• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KRIMINOLOGIS EKSPLOITASI SEKSUAL TERHADAP ANAK SECARA KOMERSIL MELALUI MEDIA INTERNET

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ANALISIS KRIMINOLOGIS EKSPLOITASI SEKSUAL TERHADAP ANAK SECARA KOMERSIL MELALUI MEDIA INTERNET"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

ANALISIS KRIMINOLOGIS EKSPLOITASI SEKSUAL TERHADAP ANAK SECARA KOMERSIL MELALUI MEDIA INTERNET

Oleh

Muhammad Rahmawan, Nikmah Rosidah, Dona Raisa Moonica (Email: [email protected])

Kejahatan eksploitasi seksual anak melalui media internet merupakan akibat dari perkembangan teknologi informasi yang dewasa ini berkembang dengan pesat. Kecanggihan teknologi dalam internet tidak luput menjadi akses oleh pihak-pihak tertentu dalam pemasaran jual beli anak pekerja seks komersial dan dipasarkan oleh pihak-pihak tertentu dengan memiliki tujuan untuk mengeksploitasi komersial seksual anak melalui salah satu kecanggihan teknologi yaitu melalui media internet. Permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah faktor yang menyebabkan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet. (2) Bagaimanakah upaya penanggulangan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan masalah melalui pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris dengan data primer. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka disimpulkan: (1)Faktor penyebab terjadinya kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet, yaitu: faktor interen adalah faktor diri si anak dan faktor eksteren adalah faktor lingkungan, faktor kurangnya pengetauan tentang agama, faktor ekonomi, faktor susahnya menemukan alat bukti, dan faktor-faktor lainnya.(2) Upaya penanggulangan kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet dilakukan dengan sarana non-penal secara preventif yaitu dengan pengetahuan agama, perlunya lembaga khusus, sosialisasi dan upaya- upaya lainya. Sarana penal dengan cara represif dengan menegakkan hukum yang tegas.

(2)

ABSTRAK

CRIMINOLOGICAL ANALYSIS OF CHILD SEXUAL EXPLOITATION IN COMMERCIAL MEDIA BY INTERNET

by

Muhammad Rahmawan, Nikmah Rosidah, Dona Raisa Moonica (Email: [email protected])

Crime of child sexual eksploitation via Internet is a result of the development of today's information technology is growing rapidly. Technology to access Internet does not escape into by certain parties in the marketing and selling child commercial sex workers and marketed by certain parties to have a goal for the commercial sexual exploitation of children through one of the sophistication of the technology that is through internet. Problems in this study were: (1) What are the factors that lead to sexual exploitation of children via Internet commercially. (2) How is the response to sexual exploitation of children via Internet commercially. This research was conducted using the approach the problem through juridical normative and empirical with the primary data. Based on the results of research and discussion, we conclude: (1) Factors that cause the occurrence of sexual exploitation crimes against children commercially via Internet, namely: internal factor is the factor of the child's self and eksternal factors are environmental factors, factors religion, economics, factor hard find evidence, and other factors. (2) The efforts of sexual exploitation crimes against children commercially via Internet is done by means of a non-penal preventive ie religious knowledge, the need for specialized institutions, socialization and other efforts . Means penal repressive manner by enforcing strict laws.

(3)

1

I. PENDAHULUAN

Anak sebagai generasi penerus adalah pewaris cita-cita perjuangan bangsa yang merupakan sumber daya manusia yang sangat penting dalam mencapaikeberhasilan pembangunan.

Anak merupakan potensi nasib

manusia hari mendatang, dialah yang ikut berperan menentukan sejarah bangsa sekaligus cermin sikap hidup

bangsa pada masa mendatang.

Tumbuh kembang seorang anak menjadi suatu persoalan yang harus diperhatikan secara seksama. Sebagai generasi muda, anak merupakan salah satu sumber daya manusia yang akan menjadi penerus cita-cita bangsa di masa depan.

Maka dalam menghadapi kejahatan terhadap anak, setiap anak berhak

mendapatkan perlindungan

didasarkan Pasal 13 ayat 1 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua,wali atau pihak lain manapun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan :

a. Diskriminasi;

b. Eksploitasi baik ekonomi maupun seksual;

c. Penelantaran;

d. Kekejaman, kekerasan dan penganiayaan;

e. Ketidakadilan;dan f. Perlakuan salah lainnya. Pasal 27 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentransmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan atau dokumen

elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Pengeksploitasian seksual anak

melalui media internet merupakan akibat dari perkembangan teknologi

informasi yang dewasa ini

berkembang dengan pesat. Teknologi informasi telah mengubah perilaku masyarakat dan peradaban manusia secara global. Di samping itu, perkembangan tekhnologi informasi telah menyebabkan dunia menjadi

tanpa batas dan menyebabkan

perubahan struktur sosial masyarakat yang secara signifikan berlangsung dengan cepat. Tekhnologi Informasi memberikan kontribusi yang sangat

besar bagi peningkatan

kesejahteraan, kemajuan dan

peradaban manusia.1

Hadirnya internet telah membuka cakrawala baru dalam kehidupan manusia. Internet merupakan sebuah ruang informasi dan komunikasi yang menjanjikan menembus batas- batas antar negara, penyebaran dan pertukaran ilmu serta gagasan di kalangan ilmuwan dan cendikiawan diseluruh dunia. Internet membawa kemajuan kepada ruang atau dunia baru yang tercipta yang dinamakan

cyberspace yaitu sebuah dunia komunikasi berbasis komputer.

Kapolsek Natar menangkap DR (17), Agus Saparudin (23), dan Deska Indrawan (31) ketiganya merupakan

warga Pesawaran, Kecamatan

Tegineneng. Awal mula kejadian di

Ahmad M Ramli, cyberlaw dan HAKI dalam Sistem Hukum Indonesia

(4)

teman-temannya dan tidak lama kemudian Agus Saparudin dan Deska Indrawan mengirim pesan melalui BBM sehingga Terjadilah Transaksi antara DR, Agus Saparudin, dan Deska Indrawan. Setelah terjadai deal antara mereka bertiga. DR membawa SW ke Perkebunan Sawit lalu mengenalkan SW kepada Agus

dan Deska. Disitulah terjadi

persetubuhan secara bergantian oleh mereka bertiga. setelah kejadian itu selesai Agus dan Deska membayar

sejumlah uang kepada DR.2

Kasus yang tejadi di Yogyakarta tersangka MP alias Onge (28) yang menawarkan Nes alias Gendis (14) warga Magelang, Jawa Tengah di

media sosial Facebook. Modus

menawarkan jasa seks Onge

Memosting gambar wanita

difacebook sekaligus diberikan sedikit narasi dan harga. Laki-laki hidung belang yang ingin melakukan hubungan intim bersama Gendis harus mentransfer sejumlah uang yang sudah ditentukan. Berikutnya sang pemesan dipertemukan oleh Gendis di suatu tempat suatu hotel yang sudah disiapkan oleh Onge. Sehingga hubungan intim dapat terjadi. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa dua ponsel Blackberry, satu ponsel Samsung warna hitam, uang tunai hasil

Wakos Reza Gautama,Polisi Ringkus 3 TersangkaEksplitasi Anak di Bawah Umur ,Http://tribun.com/Lamung BREAKING NEWS:Polisi Ringkus 3 TersangkaEksplitasi Anak di Bawah Umur - Tribun Lampung.htm akses pada 11/12/2014, pukul 13.30

buat sang anak yang melakukan

hubungan seks.3

Terjadi pula di Surabaya, Jawa Timur, Istuminah (42) dan Andry (25) yang menawarkan anak dibawah umur melalui media sosial. Modus

menawarkan jasa seks kedua

tersangka Memosting gambar wanita di ponselnya sekaligus diberikan sedikit narasi dan harga yang harus dibayar dengan cara mentranfer uang

ke rekening tersangka. Serta

syaratnya sang laki-laki hidung belang menyediakan kamar hotel yang sudah diboking sebelum wanita itu diantar ke hotel. Sehingga

hubungan seks dapat terjadi. 4

Kasus di Surabaya Nauda Fiolet, 22

tahun, warga Kedungrukem,

Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari. Tersangka kedua berinisial AT alias Alif, 17 tahun, warga

Simomulyo Baru, Kecamatan

Sukomanunggal. Nauda juga

membuat website khusus wanita

penghibur lengkap dengan pin BBM. Bagi laki-laki yang ingin memesan salah satu gadis yang sudah dipajang di dalam situs tersebut, ia tinggal menggaet pin tersangka. Selanjutnya pin laki-laki itu digabungkan dengan grup BBM. Modus serupa juga dilakukan NF. Ia memasang foto- foto anak buahnya di jejaring sosial lengkap dengan tarifnya. Tersangka sudah menyediakan nomor telepon

3

Prabowo, Mahasiswa S 2 Hukum Jadi Germo Prostitusi Online,

(5)

3

Kejahatan Eksploitasi Seksual

Terhadap Anak Secara

yang bisa dihubungi bila ada lelaki

yang berminat. Setelah deal, laki-laki

pemesan itu mentransfer uang ke rekening tersangka. Lalu Tersangka mengantarkan sang anak ketempat yang sudah di tentukan antara laki- laki hidung belang dan tersangkayang sudah di sepakati biasanya mereka mengantarkan ke

losmen atau hotel melati. 5

Maraknya kejahatan seksual yang direkam akan menambah maraknya

kejahatan trafficking. Seiring

kemajuan zaman dan teknologi

jaringan dalam mengembangkan

sistem operandi bisnis prostitusi. Sering kali kejahatan dengan mengeksploitasi seksual anak untuk

kepentingan ekonomi. Kemajuan

teknologi telepon seluler yang

dipergunakan untuk menyimpan,

menyebarkan bahkan memasarkan kehormatan anak dengan mengambil keuntungan untuk dirinya. jadi ini merupakan salah satu dari modus operandi kejahatan yang bisa diakses melalui internet.

Berdasarkan dari uraian latar belakang tersebut, maka penulis akan mengkaji dan membahas mengenai faktor faktor dan penyebab terjadinya eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil dalam bentuk skripsi

yang berjudul : “Analisis

Kriminologis Eksploitasi Seksual

Terhadap Anak Secara Komersil

Melalui Media Internet”.

Adapun permasalahan dalam

penulisan skripsi ini adalah:

5 Mohammad Syarrafah,

Polisi Tangkap Muncikari Remaja Penjaja Anak-anak http://www.tempo.co/read/news/2014/06 /25/058588014/Polisi-Tangkap-

Muncikari-Remaja-Penjaja-Anak-anak, akses pada 11/12/2014, pukul 14.00.

1) Apakah faktor yang

menyebabkan terjadinya

kejahatan eksploitasi seksual

terhadap anak secara komersil melalui media internet?

2) Bagaimanakah upaya

penanggulangan kejahatan

eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet?

Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan pendekatan yuridis

normatif dan yuridis

empiris.Pendekatan yuridis normatif

adalah pendekatan penelitian

kepustakaan yang memperoleh data sekunder yang meliputi buku-buku

literatur, peraturan perundang-

undangan, dokumen-dokumen resmi

dan lain-lain.Pendekatan yuridis

empiris adalah pendekatan yang digunakan untuk memperoleh data primer yang meliputi hasil penelitian

di lapangan dengan melakukan

wawancara kepada para narasumber yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.

II. PEMBAHASAN

A. Faktor-Faktor Penyebab

Komersil Melalui Media Internet

Melalui internet pertukaran informasi dapat dilakukan secara cepat, tepat serta dengan biaya yang relatif

murah. Dengan memperhatikan

(6)

untuk melakukan berbagai jenis

tindak pidana yang berbasiskan

teknologi informasi ( Cybercrime )

seperti tindak pidana pencemaran nama baik, perjudian, penipuan, pornografi hingga tindak pidana

terorisme (cyberterrorism).

Kejahatan merupakan suatu

perbuatan yang sangat bertentangan dengan rasa keadilan. Pelaku dari tindakan kejahatan dapat dilakukan oleh berbagai macam golongan dan dilakukan dalam berbagai kondisi yang berbeda satu sama lainnya. Teori-teori yang menyebutkan tentang penyebab suatu kejahatan sangat banyak ditemukan, dimana pendapat satu sama lainnya saling berbeda. Tetapi, diantara teori tersebut terdapat unsur-unsur yang

secara prinsip menunjukkan

persamaan-persamaan sehingga jika digolongkan dari persamaan dan perbedaan tersebut akan ditarik secara garis besar faktor-faktor yang

sangat menentukan terhadap

timbulnya suatu kejahatan.

Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan kejahatan pembunuhan berencana terhadap mantan kekasih, penulis menggunakan teori yang

dikemukakan oleh Abdul Syani6,

yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

1. Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang terdapat pada individu. Faktor- faktor internal penyebab terjadinya kejahatan pembunuhan berencana terhadap mantan kekasih yaitu faktor

6

Abdul Syani.Sosiologis Kriminalitas. Bandung.Remaja Karya.1987. hlm. 44.

usia, faktor daya emosional, faktor psikologis.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terdapat dari luar diri individu, seperti faktor agama, faktor tontonan atau bacaan serta faktor keluarga dan lingkungan.

Berdasarkan wawancara penulis

dengan Agus Triwiono7, faktor-

faktor penyebab terhadap kasus

kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet antara lain dari faktor interen ialah faktor Psikologis dan faktor eksteren ialah faktor lingkungan masyarakat, faktor keluarga dan faktor Ekonomi .

Berdasarkan wawancara penulis

dengan Bun Yani8, faktor-faktor

penyebab terhadap kasus kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet antara lain keamanan jaringan yang lemah, akses internet

tidak terbatas, dan susahnya

menemukan alat bukti.

Berdasarkan wawancara penulis

dengan Erna Dewi9 menyatakan

faktor penyebab suatu kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet ialah faktor kepribadian individu, faktor lingkungan, dan faktor ekonomi.

7

Berdasarkan hasil wawancara dengan Penyidik di Polisi Daerah Lampung, Agus Triwiono , tanggal 20 Januari 2015.. 8

Berdasarkan hasil wawancara dengan Penyidik di Polisi Daerah Lampung, bunyani, tanggal 20 Januari 2015.. 9

(7)

5

Berdasarkan wawancara penulis

dengan Heni Siswanto10 menyatakan

faktor penyebab suatu kejahatan eksploitasi seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet ialah faktor dari diri si anak,

kurangnya pengetahuan tentang

agama, faktor lingkungan tempat tinggal, dan faktor materi yang besar.

Penulis juga berpendapat lain bahwa perbuatan para pelaku melakukan kejahatan seksual terhadap anak secara komersil melalui media internet ialah faktor diri si anak, faktor lingkungan, faktor susahnya

menemukan alat bukti, faktor

kurangnya pengetahuan tentang

agama, faktor ekonomi, dan faktor lainnya.

B. Upaya Penanggulangan

Kejahatan Pembunuhan

Berencana yang Dilakukan oleh Pelaku terhadap Mantan Kekasih

Konteks cybercrime khususnya pada

kasus eksploitasi seksual terhadap anak melalui media internet erat

hubungannya dengan teknologi,

khususnya teknologi komputer dan telekomunikasi sehingga pencegahan kasus eksploitasi seksual terhadap anak melalui media internet dapat dilakukan melalui saluran teknologi

atau disebut juga techno-prevention.

Pendekatan teknologi ini merupakan subsistem dalam sebuah sistem yang lebih besar, yaitu pendekatan budaya, karena teknologi merupakan hasil

dari kebudayaan atau merupakan

kebudayaan itu sendiri11.

Kesiapan hukum dan POLRI dalam

menangani cybercrime, khususnya

pada kasus eksploitasi seksual

terhadap anak melalui media internet telah terwujud dalam peraturan hukum yang mengatur mengenai

cybercrime meskipun pada peraturan tersebut tidak mengatur secara

khusus tentang kejahatan cyber, yang

terumuskan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik khususnya dalam Pasal 27 ayat 1 dan perlindungan terhadap anak yang tercantum dalam Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002

Tentang Perlindungan Anak

khususnya pada Pasal 66 yang

mengatur mengenai perlindungan

khusus terhadap anak yang

dieksploitasi secara ekonomi dan seksual serta sanksi hukuman pada Pasal 88 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak untuk sanksi terhadap pelaku eksploitasi anak.

Upaya penanggulangan kejahatan

secara garis besar dapat dibagi dua,

yaitu lewat jalur “penal” (hukum

pidana) dan lewat jalur “nonpenal”

(bukan/ di luar hukum pidana). Menurut G. P Hoefnagels upaya penanggulangan kejahatan dapat di tempuh dengan:

a. Penerapan hukum pidana (criminal law aplication);

b. Pencegahan tanpa pidana (prevention without punisment);

10

Berdasarkan hasil wawancara dengan Akademisi Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Lampung, Heni Siswanto, tanggal 28 Januari 2015..

11

(8)

dengan Agus Triwiono,13 menyatakan cara penanggulangan c. Memengaruhi pandangan

masyarakat mengenai kejahatan dan pemidanaan lewat mass

media (influencing views of

society on crime and punishment/

dua arah, dan memilih teman yang baik.

Berdasarkan wawancara penulis

14

mass media). dengan Bun Yani , menyatakan cara

1. Sarana Non Penal

Sarana non-penal yaitu dengan upaya

preventif dengan melakukan

pencegahan sebelum kejahatan itu

terjadi. Salah satu jalur “non-penal”

untuk mengatasi masalah-masalah sosial yaitu dengan jalur kebijakan sosial (social policy). Kebijakan sosial pada dasarnya adalah kebijakan atau upaya-upaya rasional

untuk mencapai kesejahteraan

masyarakat..12

2. Sarana Penal

Sarana penal merupakan sarana atau upaya yang bersifat represif yaitu dilakukan setelahkejahatan itu terjadi dengan menggunakan hukum pidana, berupa penegakan hukum dengan menjatuhkan hukuman dan bertujuan untuk efek jera agar tidak terjadinya

kembali kejahatan tersebut dan

memasyarakatkan pelaku agar

diterima kembali didalam

masyarakat dengan sejahtera.

Berdasarkan wawancara penulis

penanggulangan kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet sebagai berikut: pengamanan sistem yang kuat, harus teagsnya hukum,

dan perkuat dukungan lembaga

khusus.

Berdasarkan hasil wawancara dengan

Erna Dewi,15 upaya penanggulangan

yang dapat dilakukan terhadap

eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet

sebagai berikut yaitu: korban

seharusnya ditempatkan tempat

khusus untuk penyembuhan

psikologisnya, meningkatkan

pembinaan agama, Peran dari keluarga dan lingkungan sangat berperan penting untuk mengontrol perilaku sosial, sanksi terhadap pelaku harus dibuat lebih tegas dan diperberat lagi hukumannya, dan Patroli/Razia oleh Satpol PP.

Berdasarkan wawancara penulis

16

kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet sebagai berikut: Bijak Menggunakan Media Sosial, tidak mudah percaya pada orang yang belum dikenal, menjalin komunikasi

12

Abdul Syani, Opcit hlm 44. 13

Hasil wawancara dengan Agus Triwiono , tanggal 20 Januari2015.

dengan Heni Siswanto , menyatakan upaya penanggulangan yang dapat di lakukan terhadap kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui

14

Hasil wawancara dengan Agus Triwiono , tanggal 20 Januari2015.

15

Hasil wawancara dengan Erna Dewi, tanggal 28 Januari 2015.

16

(9)

7

media internet dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:

1. Penanggulangan Secara Non Penal yaitu:

a. Diri Si anak b. Dorongan agama c. Sosialisasi

2. Penanggulangan Secara Penal Penanggulangan secara penal dimana penanggulangan secara hukum pidana. Dalam kontek ini sebuah membangun sebuah undang-undang yang berkaitan dengan anak baik itu sebuah undang-undang kesejahtraan anak, undang-undang perlindangan anak, undang-undang sistem peradilan pidana anak.

Berdasarkan uraian diatas, maka pendapat penulis tentang faktor- faktor penyebab kejahatan

eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet sebagai berikut:

a. Upaya Non penal secara prepentif dapat dilakukan oleh berbagai macam pihak yaitu dengan cara sebagai berikut : kegiatan agama, perkuatan dukungan lembaga khusus, sosialisasi dan upaya-upaya lainya

b. Upaya Secara Penal

Tindakan Represif dengan Cara

Penal Artinya tindakan yang

dilakukan oleh aparatur penegak hukum sesuai Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

III. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dalam penulisa skripsi ini, penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :

1) Faktor-faktor penyebab terjadinya kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet, yaitu:

a. Faktor Intern merupakan faktor yang ada di Diri Si Anak yang ingin tahu hubungan seksual yang belum saatnya dilakukan oleh seorang anak.

b. Faktor Ekstern merupakan faktor dari luar diri si anak yaitu : faktor

lingkungan, factor, kurangnya

pengetahuan tentang agama, susah

menemukan alat bukti, faktor

ekonomi , faktor lain-lainnya

2) Upaya-upaya yang dilakukan untuk menanggulangi kejahatan eksploitasi seksual secara komersil terhadap anak melalui media internet, yaitu:

a. Upaya Non penal yang dapat dilakukan oleh para pihak yaitu

tindakan preventif terdiri dari:

kegiatan agama yang ditingkatkan ,perkuat dukungan lembaga khusus di Indonesia, sosialisasi dan upaya- upaya lainnya.

b. Upaya Secara Penal

Tindakan Represif dengan Cara

Penal Artinya tindakan yang

(10)

DAFTAR PUSTAKA

A. Literatur

Arief, Barda Nawawi. 2008. Bunga

Rampai Kebijakan Hukum Pidana. Jakarta. Kencana

Ahmad,M Ramli.2004,cyberlaw dan HAKI

dalam Sistem Hukum Indonesia

,Bandung:Refika Aditama.

Syani, Abdul. 1987.Sosiologi Kriminalitas.

Bandung: Remaja Karya.

Didik, M Arief Mansur dan Elisatris

Gultom, 2005, Cyber Law Aspek Hukum

Teknologi Informasi, Banudung;Refika Aditama

B. Sumber Hukum

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, 2003.Penerbit Raja Grafindo Persada.

Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak

Undang-Undang No 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

C. Website :

http://tribun.com/

Referensi

Dokumen terkait

Sebagaimana halnya sebuah permainan musik yang terdiri atas berbagai alat, kehidupan nyata yang penuh dengan perbedaan pun dapat berdampingan dengan baik, asalkan setiap orang

Secara historis wilayah Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan mulanya adalah bagian dari Kerajaan Banggai yang sudah dikenal sejak abad 13 Masehi sebagaimana termuat dalam buku

Mann-Whitney sesudah perlakuan didapatkan bahwa metode stimulasi perkembangan satu jam bersama ibu efektif untuk perkembangan anak usia 12-24 bulan dengan tingkat signifikansi

Proses hidrolisis dalam penelititan ini akan dilakukan menggunakan alat pengaduk antara bahan katalisator dengan limbah makanan, sehingga diketahui

Dalam VoIP, terdapat berbagai protokol yang digunakan diantaranya protokol H.323 yang merupakan protokol standar untuk komunikasi multimedia seperti audio, video dan data real

[r]

[r]

Rangkaian Pengendali Seven Segment adalah rangkaian interface menggunakan port paralel melalui konektor DB25, sehingga Rangkaian dapat dikontrol melalui komputer secara