• Tidak ada hasil yang ditemukan

promkes imunisasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "promkes imunisasi"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

1 1 1.1.

1.1. Latar BelakangLatar Belakang

Pemerintah Indonesia mencanangkan gerakan pembangunan Pemerintah Indonesia mencanangkan gerakan pembangunan  berwawasan

 berwawasan kesehatan kesehatan sebagai sebagai strategi strategi pembangunan pembangunan nasional nasional untukuntuk mewujudkan Indonesia sehat 2010. Dengan kebijakan dan strategi ini, mewujudkan Indonesia sehat 2010. Dengan kebijakan dan strategi ini,  perencanaan

 perencanaan pembangunan pembangunan dan dan pelaksanaannya pelaksanaannya di di semua semua sektor sektor harusharus dipertimbangkan terlebih dahulu dampak negatif dan positif terhadap dipertimbangkan terlebih dahulu dampak negatif dan positif terhadap kesehatan. Masyarakat juga ikut bertanggung jawab untuk melaksanakan kesehatan. Masyarakat juga ikut bertanggung jawab untuk melaksanakan hidup sehat, perilaku sehat dan upaya pencegahan agar tidak terkena hidup sehat, perilaku sehat dan upaya pencegahan agar tidak terkena  penyakit

 penyakit menular. menular. Sejalan Sejalan dengan upadengan upaya ya menurunkan angka menurunkan angka kematian kematian bayibayi dan balita perlu terus digalakkan. Imunisasi merupakan program unggulan dan balita perlu terus digalakkan. Imunisasi merupakan program unggulan  pertama dalam rangka percepatan perbaikan derajat kesehatan.

 pertama dalam rangka percepatan perbaikan derajat kesehatan.1,21,2

Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan. Pada tahun 1974, WHO mencanangkan

Pada tahun 1974, WHO mencanangkan  Expanded  Expanded Programme Programme ofof  Immunization

 Immunization (EPI)(EPI)  atau program pengembangan imunisasi. Program  atau program pengembangan imunisasi. Program imunisasi merupakan suatu program yang digunakan untuk menurunkan imunisasi merupakan suatu program yang digunakan untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi serta anak balita. Program ini angka kesakitan, kematian dan kecacatan bayi serta anak balita. Program ini memiliki 6 penyakit target seperti penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, memiliki 6 penyakit target seperti penyakit TBC, Difteri, Pertusis, Tetanus, Polio dan Campak, sedangkan Hepatitis B baru ditambahkan pada awal Polio dan Campak, sedangkan Hepatitis B baru ditambahkan pada awal tahun 1980-an karena baru ditemukan. Idealnya bayi harus mendapat tahun 1980-an karena baru ditemukan. Idealnya bayi harus mendapat imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 imunisasi dasar lengkap yang terdiri dari BCG 1 kali, DPT 3 kali, Polio 4 kali, HB 3 kali dan Campak 1 kali.

kali, HB 3 kali dan Campak 1 kali.33  Kementerian Kesehatan Indonesia  Kementerian Kesehatan Indonesia menetapkan imunisasi sebagai upaya nyata pemerintah untuk mencapai menetapkan imunisasi sebagai upaya nyata pemerintah untuk mencapai Millennium Development Goals (MDGs), khususnya untuk menurunkan Millennium Development Goals (MDGs), khususnya untuk menurunkan angka kematian anak. Indikator keberhasilan pelaksanaan imunisasi diukur angka kematian anak. Indikator keberhasilan pelaksanaan imunisasi diukur dengan pencapaian UCI (Universal Child Immunization) baik di tingkat dengan pencapaian UCI (Universal Child Immunization) baik di tingkat

(2)

nasional, propinsi, dan kabupaten bahkan di setiap desa/kelurahan, yaitu nasional, propinsi, dan kabupaten bahkan di setiap desa/kelurahan, yaitu minimal 80% bayi telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap untuk BCG, minimal 80% bayi telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap untuk BCG, DPT, polio, campak, dan hepatitis B.

DPT, polio, campak, dan hepatitis B.11

Menurut Kemenkes RI pada tahun 2011, diketahui bahwa Menurut Kemenkes RI pada tahun 2011, diketahui bahwa  persentase

 persentase bayi bayi pada pada usia usia 0-11 0-11 bulan bulan yang yang mendapat mendapat imunisasi imunisasi dasardasar lengkap adalah sebesar 93,4% namun persentase desa yang mencapai UCI lengkap adalah sebesar 93,4% namun persentase desa yang mencapai UCI hanyalah 74,16% yaitu 10% dibawah target. Hal ini masih kontradiksi hanyalah 74,16% yaitu 10% dibawah target. Hal ini masih kontradiksi mengingat target dari Kemenkes RI untuk mencapai MDGs dibutuhkan mengingat target dari Kemenkes RI untuk mencapai MDGs dibutuhkan angka pencapaian UCI yang sesuai target yaitu di atas 80%. Cakupan angka pencapaian UCI yang sesuai target yaitu di atas 80%. Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-11 bulan di provinsi sumatera selatan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-11 bulan di provinsi sumatera selatan ialah 95,1% sedikit di bawah provinsi Jambi yang memperoleh angka ialah 95,1% sedikit di bawah provinsi Jambi yang memperoleh angka cakupan 99.9%.

cakupan 99.9%.4,54,5

Hal-hal tersebut dapat disebabkan antara lain karena kurang Hal-hal tersebut dapat disebabkan antara lain karena kurang  perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah terhadap program imunisasi,  perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah terhadap program imunisasi, kurangnya dana operasional untuk imunisasi baik rutin maupun tambahan, kurangnya dana operasional untuk imunisasi baik rutin maupun tambahan, dan tidak tersedianya fasilitas dan infrastruktur yang adekuate. Selain itu dan tidak tersedianya fasilitas dan infrastruktur yang adekuate. Selain itu  juga

 juga kurangnya kurangnya koordinasi koordinasi lintas lintas sektor sektor termasuk termasuk pelayanan pelayanan kesehatankesehatan swasta, kurang sumber daya yang memadai serta kurangnya pengetahuan swasta, kurang sumber daya yang memadai serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang program dan manfaat imunisasi. Guna mecapai target masyarakat tentang program dan manfaat imunisasi. Guna mecapai target 100% UCI desa/ kelurahan pada tahun 2014 perlu dilakukan berbagai upaya 100% UCI desa/ kelurahan pada tahun 2014 perlu dilakukan berbagai upaya  percepatan

 percepatan melalui melalui Gerakan Gerakan Akselerasi Akselerasi Imunisasi Imunisasi Nasional Nasional untuk mencapaiuntuk mencapai UCI (GAIN UCI).

UCI (GAIN UCI).11

Oleh karena masih rendahnya angka pencapaian UCI pada bayi, Oleh karena masih rendahnya angka pencapaian UCI pada bayi, maka diperlukan program promosi kesehatan tentang Imunisasi dasar pada maka diperlukan program promosi kesehatan tentang Imunisasi dasar pada  bayi

 bayi usia usia 0-11 0-11 bulan bulan khususnya khususnya di di wilayah wilayah Puskesmas Puskesmas Kenten, Kenten, KecamatanKecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Selain itu peran tenaga kesehatan dalam Ilir Timur II, Kota Palembang. Selain itu peran tenaga kesehatan dalam upaya menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi sangat diperlukan. upaya menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi sangat diperlukan. Tidak hanya tenaga kesehatan saja yang bertanggung jawab untuk Tidak hanya tenaga kesehatan saja yang bertanggung jawab untuk menanggulangi kasus tersebut namun peran dari seluruh lapisan masyarakat menanggulangi kasus tersebut namun peran dari seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan untuk dapat berpartisipasi dalam program pemerintah sangat diperlukan untuk dapat berpartisipasi dalam program pemerintah untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi akibat kurang untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi akibat kurang

(3)

nasional, propinsi, dan kabupaten bahkan di setiap desa/kelurahan, yaitu nasional, propinsi, dan kabupaten bahkan di setiap desa/kelurahan, yaitu minimal 80% bayi telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap untuk BCG, minimal 80% bayi telah mendapatkan imunisasi dasar lengkap untuk BCG, DPT, polio, campak, dan hepatitis B.

DPT, polio, campak, dan hepatitis B.11

Menurut Kemenkes RI pada tahun 2011, diketahui bahwa Menurut Kemenkes RI pada tahun 2011, diketahui bahwa  persentase

 persentase bayi bayi pada pada usia usia 0-11 0-11 bulan bulan yang yang mendapat mendapat imunisasi imunisasi dasardasar lengkap adalah sebesar 93,4% namun persentase desa yang mencapai UCI lengkap adalah sebesar 93,4% namun persentase desa yang mencapai UCI hanyalah 74,16% yaitu 10% dibawah target. Hal ini masih kontradiksi hanyalah 74,16% yaitu 10% dibawah target. Hal ini masih kontradiksi mengingat target dari Kemenkes RI untuk mencapai MDGs dibutuhkan mengingat target dari Kemenkes RI untuk mencapai MDGs dibutuhkan angka pencapaian UCI yang sesuai target yaitu di atas 80%. Cakupan angka pencapaian UCI yang sesuai target yaitu di atas 80%. Cakupan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-11 bulan di provinsi sumatera selatan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-11 bulan di provinsi sumatera selatan ialah 95,1% sedikit di bawah provinsi Jambi yang memperoleh angka ialah 95,1% sedikit di bawah provinsi Jambi yang memperoleh angka cakupan 99.9%.

cakupan 99.9%.4,54,5

Hal-hal tersebut dapat disebabkan antara lain karena kurang Hal-hal tersebut dapat disebabkan antara lain karena kurang  perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah terhadap program imunisasi,  perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah terhadap program imunisasi, kurangnya dana operasional untuk imunisasi baik rutin maupun tambahan, kurangnya dana operasional untuk imunisasi baik rutin maupun tambahan, dan tidak tersedianya fasilitas dan infrastruktur yang adekuate. Selain itu dan tidak tersedianya fasilitas dan infrastruktur yang adekuate. Selain itu  juga

 juga kurangnya kurangnya koordinasi koordinasi lintas lintas sektor sektor termasuk termasuk pelayanan pelayanan kesehatankesehatan swasta, kurang sumber daya yang memadai serta kurangnya pengetahuan swasta, kurang sumber daya yang memadai serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang program dan manfaat imunisasi. Guna mecapai target masyarakat tentang program dan manfaat imunisasi. Guna mecapai target 100% UCI desa/ kelurahan pada tahun 2014 perlu dilakukan berbagai upaya 100% UCI desa/ kelurahan pada tahun 2014 perlu dilakukan berbagai upaya  percepatan

 percepatan melalui melalui Gerakan Gerakan Akselerasi Akselerasi Imunisasi Imunisasi Nasional Nasional untuk mencapaiuntuk mencapai UCI (GAIN UCI).

UCI (GAIN UCI).11

Oleh karena masih rendahnya angka pencapaian UCI pada bayi, Oleh karena masih rendahnya angka pencapaian UCI pada bayi, maka diperlukan program promosi kesehatan tentang Imunisasi dasar pada maka diperlukan program promosi kesehatan tentang Imunisasi dasar pada  bayi

 bayi usia usia 0-11 0-11 bulan bulan khususnya khususnya di di wilayah wilayah Puskesmas Puskesmas Kenten, Kenten, KecamatanKecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Selain itu peran tenaga kesehatan dalam Ilir Timur II, Kota Palembang. Selain itu peran tenaga kesehatan dalam upaya menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi sangat diperlukan. upaya menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi sangat diperlukan. Tidak hanya tenaga kesehatan saja yang bertanggung jawab untuk Tidak hanya tenaga kesehatan saja yang bertanggung jawab untuk menanggulangi kasus tersebut namun peran dari seluruh lapisan masyarakat menanggulangi kasus tersebut namun peran dari seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan untuk dapat berpartisipasi dalam program pemerintah sangat diperlukan untuk dapat berpartisipasi dalam program pemerintah untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi akibat kurang untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas bayi akibat kurang

(4)

optimalnya program promosi kesehatan tentang imunisasi. Sehubungan optimalnya program promosi kesehatan tentang imunisasi. Sehubungan dengan hal tersebut maka penulis melakukan penelitian mengenai dengan hal tersebut maka penulis melakukan penelitian mengenai manajemen program promosi Imunisasi di Puskesmas Kenten.

manajemen program promosi Imunisasi di Puskesmas Kenten.

1.2.

1.2. Rumusan Rumusan masalahmasalah 1.

1. Bagaimana desain program promosi kesehatan Imunisasi Dasar yang bisaBagaimana desain program promosi kesehatan Imunisasi Dasar yang bisa mengatasi ibu

mengatasi ibu  –  –   ibu yang beranggapan bahwa imunisasi itu berdampak  ibu yang beranggapan bahwa imunisasi itu berdampak negatif bagi bayinya ?

negatif bagi bayinya ? 2.

2. Bagaimana manajemen kegiatan promosi Imunisasi Dasar di PuskesmasBagaimana manajemen kegiatan promosi Imunisasi Dasar di Puskesmas Kenten ?

Kenten ?

1.3. Tujuan 1.3. Tujuan

1.3.1.

1.3.1. Tujuan Tujuan UmumUmum

Menyusun perencanaaan program-program yang dapat dan harus Menyusun perencanaaan program-program yang dapat dan harus dilakukan untuk menunjang Bayi Indonesia Sehat Di Puskesmas Kenten. dilakukan untuk menunjang Bayi Indonesia Sehat Di Puskesmas Kenten. 1.3.2.

1.3.2. Tujuan KhususTujuan Khusus a.

a. Mengetahui besar pencapaian bayi mendapat ImunisasiMengetahui besar pencapaian bayi mendapat Imunisasi sebagai hasil kegiatan promosi Imunisasi Dasar.

sebagai hasil kegiatan promosi Imunisasi Dasar.  b.

 b. Mengetahui kendala dan cara mengatasi nya dalamMengetahui kendala dan cara mengatasi nya dalam  pelaksanaan

 pelaksanaan kegiatan kegiatan promosi promosi Imunisasi Imunisasi di di PuskesmasPuskesmas Kenten

Kenten c.

c. Menjelaskan membuat perencanaan program promosiMenjelaskan membuat perencanaan program promosi kesehatan mewujudkan Bayi Indonesia Sehat Di Puskesmas kesehatan mewujudkan Bayi Indonesia Sehat Di Puskesmas Kenten

Kenten d.

d. Menjelaskan tujuan, sasaran, dan isi program promosiMenjelaskan tujuan, sasaran, dan isi program promosi kesehatan mewujudkan Bayi Indonesia Sehat Di Puskesmas kesehatan mewujudkan Bayi Indonesia Sehat Di Puskesmas Kenten

Kenten e.

e. Memaparkan Memaparkan penerapan penerapan program program promosi promosi kesehatankesehatan mewujudkan Bayi Indonesia Sehat Di Puskesmas Kenten mewujudkan Bayi Indonesia Sehat Di Puskesmas Kenten

(5)

1.4.

1.4. Manfaat Manfaat PenelitianPenelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai manajemen dan kendala yang dihadapi dalam kegiatan promosi kesehatan bayi manajemen dan kendala yang dihadapi dalam kegiatan promosi kesehatan bayi mendapat imunisasi sehingga bermanfaat menambah wawasan Ibu/pihak terkait mendapat imunisasi sehingga bermanfaat menambah wawasan Ibu/pihak terkait mengenai pentingnya imunisasi sehingga para Ibu/pihak terkait mengetahui hal mengenai pentingnya imunisasi sehingga para Ibu/pihak terkait mengetahui hal yang terbaik yang dapat dilakukan untuk pemberian imunisasi.

yang terbaik yang dapat dilakukan untuk pemberian imunisasi.

Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan  pengalaman penelitian dalam

 pengalaman penelitian dalam bidang promosi kesehatan sekbidang promosi kesehatan sekaligus sebagai sumberaligus sebagai sumber informasi bagi peneliti lain untuk penelitian lebih lanjut.

(6)

BAB II BAB II TINJAUAN PUSTAKA TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Imunisasi 2.1 Definisi Imunisasi

Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua yang serupa, tidak terjadi penyakit. Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat dua  jenis

 jenis kekebalan, kekebalan, yaitu yaitu kekebalan kekebalan pasif pasif dan dan kekebalan kekebalan aktif. aktif. Kekebalan Kekebalan pasifpasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh tubuh itu adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh tubuh itu sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu atau sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu atau kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan immunoglobulin. kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan immunoglobulin. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Waktu paruh IgG 28 hari, sedangkan waktu paruh immunoglobulin lainnya lebih Waktu paruh IgG 28 hari, sedangkan waktu paruh immunoglobulin lainnya lebih  pendek.

 pendek. Kekebalan Kekebalan aktif aktif adalah adalah kekebalan kekebalan yang yang dibuat dibuat oleh oleh tubuh tubuh sendiri sendiri akibatakibat terpajan pada antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan secara alamiah. terpajan pada antigen seperti pada imunisasi, atau terpajan secara alamiah. Kekebalan aktif berlangsung lebih lama daripada kekebalan pasif karena adanya Kekebalan aktif berlangsung lebih lama daripada kekebalan pasif karena adanya memori imunologik.

memori imunologik.6,76,7

2.2 Tujuan imunisasi 2.2 Tujuan imunisasi

Tujuan imunisasi untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada Tujuan imunisasi untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat seseorang, dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari

(populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dari dunia.dunia.77

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kekebalan 2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kekebalan

Banyak faktor yang mempengaruhi kekebalan antara lain umur, seks, kehamilan, Banyak faktor yang mempengaruhi kekebalan antara lain umur, seks, kehamilan, gizi dan trauma.

gizi dan trauma.

1. Umur. Untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita) dan 1. Umur. Untuk beberapa penyakit tertentu pada bayi (anak balita) dan orang tua lebih mudah terserang. Dengan kata lain orang pada usia sangat orang tua lebih mudah terserang. Dengan kata lain orang pada usia sangat muda atau usia tua lebih rentan, kurang kebal terhadap penyakit-penyakit muda atau usia tua lebih rentan, kurang kebal terhadap penyakit-penyakit menular tertentu. Hal ini mungkin disebabkan karena kedua kelompok menular tertentu. Hal ini mungkin disebabkan karena kedua kelompok umur tersebut daya tahan tubuhnya rendah

(7)

2. Seks. Untuk penyakit-penyakit menular tertentu seperti polio dan difteria lebih parah terjadi pada wanita daripada pria.

3. Kehamilan. Wanita yang sedang hamil pada umumnya lebih rentan terhadap penyakit-penyakit menular tertentu misalnya penyakit polio,  pneumonia, malaria serta amubiasis. Sebaliknya untuk penyakit tifoid dan

meningitis jarang terjadi pada wanita hamil.

4. Gizi. Gizi yang baik pada umumnya akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit-penyakit infeksi tetapi sebaliknya kekurangan gizi  berakibat kerentanan seseorang terhadap penyakit infeksi

5. Trauma. Stres salah satu bentuk trauma adalah merupakan penyebab kerentanan seseorang terhadap suatu penyakit infeksi tententu.8

2.4 Jenis Imunisasi

Berdasarkan program pengembangan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Program Pengembangan Imunisasi (PPI) yang diwajibkan dan Program Imunisasi Non PPI yang dianjurkan. Wajib jika kejadian penyakitnya cukup tinggi dan menimbulkan cacat atau kematian. Sedangkan imunisasi yang dianjurkan untuk penyakit-penyakit khusus yang biasanya tidak seberat kelompok pertama. Jenis imunisasi wajib terdiri dari 6 yaitu:8

2.4.1 BCG

Bacille Calmete-Guerin (BCG) adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium Bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga didapatkan basil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas. Vaksinasi BCG menimbulkan sensitivitas terhadap tuberculin.

Imunisasi BCG diberikan pada umur sebelum 2 bulan. Namun untuk mencapai cakupan yang lebih luas, Departemen Kesehatan menganjurkan  pemberian imunisasi BCG pada umur antara 0-12 bulan.9

Dosis 0,05 ml untuk bayi kurang dari 1 tahun dan 0,1 ml untuk anak (>1 tahun). Vaksin BCG diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas pada insersio M. Deltoideus sesuai anjuran WHO, tidak ditempat lain (bokong, paha).

(8)

Vaksin BCG tidak dapat mencegah infeksi tuberculosis, namun dapat mencegah komplikasinya. Apabila BCG diberikan pada umur lebih dari 3 bulan, sebaiknya dilakukan uji tuberculin terlebih dahulu. Vaksin BCG diberikan apabila uji tuberculin negatif.

Efek proteksi timbul 8-12 minggu setelah penyuntikkan. Berhubungan dengan beberapa factor yaitu mutu vaksin yang dipakai, lingkungan dengan Mycobacterium atipik atau factor pejamu (umur, keadaan gizi dan lain-lain)

Vaksin BCG tidak boleh terkena sinar matahari, harus disimpan pada suhu 2-80C, tidak boleh beku. Vaksin yang telah dienccerkan harus dipergunakan dalam waktu 8 jam.8

 Kejadian ikutan pasca imunisasi vaksinasi BCG

Penyuntikan BCG intradermal akan menimbulkan ulkus lokal yang superficial 3 minggu setelah penyuntikkan. Ulkus tertutup krusta, akan sembuh dalam 2-3 bulan, dan meninggalkan parut bulat dengan diameter 4-8 mm, apabila dosis terlalu tinggi maka ulkus yang timbul lebih besar, namun apabila  penyuntikkan terlalu dalam maka parut yang terjadi tertarik ke dalam.

1. Limfadenitis

Limfadenitis supuratif di aksila atau di leher kadang-kadang dijumpai setelah penyuntikan BCG. Limfadenitis akan sembuh sendiri, jadi tidak perlu diobati. Apabila limfadenitis melekat pada kulit atau timbul fistula maka dapat dibersihkan (drainage) dan diberikan obat anti tuberculosis oral. Pemberian obat anti tuberculosis sistemik tidak efektif.

2. BCG-itis diseminasi

Berhubungan dengan imunodefisiensi berat. Komplikasinya adalah eritema nodosum, iritis, lupus vulgaris dan osteomielitis. Komplikasi ini harus diobati dengan kombinasi obat anti tuberculosis.1

 Kontra indikasi BCG

- Reaksi uji tuberculin >5 mm.

- Menderita infeksi HIV atau dengan resiko tinggi infeksi HIV, imunokompromais akibat penggunaan kortikosteroid, obat imunosupresif,

(9)

mendapat pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau system limfe.

- Menderita gizi buruk. - Menderita demam tinggi.

- Menderita infeksi kulit yang luas. - Pernah sakit tuberculosis.

- Kehamilan.

2.4.2 Hepatitis B

Vaksin hepatitis B (hep B) harus segera diberikan setelah lahir, mengingat vaksinasi hepB merupakan upaya pencegahan yang sangat efektif untuk memutuskan rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu kepada bayinya.

Vaksin diberikan secara intramuscular dalam. Pada neonatus dan bayi diberikan di anterolateral paha, sedangkan pada anak besar dan dewasa, diberikan di region deltoid.8

 Imunisasi aktif

- Imunisasi hepB-1 diberikan sedini mungkin (dalam waktu 12 jam) setelah lahir.

- Imunisasi hepB-2 diberikan setelah 1 bulan (4 minggu) dari imunisasi hepB-1 yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Untuk mendapat respon imun optimal, interval imunisasi hepB-2 dengan hepB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. Maka imunisasi hepB-3 diberikan pada umur 3-6 bulan. - Bila sesudah dosis pertama, imunisasi terputus, segera berikan imunisasi

kedua. Sedangkan imunisasi ketiga diberikan dengan jarak terpendek 2  bukan dari imunisasi kedua.

- Bila dosis ketiga terlambat, diberikan segera setelah memungkinkan.

- Bayi lahir dari ibu dengan Hbs-Ag yang tidak diketahui, hepB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir dan dilanjutkan pada umur 1  bulan dan 3-6 bulan. Apabila semula status Hbs-Ag ibu tidak diketahui dan ternyata dalam perjalanan selanjutnya diketahui ibu dengan Hbs-Ag

(10)

 positif, maka ditambahkan hepatitis B immunoglobulin (HBIg) 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari.

- Bayi lahir dari ibu dengan Hbs-Ag positif, diberikan vaksin hepB-1 dan HBIg 0,5 ml secara bersamaan dalam waktu 12 jam setelah lahir.

- Anak dari ibu pengidap hepatitis B, yang telah memperoleh imunisasi dasar 3x pada masa bayi, maka pada saat usia 5 tahun tidak perlu imunisasi ulang (booster). Hanya dilakukan pemeriksaan kadar anti HBs - Apabila sampai dengan usia 5 tahun anak belum pernah memperoleh

imunisasi hepatitis B, maka secepatnya diberikan imunisasi Hep B dengan  jadwal 3x pemberian (catch up vaccination).

Catch up vaccination merupakan upaya imunisasi pada anak atau remaja yang belum pernah di imunisasi atau terlambat > 1 bulan dari jadwal yang seharusnya. Khusus pada imunisasi hepatitis B, imunisasi catch up ini diberikan dengan interval minimal 4 minggu antara dosis pertama dan kedua, sedangkan interval antara dosis kedua dan ketiga minimal 8 minggu atau 16 minggu sesudah dosis pertama.

- Ulangan imunisasi (hepB-4) dapat dipertimbangkan pada umur 10-12 tahun, apabila kadar pencegahan belum tercapai (anti Hbs< 10µg/ml).8-10

 Imunisasi pasif

Hepatitis B immune globulin (HBIg) dalam waktu singkat akan memeberikan proteksi meskipun hanya untuk jangka pendek (3-6 bulan).

HBIg hanya diberikan pada kondisi pasca paparan. Sebaiknya HBIg diberikan bersama vaksin VHB sehingga proteksinya berlangsung lama. Pada needle stick injury maka diberikan HBIg 0,06 ml/kg maksimum 5 ml dalam 48  jam pertama setelah kontak. Pada penularan dengan cara kontak seksual HBIg

diberikan 0,06 ml/kg maksimum 5 ml dalam waktu <14 hari sesudah kontak terakhir.8-10

(11)

 Efek samping

Umumnya berupa reaksi lokal yang ringan dan bersifat sementara. Kadang-kadang dapat menimbulkan demam ringan untuk 1-2 hari.8,9

 Kontra indikasi

Tidak ada kontraindikasi yang absolut.

2.4.3 DTwP (whole-cell pertussis) dan DTap (acelluler pertussis)

Imunisasi DTP primer diberikan 3 kali sejak umur 2 bulan (DTP tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8 minggu. Interval terbaik diberikan 8 minggu, jadi DTP-1 diberikan pada umur 2 bulan, DTP-2 pada umur 4 bulan dan DTP-3 pada umur 6 bulan. Ulangan booster DTP selanjutnya diberikan satu tahun setelah DTP-3 yaitu pada umur 18-24 bulan dan DTP-5 pada saat masuk sekolah umur 5 tahun.8,9 Pada booster umur 5 tahun harus tetap diberikan vaksin dengan komponen pertusis (sebaiknya diberikan DTaP untuk mengurangi demam pasca imunisasi) mengingat kejadian pertusis pada dewasa muda meningkat akibat ambang proteksi telah sangat rendah sehingga dapat menjadi sumber penularan pada bayi dan anak.

DT-5 diberikan pada kegiatan imunisasi di sekolah dasar. Ulangan DT-6 diberikan pada usia 12 tahun, mengingat masih dijumpai kasus difteria pada umur lebih dari 10 tahun. Dosis DTwP atau DTaP atau DT adalah 0,5 ml, intramuscular, baik untuk imunisasi dasar maupun ulangan.

Jadwal untuk imunisasi rutin pada anak, dianjurkan pemberian 5 dosis  pada usia yaitu 2,4,6,15-18 bulan dan usia 5 tahun atau saat masuk sekolah. Dosis ke 4 harus diberikan sekurang-kurangnya 6 bulan setelah dosis ke 3. Kombinasi toksoid difteria dan tetanus (DT) yang mengandung 10-12 Lf dapat diberikan  pada anak yang memiliki kontra indikasi terhadap pemberian yang pertusis.8,9

 Kejadian ikutan pasca imunisasi DTP

- Reaksi lokal kemerahan, bengkak dan nyeri pada lokasi injeksi terjadi  pada separuh penerima DTP.

(12)

- Proporsi demam ringan dengan reaksi lokal sama dan diantaranya dapat mengalami hiperpireksia.

- Anak gelisah dan menangis terus menerus selama beberapa jam pasca suntikan (inconsolable crying).

- Dari suatu penelitian ditemukan adanya kejang demam sesudah vaksinasi yang dihubungkan dengan demam yang terjadi.

- Kejadian ikutan yang paling serius adalah terjadinya ensefalopati akut atau reaksi anafilaksis dan terbukti disebabkan oleh pemberian vaksin pertusis.

 Kontra indikasi

Saat ini didapatkan dua hal yang diyakini sebagai kontraindikasi mutlak terhadap pemberian vaksin pertusis baik whole cell maupun acelular yaitu : - anafilaksis pada pemberian vaksin sebelumnya.

- Ensefalopati sesudah pemberian vaksin pertusis sebelumnya.

- Keadaan lain dapat dinyatakan sebagai perhatian khusus (precaution). Misalnya pemberian vaksin pertusis berikutnya bila pada pemberian  pertama dijumpai riwayat hiperpireksia, keadaan hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam, anak menangis terus menerus selama 3 jam dan riwayat kejang dalam 3 hari sesudah imunisasi DTP

Riwayat kejang dalam keluarga dan kejang yang tidak berhubungan dengan pemberian vaksin sebelumnya, kejadian ikutan paska imunisasi atau alergi terhadap vaksin bukanlah suatu indikasi kontra terhadap pemberian vaksin DTaP. Walaupun demikian keputusan untuk pemberian vaksin pertusis harus dipertimbangkan secara individual dengan memperhitungkan keuntungan dan resiko pemberiannya.8,9

2.4.4 Vaksin pertusis aseluler

Vaksin pertusis aseluler adalah vaksin pertusis yang berisi komponen spesifik toksin dari Bordetellapertusis yang dipilih sebagai dasar yang  berguna dalam patogenesis pertusis dan perannya dalam memicu antibodi yang  berguna untuk pencegahan terhadap pertusis secara klinis.10

(13)

2.4.5 Polio

Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan  poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus

ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).

Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga  strain  berbeda dan amat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, 50% kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala  pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari.8,9

Anak-anak kecil yang terkena polio seringkali hanya mengalami gejala ringan dan menjadi kebal terhadap polio. Karenanya, penduduk di daerah yang memiliki sanitasi baik justru menjadi lebih rentan terhadap polio karena tidak menderita polio ketika masih kecil. Vaksinasi pada saat balita akan sangat membantu pencegahan polio di masa depan karena polio menjadi lebih berbahaya  jika diderita oleh orang dewasa. Orang yang telah menderita polio bukan tidak mungkin akan mengalami gejala tambahan di masa depan seperti layu otot; gejala ini disebut sindrom post-polio.

 Imunisasi Polio

Vaksin efektif pertama dikembangkan oleh Jonas Salk. Salk menolak untuk mematenkan vaksin ini karena menurutnya vaksin ini milik semua orang seperti halnya sinar matahari. Namun vaksin yang digunakan untuk inokulasi masal adalah vaksin yang dikembangkan oleh Albert Sabin. Inokulasi pencegahan  polio anak untuk pertama kalinya diselenggarakan di Pittsburgh, Pennsylvania  pada 23 Februari 1954. Polio hilang di Amerika pada tahun 1979.

Belum ada pengobatan efektif untuk membasmi polio. Penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan ini, disebabkan virus  poliomyelitis yang sangat menular. Penularannya bisa lewat makanan/minuman yang tercemar virus polio,  juga lewat percikan ludah/air liur penderita polio yang masuk ke mulut orang yang sehat. Imunisasi polio memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit

(14)

 poliomielitis. Polio bisa menyebabkan nyeri otot dan kelumpuhan pada salah satu maupun kedua lengan/tungkai, otot-otot pernafasan dan otot untuk menelan hingga menyebabkan kematian.8-10

Terdapat 2 macam vaksin polio yaitu :

- IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk), mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan.

- OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin), mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan. Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio. Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).

Di Indonesia umumnya diberikan vaksin Sabin. Vaksin ini diberikan sebanyak 2 tetes (0,1 mL) langsung ke mulut anak atau dengan menggunakan sendok yang berisi air gula. Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibodi sampai pada tingkat yang tertinggi. Orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah  pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak boleh diberikan IPV. Namun sebaiknya diberikan OPV. penderita denga gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia, kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya. IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare.

Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya  pelaksanaan imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih. IPV bisa

menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang biasanya  berlangsung hanya selama beberapa hari. Masa inkubasi virus antara 6-10 hari.

Setelah demam 2-5 hari, umumnya akan mengalami kelumpuhan mendadak pada salah satu anggota gerak. Namun tak semua orang yang terkena virus polio akan

(15)

mengalami kelumpuhan, tergantung keganasan virus polio yang menyerang dan daya tahan tubuh si anak. Imunisasi polio akan memberikan kekebalan terhadap serangan virus polio.8

 Usia Pemberian

Saat lahir (0 bulan), dan berikutnya di usia 2, 4, 6 bulan. Dilanjutkan pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Kecuali saat lahir, pemberian vaksin polio selalu dibarengi dengan vaksin DTP.

 Cara Pemberian

Bisa lewat suntikan (Inactivated Poliomyelitis Vaccine/IPV), atau lewat mulut (Oral Poliomyelitis Vaccine/OPV). Di tanah air, yang digunakan adalah OPV.

 Efek Samping

Pusing, diare ringan, dan sakit otot serta kelumpuhan dan kejang-kejang merupakan efek samping dari imunisasi inin namun sangat jarang terjadi.

 Kontraindikasi

Tak dapat diberikan pada anak yang menderita penyakit akut atau demam tinggi (di atas 380C); muntah atau diare; penyakit kanker atau keganasan; HIV/AIDS; sedang menjalani pengobatan steroid dan pengobatan radiasi umum; serta anak dengan mekanisme kekebalan terganggu.

2.4.6. Campak (Morbilli)

Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus.

Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini. Tidak ada pengobatan khusus untuk campak. Anak sebaiknya menjalani tirah baring. Untuk menurunkan demam, diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.

(16)

Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin  biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas. Jika hanya mengandung campak, vaksin diberikan pada umur 9  bulan.

Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun. selain itu penderita juga harus disarankan untuk istirahat minimal 10 hari dan makan makanan yang bergizi agar kekebalan tubuh meningkat.8-10

 Imunisasi Campak

Sebenarnya, bayi sudah mendapat kekebalan campak dari ibunya. Namun seiring bertambahnya usia, antibodi dari ibunya semakin menurun sehingga butuh antibodi tambahan lewat pemberian vaksin campak. Apalagi penyakit campak mudah menular, dan mereka yang daya tahan tubuhnya lemah gampang sekali terserang penyakit yang disebabkan virus  Morbili ini. Untungnya, campak hanya diderita sekali seumur hidup. Jadi, sekali terkena campak, setelah itu biasanya tak akan terkena lagi. Imunisasi campak efektif untuk memberi kekebalan terhadap  penyakit campak sampai seumur hidup.

Penyakit campak yang disebabkan oleh virus ini dapat dicegah jika seseorang mendapatkan imunisasi campak, minimal dua kali yakni semasa usia 6  –  59 bulan dan masa SD (6  –  12 tahun). Upaya imunisasi campak tambahan yang dilakukan bersama dengan imunisasi rutin terbukti dapat menurunkan kematian karena penyakit campak sampai 48%. Tanpa imunisasi, penyakit ini dapat menyerang setiap anak, dan menyebabkan cacat dan kematian karena komplikasi seperti radang paru (pneumonia), diare, radang telinga (otitis media) dan radang otak (ensefalitis) terutama pada anak dengan gizi buruk.

Penularan campak terjadi lewat udara atau butiran air ludah (droplet )  penderita yang terhirup melalui hidung atau mulut. Pada masa inkubasi yang  berlangsung sekitar 10-12 hari, gejalanya sulit dideteksi. Setelah itu barulah muncul gejala flu (batuk, pilek, demam), mata kemerah-merahan dan berair, merasa silau saat melihat cahaya. Kemudian, di sebelah dalam mulut muncul

(17)

 bintik-bintik putih yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga mengalami diare. Satu-dua hari kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5°C. Seiring dengan itu, barulah keluar bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas penyakit ini. Predileksi awalnya ialah di bagian leher, bawah telinga, dada, wajah, tangan dan kaki. Jika bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan sendirinya dan akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas sembuh dengan sendirinya. Umumnya, dibutuhkan waktu hingga 2 minggu sampai anak sembuh  benar dari sisa-sisa campak. Pengobatannya bersifat simptomatis, yaitu mengobati  berdasarkan gejala yang muncul. komplikasi, terutama pada campak yang berat. Ciri-ciri campak berat, selain bercaknya di sekujur tubuh, gejalanya tidak membaik setelah diobati 1-2 hari. Komplikasi yang terjadi biasanya berupa radang  paru-paru (bronchopneumonia) dan radang otak (ensefalitis).8-10

 Deskripsi

Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap dosis (0,5ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain CAM 70, dan tidak lebih dari 100 mcg residu kanamycin dan 30 mcg residu erythromycin. Vaksin ini berbentuk vaksin beku kering yang harus dilarutkan hanya dengan pelarut steril yang tersedia secara te rpisah untuk tujuan tersebut.

 Komposisi

Tiap dosis vaksin yang sudah dilarutkan mengandung : Virus Campak >= 1.000 CCID50, Kanamycin sulfat <= 100 mcg, Erithromycin <= 30 mcg

 Dosis dan Cara Pemberian

Imunisasi campak terdiri dari dosis 0,5 ml yang disuntikkan secara Subkutan, lebih baik pada lengan atas. Pada setiap penyuntikan harus menggunakan jarum dan syringe yang steril. Vaksin yang telah dilarutkan hanya dapat digunakan pada hari itu juga (maksimum untuk 8 jam) dan itupun berlaku hanya jika vaksin selama waktu tersebut disimpan pada suhu 2°-8°C serta terlindung dari sinar matahari. Pelarut harus disimpan pada suhu sejuk sebelum digunakan.

(18)

Satu dosis vaksin campak cukup untuk membentuk kekebalan terhadap infeksi. Di negara-negara dengan angka kejadian dan kematian karena penyakit campak tinggi pada tahun pertama setelah kelahiran, maka dianjurkan imunisasi terhadap campak dilakukan sedini mungkin setelah usia 9 bulan (270 hari). Di negara-negara dengan kasus campak yang sedikit, maka imunisasi boleh dilakukan lebih dari usia tersebut. Vaksin campak tetap aman dan efektif jika diberikan bersamaan dengan vaksin-vaksin DT, Td, TT, BCG, Polio, (OPV dan IPV), Hepatitis B, dan Yellow Fever.8-10

 Usia & Jumlah Pemberian

Sebanyak 2 kali; 1 kali di usia 9 bulan, 1 kali di usia 6 tahun. Dianjurkan,  pemberian campak ke-1 sesuai jadwal. Selain karena antibodi dari ibu sudah

menurun di usia 9 bulan, penyakit campak umumnya menyerang anak usia balita. Jika sampai 12 bulan belum mendapatkan imunisasi campak, maka pada usia 12  bulan harus diimunisasi MMR ( Measles Mumps Rubella).

 Efek Samping

Umumnya tidak ada namun beberapa anak, dapat menyebabkan demam dan diare, namun kasusnya sangat kecil. Biasanya demam berlangsung seminggu. Kadang juga terdapat efek kemerahan mirip campak selama 3 hari.

 Kontraindikasi

Kontraindikasi terjadi bagi individu yang diketahui alergi berat terhadap kanamycin dan erithromycin. Efek vaksin virus campak hidup terhadap janin  belum diketahui, maka wanita hamil juga termasuk kontraindikasi. Individu  pengidap virus HIV ( Human Immunodficiency Virus). Vaksin Campak kontraindikasi terhadap individu-individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukimia, lymphoma atau generalized malignancy.

 Kemasan

(19)

2.5 Teknik dan ukuran jarum

Pada tiap suntikan harus digunakan tabung suntikan dan jarum baru, sekali  pakai dan steril. Sebaiknya tidak digunakan botol vaksin yang multidosis, karena resiko infeksi. Apabila memakai botol multidosis maka jarum suntik yang telah digunakan menyuntik tidak boleh dipakai lagi mengambil vaksin.

Standar jarum suntik ialah ukuran 23 dengan panjang 25 mm, tetapi ada  perkecualian lain dalam beberapa hal seperti berikut :

-  pada bayi-bayi kurang bulan, umur dua bulan atau yang lebih muda dan  bayi-bayi kecil lainnya, dapat pula dipakai jarum ukuran 26 dengan  panjang 16 mm.

- untuk suntikan subkutan pada lengan atas, dipakai jarum ukuran 25 dengan panjang 16mm, untuk bayi-bayi kecil dipakai jarum ukuran 27 dengan panjang 12 mm.

- untuk suntikan intramuscular pada orang dewasa yang sangat gemuk (obese) diapakai jarum ukuran 23 dengan panjang 38 mm.

- untuk suntikan untradermal pada vaksinasi BCG dipakai jarum ukuran 25-27 dengan panjang 10 mm.

2.6 Arah sudut jarum pada suntikan Intramuscular

Jarum suntik harus disuntikkan dengan sudut 450 sampai 600 ke dalam otot vastus lateralis atau otot deltoid. Untuk otot vastus lateralis, jarum harus diarahkan kea rah lutut dan untuk deltoid jarum harus diarahkan ke pundak. Kerusakan saraf dam pembuluh vascular dapat terjadi apabila suntikan diarahkan  pada sudut 900.

2.7 Tempat suntikan yang dianjurkan

Paha anterolateral adalah bagian tubuh yang dianjurkan untuk vaksinasi  pada bayi-bayi dan anak-anak umur dibawah 12 bulan. Region deltoid adalah alternative untuk vaksinasi pada anak-anak yang lebih besar (mereka yang dapat  berjalan) dan orang dewasa.

(20)

Sejak akhir 1980, WHO telah memberi rekomendasi bahwa daerah anterolateral paha adalah bagian yang dianjurkan untuk vaksinasi bayi-bayi dan tidak pada pantat (daerah gluteus) untuk menghindari resiko kerusakan saraf iskhiadika (nervus ischiadicus).

Resiko kerusakan saraf ischiadika akibat suntikan di daerah gluteus lebih  banyak dijumpai pada bayi karena variasi posisi saraf tersebut, masa otot lebih

tebal, sehingga pada vaksinasi dengan suntikan intramuscular di daerah gluteal dengan tidak disengaja menghasilkan suntikan subkutan dengan reaksi local yang lebih berat. Vaksinasi hepatitis B dan rabies bila disuntikkan di daerah gluteal kurang imunogenik; hal ini berlaku untuk semua umur. Sedangkan untuk vaksin BCG, harus disuntik pada kulit diatas insersi otot deltoid (lengan atas), sebab suntikan-suntikan diatas puncak pundak memeberi resiko terjadinya keloid.

2.8 Posisi anak dan lokasi suntikan

Alasan memilih otot vastus lateralis pada bayi dan anak umur di bawahh 12 bulan adalah:

- Menghindari resiko kerusakan saraf ischiadika pada suntikan daerah gluteal.

- Daerah deltoid pada bayi dianggap tidak cukup tebal untuk menyerap suntikan secara adekuat.

- Sifat imunogenesitas vaksin hepatitis B dan rabies berkurang bila disuntikkan di daerah gluteal.

- Menghindari resiko reaksi lokal dan terbentuk pembengkakan ditempat suntikan yang menahun.

- Menghindari lapisan lemak subkutan yang tebal pada paha bagian anterior.

Vastus lateralis, posisi anak dan lokasi suntikan

Vastus lateralis adalah otot bayi yang tebal dan besar, yang mengisi  bagian anterolateral paha. Vaksin harus disuntikkan ke dalam batas antara sepertiga otot bagian atas dan tengah yang merupakan bagian yang paling tebal dan padat. Jarum harus membuat sudut 450-600  terhadap permukaan

(21)

kulit, dengan jarum kearah lutut, maka jarum tersebut harus menembus kulit selebar ujung jari diatas (kearah proksiimal) batas hubungan bagian atas dan sepertiga tengah otot.

Gambar 2.1 Diagram Lokasi Suntikan Yang Dianjurkan pada otot paha.

Gambar 2.2 Potongan Lintang Paha : Menunjukkan Bagian Yang Disuntik Lokasi suntikan pada vastus lateralis

- Letakkan bayi di atas tempat tidur atau meja, bayi ditidurkan terlentang. - Tungkai bawah sedikit di tekuk dengan fleksi pada lutut.

- Cari trochanter mayor femur dan condylus lateralis dengan cara palpasi, tarik garis yang menghubungkan kedua tempat tersebut. Tempat suntikan vaksin ialah batas sepertiga bagian atas dan tengah pada garis tersebut

(22)

(bila tungkai bawah sedikit menekuk, maka lekukan yang dibuat oleh tractus iliotibialis menyebabkan garis bagian distal lebih jelas)

- Supaya vaksin yang disuntikkan masuk ke dalam otot pada batas antara sepertiga bagian atas dan tengah, jarumditusukkan satu jari diatas batas tersebut.

Deltoid, posisi anak dan lokasi suntikan

- Posisi seorang anak yang paling nyaman untuk suntikkan di daerah deltoid ialah duduk diatas pangkuan ibu atau pengasuhnya.

- Lengan yang akan disuntik dipegang menempel pada tubuh  bayi,sementara lengan lainnya diletakkan di belaknag tubuh orang tua atau  pengasuh.

- Lokasi deltoid yang benar adalah penting supaya vaksinasi berlangsung aman dan berhasil.

- Posisi yang salah akan menghasilkan suntikan subkutan yang tidak benar dan meningkatkan resiko penetrasi saraf.

Untuk mendapatkan lokasi deltoid yang baik, membuka lengan atas dari  pundak ke siku. Lokasi yang paling baik adalah pada tengah otot, yaitu separuh antara akromion dan insersi pada tengah humerus. Jarum suntik ditusukkan membuat sudut 450-600 mengarah pada akromion. Bila bagian bawah deltoid yang disuntik, ada resiko trauma saraf radialis karena saraf tersebut melingkar dan muncul dari otot trisep.

Perhatian untuk suntikan subkutan - Arah jarum 450 terhadap kulit. - Cubit tebal untuk suntikan subkutan

- Aspirasi semprit sebelum vaksin disuntikkan.

(23)

Gambar 2.3 Lokasi Penyuntikan Subkutan Pada Bayi (a) dan Anak Besar (b) Perhatian untuk penyuntikan intramuscular

- Pakai jarum yang cukup panjang untuk mencapai otot. - Suntik dengan arah jarum 450 –  600 , lakukan dengan cepat.

- Tekan kulit sekitar tempat suntikan dengan ibu jari dan telunjuk saat  jaruum ditusukkan.

- Aspirasi semprit sebelum vaksin disuntikkan, untuk meyakinkan tidak masuk dalam vena. Apabila terdapat darah buang dan ulangi dengan suntikan baru.

- Untuk suntikan multipel diberikan pada bagian ekstremitas berbeda.

2.9 Pemberian dua atau lebih vaksin pada hari yang sama

Pemberian vaksin-vaksin yang berbeda pada umur yang sesuai, boleh diberikan pada hari yang sama. Vaksin inactivated dan vaksin virus hidup, khususnya vaksin yang dianjurkan dalam jadwal imunisasi, pada umumnya dapat diberikan pada lokasi yang berbeda saat hari kunjungan yang sama. Misalnya  pada kesempatan yang sama dapat diberikan vaksin-vaksin DPT, Hib, hepatitis B,

dan polio.

Lebih dari satu macam vaksin virus hidup dapat diberikan pada hari yang sama, tetapi apabila hanya satu macam yang diberikan, vaksin virus hidup yang kedua tidak boleh diberikan kurang dari 2 minggu dari vaksin yang pertama, sebab respons terhadap vaksin yang kedua mungkin telah banyak berkurang. vaksin yang berbeda tidak boleh dicampur dalam satu semprit.

(24)

Vaksin-vaksin yang berbeda yangdiberikan pada seseorang pada hari yang sama harus disuntikkan pada lokasi yang berbeda dengan menggunakan semprit yang  berbeda.

(25)

BAB III

GAMBARAN UMUM PUSKESMAS KENTEN

3.1 Visi dan Misi a. Visi

“Ter capainya puskesmas kenten sebagai pusat pelayanan kesehatan yang prima, Menuju Palembang Sehat.”

b. Misi

1. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu prima merata dan terjangkau

2. Meningkatkan profesionalisme yang berorientasi pada standar  pelayanan kesehatan

3. Meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan lingkungan nya melalui pemberdayaan masyarakat

3.2 Fungsi Puskesmas

1. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan 2. Sebagai pemberdayaan masyarakat serta keluarga 3. Sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat pertama

3.3 Program Puskesmas

Merupakan wujud dari pelaksanaan dari fungsi puskesmas di atas,  program puskesmas dapat dibagi menjadi Program Pokok dan Program

Pengembangan yang akan diperjelas sebagai berikut : 3.3.1 Program Pokok Puskesmas Kesehatan

Program dasar puskesmas berdasarkan kebutuhan kesehatan sebagian besar masyarakat dan mempunyai daya ungkit yang tinggi dalam mengatasi permasalahan kesehatan nasional dan internasional yang  berkaitan dengan morbiditas dan mortalitas meliputi 6 pokok program

(26)

1. Promosi Kesehatan 2. Kesehatan Lingkungan

3. Kesehatan Ibu dan anak,, KB 4. Gizi

5. Pemberantasan penyakit menular 6. Pengobatan

3.3.2 Program Pengembangan

Puskesmas mengenal pokok program kegiatan dengan perubahan  –   perubahan program dasar dapat masuk dalam kelompok program  pengembangan yang terkait. Merupakan program yang spesifik sesuai dengan permasalahan kesehatan masyarakat setempat dan tuntutan masyarakat sebagai program inovatif. Program spesifik puskesmas kenten adalah :

1. TB Paru

2. Geriatri (Puskesmas santun Lansia) 3. Gerakan sayang ibu

3.3.3 Kegiatan Dalam Gedung

a. Klinik Gilingan Mas (Sanitasi, Imunisasi, Gizi)  b. Klinik MTBS

c. KESGA (pelayanan ibu hamil, nifas dan menyusui,pelayanan akseptor KB, Klinik Laktasi, pelayanan reproduksi remaja, Balita)

d. Pengobatan program TB Paru, Diare dan ISPA

e. Pengobatan Umum dan tindakan darurat serta pengobatan gigi f. Kesehatan Kerja

g. Penyuluhan dan PHN h. Laboratorium Sederhana i. SP2TP

(27)

3.3.4 Kegiatan Luar Gedung

a. Posyandu balita sebanyak 24 buah  b. Posyandu Lansia sebanyak 8 buah

c. UKS dan UKGS d. Penyuluhan e. Pelayanan KB f. Pelayanan P3K

3.4 Geografi dan Topografi

Puskesmas Kenten memiliki batasan administrasi sebagai berikut: - Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Sukamaju.

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Sungai Musi.

- Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Duku,5 Ilir,Lawang kidul.

- Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan 20 Ilir, 9 Ilir,10 Ilir dan 11 Ilir

Wilayah kerja puskesmas kenten terdiri dari 2 kelurahan yaitu :

 Kelurahan 8 ilir  Kelurahan Kuto Batu

Dengan memiliki 2 PUSTU

3.5 Data Umum Puskesmas Data Umum Puskesmas

Tabel1. Peta Demografi di Wilayah Kerja Puskesmas Kenten

 No Deskripsi  Nama Kelurahan Jumlah

Total

1 2

8 ILIR KUTO

BATU

(28)

- Laki-laki 11843 7338 19181

- Perempuan 12442 7835 20277

2 Jumlah Kepala Keluarga (KK)

a. KK Gakin 1178 1752 2930

 b. KK Non Gakin 22846 13549 36395

3 Jumlah Ibu Bersalin (Bulin) 456 285 741 4 Jumlah Ibu Meneteki (Buteki) 456 285 741

5 Jumlah Ibu Nifas (Bufas) 456 285 741

6 Jumlah Wanita Usia Subur

(WUS) 456 285 741

7 Jumlah Wanita Peserta KB

Aktif 3.225 2.280 5505

8 Jumlah Bayi 437 273 710

9 Jumlah Anak Balita 2021 1262 3283

10 Jumlah Anak Batita 808 504 1312

11 Jumlah Anak Baduta 323 201 524

12 Jumlah Remaja 4421 2767 7188

13 Jumlah Usila 1.705 844 2549

14 Jumlah Taman Kanak Kanak

(TK) 10 3 13 15 Jumlah SD / Madrasah Ibtidaiyah a. Negeri 5 5 10  b. Swasta 3 1 4 16 Jumlah SMP / Madrasah Tsanawiyah a. Negeri 1 0 1  b. Swasta 2 0 2

(29)

Aliyah a. Negeri 1 0 1  b. Swasta 3 0 3 18 Jumlah Akademi a. Negeri 0 0 0  b. Swasta 1 0 1

19 Jumlah Perguruan Tinggi

a. Negeri 0 0 0  b. Swasta 1 0 1 20 Jumlah Kantor 15 8 23 21 Jumlah Hotel 2 0 2 22 Jumlah Toko 8 9 17 23 Jumlah Pasar 0 1 1

24 Jumlah Restoran / Rumah

Makan 49 22 71

25 Salon Kecantikan 10 0 10

26 Jumlah Masjid 12 1 13

27 Jumlah Pesantren 0 0 0

28 Jumlah Langgar / Musholla 0 13 13

29 Jumlah Gereja 4 1 5

30 Jumlah Pura 1 0 1

31 Jumlah Kelenteng / Vihara 2 0 2

32 Jumlah Rumah 4203 1949 6152

33 Jumlah Rumah Sehat 3284 1834 5118

34 Jumlah Jamban Sehat 3284 1834 5118

35 Sumber Air Bersih (PDAM) 3284 1834 5118

36 SAB Sumur Gali 0 0 0

37 SAB Sumur Tangan 0 0 0

38 SAB Sumur Artesis 0 0 0

(30)

40 SAB Air Sungai 0 0 0 41 Peserta Asuransi Kesehatan

(Askes) 6468 3.396 9864

42 Asuransi Jamsostek 0 0 0

43 Asuransi Kesehatan Lainnya 0 0 0

44 Jumlah Panti Jompo 0 0 0

45 Jumlah Panti Pijat 1 0 1

46 Jumlah Praktek Bidan 6 1 7

47 Jumlah Pengobatan

Tradisional 11 4 15

48 Jumlah Rumah Sakit

Pemerintah 0 0 0

49 Jumlah Rumah Sakit Swasta 0 0 0

50 Jumlah Balai Pengobatan 1 0 1

51 Jumlah Praktek Dr Umum 3 8 11

52 Jumlah Praktek Dr Gigi 2 2 4

53 Jumlah Praktek Dr Bersama 0 0 0

54 Jumlah Laboratorium

Kesehatan 0 0 0

55 Jumlah Apotik 3 3 6

56 Jumlah Optik 1 0 1

57 Jumlah Toko Obat 0 1 1

3.6 Demografi

Wilayah kerja puskesmas kenten meliputi dua Kelurahan yaitu Kelurahan 8 Ilir dan Kelurahan Kutobatu, dengan luas Wilayah kerja 39,79 Km meliputi dataran tinggi,rendah dan rawa rawa, terletak strategis karena terletak pada jalan besar. Puskesmas kenten dapat dijangkau pasien dengan menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat tetapi terbatas

(31)

 pada beberapa kelurahan. Hal ini mengakibatkan perlunya usaha keras dari  pihak puskesmas untuk merangkul kunjungan.

Tabel 3.1. Jumlah Penduduk wilayah kerja Puskesmas Kenten

 No Nama Desa Jumlah penduduk (jiwa)

1 Kelurahan 8 ilir 24285

2 Kelurahan Kuto Batu 15173

Jumlah 39458

3.7 Sumber Daya Tenaga Kesehatan Puskesmas Kenten

Tenaga Puskesmas Kenten dan 2 PUSTU berjumlah 32 orang, yaitu seperti pada tabel 3.2.

Tabel 2. Staf/Tenaga di Puskesmas Kenten  N O. Jenis Keterangan Yang ada Sekarang Kekurangan Status Kepegawaian Ket I. Puskesmas induk. 1 Dokter 2 - PNS 2 Dokter gigi 1 - PNS 3 Sarjana / D3 a. SKM 3 - PNS  b. Akper 3 - PNS c. Akbid 4 - PNS d. Akademi Gizi - - -e. Lain lain - - -4 Bidan 1 - PNS 5 Perawat ( SPK ) 2 - PNS 6 Perawat Gigi 2 - PNS 7 Sanitarian 1 - PNS

(32)

8 SPAG 1 0 -9 Tenaga Laboratorium 1 -Honor Daerah 10 Pengelola Obat 2 1 PNS 11 LCPK 2 - PNS 12 SMA 1 1 PNS II.Puskesmas Pembantu 13 Perawat Kesehatan 2 - PNS 14 Bidan 2 - PNS

3.8 Cakupan Pemberian Imunisasi Puskesmas Kenten

Berdasarkan profil puskesmas Kenten tahun 2013 didapatkan data cakupan pemberian imunisasi adalah didalam tabel 3.3. Adapun nilai cakupan imunisasi didapatkan dengan menggunakan rumus

Cakupan Imunisasi = Jumlah bayi yang datang dan diimunisasi x 100% Disatu wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu

Jumlah sasaran bayi disatu wilayah kerja dalam Dalam kurun waktu yang sama

(33)

Tabel 3.3 Cakupan Pemberian Imunisasi Bayi di Puskesmas Kenten tahun 2013

 No Jenis

Imunisasi

Jumlah Bayi yang diimunisasi tahun 2013 Cakupan imunisasi bayi tahun 2013 1 BCG 713 97.3 % 2 Polio 1 713 97.3 % 3 Polio 2 706 96.3 % 4 Polio 3 688 93.9 % 5 Polio 4 672 91.7 % 6 DTP-HB 1 707 96.5 % 7 DTP-HB 2 687 93.7 % 8 DTP-HB 3 672 91.7 % 9 Campak 675 92.1 %

Berdasarkan data dari tabel di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa cakupan imunisasi bayi di wilayah kerja Puskesmas Kenten rata-rata berada pada angka 90-97% pada tahun 2013 yang telah mencapai atau melampaui target standar pelayanan minimal bayi imunisasi yakni 82%.

(34)

BAB IV

PENYELESAIAN MASALAH

4.1 Upaya Promosi Kesehatan Imunisasi Dasar

Kegiatan Imunisasi dasar biasa dilakukan di Puskesmas karena termasuk salah satu upaya kesehatan wajib puskesmas dengan tujuan untuk mencegah dan memberantas penyakit menular sesuai dengan target dan ketentuan Menteri Kesehatan yaitu sebesar 82% .

Promosi kesehatan merupakan proses pendidikan kesehatan yang diimplementasikan. Berdasarkan Notoatmodjo (2003), pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan orang atau keluarga dalam masyarakat. Dalam rangka pembinaan dan peningkatan  perilaku kesehatan masyarakat supaya lebih efektif perlu diperhatikan tiga

faktor utama, yaitu: 11 1. Faktor predisposisi

Faktor ini mencakup : pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal  –   hal yang  berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat  pendidikan, dan tingkat sosial ekonomi.

2. Faktor pemungkin

Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana fasilitas kesehatan bagi masyarakat. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik,  posyandu, polindes, dokter, bidan praktek swasta, dan sebagainya.

3. Faktor penguat

Faktor –  faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Termasuk juga di sini undang-undang, peraturan  –  peraturan  baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan

(35)

kesehatan. Untuk berperilaku sehat, masyarakat kadang  –  kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif serta dukungan fasilitas.

kesehaan saja melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas terutama petugas kesehatan.

4.2 Kerangka Teori Promosi Kesehatan Imunisasi Dasar

Sistem kesehatan adalah kumpulan dari berbagai faktor yang kompleks dan saling berhubungan yang terdapat dalam suatu negara, yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok ataupun masyarakat pada setiap saat yang dibutuhkan.12

Sistem terbentuk dari bagian atau elemen yang saling berhubungan dan mempengaruhi, dimana bagian atau elemen tersebut ialah sesuatu yang mutlak harus harus ditemukan. 13

- Sarana - P1 Cakupan Target

 program

- Prasarana - P2 Imunisasi Dasar

- Tenaga - P3

- Dana

Lingkungan

Gambar 4.1. Kerangka teori program bayi mendapat Imunisasi dasar Keterangan :

P1: Perencanaan

P2: Penggerakan Pelaksanaan (kerjasama) P3: Monitoring dan evaluasi

(36)

Bagian atau elemen suatu sistem dapat dikelompokkan dalam enam unsur, yaitu:13

1. Masukan

Masukan (input) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem. Masukan ini dikenal pula dengan nama perangkat manajemen (tools of administration). Masukan tersebut banyak macamnya. Beberapa diantaranya yang terpenting adalah sumber (sumber tenaga, sumber modal), prosedur, dan kesanggupan (capacity) atau keadaan fisik, mental, dan biologis tenaga pelaksana.

2. Proses

Proses ( Process) adalah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. Proses adalah langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pada umumnya proses ini merupakan tanggung jawab pimpinan.

3. Keluaran

Keluaran (output ) adalah kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari  berlangsungnya proses dalam sistem.

4. Umpan Balik

Umpan Balik ( feed back ) adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.

5. Dampak

Dampak (impact ) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem. 6. Lingkungan

Lingkungan (environtment ) adalah dunia diluar sistem yang tidak dikelola oleh sistem tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap sistem.

(37)

4.3 Perencanaan Program Promosi Kesehatan Untuk Menunjang Bayi Sehat di Puskesmas Kenten

4.3.1 Diagnosis Sosial

a. Beberapa ibu bekerja sehingga tidak sempat untuk membawa bayinya mendapatkan imunisasi

 b. Banyaknya mitos atau kepercayaan yang salah berkembang di kalangan ibu-ibu tentang imunisasi yang akhirnya mempengaruhi pemberian imunisasi pada bayi

c. Masih ada ibu yang melahirkan dengan dukun yang mempengaruhi  pemberian imunisasi

4.3.2 Diagnosis Epidemiologi

Persentase bayi yang mendapatkan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Kenten yakni sebesar 90-97%, namun diupayakan untuk menjadi 100% demi mewujudkan bayi Indonesia Sehat.

4.3.3 Diagnosis Perilaku dan Lingkungan 1. Diagnosis Perilaku

a. Banyak Ibu yang kurang atau belum mengetahui manfaat imunisasi pada  bayinya

 b. Kurangnya kesadaran ibu untuk membawa anaknya mendapatkan imunisasi hingga usia 1 tahun

2. Diagnosis Lingkungan

a. Kurangnya sarana dan prasarana kesehatan di Puskesmas Kenten yang mendukung keberhasilan Imunisasi dasar

 b. Kurangnya poster-poster mengenai Imunisasi dasar di tempat-tempat strategis di wilayah kerja puskesmas Kenten.

(38)

4.3.4 Diagnosis Pendidikan dan Organisasi 4.3.4.1 Faktor predisposisi ( predisposing factors)

a. Beberapa ibu meyakini bahwa pemberian imunisasi berbahaya bagi kesehatan bayi

 b. Beberapa ibu meyakini dengan pemberian ASI dan makanan tambahan saja sudah cukup untuk mencegah penyakit menular pada bayinya c. Para ibu meyakini bahwa vaksin imunisasi tidak halal (terbuat dari

 babi)

d. Beberapa ibu meyakini bahwa imunisasi dapat menyebabkan autisme  pada anak

4.3.4.2 Faktor pemungkin (enabling factors)

a. Kurang tersedianya sarana kesehatan yang dapat dijangkau dengan mudah oleh ibu-ibu seperti posyandu atau puskesmas

 b. Belum tersedianya fasilitas yang memadai di tempat posyandu

c. Masih terdapatnya kader yang meminta pungutan liar atau bayaran terhadap ibu

4.3.4.3 Faktor penguat (reinforcing factors)

a. Kurangnya partisipasi tokoh masyarakat, tokoh agama, petugas Puskesmas, Bidan Desa, dan Kader kesehatan mengenai penyuksesan  program imunisasi.

 b. Kurang ramahnya petugas kesehatan atau kader terhadap ibu dan  bayi

c. Efek samping yang timbul setelah bayi diimunisasi

4.3.5 Diagnosis Administrasi dan Kebijakaan 1. Sumber daya

a. Pihak Dinas Kesehatan Kota Palembang dan Puskesmas Kenten sangat mendukung terwujudnya program “Bayi Sehat”

2. Hambatan

a. Prilaku para ibu yang tidak membawa anaknya untuk diberikan imunisasi dasar lengkap

(39)

 b. Kurangnya komitmen dari Tokoh Masyrakat,Tokoh Agama, Tenaga Kesehatan Puskesmas, Bidan Desa, dan Kader Kesehatan/Ibu-Ibu-PKK terhadap keberlangsungan program promosi kesehatan Imunisasi dasar. 3. Kebijakan

a. Pemerintah pusat dan daerah telah mengeluarkan peraturan mengenai Imunisasi.

4.4 Implementasi/penerapan

4.4.1 Metode Penentuan Prioritas Masalah

Dalam rangka mewujudkan promosi kesehatan mengenai Imunisasi di Wilayah Puskesmas Kenten diperlukan serangkaian program untuk menyelesaikan masalah tersebut. Namun, tidak semua masalah tersebut dapat diatasi secara bersamaan. Oleh karena itu, kita harus menentukan terlebih dahulu masalah mana yang harus diprioritaskan. Dalam hal ini,  pemilihan prioritas masalah dilakukan dengan metode USG.

Tabel 4.1 Tabel Metode USG

Masalah U S G Total

Beberapa ibu bekerja sehingga tidak sempat untuk membawa  bayinya mendapatkan imunisasi

2 2 3 12

Banyaknya mitos atau kepercayaan yang salah berkembang di kalangan ibu-ibu tentang imunisasi yang akhirnya mempengaruhi pemberian imunisasi pada bayi

2 3 4 24

Masih ada ibu yang melahirkan dengan dukun yang mempengaruhi pemberian imunisasi

2 3 2 12

Persentase bayi yang mendapatkan Imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Kenten yakni sebesar 90-97% dan belum mencapai 100%.

3 4 4 48

Banyak Ibu yang kurang atau belum mengetahui manfaat imunisasi pada bayinya

3 4 4 48

(40)

mendapatkan imunisasi hingga usia 1 tahun

Kurangnya sarana dan prasarana kesehatan di Puskesmas Kenten yang mendukung keberhasilan Imunisasi dasar

3 3 3 27

Kurangnya poster-poster mengenai Imunisasi dasar di tempat-tempat strategis di wilayah kerja puskesmas Kenten.

2 4 3 24

Kurangnya iklan di tv atau radio mengenai imunisasi dasar lengkap

2 3 3 18

Beberapa ibu meyakini bahwa pemberian imunisasi berbahaya bagi kesehatan bayi

4 4 4 64

Beberapa ibu meyakini dengan pemberian ASI dan makanan tambahan saja sudah cukup untuk mencegah penyakit menular  pada bayinya

4 3 3 36

Para ibu meyakini bahwa vaksin imunisasi tidak halal (terbuat dari babi)

2 3 4 24

Beberapa ibu meyakini bahwa imunisasi dapat menyebabkan autisme pada anak

2 3 4 24

Belum tersedianya sarana kesehatan yang dapat dijangkau dengan mudah oleh ibu-ibu seperti posyandu atau puskesmas

2 3 3 18

Belum tersedianya fasilitas yang memadai di tempat posyandu 3 3 3 27 Masih terdapatnya kader yang meminta pungutan liar atau

 bayaran terhadap ibu

3 3 4 36

Kurangnya partisipasi tokoh masyarakat, tokoh agama, petugas Puskesmas, Bidan Desa, dan Kader kesehatan mengenai  penyuksesan program imunisasi.

3 3 4 36

Kurang ramahnya petugas kesehatan atau kader terhadap ibu dan bayi

2 3 3 18

Efek samping yang timbul setelah bayi diimunisasi 2 3 3 18 Dari metode ini, maka prioritas utama dalam permasalahan di atas

adalah beberapa ibu meyakini bahwa pemberian imunisasi berbahaya bagi kesehatan bayi.

(41)

DR. Kaoru Ishikawa mengemukakan bahwa suatu masalah ser ingkali disebabkan oleh masalah yang lain. Hal ini dapat digambarkan dalam diagram tulang ikan ( Fishbone diagram) atau diagram pohon. Salah satu sasaran upaya promosi kesehatan bayi mendapat Imunisasi Dasar adalah  pengetahuan ibu mengenai manfaat dan keamanan dari Imunisasi, dapat diketahui dengan menggunakan  Fishbone diagram  seperti tertera dalam gambar berikut

Gambar 4.2 Fish Bone Diagram

4.4.2 Komponen Promosi Kesehatan

Upaya yang dilakukan dalam promosi kesehatan imunisasi dasar di wilayah kerja Puskesmas Kenten untuk menunjang bayi Indonesia sehat adalah sebagai berikut :

1. Program sosialisasi mengenai Imunisasi Dasar

2. Program Pelatihan Konseling Imunisasi pada Tenaga dan Kader Kesehatan

3. Program Melahirkan Gratis dengan Imunisasi

Sarana

Beberapa ibu meyakini dengan pemberian ASI dan makanan tambahan saja sudah cukup untuk mencegah penyakit Kurangnya iklan di tv atau radio mengenai imunisasi dasar lengkap Beberapa ibu meyakini bahwa pemberian imunisasi berbahaya bagi kesehatan bayi

Ibu meyakini imunisasi dapat menyebabkan autisme pada anak

man

Man Masih ada ibu yang melahirkan dengan dukun yang mempengaruhi pemberian imunisasi

Banyaknya mitos atau kepercayaan yang salah berkembang di kalangan ibu-ibu tentang imunisasi

Lingkungan Kurangnya perhatian dan informasi bagi petugas kesehatan mengenai imunisasi

(42)

Rincian pelaksanaan masing-masing promosi kesehatan diatas dapat dilihat dibawah ini :

1. Program sosialisasi mengenai Imunisasi dasar a. Tujuan

1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama para ibu mengenai manfaat dan pentingnya Imunisasi

2. Meningkatkan cakupan pemberian Imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Kenten.

3. Terwujudnya kesadaran ibu-ibu mengenai pemberian imunisasi  pada bayinya

4. Terbentuknya sistem pendukung yang baik bagi terlaksananya  pemberian Imunisasi, baik dari suami, keluarga, dan

masyarakat. b. Sasaran

1. Sasaran primer (pemberdayaan masyarakat) : Para ibu terutama ibu yang memiliki bayi, ibu hamil, ibu, remaja putri di wilayah kerja Puskesmas Kenten.

2. Sasaran sekunder (dukungan) : suami, keluarga, warga masyarakat, tokoh masyarakat, tokoh agama yang akan mempermudah sosialisasi Imunisasi.

3. Sasaran tersier (advokasi) : dukungan dari pembuat kebijakan dan sarana dan prasarana mulai dari RT hingga ke tingkat kota Palembang.

c. Isi

1. Imunisasi merupakan zat kekebalan yang mengandung kuman yang dilemahkan. Zat ini tidak berbahaya melainkan membantu  bagi tubuh sang bayi untuh membentuk sistem kekebalan tubuh sendiri agar terhindar dari penyakit menular seperti Diphteri, Tetanus, Pertusis, Campak, Polio, tuberkulosis dan hepatitis.

Gambar

Gambar 2.2 Potongan Lintang Paha : Menunjukkan Bagian Yang Disuntik Lokasi suntikan pada vastus lateralis
Gambar 2.3 Lokasi Penyuntikan Subkutan Pada Bayi (a) dan Anak Besar (b) Perhatian untuk penyuntikan intramuscular
Gambar 2.4. Jadwal Imunisasi 2008 menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDAI)
Tabel 3.1. Jumlah Penduduk wilayah kerja Puskesmas Kenten
+4

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mendukung dan mendorong kegiatan dalam kerangka Komite Konsultasi di bidang Pertanian dapat berlangsung secara berkesinambungan dan agar terjadi pertukaran

namun mempunyai arti yang sangat penting dalam sistem tata kelola perusahaan maupun dalam aspek manajerial dan investasi dalam suatu organisasi baik organisasi laba

Mahasiswa peternakan STIPER Kutim dapat dengan leluasa melakukan kegiatan praktikum tanpa dihalangi oleh masalah minimnya atau tidak adanya fasilitas, hal tersebut

JUDUL : USIA LANJUT, SEMANGAT TAK PERNAH SURUT MEDIA : SUARA MERDEKA. TANGGAL : 22

Pada makalah ini penulis akan mencoba mengetengahkan salah satu metode pembelajaran, yakni metode CTL (Contextual Teaching Learning) yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang

Customer Relationship Management and Use of Mobile and Cloud Technologies in 3PL Sales Processes Third-party logistics providers are continuously looking for ways to improve

Deliberative approach focuses on role play, simulation, debate, presentation and speech. Those approaches follows the standard of steps in teaching

Selama periode tahun 2010-2016, peningkatan PDRB ekonomi kreatif atas dasar harga konstan menggambarkan peningkatan volume nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan