• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendekatan Regional Management

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pendekatan Regional Management"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENDEKATAN REGIONAL MANAGEMENT SEBAGAI SALAH SATU

STRATEGI IMPLEMENTASI TATA RUANG (KASUS JABODETABEK)

DALAM MENANGGULANGI BANJIR

Oleh : Ragil Haryanto

Magíster Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, Semarang

Pendahuluan

Issue, Fenomena dan Problematik Tata Ruang

Sebenarnya sudah banyak produk perencanaan yang disusun, bahkan hampir semua Pemerintah Kota, Kabupaten dan Propinsi, juga Pemerintah Pusat, sudah menyusun produk perencanaan untuk kepentingan pengarahan pembangunan kota, wilayah atau kawasan, namun dalam kenyataan masih sering kita dengar, orang berpendapat bahwa perencanaannya yang salah atau tidak sesuai dengan keinginan semua pihak, dan masih banyak pendapat yang lain, masalah ketidak beresan produk perencanaan yang sudah disusun..

Demikian pula dengan apa yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Propinsi DKI dan Pemerintah Kota Jakarta Utara,Timur,Selatan,Barat dan Tengah,yang ada dibawah koordinasinya, hampir dipastikan sudah banyak yang dilakukan untuk menyusun perencanaan kotanya dengan segala kelengkapannya. Sehingga kemungkinan dapat dikatakan bahwa dokumen Tata Ruang Kota Jakarta Utara, Jakarta Tengah, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Tata Ruang DKI sudah tersusun dengan baik, berdasarkan batas administrasinya masing-masing, akan tetapi mungkin ada beberapa hal yang tidak bisa langsung

terimplementasi, sebagai contoh TTR/RTRW/RDTRK/RTRK skala 1:20.000; 1:10.000; 1:5.000; 1:2.000, sedang implementasi pembangunan dalam bentuk IMB,IPB dibutuhkan skala 1:100, dan gambar Arsitektur skala 1:100 sedang RTBL(UDGL) yang memiliki skala 1:1.000 pun sebagai media perencanaan dan pelaksanaan belum tentu semua kawasan perkotaan tersusun .

Dilain pihak pengembangan permukiman cenderung dibiarkan, diarahkan dan diijinkan berkembang secara horisontal, dan konsep perumahan susun cenderung dilihat sebagai beban biaya tinggi (“high cost”) dilihat dari sisi konstruksi, bahkan sering dicemoohkan dari sisi budaya, dan sampai saat ini belum diberi kesempatan untuk dipertimbangkan lebih-lebih untuk membuktikan

bagaimana efisiensi dan ekonomisnya konsep rumah susun dalam memanfaatkan lahan yang minimal dengan daya tampung maksimal. Lahan permukiman sudah dilupakan bila memiliki peran sebagai fungsi sosial dan keberpihakan pada publik/masyarakat ketimbang fungsi ekonomi yang komersial, seperti halnya terjadinya cluster-cluster perumahan yang kapitalistik yang memakan lahan perkotaan yang luar biasa luasnya (maaf, konyolnya didukung oleh NSPM Permukiman-Perumahan yang konvensional pula) sehingga syahlah dan merasa tidak berdosa para pengembang apabila mengembangkan dengan cara horisontal yang akan sangat menguntungkan berlipat ganda dari sisi penjualan lahan.

TTR/RTRW/RDTRK/RTRK/RTBL Kota Bekasi, Kota Tangerang, Kota Bogor dan Kota Depok pun, mungkin juga sudah tersusun dengan baik,dan kemungkinan masing-masing TTR tersebut disusun sesuai dengan batas administrasinya, sehingga bisajadi dalam implementasinya masing-masing Kota tersebut mengalami kesulitan mensinkronkan satu dengan yang lain (padahal kota-kota tersebut berhimpitan), sedangkan pertumbuhan

perkotaan secara fisik (urbanized area) yang nyata dilapangan tidak mengenal batas administrasi, hal ini seringkali menimbulkan masalah terutama yang berkaitan dengan sistem jaringan seperti jalan, drainase, pelayanan air bersih, pelayanan prasarana lainnya seperti penanggulangan banjir, pelayanan keberihan dan sampah, namun dilain pihak, sebenarnya masyarakat daerah perbatasan tersebut hampir tidak ada masalah dan tidak mempermasalahkan.

(2)

dan terjadinya masalah prasarana, satu dengan yang lain..

Demikian pula halnya dengan upaya sinergi dalam perencanaan tata ruang wilayah yang dituangkan dalam dokumen Jabodetabek-Punjur, pada dasarnya sudah sangat baik (walaupun inisiatif dari Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah Propinsi), sedang yang penting disinergikan antara lain: wilayah Jakarta-Timur dengan Bekasi, Jakarta-Selatan dengan Depok dan Bogor, Jakarta-Barat dengan Tangerang. Akan tetapi dalam proses pembangunannya kemungkinan masing-masing Pemerintah Kota-Kabupaten tunduk dan patuh terhadap rencana tata ruang yang telah disusun oleh masing-masing pemerintah daerah, hal ini terjadi akibat mekanisme persetujuan dokumen tata ruang disyahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat masing-masing Kota-Kabupaten yang selanjutnya akan menjadi peraturan daerah dimasing-masing Kota-Kabupaten. Agaknya belum ada mekanisme persetujuan Dewan pada suatu pemerintah daerah terhadap produk perencanaan tata ruang yang disusun oleh pemerintah daerah lain yang diterapkan didaerah nya dalam bentuk peraturan daerah didaerah tersebut juga.

Dengan demikian, nampaknya terjadi kesenjangan antara Perencanaan TTR dengan implementasi pembangunan. Kesenjangan tersebut terjadi lebih banyak dalam proses pembangunan antara kota satu dengan yang lain walaupun kota tersbut berdampingan/berhimpitan, juga ada kemungkinan terjadi kesenjangan antara sektor pembangunan di kota yang satu dengan sektor pembangunan dikota yang lain walaupun berdekatan dan bahkan berhimpitan. Kesenjangan juga mungkin terjadi antara Fungsi Kawasan dimasing-masing kota dengan Kebijakan Operasionalnya, baik yang ada dimasing-masing kota maupun kebijakan operasional lintas kota/daerah.

Sehingga dapat dikatakan bahwa perencanaan TTR masing-masing kota memang pemahamannya masih sebatas perencanaan di wilayah administrasinya. Sepertinya sampai saat ini belum atau masih belum dikembangkan Perencanaan TTR berdasarkan daerah terbangun fisik perkotaan (urbanized area) yang bisa meliputi 2(dua) atau lebih wilayah administrasi yang dinilai sangat strategis dan diunjukkan oleh kedua pemerintah Kota/Kabupaten yang bersangkutan karena kebutuhan masing-masing Pemerintah Kota/Kabupaten dalam menyelesaikan permasalahan pembangunan kotanya secara bersama. Disamping itu pola Pengembangan

Wilayah secara regional yang meliputi beberapa Kota-Kabupaten seperti tersbut diatas sampai sekarang ini cenderung konvensional, boleh dikatakan perencanaan Top Down, seperti halnya Kapet, Jabodetabekpunjur, Kedungsapur, Gerbangkertasusila, sehingga terkesan masing kurang inovatif dan masih belum diunjukan oleh kepentingan dan kebutuhan masing-masing Kota-Kabupetan yang masuk dalam kawasan perencanaan tersebut, sehingga terkesan terjadi

conflict of interest antar daerah. Terlebih keterlibatan

stakeholders dalam rencana Tata Ruang yang diimplementasikan kedalam proses pembangunan Ekonomi Wilayah masih rendah, seperti halnya belum sepenuhnya memanfaatkan pola Public-Private-Partnership. Dengan demikian, nampaknya dibutuhkan suatu alat koordinasi pembangunan dalam bentuk Management, dalam skala regional apa yang dinamakan Regional Management & Development.

Indikasi Kebutuhan Kerjasama Intra-Regional

(Regionalisasi) :

Banyak faktor dalam proses otonomi pembangunan didaerah, yang mendorong daerah-daerah otonom pada akhirnya akan menyadari betapa kebutuhan daerah untuk melakukan kerjasama intra-regional (dalam hal ini disebutkan upaya regionalisasi). Beberapa hal yang merangsang kebutuhan kerjasama tersebut seringkali ditimbulkan karena ternyata potensi internal daerah sangat terbatas yang belum tentu memiliki segalanya, disamping faktor-faktor eksternal yang menyulitkan membangun jejaring dengan pihak lain diluar pemerintah daerahnya.

Indikasi kerjasama Jabodetabek-Punjur, diperlihatkan pada upaya Pengendalian Pemanfaatan Tata Ruang Kawasan Jabodetabek-Punjur yang merupakan rangkaian kegiatan pengelolaan tata ruang, yang melingkupi proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan suatu proses yang sangat penting dilakukan sebagai sebuah proses evaluasi terhadap pelaksanaan sebuah perencanaan tata ruang.

(3)

perbukitan/pegunungan, yang secara ekologi memiliki kesinambungan dalam satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pesatnya pembangunan dan tingginya pertumbuhan ekonomi di kawasan ini dipacu oleh keberadaan DKI Jakarta sebagai ibukota negara. Dinamika di wilayah ini memacu pembangunan wilayah di sekitarnya. Aktifitas sosial ekonomi manusia yang dinamis dan berubah begitu cepat di kawasan Jakarta-Bogor-Depok Tangerang-Bekasi-Puncak-Cianjur (Jabodetabek-Punjur) dan pembangunan di wilayah tersebut sering tidak memperhatikan aspek lingkungan dan daya dukung lahan, sehingga berimplikasi pada pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Pertumbuhan kepadatan penduduk yang pesat menekan eksploitasi sumberdaya alam dan lingkungan, sehingga daya dukung dan daya tampung lingkungan berpeluang terlampaui. Hal ini mendorong adanya perambahan pemanfaatan ruang pada kawasan yang seharusnya dikonservasi dan dilindungi, seperti konversi lahan pertanian sawah dan bantaran sungai menjadi perumahan dan industri.

Konversi lahan berfungsi lindung yang tidak terkendali berakibat pada penurunan fungsi lindung kawasan, seperti penurunan fungsi serapan air pada kawasan resapan air, dan penurunan daya alir drainase (alam/sungai ataupun buatan/kanal), sehingga dikhawatirkan menimbulkan bencana banjir, yang tidak hanya merusak harta benda namun dapat pula menelan korban jiwa. Untuk itu, menurut dokumen pedoman Tata Ruang Jabodetabek-Punjur (2006), maka perubahan keseimbangan lingkungan yang disebabkan aktifitas sosial ekonomi manusia perlu dikendalikan, agar tercapai keseimbangan lingkungan. Pengendalian pemanfaatan ruang untuk meminimalisasi dampak banjir tersebut harus disusun dalam suatu pedoman yang bermanfaat dalam proses pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang.

Dari uraian diatas, sebenarnya upaya kerjasama Tata Ruang Jabodetabek-Punjur dalam Perencanaan-Pemanfaatan-Pengendalian Ruang sudah diupayakan dan bahkan salah satunya adalah penanganan banjir yang dipredeksikan akan terjadi setiap saat, dan kebetulan sekali implementasi Tata Ruang tersebut belum/sedang dalam proses, 1-5 Februari 2007 baru lalu pun keburu terjadi banjir. Dengan demikian yang belum sempat diupayakan secara nyata sepertinya pelaksanaan atau implementasi Tata Ruang secara terkoordinasi dan manajerial antar Pemerintah Kota yang dinaungi Jabodetabek-Punjur. Pelaksanaan atau implementasi tersebut sepertinya menjadi tidak mudah, mengingat inisiatif penyusunan dokumen

Tata Ruang belum diunjukkan oleh 9 (sembilan) pemerintah daerah otonom secara bersama-sama sebagai suatu kebutuhan bersama, namun oleh Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat, sedang konsekuensi pelaksanaan ada pada pemerintah daerah otonom yang bersangkutan. Dilain pihak, sebenarnya pemerintah daerah otonom tersebut mempunyai persoalan terhadap pengaturan lahan dan konversi lahan, oleh karenanya Pemerintah Pusat melalui Departemen PU dan Badan Pertanahan Nasional/BPN perlu mengkaji kemungkinan memperkenalkan konsolidasi lahan secara regional, agar pemilik lahan dikawasan konservasi mendapatkan manfaat ekonomi dan dikonsolidasikan dikawasan budidaya.

Kerjasama, Jaringan, dan Sistem (Partnerships, Networks and Systems)

Kerjasama diantara Pemerintah Daerah yang terlibat dalam regionalisasi dan atau antara region dengan pemangku kepentingan (stakeholders) yang lain, sangat penting dilakukan dengan menjaga keseimbangan kekuatan yang timbul pada saat proses kerjasama berlangsung, artinya perlu dijaga keadilan dan keseimbangan yang tidak berpihak. Hubungan kerjasama region dan pembangunan regional, seyogyanya ditekankan melalui sistem dan jejaring secara internal dan eksternal. Hal inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh pemerintah otonom Kota-Kabupaten maupun Propinsi, mengingat dalam otonomi daerah yang berawal dari pola sentralistik top down, sebenarnya pemerintah daerah otonom belum sepenuhnya siap, karena sebelumnya sudah terbiasa dengan pola instruksi, pembagian kewenangan dan distribusi sumberdaya dana dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah yang merupakan bagian dari NKRI.

(4)

Jaringan dapat dibentuk dari sejumlah hubungan bilateral dan dapat memulainya dengan atau melalui joint venture sebagai langkah awal yang menguntungkan kedua belah atau lebih pihak yang bekerjasama secara regional. Dalam suatu rantai jaringan, sebuah jaringan setidak-tidaknya bisa terdiri dari dua institusi inti, termasuk juga institusi yang mensponsori jaringan kerjasama dengan institusi lain. Karena interaksi antar institusi dikembangkan secara iterative dan luas dalam hal isi, ruang dan waktu, maka diharapkan apa yang terjadi tersebut merupakan jaringan kerjasama yang lengkap dari suatu kemitraan kerjasama regional.

(DeBresson & Amesse, 1991, p.364)

Konsep Regionalisasi Kerjasama Antar Daerah = Konsep Regional Management

Untuk mewujudkan tujuan pengembangan wilayah, dapat dilakukan dengan cara bersinergi melalui kerjasama antara satu pemerintah daerah otonom dengan pemerintah daerah otonom lainnya.. Kerjasama antar wilayah tersebut, berkaitan dengan pengertian wilayah, dapat dilakukan pula berdasarkan aspek fungsional maupun administrasi. Dengan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, maka batas wilayah lebih ditentukan sesuai dengan batas politik atau administratif = batas daerah, sehingga seringkali dapat menimbulkan ketidak efektifan dan ketidakefisienan dalam pengembangan wilayah yang lebih luas. Dengan meninjau wilayah sebagai wilayah fungsional maka diperlukan suatu kerjasama antar wilayah.

Kerjasama pada hakekatnya mengindikasikan adanya dua pihak atau lebih yang berinteraksi atau menjalin hubungan-hubungan yang bersifat dinamis untuk mencapai suatu tujuan bersama. Di sini terlihat adanya tiga unsur pokok yang selalu melekat pada suatu kerangka kerjasama yaitu unsur dua pihak atau lebih; unsur interaksi dan unsur tujuan kerjasama. Jika salah satu dari ketiga unsur ini tidak termuat pada suatu obyek yang dikaji, maka dapat dianggap bahwa pada obyek tersebut tidak terdapat kerjasama.

Dengan demikian, terlihat ada dua skenario yang kemungkinan akan terjadi dalam regionalisasi dengan pola kerjasama regional yaitu :apakah masing-masing daerah akan bekerjasama untuk kepentingan bersama. atau malahan saling bersaing untuk memajukan daerahnya masing-masing.

Kompetisi antar daerah yang akan terjadi tersebut tidak boleh mengesampingkan kepentingan-kepentingan yang lebih tinggi, yaitu

kepentingan antar wilayah, nasional dan pembangunan yang berkelanjutan. Kepentingan kedaerahan tidak boleh menyebabkan terjadinya persaingan yang tidak sehat antara suatu daerah dengan daerah tetangganya.

Jika spatial ego – ego sektoral – kedaerahan muncul tanpa memperhatikan wilayah hinterland, baik yang berpengaruh maupun yang dipengaruhi, maka konflik antar daerah akan muncul. Konflik tersebut dapat timbul karena tidak adanya koordinasi antar daerah di dalam penanganan perbedaan kepentingan (conflict of interest) antar daerah.

Kerjasama antar daerah akan memperkuat potensi komparatif dan kompetitif di dalam persaingan antar daerah. Suatu daerah yang tidak memiliki suatu sumber daya akan mendapatkannya dari daerah tetangganya. Sebaliknya, potensi yang dimilikinya juga akan dapat dimanfaatkan secara bersama-sama dengan daerah tetangganya. Saling melengkapi di dalam pemenuhan kebutuhan pembangunan ini akan berdampak pada semakin kuatnya tawar menawar mereka di dalam proses pembangunan.Hal ini juga akan membuat daerah tersebut semakin menarik bagi para penanam modal untuk menanamkan modalnya di daerah tersebut.

Dengan berlangsungnya era reformasi, daerah mempunyai kewenangan untuk mengelola pemerintahan dan pembangunan di daerah secara otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab memberi keleluasaan daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah berdasar aspirasi dan sumber daya alam yang ada di daerahnya.

Saat ini, daerah dapat lebih leluasa untuk mengatur dan membuat kebijaksanaan daerah termasuk dalam menetapkan kelembagaan. Kewenangan wajib bagi daerah telah ditetapkan, walaupun semua kewenangan telah diserahkan menjadi kewenangan daerah, kecuali beberapa bidang urusan yang masih tetap menjadi urusan Pusat dan Propinsi. Propinsi sebagai daerah otonom mempunyai kewenangan terbatas, yaitu kewenangan yang menyangkut lintas Kota/kabupaten. Artinya bahwa kewenangan yang menyangkut urusan yang bersifat lintas Kota/kabupaten dan kewenangan lain yang belum diurus oleh Kota/kabupaten serta kewenangan yang ditentukan oleh pusat, merupakan kewenangan Propinsi.

(5)

beberapa konflik yang dapat muncul yang menyangkut lintas Kota/kabupaten merupakan kewenangan Propinsi atau memerlukan koordinasi dengan Propinsi.

Keputusan-keputusan yang berkaitan dengan tenaga kerja dan penyerapannya, penggunaan lahan, investasi, pemajakan dan retribusi perlu dicermati, karena berkaitan dan dapat mempengaruhi wilayah lain yang lebih luas. Keputusan-keputusan pemerintah daerah perlu dipertimbangkan atas dasar manajemen pembangunan yang baik, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif yang luas di kemudian hari. Dalam hal kelembagaan, daerah diberi kewenangan untuk membentuk sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah.

Faktor-faktor yang bisa menjadi penyebab perlunya kerjasama daerah (Curdes: 2003) antara lain :

1. Faktor kesamaan kepentingan: semakin berkembangnya kesadaran akan keterbatasan daerah di berbagai sektor dan perlunya menggalang kekuatan atau potensi daerah secara bersama-sama.

2. Berkembangnya paradigma baru di masyarakat: perlunya wadah komunikatif yang menunjang pendekatan perencanaan partisipatif sesuai dengan semangat otonomi daerah.

3. Jawaban terhadap kekhawatiran disintegrasi, oleh karenanya perlu menggalang persatuan; dan kesatuan dalam mempererat kerjasama antar daerah.

4. Sinergi antar daerah, tumbuhnya kesadaran, bahwa dengan kerjasama antardaerah dapat memperbesar peluang bagi keberhasilan pembangunan daerah.

5. Peluang perolehan kerjasama dan sumber dana dari program pembangunan baik nasional maupun internasional

6. Sebagai wadah komunikasi utama bagi

stakeholder dan shareholder dalam kegiatan pembangunan.

Strategi Pengelolaan Pembangunan Kawasan Intra-regional

Strategi dan langkah-langkah kebijaksanaan pembangunan wilayah kerjasama bermuara pada kesatuan pandangan bahwa wilayah kerjasama adalah merupakan satu kesatuan dalam Propinsi, daerah dan masyarakatnya mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam hal menerima pelayanan dari pemerintah dalam arti luas, terutama melalui upaya pemerataan pembangunan yang ditujukan :

Upaya memperbaiki kondisi kehidupan sosial ekonomi masyarakat agar mampu

meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya.

Pemantapan keamanan dan ketertiban dalam rangka pembinaan masyarakat menuju terciptanya ketahanan dalam kehidupannya. Dengan demikian pembangunan wilayah kerjasama mencakup dua aspek, yaitu aspek kesejahteraan

(prosperity) dan keamanan (security).

Untuk mewujudkan hal itu maka wilayah kerjasama penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan pembangunannya, sehingga munculnya konflik kawasan kerjasama bisa dihindari. Artinya bahwa perlu adanya koordinasi untuk pengelolaan pembangunan di kawasan kerjasama tersebut, khususnya potensi-potensi pengembangan yang dapat memunculkan konflik kerjasama (permasalahan regional), antara lain :

ƒ Pengelolaan sistem prasarana perhubungan (transportasi) khususnya pada wilayah kerjasama.

ƒ Pengelolaan prasarana pendukung lain seperti air bersih, drainase dan persoalan banjir, prasarana persampahan, irigasi, listrik, komunikasi guna meningkatkan pelayanan masyarakat.

ƒ Pengelolaan permukiman (rumah susun) potensial sebagai pusat ekonomi maupun sosial.

ƒ Pengelolaan ruang wilayah kerjasama secara khusus, tentunya perlu adanya perencanaan tata ruang kawasan kerjasama secara khusus yang menyangkut penetapan kawasan lindung maupun kawasan budidaya secara bersama dengan pendekatan konsolidasi lahan regional. ƒ Sedangkan untuk permasalahan lokal

merupakan permasalahan yang dapat diatasi daerah Kota/Kabupaten dan hal itu merupakan kewenangan lokal. Artinya bahwa dalam mengantisipasi permasalahan lokal adalah kewenangan Kota/Kabupaten dan atau secara bersama dalam wadah kerjasama, antara lain seperti :

- Kawasan kumuh (slumps) dan liar (squatters)

- Pengaturan kepadatan dan kondisi perumahan

- Pengaturan penataan bangunan dengan menerapkan IMB yang bisa konteks dengan Tata Ruang yang ada.

- Pengaturan tata bangunan dan lingkungan pada kawasan perbatasan/kerjasama

- Pengaturan dan penataan sektor informal. - Peyediaan dan pelayanan infrastruktur

(6)

jalan, air bersih, drainase dan pengatasan banjir, sewerage, persampahan, baik - Penyediaan fasilitas umum dan sosial

yang memenuhi syarat

- Pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan

- Pengaturan kawasan industri agar mempunyai dampak positif terhadap lingkungan.

- Penarikan retribusi PBB perkotaan untuk kawasan dengan tuntutan lingkungan perkotaan.

- Peningkatan perekonomian dan

pendapatan masyarakat

- Pengaturan penggunaan lahan melalui perencanaan tata ruang dan konsolidasi lahan perkotaan dan unjuk terhadap konsolidasi lahan regional.

Manajemen Pengelolaan Pembangunan di wilayah kerjasama regional

Manajemen pengelolaan pembangunan pemerintah daerah baik Pemerintah Kota-Kabupaten maupun Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat perlu memperhatikan beberapa hal :

ƒ Sumber daya manusia yang tangguh yang sadar akan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat dan bukan golongan, partai dan diri sendiri (mental/jujur dan spiritual).

ƒ Pemerintah daerah perlu menyadari bahwa mereka memiliki kontribusi potensial dalam mewujudkan vitalitas nasional.

ƒ Birokrasi Pemerintah Daerah dituntut untuk lebih cerdas (smart) dan imajinatif kreatif.

ƒ Era otonomi daerah perlu diarahkan untuk mendorong swadaya dan prakarsa masyarakat dapat tumbuh dan berkembang serta partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan.

ƒ Lemahnya wibawa dan legitimasi administrasi, akan berdampak pada melemahnya fungsi pembinaan terhadap kewajiban-kewajibannya.

Mengingat kompleksitas permasalahan baik lokal maupun regional, yang diharapkan

permasalahan lokal dapat diselesaikan pada level Kota/Kabupaten, sedangkan untuk permasalahan regional diharapkan dapat diselesaikan secara bersama antar Kota dengan Kabupaten dan dikoordinasi oleh Pemerintah yang lebih atas (Propinsi).

Sementara ini cara yang cukup efektif untuk memberikan kepuasan kepada berbagai pihak yang berkepentingan adalah dengan suatu upaya memobilisasi dan mendistribusi segala sumber daya yang perlu dilakukan secara sistematis untuk mencapai dan mewujudkan tujuan dan sasaran dari penanganan persoalan tersebut, yaitu suatu tindakan manajemen secara stratejik dengan unjuk bersama (management by sharing).

Manajemen stratejik sendiri sebenarnya mempunyai definisi yang berbeda-beda namun pada dasarnya tidak jauh dari kebenaran dan paling tidak mempunyai arti serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajeman tingkat atas dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran organisasi institusi dalam rangka pencapaian tujuan institusi tersebut, sedang ”stratejik” atau ”strategi” lebih populer dinyatakan dengan ”kiat” atau upaya-upaya.

Sedangkan keputusan stratejik yang bersifat multidimensional, apabila dikaitkan dengan ”sharing” akan menjadi formulasi demikian :

ƒ Dimensi keterlibatan manajemen puncak atau tingkat atas, akan dilakukan oleh pihak pemerintah Kota-Kabupaten dan Propinsi

ƒ Dimensi alokasi dana, sarana dan prasarana, dialokasikan oleh wilayah-wilayah yang bersangkutan sesuai dengan permasalahan yang timbul dan dihadapi masing-masing, bisa dengan pertimbangan spasial, luasan kewilayahan, maupun tingkat kepentingan yang berkaitan dengan masyarakatnya.

ƒ Dimensi waktu keputusan stratejik, dilakukan bersama.

ƒ Dimensi orientasi masa depan, dilakukan dengan perencanaan bersama

ƒ Konsekuensi isu stratejik yang multifaset, akan dihadapi bersama

ƒ Dimensi lingkungan eksternal, dipertimbangkan bersama untuk kepentingan bersama.

Adapun tahap-tahap dalam proses manajeman dengan ”sharing” :

ƒ Perumusan misi organisasi-institusi yang menangani bersama.

ƒ Penentuan profil masing-masing

institusi/dinas/sektor yang terlibat di masing-masing wilayah dalam skala kawasan

ƒ Analisis dan pilihan stratejik yang diinginkan bersama.

ƒ Penetapan sasaran jangka panjang.

ƒ Penentuan stratejik operasional, yang akan dilakukan oleh masing-masing wilayah

ƒ Penentuan sasaran jangka pendek, seperti sasaran tahunan, yang juga akan dilakukan oleh masing-masing wilayah.

(7)

ƒ Penciptaan sistem pengawasan bersama, dan masing-masing wilayah.

ƒ Penciptaan sistem penilaian

ƒ Penciptaan sistem umpan balik dengan pola audit dan bukan hanya sekedar monitoring-evaluasi.

Penanganan berbagai konflik di kawasan kerjasama dengan menggunakan pendekatan by sharing dapat disederhanakan sebagai berikut : ƒ Hubungan antara Pemerintah Propinsi dengan

Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten merupakan koordinasi vertical (manajerial), sedangkan hubungan sebaliknya dari Pemerintah Kota dan Pemerintah Kabupaten

dengan Pemerintah Propinsi merupakan hubungan dalam bentuk ”Vertical Participation” (Bottom Up).

ƒ Sedangkan antar Pemerintah Kota/Pemerintah Kabupaten merupakan hubungan yang bersifat ”

Horizontal Participation ” yang dilakukan dalam konteks Management by sharing.

Secara lebih jelas mengenai penanganan berbagai konflik di kawasan kerjasama dengan menggunakan pendekatan by sharing dapat dilihat pada Gambar 1. Sedangkan pengembangan konsep dalam pola management by sharing dengan melalui vertikal-horisontal, dapat dilihat dalam Gambar 2.

Gambar 1. Model Kerjasama Urbanized Participatory & Partnership dengan Pendekatan Regional Management by Sharing

Instansi Pemerintah, Swasta dan Masyarakat

A

Wilayah

B

Wilayah

B

Regional Management

Wilayah

A

Wilayah

C

Wilayah

C

Wilayah

Gambar 2. Management by Sharing Dengan Koordinasi Vertikal-Horisontal

Regional Management

PEMERINTAH

PROPINSI

(8)

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan bisa dikaji lebih lanjut

Dengan melakukan kerjasama dengan pendekatan Regional Management by Sharing, diharapkan permasalahan lokal dapat diselesaikan pada level Kota/Kabupaten, sedangkan untuk permasalahan regional diharapkan dapat diselesaikan secara bersama antar kota dengan kabupaten dan dikoordinasi oleh pemerintah yang lebih atas (Propinsi). Karena itu Konsep Regional Management (RM) by Sharing merupakan salah satu alat pendekatan pemecahan masalah berdasarkan pendekatan Problems Based Learning

yang diperlukan mahasiswa yang sekarang hadir untuk menyelesaikan studio atau studi kasus, maka perlu dilandasi pemikiran sebagai berikut:

• Perlu adanya pemahaman perubahan paradigma pemerintahan, yang semula perencanaan berasal dari atas (top down planning) dan sentralistik, harus berubah menjadi perencanaan yang mendasarkan pada kebutuhan masyarakat dengan menekankan koordinasi, komunikasi dan management.

• Kemauan dan kebutuhan masyarakat sebaiknya menjadi acuan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di semua bidang. Apabila hal ini berlaku, maka tanggung jawab pembangunan tidak hanya menjadi tanggung jawab birokrasi saja, tetapi menjadi tanggung jawab semua pihak.

• Perencanaan yang hanya ditentukan oleh birokrasi tanpa melibatkan peranserta masyarakat (shareholders) dan stake holders

yang lain akan menimbulkan dampak yang tidak dapat dinikmati dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal.

• Pemerintah Kota dan Pemerintahan Kabupaten membuat suatu kesepakatan yang mengarah pada penanganan masalah secara bersama-sama dan terpadu.

• Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat sebagai instansi yang mengatasinya, berperan sebagai mediator, moderator, fasilitator, dan promoter untuk sinkronisasi/keterpaduan program sektoral yang terkait.

• Pembinaan kepada selulur penghuni/pemukim, pengusaha dan yang beraktivitas di wilayah ini untuk bersama-sama memahami dan merespon keberadaannya, sehingga tahu apa yang menjadi hak dan kewajibannya.

• Penyelesaian dan penanganan antara kedua belah pihak (pemerintah Kota-Kabupaten) dengan prinsip win-win solution.

• Pengembang di wilayah ini harus mengetahui dan sudah siap dengan solusinya terhadap hal-hal yang akan timbul di kemudian hari, sehingga akan terlihat secara nyata partisipasinya dan peran sertanya dalam pengembangan wilayah. • Kebijakan yang dijalankan dan bila perlu dapat

dikeluarkan suatu peraturan daerah secara sub-region dalam kerangka kerjasam Regional Management, yang dapat dianut oleh Pemerintah Kota dan Pemerintahan Kabupaten dan Pemerintah Propinsi secara bersama.

• Pembentukan kelembagaan sebagai wadah untuk mengatasi konflik di kawasan kerjasama yang melibatkan stakeholders yang interest dan berkompeten pada kawasan kerjasama tersebut. • Pengikatan kesepakatan bersama antar institusi,

pengembang swasta, dinas sektoral, lembaga-lembaga keswadayaan masyarakat di wilayah kerjasama yang saling berkaitan dan berpengaruh untuk menyukseskan program yang direncanakan oleh Pemerintah Daerahnya, Pemerintah Daerah yang bekerjasama dan Pemerintah Propinsi..

• Pada pelaksanaannya regional management juga menitikberatkan pemanfaatan sinergi yang menghasilkan daya guna bagi pembangunan, misalnya dengan peningkatan efisiensi penggunaan infrastruktur, antarkabupaten, perusahaan swasta dan institusi atau badan yang terkait.

• Kerjasama regional bisa muncul atas inisiatif pemerintah, yang terbaik biasanya melingkupi wilayah dimana interaksi ekonomi yang sedang berkembang secara alami. Kerjasama antar wilayah dapat ditinjau dari berbagai pendekatan antara lain :

Berbagai kerjasama yang selama ini dilaksanakan antar negara antar wilayah memiliki berbagai macam latarbelakang antara lain :

Ekonomi

Ekonomi merupakan salah satu faktor utama dasar kebutuhan suatu kerjasama. Berbagai kebutuhan ekonomi terutama pada faktor pendorong kerjasama. Dengan adanya globalisasi serta munculnya pasar bebas, maka menimbulkan persaingan. Berbagai upaya mempertahankan maupun memperluas pasar serta semakin berkurangnya sumber daya alam, membutuhkan suatu kerjasama antar wilayah di suatu kawasan

Geografi

(9)

kerjasama, kerjasama ini terjadi akibat kedekatan geografis, dalam arti berbatasan langsung. Pada wilayah suatu Daerah Aliran Sungai juga rnerupakan faktor pengikat suatu wilayah, dengan pertimbangan kepentingan pengelolaan sungai yang sama. Pada daerah kepulauan, maka kerjasama dilakukan karena merupakan kedekatan geografis yang berbatasan pada laut/selat yang sama.

Kultur

Kultur budaya merupakan salah satu pendorong dari suatu kerjasama. Persamaan budaya dan sebaliknya keragaman budaya akan lebih mengikat kerjasama, karena persamaan dan keragaman budaya merupakan salah satu pencerminan sejarah suatu wilayah, sehingga menimbulkan adanya saling pengertian (Abdurrahman, 2003).

Berbagai Bentuk Kerjasama Antardaerah

Kerjasama antar daerah dapat meliputi semua urusan pemerintahan yang termasuk urusan rumah tangga daerah dan urusan tugas pembantuan. Juga telah dikemukakan bahwa penyerahan urusan pemerintahan untuk menjadi urusan rumah tangga, atau untuk menjadi tugas pembantuan bagi suatu daerah tertentu terdapat beberapa variasi. Suatu daerah yang masa pembentukannya telah cukup lama dan tingkat perkembangannya telah mencapai kemampuan tertentu akan berbeda dengan daerah yang baru terbentuk dengan perkembangan yang belum laju. Perbedaan itu akan menyangkut jenis-jenis urusan yang diserahkan, ruang lingkup kewenangan serta jumlah keseluruhan dari urusan-urusan yang diserahkannya itu.

Urusan rumah tangga daerah pada hakikatnya adalah segala urusan pemerintahan telah diserahkan dalam rangka pelaksanaan otonomi dari daerah yang bersangkutan. Adapun urusan tugas pembantuan menurut UU No. 5 tahun 1974 adalah tugas untuk turut serta dalam melaksanakan urusan pemerintahan yang ditugaskan kepada Pemerintah Daerah oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah tingkat

atasnya dengan kewajiban mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya (pasal 1 huruf d).

Kerjasama antar Daerah yang pada pokoknya menunjukkan adanya usaha bersama yang dilakukan oleh dua daerah atau lebih, dapat mengambil berbagai bentuk. Pada uraian sebelumnya telah dikemukakan bahwa kerjasama antar daerah dapat dilakukan oleh dua daerah atau

oleh tiga daerah atau lebih, dapat pula dilakukan oleh sesama daerah dalam satu lingkungan propinsi atau oleh sesama daerah tidak dalam satu lingkungan propinsi. Untuk kasus Jabodetabek-Punjur, seyogyanya dirangsang agar Pemerintah Daerah (9 Kabupaten-Kota, 3 Propinsi) yang ada dalam kerjasama Tata Ruang tersebut sadar dan butuh menyelesaikan banjir, transportasi, permukiman, persampahan, aliran ekonomi, kebersamaan pengembangan, industri, pariwisata, yang tujuan akhirnya untuk mensejahterakan masyarakat di daerah dan wilayah yang masuk dalam kerjasama tersebut dan bahkan masyarakat Nasional.

Sebagaimana kita ketahui pengembangan wilayah adalah upaya untuk memperbaiki tingkat kesejahteraan hidup masyarakat di suatu wilayah tertentu. Tujuan pengembangan wilayah mengandung dua sisi yang saling berkaitan, yaitu sisi sosial ekonomi dan sisi ekologis. Pengembangan wilayah merupakan program yang menyeluruh dan terpadu dari semua kegiatan dengan memperhitungkan sumber daya yang ada dan kontribusinya pada pembangunan suatu wilayah yang berkelanjutan (suistainable). Beberapa kata kunci yang dapat dipertimbangkan dalam kerjasama regional (Regional Management) dan upaya pengembangan wilayah, yaitu:

• Program yang menyeluruh dan terpadu dimiliki dan atau diunjukkan oleh masing-masing Pemerintah Daerah Otonom,

• Sumber daya yang tersedia dan kontribusinya terhadap wilayah secara luas dalam regionalisasi. • Adanya suatu wilayah tertentu yang potensial

untuk bekerjasama (Jabodetabek-Punjr sangat potensial).

• Kesamaan pandang antar wilayah, daerah yang akan bekerjasama.

Good governance

• Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat berperan sebagai inisiator, promotor, koordinator, mediator, fasilitator, sponsor, regulator, auditor (monev+++)

Referensi

Abdurahman, Beny (2003), Pemahaman Dasar Regional Management dan Regional Marketing, IAP Jawa-Tengah, Undip, Semarang

Blakely, E.J. (1989), Planning Local Economic Development: Theory and Practice, Sage Publications, Newbury Park, London and New Delhi.

(10)

Cashin, S.D. (1999), Localism, Self-Interest and the Tyranny of the Favored Quarter: Addressing the Barriers to the New Regionalism. Georgetown University Law Center, Working Paper Series in Law in Business and Economics, Working

Paper no. 194751 (http://papers.ssrn.com/paper.taf?abstract_id=1

94751).

Cheers, B. and Luloff, A.E. (2001), Rural Community Development, Chapter 11 in S. Lockie and L. Bourke (eds.), Rurality Bites: The Social and Environmental Transformation of Rural Australia, Pluto Press, Annandale, pp.129-42. Cheers, Brian .(2002),The Upper Spencer Gulf

Common Purpose Group: A Model of Intra-regional Cooperation for Economic Development, Port Augusta, Port Pirie and Whyalla

CURDES (Center for Urban and Regional Development Studies), (2003), Studi Regional Management kawasan Barlingmascakeb, Undip, Semarang.

Geddes, M. (1998), Local Partnership: A Successful Strategy for Social Cohesion? European Research Report, European Foundation for the Improvement of Living and Working Conditions, London.

Harvey, D. (1989), From Managerialism to Entrepreneurialism: The Transformation in Urban Governance in Late Capitalism,

Georgrafiska Annaler v. 71B no.1, pp.3-17. Harvey, J., Hughes, E. & Tyler, P. (1998), Report to

Council and the Whyalla Economic Development Board on the Newcastle Visit, University of South Australia, Whyalla.

Hunter Economic Development Corporation (1997),

Hunter Region: Towards a Sustainable Future,

Discussion Paper for the Hunter Region Jobs Summit, Nov. 14.

Humphrey, C.R. and Krannich, R.S. (1980), The promotion of growth in small urban places and its impact on population change, 1975-1978,

Social Science Quarterly, 61, pp.581-94. Le Gales, P. and Mawson, J. (1995), French Urban

Policy: The Implications for Regeneration Policies in the English Regions, Planning Practice and Research, 10(3-4), pp.379-398. Light, E. (2000), Regional Partnership Programme,

NZ Business, pp.10-14. Electronic version accessed via EBSCO host).

Malecki, E.J. (1991), Technology and Economic Development: The Dynamic of Local Regional and National Change, Longman, Harlow, UK. Shortall, S. and Shucksmith, M. (2001), Rural

Development in Practice: Issues Arising in

Scotland and Northern Ireland, Community Development Journal, 36(2), pp122.133.

(11)

Gambar

Gambar 2. Management by Sharing Dengan Koordinasi Vertikal-Horisontal

Referensi

Dokumen terkait

Analisis variansi dengan variabel bebas bersifat kualitatif, dapat diselesaikan melalui pendekatan regresi yang variabel bebasnya bersifat kuantitatif, dengan menambahkan variabel

Pada beberapa cekungan, keduanya lokal dan sistem aliran regional mungkin ada, saat di cekungan lain dengan sebuah kedalaman serupa/rasio panjang tapi dengan

QAP dengan order yang lebih tinggi dari 10 atau 15 sukar diselesaikan dengan pendekatan branch and bound, sehingga digunakan pendekatan pencarian langsung yaitu

Dengan metode pengembangan KMS yang diusulkan dengan model SECI dan pendekatan SSM sebuah organisasi dapat melihat secara holistik sebuah permasalahan yang timbul akibat

Dengan menggunakan pendekatan Metode FishBone Diagram diharapkan mampu mengurai akar-akar permasalahan yang ada, sehingga dapat diketahui solusi berupa tindakan

Dalam kaitannya dengan kerjasama ekonomi sub-regional dalam lingkup kerjasama ASEAN yang melibatkan propinsi-propinsi di wilayah KBI dan KTI, berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah

Dengan metode pengembangan KMS yang diusulkan dengan model SECI dan pendekatan SSM sebuah organisasi dapat melihat secara holistik sebuah permasalahan yang timbul akibat

Dengan perancangan kawasan wisata pantai minanga dengan pendekatan arsitektur ekowisata ini diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan yang timbul didaerah kawasan wisata pantai