Strategi Petani Dalam Pengelolaan Resiko Pada Usahatani Cabai

14 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Jurnal Hortikultura, Tahun 1999, Volume 8, Nomor (4):

Jurnal Hortikultura, Tahun 1999, Volume 8, Nomor (4): 1299-13111299-1311

STRATEGI PETANI DALAM PENGELOLAAN RESIKO PADA USAHATANI

STRATEGI PETANI DALAM PENGELOLAAN RESIKO PADA USAHATANI

CABAI

CABAI

Witono Adiyoga dan T. Agoes

Witono Adiyoga dan T. Agoes SoetiarsoSoetiarso

Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu no 517, Lembang-Bandung 40391 Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Jl. Tangkuban Perahu no 517, Lembang-Bandung 40391 ABSTRAK.

ABSTRAK. Adiyoga, W. Adiyoga, W. dan T. dan T. A. A. Soetiarso. 1997. Soetiarso. 1997. Strategi petani Strategi petani dalam pengelolaan dalam pengelolaan resiko padaresiko pada usahatani cabai

usahatani cabai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi petani cabai dalam menghadapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi strategi petani cabai dalam menghadapi resiko usahatani dan implikasinya terhadap usaha perbaikan atau perancangan teknologi baru. Survai resiko usahatani dan implikasinya terhadap usaha perbaikan atau perancangan teknologi baru. Survai dilaksanakan pada bulan Desember 1995 sampai Januari 1996 di sentra produksi cabai Brebes, Jawa Tengah. dilaksanakan pada bulan Desember 1995 sampai Januari 1996 di sentra produksi cabai Brebes, Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk mengadopsi pola tanam dominan (bawang merah dan cabai Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk mengadopsi pola tanam dominan (bawang merah dan cabai - bawang merah - padi) serta memilih sistem produksi tumpang gilir (bawang merah dan cabai) merupakan - bawang merah - padi) serta memilih sistem produksi tumpang gilir (bawang merah dan cabai) merupakan pencerminan strategi pengelolaan resiko

pencerminan strategi pengelolaan resikoex anteex anteyang ditempuh petani. Sementara itu, strategi pengelolaan resikoyang ditempuh petani. Sementara itu, strategi pengelolaan resiko interactive

interactive dilaksanakan melalui penggunaan masukan (pupuk dan pestisida) yang cenderung berlebih, karenadilaksanakan melalui penggunaan masukan (pupuk dan pestisida) yang cenderung berlebih, karena petani menganggap kedua jenis masukan tersebut bersifat mengurangi resiko. Sedangkan jika terjadi kegagalan petani menganggap kedua jenis masukan tersebut bersifat mengurangi resiko. Sedangkan jika terjadi kegagalan yang mengganggu sumber pendapatan keluarga dan keberlanjutan usahatani, petani cenderung memilih menjual yang mengganggu sumber pendapatan keluarga dan keberlanjutan usahatani, petani cenderung memilih menjual sebagian aset yang dimilikinya sebagai manifestasi strategi pengelolaan resiko

sebagian aset yang dimilikinya sebagai manifestasi strategi pengelolaan resikoex post ex post . Beberapa implikasi penting. Beberapa implikasi penting dari penelitian ini adalah: (1) perancangan teknologi harus mempertimbangkan cabai sebagai salah satu komponen dari penelitian ini adalah: (1) perancangan teknologi harus mempertimbangkan cabai sebagai salah satu komponen dalam sistem produksi tumpang gilir, (2) perbaikan teknologi harus lebih diarahkan untuk meningkatkan ketahanan dalam sistem produksi tumpang gilir, (2) perbaikan teknologi harus lebih diarahkan untuk meningkatkan ketahanan sistem terhadap kejutan yang terjadi pada akhir musim, sekaligus meningkatkan respon sistem terhadap kejutan sistem terhadap kejutan yang terjadi pada akhir musim, sekaligus meningkatkan respon sistem terhadap kejutan pada awal atau pertengahan musim, (3) proses perancangan teknologi harus melibatkan berbagai simulasi pada awal atau pertengahan musim, (3) proses perancangan teknologi harus melibatkan berbagai simulasi agro-ekosistem (lingkungan produksi) yang dihadapi petani, dan (4) berdasarkan asumsi bahwa petani pada umumnya ekosistem (lingkungan produksi) yang dihadapi petani, dan (4) berdasarkan asumsi bahwa petani pada umumnya penolak resiko, rancangan percobaan yang digunakan dalam pengujian-pengujian teknologi, secara implisit harus penolak resiko, rancangan percobaan yang digunakan dalam pengujian-pengujian teknologi, secara implisit harus mengandung informasi mengenai variabilitas dan ketidak-simetrisan distribusi probabilitas luaran.

mengandung informasi mengenai variabilitas dan ketidak-simetrisan distribusi probabilitas luaran. Kata

Kata kunci: kunci: Cabai; Cabai; Tumpang Tumpang gilir; gilir; Resiko; Resiko; Usahatani.Usahatani.

ABSTRACT. Adiyoga, W. and T. A. Soetiarso. 1997. Farmers’ strategy in managing risk on hot pepper  ABSTRACT. Adiyoga, W. and T. A. Soetiarso. 1997. Farmers’ strategy in managing risk on hot pepper  farming

farming. The objective of this study was to identify hot pepper farmers’ risk management strategy and its. The objective of this study was to identify hot pepper farmers’ risk management strategy and its implications on the effort for improving and generating new technology. A survey was conducted in Brebes, Central implications on the effort for improving and generating new technology. A survey was conducted in Brebes, Central Java from December 1995 to January 1996. Results show that farmers’ decisions to adopt the existing dominant Java from December 1995 to January 1996. Results show that farmers’ decisions to adopt the existing dominant cropping pattern (shallot and hot pepper - shallot - rice) and to choose sequential cropping system (shallot and hot cropping pattern (shallot and hot pepper - shallot - rice) and to choose sequential cropping system (shallot and hot pepper) are part of their ex ante risk management strategy. As the season progresses, farmers employ their  pepper) are part of their ex ante risk management strategy. As the season progresses, farmers employ their  interactive risk management method by using inputs (fertilizers and pesticides) intensively, even tends to be interactive risk management method by using inputs (fertilizers and pesticides) intensively, even tends to be excessive, since those two input are perceived by farmers as risk reducing. Meanwhile, when their crop fails, the excessive, since those two input are perceived by farmers as risk reducing. Meanwhile, when their crop fails, the main ex post risk management method used by farmers is mostly to sell some of their assets. Some important main ex post risk management method used by farmers is mostly to sell some of their assets. Some important implications resulted from this study are: (1) new technology should be designed by considering hot pepper as a implications resulted from this study are: (1) new technology should be designed by considering hot pepper as a crop in sequential cropping system, not as a crop for monoculture, (2) in designing technology, more emphasis crop in sequential cropping system, not as a crop for monoculture, (2) in designing technology, more emphasis should be placed on increasing system resistance to late season shocks, while increasing system responsiveness should be placed on increasing system resistance to late season shocks, while increasing system responsiveness to early and mid-season shocks, so that the technology can provide farmers with greater flexibility, (3) the process to early and mid-season shocks, so that the technology can provide farmers with greater flexibility, (3) the process of technology design should involve more simulations on farmer’s circumstances, and (4) assuming that most of technology design should involve more simulations on farmer’s circumstances, and (4) assuming that most farmers are moderately risk averse and most crop yield distributions are asymmetric, design of trials should provide farmers are moderately risk averse and most crop yield distributions are asymmetric, design of trials should provide information for documenting not only the variability, but also the skewness of distributions.

information for documenting not only the variability, but also the skewness of distributions. Key

(2)

Program pengembangan usahatani cabai merah tidak lagi semata-mata ditujukan untuk Program pengembangan usahatani cabai merah tidak lagi semata-mata ditujukan untuk meningkatkan produksi per hektar, tetapi lebih ditekankan kepada pencapaian sasaran peningkatan meningkatkan produksi per hektar, tetapi lebih ditekankan kepada pencapaian sasaran peningkatan pendapatan petani. Pendekatan yang dipilih untuk mencapai sasaran tersebut adalah pengembangan pendapatan petani. Pendekatan yang dipilih untuk mencapai sasaran tersebut adalah pengembangan usahatani yang berorientasi agribisnis (Adiyoga dan Soetiarso, 1994). Salah satu prinsip yang menempati usahatani yang berorientasi agribisnis (Adiyoga dan Soetiarso, 1994). Salah satu prinsip yang menempati urutan pertama dalam pengembangan agribisnis adalah ketersediaan teknologi baru tepat guna dan urutan pertama dalam pengembangan agribisnis adalah ketersediaan teknologi baru tepat guna dan berkelanjutan. Dalam menerima teknologi baru tersebut, petani sebenarnya dihadapkan kepada berkelanjutan. Dalam menerima teknologi baru tersebut, petani sebenarnya dihadapkan kepada ketidak-pastian yang menyangkut kesesuaian teknologi dengan sumberdaya dan kemampuan manajerial yang pastian yang menyangkut kesesuaian teknologi dengan sumberdaya dan kemampuan manajerial yang mereka miliki. Antisipasi petani terhadap kegagalan usahatani merupakan faktor penting dalam proses mereka miliki. Antisipasi petani terhadap kegagalan usahatani merupakan faktor penting dalam proses pengambilan keputusan. Strategi yang ditempuh dalam menghadapi ketidak-pastian ini dapat pengambilan keputusan. Strategi yang ditempuh dalam menghadapi ketidak-pastian ini dapat mengkondisi-kan perilaku petani jika dihadapkan kepada pilihan atau alternatif baru. Oleh karena itu, mengkondisi-kan perilaku petani jika dihadapkan kepada pilihan atau alternatif baru. Oleh karena itu, informasi yang menyangkut strategi pengelolaan resiko sangat diperlukan agar teknologi baru yang informasi yang menyangkut strategi pengelolaan resiko sangat diperlukan agar teknologi baru yang dikembangkan dapat berdampak optimal.

dikembangkan dapat berdampak optimal.

Ketidak-mungkinan untuk mengendalikan semua faktor yang mempengaruhi luaran usahatani Ketidak-mungkinan untuk mengendalikan semua faktor yang mempengaruhi luaran usahatani menghadapkan petani kepada resiko atau ketidak-pastian usaha. Di samping itu, karakteristik petani di menghadapkan petani kepada resiko atau ketidak-pastian usaha. Di samping itu, karakteristik petani di Indonesia didominasi oleh skala usaha kecil, struktur non-perusahaan dan kesempatan yang sangat Indonesia didominasi oleh skala usaha kecil, struktur non-perusahaan dan kesempatan yang sangat terbatas untuk melakukan diversifikasi usaha. Sebagai akibat dari struktur yang ada, resiko usahatani terbatas untuk melakukan diversifikasi usaha. Sebagai akibat dari struktur yang ada, resiko usahatani lebih banyak terkonsentrasi di pihak petani kecil secara individual (Barry, 1984). Sementara itu, lebih banyak terkonsentrasi di pihak petani kecil secara individual (Barry, 1984). Sementara itu, rendahnya elastisitas harga dan pendapatan yang dihadapkan kepada ketidak-pastian iklim serta faktor  rendahnya elastisitas harga dan pendapatan yang dihadapkan kepada ketidak-pastian iklim serta faktor  lain yang tidak dapat dikontrol, dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi tajam untuk harga luaran. lain yang tidak dapat dikontrol, dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi tajam untuk harga luaran. Terlebih lagi, petani

Terlebih lagi, petani secara individu tidak memilsecara individu tidak memiliki atau memiliki kapasitas yang iki atau memiliki kapasitas yang sangat sangat terbatas dalamterbatas dalam mempengaruhi harga-harga masukan dan luaran. Kombinasi dari berbagai faktor yang mengandung mempengaruhi harga-harga masukan dan luaran. Kombinasi dari berbagai faktor yang mengandung ketidak-pastian ini menempatkan petani pada posisi sulit untuk memperbaiki tingkat efisiensi dan ketidak-pastian ini menempatkan petani pada posisi sulit untuk memperbaiki tingkat efisiensi dan kesejahteraannya (Zavaleta et al., 1984).

kesejahteraannya (Zavaleta et al., 1984). Lima sumber utama resiko usaha di

Lima sumber utama resiko usaha di sektor pertanian adalah: (a) sektor pertanian adalah: (a) resiko produksi atau teknis, resiko produksi atau teknis, (b)(b) resiko pasar atau harga, (c) resiko teknologi, (d) resiko legal atau sosial, dan (e) resiko karena kesalahan resiko pasar atau harga, (c) resiko teknologi, (d) resiko legal atau sosial, dan (e) resiko karena kesalahan manusia (Sonka dan Patrick, 1984). Kelima sumber resiko tersebut dapat menimbulkan efek jangka manusia (Sonka dan Patrick, 1984). Kelima sumber resiko tersebut dapat menimbulkan efek jangka pendek maupun jangka panjang terhadap usahatani. Variabilitas pendapatan tahunan dapat pendek maupun jangka panjang terhadap usahatani. Variabilitas pendapatan tahunan dapat mengganggu usahatani terutama dikaitkan dengan kemungkinan kekurangan modal tunai untuk musim mengganggu usahatani terutama dikaitkan dengan kemungkinan kekurangan modal tunai untuk musim tanam tertentu.

tanam tertentu. Dengan demikian, Dengan demikian, berbagai resiko berbagai resiko di atas dapat di atas dapat menimbulkan variabilimenimbulkan variabilitas kelayakantas kelayakan usaha serta ukuran keragaan usahatani jangka panjang lainnya.

usaha serta ukuran keragaan usahatani jangka panjang lainnya.

Respon petani terhadap resiko dapat dikategorikan menjadi: (a) usaha yang diarahkan untuk Respon petani terhadap resiko dapat dikategorikan menjadi: (a) usaha yang diarahkan untuk mengendalikan kemungkinan timbulnya resiko, dan (b) tindakan yang ditujukan untuk mengurangi mengendalikan kemungkinan timbulnya resiko, dan (b) tindakan yang ditujukan untuk mengurangi dampak resiko (Jolly, 1983). Dalam usaha mengontrol sumber resiko, pengambil keputusan harus dampak resiko (Jolly, 1983). Dalam usaha mengontrol sumber resiko, pengambil keputusan harus memilih himpunan distribusi probabilitas yang paling mungkin dihadapi. Keputusan-keputusan yang memilih himpunan distribusi probabilitas yang paling mungkin dihadapi. Keputusan-keputusan yang diambil dapat berupa: pemilihan jenis usaha, diversifikasi usaha, pemilihan pasar, keikut-sertaan dalam diambil dapat berupa: pemilihan jenis usaha, diversifikasi usaha, pemilihan pasar, keikut-sertaan dalam program pemerintah dan penentuan skala usaha. Sementara itu, jenis respon yang kedua tidak program pemerintah dan penentuan skala usaha. Sementara itu, jenis respon yang kedua tidak berdampak langsung terhadap distribusi probabilitas yang dihadapi pengambil keputusan. Pada berdampak langsung terhadap distribusi probabilitas yang dihadapi pengambil keputusan. Pada dasarnya, respon tersebut sangat berpengaruh terhadap kapasitas usahatani untuk tetap bertahan dasarnya, respon tersebut sangat berpengaruh terhadap kapasitas usahatani untuk tetap bertahan menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan atau untuk memanfaatkan peluang seoptimal mungkin menghadapi kondisi yang kurang menguntungkan atau untuk memanfaatkan peluang seoptimal mungkin dalam kondisi yang menguntungkan. Strategi yang ditempuh dapat meliputi pemilihan struktur finansial, dalam kondisi yang menguntungkan. Strategi yang ditempuh dapat meliputi pemilihan struktur finansial, pencadangan dana tunai dan peningkatan produktivitas atau efisiensi unit usahatani.

pencadangan dana tunai dan peningkatan produktivitas atau efisiensi unit usahatani. Respon petani

Respon petani terhadap goncangan/kejutan terhadap goncangan/kejutan yang dihadapi yang dihadapi usahatani dapat usahatani dapat dibedakan menjadi:dibedakan menjadi: (a)

(a) respon respon sebelum sebelum terjadi terjadi goncangan goncangan ---- ex anteex ante, (, (b) reb) respon pada spon pada saat saat terjadi terjadi goncangan goncangan ---- interactiveinteractive,, dan (c) respon setelah terjadi goncangan

--dan (c) respon setelah terjadi goncangan -- ex post ex post (Matlon, 1991). Respon yang pertama dirancang(Matlon, 1991). Respon yang pertama dirancang untuk mempersiapkan usahatani agar tidak berada pada posisi yang terlalu rawan pada saat goncangan untuk mempersiapkan usahatani agar tidak berada pada posisi yang terlalu rawan pada saat goncangan terjadi. Respon pada saat terjadi goncangan melibatkan realokasi sumberdaya agar dampak resiko terjadi. Respon pada saat terjadi goncangan melibatkan realokasi sumberdaya agar dampak resiko terhadap produksi dapat diminimalkan. Sedangkan respon setelah goncangan diarahkan untuk terhadap produksi dapat diminimalkan. Sedangkan respon setelah goncangan diarahkan untuk

(3)

meminimalkan dampak berikutnya. Ketiga jenis respon tersebut saling bergantung satu dengan yang meminimalkan dampak berikutnya. Ketiga jenis respon tersebut saling bergantung satu dengan yang lainnya (respon yang satu merupakan fungsi dari respon yang lain). Dengan demikian, pendekatan sistem lainnya (respon yang satu merupakan fungsi dari respon yang lain). Dengan demikian, pendekatan sistem yang dinamis diperlukan agar perilaku petani dalam mengelola resiko dapat tergambarkan secara lebih yang dinamis diperlukan agar perilaku petani dalam mengelola resiko dapat tergambarkan secara lebih lengkap.

lengkap.

Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa petani pada umumnya berperilaku sebagai Beberapa kajian empiris menunjukkan bahwa petani pada umumnya berperilaku sebagai penghin-dar/penolak resiko (Binswanger, 1980; Dillon dan Scandizzo, 1978). Perilaku tersebut mengindikasikan dar/penolak resiko (Binswanger, 1980; Dillon dan Scandizzo, 1978). Perilaku tersebut mengindikasikan bahwa petani lebih menyukai perencanaan usahatani yang dapat memberikan rasa aman walaupun bahwa petani lebih menyukai perencanaan usahatani yang dapat memberikan rasa aman walaupun harus mengorbankan sebagian pendapatannya. Sampai sejauh mana proposisi tersebut berlaku untuk harus mengorbankan sebagian pendapatannya. Sampai sejauh mana proposisi tersebut berlaku untuk petani cabai merah di Indonesia yang masih dikategorikan subsisten dalam penggunaan masukan petani cabai merah di Indonesia yang masih dikategorikan subsisten dalam penggunaan masukan (Adiyoga dan Soetiarso, 1994) merupakan topik yang menarik untuk dikaji. Terlebih lagi jika dikaitkan (Adiyoga dan Soetiarso, 1994) merupakan topik yang menarik untuk dikaji. Terlebih lagi jika dikaitkan dengan impli-kasinya terhadap usaha pengembangan teknologi baru. Berdasarkan uraian tersebut, dengan impli-kasinya terhadap usaha pengembangan teknologi baru. Berdasarkan uraian tersebut, diduga strategi petani dalam menghadapi resiko dapat dikelompokkan menjadi strategi pengelolaan diduga strategi petani dalam menghadapi resiko dapat dikelompokkan menjadi strategi pengelolaan resiko yang bersifat ex ante, interaktif dan ex-post dan implementasi strategi ini secara langsung resiko yang bersifat ex ante, interaktif dan ex-post dan implementasi strategi ini secara langsung tercermin pada teknik budidaya cabai yang dilakukan petani.

tercermin pada teknik budidaya cabai yang dilakukan petani. Penelitian ini bertujua

Penelitian ini bertujuan untuk (a) mengidentifikasi strategi n untuk (a) mengidentifikasi strategi petani cabai petani cabai dalam menghadapi resikodalam menghadapi resiko usahatani yang berkaitan dengan variabilitas luaran, biaya produksi dan harga luaran, dan (b) usahatani yang berkaitan dengan variabilitas luaran, biaya produksi dan harga luaran, dan (b) mengiden-tifikasi berbagai implikasi dari faktor resiko dalam usaha pengembangan teknologi baru usahatani cabai. tifikasi berbagai implikasi dari faktor resiko dalam usaha pengembangan teknologi baru usahatani cabai.

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN

Pemilihan lokasi dan responden penelitian : Pemilihan lokasi dan responden penelitian :

Lokasi penelitian dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan: (a) potensinya sebagai sentra Lokasi penelitian dipilih secara sengaja berdasarkan pertimbangan: (a) potensinya sebagai sentra produksi cabai merah, dan (b) pola pengusahaan yang dilakukan terus menerus dari tahun ke tahun. produksi cabai merah, dan (b) pola pengusahaan yang dilakukan terus menerus dari tahun ke tahun. Mengacu pada Data Bank (LEHRI dan ATA-395, 1992), kabupaten Brebes, Jawa Tengah ditetapkan Mengacu pada Data Bank (LEHRI dan ATA-395, 1992), kabupaten Brebes, Jawa Tengah ditetapkan sebagai lokasi penelitian. Kriteria yang sama digunakan untuk memilih unit lokasi penelitian yang lebih sebagai lokasi penelitian. Kriteria yang sama digunakan untuk memilih unit lokasi penelitian yang lebih kecil, yaitu kecamatan Wanasari (desa Tegal Gandu dan Cisalam). Penelitian dilaksanakan dari bulan kecil, yaitu kecamatan Wanasari (desa Tegal Gandu dan Cisalam). Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 1995 sampai dengan Januari 1996. Target populasi dari penelitian ini adalah petani yang Desember 1995 sampai dengan Januari 1996. Target populasi dari penelitian ini adalah petani yang menanam/mengusahakan cabai merah dari tahun ke tahun. Berdasarkan kriteria tersebut, 20 orang menanam/mengusahakan cabai merah dari tahun ke tahun. Berdasarkan kriteria tersebut, 20 orang petani responden dipilih secara acak sederhana.

petani responden dipilih secara acak sederhana.

Pengumpulan data : Pengumpulan data :

Data yang diperlukan akan

Data yang diperlukan akan diperoleh melalui diperoleh melalui penelitian survai. penelitian survai. Rancangan survai yang digunakanRancangan survai yang digunakan adalah rancangan perbandingan grup statis

--adalah rancangan perbandingan grup statis -- static group comparison designstatic group comparison design (Kidder dan Judd, 1986).(Kidder dan Judd, 1986). Melalui rancangan ini, penelitian diarahkan untuk memperoleh penjelasan dan interpretasi hubungan Melalui rancangan ini, penelitian diarahkan untuk memperoleh penjelasan dan interpretasi hubungan antara berbagai peubah yang diamati. Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti tahapan: (a) survai antara berbagai peubah yang diamati. Penelitian dilaksanakan dengan mengikuti tahapan: (a) survai pendahuluan dan (b) survai utama. Survai pendahuluan mencakup kegiatan: pemilihan lokasi dan pendahuluan dan (b) survai utama. Survai pendahuluan mencakup kegiatan: pemilihan lokasi dan responden, uji coba kuesioner

responden, uji coba kuesioner dan pengumpulan dadan pengumpulan data sekunder. ta sekunder. Sedangkan survai utama Sedangkan survai utama diarahkandiarahkan untuk menghimpun data primer melalui wawancara dengan penggunaan kuesioner. Daftar pertanyaan untuk menghimpun data primer melalui wawancara dengan penggunaan kuesioner. Daftar pertanyaan yang disusun terutama me

yang disusun terutama mencakup: (a) karakteristik ncakup: (a) karakteristik petani responden, petani responden, (b) aspek budi(b) aspek budidaya dan poldaya dan polaa tanam, (c) masukan dan luaran usahatani, dan (d) perilaku petani dalam mengelola resiko. Untuk tanam, (c) masukan dan luaran usahatani, dan (d) perilaku petani dalam mengelola resiko. Untuk memperoleh konfirmasi mengenai data primer yang diperoleh dari petani responden, diskusi kelompok memperoleh konfirmasi mengenai data primer yang diperoleh dari petani responden, diskusi kelompok dengan responden kunci (penyuluh, kontak

(4)

Analisis data : Analisis data :

Data yang dihimpun dari pertanyaan-pertanyaan tertutup dianalisis dengan menggunakan Data yang dihimpun dari pertanyaan-pertanyaan tertutup dianalisis dengan menggunakan statistika deskriptif (Tukey, 1974). Sementara itu, data yang berasal dari respon pertanyaan-pertanyaan statistika deskriptif (Tukey, 1974). Sementara itu, data yang berasal dari respon pertanyaan-pertanyaan terbuka diolah dengan menggunakan analisis isi (Scott, 1975).

terbuka diolah dengan menggunakan analisis isi (Scott, 1975).

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden Karakteristik Responden

Beberapa karakteristik responden yang dikumpulkan sengaja dibatasi untuk berbagai karakteristik Beberapa karakteristik responden yang dikumpulkan sengaja dibatasi untuk berbagai karakteristik yang dianggap paling berpengaruh terhadap strategi pengelolaan resiko yang dilakukan petani. Tabel 1 yang dianggap paling berpengaruh terhadap strategi pengelolaan resiko yang dilakukan petani. Tabel 1 menunjukkan bahwa pengalaman petani responden dalam mengusahakan cabai cukup bervariasi. menunjukkan bahwa pengalaman petani responden dalam mengusahakan cabai cukup bervariasi. Namun demikian, proporsi petani yang memiliki pengalaman di bawah dan di atas 10 tahun, ternyata Namun demikian, proporsi petani yang memiliki pengalaman di bawah dan di atas 10 tahun, ternyata sama. Hal ini memberikan indikasi bahwa cabai sejak lama telah diusahakan dan dipilih oleh petani sama. Hal ini memberikan indikasi bahwa cabai sejak lama telah diusahakan dan dipilih oleh petani secara reguler

secara reguler (setiap tahun) (setiap tahun) sebagai salah sebagai salah satu sumber satu sumber pendapatan. Pengalaman pendapatan. Pengalaman tersebut jugatersebut juga mencerminkan tingkat familiaritas petani yang cukup tinggi dalam mengusahakan cabai, yang sangat mencerminkan tingkat familiaritas petani yang cukup tinggi dalam mengusahakan cabai, yang sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, cara menghindari resiko dan tingkat adopsi inovasi. berpengaruh terhadap pengambilan keputusan, cara menghindari resiko dan tingkat adopsi inovasi.

Kisaran luas pengusahaan terendah adalah 0,125-0,475 ha (rata-rata 0,22 ha) dengan proporsi Kisaran luas pengusahaan terendah adalah 0,125-0,475 ha (rata-rata 0,22 ha) dengan proporsi petani yang lebih tinggi pada kisaran 0,10-0,25 ha. Sementara itu, kisaran luas pengusahaan tertinggi petani yang lebih tinggi pada kisaran 0,10-0,25 ha. Sementara itu, kisaran luas pengusahaan tertinggi adalah 0,25-1,00 ha (rata-rata 0,69 ha) dengan proporsi petani yang lebih tinggi pada kisaran 0,51-1,00 adalah 0,25-1,00 ha (rata-rata 0,69 ha) dengan proporsi petani yang lebih tinggi pada kisaran 0,51-1,00 ha. Untuk cabai yang merupakan komoditas komersial, kisaran terendah maupun tertinggi di atas ha. Untuk cabai yang merupakan komoditas komersial, kisaran terendah maupun tertinggi di atas mengindikasikan bahwa petani di lokasi penelitian masih tergolong ke dalam kategori petani kecil. mengindikasikan bahwa petani di lokasi penelitian masih tergolong ke dalam kategori petani kecil. Hubungan antara luas lahan dengan strategi pengelolaan resiko sebenarnya dipengaruhi juga oleh Hubungan antara luas lahan dengan strategi pengelolaan resiko sebenarnya dipengaruhi juga oleh

faktor-Tabel

Tabel 1 1 Karakteristik Karakteristik Responden Responden Petani Petani Cabai, Cabai, Kec. Kec. Wanasari, Wanasari, Brebes Brebes 1996 1996 ((Characteristics of hot pepper farmers, Kec.Characteristics of hot pepper farmers, Kec. Wanasari, Brebes 1996  Wanasari, Brebes 1996 )) Karakteristik Karakteristik ((CharacteristicsCharacteristics)) % % n = 20 n = 20 1.

1. Pengalaman mengusahakan cabai (Pengalaman mengusahakan cabai (Experience in cultivating hot pepper Experience in cultivating hot pepper ):): 1 - 10 tahun/

1 - 10 tahun/yearsyears

11 - 20 tahun/ 11 - 20 tahun/yearsyears

21 - 30 tahun/ 21 - 30 tahun/yearsyears

50 50 35 35 15 15 2.

2. Kisaran luas tertinggi pengusahaan cabai (Kisaran luas tertinggi pengusahaan cabai (Range of Range of largest size in largest size in hot pepper cultivationhot pepper cultivation):): 0,25 - 0,50 ha 0,25 - 0,50 ha 0,51 - 1,00 ha 0,51 - 1,00 ha 35 35 65 65 3.

3. Kisaran luas terendah pengusahaan cabai (Kisaran luas terendah pengusahaan cabai (Range of smallest size in hot pepper cultivationRange of smallest size in hot pepper cultivation:: 0,10 - 0,25 ha 0,10 - 0,25 ha 0,26 - 0,50 ha 0,26 - 0,50 ha 80 80 20 20 4.

4. Status penguasaan lahan (Status penguasaan lahan (Land tenure statusLand tenure status):): milik

-milik -owned owned 

sewa -sewa -rented rented 

bagi hasil

-bagi hasil -sharecroppingsharecropping

milik dan sewa

-milik dan sewa -owned and rented owned and rented 

sewa dan bagi hasil

sewa dan bagi hasil- rented and sharecropping- rented and sharecropping

50 50 15 15 10 10 15 15 10 10 5.

5. Keikut-sertaan dalam pelatihan budidaya sayuran (Keikut-sertaan dalam pelatihan budidaya sayuran (Participation in vegetable trainingParticipation in vegetable training):): pernah

-pernah - yesyes

tidak pernah

-tidak pernah - never never 

35 35 65 65

(5)

faktor lain yang berkaitan dengan produktivitas lahan bersangkutan. Namun demikian, secara umum, faktor lain yang berkaitan dengan produktivitas lahan bersangkutan. Namun demikian, secara umum, semakin sempit luas lahan, semakin rentan pula posisi

semakin sempit luas lahan, semakin rentan pula posisi petani terhadap dampak resiko. Ketidak-stabilanpetani terhadap dampak resiko. Ketidak-stabilan pendapatan usahatani, khususnya bagi petani kecil, secara langsung dapat mengancam eksistensi pendapatan usahatani, khususnya bagi petani kecil, secara langsung dapat mengancam eksistensi usahatani sebagai sumber utama pendapatan keluarga. Sesuai dengan Kebede (1988), strategi yang usahatani sebagai sumber utama pendapatan keluarga. Sesuai dengan Kebede (1988), strategi yang ditempuh petani cenderung mengarah kepada elemen-elemen pengelolaan yang mencerminkan perilaku ditempuh petani cenderung mengarah kepada elemen-elemen pengelolaan yang mencerminkan perilaku menolak resiko.

menolak resiko.

Status penguasaan lahan di lokasi penelitian cukup bervariasi, tetapi masih didominasi oleh status Status penguasaan lahan di lokasi penelitian cukup bervariasi, tetapi masih didominasi oleh status milik. Sementara itu, persentase petani yang melakukan bagi hasil, yaitu status penguasaan yang sering milik. Sementara itu, persentase petani yang melakukan bagi hasil, yaitu status penguasaan yang sering dianggap sebagai salah satu strategi petani untuk berbagi resiko, ternyata hanya sekitar 10%. Hasil dianggap sebagai salah satu strategi petani untuk berbagi resiko, ternyata hanya sekitar 10%. Hasil wawancara menunjukkan bahwa status penguasaan bagi hasil bukannya tidak diminati oleh petani wawancara menunjukkan bahwa status penguasaan bagi hasil bukannya tidak diminati oleh petani (walaupun petani mengetahui bahwa status penguasaan bagi hasil ini dapat mengurangi resiko yang (walaupun petani mengetahui bahwa status penguasaan bagi hasil ini dapat mengurangi resiko yang dihadapi), tetapi penawarannya (

dihadapi), tetapi penawarannya (supply supply ) yang memang relatif rendah. Pemilik tanah () yang memang relatif rendah. Pemilik tanah (landlord landlord ) lebih) lebih tertarik untuk menyewakan tanahnya, karena resiko yang dihadapi lebih kecil. Menghadapi kondisi tertarik untuk menyewakan tanahnya, karena resiko yang dihadapi lebih kecil. Menghadapi kondisi demikian, tidak ada pilihan lain bagi petani yang tidak memiliki lahan (

demikian, tidak ada pilihan lain bagi petani yang tidak memiliki lahan (landlesslandless) selain melakukan sewa) selain melakukan sewa sebagai satu-satunya cara untuk melakukan usahatani.

sebagai satu-satunya cara untuk melakukan usahatani. Keikut-sertaan

Keikut-sertaan dalam pelatihan dalam pelatihan budidaya sayuran membebudidaya sayuran memberikan kesempatan bagi rikan kesempatan bagi petani untukpetani untuk lebih banyak menyerap informasi dari luar yang dapat membantu petani dalam mengidentifikasi, lebih banyak menyerap informasi dari luar yang dapat membantu petani dalam mengidentifikasi, memahami dan mengukur resiko usahatani. Hasil survei menunjukkan bahwa baru 35% responden yang memahami dan mengukur resiko usahatani. Hasil survei menunjukkan bahwa baru 35% responden yang menyatakan pernah mengikuti pendidikan informal bersifat pelatihan, khususnya dalam budidaya menyatakan pernah mengikuti pendidikan informal bersifat pelatihan, khususnya dalam budidaya sayuran, misalnya sekolah lapang pengendalian hama terpadu atau program latihan lainnya yang sayuran, misalnya sekolah lapang pengendalian hama terpadu atau program latihan lainnya yang dirancang oleh penyuluh. Sebenarnya kaitan antar berbagai program pelatihan di atas dengan strategi dirancang oleh penyuluh. Sebenarnya kaitan antar berbagai program pelatihan di atas dengan strategi pengendalian resiko masih bersifat tidak langsung, karena tidak satupun program-program tersebut pengendalian resiko masih bersifat tidak langsung, karena tidak satupun program-program tersebut dirancang untuk memberikan pelatihan mengenai pengambilan keputusan usahatani yang selalu harus dirancang untuk memberikan pelatihan mengenai pengambilan keputusan usahatani yang selalu harus berhadapan dengan faktor ketidak-pastian.

berhadapan dengan faktor ketidak-pastian.

Persepsi Petani Terhadap Resiko Usahatani Persepsi Petani Terhadap Resiko Usahatani

Perbedaan pengertian antara resiko dan ketidak-pastian belum pernah terdefinisi dengan jelas, Perbedaan pengertian antara resiko dan ketidak-pastian belum pernah terdefinisi dengan jelas, bahkan dalam penggunaan praktisnya, kedua istilah tersebut cenderung dipakai untuk maksud yang bahkan dalam penggunaan praktisnya, kedua istilah tersebut cenderung dipakai untuk maksud yang sama (Heyer, 1972; Kennedy dan Francisco, 1974). Resiko seringkali diartikan sebagai suatu keadaan sama (Heyer, 1972; Kennedy dan Francisco, 1974). Resiko seringkali diartikan sebagai suatu keadaan dari gambaran kejadian yang bersifat tidak pasti atau derajat ketidak-pastian yang terjadi pada situasi dari gambaran kejadian yang bersifat tidak pasti atau derajat ketidak-pastian yang terjadi pada situasi tertentu.

tertentu. Sedangkan ketidak-pastian diartiSedangkan ketidak-pastian diartikan sebagai suatu kan sebagai suatu kisaran keadaan kisaran keadaan yang memastikan byang memastikan bahwaahwa probabilitas absolut tidak akan pernah terjadi, seperti halnya pada kasus resiko. Dalam tulisan ini, istilah probabilitas absolut tidak akan pernah terjadi, seperti halnya pada kasus resiko. Dalam tulisan ini, istilah yang akan sering digunakan adalah resiko, yang secara terminologis dapat diartikan sebagai yang akan sering digunakan adalah resiko, yang secara terminologis dapat diartikan sebagai kemungkinan kehilangan atau variabilitas kemungkinan kejadian (Dillon dan Anderson, 1971). Tabel 2 kemungkinan kehilangan atau variabilitas kemungkinan kejadian (Dillon dan Anderson, 1971). Tabel 2 menguraikan pengertian resiko berdasarkan persepsi petani. Berdasarkan analisis isi (Tabel 2), persepsi menguraikan pengertian resiko berdasarkan persepsi petani. Berdasarkan analisis isi (Tabel 2), persepsi petani mengenai resiko (terutama kategori jawaban a, b dan c) secara implisit menyatakan bahwa resiko petani mengenai resiko (terutama kategori jawaban a, b dan c) secara implisit menyatakan bahwa resiko adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya ketidak-stabilan produksi dan pendapatan yang adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya ketidak-stabilan produksi dan pendapatan yang cenderung menimbulkan kerugian. Sebagian kecil petani (15%) berpendapat bahwa resiko atau cenderung menimbulkan kerugian. Sebagian kecil petani (15%) berpendapat bahwa resiko atau kemungkinan mengalami kerugian tersebut dapat dikendalikan secara preventif (pengaturan pola kemungkinan mengalami kerugian tersebut dapat dikendalikan secara preventif (pengaturan pola tanam, waktu tanam dan luas penanaman). Sementara itu, hanya 25% dari responden petani yang tanam, waktu tanam dan luas penanaman). Sementara itu, hanya 25% dari responden petani yang tidak menghubungkan resiko secara langsung dengan kemungkinan kerugian, tetapi menganggapnya tidak menghubungkan resiko secara langsung dengan kemungkinan kerugian, tetapi menganggapnya sebagai suatu konsekuensi yang harus diterima (pengeluaran untuk input bibit, tenaga kerja, pestisida sebagai suatu konsekuensi yang harus diterima (pengeluaran untuk input bibit, tenaga kerja, pestisida dan pupuk) jika hendak mengusahakan cabai. Dalam kasus ini, sebagian besar petani (55%) dan pupuk) jika hendak mengusahakan cabai. Dalam kasus ini, sebagian besar petani (55%) menganggap bahwa resiko berkaitan dengan kemungkinan mengalami kerugian. Dengan demikian, menganggap bahwa resiko berkaitan dengan kemungkinan mengalami kerugian. Dengan demikian, seperti dinyatakan oleh Bond dan Wonder (1980), pada dasarnya petani menganggap resiko sebagai seperti dinyatakan oleh Bond dan Wonder (1980), pada dasarnya petani menganggap resiko sebagai penyimpangan atau deviasi dari hasil yang diharapkan (

(6)

Tabel

Tabel 2 2 Persepsi Persepsi petani petani mengenai mengenai resiko resiko usahatani usahatani cabai cabai ((Farmers' perceptions regarding risks in hot pepper farmingFarmers' perceptions regarding risks in hot pepper farming)) No

No Persepsi PetaniPersepsi Petani

((Farmers’ PerceptionsFarmers’ Perceptions))

(%) (%) (n=20) (n=20) 1.

1. Resiko Resiko menurut menurut persepsi persepsi petani petani ((Risk as perceived by farmersRisk as perceived by farmers):): •

• suatu ukuran penyebab terjadinya penyimpangan dari produksi cabai yang diharapkan (suatu ukuran penyebab terjadinya penyimpangan dari produksi cabai yang diharapkan (things that may things that may  cause the occurrence of unexpected low hot pepper production

cause the occurrence of unexpected low hot pepper production)) •  

•   semua hal yang semua hal yang cenderung menjurus kepada terjadinya kerugian cenderung menjurus kepada terjadinya kerugian usahatani cabai usahatani cabai ((everything that may everything that may  result in the financial loss of hot pepper farming

result in the financial loss of hot pepper farming)) •

• semua hal yang dapat membahayakan usahatani cabai, tetapi dapat dicegah atau dikurangisemua hal yang dapat membahayakan usahatani cabai, tetapi dapat dicegah atau dikurangi dampaknya jika diwaspadai sejak awal

dampaknya jika diwaspadai sejak awal ((everything that may endanger the profitability of hot pepper farming, however everything that may endanger the profitability of hot pepper farming, however  the impacts can be prevented or reduced if farmers are cautious from the beginning

the impacts can be prevented or reduced if farmers are cautious from the beginning)) •

• konsekuensi yang konsekuensi yang membebani petani membebani petani jika jika hendak berusahatani cabai, hendak berusahatani cabai, misalnya misalnya menyediakan modal,menyediakan modal, sarana produksi dsb.

sarana produksi dsb.((consequences for farmers in cultivating hot pepper, such as providing capital, making inputsconsequences for farmers in cultivating hot pepper, such as providing capital, making inputs available, etc. available, etc.)) 55 55 55 15 15 25 25 2. 2. ..

Usahatani cabai yang dikategorikan gagal menurut persepsi petani (

Usahatani cabai yang dikategorikan gagal menurut persepsi petani (Farming failure as perceived by Farming failure as perceived by  farmers

farmers):): •

• produksi cabai yang dihasilkan relatif rendahproduksi cabai yang dihasilkan relatif rendah((relatively low yield of productionrelatively low yield of production)) •

• harga cabai yang diterima relatif rendahharga cabai yang diterima relatif rendah((relatively low price of output relatively low price of output )) •

• produksi dan harga cabai keduanya relatif rendahproduksi dan harga cabai keduanya relatif rendah((relatively low yield and price of output relatively low yield and price of output ))

45 45 10 10 45 45 3.

3. Tingkat resiko usahatani menurut persepsi petani (Tingkat resiko usahatani menurut persepsi petani (Risk of hot pepper farming as perceived by farmersRisk of hot pepper farming as perceived by farmers):): •

• tinggitinggi((highhigh)) •

• sedangsedang((moderatemoderate)) •

• rendahrendah((low low ))

35 35 40 40 25 25 4.

4. Meskipun menanam cabai dianggap beresiko, petani masih tetap mengusahakannya karena (Meskipun menanam cabai dianggap beresiko, petani masih tetap mengusahakannya karena (Farmers’ Farmers’  reasons for cultivating hot pepper, even though it is very risky 

reasons for cultivating hot pepper, even though it is very risky ):): •

• dampak resiko tersebut masih dapat dikurangi atau dicegahdampak resiko tersebut masih dapat dikurangi atau dicegah((risk impacts can be reduced or prevented risk impacts can be reduced or prevented )) •

• tidak ada pilihan lain, sehingga apapun resikonya cabai tidak dapat ditinggalkantidak ada pilihan lain, sehingga apapun resikonya cabai tidak dapat ditinggalkan((experience has shown that experience has shown that  there is a limited choice

there is a limited choice)) •

• pengusahaan tanaman lain mengandung tingkat resiko yang jauh lebih tinggipengusahaan tanaman lain mengandung tingkat resiko yang jauh lebih tinggi ((cultivating other crops iscultivating other crops is considered riskier  considered riskier )) 20 20 45 45 35 35

Walaupun faktor harga produk juga cukup menentukan, secara dominan petani menganggap Walaupun faktor harga produk juga cukup menentukan, secara dominan petani menganggap kegagalan produksi (hasil per satuan luas rendah) sebagai kriteria utama untuk mengkategorikan kegagalan produksi (hasil per satuan luas rendah) sebagai kriteria utama untuk mengkategorikan keberhasilan atau kegagalan usahatani. Dengan kata lain, jika produksi normal atau tinggi, tetapi keberhasilan atau kegagalan usahatani. Dengan kata lain, jika produksi normal atau tinggi, tetapi harga rendah, petani cenderung tidak mengklasifikasikannya sebagai kegagalan usahatani. Meskipun harga rendah, petani cenderung tidak mengklasifikasikannya sebagai kegagalan usahatani. Meskipun dihadapkan kepada berbagai kendala yang bersifat alami, petani menganggap bahwa keberhasilan dihadapkan kepada berbagai kendala yang bersifat alami, petani menganggap bahwa keberhasilan produksi juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (modal, tenaga kerja, kemampuan produksi juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (modal, tenaga kerja, kemampuan pengelolaan, dsb), yang pada batas-batas tertentu masih mungkin dikendalikan secara individual. pengelolaan, dsb), yang pada batas-batas tertentu masih mungkin dikendalikan secara individual. Rendahnya tingkat produksi yang merupakan akibat dari ketidak-berhasilan untuk mengatasi Rendahnya tingkat produksi yang merupakan akibat dari ketidak-berhasilan untuk mengatasi faktor-faktor internal

faktor internal tersebut dianggap tersebut dianggap oleh petani oleh petani sebagai kegagalan sebagai kegagalan usahatani. Sementara usahatani. Sementara itu, hargaitu, harga produk yang diharapkan seringkali berbeda dengan harga yang terjadi pada saat panen. Untuk petani produk yang diharapkan seringkali berbeda dengan harga yang terjadi pada saat panen. Untuk petani skala kecil, harga produk bukanlah faktor yang dianggap paling penting dalam memilih komoditas. skala kecil, harga produk bukanlah faktor yang dianggap paling penting dalam memilih komoditas. Sejauh kegiatan usahataninya dirasa dapat mencukupi kebutuhan keluarga, maka pemilihan jenis Sejauh kegiatan usahataninya dirasa dapat mencukupi kebutuhan keluarga, maka pemilihan jenis tanaman atau kombinasi tanaman tidak terlalu tergantung kepada kekuatan pasar/harga (Wolgin, tanaman atau kombinasi tanaman tidak terlalu tergantung kepada kekuatan pasar/harga (Wolgin, 1985). Terlebih lagi, petani juga cenderung menganggap harga sebagai faktor eksternal yang secara 1985). Terlebih lagi, petani juga cenderung menganggap harga sebagai faktor eksternal yang secara individual kecil kemungkinannya untuk dikendalikan.

individual kecil kemungkinannya untuk dikendalikan.

Hanya 25% responden (terutama petani dengan pengalaman mengusahakan cabai antara Hanya 25% responden (terutama petani dengan pengalaman mengusahakan cabai antara 11-20 tahun) menyatakan bahwa tingkat resiko usahatani cabai rendah, sedangkan sebagian besar  20 tahun) menyatakan bahwa tingkat resiko usahatani cabai rendah, sedangkan sebagian besar  responden lainnya cenderung menggolongkan sedang sampai tinggi. Perbedaan persepsi mengenai responden lainnya cenderung menggolongkan sedang sampai tinggi. Perbedaan persepsi mengenai tingkat resiko ternyata tidak berpengaruh terhadap keputusan petani untuk mengusahakan cabai. tingkat resiko ternyata tidak berpengaruh terhadap keputusan petani untuk mengusahakan cabai. Sebagian besar petani (45%) menyatakan bahwa apapun resikonya, usahatani cabai tidak dapat Sebagian besar petani (45%) menyatakan bahwa apapun resikonya, usahatani cabai tidak dapat ditinggalkan. Hal ini terutama disebabkan oleh lingkungan produksi yang cocok serta sistem ditinggalkan. Hal ini terutama disebabkan oleh lingkungan produksi yang cocok serta sistem tumpang-gilir bawang merah dan cabai yang

(7)

Persepsi Petani Mengenai Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Resiko

Persepsi Petani Mengenai Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Resiko UsahataniUsahatani Sebagian besar petani

Sebagian besar petani responden (90%) responden (90%) menanam cabai satu kali dalmenanam cabai satu kali dalam setahun, sedangkanam setahun, sedangkan sebagian kecil lainnya (10%) menanam lebih dari satu kali. Selama tiga tahun terakhir, persentase sebagian kecil lainnya (10%) menanam lebih dari satu kali. Selama tiga tahun terakhir, persentase rata-rata kejadian petani memperoleh keuntungan, impas dan mengalami kerugian secara rata-rata kejadian petani memperoleh keuntungan, impas dan mengalami kerugian secara berturut-turut adalah 56,7%, 6,6% dan 36,7%. Dengan kata lain, perbandingan antara kemungkinan turut adalah 56,7%, 6,6% dan 36,7%. Dengan kata lain, perbandingan antara kemungkinan memperoleh keuntungan dengan mengalami kerugian adalah 3:2. Perbandingan ini menggambarkan memperoleh keuntungan dengan mengalami kerugian adalah 3:2. Perbandingan ini menggambarkan bahwa tingkat resiko

bahwa tingkat resiko yang dihadapi petani yang dihadapi petani dalam mengusahakan cabai dalam mengusahakan cabai sangat tinggi, sangat tinggi, terutama jikaterutama jika ditinjau secara parsial per komoditas (monokultur/bukan dalam konteks

ditinjau secara parsial per komoditas (monokultur/bukan dalam konteks pola tanam setahun).pola tanam setahun).

Beberapa faktor yang menurut petani berperanan penting dalam kaitannya dengan resiko Beberapa faktor yang menurut petani berperanan penting dalam kaitannya dengan resiko usahatani dapat diklasifikasikan menjadi: faktor eksternal (iklim, hama penyakit, harga sarana usahatani dapat diklasifikasikan menjadi: faktor eksternal (iklim, hama penyakit, harga sarana produksi, harga luaran) dan faktor internal (ketersediaan modal dan pengelolaan). Serangan hama produksi, harga luaran) dan faktor internal (ketersediaan modal dan pengelolaan). Serangan hama penyakit dinyatakan sebagai faktor urutan

penyakit dinyatakan sebagai faktor urutan pertama yang paling berpengaruh terhadap resiko usahatanipertama yang paling berpengaruh terhadap resiko usahatani cabai dan diikuti oleh harga luaran pada urutan kedua. Hal ini tampaknya sejalan dengan persepsi cabai dan diikuti oleh harga luaran pada urutan kedua. Hal ini tampaknya sejalan dengan persepsi petani yang lebih cenderung menyatakan bahwa usahatani

petani yang lebih cenderung menyatakan bahwa usahatani cabai dikategorikan gagal seandainya hasilcabai dikategorikan gagal seandainya hasil per satuan luas rendah. Lebih jau

per satuan luas rendah. Lebih jauh lagi, persepsi h lagi, persepsi di atas memberikan pendi atas memberikan penjelasan menyangkut jelasan menyangkut polapola penggunaan pestisida oleh petani yang cenderung berlebihan, dalam mengendalikan hama penyakit. penggunaan pestisida oleh petani yang cenderung berlebihan, dalam mengendalikan hama penyakit. Sementara itu, dari kedua faktor internal (diasumsikan lebih mudah untuk dikendalikan, sehingga Sementara itu, dari kedua faktor internal (diasumsikan lebih mudah untuk dikendalikan, sehingga diduga akan menempati dua urutan terakhir), yaitu ketersediaan modal dan pengelolaan, ternyata diduga akan menempati dua urutan terakhir), yaitu ketersediaan modal dan pengelolaan, ternyata hanya pengelolaan yang urutan kepentingannya dipersepsi petani sejalan dengan dugaan awal. hanya pengelolaan yang urutan kepentingannya dipersepsi petani sejalan dengan dugaan awal. Sesuai dengan karakteristik petani yang tergolong ke dalam kategori petani skala kecil, hal ini Sesuai dengan karakteristik petani yang tergolong ke dalam kategori petani skala kecil, hal ini mengindikasikan bahwa ketersediaan modal ternyata masih merupakan salah satu kendala yang mengindikasikan bahwa ketersediaan modal ternyata masih merupakan salah satu kendala yang cukup penting.

cukup penting. Tabel

Tabel 3 3 Persepsi Persepsi petani petani mengenai mengenai urutan urutan kepentingan kepentingan faktor-faktor faktor-faktor yang yang berpengaruh berpengaruh terhadap terhadap resiko resiko ((Farmers' Farmers'   perceptions

 perceptions with regard to the with regard to the importance of some factors that importance of some factors that influence the occurrence of risk influence the occurrence of risk )) Faktor 

Faktor  ((FactorsFactors))

Persepsi petani menyangkut urutan kepentingan Persepsi petani menyangkut urutan kepentingan

untuk setiap faktor (

untuk setiap faktor (The rank of importance asThe rank of importance as  perceived by farmers  perceived by farmers)) (%) (n=20) (%) (n=20) Ranking Ranking total total ((Total rank Total rank )) I I IIII IIIIII IVIV VV VIVI

• • • • • • •

• iklim (iklim (climateclimate)) 55 1515 2525 4040 1515 -- IVIV • • • • • • •

• hama penyakit (hama penyakit ( pests and diseases pests and diseases)) 6565 3030 -- 55 -- -- II • • • • • • •

• harga sarana produksi (harga sarana produksi ( price of inputs price of inputs)) - - -- -- 55 7070 2525 VV • • • • • • •

• harga output (harga output ( price of output  price of output )) 2525 5050 2525 -- -- -- IIII • • • • • • •

• ketersediaan modal (ketersediaan modal (funds/capital availability funds/capital availability )) -- 55 4545 4040 1010 -- IIIIII • • • • • • •

• pengelolaan (pengelolaan (management management )) 55 -- 55 1010 55 7575 VIVI

Strategi Pengelolaan Resiko

Strategi Pengelolaan Resiko Ex-anteEx-ante

Beberapa strategi pengelolaan resiko yang ditempuh petani sebelum terjadinya kejutan (

Beberapa strategi pengelolaan resiko yang ditempuh petani sebelum terjadinya kejutan ( shock shock )) pada dasarnya ditujukan untuk memperkecil variabilitas penerimaan (

pada dasarnya ditujukan untuk memperkecil variabilitas penerimaan (net revenuenet revenue). Tabel 4). Tabel 4 menunjukkan bahwa pola tanam: padi - bawang merah dan cabai - bawang merah, diikuti oleh semua menunjukkan bahwa pola tanam: padi - bawang merah dan cabai - bawang merah, diikuti oleh semua petani responden. Strategi ini ditempuh berdasarkan pengalaman 10 tahun dalam mengusahakan petani responden. Strategi ini ditempuh berdasarkan pengalaman 10 tahun dalam mengusahakan cabai yang memberikan acuan bahwa pola tanam di atas sampai saat ini masih merupakan pilihan cabai yang memberikan acuan bahwa pola tanam di atas sampai saat ini masih merupakan pilihan

(8)

terbaik dan memiliki tingkat resiko terendah. Hal ini juga tercermin dari berbagai alasan yang terbaik dan memiliki tingkat resiko terendah. Hal ini juga tercermin dari berbagai alasan yang dikemukakan petani menyangkut latar belakang pemilihan pola tanam tersebut.

dikemukakan petani menyangkut latar belakang pemilihan pola tanam tersebut.

Khusus untuk cabai, sistem produksi yang dipilih oleh semua petani responden adalah sistem Khusus untuk cabai, sistem produksi yang dipilih oleh semua petani responden adalah sistem tumpang gilir (

tumpang gilir (sequential croppingsequential cropping) dengan bawang merah. Cabai ditanam setelah bawang merah) dengan bawang merah. Cabai ditanam setelah bawang merah berumur satu bulan. Ditinjau dari aspek pengendalian resiko, strategi tersebut memiliki beberapa berumur satu bulan. Ditinjau dari aspek pengendalian resiko, strategi tersebut memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sistem produksi monokultur. Dari segi fisio-teknis, sistem tumpang keunggulan dibandingkan dengan sistem produksi monokultur. Dari segi fisio-teknis, sistem tumpang gilir memanfaatkan lahan dan energi sinar matahari secara lebih baik, karena sistem pertanaman akan gilir memanfaatkan lahan dan energi sinar matahari secara lebih baik, karena sistem pertanaman akan menempati lahan dalam waktu yang lebih lama. Secara implisit, hal ini berarti meningkatkan menempati lahan dalam waktu yang lebih lama. Secara implisit, hal ini berarti meningkatkan foto-sintesis serta memperbaiki efisiensi pemanfaatan air dan unsur hara. Di samping itu, instabilitas hasil sintesis serta memperbaiki efisiensi pemanfaatan air dan unsur hara. Di samping itu, instabilitas hasil yang disebabkan oleh cekaman lingkungan maupun serangan hama penyakit secara keseluruhan yang disebabkan oleh cekaman lingkungan maupun serangan hama penyakit secara keseluruhan dapat dikurangi oleh karena sistem terdiri dari dua

dapat dikurangi oleh karena sistem terdiri dari dua spesies tanaman yang berbeda. Dari segi spesies tanaman yang berbeda. Dari segi sosio- sosio-Tabel

Tabel 4 4 Strategi Strategi pengelolaan pengelolaan resikoresikoex-anteex-ante((Ex-ante risk management strategy Ex-ante risk management strategy ))

No Uraian No Uraian ((DescriptionDescription)) % % (n=20) (n=20) 1.

1. Pola tanam setahun (Pola tanam setahun (Yearly cropping systemYearly cropping system):):

o

o padipadi ((ricerice)) : bulan: bulan((monthmonth))10, 11 atau 1210, 11 atau 12 o

o bawang merahbawang merah((shallot shallot )) : bulan: bulan((monthmonth)) 2, 3 atau 42, 3 atau 4 o

o cabaicabai ((hot pepper hot pepper )) : bulan: bulan((monthmonth)) 3, 4 atau 53, 4 atau 5 o

o bawang merahbawang merah((shallot shallot )) : bulan: bulan((monthmonth)) 7, 8 atau 97, 8 atau 9

100 100

2.

2.  Alasan mengikuti pola tanam di atas secara konsisten dalam lima tahun terakhir ( Alasan mengikuti pola tanam di atas secara konsisten dalam lima tahun terakhir (Reasons for Reasons for  consistently following the existing

consistently following the existing cropping system cropping system in the last in the last five yearsfive years)) ::

o

o rotasi tanaman yang paling menguntungkanrotasi tanaman yang paling menguntungkan((experience has shown that it is theexperience has shown that it is the

most profitable crop rotation most profitable crop rotation)) o

o sesuai dengan kondisi iklim setempatsesuai dengan kondisi iklim setempat((suitable to local climatesuitable to local climate)) o

o  jika berbeda, mengundang serangan hama jika berbeda, mengundang serangan hama((if it is different, it may invite pest if it is different, it may invite pest 

attack  attack )) 40 40 35 35 25 25 3.

3. Sistem produksi cabai yang digunakan (Sistem produksi cabai yang digunakan (Hot pepper production systemHot pepper production system):):

o

o monokultur monokultur ((monocroppingmonocropping)) o

o tumpang sari atau tumpang gilir tumpang sari atau tumpang gilir ((multiple cropping or sequential croppingmultiple cropping or sequential cropping))

--100 100 4.

4.  Alasan menggunakan sistem produksi di atas ( Alasan menggunakan sistem produksi di atas (Reasons for adopting the production systemReasons for adopting the production system):):

o

o secara keseluruhan memberikan pendapatan bersih yang lebih tinggisecara keseluruhan memberikan pendapatan bersih yang lebih tinggi

dibandingkan dengan sistem monokultur 

dibandingkan dengan sistem monokultur ((in general, it provides higher net incomein general, it provides higher net income as compared to monocropping

as compared to monocropping)) o

o penggunaan input (terutama lahan dan penggunaan input (terutama lahan dan tenaga kerja) tenaga kerja) yang lebih efisienyang lebih efisien ((input use, especially land and labor, is more efficient input use, especially land and labor, is more efficient ))

o

o saling menutupi sebagian kerugian jika salah satu tanaman kurangsaling menutupi sebagian kerugian jika salah satu tanaman kurang

berhasil

berhasil((crops are compesating to each other, if one of them failscrops are compesating to each other, if one of them fails)) o

o pertanaman cabai menunjukkan pertumbuhan yang lebih baikpertanaman cabai menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik((hot pepper hot pepper 

grows very well  grows very well ))

20 20 20 20 25 25 35 35 5.

5. Jumlah atau jenis varietas cabai yang digunakan (Jumlah atau jenis varietas cabai yang digunakan (Number of hot pepper varieties used Number of hot pepper varieties used ):):

o

o selalu varietas tunggal pada semua lahan yang diusahakanselalu varietas tunggal pada semua lahan yang diusahakan((always singlealways single

variety in all parcels cultivated  variety in all parcels cultivated )) o

o lebih dari satu varietas pada lahan/hamparan yang samalebih dari satu varietas pada lahan/hamparan yang sama((more than onemore than one

variety in the same parcel cultivated  variety in the same parcel cultivated )) o

o lebih dari satu varietas pada lahan/hamparan yang berbedalebih dari satu varietas pada lahan/hamparan yang berbeda((more more than than oneone

variety in different parcel cultivated  variety in different parcel cultivated ))

65 65 15 15 20 20 6.

6. Sumber dari seluruh atau sebagian besar Sumber dari seluruh atau sebagian besar bibit/benih cabai bibit/benih cabai yang digunakan (yang digunakan (Source of hot Source of hot   pepper seeds

 pepper seeds):):

o

o sendirisendiri((own-produced own-produced )) o

o orang lainorang lain((buy from othersbuy from others))

65 65 35 35 7.

7. Banyaknya lokasi/persil pertanaman cabai dalam setahun (Banyaknya lokasi/persil pertanaman cabai dalam setahun (Number of locations/parcelsNumber of locations/parcels cultivated for hot pepper in a year 

cultivated for hot pepper in a year ):):

o

o hanya ada di satu lokasihanya ada di satu lokasi((only oneonly one)) o

o ada di beberapa atau lebih dari satu lokasiada di beberapa atau lebih dari satu lokasi((more than onemore than one))

45 45 55 55

(9)

ekonomis, sistem tumpang gilir memungkinkan penggunaan tenaga kerja dan modal produksi secara ekonomis, sistem tumpang gilir memungkinkan penggunaan tenaga kerja dan modal produksi secara lebih efisien. Sistem tersebut memungkinkan pengolahan tanah (untuk dua cabang usaha) yang padat lebih efisien. Sistem tersebut memungkinkan pengolahan tanah (untuk dua cabang usaha) yang padat tenaga kerja hanya dilakukan satu kali serta penggunaan input eksternal yang lebih hemat (misalnya tenaga kerja hanya dilakukan satu kali serta penggunaan input eksternal yang lebih hemat (misalnya pupuk, kemungkinan pemborosan akibat pencucian/

pupuk, kemungkinan pemborosan akibat pencucian/leachingleaching dapat ditekan). Sementara itu, duadapat ditekan). Sementara itu, dua cabang usaha (bawang merah dan cabai) yang menopang sistem tersebut juga dapat saling menutupi cabang usaha (bawang merah dan cabai) yang menopang sistem tersebut juga dapat saling menutupi  jika salah satu di antaranya

 jika salah satu di antaranya mengalami kerugian.mengalami kerugian.

Diversifikasi varietas sebenarnya juga merupakan salah satu metode pengelolaan resiko Diversifikasi varietas sebenarnya juga merupakan salah satu metode pengelolaan resiko ex ex  ante

ante. . Namun demikian, tabel Namun demikian, tabel 4 memperlihatkan bahwa hanya 4 memperlihatkan bahwa hanya sebagian kecil petani respondsebagian kecil petani responden (35%)en (35%) yang menggunakan lebih dari satu varietas pada lahan yang sama atau pada lahan yang berbeda. Hal yang menggunakan lebih dari satu varietas pada lahan yang sama atau pada lahan yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa ketersediaan varietas yang menawarkan karakteristik spesifik (umur panen, ini menunjukkan bahwa ketersediaan varietas yang menawarkan karakteristik spesifik (umur panen, ketahanan terhadap hama penyakit, ketahanan terhadap cekaman lingkungan) jumlahnya sangat ketahanan terhadap hama penyakit, ketahanan terhadap cekaman lingkungan) jumlahnya sangat terbatas. Dalam kondisi seperti ini

terbatas. Dalam kondisi seperti ini,, petani cenderung bertumpu pada varietas tunggal (Tit Super) yangpetani cenderung bertumpu pada varietas tunggal (Tit Super) yang dominan digunakan, karena secara lokal spesifik telah

dominan digunakan, karena secara lokal spesifik telah teruji kelayakannya.teruji kelayakannya.

Untuk mengurangi resiko kegagalan, sebagian besar petani (65%) memilih bibit yang diproduksi Untuk mengurangi resiko kegagalan, sebagian besar petani (65%) memilih bibit yang diproduksi sendiri dengan anggapan bahwa di samping kualitasnya lebih terjamin, petani juga dapat menghemat sendiri dengan anggapan bahwa di samping kualitasnya lebih terjamin, petani juga dapat menghemat pengeluaran bibit. Preferensi ini terutama dilatar-belakangi keyakinan akan kualitas bibit yang

pengeluaran bibit. Preferensi ini terutama dilatar-belakangi keyakinan akan kualitas bibit yang diseleksidiseleksi oleh petani sendiri dari pertanaman sebelumnya. Sementara itu, sebagian petani lain menggunakan oleh petani sendiri dari pertanaman sebelumnya. Sementara itu, sebagian petani lain menggunakan bibit dari luar (membeli), terutama karena pertanaman sebelumnya dianggap kurang berhasil. bibit dari luar (membeli), terutama karena pertanaman sebelumnya dianggap kurang berhasil. Keputusan untuk membeli bibit dari luar pada umumnya diambil jika petani bersangkutan mengetahui Keputusan untuk membeli bibit dari luar pada umumnya diambil jika petani bersangkutan mengetahui kondisi yang baik dari pertanaman sumber bibit tersebut di lapangan.Walaupun dalam luasan yang kondisi yang baik dari pertanaman sumber bibit tersebut di lapangan.Walaupun dalam luasan yang relatif sempit, sebagian responden (55%)

relatif sempit, sebagian responden (55%) mengusahakan cabai pada beberapa (lemengusahakan cabai pada beberapa (lebih dari satu) lokasi.bih dari satu) lokasi. Di samping mengusahakan lahan milik sendiri, sepanjang modal produksi dan penawaran lahan sewa Di samping mengusahakan lahan milik sendiri, sepanjang modal produksi dan penawaran lahan sewa tersedia,

tersedia, petani juga melpetani juga melakukan kegiatan sewa. Hakukan kegiatan sewa. Hal ini sebenarnya al ini sebenarnya merupakan salah satu merupakan salah satu strategistrategi pengendalian resiko, karena melalui diversifikasi hamparan petani dapat mengurangi kovariasi pengendalian resiko, karena melalui diversifikasi hamparan petani dapat mengurangi kovariasi hamparan-hasil (

hamparan-hasil (  plot-yield covariation  plot-yield covariation) dan variabilitas produksi agregat () dan variabilitas produksi agregat (aggregate productionaggregate production variability 

variability ). Demikian pula jika secara spasial lokasi hamparan tersebut tersebar, variabilitas produksi). Demikian pula jika secara spasial lokasi hamparan tersebut tersebar, variabilitas produksi agregat yang diakibatkan oleh dampak spesifik lokasi (misalnya, serangan hama penyakit dan agregat yang diakibatkan oleh dampak spesifik lokasi (misalnya, serangan hama penyakit dan kekeringan setempat) dapat dikurangi.

kekeringan setempat) dapat dikurangi. Strategi Pengelolaan Resiko

Strategi Pengelolaan Resiko InteractiveInteractive

Pada awal musim tanam, petani selalu memiliki harapan subyektif (

Pada awal musim tanam, petani selalu memiliki harapan subyektif (subjective expectationsubjective expectation) yang) yang dikembangkan dari pengalaman di

dikembangkan dari pengalaman di musim sebelumnya. Misalnya, menyangkut perkiraan kejadian, jum-musim sebelumnya. Misalnya, menyangkut perkiraan kejadian, jum-lah, distribusi dan durasi hujan atau kemungkinan insiden hama penyakit. Sejalan dengan usia lah, distribusi dan durasi hujan atau kemungkinan insiden hama penyakit. Sejalan dengan usia tanam-an, harapan tersebut akan diperbaiki dan secara bertahap petani akan melakukan pengaturan pola an, harapan tersebut akan diperbaiki dan secara bertahap petani akan melakukan pengaturan pola tanam dan cara budidaya, sehubungan

tanam dan cara budidaya, sehubungan dengan adanya kejutan-kejutan dari luar (dengan adanya kejutan-kejutan dari luar (exogenous shocks).exogenous shocks). Ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi pengambilan Ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi pengambilan keputusan petani dalam menentukan waktu tanam. Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar  keputusan petani dalam menentukan waktu tanam. Tabel 5 menunjukkan bahwa sebagian besar  petani responden (55%) menanam cabai pada akhir musim kemarau (menjelang musim hujan) petani responden (55%) menanam cabai pada akhir musim kemarau (menjelang musim hujan) dengan pertimbangan bahwa sejak tanam sampai panen tidak akan kekurangan air. Salah satu faktor  dengan pertimbangan bahwa sejak tanam sampai panen tidak akan kekurangan air. Salah satu faktor  yang membedakan waktu tanam (awal, pertengahan, akhir musim kemarau) adalah perbedaan yang membedakan waktu tanam (awal, pertengahan, akhir musim kemarau) adalah perbedaan harapan

harapan petani terhadap ketepetani terhadap ketersediaan air. Banyaknya prsediaan air. Banyaknya petani yang memutuskan waktu etani yang memutuskan waktu tanam padatanam pada akhir musim kemarau mengindikasikan bahwa walaupun probabilitas jangka panjang terjadinya hujan akhir musim kemarau mengindikasikan bahwa walaupun probabilitas jangka panjang terjadinya hujan meningkat jika menanam lebih lambat, secara intuitif petani menyadari bahwa probabilitas kondisional meningkat jika menanam lebih lambat, secara intuitif petani menyadari bahwa probabilitas kondisional dari keberhasilan pertanaman melalui penanaman awal yang diikuti oleh penyulaman bertahap adalah dari keberhasilan pertanaman melalui penanaman awal yang diikuti oleh penyulaman bertahap adalah lebih tinggi dibandingkan dengan penanaman lambat. Resiko yang dihadapi petani berkenaan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :