• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KERTAS 2.2 KUALITAS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KERTAS 2.2 KUALITAS"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

II.

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

KERTAS

Kertas secara tradisional didefinisikan sebagai lembaran yang dikempa pada screen dari larutan fiber . Produk kertas saat ini umumnya sama dengan definisi tersebut, tetapi produk kertas kebanyakan juga mengandung bahan aditif non serat. Kertas atau yang dalam bahasa Inggris disebut paper diturunkan dari nama sebuah tanaman, papyrus. Orang Mesir kuno memproduksi material pertama yang digunakan untuk menulis dengan cara mengepres lapisan batang secara bersamaan (Smook 1994). Bahan utama pembuat kertas adalah pulp. Serat pulp biasanya berasal dari tumbuhan, tetapi binatang, mineral atau serat sintetik dapat digunakan untuk aplikasi tertentu (Smook 1994).

Menurut Departemen Perindustrian (1982), kertas adalah lembaran yang terdiri dari serat-serat selulosa yang saling tempel-menempel dan jalin-menjalin. Pada beberapa jenis kertas tertentu ditambahkan beberapa bahan penolong berupa zat organik atau anorganik pada umumnya kertas yang diproduksi dapat dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan penggunaannya, yaitu:

a. Kertas Budaya

Terdiri atas kertas koran, kertas cetak, kertas tulis dan kertas untuk keperluan bisnis. b. Kertas Industri

Terdiri atas kertas pengemas, kertas kraft, kertas rokok, karton dan kertas pembungkus. c. Kertas lain

Kertas lain yaitu kertas yang tidak termasuk ke dalam golongan tersebut, misalnya kertas tissue.

2.2

KUALITAS

Definisi kualitas menurut the American National Standards Institut (ANSI) dan the American Society for Quality (ASQ) adalah keseluruhan ciri dan karakteristik suatu produk atau jasa yang menunjukkan kepuasan terhadap produk yang telah diberikan.Kualitas dapat didefinisikan dengan berbagai cara, tergantung siapa yang mendefinisikannya ( Russell & Taylor 2006).

Russell & Taylor (2006) melihat kualitas dari dua sisi, yakni dari sisi konsumen dan sisi produsen. Konsumen umunya melihat kualitas suatu produk berdasarkan seberapa baik produk tersebut dapat digunakan. Dimensi kualitas khususnya untuk produk berupa barang umumnya dilihat dari aspek kinerja, fitur, keandalan, ketepatan, daya tahan, kemudahan pelayanan reparasi, estetika, keamanan , serta persepsi seperti merek dan iklan. Sedangkan dilihat dari segi produsen, kualitas dinilai sebagai ketepatan produk dalam memenuhi spesifikasi yang diinginkan.

Kata kualitas memiliki definisi yang berbeda dan bervariasi mulai dari yang konvensional sampai yang lebih strategik. Definisi yang konvensional dari kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk, seperti : kinerja (performance), keandalan (realibility), mudah dalam penggunaan (easy of use), estetika (esthetics), dan sebagainya. Sedangkan definisi strategik menyatakan bahwa kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan (Gasperz 2003). Menurut Juran dalam Nasution (2004), kualitas adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Penggunaan kecocokan ini didasarkan atas lima karakteristik utama berikut:

1. Teknologi, yaitu kekuatan atau daya tahan. 2. Psikologis, yaitu cita rasa atau status. 3. Waktu, yaitu keandalan.

4. Kontraktual, yaitu adanya jaminan. 5. Etika, yaitu sopan santun, ramah atau jujur.

(2)

Goetsch dan Davis (2000), menyatakan bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia atau tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan konsumen. Kualitas adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar. Perusahaan harus benar-benar dapat memahami apa yang dibutuhkan konsumen atas suatu produk yang akan dihasilkan (Deming dalam Nasution 2004).

Nasution (2004), menjelaskan konsep kualitas dari dua sudut, yaitu dari sudut manajemen operasional dan manajemen pemasaran. Dilihat dari sudut manajemen operasional, kualitas produk merupakan suatu kebijakan penting dalam meningkatkan daya saing produk yang harus memberi kepuasan kepada konsumen melebihi atau paling tidak sama dengan mutu produk pesaing. Dilihat dari sudut manajemen pemasaran, kualitas produk merupakan salah satu unsur utama dalam bauran pemasaran (marketing mix) yakni produk, harga, promosi dan saluran distribusi yang dapat meningkatkan volume penjualan dan pangsa pasar perusahaan.

Kualitas merupakan indikator efisiensi dari sistem ekonomi yang produktif, dimana pada sistem yang efisien memungkinkan diproduksi barang dan jasa yang dapat diterima dengan harga yang ekonomis. Output yang dihasilkan harus memenuhi spesifikasi umum, sementara biaya diperoleh melalui optimisasi alokasi sumber daya. Disisi lain, kualitas juga menghasilkan efisiensi proses dan mampu mengindikasi performa yang baik.

2.3

DEFECT

Menurut Breyfogle (2003), defect merupakan ketidaksesuaian karakteristik kualitas dari level yang dimaksudkan. Defective adalah produk yang tidak sesuai yang setidaknya mengandung satu cacat atau memiliki kombinasi beberapa ketidaksempurnaan yang menyebabkan unit tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan. Produk tanpa cacat (zero defects) adalah kondisi ideal yang selalu didambakan, baik oleh pembuat barang (produk atau jasa) maupun pelanggan atau konsumen yang menggunakannya. Bagi perusahaan manufaktur, zero defects dapat menekan waste (pemborosan).

2.4

LEAN

Lean merupakan suatu upaya terus-menerus untuk menghilangkan pemborosan (waste) dan meningkatkan nilai tambah produk agar memberikan nilai kepada pelanggan. Tujuan lean adalah meningkatkan secara terus menerus customer value melalui peningkatan secara terus-menerus rasio antara nilai tambah terhadap pemborosan (waste). Fokus pendekatan konsep lean yaitu pada pereduksian biaya (cost reduction) dengan mereduksi aktivitas-aktivitas yang tak bernilai tambah (non-value added activities).

Lean dapat didefinisikan sebagai suatu pendekatan sistemik dan sistematik untuk mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan (waste) atau aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah melalui peningkatan terus-menerus secara radikal dengan cara mengalirkan produk dan informasi menggunakan sistem tarik dari pelanggan internal dan eksternal untuk mengejar keunggulan dan kesempurnaan.

Menurut Gasperz dan Fontana (2011), kelemahan terbesar dari manajemen perusahaan-perusahaan industri di Indonesia adalah kurangnya pemahaman terhadap pemetaan proses produk sepanjang value stream untuk menghilangkan pemborosan. Pendekatan Lean berfokus pada peningkatan terus-menerus customer value melalui identifikasi dan eliminasi aktivitas-aktivitas tidak bernilai tambah yang merupakan pemborosan (waste).

(3)

Terdapat lima prinsip dasar lean (Gasperz 2006), yaitu:

1. Mengindentifikasi nilai produk berdasarkan perspektif pelanggan, dimana pelanggan menginginkan produk bermutu superior dengan harga yang kompetitif dan penyerahan yang tepat waktu.

2. Mengidentifikasi pemetaan proses pada value stream untuk setiap produk. Sebagian besar perusahaan industri di Indonesia hanya melakukan pemetaan proses kerja, bukan melakukan pemetaan proses produk.

3. Menghilangkan pemborosan yang tidak bernilai tambah dari semua aktivitas sepanjang proses value stream ini.

4. Mengorganisasikan agar material, informasi dan produk itu mengalir secara lancar dan efisien sepanjang proses value stream menggunakan sistem tarik (pull system).

5. Terus-menerus mencari berbagai teknik dan alat peningkatan untuk mencapai keunggulan dan peningkatan terus-menerus.

Lean berfokus pada identifikasi dan mereduksi aktivitas-aktivitas tidak bernilai tambah yang merupakan pemborosan dalam desain, produksi (untuk bidang manufaktur) atau operasi (untuk bidang jasa) dan manajemen suplai yang berkaitan langsung dengan pelanggan.

Waste dapat didefinisikan sebagai segala aktivitas kerja yang tidak menghasilkan nilai tambah dalam proses transformasi input menjadi output sepanjang value stream. Waste harus dihilangkan guna meningkatkan nilai produk dan selanjutnya meningkatkan costumer value (Ahlstrom 1998).

Pada dasarnya dikenal dua kategori utama pemborosan, yaitu type one waste dan type ywo waste. Type one waste merupakan aktivitas kerja yang tidak menciptakan nilai tambah dalam proses transformasi input menjadi output sepanjang value stream, namun aktivitas itu pada saat sekarang tidak dapat dihindarkan karena berbagai alasan. Type two waste merupakan aktivitas yang tidak menciptakan nilai tambah dan dapat dihilangkan dengan segera. Biasanya disebut dengan waste saja karena benar-benar merupakan pemborosan yang harus dapat diidentifikasi dan dihilangkan segera.

Pada dasarnya dikenal dua kategori utama pemborosan, yaitu Type One Wastedan Type Two Waste. Type One Waste adalah aktivitas kerja yang tidak menciptakan nilai tambah dalam proses transfromasi input menjadi output sepanjang value stream, namun aktivitas itu pada saat sekarang tidak dapat dihindarkan karena berbagai alasan. Misalnya, aktivitas inspeksi dan penyortiran dari perspektif Lean merupakan aktivitas tidak bernilai tambah sehingga merupakan waste, namun pada saat sekarang kita masih membutuhkan inspeksi dan penyortiran karena mesin dan peralatan yang digunakan sudah tua sehingga tingkat keandalannya berkurang. Demikian pula, pengawasan terhadap orang, misalnya, merupakan aktivitas tidak bernilai tabah berdasarkan perspektif lean, namun pada saat sekarang kita masih harus melakukannya, karena orang tersebut baru saja direkrut oleh perusahaan sehingga belum berpengalaman. Dalam konteks ini, aktivitas inspeksi, penyortiran dan pengawasandikategorikan sebagai type one waste. Dalam jangka panjang Type One Waste harus dapat dihilangkan atau dikurangi. Type One Waste ini sering disebut Incidental Activity atau incidental work yang termasuk ke dalam aktivitas tidak bernilai tambah (non-value-adding work or activity).

Type Two waste merupakan aktivitas yang tidak menciptakan nilai tambah dan dapat dihilangkan dengan segera. Misalnya, menghasilkan produk cacat (defect) atau melakukan kesalahan (error) yang harus dapat dihilangkan dengan segera. Type Two Waste ini sering disebut sebagai waste saja, karena benar-benar merupakan pemborosan yang harus dapat diidentifikasi dan dihilangkan dengan segera.

Metode yang digunakan untuk identifikasi pemborosan adalah menggunakan lembar kerja E-DOWNTIME dalam rangka mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan yang tidak bernilai

(4)

tambah di tempat kerja. E-DOWNTIME merupakan akronim untuk memudahkan praktisi bisnis dan industri mengidentifikasi 9 jenis pemborosan yang selalu ada dalam bisnis dan industri, yaitu:

E = Environtmental, Health and Safety(EHS) merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena kelainan dalam memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip EHS.

D = Defect merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena kecacatan atau kegagalan produk (barang atau jasa).

O = Overproduction, merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena produksi melebihi kuantitas yang dipesan oleh pelanggan.

W = Waiting, merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena menunggu.

N = Not utilizing employees knowledge, skills and abilities, merupakan jenis pemborosan sumber daya manusia (SDM) yang terjadi karena tidak menggunakan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan secara optimum.

T = Transportation, merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena transportasi yang berlebihan sepanjang proses value stream.

I = Inventories, merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena inventories yang berlebihan. M = Motion, merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena pergerakan yang lebih banyak daripada

yang seharusnya sepanjang proses value stream.

E = Excess processing, merupakan jenis pemborosan yang terjadi karena langkah-langkah proses yang lebih panjang daripada yang seharusnya sepanjang proses value stream.

2.5

SIX SIGMA

Pada dasarnya pelanggan akan puas apabila mereka menerima nilai yang mereka harapkan. Apabila produk (barang atau jasa) diproses pada tingkat kinerja kualitas Six Sigma, perusahaan boleh mengharapkan 3,4 kegagalan per sejuta kesempatan (DPMO) atau bahwa 99,99966 persen dari apa yang diharapkan pelanggan akan ada dalam produk tersebut. Dengan demikian, Six Sigma dapat dijadikan ukuran target kinerja proses industri tentang bagaimana baiknya suatu proses transaksi produk antara pemasok dan pelanggan. Semakin tinggi target sigma yang dicapai, semakin baik kinerja proses industri.

Setelah kita mengetahui posisi kinerja bisnis dan industri pada saat ini, kita harus melakukan berbagai upaya peningkatan menuju target 6 sigma yang hanya akan menghasilkan 3,4 DPMO. Berbagai upaya peningkatan menuju target Six Sigma dapat dilakukan dengan dua metodologi, yaitu six sigma- DMAIC dan design for six sigma (DFSS) – DMADV (define, measure, analyze, design and verify) (Linderman et al 2004).

DMAIC digunakan untuk meningkatkan proses bisnis yang telah ada sedangkan DMADV digunakan untuk menciptakan desain proses baru dan desain produk baru dalam cara sedemikian rupa agar menghasilkan kinerja bebas kesalahan (Zero defect/errors).

DMAIC, terdiri atas lima tahap utama (Kwak dan Anbari 2006):

- Define, mendefinisikan secara formal sasaran peningkatan proses yang konsisten dengan permintaan atau kebutuhan pelanggan dan strategi perusahaan

- Measure, mengukur kinerja proses pada saat sekarang agar dapat dibandingkan dengan target yang ditetapkan. lakukan pemetaan proses dan mengumpulkan data yang ebrkaitan dengan indikator kinerja kunci.

- Analyze, menganalisis hubungan sebab akibat berbagai faktor yang dipelajari utnuk mengetahui faktor-faktor dominan yang perlu dikendalikan.

(5)

- Improve, mengoptimalkan proses menggunakan analisis-analisis seperti Design Of Experiment(DOE) untuk mengetahui dan mengendalikan kondisi optimum.

- Control, melakukan pengendalian terhadap proses secara terus menerus untuk meningkatkan kapabilitas proses menuju target Six Sigma.

2.6

LEAN SIX SIGMA

Menurut Aboelmaged (2010), fokus utama lean adalah mengeliminasi pemborosan dan mengurangi siklus waktu pada proses, tetapi tidak dapat mengurangi adanya variasi. Six Sigma dapat mengurangi variasi dan meningkatkan proses dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah yaitu alat statistik, tetapi Six Sigma tidak dapat mengurangi pemborosan atau siklus waktu proses. Sehingga lean dan Six Sigma saling melengkapi satu sama lainnya.

Lean Six Sigma dipahami sebagai perpaduan antara Six Sigma dan alat Lean untuk mendapatkan keuntungan dari keduanya (Gershon 2011). Lean dan Six Sigma terbukti untuk meningkatkan produktivitas proses suatu perusahaan. Lean setara dengan kecepatan dan efisiensi. Sedangkan Six Sigma setara dengan presisi dan akurasi (Bogart 2007).

2.7

KAIZEN

Konsep Kaizen erat kaitannya dengan manajemen kualitas. Manajemen kualitas merupakan suatu cara meningkatkan performansi secara terus-menerus (continious performance improvement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan menggunakan semua sumberdaya manusia dan modal yang tersedia (Gasperz 1997).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manajemen kualitas tidak hanya terfokus kepada produk saja namun juga kepada seluruh aspek yang ada di perusahaan yang dapat dimanfaatkan. Kaizen merupakan salah satu alat lean. Kaizen blitz merupakan proses perbaikan yang intens dan cepat di mana tim atau departemen mencurahkan semua sumberdayanya ke dalam suatu proyek perbaikan dalam periode jangka pendek, dan bukannya mengikuti aplikasi kaizen tradisional, yang biasanya dilakukan separuh waktu (Evans & Lindsay 2007).

Menurut Imai (1998), perbaikan dalam Kaizen bersifat kecil dan berangsur-angsur, namun proses Kaizen mampu membawa hasil yang dramatis mengikuti waktu. Konsep Kaizen menjelaskan mengapa perusahaan tak dapat tetap statis untuk waktu lama di Jepang. Manajemen Barat sangat memuja inovasi, perubahan secara besar-besaran melalui terobosan teknologi, konsep manajemen atau teknik produksi mutakhir. Inovasi memang dramatis, punya daya tarik istimewa yang besar. Kaizen sebaliknya, seringkali tidak dramatis bahkan biasa-biasa saja. Namun inovasi merupakan upaya sekali tembak dan hasilnya seringkali membawa dampak sampingan masalah. Lain halnya dengan Kaizen yang diterapkan berdasarkan akal sehat dan berbiaya rendah, menjamin kemajuan berangsur-angsur yang memberikan hasil dalam jangka panjang.

Tiga keuntungan menjalankan kaizen dibandingkan metode lainnya adalah sebagai berikut (Manos 2007):

1. Waktu: waktu yang dialokasikan untuk melakukan kaizen telah terjadwal. Dengan penjadwalan ini, pelaksana kaizen akan semakin proaktif dan tepat waktu untuk membuat suatu peningkatan. 2. Kerja tim: pada akhir kaizen, pelaksana akan merasakan seberapa nyamannya bekerja sebagai

tim. Dan ini akan merubah kebiasaan orang untuk bekerja sendiri.

3. Bukti: dengan melihat hasil kaizen, orang akan mengerti bahwa mereka harus lebih mengontrol area kerjanya lebih daripada yang dipikirkannya.

(6)

2.8

PROSES PRODUKSI

Proses produksi merupakan usaha untuk mengubah sesuatu barang menjadi barang lainnya atau usaha untuk mewujudkan suatu usaha. Untuk melakukan perubahan dan transformasi tersebut diperlukan faktor-faktor produksi. Di samping itu diperlukan pula bahan mentah atau barang setengah jadi yang akan di transformasikan menjadi barang lain (Sukirnoet al. 2006).

Kegiatan memproduksi dikelola oleh bagian atau departemen produksi dan operasi. Dengan demikian hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan kegiatan memproduksi digolongkan sebagai manajemen produksi dan operasi (production and operation management). Hal-hal yang berhubungan dengan usaha mentranfsormasikan sesuatu barang menjadi barang lain merupakan tanggung jawab dari manajemen produksi. Tanggung jawab tersebut meliputi merancang dan melaksanakan proses transformasi atau konversi yang paling efisien. Keefektifan manajemen produksi dan operasi biasanya diukur dari kemampuannya untuk menciptakan barang atau jasa yang bermutu, meminimumkan biaya produksi dan dalam jangka panjang mampu mengembangkan barang atau jasa sesuai dengan perkembangan selera konsumen (Sukirnoet al. 2006).

Proses pembuatan kertas berdasarkan proses produksi di PT. X dibagi menjadi 3 tahap, yaitu: 1. Tahap persiapan bahan baku (Stock Preparation)

2. Tahap pembentukan lembaran kertas (Paper Machine Process) 3. Tahap penyelesaian (Finishing dan converting)

2.8.1 PROSES DI STOCK PREPARATION

Stock preparation merupakan tahap awal dari proses pembuatan kertas. Serat sebagai komponen utama dalam pembentukan lembaran kertas belum dapat dibuat menjadi lembaran kertas tanpa ppengolahan terlebih dahulu.

1. Proses Pembuburan (Pulping)

Proses pembuburan merupakan proses penghancuran lembaran pulp menjadi buburan pulp. Proses pembuburan ini berlangsung di dalam mesin pulper dengan menggunakan campuran air proses. Lembaran-lembaran pulp dimasukkan secara manual oleh operator ke dalam mesin pulper. Di dalam mesin pulper terdapat agitator yang berguna untuk mengaduk buburan pulp agar tercampur rata. Selain itu juga terdapat buffle di dinding pulper yang berguna untuk memecah aliran agar turbulen sehingga buburan pulp dapat tercampur.

2. Pembersihan (Cleaning)

Setelah pulp dibuburkan, buburan pulp tersebut ditampung di dalam pulper chest untuk kemudian dialirkan ke High Consistency Cleaner untuk dibersihkan. Prinsip kerja HC Cleaner ini dengan menggunakan prinsip kerja sentrifugasi. Di dalam HC Cleaner ini, buburan pulp dibersihkan dari bahan-bahan pengotor yang terbawa bersama pulp, seperti pasir, kawat, dan kotoran lainnya) yang memiliki berat jenis lebih besar dari pada pulp. Fase berat akan turun ke bawah sedangkan fase ringan (buburan pulp) akan terangkat ke atas memasuki DDR (Double Disc Refiner).

3. Proses Penggilingan (Refining)

Proses penggilingan yaitu proses penghancuran serat dengan cara menggiling agar mendapatkan karakteristik serat seperti yang diinginkan. Tujuan dari proses ini adalah memperluas permukaan serat sehingga ikatan antar serat menjadi lebih kuat. Serat yang telah mengalami proses pulping dan cleaning selanjutnya digiling di DDR (Double Disc Refiner). Perubahan fisik dalam serat akibat proses penggilingan adalah pemotongan fiber, berkurangnya tebal dinding serat selulosa , perubahan daya ikat terhadap air dan bentuk serat lebih seragam. Biasanya penggilingan ini

(7)

dilakukan sampai mendapat derajat giling (freeness) yang diinginkan. Nilai freeness ditentukan bukan dari lamanya waktu penggilingan tapi dari besarnya daya (power) yang dipakai dalam Kilo Watt per Hours (KWh).

4. Proses Pencampuran (Mixing)

Proses mixing merupakan proses mencampur pulp serat pendek, pulp serat panjang dan broke dengan tujuan agar didapat tensile strength yang tinggi. Setelah dicampur di dalam pipa mixing, selanjutnya buburan kertas dialirkan di medium chest dan machine chest untuk ditampung sementara.

2.8.2 PROSES DI PAPER MACHINE

Pada tahap ini, buburan pulp yang disiapkan oleh bagian stock preparation diolah menjadi bahan jadi yaitu lembaran-lembaran kertas dalam bentuk jumbo roll. Tahap-tahap pada bagian ini adalah stuff box, cleaner, screener, head box, wire part, pressing, pre dryer, surface sizing, after dryer, calendering dan reeling.

1. Stuff box

Stuff box merupakan penghubung antara bagian stock preparation dan paper machine. Buburan pulp disini memperoleh internal sizingdengan penambahan cationic starch, dyestuff, dan AKD. Buburan pulp dari stuff box tersebut akan dipompa menuju cleaner part.

2. Cleaner

Buburan pulp dibersihkan lagi dengan Centri Cleanerdengan menggunakan prinsip sentrifugasi yang terdiri dari 4 tahapan pembersihan. Tahap pertama dibersihkan di cleaner 1 dan merupakan cleaner yang paling teliti. Buburan pulp yang bersih akan keluar dari bagian atas menuju horizontal screen, sedangkan yang kotor akan keluar melalui bagian bawah cleaner 1 menuju cleaner2. Begitu seterusnya hingga cleaner4.Campuran yang bersih akan dimasukkan kembali ke cleaner 3 dan campuran yang kotor akan dibuang ke waste water pit.

3. Screener

Buburan pulp disaring kembali berdasarkan ukurannya. Pulp yang lolos adalah serat yang halus dan bersih, sedangkan serat yang tidak lolos merupakan serat yang kasar dan kotor sehingga akan ditolak dan dialirkan kembali ke pack pulper. Bahan yang lolos akan dialirkan menuju Head Box. Pada saat masuk ke horizontalscreen buburan pulp ditambah retention aiduntuk mengikat serat-serat pulp dari bahan-bahan kimia penunjang. 

4. Head Box

Pada bagian ini pulp untuk pertama kalinya dibentuk lembaran-lembaran kertas di atas wire part. 5. Wire Part

Buburan pulp dibentuk lembaran-lembaran di atas plastic wire dengan hydro foil. yang telah berbentuk lembaran-lembaran mengalami proses dewatering. Di dalam proses ini ada dua macam pengeringan, yaitu pengeringan dengan memanfaatkan gaya gravitasi dan dengan menggunakan suction.

6. Press Part

Lembaran kertas dari wire selanjutnya akan melewati press part melalui felt. Fungsi press part adalah untuk menghilangkan air yang tersisa pada lembaran kertas.

7. Dryer I

Setelah melewati press part, lembaran kertas akan mengalami pengeringan pertama. 8. Surface Sizing

Setelah keluar dari pengeringan pertama, lembaran kertas diberi sizing berupa tapioka. 9. Dryer II

(8)

Selanjutnya lembaran kertas mengalami pengeringan kedua. 10. Calendering

Calendering berfungsi untuk melicinkan permukaan kertas. 11. Reeling

Prosess reeling merupakan proses penggulungan kertas sehingga menjadi jumbo roll. Selanjutnya jumbo roll ini akan di proses di cutter dan finishing.

2.8.3 CUTTER REWINDER

Tidak semua kertas yang telah di-reelingkemudiandipotong dicutter rewinder. Gulungan-gulungan besar tersebut (jumbo roll) ada yang sebagian langsung di proses di converting. Gulungan kertas yang diproses di cutter rewinder akan menghasilkan big sheet. Big sheet merupakan kertas yang berukuran besar. Big sheet akan di proses di finishing.

2.8.4 FINISHING

Big sheet yang telah dihasilkan dari cutter rewinder akan disortir terlebih dahulu untuk menghindari defect yang lolos saat akan packing. Setelah disortir, big sheet di bungkus dan siap dikirim. Ada sebagian big sheet yang dibawa ke converting untuk dipotong menjadi kertas yang berukuran lebih kecil.

2.8.5 CONVERTING

Proses converting merupakan proses mengubah kertas menjadi produk-produk seperti amplop, devider, sticky notes, kertas warna, buku dan lain-lain. Kertas dalam bentuk roll akan diproses di mesin will. Dengan mesin will, maka roll kertas akan langsung di potong di mesin will dan langsung di pack sesuai dengan ukuran. Kemudian big sheet yang berasal dari finishing akan dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil di mesin pollar. Setelah dipotong sesuai dengan ukuran, kertas-kertas tersebut akan di-pack. Untuk proses pengepakan itu sendiri dilakukan dengan mesin dan juga manual. Pengepakan dengan mesin dilakukan oleh mesin autopack. Sedangkan pengepakan secara manual dilakukan oleh operator.

2.9

BAHAN PENUNJANG PROSES

2.9.1 FILLER

Filler merupakan bahan yang mengisi ruang antara serat yang terdapat dalam pulp. Filler berupa CaCO3 atau non CaCO3. Keuntungan dalam menggunakan filler adalah sebagai berikut:

1. Mengurangi penggunaan pulp

2. Memperbaiki sifat printability (menaikkan smoothness, menguragi porositas, dan meningkatkan daya serap tinta).

3. Menaikkan brightness 4. Meningkatkan opasitas 5. Menurunkan biaya produksi

Kerugian adalam menggunakan filler adalah kekuatan kertas akan turun.

2.9.2 SIZING AGENT

Sizing agent berfugsi untuk:

1. Supaya serat-serat pulp tidak terlalu cepat menyerap tinta sehingga hasil goresan tinta tidak tembus sampai baliknya.

(9)

3. Menstabilkan moistur kertas

2.9.3 OBA (OPTICAL BRIGHTENING AGENT)

OBA berfungsi untuk meningkatkan tingkat kecerahan (brigthness) kertas.

2.9.4 DYES/PIGMEN

Dyes/Pigmen merupakan pewarna yang dapat berasal dari bahan organik ataupun nonorganik. Penggunaan dye/pigmen dengan CaCl2 akan meningkatkan kekuatan pulp dalam

menyerap dye/pigmen.

2.9.5 STARCH

Starch berfungsi untuk:

1. Merekatkan serat-serat kertas sehingga kertas menjadi lebih halus dan kuat 2. Memperbaiki kualitas cetak

3. Memperbaiki surface sizing supaya bahan-bahan penunjang lain lebih kuat terikat 4. Memperbaiki coating

5. Mempertinggi kekuatan kertas 6. Sebagai bahan perekat

2.9.6 RETENTION AID

Retention aid berguna untuk menstabilkan kedudukan filler dalam kertas. Biasanya senyawa yang digunakan sebagai retention aid merupakan polimer dengan berat molekul tinggi dan bersifat kationik.

2.9.7 ALUM

Rumus kimia yang dipakai adalah Al2(SO4)3.18H2O berupa padatan putih serta larut dalam

air. Alum berfungsi sebagai bahan koagulan untuk mengikat sizing agent dengan serat kertas. Ikatan ini menghasilkan koloid dalam kertas sehingga penambahan sizing agent lebih efektif dan mengatur pH kertas.

2.9.8 MIKROBIOSIDA

Mikrobiosida digunakan untuk menghambat pertumbuhan dan mematikan mikroorganisme dalam buburan pulp.

2.9.9 DEFOAMER

Defoamer merupakan bahan untuk mencegah busa. Defoamer mempunyai pH 10,5±1. 2.9.10 NaOH

Kausatik soda berfugsi sebagai pencuci dan penetralisir pada white water. 2.9.11 CaCl2

Bersama degan dye pigmen, kalsium klorida berfungsi meningkatkan kekuatan pulp dalam menyerap dye/pigmen.

(10)

2.9.12 PAC

PAC (Poly Aluminium Chloride) yang berfungsi untuk menstabilkan pH dan mengikat serat. Larutan PAC setara dengan 1,3 kg bahan yang belum diencerkan. Konsistensi pada saat dipakai adalah 10% PAC ditambahkan di bagian Silo Pit dan white water pit.

2.9.13 AKD

AKD (Alkyl Ketene Dimer) berfungsi meningkatkan water resistance (daya tahan kertas terhadap penyerapan tinta). AKD merupakan internal sizing agent yang sangat reaktif dalam pembuatan kertas alkaline (basa). Apabila water resistance dinaikkan dari standar, maka pemakaian AKD boleh ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan.

2.9.14 WAX SIZING

Wax sizing merupakan bahan pelicin kertas agar terlihat lebih glossy. Wax ini berbahan baku parafin dan berbentuk emulsi (Aqueous emultion). Saat ini yang digunakan adalah santowax dan taiwax.

2.9.15 PVA (Polyvinyl alcohol)

Referensi

Dokumen terkait

Lean-Six Sigma yang merupakan kombinasi antara Lean dan Six Sigma dapat didefinisikan sebagai suatu filosofi bisnis, pendekatan sistemik dan sistematis untuk

Pada penelitian ini digunakan pendekatan Lean Six Sigma untuk mengidentifikasi dan mengeliminasi waste (pemborosan) dalam upaya perbaikan proses yang

Melalui pendekatan Lean diketahui total waktu produksi aktual 1593,05 menit dengan proses cycle efficiency 58%, setelah diberikan usulan pengurangan kegiatan yang tidak

Untuk mereduksi waste yang teridentifikasi, digunakan pendekatan lean manufacturing dengan salah satu tools dalam konsep lean yaitu value stream mapping (VSM) yang

Oleh kareana itu,pendekatan lean production process akan dapat mengidentifikasi dan menganalisa waste (pemborosan) di dalam proses produksi yang ada di AUTO2000 Cabang

(2014) mengeliminasi waste yang ditemukan saat tahap produksi pada divisi printing menggunakan pendekatan lean manufacturing dengan metode Value Stream Mapping

Lean manufacturing merupakan konsep pendekatan yang spesifik untuk perbaikan aliran nilai proses (value stream) dengan mengurangi pemborosan (waste) dan menminimasi aktivitas

Rework didefinisikan sebagai aktivitas di lapangan yang harus dikerjakan lebih dari satu kali, atau aktivitas yang menghilangkan pekerjaan yang telah dilakukan sebelumnya