• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOPERASI DAN KEDAULATAN EKONOMI berbasis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KOPERASI DAN KEDAULATAN EKONOMI berbasis "

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

DENGAN KOPERASI KITA WUJUDKAN KEDAULATAN EKONOMI

LOMBA KARYA TULIS PERKOPERASIAN TINGKAT JAWA TIMUR

KATEGORI MASYARAKAT UMUM

TAHUN 2013

DISUSUN OLEH:

HUSAMAH

(2)

SUMMARY

Prestasi pertumbuhan ekonomi harus kita lihat secara jeli mengingat adanya paradok yang membarengi. Penduduk miskin jumlahnya tetap banyak, kesenjangan pendapatan antar golongan penduduk dan atar daerah makin lebar, dan pemindahan pemilikan aset ekonomi dari rakyat ke sekelompok kecil warga juga meningkat. Masalah pengangguran dan kemiskinan akan menimbulkan dampak negatif bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, persoalan ini tentu harus segera dipecahkan. Pertanyaannya adalah apa sebenarnya inti permasalahan tersebut tersebut dan bagaimana solusi jitu untuk mengatasinya?

Penyebab permasalahan ekonomi Indonesia adalah sangat besarnya ketergantungan kita kepada sumber daya asing akibat adanya praktik neoliberalisme. Dampak besar dari pelaksanaan neoliberalisme adalah hilangnya kedaulatan ekonomi bangsa ini. Bukan rahasia jika saat ini kedaulatan Indonesia di bidang ekonomi berada di titik nadir. Kita tentu melihat kenyataan bahwa setiap jengkal dan petak bumi Nusantara ini telah dipecah-pecah dalam satuan kapling ekonomi politik perusahaan multinasional dan perorangan. Neoliberalisme telah menjadi sumber petaka bagi perekonomian dan kedaulatan ekonomi Indonesia.

UUD 1945 mengamanahkan bahwa kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia harus dicapai dengan menerapkan prinsip ekonomi kerakyatan berwujud koperasi. Pasal 33 UUD 1945 menunjukkan koperasi sebagai bagian integral dari sistem ekonomi kerakyatan. Faktanya koperasi masih mengalami berbagai masalah. Koperasi dihadapkan pada dua masalah pokok yaitu: 1) Masalah internal: kurangnya pemahaman akan kewajiban, kurang cakap, tidak jujur, kurang kerjasama dan modal terbatas. 2) Masalah eksternal: iklim usaha dan tekanan arus globalisasi.

Beberapa solusi dapat diterapkan untuk mengatasi permasalahan koperasi. Pemberdayaan koperasi seyogyanya di lingkup makro maupun mikro dengan cara memfasilitasi pengembangan koperasi, baik permodalan, pemasaran, sampai pada peningkatan SDM oleh pemerintah. Pemerintah juga perlu memperhatikan aspek prasarana, pelayanan, pendidikan, dan penyuluhan koperasi. Solusi lain optimalisasi pemberdayaan koperasi meliputi: (1). Aspek kualitas sumber daya manusia. (2). Aspek peningkatan aksesibilitas modal. (3). Aspek mekanisasi dan inovasi teknologi. (4). Pematenan hak cipta dan merek. (5). Aspek kelembagaan dengan meningkatkan legalitas badan koperasi melalui kerjasama dengan berbagai lembaga. Selain upaya di atas, ada baiknya dibentuk Forum Manager Koperasi Kompeten (FMKK). Sementara itu, ide Kartasasmita antara lain: (1) Penghapusan praktik-praktik monopoli dan oligopoli yang merugikan masyarakat untuk mendukung iklim usaha. (2) Membuat struktur ekonomi lebih seimbang. (3) Pemberdayaan ekonomi lemah dan meningkatkan hubungan kemitraan. (4) Pembinaan lembaga pencetak kader SDM koperasi untuk menjamin kesinambungan pembangunan koperasi.

(3)

DAFTAR ISI

Halaman Cover………. i

Summary……… ii

Daftar Isi………. iii

Latar Belakang………. 1

Permasalahan yang Dihadapi………... 2

Solusi Masalah………. 6

Kesimpulan/Penutup………... 9

Daftar Rujukan………. 9

(4)

DENGAN KOPERASI KITA WUJUDKAN KEDAULATAN EKONOMI

Latar Belakang

Pemerintah Indonesia lima tahun terakhir ini sangat rajin menyampakan

data prestasi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pembangunan ekonomi yang

telah dilaksanakan selama ini secara makro memang menunjukkan hasil yang

cukup baik. Pertumbuhan ekonomi rata-rata masih di atas 6% pertahun.

Pendapatan perkapita dan volume serta nilai ekspor non migas juga meningkat.

Prestasi pertumbuhan ekonomi tersebut harus kita lihat secara jeli

mengingat adanya paradok yang membarengi. Pertumbuhan ekonomi yang baik

tidak berkorelasi positif terhadap kesejahteraan rakyat. Menurut Ishaq (2012) kita

harus jujur mengakui terjadinya paradok ekonomi. Penduduk miskin jumlahnya

tetap banyak, kesenjangan pendapatan antar golongan penduduk dan atar

daerah makin lebar, dan pemindahan pemilikan aset ekonomi dari rakyat ke

sekelompok kecil warga juga meningkat. Suryohadadiprojo (2011) mendukung

pendapat tersebut dengan memunculkan fakta 2% penduduk terkaya menguasai

aset nasional sebesar 46% dan 98% penduduk menengah ke bawah menguasai

54 persen aset nasional.

Menurut Berita Resmi Statistik BPS (2012) jumlah penduduk miskin di

Indonesia pada September 2011 sebesar 29,89 juta orang (12,36%) dan pada

Maret 2011 berjumlah 30,02 juta (12,49%). Tiga tahun sebelumnya yakni tahun

2009, jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 33.713.000 orang, lebih tinggi

dari target yang diinginkan pemerintah pada level 32.380.000 orang.

Sementara itu, problematika pengangguran di Indonesia juga merupakan

hal sangat runyam. Angka pengangguran terbuka di Indonesia per Agustus 2008

(5)

Jumlah pengangguran pada kuartal pertama tahun 2010 mencapai 8,59 juta

orang atau 7,41% dari total angkatan kerja (Bataviese, 2010). Menurut rilis

Badan Pusat Statistik (2012), tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada

Februari 2012 masih mencapai 6,32% atau 7,61 juta orang. Jumlah ini memang

sedikit lebih baik dibandingkan Februari 2011 yang mencapai 8,12 juta orang.

Namun, bila kita hitung penurunan jumlah pengangguran hanya 510 ribu orang

dibandingkan keadaan bulan yang sama tahun 2011.

Masalah pengangguran dan kemiskinan akan menimbulkan dampak negatif

bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Dampak negatif tersebut

misalnya kian tinggi dan beragamnya tindakan kriminal, makin banyaknya jumlah

anak jalanan, pengemis, pengamen, perdagangan anak, trafficking, konflik sosial

dan sebagainya. Masalah tersebut saat ini bahkan sudah menjadi penyakit

sosial dan menyebar ke segala penjuru negeri, bagaikan virus yang sulit

diberantas. Penyakit sosial ini sangat berbahaya dan menghasilkan

korban-korban yang tidak terhitung. Oleh karena itu, persoalan ini tentu harus segera

dipecahkan.

Pertanyaannya adalah apa sebenarnya inti permasalahan tersebut tersebut

dan bagaimana solusi jitu untuk mengatasinya? Pada bagian berikutnya kita

akan membahas hal tersebut secara lebih rinci dan komprehensif.

Permasalahan yang Dihadapi

Sasono (2010) mensinyalir bahwa penyebab permasalahan ekonomi

Indonesia adalah sangat besarnya ketergantungan kita kepada sumber daya

asing (baik modal maupun SDM). Kita pun terpaksa membungkuk kepada

pemilik modal asing, kekuasaan asing bahkan intervensi asing pada berbagai

(6)

efek pelaksanaan paham neoliberalisme. Neoliberalisme adalah sebuah sistem

perekonomian yang dibangun dan dijalankan di atas tiga prinsip sebagai berikut:

(1) tujuan utama ekonomi neoliberal adalah pengembangan kebebasan individu

untuk bersaing secara bebas-sempurna di pasar; (2) kepemilikan pribadi

terhadap faktor-faktor produksi diakui; dan (3) pembentukan harga pasar

bukanlah sesuatu yang alami, melainkan hasil dari penertiban pasar yang

dilakukan oleh negara melalui penerbitan undang-undang.

Berdasarkan ketiga prinsip tersebut maka peranan negara dalam

neoliberalisme dibatasi hanya sebagai pengatur dan penjaga bekerjanya

mekanisme pasar. Kebijakan yang dihasilkan tidak lagi pro rakyat tetapi lebih pro

pasar (Stiglitz dalam Ishaq, 2012). Dampak lebih besar dari pelaksanaan

neoliberalisme itu adalah hilangnya kedaulatan ekonomi bangsa ini. Bukan

rahasia jika saat ini kedaulatan Indonesia di bidang ekonomi berada di titik nadir.

Menurut Tomagola (2006) kita tidak boleh menutup mata akan kenyataan

yang telah mulai mengeras bahwa sesungguhnya setiap jengkal dan petak bumi

Nusantara ini telah dipecah-pecah dalam satuan kapling ekonomi politik

perusahaan multinasional dan perorangan. Kavling dibagi sesuai dengan skala

modal dan jumlah upeti yang diselundupkan ke rekening pejabat negara.

Bukit-bukit Timika untuk Freeport, Lhoksumawe untuk Exxon Mobil, beberapa

kabupaten di Sulawesi Selatan untuk Monsanta, Buyat dan Sumbawa untuk

Newmont Internasional, Teluk Bintuni Papua Barat untuk British Petroleum,

Kalimantan Timur untuk PT Kaltim Prima Coal serta berbagai daerah lain.

Tomagola (2006) juga mencatat bahwa Pulau Bali sebagai kebanggaan

Indonesia bahkan nyaris telah menjadi Negara Bagian ke-9 dari Australia. Hal

(7)

besar di Bali yang berpindah ke tangan pemodal asing. Ironisnya, satu-satunya

Taman Burung Internasional di Bali pun berada di tangan pemodal asing.

Berdasarkan kenyataan di atas sangat jelas bahwa neoliberalisme telah

menjadi sumber petaka bagi perekonomian dan kedaulatan ekonomi Indonesia.

Oleh sebab itu, yang kita butuhkan saat ini sebenarnya bukan hanya program

penanggulangan kemiskinan dan pengangguran, tetapi merumuskan kembali

strategi pembangunan ekonomi yang cocok untuk Indonesia. Menurut Ishaq

(2012) jika strategi yang kita tempuh benar, maka sebenarnya semua program

pembangunan adalah sekaligus menjadi program penanggulangan kemiskinan

dan pengangguran sekaligus meneguhkan kedaulatan ekonomi Indonesia.

Sebagai anak bangsa tentu kita harus selalu ingat, Pembukaan UUD

1945 menegaskan bahwa Negara Indonesia didirikan dengan tujuan melindungi

segenap bangsa Indonesia, seluruh tanah tumpah darah Indonesia, untuk

memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pengejawantahan amanat UUD 1945 tersebut hakekatnya merupakan tugas

semua elemen bangsa. Kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia

harus dicapai dengan menerapkan prinsip “dari, oleh, dan untuk rakyat”.

Konsep “dari, oleh, dan untuk rakyat” ini sebenarnya telah jauh-jauh hari

dipikirkan oleh founding father khususnya Dr.(HC) Drs. Mohammad Hatta (Bung

Hatta), Bapak Koperasi Indonesia dan Wakil Presiden pertama Republik

Indonesia. Bung Hatta bahkan jauh sebelum Schumacher (penulis buku terkenal

Small is Beautiful) dan Amartya Sen (pemenang Nobel 1998 Bidang Ekonomi)

telah berpendapat bahwa ekonomi kerakyatan merupakan bentuk perekenomian

yang paling tepat bagi bangsa Indonesia (Nugroho, 1997). Orientasi utama dari

ekonomi kerakyatan adalah rakyat banyak, bukan sebagian atau sekelompok

(8)

Menurut Baswir (2006) pandangan tersebut lahir jauh sebelum Indonesia

merdeka. Melalui artikel berjudul “Ekonomi Rakyat” (Daulat Rakyat, 20

November 1933), Bung Hatta mengekspresikan kegundahannya melihat kondisi

ekonomi rakyat Indonesia di bawah penindasan pemerintah kolonial.

Kegundahan atas kondisi itulah yang merupakan cikal bakal dari lahirnya konsep

ekonomi kerakyatan dengan koperasi sebagai wujud nyatanya (Amrullah, 2012).

Lebih jauh, pemikiran pentingnya perekonomian yang berpihak kepada

rakyat menjadi dasar bagi lahirnya Pasal 27 dan 33 Undang Undang Dasar

1945. Kedua pasal tersebut kemudian menjadi ilham dasar pertimbangan

dilahirkannya UU Perkoperasian No. 25/1992 yang kemudian diubah dengan UU

No. 17/2012. Sampai di sini, tampak jelas adanya keterkaitan erat antara

ekonomi kerakyatan dengan koperasi. Pendapat ini didukung oleh Baswir (2009)

yang menegaskan bahwa Pasal 33 UUD 1945 menunjukkan koperasi sebagai

bagian integral dari sistem ekonomi kerakyatan.

Sesuai dengan amanat konstitusi tersebut maka tidak dapat ditawar lagi,

bangsa ini tetap berharap besar terhadap keberadaan koperasi (Parlindungan,

2012). Sayangnya sebagian besar anak bangsa cenderung menganggap

ekonomi koperasi ketinggalan zaman. Argumentasi dan acuan kita selalu teori

ekonomi barat yang tidak cocok untuk Indonesia (Mubyarto, 1979).

Fakta yang ada saat ini justru memperlihatkan bahwa koperasi yang

digadang-gadang sebagai sokoguru perekonomian Indonesia justru masih

tenggelam dalam paradigma lama bahwa koperasi merupakan usaha kecil

marjinal dan terpinggirkan. Kondisi ini pun didukung oleh berbagai kenyataan

negatif, kajian makalah dan hasil penelitian tetang perkoperasian yang sering

menunjukkan betapa peliknya masalah koperasi, runyamnya pembangunan

(9)

Koperasi dihadapkan pada dua masalah pokok yaitu: 1) Masalah internal

koperasi antara lain: kurangnya pemahaman anggota dan pengurus akan

kewajibannya, kurang cakapnya pengurus dalam mengelola koperasi, pengurus

kadang-kadang tidak jujur, kurangnya kerja sama antara pengurus, pengawas

dan anggotanya dan sulitnya koperasi berkembang karena modal terbatas.

Dalam pelaksanaannya mengalami disorientasi, bukan kesejahteraan anggota

yang menjadi tujuan tetapi keuntungan pribadi. Selain itu, koperasi-koperasi

belum bisa menjadi satu kesatuan untuk mencapai tujuan bersama, masih

berdiri dengan kepentingan masing-masing. 2) Masalah eksternal koperasi

antara lain iklim usaha yang mendukung pertumbuhan koperasi belum selaras

dengan kehendak anggota koperasi dan tekanan arus globalisasi (Spanji, 2011;

Syahrizal, 2012).

Solusi Masalah

Jumlah keseluruhan koperasi di Indonesia menurut Kementerian Koperasi

dan UKM (2013) mencapai 192.443 koperasi. Di Indonesia menurut

Kementerian Koperasi dan UKM (2004) 27,5% keluarga yang mewakili sekitar 80

juta orang adalah anggota koperasi. Berdasarkan data tersebut kita dapat

mengatakan bahwa potensi perkoperasian di Indonesia sangatlah besar. Oleh

karena itu, seyogyanya semua pihak harus selalu menggemakan kebangkitan

koperasi, mencari solusi dan jangan membiarkan koperasi itu mati satu persatu.

Revitalisasi dan pembangunan koperasi harus menjadi bagian integral

dari paket pembangunan demokrasi bidang ekonomi dan dalam usaha besar

bangsa kita mengatasi kemiskinan. Koperasi sebagai badan usaha yang

mengembangkan potensi masyarakat merupakan bentuk konkrit dari sistem

(10)

lembaga ekspor, insentif investasi dan kebijakan proteksi pada sektor industri

besar, maka semangat serupa itu seharusnya juga dilakukan untuk

merekontruksi pembangunan koperasi.

Menurut Parlindungan (2012) peran pemerintah terhadap kemajuan

koperasi dalam mengikutsertakan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi masih

sangat diperlukan. Peran pemerintah terhadap eksistensi koperasi diharapkan

konsen pada pengembangan potensi sumberdaya ekonomi lokal dalam

mendukung ketahanan ekonomi nasional. Pemberdayaan koperasi seyogyanya

di lingkup makro maupun mikro dengan cara memfasilitasi pengembangan

koperasi, baik permodalan, pemasaran, sampai pada peningkatan SDM oleh

pemerintah. Pemerintah juga perlu memperhatikan aspek prasarana, pelayanan,

pendidikan, dan penyuluhan koperasi. Jika ini dilakukan maka lambat laun akan

tercipta koperasi yang mandiri dan memiliki prosfektif peningkatan

perekonomian. Pemerintah perlu pula mendorong peningkatan volume produk

ekspor yang dihasilkan koperasi, meningkatkan daya saing dan nilai tambah

produk, serta menumbuhkan koperasi yang mengani produk ekspor sektor riil

Menurut Ishaq (2012) optimalisasi pemberdayaan koperasi seharusnya

dikelompokkan pada lima aspek, yaitu: (1). Aspek kualitas sumber daya

manusia, karena di situ semua berawal. (2). Aspek peningkatan aksesibilitas

modal, karena dari modal mereka secara komersial mampu menerjemahkan

ide-ide kreatif. (3). Aspek mekanisasi dan inovasi teknologi, karena dari situ kualitas

produksi dapat terjaga secara konsisten. (4). Pematenan hak cipta dan merek,

karena melalui keduanya koperasi dapat go international. (5). Aspek

kelembagaan dengan meningkatkan legalitas badan koperasi melalui kerjasama

dengan berbagai lembaga sehingga memungkinkan koperasi untuk membangun

(11)

Selain upaya di atas, ada baiknya apa yang digagas oleh UPT Diklat

Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Provinsi Bali dengan membentuk

Forum Manager Koperasi Kompeten (FMKK) pada tahun 2011 perlu ditiru. Hal

ini penting mengingat secara umum kualitas koperasi masih rendah baik dalam

bidang pengelolaan usaha, manajemen, kewirausahaan serta penyajian laporan

keuangan. Penting sekali memiliki SDM pengelola koperasi yang memiliki

sertifikasi kompetensi. Keberadaan FMKK sangat diharapkan sebagai wadah

informasi dan komunikasi bagi para pengurus–Manager Koperasi Kompeten

dengan tujuan meningkatkan profesionalisme para pengurus -manager dan

menciptakan wirausahawan koperasi yang handal dan berdaya saing tinggi.

Selanjutnya ada baiknya ide Kartasasmita (dalam Ichsan, 2012) perlu

direalisasi guna mendukung tumbuhnya koperasi sebagai bentuk kongkret

demokrasi ekonomi. Beberapa hal harus dilakukan dalam format pembangunan

ekonomi, antara lain: (1) Penghapusan praktik-praktik monopoli dan oligopoli

yang merugikan masyarakat. Sampai saat ini monopoli dan oligopoli belum

ditangani dengan baik, sehingga iklim usaha belum mendukung pembangunan

perekonomian yang tangguh. (2) Upaya untuk membuat struktur ekonomi lebih

seimbang dengan jumlah pengusaha menengah yang tangguh dan banyak

jumlahnya. (3) Pemberdayaan ekonomi lemah khususnya koperasi. Termasuk

dalam hal ini adalah upaya untuk meningkatkan hubungan kemitraan saling

menguntungkan antar berbagai skala usaha. (4) Peran pemerintah seyogyanya

diarahkan pada upaya pembinaan lembaga pencetak kader SDM koperasi,

bukan praktik usaha koperasi. Hal terakhir ini akan lebih banyak menciptakan

ketergantungan permanen, sedangkan yang pertama akan menjamin

(12)

Kesimpulan/Penutup

Meskipun kenyataan terciptanya koperasi yang ideal masih jauh dari

cita-cita, namun semangat untuk menjadikan koperasi sebagai tuan rumah di negeri

sendiri tentu tidak boleh padam. Berhubungan dengan konsep pembangunan

ekonomi Indonesia dan tuntutan UUD 1945, koperasi masih dan akan selalu

dipandang sebagai salah satu elemen ekonomi yang penting dan strategis.

Agar mampu mengemban amanah tersebut maka sudah seharusnya

dunia perkoperasian di Indonesia yang dimotori oleh pemerintah dan segenap

stakeholder perkoperasian berbenah diri. Koperasi harus mampu membangun

kekuatan baru, memperbaiki kelemahan dan tetap menjadi badan usaha yang

mempunyai tujuan memajukan kesejahteraan masyarakat (mereduksi

kemiskinan dan pengangguran). Beberapa solusi yang disampaikan di atas

seharusnya perlu menjadi pertimbangan dan diimplementasikan.

Daftar Rujukan

Amrullah, M.A. 2012. Ekonomi Kerakyatan dalam Tatanan Ekonomi Indonesia:

Peran Koperasi & Usaha Mikro, Kecil, Menengah. (Online).

(http://auliaamrullah.wordpress.com, diakses tanggal 20 April 2013).

Badan Pusat Statistik. 2012. Berita Resmi Statistik. No. 06/01/Th.XV Januari 2012.

Baswir, R. 2006. Ekonomi Kerakyatan. Makalah Diskusi Bulanan Pusat Studi

Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 18 Mei 2006.

Baswir, R. 2009. Ekonomi Kerakyatan vs Neoliberalisms. Jakarta: SPI.

Giersch, H. 1968. Politik Ekonomi, diterjemahkan oleh Samik Ibrahim dan

Nadirsjah Tamin, Jakarta: Kedutaan Besar Jerman.

Gunawan, I. 2006. Ideologi Koperasi Menatap Masa Depan: Pemberdayaan

Koperasi Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Rakyat. Yogyakarta:

Universitas Sanata Dharma & Pustaka Widyatama.

Ichsan, P.A. 2012. Review Artikel: Mewujudkan Demokrasi Ekonomi dengan

(13)

Ishaq, A.A. 2012. Upaya Mewujudkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Potensi

Lokal Kabupaten Tasikmalaya. Makalah Seminar Ekonomi Kerakyatan

Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama Kabupaten Tasikmalaya 17 Desember 2012.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. 2013. Gerakan

Koperasi: 55.516 Koperasi Naik Peringkat. Bisnis Indonesia, 16 Januari 2013.

Mahbub, H. 2009. Jumlah Pengangguran di Indonesia 9,43 Juta Orang.

(Online).(http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2009/01/05/brk,200901 05-153874,id.html. Diakses 21 April 2013).

Mubyarto. 1979. Gagasan dan Metode Berpikir Tokoh-tokoh Besar Ekonomi dan

Penerapannya Bagi Kemajuan Kemanusiaan. Pidato Pengukuhan Guru

Besar Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta, 19 Maret 1979.

Nugroho, Y. 1997. Pembangunan Ekonomi bagi Rakyat. Wacana 8 (1997).

Parlindungan. 2012. Bangsa Ini Tetap Butuh Koperasi. Riau Bisnis Edisi 5

September 2012.

Sasono, A. 2010. Kedaulatan Nasional untuk Masa Depan Ekonomi Indonesia.

Makalah Kuliah Umum FAI UMY, Sabtu 06 Februari 2010.

Spanji, W. 2011. Kelebihan dan Kelemahan Koperasi. Ebook. Jakarta:m

Gunadarma.

Suryohadiprojo, S. 2011. Kesenjangan adalah Kerawanan. Kompas Edisi Sabtu

8 Januari 2011.

Syahrizal, A. 2012. Mengenal Esensi Gerakan Koperasi. Makalah diskusi

tentang “Esensi Gerakan Koperasi” yang diselenggarakan Gerakan Cinta Koperasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Selasa, 9 Oktober 2012.

(14)

BIODATA SINGKAT

Nama : Husamah, S.Pd.

TTL : Sumenep, 18 Oktober 1985

Jenis Kelamin : Laki-laki

Alamat : Perum Ikip Tegalgondo Asri Blok 1C No. 7 Tegalgondo

Karangploso Kabupaten Malang 65152

Handpone : 081216183817

Referensi

Dokumen terkait

Dua ancaman serius yang muncul akibat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, yakni: faktor ekonomi (keterbatasan eksplorasi yang berakibat pada.. suplai, harga; dan

Oleh karena itu, penulis membahas permasalahan berkaitan dengan dampak keterkaitan yang massif status sosial dan tingkat ekonomi terhadap keberhasilan prestasi

Sedangkan, dampak ekonomi yang ditimbulkan setelah dilakukannya pengembangan objek wisata Ndayung Rafting adalah meningkatkanya kesempatan bekerja bagi masyarakat,

Dampak yang timbul pada masa pra konstruksi biasanya tidak terlalu besar, namun tetap harus diperhatikan, dampak tersebut biasanya timbul akibat adanya dampak sosial

Dampak ekonomi dari masuknya sekitar 15.000 staf asing yang erat kaitannya dengan perekonomian (khususnya mengingat daya beli mereka yang tinggi dibandingkan penduduk setempat),

Potensi Kerugian Bencana Akibat Ukuran Kerugian Berwujud Tidak Berwujud Kematian Jumlah orang Kerugian individu yang aktif secara ekonomi Dampak sosial dan psikologis pada

143 | Jurnal Pendidikan Ekonomi, Vol.15 No.2, 2022, Hal 135-143 Pelaksanaan kegiatan evaluasi ini dilakukan secara lisan, sehingga dosen bisa mengetahui dan melakukan konfirmasi secara

Berdasarkan data yang di dapatkan dan hasil pengamatan pada laporan ekonomi dunia diketahui bahwa tahun 2009 penanaman modal asing di Indonesia mengalami penurunan akibat dampak dari