2
KAJIAN ARAHAN RENCANA POLA RUANG BERBASIS
MITIGASI BENCANA KAWASAN PESISIR SEMARANG BARAT
KOTA SEMARANG
(Tugas Mata Kuliah Mitigasi Bencana )
Dikumpulkan 23 Desember 2014
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. rer. nat. Imam Buchori, ST
Anang Wahyu Sejati, ST, MT
Disusun oleh
Muharar Ramadhan
(21040111130083)
Maulana Felik V. K
(21040111130031)
Hanandi Prabowo
(21040111130117)
Tia Adelia S
(21040111130035)
JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
3 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rob dan banjir masih menjadi ancaman bagi warga Kota Semarang, khususnya di wilayah bawah. Website Semarang Kota menyebutkan, di beberapa wilayah, ancaman banjir dan rob selalu datang hampir tiap tahun. Beberapa wilayah yang dimaksud diantaranya adalah Kecamatan Tugu, Wilayah Studi, Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Semarang Timur, Pedurungan, Gayamsari dan Kecamatan Genuk. Rob di Semarang berdasarkan hasil studi lebih disebabkan oleh penurunan tanah yang terjadi setiap tahunnya yang rata-rata 5-9 cm per tahun di Semarang bagian bawah, bukan karena kenaikan air laut (www.Bintari.org). Sebagai contoh dari fenomena penurunan muka tanah ini adalah diketahui bahwa ketinggian rata-rata di wilayah Kota Lama berkisar antara 0,5–1 m di atas permukaan air laut dengan kelerengan yang sangat kecil yaitu 0-2 %. Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi di Kawasan Kota Lama secara umum relatif datar. Dan selalu mengalami penurunan tanah/land subsidence sebesar 8-9 cm/tahun (Bappeda Kota Semarang, 2006).
Pakar Hidrologi Undip, Nelwan menuturkan, upaya pemerintah untuk mengatasi genangan banjir di Kota Semarang dirasa belum optimal. Artinya, rencana untuk membuat saluran baru memang suatu yang perlu didukung, misalnya mengalirkan air hujan untuk ditampung di kolam retensi kemudian dibawa ke laut. Akan tetapi, fungsi rumah pompa harus mutlak dimaksimalkan. Kondisi ini karena penyebab banjir itu tidak semata masalah drainase, tetapi juga muka tanah di Semarang sudah berada di bawah air pasang laut.
Perumusan Masalah
Wilayah Studi merupakan salah satu kecamatan yang terdampak bencana banjir dan rob yang terjadi di Kawasan Pesisir Kota Semarang. Dengan demikian, kemungkinan Wilayah Studi dalam mengalami kerentanan fisik tergolong tinggi.
4 Tujuan dan Sasaran
Tujuan
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk memberikan rekomendasi mitigasi yang tepat dalam rangka membantu mengurangi resiko kerentanan fisik yang terjadi di kawasan pesisir Kota Semarang, khususnya Wilayah Studi.
Sasaran
Dalam mencapai tujuan dari penyusunan laporan maka sasaran yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Mengidentifikasi kondisi fisik dan non fisik Wilayah Studi;
5 Kerangka Pikir
Gambar 1 Kerangka Pikir
Perubahan Iklim Penurunan Muka Tanah Perubahan TGL
Bencana banjir, rob, dan abrasi
UU no 24/2007
Penataan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana
Bagaimana arahan penataan ruang berbasis mitigasi bencana di Wilayah Studi?
6
Bencana alam yang terjadi tidak bisa diprediksi kapan datangnya, karena itu datangnya tiba-tiba. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan adalah bagaimana kita berusaha untuk dapat mengurangi dampak-dampak yang terjadi akibat datangnya bencana alam serta seberapa jauh kesiapan kita dalam menghadapi bencana alam yang akan terjadi. Mitigasi merupakan dasar managemen situasi darurat, meliputi segala tindakan untuk mencegah bahaya, mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya dan mengurangi daya rusak suatu bahaya yang tidak dapat dihindarkan.
Mitigasi bencana merupakan kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana untuk mengurangi dampak merugikan yang ditimbulkan oleh suatu bencana. seperti mencegah kehilangan jiwa, mengurangi penderitaan manusia, memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko, serta mengurangikerusakan infrastruktur utama, harta benda dan kehilangan
7 sumber ekonomis. Dalam bukunya, Randlolph mengungkapkan bahwasanya mitigasi bencana merupakan usaha jangka panjang dalam mengurangi dampak dari suatu kejadian bencana (Randlolph, 2004).
Sedangkan menurut kodoatie, mitigasi adalah tindakan-tindakan untuk mereduksi dampak bencana, baik dampak ke komunitas yaitu jiwa danharta maupun dampak ke infrastruktur atau apabila dikaitkan dengan waktunya, mitigasi merupakan tindakan preventiv (Kodoatie, 2006: 143).
Mitigasi berhubungan dengan banyak aspek dari perencanaan dan manajemen lingkungan. Dalam mitigasi bencana terdapat hirarki dari strategi mitigasi dampak lingkungan (Randlolph, 2004) yaitu:
1. Menghindari dampak
2. Mengurangi dampak dengan memodifikasi lokasi (berpindah pada kawasan dengan dampak yang lebih sedikit)
3. Mengurangi dampak dengan memodifikasi desain 4. Mengganti kerugian akibat bencana
Mitigasi bencana dapat dikelompokkan berdasarkan waktu datangnya ancaman bencana, yaitu pra-bencana, tanggap darurat dan pasca bencana.
1. Pra-bencana yaitu tindakan mitigasi yang dilakukan sebelum bencana itu datang. Adapun tindakan yang perlu dilakukan mencakup kegiatan pencegahan, kesiapsiagaan, serta peringatan dini.
2. Saat terjadi bencana/tanggap darurat: mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan korban sementara, seperti kegiatan search and rescue (SAR), bantuan darurat dan evakuasi/pengungsian. Tindakan evakuasi dilakukan untuk menghindarkan para korban bencana dari dampak yang lebih buruk.
3. Pasca bencana: mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi. Kegiatan pada tahap pasca bencana, terjadi proses perbaikan kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan memfungsikan kembali infrastruktur penunjang masyarakat. Pada tahap ini yang perlu diperhatikan adalah bahwa rehabilitasi dan rekonstruksi yang akan dilaksanakan harus memenuhi kaidah-kaidah kebencanaan serta tidak hanya melakukan rehabilitasi fisik saja, tetapi juga perlu diperhatikan juga rehabilitasi psikis yang terjadi seperti ketakutan, trauma atau depresi.
Langkah penting dalam tindakan mitigasi tersebut meliputi: 1) penilaian bahaya (hazard
assessment), 2) peringatan (warning) dan 3) persiapan (preparedness). Unsur kunci Iainnya
8 Pengertian Kerentanan
Kerentanan (vulnerability) merupakan suatu kondisi dari suatu komunitas atau masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bahaya. Tingkat kerentanan adalah suatu hal penting untuk diketahui sebagai salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap terjadinya bencana, karena bencana baru akan terjadi bila „bahaya‟ terjadi pada „kondisi yang rentan‟, seperti yang dikemukakan Awotona (1997:1-2):
“…... Natural disasters are the interaction between natural hazards and vulnerable
condition”. Tingkat kerentanan dapat ditinjau dari kerentanan fisik (infrastruktur), sosial
kependudukan, dan ekonomi. Kerentanan fisik (infrastruktur) menggambarkan suatu kondisi fisik (infrastruktur) yang rawan terhadap faktor bahaya (hazard) tertentu.
Kondisi kerentanan ini dapat dilihat dari berbagai indikator sebagai berikut : persentase kawasan terbangun; kepadatan bangunan; persentase bangunan konstruksi darurat; jaringan listrik; rasio panjang jalan; jaringan telekomunikasi; jaringan PDAM; dan jalan KA. Wilayah permukiman di Indonesia dapat dikatakan berada pada kondisi yang sangat rentan karena persentase kawasan terbangun, kepadatan bangunan dan bangunan konstruksi darurat di perkotaan sangat tinggi sedangkan persentase, jaringan listrik, rasio panjang jalan, jaringan telekomunikasi, jaringan PDAM, jalan KA sangat rendah. Kerentanan sosial menggambarkan kondisi tingkat kerapuhan sosial dalam menghadapi bahaya (hazards).
9 GAMBARAN UMUM
Wilayah Studi
Gambar 3
Peta Administrasi Wilayah Studi
10 Kondisi Fisik
Jaringan Jalan
Gambar 3
Peta Jaringan Jalan Wilayah Studi
Berdasarkan peta jaringan jalan pada wilayah studi diketahui bahwa terdapat jalan jenis arteri primer, arteri sekunder, kolektor primer, kolektor sekunder, dan jalan lokal. Berikut adalah total panjang jalan yang terdapat di Kecamatan Tugu dan Semarang barat.
Tabel 1
Panjang Jalan di Wilayah studi
Kelas Jalan Panjang (m) Arteri Primer 6521,883 Arteri Sekunder 11117,533 Kolektor Primer 3403,697 Kolektor
Sekunder 33354,087
11
Topografi
Gambar 4
Peta Topografi Wilayah Studi
Kondisi topografi yang ada di wilayah studi adalah kategori datar hingga curam. Topografi dengan kemiringan lereng 0-2% termasuk kategori datar. Kemiringan lereng 2-15% termasuk kategori landai. Kemiringan lereng 15-20% termasuk kategori agak curam, dan kemirngan lereng 25-40% termasuk kategori curam. Sebagian besar wilayah studi merupakan daerah dengan topografi datar. Dominasi kelerengan adalah. Topografi curam hanya terdapat di bagian selatan wilayah studi. Berikut adalah tabel luasan topografi tersebut.
Tabel 2
12
Curah hujan
Gambar 6
Peta Curah Hujan Wilayah Studi
13
Jenis Tanah
Gambar 7
Peta Jenis Tanah Wilayah Studi
Jenis tanah yang ada di wilayah studi terdiri dari 3 jenis, yaitu Aluvial, Asosiasi aluvial kelabu, dan Mediteran coklat tua. Jenis tanah aluvial berada di sepanjang bagian utara wilayah studi. Sedangkan sebagian kecil semarang barat memiliki jenis tanah Medirean coklat tua. Berikut adalah tabel luasan jenis tanah tersebut
Tabel 3
Jenis tanah di Wilayah studi Jenis Tanah Luas (m2)
Aluvial 31620974
14
Tataguna Lahan
Gambar 8
Peta Tata Guna Lahan Wilayah Studi
Penggunaan lahan di wilayah studi terdiri dari permukiman, tambak, tanah kosong, sawah, tegalan, akomodasi dan rekreasi, bandar udara, dll. Sebagian besar kelurahan di kecamatan tugu meripakan daerah tambak dan sawah. Sedangkan mayoritas penggunaan lahan di Semarang barat merupakan permukiman. Berikut adalah tabel luasan penggunaan lahan di wilayah studi.
Tabel 4
Penggunaan lahan di Wilayah studi
TGL Luas (m2)
Akomodasi dan Rekreasi 312365
Bandar Udara 1103723
Industri 1886785
Jasa Pemerintah 169770
Jasa Pendidikan 19692
Kebun Campur 683808
Kuburan 46044
Pemukiman 18232492
15
Bencana banjir yang melanda Indonesia merupakan salah satu bencana yang intensitasnya paling tinggi dan menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.Kejadian bencana banjir hampir setiap tahun terjadi terutama pada saat musim penghujan.Banyaknya sungai besar yang tersebar di pulau-pulau di Indonesia menyebabkan semakin luas pula dataran banjir yang rentan mengalami dampak banjir.Sayangnya kondisi tersebut jugadiimbangi dengan semakin tingginya jumlah penduduk Indonesia yang mendiami dataran banjir.
Bencana banjir yang terjadi selalu menimbulkan kerugian, baik materiil maupun korban jiwa.Dampak yang muncul pasca banjir pun selalu merisaukan masyarakat, seperti timbulnya penyakit, kelaparan dan kemerosotan kesejahteraan. Bagi daerah terpencil, bencana banjir yang melanda menjadi suatu musibah yang sangat menakutkan, karena bisa saja wilayahnya menjadi terisolir dan akan sulit menerima bantuan.
Bencana banjir bagi transportasi juga menjadi masalah tersendiri.Air yang menggenangi jalan menjadi penghambat perjalanan. Jika melihatlebih luas, bahwa transportasi menjadi salah satu faktor dari pertumbuhan suatu kota. Oleh karena itu bencana banjir juga menjadi faktor penghambat pertumbuhan kota.
Wilayah Studi merupakan salah satu wilayah yang berada di dataran banjir.Wilayah Studi adalah pusat pemerintahan yang mempunyai ketinggian dataran 3 meter dari permukaan air laut dengan luas daerah keseluruhan 1.965.465 Ha yang terbagi dalam 16 kelurahan yaitu : Ngemplak Simongan, Bongsari, Kalibanteng Kulon, Kalibanteng Kidul, Gisik Drono, Bojong Salaman, Karang Ayu, Krobokan, Krapyak, Manyaran, Cabean, Tawang Mas, Tawang Sari, Tambak Harjo, Kebangarum, Salaman Mloyo.
Wilayah Studi adalah sebuah kecamatan di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.Wilayah Studi terletak antara 06° 57‟ 18” –07° 00‟ 54” Lintang Selatan dan 110° 20‟
16 Potensi banjir di Kota Semarang sebagian besar berada di daerah pesisir/pantai dan daerah sempadan sungai, berdasarkan aspek penyebabnya, jenis banjir yang ada dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu: banjir limpasan sungai/banjir kiriman; banjir lokal; dan banjir pasang (rob).
Banjir pasang (rob) ini terjadi karena pasang air laut yang relatif lebih tinggi daripada ketinggian permukaan tanah di suatu kawasan. Biasanya terjadi pada kawasan di sekitar pantai. Penurunan tanah disebabkan empat hal, yaitu eksploitasi air tanah berlebihan, proses pemampatan lapisan sedimen (yang terdiri dari batuan muda) ditambah pembebanan tinggi oleh bangunan di atasnya serta pengaruh gaya tektonik. Dampak penurunan tanah dapat dilihat adanya luasan genangan rob yang semakin besar.
Pada kawasan pantai Kota Semarang sering terjadi banjir akibat dari pasang surut air laut, yang terkenal dengan banjir rob. Banjir rob adalah genangan air pada bagian daratan pantai yang terjadi pada saat air laut pasang. Banjir rob menggenangi bagian daratan pantai atau tempat yang lebih rendah dari muka air laut pasang tinggi (high water level). Beberapa literatur mengulas bahwa fenomena banjir rob kawasan pantai Semarang merupakan akibat dari beberapa peristiwa berikut :
Perubahan penggunaan lahan di wilayah pantai: lahan tambak, rawa dan sawah, yang
dulu secara alami dapat menampung pasang air laut telah berubah menjadi lahan pemukiman, kawasan industri dan pemanfaatan lainnya, dengan cara mengurug tambak, rawa dan sawah, sehingga air laut tidak tertampung lagi, kemudian menggenangi kawasan yang lebih rendah lainnya. Dari sekitar 790,5 Ha lahan di Kecamatan Semarang Utara sudah tidak ada lahan tambak, dan dari sekitar 585 Ha lahan total di Wilayah Studi hanya terdapat sekitar 126,5 Ha lahan tambak (Bappeda, 2000)
Penurunan tanah di kawasan pantai (land subsidence). Penurunan muka tanah pada
wilayah pantai Kota Semarang berkisar antara 2-25 cm/tahun. Khusus di wilayah Kelurahan Bandarharjo, Tanjung Mas dan sebagian kelurahan Terboyo Kulon emncapai 20 cm/tahun (Dit. Geologi dan tata Lingkungan, 1999)
Penurunan permukaan air tanah sebagai akibat dari penggunaan air tanah yang
berlebihan, dan recharge air tanah pada kawasan konservasi yang buruk. Pengambilan air tanah Kota Semarang sebesar 35,639 x 106 M6/tahun (Dit. Geologi dan Tata Lingkungan, 1998)
Kenaikan muka air laut (sea level rise) sebagai efek pemanasan global. Antara tahun
17 (Intergovernmental Panel on Climate Change-IPCC-Working Group 2, 2001)dengan tingkat kepadatan penduduk dan bangunan tinggi, ditambah lagi wilayah ini memiliki jaringan jalan yang rumit. Letaknyayang berada dibagian hilir Das Kaligarangmenjadikan wilayah ini rawan bencana banjir.
Tabel 5
Luas Gerakan Tanah Dalam Lingkup Kecamatan di Kota Semarang
No. Kecamatan
10 Tembalang 187,077 1,427,241 646,890 1,258,697
11 Banyumanik - 538,225 530,112 1,389,390
Sumber : Hasil Pengukuran Peta Gerakan Tanah Kota Semarang, 2009
Tabel 6
Luasan Amblesan Tanah Lingkup Kecamatan Semarang
NO KECAMATAN TINGKAT AMBLESAN (Cm/ Tahun)
0 - 2 2 - 4 4 - 6 6 - 8 > 8 1 Gayamsari 166,885 106,153 126,628 25,563 9,039
2 Genuk 483,623 504,301 445,543 103,260 544,072
3 Pedurungan 261,180 91,401 408,065
18
Sumber : Hasil Pengkuran Peta Amblesan Tanah Kota Semarang, 2009
Tabel 7
Luasan Daerah Rawan Banjir Tiap Kelurahan di Kota Semarang
NO KECAMATAN PERIMETER
(m2) LUASAN (Ha)
1 Tugu 58.593,618 725,983
2 Wilayah Studi 8.946,825 77,599
3 Semarang Tengah 30.243,580 245,091
4 Semarang Selatan 47.213,707 541544
5 Pedurungan 15.092,173 232,454
6 Genuk 71.784,943 1,445,910
7 Ngaliyan 16.779,297 132,625
8 Semarang Timur 18.482,291 221,605
9 Candisari 1.714,102 6,500
10 Gayamsari 16.168,348 233,898
11 Mijen 6.668,759 49,102
12 Banyumanik 2.049,185 21,939
13 Tembalang 11.946,004 106,673
19 Gambar 9
Peta Kawasan Banjir Kota Semarang
Kebijakan Perencanaan Mitigasi Bencana
Kebijakan
Berbagai kebijakan yang perlu ditempuh dalam mitigasi bencana antara lain:
a. Dalam setiap upaya mitigasi bencana perlu membangun persepsi yang sama bagi semua pihak baik jajaran aparat pemerintah maupun segenap unsur masyarakat yang ketentuan langkahnya diatur dalam pedoman umum, petunjuk pelaksanaan dan prosedur tetap yang dikeluarkan oleh instansi yang bersangkutan sesuai dengan bidang tugas unit masing-masing.
b. Pelaksanaan mitigasi bencana dilaksanakan secara terpadu terkoordinir yang melibatkan seluruh potensi pemerintah dan masyarakat.
c. Upaya preventif harus diutamakan agar kerusakan dan korban jiwa dapat diminirnalkan.
20
Strategi
Untuk melaksanakan kebijakan dikembangkan beberapa strategi sebagai berikut: a. Pemetaan.
Langkah pertama dalam strategi mitigasi ialah melakukan pemetaandaerah rawan bencana. Pada saat ini berbagai sektor telah mengembangkan peta rawan bencana. Peta rawan bencana tersebut sangat berguna bagi pengambil eputusan terutarna dalam antisipasi kejadian bencana alam. Meskipun demikian sampai saat ini penggunaan peta ini belum dioptimalkan. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah :
1. Belum seluruh wilayah di Indonesia telah dipetakan 2. Peta yang dihasilkan belum tersosialisasi dengan baik 3. Peta bencana belum terintegrasi
4. Peta bencana yang dibuat memakai peta dasar yang berbeda beda sehingga menyulitkan dalam proses integrasinya.
b. Pemantauan.
Dengan mengetahui tingkat kerawanan secara dini, maka dapat dilakukan antisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana, sehingga akan dengan mudah melakukan penyelamatan. Pemantauan di daerah vital dan strategic secara jasa dan ekonomi dilakukan di beberapa kawasan rawan bencana.
c. Penyebaran informasi
Penyebaran informasi dilakukan antara lain dengan cars: memberikan poster dan leaflet kepada Pemerintah Kabupaten/Kota dan Propinsi seluruh Indonesia yang rawan bencana, tentang tata cara mengenali, mencegah dan penanganan bencana. Memberikan informasi ke media cetak dan etektronik tentang kebencanaan adalah salah satu cara penyebaran informasi dengan tujuan meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana geologi di suatu kawasan tertentu. Koordinasi pemerintah daerah dalam hal penyebaran informasi diperlukan mengingat Indonesia sangat luas.
d. Sosialisasi dan Penyuluhan
Sosialisasi dan penyuluhan tentang segala aspek kebencanaan kepada SATKOR-LAK PB, SATSATKOR-LAK PB, dan masyarakat bertujuan meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan menghadapi bencana jika sewaktu-waktu terjadi. Hal penting yang perlu diketahui masyarakat dan Pernenntah Daerah ialah mengenai hidup harmonis dengan alam di daerahbencana, apa yang perlu ditakukan dan dihindarkan di daerah rawan bencana, dan mengetahui cara menyelamatkan diri jika terjadi bencana.
21 Pelatihan difokuskan kepada tata cara pengungsian dan penyelamatan jika terjadi bencana. Tujuan latihan lebrh ditekankan pada alur informasi dan petugas lapangan, pejabat teknis, SATKORLAK PB, SATLAK PB dan masyarakat sampai ke tingkat pengungsian dan penyelamatan korban bencana. Denganpelatihan ini terbentuk kesiagaan tinggi menghadapi bencana akan terbentuk.
f. Peringatan Dini
Peringatan dini dimaksudkan untuk memberitahukan tingkat kegiatan basil pengamatan secara kontinyu di suatu daerah rawan dengan tujuan agar persiapan secara dini dapat dilakukan guna mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana. Peringatan dini tersebut disosialisasikan kepada masyarakat melalui pemerintah daerah dengan tujuan memberikan kesadaran masyarakat dalam menghindarkan diri dari bencana. Peringatan dini dan basil pemantauan daerah rawan bencana berupa saran teknis dapat berupa antana lain pengalihan jalur jalan (sementara atau seterusnya), pengungsian dan atau relokasi, dan saran penanganan lainnya.
Secara lebih rinci upaya pengurangan bencana banjir antara lain:
a. Pengawasan penggunaan lahan dan perencanaan lokasi untuk menempatkan fasilitas vital yang rentan terhadap banjir pada daerah yang aman.
b. Penyesuaian desain bangunan di daerah banjir harus tahan terhadap banjir dan dibuat bertingkat.
c. Pembangunan infrastruktur harus kedap air.
d. Pembangunan tembok penahan dan tanggul disepanjang sungai, tembok laut sepanjang pantai yang rawan badai atau tsunami akan sangat membantu untuk mengurangi bencana banjir.
e. Pengaturan kecepatan aliran air permukaan dan daerah hulu sangat membantu mengurangi terjadinya bencana banjir. Beberapa upaya yang perlu dilakukan untuk mengatur kecepatan air masuk kedalam sistem pengaliran diantaranya adalah dengan pembangunan bendungan/ waduk, reboisasi dan pembangunan sistem peresapan.
22 i. Pembersihan sedimen.
j. Pembangunan pembuatan saluran drainase.
k. Peningkatan kewaspadaan di daerah dataran banjir.
l. Desain bangunan rumah tahan banjir (material tahan air, fondasi kuat). m. Pelatihan pertanian yang sesuai dengan kondisi daerah banjir.
n. Meningkatkan kewaspadaan terhadap penggundulan hutan.
o. Pelatihan tentang kewaspadaan banjir seperti cara penyimpanan/ pergudangan perbekalan, tempat istirahat/tidur di tempat yang aman (daerah yang tinggi). p. Persiapan evakuasi bencana banjir seperti perahu dan alat-alat penyelamatan
lainnya.
ANALISIS KERAWANAN BENCANA Analisis Rawan Bencana Banjir
23 Peta di atas menunjukkan adanya kerawanan banjir di beberapa bagian wilayah studi. Meskipun luasan daerah rawan banjir yang ada tidak sama, akan tetapi jika melihat daripersebarannya hampir seluruh keluarahan di Kecamatan Tugu dan Semarang Barat rawan terhadap bencana banjir. Kawasan rawan banjir ini didapatkan dari peraturan daerah kota Semarang no 14 tahun 2012.
Tabel 8
Luas daerah genangan banjir di wilayah studi
KELURAHAN
Bojong Salaman 53,79449103 14,61662706 27%
Cabean 29,03001322 29,03000894 100%
Gisikdrono 113,7337681 32,85946397 29%
Jerakah 143,3423387 10,81745413 8%
Kalibanteng Kidul 44,38171577 1,501589629 3% Kalibanteng Kulon 98,22399633 66,70004637 68%
Karang Anyar 470,9446809 80,01382105 17%
Karang Ayu 65,67933161 65,67933161 100%
Kembang Arum 189,9873621 50,19892233 26%
Krapyak 98,15604443 13,4725653 14%
Krobokan 87,23885458 87,23884261 100%
Mangkang Kulon 541,6547112 228,5161143 42% Mangkang Wetan 409,0571311 82,22566188 20%
Mangunharjo 489,1630754 46,40442731 9%
Randugarut 485,4873276 56,2638763 12%
Salaman Mloyo 46,94154051 22,57745627 48%
Tambakharjo 534,1605399 446,0762308 84%
Tawangmas 124,0308087 124,0304401 100%
Tawangsari 362,3696905 266,215074 73%
24 Analisis Rawan Bencana Abrasi
Berdasarkan hasil dari analisis peta kerawanan abrasi yang terjadi di wilayah studi, maka dapat diketahui bahwa tingkat kerawanan yang ada terdiri dari 2 jenis, yaitu sedang dan tinggi. Tingkat kerawanan tinggi berada di bagian paling utara dari wilayah studi. Hal ini sangat dimungkinkan terjadi mengingat letak yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Sementara itu untuk tingkat kerawanan sedang berda di bagian selatan daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Tingkat kerawanan pada daerah tersebut lebih kecil karena lokasinya yang tidak berbatasan langsung dengan Laut Jawa.
25 Analisis Kerentanan fisik
Analisis Kerentanan Kepadatan
Bangunan
Gambar 12
Peta Kerentanan Kepadatan Bangunan
26
Analisis kerentanan jaringan jalan
Gambar 13
Peta Kerentanan Jaringan Jalan
27
Analisis kerentanan fasilitas umum
Gambar 14
Peta Kerentanan Fasilitas Umum
28
Analisis Kerentanan Fisik
Gambar 15 Peta Kerentanan Fisik
29
Analisis risiko banjir
Gambar 16 Peta Risiko Banjir
Peta resiko banjir didapatkan dari hasil overlay kerentanan fisik dengan kerawanan banjir. Tingkat resiko banjir yang ada di wilayah studi terbagi menjadi 3, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Resiko banjir tinggi terdapat di 1 daerah yaitu sebagian wilayah kelurahan Gisikdrono. Kemudian untuk daerah beresiko sedang terdapat di 3 kelurahan yaitu sebagian Karangayu, Kalibanteng kulon, dan Kembangarum. Sementara untuk daerah lainnya memiliki tingkat resiko rendah. Berikut adalah tabel luasan daerah yang termasuk beresiko banjir.
Tabel 9
Luasan resiko banjir wilayah studi
KELURAHAN RESIKO BANJIR Luas (Ha)
Bojong Salaman Rendah 14,61663
Cabean Rendah 29,03001
Gisikdrono Tinggi 32,85946
Jerakah Rendah 10,81745
Kalibanteng Kidul Rendah 1,501589
Kalibanteng Kulon Sedang 66,70005
30
KELURAHAN RESIKO BANJIR Luas (Ha)
Karang Ayu Sedang 65,67933
Kembang Arum Sedang 50,19892
Krapyak Rendah 13,47257
Krobokan Rendah 87,23885
Mangkang Kulon Rendah 228,5161
Mangkang Wetan Rendah 82,22566
Mangunharjo Rendah 46,40443
Randugarut Rendah 56,26387
Salaman Mloyo Rendah 22,57746
Tambakharjo Rendah 446,0762
Tawangmas Rendah 124,0305
Tawangsari Rendah 266,2151
Tugurejo Rendah 100,253
Analisis risiko bencana abrasi
31 Peta resiko bencana abrasi didapatkan dari overlay kerentanan fisik dengan peta kerawanan abrasi. Tingkat resiko yang ada di wilayah studi hanya terbagi menjadi 3 kelas, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Persebaran tingkat risiko abrasi tersebut cukup merata. Setiap tingkat memiliki luas cakupan yang hampir sama besar seperti tingkat lainnya. Berikut adalah tabel tingkat resiko abrasi di wilayah studi.
Tabel 10
Mangkang Kulon RENDAH 39,48387
32 ARAHAN POLA RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA
Gambar 18
33 Peta di atas merupakan hasil sekaligus rekomendasi penataan ruang berbasis mitigasi bencana banjir di wilayah studi. Setelah melakukan serangkaian analisis kemudian didapatkan suatu arahan pola ruang mitigasi bencana banjir dan abrasi. Peta arahan tersebut merupakan hasil overlay dari poloa ruang Kota Semarang dengan resiko bencana. Arahan tersebut bisa dijadikan suatu rekomendasi terkait penataaan ruang di kawasan pesisir Semarang berkaitan dengan mitigasi bencana. Dari peta diatas terlihat bahwa lahan yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa tidak dianjurkan untuk difungsikan sebagai kawasan budidaya. Penggunaan lahan permukiman, tambak, dan perkantoran hanya boleh berada di beberapa lokasi saja. Dengan demikian dapat diketahui bahwa terdapat ketidaksesuaian antara rencana tata ruang Kota Semarang dengan hasil dari analisis kerentanan fisik yang terjadi, khususnya pada Kecamatan Tugu dan Kecamatan Semarang Barat. Berikut beberapa arahan terhadap pola ruang berbasis mitigasi bencana diantaranya:
a. Tidak diizinkan adanya pembangunan permukiman baru di kawasan rawan bencana banjir khususnya di daerah dengan risiko tinggi dan sedang. Seperti di kelurahan Kembang arum, Kalibanteng kulon, Karang ayu dan Gisikdono.
b. Diizinkan bangunan yang mampu beradaptasi dengan permasalahan kawasan
c. Dilarang kegiatan yang dapat menyebabkan terjadinya banjir seperti membuang sampah di daerah aliran sungai, melakukan konversi pada lahan konservasi, merusak infrastruktur drainase dsb.
d. Diizinkan terbatas untuk membangun sarana pemantauan bencana
e. Diizinkan terbatas untuk penggunaan lahan sebagai kawasan permukiman khususnya di kawasan dengan risiko rendah.
34 Gambar 19
35 Peta di atas merupakan hasil sekaligus rekomendasi penataan ruang berbasis mitigasi bencana abrasi di wilayah studi. Terlihat bahwa lahan yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa tidak dianjurkan untuk difungsikan sebagai kawasan terbangun. Penggunaan lahan permukiman, akomodasi dan rekreasi hanya boleh berada di beberapa lokasi saja. Sementara daerah yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa masih dapat dimanfaatkan sebagai tambak. Dengan demikian dapat diketahui bahwa terdapat ketidaksesuaian antara rencana tata ruang Kota Semarang dengan hasil dari analisis kerentanan fisik yang terjadi, khususnya pada Kecamatan Tugu dan Kecamatan Semarang Barat. Berikut beberapa arahan terhadap pola ruang berbasis mitigasi bencana diantaranya:
1. Tidak diizinkan adanya aktivitas terbangun kecuali untuk kepentingan pengamanan dan perlindungan pantai
2. Tidak diizinkan adanya pembangunan permukiman baru di kawasan dengan risiko tinggi bencana abrasi yaitu di Kelurahan Karangnyar, Mangunharjo dan Tambakharjo
3. Diizinkan terbatas perkembangan kawasan budidaya non terbangun di kawasan rawan abrasi
36 DAFTAR PUSTAKA
http://pilnas.ristek.go.id/jurnal/index.php/record/view/52164. Diunduh Mingggu, 4 Januari 2015
http://semarangkota.go.id/berita/read/7/berita-kota/111/penurunan-muka-tanah-jadi-faktor-utama-banjir-dan-rob#sthash.ZYN5SYFe.dpuf. Diunduh Mingggu, 4 Januari 2015
http://www.bintari.org/index.php/lingkup-kerja/perubahan-iklim/35-kerentanan-semarang-terhadap-perubahan-iklimKerentanan Semarang Terhadap Perubahan Iklim. Diunduh Mingggu, 4 Januari 2015
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 4 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana.
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Resiko Bencana.
Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor: 15 Tahun 2011 Tentang Pedoman Mitigasi Bencana Gunungapi, Gerakan Tanah, Gempabumi, Dan Tsunami.
PP Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2010 Tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Simanjuntak, Simson Frima dan Wakhidah Kurniawati. 2011. “Pola Ketahanan Aktivitas Ekonomi pada Kawasan Rawan Bencana Rob dan Banjir Tahunan di Kota Lama
Semarang”. Thesis Program S-2 Magister Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro. Semarang.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana