• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kebijakan AS di Bidang Ideologi Politik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Kebijakan AS di Bidang Ideologi Politik"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Kebijakan AS di Bidang Ideologi, Politik, Ekonomi dan Militer

Ditujukan untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Politik Luar Negeri Amerika Serikat

Dosen: Rahmi Fitriyanti, M.Si

oleh:

Farah Dina F/ 1111113000112

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)

1. Politik Luar Negeri Amerika Serikat di Bidang Ideologi: Demokrasi

1.1 Studi Kasus: Invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003

Selama perang dingin, kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah dipengaruhi oleh tiga tujuan utama, yaitu mengepung Uni Soviet, mengamankan suplai petroleum dan menjamin kebertahanan Israel. Promosi demokrasi ditutupi oleh tiga tujuan tersebut. Pertimbangan demokrasi dan Hak Asasi Manusia tidak menjadi motif dukungan AS untuk melawan negara Arab yang radikal selama Perang Dingin. Pertimbangan Balance of Power adalah pertimbangan utama para pembuat kebijakan AS.

Berakhirnya Perang Dingin dan kemenangan demokrasi atas komunisme Uni Soviet berujung pada perubahan penting pada kebijakan luar negeri AS. Masa administrasi Bill Clinton memberi perhatian lebih besar kepada isu luar negeri demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Dua contoh undang-undang yang mengatur demokrasi dan Hak Asasi Manusia pada kebijakan luar negeri AS adalah The Leahy Amendment to the Defense Appropiations Act (1988) dan the Religious Persecution Act (1998).

Perhatian khusus juga diberikan kepada hak perempuan dan pekerja. Kebijakan luar negeri negara Timur Tengah banyak dipengaruhi oleh perubahan-perubahan ini dan demokrasi menjadi salah satu elemen dalam hubungannya dengan aktor regional. Promosi demokrasi selama periode ini bagaimanapun tetap mendapat proporsi yang kecil dalam pembuatan kebijakan luar negeri AS.

Serangan terorisme 11 September 2001 membuat promosi demokrasi menjadi elemen penting dalam pembuatan kebijakan luar negeri AS di Timur tengah. Tak lama setelah serangan tersebut muncul berbagai pandangan bahwa terorisme Islamis adalah ancaman utama AS. Hal tersebut disebabkan oleh defisit demokrasi yang terjadi di Timur Tengah dan AS merasa bertanggung jawab atas hal tersebut. AS merasa harus melakukan demokratisasi di Timur Tengah. Represi dan autoritarianisme membuat para Islamis frustasi dan akhirnya bertindak nekat. AS dan sekutunya menganggap demokrasi adalah satu-satunya solusi bagi masalah terorisme.

(3)

arah kebijakan luar negeri AS. Promosi demokrasi ke seluruh dunia merupakan bagian dari misi global AS dan membantu pengamanan posisinya di dunia. Tetapi sayang pada akhirnya kegagalan proyek demokratisasi Irak berujung ketidakpercayaan publik terhadap AS yang sangat kukuh dalam menyebarkan ideologi demokrasinya.1

1.2 Grand Theory: Liberalisme

Berdasarkan perspektif liberalisme, keputusan untuk berperang berasal dari karakteristik internal negara, khususnya tipe pemerintahan dan juga pengaruh dari ekternal, yaitu hukum internasional. Keamanan dan kesejahteraan global bergantung kepada penyebaran demokrasi dan perdagangan dserta fungsi regulasi konflik pada institusi internasional. Seperti realisme, liberlaisme menurunkan beberapa teori hubungan internasional. Idealisme Kantian/ Wilsonian didasarkan pada ide bahwa kondisi yang lebih demokratis akan mampu menciptakan kondisi yang lebih damai. Maka dari itu, liberal crusading akan menggunakan kekerasan untuk mengganti kedikatatoran dengan demokrasi.

1.3 Teori: Democratic Peace Theory

Teori ini menyatakan bahwa sesama negara demokratis tidak akan saling menyerang. Namun mereka sangat rentan untuk berperang dengan negara yang non-demokratis. Semakin demokratis, maka semakin mudah menciptakan perdamaian. 1.4 Konsep: Demokratisasi

Negara-negara demokratis, seperti AS, akan berupaya sekuat mungkin untuk menyebarkan ideologinya melalui proses demokratisasi. Proses demokratisasi adalah proses transformasi sistem atau struktur pemerintahan suatu negara menjadi suatu sistem yang menerapkan nilai-nilai demokrasi, seperti: adanya pemilihan umum, kebebasan berpendapat, adanya perwakilan rakyat, adanya pembagian struktur pemerintah yang memungkinkan terjadinya proses check and balances dan sebagainya.

1.5 Analisa:

Negara-negara demokratis cenderung takut dengan negara-negara non-demokratis yang kurang transparan dan mekanisme check and balances yang memungkinkan negara non-demokratis tersebut untuk menyerang negara-negara demokratis dahulu. Negara demokratis berpandangan bahwa kediktatoran lebih

(4)

mungkin untuk menggunakan kekerasan dan hal tersebut membuat negara demokrasi menjadi lebih agresif dan rentan perang ketika merasa terancam oleh negara non-demokratis.

Maka keputusan administrasi Bush untuk melakukan invasi ke Irak adalah karena adanya ketakutan AS bahwa Irak akan mengembangkan senjata pemusnah masal untuk menyerang AS dan sekutunya, walaupun pada akhirnya tidak terbukti. David Kay, inspektur senjata utama untuk Survey senjata Irak, mengingatkan kembali akan asumsi bias pejabat AS tentang kemampuan senjata Irak: Kami menemukan setelah Perang Teluk pertama bahwa kita pernah meremehkan kapasitas nuklir Irak, sehingga tidak ada yang percaya pada Irak ketika mereka mengatakan yang sebenarnya, bahwa tidak ada senjata di Irak.

Dukungan untuk relevansi teori liberal terhadap keputusan invasi dapat ditemukan di pertanyaan, “Akankah AS menginvasi Irak seandainya Irak telah menjadi negara demokratis?” Kemungkinan jawabannya adalah tidak. Tidak hanya karena alasan bahwa sesama negara demokratis yang matang tidak akan menyerang satu sama lain, namun juga akan menjadi pertanyaan jika kongres dan publik mendukung invasi kepada negara yang bukan negara otoriter. Ini membuktikan bahwa tipe rezim juga menjadi penyebab penting perang.

Dari perspektif liberal, serangan 9/11 , yang dilakukan oleh warga negara dari negara-negara non-demokratis di Timur Tengah , meskipun tidak Irak , memberikan insentif baru dan menarik bagi AS untuk menggunakan kekuatannya untuk mendorong demokrasi , dengan harapan suatu efek spillover positif melalui wilayah tersebut. Sebuah pembenaran penting bagi AS untuk mengakhiri kediktatoran represif Saddam Hussein adalah untuk melindungi hak asasi manusia dan meringankan penderitaan rakyat Irak. Bush dilaporkan membaca laporan tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia di Irak dan laporan tersebut memberinya semacam tanggung jawab moral yang diperlukan untuk membuat keputusan (untuk menyerang). Walaupun sebenarnya tidak ada pelanggaran Hak Asasi Manusia besar-besaran sedang terjadi di saat invasi, dan administrasi Bush tidak menunjukkan bahwa concern terhadap isu Hak Asasi Manusia adalah motif utama untuk keputusan invasi.

(5)

2. Politik Luar Negeri Amerika Serikat di Bidang Politik

2.1Studi Kasus: Pemberian Bantuan Ekonomi AS kepada Korea Selatan untuk Mempertahankan Dominasi Kekuasaannya di Asia

Dekatnya hubungan antara AS dan Korea Selatan semakin diperkuat dengan berbagai isu yang berkembang di regional Asia. Bangkitnya Cina membuat AS harus mempertahankan aliansi dekatnya di Asia agar dominasinya tidak menurun. Bantuan finansial pun semakin banyak diberikan oleh AS kepada Korea Selatan.

2.2 Grand Theory: Neo-Realisme

Neo-Realisme sebagai turunan Realisme telah menghasilkan berbagai teori yang terkait dengan masalah security dilemma, balance of power dan loyalitas aliansi kepada hegemon dalam struktur internasional yang anarki ini. Salah satu teorinya adalah teori Hegemonic Stability. Kasus yang akan dibicarakan adalah mengenai pemberian bantuan ekonomi AS kepada Korea Selatan yang disebabkan oleh kecemasan AS akan bangkitnya Cina yang mampu menandingi dominasi kekuatan AS khususnya di regional Asia. Central Intelligence Agency (CIA) memproyeksikan bahwa Cina akan menjadi kekuatan militer utama dan akan menandingi Amerika dalam kekuatan global di tahun 2020.

2.3 Teori: Hegemonic stability

A.F K Organski mengemukakaan ide teori hegemonic stability dalam karya terkenalnya World Politics (1958). Dia menjelasakan bahwa ketika sebuah negara memiliki kekuasaan hegemoni dan menjadi dominan untuk mempraktekan kebijakan hegemoninya kepada negara lain yang kurang kuat kemudian kekuasaan hegemoninya tersebut ditantang oleh negara kuat atau negara yang sedang bangkit lainnya. Situasi ini dapat memicu peperangan atau konflik antara the rising power dan hegemon yang kekuatannya menurun. Para ilmuwan teori ini mendukung ide dominasi Amerika Serikat di hubungan internasional dan mendeklarasi hegemoni AS sebagai langkah positif untuk dunia yang lebih baik, damai dan sejahtera.

Hegemonic stability adalah keadaan dimana ada suatu negara bangsa yang

(6)

Perkembangan berlanjut dari adanya sebuah hegemoni yang menguasai kepada suatu hegemoni yang mampu menciptakan sebuah stabilitas. Yang dimaksudkan sebagai sebuah stabilitas adalah sebuah stabilitas yang mampu menjaga kestabilan negara – negara lain di dunia. Contoh negara yang pernah menciptakan hegemonic stability

adalah Inggris pada abad ke-18 dengan segala macam rupa invasinya ke wilayah – wilayah lain. Namun seiring berkembangnya zaman, Amerika Serikat mampu menciptakan hegemonic stability selanjutnya pada abad ke-20, meskipun hal ini mulai diragukan sekarang mengingat bahwa Amerika Serikat telah turun pamornya karena serangan terorisme maupun hantaman krisis ekonomi. Banyak ilmuwan berpendapat bahwa instabilitas dan stagnasi hubungan ekonomi internasioal pada masa antar-perang disebabkan tidak adanya hegemon yang mampu menjaga stabilitas sistem.

Wang Jisi, dekan departemen Hubungan Internasional Universitas Peking dan seorang peneliti ahli hubungan AS dan Cina, mengatakan bahwa dalam beberapa tahun ini, tujuan utama kebijakan luar negeri AS adalah untuk mempertahankan hegemoni dan dominasinya sehingga AS akan berusaha untuk menghindari munculnya hegemoni baru, dalam konteks saat ini Cina, dalam hubungan internasional. Contoh kebijakannya antara lain memperkuat hubungan keamanannya dengan aliansinya seperti Jepang, Korea Selatan dan Filipina; hubungan yang lebih erat dengan emerging powers seperti Indonesia dan Vietnam; mempererat kerjasama dengan institusi seperti ASEAN dan sebagainya.

2.4 Konsep: Balance of Power

Power negara merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam studi politik dunia. Power dalam perspektif realis merupakan konsep sentral. Hal ini berkaitan dengan aksi negara dalam politik internasional. Negara mengejar kepentingan nasionalnya sebagai alasan dibalik setiap tindakan negara. Maksimalisasi

power adalah kepentingan suatu negara. Dengan demikian tindakan negara dapat dijelaskan dengan keinginannya untuk mempertahankan, perlindungan, atau meningkatkan power dalam hubungannya dengan negara lain sebagai respon rasional pada kondisi politik internasional yang anarki.

(7)

Balance of Power Theory and Their Contemporary Relevance’, T. V. Paul membagi tiga bentuk dalam Balance of Power antara lain : 1) Hard balancing : yaitu cara yang digunakan untuk mencapai Balance of Power dengan mempertahankan dan menambah kekuatan militer. Hal ini digunakan oleh kaum realis dalam pemahamannya. 2) Soft balancing : yaitu dimana negara-negara menaikkan intensitas kekuatannya bersama negara kuat lain sehingga dapat meredam adanya negara rising power baru yang dapat mengancam dan menimbulkan ketakukan. 3) Asymmetric balancing : yaitu keadaan dimana adanya usaha yang dilakukan negara bangsa untuk bisa mencapai keseimbangan namun terdapat gejala tak langsung dari aktor diluar negara itu sendiri seperti teroris yang dapat mengancam keamanan.

2.5 Analisa

Melalui kacamata Realisme, hegemonic stability sangat penting dalam sistem internasional yang anarki ini. Dunia internasional membutuhkan seorang hegemon yang mampu mengatur dan menjaga perdamaian dunia. Amerika Serikat menjadi

hegemonic stability pada abad ke-20 dan berhasil menjaga kestabilan sistem internasional, meskipun hal ini mulai diragukan sekarang mengingat bahwa Amerika Serikat telah turun pamornya karena serangan terorisme maupun hantaman krisis ekonomi.

Kemunculan hegemon tandingan akan menyebabkan ketidakstabilan sistem internasional. Maka, dalam kasus kebangkitan Cina saat ini, Amerika Serikat berupaya keras untuk menghalangi Cina untuk menandingi dominasinya. Amerika Serikat sebagai polisi dunia merasa perlu menjaga balance of power regional Asia. Untuk itu Amerika Serikat membuat inisiatif-inisiatif penting, baik dalam bidang politik, ekonomi dan militer demi mempertahankan dominasi kekuasaannya di regional Asia. Salah satu inisiatifnya adalah memberikan bantuan luar negeri untuk Korea Selatan, aliansi dekatnya. Maka, AS sekarang sedang berusaha untuk melakukan soft balancing, yaitu menaikkan kekuatannya bersama kekuatan lain, seperti Korea Selatan, untuk menghindari rising power, dalam hal ini adalah Cina,

yang ditakutkan akan mengancam dominasi dan hegemoni AS.

(8)

kekuasaan terpusat, maka bantuan luar negeri AS bertujuan untuk membantu sekutunya. Namun saat konsetrasi kekuasaan tidak terpusat (konsep kedua), maka bantuan luar negeri AS bertujuan untuk mendapatkan simpati dari negara non-aliansinya. Setelah runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat belum menghadapi pesaing global, namun pengaruhnya di berbagai daerah sedang ditantang oleh kekuatan regional yang muncul, seperti China dan India. Untuk menguji teori ini, kita menganalisis alokasi bantuan luar negeri Amerika Serikat setelah Perang Dingin, yaitu antara tahun 1990 dan 2009. Fokus pada periode ini karena teori kami berfokus pada situasi dimana penantang utama hegemon adalah kekuatan regional, bukan global. Kami menunjukkan bahwa ketika konsentrasi kekuasaan dalam suatu wilayah meningkat, maka Amerika Serikat juga akan meningkatkan bantuan luar negeri untuk sekutunya. Sebaliknya, di daerah-daerah yang ditandai dengan pemerataan kekuasaan, hegemon berfokus pada membeli pengaruh dari non - sekutu. Selain berfokus kepada logika kebijakan luar negeri hegemon, teori dan empiris kami menyoroti pentingnya dinamika regional di dunia dengan hegemon tunggal. Temuan ini menjelaskan bagaimana Amerika Serikat dapat diharapkan untuk merespon perubahan balance of power di seluruh dunia.

Sesuai dengan teori bantuan luar negeri kedua, yaitu beberapa sarjana berpendapat bahwa hegemon dapat menggunakan pengaruh mereka untuk mengekstrak konsesi dari negara lain. Hegemon mungkin khawatir tentang keamanan sekutu dan daya tawarnya. Jika kekuatan sangat terkonsentrasi, sekutu ini dikelilingi oleh satu atau lebih kuat aktor. Oleh karena itu, sekutu rentan terhadap serangan. Hal ini berarti bahwa hegemon memiliki insentif untuk meningkatkan hubungan dengan sekutu melalui bantuan asing. Sebagai contoh, mempertimbangkan implikasi dari China menggantikan Jepang sebagai hegemon di Asia Timur. Hal ini akan mendorong Amerika Serikat untuk meningkatkan dukungan kepada negara-negara yang setia di seluruh Cina, seperti Korea Selatan.2

3. Politik Luar Negeri Amerika Serikat di bidang Ekonomi

3.1 Studi Kasus: Keanggotaan AS dalam Trans- Pacific Partnership (TPP)

(9)

The Trans-Pacific Partnership (TPP) adalah sebuah perjanjian perdagangan bebas antara AS dan 11 negara partner dagang lainnya di wilayah samudera Pasifik. Jumlah perdagangan barang antara anggota-anggotanya kini adalah 1,5 triliyun dolar AS dan jumlah perdagangan jasa mencapai 242 milyar dolar AS. Perjanjian ini jika berjalan lancar akan melebihi North American Free Trade Agreement (NAFTA).

Pada 10 Desember 2013, AS dan Australia, Brunei Darussalam, Cili, Kanada, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapur serta Vietnam mengumumkan kemajuan substansial pada tahap finalisasi perjanjian TPP.

Perjanjian ini tidak melibatkan Cina dengan tujuan mengimbangi dominasi perdagangan Cina dan India di Asia Timur. TPP juga menyediakan arena aliansi perdagangan yang memberi kesempatan pada AS untuk mengintervensi konflik perdagangan di Laut Cina Selatan yang kaya akan minyak.

Seperti perjanjian perdagangan lainnya, TPP menghilangkan tariff pada barang dan jasa serta memberi kuota perdagangan. TPP mencakup jumlah barang dan jasa yang luas termasuk jasa finansial, telekomunikasi dan penetapan standar keselamatan. Maka TPP sangat mempengaruhi kebijakan luar negeri negara anggotanya.

TPP berhasil memdorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru dan kesejahteraan bagi 12 negara anggota. Perjanjian ini jika berjalan sesuai rencana akan mendorong angka ekspor mencapai 305 milyar dolar AS pertahun pada tahun 2025. Pertambahan pendapatan negara anggota akan mencapai 223 milyar dolar AS pertahun.3

TPP adalah negosiasi perdagangan paling signifikan dan menjanjikan keuntungan ekonomi yang signifikan bagi bisnis, pekerja, petani dan penyedia jasa Amerika.

Menurut analisis oleh Peterson Institute, keuntungan bersih AS dari TPP ini diperkirakan mencapai 77 milyar dolar AS dan menambah jumlah ekspor mencapai 305 milyar dolar AS pertahun pada tahun 2025.

3.2 Grand Theory: Liberalisme

(10)

Liberalisme mengatakan bahwa kerjasama akan menguntungkan semua pihak yang terlibat. Ketergantungan yang terjadi diantara negara-negara membuat negara harus menjalin kerjasama dengan negara lain, terutama negara yang memiliki kekuatan ekonomi yang besar.

3.3 Teori: Liberalisme Komersial

Kaum liberal umumnya mengambil pandangan positif tentang sifat manusia. Mereka memiliki keyakinan besar terhadap akal pikiran manusia dan mereka yakin bahwa prinsip-prinsip rasional dapat dipakai pada masalah-masalah internasional. Manusia memakai akal pikirannya sehingga mereka dapat mencapai kerjasama yang saling menguntungkan bukan hanya dalam negara tetapi juga lintas batas internasional.

Pandangan bahwa hubungan politik dipengaruhi oleh proses perkembangan ekonomi adalah pandangan utama liberalisme. Beberapa penelitian mengenai hubungan perkembangan sosio-ekonomi dan konflik telah dilakukan. Liberalis menekankan bahwa perkembangan ekonomi mampu menghindari konflik antar negara karena penggunaan senjata yang dianggap sangat merusak atau setidaknya memiliki potensi merusak.

3.4 Konsep: Kerjasama

Liberalisme men-generalisasi kondisi sosial yang membuat perilaku aktor yang self-interested kearah kerjasama atau konflik. Kondisi konfliktual dan tindakan kekerasan disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kepercayaan mendasar yang berbeda, sumber daya alam yang terbatas jumlahnya dan ketidaksetaraan dalam kekuatan politik. Namun kepercayaan yang bersifat komplementer akan membawa pada harmoni dan kerjasama. Kepentingan mutual antar negara akan membawa mereka kepada kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan.

3.5 Analisa

(11)

peraturan lebih baik. Kedua, untuk menghindari marjinalisasi proses integrasi Asia yang dipimpin oleh Cina sejak proses sosialisasi standar emas AS yang tidak terlalu bagus di Asia. Ketiga, untuk terlibat dalam dinamisme ekonomi Asia sebagai upaya untuk mencari sumber pendapatan tambahan melalui strategi ekspor. TPP adalah perjanjian penting sebagai salah satu upaya mencapai liberalisasi ekonomi tingat internasional di Asia-Pasifik. Kurangnya kemajuan setelah Doha Round WTO, pemerintah AS membuat strategi liberalisasi kompetitif melalui perjanjian bebas bilateral pada awal tahun 2000. Tujuan utama dari strategi ini adalah untuk memikat akses pasar preferensial ke pasar AS untuk mendorong negara-negara untuk mempromosikan standar emas AS.4

Partisipasi AS dalam TPP ini sangat menguntungkan AS. TPP adalah salah satu alat untuk mengubah persepsi negara Asia terhadap AS. Presiden Obama juga menegaskan untuk memperkuat hubungannya dengan aliansi lamanya dan membangun kerjasama baru dengan negara-negara di Asia.

Dari sudut pandang pemerintah AS, keuntungan lain TPP adalah: AS akan bergabung dengan grup perdagangan yang memiliki liberalisasi tingkat tinggi yang sangat kompatibel dengan misi perjanjian perdagangan bebas AS. Kedua, daripada melalui perjanjian bilateral, TPP akan menyediakan arena bagi AS dan negara-negara di Asia Pasifik untuk bertemu sehingga lebih efisien. Ketiga, akses terbuka kepada TPP akan menawarkan kemungkinan konstruksi platform Asia-Pasifik yang memberikan keuntungan ekonomi dan politik secara luas.5

4 Politik Luar Negeri Amerika Serikat di bidang Militer

4.3 Studi Kasus: Bantuan Militer Amerika Serikat untuk Israel

Sudah menjadi rahasia umum, Israel merupakan mitra terdekat Amerika. Kedekatan ini semakin erat ketika kaum Yahudi di Amerika membentuk suatu lobi yang bertujuan membela kepentingan Israel di dunia Internasional khususnya di region Timur Tengah. Salah satu lobi terkuat Yahudi yang berada di Amerika adalah AIPAC (American Israel Public Affairs Comittee ).

AIPAC selama ini telah berhasil melakukan infiltrasi terhadap bagian–bagian penting pembuat keputusan politik Amerika. Anggota AIPAC sangat aktif mempengaruhi pejabat-pejabat pemerintahan dan anggota konggres Amerika. Dengan

4

(12)

kata lain AIPAC berusaha mendapatkan dukungan para politisi Amerika untuk mendukung kaum zionis dan setiap kepentingan–kepentingan kaum zionis seperti Israel. Lobi AIPAC ini mampu membuat Amerika meningkatkan bantuan dan dukungan Amerika Serikat kepada Israel terutama bantuan militer, yang merupakan prioritas utama bagi AIPAC dalam melancarkan lobi-lobinya. Amerika akan selalu memperjuangkan kepentingan Isarel. Dukungan Amerika ini terlihat jelas ketika pada tahun 2002 Bush memberikan pernyataan pada media bahwa ia meyakini perdana menteri Israel, Ariel Sharon adalah seorang yang cinta damai.6

Bantuan Amerika untuk Israel selama 10 tahun terakhir bernilai sebesar 30 miliar dolar. Ini belum termasuk bantuan kerjasama pembuatan sistem keamanan Kubah Baja Anti Roket jarak dekat senilai 2,5 juta dolar untuk melindungi permukiman Israel.

Sejak tahun 1985, Amerika Serikat telah memberikan hampir $ 3 miliar dalam bentuk hibah setiap tahun untuk Israel. Hampir semua bantuan ini ke Israel adalah dalam bentuk bantuan militer. Hampir 75% dari dana tersebut digunakan untuk membeli peralatan pertahanan AS dari perusahaan Amerika.

Dalam sambutannya di Lembaga Studi Pro Kshinger di Washington, Chapiro menegaskan bahwa peningkatan kekuatan Israel dalam menghadang roket perlawanan tidak akan membantu terwujudnya solusi dua negara. Sebaliknya, solusi dua negara, menurutnya, tidak akan menghentikan ancaman roket. “Namun kami mendukung Israel dengan sistem keamanan Kubah Baja untuk memberikan kepercayaan diri Israel dalam mengambil keputusan di masa depan dalam rangka perdamaian utuh,” tegasnya.

Ia menegaskan, bantuan keamanan Amerika kepada Israel lebih dari karena faktor kedekatan dan simpati atau kecintaan. Menurutnya, bantuan keamanan itu karena Israel juga memperkuat keamanan nasional Amerika.7

4.4 Grand Theory: Realisme

Realisme memberi perhatian besar kepada masalah bantuan militer. Bantuan militer di masa damai saat ini dianggap sebagai bukti bahwa berbagai teori dan konsep realisme seperti teori aliansi dan konsep bantuan militer luar negeri masih relevan. Persahabatan yang sudah terjalin antara Amerika Serikat dan Israel semakin

6 Skripsi berjudul AIPAC Mempengaruhi Proses Pembuatan Kebijakan Pemberian Bantuan Militer Amerika kepada Israel Pada Masa Pemerintahan G. W. Bush

(13)

erat dengan munculnya satu musuh nyata, yaitu Muslim Palestina dan negara Timur Tengah lainnya.

4.5 Teori: Aliansi

Sebuah aliansi didefinisikan sebagai: 1a) negara yang beraliansi

b) sebuah ikatan atau hubungan antara keluarga atau individual

2a) sebuah asosiasi (berdasarkan perjanjian) dari dua atau lebih negara untuk mencapai kepentingan bersama

b) sebuah perjanjian aliansi

Poin penting dari pernyataan diatas adalah adanya hubungan antara dua atau lebih aktor untuk mencapai tujuannya. Sebuah otoritas independen, seperti negara, yang memiliki wewenang untuk memerintah sebuah populasi atau wilayah sangat dibutuhkan. Hal ini penting karena hanya dengan otoritas tersebut muncul kemungkinan untuk memobilisasi dan mempraktekkan kekuatan yang dimiliki negara, sebuah kondisi awal dalam sebuah aliansi.8

4.6 Konsep: Bantuan Luar Negeri (Foreign Aid)

Sistem internasional yang anarki menciptakan kebebasan otonomis diantara negara-negara. Hal tersebut membuat sebuah sistem internasional yang terdesentralisasi dimana setiap negara adalah berdaulat, menggunakan power mereka diatas sebuah “defined territory, a population and a government” (Sorensen, 2004. P. 17), saat terlibat pada hubungan/ permainan power politik dengan negara lainnya. Dalam setting seperti ini, bantuan internasional/ bantuan luar negeri (foreign aid)

praktis hanya menjadi sebuah alat kebijakan untuk mencapai kepentingan nasional. Alat kebijakan ini dalam pandangan realis dilihat sebagai sebuah hasil dari perang dingin yang digunakan dalam kompetisi diantara kekuatan great power. Bantuan internasional di pandang sebagai sebuah senjata kunci dalam perang dingin untuk memperbesar kemungkinan beraliansinya negara-negara dunia ketiga kedalam salah satu kubu great power. Motivasi politik itulah yang menurut morghentau menjadi hal yang di pertimbangkan oleh donor saat memberikan bantuan luar negeri (Hattori, 2002, p.642).

(14)

Kehadiran bantuan internasional dianggap sebagai sebuah instrument kebijakan sejak adanya kepentingan luar negeri yang tidak dapat diamankan dengan penanganan militer dan untuk mendukung metode diplomasi yang sebenarnya “tradisional” namun dalam bungkus yang lebih pantas. Selain kegunaan bantuan internasional sebagai instrument untuk mendukung tujuan kebijakan luar negeri, dalam prakteknya muncul bahwa kebijakan bantuan luar negeri meng-cover pula banyak disparitas tujuan dan kegiatan, sebagai respon dari berbagai macam kebutuhan, yang terlihat maupun yang tidak terlihat, berhubungan maupun tidak berhubungan pada tujuan politik sebuah kebjakan luar negeri. (Morgenthau, 1962 , p.301)

Morghentau (1962), salah satu tokoh sentral realisme, dalam artikelnya yang berjudul A Political Theory of Foreign Aid coba mengembangkan tipologi dari bantuan internasional. Ia mengidentifikasi lima tujuan kebijakan bantuan luar negeri, yaitu: military, prestige, humanitarian, economic, dan subsistence. Tipologi ini digunakan untuk mengorganisasikan kompleksitas kebijakan yang di labeli dengan nama “foreign aid”. Berdasarkan hal ini maka ada dua tipe strategi yang digunakan untuk mendapatkan pengaruh: propaganda dan suap (propaganda dan suap). Sebagian besar tipe bantuan internasional yang diidentifikasi bersifat politis, hanya sedikit yang sifatnya humanitarian foreign aid. Artinya, hal yang seharusnya bersifat non-politis kemudian bersifat sangat politis ketika diletakkan dalam konteks politik.

4.7 Analisa:

Dalam beberapa dekade AS dan Israel telah menjalin hubungan bilateral yang kuat dengan alasan meningkatnya dukungan AS untuk Israel dan keamanannya; tujuan strategis bersama di Timur Tengah; komitmen berasama dalam menyebarkan nilai-nilai demokrasi; dan hubungan sejarah sejak AS mendukung lahirnya Israel tahun 1948.

Bantuan militer AS untuk Israel didasarkan pada alasan strategis yang rasional sebagai berikut:

(15)

kemderkaannya. Sejak saat itu, AS mempertahankan hubungan tersebut berdasarkan nilai-nilai demokrasi dan liberal yang sama.

- Kepentingan keamanan AS: Israel, sebagai aliansi demokratis yang stabil, adalah negara penting bagi kepentingan keamanan AS di Timur Tengah. AS dan Israel memiliki kepentingan yang sama di regional yang krusial ini termasuk menghindari pengembangan senjata pemusnah masal, memberantas terorisme dan mempromosikan proses demokratisasi dan pengembangan ekonomi di regional Timur Tengah.

- Memajukan proses perdamaian: bantuan AS dengan jumlah banyak dimulai pada Perjanjian Perdamaian Camp David pada tahun 1979 antara Israel dan Mesir, sebuah kepentingan kunci AS. Dukungan ini merupakan kelanjutan dari promosi perdamaian dan stabilitas di regional antara Israel dan negara Arab tetangganya. Sangat penting bagi AS untuk memajukan tujuan two states for two peoples, sebuah negara Yahudi dan demokratis Israel dan negara independen dan berdaulat Palestina.

- Kepentingan ekonomi: bantuan militer untuk Israel juga mendukung penciptaan lapangan kerja di AS karena bantuan militer tersebut membutuhkan suplai barang dan jasa yang besar.9

Beberapa dampak dari bantuan militer AS ini adalah:

- Arms for influence: Kerjasama antar pemerintah akan meningkat ketika bantuan militer AS meningkat. Maka pemerintah AS akan terus meningkatkan bantuan militernya kepada negara yang mendukung kepentingan AS dan mengurangi atau menghentikan bantuan kepada negara yang gagal dalam mendukung kebijakan luar negeri AS.

- The Lonely Superpower: ketergantungan pada negara kuat dapat memicu pembangkangan. Pemerintah yang menerima bantuan militer dalam jumlah yang signifikan mungkin akan melawan pemerintah AS untuk menghindari pelabelan sebagai boneka AS oleh negara lain.

- The Reverse Leverage: secara paradoks sebuah negara kuat dapat menjadi ketergantungan pada negara yang telah ia bantu. Merujuk pada hal itu, jumlah bantuan militer yang diberikan kepada negara lain merefleksikan seberapa jauh ketergantungan AS kepada negara tersebut, seperti dalam hal ekspor minyak, basis untuk pasukan militer dan kerjasama militer. Dalam perspektif

(16)

ini, akan lebih mudah bagi negara lain untuk menerima bantuan militer AS daripada AS menemukan partner strategisnya.10

Mengingat pola-pola ini, pembuat kebijakan AS menghadapi dilema yang sulit. Memberikan bantuan militer mungkin satu-satunya cara untuk mendapatkan pengaruh di negara-negara kunci - seperti Pakistan - yang terletak di bagian strategis dari dunia. Bahkan jika bantuan tidak memiliki efek positif pada tingkat kerjasama dengan Amerika Serikat secara keseluruhan, AS masih bisa mendapatkan manfaat tertentu. Para pembuat kebijakan, bagaimanapun, masih harus mengatasi utilitas terbatas bantuan militer ini untuk mendorong kerjasama lain dengan tujuan pelaksanaan kebijakan luar negeri secara keseluruhan. Memberikan bantuan militer terkadang memungkinkan Amerika Serikat untuk menghindari biaya intervensi militer langsung, namun para pemimpin harus berhati-hati untuk tidak membahayakan kepentingan keamanan jangka panjang Amerika.

Referensi

Dokumen terkait

Wisata ini dapat dirancang hampir serupa dengan kegiatan safari malam (night safari) yaitu dengan melakukan perjalanan pada malam hari pada jalur pengamatan karena

[r]

Masyarakat, sebagai unsur pendukung tugas Walikota dalam penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah yang bersifat spesifik merupakan perubahan nomenklatur dari

Rencana Kinerja Tahunan yang merupakan dokumen Perencanaan untuk periode 1 tahun yang memuat sasaran/capaian program, indikator kinerja, program dan kegiatan dimana merupakan

No. Jadwal waktu salat menggunakan koordinat tengah waktunya lebih lambat dari koordinat lain, karena untuk mencakup seluruh wilayah kota. Koordinat tengah yang

(3) Bagaimana karakteristik kesalahan penerjemahan register sepak bola pada teks berbahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia yang dilakukan oleh mahasiswa mata kuliah

Sifat penyimpanan data IMEI adalah OTP (One Time Programming) dimana data IMEI hanya dapat ditulis satu kali saja dan tidak dapat dihapus atau diganti, oleh karena itu UEM bekas

Belanja juga punya arti tersendiri bagi remaja.Seiring dengan terjadinya perubahan perekonomian dan globalisasi, terjadi pula perubahan dalam perilaku membeli pada