BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah 51 siswa kelas 3 SD Negeri Getasan yang terbagi menjadi 2 kelas yaitu kelas 3a dan 3b. Kelas kontrol dalam penelitian ini adalah 3b dan kelas eksperimen dalam penelitian ini adalah kelas 3a. Pemilihan 2 kelompok tersebut berdasarkan: 1. Kedua kelas terletak pada satu sekolah.
2. Prestasi kedua kelompok tersebut hampir sama.
3. Berdasarkan hasil pre-test pada awal penelitian, rata-rata nilai kedua kelas hampir sama 4. Kedua kelas mendapatkan fasilitas sekolah yang sama
5. Jumlah kedua kelompok hampir sama yaitu 25 dan 26 siswa.
Berdasarkan informasi dari guru kelas 3 dan guru Bahasa Inggris, kelas 3 terbiasa dengan pembelajaran dengan metode ceramah dan diskusi dan setelah itu siswa mencatat berbagai hal kemudian mengerjakan tugas dari guru baik itu yang ada di buku Lembar Kerja Siswa (LKS) maupun dari sumber lain. Peran siswa dalam pembelajaran sehari-hari lebih terlihat pasif karena metode yang diterapkan guru.
4.2 Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas 3 SD Negeri Getasan Semester 2 tahun ajaran 2015/2016. Jumlah siswa dalam penelitian ini adalah 51 dimana kelas 3b sebagai kelas eksperimen berjumlah 25 anak dan kelas 3a sebagai kelas kontrol berjumlah 26 anak.
Kedua kelas tersebut telah memenuhi uji persyaratan yaitu uji homogenitas. Uji homogenitas menunjukkan kedua kelas tersebut memiliki kesamaan varian dan tidak ada perbedaan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa kedua kelas mempunyai kemampuan awal yang sama sehingga peneliti dapat melanjutkan penelitiannya dengan memberi perlakuan kepada kelas kontrol maupun kelas eksperimen. Pada kelas kontrol, peneliti memberikan pengajaran dengan metode ceramah dan diskusi sedangkan pada kelas eksperimen, peneliti menggunakan model pembelajaran Team-Game-Tournament dengan
media permainan Bingo. Pembeajaran berlangsung selama tiga kali tatap muka dan dua kali test yaitu pretest dan posttest.
Pembelajaran dengan metode ceramah dan diskusi di kelas kontrol, siswa diminta guru untuk tenang dan mendengarkan guru dalam menjelaskan materi. Kemudian siswa dapat berdiskusi secara kelompok dalam mengerjakan tugas maupun membahas suatu materi. Pembelajaran berlangsung selama 3 pertemuan.
Pembelajaran di kelas eksperimen, guru menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan termasuk media permainan bingo itu sendiri. Pembelajaran berlangsung selama 3 pertemuan mengikuti sintaks dari model pembelajaran Team-Game-Tournamen(TGT) yaitu:
Hari 1 : Presentasi kelas
Gagasan utama dalam pertemuan hari pertama adalah menyampaikan materi yang dibutuhkan rencana pembelajaran dengan model TGT. Disini guru memperkenalkan materi sebagai dasar dari pertemuan selanjutnya yaitu belajar tim dan juga turnamen.
Hari 2 : Belajar Tim
Gagasan utama dalam pertemuan hari ke 2 ini adalah siswa mempelajari lembar kegiatan dan bekerja dalam tim. Dalam pertemuan ini, guru membagi siswa secara heterogen. Siswa tidak diperkenankan memilih anggota kelompoknya sendiri.
Hari 3 : Turnamen
Dalam pertemuan ini, siswa berkompetisi antar tim. Satu tim dengan tim yang lain harus mempunyai heterogenitas yang sama baik itu dari jenis kelamin, kemampuan akademik, ras, suku maupun agama. Disini siswa bermain bingo dan konten yang ada dalam permainan bingo adalah tentang kosakata yang dipelajari pertemuan sebelumnya. Pemenang dalam permainan ini akan mendapat penghargaan dari guru.
4.3 Hasil Penelitian 4.3.1 Observasi
a. Kelas Kontrol
Kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris kelas kontrol dijadwalkan pada hari Jum’at setiap jam 07.00 selama satu periode kelas. Di kelas ini, materi yang diajarkan sama dengan di kelas eksperimen. Yang membedakan hanyalah cara menyampaikan materi. Di kelas kontrol, guru menyampaikan materi dengan metode ceramah dan diskusi selama 3 pertemuan namun di kelas eksperimen guru menyampaikan materi sama selama 3 pertemuan yang berpegang pada sintaks model pembelajaran TGT dimana pada akhir pembelajaran terdapat turnamen dengan menggunakan media permainan bingo.
Pertemuan pertama pada kelas ini adalah pretest untuk menguji kemampuan awal siswa dan pada minggu selanjutnya guru mulai memperkenalkan materi kepada siswa. Sebelum pembelajaran dimulai, terlebih dahulu guru bertanya bagaimana pendapat anak-anak tentang bahasa inggris. Sebagian besar mereka menganggap bahasa inggris itu sulit. Bahkan beberapa dari mereka menganggap bahasa inggris itu pelajaran paling sulit disbanding dengan pelajaran lainnya.
Pada pertemuan pertama, guru menggali pengetahuan awal siswa mengenai materi yang diajarkan yaitu dengan menyebutkan dalam bahasa Indonesia dan kemudian guru menerjemahkan dan menuliskannya dalam bahasa inggris. Pada awal pembelajaran, siswa masih fokus untuk memperhatikan pelajaran namun pada pertengahan pembelajaran mereka merasa bosan dan kehilangan fokus. Beberapa anak melakukan hal diluar pembelajaran sehingga mengganggu jalannya pembelajaran. Beberapa kali guru mengingatkan siswa untuk memperhatikan dan tenang namun disini sifatnya hanya sementara. Bahkan beberapa anak bergiliran meminta izin ke toilet saat pelajaran berlangsung. Disaat guru meminta siswa untuk mengikuti cara membaca dalam bahasa inggris, mereka mengikuti namun belum kompak sampai harus diulangi beberapa kali dan guru memberi contoh untuk berbicara lantang dan jelas. Disini siswa mengikuti apa yang guru perintahkan dan keadaan kelas kembali kondusif. Baru setelah itu guru memberi kesempatan siswa untuk melafalkan secara individu kosakata yang diajarkan dalam bahasa inggris dan siswa diberi lembar kerja untuk dikerjakan secara individu. Setelah cukup penjelasan dari guru, siswa diberi lembar kerja untuk mengukur sejauh mana hasil belajar pada hari ini. Disini siswa memnta guru untuk memperbolehkan
berdiskusi dengan teman sebangku dan guru memperbolehkan. Setelah itu dilanjutkan dengan membahas hasil dari pekerjaan siswa dimana masih terdapat beberapa kesalahan yang perlu diperbaiki yaitu mengenai penulisan kata dalam bahasa inggris dan cara melafalkan kata dalam bahasa inggris. Antusias siswa dalam pertemuan ini rendah. Namun disaat guru memfasilitasi diskusi berdasarkan hasil kerja siswa, siswa cukup antusias karena pada setiap poin guru selalu meminta pendapat siswa.
Gambar 4.1
Beberapa siswa yang bosan melakukan hal diluar instruksi guru
Pembelajaran hari kedua pada penelitian ini guru mengawali dengan mengingatkan apa yang sudah dipelajari minggu lalu. Guru kembali bertanya tentang materi minggu lalu. Disini sebagian siswa sudah lupa dan guru mengawali pembelajaran dengan mengingatkan kembali apa yang mereka pelajari minggu lalu sebelum masuk ke materi selanjutnya. Pembelajaran hari kedua lebih menekankan kepada kosakata dalam konteks suatu kalimat. Guru memberi siswa beberapa kosakata (kata kerja) yang biasa dilakukan di ruang keluarga sesuai yang dipelajari siswa dan menjelaskannya. Disini siswa masih merasa kesulitan karena beberapa kosakata masih asing bagi mereka. Selain itu mereka juga belum memahami struktur kalimat. Dalam hal ini guru memberi contoh tentang kalimat sederhana yang biasa dilakukan di ruang keluarga yaitu dengan membuat table yang terdiri atas 3 kolom. Kolom pertama adalah subjek kalimat, kolom kedua adalah kata kerja yang sudah dijelaskan guru sebelumnya sedangkan kolom ketiga adalah benda yang ada di ruang keluarga, Guru memberi contoh dua kalimat tentang bagaimana cara merangkai kalimat setelah itu siswa ditugaskan untuk merangkai kalimat sendiri selain
yang guru contohkan. Sebagian dari siswa masih merasa kesulitan karena mereka belum mengerti arti kata dalam bahasa inggris. Disaat itulah guru kembali menjelaskan dan mengulangi penjelasan tentang bagaimana merangkai kaliat yang pas dengan konteksnya. Maksudnya adalah kalimat disini logis dan pas pada pemilihan kata, sesuai antara subjek, kata kerja dan objek kalimat itu sendiri
Pertemuan selanjutnya guru kembali membahas tentang kalimat yang sudah disusun siswa seperti sebelumnya. Beberapa siswa yang sudah mengerti bisa menjawab apa yang guru tanyakan namun sebagian dari mereka juga sudah lupa. Guru kembali mengingatkan dan meminta siswa untuk membuka lembar kerja yang sudah guru berikan pada pertemuan sebelumnya. Disini guru kembali mengulangi apa yang sudah dipelajari pertemuan sebelumnya dan mendiskusikan dengan siswa. Setelah itu guru memberi
posttest untuk mengukur perkembangan siswa selama penelitian ini berlangsung.
b. Kelas Eksperimen
Kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris pada kelas eksperimen dijadwalkan hari sabtu mulai jam 07.00 selama satu periode kelas. Disini peneliti didampingi guru Bahasa Inggris selama penelitian. Peran guru Bahasa Inggris disini adalah sebagai observer yang melihat dan mengobservasi jalannya pembelajaran. Apakah pembelajaran dalam kelas eksperimen sudah sesuai sintaks pembelajaran atau adakah hal-hal yang menyimpang dari sintaks pembelajaran, itu semua diamati oleh guru Bahasa Inggris selaku observer. Pertemuan pertama pada penelitian di kelas ini adalah pretest untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Disini siswa diberi waktu 1 jam untuk mengerjakan test. Selain untuk mengukur kemampuan awal siswa, test pada awal penelitian juga bertujuan untuk mengukur apakah kedua kelompok yang akan digunakan sebagai subjek penelitian ini memenuhi persyaratan atau tidak. Ukuran yang digunakan adalah uji homogenitas dan normalitas kedua kelompok. Jika kedua uji tersebut memenuhi syarat, artinya kedua kelompok mempunyai kemampuan awal yang sama. Setelah kedua kelompok memenuhi syarat, maka peneliti dapat melanjutkan penelitiannya dengan memberi perlakuan pada masing-masing kelompok.
Pertemuan kedua dalam penelitian ini adalah awal dari pembelajaran yang berpegang pada sintaks Team-Game-Tournament. Pada pertemuan ini, siswa diperkenalkan materi yang akan dipelajari sebagaimana tertera pada sintaks yaitu pengajaran (presentasi kelas). Disini guru memperkenalkan materi dan siswa memperhatikan saat guru menjelaskan. Dan setelah itu, guru memberi tugas berupa lembar kerja kepada mereka untuk dikerjakan dan kemudian dibahas. Kondisi siswa dalam pembelajaran ini pada awalnya cukup kondusif namun pada saat mereka merasa bosan, mereka melakukan hal diluar materi pembelajaran. Guru harus beberapa kali mengingatkan siswa untuk memperhatikan. Pertemuan pertama berdasarkan sintaks TGT sangat penting karena pertemuan ini merupakan dasar dari materi yang akan dipelajari selanjutnya baik itu disaat belaajr tim maupun saat turnamen.
Gambar 4.2
Guru Memperkenalkan Materi Pembelajaran
Pada pertemuan selanjutnya, siswa belajar dalam tim. Disini guru membagi siswa secara heterogen baik itu berdasarkan kemampuan akademik, jenis kelamin, ras maupun agama. Siswa dalam tim terdiri atas 4-5 siswa yang mewakili seluruh kondisi kelas. Dalam pertemuan ini, guru mengingatkan kembali materi apa yang sudah dipelajari pada pertemuan berikutnya yang kemudian dilanjutkan mengenai materi yang digunakan dalam kerja kelompok. Materi yang dipelajari dalam pertemuan ini adalah mengenai konteks kalimat. Disini siswa diajarkan bagaimana memilih kosakata yang tepat sesuai
konteks kalimat seperti yang guru ajarkan pada kelas kontrol. Setelah itu guru memberi lembar kerja untuk semua tim untuk dikerjakan bersama dalam tim. Pada pertemuan ini terlihat adanya peningkatan antusias siswa dalam belajar. Guru meminta siswa berdiskusi, mengerjakan tugas bersama tim mereka dan setelah itu mereka saling mengkoreksi hasil kerja dalam tim mereka berdasarkan lembar jawab yang diberikan guru.
Belajar dalam kelompok heterogen membuat siswa memiliki tanggungawab untuk belajar. Mereka mengerjakan tugas dengan baik karena dalam kelompok mereka bisa saling membantu satu sama lain. Setelah itu guru memberi lembar jawab untuk didiskusikan kepada tiap kelompok, saling mengkoreksi kesalahan masing-masing anggota dan memastikan semua anggota telah belajar.
Pertemuan terakhir pada kelas eksperimen adalah tournament-rekognisi tim, Disini guru mengingatkan kembali mengenai apa yang sudah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Setelah itu guru menjelaskan mengenai permainan bingo. Beberapa siswa telah mengetahui permainan ini namun sebagian besar dari mereka belum mengetahui permainan ini. Sebelum mulai permainan, guru menjelaskan aturan bermain bingo dan bagaimana cara untuk memenangkan permainan seperti yang sudah dijelaskan pada bab II. Siswa terlihat sangat antusias dalam permainan ini. Hal ini terlihat diawal permainan disaat guru memulai permainan semua berebut untuk menjadi yang pertama dan mereka sampai tidak ingat bahwa aturan permainan ini adalah siswa hanya tunjuk jari dan guru yang kemudian menentukan siapa yang menjawab dan mendapat kartu untuk dirangkai sesuai yang terdapat pada kupon. Antusiasme siswa ini juga sangat terlihat saat mereka merasa kecewa bila guru membatalkan pertanyaan disaat siswa melanggar aturan yaitu dengan tunjuk jari sambil berteriak meneriakkan jawabannya. Beberapa kelompok yang sudah mendapat poin, artinya telah berhasil merangkai kartu sesuai kupon dengan pola diagonal, vertikal atau horizontal juga terlihat sangat gembira. Mereka ingin mengulanginya lagi dan lagi.
Antusias ini juga dipengaruhi oleh keinginan kelompok untuk mengalahkan kelompok lainnya. Terlihat disaat salahsatu kelompok berhasil dan berterian “bingo” mereka terlihat sangat gembisa dan ingin mengulanginya lagi. Namun karena keterbatasan waktu,
permainan tersebut harus berakhir seiring dengan keluarnya salahsatu kelompok sebagai pemenang. Setelah permainan usai, siswa masih meminta guru untuk bermain lagi di lain pertemuan. Bahkan mereka meminta satu set bingo beserta kartunya agar mereka bisa memainkannya di lain waktu.
Setelah itu, peneliti memberikan posttest mengenai materi yang selama 3 pertemuan dipelajari dan soalnya sama seperti pretest. Tidak seperti pretest yang mereka terkesan ragu-ragu dalam menjawab, dalam posttest mereka lebih mantap dalam menjawab soal. Namun masih ada beberapa yang terkecoh.
Gambar 4.3
Antusias siswa dalam bermain bingo
Saran dari guru bahasa inggris selaku observer adalah untuk lebih memahami karakter siswa baik itu di kelas eksperimen mapun di kelas kontrol. Beberapa siswa di kelas eksperimen maupun kelas kontrol memang sering membuat kegaduhan dalam kelas namun tidak semua anak setelah ditegur lalu merubah sikapnya dalam kelas. Tidak semua dari anak-anak itu memang suka ramai karena ada juga yang memang mencari perhatian dari guru karena kesulitan dalam mengerjakan lembar kerja. Kegaduhan dalam kelas yang dipicu beberapa anak memang mengganggu jalannya pembelajaran namun jika guru mampu mengontrol dan memahami kelas dengan baik maka pembelajaran akan tetap bisa berjalan
4.3.2 Tes.
Setelah diberi perlakuan, kedua kelas diberikan tes untuk menguji hasil akhir dari sebuah proses pembelajaran. Hasil tes akhir terdapat pada table dibawah ini :
Tabel 4.1
Rekap nilai posttest hasil belajar bahasa inggris
Nilai Posttest
Eksperimen Kontrol
Minimum 57.14 47.61
Maksimum 100.00 95.24
Rata-rata 83.64 71.23
Setelah diberikan post-test pada kedua kelas, nilai rata-rata dari kelompok eksperimen adalah 83.64 sedangkan nilai rata-rata pada kelas kontrol adalah 71.23. Dari hasil tes tersebut dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi dari nilai rata-rata kelas kontrol.
Grafik 4.1
Nilai Posttest Kelas Kontrol Dan Eksperimen 4.4 Hasil Analisis Data
4.4.1 Uji Homogenitas dan Normalitas Data Akhir
Tujuan dari uji homogenitas dan uji normalitas data akhir adalah untuk menentukan metode uji hipotesis. Jika data pretest dan posttest berdistribusi normal dan homogen,maka pengujian hipotesis menggunakan uji statistik parametrik. Sebaliknya jika data tidak homogen dan tidak berdistribusi normal maka uji hipotesis menggunakan uji statistik non parametrik. Berikut adalah hasil uji homogenitas
Tabel 4.2
Hasil Uji Homogenitas Test of Homogeneity of Variances
VAR00001
Levene Statistic df1 df2 Sig.
1.561 1 45 .218
Hasil uji homogenitas menunjukkan kedua kelompok mempunyai varian yang sama yaitu ditunjukkan dengan nilai sig yang lebih besar dari 0.05. Begitu juga dengan hasil uji normalitas seperti yang ditunjukkan pada tabel dibawah ini bahwa nilai sig pada masing-masing kelompok adalah lebih dari 0.05 yang berarti kedua kelompok mempunyai distribusi yang normal.
Tabel 4.2
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
PretestEksperimen PretestKontrol PosttestEksperimen PosttestKontrol
N 24 25 23 24
Normal Parametersa Mean 47.8175 42.2868 83.6439 71.2302
Std.
Deviation 16.03868 14.30716 12.41969 14.35313
Most Extreme Differences Absolute .162 .155 .173 .135
Positive .093 .155 .094 .125
Negative -.162 -.089 -.173 -.135
Kolmogorov-Smirnov Z .792 .773 .828 .662
Asymp. Sig. (2-tailed) .557 .588 .500 .773
a. Test distribution is Normal.
Setelah uji homogenitas dan uji normalitas yang menunjukkan bahwa kedua kelas mempunyai varian yang sama dan kedua kelas juga mempunyai distribusi yang normal maka uji hipotesis dapat dilaksanakan dengan uji statistik parametrik.
4.4.2 Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan pada hasil posttest kedua kelas. Rumusan pengujiannya seperti yang sudah tertera di bab III yaitu
Ho : X1=X2 dan nilai sig > 0.05
Dari rumusan tersebut bila ditarik perntayaan yaitu rata-rata hasil belajar bahasa inggris kelas 3a dan 3b sama. Artinya tidak ada pengaruh penggunaan model TGT menggunakan permainan bingo dengan model ceramah dan diskusi.
Ha: X1 > X2 dan nilai sig > 0.05
Yaitu rata-rata hasil belajar Bahasa Inggris kelas eksperimen tidak sama dengan rata-rata hasil belajar kelas kontrol. Artinya terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran TGT menggunakan media permainan bingo dengan model ceramah dan diskusi.
Tujuan uji hipotesis adalah untuk menguji apakah H0 ditolak dan Ha diterima atau sebaliknya.
Berikut adalah hasil analisis data menggunakan spss 16 for windows. Tabel 4.8
Hasil Uji Beda Rata-rata
Group Statistics
VAR00
002 N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
VAR00001 1 23 83.6439 12.41969 2.58969
2 24 71.2302 14.35313 2.92982
Dari hasil rata-rata nilai posttest kedua kelas, terlihat bahwa rata-rata nilai eksperimen lebih tinggi dibanding dengan rata-rata nilaikelas kontrol.
Grafik 4.1
Rata-Rata Nilai Posttest Kelas Kontrol Dan Eksperimen
Kemudian dilihat dari hasil uji-t atau independent sample t-test bahwa nilai sig. pada kolom
Levene's Test for Equality of Variances menunjukkan angka 0.218 yang berarti Ha diterima
melihat rumusan hipotesis bahwa H1 : sig < 0.05 yang berarti terdapat perbedaan hasil belajar
bahasa inggris pada kedua kelas. Dari perbedaan hasil tersebut terlihat bahwa penggunaan model pembelajaran TGT dengan media permainan bingo mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas 3a SD Negeri Getasan.
Tabel 4.7 Hasil Uji Hipotesis
Independent Samples Test
Levene's Test for
Equality of Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper VAR00001 Equal variances assumed 1.561 .218 3.165 45 .003 12.41373 3.92252 4.51337 20.31410 Equal variances not assumed 3.175 44.549 .003 12.41373 3.91028 4.53582 20.29165
4.5 Pembahasan Hasil Penelitian
Melihat hasil uji homogenitas dan uji normalitas, menunjukkan bahwa kedua kelas mempunyai varian yang tidak berbeda secara signifikan dan berdistribusi normal. Hal ini digunakan sebagai tolak ukur bahwa kedua kelas mempunyai keadaan yang setara sebelum diberikan perlakuan pada masing-masing kelas. Setelah itu penelitian dilanjutkan memilih kelas kontrol dengan metode ceramah dan diskusi serta kelas eksperimen dengan model pembelajaran TGT dengan media permainan bingo.
Pembelajaran Bahasa Inggris dengan model TGT menggunakan media pemainan bingo adalah sebuah pembelajaran yang mengkombinasikan model TGT dengan permainan bingo. Pembelajaran dalam model ini mengikuti sintaks TGT yang kemudian pada tahap tournament, peneliti menggunakan permainan bingo, bukan tournament akademik yang digunakan pada pembelajaran TGT.
Kelas kontrol menggunakan metode ceramah dan diskusi. Disini tugas guru adalah menyampaikan materi kepada siswa dan siswa memperhatikan. Setelah itu guru memberi tugas untuk dikerjakan dan kemudian didiskusikan bersama. Saat pembelajaran, siswa cenderung bersikap pasif. Namun saat diskusi, siswa bersikap lebih aktif. Hal ini karena guru lebih sering meminta jawaban dari siswa dan kemudian menjelaskan sesuai materi yang dipelajari.
Secara keseluruhan, karakter kedua kelas ini hamper sama yaitu mudah bosan. Terlihat disaat guru menjelaskan, beberapa kali guru harus mengingatkan siswa untuk memperhatikan. Atau guru menyapa siswa dengan “hallo” atau “hai” untuk mendapatkan kembali perhatian siswa. Konsentrasi siswa hanya berkisan beebrapa menit saja setelah itu mereka merasa bosan.
Perbedaan mulai terlihat pada pertemuan kedua yaitu disaat kelas kontrol menggunakan metode ceramah dan diskusi sedangkan kelas eksperimen mengikuti sintaks dalam pembelajaran TGT yaitu belajar dalam tim. Kondisi di kelas kontrol masih seperti saat pertama pertemuan dan disini kondisi kelas eksperimen lebih kondusif. Belajar dalam tim secara heterogen membuat siswa lebih memiliki tanggungjawab. Disini guru mengistruksikan siswa di setiap kelompok agar semuanya bekerja dan berpartisipasi. Walau ada beberapa siswa yang masih terlihat pasif dalam kelompok namun disini peran guru adalah untuk mengingatkan dan membimbing kepada setiap kelompok agar semua anak dalam kelompok ikut bekerjasama.
Perbedaan sangat terlihat saat hari ketiga yaitu disaat kelas kontrol masih menggunakan metode ceramah dan diskusi sedangkan kelas eksperimen menggunakan media permainan bingo. Hal yang sangat jelas terlihat perbedaan dari kedua kelas adalah bagaimana antusias anak dalam mengikuti pembelajaran. Di kelas kontrol, kondisi masih sama seperti pertemuan pertama namun di kelas eksperimen, antusias siswa sangat tinggi. Permainan bingo cukup untuk membuat siswa memberikan perhatiannya secara penuh. Terliat disaat guru selesai menjelaskan aturan permainan, siswa ingin segera bermain. Setelah itu, mereka bermain dengan sangat antusias memperhatikan guru yang berperan sebagai pemanggil.
Dilihat dari hasil rata-rata nilai posttest kedua kelas, kelas eksperimen menunjukkan hasil yang lebih baik. Disini tentu tak lepas dari penggunaan media permainan bingo itu sendiri. Dalam permainan ini, siswa sangat berperan aktif dan berkonsentrasi untuk secepat mungkin mendahului temannya dalam menemukan jawaban yang tepat sesuai dengan yang guru katakan. Permainan ini juga cukup mudah untuk dilakukan karena tugas siswa adalah menyusun kartu yang mereka dapatkan sesuai dengan gambar yang ada di kupon setiap kelompok hingga membentuk pola diagonal, vertikal maupun horizontal.