55
Pada BAB 3, sudah diidentifikasi isu-isu strategis dan kemungkinan hambatan, serta berhasil merumuskan arah pengembangan sector sanitasi Kota Depok. Pada bab ini akan dirumuskan strategi pembangunan sanitasi yang mencakup semua subsector dan seluruh aspek. Strategi yang dirumuskan ini akan menjadi salah satu dasar identifikasi awal program dan kegiatan.
Strategi sanitasi bias dirumuskan dengan menganalisis SWOT isu isu strategis dan kemungkinan hambatan tersebut, yakni dengan analisis S-O, S-T,W-O, W-T. Selanjutnya, hasilnya menjadi strategi sanitasi Kota Depok yang mencakup semua sub sector (teknis) dan seluruh aspek non teknis (kelembagaan, keuangan, partisipasi masyarakat, komunikasi, peran swasta). Jika perumusan dengan analisis SWOT masih dipandang kurang, maka dapat ditambahkan rumusan strategi yang lain dengan merujuk pada sasaran sanitasi.
SWOT adalah sebuah bentuk analisa situasi dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisa ini menempatkan situasi dan kondisi sebagai factor masukan, yang kemudian dikelompokan menurut kontribusinya masing-masing, yaitu:
A. Lingkungan Internal Kota Depok
Kekuatan (strong), adalah semua potensi pengembangan wilayah yang ada di dalam kabupaten seperti halnya ketersediaan SDA, ketersediaan prasarana dan sarana wilayah, ketersediaan SDM yang berkualitas, adanya dukungan dari pemerintah daerah, Tingginya APBD, dll.
Kelemahan adalah (weakness), adalah semua permasalahan pengembangan wilayah yang ada di dalam Kota Depok, seperti kerawanan bencana banjir/genangan, sempitnya ruang budidaya yang tersedia, tingginya pertumbuhan penduduk yang memerlukan sanitasi, rendahnya kualitas penduduk, dll.
BAB 4
BAB 4
BAB 4
BAB 4
PERUMUSAN STRA
PERUMUSAN STRA
PERUMUSAN STRA
PERUMUSAN STRATEGI SEKTOR
TEGI SEKTOR
TEGI SEKTOR
TEGI SEKTOR
SANITASI KOTA DEPOK
SANITASI KOTA DEPOK
SANITASI KOTA DEPOK
SANITASI KOTA DEPOK
56 B. Lingkungan Eksternal Kota Depok
Peluang (opportunity), adalah potensi dari factor-faktor determinan yang mempengaruhi Kota Depok, seperti kebijakan dan kondisi makro wilayah, contoh: lokasi geografis yang menguntungkan, adanya kebijakan provinsi/nasional yang membuka peluang untuk pertumbuhan pembangunan sanitasi.
Tantangan (threat), permasalahan dari factor-faktor determinan yang mempengaruhi kabupaten, seperti kebijakan dan kondisi makro wilayah, Contoh: adanya kebijakan provinsi/nasional yang membatasi pertumbuhan ekonomi kabupaten.
Hasil yang diperoleh dari analisis SWOT, merupakan rumusan awal strategi sanitasi (yang mencakup seluruh sector dan aspek non teknis). Untuk merumuskan strategi, dilakukan dengan:
• Kaji ulang isu-isu strategis dan kemungkinan hambatan, kemudian rumuskan strategi. • Diskusikan perumusan strategi yang dihasilkan dari analisis SWOT.
57
Table 4.1 SWOT Sanitasi Kota Depok
Kekuatan
Kelemahan
• Adanya Perda Yang Mengatur Masalah Tupoksi
• Perhatian Pimpinan Daerah Terhadap Masalah Sanitasi
• Kesadaran OPD Akan Masalah Sanitasi yang dihadapi
• Kurangnya Koordinasi
• Kurangnya Produk Hukum dan Lemahnya Penegakan Hukum
• Perda Terkait Retribusi Belum Diperbaharui
• Sarana Prasarana OPD Belum Mendukung
• Lemahnya Database
• Kuantitas dan Kualitas SDM
• Komunikasi Searah Dengan Masyarakat
• Kurangnya Dana APBD
• Infrastruktur Kota yang Tidak Terpelihara dengan Baik
Peluang
Ancaman
• Program PPSP
• Letak Geografis Di Jabodetabek
• Fungsi dan peran kota sebagai bagian dari PKN Bodebek dan Kawasan Andalan Bodebekpunjur
• Merupakan Salah Satu Pusat Ekonomi Provinsi
• Target Nasional dari Kementrian Terkait
• Pertumbuhan Permukiman Baru
• Tingkat Pendidikan Masyarakat yang Cukup
• Pertambahan Jumlah Penduduk
• Mahalnya Lahan
• Keperdulian Masyarakat yang Kurang
Strategi yang dipilih adalah W-O yaitu strategi yang memperbaiki kelemahan dan memaksimalkan peluang, atau yang biasa disebut strategi putar balik. Maka dengan keadaan ini Pemda Depok akan mengunakan secara maksimal sumber daya dan peluang yang ada untuk mengatasi kelemahan – kelemahan yang ada selama ini.
58
4.1Tujuan, Sasaran dan Arahan Pentahapan Pencapaian
Tabel 4.2 Misi, Tujuan, Sasaran, Program dan tahapan PencapaianMisi Tujuan Sasaran Program Indikator
Kondi si Awal
Tahapan Pencapaian (Tahun)
5 10 25 Mewujudk an tatakelola sanitasi yang profesional dan bersinergi. Meningkatn ya Kualitas Pelayanan Sektor Sanitasi Meningkatnya IKM sektor sanitasi
1. Peningkatan Kualitas Data dan Perenvanaan 2. Peningkatan Kualitas SDM 3.Evaluasi Jabatan & kelembagaan Sektor sanitasi. 4. Monitoring dan Evaluasi Kelembagaan Sektor Sanitasi
IKM 73 80 82 85 Meningkatk an Kerjasama dan sinergitas stakeholder sanitasi Meningkatkan peran sektor swasta dalam pengelolaan sanitasi
1. Peningkatan Peran Serta Masyarakat dan Dunia Usaha dalam Pembangunan Jumlah Swasta yang Berkerjasa ma dalam Bidang sanitasi 6 10 15 20 Meningkatkan kapasitas pendanaan 1. Identifikasi Sumber Pendanaan Non-APBD Program Non APBD Sektor sanitasi Belum ada
ada ada ada
Memperkua t aspek legal sektor sanitasi Meningkatnya jumlah produk hukum sektor sanitasi
1. Penyusunan SPM & SOP 2. Peninjauan Perda sampah dan limbah cair
Jumlah Perda sanitasi baru yang muncul 0 3 5 11 Mewujudk an masyaraka t yang perduli terhadap kondisi sanitasi. Meningkatn ya kesadaran masyarakat akan kondisi sanitasi Meningkatnya publikasi dengan substansi sektor sanitasi 1. Peningkatan Kampanye Sanitasi Jumlah Publikasi 0 10 20 50 Meningkatnya jumlah keluarga sehat. 1. Peningkatan promosi kesehatan Jumlah Rumah tangga Sehat 60% 72,50% 80% 95% Menggalang partisipasi aktif masyarakat dalam sektor sanitasi. Meningkatnya RT yang berpartisipasi dalam kegiatan sanitasi 1. Peningkatan partisipasi/kemitraan masyarakat dalam pengelolaan sampah 2. Peningkatan pengamalan pancasila dalam bentuk gotong royong 3. Stimulan Swakelola Masyarakat dalam Penataan Drainase RT yang menikuti gerakan depok memilah 330 330 430 660 Mewujudk an Infrastrukt ur sanitasi yang Meningkatk an Kapasitas dan kualitas Infrastruktur penanganan Meningkatnya cakupan layanan persampahan. 1. Peningkatan pengelolaan persampahan 2. peningkatan pengelolaan TPA 3. Pengembangan TPA Regional
Cakupan layanan sampah
59 handal. Limbah (padat dan cair) Meningkatnya cakupan pelayanan limbah cair 1. Peningkatan pengelolaan IPLT 2. Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Terpusat 3. Pembangunan Infrastruktur Air Limbah dengan Sistem Setempat dan Komunal (SANIMAS) Layanan penampung an pembuanga n air limbah 100% 100% 100% 100% Meningkatk an kualitas drainase Tertanggulangi nya banjir 1. Pembangunan,
peningkatan, rehabilitasi dan pemeliharaan drainase dan irigasi. 2.Pengendalian banjir 3. Pengembangan Drainase Perkotaan Titik banjir yang ditangani (buah/tahu n) 2 10 25 45 Meningkatk an Infrastruktur Permukiman Meningkatkan rumah tangga bersanitasi 1. Penataan Lingkungan Permukiman Jumlah Rumah Tangga Bersanitasi 89% 95% 95% 95% Mewujudk an Lingkunga n yang sehat Terpeliharan ya Lingkungan dari Pencemaran Perlindungan Lingkungan Hidup 1. Peningkatan kualitas perencanaan dan pengendalian pembangunan 2. Pengendalian dan penanganan kasus pencemaran dan perusakan lingkungan Jumlah Kegiatan 11 11 22 33 Meningkatkan pengelolaan limbah medis skala rumah tangga. 1. Pengorganisasian Praktek Dokter di Permukiman Jumlah Praktek Dokter yang mengelola Limbah Belum ada data meningk at 5% dari data meningk at 10% dari data meningk at 25% dari data
4.2Strategi Sektor dan Aspek Utama
Pengembangan strategi (identifikasi dari awal program dan kegiatan) untuk sub-sektor air limbah, persampahan, dan drainase lingkungan, dilakukan dengan:
• Kaji ulang/bahas rencana pengembangan Kota Depok (RTRW), renstra OPD, dan studi-studi lain. • Bahas kondisi sanitasi saat ini dalam suatu zona sanitasi dan gambaran jangka panjang dalam
kurun waktu 5-25 tahun (penetapan zona, system, dan pilihan teknologi sanitasi). • Tetapkan program jangka pendek dan jangka menengah (ditinjau dari seluruh aspek). • Tetapkan area layanan dan tingkat layanan dalam sebuah zona sanitasi.
• Susun kegiatan-kegiatan untuk mendukung program.
60
4.2.1Sub Sektor Air Limbah
Kekuatan
• Sudah ada kajian DED untuk rehabilitasi IPLT • Sudah tersusun masterplan.
• Sudah ada perda retribusi IPLT
• Sudah mulai terbangun kerjasama dengan sektor swasta Kelemahan
• Lembaga pengelola hanya bersifat teknis • Sarana prasarana kurang diperhatikan • Terbebani oleh target retribusi
• Belum tersedia produk Hukum yang memadai Peluang
• Masih terbukanya kesempatan untuk berkerjasama dengan sector swasta
• Pertumbuhan kompleks-kompleks permukiman baru yang bisa dibenahi sarana air limbahnya sejak awal.
Ancaman
• Pertumbuhan penduduk yang pesat
Melihat tantangan yang cukub besar pada sector Air Limbah maka strategi yang dikembangkan untuk mengatasi isu strategis yang muncul dalam rangka mencapai sasaran sub sector Air Limbah adalah:
• Meninjau kembali Perda terkait Air Limbah. • Revitalisasi dan Pengembangan sarana IPLT.
• Pemantauan sarana pengolahan Air Limbah pada pembangunan perumahan baru. • Melakukan pengelolaan limbah cair rumah tangga secara terpadu pada skala kota. • Mendorong pengelolaan limbah medis kepada pelaku usaha kesehatan.
61
4.2.2Sub Sektor Persampahan
Kekuatan
• Sudah ada raperda pengelolaan sampah • Lembaga pengelola baik
• Sudah ada masterplan
• Telah terbentuk satgas Kebersihan di Tingkat kelurahan • Penanganan sampah menjadi Program Andalan dalam RPJMD Kelemahan
• Kurang koordinasi dengan lembaga lain
• Kualitas SDM belum memadai sesuai dengan bidang keahliannya • Sarana prasarana kurang memadai
Peluang
• Adanya kebijakan baru di tingkat nasional mengenai persampahan • Sektor swasta pengelola sampah yang banyak terdapat di Kota Depok • Terbukanya sumber dana baru diluar APBD Kota
• Terbukanya kesempatan untuk berkerjasama dengan sector swasta Ancaman
• Kurangnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah • Pesatnya pertumbuhan penduduk
• Terbatasnya lahan untuk TPA
Melihat tantangan yang cukub besar pada sektor Persampahan maka strategi yang dikembangkan untuk mengatasi isu strategis yang muncul dalam rangka mencapai sasaran sub sector Persampahan adalah:
• Pengembangan cakupan layanan persampahan. • Mengurangi timbulan sampah dari sumber sampah.
• Mendorong peran aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah.
• Mendorong kreatifitas pemanfaatan sampah pada lingkungan pendidikan.
62
4.2.3Sub Sektor Drainase
Kekuatan
• Lembaga pengelola cukup baik • Sudah ada masterplan
• Sudah ada DED
• Kuantitas dan kualitas SDM cukup baik
• Hubungan yang baik dengan kementrian pusat
• Penanganan banjir menjadi program prioritas dalam RPJMD Kelemahan
• Kurangnya dana untuk melakukan pembenahan
• Belum adanya prioritas wilayah penanganan banjir yang baik • Belum tersedianya produk hukum yang memadai
• Belum tersedianya SOP pengelolaan drainase Peluang
• Adanya kebijakan nasional yang mendorong perbaikan drainase • Terbukanya peluang pendanaan selain APBD Kota
• Undang-undang Lingkungan hidup yang baru memperketat prasyarat dokumen lingkungan yang akan meminimalisir dampak negative pembangunan
• Banyak sungai dan situ yang dapat dimanfaatkan sebagai pengendali banjir Ancaman
• Kurangnya partisipasi masyarakat dalam perawatan sarana prasarana
• Perubahan penggunaan lahan yang pesat sebagai imbas dari kedekatan dengan ibu kota
Melihat tantangan yang cukub besar pada sector Drainase maka strategi yang dikembangkan untuk mengatasi isu strategis yang muncul dalam rangka mencapai sasaran sub sector Drainase adalah:
• Melakukan penanganan banjir pada titik-titik genangan di kota depok. • Meningkatkan kondisi infrastruktur dan konservasi sumber daya air.
63
Melakukan pembenahan dari segi dimensi dan sistem tata air pada saluran drainase tresier yang ada di Kota Depok.
• Melakukan pemantauan kualitas air pada saluran drainase primer.
Dilakukannya pementauan secara teratur untuk mengetahui kondisi terkini dari drainase primer dan badan air.
• Mendorong peranan dokumen lingkungan dalam pencegahan bencana banjir dan kontaminasi badan air.
Memperketat pemeriksaan dokumen lingkungan (KLHS, ANDAL, RKL, RPL) dari segi dampak terhadap tata air agar meminimalisir pembangunan yang menyebabkan terjadinya banjir.
4.2.4 Sub Sektor Higiene (PHBS)
Kekuatan
• Kuantitas dan kualitas SDM yang memadai • Mempunyai data base yang baik dan akurat
• Koordinasi yang kuat dengan lembaga lain dan kementrian pusat Kelemahan
• Belum melakukan pendekatan keruangan dalam perencanaan kesehatan Peluang
• Mempunyai kader sanitarian yang aktif di masyarakat • Jaringan PKK yang aktif
Ancaman
• Perubahan iklim global yang mempengaruhi perubahan perilaku vector pembawa penyakit • Pertumbuhan pertumbuhan penduduk yang pesat.
• Kurangnya kesadaran masyarakat
Melihat tantangan yang cukub besar pada sector Higiene maka strategi yang dikembangkan untuk mengatasi isu strategis yang muncul dalam rangka mencapai sasaran sub sector Higiene adalah:
64 • Penyadaran pentingnya perilaku hidup yang bersih.
• Penyadaran pentingnya unit pengolahan limbah pada sarana kesehatan skala kecil yang bertempat di ruko ataupun permukiman.
• Advokasi kesehatan untuk pekerja sektor sanitasi.
4.
3Enabling and Sustainability Aspect Strategy
Pengembangan strategi untuk keberlanjutan pengelolaan sector sanitasi dilakukan dengan mengkaji kembali permasalahan yang timbul dan terekam dalam Buku Putih Sanitasi dan melakukan elaborasi untuk merumuskan pemecahannya.
4.3.1Kebijakan Daerah dan Kelembagaan
Kekuatan
• Sudah berjalannya sistim pengawasan kualitas SDM
• Sudah berjalannya system evaluasi jabatan dan kelembagaan Kelemahan
• Tindak lanjut dari hasil evaluasi masih lamban dan berbelit belit Peluang
• Adanya kebijakan pusat yang menyoroti masalah kelembagaan sanitasi Ancaman
• Adanya budaya yang sulit diubah dalam pelaksanaan kelembagaan di Indonesia
Penguatan kelembagaan sanitasi merupakan poin penting yang selalu menjadi sorotan, karenannya dirumuskanlah beberapa strategi terkait dengan hal itu:
• Memperkuat aspek SDM dalam kelembagaan sanitasi.
Dalam hal ini dilakukan dengan cara menganalisis formasi jabatan yang sekarang ada di sector sanitasi.Peningkatan kapasitas dan keahlian yang mutlak diperlukan dalam melakukan
65 • Memperkuat aspek kelembagaan sanitasi.
Memperkuat lembaga-lembaga yang menjadi ujung tombak dalam penanganan sector sanitasi di Kota Depok. Terutama untuk kelembagaan yang mengelola masalah air limbah yang sampai saat ini masih dirasa kurang, mengingat tantangan pengelolaan air limbah ke depan yang akan semakin kompleks seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan Kota Depok.
• Memperkuat aspek tata laksana pada kelembagaan sanitasi
Melakukan evaluasi masalah tupoksi dan sop yang ada pada lembaga-lembaga yang bersinggungan dengan pengelolaan sanitasi. Terutama masalah tupoksi dalam pengelolaan sanitasi.
4.3.2Keuangan
Kekuatan
• Sudah ada pembagian yang jelas untuk dana sector sanitasi Kelemahan
• Alokasi dana untuk sector sanitasi kurang memadai Peluang
• Terbukanya sumber pendanaan non APBD Kota Ancaman
• Lemahnya penegakan hukum khususnya yang menyangkut pajak
Mengingat pentingnya pendanaan sector sanitasi maka terdapat beberapa strategi untuk mengakomodasi pendanaan sanitasi :
• Mengutakan monitoring dan evaluasi program dari segi pendanaan • Membuka sumber pendanaan baru diluar APBD
66
4.3.3Komunikasi
Kekuatan
• Sudah ada lembaga yang menangani masalah komunikasi skala kota • Sudah digunakannya semua jalur komunikasi yang ada
Kelemahan
• Substansi sanitasi belum masuk dalam komunikasi skala kota • Jalur komunikasi yang ada saat ini masih satu arah
• Kuantitas dan kualitas SDM kurang memadai untuk kebutuhan komunikasi modern • Komunikasi yang bersifat sektoral
• Belum Optimalnya jalur komunikasi Peluang
• Trend gaya hidup saat ini yang ramah terhadap komunikasi dan informasi Ancaman
• Banyaknya masyarakat yang tidak tau (tidak tersosialisasikan dengan baik) jalur komunikasi kota
Strategi komunikasi sanitasi bisa menjadi ujung tombak dalam pembenahan kondisi sanitasi di Kota Depok. Karena dengan pengetahuan mengenai sanitasi yang memadai akan mendorong perubahan perilaku dan partisipasi masyarakat dalam bidang sanitasi. Melihat hal tersebut maka dirumuskanlah beberapa strategi komunikasi untuk mengurai masalah sanitasi :
• Memperjelas alur komunikasi yang ada di Kota Depok • Mengisi substansi sanitasi dalam program kampanye • Menangani data monitoring dan evaluasi sanitasi
• Membuat kampanye sanitasi skala kota berdasarkan hasil kajian komunikasi PPSP • Penguatan tupoksi dan peran OPD terkait sebagai penggerak komunikasi sanitasi
• Memasukan pesan-pesan sanitasi dalam kelopok masyarakat melalui jalur pengajian, arisan, rapat RT, PKK, dll.
67
4.3.4Keterlibatan Pelaku Bisnis
Kekuatan
• Sudah ada keterlibatan pelaku bisnis di sector sanitasi
Kelemahan
• Belum terorganisasinya keterlibatan pelaku bisnis • Belum ada payung hukum
• Kurangnya koordinasi antar lembaga dan pelaku bisnis • Belum ada lembaga yang mengakomodir
Peluang
• Maraknya UKM yang berada di Kota Depok
• Iklim investasi yang baik di Indobnesia pada umumnya dan Kota Depok pada khususnya Ancaman
• Adanya persepsi negative pihak swasta terhadap kinerja aparatur Pemerintah daerah
Keterlibatan pelaku bisnis dalam bidang sanitasi memberi kontribusi besar dalam memperbaiki kondisi sanitasi Kota Depok, karenanya dilakukan berbagai upaya untuk merangkul para pelaku bisnis tersebut, diantaranya dengan:
• Pengorganisasian pelaku bisnis yang berkecimpung di sector sanitasi.
Hal ini dikakukan dengan upaya pendataan usaha lapak pengumpul sampah.Perizinan untuk usaha pengangkutan tinja.Pendataan pengangkutan limbah B3.
4.3.5Partisipasi Masyarakat dan Jender
Kekuatan
68 Kelemahan
• Belum ada upaya pelibatan masyarakat sebara aktif dalam kegiatan-kegiatan pemerintahan • Kurangnya koordinasi antara lembaga terkait dan masyarakat
Peluang
• Kondisi masyarakat Depok terbuka dan kritis
• Banyaknya tokoh masyarakat yang berpengaruh dan mampu menggerakan massa Ancaman
• Merasuknya budaya masyarakat kota yang rendah keperduliannya dan menyerahkan tanggungjawab sanitasi kepada pemerintah semata.
Partisipasi masyarakat Kota Depok dalam bidang sanitasi belum dapat dimaksimalkan.Bahkan
masyarakat dianggap sebagai suatu hambatan karena banyak diantaranya masih melakukan penurunan nilai dan fungsi sarana prasarana yang sudah terbangun di Kota Depok. Karena itu dirumuskanlah beberapa strategi pelibatan masyarakat dalam bidang sanitasi :
• Memberi ruang pada masyarakat dalam berperan aktif menjaga sarana prasarana sanitasi. • Menggalakan kembali gotong rorong sebagai salah satu pengamalan dari pancasila
• Menempatkan Kelurahan sebagai motor penggerak masyarakat dan Kecamatan sebagai Wadah koordinasi.