Jurnal metode role playing dan media gambar
1. PENERAPAN METODE ROLE PLAYING DAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA (SPEAKING) MATERI PROFESSION MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS SISWA KELAS IX SMPN 1 MANDIRANCAN Oleh : YETI SUPRIYATIN, S.Pd. NIP : 197311102006042018 Email : [email protected] ABSTRAK Penelitian mengenai Penerapan Metode Role Playing Dan Media Gambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara (Speaking) Materi Profession Mata Pelajaran Bahasa Inggris Siswa Kelas IX SMPN 1 MANDIRANCAN Sungailiat telah dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2013. Yang melatar belakangi penelitian ini adalah kenyataan masih banyak guru yang gaya mengajarnya monoton sehingga menimbulkan siswa malas, bosan dan mengantuk saat proses pembelajaran disebabkan guru belum maksimal dan tidak sesuai antara metode dan media yang digunakan dengan materi. Oleh sebab itu tingkat penguasaan materi rendah, prestasi siswa menurun. Adapun tujuan penelitian ini untuk meningkatkan keaktifan siswa dan profesional guru dalam proses belajar mengajar Bahasa Inggris di SMK Yapensu Sungailiat, sehingga dapat meningkatkan kualitas hasil belajar siswa. Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan Penelitian Tindakan Kelas melalui tiga siklus. Pada siklus I penulis memberikan materi dengan metode work individually hasilnya kurang memuaskan. Pada siklus II, siswa menunjukkan hasil yang agak memuaskan. Begitu juga pada siklus III hasil yang diperoleh sangat memuaskan. Dari hasil observasi kemampuan berbicara speaking) siswa meningkat dari siklus I = 46,34% pada siklus II = 73,17%, sedangkan pada siklus III = 100%. Dari hasil siklus I sampai dengan siklus III dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode role playing dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa pada pelajaran bahasa inggris di Kelas IX SMPN 1 MANDIRANCAN Sungailiat. Kata kunci : Metode Role playing, Media gambar, Kemampuan Berbicara. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Berbicara (speaking) sebagian siswa menganggap suatu kemampuan yang sulit baik dalam pengucapan (pronounciation) maupun kosa kata (vocabulary)
mengajar (Ryanto, 2001). 1. Identifikasi Masalah a. Rendahnya motivasi dan percaya diri siswa dalam proses pembelajaran. b. Rendahnya tingkat penguasaan berbahasa siswa dalam berbicara (speaking) c. Metode yang digunakan guru tidak sesuai dengan karakteristik materi d. Guru tidak menggunakan media pembelajaran 2. Analisis Masalah a. Metode yang digunakan guru tidak menarik siswa selain itu guru kurang bervariasi atau monoton dalam mengajar. b. Media yang digunakan oleh guru tidak sesuai dengan materi yang diajarkan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan hasil pengamatan dan refleksi terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan, permasalahan tersebut diatas, yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah Penerapan Metode Role Playing Dan Media Gambar Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara (Speaking)
3. Materi Profession Mata Pelajaran Bahasa Inggris Siswa Kelas IX SMPN 1 MANDIRANCAN Sungailiat ?” C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, adapun penelitian ini bertujuan sebagai berikut : 1. Untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa kelas X AP1 melalui Metode Role Playing dan Penggunaan Media Gambar (picture). 2. Untuk mengetahui dampak Metode Role Playing dan Penggunaan Media Gambar (picture) terhadap kemampuan berbicara (speaking). D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk : 1. Siswa : Termotivasi agar lebih antusias dan kreatif dalam penyelesaian pembelajaran bahasa Inggris sehingga mempermudah pengajaran pada materi berbicara (speaking). 2. Guru : Meningkatkan keterampilan mengajar guru menggunakan metode role playing dan meningkatkan kreatifitas dan inovasi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran Bahasa Inggris. 3. Sekolah Meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan meningkatkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditentukan sekolah. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Metode Role Playing Bermain peran merupakan suatu permainan dimana pemain memainkan peran untuk merajut sebuah cerita bersama berdasarkan karakteristik tokoh tersebut. Menurut Hayes (1989) “Role playing activity merupakan salah satu metode yang dapat meningkatkan metode pembangunan karakter siswa”. Santrock (1995: 272) menyatakan bahwa “bermain peran (role play) adalah suatu kegiatan yang
pemanfaatan media pembelajaran yang digunakan oleh guru dapat dengan mudah diterima siswa saat materi disampaikan. Apalagi Media pembelajaran yang ditampilkan itu menarik sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan siswa akan termotivasi untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga suasan pembelajaran tidak membosankan tapi justru suasana yang menyenangkan. Menurut Brown (1973) “Media pembelajaran yaitu sebagai alat bantu yang dapat digunakan oleh guru dalam proses kegiatan pembelajaran”. Tujuan media pembelajaran yaitu untuk membantu guru menyampaikan pesan atau informasi secara lebih mudah kepada siswa sehingga dapat menguasai pesan-pesan tersebut secara cepat dan akurat dan yang dikomunikasikan diserap semaksimal mungkin oleh para siswa sebagai penerima pesan. C. Kemampuan Berbicara 1. Arti berbicara Berbicara (speaking) adalah sesuatu yang mengandung maksud dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan dan para penyimak dan para pembaca, Brown dalam Tarigan, 1981 : 10-13).
5. Berbicara ada serangkaian perbuatan atau tindakan yang mengandung maksud dan tujuan. Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi supaya dapat menyampaikan pikiran secara efektif. Kriteria dalam perencanaan pengajaran keterampilan berbicara bagi guru. Harmer (1998 : 122) menyarankan bahwa “suatu perencanaan yang baik memerlukan variasi yang koherensi yang padu”. Pernyataan ini mengharapkan guru untuk memberikan kegiatan-kegiatan pembelajaran yang bervariasi yang berhubungan satu dengan yang lainnya dimana siswa mempelajar topik yang sama namun siswa distimulan dengan kegiatan yang bervariasi sehingga siswa tidak merasa bosan atau jenuh. 2. Pemilihan Materi dalam kemampuan berbicara (speaking) Para siswa harus dilibatkan dalam bermacam-macam kegiatan lisan, serta memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih berbicara, oleh sebab itu guru mampu membuat skenario yang dapat memberi motivasi kepada siswa agar berlatih dalam berbicara bahasa Inggris. Nunan, (1989 : 51) menyimpulkan dari sejumlah teori dan penelitian bahwa “belajar berbicara dalam bahasa kedua atau bahasa asing akan difasilitasi ketika pelajar secara aktif ikut serta dalam melakukan komunikasi”. Dari penjelasan diatas guru harus memiliki perencanaan yang baik sebelum melakukan pembelajaran dikelas. Perencanaan yang baik harus berdasarkan 4 aspek yang dikemukakan oleh Harmer (1988, selain perencanaan persiapan materi dengan baik, guru harus mempertimbangkan metode yang baik dan cocok dengan materi yang akan diajarkan. Proses belajar mengajar yang dikenal dengan pembelajaran kontekstual (contexual teaching and learning) menyatakan bahwa belajar akan bermakna ketika guru mampu menyelaraskan materi yang dipelajari dengan konteks kehidupan yang nyata dan siswa sesuai dengan apa yang sedang mereka pelajari. Menurut Hadfield dan Hammer (1971), bahwa prosedur pengajaran keterampilan berbicara memiliki 3 (tiga) tingkatan, umumnya adalah : kegiatan awal (setting up, engage)¸ kegiatan inti (speaking practice), umpan balik (feed back) dan memperkenalkan EAS singkatan dari kegiatan awal (engage), kegiatan inti (speaking), belajar (study), keduanya hanya berbeda pada istilah. Pemilihan materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga dalam proses pembelajaran siswa merasa lebih aktif dan termotivasi karena siswa dapat
berkaitan dengan bidang tertentu atau jenis pekerjaan (occupation) yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetapi belum dikatakan memiliki profesi yang sesuai. Seseorang mengatakan bahwa profesinya sebagai seorang guru, penyanyi, pedagang, arsitek, dokter, perawat, pengacara, penari dan sebagainya. Menurut Walter Johnson (1959) definisi profesi : Seseorang yang menampilkan suatu tugas khusus yang mempunyai tingkat kesulitan lebih dari biasa dan mempersyaratkan waktu persiapan dan pendidikan cukup lama untuk menghasilkan pencapaian kemampuan, keterampilan dan pengetahuan berkadar tinggi. Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise), menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. Artinya, profesi mempunyai kemampuan yang diperoleh dari pendidikan khusus. Menurut pendapat Didi Atmadilaga, menafsirkan makna “profesi” yang dikemukakan dalam Encyclopedia of Social Sciences sebagai berikut : ...Wewenang praktek suatu kejuruan yang bersifat pelayanan pada kemanusiaan secara intelektual spesifik yang sangat tinggi, yang didukung oleh penguasaan pengetahuan keahlian serta seperangkat sikap dan keterampilan tehnik, yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus, yang penyelenggaraannya dilimpahkan kepada lembaga pendidikan tinggi ... yang bersama memberikan izin praktek atau penolakan praktek dan kelayakan praktek dilindungi oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik yang diawasi langsung oleh pemerintah maupun assosiasi profesi yang bersangkutan. Selanjutnya Walter Johnson (1959) mengartikan pertugas profesional (profesionals) sebagai”... seseorang yang menampilkan suatu tugas khusus yang mempunyai tingkat kesulitan lebh dari biasa dan mempersyaratkan waktu persiapan dan pendidikan cukup lama untuk menghasilkan pencapaian kemampuan, keterampilan dan pengetahuan yang berkadar tinggi”. E. Pembelajaran Bahasa Inggris Pembelajaran suatu usaha untuk membuat siswa belajar. Dalam kegiatan pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan
pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pengajaran. Penilaian dalam proses kegiatan pembelajaran di kelas dilakukan untuk mengetahui kemajuan dari hasil belajar siswa. Dengan penilaian ini dapat mendiagnosa kesulitan yang dialami siswa dalam belajar, serta memberi umpan balik untuk perbaikan proses kegiatan belajar mengajar. Menurut Slameto (2003: 62) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar secara garis besar terdiri dari dua faktor utama, yaitu: faktor internal yang terdiri atas faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh), faktor psikologis (intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan) dan faktor kelelahan. Faktor eksternal terdiri atas faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar belakang kebudayaan), faktor sekolah (metode mengajar, kurikulum, relasi
8. pendidik dengan peserta didik, relasi peserta didik dengan peserta didik, disiplin sekolah, alat belajar, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung), faktor masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat. BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMK Yapensu Sungailiat dan khususnya penelitian ini dilaksanakan di kelas X AP1 yang siswanya pberjumlah 41 orang yang terdiri dari 3 orang siswa laki-laki dan 38 orang siswa perempuan. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi SMK Yapensu Sungailiat dan khusunya penelitian ini dilaksanakan di kelas X AP1 yang siswanya berjumlah 41 orang yang terdiri dari 3 orang siswa laki-laki dan 38 orang siswa perempuan. B. Waktu Penelitian Adapun waktu pelaksanaan mulai dari pembelajaran normal, siklus I, siklus II dan siklus III adalah sebagai berikut: Tabel 3.1 Waktu Penelitian Jam ke Mata Pelajaran 1-2 Bahasa Inggris 1-2 Bahasa Inggris 1-2 Bahasa Inggris 1-2 Bahasa Inggris Pokok Bahasan Berbicara (speaking) Berbicara (speaking) Berbicara (speaking) Berbicara (speaking) Pembelajaran Pra siklus Waktu Pelaksanaan 09 Oktober 2012 Siklus I 14 Maret 2013 Siklus II 21 Maret 2013 Siklus III 26 Maret 2013
sebagai evaluasi apakah memiliki pengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa atau tidak. Dalam refleksi ini peneliti mengkaji apa yang telah atau belum berhasil dalam penerapan penelitian tersebut.
10. 2. Siklus I a. Perencanaan Pada tahap perencanaan sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan. Adapun kegiatan pada tahap ini adalah : 1) Penyusunan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP). Pada RPP siklus I fokus pada perbaikan pembelajaran adalah peningkatan respon siswa dan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran berbicara (speaking) 2). Membuat soal test dengan metode role playing yang memasukkan bagian speaking didalamnya 3) Menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan. 4) Membentuk kelompok 5) Memberikan penjelasan pada siswa cara kerja bermain peran (role playing). b. Pelasanaan Tindakan Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan penelitian guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, siswa dibimbing untuk belajar bahasa Inggris melalui bermain peran (role playing) yaitu langkah-langkah yang dilakukan sesuai dengan skenario pembelajaran. c. Pengamatan Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini guru sebagai peneliti melihat perkembangan siswa selama melaksanakan metode role playing yang telah diterapkan. Apakah siswa mengalami kesulitan dalam menerapkan metode role playing tersebut. d. Refleksi Guru dan juga sebagai peneliti melakukan analisa atau data yang telah didapat pada saat penerapan metode role playing. Analisa ini digunakan sebagai evaluasi terhadap kinerja bermain peran apakah memiliki pengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa atau tidak. Dalam refleksi ini peneliti mengkaji apa yang telah atau belum berhasil dalam penerapan penelitian, apa yang telah berhasil dan kenapa hal ini terjadi.
penelitian, apa yang telah berhasil dan kenapa hal ini terjadi. Refleksi dilakukan langsung setelah rencana perbaikan pembelajaran (RPP)
12. bersama dengan supervisor 2. Hasil diskusi pada refleksi II dijadikan masukan pada siklus III. 4. Siklus III a. Perencanaan Pada tahap perencanaan sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan. Adapun kegiatan pada tahap ini adalah : 1) Penyusunan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP dan tujuan perbaikan. Pada RPP siklus II fokus pada perbaikan pembelajaran adalah peningkatan respon siswa dan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran berbicara (speaking). 2) Membuat soal test dengan metode role playing yang memasukkan bagian speaking didalamnya. 3) Menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan. 4) Membentuk kelompok 5) Memberikan penjelasan pada siswa cara kerja bermain peran (role playing). b. Pelasanaan Tindakan Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Dalam pelaksanaan penelitian guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, siswa dibimbing untuk belajar bahasa Inggris melalui bermain peran (role playing). c. Pengamatan Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam hal ini guru sebagai peneliti melihat perkembangan siswa selama melaksanakan metode role playing dan media gambar yang telah diterapkan. Pengamatab ditekankan pada hasil belajar siswa. d. Refleksi Guru dan juga sebagai peneliti melakukan analisa atau data yang telah didapat pada saat penerapan metode role playing dan media gambar. Analisa ini digunakan sebagai evaluasi terhadap kinerja bermain peran apakah memiliki pengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa atau tidak. Refleksi dilakukan langsung setelah rencana perbaikan
13. pembelajaran (RPP) bersama dengan supervisor 2. Hasil diskusi pada refleksi III dijadikan pelaporan. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Setelah dilaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dari siklus I sampai siklus III, didapatkan hasil sebagai berikut: 1. Hasil Pra Siklus a. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Berdasarkan hasil pengamatan dan evaluasi yang dilakukan oleh guru bersama supervisor 2 bahwa hasil belajar siswa pada pra siklus masih rendah hal ini disebabkan guru dalam proses pembelajaran menggunakan metode work individually, sehingga nilai atau hasil belajar siswa yang di dapat dari pembelajaran pra siklus merupakan dasar penilaian terhadap perkembangan hasil belajar siswa. Kemampuan siswa dalam penguasaan konsep pada pra siklus dengan rata-rata kelas sebesar 65,71 dengan rincian siswa yang mendapat nilai ≤ 75 sebanyak 32 orang siswa atau 78,05% termasuk dalam kategori belum tuntas, dan yang mendapat nilai ≥ 75 sebanyak 9 orang siswa atau 21,95% termasuk dalam kategori tuntas. b. Hasil Observasi Hasil observasi terhadap hasil belajar siswa pada pra siklus dapat diketahui bahwa presentase ketuntasan belajar siswa baru sebanyak 9 orang siswa atau sebesar 21,95% dari seluruh siswa dalam satu kelas dengan nilai rata-rata kelas sebesar 65,71. Hal ini menunjukan bahwa ketercapaian target pada pra siklus ini masih jauh dari harapan, yaitu 85% siswa dalam satu kelas harus mencapai kreteria ketuntasan minimal (KKM) 75. c. Refleksi Hasil observasi terhadap guru melalui proses pembelajaran dan
mencapai tingkat ketuntasan seperti yang diharapkan yang ditunjukan dengan siswa yang mencapai ketuntasan belajar hanya sebanyak 9 orangs siswa = 21,95%. Sedangkan target ketuntasan yang ditetapkan yaitu 85% dari seluruh siswa dalam satu kelas harus menguasai 75% materi pembelajaran. Adapun permasalahan dalam proses pembelajaran pada Pra Siklus ini yang merupakan penyebab dari rendahnya ketuntasan belajar siswa, sebagai berikut: 1. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru hanya menggunakan metode tunggal, yaitu metode work individually, dimana proses pembelajaran berpusat pada guru dan berlangsung secara monoton dan tidak menarik, sehingga siswa menjadi bosan dan pasif. hal ini menunjukan bahwa pengetahuan guru terhadap metode pembelajaran sangat kurang 2. Guru kurang menguasai kelas, sehingga kelas menjadi ribut dan peserta didik sibuk dengan kegiatan masing masing tanpa memperhatikan materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Dari kelemahan kelemahan tersebut diatas, maka dicarikan solusi sebagai berikut: 1. Guru mencoba untuk menerapkan metode pembelajaran yang diasumsikan dapat menjadikan suasana pembelajaran lebih menarik, sehingga siswa berminat dan aktif dalam mengikuti proses pembelajaran, yaitu metode role playing dalam pelaksanaan pembelajaran pada Siklus I. 2. Penguasaan kelas yang baik dari guru melalui perhatian yang merata terhadap siswa baik secara individu maupun kelompok. 2. Hasil Siklus I a. Perencanaan Perencanaan pembelajaran Siklus I didasarkan pada kekurangan pembelajaran Pra Siklus. Untuk meningkatkan kemampuan berbicara (speaking) dengan menggunakan metode bermain peran (role playing). Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
16. Dari kelemahan kelemahan tersebut di atas, maka dicarikan solusi sebagai berikut: 1. Guru merencanakan untuk dapat mengatur waktu dalam proses perbaikan menggunakan metode bermain peran (role playing) dalam proses pembelajaran kemampuan berbicara (speaking). 2. Guru merencanakan pelaksanaan pembelajaran melalui metode bermain peran (role playing) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara (speaking) siswa dalam proses kegiatan pembelajaran di dalam kelas. 2. Hasil Siklus II a. Perencanaan Pada tahap perencanaan sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan. Adapun kegiatan pada tahap ini adalah : 1) Penyusunan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP) Pada RPP siklus II fokus pada perbaikan pembelajaran adalah peningkatan respon siswa dan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran berbicara (speaking) agar mencapai Kriterian Ketuntansan Minimal (KKM) kelas X AP1 yaitu 75 (RPP terlampir) 2) Membuat soal test dengan metode role playing yang memasukkan bagian speaking didalamnya yang akan diadakan untuk mengetahui hasil belajar siswa. 3) Menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan. 4) Membentuk kelompok yang bersifat heterogen baik dari segi kemampuan akademis, jenis kelamin, maupun etnis. 5) Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran yang akan dilaksanakan. b. Pelaksanaan Untuk melakukan perbaikan pembelajaran siklus II dengan penerapan metode Role playing materi Profesi yang dilakukan sesuai dengan skenario pembelajaran. c. Pengamatan kemampuan siswa dalam berbicara (speaking) pada siklus II dengan nilai rata-rata kelas sebesar 76,93 dengan rincian siswa yang mendapat nilai < 75 sebanyak 11 orang siswa atau 26,83% termasuk dalam kategori belum tuntas,
18. yang mendapat nilai < 75 termasuk dalam kategori belum tuntas, dan seluruh siswa mendapat nilai ≥ 75 sebanyak 41 orang siswa atau 100% termasuk dalam kategori tuntas. Hal ini berarti kreteria ketuntasan minimal yang ditetapkan dapat tercapai. d. Refleksi Refleksi dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: 1) Menganalisis kelemahan dan siswa saat menerapkan metode bermain peran (role playing). 2) Melakukan refleksi terhadap penerapan bermain peran (role playing) dan menggunakan media gambar untuk pertimbangkan langkah pembelajaran selanjutnya. 3) Melakukan refleksi terhadap keaktifan siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris materi profesi. 4) Melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa. 5) Menganalisis hasil akhir penelitian. Berdasarkan tahapan kegiatan perbaikan Siklus III ini, siswa sudah mencapai keaktifan dan ketuntasan seperti yang diharapkan yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata kelas sebesar 81,07 dan siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 41 orang peserta didik atau 100%. Hal ini melebihi target ketuntasan yang ditetapkan yaitu 85% dari seluruh siswa dalam satu kelas harus menguasai 75% materi pelajaran. B. Pembahasan Berdasarkan hasil pengamatan/observasi kemampuan berbicara (speaking) terhadap 41 orang siswa Kelas IX SMPN 1 MANDIRANCAN Sungailiat selama dilakukan perbaikan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa penerapan metode bermain peran (role playing) dan media gambar (picture) dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Kemampuan berbucara (speaking) materi Profesi untuk peningkatan hasil belajar siswa. Sehingga hasil belajar yang diharapkan dapat tercapai seperti pendapat Cocco, De, 1968, dalam Ibrahim, et. al. (2007: 3.9), “untuk meningkatkan hasil belajar siswa, guru harus bisa menumbuhkan motivasi dalam diri siswa”.
19. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Kemampuan berbicara siswa dapat ditingkatkan melalui penerapan metode bermain peran (role playing) 2. Penggunaan metode bermain peran (role playing) untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa karena didalam kegiatan metode role playing sudah tercangkup semua kompetensi didalamnya dan dapat meningkatkan partisipasi aktif para siswa dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris khususnya Kemampuan Berbicara (speaking). 3. Penggunaan Alat peraga merupakan segala sesuatu alat yang dapat menunjang keefektifan dan keefisiensi penyampaian, pengembangan dan pemahaman informasi atau pesan pembelajaran. Media gambar dimanfaatkan oleh guru dalam pembelajaran agar materi dapat dengan mudah diterima oleh siswa B. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan saran untuk upaya meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Inggris adalah sebagai berikut: 1. Proses pembelajaran Bahasa Inggris khususnya kemampuan berbicara (speaking) dapat dilakukan untuk dapat menciptakan konteks yang bermakna bagi peningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. 2. Menggunakan media pembelajaran yang sesuai dan menarik sehingga dapat meningkatkan pemahaman siswa. 3. Guru hendaknya menciptakan suasana pembelajaran yang aktif, kreatif dan menyenangkan sehingga siswa tidak jenuh atau mengantuk kegiatan pembelajaran di kelas. dalam proses
Bahasa dalam Berbicara Sebagai suatu siswa Kelas 2 SMP Negeri 6 Serang. Jakarta : mhtml : file//F:majalah %20 skripsi %20 PENGARUH %20 PENGUASAAN %20 TEORI %20 BE. http://www.sekolahdasar.net/2012/03.media-gambar-pendukung-proses-html?m=1 diunduh tanggal 15 Maret 2013. http://zulkifli media pembelajaran.wordprese.com/292/05/15/pengertian-media-menurutpara-ahli/.