengan taraf signifikan 0,014 < 0,05, maka dapat disimpulkan variabel PDRB secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah, maka hipotesis diterima.
2. Variabel Jumlah Penduduk
Dari tabel koefisien diperoleh nilai thitung sebesar 5,240 dan nilai t tabel diketahui sebesar 2,36462 dengen membadingkan antara t hitung dan t tabel maka ditemukan hasil bahwa t hitung > t tabel = 5,240 > 2,36462, karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel jumlah penduduk berpengaruh signifikan. Dari hasil yang diperoleh dari perbandingan nilai signifikan dengan taraf signifikan 0,001 < 0,05, maka dapat disimpulkan variabel jumlah peduduk secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah, maka hipotesis diterima. 3. Variabel Inflasi
Dari tabel koefisien diperoleh nilai t hitung sebesar 2,385 dan nilai t tabel diketahui sebesar 2,36462 dengen membadingkan antara t hitung dan t tabel maka ditemukan hasil bahwa t hitung > t tabel = 2,385 > 2,36462, karena nilai t hitung lebih besar dari t tabel, maka dapat disimpulkan bahwa koefisien regresi variabel inflasi berpengaruh signifikan. Dari hasil yang diperoleh dari perbandingan nilai signifikan dengan taraf signifikan 0,049 < 0,05, maka dapat disimpulkan variabel inflasi secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah, maka hipotesis diterima.
Uji F (bersama-sama)
Hasil uji f dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini. Tabel 7 Uji F
Hipotesis Nilai
PDRD, Jumlah penduduk dan Inflasi terjadi secara signifikan terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda.
F hitung = 57,763 F tabel = 4,07 Sig = 0,000
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil uji F pada tabel 7 di atas dapat disimpulkan bahwa variabel PDRB, jumlah penduduk dan inflasi berpengaruh secara bersama-sama dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai Fhitung sebesar 57,763 yang berarti lebih besar dari pada Ftabel sebesar 4,07 dengan tingkat
Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 114
signifikan 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05.
Koefisien Determinasi ((R2/R Square)
Adapun hasil dari uji koefisien determinasi (R2) dapat dilihat pada tabel 8 berikut ini.
Tabel 8 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2/R Square)
R R square Adjusted R square
0,980 0,961 0,945
Sumber: Data diolah
Berdasarkan hasil regresi pada tabel 8 di atas dapat disimpulkan bahwa nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,945. Besarnya angka koefisien determinasi (R Square) 0,945 yang artinya bahwa PDRB, jumlah penduduk dan inflasi mempengaruhi penerimaan pajak daerah sebesar 94,5%. Sedangkan sisanya (100% - 94,5% = 6%) dipengaruhi oleh variabel lain di luar model regresi.
Pembahasan Hasil Penelitian
Pengaruh Produk Domestik Regionaal Bruto (PDRB) Terhadap Penerimaan Pajak Daerah
Hipotesis pertama menyatakan bahwa PDRB berpengaruh positif terhadap penerimaan pajak daerah. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai thitung sebesar 3,234 lebih besar dari ttabel sebesar 2,36462, dan nilai signifikan 0,014 lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan variabel PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah. Menurut Thamrin dalam Nurrohman (2010) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi bersangkut paut dengan proses peningkatan produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Jadi dapat dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan PDRB. Semakin tinggi nilai PDRB suatu daerah, semakin besar pula potensi sumber penerimaan pajak daerah tersebut. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya Ridwan (2019), Saputra (2018), Sukmawati (2018), Mispiyanti (2017) yang menyatakan bahwa PDRB berpengaruh positif terhadap penerimaan pajak daerah. Namun hasil penelitian ini tidak mendukung dengan beberapa penelitian terdahulu Wahyuni (2017), Asmuruf, Vikie, Rumate (2015) yang menyatakan bahwa PDRB tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
Pengaruh Jumlah Penduduk Terhadap Penerimaann Pajak Daerah Kota Samarinda
Hipotesis kedua menyatakan bahwa jumlah peduduk berpengaruh positif terhadap penerimaan pajak daerah. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai thitung sebesar 5,240 lebih besar dari ttabel sebesar 2,36462, dan nilai signifikan 0,001 lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan variabel jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah. Menurut Saputra (2018:26) menyatakan bahwa Jumlah penduduk menurut teori Hansen mengenai stagnansi (seculer stagnantion) menerangkan bahwa bertambahnya penduduk justru akan menciptakan atau memperbesar permintaan agregatif terutama investasi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi akan disertai dengan tingkat penghasilan yang tinggi pula dan akan berpengaruh terhadap banyaknya wajib pajak guna membayar pajak daerah.
Berdasarkan Hasil penelitian ini mendukung dengan penelitian sebelumnya Saputra (2018), Ridwan (2019) yang menyatakan bahwa jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah. Namun penelitian ini tidak mendukung dengan penelitian terdahulu (R, 2016) yang menyatakan bahwa jumlah penduduk tidak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah (PAD).
Pengaruh Inflasi Terhadap Penerimaan Pajak Daerah Kota Samarinda
Hipotesis ketiga menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif terhadap penerimaan pajak daerah. Hasil pengujian hipotesis menunjukkan nilai thitung sebesar 2,385 lebih besar ttabel sebesar 2,36462, dan nilai signifikan 0,049 lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan variabel inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah. Inflasi yang tidak terkendali (hiperinflasi) pada sektor perekonomian akan menjadi kacau dan lesu. Masyarakat yang menerima pendapatan tetap dan tidak tetap akan kewalahan untuk
Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 115
menanggung dan mengimbangi kebutuhan hidup mereka, sehingga perekonomian akan mengalami penurunan atau merosot dari waktu ke waktu. Dampak bagi perusahaan adalah menurunnya jumlah pendapatan yang muaranya pada menurunnya jumlah pendapatan pajak daerah.
Hasil penelitian ini mendukung dengan penelitian sebelumnya Ridwan (2019), Azimah (2019) yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif terhadap penerimaan pajak daerah. Namun hasil penelitian ini tidak mendukung dengan penelitian sebelumnya Saputra (2018), Wahyuni (2017), Mispiyanti (2017), Sukmawati (2018) yang menyatakan bahwa inflasi tidak berpengaruh terhadap penerimaan pajak daerah. Pengaruh PDRB, Jumlah Penduduk dan Inflasi terhadap Penerimaan pajak Daerah Kota Samarinda
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PDRB, jumlah penduduk dan infasi berpengaruh secara bersama-sama (simultan) terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda. Hal tersebut dapat dilihat dari nilai Fhitung sebesar 57,763 yang berarti lebih besar dari pada Ftabel sebesar 4,07 dengan tingkat signifikan sebesar 0,000 yang berarti lebih kecil dari 0,05.
Jumlah penduduk yang besar merupakan hal yang positif bagi pertumbuhan ekonomi di suatu daerah, karena dengan jumlah penduduk yang besar dapat dijadikan sebagai subjek pembangunan dan perekonomian yang berkembang jika tenaga kerjanya banyak dan terciptanya lapangan pekerjaan baru dengan di iringi sumber daya manusia yang baik dan berkompeten. Hal ini berdampak baik pada Produk Domestik Regional Bruto untuk pemerataan perekonomian suatu daerah seperti lapangan usaha pertanian, pertenakan, perikanan, pertambangan, industri pengolahan, komunikasi, listrik, gas dan air bersih, perdagangan, hotel dan restoran. SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pengaruh variabel PDRB, jumlah penduduk dan inflasi terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda tahun 2009-2019, maka dapat diambil simpulan sebagai berikut :
1. Variabel PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda tahun 2009-2019. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai PDRB maka pertumbuhan ekonomi pada suatu daerah akan semakin besar potensi penerimaan pajak daerah Kota Samarinda.
2. Variabel jumlah penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda tahun 2009-2019. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan penduduk meningkat, maka akan disertai dengan meningkatnya penerimaan pajak daerah Kota Samarinda.
3. Variabel inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda tahun 2009-2019. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda menujukkan hasil yang normal hal ini akan berdampak positif dan akan mendorong perekonomian sehingga meningkatkan pendapatan nasional.
4. Variabel PDRB, jumlah penduduk dan inflasi berpengaruh positif dan signifikan secara bersama-sama terhadap penerimaan pajak daerah Kota Samarinda tahun 2009-2019.
DAFTAR RUJUKAN
A, N. (2010). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Daerah di Kota Surakarta. Surakarta.
Anggoro, D. D. (2017). Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Malang: Tim UB Press.
Asmuruf, Vikie, Rumate, dan G. (2015). Pengaruh Pendapatan dan Jumalah Penduduk Terhadap Pendapatan Asli Daerah di Kota Sorong. Jurnal, Program Studi Ilmu Ekonomi Dan Pembangunan.
Volume 16 No 1 April 2020
Sosial Ekonomi dan Bisnis Halaman 116
2008-2018. Samarinda.
Curatman, A. (n.d.). Teori Ekonomi Makro. 2010. Yogyakarta: Swagati Press.
Diana, A. & L. S. (2009). Perpajakan Indonesia Konsep, Aplikasi, dan Penuntun Praktis. Yogyakarta: Andi. Gilarso, T. (2004). Pengantar Ilmu Ekonomi Makro. Yogyakarta: KANISIUS.
Ikbar, A. F. (2017). Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Jumlah Penduduk, Investasi Swasta
Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Studi Empiris Pada Kabupaten/Kota Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2011-2014. Surakarta.
Iryanie, W. P. A. & E. (n.d.). Pajak Daerah Dalam Pendapatan Asli Daerah. Yogyakarta: CV Budi Utama. Mardiasmo. (2018). Perpajakan. Yogyakarta: Andi.
Mispiyanti. (2017). Analisis Pengaruh PDRB, Inflasi, Nilai Kurs dan Tenaga Kerja Terhadap Penerimaan
Pajak Pada Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Kebumen dan Purworejo.
Murni, A. (2016). Ekonomika Makro. Bandung: Refika Aditama. Nopirin. (2016). Ekonomi Moneter. Yogyakarta: BPFE.
Prakosa, K. B. (2005). Pajak dan Retribusi. Yogyakarta: UII Press.
R, P. R. (2016). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tebing Tinggi. Jurnal Ilma, 4(1).
Ridwan, M. (2019). Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pendapatan Pajak Daerah Kota
Balikpapan. Samarinda.
Sania. (2018). Pengaruh Jumlah Penduduk, Produk Domestik Regional Bruto dan Inflasi Terhadap
Penerimaan Pajak Daerah Pada Kabupaten dan Kota Di Provinsi Jawa Tengah. Semarang.
Saputra, A. A. (2018). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Daerah di Kota
Cilegon. Yogyakarta.
Sukmawati, S. (2018). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penerimaan Pajak Daerah di Kota Medan. Wahyuni, A. T. (2017). Pengaruh PDRB, Tingkat Inflasi dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Peningkatan