Pertemuan Rutin di Luar Kelas Sebagai Penawar Kegalauan Siswa Baru
Program BIPA
Vidi Sukmayadi
Balai Bahasa Universitas Pendidikan Indonesia [email protected]
Saripati
Bagi siswa BIPA yang datang dan belajar di Indonesia untuk pertama kalinya, gegar budaya, rasa frustasi dan kegalauan hati adalah hal yang wajar sebagai suatu proses transisi. Para siswa harus menghadapi tak hanya tantangan akademis, namun juga tantangan untuk beradaptasi terhadap lingkungan yang benar-benar baru. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan mengadakan pertemuan khusus secara rutin yang mampu mengakomodasi rasa galau siswa yang diakibatkan oleh berbagai hal bersifat non-akademis selama berada di Indonesia. Selain itu pertemuan tersebut juga harus menyoroti perkembangan dan proses belajar mengajar yang tengah berlangsung. Berkaitan dengan hal tersebut, penulis melakukan studi kasus pada siswa-siswa BIPA yang baru pertama kali datang ke Indonesia dan belum memiliki keterampilan berbahasa Indonesia. Studi ini bertujuan untuk mengetahui opini para siswa BIPA mengenai dampak pertemuan rutin tersebut terhadap kemajuan belajar mereka. Tujuan berikutnya adalah untuk melihat kemajuan akademis siswa BIPA pascapertemuan tersebut yang didasari dari opini siswa dan nilai akademis pada tengah dan akhir semester. Hasil studi ini menunjukkan bahwa para siswa merasa bahwa pertemuan rutin tersebut bermanfaat bagi proses belajar, pengalaman bahasa, dan adaptasi budaya mereka.
Kata kunci: siswa BIPA,siswa baru, gegar budaya, opini siswa, luar kelas
I. Pendahuluan
biasanya masih sangat terbatas. Namun bagi penulis, menghadapi siswa baru BIPA adalah suatu kesempatan dan kehormatan.
Siswa Baru BIPA yang baru pertama kali menjejakkan kakinya di bumi pertiwi ini memiliki keunikkan tersendiri. walaupun mereka berpengalaman sebagai pembelajar di pendidikan tinggi negara masing-masing, siswa baru program BIPA umumnya belum memahami sepenuhnya budaya Indonesia dan sangat rawan terkena gegar budaya. senada dengan hal tersebut Kaufka (2010) menyatakan bahwa pembelajar dewasa yang baru pertama kali menginjakkan kakinya dalam lingkungan hidup dan belajar yang berbeda dipastikan akan melewati fase "ternganga" pada tahun pertamanya. untuk itu para siswa baru sering merasa resah dan terkadang menghadapi kesulitan beradaptasi yang pada ujungnya dapat mempengaruhi proses belajar mereka.
masalah dari studi ini adalah telaah metode untuk meringankan kegalauan siswa BIPA yang baru pertama kali belajar di Indonesia melalui peningkatan hubungan interaksi antara siswa dan pihak pengelola program dan instruktur BIPA. proses pelaksanaan metode tersebut itulah yang akan ditelaah dalam studi ini.
Sebagai instruktur yang menangani siswa BIPA yang baru datang, kita dapat membantu membimbing mereka dalam beradaptasi, karena para siswa tersebut masih merasa asing dengan lingkungan sekitarnya (terutama siswa dari kawasan benua yang berbeda).Instruktur tersebut akan mampu menyaksikan transformasi penguasaan bahasa Indonesia serta sikap mereka terhadap budaya di Indonesia. Namun di saat yang sama kita juga harus tetap waspada, bukan berarti siswa baru akan terjamin transformasi bahasanya. Siswa yang baru pertama kali belajar di negara asing memiliki hambatan akademik dan non-akademik yang harus mereka hadapi di enam bulan pertama (Kaufka, 2010)
PENDEKATAN
Penelitian studi kasus atau penelitian lapangan (field study) dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang masalah keadaan dan posisi suatu peristiwa yang sedang berlangsung saat ini, serta interaksi lingkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given). Subjek penelitian dapat berupa individu, kelompok, institusi atau masyarakat. Penelitian case study merupakan studi mendalam mengenai unit sosial tertentu dan hasil penelitian tersebut memberikan gambaran luas serta mendalam mengenai unit sosial tertentu. Subjek yang diteliti relatif terbatas, namun variabel-variabel dan fokus yang diteliti sangat luas dimensinya (Danim, 2002 ).
Pengertian yang lain, studi kasus bisa berarti metode atau strategi dalam penelitian, bisa juga berarti hasil dari suatu penelitian sebuah kasus tertentu.Dalam konteks tulisan ini, penulis lebih memfokuskan pada pengertian yang pertama yaitu sebagai metode penelitian. Studi kasus adalah suatu pendekatan untuk mempelajari, menerangkan, atau menginterpretasikan suatu kasus dalam konteksnya secara natural tanpa adanya intervensi pihak luar. Pada intinya studi ini berusaha untuk menyoroti suatu keputusan atau seperangkat keputusan, mengapa keputusan itu diambil, bagaimana diterapkan dan apakah hasilnya. (Salim, 2001).
Dengan kata lain, penulis memfokuskan kajiannya pada kasus yang terjadi pada pengalaman belajar siswa BIPA tahun pertama serta pengelolaan program BIPA terkait yang ada di institusi penulis. Subjek yang diteliti relatif terbatas, namun variabel-variabel dan fokus yang diteliti sangat luas dimensinya.
METODE DAN PROSEDUR STUDI
Pada tahun ajaran tersebut, terdapat 19 siswa dari tujuh negara. Adapun semua siswa program ISA diberikan nama panggilan dengan nama yang sudah umum di Indonesia guna memudahkan pengajar dan siswa untuk saling menyapa dan mengenal, adapun nama yang diberikan tentunya atas persetujuan siswa bersangkutan, nama panggilan Indonesia beserta asal negara mereka
NO NAMA
INDONESIA ASAL No. Reg
1 Hasim Bosnia 11033
2 Inna Bulgaria 11034
3 Cinta China 11035
4 Yuda China 11036
5 Hani China 11037
6 Ika China 11038
7 Desi China 11039
8 Rahim Iran 11040
9 Kartini Jepang 11041
10 Rina Jepang 11042
11 Yeni Korea 11043
12 Arafat Thailand 11044
13 Hanif Thailand 11045
14 Saleh Thailand 11046
15 Lilis China 11047
16 Rio Jepang 11048
17 Chandra China 11076
18 Bagus China 11077
19 Jelita China 11078
Tabel 1. data siswa program ISA 2011-2012, sumber: basis data Balai Bahasa UPI 2012
Sebagai bagian dari kurikulum untuk program tersebut. Penulis merancang tiga kali pertemuan di luar kelas untuk bertatap muka dan saling berbagi informasi dan opini yang berkaitan dengan proses belajar siswa ISA. Pertemuan pertama dilakukan di awal perkuliahan, pertemuan kedua dilakuan ditengah semester dan yang terakhir dilaksanakan sebelum ujian akhir dan presentasi karya tulis para siswa. Guna mengetahui opini siswa terhadap pertemuan rutin tersebut serta mengetahui bagaimana pertemuan tersebut dapat membantu proses belajar mereka, penulis melakukan wawancara tak terstruktur (terbuka) dalam bentuk percakapan informal dan sebagai data sekunder, penulis juga memberikan questioner kepada semua siswa.
PELAKSANAAN
Pelaksanaan pertemuan pertama cukup sederhana. Pertemuan ini dapat dikatakan sebagai pertemuan “tak kenal maka tak sayang”, isi pertemuan lebih menekankan pada isu-isu non akademis yang berkaitan dengan kepribadian, motivasi dan proses adaptasi mereka. Pertemuan ini dilaksanakan di luar kelas (di kantor penulis atau di ruang tengah sekolah bahasa) dengan suasana yang santai diselingi minum teh dan kopi bersama. Penulis melaksanakan pertemuan ini secara empat mata atau dapat juga dilaksanakan secara berkelompok yang dibagi berdasarkan negara asal siswa BIPA. Tujuan utama dari pertemuan pertama ini adalah:
1. Membangun ikatan hubungan dan kepercayaan dengan mengenali mereka dalam ranah personal dan agar siswa juga dapat mengenali penulis tak hanya sebagai seorang pengajar ataupun koordinator program, tetapi juga secara personal.
2. Memastikan agar siswa mengetahui di mana dan kapan mereka bisa bertemu dengan penulis dan guru lain yang mengajar di kelas mereka. Selain itu, penulis juga menyatakan kepada siswa BIPA secara empat mata bahwa penulis sangat terbuka untuk berkorespondensi dan bersedia membantu siswa jika mereka mengalami permasalahan baik isu akademis maupun non-akademis.
3. Memastikan bahwa siswa mengetahui tujuan dari pelatihan BIPA yang mereka ikuti serta mengenalkan sedikit mengenai budaya Indonesia serta situasi belajar dan regulasi yang ada di universitas bersangkutan.
Sebagai seorang instruktur, tidak dapat disangkal bahwa setiap guru menginginkan siswanya berkembang dalam proses belajarnya. Namun isu non-akademis seperti motivasi dan gegar budaya dapat pula menjadi pemicu atau penentu kemajuan belajar siswa sehingga apa yang menjadi permasalahan dan kegalauan siswa memiliki posisi penting dalam proses belajar.
pengajar BIPA harus memerhatikan karakteristik siswa yang menjadi tanggung jawabnya (Muliastuti & Sulastri, 2005).
Berdasarkan dari pertemuan ini, terlihat bahwa kegalauan siswa BIPA terfokus pada gegar budaya dalam tiga hal utama yaitu budaya lingkungan setempat, bahasa Indonesia yang mereka duga akan sangat sulit dipelajari, serta hal-hal yang berkaitan dengan sistem belajar di institusi penulis. percakapan yang dibangun pada pertemuan ini menggunakan bahasa Inggris, tetapi bagi yang bisa berbahasa melayu (seperti siswa dari Thailand selatan) penulis menggunakan bahasa Indonesia. adapaun jika siswa bersangkutan tidak dapat berbahasa Inggris, maka penulis mencari pengajar atau civitas akademik yang mempu berbahasa asing lainnya untuk turut terlibat menjadi penengah.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada kesempatan tersebut juga menyinggung beberapa hal mengenai pribadi siswa. Supaya siswa merasa lebih nyaman dan terbuka, penulis menceritakan dulu sedikit tentang informasi pribadi penulis, hanya saja perlu tetap ditekankan bahwa pertemuan ini bukan untuk membahas pribadi penulis. pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat juga berperan sebagai analisis kebutuhan dan kurang lebih meliputi:
kabar siswa
proses transisi siswa
keadaan keluarga dan negara siswa motivasi belajar bahasa Indonesia tempat tinggal siswa di Indonesia teman-teman siswa di Indonesia kesukaan siswa
pelajaran atau hasil yang diinginkan permasalahan yang melanda
dll
Pertemuan pertama ini dilaksanakan dengan penekanan bahwa siswa merasa bahwa ia memiliki suara yang akan didengarkan dan ia tidak sendirian. Sebagai penutup, penulsi memaparkan kembali tujuan dari pertemuan tersebut dan memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan perkulihaan BIPA yang akan mereka jalani sekaligus memberikan kepastian bahwa penulis dan pengajar lainnya terbuka terhadap permasalahan mereka dan siap membantu.
B. Pertemuan Kedua
kemauan mereka sendiri. Bahkan sebagian dari siswa datang menemui koordinator program secara rutin per minggu untuk berkonsultasi atau hanya berlatih bahasa Indonesia. Pertemuan ini sifatnya tidak diwajibkan untuk datang, hanya dianjurkan saja. Perbedaan dengan pertemuan pertama, pertemuan kali ini tidak terfokus dalam satu waktu, tetapi siswa dibebaskan menentukan kapan mau datang karena mereka menjadwalkan atas kemauan mereka sendiri. sehingga pertemuan ini tidak terlalu memakan banyak waktu sekaligus dan dapat lebih intensif berbicara dengan siswa karena tidak ada tekanan waktu selama mereka datang pada waktu-waktu yang telah disepakati di pertemuan pertama.
Tujuan dari pertemuan kali ini lebih ditekankan pada kemampuan akademis mereka, dalam hal ini kemampuan berbahasa Indonesia. pertemuan dilakukan dalam bahasa Indonesia dan menganjurkan mereka untuk menjelaskan apa yang akan mereka presentasikan di akhir program serta kesiapan mereka untuk ujian tengah semester. namun penulis tetap terbuka jika siswa ingin "curhat" mengenai isu non-akademis. Bagi pribadi penulis pertemuan ini sangat bermanfaat bagi pengelolaan program, karena dalam pertemuan ini muncul berbagai masukan konstruktif mengenai kegiatan belajar mengajar pada program BIPA-ISA tersebut, seperti halnya yang disampaikan salah seorang siswa dalam wawancara terbuka setelah pertemuan pertama dan kedua.
saya senang sekali dengan adanya pertemuan ini, karena saya datang terlambat satu bulan dan sempat frustasi, karena kesulitan mengikuti pelajaran. namun dalam pertemuan itu saya bisa bicara banyak mengenai masalah ini, bahkan pengelola memberikan kelas tambahan bagi saya dan teman saya sehingga kami bisa belajar dan mengejar teman-teman yang lain (Rio).
Selain itu dalam pertemuan kedua ini juga dapat memberikan solusi bagi masalah non-akademis, seperti siswa yang mengalami masalah dengan keluarga di negara asalnya sehingga akhirnya ia mengundurkan diri dari program dan kembali ke negara asalnya.
Dengan kata lain, siswa BIPA program ISA merasa tercerahkan dengan adanya pertemuan empat mata tersebut dan dapat berkontribusi setidaknya pada motivasi belajar dan mulai bisa meringankan kegalauan siswa BIPA.
B. Pertemuan ketiga
dengan kondisi di tempat belajar dan tidak sungkan untuk datang ke kantor dan mengeluarkan unek-uneknya baik yang berkaitan dengan akademis ataupun tidak.
Pelaksanaan pertemuan ini ditujukan untuk menerima masukan , perasaan mereka sekaligus sebagai wahan evaluasi program dari sudut pandang siswa. Pelaksanaan pertemuan ini dilaksanakan di dalam kelas tetapi di luar jam belajar. Semua siswa menghadiri pertemuan ini terkecuali siswayang hanaya mengikuti program ini untuk tiga bulan.
Pertemuan ini juga dijadikan sarana gladi resik sebelum siswa melakuakn presentasi akhirnya di depan civitas akademik universitas beserta jajaran pimpinannya.
Dari pertemuan serius tapi santai ini, penulis dapat mengambil saripati dan berbagai saran konstruktif guna menyusun serta memutakhirkan program untuk kedepannya. Saat tersebut adalah saat yang membahagiakan karena di sanalah seorang guru dapat menyaksikan perkembangan siswa dalam proses penerimaan bahasa dan pemahaman budaya Indonesia.
TEMUAN
Ketiga pertemuan luar kelas tersebut diasumsikan dapat bermanfaat bagi proses belajar siswa BIPA. Studi kasus yang penulis lakukan tidaklah banyak (16 orang) karena jumlah siswa BIPA di Indonesia masih terus berkembang. Dari 19 siswa, yang dapat dijadikan responden adalah 16 siswa. Hal tersebut terjadi karena tiga orang siswa hanya mengambil program selama tiga bulan saja. Berikut adalah data dari intensitas kehadiran siswa dalam setiap pertemuan
Pertemuan Siswa yang hadir Persentase
Pertama 16 100%
Kedua 16 100%
Ketiga 15 (tiga orang selesai program dan satu siswa mengundurkan diri)
94%
c
Tabel di atas tadi menunjukkan bahwa pertemuan tersebut ditanggapi dengan cukup positif oleh semua siswa BIPA. Hal tersebut dikarenakan atmosfer dan suasana belajar yang sudah dapat diterima siswa atau bahkan sudah dianggap nyaman oleh siswa. Sebagaimana dipaparkan oleh salah seorang siswa
Berkaitan dengan hasil wawancara terbuka dengan siswa BIPA-ISA mengenai sikap mereka terhadap ketiga pertemuan yang mereka alami, berikut adalah hasil yang telah penulis klasifikasikan
1. Waktu pelaksaan 4. kontribusi pada proses belajar
Tidak ada masalah (12)
2. Kedekatan inter-personal 5. Hubungan dengan teman sekelas Merasa dianggap dan diperhatikan
Tabel 3. Opini siswa terhadap pertemuan rutin yang ditawarkan serta dampak pada proses belajar mereka, sumber: diolah dari lapangan
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa sebagian besar dari siswa beropini bahawa kegiatan pertemuan tersebut perlu dilakukan dan dapat meningkatkan motivasi belajar. Terlebih lagi, 75% siswa merasa bahwa kegiatan pertemuan itu memberikan kontribusi yang membantu dalam menciptakan suasana nyaman untuk belajar. Sehingga secara garis besar dapat dipaparkan bahwa siswa BIPA-ISA dengan jelas merasa bahwa kegiatan pertemuan rutin ini membantu mereka dalam proses belajar mereka dan pengalaman hidup mereka selama di Indonesia.
lingkungan belajar yang suportif dan kondusif, kemampuan berbahasa siswa akan cepat berkembang.
KESIMPULAN
Sebagaimana telah didiskusikan sebelumnya, studi ini menunjukan bahwa siswa menghargai hubungan personal dengan pihak kampus (pengajar dan/atau pengelola program). Pengajaran yang baik disertai interaksi berkualitas diantara siswa dan pihak kampus dapat mengurangi kegalauan siswa dalam belajar bahasa Indonesia. Pertemuan empat mata di luar jam belajar dapat dijadikan salah satu metode untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa bersangkutan.
Selain itu, data temuan menunjukkan bahwa pertemuan rutin di luar kelas dapat menjadi langkah awal bagi siswa untuk belajar, beradaptasi, melatih toleransi dan membangun kepercayaan mutualisme antara siswa, pengajar dan pengelola program melalui kegiatan saling berbagi kisah yang tak harus selalu berkaitan dengan isu akademis. Sehingga bagi penulis, menangani siswa baru BIPA melalui interaksi yang berkualitas dapat menambah kenikmatan disela kesibukan yang melanda
Daftar Pustaka
Kaufka, Beth. (2010). Beyond Classroom. Journal of the Scholarship of Teaching and Learning. hlm 26-33
Mulyana, Deddy (2003). Metodologi Penelitian Kualitatif. Paradigma baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Rosdakarya. Bandung.
Muliasari dan Sulastri (2005). Panduan Pengajaran Membaca untuk Siswa BIPA. Dikutip dari situs: http://www.saujana.sg/portals/0/penyerapan/pengajaran%20membaca.pdf\
Nagahashi, Lee (2006). Techniques for Reducing Foreign Language Anxiety: Results of An Intervention Study. Akita University.
Palmer, Mark, Paula O’kane (2009). Betwixt Spaces: Students Accounts of Turning Point Experiences in the First-year Transition. Studies in Higher Education.