• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL FORMULASI LIPSTIK MENGGUNAKAN ZAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MODUL FORMULASI LIPSTIK MENGGUNAKAN ZAT"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL

FORMULASI LIPSTIK MENGGUNAKAN ZAT WARNA DARI TANAMAN ANGKAK (Monascus purpureus)

A. Pendahuluan

Sejak semula kosmetologi merupakan salah satu ilmu pengobatan atau ilmu kesehatan, sehingga para pakar kosmetik dahulu adalah juga pakar kesehatan; seperti para tabib, dukun, bahkan penasehat keluarga istana. Dalam perkembangannya kemudian, terjadi pemisahan antara kosmetik dan obat, baik dalam hal jenis, efek, efek samping, dan lainnya (Wasitaatmadja, 1997).

Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan seperti epidermis, rambut, kuku, bibir, gigi, dan rongga mulut antara lain untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono dan Latifah, 2007).

Segala bahan yang dogosokkan, dilekatkan, dituangkan, dipercikkan atau disemprotkan pada badan manusia yang bertujuan untuk memelihara dan menambah daya tarik atau untuk melindungi dapat dikatakan sebagai sebuah kosmetik. Pada era ilmu kesehatan kulit khususnya kosmetik telah berkembang pesat seiring pertumbuhan industri kosmetik di dunia. Salah satu produk kosmetik adalah pewarna bibir atau Lipstick.

Pewarna bibir modern yang disukai adalah jenis sediaan pewarna bibir yang jika dilekatkan pada bibir akan memberikan selaput yang kering. Dewasa ini pewarna bibir yang banyak digunakan adalah pewarna bibir dalam bentuk krayon. Pewarna bibir krayon lebih dikenal dengan sebutan lipstick (Ditjen POM, 1985).

(2)

B. Tujuan

1. Untuk membuat sediaan lipstik dengan angkak sebagai pewarna

2. Untuk mengetahui apakah sediaan lipstik menggunakan angkak sebagai pewarna tidak menyebabkan iritasi saat digunakan.

3. Memberi pengetahuan dan keterampilan mengenai teknik pembuatan lipstick.

C. Dasar Teori 1. Kosmetik

Pengertian Kosmetik

Menurut Wall dan Jellinek (1970), kosmetik dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu. Pada abad ke-19, pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian, yaitu selain untuk kecantikan juga untuk kesehatan. Perkembangan ilmu kosmetik serta industrinya baru dimulai secara besar-besaran pada abad ke-20 (Tranggono dan Latifah, 2007).

Kosmetik berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti ”berhias”. Bahan yang dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat disekitar. Sekarang kosmetik dibuat tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan sintetis untuk maksud meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja, 1997).

Sejak semula kosmetologi merupakan salah satu ilmu pengobatan atau ilmu kesehatan, sehingga para pakar kosmetik dahulu adalah juga pakar kesehatan; seperti para tabib, dukun, bahkan penasehat keluarga istana. Dalam perkembangannya kemudian, terjadi pemisahan antara kosmetik dan obat, baik dalam hal jenis, efek, efek samping, dan lainnya (Wasitaatmadja, 1997).

(3)

memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono dan Latifah, 2007).

Penggolongan Kosmetik

Penggolongan kosmetik terbagi atas beberapa golongan, yaitu: a. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI, kosmetik dibagi ke dalam 13

preparat (Tranggono dan Latifah, 2007) :

1. Preparat untuk bayi, misalnya minyak bayi, bedak bayi, dan lain-lain.

2. Preparat untuk mandi, misalnya sabun mandi, bath capsule, dan lain- lain.

3. Preparat untuk mata, misalnya maskara, eye-shadow, dan lain-lain. 4. Preparat wangi-wangian, misalnya parfum, toilet water, dan

lain-lain.

5. Preparat untuk rambut, misalnya cat rambut, hair spray, dan lain-lain.

6. Preparat pewarna rambut, misalnya cat rambut, dan lain-lain. 7. Preparat make-up (kecuali mata), misalnya bedak, lipstik, dan

lain-lain.

8. Preparat untuk kebersihan mulut, misalnya pasta gigi, mouth washes,

9. dan lain-lain.

10. Preparat untuk kebersihan badan, misalnya deodorant, dan lain-lain.

11. Preparat kuku, misalnya cat kuku, losion kuku, dan lain-lain.

12. Preparat perawatan kulit, misalnya pembersih, pelembab, pelindung, dan lain-lain.

13. Preparat cukur, misalnya sabun cukur, dan lain-lain.

14. Preparat untuk suntan dan sunscreen, misalnya sunscreen foundation, dan lain-lain.

(4)

1. Kosmetik modern, diramu dari bahan kimia dan diolah secara modern (termasuk di antaranya adalah cosmedic).

2. Kosmetik tradisional:

 Betul-betul tradisional, misalnya mangir, lulur, yang dibuat dari bahan alam dan diolah menurut resep dan cara yang turun-temurun.

 Semi tradisional, diolah secara modern dan diberi bahan pengawet agar tahan lama.

 Hanya namanya yang tradisional, tanpa komponen yang benar-benar tradisional dan diberi warna yang menyerupai bahan tradisional.

c. Penggolongan kosmetik menurut kegunaannya bagi kulit: 1. Kosmetik perawatan kulit (skin care cosmetic)

Jenis ini digunakan untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. termasuk di dalamnya:

a. Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser): sabun, cleansing cream, cleansing milk, dan penyegar kulit (freshener).

b. Kosmetik untuk melembabkan kulit (moisturizer), misalnya moisturizer cream, night cream, anti wrinkel cream.

c. Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen foundation, sun block cream/lotion.

d. Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling), misalnya scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai pengamplas (abrasiver).

2. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)

(5)

d. Berdasarkan bahan dan penggunaannya serta maksud evaluasi produk kosmetik dibagi menjadi 2 golongan (Ditjen POM, 1985):

1. Kosmetik golongan I adalah:

a. Kosmetik yang digunakan untuk bayi

b. Kosmetik yang digunakan di sekitar mata, rongga mulut dan mukosa lainnya

c. Kosmetik yang mengandung bahan dengan persyaratan kadar dan penandaan

d. Kosmetik yang mengandung bahan dan fungsinya belum lazim serta belum diketahui keamanan dan kemanfaatannya.

2. Kosmetik golongan II adalah kosmetik yang tidak termasuk ke dalam golongan I.

2. Bibir

Bibir merupakan kulit yang memiliki ciri tersendiri, karena lapisan jangatnya sangat tipis. Stratum germinativum tumbuh dengan kuat dan korium mendorong papila dengan aliran darah yang banyak tepat di bawah permukaan kulit. Pada kulit bibir tidak terdapat kelenjar keringat, tetapi pada permukaan kulit bibir sebelah dalam terdapat kelenjar liur, sehingga bibir akan nampak selalu basah. Sangat jarang terdapat kelenjar lemak pada bibir, menyebabkan bibir hampir bebas dari lemak, sehingga dalam cuaca yang dingin dan kering lapisan jangat akan cenderung mengering, pecah-pecah, yang memungkinkan zat yang melekat padanya mudah berpenetrasi ke statum germinativum.

(6)

Kosmetika rias bibir selain untuk merias bibir ternyata disertai juga dengan bahan untuk meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan yang merusak, misalnya sinar ultraviolet. Ada beberapa macam kosmetika rias bibir, yaitu lipstik, krim bibir (lip cream), pengkilap bibir (lip gloss), penggaris bibir (lip liner), dan lip sealer (Wasitaatmadja, 1997).

3. Lipstik

Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki. Suhu lebur lipstick yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36-38oC. Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca sekelilingnya, terutama suhu daerah tropik, suhu lebur lipstick dibuat lebih tinggi, yang dianggap lebih sesuai diatur pada suhu lebih kurang 62oC, biasanya berkisar antara 55-75oC (Ditjen POM, 1985).

Dari segi kualitas, lipstik harus memenuhi beberapa persyaratan berikut (Mitsui, 1977):

1. Tidak menyebabkan iritasi atau kerusakan pada bibir 2. Tidak memiliki rasa dan bau yang tidak menyenangkan

3. Polesan lembut dan tetap terlihat baik selama jangka waktu tertentu 4. Selama masa penyimpanan bentuk harus tetap utuh, tanpa kepatahan

dan perubahan wujud. 5. Tidak lengket.

6. Penampilan tetap menarik dan tidak ada perubahan warna.

Komponen utama dalam sediaan lipstik

Adapun komponen utama dalam sediaan lipstik terdiri dari minyak, lilin, lemak dan zat warna.

1. Minyak

(7)

yang sering digunakan antara lain minyak jarak, minyak mineral dan minyak nabati lain. Minyak jarak merupakan minyak nabati yang unik karena memiliki viskositas yang tinggi dan memiliki kemampuan melarutkan staining-dye dengan baik. Minyak jarak merupakan salah satu komponen penting dalam banyak lipstik modern. Viskositasnya yang tinggi adalah salah satu keuntungan dalam menunda pengendapan dari pigmen yang tidak larut pada saat pencetakan, sehingga dispersi pigmen benar benar merata (Balsam, 1972).

2. Lilin

Lilin digunakan untuk memberi struktur batang yang kuat pada lipstik dan menjaganya tetap padat walau dalam keadaan hangat. Campuran lilin yang ideal akan menjaga lipstik tetap padat setidaknya pada suhu 50°C dan mampu mengikat fase minyak agar tidak ke luar atau berkeringat, tetapi juga harus tetap lembut dan mudah dioleskan pada bibir dengan tekanan serendah mungkin. Lilin yang digunakan antara lain carnauba wax, candelilla wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil alkohol. Carnauba wax merupakan salah satu lilin alami yang yang sangat keras karena memiliki titik lebur yang tinggi yaitu 85°C. Biasa digunakan dalam jumlah kecil untuk meningkatkan titik lebur dan kekerasan lipstik (Balsam, 1972).

3. Lemak

(8)

4. Zat warna

Zat warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis yaitu staining dye dan pigmen. Staining dye merupakan zat warna yang larut atau terdispersi dalam basisnya, sedangkan pigmen merupakan zat warna yang tidak larut tetapi tersuspensi dalam basisnya. Kedua macam zat warna ini masing- masing memiliki arti tersendiri, tetapi dalam lipstik keduanya dicampurdengan komposisi sedemikian rupa untuk memperoleh warna yang diinginkan. Pigmen-pigmen yang diigunakan dalam lipstik dapat berupa lake dari barium atau kalsium, akan tetapi lake dari stronsium juga sering digunakan karena menghasilkan warna yang tahan lama dan jernih. Untuk menghasilkan warna yang agak pudar (muda), pigmen putih seperti titanium dioksida dan zink oksida harus ditambahkan (Balsam, 1972).

Zat tambahan dalam sediaan lipstik

Zat tambahan dalam lipstik adalah zat yang ditambahkan dalam formula lipstik untuk menghasilkan lipstik yang baik, yaitu dengan cara menutupi kekurangan yang ada tetapi dengan syarat zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi, stabil dan dapat bercampur dengan bahan-bahan lain dalam formula lipstik. Zat tambah yang digunakan yaitu antioksidan, pengawet dan parfum.

1. Antioksidan

Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak dan bahan tak jenuh lain yang rawan terhadap reaksi oksidasi. BHT, BHA dan vitamin E adalah antioksidan yang paling sering digunakan (Butler, 2000).

2. Pengawet

(9)

pengawet di dalam formula lipstik. Pengawet yang sering digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben (Butler, 2000). 3. Parfum

Parfum perlu ditambahkan dalam formula lipstik untuk menutupi bau dari minyak dan lilin yang terdapat dalam basis dan bau lain yang tidak enak yang timbul setelah lipstik digunakan atau disimpan. Parfum yang berasal dari minyak tumbuhan (bunga) adalah yang paling banyak digunakan (Balsam, 1972).

Kerusakan pada Lipstik

1. Sweating, merupakan keluarnya dari cairan permukaan lipstick yang disebabkan karena kadar minyak yang tinggi atau rendahnya kualitas campuran minyak dan lilin dalam formula.

2. Bleeding, terjadi pemisahan antara zat warna dengan basis lilin, sehingga menyebabkan zat warna tidak merata.

3. Blooming, disebut juga pemekaran pada ujung lipstick yaitu permukaan lipstick menjadi lebih tumpul dari yang diharapkan. Hal ini terjadi karena tingginya konsentrasi cetyl alcohol (>5%).

4. Streaking, terbentuknya sebuah garis tipis atau pita yang berbeda warna, atau substansi yang Nampak dipermukaan pada produk jadi. Hal ini terjadi karena pemisahan partikel yang tersuspensi.

5. Seams, ditandai dengan keretakan lipstick pada saat digunakan. Hal ini terjadi karena massa yang rapuh atau terjadi kesalahan pada saat teknik pendinginan.

6. Laddering, produk nampak berjenjang, tidak lembut dan tidak homogeny setelah dibekukan, Nampak adanya lapisan ganda. Kerusakan ini terjadi karena pada saat proses pencetakan dilakukan pada temperature rendah, atau sebagian formulasi tidak cukup panas, atau bias juga terjadi karena proses pengisian pada cetakan terlalu lambat.

(10)

8. Catering, stick membentuk lubang dimana penyebab utamanya adalah jumlah minyak silicon atau minyak lubrikasi yang terlalu sedikit.

9. Mushy failure, inti pusat stick tidak memiliki struktur dan patah. 4. Angkak

Angkak telah banyak digunakan di Negara-negara Asia terutama Cina, Jepang, Taiwan, Thailand dan Philipina kurang lebih 600 tahun yang lalu. Red-rice atau ang-kak (ang-khak, ankak, anka, ang-quac, beni-koji, aga-koji) digunakan untuk mewarnai makanan seperti pada ikan, keju Cina, dan untuk pembuatan anggur merah di negara-negara oriental (Timur) (Hidayat dan Saati, 2006).

Angkak merupakan produk hasil fermentasi dengan substrat beras yang menghasilkan warna merah karena aktivitas kapang Monascus purpureus sebagai metabolit sekunder. Sejak dulu angkak telah banyak digunakan sebagai pewarna makanan. Disamping itu angkak dapat pula digunakan untuk mengawetkan daging karena mempunyai sifat anti bakteri, mengobati penyakit asma, gangguan saluran cerna, mabuk laut dan luka memar dalam seni pengobatan Cina, meningkatkan intensitas warna merah pada pengolahan daging, serta untuk menambah aroma (Hidayat dan Saati, 2006).

Pigmen angkak banyak dihasilkan dari beberapa jenis kapang. Beberapa galur yang mampu memproduksi pigmen adalah Monascus purpureus, Monascus rubropunctatus, Monascus rubiginosus, Monascus major, Monascus barkari dan Monascus ruber yang menghasilkan pigmen warna merah. Dari berbagai macam galur tersebut yang paling umum digunakan adalah Monascus purpureus. Monascus purpureus juga disebut Monascus anka atau Monascus kaoliang. Pigmen merah merupakan salah satu warna yang menarik karena warna merah sangat populer pada pewarna makanan dan merupakan warna pigmen yang alami pada makanan (Hidayat dan Saati, 2006).

(11)

merah. Angkak sudah sejak lama digunakan sebagai bahan bumbu, pewarna dan obatkarena mengandung bahan bioaktif berkhasiat. Kapang menghasilkan pigmen yang tidak toksik dan tidak mengganggu sistem kekebalan tubuh (Fardiaz dan Zakaria, 1996).

Proses Pembuatan Angkak

Beras merupakan substrat terbaik untuk produksi pigmen. Keunggulan ini terutama karena komposisinya yang kompleks dan mungkin dapat menderepresi pembentukan pigmen, atau struktur mikroskopisnya yang baik untuk penetrasi hifa atau difusi pigmen. Produksi pigmen pada substrat padat dalam skala besar memerlukan banyak nampan (tempat fermentasi angkak). Penggunaan beras sebagai medium diawali dengan mencuci beras, setelah itu direndam dalam air selama satu hari dan kemudian ditiris. Beras yang lembab tersebut dipindahkan ke tempat gelas yang cukup baik untuk aerasi, kemudian diautoklaf selama 30 menit pada 121°C. Inokulasi dilakukan dengan menambahkan suspensi askospora yang diperoleh dari kultur yang berusia 25 hari pada medium sabaoraud. Beras dapat juga ditanak, setelah masak ditempatkan di nampan atau dulang, dan kemudian diinokulasi. Pada saat inokulasi, beras harus tampak kering dan tidak panas. Substrat yang terlalu lembek kurang baik. Beras yang telah diinokulasi tersebut diinkubasikan pada suhu terkontrol dan diaerasi selama 20 hari. Selama inkubasi, beras akan menjadi merah secara bertahap, digojog supaya merata dan perlu ditambah air steril untuk menjaga kelembaban, karena adanya air yang hilang selama inkubasi dapat menyebabkan beras menjadi terlalu kering. Setelah tiga minggu, beras akan tampak berwarna merah tua kecoklatan, dan beras tersebut tidak saling melekat. Setelah dikeringkan pada suhu 40°C, beras akan mudah dihancurkan sehingga menjadi serbuk (Lotong dan Suwanarit, 1990).

(12)

Monascus spp. termasuk pada kingdom fungi, divisi Ascomycetes dan bagian dari family Monascaceae. Termasuk pada klas Eurotiomycetidae, orde Incertae sedis dan genus Monascus. Genus Monascus dapat dibagi menjadi 4 spesies, antara lain: M. pilosus, M. purpureus, M. ruber and M. Froridanus (Sabater dkk, 1999).

Monascus purpureus Went termasuk spesies yang kosmopolit, dan telah diisolasi dari tanah, kentang yang matang, nasi, biji, kedelai, sorgum, tembakau, coklat, serta biji palem. Suhu pertumbuhan 18°- 40°C (Gandjar dan Samson, 1999).

Spesies ini menghasilkan pigmen merah, merah kecoklatan, dan merah agak jingga, serta memiliki arti ekonomi sebab pigmen-pigmen tersebut merupakan zat warna yang digunakan dalam industri pangan di daerah Asia termasuk Asia Tenggara (Gandjar dan Samson, 1999).

5. Preformulasi Lipstik 1. Cera alba

Dibuat dengan memutihkan malam yang diperoleh dari sarang lebah Apis melifera L. pemeriannya yaitu berupa zat padat, berwarna putih kekuningan, dan bau khas lemah. Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%), larut dalam kloroform, eter, minyak lemak, dan minyak atsiri. Suhu leburnya yaitu antara 62◦C hingga 64C. Khasiat umumnya digunakan sebagai zat tambahan (DitjenPOM, 1979).

2. Lanolin

(13)

3. Oleum ricini

Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan perasaan dingin biji Ricinus communis L. yang telah dikupas. Pemeriannya berupa cairan kental, jernih, kuning pucat atau hamper tidak berwarna, bau lemahm rasa manis dan agak pedas. Kelarutannya yaitu larut dalam 2,5 bagian etanol (90%). Mudah larut dalam etanol mutlak, dan dalam asam asetat glacial (Ditjen POM, 1979).

4. Carnauba wax

Merupakan fase lilin dan berperan pada kekerasan pewarna bibir. 5. Vaselin

Merupakan campuran hidrokarbon setengah padat yang telah diputihkan, diperoleh dari minyak mineral. Pemeriannya yaitu berupa masa lunak, lengket, bening, putih, sifat ini tetap walaupun zat telah dileburkan. Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) tetapi larut dalam kloroform dan eter. Suhu leburnya antara 38◦C-56C. Khasiat umumnya digunakan sebagai zat tambahan (Ditjen POM, 1979).

6. Cetyl alcohol

Pemeriannya yaitu berupa serpihan putih licin, granul, atau kubus, putih, bau khas lemah, dan rasa lemah. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air, larut dalam etanol dan dalam eter, kelarutannya bertambah dengan naiknya suhu. Suhu leburnya antara 45◦C dan 50C (Ditjen POM, 1995).

7. Oleum rosae

(14)

melebur. Kelarutannya yaitu larut dalam kloroform dan berat jenisnya antara 0,848-0,863 (Ditjen POM, 1979).

8. BHT

BHT merupakan antioksidan untuk sediaan lipstick, karena mengandung minyak yang mudah teroksidasi dan ditambah dengan mengandung adepslanae yang akan menimbulkan bau tengik. Jadi perlu penambahan antioksidan. Diguakan dalam sediaan lipstick untuk antioksidan.

9. Propil paraben

Digunakan sebagai pengawet karena kemungkinan terjadi kombinasi antara bibir dan lipstik yang memungkinkan terjadi pertumbuhan mikroorganisme.

10. Propilenglikol

Berupa cairan jernih, tidak berwarna dan praktis tidak berbau. Rasa agak manis dan stabil jika bercampur dengan gliserin, air, dengan alcohol. Propilenglikol sangat luas digunakan sebagai kosmetika sebagai pelarut. Dalam kosmetik propilenglikol berfungsi sebagai humektan (Barel,A.O., Paye, M., dan Maibach, H.I., 2009).

6. Formulasi Lipstik

KOMPOSISI PERSENTASE

(%)

Cera alba 10

Oleum ricini 42,88

Canauba wax 10

Cetyl alcohol 3

Oleum rosae 1

Serbuk Angkak 25,2

BHT 0,02

Propilenglikol 5

Propil paraben 0,1

Vaselin 2,8

(15)

1. Nipasol dilarutkan dalam propilenglikol. Ditambahkan serbuk angkak diaduk hingga homogen (Massa A).

2. Butil hidroksitoluen dilarutkan dalam oleum ricini (Massa B), 3. Dicampurkan Massa A dan Massa B hingga diperoleh campuran 1. 4. Dibuat campuran 2 yang berisi cera alba, carnauba wax, cetil alkohol,

vaselin, ditimbang dan masukkan dalam cawan penguap, kemudian dilebur di atas penangas air.

5. Campuran 1 dan campuran 2 dicampurkan, setelah suhu turun ditambahkan parfum, aduk hingga homogen.

6. Cetak selagi cair, dikeluarkan dari cetakan dan dimasukkan dalam wadah (roll up).

8. Uji kestabilan fisik sediaan meliputi pengamatan perubahan bentuk, warna, dan bau dari sediaan.

1. Pengamatan terhadap adanya perubahan bentuk, warna, dan bau dari sediaan pewarna bibir dilakukan terhadap masing-masing sediaan dari tiap formula selama penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke 1, 5, 10 dan selanjutnya setiap 5 hari hingga hari ke 35.

2. Pemeriksaan Titik Lebur

Metode pengamatan titik lebur lipstik yang digunakan dalam penelitian adalah dengan cara memasukkan lipstick dalam oven dengan suhu awal 50°C selama 15 menit, diamati apakah melebur atau tidak, setelah itu suhu dinaikkan 1°C setiap 15 menit dan diamati pada suhu berapa lipstik mulai melebur.

3. Pemeriksaan Breaking Point

Sediaan lipstik diletakkan pada posisi horizontal dengan jarak kira-kira ½ inci dari tepi sediaan lipstik, kemudian diberikan beban yang berfungsi sebagai pemberat. Berat beban ditambahkan secara berangsurangsur dengan nilai yang spesifik 10 g setiap interval waktu 30 detik. Berat dimana lipstik patah merupakan nilai breaking point (Lauffer, 1985).

(16)

Diamati masing-masing sediaan yaitu ada tidaknya perubahan bentuk, warna dan bau dari sediaan lipstick selama penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke 1, 5, 10 dan selanjutnya setiap 5 hari hingga hari ke-30 (Vishwakarma, et al., 2011).

5. Uji Oles Sediaan Lipstik (Pemeriksaan Pelepasan Zat Warna)

Uji oles dilakukan secara visual dengan cara mengoleskan lipstik pada bibir kemudian mengamati banyaknya warna yang menempel pada tekanan tertentu seperti biasanya kita menggunakan lipstik. Pemeriksaan dilakukan terhadap masing-masing sediaan yang dibuat dan dioleskan pada bibir dengan 5 kali pengolesan (Keithler, 1956). 6. Penentuan pH Sediaan Lipstik

Penentuan pH menggunakan alat pH meter. Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar standar netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan aquadest, lalu dikeringkan dengan tisu. Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 g sediaan dan dilarutkan dalam 100 ml aquadest. Kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan lipstik (Rawlins, 2003).

7. Uji Iritasi

(17)

iritasi yaitu wanita, usia antara 20-30 tahun, berbadan sehat jasmani dan rohani, tidak memiliki riwayat penyakit alergi, menyatakan kesediaannya dijadikan panelis uji iritasi.

8. Uji Kesukaan

Uji ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap sediaan lipstik yang dibuat. Uji kesukaan ini dilakukan secara visual terhadap 30 orang panelis dengan kriteria yang digunakan adalah berbadan sehat, tidak dalam keadaan tertekan, mempunyai pengetahuan dan pengalaman tentang cara-cara penilaian organoleptik. Setiap panelis diminta untuk mengoleskan lipstik yang dibuat dengan berbagai konsentrasi ekstrak bunga kecombrang pada kulit punggung tangan. Kemudian panelis mengisi kuisioner yang telah diberikan dan menuliskan angka 9 bila amat sangat suka, 8 bila sangat suka, 7 bila suka, 6 bila agak suka, 5 bila netral, 4 bila agak tidak suka, 3 bila tidak suka, 2 bila sangat tidak suka, dan 1 bila amat sangat tidak suka (Badan Standar Nasional, 2006).

(18)

Badan Standar Nasional. (2006). Petunjuk Pengujian Organoleptik dan atau Sensori. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/654476 18/SNI-01-2346-2006 pada 6 Oktober 2012.

Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 33.

Ditjen POM. (1985). Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 83-86, 195-197.

Heyne, K. (1987). Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid I. Jakarta: Yayasan

Sarana Wana Jaya. Hal. 586-587. Keithler, W. (1956). Formulation of Cosmetic and Cosmetic Specialities. New York: Drug and Cosmetic Industry. Hal. 153-155.

Krismawati, A. (2007). Uji Toksisitas Beberapa Jenis Tanaman Indonesia Yang Dipercaya Dapat Menurunkan Berat Badan (Ceremai, Jati Belanda, Kunci Pepet, Delima Putih, Bangle, Kemuning) Terhadap Proliferasi Sel limfosit Manusia Secara In Vitro. Skripsi. Bogor: IPB.

Lauffer, G.I.P. (1985). Lipstick. Dalam: Cosmetic Science And Technology. Vol. I. Edisi Kedua. Editor: Balsam M.S. Sagarin. New-York: Wiley- Interscience. Hal. 209.

Rawlins, E.A. (2003). Bentley’s Textbook of Pharmaceutics. Edisi Kedelapan belas. London: Bailierre Tindall. Hal. 355.

Soedarsono. (1994). Revisi Marga Nicolaia (Zingiberaceae). Disertasi. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Tang, C. (1991). Phenolic Compounds in Food. Dalam: Phenolic Compounds in Food and Their Effects on Health. Editor: Chi- Tang, Chang Y. Lee, dan Mou-Tuan Huang. American Chemical Society, Washington D.C. Hal. 2.

Vishwakarma, B., Sumeet, D., Kushagra, D., dan Hemant, J. (2011). Formulation And Evaluation of Herbal Lipstick. International Journal of Drug Discovery & Herbal Research. 1 (1): 18-19.

Zaidi, E., (2012). Bunga Kantan Paya Rumput. Diunduh dari http://kampungsisiklantai.blogspot. com/bungakantan.html pada tanggal 18 September 2012

(19)

Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar

MODUL

LIPSTIK MENGGUNAKAN ZAT WARNA DARI TANAMAN ANGKAK (Monascus purpureus)

OLEH

Nama

: Martha Rivana

Nim

: 13 01 321

Kelas

: Transfer A

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI

MAKASSAR

Referensi

Dokumen terkait

“Kosmetika adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan padaa. bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ

Kosmetik menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.445/MenKes/1998 adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku,

Kosmetik menurut Peraturan Menteri kesehatan RI No.445/MenKes/1998 adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku,

Kosmetik menurut Peraturan Menteri kesehatan RI No.445/MenKes/1998 adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku,

Kosmetik menurut Peraturan Menteri kesehatan RI No.445/MenKes/1998 adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku,

445 / MenKes / Permenkes/ 1998 adalah sebagai berikut:“Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan epidermis, rambut, kuku, bibir, dan

Kemudaian menurut Permenkes RI Tahun 2010, Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan kuku,epidermis, bibir, rambut dan organ kelamin

Keracunan Kosmetik Kosmetik: bahan atau sediaan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian luar atau gigi dan membran