BAB I
PENDAHULUAN
1.1 STATUS PERIJINAN 1.1.1 Identitas Perusahaan
Nama Perusahaan : PT. Reklamasi A
Alamat lengkap : Jl. Sutomo No. 34 RT.15, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito, Provinsi Kalimantan Tengah. Telp 021-66770 Penanggung jawab perusahaan: Bambang Supri, S.PdI, MM, M.Si Alamat penanggung jawab : Jl. Anggrek Kotak Blok I No.18,
Kecamatan Taman, Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur. Telp 0351-456320; No HP 081367883490
Lokasi Kegiatan
- Kecamatan : Lahei - Kabupaten : Barito
- Provinsi : Kalimantan Tengah 1.1.2 Uraian Rencana Kegiatan
Ruang lingkup rencana kegiatan yang dikaji pada studi ini adalah kegitan penambangan batubara, pembangunan jalan produksi, pembangunan lokasi tempat pengolahan serta pembangkit listrik.
Mengacu pada Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, maka Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup yang disusun oleh pemrakarsa merupakan bagian dari studi kelayakan, yang hasilnya digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Berdasarkan Izin Usaha Pertambangan (IUP) Tahap Eksplorasi PT. Reklamasi A berdasarkan SK Bupati Barito Utara Nomor 188.45/580.a/2006 tentang
dalam wilayah Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara, Propinsi Kalimantan Tengah dengan total wilayah seluas 5.145 Ha.
Kriteria jenis kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup merujuk pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/ atau Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, yaitu pada lampiran I, Butir K., bidang energy dan sumber daya mineral, wajib melaksanakan AMDAL. Penyusunan Laporan Kerangka Acuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup ini dimaksudkan untuk memberi gambaran lingkup kajian dampak lingkungan hidup yang akan dilakukan, yang meliputi Diskripsi Kegiatan, Rona Lingkungan Hidup, Metode Studi, Identifikasi Dampak Potensial dan Evaluasi Dampak Potensial. Format penyusunan Laporan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup ini merujuk pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.
1.2 PERSETUJUAN AMDAL
Studi kelayakan teknik, ekonomi, dan lingkungan telah dilakukan.Studi kelayakan teknik dan ekonomi dikenal sebagai dokumen studi kelayakan, sedangkan studi kelayakan lingkungan dikenal sebagai AMDAL.Berdasarkan Lampiran III Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 Tahun 2008, kewenangan penilaian Kerangka Acuan ini dilakukan oleh Komisi Penilai AMDAL Kabupaten Barito Utara, Propinsi Kalimantan Tengah. 1.3 LOKASI DAN KESAMPAIAN WILAYAH
1.3.1 Lokasi
Rencana IUP Operasi Produksi PT. Reklamasi A ini terletak di wilayah Desa Hurung Enep, Muara Bakah, Juju Baru dan Luwe Hilir, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah.
Gambar. 1.1
Lokasi IUP PT. Reklamasi A
Gambar. 1.2 Peta Kalimantan Tengah 1.3.2 Kesampaian Lokasi
Lokasi daerah penyelidikan dapat dicapai dengan kendaraan beroda empat dan roda dua, melalui rute sebagai berikut.
Palangkaraya – Barito Utara jalan darat ± 128 kilometer.
1.4 TATA GUNA LAHAN SEBELUM DITAMBANG
Pada awalnya morfologi wilayah IUP PT. Reklamasi A merupakan dataran yang diperkirakan sekitar 25%, terutama terdapat di sepanjang lembah sungai Lahei dan sungai Inu beserta anak-anak sungainya. Terletak di bagian tengah memanjang dari timur laut ke bagian barat daya daerah penyelidikan.
Morfologi perbukitan bergelombang sedang, menempati areal sekitar 60%, terletak di bagian selatan, memanjang dari barat daya ke bagian timur laut daerah penyelidikan. Satuan morfologi ini mempunyai ketinggian antara 40-60 mdpl. Kemiringan lereng bervariasi dari landai hingga sedang. Sisanya yang 15% merupakan morfologi perbukitan bergelombang curam. Terutama di bagian selatan, utara, dan barat laut, memanjang dari barat ke timur. Secara gradual bertambah tinggi yang membentuk morfologi perbukitan bergelombang curam menempati ketinggian antara 50-110 m diukur dari permukaan air laut.
Berdasarkan RTRW Kabupaten Barito Utara tahun 2003, dan informasi dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan kondisi rona awal, areal IUP PT. Reklamasi A menempati kawasan yang diperuntukan bagi kawasan Hutan Pengembangan Produksi (HPP). Kondisi rona awal didominasi semak belukar, ladang milik masyarakat Desa Hurung Enep, Muara Bakah, Juju Baru, dan Luwe Hilir dan sebagian kecil lainnya merupakan perkebunan, hutan rawa, dan daerah pemukiman.
Dari data rona lingkungan awal diperoleh data bahwa di lokasi pertambangan terdapat sejumlah 55 jenis vegetasi hutan yang merupakan anggota dari 43 marga dan 20 famili, termasuk diantaranya jenis semak belukar, tumbuhan bawah, dan tumbuhan budidaya.
Tabel 1.1
Jenis Flora yang Ditemukan di Areal Pertambangan
No Nama Daerah Nama Botanis Famili
1 Tarantang Campnosperma auriculata Anacardiaceae
2 Rengas Gluta rengas Anacardiaceae
3 Mangga Mangifera indica Anacardiaceae
4 Kayu Asam Mangifera macrocarpa Anacardiaceae
5 Jingah Swintonia sp. Anacardiaceae
8 Banitan Polyathia rumphii Annonaceae
9 Jangkang Xylopia sp. Annonaceae
10 Durian Durio sp. Bombacaceae
11 Langsat hutan Dacryodes rugosa Burseraceae
12 Binturung Santiria tomentosa Burseraceae
13 Keranji Dialium dewittei Caesalpinoideae
14 Kempas Koompassia exelsa Caesalpinoideae
15 Kesindur/Sindur Sindora bruggemanii Caesalpinoideae
16 Kerinyuh Eupatorium odoratum Compositae
17 Kajamihing Dillenia exelca Dilleniceae
18 Keruing daun besar Dipterocarpus borneensis Dipterocarpaceae
19 Kapur Dipterocarpus cornutus Dipterocarpaceae
20 Merkunyit/Meranti Putih
Dryobalanops abnormis Dipterocarpaceae
21 Damar buah/Meranti Kuning
Shorea assamica Dipterocarpaceae
22 Damar buah/Meranti Kuning
Shorea gibbosa Dipterocarpaceae
23 Lanan/Meranti Merah Shorea leprosula Dipterocarpaceae 24 Karambuku/Meranti
Merah
Shorea ovalis Dipterocarpaceae
25 Masupang Shorea pachyphylla Dipterocarpaceae
26 Lanan Lampung/M. Merah
Shorea parvifolia Dipterocarpaceae
27 Mahambung/Meranti Merah
Shorea smithiana Dipterocarpaceae
28 Resak Vatica rassak Dipterocarpaceae
29 Kalumpai Elasteriospermun tapos Euphorbiaceae
30 Karet Hevea brasiliensis Euphorbiaceae
31 Merkubung Macaranga gigantae Euphorbiaceae
32 Mahang Macaranga triloba Euphorbiaceae
33 Ketela Pohon Manihot utilissima Euphorbiaceae
34 Belimbing Averrhoa belimbi Euphorbiaceae
35 Pampaning Quercus paculiformis Fagaceae
36 Rukam Flacourtia inermis Flacortiaceae
37 Kamanjar Homalium caryophyllaceum Flacortiaceae 38 Kahui Hydnocarpus stigmatophorus Flacortiaceae
39 Alang-alang Imperata cylindrica Gramineae
40 Bintangur Calophyllum pulcherium Guttiferae 41 Gandis/Manggis
Hutan
Garcinia parvifolia Guttiferae
42 Bantialing Kayea sp. Guttiferae
43 Gerunggang/Irat Cratoxylum sp Hypericaceae
44 Panguan Alseodaphne bancana Lauraceae
48 Mahui Fragrea fragnans Loganiaceae 49 Karamunting Melastoma malabathricum Melastomataceae
50 Beransulan Memecylon costatum Melastomataceae
51 Tamahas Memecylon steenis Melastomataceae
52 Kelasu Burung Dysoxylum sp. Meliaceae
53 Langsat Lansium domesticum Meliaceae
54 Ketapi Hutan Sonsaricum borneense Meliaceae
55 Cempedak Artocarpus champeden Moraceae
Selain itu juga diperoleh data bahwa di lokasi penambangan terdapat 39 jenis fauna yang terdiri dari 23 jenis aves, 8 jenis mamalia, 7 jenis reptilia, dan 1 jenis primata. Kegiatan pertambangan akan menghilangkan hampir seluruh tutupan dan struktur floristik vegetasi alami dan budidaya yang merupakan sumber pakan satwa, sehingga mengakibatkan terganggunya populasi satwa. Untuk jenis satwa yang mobilitasnya tinggi, seperti burung, sebagian besar akan bermigrasi ke tempat lain mencari habitat baru yang sesuai dan aman untuk berkembang biak.
Pada kondisi akhir tambang, fauna tersebut diperkirakan akan terganggu karena habitat atau tempat hidupnya terganggu oleh adanya kegiatan penambangan ini, sehingga fauna-fauna tersebut akan berpindah ke tempat lain yang belum terganggu oleh adanya kegiatan tambang.
Tabel 1.2
Jenis Fauna yang Ditemukan di Areal Pertambangan
No. Nama Jenis Nama Latin
A. Burung
1 Empuluh Janggut Alophoixus bres
2 Rangkong Buceros rhinoceros
3 Bubut Centropus sinensis
4 Elang Circus cyanus
5 Kucica Hutan Copsychur malabarikus
6 Gagak Coruus enca
7 Empuluh Leher Kuning Criniger finshcii
8 Pelatuk Dendrocopoc moluccensis
9 Pergam Ducula aenea
10 Pipit Lonchura leucogasta
11 Takur Laher Hitam Megalaima exima
12 Takur Tutut Megalaima rafflesii
13 Pelatik Jambul Meiglyptes tristis 14 Tinjau Belukar Orthotomus artrogularis
16 Pelatuk Sayap Merah Picus Puniceus
17 Cuit kuning Prionochilus maculates
18 Cuit merah Prionochilus thoracicaus
19 Cuit biru Prionochilus xanthopygus
20 Kepinis Rhaphidura leucopygialis
21 Empuluh paruh kait Setornis criniger
22 Punai Trenon vernans
23 Pelatuk Dada Putih Trichastoma rosatum
B. Mamalia
1 Rusa Cervus unicolor
2 Kijang Muntiacus muntjak
3 Kancil Tragulus javanicus
4 Babi Hutan Sus barbatus
5 Kelelawar Terodira mericana
6 Tupai Tupai splendidula
7 Musang Macregelidia sp
8 Kera Macaca irus
C. Reptilia
1 Ular Phyton (Phyton sp) Phyton sp
2 Ular Air Hemalopsis buccata
3 Ular hijau Chendrophyton leichardii
4 Ular Tadung Dryopsis prasinus
5 Tokek Crytodactylus consobrinus
6 Biawak Varanus salvator
7 Kadal skink Mabuya multifasciata
D. Amfibi
1 Kodok Hyla sp
Kehidupan biota air di sungai-sungai sekitar wilayah IUP PT. Reklamasi A juga baik didukung oleh kondisi kualitas air yang baik. Jenis-jenis biota air atau ikan yang dapat hidup di sungai Lahei dan sungai Barito antara lain adalah ikan baung (Mystus
nemurus), jelawat (Leptobarbus hoevenii), gabus (Channa striata), seluang (Rasbora sp.),
udang galah (Macrobracium roseenbergii), dan sepat (Trichogaster sp.).
Hutan sekunder merupakan kelompok yang mendominasi lokasi proyek, kayu-kayu komersial yang berdiameter besar sudah tidak ditemukan di lokasi baik pada bagian perbukitan maupun pada pinggiran sungai. Lahan masyarakat yang termasuk dalam areal PT. Reklamasi A telah dilakukan pembebasan dengan sistem ganti untung berdasarkan peraturan yang berlaku. Sejak beroperasinya penambangan, areal yang semula diperuntukkan sebagai kawasan Hutan Pengembangan Produksi (HPP) beralih menjadi pertambangan batubara. Kemudian areal yang telah dibuka tersebut secara bertahap direklamasi dan direvegetasi.
1.5 TATA GUNA LAHAN SESUDAH DITAMBANG
Pada akhir kegiatan pertambangan batubara, diharapakan tingkat keberhasilan reklamasi dan revegetasi lahan dengan desain yang telah direncanakan, sehingga akan membentuk morfologi yang mendekati rona awal. Mengacu pada peruntukan lahannya, maka areal tersebut akan dikembalikan lagi fungsinya sebagai kawasan Hutan Pengembangan Produksi (HPP). Pada tahap pasca operasi, nantinya yang akan diperhatikan adalah perawatan vegetasi dan pengembalian lahan. Dalam rangka reklamasi, upaya-upaya yang akan dilakukan oleh PT. Reklamasi A untuk penanganan zona pengakaran tanah penutup ini, tidak terlepas dari usaha penekanan laju erosi tanah, yang pada dasarnya bertujuan untuk memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah. Seperti usaha pengelolaan erosi untuk meningkatkan kemampuan lahan yang dilakukan dengan cara mereklamasi dan diikuti dengan pelaksanaan revegetasi.
Reklamasi dilakukan dengan melaksanakan back filling pada areal bukaan tambang dan tumpukan waste pada bekas bukaan tambang. Sejalan dengan pelaksanaan back filling, permukaan lahan diatur dalam bentuk teras-teras bangku dengan sudut kemiringan 300, serta pada kaki teras dibuat saluran pembuangan air. Seluruh bidang datar dari waste dump dilapisi dengan tanah pucuk setebal 30 cm.
Untuk revegetasi digunakan tanaman penutup tanah dari jenis Centrosema pubescens yang ditanam pada tampingan dari teras, sehingga jumlah pohon yang ditanam adalah 625 pohon per hektar. Kegiatan ini dilakukan setelah selesai reklamasi dan tidak menunggu penambangan selesai semua selama 35 tahun.
BAB II
RENCANA PEMBUKAAN LAHAN
2.1 Area Penambangan
PT. Reklamasi A merencanakan akan melakukan kegiatan penambangan batu bara dengan pit akhir seluas 44,29 Ha di Wilayah Desa Hurung Enep, Muara Bakah, Juju Baru , dan Luwe Hilir, Kecamatan Lahei, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah. Sebelum dilakukan kegiatan penambangan, lahan di wilayah IUP PT. Reklamasi A adalah kawasan Hutan Pengembangan Produksi (HPP). Direncanakan penambangan batubara di daerah penyelidikan ini akan dilakukan secara tambang terbuka dengan menggunakan peralatan excavator backhoe yang dikombinasikan dengan dump truck. Rencana penambangan Batubara PT. Reklamasi A selama 5 tahun, dimulai dari tahun 2033-2037 dengan total batubara yang tertambang sebanyak 2.988.719 Ton dengan Overburden yang dikupas sebanyak 12.521.390 BCM. Rencana penambangan PT. Reklamasi A dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1
Rencana Produksi Batubara Per Tahun Tahun Luas Bukaan Pit Overburden
(BCM) Batubara (ton) Stripping Ratio (Ha) 2033 7,07 2.206.914 544.917 4,05 2034 8,53 2.675.520 615.062 4,35 2035 10,33 2.473.136 575.148 4,30 2036 9,63 2.671.886 643.828 4,15 2037 8,73 2.493.935 609.764 4,09 Jumlah 44,29 12.521.390 2.988.719 4,18 (Rata-Rata)
2.2 Timbunan
Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup akan dilaksanakan seselektif mungkin sesuai dengan kebutuhan, kalau memang tidak diperlukan maka tidak akan dilakukan. Kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup akan dimulai dengan kegiatan pembersihan lahan dari vegetasi dan semak belukar yang ada. Lapisan tanah pucuk (top soil) yang banyak mengandung bahan organik dikupas dengan menggunakan blade dari bulldozer. Lapisan tanah pucuk didorong dan dikumpulkan pada lokasi tertentu, kemudian dimuat menggunakan excavator dan diangkut dengan dump truck ke tempat penyimpanan tanah pucuk. Ketebalan pengupasan tanah pucuk berkisar antara 0 meter sampai 0,5 meter.Tetapi tidak menutup kemungkinan menggali lebih dalam lagi kalau memang masih digolongkan sebagai tanah pucuk yang masih mengandung zat hara organik sampai batasan 2,5 meter. Tanah pucuk hasil pengupasan dapat disebarkan secara langsung ke daerah waste dump area yang akan direklamasi atau disimpan terlebih dahulu di suatu tempat. Waste dump terletak disebelah utara pit dengan jarak ± 750 m dari lokasi penambangan dengan luas pit seluas 44,29 hektar. Tempat penimbunan sementara ini dicarikan di daerah datar dan cukup tinggi serta bebas dari gangguan erosi. Waktu penyimpanan tidak boleh lebih dari 12 bulan. Hal ini diharapkan untuk dapat menjaga agar kesuburan dan kualitas tanah penutup tersebut dapat tetap terjaga.
2.3 Kolam Pengendapan
Kegiatan pertambangan batubara dan fasilitas penunjang akan selalu menghadapi masalah air tanah, air sungai, dan air hujan. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu sistem drainase yang baik. Air limpasan permukaan (run off) dari daerah sekitar kegiatan akan dialirkan menuju kolam-kolam pengendapan yang terletak di luar areal pit melalui saluran drainase yang ada di sekitar tambang maupun di sisi kiri dan kanan jalan tambang dan jalan pengangkutan batubara, sebelum dialirkan ke drainase alami yang bermuara ke sungai-sungai utama atau anak sungai diwilayah penambangan. Kolam
pengendapan sedimen(settling pond) tersebut dibuat di lembah atau daerah yang lebih rendahdari daerah tambang atau timbunan batuan penutup tambang.
2.4 Sarana Penunjang
Untuk menunjang kegiatan penambangan, pengangkutan dan pemuatan batubara diperlukan sarana penunjang seperti fasilitas kantor, fasilitas perumahan, fasilitas perbengkelan, fasilitas tenaga listrik, fasilitas penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM), dan fasilitas air bersih.
2.4.1 Fasilitas Kantor Tambang
Fasilitas kantor tambang merupakan pusat pengendalian dari kegiatan-kegiatan penambangan, baik kegiatan-kegiatan administrasi maupun kegiatan-kegiatan operasionaldi lapangan.Ukuran fasilitas kantor tambang disesuaikan dengan jumlah karyawan yang bekerja.Lokasi dipilih berdasarkan kemudahan jalan masuk dan keluar daerah tambang. Bangunan kantor tambang merupakan bagian dari infrastruktur tambang yang dibuat untuk menunjang pelaksanaan tugasdan fungsi organisasi PT. Reklamasi A, yang mencakup tugas dan fungsi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi dari organisasi penambangan batubara. Desain dan fungsi ruang yang direncanakan dalam bangunan kantor dibuat sedemikian rupa sehingga pelaksanaan tugas dan fungsi organisasi dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya.
Konstruksi bangunan kantor ini dibuat dari kayu dengan atapasbes, dengan fasilitas antara lain :
Fasilitas jaringan listrik,
BAB III
PROGRAM REKLAMASI
3.1 LOKASI LAHAN YANG AKAN DIREKLAMASI
Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan rnemperbaiki atau menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. Pada PT. Reklamasi A ini kegiatan reklamasi diharapkan dapat mengembalikan kondisi awal dari daerah yang telah ditambang menjadi hutan sekunder, belukar dan kebun campuran milik penduduk sesuai dengan kondisi awalnya sebelum dilakukan kegiatan penambangan. Hutan yang terdapat di areal tambang PT. Reklamasi A merupakan hutan dataran rendah sekunder dengan karakteristik vegetasi yang dijumpai menunjukkan adanya life form yang bervariasi seperti umumnya dijumpai pada ekosistem hutan tropika basah / lembab, seperti pohon – pohon kecil, semak belukar, paku – pakuan dan tumbuhan merambat.
Penambangan batu bara pada PT. Reklamasi A dilaksanakan selama 5 tahun, Dimulai pada tahun 2033 sampai dengan tahun 2037, berikut data luasan pertahun
Tabel 3.1
Luas bukaan penambangan Tahun Luas Bukaan Pit(Ha)
2033 7,07
2034 8,53
2035 10,33
Dari luas bukaan pit tersebut nantinya akan membuka lahan bekas tambang sebesar 44,29 Ha. Luasan pit yang dibuka nantinya akan menjadi daerah yang harus di reklamasi. Daerah-daerah sekitar kegiatan penambangan tidak lepas dari kegiatan reklamasi seperti daerah penempatan tanah penutup (disposal area), jalan tambang atau non tambang yang tidak digunakan lagi, bekas kolam sedimen dan fasilitas penunjang lainnya.
Material yang digunakan untuk mengisi lubang bekas tambang (back filling) adalah top soil dan overburden yang telah digali dan ditempatkan di disposal area. Adapun tempat pembuangan tanah penutup (disposal) dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Pembuangan tanah penutup keluar areal tambang (out pit dump).
2. Pembuangan tanah penutup ke dalam areal tambang (in pit dump). Top soil tersebut bertujuan untuk digunakan sebagai penimbunan kembali tanah (Back Filling).
Kegiatan reklamasi dikerjakan setelah semua kegiatan penambangan telah dilakukan sampai tahun ke 2037, sehingga akan meninggalkan lubang bukaan yang besar sampai waktu kegiatan reklamasi dilakukan
Reklamasi dilakukan pada saat operasi penambangan berlangsung dan pasca tambang. Kegiatan reklamasi yang akan dilakukan PT. Reklamasi A pada saat penambangan berlangsung adalah mengembalikan timbunan pada waste dump secara bertahap tapi tidak seluruhnya, melakukan revegetasi, pemeliharaan, dan pemantauan. Adapun reklamasi pasca tambang yang berkaitan dengan penutupan tambang adalah pembongkaran, penataan lahan, revegetasi, pemeliharaan dan pemantauan terhadap lahan tambang
Rencana program reklamasi saat ini merupakan kegiatan untuk 5 tahun. Untuk periode yang pertama kegiatan reklamasi tersebut mencakup penataan lahan, pembibitan, revegetasi, pemeliharaan, dan pemantauan
Peralatan yang digunakan untuk pembongkaran dan perataan (penataan lahan) adalah excavator, bulldozer, dan dump truck. Excavator berfungsi untuk membongkar menggali memindahkan dan memuat material ke dalam truck, sedangkan bulldozer akan digunakan untuk mendorong dan meratakan gundukan tanah. Excavator juga akan digunakan untuk membuat saluran pengendali erosi dan digunakan untuk membuat pot-pot untuk tanaman.
3.3 SUMBER MATERIAL PENGISI
Area bekas tambang yang harus diisi adalah pit atau lubang bekas bukaan tambang dan kolam pengendapan. Lubang bekas tambang diisi dengan waste. Dengan demikian, tidak ada waste menumpuk yang dapat berdampak menyebabkan terbentuknya air asam tambang. Lubang bekas kolam pengendapan akan diisi dengan material sekitarnya sehingga kenampakannya menjadi rata, sehingga siap untuk direvegetasi.
3.4 REVEGETASI
Reklamasi yang akan dilakukan adalah revegetasi progresif. Revegetasi dimulai secepatnya menanam tanaman penutup tanah (cover crops).Penanaman dilakukan secara larikan yang diharapkan dalam waktu yang tidak lama ± 4 bulan sudah dapat menutup permukaan tanah. Setelah tanaman penutup tanah tertanam dengan baik (berhasil menutup tanah), pelaksanaan reklamasi di area bekas tambang pada prinsipnya mengikuti urutan penataan lahan, pembuatan bangunan konservasi untuk mengendalikan erosi dan sedimentasi serta penanaman.
3.4.1 Penataan Lahan
Penataan lahan yang dimaksud disini adalah upaya-upaya yang akan dilakukan yang meliputi pekerjaan untuk melakukan penataan permukaan tanah, Rangkaian pekerjaan penataan permukaan tanah ditujukan untuk memperoleh bentuk wilayah dengan kemiringan landai yang pada akhirnya pada lahan tersebut telah siap mendukung pertumbuhan tanaman. Pada PT. Reklamasi A kegiatan penataan lahan di awali dengan melakukan pengembalian overburden ke dalam pit,selanjutnyadilakukan agar lahan bekas tambang memenuhi syarat sebagai
(top soil spreading). Yang kemudian dilakukan penanaman tanaman covercrop dan karet (sebagai tanaman Produksi).
`
Gambar 3.1.
Penataan lahan pada Open pit 3.4.2 Pengendalian Erosi dan Sedimentasi
Agar tanah pucuk yang telah ditebar tidak hanyut terangkut oleh air (erosi) maka bersamaan dengan kegiatan penataan lahan harus pula dilakukan pengendalian erosi dan sedimentasi. Upaya-upaya yang dilakukan yaitu mengkombinasikan cara vegetatif dan sipil teknis. Beberapa kegiatan pengendalian erosi dan sedimentasi yang akan dilakukan meliputi : pembuatan teras, saluran drainase, pembuatan guludan (Gambar 3.1.) dan penanaman tanaman penutup tanah (cover crops). Pembuatan guludan dilakukan dengan tumpukan tanah yang dibuat memanjang menurut arah garis kontur atau memotong lereng.Tinggi tumpukan tanah sekitar 25 – 30 cm dengan lebar dasar sekitar 100 cm dan jarak antara guludan sekitar 10 m. Guludan berfungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah.Dengan demikian erosi berkurang. Manfaat guludan adalah mengurangi kecepatan aliran
peresapan air ke dalam tanah dan menampung dan mengendalikan kecepatan dan arah aliran permukaan menuju ke tempat yang lebih rendah secara aman. Penanaman tanaman penguat teras pada guludan, dapat berupa jenis kayu-kayuan yang ditanam dengan jarak 50 cm bila menggunakan stek / stump, atau ditabur jika menggunakan benih/biji, dan jarak tanam 30 – 50 cm jika menggunakan jenis rumput. Pemeliharaan yang harus dilakukan terhadap teras guludan yang dibuat adalah:
(a) Mengeruk tanah akibat erosi yang menimbun selokan teras untuk digunakan memperbaiki guludan,
(b) Memperbaiki guludan dan memelihara tanaman penguat teras.
Gambar 3.2
Sketsa Penampang Guludan
3.4.3 Revegetasi
Revegetasi merupakan kegiatan penanaman area bekas tambang dengan tanaman karet. Oleh sebab itu, hal yang perlu mendapatkan perhatian lebih pada revegetasi adalah pengadaan bibit dan penanaman.
3.5 PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN
Pemeliharaan dan perawatan dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu pada saat proses penutupan tambang yang dilakukan oleh PT.Reklamasi A dan setelah
masyarakat setempat. Setelah itu maka Pemerintah Daerah setempat, masyarakat dan perusahaan perkebunan sebagai penanggungjawab pemeliharaan.
Upaya-upaya pemeliharaan yang dapat dilakukan antara lain:
a. Penyuluhan masyarakat setempat mengenai bahaya kebakaran hutan dan tata cara praktis pencegahan, pemantauan, dan penanggulangan kebakaran hutan. b. Pengamatan dan pengawasan sumber-sumber potensial kebakaran hutan lokasi
pembakaran ladang dan pemukiman.
c. Pembentukan organisasi pengendalian kebakaran yang melibatkan tokoh-tokoh masyarakat setempat serta penyiapan sarana-prasarana penanggulangan kebakaran agar supaya siap digunakan jika diperlukan.
Adapun pemeliharaan dan perawatan meliputi pemeliharaan tanaman penguat dan tanaman perkebunan.
3.5.1 Pemeliharaan Tanaman Pelindung
Tanaman pelindung yang dipilih sebaiknya adalah tanaman lokal yang cepat tumbuh, atau tanaman non lokal yang mempunyai keunggulan tertentu. Tanaman yang dapat dipilih pada lahan reklamasi adalah jenis tanaman keras yang mampu menangkap nitrogen dari udara dan menyimpannya pada sistem perakaran, sehingga akan meningkatkan kesuburan tanah di sekeliling tanaman tersebut. Berikut perkiraan perhitungan untuk reklamasi :
a. Penanaman karet
Penanaman karet dengan jarak tanam 4 x 4 m sebanyak 625 batang/Hektar dengan harga Rp. 5000,-/batang.
b. Pemantauan Air
Kegiatan penunjang dari reklamasi itu sendiri tidak terlepas dari air yang berada pada sekitar area waste dump.Untuk itu, perlu adanya pemantauan terhadap air dimana pada area ini diuji pada 5 titik dengan pemantauan 3 bulan sekali.
Pengembangan teknik penanaman juga penting diupayakan untuk mengendalikan kerawanan terhadap erosi dan longsor. Vegetasi dapat berfungsi sebagai tanaman konservasi longsor, antara lain dengan upaya:
TAMPAK SAMPING TAMPAK ATAS S a lu ra n S a lu ra n Lahan Olahan Lahan Olahan Lahan Olahan
Lahan Olahan Lahan
Olahan Guludan
Lahan Olahan Lahan Olahan
Lahan Olahan
Lahan Olahan Lahan Olahan Lahan Olahan S a lu ra n S a lu ra n Guludan
1. Menggunakan tanaman sebagai upaya konservasi, seperti tanaman penguat tanggul teras. Tanaman yang dapat digunakan untuk penguat tanggul adalah rerumputan, seperti rumput gajah, tanaman lamtoro atau tanaman buah-buahan. 2. Melaksanakan teknik konservasi, yaitu dengan menerapkan pola bercocok tanam dengan jenis tanaman yang sesuai, mengatur pola tanam yang sesuai dengan musim, dan menggunakan cara bercocok tanam yang dapat memperlambat limpasan permukaan. Jenis tanaman dibedakan sesuai dengan fungsinya, yaitu tanaman penguat tanggul teras, tanaman penguat teras dan tanaman semusim pada lahan olah.
Konstruksi konservasi vegetatif dengan model teras bangku (lahan datar) dan pada lahan miring dapat disajikan pada Gambar 3.3 dan Gambar 3.4.
Gambar 3.3
Vegetasi juga bisa memegang peran dalam mengurangi terjadinya erosi tebing melalui proses sebagai berikut :
a. Pengikatan partikel-partikel tanah oleh vegetasi
b. Menurunkan tingkat kelembaban tanah melalui proses evapotranspirasi, sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya tanah longsor. Usaha untuk meningkatkan proses evapotranspirasi ini diantaranya dapat dilakukan dengan cara memperbanyak jumlah vegetasi, melakukan penghijauan terutama di sepanjang aliran sungai.
c. Meningkatkan laju infiltrasi sehingga dapat menurunkan volume air limpasan yang merupakan faktor penyebab terjadinya erosi.
d. Melalui sistem perakaran vegetasi, muatan sedimen dalam sungai dapat diendapkan di tebing-tebing sungai sehingga dapat memantapkan tebing sungai. Dengan kata lain, peran vegetasi dalam mencegah atau mengurangi terjadinya erosi tebing sungai adalah bersifat melindungi (mengurangi gerusan air sungai) dan memantapkan (mengurangi potensi longsor) tebing sungai. 3.5.3 Pemeliharaan Tanaman Perkebunan
Teknis pemeliharaan lahan bekas tambang yang telah direvegetasi lanjutan, yaitu berkaitan dengan pemeliharaan mengenai tanaman yang ditanam, kestabilan lereng dari jenjang lahan yang direklamasi, sistem drainase dari lahan dan pengaman area yang telah selesai direklamasi. Pada kondisi akhir tambang, lahan yang telah ditata akan dikembalikan lagi sebagai kawasan hutan produksi, yaitu tanaman :
Penanaman tanaman karet
Tanaman yang akan ditanam setelah lahan bekas tambang permukaan ditimbun kembali. Jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman karet. Dipilihnya tanaman karet ini mempunyai keuntungan yaitu getah dari
Gambar 3.4
tanaman karet digunakan untuk bahan dasar pembuatan karet. Hal inilah yang menjadi pertimbangan dari segi ekonomi yang lebih menguntungkan.
Pemupukan tanaman karet
Merupakan faktor penentu produktivitas tanaman karet. Karena itu metode pemupukan tanman karet harus tepat.Metode pemupukan tanaman karet harus sesuai dengan rekomendasi yang telah ditetapkan. Pemupukan wajib dilakukan dengan berkala dan berkelanjutan umumnya dosis pemberian pupuk tanaman karet dilakukan dua kali dalam setahun dengan seimbang , pada tanaman karet berumur enam hingga 15 tahun dosis pemupukannya adalah 350 gram urea perhektar pertahun, 260 gram SP perhektar pertahun dan 300 gram KCL perhektar pertahun.
Pembersihan kebun karet
Sebelum dilakukan pemupukan secara berkala harus dipastikan kebun karet yang dimiliki bebas dari tanaman penggangu hal ini bisa dilakukan dengan pembersihan kebun karet secara rutin. Sehingga dilakukan pemupukan tanaman karet tidak persaing dengan gulma untuk mendapatkan nutrisi.
Tabel 3.2 RENCANA REKLAMASI PERIODE TAHUN 2043-2047 10,33 8,53 7,07 2.493.935 9,63 2.671.886 2.473.136 2.675.520 2.206.914 8,73 9,63 10,33 8,53 7,07 8,73 10,33 8,53 7,07 8,73 9,63 10,33 8,53 7,07 8,73 9,63 203 203 203 203 203
LANJUTAN TABEL 3.2 8,73 8,73 9,63 9,63 10,33 10,33 8,53 8,53 7,07 7,07 8,73 5456,2 5 5456,2 5 8,73 9,63 6018,7 5 6018,7 5 10,33 6456,2 5 6456,2 5 10,33 8,53 5331,2 5 5331,2 5 8,53 7,07 4418.7 5 4418.7 5 7,07 8,73 9,63 10,33 8,53 2.493.935 2.671.886 2.473.136 2.675.520 2.206.914 7,07 203 2036 2035 203 2033
LANJUTAN TABEL 3.2
203
BAB IV
KRITERIA KEBERHASILAN
Dalam kegiatan reklamasi perlu dilakukan kegiatan pemantauan, ini dimaksudkan agar reklamasi tersebut dapat berjalan dengan maksimal. Kegiatan pemantauan dilakukan secara berkala dan dilakukan evaluasi hasil pemantauan agar dapat dinilai kriteria keberhasilan reklamasi tersebut.
Obyek kegiatan yang berkaitan dengan kriteria keberhasilan reklamasi tahap produksi adalah penataan permukaan tanah, salah satu paramater yang dievaluasi adalah berapa luas area yang ditata apakah sesuai dengan rencana, selain itu tentang masalah stabilitas timbunan, apakah terjadi longsoran atau tidak. Obyek kegiatan lain yang terkait dengan kegiatan reklamasi adalah penimbunan kembali lahan bekas tambang. Parameter yang dievaluasi adalah luas area yang ditimbun apakah sesuai atau melebihi rencana, selain itu stabilitas timbunan juga dievaluasi, apakah terjadi longsoran atau tidak.
Kegiatan penebaran tanah zona pengakaran juga masuk kriteria keberhasilan reklamasi tahap operasi produksi, parameter yang dievaluasi adalah luas area yang ditebar dan pH tanah apakah memenuhi kriteria untuk dilakukan penanaman kembali. Pengendalian erosi dan pengendalian air juga merupakan salah satu kegiatan reklamasi yang dievaluasi, parameternya adalah apakah saluran drainase dan bangunan pengendali erosi mengalami erosi dan sedimentasi atau terjadi alur-alur erosi.
Kegiatan paling penting dalam reklamasi adalah revegetasi, penanaman kembali merupakan obyek kegiatan yang dievaluasi dalam kriteria keberhasilan reklamasi. Parameter yang dievaluasi adalah berapa luas area penanaman, bagaimana pertumbuhan tanamannya. Pengendalian air asam tambang juga masuk dalam kriteria keberhasilan reklamasi. Semua kriteria-kriteria tadi harus dilaksanakan secara teratur dan sistematis agar tingkat keberhasilan suatu
Tabel 4.1 44,29 ha Tidak Ada Longsor an 44,29 ha Tidak Ada Longsor an
Lanjutan Tabel 4.1 Tidak Ada Erosi Tidak Ada Erosi & Sedimenta si
6
44,29 haLanjutan Tabel 4.1
44,29 ha
44,29 ha
Lanjutan Tabel 4.1 90 % ph air 6 Tidak Ada Erosi Pengkaps ulan (PAF}
BAB V
RENCANA BIAYA REKL.AMASI
Bab ini memuat rencana biaya yang diperlukan untuk mereklamasi lahan yang terganggu dirinci untuk setiap tahun untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. Perhitungan biaya reklamasi terdiri dari :
1. Biaya langsung.
Uraian mengenai biaya yang perlu dihitung dalam penyusunan rencana biaya reklamasi yang meliputi:
a. penataan kegunaan lahan; b. revegetasi;
c. pencegahan dan penanggulangan air asam tambang; dan/atau d. pekerjaan sipil sesuai peruntukan lahan pasca tambang. 2. Biaya tidak langsung.
Uraian mengenai biaya yang harus dimasukkan dalam perhitungan reklamasi dan sedapat mungkin ditetapkan dengan menggunakan standar acuan, yang ditentukan sebagai berikut:
b. Biaya perencanaan reklamasi sebesar 2 % - 10 % dari biaya langsung.
c. Biaya administrasi dan keuntungan kontraktor sebesar 3 % - 14 % dari biaya langsung.
d. Biaya supervisi sebesar 2 % - 7 % dari biaya langsung. 3. Total Biaya
Uraian mengenai total biaya langsung ditambah dengan biaya tidak langsung dan biaya-biaya tersebut sudah harus memperhitungkan pajak-pajak yang berlaku dan dibuat dalam mata uang Rupiah.
Tabel 5.1