ABSTRAK
ANALISIS KRIMINOLOGIS EKSPLOITASI SEKSUAL TERHADAP ANAK SECARA KOMERSIL MELALUI MEDIA INTERNET
Oleh
Muhammad Rahmawan, Nikmah Rosidah, Dona Raisa Moonica (Email: [email protected])
Kejahatan eksploitasi seksual anak melalui media internet merupakan akibat dari perkembangan teknologi informasi yang dewasa ini berkembang dengan pesat. Kecanggihan teknologi dalam internet tidak luput menjadi akses oleh pihak-pihak tertentu dalam pemasaran jual beli anak pekerja seks komersial dan dipasarkan oleh pihak-pihak tertentu dengan memiliki tujuan untuk mengeksploitasi komersial seksual anak melalui salah satu kecanggihan teknologi yaitu melalui media internet. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah faktor yang menyebabkan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet. (2) Bagaimanakah upaya penanggulangan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan masalah melalui pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris dengan data primer. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka disimpulkan: (1)Faktor penyebab terjadinya kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet, yaitu: faktor interen adalah faktor diri si anak dan faktor eksteren adalah faktor lingkungan, faktor kurangnya pengetauan tentang agama, faktor ekonomi, faktor susahnya menemukan alat bukti, dan faktor-faktor lainnya.(2) Upaya penanggulangan kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet dilakukan dengan sarana non-penal secara preventif yaitu dengan pengetahuan agama, perlunya lembaga khusus, sosialisasi dan upaya- upaya lainya. Sarana penal dengan cara represif dengan menegakkan hukum yang tegas.
ABSTRAK
CRIMINOLOGICAL ANALYSIS OF CHILD SEXUAL EXPLOITATION IN COMMERCIAL MEDIA BY INTERNET
by
Muhammad Rahmawan, Nikmah Rosidah, Dona Raisa Moonica (Email: [email protected])
Crime of child sexual eksploitation via Internet is a result of the development of today's information technology is growing rapidly. Technology to access Internet does not escape into by certain parties in the marketing and selling child commercial sex workers and marketed by certain parties to have a goal for the commercial sexual exploitation of children through one of the sophistication of the technology that is through internet. Problems in this study were: (1) What are the factors that lead to sexual exploitation of children via Internet commercially. (2) How is the response to sexual exploitation of children via Internet commercially. This research was conducted using the approach the problem through juridical normative and empirical with the primary data. Based on the results of research and discussion, we conclude: (1) Factors that cause the occurrence of sexual exploitation crimes against children commercially via Internet, namely: internal factor is the factor of the child's self and eksternal factors are environmental factors, factors religion, economics, factor hard find evidence, and other factors. (2) The efforts of sexual exploitation crimes against children commercially via Internet is done by means of a non-penal preventive ie religious knowledge, the need for specialized institutions, socialization and other efforts . Means penal repressive manner by enforcing strict laws.
1
I. PENDAHULUAN
Anak sebagai generasi penerus adalah pewaris cita-cita perjuangan bangsa yang merupakan sumber daya manusia yang sangat penting dalam mencapaikeberhasilan pembangunan.
Anak merupakan potensi nasib
manusia hari mendatang, dialah yang ikut berperan menentukan sejarah bangsa sekaligus cermin sikap hidup
bangsa pada masa mendatang.
Tumbuh kembang seorang anak menjadi suatu persoalan yang harus diperhatikan secara seksama. Sebagai generasi muda, anak merupakan salah satu sumber daya manusia yang akan menjadi penerus cita-cita bangsa di masa depan.
Maka dalam menghadapi kejahatan terhadap anak, setiap anak berhak
mendapatkan perlindungan
didasarkan Pasal 13 ayat 1 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua,wali atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan :
a. Diskriminasi;
b. Eksploitasi baik ekonomi maupun seksual;
c. Penelantaran;
d. Kekejaman, kekerasan dan penganiayaan;
e. Ketidakadilan;dan f. Perlakuan salah lainnya. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan atau dokumen
elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.
Pengeksploitasian seksual anak
melalui media internet merupakan akibat dari perkembangan teknologi
informasi yang dewasa ini
berkembang dengan pesat. Teknologi informasi telah mengubah perilaku masyarakat dan peradaban manusia secara global. Di samping itu, perkembangan tekhnologi informasi telah menyebabkan dunia menjadi
tanpa batas dan menyebabkan
perubahan struktur sosial masyarakat yang secara signifikan berlangsung dengan cepat. Tekhnologi Informasi memberikan kontribusi yang sangat
besar bagi peningkatan
kesejahteraan, kemajuan dan
peradaban manusia.1
Hadirnya internet telah membuka cakrawala baru dalam kehidupan manusia. Internet merupakan sebuah ruang informasi dan komunikasi yang menjanjikan menembus batas- batas antar negara, penyebaran dan pertukaran ilmu serta gagasan di kalangan ilmuwan dan cendikiawan diseluruh dunia. Internet membawa kemajuan kepada ruang atau dunia baru yang tercipta yang dinamakan
cyberspace yaitu sebuah dunia komunikasi berbasis komputer.
Kapolsek Natar menangkap DR (17), Agus Saparudin (23), dan Deska Indrawan (31) ketiganya merupakan
warga Pesawaran, Kecamatan
Tegineneng. Awal mula kejadian di
Ahmad M Ramli, cyberlaw dan HAKI dalam Sistem Hukum Indonesia
teman-temannya dan tidak lama kemudian Agus Saparudin dan Deska Indrawan mengirim pesan melalui BBM sehingga Terjadilah Transaksi antara DR, Agus Saparudin, dan Deska Indrawan. Setelah terjadai deal antara mereka bertiga. DR membawa SW ke Perkebunan Sawit lalu mengenalkan SW kepada Agus
dan Deska. Disitulah terjadi
persetubuhan secara bergantian oleh mereka bertiga. setelah kejadian itu selesai Agus dan Deska membayar
sejumlah uang kepada DR.2
Kasus yang tejadi di Yogyakarta tersangka MP alias Onge (28) yang menawarkan Nes alias Gendis (14) warga Magelang, Jawa Tengah di
media sosial Facebook. Modus
menawarkan jasa seks Onge
Memosting gambar wanita
difacebook sekaligus diberikan sedikit narasi dan harga. Laki-laki hidung belang yang ingin melakukan hubungan intim bersama Gendis harus mentransfer sejumlah uang yang sudah ditentukan. Berikutnya sang pemesan dipertemukan oleh Gendis di suatu tempat suatu hotel yang sudah disiapkan oleh Onge. Sehingga hubungan intim dapat terjadi. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa dua ponsel Blackberry, satu ponsel Samsung warna hitam, uang tunai hasil
Wakos Reza Gautama,Polisi Ringkus 3 TersangkaEksplitasi Anak di Bawah Umur ,Http://tribun.com/Lamung BREAKING NEWS:Polisi Ringkus 3 TersangkaEksplitasi Anak di Bawah Umur - Tribun Lampung.htm akses pada 11/12/2014, pukul 13.30
buat sang anak yang melakukan
hubungan seks.3
Terjadi pula di Surabaya, Jawa Timur, Istuminah (42) dan Andry (25) yang menawarkan anak dibawah umur melalui media sosial. Modus
menawarkan jasa seks kedua
tersangka Memosting gambar wanita di ponselnya sekaligus diberikan sedikit narasi dan harga yang harus dibayar dengan cara mentranfer uang
ke rekening tersangka. Serta
syaratnya sang laki-laki hidung belang menyediakan kamar hotel yang sudah diboking sebelum wanita itu diantar ke hotel. Sehingga
hubungan seks dapat terjadi. 4
Kasus di Surabaya Nauda Fiolet, 22
tahun, warga Kedungrukem,
Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari. Tersangka kedua berinisial AT alias Alif, 17 tahun, warga
Simomulyo Baru, Kecamatan
Sukomanunggal. Nauda juga
membuat website khusus wanita
penghibur lengkap dengan pin BBM. Bagi laki-laki yang ingin memesan salah satu gadis yang sudah dipajang di dalam situs tersebut, ia tinggal menggaet pin tersangka. Selanjutnya pin laki-laki itu digabungkan dengan grup BBM. Modus serupa juga dilakukan NF. Ia memasang foto- foto anak buahnya di jejaring sosial lengkap dengan tarifnya. Tersangka sudah menyediakan nomor telepon
3
Prabowo, Mahasiswa S 2 Hukum Jadi Germo Prostitusi Online,
3
Kejahatan Eksploitasi Seksual
Terhadap Anak Secara
yang bisa dihubungi bila ada lelaki
yang berminat. Setelah deal, laki-laki
pemesan itu mentransfer uang ke rekening tersangka. Lalu Tersangka mengantarkan sang anak ketempat yang sudah di tentukan antara laki- laki hidung belang dan tersangkayang sudah di sepakati biasanya mereka mengantarkan ke
losmen atau hotel melati. 5
Maraknya kejahatan seksual yang direkam akan menambah maraknya
kejahatan trafficking. Seiring
kemajuan zaman dan teknologi
jaringan dalam mengembangkan
sistem operandi bisnis prostitusi. Sering kali kejahatan dengan mengeksploitasi seksual anak untuk
kepentingan ekonomi. Kemajuan
teknologi telepon seluler yang
dipergunakan untuk menyimpan,
menyebarkan bahkan memasarkan kehormatan anak dengan mengambil keuntungan untuk dirinya. jadi ini merupakan salah satu dari modus operandi kejahatan yang bisa diakses melalui internet.
Berdasarkan dari uraian latar belakang tersebut, maka penulis akan mengkaji dan membahas mengenai faktor faktor dan penyebab terjadinya eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil dalam bentuk skripsi
yang berjudul : “Analisis
Kriminologis Eksploitasi Seksual
Terhadap Anak Secara Komersil
Melalui Media Internet”.
Adapun permasalahan dalam
penulisan skripsi ini adalah:
5 Mohammad Syarrafah,
Polisi Tangkap Muncikari Remaja Penjaja Anak-anak http://www.tempo.co/read/news/2014/06 /25/058588014/Polisi-Tangkap-
Muncikari-Remaja-Penjaja-Anak-anak, akses pada 11/12/2014, pukul 14.00.
1) Apakah faktor yang
menyebabkan terjadinya
kejahatan eksploitasi seksual
terhadap anak secara komersil melalui media internet?
2) Bagaimanakah upaya
penanggulangan kejahatan
eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet?
Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan pendekatan yuridis
normatif dan yuridis
empiris.Pendekatan yuridis normatif
adalah pendekatan penelitian
kepustakaan yang memperoleh data sekunder yang meliputi buku-buku
literatur, peraturan perundang-
undangan, dokumen-dokumen resmi
dan lain-lain.Pendekatan yuridis
empiris adalah pendekatan yang digunakan untuk memperoleh data primer yang meliputi hasil penelitian
di lapangan dengan melakukan
wawancara kepada para narasumber yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
II. PEMBAHASAN
A. Faktor-Faktor Penyebab
Komersil Melalui Media Internet
Melalui internet pertukaran informasi dapat dilakukan secara cepat, tepat serta dengan biaya yang relatif
murah. Dengan memperhatikan
untuk melakukan berbagai jenis
tindak pidana yang berbasiskan
teknologi informasi ( Cybercrime )
seperti tindak pidana pencemaran nama baik, perjudian, penipuan, pornografi hingga tindak pidana
terorisme (cyberterrorism).
Kejahatan merupakan suatu
perbuatan yang sangat bertentangan dengan rasa keadilan. Pelaku dari tindakan kejahatan dapat dilakukan oleh berbagai macam golongan dan dilakukan dalam berbagai kondisi yang berbeda satu sama lainnya. Teori-teori yang menyebutkan tentang penyebab suatu kejahatan sangat banyak ditemukan, dimana pendapat satu sama lainnya saling berbeda. Tetapi, diantara teori tersebut terdapat unsur-unsur yang
secara prinsip menunjukkan
persamaan-persamaan sehingga jika digolongkan dari persamaan dan perbedaan tersebut akan ditarik secara garis besar faktor-faktor yang
sangat menentukan terhadap
timbulnya suatu kejahatan.
Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kejahatan pembunuhan berencana terhadap mantan kekasih, penulis menggunakan teori yang
dikemukakan oleh Abdul Syani6,
yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
1. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang terdapat pada individu. Faktor- faktor internal penyebab terjadinya kejahatan pembunuhan berencana terhadap mantan kekasih yaitu faktor
6
Abdul Syani.Sosiologis Kriminalitas. Bandung.Remaja Karya.1987. hlm. 44.
usia, faktor daya emosional, faktor psikologis.
2. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terdapat dari luar diri individu, seperti faktor agama, faktor tontonan atau bacaan serta faktor keluarga dan lingkungan.
Berdasarkan wawancara penulis
dengan Agus Triwiono7, faktor-
faktor penyebab terhadap kasus
kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet antara lain dari faktor interen ialah faktor Psikologis dan faktor eksteren ialah faktor lingkungan masyarakat, faktor keluarga dan faktor Ekonomi .
Berdasarkan wawancara penulis
dengan Bun Yani8, faktor-faktor
penyebab terhadap kasus kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet antara lain keamanan jaringan yang lemah, akses internet
tidak terbatas, dan susahnya
menemukan alat bukti.
Berdasarkan wawancara penulis
dengan Erna Dewi9 menyatakan
faktor penyebab suatu kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet ialah faktor kepribadian individu, faktor lingkungan, dan faktor ekonomi.
7
Berdasarkan hasil wawancara dengan Penyidik di Polisi Daerah Lampung, Agus Triwiono , tanggal 20 Januari 2015.. 8
Berdasarkan hasil wawancara dengan Penyidik di Polisi Daerah Lampung, bunyani, tanggal 20 Januari 2015.. 9
5
Berdasarkan wawancara penulis
dengan Heni Siswanto10 menyatakan
faktor penyebab suatu kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet ialah faktor dari diri si anak,
kurangnya pengetahuan tentang
agama, faktor lingkungan tempat tinggal, dan faktor materi yang besar.
Penulis juga berpendapat lain bahwa perbuatan para pelaku melakukan kejahatan seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet ialah faktor diri si anak, faktor lingkungan, faktor susahnya
menemukan alat bukti, faktor
kurangnya pengetahuan tentang
agama, faktor ekonomi, dan faktor lainnya.
B. Upaya Penanggulangan
Kejahatan Pembunuhan
Berencana yang Dilakukan oleh Pelaku terhadap Mantan Kekasih
Konteks cybercrime khususnya pada
kasus eksploitasi seksual terhadap anak melalui media internet erat
hubungannya dengan teknologi,
khususnya teknologi komputer dan telekomunikasi sehingga pencegahan kasus eksploitasi seksual terhadap anak melalui media internet dapat dilakukan melalui saluran teknologi
atau disebut juga techno-prevention.
Pendekatan teknologi ini merupakan subsistem dalam sebuah sistem yang lebih besar, yaitu pendekatan budaya, karena teknologi merupakan hasil
dari kebudayaan atau merupakan
kebudayaan itu sendiri11.
Kesiapan hukum dan POLRI dalam
menangani cybercrime, khususnya
pada kasus eksploitasi seksual
terhadap anak melalui media internet telah terwujud dalam peraturan hukum yang mengatur mengenai
cybercrime meskipun pada peraturan tersebut tidak mengatur secara
khusus tentang kejahatan cyber, yang
terumuskan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik khususnya dalam Pasal 27 ayat 1 dan perlindungan terhadap anak yang tercantum dalam Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002
Tentang Perlindungan Anak
khususnya pada Pasal 66 yang
mengatur mengenai perlindungan
khusus terhadap anak yang
dieksploitasi secara ekonomi dan seksual serta sanksi hukuman pada Pasal 88 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak untuk sanksi terhadap pelaku eksploitasi anak.
Upaya penanggulangan kejahatan
secara garis besar dapat dibagi dua,
yaitu lewat jalur “penal” (hukum
pidana) dan lewat jalur “nonpenal”
(bukan/ di luar hukum pidana). Menurut G. P Hoefnagels upaya penanggulangan kejahatan dapat di tempuh dengan:
a. Penerapan hukum pidana (criminal law aplication);
b. Pencegahan tanpa pidana (prevention without punisment);
10
Berdasarkan hasil wawancara dengan Akademisi Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Lampung, Heni Siswanto, tanggal 28 Januari 2015..
11
dengan Agus Triwiono,13 menyatakan cara penanggulangan c. Memengaruhi pandangan
masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat mass
media (influencing views of
society on crime and punishment/
dua arah, dan memilih teman yang baik.
Berdasarkan wawancara penulis
14
mass media). dengan Bun Yani , menyatakan cara
1. Sarana Non Penal
Sarana non-penal yaitu dengan upaya
preventif dengan melakukan
pencegahan sebelum kejahatan itu
terjadi. Salah satu jalur “non-penal”
untuk mengatasi masalah-masalah sosial yaitu dengan jalur kebijakan sosial (social policy). Kebijakan sosial pada dasarnya adalah kebijakan atau upaya-upaya rasional
untuk mencapai kesejahteraan
masyarakat..12
2. Sarana Penal
Sarana penal merupakan sarana atau upaya yang bersifat represif yaitu dilakukan setelahkejahatan itu terjadi dengan menggunakan hukum pidana, berupa penegakan hukum dengan menjatuhkan hukuman dan bertujuan untuk efek jera agar tidak terjadinya
kembali kejahatan tersebut dan
memasyarakatkan pelaku agar
diterima kembali didalam
masyarakat dengan sejahtera.
Berdasarkan wawancara penulis
penanggulangan kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet sebagai berikut: pengamanan sistem yang kuat, harus teagsnya hukum,
dan perkuat dukungan lembaga
khusus.
Berdasarkan hasil wawancara dengan
Erna Dewi,15 upaya penanggulangan
yang dapat dilakukan terhadap
eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet
sebagai berikut yaitu: korban
seharusnya ditempatkan tempat
khusus untuk penyembuhan
psikologisnya, meningkatkan
pembinaan agama, Peran dari keluarga dan lingkungan sangat berperan penting untuk mengontrol perilaku sosial, sanksi terhadap pelaku harus dibuat lebih tegas dan diperberat lagi hukumannya, dan Patroli/Razia oleh Satpol PP.
Berdasarkan wawancara penulis
16
kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet sebagai berikut: Bijak Menggunakan Media Sosial, tidak mudah percaya pada orang yang belum dikenal, menjalin komunikasi
12
Abdul Syani, Opcit hlm 44. 13
Hasil wawancara dengan Agus Triwiono , tanggal 20 Januari2015.
dengan Heni Siswanto , menyatakan upaya penanggulangan yang dapat di lakukan terhadap kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui
14
Hasil wawancara dengan Agus Triwiono , tanggal 20 Januari2015.
15
Hasil wawancara dengan Erna Dewi, tanggal 28 Januari 2015.
16
7
media internet dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:
1. Penanggulangan Secara Non Penal yaitu:
a. Diri Si anak b. Dorongan agama c. Sosialisasi
2. Penanggulangan Secara Penal Penanggulangan secara penal dimana penanggulangan secara hukum pidana. Dalam kontek ini sebuah membangun sebuah undang-undang yang berkaitan dengan anak baik itu sebuah undang-undang kesejahtraan anak, undang-undang perlindangan anak, undang-undang sistem peradilan pidana anak.
Berdasarkan uraian diatas, maka pendapat penulis tentang faktor- faktor penyebab kejahatan
eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet sebagai berikut:
a. Upaya Non penal secara prepentif dapat dilakukan oleh berbagai macam pihak yaitu dengan cara sebagai berikut : kegiatan agama, perkuatan dukungan lembaga khusus, sosialisasi dan upaya-upaya lainya
b. Upaya Secara Penal
Tindakan Represif dengan Cara
Penal Artinya tindakan yang
dilakukan oleh aparatur penegak hukum sesuai Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
III. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penulisa skripsi ini, penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :
1) Faktor-faktor penyebab terjadinya kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet, yaitu:
a. Faktor Intern merupakan faktor yang ada di Diri Si Anak yang ingin tahu hubungan seksual yang belum saatnya dilakukan oleh seorang anak.
b. Faktor Ekstern merupakan faktor dari luar diri si anak yaitu : faktor
lingkungan, factor, kurangnya
pengetahuan tentang agama, susah
menemukan alat bukti, faktor
ekonomi , faktor lain-lainnya
2) Upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet, yaitu:
a. Upaya Non penal yang dapat dilakukan oleh para pihak yaitu
tindakan preventif terdiri dari:
kegiatan agama yang ditingkatkan ,perkuat dukungan lembaga khusus di Indonesia, sosialisasi dan upaya- upaya lainnya.
b. Upaya Secara Penal
Tindakan Represif dengan Cara
Penal Artinya tindakan yang
DAFTAR PUSTAKA
A. Literatur
Arief, Barda Nawawi. 2008. Bunga
Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Jakarta. Kencana
Ahmad,M Ramli.2004,cyberlaw dan HAKI
dalam Sistem Hukum Indonesia
,Bandung:Refika Aditama.
Syani, Abdul. 1987.Sosiologi Kriminalitas.
Bandung: Remaja Karya.
Didik, M Arief Mansur dan Elisatris
Gultom, 2005, Cyber Law Aspek Hukum
Teknologi Informasi, Banudung;Refika Aditama
B. Sumber Hukum
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, 2003.Penerbit Raja Grafindo Persada.
Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
C. Website :
http://tribun.com/