ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI ATRESIA ESO

23  381  Download (4)

Full text

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Atresia esophagus merupakan suatu kelainan congenital dimana esophagus tidak terbentuk secara sempurna. Pada kebanyakan kasus, kelainan ini disertai dengan terbentuknya hubungan antara esophagus dengan trakea yang disebut fistula trakeaoesophageal (Tracheoesophageal Fistula/ TEP). Fistula trakeoesofageal (TEF) dan esophagus atresia (EA) adalah darurat bedah, menyajikan selama pertama saat setelah lahir. Thomas Gibson adalah yang pertama, yang di 1696 dijelaskan deskrips klinis dan patologis yang akurat dari anomali yang paling umum, di mana EA dikaitkan dengan TEF. Pada saat itu penyakit ini dianggap sebagai yang fatalkondisi, yang merupakan tidak fatal lagi sekarang hari. Utama terobosan terjadi pada tahun 1941, ketika ahli bedah Amerika Cameron Haight dicapai bertahan hidup dengan sukses anastomosing dua ujung kerongkongan dan dengan demikian mengatasi obstruksi pada saluran gastro-intestinal.

Prematuritas merupakan hal umum dan lebih dari 50% penderita disertai dengan beragai kelainan lain seperti penyakit jantung congenital, kelainan traktus urinarius dan kelainan traktus gastrointestinal atresi esophagus ataupun fistula trakeoesofageal ditangani dengan tindakan bedah. Diagnosis ini harus diperhatikan pada setiap neonatus yang mengeluakan banyak mucus dan saliva, dengan atau tanpa tanda-tanda gangguan pernapasan.

Atresia esophagus (AE) merupakan kelainan congenital yang ditandai dengan tindak menyambungnya esophagus bagian proksimal dengan esophagus bagian distal. AE dapat terjadi bersama fistula trakeoesofagus (FTE), yaitu kelainan congenital dimana terjadi persambungan abnormal antara esophagus dengan trakea.

(2)

1.2 Rumusan Masalah

a. Apa definisi dari Esophageal atresia ? b. Apa epidemologi Esophageal atresia? c. Apakah etiologi dari Esophageal atresia? d. Apa saja klasifikasi Esophageal atresia? e. Apakah Manifestasi klinis Esophageal atresia? f. Apa diagnosis dari Esophageal atresia?

g. Apa komplikasi dari Esophageal atresia? h. Apa patofisiologi Esophageal atresia?

i. Apa saja penatalaksanaan Esophageal atresia? j. Apakah pengobatan untuk Esophageal atresia? k. Bagaimana Web of Caution Esophageal atresia? l. Bagaimana Asuhan keperawatan Esophageal atresia?

1.3 Tujuan

a. Untuk mengetahui definisi dari Esophageal atresia b. Untuk mengetahui epidemologi Esophageal atresia c. Untuk mengetahui etiologi dari Esophageal atresia d. Untuk mengetahui klasifikasi Esophageal atresia

(3)

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Definsi Esophageal Atrhisia/ Atrisia Esofagus

Atresia berarti buntu, atresia esofagus adalah suatu keadaan tidak adanya lubang atau muara (buntu), pada esofagus. Pada sebagian besar kasus atresia esofagus ujung esofagus buntu, sedangkan pada ¼ -1/3 kasus lainnya esophagus bagian bawah berhubungan dengan trakea setinggi karina (disebut sebagai atresia esophagus dengan fistula). Atresia esophagus adalah malformasi yang disebabkan oleh kegagalan esophagus untuk mengadakan pasase yang kontinyu. Esophagus mungkin saja membentuk sambungan dengan trachea (fistula trakheaesofagus).(Wong, Donna L. 2003: 512)

Kelainan lumen esophagus ini biasanya disertai dengan fistula trakeoesofagus. Atresia esofagaus sering disertai kelainan bawaan lain, seperti kelainan jantung, kelainan gastroin testinal (atresia duodeni atresiasani), kelainan tulang (hemivertebrata).

(4)

segmen esofagus mengalami gangguan dalam pertumbuhan nya (congenital) dan tetap sebagai bagian tipis tanpa lubang saluran.

Fistula trakeo esophagus adalah hubungan abnormal antara trakeo dan esofagus. Dua kondisi ini biasanya terjadi bersamaan, dan mungkin disertai oleh anomaly lain seperti penyakit jantung congenital. Untuk alasan yang tidak diketahui esophagus dan trakea gagal untuk berdeferensiasi dengan tepat selama gestasi pada minggu keempat dan kelima. Atresia Esofagus termasuk kelompok kelainan kongenital terdiri dari gangguan kontuinitas esofagus dengan atau tanpa hubungan persisten dengan trachea.

2.2 Epidemiologi Atresia Esophagus

insiden dari Atresia Esofagus berkisar 1:3000-4500 dari kelahiran hidup, angka ini makin lama makin menurun dengan sebab yang belum diketahui. Atresia Esofagus 2-3 kali lebih sering pada janin yang kembar. Kecenderungan peningkatan jumlah kasus atresia esophagus tidak berhubungan dengan ras tertentu. Namun dari suatu penelitian didapatkan bahwa insiden atresia esophagus paling tinggi ditemukan pada populasi kulit putih (1 kasus per10.000 kelahiran) dibanding dengan populasi non-kulit putih (0,55 kasus per 10.000 kelahiran).

(5)

2.3 Etiologi Atresia Esophagus

Sampai saat ini belum diketahui zat teratogen apa yang bisa menyebabkan terjadinya kelainan atresia esophagus, hanya dilaporkan angka rekuren sekitar 2 % jika salah satu dari saudara kandung yang terkena. Atresia esophagus lebih berhubungan dengan sindroma trisomi 21,13 dan 18 dengan dugaan penyebab genetik. Namun saat ini, teori tentang terjadinya atresia esophagus menurut sebagian besar ahli tidak lagi berhubungan dengan kelainan genetik. Perdebatan tentang proses embriopatologi masih terus berlanjut.

Selama embryogenesis proses elongasi dan pemisahan trakea dan esophagus dapat terganggu. Jika pemisahan trekeoesofageal tidak lengkap maka fistula trakeoesofagus akan terbentuk. Jika elongasi melebihi proliferasi sel sebelumnya, yaitu sel bagian depan dan belakang maka trakea akan membentuk atresia esophagus.

Atresia esophagus dan fistula trakeoesofagus sering ditemukan ketika bayi memiliki kelainan kelahiran seperti :

 Trisomi

 Gangguan saluran pencernaan lain (seperti hernia diafragmatika, atresia duodenal, dan anus imperforata).

 Gangguan jantung (seperti ventricular septal defect, tetralogifallot, dan patent ductus arteriosus).

 Gangguan ginjal dan saluran kencing (seperti ginjal polisistik atau horseshoe kidney, tidak adanya ginjal,dan hipospadia).

 Gangguan Muskuloskeletal

 Sindrom VACTERL (yang termasuk vertebr, anus, candiac, tracheosofagealfistula, ginjal, dan abnormalitas saluran getah bening).

 Lebih dari setengah bayi dengan fistula atau atresia esophagus memiliki kelainan lahir

(6)

 Faktor obat => Salah satu obat yang dapat menimbulkan kelainan kongenital yaitu thali domine .

 Faktor radiasi => Radiasi pada permulaan kehamilan mungkin dapat menimbulkan kelainan kongenital pada janin yang dapat menimbulkan mutasi pada gen

 Faktor gizi

 Deferensasi usus depan yang tidak sempurna dan memisahkan dari masing – masing menjadi esopagus dan trachea.

 Perkembangan sel endoteal yang lengkap sehingga menyebabkan terjadinya atresia.

 Perlengkapan dinding lateral usus depan yang tidak sempurna sehingga terjadi fistula trachea esophagus

 Tumor esophagus.

 Kehamilan dengan hidramnion  Bayi lahir prematur,

Tapi tidak semua bayi yang lahir premature mengalami penyakit ini. Dan ada alasan yang tidak diketahui mengapa esefagus dan trakea gagal untuk berdiferensiasi dengan tepat selama gestasi pada minggu ke empat dan ke lima.

2.4 Klasifikasi Atresia Esophagus

Terdapat variasi dalam atresia esofagus berdasar klasifikasi anatomi. Menurut Gross of Boston, variasi atresia esofagus beserta frekuensinya adalah sebagai berikut:1

 Tipe A – atresia esofagus tanpa fistula atau atresia esofagus murni (10%)  Tipe B – atresia esofagus dengan TEF proksimal (<1%)

 Tipe C – atresia esofagus dengan TEF distal (85%)

(7)

Gambar 2.1 Variasi Atresia Esofagus

2.5 Manifestasi Klinis Atresia Esophagus

Tanda dan gejala Atresia Esofagus yang mungkin timbul:  Batuk ketika makan atau minum

 Bayi menunjukkan kurangnya minat terhadap makanan atau ketidakmampuan untuk menerima nutrisi yang cukup (pemberian makan yang buruk

 Gelembung berbusa putih di mulut bayi  Memiliki kesulitan bernapas

 Memiliki warna biru atau ungu pada kulit dan membran mukosa karena kekurangan oksigen (sianosis)

 Meneteskan air liur  Muntah-muntah

 Biasanya disertai hidramnion (60%) dan hal ini pula yang menyebabkan kenaikan frekuensi bayi lahir prematur, sebaiknya dari anamnesis didapatkan keterangan bahwa kehamilan ibu diertai hidramnion hendaknya dilakukan kateterisasi esofagus. Bila kateter terhenti pada jarak ≤ 10 cm, maka di duga atresia esofagus.

 Bila Timbul sesak yang disertai dengan air liur yang meleleh keluar, di curigai terdapat atresia esofagus.

(8)

 Pada fistula trakeosofagus, cairan lambung juga dapat masuk kedalam paru, oleh karena itu bayi sering sianosis

2.6 Diagnosis Atresia Esophagus

Atresia Esophagus dapat di diagnosa dari beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut :  Biasanya disertai denga hydra amnion (60 %) dan hal ini pula yang menyebabkan

kenaikan frekuensi bayi ang lahir premature. Sebaliknya bila dari ananese ditetapkan keterangan bahwa kehamilan ibu disertai hidraamnion, hendakla dilakukan kateterisasiesofagus dengan kateter pada jarak kurang dari 10 cm , maka harus didiga adanya atresia esophagus.

 Bila pada bayi baru lahir timbul sesak napas yang disertai air liur meleleh keluar, harus dicurigai adanya atresia esfagus.

 Segera setalah diberi minum, bayi akan berbangkis, batuk dan sianosis karena aspiasi cairan kedam jalan nafas.

 Dianosis pasti dapat dibuat denga foto toraks yang akan menunjukkan gambaran kateter terhenti pada tempat atresia. Pemberian kontras kedalam esophagus dapat memberikan gambaran yang lebih pasti, tapi cara ini tidak dianjurkan.

 Perlu dibedakan pada pemeriksaan fisis apakah lambung terisi udara atau kosong untuk menunjang atau menyingkirkan terdapatnya fistula trakeoesofagus. Hal ini dapat terlihat pada foto abdomen.

2.7 Komplikasi Atresia Esophagus

Komplikasi-komplikasi yang bisa timbul setelah operasi perbaikan pada atresia esofagus dan fistula atresia esophagus adalah sebagai berikut :

a) Dismotilitas esophagus => Dismotilitas terjadi karena kelemahan otot dingin esophagus. Berbagai tingkat dismotilitas bisa terjadi setelah operasi ini. Komplikasi ini terlihat saat bayi sudah mulai makan dan minum.

(9)

lambung naik atau refluk ke esophagus. Kondisi ini dapat diperbaiki dengan obat (medical) atau pembedahan.

c) Trakeo esogfagus fistula berulang => Pembedahan ulang adalah terapi untuk keadaan seperti ini.

d) Disfagia atau kesulitan menelan => Disfagia adalah tertahannya makanan pada tempat esophagus yang diperbaiki. Keadaan ini dapat diatasi dengan menelan air untuk tertelannya makanan dan mencegah terjadinya ulkus.

e) Kesulitan bernafas dan tersedak => Komplikasi ini berhubungan dengan proses menelan makanan, tertaannya makanan dan saspirasi makanan ke dalam trakea. f) Batuk kronis => Batuk merupakan gejala yang umum setelah operasi perbaikan

atresia esophagus, hal ini disebabkan kelemahan dari trakea.

g) Meningkatnya infeksi saluran pernafasan => Pencegahan keadaan ini adalah dengan mencegah kontakk dengan orang yang menderita flu, dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi vitamin dan suplemen.

2.8 Patofisiologi Atresia Esophagus

Biasanya Trakea dan Kerongkongan sepenuhnya lumen terpisah dengan ada hubungan antara mereka. Oleh karena itu, anak dapat makan dengan baik tanpa pernapasan apapun distress dan masalah dalam makan

Janin dengan atresia esofagus tidak dapat menelan cairan amnion dengan efektif. Pada janin dengan atresa esofagus dan TEF distal, cairan amnion akan mengalir menuju trakea, ke fistula kemudian menuju usus. Akibat dari hal ini dapat terjadi polihidramnion. Polihidramnion sendiri dapat menyebabkan kelahiran prematur. Janin seharusnya dapat memanfaatkan cairan amnion, sehingga janin dengan atresia esofagus lebih kecil daripada usia gestasinya.

(10)

manipulasi manometrik esofagus menunjukkan esofagus distal seringkali dismotil, dengan peristaltik yang jelek atau anpa peristaltik. Hal ini akan menimbulkan berbagai derajat disfagia setelah manipulasi yang berkelanjutan menuju refluks esofagus.

Trakea juga terpengaruh oleh gangguan embriogenesis pada atresia esofagus. Membran trakea seringkali melebar dengan bentuk D, bukan C seperti biasa. Perubahan ini menyebabkan kelemahan sekunder ada struktur anteroposterior trakea atau trakeomalacia. Kelemahan ini akan menyebabkan gejala batuk kering dan dapat terjadi kolaps parsial pada eksirasi penuh. Sekret sulit untuk dibersihkan dan dapat menjurus ke pnemona berulang. Trakea juga dapat kolaps secara parsial ketika makan, setelah manipulasi, atau ketika terjadi refluks gastroesofagus; yang daat menjurus ke kegagalan nafas; hipoksia, bakan apnea.

Menurut Price, Sylvia A. 2005. Atresia esophagus merupakan penyakit pada bayi baru lahir dan merupakan kelainan bawaan. Resiko tinggi terhadap atresia esophagus yaitu bayi baru lahir secara premature dan menangis terus disertai batuk-batuk sampai adanya sianosis. Malformasi struktur trakhea menyebabkan bayi mengalami kesulitan dalam menelan serta bayi dapat mengalami aspirasi berat apabila dalam pemberian makan tidak diperhatikan.

Pada perkembangan jaringan,terjadi gangguan pemisahan antara trakhea dan esopagus pada minggu ke 4 sampai minggu ke 6 kehidupan embryonal. Resiko tinggi dapat terjadi pada ibu hamil dengan hidramnion yaitu amniosentesis harus dicurigai. Bayi dengan hipersalivasi ; berbuih, sulit bernafas, batuk dan sianosis. Tindakan pembedahannya segera dilakukan pembedahan torakotomi kanan retro pleural.

2.9 Penatalaksanaan pada Atresia Esophagus

A. Tindakan Sebelum Operasi

Atresia esophagus ditangani dengan tindakan bedah. Persiapan operasi untuk bayi baru lahir mulai umur 1 hari antara lain :

(11)

c.Suhu bayi dijaga agar selalu hangat dengan menggunakan incubator, spine dengan posisi fowler, kepala diangkat sekitar 45o.

d. NGT dimasukkan secara oral dan dilakukan suction rutin. e.Monitor vital signs.

Pada bayi premature dengan kesulitan benapas, diperlukan perhatian khusus. Jelas diperlukan pemasangan endotracheal tube dan ventilator mekanik. Sebagai tambahan, ada resiko terjadinya distensi berlebihan ataupun rupture lambung apabila udara respirasi masuk kedalam lambung melalui fistula karena adanya resistensi pulmonal. Keadaan ini dapat diminimalisasi dengan memasukkan ujung endotracheal tube sampai kepintu masuk fistula dan dengan memberikan ventilasi dengan tekanan rendah.

Echochardiography atau pemerikksaan EKG pada bayi dengan atresia esophagus penting untuk dilakukan agar segera dapat mengetahui apabila terdapat adanya kelainan kardiovaskular yang memerlukan penanganan segera.

B. Tindakan Selama Operasi

Pada umumnya operasi perbaikan atresia esophagus tidak dianggap sebagai hal yang darurat. Tetapi satu pengecualian ialah bila bayi premature dengan gangguan respiratorik yang memerlukan dukungan ventilatorik. Udara pernapasan yang keluar melalui distal fistula akan menimbulkan distensi lambung yang akan mengganggu fungsi pernapasan. Distensi lambung yang terus-menerus kemudian bisa menyebabkan rupture dari lambung sehingga mengakibatkan tension pneumoperitoneum yang akan lebih lagi memperberat fungsi pernapasan.

Pada keadaan diatas, maka tindakan pilihan yang dianjurkan ialah dengan melakukan ligasi terhadap fistula trakeaesofageal dan menunda tindakan thoratocomi sampai masalah gangguan respiratorik pada bayi benar-benar teratasi. Targetnya ialah operasi dilakukan 8-10 hari kemuudian untuk memisahkan fistula dari memperbaiki esophagus. Pada prinsipnya tindakan operasi dilakukan untuk memperbaiki abnormalitas anatomi.

(12)

tidak menybabkan distensi lambung. Bronkoskopi pra-operatif berguuna untuk mengidentifikasi dan mengetahui lokasi fistula.

Posisi bayi ditidurkan pada sisi kiri dengan tangan kanan diangkat di depan dada untuk dilaksanakan right posterolateral thoracotomy. Pada H-fistula, operasi dilakukan melalui leher karena hanya memisahkan fistula tanpa memperbaiiki esophagus. esophagus.

Operasi dilaksanakan thoracotomy, dimana fistula ditutup dengan cara diikat dan dijahit kemudian dibuat anastomisis esophageal antara kedua ujung proximal dan distal dan esophagus.

Pada atresia esofagus dengan fistula trakeoesofageal, hamppir selalu jarak antara esofagus proksimal dan distal dapat disambung langsung ini disebut dengan primary repairyaitu apabila jarak kedua ujung esofagus dibawah 2 ruas vertebra. Bila jaraknya 3,6 ruas vertebra, dilakukan delaved primary repair. Operasi ditunda paling lama 12 minggu, sambil dilakukan cuction rutin dan pemberian makanan melalui gstrostomy, maka jarak kedua ujung esofagus akan menyempit kemudian dilakukan primary repair. Apabiila jarak kedua ujung esofagus lebih dari 6 ruas vertebra, maka dijoba dilakukan tindakan diatas, apabila tidak bisa juga makaesofagus disambung dengan menggunakan sebagai kolon.

C. Tindakan Setelah Operasi

Pasca Operasi pasien diventilasi selama 5 hari. Suction harus dilakukan secara rutin. Selang kateter untuk suction harus ditandai agar tidak masuk terlalu dalam dan mengenai bekas operasi tempat anastomisis agar tidak menimbulkan kerusakan. Setelah hari ke-3 bisa dimasukkan NGT untuk pemberian makanan.

(13)

2.10 Pengobatan pada Atresia Esophagus

Penderita atresia esophagus seharusnya ditengkurapkan untuk mengurangi kemungkinan isi lambung masuk ke dalam paru-paru. Kantong esophagus harus secara teratur dikosongkan dengan pompa untuk mencegah aspirasi sekret. Perhatian yang cermat harus diberikan terhadap pengendalian suhu, fungsi respirasi dan pengelolaan anomaly penyerta kadang-kadang, kondisi penderita mengharuskan operasi tersebut dilakukan secara bertahap:

Tahap pertama biasanya adalah pengikatan fistula dan pemasukan pipa gastrotomi untuk memasukkan makanan,

(14)

2.11 WOC Atresia Esophagus

(15)

ASUHAN KEPERAWATAN ATRESIA ESOFAGUS I. Pengkajian

Asuhan keperawatan yang diberikan pada bayi baru lahir adalah berdasarkan tahapan-tahapan pada proses keperawatan. tahap pengkajian merupakan tahap awal, disini perawat mengumpulkan semua imformasi baik dari klien dengan cara observasi dan dari keluarganya. Lakukan penkajian bayi baru lahir.observasi manipestasi atresia esophagus dan fistula. Traekeoesofagus, saliva berlebihan, tersedat, sianosis, apneu.

1. Lakukan pengkajian pada bayi baru lahir  Saliva berlebihan dan mengiler  Tersedak

 Sianosis  Apnea

 Peningkatan distres pernapasan setelah makan  Distensi abdomen

2. Observasi, Manifestasi atresia esofagus

3. Bantu dengan prosedur diagnostik misalnya : Radiografi dada dan abdomen, kateter dengan perlahan dimasukkan kedalam esofagus yang membentuk tahanan bila lumen tersebut tersumbat.

4. Pantau dengan sering tanda-tanda distres pernapasan

5. Laringospasme yang disebabkan oleh aspirasi saliva yang terakumulasi dalam kantung buntu

II. Diagnosa Keperawatan

a. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan lubang abnormal antara esophagus dan trakea atau obstruksi untuk menelan sekresi.

(16)

d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang darikebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia

III. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI N

O

Diagnosa Keperawtan Tujuan dan Kriteria Hasil obstruksi untuk menelan sekresi.

NOC

 Respiratory status: ventilation

 Respiratory status: airway patency

 Menunjukkan jalan

nafas yang

 Pastikan kebutuhan oral/tracheal suctioning

 Auskultasi suara nafas sebelum dan sesudah suctioning nasal untuk memfasilitasi suction nasotrakeal

(17)

tidak ada suara

 Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan  Pasang mayo bila perlu

 Lakukan fisioterapi dada jika perlu  Keluarkan secret dengan batuk atau

suction

 Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan

 Lakukan suction pada mayo  Berikan bronkodilator bila perlu  Berikan pelembab udara kassa

basah NaCl lembab

 Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan  Monitor respirasi dan status O2

2 e. Ansietas

 Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur

 Pahami prespektif pasien terhadap situasi stree

(18)

 Vital sign dalam batas

 Memantau tingkat kesadaran, reflex batuk, reflex muntah, dan kemampuan menelan

 Memonitor status paru

 Menjaga/mempertahanakan jalan nafas

 Posisi tegak 90 derajat atau sejauh mungkin

 Jauhkan manset trake meningkat  Jauhkan pengaturan hisap yang  Periksa tabung NG atau gastrotomy

sisa sebelum makan

(19)

padat dari mulut ke

 Mampu mengontrol mualdan muntah  Imobilitas

konsekuensi: fisiologis

 Pengetahuan tentang prosedur pengobatan

 Potong makanan menjadi potongan kecil

 Sarankan pidato/berbicara sesuai patologi berkonsultasi

(20)

 Kondisi pernafasan, ventilasi adekuat  Mampu melkaukan

perawatan terhadap non pengobatan parenteral

 Mengidentifikasi factor emosi atau psikologis yang menghambat

menelan

 Dapat mentolerasnsi ingesti makanan tanpa tersedak atau aspirasi

 Menyusui adekuat  Kondisi menelan

bayi

 Memelihara kondisi gizi: makanan dan asupan cairan ibu dan bayi

 Hidrasi tidak

ditemukan

 Pengetahui mengenai cara menyusui

 Kondisi pernafasan adekuat

 Tidak terjadi

gangguan neurologis

(21)

kurang darikebutuhan tubuh

 Adanya peningkatan berat badan sesuai dengantujuan

 Berat badan ideal sesuai dengan tinggin badan

 Kaji adanya alergi mnakanan

 Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kaloriu dan nutrisi yang dibutuhkan pasien

 Anjurkan pasien untukmeningkatkan intake Fe

 Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake protein dan vitamin

 Berikan substansi gula

 Yakinkan diet yang dimakan mengandung serat untukmecegah konstipasi

 Brikan makanan yang terpilih(sudah konsultasi dengan ahli gizi)

 Ajarkan pasien bagaiaman membuat catatan makanan harian

 Monitor jumlah nutrisi dankandungan kalori

 Berikan informasi tentang kebutuyhan nutrisi

 Kaji kemampuanpasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan Nutrition Monitoring

 BB pasien dalam batas normal  Monitor adanya penurunan BB  Monitor tipe dan jumlah aktivitas

yangbiasa dilakukan

(22)

 Monitor lingkungan selama makan  Jadwalkan pengobatan dan

tindakan tidak selama jam makan  Monitor kulit kering danperubahan

pigmentasi

 Monitor turgor kulit

 Monitor kekringan,rambut kusam dan mudah patah

 Monitor mual dan muntah

 Monitor kadar albumin,total protein,HB, Dan kadar Ht

 Monitor pertumbuhan

danperkembangan

 Monitor pucat,kemerahan,dan kekeringan jaringan konjungtiva  Monitor kalori danintake nmutrisi

 Catat adanya

edema,hiperemik,hipertonik,papill a lidah, dan cavitas oral

 Catat bila lidah

berwarnamagenta,scarlet

IV. EVALUASI

(23)

Figure

Gambar 2.1 Variasi Atresia Esofagus

Gambar 2.1

Variasi Atresia Esofagus p.7

References