BAURAN PENJUALAN PADA PERUSAHAAN RITEL BARANG
KEBUTUHAN SEHARI-HARI
Diajukan untuk memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Sistem Tersebar
Dosen : Bambang Irawan, M.T
Disusun Oleh :
MUCHAMAD ACHMAD NIM : 41101354
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA STMIK IKMI CIREBON
DAFTAR ISI
Hal
KATA PENGANTAR……… i
DAFTAR ISI……….. ii
BAB I PENDAHULUAN……….. 1
1.1 Latar Belakang………. 1
1.2 Identifikasi Masalah………. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA……… 3
2.1 Bauran Ritel……….. 3
2.1.1 Pengertian Ritel………. 3
2.1.2 Pengertian Bauran Ritel………. 3
2.1.3 Komponen Bauran Ritel……… 4
Faktor-faktor Bauran Eceran ( Retailing Mix )... 4
1. Lokasi ( Location )………. 4
2. Barang Dagangan ( Marchandise )……… 6
3. Harga (Price )……… 7
4. Promosi ( Promotion )……….. 9
5. Pelayanan ( Service )………. 9
6. Suasana Toko ( Atmosfhere )………. 10
3.1 Perusahaan……….. 13
4.2. Tujuan dan Kebijakan Penetapan Harga……… 26
4.3 Tipe dan metode penetapan harga……… 27
4.4. Model Penetapan Harga……….. 30
5. Suasana Toko (Store Atmosphere )……… 31
5.1.Exterior ……… 31
5.2.General interior ……….. 34
5.3.Store layout……….. 37
5.4.Interior point of purchase display ………... 40
eceran) merupakan kegiatan yang sangat penting dalam menyampaikan barang dari produsen ke konsumen.
Bangkitnya bisnis ritel, baik besar maupun ritel kecil sebagai arena berbelanja berupa pusat-pusat petokoan, supermarket, hypermarket, minimarket, departement store dan plaza, bermunculan di berbagai kota besar dan kota kecil. Hal tersebut tidak lepas dari tuntutan kebutuhan masyarakat yang ingin serba praktis, cepat dan menghemat waktu, dan nyaman, kondisi ini didorong oleh semakin maraknya berbagai bisnis baru yang membuka peluang timbulnya bisnis ritel baik peritel besar maupun peritel kecil.
Bisnis ritel di Indonesia makin hari dirasakan semakin ramai dan persaingan bisnisnya menunjukan perkembangan yang cukup pesat, namun tidak menjadi halangan bagi para pengusaha ritel untuk menambah jumlah outletnya diberbagai wilayah, apalagi setelah meningkatnya sejumlah supermarket/minimarket baru dari berbagai perusahaan ritel yang menyelenggarakan program-program tertentu yang diyakini mampu mengajak masyarakat untuk berbelanja di perusahaannya, sangat berpengaruh terhadap omzet penjualan dan pengadaan barang dari bisnis ritel yang selalu menunjukan kenaikan tajam.
Dengan semakin meningkatnya perkembangan bisnis ritel baik besar maupun kecil serta banyaknya jumlah supermarket/minimarket di berbagai wilayah menimbulkan persaingan yang kompetitif dalam bisnis ritel, dimana setiap supermarket/minimarket berusaha untuk memperoleh pangsa pasar seluas-luasnya, dan konsumen sebanyak-banyaknya.
cukup luas, tetapi dengan dukungan Yogya Group, Yomart diyakini akan dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan lainnya dalam bidang sejenis yang telah berdiri cukup lama dan mempunyai jaringan yang luas seperti Alfamart, Indomart dan lain-lain. Hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya cabang-cabang Yomart yang baru didirikan di daerah Jawa Barat.
Yomart Minimarket adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang bisnis eceran yang menjalankan berbagai jenis produk dalam satu atap (one stop shooping). Garis toko yang didirikan perusahaan ini adalah minimarket yang memiliki lini produk kebutuhan rumah tangga atau kebutuhan sehari-hari.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yanag telah diuraikan sebelumnya, maka penulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut :”Pelaksanaan Bauran Penjualan Pada Yomart Minimarket Cabang Samarang Garut”.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Bauran Ritel 2.1.1 Pengertian Ritel
Ritel merupakan merupakan salah satu rantai saluran distribusi yang memegang peranan yang penting dalam penyampaian barang dan jasa kepada konsumen akhir.Ritel meliputi semua kegiatan yang melibatkan penjualan barang atau jasa secara langsung pada konsumen akhir untuk penggunaan pribadi dan bukan bisnis.
Kotler ( 2003: 535 ) dalam buku Foster (2008:34) mendefinisikan sebagai berikut: “ritel meliputi semua kegiatan yang meliputi semua kegiatan yang melibatkan
Sedangkan menurut Berman dan Ervans(2002 : 3) dalam buku Foster (2008:34) pengertian ritel adalah: “ritel adalah tingkat terakhir dari proses distribusi, di dalamnya terdapat aktivitas bisnis dalam penjualan barang atau jasa kepada konsumen ”.
Dari berbagai pengertian diatas dapat dirumuskan bahwa ritel adalah segala aktivitas perdagangan barang atau jasa kepada konsumen akhir untuk digunakan sendiri, bukan untuk diperdagangkan lagi.
2.1.2 Pengertian Bauran Ritel
Pengertian bauran ritel menurut Masson, Mayer, F.Ezeel (1998 : 49) dalam buku Foster(2008:51) adalah sebagai berikut : “bauran ritel adalah semua variabel yang dapat digunakan sebagai strategi pemasaran untuk berkompetisi pada pasar yang dipilih”.
Sedangkan menurut Foster (2008:49) “Bauran ritel terdiri dari unsur-unsur strategis yang digunakan untuk mendorong pembeli melakukan transaksi usahanya dengan pedagang eceran tertentu”
Dari definisi Foster (2008:49) dijelaskan bahwa bauran ritel merupakan unsur-unsur strategis untuk mendorong minat konsumen.Sehingga bauran ritel merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku pembeli dan keputusan pembelian konsumen.
Dunne, Lusch dan Griffith (2002:53) dalam buku Foster (2008:110) menyatakan ada enam komponen-komponen bauran ritel antara lain merchandise, harga,
periklanan dan promosi, pelayanan konsumen dan penjualan, serta suasana toko dan desain toko.
2.1.3 Komponen Bauran Ritel
penjualan ritel terdiri dari unsur-unsur strategis yang digunakan untuk mendorong pembeli melakukan transasksi usahanya dengan pedagang ritel tertentu.
Sementra itu Kotler dan Armstrong (2004:442) dalam buku Foster (2008:110) merangkum demikian banyaknya komponen bauran ritel, dalam hal ini ada sepuluh, enam komponen besar, yaitu bauran produk, layanan, suasana toko, harga, promosi, dan lokasi.
Faktor-faktor Bauran Eceran ( Retailing Mix )
Dari definisi yang telah dikemukakan oleh Henri Maruf, enam variable bauran eceran diantaranya meliputi :
1. Lokasi ( Location )
Lokasi adalah faktor yang sangat penting dalam bauran pemasaran ritel. Pada lokasi yang tepat, sebuah gerai atau toko akan lebih sukses dibanding toko lainya yang berlokasi kurang strategis, meskipun keduanya menjual produk yang sama.
Sebelum sebuah toko atau tempat berbelanja didirikan, langkah pertama adalah mempelajari suatu area agar investasi yang ditanamkan dapat menguntungkan. Menurut Hendri Ma’ruf (2005 : 124), ada beberapa faktor yang harus
dipertimbangkan dalam mengevaluasi area perdagangan ritel, diantaranya sebagai berikut :
1. Besar populasi dan karakteristiknya
Jumlah penduduk dan kepadatan suatu wilayah meliputi factor dalam
mempertimbangkan suatu area perdagangan ritel. Jumlah peritel yang sama di dua wilayah tetapi kepadatan penduduknya berbeda akan menyebabkan omzet yang rendah pada peritel di wilayah yang kurang padat penduduknya.
2. Kedekatan dengan pemasok
Pemasok mempunyai pengaruh pada peritel dalam hal kecepatan penyediaan
3. Basis ekonomi
Basis ekonomi yang dimaksud di sini adalah indistri daerah setempat, potensi
pertumbuhan, fluktuasi karena factor musiman, dan fasilitas seuangan. Industry yang bervariasi akan mempunyai pengaruh yang yang berbeda dibandingkan dengan indistri yang terkonsentrasi ( pada suatu sector ).
4. Ketersediaan tenaga kerja
Tenaga kerja yang diperhatikan adalah pada suatu tingkat, yaitu dari tingkat
administratif dan lapangan hingga management tranee dan menjerial. Management trainee adalah pada lulusan perguruan tinggi yang memulai karier di perusahaan ritel pada tingkat staf, dan diproyeksikan untuk menjadi tenaga pemimpin. Tenaga
manjarial adalah para assistant manager atau manager bahkan general manager yang siap direktur dan siap kerja ( tidak seperti management trainee yang harus dilatih lebih dulu).
5. Situasi persaingan
Pertumbuhan luas toko yang sejalan dengan pertumbuhan permintaan pasar ( yaitu besar belanja total penduduk setempat ) berarti semua perusahaan ritel setempat tumbuh secara stabil atau secara tetap. Jika banyak pihak membuka gerai ritel dengan asumsi merebut pasar sebesar- besarnya, maka kemungkinan yang terjadi adalah kejenuhan pasar, yaitu terlalu banyak paritel dibandingkan total belanja konsumen. 6. Fasilitas promosi
Adanya media massa seperti surat kabar dan radio akan memfasilitasi kegiatan promosi peritel. Juga kesiapan sarana pendukung seperti biro iklan, production house, dan pembuat barang souvenir yang memperlancar kegiatan promosi perlu mendapat perhatian.
7. Kesediaan lokasi toko
Hukum dan peraturan perlu diperhatikan khususnya jika terdapat Perda ( Peraturan Daerah ) yang tidak terdapat di daerah lain.
2. Barang Dagangan ( Marchandise )
Merchandise merupakan produk- produk yang dijual peritel dalam gerainya, sedangkan merchandise adalah kegiatan pengadaan agarang- barang yang sesuai dengan bisnis yang dijalani toko ( produk berbasis makanan, pakaian, barang kebutuhan rumah dan produk umum lainnya ) untuk disediakan dalam toko pada jumlah, waktu dan harga yang sesuai untuk mencapai sasaran toko atau perusahaan ritel.
Para pelanggan selalu berharap untuk memenuhi apa yang dibutuhkan dan
diinginkannya disetiap toko, kebutuhan dan keinginan pelanggan sangat beragam dan toko diharapkan dapat memenuhinya. Fungsi pengelolaan barang dagangan
( merchandise ) merupakan fungsi yang harus diberi prioritas, bagaimanapun efektif dan efisiennya bagian lain, bila urusan barang dagangan salah, bila urusan barang dagangan salah, maka hampir dapat dipastikan sukses akan sulit diraih. Pada toko- toko berupa minimarkt yang tergabung dalam satu kelompok besar seperti Alfamart, disebut juga sebagai chainstore karena satu toko dengan lainnya terkait dalam suatu ikatan kelompok, pembelian merchandise di pusatkan pada induk yang
mengendalikan kelompok. Masing- masing gerai atau toko tonggal menerima merchandise dan menjualnya.
3. Harga (Price )
Penetapan harga adalah yang paling krusial dan sulit dinatara unsure- unsur dalam bauran pemasaran ritel lainnya, dan harga merupakan satu-satunya unsur dalam pemasaran ritel yang akan mendatangkan laba bagi peritel. Sebuah toko dapat
menjadi terkenal karena harga jual yang ditetapkan cukup murah atau harga jual yang di tetapkan merupakan harga pasti. Berdasarkan hal itu, pengecer harus dapat
kelancaran penjualan barang akan lebih terjamin. Semua pengecer senantiasa berkeinginan menetapkan harga yang tinggi dengan volume penjualan yang tinggi pula, namun kedua hal ini sulit di terapkan secara bersamaan.
Penetapan harga berkaitan dengan aspek- aspek laba, pelanggan, pasar dan persaingan, pengadaan barang dagangan, citra kualitas merek yang berbeda dan hokum peraturan, yang akan di uraikan sebagai berikut :
1. Harga berkaitan dengan maksimalisasi laba
Setiap peritel atau perusahaan dagangan eceran, sepertihalnya semua perusahaan, ingin memaksimalisasikan laba. Laba dapat dicapai dalam jangka pendek dan jangka panjang.
2. Harga berkaitan dengan pelanggan
Memaksimalisasikan laba adalah salah satu sisi dari selembar mata uang, sisi lainnya adalah kepuasan konsumen. Tujuan perusahaan adalah kepuasan pelanggan melalui operasional perusahaan yang akan member laba yang patut.
3. Harga berkaitan dengan pasar dan perdagangan
Factor pasar atu persaingan merupakan factor penting yang amat mempengaruhi penetapan harga.Untuk suatu peritel yang hendak memperluas pembeli dalam suatu wilayah atau dalam suatu segmen disebul sebagai penetrasi pasar, penetapan harga rendah atau harga bersaing dilakukan.
4. Harga berkaitan dengan pengadaan barang dagangan
Barang persediaan yang masih banyak dan agak lambat penjualannya padahal tanggal kadaluarsanya tinggal beberpa bulan lagi, mengharuskan tindakan penjualan sesegera mungkin. Itu hanya bisa dilakukan dengan harga diskon atau menjual barang dengan beberapa paket.
5. Harga berkaitan dengan citra kualitas
6. Harga berkaitan dengan merk yang berbeda
Produk dari merek-merk yang berbeda dapat diberi label harga yang berbeda menurut :
a. Merek terunggul yang diberi label termahal
b. Merek pesaing atau merek sendiri dengan label harga sedang, dan c. Merek dengan harga terendah
7. Harga berkaitan dengan hukum dan peraturan
Saat ini dapat dikatakan masih sangat minim hukum dan peraturan yang mengatur penetapan harga barang dan jasa eceran. Ini berarti para peritel mempunyai ruang gerak yang cukup bebas dalam menetapkan harga. Namun patokan umim berlaku yaitu kepatutan berdasarkan etika bisnis khususnya dari sudut pandang konsumen yaitu value for money.
4. Promosi ( Promotion )
Komunikasi sebagai dasar promosi bertujuan mendorong target market untuk mau menjadi pembeli bahkan menjadi pelanggan setia. Esensi dari komunikasi pemasatan ini adalahbagaimana kita dapat menyampaikan apa yang kita tawarkan kepada konsumen dapat di terima dengan baik. Komunikasi pemasaran tidak hanya membuat pelanggan tertarik dan ingin membeli, namun komunikasi pemasaran juga bisa menciptakan citra tertentu yang kita sesuaikan dengan pasaran sasaran.
Menurut Kotler yang di kutip dari buku M. Taufik Amir ( 2005 : 85 )
menyatakan bahwa ada beberapa elemen penting dalam komunikasi pemasaran yaitu periklanan, promosi penjualan, penjualan tatap muka (personal selling), kehumasan (public relation) dan pemasaran langsung.
5. Pelayanan ( Service )
menyebabkan kepemilikan sesuatu, pelayanan dapat disertakan dalam produk yang berbentuk fisik.”
Aspek pelayanan semakin hari semakin nyata perannya, secara umum pelayanan tersebut meliputi bagai mana kecepatan melayani pelanggan sebelum berbelanja dan pada saat berbelanja.Dengan demikian usaha eceran harus mampu mencoba
sedemikian rupa agar pelayanan yang dirasakan pelanggan meningkat serta sesuai dengan kehendak pelanggan.
Unsure pelayangan adalah unsure yang memiliki peranan penting dalam persaingan non- harga dengan pengecer-pengecer lain. Unsure-unsur pelayanan menjadi nyata bagi perusahaan dalam bersaing dengan para pesaingnya karena unsure pelayanan sangat sulit ditiru oleh pesaing. Menurut Kotler (2002 : 446) yang di alih bahasakan oleh AB. Susanto membagi pelayanan menjadi dua bagian yaitu prlayanan primer dalam usaha eceran antara lain adalah pembayaran kredit, pengantaran, penanganan keluhan, penanganan parker, ruang istirahat termasuk toilet. Sedangkan yang termasuk pelayanan pendukung antara lain : pembungkusan, inpormasi lokasi barang, konsultasi dan informasi pembelian, tempat penitipan barang. Pelayanan adalah salah sato faktot pembeli nilai nilai tambah bagi peritel, atau pritel dapat memilih kombinasi ragam prodak dan tingkat pelayanan sebagai positioning.
6. Suasana Dalam Toko ( Atmosfer )
Suasana dalam gerai menggambarkan moment of truth, yaitu situasi langsung yang di rasakan konsumen pada saat berbelanja.Jika seting dari suasana itu optimal maka peritel (dengan gerai yang di kunjungi konsumen) akan dapat menyentuk emosi konsumen dan member pengalaman berbelanja. Desain toko yang baik akan menarik banyak konsumen untuk datang, desain toko merupakan strategi penting untuk menciptakan suasana yang akan membuat pelanggan merasa betah berada dalam suatu gerai atau toko. Desai toko, yaitu desain interior yang mencakup tata letak rak-rak barang, aksesoris toko, dan desain eksterior mencakup lay-out, pintu masuk, dan jalan masuk.
Menurut Berman dan Evans (2004;105) dalam buku Foster (2008:51) untuk bentuk toko yang berdasarkan Store Based Retail terdapat strategi bauran penjualan eceran terdiri dari lokasi departement store (store location) prosedur
pembelian/pelayanan (operating procedures), produk/barang yang ditawarkan (good offered), harga barang (pricing tactics), suasana departement store (store atmosphere), karyawan (custumer services), dan metode promosi (promotional methods).
Ketujuh hal inilah yang dijadikan acuan pembahasan aplikasi bauran pemasaran di PT. Yomart Cabang Samarang Garut dimana pembahasan adalah hasil wawancara dan kaitannya dengan teori bauran penjualan.
2.1.4 Tujuan Bauran Eceran
Dalam membangun suatu perusahaan atau bisnis ritel perlu adanya strategi- strategi dalam meningkatkan kualitas suatu bisnis ritel. Startegi yang digunakan yaitu salah satunya bauran eceran yang harus sesuai dengan bisnis yang digeluti sehingga membawa dampak positif terhadap perkembagan bisnis tersebut. Adapun tujuan dari bauran eceran tersebut adalah sebagai berikut :
1. Untuk mencapai target perusahaan
2. Untuk memperlancar distribusi barang kepada konsumen akhir.
3. Agar dapat membandingkan dengan peritel lainnya melalui strategi- strategi yang digunakan.
5. Untuk mempermudah konsumen mendapatkan barang kebutuhan sehari- hari. 2.1.5 Manfaat Bauran Eceran
Suatu bisnis eceran dapat berkembang dengan baik jika strategi- strategi yang digunakan telah diterapkan dengan baik pula. Selain tujuan dari bauran eceran adapun manfaat yang didapat perusahaan, diantaranya sebagai berikut :
1. Target perusahaan dapat tercapai.
2. Kegiatan perusahaan dapat terkoordinir dengan baik. 3. Membentuk citra baik perusahaan dimata konsumen. 4. Menambah omzet penjualan perusahaan.
5. Memberi masukan yang baik untuk perkembangan perusahaan.
BAB III PEMBAHASAN 3.1 Perusahaan
PT. YOMART RUKUN SELALU adalah perusahaan retail yang bergerak dibidang minimarket. Melalui usaha memberikan pelayanan yang terbaik dalam pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat, PT. YOMART berusaha menjadi perusahaan retail terbaik.
PT. YOMART RUKUN SELALU telah mendapatkan penghargaan “Exellence in Leadership”dan“Exellence in Number of Customer”dari Action International (tim coaching internasional yang berpusat di Australia).
3.2 Pembahasan
PT. Yomart Minimarket Samarang Garut merupakan salah satu cabang PT. Yomart Rukun Selalu yang melakukan kegiatan bauran penjualan sebagai salah satu cara untuk menarik minat konsumen untuk berbelanja
Dalam pembahasan ini penulis akan menguraikan bagaimana teori yang berkaitan dengan bauran penjualan dan pelaksanaan dilapangan yang dilaksanakan PT. Yomart Minimarket cabang Samarang Kabupaten Garut, sehingga mampu mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian.
Alat-alat bauran penjualan eceran yang dapat dikontrol oleh supermarket/minimarket Menurut Berman dan Evans (2004;105) dalam buku Foster (2008:51) untuk bentuk toko yang berdasarkan Store Based Retail terdapat strategi bauran penjualan eceran terdiri dari lokasi departement store (store location) prosedur pembelian/pelayanan (operating procedures), produk/barang yang ditawarkan (good offered), harga barang (pricing tactics), suasana departement store (store atmosphere), karyawan (custumer services), dan metode promosi (promotional methods).
1. Lokasi ( Location )
Lokasi adalah faktor yang sangat penting dalam bauran pemasaran ritel. Pada lokasi yang tepat, sebuah gerai atau toko akan lebih sukses dibanding toko lainya yang berlokasi kurang strategis, meskipun keduanya menjual produk yang sama.
Cara mencari lokasi untuk industri ritel dan faktor-faktor yg menjadi tolak ukur dari pemain ritel. Ada delapan faktor utama yg perlu pelajari dengan baik, yaitu : a. Population Characteristics
ritel kita, seperti industri jasa ataupun industri sosial faktor di daerah itu, seperti rumah sakit, sekolah dll.
Populasi karakter harus melihat dengan detail, baik dimulai dari segi manusianya, umurnya, latar belakang edukasi mereka, pekerjaan, ras, suku dan juga perkembangan pasar industri yang ada. Sering sekali survei hanya melihat dari data perkembangan jumlah penduduk atau kepadatan penduduknya, tapi bukan dari karakter populasi yang terjadi, ini jauh berbeda.
Perkembangan jumlah penduduk hanya perkembangan asumsi potensi jumlah customer saja tetapi populasi karakter kita melihat dari semua sudut pandang yang menjadikan sebuah karakter yg menjadi ukuran kekuatan potensi pasar yang ada. b. Buyer Behavior Characteristics
Hal lain yang sangat menjadikan sebuah potensi pasar dalam menganalisa pasar yang ada adalah langkah kita melihat dan mengenal kelakuan (behavior) karakter dari PEMBELI pasar tersebut.
Sebagai contoh, di salah satu daerah yg akan dibuka sebuah supermaket, kebiasaan dan karakteristik penduduk daerah tersebut dalam berbelanja adalah membawa anaknya, maka sudah jelas jika ingin membuka supermaket di sana, hal pertama yg menjadi acuan dari kebiasaan (behavior) pembeli/penduduk dengan berbelanja bersama anaknya adalah sebuah tempat di mana anak-anak mereka dapat bermain. Maka jika kita membuka supermarket tanpa memperhatikan kebiasaan ini jangan heran kalau pengunjungnya sedikit meskipun harga jual kita sudah menarik/murah karena supermarket kita tidak ada hal yang membuat kebiasaan karakter mereka terpenuhi.
Kelihatannya simpel, tetapi banyak pelaku ritel tidak menyelidiki kebiasaan karakter pembeli dengan baik, sehingga potensi pasar yang ada tidak tergarap dengan penuh. Data-data kebiasaan karakter pembeli ini tidak bisa dilihat hanya dari data perkembangan penduduk tetapi bisa digali dari tim Sales Promotion Girl (SPG) yang sudah ada di daerah pasar tersebut dan sudah tahu kebiasaan karakter pembeli disana. c. Household Income
keluarga di daerah tersebut tidak terdistribusi dengan baik, maka pasarnya tidak stabil, dan juga peta potensi pasar kita tidak imbang.
Sebuah daerah dengan penghasilan tinggi secara pendapatan keluarga, tetapi tidak terdistribusi dengan baik, arti kata patron yang terjadi tidak merata akan membuat sebuah fenomena belanja yang berbeda jika pendapatan rata-rata keluarga di daerah tersebut sebanding semua atau equal.
Lihat sebuah contoh di daerah yang dihuni pendapatan keluarga kelas menengah ke bawah dan padat akan menjadikan potensi pasar yang baik untuk jenis Ritel minimarket. Kenapa?
Karena gaya mereka dari penghasilan rata-rata yang sama dan terdistribusi dengan baik menjadikan sebuah gaya berbelanja yang berulang-ulang dengan jumlah yang sedikit tetapi berulang kali. Hal ini sangat cocok untuk pasar potensi Ritel jenis mini market.
d. Household Age Profile
Umur dan kategori dari keluaaga yang berdomisili disekitar potensi pasar yang akan kita bidik juga menjadi pengaruh yang besar. Sebuah potensi pasar di daerah yang berkembang populasi dengan penduduk dengan usia muda akan menjadikan potensi pasar dipengaruhi gaya hidupnya (lifestyle).
Sehingga hal no 1, 2 dan 3 di atas akan sangat berbeda dengan usia penduduk di suatu daerah yang didominasi oleh keluarga berumur, di mana akhirnya mereka mempunyai sebuah gaya hidup dengan komunitas (community), bukan gaya hidup dengan lifestyle, yang mana juga akan membuat potenasi pasar yang berbeda.
e. Household Composition
Itulah sebabnya, industri Ritel seharusnya selalu melihat perkembangan komposisi keluarga ini setelah tahun ke tahun karena daerah mereka karakternya berkembang sesuai umur dari pembeli dan potensi pasar yang ada menjadi bergeser arahnya. f. Community Life Cycle
Komunitas selalu berubah dan berkembang seiring dengan waktu tetapi bisa kita lihat dan patronkan menjadi 4 hal yang sangat mayoritas, yaitu perkembangan/pertumbuhan baru, perkembangan/pertumbuhan kontinyu, perkembangan/pertumbuhan stabil atau perkembangan/pertumbuhan sudah turun. Peritel yang baik akan selalu menempatkan diri di pasar potensi yang sedang kontinyu bertumbuh karena ini yang sedang pesat-pesatnya dan secara tidak langsung memberikan kesempatanpotensi pasar yang baik dan bergairah untuk masa investasi mereka.
g. Population Density
Populasi kepadatan ini bisa dikonotasikan dengan jumlah orang per meter persegi dari potensi pasar yang ada karena ini menjadikan patron dari kekuatan pembeli yang ada. Semakin besar kepadatan populasinya, maka kita sebaiknya menyiapkan luas toko yang sesuai dengan potensi pasarnya. Lihat daerah potensi pasar di perumahan yang baru dengan keluarga yang hanya 2 orang akan berbeda dengan keluarga dengan rata-rata 4 hingga 5 orang.
h. Mobility
Jika potensi pasar yang ada dipenuhi dengan gaya pembeli atau orang yang mobilitasnya tinggi, maka sudah jelas mereka adalah pasar potensi yang bergerak jadi, bukan acuan untuk selalu datang ke lokasi Ritel kita yang ada di dekat mereka, karena mereka adalah pembeli yang bergerak.
PT. YOMART adalah perusahaan retail yang dalam pendistribusiannya kepada konsumen dilakukan melalui cabang-cabang yang berupa minimarket. PT.PT. YOMART RUKUN SELALU yang berpusat di Jalan Jakarta sendiri tidak sebagai tempat distribusi untuk konsumen (masyarakat umum) secara langsung melainkan sebagai kantor administrasi dan gudang utama sebagai pendistributor dari suplier utama kepada cabang-cabang yang sudah tersebar di berbagai daerah. Cabang PT. YOMART berorientasi pada daerah padat penduduk yang belum memiliki fasilitas market yang cukup baik, biasanya ditemukan pada daerah-daerah yang kurang dekat dengan pusat kota.
Berikut adalah cabang-cabang PT. YOMART yang tersebar di seluruh Indonesia:
Daftar Cabang PT. YOMART
1 Ciwastra 2 Cibiru 3 MargaAsih 4 Cipamikolan 5 Garuda 6 Gempol 7 Jamika 8 Dangdeur2 9 Mekarwangi 10 Padalarang 11 Cimareme 12 Solokan Jeruk 13 Cicadas 14 Ujung Berung 15 Gardujati 16 Dayeuh Kolot 17 Karang Ampel 18 Majalaya 19 Gunung Batu 20 Kebon Kopi 21 Cigondewah 22 Cimahi 23 Batu Jajar 24 Cililin 2 25 Rancaekek 26 Cimbuleuit 27 Ciremai(Crb) 28 Cibereum
32 Warung Kondang 33 Boyongbong 34 Dangdeur 35 Ujung Berung 2 36 Cijambe
37 Cijerah
38 RancaManyar 39 Moh. Toha 40 Kopo
41 Singaparna (tsk) 42 Panyileukan 43 Sukajadi
44 Simpang (pwkt)
45 Moh. Ramdan Kadipaten 46 Purwodadi(Sbg)
47 Gegerkalong 2 48 Leuwipanjang 49 Nyomplang(Skb) 50 Banjaran 2
51 Cipasir
52 Cihampelas(clin) 53 Cangkuang
54 Soreang
63 Sarijadi 64 Palimanan 65 Cisaat (Skbmi) 66 Gegerkalong 67 Plered 68 Widyatama 69 Ciparay 70 Cileunyi 71 Cikutra Barat 72 Dago 73 Cipadung 74 Antapani 75 Babakan 76 Wanaraja 77 Cibadak(Skbm) 78 Cicalengka 79 Leles 80 Rajawali 81 Sriwijaya 82 Tamansari
83 Arjawinangun Kembar 84 Samarang
85 Jatinangor 86 Melong Asih 87 Weru
88 PSM 89 THI 90 Sumber 91 Kordon
94 Soreang 95 MTC 96 Lembang 97 Antapani 2 98 Singosari 99 Kalijati 100 Gebang Cagak 101 Banjaran 102 Cisirung 103 Ciledug 104 Jatiwangi
105 Margahayu Permai 106 Kopo Imanuel 107 Pagarsih 108 Purwakarta 109 Marga Cinta 110 Ciparay2 111 Sarimanah 112 Bale Endah 113 Kerkoof 114 Soklat (Sbng) 115Otista
Dalam memperluas usahanya PT. YOMART berambisi membuka cabang sebanyak dan seoptimal mungkin, terbukti dengan dibukanya beberapa cabang baru PT. YOMART di luar Bandung yaitu beberapa daerah kabupaten seperti Garut, Purwakarta, Sukabumi, Indramayu dan lain-lain, Selain daripada cabang, PT. YOMART juga membuka kerjasama bisnis secara franchise (waralaba) yaitu kerjasama bisnis dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa. Tujuan dari dibukanya kerjasama secara waralaba adalah selain untuk memperluas usahanya juga sebagai wadah bagi masyarakat umum yang ingin ikut berinvestasi. Kebijakan yang diberikan perusahaan terhadap cabang-cabangnya dan setaip waralaban ya tidak dibedakan. Setiap toko yang berada di Bandung ataupun di luar daerah, dan setiap toko yang berupa cabang ataupun waralaba diberikan prosedur umum yang sama dalam aktivitasnya.
Berikut adalah PT. YOMART yang berbentuk franchise Yang tersebar di seluruh Indonesia :
Daftar Franchise PT. YOMART No Nama 1 Rancaekek
5 Tubagus Ismail 6 Cikajang
7 Garut - Cimanuk 8 Ngamprah Sariwangi 9 Holis
10 Garut - Otista 11 Citamiang 12 Cijerah
13 Purwakarta-Pahlawan 14 Purwakarta Simpang 15 Tegal Wangi
16 Griya Bandung Indah 17 Letjen Suwanto Banjar 18 Kopo – Permai
19 Cirebon– Kibledug 20 Pangandaran Merdeka
2. Pelayanan ( Service )
Unsure pelayanan adalah unsure yang memiliki peranan penting dalam persaingan non- harga dengan pengecer-pengecer lain. Unsure-unsur pelayanan menjadi nyata bagi perusahaan dalam bersaing dengan para pesaingnya karena unsure pelayanan sangat sulit ditiru oleh pesaing.
Ada dua prinsip dasar yang dapat diterapkan yaitu menerapkan pelayanan khusus atau spesifik kepada konsumen dan berkomunikasi secara personal kepada konsumen atau disebut juga dengan istilah relationship marketing. Prinsip yang pertama didasarkan pada situasi dimana kita sebagai pengelola toko menginginkan sesuatu yang berbeda atau spesifik dibandingkan toko lainnya; sedangkan prinsip kedua didasarkan pada keadaan untuk mempertahankan konsumen agar lebih lama berada di toko kita.
Berdasarkan prinsip tersebut maka untuk dapat melayani konsumen dengan sebaik-baiknya tentunya dibutuhkan kiat-kiat tertentu agar konsumen selain merasa nyaman berada di toko dan mau membeli barang-barang yang ditawarkan juga agar konsumen mau kembali lagi ke toko kita.
Pelayanan terpenting terhadap pelanggan adalah penyediaan macammacam barang yang diinginkan langganan dan menawarkan pada harga yang pantas di tempat yang menarik, menyenangkan dan mudah tercapai. Tetapi ini saja seringkali tidak cukup. Pelanggan mungkin menghendaki berbagai pelayanan tradisional seperti vermak pakaian, membungkus kado, antar barangke rumah dan jaminan bahwa barang yang dibeli itu memuaskan. Pelayanan yang kompeten, segera, riang dan sopan, sangat penting dalam kompetisi non harga dan merupakan suatu unsur penting untuk mengembangkan citra yang baik terhadap toko itu.
2.1 Kebijaksanaan Pelayanan
2.1.1. Jumlah dan jenis pelayanan
Banyak hal yang harus dipertimbangkan mengenai jumlah dan jenis pelayanan yang akan disediakan, serta prosedur dan kondisi pelayanan tersebut. Pelayanan yang berlebih-lebihan dan tidak tepat dapat menimbulkan citra yang salah dan dapat membuat pelanggan mengira toko tersebut mahal walaupun sesungguhnya tidak. Dan pelayanan ekstra yang tidak tepat yang tidak menghasilkan penjualan ekstra akan meningkatkanbiaya serta menurunkan laba. Disamping itu, selera pelanggan seringkali sulit diduga dan dalam banyak hal diperlukan eksperimen untuk menjawabnya.
a. Kebijaksanaan dan praktek yang dijalankan saingan
Pelanggan umumnya mengharapkan pengelola toko memenuhi standarstandar yang cukup kompetitif.
b. Jenis barang dagangan dapat mempengaruhi pelayanan yang akan diberikan Barang-barang berat seperti kulkas, kompor, mesin cuci dan meubel, biasanya membutuhkan pelayanan penyerahan barang di lokasi pembeli. Disamping itu untuk barang-barang yang bernilai tinggi ini perlu adanya suatu bentuk penjualan secara kredit. Sebaliknya barang-barang seperti kosmetik, sepatu dan kaos kaki tidak memerlukan kredit dan pengantaran.
c. Penghasilan pelanggan, lokasinya dan kebiasaannya berbelanja juga mempengaruhi pelayanan yang diberikan
d. Jenis toko sangat penting karena akan mempengaruhi jenis pelayanan, misalnya jenis pelayanan di toserba akan berbeda dengan di toko-toko kecil.
Dalam hal ini PT. Yomart Minimarket Cabang Samarang Garut melakukan tiga kegiatan pelayanan yaitu:
a) Pelayanan yang disediakan untuk pelanggan sebelum masuk ke dalam transaksi penjualan yaitu information aids (bantuan informasi) dan convenience hours (saat yang menyenangkan). b) Pelayanan yang disediakan selama penjualan, seperti credit, lay way, gift wrapping and
packaging/pembungkusan hadiah, checking chasing, personal shopping, aktivitas perakitan bermacam-macam barang unuk langganan.
c) Pelayanan yang disediakan setelah penjualan dilakukan seperti complain handling (penanganan keluhan), pengembalian barang, pelayanan dan perbaikan, pengiriman barang.
3. Barang Dagangan ( Marchandise )
Merchandise merupakan produk- produk yang dijual peritel dalam gerainya, sedangkan merchandise adalah kegiatan pengadaan agarang- barang yang sesuai dengan bisnis yang dijalani toko ( produk berbasis makanan, pakaian, barang kebutuhan rumah dan produk umum lainnya ) untuk disediakan dalam toko pada jumlah, waktu dan harga yang sesuai untuk mencapai sasaran toko atau perusahaan ritel.
Merchandise yang akan dijual penting untuk dipilih dengan karena merchandise adalah mesin sukses bagi pengecer. Produk yang dijual peritel (merchandise) merupakan satu dari unsur bauran pemasaran ritel yang penting dan terkait dengan hal-hal sebagai berikut :
Intensitas yaitu mengenai produktifitas barang-barang yang dijual yang dinyatakan sebagai penjualan barang tersebut per meter persegi.
Mode/gaya yaitu mengenai jenis barang yang akan dijual oleh pengecer yang bersangkutan, seperti seberapa jauh barang yang dijual dapat mengikuti mode atau seberapa inovatif mode/gaya barang yang dijual, di mana hal ini menentukan tingkat perbedaan/diferensiasi suatu usaha dengan usaha lain yang sejenis.
Keragaman barang mengacu kepada bauran produk yang akan dijual dalam hal pilihan akan jenis barang dan jumlah barang (“depth”/dalam dan “width”/lebar).
4. Harga (Pricing)
4.1. Pricing
Pricing proses manual dari penetapan harga untuk perintah membeli dan menjual, yang didasarkan pada factor seperti jumlah yang ditetapkan, kuantitas, promosi,dan pengiriman. a. Harga Efektif : harga yang diterima perusahaan setelah perhitungan untuk potongan, promosi,
dan insentif lainnya.
b. Price Lining (Garis Harga) : pengunaan jumlah harga yang terbatas untuk semua penawaran produk.
c. Loss Leader (Harga Umpan) : suatu produk yang mempunyai harga yang ditetapkan dibawah marjin operasi.
d. Penetapan Harga Premium (Prestise) : strategi penetapan harga pada titik mutakhir dari kisaran harga yang mungkin
4.2. Tujuan dan Kebijakan Penetapan Harga
Tujuan penetapan harga adalah sebagai berikut :
b) Mencapai kinerja keuangan, harga-harga dipilih untuk membantu pencapaian tujuan keuangan seperti kontribusi laba dan arus kas. Harga yang terlalu tinggi mungkin tidak dapat diterima oleh para pembeli.
c) Penentuan posisi produk, harga dapat digunakan untuk meningkatkan citra produk, mempromosikan kegunaan produk, menciptakan kesadaran, dan tujuan penentuan posisi lainnya. Visibilitas harga (tinggi atau rendah) dapat mengurangi keefektifan komponen penentuan posisi lainnya, seperti periklanan.
d) Merangsang permintaan, harga digunakan untuk mendorong para penjual mencoba sebuah produk baru atau membeli merek yang ada selama periode-periode ketika penjualan sedang lesu. Salah satu masalah yang akan timbul adalah bahwa para pembeli mungkin membeli dalam partai besar ketika harga kembali normal.
e) Mempengaruhi persaingan, tujuan penetapan harga mungkin untuk mempengaruhi para pesaing yang ada atau calon pembeli. Manajemen mungkin ingin menghambat para pesaing yang sekarang untuk tidak dapat masuk ke kpasar atau untuk tidak melakukan pemotongan harga.
Meskipun peranan faktor-faktor non-harga semakin meningkat dalam proses pemasaran modern, harga tetap merupakan elemen penting an tahap penting dalam pemasaran yang diwarnai dengan persaingan monopoli atau olgopoli.
4.3 Tipe dan metode penetapan harga
Penetapan harga bisa dilihat dari kacamata produsen (pabrik/pembuat produk), wholesaler (pedagang besar) dan retailer (pengecer).
Perusahaan menerapkan bermacam-macam strategi penetapan harga atas harga dasar:
a. Penetapan harga geografis, dimana perusahaan tersebut memutuskan bagai mana memasang harga bagi pembeli yang jauh, dengan memilih salah satu dari berbagai alternatif seperti penetapan harga FOB, penetapan harga pengiriman seragam, penetapan harga wilayah, penetapan harga titik-pangkalan, dan penetapan harga absorsi angkutan
b. Penetapan harga potongan dan hadiah, dimana perusahaan tersebut memberi potongan tunai, potongan jumlah, potongan fungsional, potongan musiman, dan hadiah.
d. Penetapan harga diskriminasi dimana perusahaan memasang harga yang berlainan berdasarkan pertimbangan pembeli, bentuk produk, tempat, dan waktu yang berbeda-beda.
e. Penetapan harga produk baru, dimana perusahaan tersebut memutuskan antara memperkenalkan sebuah inovasi produk yang dilindungi hak paten dengan harga lintas pasar dan harga tembus pasar. Perusahaan itu menentukan salahsatu dari sembilan strategi harga/kualitas untuk memperkenalkan sebuah produk tiruan.
f. Penetapan harga bauran produk, di mana perusahaan itu menentukan tingkat harga untuk beberapa produk dalam satu lini produk, dan penetapkan harga produk-produk pilihan, produk penawan, dan produk sampingan.
Bila sebuah perusahaan mempertimbangkan untuk memulai perubahan harga, perusahaan itu harus secara hati-hati mempertimbangkan reaksi-reaksi pembeli dan pesaing. Oleh karena itu biasanya reaksi pembeli dipengaruhi oleh makna yang dilihat pembeli sehubungan dengan perubahan harga. Reaksi-reaksi pesaing berasal baik dari seperangkat kebijakan reaksi atau dari tafsiran baru teerhadap setiap situasi. Perusahaan yang memprakasai perubahan harga juga harus meramalkan reaksi yang mungkin timbul dari para grosir, penyalur, dan pemerintah.
Perusahaan yang menghadapi perubahan harga yang diprakasai oleh seorang pesaing harus mencoba memahami maksud pesaing tersebut dan jangka waktu perubahan. Jika dibutuhkan kecepatan reaksi, perusahaan itu harus merencanakan lebih dahulu reaksi-reaksinya atas berbagai kemungkinan tindakan harga yang dilakukan oleh para pesaing.
Para produsen berkepentingan untuk mengetahui harga penjualan eceran dari produknya, karena sukses marketing produknya tergantung dari harga penawaran kepada konsumen. para produsen yang memeprhatikan harga yang ditawrakan oleh retailer sebelum menetapkan harga jualnya disebut “inverted pricing” kebijakan produsen dalam meentapkan harga bisa dilihat dari prosesnya antara lain :
1. Skiming price, menetapkan harga setinggi-tingginya dengan alasan permintaan bersifat in elastis pada waktu barang dipasarkan dan pasaran ditujukan kepada konsumen highclass. Selain untuk mengembalikan modal yang telah di investasikan dalam waktu singkat serta tidak dikhawatirkan masuknya pesaing baru.
elastis, volume produksi yang tinggi sehingga biaya bisa ditekan dan ketakutan ada pesaing yang masuk dalam pasar kita.
3. Competitor price, penetapan harga yang mengikuti harga pesaing.
4. cost of goods, harga menjadi pedoman dalam penetapan harga.bila biaya produksi perusahaan lebih rendah dari biaya prouksi perusahaan lainnya ada beberapa pendapat dalam hal policy 5. harga pokok lebih rendah dari saingan. produsen yang bekerja secara efisien dan efektif akan
meperoleh banyak keuntungan karena penghematan.
4.4. Model Penetapan Harga
Cost – plus pricing : Menyusun harga pada biaya produksi (ongkos dan biaya tetap ) Target return pricing : Menyusun harga untuk mencapai ROI (laba modal)
Value based : Menetapkan harga berdasarkan nilai.
1. Penetapan Harga Psikologis : suatu teori didalm pemasaran bahwa harga ini memilki dampak psikologis yang mendorong harga lebih besar dari yang diharapkan seperti harga eceran misalnya Rp. 4990, Rp. 19.850. Konsumen biasanya mengabaikan paling sedikit digit.
2. Fair pricing : Mentukan harga wajar bagi konsumen sehingga konsumen tidak merasa ditipu. Dalam hal ini PT. Yomart Minimarket Cabang Samarang Garut melakukan kegiatan penetapan harga dengan tiga strategi dalam penentuan harga yaitu High Price, Midle Price, dan Low Price. Dimana yang menjadi pertimbangan penetapan harga High Price, Midle Price, dan Low Price adalah tergantung dimana PT. Yomart itu berdiri dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi di daerah tersebut apakah memungkinkan dilakukan strategi High Price, Midle Price atau Low Price dan strategi ini pun tidak berlaku untuk setiap barang yang ada di PT. Yomart. Misalnya ketika bnyak pesaing ritail yang sama di sekitar Yomar maka beberapa barang yang sama yang ada di toko pesaing maka PT. Yomart di berlakukan harga barang tersebut sedikit lebih murah atau Low Price.
5. Suasana Dalam Toko ( Atmosfer )
gerai yang di kunjungi konsumen ) akan dapat menyentuk emosi konsumen dan member pengalaman berbelanja. Desain toko yang baik akan menarik banyak konsumen untuk datang, desain toko merupakan strategi penting untuk menciptakan suasana yang akan membuat pelanggan merasa betah berada dalam suatu gerai atau toko. Desain toko, yaitu desain interior yang mencakup tata letak rak-rak barang, aksesoris toko, dan desain eksterior mencakup lay-out, pintu masuk, dan jalan masuk.
5.1 Exterior (bagian luar toko)
Bagian depan toko adalah bagian yang terkemuka. Maka hendaknya memberikan kesan yang menarik. Di samping itu hendaklah menunjukan spirit perusahaan dan sifat kegiatan yang ada di dalamnya. Karena bagian depan daneksterior berfungsi sebagai identifikasi atau tanda pengenalan maka sebaiknya dipasang lambang-lambang. Exterior menurut Berman dan Evans terdiri dari :
1. Store Front (bagian depan toko)
Harus dapat mencerminkan keunikan, kemantapan, kekokohan, serta hal-hal lain yang sesuai dengan citra toko tersebut.karena itu bagian store front ini merupakan faktor terpenting yang dapat mempengaruhi konsumen untuk mengunjungi toko tersebut.
2. Marquee (papan nama toko)
Yaitu papan yang digunakan untuk memajang nama toko,Marquee dapat dibuat dengan teknik pengecetan atau menggunakan lampu-lampu, dan dapat pula hanya terdiri dari nama dan logo saja ataupun digabungkan dengan slogan dan informasi lain.
3. Entrence (pintu masuk)
Enterence perlu dibuat dengan penuh perencanaan, agar dapat mengurangi kemacetan yang diakibatkan oleh arus lalu lintas keluar masuknya konsumen toko tersebut. Sehingga konsumen diberikan ruang yang cukup leluasa untuk dapat masuk ke toko tersebut.
4. Window Display (display jendela)
Display jendela ini memiliki dua tujuan. Pertama, untuk mengidentifikasi suatu toko dengan cara memajang barang-barang yang ditawarkan, kedua untuk menarik konsumen untuk memasuki toko tersebut. Dalam membuat pajangan yang baik, ukuran jendela harus diperhitungkan, juga jumlah barang yang akan dipajang, warna-warnanya, tema dan frekuensi pergantian barang pajangan tersebut.
Tinggi dan luasnya bangunan pada toko akan memberi pengaruh bagi persepsi konsumen terhadap toko tersebut.
6. Visibility (jarak penglihatan)
Orang harus dapat melihat bagian depan (marquee) suatu toko dengan jelas. Apabila suatu toko memiliki jarak yang cukup jauh dari jalan raya, maka toko tersebut dapat menggunakan billboard agar para pengendara yang lewat dengan cepat dapat melihat toko tersebut. Adapun tujuan dari visibility ini adalah untuk membuat suatu toko terlihat unik, menarik, menonjol, dan terlihat dengan jelas, sehingga dapat menarik perhatian konsumen. 7. Uniqueness (keunikan)
Keunikan suatu toko dapat dihasilkan melalui desain toko yang berbeda, lain daripada yang lain, marquee yang mencolok, pintu masuk yang lebar dan besar, display jendela yang dekoratif, tinggi dan ukuran gedung yang berbeda dari gedung yang berada disekitarnya.
8. Surrounding area (lingkungan sekitar toko)
Keadaan lingkungan masyarakat dimana lokasi suatu toko berada, dapat mempengaruhi citra toko tersebut. Suasana toko mempunyai nilai negatif apabila dilingkungan sekitar toko mempunyai tingkat kejahatan yang tinggi.
9. Surrounding Store (toko lain disekitar toko)
Toko-toko lain disekitar toko juga dapat mempengaruhi citra suatu toko, toko tersebut bisa berada dalam sebuah gedung yang sama atau gedung yang lain yang berdekatan dengan toko. Di dalam merencanakan exterior toko, haruslah dipertimbangkan toko-toko lain yang ada disekitarnya. Misalnya, jika toko yang berdekatan mempunyai citra toko yang kurang baik, maka toko yang lainnya juga akan ikut terpengaruh dengan citra tersebut.
10. Parking Facilities (fasilitas tempat parkir)
Merupakan hal yang sangat penting bagi konsumen, terutama bagi mereka yang maembawa kendaraan. Tempat parkir yang luas, aman, gratis, dan teratur, serta mempunyai jarak yang dekat dengan toko akan menciptakan suasana yang lebih positif bagi toko tersebut.
11. Congestion (kemacetan)
5.2 General interior (bagian depan toko)
Berbagai motif konsumen memasuki toko, hendaknya memperoleh kesan yang menyenangkan. Kesan ini dapat diciptakan misalnya dengan warna dinding toko yang menarik, musik yang diperdengarkan, serta aroma/bau dan udara di dalam toko.
General interior menurut Berman dan Evans terdiri dari : 1. Flooring (lantai)
Flooring merupakan jenis lantai yang akan dipergunakan oleh suatu toko, apakah toko tersebut akan menggunakan lantai kayu, linoleum, atau dilapisi dengan semen saja, atau bahkan menggunakan karpet. Penentuan bahan dan desain lantai suatu toko adalah penting karena konsumen mengembangkan persepsi mereka berdasarkan persepsi yang mereka lihat.
2. Colors and Lighting (warna dan pencahayaan)
Setiap toko harus mempunyai pencahayaan yang cukup untuk mengarahkan atau menarik perhatian konsumen ke daerah tertentu dari toko. Konsumen yang berbelanja akan tertarik pada sesuatu yang paling terang yang berada dalam pandangan mereka, tata cahaya yang baik mempunyai kualitas dan warna dapat membuat produk-produk yang ditawarkan akan lebih menarik.
3. Scent and Sounds (aroma dan bunyi)
Layanan ini diberikan untuk memberikan suasana yang lebih santai pada konsumen, khususnya konsumen yang ingin menikmati suasana santai untuk menghilangkan kejenuhan, kebosanan atau stress sambil berbelanja. Selain itu ada beberapa toko yang memasang musik yang sesuai dengan selera pasar sasarannya untuk mengundang orang yang lewat untuk masuk ke dalam toko.
4. Fixtures (perabot toko)
Perabot toko adalah barang-barang tahan lama yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam kegiatan penjualan. Fixtures pada toko harus direncanakan, tidak hanya berdasarkan pada nilai saja, tetapi juga berdasarkan nilai estetikanya.
5. Wall Textures (tekstur dinding atau tembok)
Dapat menimbulkan kesan tertentu pada konsumen dan dapat membuat dinding lebih menarik. 6. Temperature (suhu udara)
Jalan yang lebar dan tidak berdesakan akan menciptakanatmosphere yang baik dan konsumen akan merasakan kenyamanan sehingga ia akan menghasilkan waktu yang lebih lama di toko tersebut.
8. Dressing Facilities (fasilitas ruang ganti)
Suatu toko dapat memberikan fasilitas kamar ganti yang sangat mengutamakan privasi. 9. Vertical Transportation (alat transportasi ke antar lantai)
Suatu toko yang memiliki beberapa tingkat lantai, harus memperhatikan sarana transportasi vertical yang dapat berupa escalator, lift, atau tangga untuk dapat memudahkan konsumen dan memberikan kenyamanan.
10. Dead Area (area berbahaya)
Merupakan suatu ruangan didalam toko dimana displayyang normal tidak dapat diterapkan, karena akan terasa janggal. Misalnya : pintu toilet, vertical transportation, dan sudut ruangan. Pengelola toko harus memanfaatkan daerah berbahaya ini untuk menempatkan barang-barang pajangan yang dapat memperindah ruangan, seperti : tanaman,cermin, dan lukisan.
11. Store Personel(pramuniaga)
Karyawan maupun pramuniaga yang sopan , ramah, berpenampilan menarik dan mempunyai pengetahuan yang memadai tantang priduk yang dijual dalam meningkatkan citra perusahaan dan loyalitas konsumen dalam memilih toko itu sebagai tempat berbelanja.
12. Level or Service
Suatu toko dapat menggunakan self service atau self selection. Jika suatu toko menggunakan self selection, maka barang-barang dagangan ditampilkan sedemikian rupatanpa bantuan store personel. Sedangkan jika suatu toko menggunakan store service, maka pembeli tidak saja dapat memilih sendiri, tetapi dapat juga membawa barang-barang yang akan dibelinya di tempat check out.
13. Merchandise (barang dagangan)
Perusahaan harus merumuskan mengenai variasi, warna, ukuran, kualitas, lebar kedalaman produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen.
14. Price level and Display (tingkat harga dan pajangan)
cara suatu toko memajang harga barang dagangan adalah hal yang vital di dalam suatu atmosphere.
15. Cash register (kasir)
Penentuan lokasi cash register mempunyai peran yang penting dalam efesiensi operasi suatu toko. Oleh karena itu, pihak penglola toko harus memutuskan yang berkaitan dengan masalah kasir yang harus memadai agar konsumen tidak terlalu lama antri untuk melakukan proses pembayaran, selain itu penentuan lokasi kasir yang harus ditempatkan di lokasi strategis untuk menghindari kemacetan konsumen yang keluar masuk toko.
16. Technology (teknologi)
Teknologi suatu toko dan modernisasi dari bangunan dan perabotan juga mempunyai dampak pada atmosphere. Pengelola toko harus dapat membuat sistem yang dapat melayani konsumen secanggih mungkin.
17. Cleanliness (kebersihan)
Kebersihan merupakan hal yang terpenting pada suatu toko, karena kebersihan dapat menjadi suatu pertimbangan yang utama bagi konsumen untuk mengunjungi suatu toko.
5.3 Store layout (tata letak)
Merupakan rencana untuk menentukan lokasi tertentu dan pengaturan dari Jalan/gang di dalam toko yang cukup lebar dan memudahkan orang untuk berlalu-lalang, serta fasilitas toko seperti kelengkapan ruang ganti yang baik dan nyaman.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam layout suatu toko menurut Berman dan Evans antara lain: 1. Allocation on Floor Space
Dalam suatu toko, ruangan yang ada harus dilokasikan untuk : 1. (Selling Space/Penjualan), Ruangan untuk memajang barang dagangan. 2. (Merchandise Space/Barang dagangan), Ruangan yang disediakan untuk penyimpanan barang-barang yang akan dipajang. 3. (Personel Space/Karyawan), Ruangan yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan karyawan, seperti tempat untuk beristirahat atau makan. 4. (Customer Space/Konsumen), Ruangan yang digunakan untuk memberikan kenyamanan pada konsumen untuk meningkatkan citra suatu toko.
Dalam pengklasifikasian product Grouping ada empat tipe pengelompokan yang dapat diterapkan yaitu : Fungsional, Motivasi pembelian, Segmen pasar, dan cara-cara penyimpanannya.
3. Traffic Flow (arus lalu lintas dalam toko)
Ada empat dasar penentuan arus lalu lintas didalam toko yang mempunyai fungsi dan kegunaan yang berbeda, yaitu : 1. Straight (Grid) Traffic Flow, Merupakan pola layoutdimana semua rak diatur menyerupai garis-garis perabot toko dan barang-barang yang pada rak tersebut bertindak sebagai penghalang dalam lalu lintas konsumen dan karyawannya. 2. Curving(Free Flow), Pola layout, dimana memungkinkan konsumen membentuk pola sendiri yang tidak terstruktur dalam menelusuri jalan dalam toko. Pola ini sangat tepat diterapkan pada shopping goods dan speciality goods, dimana konsumen dapat melakukan proses menemukan, membandingkan, memilih produk dalam suasana lebih santai. Sehingga dapat mempermudah konsumen saat melakuan kegiatan belanja. 3. Pola pop, Merupakan suatu pola layout yang serupa dengan Free low, tetapi leih teratur dengan membentuk rak-rak display yang mengeliingi area pembelanjaan, sehingga semua bagian menghadapkan area tersebut. 4. Butik, Pola layoutyang relatif baru, biasanya pola ini digunakan untuk menata merek tertentu atau bagian terkenal yang dibuat untuk suatu gaya hidup tertentu.
4. Space atau Merchandise Category (katagori barang dagangan)
Merupakan ruangan yang disediakan untuk memajang setiap katagori produk berdasarkan jenis barang, ukuran, dan manfaat produk tersebut.
5. Department Location (penyusunan barang menurut departemennya)
Lokasi setiap department harus ditentukan oleh toko yang terdiri dari beberapa lantai. Prosedur ini terdiri dari : penentuan katagori produk mana yang harus ditempatkan di lantai tertentu dan juga layout untuk setiap lantai.
6. Arrangement Within Departement
5.4 Interior point of purchase display (area pembelian dalam toko)
Sangat menentukan bagi suasana toko karena memberikan informasi kepada konsumen. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan penjualan dan laba bagi toko. Interior POP display menurut Berman dan Evans terdiri dari :
1. Assortment Display
Barang-barnag diatur sedemikian rupa sehingga dapat memberikan pilihan pada konsumen. Dalam Assortment Display terdiri dari : 1). Open Assortment untuk mendisplay barang-barang missal seperti customer goodsyang biasanya dipajang di rak-rak terbuka. 2). Close Assortment untuk mendisplay barang dalam jumlah sedikit, bentuknya kecil atau mudah pecah atau mudah rusak.
2. Theme Setting Display (tema dekorasi pajangan)
Pihak pengelola toko dapat menggunakan tema-tema tertentu dalam suatu event atau peringatan untuk menciptakan suatu atmosphere atau display tertentu. Pihak toko dapat merancang suatu dekorasi atau meminta karyawannya untuk berpakaian sesuai dengan tema yang berlaku.
3. Ensemble Display (pajangan ansambel)
Adalah sesuatu yang dapat memadukan berbagai macam barang pada beberapa departemen didalam toko. Displaybentuk ini menelompokkan barang dalam katagori yang terpisah misalnya, display tempat tidur, terdiri dari kasur, bantal, seprai, selimut, dan sebagainya.
4. Rack Display and Case Display (pajangan rak dan laci)
Rak mempunyai suatu fungsi untuk memajang dan meletakkan barang dagangan secara rapi. Case Displaybiasanya digunakan untuk memajang barang yang cukup barat dibandingkan barang pada Rack Display.
5. Cut Case and Dump Bins
Cut case adalah kotak yang digunakan untuk membawa atau membungkus barang yang mempunyai ukuran kecil di pajang dengan kotak pembungkusnya. Dums bins adalah kotak yang berisi tumpukan barang yang telah diturunkan harganya.
6. Posters, Signs, and Cards (poster, spanduk dan banner)
7. Mobile
Merupakan tipe display yang dapat bergerak pada umumnya diganti, mempunyai tujuan yang sama denganposters, signs, dan cards tetapi lebih menarik untuk dilihat dan juga lebih mencolok.
8. Wall Decoations (dekorasi dinding)
Pada suatu toko dapat menggunakan dekorasi tembok yang dikombinasikan dengan poster, warna tembok dan lain sebagainya yang dapat membuat atmosfer suatu toko lebih menarik.
5.5 Tujuan Store Atmosphere
Ketika retailer hendak menata atau menata ulang sebuah toko, pihak perusahaan haruslah memperhatikan tiga tujuan. Menurut Levy dan Weitz ( 2004 : 45) tujuan dari store atmosphere adalah sebagai : 1. Suasana lingkungan toko harus konsisten dengan citra toko dan strategi secara keseluruhan. 2. Membantu konsumen dalam menentukan keputusan pembelian. 3. Ketika membuat suatu keputusan mengenai desain, para manager harus mengingat mengenai biaya yang diperlukan dengan desain tertentu yang sebaiknya sesuai dengan dan yang dianggarkan.
Layout pada PT. Yomart tergantung kepada Cluster atau tipe bangunan PT. Yomart itu sendiri karena setiap Cluster memiliki Layout yang berbeda beda, karena dengan perbedaan tipe bangunan maka penataan ruang di toko pun ada yang sedikit berbeda menyesuaikan dengan tipe atau cluster bangunan . di PT. Yomart sendiri ada beberapa tipe bangunan yaitu :
Dimana desain Interior Dan Eksterior sama dengan desain PT. Yomart pada umumnya yang menjadi ciri khas PT. PT. Yomart yaitu (Shop Sign & Single Pole)
Yomart Express
YOMART Express merupakan minimarket yang beroperasi 24 jam, berada di area pelayanan umum (RS, SPBU, terminal, stasiun, apartment), dengan luas minimal 18 m2. Dimana desain Interior Dan Eksterior sama dengan desain PT. Yomart pada umumnya yang menjadi ciri khas PT. PT. Yomart yaitu (Shop Sign & Single Pole)
6. Promosi
Promosi merupakan salah satu unsur dalam bauran penjualan eceran (retailing mix) yang digunakan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa yang akan ditawarkan serta keunggulan yang dimiliki dari barang atau jasa yang ditawarkan, dan berperan penting dalam membentuk persepsi mengenai pengecerdan dalam membangun citra pengecer dimata konsumen, dimana persepsi dan citra harus dibentuk sedemikian rupa sehingga mampu mendorong konsumen untuk mencoba/menggunakan produk dan atau jasa yang ditawarkan. Menurut Burnett (1993:6), yang dimaksud dengan promosi,
Promotion as the marketing function concerned with persuasively communicating to target audience the components of the marketing program in order to facilitate exchange berween the marketer and the consumer and to help satisfy the objective of both.
Pada dasarnya promosi pada minimarket merupakan usaha dalam bidang informasi, imbauan/bujukan dan kombinasi. Ketiga bidang ini saling berhubungan sebab member selalu informasi dan menghimbau, sebaliknya seorang yang dihimbau juga diberikan informasi, himbauan dan informasi akan menjadi efektif dengan dikomunikasikannya pada penerima.
Sebagian besar strategi-strategi promosi yang digunakan supermarket/minimarket menggambarkan berbagai kombinasi. Kombinasi dan variabel-variabel promosi ini dinamakan promotion mix (bauran promosi), yang terdiri dari iklan, pemasaran langsung, promosi penjualan, hubungan masyarakat, dan penjualan personal (Kotler, 2000:608).
Definisi dari masing-masing promosi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Advertising : Any paid form non personal presentation and promotion of idens, goods or services by an identified sponsor.
2. Direct marketing : Use of mail, telephone and other non personal contact tools to communicate with or solicity a response from specificcus timers and prospect.
3. Sales promotion :Shert-term incentives to encourage trial or purchase of a product or service. 4. Public relation and Publicity : A variety of program designed to promote and or protect a
company’s image or it’s individual products.
5. Personal selling : Face to face interactive with one or more prospective purcesers for the purpose of making sales.
(Kotler, 2000:608)
Dalam kegiatan bauranpromosi yang meliputi periklanan, pemasaran langsung, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas, serta penjualan pribadi, dalam pelaksanaannya dapat menggunakan media-media sebagai berikut :
Table 1.1
Media-media BauranPromosi Periklanan PromosiPenjualan Hubungan
Masyarakat Dan Publisitas
PenjualanPribadi PemasaranLangsung
dan
7. Karyawan
Bisnis ritel bukan hanya sekedar bisnis penjualan barang, tetapi didalamnya melibatkan unsur jasa. Ujung tombak usaha jasa adalah orang atau dalam bisnis ritel biasa disebut pramuniaga. Pramuniaga yang berkualitas akan menunjang suatu perusahaan untuk dapat mempertahankan konsumennya. Jadi pengawasan dan memotivasi para karyawan sangat dibutuhkan. Untuk itu manajemen harus lebih dapat mempunyai para karyawan yang berkualitas.
Dalam hal ini PT. Yomart Minimarket Cabang Samarang Garut yang melakukan kegiatan perekrutan dan pembinaan mempunyai cara tersendiri yaitu:
Perekrutan Karyawan
Proses Perekrutan karyawan dengan pembukaan lowongan di internet dan surat kabar serta dengan system kerjasama yaitu bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Bandung, antara lain: Universitas Widyatama dan Fakultas Ekonomi Universitas Maranatha.
Pelatihan Dan Pembinaan Karyawan
Dengan berdirinya Yomart Training Center di Jl. Jakarta No 48 Bandung, Yomart telah menyiapkan sistem pelatihan yang berkualitas, antara lain:
1. Program pengembangan kompetensi Customer Relation Officer 2. Program pengembangan kompetensi Store Head Trainee
3.Program pengembangan kompetensi Store Head & Store Head Assistant 4.Program pengembangan kompetensi Area Supervisor
5. Program pengembangan karir (Career Development Program)
Beberapa program training lainnya diselenggarakan oleh Yomart bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi di Bandung, antara lain:
1. Universitas Widyatama dalam bentuk penyelenggaraan program Diploma 3 Pendidikan Manajemen Ritel
2. Fakultas Ekonomi Universitas Maranatha dalam bentuk pengembangan kompetensi Supervisor Area.
Metode training yang dilaksanakan meliputi: 1. In class training
2. On the job training
Dengan metode ini, peserta pelatihan diberikan kesempatan untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh ketika in-class training. Peserta pelatihan diberikan penugasan-penugasan dengan mekanisme penilaian tertentu.
3. Simulasi/Praktek
Peserta pelatihan dilatih untuk mempraktek-kan hal-hal teknis yang harus dilaksanakan pada saat bekerja di toko.
4. Ujian
Setelah pelatihan selesai, pemahaman dan penguasaan materi dari peserta dievaluasi melalui ujian tertulis maupun ujian praktek.
BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil Wawancara yang dilakukan penulis pada Yomart cabang Samarang Kabupaten Garut mengenai bauran penjualanan ritel, maka pada bagian ini penulis mencoba
untuk menarik kesimpulan sebagai berikut :
Dengan diterapkannya kegiatan bauran penjualan pada minimarket dapat memberikan kesan baik
dan daya tarik dibenak konsumen mengenai produk yang akan ditawarkan maupun citra
perusahaan. Dengan demikian konsumen akan tertarik untuk membeli produk yang ditawarkan
karena informasi yang mereka peroleh dari kegiatan promosi mampu mempengaruhi mereka
untuk berbelanja pada minimarket tersebut, dimana salah satunya adalah melakukan kegiatan
promosi yang meliputi penjualan pribadi (pemberian iformasi serta pemberian layanan),
hubungan masyarakat dan pubilistas (mengadakan kegiatan social serta mensponsori kegiatan
kemasyarakatan) dan pemasaran langsung (katalog) sebagai salah satu cara untuk memberikan
informasi kepada konsumen tentang barang atau jasa yang ditawarkan serta keunggulan yang
PT. YOMART memiliki kiat-kiat yang efektif untuk membantu meningkatkan kinerja
toko sehingga penghasilan yang maksimal dapat diperoleh demi keberhasilan usaha mitra PT.
YOMART. Kiat-kiat tersebut antara lain, adalah:
1. Kelengkapan Produk Pilihan
Dengan dukungan beragam supplier berskala nasional dan lokal, PT. YOMART minimarket senantiasa mampu menyajikan berbagai produk dengan tingkat penjualan tinggi.
2. Kehandalan Kualitas Karyawan ;
Kualitas ini mencakup, kemampuan keilmuan karyawan serta etos kerja positif. PT. YOMART memiliki system rekrutmen dan pelatihan yang mampu menyiapkan tenaga kerja handal di bidang ritel. Hal ini dimungkinkan dengan adanya dukungan kerjasama dengan perguruan tinggi yang secara khusus menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia yang profesional di dunia ritel.
3. Pengelolaan dan Pengembangan Bisnis yang Terarah;
4.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mencoba memberikan saran bagi Yomart cabang Samarang Kabupaten Garut yang mudah-mudahan berguna bagi pihak perusahaan di antaranya
adalah :
1. Karena begitu banyaknya pesaing dalam usaha yang sama (retailing), sebaiknya bauran penjualan ritel yang telah di nilai baik oleh konsumen seperti halnya lokasi toko, prosedur pembelian, produk yang ditawarkan, harga, suasana toko, karyawan serta metode promosi hendaknya tetap dipertahankan atau bahkan ditingkatkan sehingga kemampuan Yomart cabang Samarang Kabupaten Garut untuk tetap bersaing dengan peritel lainnya mampu dipertahankan atau bahkan lebih unggul.
2. Perusahaan hendaknya lebih memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen secara rutin dan berkelanjutan (continue). Karena hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi loyalitas pelanggan. Apabila kebutuhan dan keinginan konsumen tersebut mampu dipenuhi oleh perusahaan, maka tingkat seringnya konsumen memesan produk akan tinggi, adanya penciptaan prospek, memesan produk yang bervariasi serta kekebalan akan pesaing tinggi pula.
3. Pelaksanaan bauran penjualan ritel yang baik akan mendorong mereka untuk memasuki toko sampai akhirnya akan mempengaruhi loyalitas pelanggan. Oleh karena itu penting sekali pihak perusahaan untuk terus membantu perkembangan dan pelaksanaan bauran penjualan ritel demi kelangsungan hidup perusahaan yang dikelola dan tercapainya target penjualan yang telah direncanakan. Selain itu diharapkan pula adanya penelitian lain selain bauran penjualan ritel. Sehingga pihak perusahaan dapat lebih mengetahui apa saja kelebihan dan kekurangannya yang membuat perusahaan tetap mampu bersaing dengan perusahaan sejenis.
Foster ,Bob. 2008. Manajemen Ritel. Alfabeta, Bandung
Hendri, Ma’ruf , 2005, Pemasaran Ritel, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Kotler, Philip, 2000, Marketing Management, The Millenium 1st Edition. Prentice Hall, New
Jersey.
Kotler Philip yang di terjemahkan oleh AB. Susanto, 2002, Manajemen Pemasaran, PT. Prenhalindo, Yogyakarta.
M. Taufik Amir, 2004, Manajemen Ritel ,PPM, Jakarta.
M Taufik Amir, , 2005, Dinamika Pemasaran, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Philip Kotler,Alih Bahasa Hendra Teguh dkk, 2004, Manajemen Pemasaran, PT.Indek,Jakarta.
Website:
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/320/jbptunikompp-gdl-irmaarifia-15967-4-babv.rtf . diakses di Bandung 03-12-2011
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/333/jbptunikompp-gdl-nursellygu-16614-2-taselly-i.doc. diakses di Bandung 03-12-2011.
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/377/jbptunikompp-gdl-donychrist-18820-3-babii.doc. diakses di Bandung 03-12-2011.
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/merch_form_pdf/bab7-ritel.pdf. diakses di Bandung 04-12-2011.
http://geoeduplanet.blogspot.com/2010/07/potensi-pasar-market-potential.html. diakses di Bandung 04-12-2011.
http://pksm.mercubuana.ac.id/new/elearning/files_modul/43009-5-199721842607.doc . diakses di Bandung 05-12-2011.