• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lap SKAD BARLINGMASCAKEB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Lap SKAD BARLINGMASCAKEB"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

! " # $$%

&

(2)

S

S

U

U

M

M

M

M

A

A

R

R

Y

Y

H

HAASSIILLWWOORRKKSSHHOOPPSSKKAADDPPEENNGGEEMMBBAANNGGAANNUUKKMMRREEGGIIOONNBBAARRLLIINNGGMMAASSCCAAKKEEBB

Regional Management Barlingmascakeb menjadi salah satu bentuk aliansi kerja sama antara 5 daerah di wilayah banyumasan yang berdiri sejak tahun 2003 memiliki potensi pengembangan UKM yang besar. Untuk itu, pada 2 – 3 April 2009 diselenggarakan sebuah Workshop Skenario Kerja Sama Antardaerah (SKAD) Dalam Pengembangan UKM Region Barlingmascakeb di Purbalingga oleh Kementerian Negara Koperasi dan UKM (KUKM). Kegiatan ini dikemas melalui pelatihan pengembangan SDM bersama para aktor UKM terkait.

Melalui hasil SKAD dapat diketahui bahwa upaya pengembangan UKM melalui kerja sama antardaerah di wilayah ini dapat dilakukan ‘faktor perekat KAD’, yaitu antara lain bidang: (1) Pemasaran, khususnya Gula Kelapa dan Batik; (2) Modal dan Teknologi, khususnya Pengembangan Teknologi informasi, serta Teknologi Gula; (3) Regulasi dan Organisasi, khususnya terkait dengan Forum Komunikasi, dan Pemetaan UKM.

Hasil akhir dari pelatihan ini adalah selain menemukenali faktor perekat KAD berikut para aktor terkait, juga rekomendasi pengembangan yang dibutuhkan untuk dilakukan oleh berbagai pihak terkait dalam pengembangan UKM, terutama Pemerintah Kabupaten, Provinsi, maupun Pusat.

Rekomendasi yang diberikan adalah agar Dewan Eksekutif membentuk pokja KUKM yang bertugas merinci perencanaan program, kegiatan KUKM dan mengkomunikasikan sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan serta me-monitor dan evaluasi kinerja KAD secara kewilayahan.

(3)

D

D

A

A

F

F

T

T

A

A

R

R

I

I

S

S

I

I

Halaman Judul ... i

Summary ... ii

Daftar Isi ... iii

BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang ... 1

II. Tujuan dan Sasaran ... 2

III. Ruang Lingkup Wilayah & Materi ... 2

IV. Metode dan Bentuk Pelaksanaan Kegiatan ... 3

BAB II REKAPITULASI HASIL KEGIATAN I. Identifikasi Isu Penting dan Bermasalah ... 4

II. Identifikasi Visi dan Tolok Ukur (milestones) ... 7

III. Indikasi Program dan Kegiatan ... 8

(4)

B

B

A

A

B

B

I

I

P

P

E

E

N

N

D

D

A

A

H

H

U

U

L

L

U

U

A

A

N

N

I. LATAR BELAKANG

Pengembangan sumberdaya manusia (SDM) merupakan komponen penting yang harus diperhatikan dalam pembangunan UKM. Kegiatan Workshop Skenario Kerja Sama Antardaerah (SKAD) yang dilaksanakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM melalui Deputi Bidang Pengkajian Sumber Daya UKMK merupakan salah satu bentuk upaya peningkatan SDM bidang KUKM.

Kegiatan ini secara spesifik mempunyai tujuan untuk mendorong percepatan kemajuan UKM melalui peningkatan kapasitas aktor regional di wilayah BARLINGMASCAKEB (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen) di Jawa Tengah yang aktif berperan dalam perencanaan strategis pengembangan KUKM di wilayah ini.

Pendekatan kegiatan dilakukan secara regional karena kekuatan kewilayahan dalam pengembangan UKM diperlukan untuk membentuk skala ekonomi yang besar dan tidak terpisah secara kedaerahan. Kerja sama beberapa Kabupaten/Kota yang tergabung dalam suatu region diharapkan mampu mengerahkan seluruh potensi wilayah dalam semangat kebersamaan pengembangan UKM.

Pada tahun 2009 Kementerian Koperasi dan UKM berencana mengadakan workshop SKAD di empat wilayah di Indonesia yaitu Barlingmascakeb (Jawa Tengah), Lake Toba Regional Management (LTRM, Sumatera Utara), Provinsi Jawa Barat dan Jonjok Batur (Nusa Tenggara Barat).

Workshop Kementerian KUKM yang pertama mengambil lokasi di Regional Management Barlingmascakeb pada tanggal 1-3 April 2009 bertempat di Purbalingga. RM Barlingmascakeb sebagai RM pertama di Indonesia sangat tepat dijadikan sebagai lokasi awal pelaksanaan workshop karena telah memiliki pengalaman dalam kesuksesan pemasaran wilayah sejak tahun 2003.

Pendekatan pelaksanaan workshop dilakukan dengan melibatkan seluruh peserta yang berasal dari aktor regional Pemerintah Daerah lima Kabupaten anggota RM Barlingmascakeb berikut stakeholders terkait secara partisipatif. Dalam pelaksanaan workshop SKAD, para peserta dituntut untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara aktif dan meningkatkan kepedulian tentang pengembangan KAD melalui diskusi tentang teori & praktek KAD.

(5)

Hasil-hasil pelaksanaan workshop SKAD disusun sebagai bahan laporan untuk tindak lanjut (follow up) kegiatan dan penyempurnaan rencana strategis bidang UKM yang dibahas secara terpisah.

II. TUJUAN & SASARAN

Penulisan Laporan Hasil Kegiatan SKAD ini bertujuan untuk memberikan bahan masukan bagi pengembangan UKM sebagai tindak lanjut pelaksanaan kerja sama antardaerah RM. Barlingmascakeb.

III. RUANG LINGKUP WILAYAH & MATERI

Hasil kegiatan pada laporan ini mencakup wilayah yang termasuk dalam Region Barlingmascakeb, antara lain :

(6)

Adapun lingkup materi yang disampaikan dalam laporan ini meliputi rekapitulasi hasil pelaksanaan Workshop Skenario Kerja Sama Antardaerah (SKAD) Dalam Pengembangan UKM Barlingmascakeb di Purbalingga pada 2 – 3 April 2009.

IV. METODE DAN BENTUK PELAKSANAAN KEGIATAN

Pelaksanaan kegiatan Workshop Skenario Kerja Sama Antardaerah (SKAD) Dalam Pengembangan UKM dengan menggunakan metode deskriptif partisipatif, dan melibatkan perwakilan para penggerak UKM dari masing-masing Kabupaten di Region Barlingmascakeb, dengan jumlah peserta 20 orang. Kegiatan ini dilakukan melalui sebuah workshop dengan memanfaatkan peralatan metaplan untuk mengakomodasi aspirasi seluruh peserta tanpa kecuali, sebagai bentuk partisipasi aktif peserta dalam upaya pengembangan UKM di Barlingmascakeb. Oleh karena itu, hasil yang disampaikan dalam laporan ini merupakan gambaran kondisi nyata yang dialami, serta masukan dari stakeholder yang terkait secara langsung.

V. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari pada tanggal 2-3 April 2009, bertempat di Owabong Cottage, Purbalingga.

VI. PENYELENGGARA DAN NARASUMBER

Workshop Skenario Kerja Sama Antardaerah (SKAD) Dalam Pengembangan UKM diselenggarakan oleh Asisten Deputi Urusan Pengembangan Perkaderan UKM, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK, Kementerian Negara Koperasi dan UKM. Dalam pelaksanaanya dibantu oleh Panitia Daerah yang berasal dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Purbalingga.

(7)

B

B

A

A

B

B

I

I

I

I

R

R

E

E

K

K

A

A

P

P

I

I

T

T

U

U

L

L

A

A

S

S

I

I

H

H

A

A

S

S

I

I

L

L

K

K

E

E

G

G

I

I

A

A

T

T

A

A

N

N

Pada kegiatan Workshop ini, Skenario Kerja Sama Antardaerah (SKAD) menjadi tools perencanaan yang dipakai untuk menemukenali serta menjawab permasalahan ataupun kendala dalam pelaksanaan kerja sama antardaerah di bidang KUKM di Barlingmascakeb. Barlingmascakeb merupakan aliansi kerja sama antardaerah dalam bentuk Regional Management yang terbentuk pada tahun 2003 serta memiliki potensi pengembangan UKM.

I. IDENTIFIKASI ISU PENTING DAN BERMASALAH

Tema dalam pelaksanaan SKAD ini adalah “Pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) Dalam Region Barlingmascakeb”. Langkah awal pelaksanaan SKAD dimulai dengan mengumpulkan isu-isu terkait dalam sektor UKM di Barlingmascakeb. Dari isu-isu tersebut, selanjutnya diidentifikasi isu-isu yang dianggap penting dan bermasalah, sehingga diperoleh isu-isu UKM yang dapat dilaksanakan melalui kerja sama. Adapun isu-isu tersebut antara lain sebagai berikut,

SEKTOR ISU-ISU

JUMLAH

PENTING MASALAH

PEMASARAN 1. Produk Batik Perlu pemasaran / marketing

agar dikenali lebih jauh di pasar nasional, bahkan internasional

11 10

2. Aneka produk olahan hasil ketela pohon perlu market

5 8

3. Potensi temulawak hasil lahan non-produktif perlu pasar serius

2 0

4. Perlu informasi kebutuhan pasar antar Regional termasuk spesifikasi produk yang dibutuhkan

1 2

5. Asap cair perlu pasar peralatan dan kemasan 2 3

6. Pemasaran bersama membutuhan kualitas produk yang sama

0 4

7. Purbalingga punya “mocal” (pengganti terigu) dan membutuhkan pasar

8 2

8. Harga gula kelapa perlu dipertahankan 2 6

9. Pura dan Jus Jambu Merah Mandi Raja perlu pemasaran

0 0

10. Pemasaran Minyak Atsiri : Minyak Nilam (kenaikan dan penurunan harga sangat tajam)

3 7

11. Pasar Gula Kelapa belum berpihak kpd petani 6 7

12. Kebutuhan butuh pasar produk Organik 6 0

13. Manisan Carica Dieng butuh akses pemasaran 0 0

14. Pemasaran produk batu alam Banjarnegara 0 1

15. Beras berpotensi dalam meningkatkan

kesejahteraan petani, namun terkendala dalam hal pemasaran

(8)

SEKTOR ISU-ISU JUMLAH

PENTING MASALAH

16. Potensi makanan kecil perlu jaring pemasaran 1 0

17. Serabut kelapa Kebumen belum terangkat pengolahan dan pasar

4 5

18. Identifikasi dan pemasaran produk melalui internet serta melirik ke pebisnis Tionghoa

1 4

19. Produksi salak melimpah pada musim tertentu perluas pasar dan harga stabil

0 1

20. Jejaring (akses pasar) untuk produk-produk unggulan daerah

6 6

21. Anyaman bambu produk perlu pasar global 2 4

22. Barlingmascakeb perlu pemetaan UKM unggulan masing-masing Kabupaten dan perlu

dipromosikan

17 6

23. Komitmen UMKM dalam marketing di RM 2 3

24. Barlingmascakeb mestinya perlu data UKM lengkap yang terdata secara digital yang

di-uploaddi Situs Barlingmascakeb

3 1

25. Perlu pelatihan “AMT” untuk membangkitkan UKM Barlingmascakeb

2 5

TOTAL 85 89

MODAL & TEKNOLOGI

1. Perlunya olahan daging sapi 0 2

2. Pengembangan dan inovasi Dawet Ayu Banjarnegara sebagai minuman berkelas

1 1

3. Cilacap potensi ikan (hasil laut) 2 1

4. Transformasi teknologi yang tepat guna

untuk meningkatkan nilai ekonomi produk lokal

2 3

5. Ada informasi lengkap di masing-masing

Kabupaten tentang potensi unggulan dan UKM di Barlingmascakeb

4 4

6. Batik punya ciri khas perlu modal dan promosi

2 0

7. Produksi Sabutret perlu pasar dan promosi 4 5

8. Sebagai produsen makanan yang berbahan baku berasal dari agro. Kita perlu modal (cash dan alat produksi) untuk kejar produksi pada saat bahan baku melimpah (perluas pasar, modal, dan alat-alat produksi)

4 2

9. Potensi Gula Kelapa membutuhkan : modal, kualitas, dan market

0 2

10. Pengembangan produk organik butuh dukungan / sinergitas dari produsen, marketing, dan kebijakan

1 2

11. UMKM daerah wisata pesisir perlu bantuan

packing

4 1

12. Industri Sabut Kelapa perlu modal 4 2

13. Batik butuh modal untuk diversifikasi pengembangan usaha

5 0

14. Potensi makanan khas Banyumasan perlu diangkat (perlu disinergikan)

3 3

(9)

SEKTOR ISU-ISU JUMLAH

PENTING MASALAH

tanam; Masalah : kelangkaan atau kesulitan mendapatkan pupuk.

18. Pengolahan bahan baku tempe memerlukan pengembangan teknologi

1 2

19. Kualitas pakan ikan (pelet) daerah perlu ditingkatkan

0 0

20. Ketersediaan sabut kelapa belum optimal dimanfaatkan

1 1

21. Sarana dan prasarana produksi yang lebih higienis untuk produk gula (terkait dengan standar mutu, sebagai persyaratan ekspor)

8 4

22. Potensi gula kelapa dijadikan (produksi) gula semut yang non-kimia

3 3

23. Keramik Klampok perlu desain khas tersendiri 2 4

24. Agrobisnis Banjarnegara perlu pengolahan lebih lanjut supaya nilai ekonomi lebih tinggi

2 6

25. Diversifikasi vertikal produksi ubi kayu 2 0

26. Pengembangan/optimalisasi pariwisata PLTA Merica

0 1

27. Batik perlu pelatihan desain motif 2 1

28. Dukungan berbagai pihak untuk meminimalisir penggunaan Natrium Metabisulfit pada produk gula kelapa

0 0

29. Alternatif energi murah bagi produsen yang mengandalkan bahan bakar kayu dan minyak tanah.

3 9

TOTAL 69 64

REGULASI DAN ORGANISASI

1. Belum ada kerja sama UKM Barlingmascakeb 4 9

2. Barlingmascakeb perlu forum komunikasi antar UKM

8 7

3. Perlunya kebijakan untuk membatasi impor produk (terutama produk pertanian dan produk rakyat yang lain)

2 5

4. Jaminan sosial / asuransi bagi perajin gula kelapa 4 6

TOTAL 18 27

Sumber: Hasil SKAD UKM Barlingmascakeb, 2 April 2009.

Dari hasil identifikasi dapat disimpulkan bahwa permasalahan UKM di Region Barlingmascakeb secara umum terkait pada sektor Pemasaran, Modal dan Teknologi, serta Regulasi dan Organisasi. Lebih lanjut, isu-isu yang dapat dan layak untuk dikerjasamakan merupakan isu yang dianggap penting dan bermasalah, adapun isu-isu tersebut antara lain sebagai berikut,

1. Di sektor Pemasaran, isu-isu yang dapat/layak untuk dikerjasamakan terkait dengan : (1) UKM Batik dan (2) Gula Kelapa.

2. Pada sektor Modal dan Teknologi, isu-isu yang dapat/layak untuk dikerjasamakan terkait dengan : (1) Pengembangan Informasi dan (2) Teknologi Gula.

(10)

Dokumentasi Kegiatan Identifikasi Isu-Isu Sektoral Penting dan Bermasalah

Sumber: Hasil SKAD UKM Barlingmascakeb, 2 April 2009.

II. IDENTIFIKASI VISI DAN TOLOK UKUR (MILESTONES)

Dalam suatu perencanaan, formulasi visi sangat penting sebagai pedoman implementasi pembangunan yang ingin dicapai. Visi tersebut dipakai sebagai tolok ukur apa yang ingin dicapai dalam upaya pengembangan UKM Barlingmascakeb. Berdasarkan hasil SKAD, visi tahun 2030 yang disepakati oleh peserta tidak terlepas dari isu-isu yang layak dikerjasamakan, yakni :

Barlingmascakeb Menjadi Sentra Batik dan Gula Nasional dan Internasional – Pembawa Kesejahteraan Masyarakat

Pencapaian visi tersebut mengharapkan bentuk-bentuk perubahan, yang dimulai dari tahun 2010 hingga tercapainya visi tahun 2030. untuk memudahkan pencapaian visi tahun 2030, perlu digambarkan berbagai indikator (tolok ukur) perubahan dalam periodik waktu 5 tahunan. Berikut merupakan tolok ukur, sesuai usulan peserta,

Tahun 2030 :

Gula menjadi komoditas ekspor yang menguasai 70% pasar internasional (30%-nya disuplai dari Barlingmascakeb).

Pendapatan petani gula kelapa setara dengan gaji PNS.

Seluruh gula produksi Barlingmascakeb merupakan gula organik yang bersertifikasi internasional.

Batik menjadi trend setter di dunia dengan desain yang dinamis.

Tahun 2025 :

(11)

Batik Barlingmascakeb menembus pasar dunia 30%.

Tahun 2020 :

Gula Kelapa dan batik Barlingmascakeb memasok 50% kebutuhan dunia. Penggunaan peralatan teknologi tepat guna dan berstandar internasional

telah diterapkan di seluruh sentra gula kelapa.

Adanya peremajaan dan pengembangan areal lahan pohon kelapa menjadi 300% dari tahun 2010.

Pengrajin batik di Barlingmascakeb sudah menguasai teknologi modern yang mampu memproduksi batik secara massal dan berkualitas.

Desain batik di Barlingmascakeb telah menjadi trend setter batik dunia.

Tahun 2015 :

Penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) sebesar 50% bagi produk gula kelapa Barlingmascakeb.

Ditemukan varietas baru pohon kelapa yang berkualitas, sehingga mampu meningkatkan 20% produksinya.

Perajin gula kelapa Barlingmascakeb mendapatkan asuransi jiwa sebesar 100%.

75% anak sekolah sudah menggunakan batik khas Barlingmascakeb. Sudah dipatenkan produk batik Barlingmascakeb.

Produk batik Barlingmascakeb menguasai 10% pasar Prov. Jawa Tengah. Pendapatan Pengrajin batik meningkat 50%.

Diversifikasi produksi batik Barlingmascakeb.

III. INDIKASI PROGRAM DAN KEGIATAN

Tolok ukur untuk tahun 2010 dijabarkan dalam suatu indikasi program dan kegiatan seperti berikut,

SEKTOR FOKUS ISU PROGRAM KEGIATAN

Pemasaran 1. Batik 2. Gula Kelapa

1. Promosi/Pemasaran Batik dan Gula Kelapa tingkat regional dan nasional.

Pembuatan leaflet serta berbagai jenis media informasi lain untuk Batik dan Gula.

2. Standarisasi mutu gula dan batik.

- 3. Pemberdayaan SDM

Pembatik dan Penderes untuk generasi muda

- Modal dan

Teknologi

1. Pengembangan Informasi 2. Teknologi Gula

1. Standarisasi mutu - Menghadirkan sarjana pendamping sebagai TA (misal dari pemerintah daerah/pusat)

- Bantuan Pengadaan peralatan dari pemerintah

- Pemilihan pengrajin terbaik

(12)

SEKTOR FOKUS ISU PROGRAM KEGIATAN

permintaan pasar 3. Pengembangan teknologi

informasi modern.

Membuka website khusus gula dan batik

Barlingmascakeb 4. Rehabilitasi tanaman

kelapa untuk kelangsungan ketersediaan bahan baku

- Regulasi

dan Organisasi

1. Pemetaan UKM 2. Forum

Komunikasi

1. Penciptaan UKM Centre

Barlingmascakeb sebagai pusat informasi dan komunikasi internal dan eksternal antar UKM Barlingmascakeb.

- Menyusun database

UKM dan produknya di setiap Kabupaten sebagai pusat informasi di Barlingmascakeb.

- Membangun UKM centre

untuk Barlingmascakeb di masing-masing Kabupatennya. 2. Penciptaan forum

komunikasi internal UKM Barlingmascakeb secara rutin.

Mengadakan pertemuan rutin antar UKM dan Pemerintah setiap 4 bulan sekali di Barlingmascakeb.

Sumber: Hasil SKAD UKM Barlingmascakeb, 3 April 2009.

Dalam hasil tersebut, terdapat beberapa kegiatan yang belum terisi oleh peserta. Mengenai hal ini peserta memerlukan masukan dari berbagai pihak untuk menentukan kegiatan yang sesuai dengan program terkait. Guna melaksanakan berbagai rekomendasi tersebut, peserta menginginkan suatu pokja KUKM yang

terintegrasi pada struktur Dewan Eksekutif Barlingmascakeb, dan mengenai

hal ini peserta mengharapkan agar pada Bulan Juni – Juli 2009, Pokja tersebut sudah dapat terbentuk.

IV. TINDAK LANJUT

Guna menindaklanjuti berbagai hal yang telah dirumuskan, peserta memberikan rekomendasi peran/kotribusi pihak-pihak terkait pengembangan UKM, sesuai dengan peran yang dimiliki, antara lain sebagai berikut,

PIHAK USULAN PERAN / KONTRIBUSI

Forum Regional RM. Barlingmascakeb

Forum Regional agar memberikan arahan kebijakan terkait hasil temuan SKAD ini.

Dinas Daerah Terkait Mendiseminasikan hasil Workshop SKAD Purbalingga ini kepada Pimpinan Daerah masing-masing, yang untuk selanjutnya dapat menginstruksikan kepada masing-masing perwakilannya di DE untuk membentuk pokja KUKM.

Mendiseminasikan hasil SKAD berikut rekomendasinya kepada Ketua Dewan Eksekutif.

Mensosialisasikan temuan-temuan kepada SKPD terkait di daerah masing-masing.

Dewan Eksekutif RM. Barlingmascakeb

(13)

PIHAK USULAN PERAN / KONTRIBUSI

Follow up Pokja a.l. rencana detail perlu membuat perencanaan untuk melaksanakan hasil Workshop SKAD ini.

Dewan Eksekutif perlu melaksanakan evaluasi kepada Regional Manager mengenai ketepatan program yang dilaksanakan. Regional Manager RM.

Barlingmascakeb

Regional Manager perlu mempelajari hasil Workshop SKAD ini, di mana untuk selanjutnya dari berbagai masukan hasil Workshop ini, apa yang dapat ditindaklanjuti dalam jangka pendek-menengah dan panjang?

Mengakomodir hasil Workshop SKAD ini.

Melaksanakan komunikasi ke asosiasi di masing-masing Kabupaten untuk koordinasi KUKM.

Mencari Pendamping Lembaga Donor yang relevan.

Penyebaran informasi hasil-hasil penelitian (Resume), khususnya terkait Gula Kelapa dan Batik, maupun produk yang lainnya. Melaksanakan fasilitasi kegiatan tindaklanjut.

Membuat usulan untuk memiliki kontak/perwakilan pada masing-masing Kabupaten.

Membuat kompilasi kajian dan dokumentasi UKM.

Membuat rekomendasi kepada Dewan Eksekutif berkaitan dengan pengembangan UKM dari hasil komunikasi dengan pelaku di daerah-daerah.

Fasilitasi tentang pembuatan hak paten atas produk Batik dan Gula Kelapa Barlingmascakeb yang terstandarisasi.

Pemerintah Provinsi Mengusahakan ketegasan pengelolaan keuangan kerja sama antardaerah ke Depdagri.

Memberikan dukungan modal kerja dan sarana usaha UKMK. Menyusun program tindak lanjut berdasarkan hasil Workshop

SKAD hari ini, sebagai wujud realisasi program provinsi. Membantu pendanaan.

Fasilitasi promosi dan pemasaran regional dan nasional. Kenaikan anggaran APBD untuk UMKM, khususnya di wilayah

Barlingmascakeb Kementrian UKM

terhadap wilayah Barlingmascakeb

Memberikan dukungan modal kerja dan sarana usaha UKMK di wilayah.

Mempromosikan produk-produk UKM ke mancanegara. Memberi bantuan sarana dan prasarana untuk pameran ke luar

negeri.

Kenaikan anggaran APBN untuk UMKM.

Batik dan Gula Kelapa Barlingmascakeb banyak diikutsertakan dalam promo-promo di pasar luar negeri.

Sering mengadakan pameran Batik dan Gula, serta berbagai UKM Barlingmascakeb lainnya di tingkat nasional, minimal setahun dua kali.

Terus melakukan fasilitasi dalam rangka pengembangan UKM antardaerah.

Pertajam regulasi pemberdayaan KUKM.

Menjadikan pola kegiatan Workshop SKAD Purbalingga ini sebagai model pendekatan nasional.

Terus memantau progress pembentukan pokja.

Referensi

Dokumen terkait

Terapi hormonal diberikan pada kanker payudara stadium IV. Prinsip terapi ini berdasarkan adanya reseptor hormon yang menjadi target dari agen terapi kanker. Ketika

Sasaran penelitian ini adalah mengetahui rendemen dan kebutuhan energi guna mengolah susu cair menjadi susu bubuk, mengetahui aliran energi pada pengolahan

Padahal di DKI Jakarta Sendiri, terdapat 3(tiga) Instansi Badan Narkotika Nasional yaitu Badan Narkotika Nasional Pusat, Badan Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta,

Intensitas penyakit pustul bakteri yang dijumpai di Kalimantan Selatan selama pengamatan yang dilakukan dari bulan Nopember 1989 sampai Desember 1990 beragam tergantung

Wawancara yaitu mengadakan tanya jawab secara langsung kepada responden berkenaan dengan permasalahan penelitian ini, caranya dengan mendatang langsung responden

a) Kontrak kuliah dilakukan di awal kuliah, dengan cara kesediaan mengikuti aturan perkuliahan di FIB, sekaligus dosen yang bersangkutan mendapatkan jadwal kuliah yang

Faktor yang berpengaruh secara signifikan menurunkan prevalensi balita kurang gizi di Provinsi Jawa Timur yaitu persentase balita yang mendapatkan vitamin A, persentase bayi

8 Pada penelitian ini didapatkan kadar ANC terendah setelah pemberian kemoterapi pertama dan kedua fase induksi, sedangkan pada fase profilaksis SSP terjadi setelah pemberian MTX 1