• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA SEBAGAI PER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA SEBAGAI PER"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1

UNIVERSITAS DIPONEGORO

PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA

SEBAGAI PERSOALAN DI ERA GLOBAL

ATMA KARYADI

21060114140089

FAKULTAS TEKNIK

JURUSAN TENIK ELEKTRO

UNIVERSITAS DIPONEGORO

(2)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta umur yang panjang kepada saya karenanya makalah yang berjudul “Penegakan Hukum di Indonesia sebagai Persoalan di Era Global” dapat terselesaikan dengan baik. Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengumpulkan tugas yang telah diberikan.

Pembuatan makalah ini dilaksanakan pada bulan Juni di Universitas Diponegoro. Penulis mengucapkan banyak terima kasih Bapak Joko Wasisto, S.Kar, M.Hum. selaku dosen yang telah membimbing saya.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam makalah ini dalam suatu atau beberapa hal. Saran dan kritik dalam pembaca adalah harapan dari penulis agar dapat lebih baik lagi dalam menyusun laporan di masa mendatang. Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam kemudian hari. Terima kasih.

Semarang, Juni 2015

(3)

iii

DAFTAR ISI

Halaman Judul... i

Kata Pengantar... ii

Daftar Isi... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Tujuan Masalah... 2

1.3. Batasan Masalah... 3

1.4. Perumusan Masalah... 3

BAB II PERMASALAHAN 2.1. Media dan Perkembangannya... 4

2.2. Pornografi sebagai Tindak Kriminal... 5

2.3. Dampak Pornografi bagi Indonesia... 6

BAB III PEMBAHASAN 3.1. Data dan Fakta Seputar Pornografi... 7

3.2.Penegakan Hukum bagi Tindakan Pornografi... 8

3.3.Dampak bagi Maraknya Pornografi di Indonesia... 9

BAB IV PENUTUP 4.1. Kesimpulan ... 11

4.2. Saran ... 12

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah.

Sesuai dalam Pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar tahun 1945 menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara hukum. Maka dari itu, segala bentuk aktivitas warga negara Indonesia selalu berlandaskan hukum yang telah ditetapkan dan disetujui. Hukum termasuk salah satu jenis norma dalam kehidupan bermasyarakat serta memiliki sanksi yang tegas bagi setiap orang yang melanggar. Menjalankan hukum sebagaimana mestinya memerlukan sarana-sarana penegakan hukum. Maka dari itu dibentuklah lembaga penegakan hukum yang bertugas untuk mengontrol dan mengawasi segala kegiatan agar berjalan sesuai hukum yang berlaku.

Di era global seperti saat ini, segala arus informasi dapat diterima dengan mudah dan cepat di seluruh penjuru dunia. Kecanggihan teknologi yang berkembang saat ini juga turut serta dalam derasnya arus informasi di zaman global saat ini. Baik itu informasi tentang keuangan, bisnis, politik, sosial budaya, dan dunia hiburan. Semua masyarakat dunia dapat menerima informasi tersebut dengan bebas baik melalui media massa dan sosial media. Namun, kebebasan yang tersedia ini disalahgunakan oleh beberapa oknum. Yang membahayakan dan meresahkan masyarakat yang juga turut serta dalam menerima kebebasan tersebut.

(5)

2

sebagai warga negara untuk meminimalisir dan memberantas tindak kriminal tersebut.

Di samping itu juga, penulis sajikan terkait data yang telah dihimpun suatu lembaga survey. Data usia pengakses situs porno yang dirilis dalam Pornography Statistic, menunjukkan bahwa pengakses situs berdasarkan usia 18 - 24 tahun sebanyak 13,61 %, usia 25 - 34 tahun sebanyak 19,90 %, usia 35 - 44 tahun sebanyak 25,50 %, usia 45 - 54 tahun sebanyak 20,67 % dan usia 55 tahun ke atas sebanyak 20,32 %. Wanita ternyata juga banyak yang menggemari situs porno. Jumlah wanita yang kecanduan situs porno sebesar 17 %, dan yang mengakses pada saat bekerja sebanyak 13 %.

Dengan data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Pornografi bisa menjadi ancaman serius yang disebarkan ke seluruh dunia. Pasalnya, target penyebarannya ialah orang-orang dengan usia produktif. Dengan salah satu target yang menjadi sasarannya ialah Indonesia. Di era global dengan teknologi yang semakin canggih, bukan tidak mungkin penyebaran ini akan terjadi dengan mudahnya di negeri kita ini.

Dalam makalah ini akan membahas tentang Penegakan Hukum di Indonesia dalam menangani kasus kriminal Pornografi. Tindakan kriminal ini dinilai sangat membahayakan bagi martabat Indonesia. Terutama para generasi muda yang menjadi target dari kejahatan ini. Kejahatan yang bisa dikatakan merusak moral bangsa, yang akan menghasilkan bibit-bibit penerus bangsa yang berpikiran kotor dan sudah tidak baik lagi. Sejauh mana perkembangan pornografi dan penanganannya akan di bahas dalam makalah ini.

(6)

Tujuan dari penelitian ini adalah membuat atau memberitahu informasi kepada setiap pembaca agar mewaspadai penyebaran, pembuatan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pornografi serta menginformasikan terkait mengapa pornografi termasuk tindakan kriminal, bagaimana penyebarannya, serta dampak bagi lingkungan sekitarnya.

1.3. Pembatasan Masalah.

Untuk memperjelas ruang lingkup pembahasan, maka masalah yang diahas dibatasi pada masalah:

1. Perkembangan tindak kriminal Pornografi yang beredar di Indonesia.

2. Tindakan hukum dan ancaman hukuman bagi mereka yang terkait tindak pidana Pornografi .

1.4. Perumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah tersebut masalah masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Mengapa Pornografi dianggap sebagai tindak kriminal?

(7)

BAB II

PERMASALAHAN

2.1. Media dan Perkembangannya

Everett M. Rogers dalam bukunya Communications Technology : The New Media in Society,1 mengatakan bahwa dalam hubungan komunikasi di masyarakat, dikenal empat era komunikasi, yaitu era tulis, era media cetak, era media telekomunikasi, dan era media komunikasi interaktif. Dalam era terakhir media komunikasi interaktif dikenal media komputer, videotext dan teletext, teleconferencing, TV kabel, dan lain sebagainya.

Sementara itu Sayling Wen dalam bukunya Future of the Media,2

melihat media dalam konteks yang lebih luas, tidak saja melihat media dalam konsep komunikasi antarpribadi, namun juga melihat media sebagai medium penyimpanan dan medium informasi. Enam media hubungan antarpribadi yang dimaksud oleh Wen adalah suara, grafik, teks, musik, animasi, video. Sedangkan, media penyimpanan adalah buku dan kertas, kamera, alat perekam kaset, kamera film dan proyektor, alat perekam video dan disk optikal.

(8)

bersifat umum, ataupun hal-hal yang bersifat pribadi. Pergeseran pemikiran yang telah meninggalkan batasan-batasan norma kesusilaan pun juga bisa disalurkan melalui media yang telah tercipta ini. Bukan suatu hal yang tabu jika sebagian besar masyarakat memiliki hasrat untuk berbagi sesuatu hal pribadi yang mereka miliki. Yang pada akhirnya dimanfaatkan beberapa oknum untuk suatu tindak kriminal yang merugikan dirinya sendiri.

2.2. Pornografi sebagai Tindak Kriminal

Menurut UU nomor 44 tahun 2008, pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Undang-undang pornografi bertujuan agar masyarakat Indonesia tetap menjaga nilai norma kesusilaan yang telah ada sejak dahulu, menjaga kebudayaan serta melindungi dan menjaga hakikat kehidupan manusia yang bermartabat.

(9)

6

sebagaimana dimaksud dalam pasal 29, pasal 30, pasal 31, pasal 32, pasal 33, pasal 34, pasal 35, pasal 36, pasal 37, dan pasal 38 termasuk tindak kejahatan.

2.3. Dampak Pornografi bagi Indonesia

Perkembangan pornografi yang semakin hari semakin meningkat ini menyimpan sebuah ketakutan bagi beberapa kalangan. Pasalnya, pornografi dapat menimbulkan sebuah guncangan psikologis bagi dia yang melakukan perbuatan dosa tersebut. Selain itu juga, dampak dari pornografi ini sendiri ditakutkan menjadi pemicu timbulnya tindakan kekerasan, baik itu dalam rumah tangga, kekerasan terhadap wanita, dan terhadap anak kecil. Tingkat perkembangan prostitusi juga diperkirakan akan meningkat dikarenakan konsumsi hal-hal yang berkaitan dengan pornografi. Sudah pasti itu diluar norma kesusilaan masyarakat Indonesia.

(10)

BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Data dan Fakta Seputar Pornografi

Sudah jelas jika pornografi dimasukkan dalam kategori tindak kejahatan. Namun perkembangan pornografi sendiri masih terus mengalir dari tahun ke tahun. Sebuah fakta mencengangkan hadir dari www.toptenreviews.com yang menyebutkan bahwa setiap 39 menit akan muncul sebuah film porno di Amerika Serikat. Untuk menonton gambar porno, ternyata telah keluar biaya sebesar US $ 3,075.64 setiap detik. Sementara itu, tercatat setiap detik sejumlah 28.258 pengguna internet mengakses situs-situs porno, yang seharusnya hanya dikonsumsi orang dewasa. Dari angka-angka di atas dapat dibayangkan berapa banyak produksi video porno yang dihasilkan. Dengan demikian, betapa suburnya lahan bisnis pornografi. Industri ini pada 2006 mampu menggerakkan bisnis senilai US $ 97.06 milyar atau sekitar Rp. 976 trilyun. Angka yang sangat fantastis untuk sebuah bisnis dengan core bussiness syahwat.

Penelitian itu juga menyajikan data mengenai negara yang mengkonsumsi bisnis pornografi tersebut. Pangsa pasar terbesar justru sejumlah negara di Asia. Pendapatan dari pornografi yang terbesar berasal dari China, yaitu senilai US $ 27,4 milyar atau sekitar Rp. 270 trilyun. Peringkat kedua adalah Korea Selatan, dengan pendapatan sebesar US $ 25,7 milyar atau sekitar Rp 250 trilyun. Jepang berada di urutan ketiga dengan pendapatan sebesar US $ 20 milyar atau sekitar Rp 200 trilyun. Negara Asia lainnya adalah Philipina di urutan kesembilan dan Taiwan di peringkat sepuluh. Amerika sebagai negara produsen, berada di peringkat empat, dengan pendapatan sebesar US $ 13,3 milyar atau sekitar Rp 130 trilyun.

(11)

8

porno di website Amerika telah mencapai 244.661.900 (89 %). Urutan kedua ditempati Jerman, dengan halaman porno sebanyak 10.030.200 (4 %). Urutan ketiga adalah Inggris dengan 8.506.800 (3 %) halaman. Untuk wilayah Asia, Jepang menjadi salah satu dari 9 negara produsen situs porno, dengan produksi sebanyak 2.700.800 halaman porno.

Data usia pengakses situs porno yang dirilis dalam Pornography Statistic, menunjukkan bahwa pengakses situs berdasarkan usia 18 - 24 tahun sebanyak 13,61 %, usia 25 - 34 tahun sebanyak 19,90 %, usia 35 - 44 tahun sebanyak 25,50 %, usia 45 - 54 tahun sebanyak 20,67 % dan usia 55 tahun ke atas sebanyak 20,32 %. Wanita ternyata juga banyak yang menggemari situs porno. Jumlah wanita yang kecanduan situs porno sebesar 17 %, dan yang mengakses pada saat bekerja sebanyak 13 %.

Dengan data dan fakta yang telah tersaji diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Pornografi telah menjadi lahan industri yang disebarkan ke seluruh dunia. Dengan salah satu target yang menjadi sasarannya ialah Indonesia. Di era global dengan teknologi yang semakin canggih, bukan tidak mungkin penyebaran ini akan terjadi dengan mudahnya di negeri kita ini.

3.2. Penegakan Hukum bagi Tindakan Pornografi

(12)

Ada beberapa langkah-langkah yang digunakan aparat kepolisian guna memberantas kasus pornografi sebagai upaya penegakan hukum Pornografi yaitu melakukan penyidikan terkait kasus video porno, bekerja sama dengan para ahli IT guna verifikasi keabsahanan dan keaslian video tersebut, serta mendeteksi pelaku penyebaran, pembuatan atau pihak terkait dalam proses pembuatan video porno. Lebih jauh lagi bahasan mengenai pornografi, cyber crime atau kejahatan dunia maya juga turut ambil peranan penting dalam persebaran Pornografi. Karena pencurian data pribadi yang diunggah di internet dan juga penyebarluasan juga bisa terjadi disini. Aparat penegak hukum juga bekerja sama dengan pihak swasta yang berhubungan dengan komunikasi dan informasi guna membantu proses penyidikan. Selain itu juga pemblokiran situs-situs porno juga bentuk kerja sama lain guna memberantas pornografi di Indonesia.

3.3. Dampak dari Maraknya Pornografi di Indonesia

Bersumber dari kompas.com, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa kembali menegaskan bahwa saat ini Indonesia sudah masuk darurat pornografi lantaran biaya untuk belanja pornografi sepanjang 2014 diperkirakan mencapai Rp 50 triliun. Angka itu, kata dia, sama dengan belanja untuk narkoba. "Selain itu, dari semua kasus hukum terkait pelecehan seksual yang terjadi di Indonesia, 45 persen di antaranya merupakan kejahatan seksual yang melibatkan anak di bawah umur, bahkan hingga anak usia dini," kata Khofifah di Samarinda, Kamis (5/2/2015), seperti dikutip Antara.

(13)

10

para muncikari untuk menjalankan bisnisnya,". Prostitusi dan pornografi sudah paralel dan saling terkait karena di situ ada hubungan seksual sedarah atau incest, pedofilia, serta paket wisata yang mengandung unsur pornoaksi dan pornografi.

(14)

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Indonesia darurat pornografi sejatinya bukanlah kata-kata kiasan yang hanya dilihat semata. Tetapi juga perlu kerjasama dari semua pihak untuk membantu pemberantasan pornografi di negeri Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan di dalam makalah ini, bahwa pornografi tidak hanya merusak dalam jangka pendek saja. Tetapi merupakan pengrusakan yang dapat berakibat fatal karena generasi muda saat ini sudah mulai ikut-ikutan menyaksikan hal-hal berbau pornografi di usia belianya.

Pornografi juga merupakan ladang industri yang menguntungkan bagi pihak asing. Jelas ini merupakan sebuah bentuk kerja sama parasitisme yang dimana, pihak asing diuntungkan oleh pemasukan yang terus bertambah sedangkan pihak kita menerima dampakn buruk dari penyebaran pornografi tersebut. Sudah tidak asing lagi jika hal ini harus kita sadari. Agar kita tidak terlena akan pembodohan bangsa ini. Pornografi tidak mengandung unsur-unsur kesusilaan yang menjadi ciri kita sebagai budaya timur. Tentu sejatinya kita menolak hal ini, karena pornografi bukanlah sebuah representasi dari kebudayaan kita yang cenderung sopan dan bermartabat. Berbeda dengan budaya barat yang mengandung paham kebebasan. Semua warganya berhak melakukan apa saja tanpa ada campur tangan orang lain dan negara.

(15)

12

Agar mereka jera dan tidak mengulangi apa yang pernah mereka lakukan dahulu. Dan juga mengurangi tingkat kejahatan lainnya yang menjadi dampak bahaya pornografi.

4.2. Saran

(16)

DAFTAR PUSTAKA

Bungin, M.Burhan, 2005, Pornomedia : Sosiologi Media, Konstruksi Sosial, Teknologi Telematika, dan Perayaan Seks di Media Massa,Jakarta : Kencana Prenada Media.

Farouk, Peri Umar. 2008. Menjawab Tantangan Pornografi Remaja Indonesia. Cetakan Buku Elektronik. Jakarta : Gerakan “Jangan Bugil Depan Kamera”

Rogers, Everett M, 1986, Communication Technology ; The New Media in Society, London: The Free Press Collier Macmillan Publisher.

Wen, Sayling, 2002, Future of the Media, Batam : Lucky Publisher.

Yuliastati, Rima, dkk. 2011. Pendidikan Kewarganegaraan untuk SMA/MA/SMK Kelas X. Cetakan Buku Elektronik. Jakarta : Kementerian Pendidikan Nasional

Undang-Undang nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi (versi PDF, diunduh melalui http://google.com pada hari Sabtu, 27 Juni 2015, pukul 03.02 WIB)

http://cispoldajatim.blogspot.com/2014/09/polda-jatim-kebijakan-dan-strategi.html

(diakses Minggu, 28 Juni 2015 pukul 13.26 WIB)

http://www.beritasatu.com/nasional/268787-mensos-prostitusi-di-indonesia-sudah-mengkhawatirkan.html (diakses Minggu, 28 Juni 2015 pukul 13.47 WIB)

(17)

14

http://nasional.kompas.com/read/2015/02/05/17001331/

Mensos.Indonesia.Darurat.Pornografi (diakses Minggu, 28 Juni 2015 pukul 13.06

WIB)

http://www.kaskus.co.id/thread/513079471fd719f109000008/15-data-statistik-pornografi-di-internet-yang-mengejutkan (diakses Sabtu, 27 Juni 2015 pukul 15.23 WIB)

http://internet-filter-review.toptenreviews.com/internet-pornography-statistics.html

(diakses Sabtu, 27 Juni 2015 pukul 15.23 WIB)

https://unitedfamiliesinternational.wordpress.com/2010/06/02/14-shocking-pornography-statistics/ (diakses Sabtu, 27 Juni 2015 pukul 15.23 WIB)

http://www.familysafemedia.com/pornography_statistics.html (diakses Sabtu, 27 Juni 2015 Pukul 15.23 WIB)

Referensi

Dokumen terkait

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga penulis dapat

Puji syukur kepada allah SWT atas limpahan berkat dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan hukum yang berjudul Penegakan Hukum Terhadap Perusakan

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya lah hamba hingga saat ini masih diberi umur panjang, yang mana telah memberikan kesempatan

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, karunia dan kasih-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan berkah dan rahmat-Nya, dan memberi kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan hukum,

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini

Puji syukur saya panjatkan atas kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah hukum ekonomi dengan

Segala puji bagi Allah, kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Puji syukur kepada Allah, Tuhan Yang Mahapengasih; yang telah melimpahkan rahman dan rahim-Nya, rahmat dan hidayah kepada