• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Hasil SSP 2003 Sumatera Selatan. iii. iii

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Hasil SSP 2003 Sumatera Selatan. iii. iii"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Kata Pengantar

Badan Pusat Statistik (BPS) dipercaya oleh Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen PPM & PL) – Departemen Kesehatan dan Proyek Aksi Stop AIDS (ASA) yang didukung oleh Family Health International dan the United State AID (FHI & USAID) untuk melaksanakan “Behavioral Surveilans Survey (BSS) di Indonesia. BSS yang selanjutnya di Indonesiakan dengan nama Survei Surveilans Perilaku (SSP) dilaksanakan di 12 lokasi terpilih dan terletak di 10 propinsi yang menjadi target wilayah kerja ASA/FHI.

SSP merupakan suatu kegiatan baru bagi BPS, untuk itu pelaksanaannya dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama yang merupakan tahap pengembangan dan sekaligus pembelajaran dilaksanakan antara bulan Juni-Agustus 2002, mencakup 3 lokasi di 3 propinsi, yaitu Kota Medan/Kabupaten Deli Serdang (Sumatera Utara), Kabupaten Kepulauan Riau (Riau), dan Jakarta Utara/Jakarta Pusat (DKI Jakarta).

Tahap kedua yang merupakan tahap implementasi mencakup 9 lokasi (di 7 propinsi), dilaksanakan dalam 2 periode pelaksanaan, yaitu pada bulan Oktober 2002 di Kabupaten Karawang/Kabupaten Bekasi/Kota Bekasi (Jawa Barat), Kota Surabaya (Jawa Timur), Kota Manado/Kota Bitung (Sulawesi Utara), Kabupaten Merauke (Papua), dan pada bulan Februari-April 2003 di Kota Palembang (Sumatera Selatan), Kota Semarang (Jawa Tengah), Kota Jayapura (Papua), Kota Sorong (Papua), dan Kota Ambon (Maluku).

Secara teknis penyelenggaraan SSP dibantu oleh ASA/FHI, Direktorat Pemberantasan Penyakit Menular dan Lingkungan (Dit. P2ML) – Ditjen PPM & PL, Departemen Kesehatan, dan Population Council. Tim teknis dari ASA/FHI, Dit. P2ML, dan BPS secara bersama-sama menyusun metodologi, manual, dan kuesioner, termasuk menjadi tim instruktur dan supervisi, sedangkan Population Council membantu antara lain dalam penyiapan materi/manual pelatihan untuk instruktur, memberikan pelatihan instruktur, dan sebagai narasumber ahli mulai dari penyusunan instrumen sampai dengan pelaksanaan lapangan SSP tahap pertama.

Pelaksanaan SSP juga dibantu oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di tingkat pusat, dan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) di tingkat propinsi dan kabupaten/kota, serta dari Dinas terkait di daerah, khususnya Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Sosial, Dinas Pariwisata, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di tingkat kabupaten/kota.

Pimpinan BPS menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada pimpinan ASA/FHI dan USAID Jakarta, pimpinan Ditjen PPM & PL, dan pimpinan Population Council yang telah mendukung terselenggaranya survei ini. Ucapan terima kasih kami sampaikan pula kepada tim teknis SSP, khususnya Elizabeth Pisani dan Pandu Riono dari ASA/FHI, Saiful Jazan, Naning Nugrahini, dan Indrawati dari Dit. P2ML, serta seluruh anggota tim teknis dari BPS.

Semoga buku ini memberi kontribusi yang berarti bagi upaya penanggulangan penyebaran HIV/AIDS, khususnya di Indonesia.

Jakarta, Juni 2003

Kepala Badan Pusat Statistik

(4)

Kata Pengantar

Pada saat ini, Indonesia tengah menghadapi berbagai masalah kesehatan masyarakat yang sangat memprihatinkan. Salah satu diantaranya adalah memburuknya situasi epidemik HIV/AIDS dimana Indonesia sudah digolongkan sebagai Negara dengan “concentrated level epidemic”. Artinya prevalensi HIV/AIDS sudah mencapai 5 % atau lebih pada tempat-tempat dan kelompok sub populasi tertentu.

Banyak upaya-upaya yang telah dilakukan baik oleh pemerintah maupun swasta dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia namun upaya-upaya tersebut tampaknya kurang memadai dan menjangkau sasaran. Menyadari hal tersebut Departemen Kesehatan menyambut dengan gembira hasil Keputusan Lokakarya Surveilans Nasional HIV di Jakarta pada bulan April 2001, yang antara lain merekomendasikan perlunya pengembangan Survei Surveilans Perilaku pada kelompok-kelompok tertentu untuk keperluan perencanaan, deteksi dini dan untuk mendapatkan informasi untuk melaksanakan kegiatan upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.

Pada tahap uji coba pengembangan alat untuk melakukan Survei Surveilans Perilaku ini, Departemen Kesehatan mengucapkan terima kasih atas dukungan teknis dari ASA/FHI Indonesia, IHPCP (AusAID), Prof. Budi Utomo dari Population Council dan Badan Pusat Statistik sebagai pelaksana survei.

Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada semua pihak baik secara perorangan maupun secara kelembagaan, yang telah berpartisipasi pada pelaksanaan Survei Surveilans Perilaku ini.

Pada akhirnya saya berharap semoga laporan hasil Pelaksanaan Survei Surveilans Perilaku ini dapat bermanfaat dan ditindak lanjuti dengan Upaya Penanggulangan HIV/AIDS yang lebih nyata baik oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Jakarta, Mei 2003

Direktur Jenderal PPM & PL, Depkes RI

(5)

Daftar Isi

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

iii

Daftar Gambar

v

Tabel Indikator Kunci

vii

1. Pendahuluan

1

Latar Belakang 1

Survei Surveilans Perilaku 1

Sasaran Survei 2

Metode Survei 3

Sketsa Lokasi 5

2. Karakteristik Sosial dan Demografi

7

Struktur Umur 7

Status Perkawinan 7

Tingkat Pendidikan 8

Daerah Asal 8

Mobilitas 9

Umur Pertama Kali Berhubungan Seks 9

Lama Bekerja 10

Tarif 10

Rata-rata Pendapatan 11

3. Pengetahuan tentang HIV/AIDS

13

Pernah Mendengar HIV/AIDS 13

Pengetahuan mengenai HIV/AIDS 13

Cara tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular HIV/AIDS 14 Pemahaman tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS 14 Miskonsepsi tentang Cara Pencegahan IMS atau HIV/AIDS 17

(6)

4. Persepsi Berisiko

19

Merasa Berisiko 19

Persepsi Tidak Berisiko di antara Kelompok Berisiko 19 Hubungan antara Merasa Berisiko dengan Tingkat Pendidikan 20

5. Pola Perilaku Berisiko

23

Penggunaan Kondom 23

Antara Pengetahuan dan Perilaku 24

Seks Anal dan Narkoba 26

6. IMS dan Perilaku Pencarian Pengobatan

29

Infeksi Menular Seksual (IMS) 29

Jenis Keluhan IMS 30

Tempat Berobat 30

7. Kesimpulan dan Saran

33

Pengetahuan dan Persepsi Berisiko 33

Perilaku Berisiko dan Kondom 34

Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan 34

(7)

Daftar Gambar

Gambar Judul Gambar

2.1 Struktur Umur Responden 2.2 Tingkat Pendidikan Responden 2.3 Propinsi Asal Responden

2.4 Pasangan Seks Pertama Kali pada Responden Pria

2.5 Rata-rata Uang Jasa Seks Komersial pada Hubungan Seks yang Terakhir 3.1 Responden yang Pernah Mendengar HIV/AIDS

3.2 Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS

3.3 Tingkat Pengetahuan tentang Cara yang Tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular HIV/AIDS

3.4 Cara yang Diketahui agar Tidak Tertular HIV/AIDS

3.5 Tingkat Pengetahuan Responden Pria tentang Penggunaan Kondom Dapat Mencegah Tertular HIV/AIDS

3.6 Pengetahuan yang Salah tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS 4.1 Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS

4.2 Responden yang Tidak Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Alasannya 4.3 Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Tingkat Pendidikan 5.1 Tingkat Penggunaan Kondom pada Seks Komersial

5.2 Tahu bahwa Kondom dapat Mencegah Penularan HIV/AIDS tetapi Tidak Menawarkan dan Tidak Memakainya dalam Hubungan Seks Komersial Terakhir 5.3 Responden Pria yang Tahu Pencegahan HIV/AIDS tetapi Tidak Menerapkannya

dalam Hubungan Seksual

5.4 Alasan Tidak Menggunakan Kondom pada Seks Komersial Terakhir

5.5 Responden dan Masing-masing Pasangan Seksnya yang Pernah Menggunakan Narkoba Suntik

6.1 Pemakaian Kondom pada Responden yang Mengalami Gejala IMS 6.2 Jenis Keluhan IMS

6.3 Responden yang Pernah Mengalami Gejala IMS dan Cara yang Dilakukan saat Mengalami Gejala IMS tersebut

(8)
(9)

Tabel Indikator Kunci

Indikator WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria

1. Persentase yang pernah mendengar HIV/AIDS 85,6 94,0 87,8 2. Persentase yang mengetahui cara pencegahan dengan

menggunakan kondom saat berhubungan seks 54,4 72,5 58,5 3. Persentase yang pernah berhubungan seks dengan WPS

dalam setahun terakhir - - 42,5

4. Persentase yang mempunyai lebih dari satu pasangan

seks dalam setahun terakhir - - 40,8

5. Rata-rata jumlah tamu/pelanggan yang dilayani dalam

seminggu terakhir 6,8 5,8 -

6. Persentase yang menggunakan kondom pada seks

komersial terakhir 32,5 58,2 17,7

7. Persentase yang selalu menggunakan kondom pada seks komersial dalam setahun terakhir untuk

responden pria dan seminggu terakhir untuk WPS 7,8 23,6 3,6 8. Persentase yang pernah menggunakan narkoba suntik 2,8 5,0 0,0

9. Persentase yang mengalami gejala infeksi menular

seksual (IMS) dalam setahun terakhir 19,2 17,5 13,0

10. Persentase yang berobat ke petugas kesehatan bagi

(10)
(11)

1

Pendahuluan

Latar Belakang

Epidemi HIV/AIDS telah melanda dunia, tidak terkecuali Indonesia. Penyakit ini menyebar dengan cepat tanpa mengenal batas negara dan pada semua lapisan penduduk. Badan Dunia (PBB) menyatakan bahwa pada tahun 1999 AIDS telah merupakan penyebab kematian nomor 4 di dunia setelah penyakit jantung, hipertensi/stroke, dan infeksi pernapasan. Melihat kecenderungannya, maka bukan tidak mungkin penyakit ini nantinya akan menjadi pembunuh nomor 1 di dunia.

Secara nasional prevalensi HIV/AIDS di Indonesia mungkin masih tergolong rendah dibandingkan dengan banyak negara lainnya. Namun demikian, perkembangan kasus yang muncul dalam beberapa tahun terakhir sangat mengkhawatirkan, khususnya yang ditemukan pada penduduk berisiko tinggi seperti penjaja seks dan pelanggannya, pria yang berhubungan dengan pria, dan pengguna narkoba suntik.

Kecepatan penyebaran virus HIV terutama dipengaruhi oleh perilaku berisiko tinggi, dan upaya pencegahannya terutama juga diarahkan pada perubahan perilaku, antara lain mencakup peningkatan penggunaan kondom dan pengurangan jumlah pasangan seksual, serta penurunan pemakaian bersama atau bergantian alat/jarum suntik pada pemakai narkoba.

Survei Surveilans Perilaku

Surveilans HIV generasi kedua adalah surveilans yang memadukan surveilans perilaku ke dalam surveilans serologik HIV. Dalam hal ini, surveilans perilaku memperkuat surveilans serologi. Informasi hasil surveilans serologi akan semakin bermanfaat dengan adanya surveilans perilaku. Manfaat tersebut antara lain, dalam menumbuhkan perhatian, dan respon masyarakat terhadap pencegahan HIV, menentukan kelompok populasi sasaran, menentukan cara pencegahan, merencanakan upaya penanggulangan, dan memantau keberhasilan program.

Sampai saat ini, kegiatan surveilans HIV dibatasi hanya untuk mengetahui keberadaan virus HIV dalam sampel darah responden, yang biasa disebut surveilans serologi. Namun, bila sistem surveilans HIV hanya mencatat peningkatan prevalensi HIV, maka peluang pencegahan yang efektif telah hilang. Menerapkan surveilans perilaku di Indonesia merupakan upaya yang sangat bermanfaat untuk pencegahan epidemi HIV, karena epidemi HIV di Indonesia relatif masih belum berkembang. Prevalensi HIV masih rendah di banyak tempat, dan peluang untuk berkembangnya epidemi HIV masih dapat dicegah. Agar pencegahan lebih efektif maka sumber daya perlu dikonsentrasikan pada perubahan perilaku berisiko.

Meskipun prevalensi HIV/AIDS di Indonesia masih tergolong rendah, namun perkem-bangannya sudah mengkhawatirkan Surveilans generasi kedua yang memadukan surveilans perilaku ke dalam surveilans serologi akan memberikan informasi yang lebih komprehensif sebagai dasar bagi pengembangan kebijakan penanggulangan HIV/AIDS

(12)

Manfaat Surveilans perilaku sebagai “sistem peringatan dini” dapat memberikan informasi tentang perilaku berisiko, dan masyarakat yang berperilaku berisiko.

Surveilans HIV generasi kedua juga menekankan pada pemanfaatan hasil surveilans untuk menunjang upaya penanggulangan HIV/AIDS. Informasi SSP dapat membantu mengidentifikasi masyarakat yang mempunyai risiko terinfeksi HIV. Pemahaman ini diharapkan dapat membantu perencanaan intervensi penanggulangan, baik berupa upaya pencegahan, pengobatan maupun dukungan. Dalam perspektif yang lebih luas, surveilans HIV generasi kedua diharapkan menyediakan informasi yang dibutuhkan sebagai dasar pengembangan kebijakan penanggulangan HIV/AIDS yang lebih efektif.

Sasaran Survei

Untuk wanita, kelompok berperilaku berisiko tinggi adalah wanita yang paling sering berganti pasangan seks, seperti penjaja seks komersial yang melakukan transaksi secara terbuka di tempat lokalisasi/rumah bordil atau di jalanan (wanita pekeja seks langsung) dan wanita yang melayani seks pelanggannya untuk memperoleh tambahan pendapatan di tempat ia bekerja, seperti wanita yang bekerja di panti pijat/salon/spa, bar/karaoke/ diskotek/café/restoran, dan hotel/motel/cottage (wanita penjaja seks tidak langsung).

Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa laki-laki yang bekerja dan harus meninggalkan rumah atau keluarga dalam jangka waktu cukup lama adalah laki-laki yang cenderung membeli jasa seks dan atau mempunyai pasangan seks lain selain isteri/pasangan tetapnya.

Survei Surveilans Perilaku (SSP) 2003 di Indonesia termasuk di Propinsi Sumatera Selatan yang dilaksanakan bulan Januari-Februari 2003 difokuskan pada pengukuran perilaku penduduk dengan risiko tinggi, yaitu wanita penjaja seks (dibedakan antara penjaja seks langsung dan tidak langsung), dan lelaki yang bekerja sebagai sopir serta kernet truk. Definisi (batasan) mengenai penduduk dengan perilaku berisiko tinggi yang dicakup dalam SSP 2002 adalah sebagai berikut:

• Wanita Penjaja Seks (WPS) Langsung, adalah wanita yang beroperasi secara terbuka sebagai penjaja seks komersial.

• WPS Tidak Langsung, adalah wanita yang beroperasi secara terselubung sebagai penjaja seks komersial, yang biasanya bekerja pada bidang-bidang pekerjaan tertentu, misalnya di salon, panti pijat. • Sopir truk dan kernetnya, adalah laki-laki yang bekerja sebagai sopir

atau kernet truk antar kota. Dalam laporan ini sopir/kernet truk selanjutnya disebut “responden pria”.

Sasaran survei adalah masyarakat yang diduga berperilaku berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS

(13)

Metode Survei

Besar ukuran sampel dirancang untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik masyarakat yang berperilaku dengan risiko tinggi, dan diharapkan dapat mengukur perubahan perilaku tersebut pada survei berikutnya. Penghitungan dengan menggunakan metode “cluster survey” menunjukkan bahwa besarnya sampel sekitar 200 - 400 responden pada setiap sasaran masyarakat berperilaku berisiko tinggi sudah cukup untuk mewakili populasi (representative), termasuk untuk mengukur perubahan perilaku.

Di dalam rancangan sampel ditentukan target sampel lokasi sebanyak 13 lokasi WPS langsung, 20 lokasi WPS tidak langsung, dan 20 lokasi responden pria, namun dalam kenyataannya ketersediaan lokasi sebanyak itu tidak selalu dapat dipenuhi, karena jumlah lokasi yang ada tidak mencapai target.

Realisasi sampel lokasi dan responden untuk setiap sasaran survei di Propinsi Sumatera Selatan dicantumkan dalam tabel berikut ini.

Cakupan wilayah SSP di Propinsi Sumatera Selatan adalah Kota Palembang dengan sasaran survei adalah WPS langsung, WPS tidak langsung, dan responden pria.

Lokasi tersebut ditentukan setelah mendapatkan masukan dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Propinsi Sumatera Selatan, dan Dinas Kesehatan setempat, dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan daerah konsentrasi kegiatan jasa pelayanan seks di Propinsi Sumatera Selatan, sekaligus merupakan daerah sasaran dari Survei Serologi HIV yang dilaksanakan oleh Departemen Kesehatan (Depkes). Dengan dipilihnya Kota Palembang, maka di daerah tersebut diharapkan dapat dikembangkan Surveilans Generasi Kedua.

Tabel Realisasi Sampel Survei Surveilans Perilaku 2002 di Sumatera Selatan

WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria

Kota

Lokasi Responden Lokasi Responden Lokasi Responden

(14)

Perkiraan populasi WPS langsung, WPS tidak langsung, dan responden pria diperoleh dari listing secara independen ke setiap lokasi dengan menggunakan data dasar yang diperoleh dari lembaga pemerintah daerah setempat. Identifikasi lokasi baru beserta populasinya dilakukan dengan cara sistim putaran bola salju (snowballing system). Dalam proses listing dari suatu lokasi ke lokasi lain di lapangan, peta wilayah administratif digunakan untuk operasional lapangan dan dalam peta tersebut digambar letak setiap lokasi secara geografis. Hasil listing ini merupakan kerangka sampel untuk pemilihan lokasi dan penentuan target sampel dalam setiap lokasi.

Pemilihan acak (random sampling) digunakan untuk pemilihan sampel. Karena jumlah lokasi hasil listing untuk WPS dan responden pria lebih kecil dari target yang ditentukan maka pemilihan sampel dilakukan secara sistematik sampling, langsung pemilihan responden (tanpa melalui pemilihan lokasi). Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka antara petugas SSP dengan responden. Bias terhadap hasil SSP telah diupayakan seminimal mungkin.

Metode acak dilakukan pada pemilihan sampel

(15)
(16)
(17)

2

Karakteristik Sosial dan Demografi

Struktur Umur

Struktur umur WPS di Kota Palembang menunjukkan bahwa WPS langsung umumnya lebih muda dibanding WPS tidak langsung. Sebagian besar atau sekitar 82 persen WPS langsung berada pada kelompok usia di bawah 30 tahun, sedangkan pada kelompok WPS tidak langsung sekitar 52 persen berada pada kelompok umur yang sama. WPS langsung mempunyai rata-rata usia 25,3 tahun sedangkan WPS tidak langsung adalah 29,7 tahun atau di antara mereka terdapat perbedaan rata-rata umur sekitar 4 tahun. Sementara itu untuk struktur umur responden pria, berada pada usia produktif dengan rata-rata umur 33,6 tahun.

Status Perkawinan

Sebagian besar responden pria (79,2 persen) berstatus kawin dan sekitar 19,5 persen berstatus belum kawin, sementara yang berstatus cerai hanya sedikit sekali (1,3 persen). Sebanyak 40,4 persen responden pria yang berstatus kawin pernah membeli seks dalam setahun terakhir sementara diantara yang belum kawin sekitar 50,6 persen yang pernah membeli seks dalam setahun terakhir. Besarnya persentase pelanggan seks yang berstatus kawin menunjukkan bahwa penyebaran penyakit kelamin dan HIV ke dalam lingkungan keluarga cukup potensial.

Gambar 2.1. Struktur Umur Responden

Rata-rata umur WPS langsung lebih muda dibanding WPS tidak langsung Separuh responden pria belum kawin yang menjadi pelanggan WPS 10 3 40 16 16 32 32 19 6 20 47 4 15 29 12 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen

(18)

Sebagian besar WPS, baik WPS langsung maupun WPS tidak langsung berstatus cerai, yaitu masing-masing 74,7 persen pada WPS langsung dan 73,4 persen untuk WPS tidak langsung. Diantara WPS langsung terdapat 21 persen yang menyatakan belum kawin, sementara persentase WPS tidak langsung yang menyatakan belum kawin atau kawin masing-masing sekitar 13 persen.

Tingkat Pendidikan

Sebagian besar WPS berpendidikan rendah (tamat SD atau kurang). WPS yang berpendidikan rendah lebih banyak terdapat pada kelompok WPS langsung daripada WPS tidak langsung. Dua pertiga (66,0 persen) dari kelompok WPS langsung berpendidikan paling tinggi tamat SD, sedangkan kelompok WPS tidak langsung yang tingkat pendidikannya sama ada sebanyak 54,5 persen. Secara umum WPS tidak langsung berpendidikan lebih tinggi dibanding WPS langsung.

Lebih dari separuh responden pria mempunyai pendidikan cukup tinggi, yaitu sekitar 55 persen berpendidikan SLTP ke atas. Responden pria yang tidak tamat SD hanya sebagian kecil, yaitu 11,2 persen.

Daerah Asal

Lebih dari 20 persen WPS langsung berasal dari Propinsi Sumatera Selatan. WPS langsung yang bukan berasal dari Propinsi Sumatera Selatan kebanyakan berasal dari Jawa Barat (45,2 persen), Jawa Tengah (18,0 persen), Jawa Timur (5,6 persen) dan Lampung (4,8 persen).

Gambar 2.2. Tingkat Pendidikan Responden

WPS pada umumnya berpendidikan rendah Sebagian besar WPS adalah pendatang, sedangkan mayoritas responden pria berasal

19 14 47 41 34 8 18 18 11 26 28 37 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen

(19)

(28,0 persen), Jawa Tengah (18,5 persen), Jawa Timur (8,0 persen) dan Lampung (6,0 persen). Pola yang sama terlihat juga pada kelompok pelanggan. Mayoritas responden pria berasal dari penduduk Sumatera Selatan (67,8 persen), sedangkan responden pria yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung masing-masing kurang dari 6 persen.

Mobilitas

Mobilitas penjaja seks dan responden pria cukup tinggi, yaitu berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain, bahkan dari satu kota ke kota lain. Kurang dari sepertiga WPS (langsung dan tidak langsung) menyatakan pernah bekerja sebagai WPS di kota/daerah lain. Ini menunjukkan bahwa mobilitas WPS di Kota Palembang adalah cukup tinggi.

Hasil SSP 2002 menunjukkan bahwa hampir semua responden pria (98,8 persen) yang pernah berhubungan seks komersial selama setahun terakhir pernah melakukannya di luar Kota Palembang.

Umur Pertama Kali Berhubungan Seks

Rata-rata usia responden pria saat pertama kali berhubungan seks masih relatif muda yaitu 21,2 tahun. Bila dikaitkan dengan rata-rata usia mereka sekarang yaitu 33,6 tahun maka dapat dikatakan bahwa para responden pria di Kota Palembang telah melakukan hubungan seks rata-rata selama sekitar 12 tahun.

Jika dilihat dengan siapa mereka pertama kali berhubungan seks, ternyata sekitar 23 persen berhubungan seks pertama kali dengan WPS. Persentase ini lebih kecil dibandingkan dengan berhubungan seks pertama kali dengan istri (49,1 persen) dan dengan pacar/kekasih (24,5 persen).

Gambar 2.3. Propinsi Asal Responden

Kurang dari sepertiga WPS pernah kerja di daerah lain

Usia ketika pertama kali berhubungan seks pada responden pria relatif muda

22 30 68 18 18 3 6 8 2 23 45 28 4 16 9 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen

(20)

Lama Bekerja

Untuk penjaja seks lama masa kerja sebagai penjaja seks penting diketahui. Semakin lama bekerja sebagai penjaja seks semakin besar kemungkinan untuk melayani pelanggan yang telah terinfeksi HIV.

Terdapat perbedaan yang cukup tinggi dalam lama menjual seks antara WPS langsung dan tidak langsung. Secara rata-rata WPS langsung sudah menjalani pekerjaannya selama 34 bulan, atau 3 tahun kurang 2 bulan sedangkan WPS tidak langsung sudah menjalaninya selama 45 bulan atau 4 tahun kurang 3 bulan.

Faktor lain yang mempengaruhi risiko penularan HIV pada WPS adalah jumlah pelanggan. Rata-rata jumlah pelanggan yang dilayani dalam seminggu (seminggu terakhir) pada WPS langsung adalah 6 hingga 7 orang dan WPS tidak langsung adalah 5 hingga 6 orang atau tidak terdapat perbedaan yang nyata. Sementara itu, di antara responden pria yang pernah berhubungan seks dengan WPS, rata-rata frekuensi berhubungan seks dengan WPS dalam setahun terakhir, hampir 3 kali.

Tarif

Rata-rata uang yang diterima (sebagai pendekatan tarif) oleh WPS tidak langsung jauh lebih tinggi dibandingkan yang diterima WPS langsung. Hal ini tercermin dari rata-rata besarnya uang yang diterima pada hubungan seks komersial terakhir, yaitu sebesar Rp 82,5 ribu oleh WPS langsung dan Rp 147,1 ribu oleh WPS tidak langsung.

Pelanggan WPS tidak langsung pada umumnya mereka yang mempunyai cukup uang, dapat diduga bahwa mereka rata-rata berpendidikan relatif tinggi dan mempunyai pengetahuan serta kesadaran untuk membeli seks

Gambar 2.4. Pasangan Seks Pertama Kali pada Responden Pria

Ada perbedaan tarif yang cukup tinggi antara WPS langsung dan WPS tidak langsung 49 24 3 23 1 0 10 20 30 40 50 60

Istri Pacar/kekasih Kenalan/teman WPS Lainnya

Pe

rs

(21)

Dari gambar di atas terlihat bahwa rata-rata uang yang dibayarkan oleh responden pria lebih rendah dibandingkan uang yang diterima oleh WPS, yaitu sekitar Rp 43,4 ribu. Dari gambaran ini dapat disimpulkan bahwa responden pria umumnya adalah pelanggan dari WPS langsung.

Rata-rata Pendapatan

Dengan menghubungkan rata-rata banyaknya pelanggan dan besarnya uang yang diterima maka dapat diperkirakan besarnya pendapatan rata-rata WPS. Rata-rata-rata pendapatan WPS langsung dalam seminggu adalah sekitar Rp 562 ribu atau Rp 1,7 juta sebulan, sedangkan rata-rata pendapatan WPS tidak langsung adalah sekitar Rp 860 ribu seminggu atau Rp 2,6 juta sebulan (dengan asumsi rata-rata hari kerja sebanyak 3 minggu dalam sebulan).

Besarnya pendapatan ini jauh lebih tinggi dari rata-rata upah minimum yang diterima buruh/karyawan yang bekerja di Sumatera Selatan , yaitu sebesar Rp 332 ribu per bulan (BPS 2003, Indikator Tingkat Hidup

Pekerja 2000-2002).

Dibandingkan dengan pendapatan (upah) rata-rata pendapatan karyawan di Palembang, sebesar Rp 790 ribu per bulan (BPS, diolah dari data

Susenas 2002), maka rata-rata penghasilan kotor seorang WPS, terutama

WPS tidak langsung memang jauh lebih besar.

Gambar 2.5. Rata-rata Uang Jasa Seks Komersial pada Hubungan Seks yang Terakhir

Terdapat perbedaan pendapatan yang tajam antara WPS langsung dan WPS tidak langsung 83 147 43 0 20 40 60 80 100 120 140 160 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Ribuan Rp

(22)
(23)

3

Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Pernah Mendengar HIV/AIDS

Tingkat pengetahuan tidak selalu berkorelasi dengan perilaku sehat, namun demikian cara penularan HIV dan cara menghindarinya merupakan langkah pertama yang perlu diketahui setiap orang terutama orang-orang dengan perilaku berisiko tinggi. Pengetahuan merupakan salah satu faktor kuat yang menentukan perilaku seseorang, termasuk perilaku dalam melindungi diri sendiri dari ancaman HIV/AIDS.

Hasil SSP di Kota Palembang menunjukkan bahwa lebih dari empat per lima dari setiap kelompok berisiko baik WPS langsung, WPS tidak langsung, dan responden pria pernah mendengar tentang HIV/AIDS. Di antara ketiga kelompok sasaran ini, yang paling tinggi persentasenya adalah WPS tidak langsung (94,0 persen).

Pengetahuan mengenai HIV/AIDS

Pertanyaan lebih jauh kepada responden yang pernah mendengar HIV/AIDS mengenai penyakit tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden memang mengerti arti dari penyakit HIV/AIDS. Hal ini dibuktikan dengan besarnya persentase ketika ditanyakan mengenai pertahuan HIV/AIDS secara detail. Antara 46 hingga 50 persen dari ketiga kelompok sasaran menjawab bahwa HIV/AIDS merupakan penyakit kelamin, sementara sekitar 35 sampai 53 persen lainnya menjawab bahwa HIV/AIDS adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dari ketiga kelompok sasaran hanya sedikit yang menyatakan tidak mengetahui HIV/AIDS meskipun pernah mendengarnya, yaitu kurang dari 10 persen, bahkan pada kelompok WPS tidak langsung hanya 5,0 persen yang menyatakan tidak tahu.

Gambar 3.1. Responden yang Pernah Mendengar HIV/AIDS

Sekitar separuh dari responden yang pernah mendengar HIV/AIDS ternyata mengerti apa itu HIV/AIDS 86 94 88 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen

(24)

Cara Tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular

HIV/AIDS

Tes darah adalah cara yang paling tepat untuk mengetahui apakah seseorang tertular HIV atau tidak. Dari penelusuran lebih jauh tentang pengetahuan kelompok sasaran, ternyata tidak sampai 30 persen responden yang mengetahui cara yang tepat untuk mengetahui apakah seseorang tertular HIV atau tidak. Bahkan pada responden pria hanya sekitar 16 persen yang menjawab dengan benar ketika ditanyakan hal tersebut. Kelompok sasaran yang menyatakan tidak tahu juga sedikit, terutama WPS langsung (16,7 persen), sementara sisanya dengan persentase yang cukup besar memberi jawaban yang salah (lihat Gambar 3.3).

Pemahaman tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS

Pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS juga dapat menuntun untuk melakukan tindak pencegahan yang benar agar seseorang tidak tertular virus mematikan tersebut. Namun dalam kenyataannya, perilaku seseorang tidak selalu sesuai dengan tingkat pengetahuannya.

Untuk mengetahui perbedaan antara pengetahuan “teoritis” dan pengetahuan yang dicerminkan dalam perilaku maka dalam SSP dilakukan dua tahap pertanyaan, yaitu i) meminta responden untuk menjawab secara spontan cara melindungi diri dari HIV dan ii) menelusurinya lebih jauh melalui “probing” (dengan menyebutkan jenis-jenis cara pencegahan HIV).

Paling tidak ada empat cara untuk menghindar dari terjangkit HIV yaitu tidak melakukan hubungan seks sama sekali, menggunakan kondom saat berhubungan seks, menghindari penggunaan jarum suntik bersama, dan hanya berhubungan seks dengan satu pasangan yang belum terinfeksi

Gambar 3.2. Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS

Sebagian besar responden tidak tahu cara tepat untuk mengetahui seseorang telah tertular HIV/AIDS Pemahaman tentang cara menghindari tertular HIV/AIDS masih terbatas 46 48 50 41 53 35 10 5 9 0 10 20 30 40 50 60

WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria

Pe

rs

en

Mengatakan AIDS adalah penyakit kelamin

Mengatakan AIDS penyakit yg tidak bisa disembuhkan Pernah mendengar tapi tdk mengetahui apa itu HIV/AIDS

(25)

Dari keempat cara yang benar tersebut yang paling banyak diungkapkan

secara spontan oleh kalangan WPS adalah menggunakan kondom ketika

berhubungan seks. Jawaban ini terutama diungkapkan oleh WPS tidak langsung (62,5 persen). Sementara itu, jawaban spontan yang paling banyak disampaikan oleh responden pria adalah tidak melakukan hubungan seks, meski proporsinya juga tidak banyak (32,5 persen).

Perilaku seseorang tidak selalu sejalan dengan tingkat pengetahuannya karena berbagai sebab. Misalnya, ketika ditanyakan tentang cara mencegah tertular HIV, secara umum seseorang akan cenderung mengatakan cara melindungi yang paling relevan dengan kebiasaannya. Ini bukan berarti bahwa ia tidak mengerti cara atau metoda lain, tetapi mungkin tidak mempertimbangkan bahwa metoda lain tersebut cocok untuknya.

Penelusuran lebih jauh melalui probing telah menjadikan persentase yang menjawab benar meningkat secara berarti. Peningkatan persentase, terutama terjadi untuk kategori jawaban “berhubungan seks hanya dengan satu pasangan”, yang naik dari 13,0 persen dari jawaban spontan menjadi 67,0 persen ketika dilakukan probing pada WPS tidak langsung. Ini merupakan hal yang menarik, karena angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun kaum perempuan tersebut secara teoritis mempunyai pengetahuan, namun kenyataannya tidak seorang pun di antara mereka yang mempertimbangkannya sebagai cara perlindungan yang menarik bagi mereka.

Gambar 3.3. Tingkat Pengetahuan tentang Cara yang Tepat untuk Mengetahui Seseorang Telah Tertular HIV/AIDS

17 20 26 25 26 16 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen

(26)

Menarik untuk dicatat bahwa jauh lebih banyak penjaja seks (terutama WPS tidak langsung) dibandingkan kaum pria yang secara spontan menyatakan bahwa menggunakan kondom saat berhubungan seks merupakan salah satu cara mencegah tertular HIV. Bahkan di antara kaum pria yang menjadi pelanggan penjaja seks persentase yang menyebutkan secara spontan bahwa penggunaan kondom dapat mencegah tertular HIV juga relatif rendah.

Sebagaimana terlihat pada Gambar 3.5 responden pria di Kota Palembang paling rendah pengetahuannya tentang penggunaan kondom sebagai salah satu cara mencegah tertular HIV dibandingkan responden pria di Semarang (Jawa Tengah) dan Sorong (Papua) pada periode survei yang sama.

Masih sangat sedikit responden pria di Kota Palembang yang menyadari manfaat kondom sebagai salah satu cara mencegah tertular HIV

Gambar 3.4. Cara yang Diketahui Agar Tidak Tertular HIV/AIDS

38 64 58 54 72 58 39 62 55 48 67 59 13 32 32 37 62 23 10 14 6 8 13 17 0 20 40 60 80 100 WP S-L WP S-TL R es ponden Pria WP S-L WP S-TL R es ponden Pria WP S-L WP S-TL R es ponden Pria WP S-L WP S-TL R es ponden Pria Pe rs en

Setelah diprobing Jaw aban Spontan Tidak melakukan hubungan seks Menggunakan kondom saat berhubungan seks Menghindari penggunaan jarum suntik bersama Berhubungan seks hanya dengan satu

(27)

Meski cukup banyak kelompok berisiko yang tahu tentang HIV/AIDS, namun ternyata tidak sedikit yang pemahamannya rendah tentang penyakit tersebut. Ini terlihat dari masih adanya kelompok sasaran yang menganggap seorang yang tertular HIV bisa diketahui dengan melihat saja. Pemahaman yang salah ini terungkap dari jawaban WPS langsung (18,1 persen), WPS tidak langsung (14,9 persen), dan responden pria (23,0 persen).

Pemahaman yang rendah juga tercermin dari banyaknya responden yang memberi jawaban “tidak tahu”, yaitu mencapai 26,0 persen pada WPS langsung dan masing-masing 33,0 persen dan 26,6 persen untuk WPS tidak langsung dan responden pria.

Pemahaman salah atau miskonsepsi ini juga terlihat dari besarnya proporsi jawaban responden terhadap cara pencegahan yang salah seperti minum obat sebelum berhubungan seks, menghindari gigitan nyamuk atau serangga lain, tidak menggunakan secara bersama alat makan, dan makan makanan yang bergizi. Miskonsepsi ini terutama terlihat pada kalangan WPS, meski juga tidak sedikit proporsi responden pria yang mempunyai pemahaman salah.

Miskonsepsi tentang Cara Pencegahan HIV/AIDS

Minum obat sebelum berhubungan seks merupakan cara yang diyakini dapat mencegah infeksi menular seksual (IMS) oleh lebih dari sepertiga WPS, baik WPS langsung (37,6 persen), maupun WPS tidak langsung (33,5 persen). Sekitar 30 responden pria juga berpikir bahwa minum obat dapat melindungi mereka dari kemungkinan tertular IMS atau HIV/AIDS.

Gambar 3.5. Tingkat Pengetahuan Responden Pria tentang Penggunaan Kondom Mencegah Tertular HIV/AIDS

Miskonsepsi terhadap beberapa cara

pencegahan IMS atau HIV/AIDS sangatlah berbahaya

Masih ada yang menganggap seorang yang tertular HIV bisa diketahui dengan melihat saja 58 61 68 23 40 48 0 20 40 60 80 100

Palembang Semarang Sorong

Pe

rs

en

Setelah diprobing Jaw aban spontan

(28)

Keyakinan ini merupakan sesuatu yang sangat berbahaya. Antibiotik dan obat-obatan lainnya TIDAK dapat melindungi diri kita dari HIV. Meminum obat secara rutin dapat dengan mudah membuat obat tersebut menjadi kurang efektif ketika dibutuhkan, misalnya, untuk menyembuhkan infeksi penyakit menular seksual seperti gonorrhea (GO). Lebih berbahaya lagi, jika orang berpikir bahwa mereka sudah terlindungi dari HIV atau IMS karena sudah minum antibiotik, diinjeksi, minum jamu, atau menggunakan preparat lainnya, karena mungkin kurang suka menggunakan kondom. Namun pada akhirnya, kondomlah satu satunya alat perlindungan yang paling ampuh bagi orang-orang yang berhubungan seks dengan orang lain selain pasangan kawinnya. Angka-angka persentase pada Gambar 3.6 mencerminkan apa-apa yang dipercaya orang tentang cara pencegahan HIV.

Dari SSP juga diperoleh informasi mengenai apa yang dilakukan oleh kelompok berisiko untuk menghindari terjangkitnya IMS atau HIV. Salah satu temuan yang mencengangkan adalah tingginya proporsi penjaja seks di Kota Palembang yang secara reguler memperoleh suntikan untuk “pencegahan” IMS dan HIV (41,2 persen WPS langsung dan 51,5 persen WPS tidak langsung). Depkes sudah lama tidak melaksanakan program penyuntikan secara massal. Bila “petugas kesehatan” masih memberikan suntikan, itu adalah diluar program Depkes. Bila penyuntikan-penyuntikan tersebut dilaksanakan diluar kontrol tenaga kesehatan maka bahaya lain dapat muncul, yaitu apabila satu jarum suntik digunakan tidak hanya untuk satu orang (satu kali) tetapi untuk banyak orang atau

berkali-Gambar 3.6. Pengetahuan yang Salah tentang Cara Menghindari Tertular HIV/AIDS

Meskipun program penyuntikan massal sudah dihentikan oleh Depkes, persentase WPS yang memperoleh suntikan pencegahan IMS dan HIV masih tinggi

38 20 23 27 34 30 29 36 30 32 38 30 0 20 40 60 80 100

Minum obat sebelum berhubungan seks Menghindari gigitan nyamuk atau serangga lain

Tidak menggunakan secara bersama alat

makan Makan makanan yang

bergizi

Persen

Responden Pria WPS Tidak Langsung WPS Langsung

(29)

4

Persepsi Berisiko

Merasa Berisiko

Informasi mengenai sejauh mana kelompok sasaran merasa berisiko terhadap IMS atau HIV/AIDS merupakan informasi yang penting untuk keperluan perencanaan program intervensi. Meskipun berada dalam lingkungan berisiko tinggi ternyata tidak semua kelompok sasaran merasa bahwa dirinya berisiko. Bahkan di antara responden pria hanya sepertiganya (33,1 persen) yang merasa berisiko. Pemahaman tentang risiko lebih dominan pada kelompok WPS, di mana lebih dari 50 persen merasa berisiko tertular HIV/AIDS.

Persepsi Tidak Berisiko di antara Kelompok Berisiko

Mereka yang merasa tidak berisiko tertular memiliki beberapa alasan yang bervariasi antar kelompok sasaran. Setengah dari WPS tidak langsung (51,8 persen) dan hampir 30 persen WPS langsung yang merasa tidak berisiko memberikan alasan bahwa mereka selalu menggunakan kondom (pemahaman yang benar). Sementara itu, di antara WPS langsung cukup banyak (18,7 persen) yang berkeyakinan bahwa berobat lebih dahulu membuat ia merasa tidak berisiko (pemahaman yang salah). Masing-masing sekitar seperempat dari setiap kelompok sasaran juga merasa tidak berisiko karena meyakini pasangannya bersih (juga pemahaman yang salah). Kelompok yang merasa tidak berisiko sangat penting untuk diperhatikan dalam program intervensi, khususnya di kelompok WPS langsung.

Gambar 4.1. Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS

WPS tidak langsung umumnya lebih memahami risiko dan cara

menghindarinya Lebih dari 50 persen WPS merasa berisiko, sementara hanya sekitar 33 persen responden pria yang merasa berisiko 53 56 33 35 30 54 12 14 13 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen Merasa berisiko Tidak merasa Tidak tahu

(30)

Hubungan antara Merasa Berisiko dengan Tingkat

Pendidikan

Kesadaran berisiko tertular IMS termasuk HIV/AIDS diduga berkorelasi dengan tingkat pendidikan. Asumsinya adalah semakin tinggi pendidikan, semakin mengerti seseorang bahwa ia melakukan pekerjaan yang berisiko. Hasil SSP di Kota Palembang tidak banyak menggambarkan dugaan tersebut, kecuali pada WPS tidak langsung, khususnya antara mereka yang tidak tamat SD dan jenjang pendidikan yang di atasnya. Di antara WPS tidak langsung yang tidak tamat SD terdapat sekitar 38 persen yang merasa berisiko tertular HIV/AIDS, sementara dari yang berpendidikan tamat SLTP dan di atasnya lebih dari 60 persen yang merasa berisiko. Dengan asumsi bahwa mereka yang tidak tamat SD sebagiannya juga buta huruf, maka perlu dicari metode intervensi yang lebih tepat bagi mereka. Hal ini terjadi juga pada mereka yang pernah melakukan hubungan seks secara komersial tanpa kondom dan merasa dirinya berisiko tertular HIV/AIDS.

Gambar 4.2. Responden yang Tidak Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Alasannya

Terdapat kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan semakin merasa berisiko 29 23 19 52 30 13 6 24 2 0 20 40 60 80 100

Karena selalu menggunakan kondom

Karena yakin pasangannya bersih

Karena berobat terlebih dahulu

Pe

rs

en

(31)

Menarik untuk disampaikan responden pria merupakan kelompok yang paling kurang menyadari risiko tertular HIV/AIDS dibandingkan kelompok WPS. Di kelompok pria ini perasaan berisiko tidak mempunyai hubungan dengan tingkat pendidikannya. Persentase yang merasa berisiko hanya 35,3 persen di antara yang berpendidikan SLTA ke atas, sama besar persentasenya dengan yang berpendidikan tidak tamat SD.

Gambar 4.3. Responden yang Merasa Berisiko Tertular HIV/AIDS menurut Tingkat Pendidikan 53 38 35 57 57 28 44 62 36 59 61 35 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria

Pe

rs

en

Tidak tamat SD Tamat SD Tamat SLTP Tamat SLTA atau lebih tinggi

Tingkat pendidikan tidak mempengaruhi perilaku seks kaum pria

(32)
(33)

5

Pola Perilaku Berisiko

Penggunaan Kondom

Responden yang selalu menggunakan kondom dalam seks komersial selama setahun terakhir (untuk responden pria) atau selama seminggu terakhir (untuk WPS) masih sangat rendah, yaitu sekitar 8 persen pada WPS langsung, dan bahkan kurang dari 4 persen di antara responden pria yang pernah berhubungan seks dengan WPS dalam setahun terakhir. Fenomena lain yang tercermin dalam pola penggunaan kondom adalah hanya sebagian saja kelompok berisiko yang secara konsisten (selalu) menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks. Pada WPS tidak langsung yang tingkat penggunaan kondomnya paling tinggi dibandingkan kelompok lainnya, sekitar 58 persen menyatakan menggunakan kondom pada seks komersial terakhir, tetapi di antara mereka tersebut hanya sebanyak 23,6 persen yang selalu mengguna-kannya selama seminggu terakhir.

Perbandingan antara yang menggunakan kondom pada seks komersial terakhir dengan yang selalu menggunakannya dalam seminggu terakhir jauh lebih buruk pada WPS langsung dan responden pria. Dari sekitar 18 persen responden pria yang menyatakan menggunakan kondom pada seks komersial terakhir hanya sekitar 4 persen yang selalu meng-gunakannya dalam seminggu terakhir, sementara untuk WPS langsung komposisinya adalah 32,5 persen berbanding 7,8 persen.

Gambar 5.1. Tingkat Penggunaan Kondom pada Seks Komersial

WPS tidak langsung lebih banyak pakai kondom pada seks komersial 33 58 18 8 24 4 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria

Pe

rs

en

Pakai kondom dalam seks komersial terakhir

Selalu pakai kondom dalam seks komersial selama setahun terakhir (responden pria) atau seminggu terakhir (WPS)

(34)

Tidak digunakannya kondom tampaknya sedikit berkaitan dengan ketersediaan kondom di lokasi. Dari hasil pengamatan petugas SSP diketahui bahwa kondom tidak selalu tersedia atau tidak mudah diperoleh di seluruh lokasi terjadinya transaksi seks, 66,8 persen lokasi WPS langsung dan 83,5 persen lokasi WPS tidak langsung.

Antara Pengetahuan dan Perilaku

Data menunjukkan bahwa di antara WPS, WPS tidak langsung, umumnya lebih tua, lebih berpendidikan, telah lama bekerja di bidang tersebut, dan mempunyai pelanggan lebih beruang, lebih suka menggunakan kondom daripada WPS langsung yang relatif kurang berpendidikan, dan yang pelanggannya dari kelompok orang yang mempunyai kepedulian rendah terhadap HIV dan risiko hubungan seks tanpa pelindung. Selain itu, di antara kedua kelompok tersebut, kesenjangan antara pengetahuan dan kesediaan kondom di satu sisi dan perilaku atau prakteknya di sisi lain sangatlah lebar.

Di antara WPS langsung yang tahu bahwa pakai kondom dapat mencegah tertular HIV, sekitar 59,4 persen ternyata tidak menggunakan kondom pada hubungan seks komersial terakhir, sedangkan di antara WPS tidak langsung hanya 30,8 persen yang tidak menggunakannya.

Rendahnya persentase WPS tidak langsung yang tidak menawarkan kondom kepada pelanggannya di satu sisi (hanya 12,8 persen) dan tingginya persentase penggunaan kondom di kalangan WPS tidak langsung mungkin mengindikasikan tingginya kesadaran untuk pakai kondom.

Gambar 5.2. Tahu bahwa Kondom dapat Mencegah Penularan HIV/AIDS tetapi Tidak Menawarkan dan Tidak Memakainya dalam Hubungan Seks Komersial Terakhir

Sebagian besar responden pria tidak sesuai antara perilaku dengan pengetahuannya 30 13 59 31 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung

Pe

rs

en

Tahu pencegahan HIV pakai kondom tetapi tidak menaw arkan kepada pelanggan pada seks komersial terakhir

Tahu pencegahan HIV pakai kondom tetapi tidak memakainya pada hubungan seks komersial terakhir

(35)

Di kalangan pelanggan, mereka yang tahu tentang pencegahan terhadap risiko tertular HIV/AIDS sebagian besar ternyata tidak menerapkan pengetahuannya dalam hubungan seks. Bahkan diantara mereka yang tahu pencegahan tertular dengan memakai kondom, justru lebih dari 80 persen tidak menggunakannya dalam hubungan seks komersial terakhir.

Perbedaan antara pengetahuan dan perilaku (praktek) yang dapat dikaji adalah dalam penggunaan kondom. Orang-orang yang tidak menggunakan kondom dalam seks komersial terakhir ditanyakan apa alasannya, dan sangat menarik bahwa responden wanita (WPS) dan responden pria menunjukkan jawaban yang konsisten, yaitu sebagian besar karena pelanggannya (responden pria) tidak menghendaki pakai kondom karena “merasa kurang enak”.

Tingginya persentase hubungan seks komersial tanpa kondom karena “keengganan” kaum laki-laki untuk menggunakannya memberikan indikasi bahwa penyuluhan (promosi) penggunaan kondom tidak cukup hanya berfokus pada WPS. Penyuluhan pada WPS memang telah meningkatkan pengetahuannya mengenai bahaya HIV, dan mungkin telah meningkatkan kesadarannya untuk berperilaku seks sehat, tetapi pada akhirnya keputusan untuk menggunakan kondom atau tidak pada umumnya ada pada pelanggan.

Gambar 5.3. Responden Pria yang Tahu Pencegahan HIV/AIDS tetapi Tidak Menerapkannya dalam Hubungan Seksual

Lebarnya gap antara pengetahuan dan perilaku berisiko lebih disebabkan karena keengganan responden pria untuk mengguna-kan kondom dalam seks komersial 44 49 47 81 0 20 40 60 80 100

Tahu pencegahan tidak melakukan hub seks tetapi melakukan hub seks dg WPS selama setahun terakhir

Tahu pencegahan hanya hub seks dg satu pasangan setia tetapi pernah berhub seks dg WPS setahun terakhir Tahu pencegahan hanya hub seks dg satu pasangan setia

tetapi mempunyai lebih dari satu pasangan seks Tahu pencegahan pakai kondom tetapi tidak pakai kondom

dalam seks komersial terakhir

(36)

Seks Anal dan Narkoba

Seks komersial antara WPS dan pelanggan pria tentunya bukan satu-satunya perilaku berisiko terhadap penularan HIV. Seks anal juga mempunyai risiko tinggi untuk tertular HIV, termasuk penularan melalui penggunaan bersama jarum suntik pada pecandu narkoba.

Meskipun relatif kecil, ada juga di kalangan responden pria yang pernah berhubungan seks dengan waria, yaitu kurang dari 1 persen.

Data mengenai prevalensi HIV di kalangan waria di Kota Palembang tidak tersedia, tetapi hasil studi terakhir di Jakarta menunjukkan bahwa sekitar 1 di antara 5 waria terinfeksi HIV (SSP Waria, 2002). Hal ini memberi indikasi pentingnya penyuluhan penggunaan kondom dalam berhubungan seks dengan segala jenis kategori responden, termasuk waria.

Pengguna narkoba suntik (injecting drug users/IDU) merupakan orang-orang yang paling rentan terinfeksi HIV. Hasil studi terakhir di Jakarta menunjukkan bahwa sekitar setengah dari pengguna narkoba suntik telah terinfeksi virus penyebab AIDS (KPAN, Jakarta, 2002)*) .

Gambar 5.4. Alasan Tidak Menggunakan Kondom pada Seks Komersial Terakhir

16 42 18 0 24 18 60 6 5 11 0 20 40 60 80 100 Tidak ada/tidak tersedia Pelanggan tdk mau/terasa kurang enak

Pasangan bersih Tanpa alasan Lainnya

Pe

rs

en

(37)

Hasil SSP untuk Kota Palembang menunjukkan bahwa sekitar 2 sampai 5 persen WPS mengatakan pernah menggunakan narkoba suntik, tetapi dari kalangan responden pria tidak ada yang menyatakan pernah menggunakannya. Seperti ditunjukkan pada Gambar 5.5, sebagian responden dari setiap kelompok sasaran juga mengatakan bahwa pasangan seks mereka pernah menggunakan narkoba suntik bahkan dengan persentase lebih besar. Penggunaan narkoba suntik dan seks komersial merupakan cara penularan utama HIV di Indonesia.

Gambar 5.5. Responden dan Masing-masing Pasangan Seksnya yang Pernah Menggunakan Narkoba Suntik 2.8 5.0 0.0 5.2 6.0 2.8 0 1 2 3 4 5 6 7

WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria

Pe

rs

en

Pernah menggunakan narkoba suntik

(38)
(39)

6

IMS dan Perilaku Pencarian Pengobatan

Infeksi Menular Seksual (IMS)

Dari ketiga kelompok berisiko, cukup banyak dari kalangan WPS langsung (19,2 persen) yang pernah mengalami gejala infeksi menular seksual (IMS) dalam setahun terakhir, sedangkan dari kalangan WPS tidak langsung dan responden pria terdapat masing-masing sebanyak 17,5 persen dan 13,0 persen yang terkena IMS.

Data di atas adalah dari apa yang dilaporkan oleh responden. Realitanya barangkali jauh lebih besar karena pada perempuan IMS tidak menunjukkan simptom atau gejala tertentu, sehingga mereka tidak menyadarinya, sementara sebagian lainnya mungkin tidak melaporkannya karena berbagai alasan.

Penyakit tersebut diterima terutama akibat perilaku yang tidak sehat (tidak menggunakan kondom) dalam melakukan hubungan seks. Ini terbukti dari besarnya proporsi responden yang terkena IMS karena tidak meng-gunakan kondom ketika berhubungan seks komersial.

Di kalangan WPS langsung sekitar 62 persen yang menderita gejala IMS adalah mereka yang tidak memakai kondom dalam seks komersial terakhir, sementara dari kelompok responden pria rasionya lebih tinggi lagi yaitu sekitar 82 persen yang menderita IMS.

Gambar 6.1. Pemakaian Kondom pada Responden yang Mengalami Gejala IMS

Perilaku seks yang tidak sehat harus dibayar mahal dengan menderita infeksi menular seksual (IMS) 62 47 82 2 6 5 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria

Pe

rs

en

Dari y ang mengalami gejala IMS, persentase y ang tidak pakai kondom dalam seks komersial terakhir

Dari y g mengalami gejala IMS, persentase y ang selalu pakai kondom dalam seks komersial setahun terakhir (responden pria) atau seminggu terakhir (WPS)

(40)

Jenis Keluhan IMS

Keluhan IMS pada perempuan dan lelaki tidak selalu sama. Ada keluhan tertentu yang dialami perempuan tetapi tidak dialami lelaki, demikian juga sebaliknya. Misalnya, penyakit kencing nanah dikeluhkan lelaki, sebaliknya penyakit keputihan dikeluhkan perempuan. Secara umum, keputihan disertai bau tak sedap merupakan jenis IMS yang banyak diderita oleh kalangan WPS, terutama WPS tidak langsung. Di kalangan WPS langsung, selain keputihan, banyak juga diantara mereka yang menderita luka/koreng di daerah alat kelamin (47,9 persen). Ini perlu mendapat perhatian yang serius, mengingat luka pada alat kelamin baik bagi perempuan maupun lelaki, akan membuka pintu bagi masuknya virus HIV dari seseorang ke pasangan seksnya.

Sementara itu, keluhan berupa luka/koreng dan benjolan di sekitar alat kelamin, serta kencing nanah merupakan keluhan IMS yang kerap dialami responden pria. Sekitar 50 persen dari kalangan responden pria ini pernah mengalami ketiga jenis keluhan tersebut.

Tempat Berobat

Lebih dari sepertiga WPS tidak langsung mencoba mengobati sendiri ketika mereka merasakan simptom IMS, dan sekitar 18,8 persen WPS langsung dan 34,0 persen responden pria yang terkena simpton juga

Gambar 6.2. Jenis Keluhan IMS

Keputihan merupakan jenis IMS yang paling banyak diderita oleh kalangan WPS 48 20 45 13 0 57 67 83 47 0 20 40 60 80 100

WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria

Pe

rs

en

Luka/koreng di daerah alat kelamin

Benjolan di sekitar alat kelamin

Keputihan disertai dengan bau tak sedap Kencing nanah

(41)

Jelas bahwa pengobatan sendiri tidak efisien. Sekitar 68,7 persen perempuan dan 63,8 persen lelaki yang mencoba mengobati dirinya sendiri akhirnya harus pergi ke tempat pelayanan kesehatan juga.

Hasil SSP di Kota Palembang menunjukkan bahwa petugas kesehatan merupakan tempat sebagian besar responden mencari pengobatan IMS yang dialami oleh ketiga kelompok sasaran.

Preferensi permintaan tolong pada petugas kesehatan untuk mengobati IMS yang diderita ternyata sama antar kelompok sasaran. Mereka mempunyai pilihan tempat berobat yang dominan, yaitu praktek dokter. Namun demikian, puskesmas/pustu atau rumah sakit merupakan tempat yang juga cukup banyak dipilih mereka untuk berobat. Tidak jelas apa alasan pilihan ini, bisa karena akses yang mudah, karena sudah langganan atau biaya berobat yang berbeda.

Gambar 6.3. Responden Pernah Mengalami Gejala IMS menurut Cara yang Dilakukan Saat Mengalami Gejala IMS tersebut

Gambar 6.4. Responden yang Mengalami Gejala IMS menurut Tempat Berobat/ Fasilitas Kesehatan

Dokter praktek adalah pilihan utama bagi WPS dan responden pria untuk pengobatan keluhan IMS yang dialami 0 0 11 8 23 4 81 57 55 10 30 20 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen

Berobat ke petugas kesehatan Tidak melakukan sesuatu/tidak diobati

Melakukan pengobatan sendiri dg antibiotik Melakukan pengobatan sendiri dg jamu/obat lain

72 80 69 13 15 12 0 5 7 15 12 0 0 20 40 60 80 100 WPS Langsung WPS Tidak Langsung Responden Pria Persen

(42)
(43)

7

Kesimpulan dan Saran

Epidemi HIV telah berlangsung lebih dari 20 tahun. Dalam masa itu, kita telah belajar banyak tentang bagaimana dan apa yang perlu dilakukan untuk mencegah penyebarluasan HIV dan mengurangi dampaknya. Berbagai upaya ini biasanya dimulai dengan memberikan informasi dan melakukan kampanye kepedulian pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terinfeksi HIV.

Di Kota Palembang, intervensi pendidikan seperti ini tidaklah cukup meluas. Sekitar 31 persen WPS langsung, 60 persen WPS tidak langsung, dan hanya 9 persen responden pria yang mengatakan mereka pernah mengetahui atau memperoleh kampanye pencegahan HIV selama setahun terakhir.

Cakupan kampanye “pengetahuan dasar” yang sangat rendah ini diduga menjadi salah satu sebab masih rendahnya tingkat pengetahuan kelompok sasaran tentang perlindungan dasar seperti penggunaan kondom di antara kaum lelaki yang berisiko tinggi terhadap HIV.

Satu hal yang dapat kita pelajari adalah bahwa informasi itu sendiri tidaklah cukup. Orang memerlukan motivasi, kepandaian/keterampilan dan pelayanan untuk menindaklanjuti informasi yang mereka terima. Data yang disajikan dalam laporan ini memberikan gambaran bahwa semua itu masih kurang dalam konteks Kota Palembang. Hasil SSP di kota ini mengungkapkan adanya perilaku berisiko pada tingkat yang tinggi dan adanya ancaman yang kuat akan cepat meluasnya epidemi HIV di daerah ini.

Bagian ini memberikan ringkasan mengenai beberapa temuan utama dari putaran pertama surveilans perilaku di Kota Palembang, dan tantangan yang muncul, serta usulan tindakan untuk menghadapi tantangan tersebut.

Temuan Kunci

Pengetahuan dan Persepsi Berisiko

• Banyak orang pernah mendengar tentang AIDS, tetapi pengetahuan rinci tentang HIV, tentang cara pencegahannya masih sangat rendah. • Ada kesenjangan yang lebar dalam pengetahuan di antara lelaki

dengan perilaku berisiko tinggi, khususnya mengenai penting dan efektifnya penggunaan kondom untuk mencegah tertular IMS atau HIV.

(44)

• Adalah sangat berbahaya adanya kepercayaan yang begitu meluas bahwa menggunakan obat sebelum atau sesudah berhubungan seks dapat melindungi atau mencegah dari tertular IMS, juga HIV.

• Bahkan di antara responden yang mempunyai pengetahuan cukup tidak selalu siap mengubah perilakunya ke perilaku yang sehat.

• Banyak orang yang tahu bagaimana HIV dapat ditularkan tetapi tidak merasa berisiko tertular penyakit tersebut, meskipun mereka melaporkan melakukan hubungan seks tanpa pelindung dengan banyak pasangan. Selain itu, ada ketidaksesuaian yang substansial terjadi pada orang orang yang merasa berisiko dengan perilaku berisiko yang mereka lakukan.

Perilaku Berisiko dan Kondom

• Banyak kaum lelaki dalam kelompok responden SSP melakukan hubungan seks sebelum menikah, dan dua perlima lelaki yang berstatus kawin melaporkan juga berhubungan seks di luar pasangan nikahnya.

• Hampir setengahnya responden pria membeli seks dari WPS, yang menggunakan kondom sangat sedikit.

• Rendahnya tingkat penggunaan kondom salah satunya adalah karena kondom tidak selalu tersedia di tempat transaksi seks berada.

• Alasan sebagian besar WPS tidak menggunakan kondom adalah karena pelanggannya tidak suka atau tidak mau menggunakannya. • Proporsi kaum lelaki yang melaporkan melakukan hubungan seks

melalui anal dengan waria memang kecil.

• Proporsi responden yang menggunakan narkoba suntik memang kecil, namun aktivitas ini merupakan kegiatan yang sangat berisiko tinggi tertular HIV. Yang juga mengkhawatirkan adalah bahwa responden percaya pasangan mereka yang menggunakan narkoba suntik juga cukup berarti jumlahnya.

Kesehatan dan Pemeliharaan Kesehatan

• Perilaku berisiko tinggi mempunyai konsekuensi yang dapat diukur dari tingginya persentase orang-orang yang melaporkan tertular IMS. Mayoritas yang pernah tertular IMS adalah responden yang melaporkan tidak menggunakan kondom.

• Banyak orang mempunyai gejala IMS berusaha mengobati diri mereka sendiri terlebih dahulu. Bila upaya ini gagal baru mereka pergi ke tempat pelayanan kesehatan.

(45)

• Tempat pelayanan kesehatan yang paling banyak digunakan oleh WPS dan kaum lelaki pelanggannya adalah tempat praktek dokter. Tidak jelas benar apakah para dokter ini mendapat pelatihan cara menangani IMS atau tidak.

• Hampir separuh dari WPS melaporkan menerima injeksi secara rutin untuk “melindungi diri” dari HIV dan IMS. Ini merupakan tantangan bagi kebijakan pemerintah, dan merupakan sesuatu yang berbahaya bagi kaum perempuan yang telah “merasa aman” dengan adanya injeksi tersebut.

Usulan Tindakan

• Menjamin tersedianya akses terhadap informasi yang benar, rinci, dan relevan, tentang HIV, dan bagaimana pencegahannya untuk orang-orang yang berisiko tinggi.

• Menyediakan informasi rinci tentang kondom bagi kaum lelaki, termasuk demonstrasi penggunaannya, dan pengorganisasian “kampanye penggunaan kondom” yang menyediakan “insentif” bagi kaum lelaki yang tidak pernah menggunakan kondom untuk mencobanya.

• Mempertimbangkan pelaksanaan promosi dan distribusi kondom di kalangan responden pria dan di tempat-tempat lain di mana kaum lelaki dengan perilaku risiko tinggi dapat secara berkala ditemui. • Dalam semua aktivitas promosi kondom, perlu ditekankan akan

pentingnya/perlunya penggunaan kondom pada seks komersial. • Bekerja sama dengan pemilik rumah bordil, bar, dan panti pijat untuk

menganjurkan para germo/mucikari/mami, dan berbagai pihak berpengaruh yang mempunyai kontak dengan pelanggan untuk menegosiasikan penggunaan kondom dan menyediakan kondom. • Melaksanakan penelitian kualitatif untuk memahami secara lebih baik

mengapa orang-orang yang melaporkan berperilaku berisiko tidak merasa terancam oleh HIV dan IMS, dan menggunakan hasil penelitian tersebut untuk kampanye perlindungan di masa datang. • Kampanye secara aktif untuk mengakhiri kepercayaan bahwa

meminum obat merupakan cara yang benar untuk melindungi diri dari IMS dan HIV.

• Berupaya secara aktif untuk menghentikan praktek-praktek penyuntikan massal bagi penjaja seks. Mempertimbangkan sanksi hukumnya termasuk menutup atau membekukan izin praktek bagi orang-orang yang menyediakan “jasa” tersebut.

(46)

• Menjamin bahwa praktisi medis (termasuk dokter praktek) yang menyediakan pelayanan pengobatan IMS bagi kelompok berisiko tinggi telah mendapat pelatihan yang memadai tentang pengelolaan dan konseling pencegahan, serta mempunyai akses pada pelayanan jasa laboratorium yang berkualitas dan pasokan obat-obatan yang tepat.

• Bekerjasama dengan pekerja-pekerja di bidang industri seks dan yang terkait untuk merujuk skrining dan perawatan IMS kepada tenaga terlatih yang tepat. Mempertimbangkan untuk mengenalkan “kartu sehat” bagi WPS, yang mencatat kunjungan skrining dan sejarah perlakuan pengobatan yang pernah dialami.

• Melakukan penilaian secara rinci mengenai penggunaan narkoba suntik dan kaitannya dengan seks komersial, dan memulai program pengurangannya bila diperlukan.

Gambar

Gambar  Judul Gambar
Tabel Indikator Kunci  Indikator  WPS  Langsung  WPS  Tidak  Langsung  Responden Pria
Tabel Realisasi Sampel Survei Surveilans Perilaku 2002 di Sumatera Selatan
Gambar 2.1.  Struktur Umur Responden
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penggantian media filter yang ada dilakukan secara periodik, sedangkan jangka waktu penggantian tergantung dari kualitas air baku yang akan di daur ulang (keluaran

Bahwa mereka Terdakwa I IBRAHIM BIN UJANG, Terdakwa II SOPYAN BIN ABDUL MANAP dan Terdakwa III MUHAMMAD DANI BIN ABDUL MANAP secara bersama-sama dengan JURIT BIN ABDULLAH (

Dalam skala nasional, sistem hukum Indonesia mengantisi-pasinya dengan upaya unifikasi, sekalipun pada saat yang sama diferensiasi kadang-kadang dipaksakan, yakni sistem

Hubungan antara yayasan Taman Pendidikan Kanjeng Sepuh dengan pondok-pondok tertua yang ada di Sidayu tidak hanya berupa pemberian izin dan perestuan

Bahagian Kewangan PTJ/UPP semak had nilai perolehan Bahagian Kewangan PTJ/UPP semak dokumen C Melebihi RM20ribu sehingga RM50ribu Melebihi RM50ribu sehingga RM500ribu

Apabila perceived value (nilai yang dirasakan) konsumen semakin tinggi, konsumen akan semakin puas. Kepuasan yang semakin tinggi, akan mendorong konsumen menunjukkan

Surat INSA tersebut meminta klarifikasi sejumlah pasal di Peraturan Menteri Perhubungan No.100 tahun 2016 tentang Tata Cara Dan Persyaratan Pemberian Izin Penggunaan Kapal

Bagi Anugerah Rakan UCTC Cemerlang, anugerah khas akan diberikan untuk mengiktiraf rakan NGO, komuniti, industri/korporat, agensi kerajaan dan persatuan pelajar di