xiii
R u m u s a n
Departemen Kehutanan telah menetapkan lima Kebijakan Prioritas Bidang Kehutanan dalam Program Pembangunan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu. Salah satu kebijakan tersebut adalah Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya
Hutan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka kegiatan ekspose hasil-hasil
penelitian ini dipandang sangat penting dan memiliki relevansi yang erat sehingga perlu ditindaklanjuti melalui tindakan nyata. Selain itu, ekspose hasil-hasil penelitian ini merupakan salah satu bentuk pertanggung-jawaban publik terhadap pengelolaan keuangan negara dalam pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang kehutanan.
Selanjutnya, untuk memberikan dukungan tersebut di atas, maka dengan memperhatikan sambutan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, sambutan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, paparan pemakalah, serta hasil diskusi dalam Ekspose Hasil-Hasil Penelitian yang diselenggarakan di Padang pada tanggal 20 September 2006, dapat ditarik rumusan sebagai berikut:
A. Konservasi Sumberdaya Alam
1. Rusa merupakan salah satu jenis satwa liar yang mempunyai potensi ekonomi dan populasinya di alam semakin menurun karena sering diburu. Untuk menghindari kepunahan dan sekaligus memanfaatkan rusa secara optimal dan berkelanjutan dapat dilakukan penangkaran (untuk tujuan konservasi ex-situ) atau budidaya/peternakan untuk kepentingan ekonomi masyarakat.
2. Budidaya/peternakan rusa dapat dilakukan dalam skala kecil dan skala besar, dengan memperhatikan komponen induk (terutama sex ratio), pakan, dan habitat (sumber air, naungan, dan ruang).
3. Jenis satwa langka lain yang juga terancam keberadaan jenis dan populasinya adalah satwa burung. Saat ini, keberadaan beberapa jenis burung tersebut sudah mulai langka sehingga perlu dilakukan tindakan konservasi in-situ dan
ex-situ.
4. Konservasi burung secara ex-situ (di luar habitat alaminya) dapat dilakukan melalui penangkaran yang dapat ditujukan untuk konservasi jenis dan populasi, pendidikan dan penelitian, serta pengembangan wisata.
5. Pada komplek hutan Tiniti, Siberut Utara, terdapat populasi 4 jenis primata endemik Hylobates klossii, Simias concolor, Presbytis potenziani, dan Macaca
pagensis. Populasi tersebut hidup pada bekas areal tebangan lebih dari 30
xiv
B. Pengelolaan Kawasan Hutan dan Daerah Penyangga
1. Pengelolaan kawasan konservasi, khususnya di Provinsi Sumatera Barat, tidak terlepas dari pengelolaan daerah penyangganya (di luar kawasan konservasi) yang berfungsi dalam mengurangi tekanan penduduk terhadap kawasan konservasi tersebut.
2. Bentuk dan luasan daerah penyangga disesuaikan dengan lokasi dan jumlah desa-desa di sekitar kawasan yang diperkirakan dapat menekan keberadaan kawasan konservasi tersebut. Pengelolaan dilakukan dengan memadukan kepentingan konservasi, perekonomian, dan sosial budaya masyarakat sekitarnya.
3. Pengelolaan daerah penyangga yang dikaitkan dengan upaya rehabilitasi lahan dilakukan melalui best practice (antara lain dengan pola agroforestry, hutan kemasyarakatan, dan hutan rakyat) sehingga lebih optimal.
4. Pengelolaan daerah penyangga dapat dilakukan dengan pembagian ke dalam zonasi, yaitu jalur hijau, jalur interaksi, dan jalur kawasan budidaya.
5. Pengelolaan ekosistem mangrove, baik yang terdapat dalam kawasan konservasi maupun non konservasi, membutuhkan perhatian yang serius, mengingat perananannya secara ekologis, ekonomis dan sosial, khususnya dalam mendukung pembangunan wilayah pesisir.
6. Pengelolaan daerah penyangga di ekosistem mangrove dapat dilakukan dengan membangun green belt, sehingga tidak mengganggu kawasan utama ekosistem tersebut. Selanjutnya, penerapan pola silvofishery dapat dilakukan dengan mempertimbangkan komposisi antara luasan areal bervegetasi mangrove dan areal tambak (empang). Kondisi areal silvofishery yang baik dengan komposisi yang memadai, tidak saja meningkatkan produksi tambak, juga dapat meningkatkan produksi perikanan tangkap.
C. Rehabilitasi Hutan dan Lahan
1. Kondisi lingkungan hidup di daerah perkotaan (termasuk di Provinsi Sumatera Barat) sudah semakin buruk akibat polusi dan kerusakan alam, sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan ekologi. Salah satu alternatif dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui program pembangunan dan pengelolaan Hutan Kota.
2. Pengelolaan hutan kota sebaiknya dilakukan dengan pemilihan jenis yang cocok peruntukannya dan merupakan jenis asli atau andalan setempat, dengan mempertimbangkan pula aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya masyarakat.
3. Keberadaan hutan mangrove di wilayah Provinsi Sumatera Barat sekitar 95 % (18.404,92 ha) kondisinya rusak dan hanya sekitar 5 % (909,82 ha) dalam kondisi baik, sehingga perlu dilakukan kegiatan rehabilitasi. Oleh sebab itu, perlu disusun master plan berdasarkan data obyektif kondisi biofisik dan sosial. 4. Konservasi tanah dan air (KTA) merupakan upaya menempatkan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah.
xv Penerapan teknik ini dikombinasikan dengan pembuatan guludan untuk menangkap unsur hara yang terbawa aliran permukaan. Melalui teknik KTA ini diharapkan dapat membantu dalam upaya mengurangi laju aliran permukaan, erosi, dan kehilangan unsur hara.
6. Teknik KTA ini dapat melibatkan masyarakat terutama pada pengelolaan hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan dalam program perhutanan sosial.
7. Jenis Pinus merkusii di Sumatera terdapat 3 strain, yaitu Aceh, Tapanuli, dan
Kerinci. Strain Kerinci saat ini sudah mulai langka dan konservasinya
menghadapi kendala karena sulitnya mendapatkan benih dari alam.
8. Sistem peremajaan strain Kerinci yang paling praktis adalah dengan mengumpulkan bibit yang berasal dari semai liar (wildling) dari hutan alam. Untuk itu perlu dilakukan pembukaan tajuk yang terkendali guna memberikan kesempatan bagi benih untuk tumbuh agar dapat dijadikan bibit.
9. Dalam upaya mendukung kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dibutuhkan bibit dengan kualitas yang memenuhi standar dan kuantitas yang sesuai kebutuhan, serta biaya produksi yang ekonomis. Untuk penyediaan bibit secara masal tersebut dapat dilakukan dengan perbanyakan generatif dan vegetatif. Salah satu cara vegetatif yang dikembangkan untuk memproduksi bibit secara masal dan berkualitas, serta menekan biaya produksi adalah sistem KOFFCO.
10. Penyediaan bibit yang berkualitas baik dalam rangka rehabilitasi hutan dan lahan dapat dilakukan dengan teknologi mikoriza untuk memacu pertumbuhannya. Dalam teknik ini, sebaiknya diaplikasikan mikoriza ‘asli’ dari hutan tropis Indonesia, khususnya dari kawasan hutan di Sumatera Barat. Aplikasi ini akan membantu pertumbuhan tanaman pada lahan-lahan hutan yang terdegradasi di bekas areal pertambangan, padang alang-alang, dan lahan rawa-gambut.
11. Selain wilayah hutan daratan, pengelolaan wilayah perairan, khususnya perairan darat, dapat menunjang kegiatan konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan. Salah satu kegiatan tersebut adalah dengan memanfaatkan jenis invasif eceng gondok, sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. 12. Pemanfaatan eceng gondok dilakukan dengan mengolahnya menjadi bahan
baku kertas. Proses pengolahan tersebut relatif mudah dan sangat prospektif dikembangkan oleh industri kerajinan kertas seni sebagai bahan souvenir.
D. Kelembagaan dan Kebijakan Pengelolaan Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya Hutan
1. Kerusakan hutan di Provinsi Sumatera Barat diakibatkan karena perambahan dan illegal logging yang melibatkan mafia kayu yang sangat kuat. Di sisi lain, penerapan law enforcement masih sangat lemah, sehingga perlu diperkuat, baik kapasitas lembaga maupun aparaturnya.
2. Dalam penerapan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, khususnya dalam pengelolaan, rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan, maka perlu dibuat perangkat Peraturan Daerah (Perda) yang disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga penjabaran dan penerapan peraturan tersebut lebih efektif.
xvi
tradisional setempat (traditional wisdom). Demikian pula dengan bentuk kelembagaannya yang berkolaborasi antara lembaga formal dan informal, seperti halnya Lembaga Kenagarian dan Dinas Kehutanan setempat dalam pengelolaan hutan lindung di Kabupaten Pasaman.
4. Hasil-hasil litbang dalam pengelolaan, rehabilitasi, dan konservasi sumberdaya hutan yang menunjukkan hasil positif perlu ditindak-lanjuti dan di-“provokasi” terutama kepada pihak-pihak berwenang dan terkait lainnya.
5. “Provokasi” pengelolaan hutan, khususnya dalam kegiatan rehabilitasi, sebaiknya mengedepankan konsep penggunaan sumberdaya alami dan asli suatu daerah, dengan memperhatikan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat setempat.
6. Salah satu jenis kayu yang saat ini diusahakan di Sumatera Barat adalah pinus
(Pinus merkusii), namun kebanyakan digunakan sebagai kayu bakar. Oleh
sebab itu, perlu dikembangkan dalam rangka meningkatkan nilai tambah sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu dibutuh-kan hasil-hasil litbang yang dapat dijadidibutuh-kan pedoman dan diterapdibutuh-kan dalam upaya pelestarian dan pemanfaatannya.
7. Hasil-hasil litbang kehutanan yang akan diterapkan kepada masyarakat perlu dimediasikan oleh penyuluh kehutanan, sehingga penguatan kapasitas penyuluh kehutanan tersebut harus dilakukan, salah satu di antaranya dengan mengikuti ekspose hasil-hasil penelitian.
Demikian poin-poin yang dapat disimpulkan dalam rumusan ekspose hasil-hasil penelitian ini. Diharapkan hasil-hasil rumusan ini dapat bermanfaat dan dapat digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan, rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan, khususnya di wilayah Provinsi Sumatera Barat.
Semoga acara ini ada manfaatnya bagi kita:
“Satitiak tolong jadikan lauik, Sakawik tolong jadikan bumi”
Mari kita satukan tekad dalam peningkatan mutu lingkungan :
“Saciok bak ayam, Sadanciang bak basi”
Padang, 20 September 2006
Tim Perumus :
Dr. H. M. Bismark (Ketua)
Dr. Pratiwi (Sekretaris)
Prof. Dr. Ir. Hendi Suhaendi (Angota) Dr. Ismayadi Samsoedin (Anggota) Ir. Atok Subiakto, M.Sc. (Anggota)