• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Induk dan Sonasi Pelabuhan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Rencana Induk dan Sonasi Pelabuhan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

RENCANA INDUK DAN SONASI PELABUHAN

Husnia Ayu Aziza1, Mareta Anggun1, Cloudia Ficha U.1, Desy Ayu Maharani1,

Desy Nur Cahyani1, Ajeng Titin Suciana1, Fahrunnisa Azzura1, Intan Puspitaningrum1

1) Mahasiswa S1 Teknik Pengairan Universitas Brawijaya, Malang.

Abstrak - Pembangunan pelabuhan diharapkan mampu melayani segala kegiatan kapal dan perahu yang merapat dipelabuhan tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu perhitungan dan pertimbangan yang matang untuk memutuskan pembangunan suatu pelabuhan. Keputusan pembangunan pelabuhan biasanya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan ekonomi, politik dan teknis. Untuk itu dibuat rencana induk dan sonasi pelabuhan sebagai dasar dalam pembangunannya. Dalam pemilihan lokasi pelabuhan menggunakan beberapa faktor yang perlu diperhatikan diantaranya Tinjauan Topografi dan Geologi, Tinjauan Pelayaran, Tinjauan Sedimentasi, Tinjauan Gelombang dan Arus dan Tinjauan Kedalaman Arus.

Kata Kunci : Pelabuhan, Rencana Induk, Sonasi.

I. PENDAHULUAN

Pelabuhan merupakan tempat pemberhentian (terminal) kapal-kapal dan perahu-perahu agar dapat merapat dan membuang jangkar setelah melakukan pelayaran. Di pelabuhan ini kapal melakukan berbagai kegiatan seperti manaik-turunkan penumpang, bongkar muat barang, pengisian bahan bakar dan air tawar, melakukan reparasi, mengadakan perbekalan, dan sebagainya. Untuk bisa melakukan kegiatan tersebut maka pelabuhan harus tenang terhadap gangguan gelombang, karena sekarang pelabuhan tidak lagi harus berada di daerah terlindung secara alami, seperti teluk materi yang diperoleh dari beberapa literatur dan media elektronik. Beberapa materi yang diperlukan dalam pembahasan ini antara lain : lokasi pelabuhan, pendekatan rencana induk, klasifikasi pelabuhan, sonasi bebas, reklamasi penimbunan, dan lainnya.

Selanjutnya materi tersebut disusun secara sistematis sehingga didapatkan bahan materi yang banyak mengenai Rencana Induk dan Sonasi Pelabuhan.

III.PEMBAHASAN

3.1. Lokasi Pelabuhan

Sebuah pelabuhan tradisional biasanya terletak di dekat atau pada kota pantai. Fungsi pelabuhan itu untuk melayani kota tersebut, kemudian baru melayani kepentingan daerah pedalaman dan kota-kota sekitarnya.

Trafik utama pelabuhan ini adalah general cargo. Meskipun di pelabuhan ini terdapat komoditi ekspor, namun jumlah komoditi itu ditangani dengan cara breakbulk (misalnya dalam kantung-kantung). Kegiatan niaga di dalam pelabuhan ini terpisah dengan kegiatan perdagangan dan tidak membutuhkan banyak tempat, karena di kota tersebut hanya terdapat sejumlah kecil industri. Dengan demikian letak pelabuhan di pusat kota pantai itu merupakan lokasi yang tepat bagi dermaga general cargo yang lama.

Dalam beberapa dekade terakhir ini, banyak faktor mempengaruhi tata letak pelabuhan yang berbeda jauh dengan bentuk diatas yaitu sebagai berikut:

a. Kegiatan usaha perdagangan barang-barang niaga kecil terpaksa keluar dari wilayah kota baik karena meningkatkan skala komoditas dan membutuhkan tempat bagi komoditi di kota maupun untuk meningkatkan kebutuhan lain.

b. Dunia industri telah berkembang pesat sehingga memerlukan area yang lebih besar untuk pelabuhan dan jalan sebagai distribusi ke daerah pedalaman. c. Komoditi utama telah berkembang pesat dimana

keseluruhan skala kegiatan niaga meningkat di pelabuhan.

d. Kenaikan tonase komoditi mengenalkan sistem transportasi curah menggunakan kapal berukuran besar sehingga membutuhkan kolam pelabuhan yang lebih dalam, area transit penumpukan yang luas dan jalur lalu lintas jalan darat yang lancar.

e. Skala ekonomi mengharuskan pengelolaan pelabuhan untuk konsentrasi perencanaan pengembangan pelabuhan yang lebih luas.

(2)

Gambar 3.1. Skema Pembuatan Pelabuhan di Daerah Rawa

Gambar 3.1. adalah contoh penggunanaan bahan kerukan dasar laut untuk mereklamasi daerah rawa. Dalam gambar 3.1.a. daerah daratan secara periodik dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada saat surut daerah daratan kering sedang pada waktu pasang tergenang air. Daerah tersebut akan dibangun suatu pelabuhan. Seperti terlihat dalam gambar 3.1.b., dibuat turap atau penahan tanah, yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai dermaga. Tanah hasil kerukan dasar laut digunakan untuk menimbun daratan, dengan demikian diperoleh kedalaman perairan yang cukup untuk kolam pelabuhan, sementara daerah rawa dapat direklamasi. Gambar 3.1.c. adalah pelabuhan yang sudah jadi.

2. Tinjauan Pelayaran

Kapal yang berlayar dipengaruhi oleh faktor-faktor alam seperti angin, gelombang dan arus yang dapat menimbulkan gaya-gaya yang bekerja pada badan kapal. Faktor tersebut semakin besar apabila pelabuhan terletak di pantai yang terbuka ke laut, dan sebaliknya pengaruhnya berkurang pada pelabuhan yang terletak di daerah yang terlindung secara alam. Sedapat mungkin kapal-kapal harus memasuki pelabuhan pada arah sejajar dengan arah angin dominan. Gelombang yang mempunyai amplitudo besar akan menyebabkan diperlukannya kedalaman saluran pengantar yang lebih besar, karena pada keadaan tersebut kapal-kapal berosilasi (bergoyang naik turun sesuai dengan fluktuasi muka air).

3. Tinjauan Sedimentasi

Pelabuhan harus dibuat sedemikian rupa sehingga sedimentasi yang terjadi harus sesedikit mungkin (kalau bisa tidak ada). Untuk itu di dalam iencanaan pelabuhan harus ditinjau permasalahan sedimentasi.

Proses sedimentasi ini sulit ditanggulangi, oleh karena itu masalah ini harus diteliti dengan baik untuk dapat memprediksi resiko pengendapan. Sedimen yang ada di daerah pantai bisa berupa pasir atau sedimen susupensi. Sedimen suspensi biasanya berasal dari sungai-sungai yang bermuara di pantai.

4. Tinjauan Gelombang dan Arus

5. Pelabuhan harus mempunyai fasilitas bongkar muat barang (kran, dsb) dan gudang-gudang penyimpanan barang.

6. Pelabuhan harus mempunyai fasilitas untuk mereparasi kapal-kapal. Untuk memenuhi persyaratan tersebut pada umumnya pelabuhan mempunyai bangunan-bangunan sebagai pelengkapnya (Garnbar 3.2).

Berikut bagian-bagian yang harus ada dalam pelabuhan: 1. Pemecah gelombang, yang digunakan untuk melindungi daerah perairan pelabuhan dari gangguan gelombang. Gelombang besar yang datang dari laut lepas akan dihalangi oleh bangunan ini. Apabila daerah perairan sudah terlindung secara alamiah, maka tidak diperlukan pemecah gelombang.

Gambar 3.2. Bangunan pada pelabuhan 2. Alur pelayaran, yang berfungsi untuk mengarahkan kapal-kapal yang akan keluar/masuk ke pelabuhan. Alur pelayaran harus mempunyai kedalaman dan lebar yang cukup untuk bisa dilalui kapal-kapal yang menggunakan pelabuhan. Apabila laut dangkal maka harus dilakukan pengerukan untuk mendapatkan kedalaman yang diperlukan.

3. Kolam pelabuhan, merupakan daerah perairan di mana kapal berlabuh untuk melakukan bongkar muat, melakukan gerakan untuk memutar (di kolam putar), dsb. Kolam pelabuhan harus terlindung dari gang-guan gelombang dan mempunyai kedalaman yang cukup. Di laut yang dangkal diperlukan pengerukan untuk mendapatkan kedalaman yang direncanakan.

(3)

darat. Dermaga ini juga dilengkapi dengan kran untuk mengangkut barang dari dan ke kapal.

5. Alat penambat, digunakan untuk menambatkan kapal pada waktu me-rapat di dermaga maupun menunggu di perairan sebelum bisa merapat ke dermaga. Alat penambat bisa diletakkan di dermaga atau di per-airan yang berupa pelampung penambat. Pelampung penambat ditem-patkan di dalam dan di luar perairan pelabuhan. Bentuk lain dari pelampung penambat adalah dolphin yang terbuat dari tiang-tiang yang dipancang dan dilengkapi dengan alat penambat.

6. Gudang, yang terletak di belakang dermaga untuk menyimpan barang-barang yang harus menunggu pengapalan.

7. Gedung terminal untuk keperluan administrasi. 8. Fasilitas bahan bakar untuk kapal.

9. Fasilitas pandu kapal, kapal tunda dan perlengkapan lain yang diperlukan untuk membawa kapal masuk/keluar pelabuhan. Untuk kapal-kapal besar, keluar/masuknya kapal dari/ke pelabuhan tidak boleh de-ngan kekuatan (mesin) nya sendiri, sebab perputaran baling-baling kapal dapat menimbulkan gelombang yang akan mengganggu kapal-kapal yang sedang melakukan bongkar muat barang. Untuk itu kapal harus dihela oleh kapal tunda, yaitu kapal kecil bertenaga besar yang diran-cang khusus untuk menunda kapal.

10. Peralatan bongkar muat barang seperti kran darat, kran apung, kenda-raan untuk mengangkat/ memindahkan barang seperti forklift.

Fasilitas-fasilitas lain untuk keperluan penumpang, anak buah kapa: dan muatan kapal seperti dokter pelabuhan, karantina, bea cukai, imigrasi, keamanan, dsb[2].

3.3. Pendekatan Rencana Induk

Penentuan lokasi pengembangan pelabuhan baru yang tepat dan lokasi perluasan pelabuhan dipengaruhi oleh kebutuhan berikut:

a. Perairan yang dalam dan aman untuk bertambatnya kapal serta kedalaman alur pelayaran,

b. Lahan darat yang cukup c. Potensi tenaga kerja

d. Akses jalan darat, kereta api dan alur pelayaran yang baik

Kebutuhan diatas merupakan bagian awal kerangka kerja rencana induk. Hubungan antara rencana induk dengan proyak pengembangan pelabuhan jangka pendek merupakan persiapan proyek jangka panjang. Penekanan utama rencana induk adalah menyiapkan suatu rencana kerja pengembangan yang rasional sehingga proyek pembangunan itu berturut-turut mampu menyesuaikan diri dengan kenaikan trafik.

Para perencana induk harus mampu melihat ke masa depan dan mencari konfigurasi yang paling ekonomis. Akan tetapi teknik penilaian keuangan proyek

biasanya tidak sesuai dengan tingkat pengembangan ini. Kriteria utama penilaian yang dipakai adalah melalui studi industri, sosial, lingkungan, serta studi teknik praktis yang cukup untuk menjamin bahwa rencana jangka panjang yang diambil tidak akan mengarah pada tingginya biaya teknik sipil[1].

3.4. Klasifikasi Pelabuhan

Klasifikasi pelabuhan dilihat dari tata letak pelabuhan dapat dilihat pada gambar berikut.

1. Dilihat dari konfigurasi pelabuhan buatan (Gambar 3.3 – Gambar 3.7)

2. Dilihat dari konfigurasi pelabuhan alam (Gambar 3.8 – Gambar 3.10)

Pada beberapa pelabuhan alam, pelabuhan muara seperti pada gambar 3.9 merupakan bentuk fasilitas dari pelabuhan yang produktif terhadap biaya pengembangan dan biaya konstruksi perunit, karena biaya pengerukan yang diperlukan tidak terlalu tinggi[1].

3.5. Konfigurasi Pelabuhan

Indikator yang dipakai untuk menentukan luasan design tata letak pelabuhan adalah berapa meter persegi lahan yang dibutukan untuk tiap meter pelabuhan. Untuk pembangunan tambatan yang optimal dapat dilihat pada Gambar 3.11.

Tata letak seperti Gambar 3.11 dapat meningkatkan produktivitas cargo perkapal sebesar 100 samapai 200. Selain itu untuk mengatasi kapal yang memiliki panjang lebih besar dapat didesain seperti Gambar 3.12.

Meskipun tata letak pada Gambar 3.12 merupakan operasi yang terbaik tetapi bentuk ini memerlukan lebih banyak garis pantai yang alami tenang pada setiap tambatan[1].

(4)

Gambar 3.4. Potongan alur dan kolam untuk berputar

Gambar 3.5. Alur dengan potongan model

Gambar 3.6. Alur dengan potongan sejajar

Gambar 3.7. Penambahan pelabuhan buatan pada pelabuhan yang sudah ada

Gambar 3.8. Pengembangan pelabuhan alam

Gambar 3.9. Pengembangan pelabuhan alam di perairan

Gambar 3.10. Pengembangan pelabuhan alam di muara

Gambar 3.11. Layout pelabuhan untuk memperbanyak panjang tambatan.

Gambar 3.12. Layout pelabuhan unutk memaksimalkan Operasi di darat

(5)

Gambar 3.14. Layout dermaga modern dengan kemiringan

3.6. Pelabuhan Industri

Suatu pelabuhan tidak hanya tempat perpindahan muatan barang dari darat ke laut maupun sebaliknya, melainkan juga dapat mempengaruhi suatu industri. Dengan demikian, merencanakan suatu pelabuhan tanpa mempertimbangkan suatu wilayah industri sama juga artinya dengan menghilangkan kesempatan berharga yang merupakan faktor pendukung perkembangan suatu daerah. Perkembangan sebuah pelabuhan baru tanpa mempertimbangkan unsur-unsur kegiatan industri dapat diterima jika:

a. Tekanan kota dan/atau aspek lingkungan menahan laju perkembangan pelabuhan lebih lanjut. perlu didukung dengan pelayanan pelabuhan yang layak. Bila terjadi pemberian fasilitas khusus untuk industri dapat mendorong timbulnya konsep-konsep pengembangan yang jauh dari sebuah pelabuhan niaga. Contoh terminal untuk minyak bumi, biji besi dan sebagainya harus dibangun jauh dari area pemukiman dan harus dapat menekan biaya trasportasi darat.

Kebebasan untuk mengembangkan dan mengelola suatu pelabuhan lepas dari pelabuhan utama secara umum merupakan hal yang disukai oleh para industri, karena mereka dapat tetap mengawasi keseluruhan tahap operasional industri. Namun untuk pengembangan industri seperti industri khusus seharusnya dilengkapi dengan fasilitas normal dan umum seperti layaknya suatu pelabuhan[1].

3.7. Sonasi Bebas

Penetapan pelabuhan bebas (free port) atau sonasi bebas untuk komersial dan kepentingan industri akan membawa pengaruh yang kuat dalam rencana induk pelabuhan. Hal ini belum cukup untuk mendukung Dimasa lalu sonasi ini dipakai untuk perdugaan dan niaga,

tetapi sekarang sonasi ini lebih dipakai untuk kegiatan operasinal industri seperti pembuatan, pengolahan dan pemasangan suatu produk. Prinsip perencanaan sonasi industri adalah tersedianya jalan darat dilengkapi dengan penerangan sehingga dapat digunakan untuk pekerjaan di malam hari. Tenaga listrik yang dibutuhkan untuk pengembangan suatu industri menengah sebesar 1 Kw per 10 m2 luas pabrik. Air yang dibutukan antar 135-165

liter/orang/hr[1].

3.8. Reklamasi Penimbunan

Tanah untuk operasional pelabuhan biasanya diperoleh dengan memompa atau mengeruk tanah didepan dermaga dinding berakar tanah ke lahan tanah yang akan dipakai di belakangnya. Gabungan kedua jenis pekerjaan itu dapat menekan biaya , karena material hsil kerukan sangat tinggi harganya. Khualitas material kerukan tersebut sesuai untuk digunakan dalam rencana induk.

Dengan cara ini, pulau-pulau kecil, daerah subway(sundbase), tanah payau atau bagian darat yang tidak digunakan dapat ditingkatkan prnggunaannya sebagai tambatan dengan kolam perairan. Pulau-pulau kecil dilepas pantai dapat berperan penting dalam sebuah pelabuhan modern, terutama untuk pengembangan fasilitas bongkar muat curah yang dapat memindahkan komoditi tersebut kedarat melaluisaluran pipa atau sebuah conveyor, tanpa harus mengeluarkan biaya mahal. Selain itu dapat pula membangun pelabuhan apung tetapi membutuhkan biaya yang cukup mahal.

Apabila perkembangan ekonomi semakin pesat di dunia maka diperlukan studi yang serius dalam skala besar mengenai reklamasi sebagai jalan keluar jangka panjang. Selaiin itu reklamasi tanah akan mendapatkan kolam yang cukup dalam sehingga mengurangi biaya pengerukan. Konfigurasi dermaga supaya sesuai dengan keadaan lahan seperti reklamasi akan lebih tepat jika diterapkan pada skema perbaikan tanah payau atau daerah pasang surut. Dalam perubahan besar atas tanah dan air yang mampu menyebabkan sedimentasi lumpur akibat buruk dari operasional pelabuhan. Sehinga memerlukan penanggulangan yang baik untuk menekan efek negatif tersebut[1].

3.9. Rasionalisasi Penggunaan Lahan

(6)

a. Pengoprasian transportasi diorganisasikan secara ekonomis,

b. Pengiriman muatan diserahkan melalui dokumen-dokumen pelabuhan,

c. Formalitas pembean muatan dipindahkan ke kantorpelabuhan inland,

Tetapi penerapan sistem pelabuhan ini sering menimbulkan konflik atau masalah manajemen yang serius sehingga sistem ini hanya mungkin diterapkan si negara-negara yang mempunyai manajemen yang kuat[1].

3.10. Sonasi

Penyesuaian wilayah dan berbagai bentuk lahan merupakan suatu faktor utama yang harus diatasi, agar tidak ada persulitan dikemudian hari. Zona-zona khusus pelabuhan harus dijelakan secara lengkap pada tingkat awal perencanaan induk. Selanjutnya pihak yang bersangkutan mengenai pelahan juga harus memahami perubahan alami atau ciri-ciri fisik alami zona-zona yang bersangkutan dengan perubahan.

Semua pelabuhan kecuali pelabuhan terkecil atau paling khusus terdiri dari beberapa teminal atau kelompok tambatan, setiap terminal menangani satu jenis trafik. Kebutuhan untuk membagi area khusus pelabuhan ke dalam zone-zone khusus berasal dari kebutuhan kenaikan produktifitas kegiatan disetiap terminal. Dalam istilah umum pelabuhan akan terdiri dari beberapa sonasi terpisah( lihat gambar 3.15). Selain itu pihak perencana harus memberikan alternatif waktu lama kapal dipelabuhan yaitu dengan menggunakan terminal khusus dan non terminal khusus[1].

Gambar 3.15 Pembagian Trafik Ke Sonasi Pelabuhan

IV.KESIMPULAN

Pelabuhan merupakan tempat pemberhentian (terminal) kapal-kapal dan perahu-perahu agar dapat merapat dan membuang jangkar setelah melakukan pelayaran. Di pelabuhan ini kapal melakukan berbagai kegiatan seperti manaik-turunkan penumpang, bongkar muat barang, pengisian bahan bakar dan air tawar, melakukan reparasi, mengadakan perbekalan, dan sebagainya. Dalam beberapa dekade terakhir ini, banyak

faktor mempengaruhi tata letak pelabuhan yaitu kegiatan usaha perdagangan, perkembangan dunia industri, komoditi utama telah berkembang, kenaikan tonase komoditi, dan skala ekonomi.

Dalam pembangunan pelabuhan yang perlu diperhatikan yaitu Pemilihan lokasi yang tepat dan tergantung pada beberapa faktor seperti kondisi tanah dan geologi, kedalaman dan luas daerah perairan, perlindungan pelabuhan terhadap gelombang, arus dan sedimentasi, daerah daratan yang cukup luas untuk menampung barang yang akan dibongkar muat, jalan-jalan untuk transportasi, dan daerah industri di belakangnya. Indikator yang dipakai untuk menentukan luasan design tata letak pelabuhan adalah berapa meter persegi lahan yang dibutukan untuk tiap meter pelabuhan. Untuk menghindari gangguan gelombang terhadap kapal yang berlabuh maka dibuat bangunan pelindung yang disebut pemecah gelombang.

Kapal laut diusahakan oleh suatu perusahaan pelayaran untuk mengangkut barang dan/atau penumpang. Keuntungan yang diperoleh perusahaan tersebut tergantung banyak faktor seperti banyak/sedikitnya barang dan penumpang yang diangkut, waktu pelayaran kapal, waktu singgah di pelabuhan, dan sebagainya. Semakin banyak barang/penumpang yang diangkut akan memberikan penghasilan yang besar.

Penetapan pelabuhan bebas (free port) atau sonasi bebas untuk komersial dan kepentingan industri akan membawa pengaruh yang kuat dalm rencana induk pelabuhan. Hal ini belum cukup untuk mendukung dilakukannya suatu kegiatan tambahan, dan untuk itu perlu dilakukan survei pasar yang cermat dan objektif sebelum keputusan spekulasii ini dilakukan.

V. SARAN

Adapun saran yang dapat penyusun sampaikan adalah sebagai berikut:

Setelah selesainya dibangun pelabuhan nantinya pemerintah atau instansi terkait hendaknya memaksimalkan penanganan pemeliharaan pelabuhan tersebut agar ketika terjadi kerusakan dapat segera diatasi dan meminimalisir biaya operasi dan pemeliharaan.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Japan International Cooperation Agency. 2000. Pedoman Pembangunan Pelabuhan. Terjemahan dari Port Development Handbook, UNCTAD.

Gambar

Gambar 3.2. Bangunan pada pelabuhan
Gambar 3.3. Menjorok (Garis putus-putus menunjukangaris pantai atau asli)
Gambar 3.14. Layout dermaga modern dengan
Gambar 3.15 Pembagian Trafik Ke Sonasi Pelabuhan

Referensi

Dokumen terkait

Pembangunan pelabuhan merupakan salah satu kegiatan pembangunan yang perlu disertai dengan dokumen AMDAL. Dokumen AMDAL diperlukan dalam seliap pembangunan fasllitas pelabuhan

Dalam rangka pemilihan dan penyediaan lokasi perumahan dan permukiman hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain adalah: (1) kondisi dan arahan kawasan budidaya dan

DAFTAR LOKASI, NAMA PELABUHAN DAN WILAYAH KERJA KANTOR KESYAHBANDARAN DAN OTORITAS PELABUHAN.. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Pelabuhan Kelas I (Jumlah 9

Pelabuhan Manipa terdapat di Pulau Manipa yang merupakan salah satu dari 11 (sebelas) kecamatan yang terdapat dalam wilayah administrasi Kabupaten Seram Bagian Barat

Ditinjau dari aspek teknis produksi, beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk menjamin keberhasilan produksi rumput laut diantaranya pemilihan lokasi yang tepat,

Kebijakan pemerintah yang menjadi dasar utama bagi pengembangan pelabuhan meliputi (a) prioritas pengembangan konektivitas dan prasarana pelabuhan untuk mendukung

Penyusunan rencana induk pelabuhan meliputi : 1 Penyusunan alternatif konsep rencana tata letak fasilitas pelabuhan berdasarkan kriteria/standardisasi perencanaan pelabuhan yang

Usulan lokasi yang menjadi prioritas utama rencana pelabuhan Sukun Nusa Tenggara Timur adalah lokasi alternatif 3 dengan nilai bobot sebesar 42%.. Usulan lokasi rencana pelabuhan kedua