Prosiding Seminar Nasional Teknologi Elektro Terapan 2017 Vol.01 No.01, ISSN: 2581-0049
Hendy Briantoro
a), Ida Anisah 2
a)Abstrak:Salah satu permasalahan dalam system komunikasi nirkabel adalah adanya multipath fading. Salah satu cara untuk mengatasi multipath fadingadalah dengan menggunakan teknik diversity, bisa menggunakan multiple antenna. Tetapi multiple antenna memiliki permasalahan yaitu ukuran menjadi lebih besar, biaya lebih banyak, konsumsi daya lebih besar dan kompleksitas yang lebih tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan teknik baru yaitu menggunakan sistem komunikasi kooperatif. Walaupun sistem komunikasi kooperatif telah banyak dipelajari, namun masih sedikit penelitian yang mengimplementasikan sistem tersebut. Maka pada penelitian ini dilakukan simulasi dan implementasi sistem komunikasi kooperatif pada modul Wireless Open Access Research Platform (WARP) menggunakan relay Demodulate and Forward dan teknik Maximum Ratio Combining (MRC) dan Selection
Combining (SC). Penelitian ini membandingkan kinerja dari sistem komunikasi kooperatif dengan sistem
komunikasi single antennadan multihop. Hasil kinerja yang dilihat adalah besar BER pada fungsi daya pancar dan fungsi jarak. Jarak sourcedan relay diatur sebesar 3 meter, jarak relaydengan destination diatur sebesar 3 meter sehingga jarak sourcedan destinationadalah 6 meter. Hasilnya sistem komunikasi kooperatif (MRC) lebih baik dari
single antennadan multihop. Semakin jauh jarak antara sourcedan destinationmaka semakin besar nilai BER dan
semakin besar nilai daya pancarnya maka nilai BER semakin kecil.
Kata-kata kunci: sistem komunikasi kooperatif, relay demodulate and forward, maximum ratio combining,
selection combining
1. Pendahuluan
Saat ini perkembangan teknologi komunikasi sangat pesat. Banyak peralatan komunikasi yang menggunakan media nirkabel yang memiliki banyak keunggulan, antara lain praktis dan mempunyai mobilitas yang tinggi. Tetapi dalam implementasi sistem komunikasi nirkabel banyak sekali tantangan yang harus dihadapi, missal pada media nirkabel sinyal yang dikirimkan tidak terlindung di dalam suatu waveguide, sinyal yang dikirimakan mengalami banyak gangguan yang dapat menurunkan kinerja sistem. Kondisi kanal akan menurun sehingga mengakibatkan kapasitas kanal dan reliability dari data yang dikirimkan juga menurun. Gangguan pada sistem komunikasi nirkabel yang paling dominan adalah multipath fading.
Untuk mengatasi multipath fading, digunakan teknik diversity. Spatial diversity merupakan salah satu teknik diversity yang menggunakan multiple antena (MIMO). Beberapa perangkat nirkabel memiliki keterbatasan ukuran, biaya, dan kompleksitas perangkat keras sehingga kita tidak dapat mengimplementasikan multiple antena [1]. Maka dikembangkan teknik baru untuk mengatasi keterbatasan tersebut, yaitu menggunakan sistem komunikasi kooperatif. Dengan menggunakan sistem komunikasi kooperatif, dapat dihasilkan antena virtual yang mendukung teknik diversity [2].
Sistem komunikasi kooperatif merupakan mekanisme yang mengumpulkan sumber daya dari node-node yang
terdistribusi untuk meningkatkan seluruh kinerja jaringan nirkabel[3]. Pada sistem komunikasi kooperatif, source (S) mengirimkan informasinya secara broadcast ke destination (D) dan ke relay (R) yang merupakan user lain dalam area yang berada didekatnya. Kemudian sinyal yang diterima oleh R akan diolah terlebih dahulu untuk kemudian dikirimkan ke D. Sinyal yang diterima dari pengirim maupun dari relay akan mengalami proses combining di penerima [4].
Penelitian tentang sistem komunikasi kooperatif sangatlah banyak [1-2] [5-6]. Survei di [5] dan [6] menyediakan gambaran umum yang sangat baik dari teori sistem komunikasi kooperatif. Meskipun sistem komunikasi kooperatif telah banyak dipelajari, namun masih sedikit penelitian yang mengimplementasikan sistem tersebut. Dengan demikian, masalah-masalah yang berhubungan dengan implementasi masih belum dipahami denganbaik.
Ada berbagai macam platform yang digunakan untuk mengimplementasikan sistem komunikasi kooperatif. Pada [7] penulis menggunakan software define radio platform yang digunakan untuk desain layer fisik. Masih terdapat kekurangan jika menggunakan platform tersebut, yaitu implementasi software dari lapisan fisik tidak bekerja secara real time. Adapun platform lain yang bisa digunakan adalah proyek GNURadio. Proyek tersebut menyediakan platform pengembangan nirkabel yang fleksibel, yang mencakup kerangka open-source dari algoritma nirkabel yang diimplementasikan dalam perangkat lunak. Tetapi dengan sebagian besar pengolahan dijalankankan PC, saat ini GNURadio tidak dapat menjalankan jenis komunikasi yang high-throughputdan komunikasi wide-band[8]. Korespondensi: [email protected]
Salah satu platform yang bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan platform-platform sebelumnya adalah WARP. Wireless Open-Access Research Platform
(WARP), merupakan sebuah modul Field Programmable
Gate Array (FPGA) yang telah dipersiapkan untuk
mengimplementasikan algoritma nirkabel canggih. Platform ini memiliki banyak keunggulan, salah satunya adalah WARP dibuat dengan disain perangkat keras khusus, mengintegrasikan sumber daya pengolahan berbasis FPGA dengan antarmuka radio nyata. Selain itu platform ini didukung dengan modul khusus yang memudahkan pengguna dari berbagai pengolahan hardware dan sumber daya peripheral. Platform ini juga mendukung modul-modul digunakan untuk membangun berbagai aplikasi penelitian, termasuk implementasi real time dari physical layer dan MAC layer [9]. Oleh karena itu pada penelitian ini penulisakan mengimplementasikan sistem komunikasi kooperatif pada WARP. Pada penelitian ini akan ditunjukkan kinerja sistem komunikasi kooperatif pada lingkungan indoor. Pengukuran indoor akan dilakukan di Laboratorium Komunikasi Data di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya.
2. Metode Penelitian
2.1. Sistem Komunikasi Kooperatif
Sistem komunikasi kooperatif merupakan mekanisme yang mengumpulkan sumber daya dari node-node yang terdistribusi untuk meningkatkan seluruh kinerja jaringan nirkabel [3]. Pada sistem komunikasi kooperatif, source
(S) mengirimkan informasinya secara broadcast ke penerima (D) dan ke relay(R) yang merupakan user lain dalam area yang berada didekatnya. Kemudian sinyal yang diterima oleh R akan diolah terlebih dahulu untuk kemudian dikirimkan ke D. Sinyal yang diterima dari pengirim maupun dari relay akan mengalami proses
combining di penerima [4]. Dalam transmisi, jalur
pengiriman yang terjadi saling independen satu sama lain. Secara sederhana model komunikasi kooperatif ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1.Teknik Relaying keterangan :
S : source R : relay D : destination
hs,r : respon kanal source-relay hs,d : respon kanal source-destination hr,d : respon kanal relay-destination
Sistem komunikasi kooperatif beroperasi di bawah protokol Time Division Multiplexing (TDM) di mana sumber mentransmisikan data selama slot pertama dan relay mentransmisikan selama kedua. Data yang ditransmi-sikan selama slot pertama kali diterima oleh relay dan node tujuan.
2.2. Metode Forwarding
Dalam sistem komunikasi kooperatif terdapat dua metode yang dilakukan di relay, yaitu metode
Amplify-and-Forward (AF) dan metode Decode and Forward (DF).
Namun, untuk penelitian ini dilakukan inovasi yaitu menggunakan metode Demodulate and Forward. Peneliti menggunakan metode ini karena lebih simple dan cocok digunakan pada modul WARP. Untuk metode AF, tidak bisa digunakan karena berdasarkan spesifikasi WARP bahwa sinyal yang masuk pada buffertransmitter WARP harus berada diantara amplitudo -1 dan 1. Jika ada sinyal hasil penguatan yang amplitudonya lebih dari 1, sinyal tersebut dianggap cacat. Untuk metode DF, lebih kompleks lagi karena menggunakan teknik pengkodean. Pada metode
Demodulate and Forward, relay akan mendemodusaikan
sinyal yang diterima dari user lain sebelum mengirimkannya menuju destination node dan tidak ada penguatan sinyal noise pada sinyal yang dikirim seperti pada metode AF.
2.3. Teknik Combining
Adapun teknik combining yang digunakan adalah
Selection Combining (SC) dan Maximum Ratio Combining
(MRC) [10]. Pada teknikSCdipilih satu sinyal yang terbaik dari semua sinyal yang diterima. Pemilihan ini didasarkan oleh nilai Receive Signal Strength Indicator (RSSI) yang terbesar sesuai dengan persamaan (1).
(1)
Sedangkan untuk teknik Maximum Ratio Combining
(MRC) kedua sinyal dijumlahkan sesuai dengan Persamaan 2.
(2)
Keterangan :
yd[n] : sinyal hasil MRC di destination RSSIS : RSSI dari sinyal terima dari source RSSIR : RSSI dari sinyal terima darirelay
ys[n] : sinyal terima yang dikirim oleh source
yR[n] : sinyal terima yang dikirim oleh relay
3. Implementasi Sistem
Implementasi sistem komunikasi kooperatif pada penelitian ini menggunakan modul WARP versi 2, untuk mengintegrasikan PC dengan WARP menggunakan switch seperti tampak pada Gambar 2. Pada penelitian ini menggunakan WARPLab, yang merupakan sebuah frame work yang bisa mengintegrasikan modul WARP dengan program Matlab secara langsung. Penggunaan modul
R
D S
hs,r
hs,d
WARPLab, sinyal yang dibangkitkan Matlab bisa dikirimkan secara real-time melalui udara dengan menggunakan node WARP sebagai pemancar (S) dan penerima (D) untuk sistem komunikasi langsung dari
source (S) ke destination (D). Pada sistem komunikasi
kooperatif, data dikirim dari (S) ke (D) melalui relay(R).
Gambar 2. Konfigurasi Sistem Komunikasi Kooperatif di WARP Implementasi ini dilakukan pada modul WARP. Sistem komunikasi yang dijelaskan pada makalah ini menggunakan versi MATLAB berbasis PC dari WARP disebut sebagai WARPLAB. Sistem komunikasi kooperatif berbasis WARP dirancang menggunakan teknik modulasi
Differential Quadrature Phase Shift Keying (DQPSK).
Dengan menggunakan modulasi DQPSK, tidak memerlukan sinkronisasi phase di penerima karena DQPSK merupakan suatu teknik modulasi non-coherent. Gambar 3 merupakan rancangan blok diagram untuk implementasi sistem komunikasi kooperatif pada WARP.
Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwa WARP
node1 sebagai sumber, WARP node2 sebagai relay, dan WARP node3 sebagai tujuan. Data yang dibangkitkan adalah deretan bit sepanjang 211, kemudian dilakukan
proses modulasi DQPSK, ditambahkan preamble, melalui proses upsample dengan Squared Root Raised Cosine
(SRRC) dan upconverter baseband dan sinyal siap dikirimkan melalui WARP node1 ke relay dan tujuan.
Pada relay sinyal mengalami proses kebalikan dari pemancar yaitu downcorverter, downsample, dan demodulasi. Setelah itu sinyal yang tersebut dipersiapkan untuk dipancarkan ke tujuan. WARP node 3 (penerima) menerima dua sinyal yaitu sinyal yang dipancarkan dari sumber dan sinyal yang dipancarkan dari relay. Kedua sinyal tersebut akan mengalami proses combining. Adapun teknik combining yang digunakan adalah SC dan MRC.
Setelah melakukan combining, penerima akan melakukan proses kebalikan dari yang dilakukan oleh pemancar. Adapun tahap-tahap tersebut adalah down
converter, penerapan filter SRRC pada sisi penerima dan
melakukan down sampling. Untuk mendeteksi letak
preamble dilakukan proses korelasi dengan reference
matrixyang telah dibangkitkan pada penerima. Setelah itu
tahap terakhir adalah mendemodulasi dengan DQPSK sehingga didapatkan estimasi sinyal yang diterima. Selanjutnya sinyal yang diterima dibandingkan dengan sinyal yang dikirim untuk dihitung nilai Bit Error Rate
(BER).
Gambar 3. Blok Sistem Komunikasi Kooperatif pada WARP
4. Hasil
4.1 Hasil Simulasi
Simulasi sistem komunikasi kooperatif dengan relay
Demodulate and Forwarddilakukan menggunakan pemrograman
Matlab. Pada sub bab ini kanal yang disimulasikan berupa kanal yang dipengaruhi noise terdistribusi Gaussianyang biasa disebut kanal Aditive White Gaussian Noise (AWGN). Sinyal yang melewati kanal tersebut hanya akan ditambahkanlevel amplitudo
noisepada level amplitudo sinyal.Untuk memastikan bahwa hasil simulasi yang telah dilakukan benar maka perlu dilakukan validasi.
SC atau MRC Generate
bit Modulasi
DQPSK Upsample with SRRC Upconverter
Baseband
Append Preamble Warp Node
1
Down-converter baseband
Demodulasi DQPSK
Data Relay Down-sample dan
Correlator Warp Node 2
Modulasi DQPSK
Upsample with SRRC
Upconverter Baseband
Append Preamble
Warp Node 2
Warp Node 3 Down-converter
baseband Demodulasi
DQPSK Data Akhir
Proses validasi tersebut dilakukan dengan cara membandingkan grafik BER hasil simulasi sistem komunikasi Single Input Single Output(SISO) sumber-tujuan dan sistem komunikasi kooperatif. Parameter yang digunakan adalah jumlah bit yang dikirimkan sejumlah 105bit. Sistem komunikasi kooperatif diciptakan untuk
mengurangi pengaruh fading, sehingga dapat memperbaiki kinerja sistem. Dengan demikian, secara teoritis performansi sistem komunikasi kooperatif pasti lebih baik daripada sistem komunikasi non kooperatif. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1 dan Gambar 7.
Berdasarkan Gambar 7, dapat dilihat bahwa simulasi sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan Maximum Ratio Combining (MRC) lebih baik dari sistem komunikasi non kooperatif (SISO), sistem komunikasi kooperatif tanpa diversity (multihop), ataupun sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan SC.
Gambar 7. Simulasi pada Kanal Ideal dengan Pengaruh AWGN Pada Eb/N0sebesar 1 dB, pada sistem komunikasi SISO nilai
BER sebesar 4.560 x 10-1. Pada sistem komunikasi multihop dan
sistem sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan SC nilai BER-nya sama yaitu 4.234 x 10-1, sedangkan nilai BER pada
sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan Maximum
MRC adalah 3.343 x 10-1. Hanya dengan menggunakan E b/N0
sebesar 18 dB pada sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan MRC sudah mendapatkan nilai BER sebesar 0, dengan kata lain semua data yang diterima tidak terdapat kesalahan. Sedangkan untuk sistem komunikasi multihop dan sistemkomunikasi kooperatif dengan menggunakan SC dan SISO baru mendapatkan BER sama dengan 0 pada saat Eb/N0sebesar 20 ,21, dan 24 dB.
Sedangkan kinerja sistem komunikasi multihop hampir sama dengan sistem komunikasi dengan menggunakan tipe SC. Hal ini disebabkan pada sistem komunikasi koopertif dengan SC memilih salah satu dari sinyal yang memiliki Eb/N0 terbesar antara sistem
komunikasi SISO dengan sistem komunikasi multihop. Dalam penelitian ini diasumsikan node-node yang ada tidak bergerak dan kanal sistem komunikasi SISO lebih buruk dari pada multihop sehingga Eb/N0 multihop selalu lebih
tinggi dari pada sistem komunikasi SISO akibatnya pada sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan SC selalu memilih sinyal dari kanal multihop sehingga performansi sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan SC hampir sama dengan sistem komunikasi multihop. Misalnya pada Eb/N0 sebesar 5 dB nilai BER
pada sistem komunikasi multihop dan sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan SC adalah 2.955 x 10-1.
4.2. Hasil Implementasi Sistem Komunikasi Kooperatif pada Modul WARP
Pada implementasi sistem komunikasi kooperatif berikut ini
relay yang digunakan adalah Demodulate and Forward. Pada Gambar 8 akan ditunjukkan bentuk sinyal yang dikirim dari
source dan diterima di relaydan destination.
Gambar 8. (a) Sinyal Basebandyang Dikirim oleh Source,
(b) Sinyal BasebandDiterima oleh Relay
Berdasarkan spesifikasi WARP bahwa sinyal yang masuk pada buffertransmitterWARP harus berada diantara amplitudo -1 dan 1. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa pada sistem komunikasi kooperatif ada dua jalur yang dilalui, yaitu jalur langsung (source - destination) dan jalur melalui relay (source relay - destination). Pada Gambar 8 menunjukkan sinyal yang akan dikirim oleh sourcedengan level amplitudo diantara -1 dan 1. Selain itu juga menunjukkan sinyal yang diterima oleh relay. Berdasarkan gambar tersebut dapat terlihat bahwa sinyal yang sampai di relay mengalami delay dan penurunan amplitudo. Karena relay yang digunakan adalah Demodulate and Forward, maka pada relay mengalami proses demodulasi terlebih dahulu. Setelah didemodulasi maka sinyal tersebut dimodulasi kembali agar sinyal yang dikirim oleh relay menyerupai sinyal yang dikirimkan oleh source, selanjutnya sinyal tersebut akan dikirimkan ke destination. Adapun gambar sinyal yang dikirim oleh relaydan diterima oleh destinationterlihat pada Gambar 9.
Gambar 9 (a) SinyalBasebandyang Dikirim oleh Relay, (b)
SinyalBasebandyang Diterima oleh Destination
Pada Gambar 9 terlihat bahwa sinyal yang dikirim oleh
relay menyerupai sinyal yang dikirim oleh source karena pada
relayterdapat proses demodulasi dan modulasi. Tidak hanya itu, sinyal yang diterima oleh destination-pun menyerupai sinyal yang diterima oleh relay. Berbeda dengan jalur langsung (source -destination), pada kondisi ini jarak antara source ke destination
dua kali dari jarak source ke relay atau relay ke destination. Adapun bentuk sinyal yang dikirim oleh source ke destination
dengan jalur langsung atau tanpa relay adalah seperti pada Gambar 10.
Gambar 10. (a) Sinyal Basebandyang Dikirim oleh Source,
(b) Sinyal Basebandyang Diterima oleh Destination(jalur langsung)
Berdasarkan gambar 4.4 tersebut dapat dilihat bahwa jika menggunakan jalur langsung sinyal yang diterima oleh
destination lebih kecil dan delay yang terjadi lebih besar dibandingkan dengan jika melalui relay. Berdasarkan bentuk sinyal tersebut, penggunaanrelay lebih menguntungkan daripada jalur langsung.
4.3. Pengukuran Nilai Daya Pancar dan Jarak terhadap daya Terima
Pada Gambar 11 dan 12 ditunjukkan grafik pengaruh jalur yang dilewati oleh sinyal dan nilai daya pancar terhadap RSSI dan daya terima. Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa sinyal yang melewati jalur relay (multihop) memiliki nilai RSSI dan daya terima lebih tinggi daripada sinyal yang tanpa melewati
relay (jalur langsung). Hal inilah yang nantinya akan
membuat kinerja sistem komunikasi yang melalui relay
lebih baik daripada sistem komunikasi tanpa melewati relay. Untuk daya pancar -39.6712, pada jalur langsung nilai RSSI dan daya terima adalah sebesar 60.611 dan -95.853 dBm.
Gambar 11. Pengaruh Nilai Daya Pancar terhadap Nilai RSSI
Gambar 12. Pengaruh Nilai Daya Pancar terhadap Nilai Daya Terima
Sedangkan untuk jalur multihop nilai RSSI dan daya pancarnya adalah 148.972 dan -89.806.Selain menunjukkan pengaruh jalur yang dilewati terhadap RSSI dan nilai daya terima, grafik tersebut juga menunjukkan pengaruh nilai daya pancar terhadap RSSI dan daya terima. Jika daya pancar dinaikkan menjadi -11.466 dBm maka pada jalur langsung nilai RSSI dan daya terima juga naik menjadi 296.064 dan -79.742 dBm. Semakin besar daya yang dipancarkan maka nilai RSSi dan daya terima juga akan semakin besar.
Pada bagian ini juga akan ditunjukkan pengaruh jarak antara source dan destinationterhadap nilai RSSI dan daya terima yang terdapat pada Gambar 13 dan 14. Nilai jarak, berbanding terbalik dengan nilai RSSI dan daya terima. Semakin besar jarak antara source dan destination maka nilai RSSI dan daya terima semakin kecil.
0 1 2 3 4 5 6
x 10-6 -1
-0.5 0 0.5
1 a
Waktu (detik)
Real Imajiner
6 7 8 9 10 11
x 10-6
-1 -0.5 0 0.5
1 b
Waktu (detik)
-40 -35 -30 -25 -20 -15 -10
50 100 150 200 250 300 350 400 450 500
Daya Pancar (dBm) Jalur Langsung
Jalur Multihop
-40 -35 -30 -25 -20 -15 -10
-100 -95 -90 -85 -80 -75 -70 -65
Daya Pancar (dBm) Jalur Langsung
Gambar 13. Pengaruh Jarak antara Sourcedan Destination
terhadap Nilai RSSI
Gambar 14. Pengaruh Jarak antara Sourcedan Destination
terhadap Nilai Daya Terima
5. Kesimpulan
Berdasarkan analisa dan hasil penelitian, sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan Maximum
Ratio Combining(MRC) lebih baik dari sistem komunikasi
non kooperatif (SISO), sistem komunikasi kooperatif tanpa diversity (multihop), ataupun seistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan Selection Combining (SC). Misalnyasistem komunikasi kooperatif (MRC) pada modul WARP lebih baik dari sistem komunikasi SISO, multihop, dan sistem komunikasi kooperatif dengan SC . Misalnya pada daya pancar sebesar -35.19 dBm, pada sistem komunikasi SISO nilai Bit Error Rate (BER) sebesar 6.25x10-2. Pada sistem komunikasi multihop dan sistem
sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan
Selection Combining (SC) nilai BER-nya hampir sama
yaitu 1.2x10-2dan 2.7x10-2, sedangkan nilai BER pada
sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan
Maximum Ratio Combining (MRC) adalah 1.34x10-3.
Hanya dengan menggunakan daya pancar sebesar -32.39 dBm pada sistem komunikasi kooperatif dengan menggunakan Maximum Ratio Combining (MRC) sudah mendapatkan nilai BER sebesar 0. Sedangkan untuk sistem komunikasi multihop dan SISO baru mendpatkan BER sama dengan 0 pada saat daya pancar sebesar -20.3395 dBm ,-23.5975 dB.
Daftar Pustaka
[1]
cooperation diversity
IEEE Trans. Commun., vol. 51, no. 11,pp. 1927 1938, Nov. 2003.
[2]
cooperation diversity Part II: Implementation Commun., vol. 51, no. 11, pp. 1939 1948, Nov. 2003.
[3] Patrick Murphy a Design,
Implementation, and Characterization of a Cooperative Communications System Transaction On Vehicular Technology, Vol. 60, No. 6, July 2011 [4] Su,W., Sadek,A.K., and Liu,K. J. R.,
n [5]
pp. 271 425, Aug. 2006.
[6] K.Liu,A.Sadek,W.Su,andA.Kwasinski, Coopera tive Communications and Networking. New York: Cambridge Univ. Press, 2009.
[7] T. Korakis, M. Knox, E. Erkip, and S. Panwar,
open-IEEE, vol. 47, no. 2, pp. 134 141, 2009.
[8] Patrick Murphy, Ashu Sabharwal, and Behnaam -Access
thEuropean Signal Processing
Conference (EUSIPCO 2006), Florence, Italy, September 4-8, 2006.
[9]
Platform, 2017. [Online]. http://warp.rice.edu/trac/. [Diakses 11 September 2017].
[10] Y-.W.P. Hong, W.J. Huang, dan C-.C.J. Kuo, Cooperative Communication and Networking: Technologies and System Design , Springer New York Dordrecht Heidelberg London, 2010.
[11] A Nosratinia, A. Hedayat, and T.E.
42,10, pp. 74-80, 2004. [12]
Experimental Framework for the Evaluation of pp. 641 645
[13]
Netherlands, 2008
[14] Nader Sheikholeslami Alagha and Peter
Kabal
-Transactions on Communication, Vol. 47, No. 7, July 1999
[15]
Cooperative Communication using Software Defined
1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6
50 100 150 200 250 300
Jarak (meter)
Jalur Langsung Jalur Multihop
1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6
-96 -94 -92 -90 -88 -86 -84 -82
Jarak (meter)