• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelebihan dan Amaliyah bulan Syaban dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kelebihan dan Amaliyah bulan Syaban dan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

Kelebihan dan Amaliyah bulan Sya'ban dan Nishf

Sya'ban

20 Juni 2013 pukul 11:35

PENDAHULUAN

Tidak terasa perputaran waktu dalam tahun hijriah telah memasuki bulan ke delapan. Salah satu bulan yang diagungkan dan mempunyai kelebihan tersendiri dalam kalender Islam, yaitu bulan Sya’ban. Nabi Muhammad SAW bersabda :

]رفكملا ناضمرو رهطملا نابعشو هللا رهش ناضمرو ىرهش نابعش

1 (ةشئاع نع ىمليدلا) [

“Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah bulan yang menyucikan dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa” (HR. Imam al-Dailami)

Dinamakan dengan Sya’ban dikarenakan dalam bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak bagi bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda :

لاق سنأ نع

:

ريخ ناضمرل هيف بعشتي هنل نابعش نابعش يمس مل نوردت ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق

]ريثك

2 [ “Tahukah kalian mengapa bulan Sya’ban dinamakan dengan Sya’ban? Karena dalam bulan Sya’ban bercabang-cabang kebaikan yang banyak bagi bulan Ramadhan”.

Dalam pendapat lain, Ibnu Manzhur mengutip perkataan Tsa’lab yang mengatakan bahwa sebagian ulama berpendapat bulan tersebut dinamakan dengan Sya’ban karena ia sya’ab, artinya zhahir (menonjol) di antara dua bulan, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan.[3]

Telah menjadi suatu tradisi ketika memasuki bulan Sya’ban, masyarakat muslim di Indonesia mempersiapkan diri dalam upaya peningkatan amal ibadahnya, seolah-olah bulan Sya’ban menjadi fase pemanasan beribadah untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mulai dari rutinitas puasa sunat semenjak awal Sya’ban hingga pelaksanaan shalat tasbih dan yasinan pada malam pertengahan bulan (nishfu Sya’ban).

Karena itu, pemahaman kembali pada tradisi yang tidak terlepas dari anjuran agama ini merupakan suatu keniscayaan. Dan, tentu saja menyikapinya pun harus secara arif dan bijaksana.

(2)

Dalam tulisan ini, ada beberapa hal yang perlu kita ketahui menyangkut dengan bulan

Sya’ban dan rutinitas ibadah yang terdapat di dalamnya. Secara singkat, kami mencoba untuk menguraikannya sebagai berikut :

BULAN SYA`BAN DAN KELEBIHANNYA

Bulan Sya’ban mengandung nilai keagungan yang tinggi dalam sistem penanggalan tahun Islam, baik dalam perputaran sejarah maupun esensi nilai ibadah yang terkandung di dalamnya. Indikasinya bisa kita telisik sedikit dari beberapa hal berikut ini :

1. Dalam bulan Sya’ban (bertepatan hari Selasa pada 15 Sya’ban) Allah SWT memerintahkan perubahan kiblat dari Bait al-Muqaddis ke Ka’bah Baitullah.[4] 2. Dalam bulan Sya’ban Allah SWT menurunkan ayat perintah bershalawat kepada

Rasulullah SAW[5], yaitu :

امميللسستتاومملللستوت هليسلتعتاوللمصتاونممتآ نتيذلللتااهتيلمأتايت يللبلنلتلا ىلتعت نتوللمصتيم همتتكتئلالتمتوت هتللتلا نلتإل

“Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-malaikat Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. al-Ahzab : 56)

 Bulan Sya’ban adalah bulan dimana Nabi SAW paling banyak melakukan puasa. ‘Aisyah meriwayatkan :

“Adalah Rasulullah SAW berpuasa sehingga kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka dan beliau berbuka sehingga kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan tidak pernah sama sekali saya melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasa sebulan kecuali Ramadhan dan tidak pernah saya melihat beliau lebih banyak berpuasa dalam sebulan yang lebih banyak daripada bulan Sya`ban”. (HR. Imam Muslim)

 Bulan Sya’ban juga merupakan bulan diangkatnya amal manusia kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda :

“Dari Usamah bin Zaid, beliau berkata : Saya berkata : “Ya Rasulullah, saya melihat engkau berpuasa dalam sebulan yang tidak saya lihat engkau berpuasa seperti demikian dalam bulan yang lain”. Rasulullah SAW berkata : “Bulan mana?” Saya berkata : “Bulan Sya`ban”. Rasul SAW menjawab : “Bulan Sya`ban adalah bulan antara Rajab dan

(3)

keadaan berpuasa”. Saya berkata: “Saya melihat engkau berpusa hari Senin dan Kamis dan tidak engkau tinggalkan keduanya”. Rasul SAW menjawab : “Sesungguhnya amalan hamba di angkat dalam kedua hari tersebut, maka aku cintai tidak di angkatkan amalanku kecuali sedangkan aku dalam keadaan berpuasa”. (HR. Imam al-Baihaqi)

Dalam hadits ini Rasulullah SAW menerangkan bahwa banyak manusia yang lengah di bulan Sya’ban karena sibuk dan merasa cukup dengan dua bulan mulia yang mengapit bulan Sya’ban, yaitu bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Melakukan ibadat pada waktu orang lain lalai, memiliki kelebihan tersendiri sebagaimana di terangkan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami.[8]

1. KEUTAMAAN NISHFU SYA’BAN DAN AMALAN DI DALAMNYA.

Salah satu keistimewaan bulan Sya’ban adalah adanya malam nishfu Sya’ban yang merupakan malam termulia setelah malam Lailatul-Qadar. Sebagian ulama mengatakan bahwa kemulian bulan Rajab terletak pada 10 awalnya, bulan Sya’ban terletak pada 10 yang kedua dan bulan Ramadhan terletak pada 10 yang terakhir.[9]

Kelompok yang pertama sekali membesarkan malam nishfu Sya’ban dengan rutinitas ibadah yang lebih banyak dibandingkan dengan malam-malam sebelumnya adalah para tabi’in dari negeri Syam seperti Imam Khalid bin Ma`dan, Imam Makhul, Imam Luqman bin ‘Amir dan lainnya. Sebagian dari mereka menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan berjamaah di mesjid dengan memakai pakaian yang bagus. Ketika hal ini menyebar, para ulama berbeda pendapat dalam menanggapinya. Sebagian ulama menerimanya seperti ulama negeri Bashrah dan lainnya, sedangkan sebagian ulama Mekkah seperti Imam ‘Atha` dan Imam Ibnu Abi Malikah serta fuqaha Madinah mengingkarinya. Imam Ishaq Rahawaih berpendapat bahwa hal tersebut bukanlah bid’ah sedangkan Imam Auza’i menganggap makruh

menghidupkannya secara berjamaah tetapi tidak makruh secara sendiri. [10]

Malam nishfu sya’ban dapat dikategorikan sebagai salah satu malam yang baik untuk beribadat dan berdoa dikarenakan keumuman dalil dimana setiap malam ada satu saat yang mustajabah doa.

Rasulullah SAW bersabda :

اللتإل ارميسخت هتللتلا لمأتسسيت ممللسسمم دمبسعت اهتقمفلاوتيم الت ةمعتاستلت لليسللتلا يفل نلتإل لموقميت متللتستوت هليسلتعت همللتلا ىللتصت يلتبلنلتلا تمعسملست لتاقت رربلاجت نسعت

]ةرلتيسلت للتكم كتللذتوت همايلتإل هماطتعسأت 11

[

(4)

Selain itu, banyak juga dalil-dalil khusus yang menunjuki kelebihan malam nishfu Sya’ban walaupun sebagian hadits tersebut dha’if, namun sebagiannya juga dianggap shahih oleh Imam Ibnu Hibban[12] dan sebagian lainnya dikuatkan dengan adanya periwayatan pada thariq-thariq yang lain yang berfungsi sebagai muttabi’ dan syawahid sehingga beberapa hadits tersebut naik derajatnya menjadi hasan. Lagipula, hadits dha’if boleh diamalkan untuk fadhail-a’mal dengan catatan tidak terlalu dha’if. Bahkan Imam al-Ramli mengatakan bahwa Imam al-Nawawi dalam beberapa karangan beliau menceritakan tentang adanya ijma’ ulama tentang kebolehan beramal dengan hadits dha’if pada permasalahan fadhail-a’mal

(keutamaan beramal).[13] Selanjutnya, Imam Husain Muhammad ‘Ali Makhlul al-‘Adawy mengatakan bahwa hadits-hadits tentang kelebihan malam nishfu Sya’ban serta kelebihan menghidupkan malam tersebut merupakan hadits yang boleh di amalkan pada fadhail-a’mal. [14]

Diantara dalil-dalil khusus tersebut antara lain :

 Hadits riwayat Imam al-Thabrani dan Imam Ibnu Hibban :

]نحاشم وأ كرشمل لإ هقلخ عيمجل رفغيو نابعش نم فصنلا ةليل هقلخ عيمج ىلإ هللا علطي 15

)[

نباو يناربطلا هاور

(هحيحص يف نابح “Allah SWT memandang sekalian makhluk-Nya pada malam nishfu Sya’ban dan Allah SWT mengampuni sekalian makhluknya kecuali yang musyrik dan yang memiliki dendam”.

 Hadits riwayat Imam Ibnu Majah :

“Apabila tiba malam nishfu Sya’ban maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya, karena (rahmat) Allah SWT akan turun ke langit dunia pada saat tersebut sejak terbenam matahari dan Allah SWT berfirman : “Adakah ada orang yang meminta ampun, maka akan Aku ampunkan, adakah yang meminta rezeki, maka akan Ku berikan rezeki untuknya, adakah orang yang terkena musibah maka akan Aku lindungi, adakah sedemikian, adakah sedemikian, hingga terbit fajar”.

 Hadits riwayat ‘Aisyah:

“Berkatalah ‘Aisyah :”Saya kehilangan Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau berada di Baqi’ sambil mengangkat kepala ke langit”. Beliau berkata: “Apakah engkau takut engkau dizalimi oleh Allah dan Rasul-Nya?” Saya menjawab: “Ya Rasulullah, saya menyangka engkau mendatangi sebagian istri engkau”. Beliau berkata : “Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun pada malam nishfu Sya’ban ke langit dunia, maka Allah SWT mengampunkannya lebih banyak dari bulu domba Bani Kalab”. (HR. Imam Ahmad)

(5)

: :

هذه يف مدآ ينب نم دولوم لك بتكي نأ اهيف لاقف ؟هللا لوسر اي اهيف ام تلاق ؟ةليللا هذه يف ام نيردت له

]…مهقازرأ لزنت اهيفو ،مهلامعأ عفرت اهيفو ،ةنسلا هذه يف مدآ ينب نم كلاه لك بتكي نأ اهيفو ،ةنسلا 18

[

“Rasululah berkata :”Adakah kamu ketahui kejadian pada malam ini?” ‘Aisyah

menjawab :”Apa yang terjadi pada malam ini, ya Rasulullah?” Beliau menjawab :”Pada malam ini dituliskan semua anak yang akan lahir pada tahun ini dari keturunan Adam, pada malam ini dituliskan semua orang yang akan mati pada tahun ini, pada malam ini diangkat amalan manusia dan pada malam ini diturunkan rezeki mereka…”.

Selanjutnya, para ulama juga berkomentar tentang kelebihan malam nishfu Sya’ban, diantaranya adalah :

 Riwayat yang menceritakan bahwa ‘Umar bin Abdul Aziz mengirim surat kepada pegawai beliau di Bashrah:

“Lazimkanlah empat malam dalam setahun karena sesungguhnya Allah memenuhi padanya dengan rahmat Nya, yaitu awal malam dari Rajab, malam nishfu Sya’ban, malam ‘idul-fithri, malam ‘idul-adha”.

“Telah sampai riwayat kepada kami bahwa dikatakan do`a dikabulkan pada lima malam, yaitu pada malam Jum`at, malam hari raya adha, malam hari raya fithri, awal malam bulan Rajab dan malam nishfu Sya`ban”.

 Imam il-Taqi al-Subki mengatakan:

]رمعلا بونذ رفكت ردقلا ةليلو عوبسلا بونذ رفكت ةعمج ةليلو ةنسلا بونذ رفكي نابعش نم فصنلا ةليل ءايحا نأ 21 [ “Menghidupkan malam nishfu Sya’ban diampunkan dosa setahun, menghidupkan malam Jum’at diampunkan dosa seminggu dan menghidupkan malam Qadar di ampunkan dosa seumur hidup”.

Dan masih banyak lagi keterangan para ulama tentang kelebihan malam nishfu Sya’ban, bahkan Ibnu Taimiyah sekalipun mengakui kelebihan beramal dan berkumpul untuk beribadat pada malam nishfu Sya’ban walaupun terdapat beberapa hadits maudhu’ tentang hal tersebut.[22]

(6)

Dalam menunjuki kemuliaan malam nishfu Sya’ban, para ulama menyebutkan beberapa nama bagi malam tersebut sebagaimana perkataan sebagian ulama:

ىمسملا فرش ىلع لدت ءامسلا ةرثك

“Banyak nama menunjuki kemulian zatnya”.

Imam Ahmad bin Isma’il bin Yusuf al-Thaliqani menyebutkan nama-nama malam nishfu Sya’ban hingga mencapai 22 nama, di antaranya :[23]

1. Lailatul-Barakah artinya malam keberkahan (bertambah).

2. Lailatul-Qasamah Wa Takdir, karena Allah SWT menunaikan satu urusan yang besar pada malam tersebut.

3. Lailatul-Takfir (malam penghapusan) karena malam tersebut menghapus dosa. 4. Lailatul-Ijabah (malam pengabulan doa) karena riwayat dari Ibnu ‘Umar bahwa

malam tersebut do’a hamba tidak ditolak oleh Allah SWT.

5. Lailatul-Hayyat (malam kehidupan) karena hadits riwayat Ishaq bahwa malaikat maut pada malam tersebut tidak mencabut nyawa seseorang antara Maghrib dan ‘Isya karena ia menerima buku amalan dari Allah SWT. Pendapat yang lain mengatakan karena Allah SWT tidak akan mematikan hati orang-orang yang menghidupkan malam tersebut.

6. Lailatul-‘Idil-Malaikat (malam hari raya malaikat) karena malaikat juga memiliki dua malam hari raya seperti umat Islam memiliki dua hari raya ;‘idul-fithri dan ‘idhul-adha. Kedua hari raya malaikat tersebut adalah malam nishfu Sya’ban dan malam Qadar sebagaimana telah disebutkan oleh Imam ‘Abdullah Thahir bin Muhammad bin Ahmad Al-Haddad dalam kitabnya, ‘Uyun al-Majalis.

7. Lailatul-Syafa’ah (malam syafaat) karena diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ketika Rasul SAW shalat pada malam tersebut, turunlah malaikat Jibril dan berkata pada Rasulullah SAW: “Allah SWT telah membebaskan setengah dari ummat engkau dari api neraka”.

8. Lailatul-Bara-ah (malam kelepasan) karena pada malam tersebut Allah SWT menuliskan kelepasan orang mukmin dari api neraka.

9. Lailatul-Jaizah (malam ganjaran) karena Allah SWT memerintahkan kepada surga untuk berhias bagi orang beriman sebagai balasan amal mereka.

(7)

11. Lailatul-al-‘Itqi Min al-Nar (malam kemerdekaan dari api neraka) karena pada malam tersebut Allah SWT memerdekakan banyak hamba-Nya dari api neraka.

12. Lailatul-Rujhan (malam keunggulan). 13. Lailatu- Ta’zhim (malam keagungan). 14. Lailatul-Qadar (malam ketentuan). 15. Lailatul-Ghufran (malam pengampunan). 16. Lailatul-Rahmat (malam rahmat).

17. Lailatul-Shak (malam buku catatan). 18. Dan lain-lain.

Kemudian, dalam hal serangkaian ibadah yang dikerjakan pada malam nishfu Sya’ban, Imam Ibnu Rajab al-Hanbali meriwayatkan :

ىلع نيكسملاو فيعضلل ةيوقت مهلاومأ ةاكز اوجرخأو اهؤرقف فحاصملا ىلع اوبكنا نابعش لخد اذإ نوملسملا ناك

]ناضمر مايص

24 [

“Adalah umat muslim bila memasuki bulan Sya’ban mereka menekuni mushaf (al-Qur`an), mereka membacanya, mengeluarkan zakat harta mereka untuk menguatkan orang-orang yang lemah dan miskin untuk berpuasa dalam bulan Ramadhan”.

: :

رهش اذه لاق نابعش لخد اذإ تباث يبأ نب بيبح ناكو ءارقلا رهش نابعش رهش لاقي ناك ليهك نب ةملس لاق

]ءارقلا

25 [ “Salmah bin Kuhail berkata :“Bulan Sya’ban disebutkan sebagai bulan qura` (pembaca al-Qur`an) dan adalah Habib bin Abi Tsabit bila masuk bulan Sya’ban beliau berkata :”Ini adalah bulan para pembaca al-Qur`an”.

]نآرقلا ةءارقل غرفتو هتوناح قلغأ نابعش لخد اذإ يئلملا سيق نب ورمع ناك 26

[

“Adalah Amr bin Qais al-Mula-i ketika masuk bulan Sya’ban, ia mengunci pintu tokonya dan mencurahkan waktunya untuk membaca al-Qur`an”.

(8)

} ( )

“Ditanyakan tentang puasa nishfu Sya`ban sebagaimana diriwayatkan dalam hadits riwayat Ibnu Majah dari Nabi SAW beliau berkata :”Apabila datang malam nishfu Sya`ban maka berdirilah pada malamnya dan berpuasalah pada harinya”. Apakah puasa tersebut sunat atau tidak? Dan apakah hadits tersebut shahih atau tidak? Dan jika dhaif, maka siapa yang mendhaifkannya?” Maka beliau menjawab :”Disunatkan puasa pada nishfu Sya`ban bahkan disunatkan berpuasa hari ke 13, 14, dan 15. Sedangkan hadits tersebut bisa dijadikan hujjah”.

“Dan kesimpulannya bahwa menghidupkan malam nishfu Sya’ban disunatkan karena adanya beberapa hadits. Menghidupkan malam nishfu Sya’ban dapat dilakukan dengan shalat dengan tiada penentuan bilangan rakaat secara khusus, membaca al-Qur`an secara sendiri, berzikir, berdoa, bertasbih, bershalawat kepada Nabi secara sendiri dan berjamaah,

pembacaan hadits, mendengarkannya, mengadakan pengajaran dan majelis bagi tafsir dan penjelasan hadits dan membicarakan kelebihan malam ini, menghadiri dan mendengarkan majlis tersebut dan amalan ibadah yang lain”.

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa malam nishfu Sya’ban juga merupakan malam penuh rahmat, maka sudah sepatutnya kita bertaubat dan menjauhi kemaksiatan dalam malam tersebut, terlebih lagi ada beberapa riwayat yang menyebutkan pengecualian terhadap

beberapa pelaku kemaksiatan yang bertobat sehingga mendapatkan keampunan pada malam tersebut.[29]

Beberapa amalan-amalan shalih yang dapat dilakukan pada malam nishfu Sya’ban sebagaimana di terangkan oleh para ulama-ulama, antara lain :

Shalat sunat tasbih.

(9)

Shalat sunat awwabin.

Imam al-Zabidy mengatakan bahwa para ulama khalaf mewarisi rutinitas ibadah pada malam nishfu Sya’ban dari para ulama sebelumnya dengan melaksanakan shalat enam rakaat setelah shalat Maghrib, setiap dua rakaat satu kali salam. Pada tiap rakaat dibaca surat al-Fatihah dan al-Ikhlash sebanyak enam kali. Tiap selesai dari dua rakaat dilanjutkan dengan membaca surat Yasin, kemudian membaca doa nishfu Sya’ban yang masyhur. Pada pembacaan surat Yasin kali pertama, diniatkan supaya Allah SWT memberikan keberkahan umur. Pada kali kedua, meminta keberkahan rezeki, dan pada kali ketiga berdoa agar diberikan husnul-khatimah.[31]

Amalan ini masyhur disebutkan dalam kitab-kitab ulama sufi muta-akhirin, walaupun beliau belum menemukan dalil yang shahih dari hadits untuk amalan tersebut. Namun, amalan tersebut merupakan amalan yang diamalkan oleh para guru-guru Imam al-Zabidi pada masa itu.[32]

Imam Muhammad Zaki Ibrahim memberikan keterangan tentang shalat tersebut :

“Adapun perbuatan yang biasa di lakukan manusia berupa shalat enam rakaat pada beberapa waktu di antara Maghrib dan ‘Isya, maka sungguh terdapat beberapa hadits tentang kesunnahan shalat enam rakaat ini. Maka apabila hamba bertawasul kepada Allah SWT dengan shalat tersebut untuk mengharapkan mendapat manfaat dan dijauhkan

mudharat, maka tawasul ini adalah tawasul kepada Allah SWT dengan amalan shalih yang tidak ada pertentangan tentangnya. Sebagaimana halnya shalat tersebut merupakan bagian dari shalat hajat dalam waktu tersendiri yang disepakati keshahihannya oleh sekalian ulama. Pada dasarnya, shalat enam rakaat tersebut dinamakan shalat Awwabin”.

 Membaca surat Yasin sebanyak 3x setelah shalat Maghrib dan berdoa setelahnya. Pada bacaan kali pertama diniatkan supaya Allah SWT memberikan panjang umur beserta diberikan taufik untuk taat. Pada bacaan kali kedua diniatkan supaya dijauhkan dari segala bala dan diberikan rezeki halal yang banyak. Dan pada bacaan kali ketiga diniatkan tidak tergantung hidupnya kepada orang lain dan diberikan husnul-khatimah. Setiap kali selesai membaca surat Yasin dilanjutkan dengan membaca doa nishfu Sya’ban yang masyhur seperti tertera berikut ini[34] :

(10)

keistimewaan surat Yasin adalah barangsiapa membaca surat Yasin sebanyak 3x dengan niat sebagaimana tersebut sebelumnya, kemudian dilanjutkan dengan membaca doa nishfu Sya’ban seperti yang telah tertera tersebut, akan tetapi sebelum membaca doa tersebut, terlebih dahulu membaca doa berikut ini, dimana kumpulan kedua doa ini dibaca sebanyak 10x, maka tercapailah hajatnya[36] :

Imam Sayyid Hasan bin Quthb ‘Abdullah bin Ba’alawi al-Haddad menambahkan doa berikut ini setelah pembacaan surat Yasin dengan niat seperti tersebut dan setelah doa nishfu Sya’ban yang masyhur yang telah disebutkan sebelumnya[38] :

Lebih panjangnya, doa tersebut dilanjutkan seperti berikut ini : [40]

(11)
(12)

(x3

Imam al-Wana’i menyebutkan bahwa salah satu doa yang baik untuk dibaca pada malam nishfu Sya’ban adalah doa yang disunatkan dibaca pada malam lailatul-qadar, karena malam nishfu Sya’ban merupakan malam yang utama setelah lailatul-qadar.[42] Doa tersebut adalah:

Doa lain yang juga bagus untuk dibaca pada malam nishfu Sya’ban adalah doa Nabi Adam ketika beliau thawaf di Ka’bah setelah diturunkan ke bumi[44]:

Setelah Nabi Adam membaca doa ini, Allah SWT mengampunkan kesalahan Nabi Adam dan Allah SWT berfirman bahwa siapa saja keturunan Nabi Adam yang membaca doa ini, maka ia akan diampunkan dosanya dan dihilangkan kesusahannya. [46]

(13)

،كمقهزحره عمسهاوم كملهضحفم نحمه انملم رحدلهقموم ،كمقهتحعهوم كمنلهممبه انميحلمعم دلمعهفم ،كمقهلحخم ىلمعم نمابمعحشه نحمه فهصحنلهلا ةملميحلم تمعحلمطحأم ذحإه ملمهنلللام

.

لموحطم تمرحدلمقم نحمموم ،كمتمممححرم هنلم كملهذ عممم ضهقحافم ههتهافمومبه اهميحفه تميحضمقم نحمم ملمهنلللام كمقلهحم ضهعحبمبه اهميحفه كملم منوحقنيم نحملممه انملحعمجحاوم

بلمرم ايم ههيحدميم نميحبم منادمقحأملحا تهفمقموم نحمم رميحخم ايم ،ههيحلمإه لنامملا غنلنبحتم الم امم انمغحللهبموم ،كمتمممعحنه كملهذ عممم هنلم لحعمجحافم ههتهايمحم ]نميحعهممجحأم ههبهححصموم ههلهآ ىلمعمومههقهلحخم رهيحخم ددملمحممن انمدهيحسم ىلمعم ىلماعمتم ل ن ا ىللمصموم ،نميحمهحهارلملا ممحمرحأم ايم كمتهممححرمبه ،نميحمهلماعملا 48 [

Membaca kalimat tahlil, yaitu :

]نميحمهلهاظلملا نممه تننحكن ينلهإه كمنماحمبحسن تمنحأم اللمإم هملإه الم 49

[

Sebagian ulama menyebutkan, barangsiapa membaca zikir tersebut sebanyak kandungan hurufnya yaitu 2375, niscaya ia akan aman dari marabahaya pada tahun tersebut.[50]

Membaca surat al-Dukhan.

Imam al-Saraji menyebutkan bahwa barangsiapa membaca awal surat al-Dukhan hingga ayat ke-8 dari awal bulan Sya’ban hingga 15 Sya’ban sebanyak 30x, kemudian ia berzikir dan bershalawat kepada Nabi SAW dan berdoa dengan apa yang ia kehendaki, niscaya doanya akan dikabulkan dengan segera.[51]

Memperbanyak shalawat.[52]

PERMASALAHAN SEPUTAR AMALAN LAIN PADA NISHFU SYA’BAN

Amalan lainnya pada malam nishfu Sya’ban adalah shalat sebanyak seratus rakaat, setiap dua rakaat satu kali salam, dan setiap selesai surat al-Fatihah dibaca surat al-Ikhlash 11 kali. Ataupun melakukan shalat sebanyak 11 rakaat. Setiap selesai membaca al-Fatihah, dibaca surat al-Ikhlash 100x. Shalat seperti ini disebutkan oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya-u ‘Ulum al-Din.[53] Pernyataan Imam al-Ghazali ini diikuti juga oleh Imam Ibnu Shalah pada akhir fatwanya walaupun fatwa tersebut ditolak oleh Imam al-Subki.[54]

Sebagian besar ulama lainnya berpendapat bahwa shalat tersebut merupakan bid’ah mungkar dan hadits-haditsnya merupakan hadits maudhu’ sebagaimana diterangkan oleh Imam al-Nawawi[55] dan diikuti pula oleh para ulama lain seperti Imam Ibnu Hajar al-Haitami[56], Imam il-Taqi al-Subki [57], Imam al-Ramli[58] dan lainnya.

(14)

.

مهنمو لامعلا لئاضف يف هب ملعي دح ىلإ ثيدحلا لصو تعمتجا اذإ قرط اهل لاق نم مهنمف ،اهيف ءاملعلا فلتخاو

] هبتك يف حراشلا هعبتو يوونلا مهنمو عضولاب اهثيدح ىلع مكح نم 59

[

“Para ulama berbeda pendapat tentang shalat tersebut, sebagian mereka berpendapat bahwa hadits tersebut memiliki thariq yang bila dikumpulkan, mencapai derajat fadhail-a’mal. Sedangkan sebagian yang lain menghukumi hadist tersebut sebagai hadits maudhu’. Diantara yang berpendapat demikian adalah Imam al-Nawawi dan diikuti oleh pensyarihnya dalam kitab-kitabnya”.

Selanjutnya, salah satu hal yang dilarang dalam bulan Sya’ban adalah berpuasa setelah nishfu Sya’ban (16 Sya’ban hingga seterusnya). Rasulullah SAW bersabda:

]اوموصت لف نابعش فصتنا اذإ 60

[

“Apabila telah masuk pertengahan nishfu Sya’ban, maka jangan engkau berpuasa”. (HR. Imam Abu Daud)

Pengecualian larangan berpuasa ini hanya berlaku apabila puasa tersebut disambung dengan hari sebelumnya (15 Sya’ban), berpuasa karena adanya sebab yang lain seperti qadha puasa ataupun bertepatan dengan kebiasaannya berpuasa pada hari-hari biasa.

KESIMPULAN

Beranjak dari uraian sebelumnya, dapatlah kita ketahui bahwa menghidupkan malam nishfu Sya’ban dengan serangkaian ibadah yang telah disebutkan sebelumnya -sebagaimana tradisi yang berkembang dalam masyarakat muslim di negeri ini- adalah perilaku dari para ulama terdahulu yang tentu saja tidak bertentangan sama sekali dengan anjuran Syari’at bahkan terdapat keutamaan dan pahala yang besar di dalamnya.

PENUTUP

(15)

]

يف ينسحلا يكلاملا يولع ديسلا نب دمحم ديسلادايتعلا نسحب ناضمر يف زاف ، داهتجلاب هيف هسفن دولع نمت

هيف اذام نابعش رهش هتلاسر

[

“Barangsiapa membiasakan diri beribadah di bulan Sya’ban dengan bersungguh-sungguh, maka ia akan memperoleh kemenangan dalam bulan Ramadhan dengan melakukan

kebiasaan-kebiasaan baik”. (Sayyid Muhammad bin Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani dalam risalahnya, Fi Syahr Sya’ban Madza Fih).

Demikianlah uraian singkat ini. Semoga bermanfaat.

Samalanga, LPI MUDI Mesjid Raya, Aceh

KEPUSTAKAAN

al-Hindi, ‘Alauddin ‘Ali bin Hisam al-Din, Kanz al-‘Umal Fi Sunan al-Aqwal Wa al-Af’al, Juz. 12 cet. V (t.tp: Muassasah al-Risalah, 1981 M).

Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukrim, Lisan al-‘Arab, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar Shadir). al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an, Q.S al-Baqarah : 142, Juz. II (t.tp: tp, tt).

al-Naisaburi, Muslim bin al-Hujaj, al-Jami’ al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, Juz. III (Beirut: Dar al-Jail dan Dar al-Afaq al-Jadidat, tt).

Baihaqi, Abubakar Ahmad bin Husain, Sya’b Iman, Juz. III, cet. I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1410 H).

al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl al-Islam Bi Khushushiyat al-Shiyam, cet. I (Beirut: al-Muassasah al-Kutub, 1990 M).

al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan Fi Qiraat al-Mi`ad Fi Rajab Wa Sya’ban, cet. II (Mesir: al-Kastaliyah, 1297 H).

Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif Ma’arif Fi Ma Li Mawasim ‘Am Min al-Wazhaif, cet. V (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1999 M).

(16)

al-Tamimi, Muhammad bin Hibban, Shahih Ibn Hibban Bi Tartib Ibn Balban, Juz. XII, cet. II (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1993 M).

Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Majah, Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt).

al-Hanbal, Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Juz ke-43, cet. II (t.tp: Muassasah al-Risalah. 1999 M).

al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Fadha-i al-Auqat Li al-Baihaqi, cet. I (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1997 M).

al-Syafi’i, Muhammad bin Idris, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009).

al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat al-Muttaqin Bi Syarh Ihya-i ‘Ulum al-Din, Juz. III, cet. III (Beirut: Dar al-Fikr, 2005).

Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim, Iqtidha-u al-Sirath al-Mustaqim Li Mukhalafat Ashhab al-Jahim, Juz. II (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, tt).

al-Shawi, Ahmad al-Shawi al-Maliki, Hasyiah al-Shawy `Ala Tafsir Jalalain, Juz. IV (Beirut: Dar al-Fikr, tt).

al-Luban, Muhammad bin Muhammad, Baqat al-Raihan Fi Ma Yata’allaq Bi Lailat al-Nishf Min Sya’ban, (t.tp: tp, tt).

Muhammad Zaki Ibrahim, Lailat an-Nishf Min Sya’ban Fi Mizan al-Inshaf al-‘Ilmi Wa Samahah al-Islam, (t.tp: tp, tt).

Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali, Kanz al-Najah Wa al-Surur Fi al-Ad’iyyah Allati Tasyruh al-Shudur, (t.tp: t.p, tt).

Zarqani, Muhammad Zarqani bin ‘Abd Baqi, Syarh ’Alamah Zarqani ‘Ala al-Mawahib al-Laduniyyah Bi al-Mihah al-Muhammadiyyah Li al-‘Alamah al-Qusthalani, Juz. IX (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1996 M).

al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Fatawa Kubra Fiqhiyyah, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 1983 M). Nawawi, Yahya bin Syaraf, Majmu’ Syarh Muhadzab, Juz. V (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2008).

Haitami, Ahmad bin Hajar, Tuhfat Muhtaj Bi Syarh Minhaj, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 2009).

al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, juz. II, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2003).

Sulaiman al-Kurdy, Hawasyi al-Madaniyyah, Juz. I (t.tp: al-Haramain, tt).

(17)

Sayyid Muhammad bin Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani, Fi Syahr Sya’ban Madza Fih, (t.tp: tp, tt) t.hal.

[1]al-Hindi, ‘Alauddin ‘Ali bin Hisam al-Din, Kanz al-‘Umal Fi Sunan al-Aqwal Wa al-Af’al, Juz. 12 cet. V (t.tp: Muassasah al-Risalah, 1981 M) hal. 579.

[2]Ibid, Juz. 8, hal. 591.

[3]Ibnu Manzhur, Muhammad bin Mukrim, Lisan al-‘Arab, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar Shadir) hal. 501.

[4]al-Qurthubi, Muhammad bin Ahmad, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an, Q.S al-Baqarah : 142, Juz. II (t.tp: tp, tt), hal. 144.

[5]al-Zarqani, Ahmad bin Muhammad, Syarh al-Zarqani ‘Ala al-Mawahib al-Laduniyah Bi al-Minah al-Muhammadiyyah, Juz. IX, cet. I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1996 M) hal. 165.

[6]al-Naisaburi, Muslim bin al-Hujaj, al-Jami’ al-Shahih al-Musamma Shahih Muslim, Juz. III (Beirut: Dar al-Jail dan Dar al-Afaq al-Jadidat, tt) hal. 160.

[7]Baihaqi, Abubakar Ahmad bin Husain, Sya’b Iman, Juz. III, cet. I (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1410 H) hal. 377.

[8]al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl al-Islam Bi Khushushiyat al-Shiyam, cet. I (Beirut: al-Muassasah al-Kutub, 1990 M) hal. 360-361.

(18)

[10]al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Ittihaf Ahl..., hal 367.

[11]al-Naisaburi, Muslim bin al-Hujaj, al-Jami’ al-Shahih…, Juz. II, hal. 175.

[12]Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif Ma’arif Fi Ma Li Mawasim ‘Am Min al-Wazhaif, cet. V (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1999 M) hal. 261.

[13]al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Fatawa al-Ramli, Juz. IV (Beirut: Dar Fikr, 1983 M) hal 383.

[14]al-‘Adawi, Husain Muhammad ‘Ali Makhlul, al-Kalimat al-Hasan Fi Fadha-i al-Lailah Nishf Sya’ban, (t.tp: tp, tt) hal. 6.

[15]al-Tamimi, Muhammad bin Hibban, Shahih Ibn Hibban Bi Tartib Ibn Balban, Juz. XII, cet. II (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1993 M) hal. 481

[16]Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Majah, Juz. I (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 444.

[17]al-Hanbal, Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Juz ke-43, cet. II (t.tp: Muassasah al-Risalah. 1999 M) hal. 146.

[18]al-Baihaqi, Abubakar Ahmad bin al-Husain, Fadha-i al-Auqat Li al-Baihaqi, cet. I (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1997 M) hal. 32.

(19)

[20]al-Syafi’i, Muhammad bin Idris, al-Umm, Juz. I, cet. I (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 254.

[21]al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat al-Muttaqin Bi Syarh Ihya-I ‘Ulum al-Din, Juz. III, cet. III (Beirut: Dar al-Fikr, 2005) hal. 708.

[22]Ibnu Taimiyah, Ahmad bin ‘Abd al-Halim, Iqtidha-u al-Sirath al-Mustaqim Li Mukhalafat Ashhab al-Jahim, Juz. II (Riyadh: Maktabah al-Rusyd, tt) hal 126.

[23]al-Shawi, Ahmad al-Shawi al-Maliki, Hasyiah al-Shawy `Ala Tafsir Jalalain, Juz. IV (Beirut: Dar al-Fikr, tt) hal. 76 ; al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan…, hal 60-62 ; Luban, Muhammad bin Muhammad, Baqat Raihan Fi Ma Yata’allaq Bi Lailat al-Nishf Min Sya’ban, (t.tp: tp, tt) hal 4-6.

[24]Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif…, hal. 258.

[25]Ibid.

[26] Ibid, hal. 259.

[27]al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Fatawa…, Juz. II, hal 89.

[28]al-Fasyani, Ahmad bin Hijazi, Tuhfat al-Ikhwan… hal 65.

[29]Ibnu Rajab, Ahmad bin Rajab, Lathaif al-Ma’arif…, hal. 265.

(20)

[31]al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat…, hal. 708.

[32]Ibid.

[33]Muhammad Zaki Ibrahim, Lailat an-Nishf Min Sya’ban Fi Mizan al-Inshaf al-‘Ilmi Wa Samahah al-Islam, (t.tp: tp, tt) t.hal.

[34]Abdul Hamid bin Muhammad ‘Ali, Kanz al-Najah Wa al-Surur Fi al-Ad’iyyah Allati Tasyruh al-Shudur, (t.tp: t.p, tt) hal. 47-48.

[35]Ibid, hal. 48.

[36]Ibid.

[37] Ibid., hal. 49.

[38]Ibid., hal. 50.

[39]Ibid., hal. 51.

[40]Ibid., hal. 52-54.

[41]Ibid.,

(21)

[43]Ibid.

[44]Ibid.

[45]Ibid., hal. 47.

[46]Ibid.

[47]Ibid., hal. 49.

[48]Ibid.

[49]Ibid., hal. 55.

[50]Ibid.

[51]Ibid.

[52]al-Zarqani, Muhammad al-Zarqani bin ‘Abd al-Baqi, Syarh al-’Alamah al-Zarqani ‘Ala al-Mawahib al-Laduniyyah Bi al-Mihah al-Muhammadiyyah Li al-‘Alamah al-Qusthalani, Juz. IX (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1996 M) hal. 165.

[53]al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat…, hal. 704.

(22)

[55]al-Nawawi, Yahya bin Syaraf, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz. V (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2008) hal. 65.

[56]al-Haitami, Ahmad bin Hajar, Tuhfat al-Muhtaj Bi Syarh al-Minhaj, Juz. II (Beirut: Dar al-Fikr, 2009) hal. 261.

[57]al-Zabidi, Muhammad bin Muhammad, Ittihaf al-Sadat…, hal 707.

[58]al-Ramli, Ahmad bin Hamzah, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, juz. II, (Beirut: Dar Kutub al-Ilmiyah, 2003) hal. 124.

[59]Sulaiman al-Kurdy, Hawasyi al-Madaniyyah, Juz. I (t.tp: al-Haramain, tt) hal. 331.

Referensi

Dokumen terkait

Bidang Perbendaharaan mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah di bidang Pertanggungjawaban.. Dalam melaksanakan

c. Tentukanlah berapa langkah yang dijalani anak tersebut.. Selang interval yang memenuhi adalah irisan dari kedua selang interval yaitu ……….. Selang interval yang

Pada tahun yang sama, Akisato Rito juga mengeluarkan buku yang berjudul Chushingura Orikata yang memuat cara melipat kertas menjadi bentuk manusia dan pada tahun

Penulisan bahasa pemrograman FORTRAN 77 memiliki struktur dan aturan yang baku, dan bisanya akan lebih mudah jika dilakukan dalam suatu lembar penulisan program

Sel darah janin terutama mengandung hemoglobin jenis fetal (HbF), yang memiliki daya ikat oksigen jauh lebih tinggi dibandingkan daripada hemoglobin manusia dewasa (HbA) pada suhu

Robot busway akan mengikuti garis yang berwarna putih dengan bergerak sesuai dengan arah yang diberikan pada tanda panah, dan robot akan berhenti di halte dengan bantuan

Hasil percobaan ini menunjukkan terjadinya perbedaan yang nyata pada bobot embrio ayam yang berasal dari telur tertunas yang diinokulasi ekstrak benalu teh dengan dosis bertingkat

Dalam penelitian ini produk yang dikembangkan berupa bahan ajar yaitu (LKPD) berorientasi pembelajaran terpadu tipe jaring laba-laba yang diharapkan dapat meningkatkan