TUGAS ANALISIS RISIKO LINGKUNGAN
POLUTAN REMAZOL BLACK-B SEBAGAI PEWARNA
INDUSTRI BATIK
Diajukan sebagai Tugas Pengganti Ujian Tengah Semester (UTS)
Oleh:
1 Suci Varista Sury
13513100
2 Indah Suci Ramadhani
13513158
3 Rani Soraya
13513159
JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI... i
DAFTAR GAMBAR ... ii
DAFTAR TABEL ... iii
BAB I KARAKTERISTIK POLUTAN ...1
1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Karakteristik Remazol Black-B ...2
1.3 Transportasi dan Transformasi Remazol Black-B di Alam ...3
BAB II EFEK POLUTAN TERHADAP LINGKUNGAN ...6
2.1 Efek Remazol Black B terhadap Kesehatan Manusia ...6
2.2 Populasi yang Rentan Terhadap Remazol Black-B ...6
BAB III BIOAKUMULASI DAN BIOMAGNIFIKASI POLUTAN ...8
BAB IV BAKU MUTU POLUTAN DI INDONESIA DAN NEGARA LAIN ...10
4.1 Baku Mutu Remazol Black-B di Indonesia ...10
4.2 Baku Mutu Remazol Black-B di Negara Lain ...10
BAB V ACCEPTABLE DAILY INTAKE (ADI) DAN EFFECTIVE DAILY INTAKE (EDI) ...13
1
BAB I
KARAKTERISTIK POLUTAN
1.1Latar Belakang
Industri batik merupakan salah satu bidang pengembangan industri dalam negeri yang telah cukup berkembang. Terlepas dari peranannya sebagai komoditi ekspor yang diandalkan, industri ini telah menimbulkan masalah yang serius bagi lingkungan terkait dengan penggunaan zat warna dalam produksi dan turut terbuang bersama air limbah sisa proses. Industri batik merupakan industri asli milik masyarakat Indonesia yang kebanyakan masih merupakan industri rumahan dengan memiliki modal kecil sehingga pemilik industri rumahan kebanyakan tidak sanggup jika harus membuat pengolahan limbah batik yang memadai untuk mengolah limbah zat warna yang dihasilkan. Pada beberapa daerah pusat produksi batik telah diupayakan adanya pengolahan limbah yang dihasilkan secara terpadu untuk mengatasi dan mencegah perairan yang berwarna dan paramater lingkungan yang lebih baik. Namun jumlah keluaran limbah jauh lebih besar dibanding kapasitas pengolahan, sehingga masalah limbah berwarna masih menjadi masalah yang perlu penanganan lanjut. (Widodo, 2009). Kegiatan pewarnaan batik dapat dilihat pada Gambar 1 di bawah ini:
Gambar 1 Proses Pewarnaan Batik Tulis
(Sumber: http://sentrabatiktulisyogyakarta.com/)
2 hitam dan putih. Oleh karena hal tersebut, mempelajari karakteristik remazol yang dianggap dapat menimbulkan masalah serius bagi lingkungan menjadi pilihan menarik karena di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri cukup banyak industri batik sehingga dapat diidentifikasi risiko/bahaya sesungguhnya yang dihasilkan oleh zat warna remazol tersebut.
1.2Karakteristik Remazol Black-B
Remazol black B merupakan zat warna reaktif yang mengandung gugus kromofor azo yang banyak digunakan sebagai pewarna hitam pada tekstil. Remazol black B memiliki rumus molekul C26H21N5Na4O19S6 dan berat molekul 991,8 g/mol. Struktur molekul remazol black B sendiri dapat dilihat pada Gambar 2 di bawah ini:
Gambar 2 Struktur Molekul Remazol Black-B (C26H21N5Na4O19S6) (Sumber: https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/9570329)
3 penyakit kulit hingga kanker kulit. Oleh karena itu, limbah zat warna tekstil perlu diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan (Sulistya, 2013).
Zat warna remazol Black B disintesis untuk tidak mudah rusak oleh perlakuan kimia maupun perlakuan fotolitik. Untuk itu, jika limbah ini dibuang di perairan maka dapat mengganggu estetika, meracuni biota air serta dapat menimbulkan bau busuk di dalam badan air tersebut. Hal ini dikarenakan berkurangnya oksigen yang dihasilkan selama proses fotosintesis, akibat sinar matahari yang seharusnya digunakan oleh tanaman air terhalang oleh zat warna tersebut. Di samping itu perombakan zat warna azo secara aerobik pada dasar perairan menghasilkan senyawa amina aromatik yang kemungkinan lebih toksik dibandingkan dengan zat warna azo itu sendiri. Berbagai macam metode alternatif telah dikembangkan dalam rangka pengolahan limbah zat warna remazol black B antara lain: dekolorisasi dengan jamur dan tiga isolat jamur, biodegradasi dengan mikroba Bacillus sp dan bakteri mono culture, dan biodegradasi Remazol Black B dengan jamur kotoran sapi (Ayuni, 2015).
1.3Transportasi dan Transformasi Remazol Black-B di Alam
4
Gambar 3 Skema Proses Pembuatan Batik
(Sumber: modifikasi dari Anaerobic Azo Dye Reduction)
Secara analisis transportasi zat warna remazol black B di lingkungan yaitu melalui efluen dari proses pewarnaan industri batik yang akan masuk ke badan air. Berdasarkan karakteristik remazol black B yang tidak mudah rusak oleh perlakuan kimia maupun perlakuan fotolitik maka jika limbah ini dibuang di perairan dapat mengganggu estetika, meracuni biota air serta dapat menimbulkan bau busuk di dalam badan air tersebut. Hal ini dikarenakan berkurangnya oksigen yang dihasilkan selama proses fotosintesis, akibat sinar matahari yang seharusnya digunakan oleh tanaman air terhalang oleh zat warna tersebut (Ayuni, 2015).
Sedangkan proses transformasi remazol black-B dapat terjadi karena aktivitas aerobik di dalam badan air. Hal ini sesuai dengan penelitian Ayuni (2015) bahwa perombakan zat warna azo/remazol dapat terjadi secara aerobik pada dasar perairan yang menghasilkan senyawa amina aromatik yang kemungkinan lebih toksik dibandingkan dengan zat warna azo itu sendiri.
Persiapan kain putih
Pengkajian dan penghilangan
kanji
Pewarnaan (dyeing)
Pencetakan (printing) Pencelupan
Pengeringan
5 Proses transportasi remazol black-B dapat dilihat pada Gambar 4 di bawah ini:
Gambar 4 Skema Transportasi Remazol Black B ke Lingkungan
(Sumber: modifikasi dari Anaerobic Azo Dye Reduction)
Berdasarkan hal tersebut jika limbah remazol masuk ke lingkungan maka manusia, biota air dan kondisi lingkungan sekitar dapat terpapar oleh bahaya dari zat warna tersebut. Ketika remazol black b dibuang ke badan air sedangkan badan air tersebut digunakan oleh manusia untuk konsumsi sehari-hari seperti mandi, masak air dan hal berhubungan dengan rumah tangga lainnya maka akan dapat menimbulkan akumulasi zat warna remazol black tersebut di dalam tubuh manusia. Selain itu paparan pada badan air yang paling besar akan menimbulkan dampak bagi ekosistem yang ada di dalamnya (Ayuni, 2015).
Manusia
Biota Air (Tumbuhan dan Ikan)
Dibuang Badan Air Industri Batik (Proses
6
BAB II
EFEK POLUTAN TERHADAP LINGKUNGAN
Berdasarkan pembahasan proses transportasi remazol black-B ke lingkungan hingga ke pajanan nya yang telah dijelaskan pada Bab 3 Gambar 4, dapat dianalisis bahwa efek polutan tersebut akan mengenai 2 pajanan yaitu biota air dan manusia.
Sedangkan efek remazol terhadap lingkungan berdasarkan karakteristik remazol black B yang tidak mudah rusak oleh perlakuan kimia maupun perlakuan fotolitik maka jika limbah ini dibuang di perairan dapat mengganggu estetika, meracuni biota air serta dapat menimbulkan bau busuk di dalam badan air tersebut. Hal ini dikarenakan berkurangnya oksigen yang dihasilkan selama proses fotosintesis, akibat sinar matahari yang seharusnya digunakan oleh tanaman air terhalang oleh zat warna tersebut (Ayuni, 2015).
2.1 Efek Remazol Black B terhadap Kesehatan Manusia
Remazol black-B yang memiliki sifat mudah larut dalam air dan tidak terdegradasi pada kondisi aerob biasa, mempunyai ketahanan terhadap pengaruh lingkungan seperti efek pH, suhu dan mikroba. Oleh karena itu, limbah dari zat warna remazol sangat berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Sementara itu, lingkungan mempunyai kemampuan terbatas dalam mendegradasi limbah zat warna. Akibatnya, air menjadi tercemar (berwarna) dengan kualitas air semakin memburuk dan tidak layak digunakan. Selain itu, air limbah zat warna juga dapat mengakibatkan beberapa penyakit kulit hingga kanker kulit. Kanker kulit yang terjadi terhadap pajanan akibat proses adsorpsi bahan remazol black-B kedalam kulit manusia yang mengalami akumulasi menahun (Sulistya, 2013).
2.2 Populasi yang Rentan Terhadap Remazol Black-B
8
BAB III
BIOAKUMULASI DAN BIOMAGNIFIKASI POLUTAN
Remazol Black B merupakan senyawa reaktif yang bersifat karsinogenik dan toksik. Zat warna reaktif azo banyak digunakan dalam industri pencelupan tekstil karena zat warna ini dapat terikat kuat pada kain dan tidak mudah luntur. Zat warna reaktif azo disintesis untuk tidak mudah rusak oleh perlakuan kimia mapun perlakuan potolitik. Untuk itu, bila terbuang ke perairan dapat bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama dan mengalami akumulasi sampai pada tingkat konsentrasi tertentu dapat menimbulkan dampak negatif terhadap daya dukung lingkungan. Sedangkan untuk biomagnifikasi tidak terjadi pada polutan ini (Nugroho, 2014).
9
Gambar 5 Pengaruh Bioakumulasi Konsentrasi Zat Warna Awal Remazol Black B
Pada Pertumbuhan S. Cerevisiae
10
BAB IV
BAKU MUTU POLUTAN DI INDONESIA DAN NEGARA LAIN
4.1 Baku Mutu Remazol Black-B di Indonesia
Standar polutan remazol black b yang boleh masuk ke lingkungan didalam KepMen-LH No 5 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah, tidak dijelaskan secara spesifik jumlah dan konsentrasi remazol black b yang diperbolehkan masuk ke lingkungan. Dalam peraturan tersebut untuk industri tekstil, polutan yang diberi standar hanyalah polutan seperti tabel berikut:
Tabel 4.1 Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Indusri Tekstil
Parameter Kadar Paling
Tinggi 100 m3/ton produk tekstil
(Sumber: Permen-LH no 5 tahun 2014)
Remazol black b yang boleh dibuang ke lingkungan berdasarkan standar dari debit limbah yang paling tinggi yang diperbolehkan pada peraturan diatas. Hal ini dikarenakan, remazol black b yang tercampur akan berkolerasi dengan debit limbah yang dihasilkan.
4.2 Baku Mutu Remazol Black-B di Negara Lain
11
Tabel 4.2 Standar polutan remazol di Amerika dan Canada
12
(Sumber: MSDS Reactive Black 5)
Menurut penelitian Abidin (2012) Pada studi produk remazol black B yang bernama Hoechst, melakukan studi inhalasi menengah durasi pada tikus, yang disebut sebagai Hoechst (1984c) dalam profil yang bisa digunakan untuk menurunkan perantara-durasi inhalasi BMR untuk endosulfan. Resensi menyatakan bahwa konsentrasi 0,002 mg/L (2 mg / m3) endosulfan berdasarkan studi LOAEL dengan indikator kekurusan, kulit pucat, squatting position and high-legged position, penurunan bobot badan dan konsumsi pangan, peningkatan konsumsi air, dan perubahan parameter klinis. Sedangkan berdasarkan studi NOAEL standarnya adalah 0,001 mg/L (1 mg / m3).
13
BAB V
ACCEPTABLE DAILY INTAKE
(ADI) DAN
EFFECTIVE DAILY INTA
KE
(EDI)
ADI (Acceptable Daily Intake) adalah angka penduga asupan harian bahan kimia yang dapat diterima dalam makanan sepanjang hidup manusia tanpa menimbulkan resiko kesehatan yang bermakna (Permentan Nomor 24 tahun 2011). Sedangkan EDI (Estimate Daily Intake) adalah jumlah rata-rata zat/bahan kimia yang dikonsumsi tubuh pada setiap harinya (International Food Standards,2014).
Berdasarkan Departemen Kesehatan, TMDI dihitung dengan rumus seperti di bawah ini:
*TMDI = jumlah maksimum suatu zat 0dalam milligram per kilogram berat badan yang dapat dikonsumsi dalam sehari tanpa menimbulkan efek merugikan terhadap kesehatan.
Untuk polutan remazol black b tidak dapat ditentukan jumlah maksimal asupan harian bahan kimia yang dapat diterima (ADI) dan jumlah rata-rata zat/bahan kimia yang dikonsumsi tubuh pada setiap harinya (EDI) karena tidak ditemukannya bahan kimia remazol yang terdapat dimakanan. Untuk remazol black b parameter yang ditemukan hanya pada perairan.
�� � = � � − � � �� � � � � � ��� � �
14
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, H. (2012). Desposition of Peer Review Comments for Endosulfan. United State: SRC Inc Chemical, Biological, and Environmental Center.Aksu, Z. (2003). Reactive Dye Bioaccumulation by Saccharomyces Cerevisiae. Process Biochemistry, Volume 38 No. 1437-1444.
Ayuni, N. P. (2015). Kajian Transpor Zat Warna Azo Jenis Remazol Black B
Material Safety Data Sheet Reactive Black 5
Nugroho, D., Susatyo, E. B., & Prasetya, A. (2014). Sintetis Membran Kitosan-PVA Terikat Silang untuk Menurunkan Kadar Zat Warna Remazol Black.
Indonesian Journal of Chemical Science, Vol. III No. 1.
Purnawan, C., Patiha, & A.A, Q. (2011). Fotodegradasi Zat Warna Remazol Black-B Fg dengan Fotokatalis Komposit TiO2/SiO2. Jurnal Ekosains, Vol. III No. 1. Permentan No 24 Tahun 2011
Sastrawidana, D. K., Lay, B. W., Fauzi, A. M., & Santosa, D. A. (2010). Pengolahan Limbah Tekstil Sistem Kombinasi Anaerobik-Aaerobik Menggunakan Biofilm Bakteri Konsorsium dari Lumpur Limbah Tekstil. Ecotrhopic, Volume 2, 55-60.
Sulistya, R. (2013). Elektrodekolorisasi Zat Warna Remazol Violet 5r Menggunakan Elektroda Grafit. Yogyakarta: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Widodo, D. S. (2009). Elektroremediasi Perairan Tercemar: Lektrodekolorisasi
Larutan Remazol Black B Dengan Elektroda Timbal Dioksida/Karbon Dan Analisis Larutan Sisa Dekolorisasi. Jurnal Teknik Kimia Universitas Diponegoro, Volume 12 No 1.